The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

koneksi antar teman dan refleksi KHD 1.1.a.8

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fidyahidayatibio, 2022-05-29 11:09:19

koneksi antar teman dan refleksi KHD 1.1.a.8

koneksi antar teman dan refleksi KHD 1.1.a.8

1.1.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI
KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

Oleh :
Fidya Hidayati, S.Pd
199307142019022007
SMPN 1 Petungkriyono

Calon Guru Penggerak Angkatan V
Kabupaten Pekalongan

1. Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum
Anda mempelajari modul 1.1?
Sebelum saya mempelajari modul 1.1 saya masih meyakini bahwa segala sesuatu
yang saya lakukan sebagai guru adalah yang terbaik bagi murid. Walaupun murid sudah
berperan aktif dalam pembelajaran dengan metode yang saya berikan, namun saya masih
merasa bahwa kunci utama pembelajaran ada pada guru, pembelajaran tidak akan dapat
berjalan dengan lancar tanpa adanya guru.
Selain itu, sebagai guru saya juga masih sering membandingkan murid satu dengan
lainnya atau membandingkan perilaku murid sekarang dengan murid zaman dahulu, padahal
sudah jelas kodrat zamannya berbeda. Murid mengikuti perkembangan tren media sosial di
era digital saat ini. Hal tersebut tentu saja banyak mempengaruhi perilaku yang dimunculkan,
dan tanpa mereka sadari perilaku tersebut kurang sesuai dengan norma yang ada pada
masyarakat. MEnyikapi hal tersebut, terkadang guru dengan begitu mudahnya hanya
menyalahkan dan menyatakan perilaku buruk tersebut, tanpa memperhatikan dan menelaah
perkembangan era digital yang sedang mereka ikuti.
Masih terkait dengan hal di atas, dengan menganut paham teori behavioristik,
menjadikan punishment menjadi solusi yang diyakini dapat mengubah perilaku buruk murid.
Secara terus-menerus sistem punishment dilakukan dengan harapan murid dapat menyadari
kesalahannya, jera, dan berubah menjadi lebih baik. Namun pada kenyataannya murid tidak
lantas berubah dan masih saja mengulangi hal-hal tersebut. Ini artinya pemberian punishment
bukan jalan terbaik yang dapat dipilih dalam proses pembentukan karakter murid.
Berikutnya, yang terjadi pada umumnya di lingkungan belajar kita adalah murid harus
mengikuti segala arahan guru karena semua tindakan dan perintah yang guru instruksikan
berlandaskan demi kebaikan murid. Murid juga dituntut untuk menguasai semua kompetensi
yg diajarkan oleh guru. Dengan adanya tuntutan kompetensi tersebut, proses pembelajaran
pada akhirnya hanya berfokus kepada ketuntasan materi, dengan mengabaikan karakter
murid yang juga dapat dibentuk pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Saya sering melupakan kodrat anak, menghomogenkan murid, tidak memandang
murid sebagai pribadi yang berbeda dan memiliki karakter masing-masing. Terlebih lagi,
kegiatan refleksi yang seharusnya menjadi sangat penting dalam evaluasi pembelajaran, juga
sering terabaikan. Padahal dengan adanya kegiatan refleksi yang dilakukan dapat membuka

kesempatan seluas-luasnya kepada murid menyatakan apa kelebihan dan kekurangan yang
perlu diperbaiki dalam kegiatan belajar mengajar, serta murid juga dapat memberikan
pendapatnya mengenai gaya belajar apa yang mereka kehendaki. Dalam proses ini guru juga
dapat menggali motivasi belajar murid lebih dalam lagi.

2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?
Setelah mempelajari modul ini, pemikiran saya tentang murid mulai berubah. Murid

adalah individu dengan segala ‘aksesoris’ yang dimilikinya, tidak ada individu yang
sempurna. Sebagai guru seharusnya saya bisa memahami kondisi tersebut sehingga bisa
membantu murid dalam mengembangkan bakat yang dimiliki. Setiap murid adalah individu
yang unik. Kita sebagai guru tidak bisa menghomogenkan sikap dan pikiran mereka. Kita
hanya bisa mengarahkan mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan
kodratnya.

Jangan menilai murid hanya dari tindakan yang diperbuatnya, tetapi harus mengerti
alasan dan kondisi murid tersebut. Sebagai guru kita harus mau mendalami background
setiap murid. Mungkin kita harus tahu latar belakang murid, bagaimana kondisi keluarga,
lingkungan sekitar rumah, dan lain sebagainya. Karena lingkungan keluarga juga berperan
penting dalam membentuk watak seorang anak. Pendidikan tidak dapat mengubah watak
biologis seseorang. Guru seharusnya tidak berpikir bahwa pengajaran yang dilakukan dapat
mengubah watak muridnya. Guru hanya bisa mengarahkan atau menuntun mereka menjadi
pribadi yang dapat menguasai diri sendiri (berbudi pekerti). Dengan penguasaan diri yang
kuat, murid dapat mengalahkan atau melenyapkan tabiat-tabiat yang tidak baik.

Guru perlu memahami kodrat alam dan kodrat zaman dalam mendidik anak. Kodrat
alam yang berbeda di setiap satuan pendidikan, menjadikan proses pembelajaran yang
diterapkan pun berbeda. Murid di pegunungan dengan sangat mudah memahami proses
menanam sayuran seperti kentang dan wortel, tetapi berbeda dengan murid di pesisir pantai
yang hanya terbiasa mencari ikan di laut. Alam Indonesia juga jelas jauh berbeda dengan
alam 4 musim di luar negeri, sehingga menimbulkan habituasi yang berbeda pula. Kodrat
zaman juga semakin berubah, kemajuan teknologi sangat pesat, kita perlu menuntun anak
dalam perkembangan revolusi industri 4.0. Pendidikan saat ini menuntut kita agar memiliki
dan menguasai Kecakapan abad 21.

3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan
pemikiran KHD?
Beberapa hal yang segera saya terapkan dalam pembelajaran adalah, belajar
kontrol emosi dengan lebih baik lagi, dan membiasakan diri sendiri agar memiliki
mindset positif yaitu apapun yang nantinya akan terjadi di dalam kelas berusahalah agar
tidak seketika marah dan berubah mood menjadi down, karena ini sangat mempengaruhi
tindakan kita sebagai guru dalam membuat keputusan terhadap murid. Memandang murid
seutuhnya, sebagai manusia yang memiliki jiwa sendiri-sendiri, tidak ada yang sama,
sehingga kemampuan dan perilaku mereka pun berbeda-beda.
Menjadi Role mode untuk para murid dengan berperilaku baik, seperti datang
tepat waktu, masuk kelas dan mengakhiri kelas tepat waktu, melaksanakan apa yang telah
menjadi kewajiban sebagai seorang guru dengan baik, sehingga harapannya dapat
menjadi suri tauladan yang baik, murid dapat termotivasi dan mengikuti apa yang telah
dicontohkan tadi. Mengajar dengan sepenuh hati, dengan perasaan gembira, dan
menghidupkan suasana kelas agar pembelajaran bisa diikuti secara suka hati dan
maksimal pula oleh murid. Fokus dalam membangun suasana kelas terlebih dahulu,
setelah itu menyampaikan kepada murid mengenai esensi materi pembelajaran yang perlu
dipahami oleh murid.
Di tengah pelaksanaan kegiatan pembelajaran pun, guru tetap memperhatikan
para murid apakah materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik atau ada hal lain
yang menghambat murid dalam proses pembelajaran. Selalu mengadakan refleksi baik
secara langsung maupun tidak langsung, di tengah maupun di akhir pembelajaran,
sehingga guru dan juga murid terbiasa untuk mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukan
bersama. Meninggalkan kebiasaan punishment atau mengubah ‘punishment’ menjadi
gaya lain yang membuat murid melakukan kegiatan positif seperti membersihkan kelas
dan halaman, bertanya dan menjawab tentang materi, membuat inovasi atau karya, dan
lain sebagainya.
Hal terpenting lainnya adalah, mengikuti segala perkembangan media sosial yang
di akses oleh murid. Mengikuti tren media sosial murid tak ada salahnya, dengan
mengetahui tren saat ini, barulah kita dapat menyatakan baik buruknya kepada murid.
Guru dapat mengarahkan murid bahwa tidak semua yang mereka amati di media sosial

adalah hal baik, perlu memilah mana yang sesuai norma yang beredar di masyarakat dan
sesuai nilai-nilai bangsa Indonesia. Membawa tren tersebut ke arah yang lebih positif,
misalnya membuat media pembelajaran berbasis tiktok, atau membuat tiktok bersama
murid mengenai hobi atau materi kesukaan mereka, dan lain sebagainya.

Modul 1.1 mengenai Dasar filosofis pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini
menyadarkan kita terutama saya sebagai guru kepada prinsip merdeka belajar. Bahwa
tujuan kita sebagai guru adalah menuntun murid sesuai dengan kodratnya, dengan tujuan
berbudi pekerti yang baik. Dengan adanya budi pekerti, setiap manusia berdiri sebagai
manusia, dengan dasar-dasar yang jahat dan memang dapat dihilangkan, maupun
mengurangi tabiat -tabiat jahat yang biologis atau yang tak dapat lenyap sama sekali
karena sudah bersatu dengan jiwa.

Semoga dengan mengikuti progam guru penggerak ini, saya sebagai seorang
pendidik dapat menuntun murid menjadi seseorang yang tumbuh dan berkembang
menjadi pribadi yang dapat menguasai diri sendiri, mengembangkan sikap-sikap baik dan
mencapai keselamatan serta kebahagiaan setinggi-tingginya.


Click to View FlipBook Version