The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Makna hidup yang sebenarnya adalah komitment. Hidup ini Adalah Ruang Belajar Untuk Berpikir

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by D.Wijaya, 2023-11-07 10:08:35

memaknai hidup

Makna hidup yang sebenarnya adalah komitment. Hidup ini Adalah Ruang Belajar Untuk Berpikir

Riwayat Hidup Penulis D. Wijaya alias De Meranggi nama pendek dari I Dewa Gde Meranggi Darmawijaya, lahir di kampung Selatnyuhan, Desa Pengiangan (dahulu Desa Sulahan) Kecamatan Susut Kabupaten Bangli pada Redite Pon Wuku Tambir, tanggal 17 Desember 1967. De Meranggi (dikampung biasa dipanggil demikian) terlahir dari pasangan I Dewa Nyoman Muka (ayah/ajik) dan Desak Ayu Putu Lempung (biyang), anak kedua dari tiga bersaudara. Putra kedua harusnya bernama Made, tapi ini diberi nama Gde. Ada cerita dibalik itu, menurut ajik sebenarnya nama di pretiti ketika dilahirkan adalah I Dewa Made Astawa, namun karena “keberaniannya” ketika mendaftarkan dirinya sendiri masuk Sekolah Dasar No. 5 Sulahan, menjadikan namanya berbeda. Nama panggilan De Meranggi yang didaftarkannya sendiri di SD saat itu menjadi nama depannya, enam tahun kemudian setelah tamat SD 5 Sulahan tahun 1980 diberi nama belakang Darmawijaya oleh ajik. Setamat SD, De Meranggi kecil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Santi Yasa Petak Gianyar, sebuah sekolah swasta yang baru berdiri dan menjadi siswa angkatan pertama disana. Angkatan pertama pada sekolah yang baru berdiri, siswa-siswanya kebanyakan usianya sudah lebih tua dari biasanya anak SMP. De Meranggi pilih sekolah disitu, alasannya karena (kecewa) tidak diterima masuk di SMP Negeri. Pendidikan SMP tamat tahun 1983, dan setamat SMP melanjutkan ke SMA TP 45 Bangli dan lulus tahun 1986 dengan prestasi yang lumayan baik, ranking pertama. Setamat SMA, De Meranggi muda mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di Univeristas Udayana dan diterima pada program D1 Kesehatan lingkungan, kampusnya di Sidakarya, SPPH (Sekolah Pembantu Penilik Higiene) Denpasar hingga lulus tahun 1987. Namun karena “garis tangannya” demikian, walaupun SPPH adalah sekolah dengan ikatan dinas plus asrama dan dapat anggaran pemerintah, tidak serta merta mengantarnya menjadi pegawai negeri seperti temanteman lainnya. Pada tahun 1988 De Meranggi mengulang kembali kuliah, kali ini memilih jurusan Ekonomi (akuntansi) di Universitas Warmadewa Denpasar dan menyelesaikan studi pada 1993. Selain nilai akademis yang lumayan baik, semasa kuliah aktif berorganisasi dari tingkat Himpunan Mahasisa Jurusan (HMJ), Senat Mahasiswa dan terakhir menjabat ketua Komisi I pada Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), sesekali menulis opini di media massa, sehingga mengantarnya mendapat penghargaan dari Yayasan Supersemar sebagai mahasiswa berprestasi ke III. Setahun menjelang kuliah berakhir tahun 1993 diisi dengan magang bekerja pada Koperasi Jasa Audit Kertayasa Denpasar, yang kemudian mengantarnya diterima menjadi pegawai staff audit pada Bank Modern cabang Denpasar pada 25 April 1994, selama di Bank Modern sempat ditugaskan dicabang Surabaya untuk beberapa waktu, terakhir kariernya di bank Modern menjabat sebagai kepala unit satuan kerja audit Intern.


Saat bekerja di Bank Modern pada usia 30 tahun De Meranggi menikah dengan Desak Putu Ayu Suryaningsih, SE. Dari pernikahannya dikaruniai tiga orang putri: I D.A.M. Surya Dharmayani (Yama, 10/08/97), I D.A.M. Surya Chintya Dharma (Cinta, 17/6/01), I.D.A.M. Surya Gayatri Dharma (Gayatri, 19/6/06) dan satu putra I.D.A.M Prabu Dalem Suryadharma (Prabu,05/02/2017). Pada tahun 1998 ketika krisis moneter terjadi melanda Indonesia, banyak bank yang ditutup pemerintah termasuk bank Modern tempat De Meranggi bekerja di bekukan pemerintah. Namun karier tidak berhenti disana, karena pada Oktober 1998 terpilih menjadi “team pemberesan” dan diikutkan dalam penyehatan bankbank yang ditutup pemerintah, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk kantor wilayah Bali. BPPN adalah badan ad hoc untuk jangka waktu lima tahun yang didirikan dengan Kepres No. 27 tahun 1998. Dalam tahun-tahun pertamanya di BPPN De Meranggi sempat nyambi menjadi dosen akuntansi pada Politeknik Nasional Denpasar, namun karena tuntutan beban tugas yang banyak mengharuskannya berhenti yambi mengajar untuk kemudian focus pada tugas Penyehatan Perbankan. Disela-sela waktu “menyehatkan bank” di BPPN, De Meranggi sempat menjadi sekretaris BPPN Club Center-Bali dengan aktif menulis di “Jendela SDM”, dan mereportase kegiatan-kegiatan penting untuk bulletin “Teropong BPPN”. Kariernya di BPPN berakhir seiring purna tugas BPPN pada April 2004. Segera setelah purna tugas di BBPN, kemudian pada pertengahan Juni 2004, De Meranggi mengawali kariernya kembali di dunia perbankan, kali ini memilih menjadi pegawai BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Sari Jaya Sedana sebagai internal control. Hanya berselang kurang dari setahun tepatnya pada 22 pebruari 2005 oleh RUPS diangkat menjadi Direktur dan kemudian sejak 2010 hingga kini menjabat sebagai Direktur Utama BPR Sari Jaya Sedana Klungkung. Sambil menjadi pengurus (Dirut) BPR, De Meranggi yang tertarik pada usaha mikro kecil sering beropini di koran lokal, sesekali mengisi talk show di Radio Bokashi Raya Klungkung seputar usaha mikro dan kecil. Pengalaman berorganisasi semasa kuliah terbawa sampai ditempat kerja, baru setahun bergabung sebagai pengurus BPR di Klungkung, dipercaya oleh anggota sebagai Sekretaris Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat), dan terakhir pada Agustus 2014 dipercaya oleh anggota DPK Klungkung (mewilayahi Kab. Klungkung, Bangli dan Karangsem) menjadi Ketua Dewan Pengurus Komisariat Perbarindo Klungkung hingga tahun 2018. Dengan pengalaman di DPK, De Meranggi terpilih menjadi pegurus di Dewan Pengurus Daerah (DPD) perbarindo Bali. Di DPD terakhir menjabat ketua bidang penelitian dan pengembangan. Jabatan direktur utama tidak cukup untuk memahami ilmu dan seni manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), karenanya dalam usia mendekati lima puluh tahun, pada 2013 kembali datang ke kampus untuk belajar dan menyelesaikan studi S2 pada program studi magister manajemen Universitas Warmadewa Denpasar


dengan konsentrasi Manajemen SDM. Bagi De Meranggi moto hidupnya “Hidup harus dimaknai, jadikan hidup ini diperhitungkan orang lain pada setiap komunitas, sukses itu bukan karena dimana kita berada tetapi bagaimana kita disana”. Studi S2 selesai tahun 2015 dengan waktu studi tercepat 1,5 tahun dengan predikat cumlaude dan karenanya mendapat tawaran untuk menjadi dosen praktisi di almamaternya FEB Unwar, hususnya pada jurusan ilmu ekonomi studi pembanguan dengan konsentrasi perbankan. Tawaran dosen ini disambut baik apalagi kemudian sudah mendapat persetujuan dari manajemen tempatnya bekerja (BPR). Apalagi mata kuliah yang diampu sangat relevan dan aplikatif. Bagi D.Wijaya, kesempatan ini dimaknai sebagai pembelajaran kembali.


Click to View FlipBook Version