Pandangan Psikologi Islam dalam Etika Berbisnis
Nama : Ferdian antonya akbar
Nim : 30701700038
Mata kuliah : Psikologi Islam
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2020/2021
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bisnis merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus
dengan tujuan mencapai sebuah target dimana dapat memberikan suatu
keuntungan bagi pihak yang berkaitan. dengan kegiatan bisnis memicu
beberapa kegiatan yang cukup beragam mulai dari kegiatan produksi hingga
pemasaran atau marketing. Dalam kegiatan itu munculah para ahli yang
diperkerjakan oleh pihak perusahaan untuk mendungung kegiatan tersebut
seperti pemerintah,pemilik perusahaan,pemegang saham, manajer, karyawan,
produsen, pemasok, distributor, masyarakat, dan konsumen. Sedangkan objek
bisnis adalah barang dan jasa yang menjadi objek dari pelaku bisnis. Selain itu
dalam bisnis juga diperlukan beberapa hal penting bagi berjalannya bisnis itu
sendiri, yaitu keuangan, manajerial, dan etika.
Bisnis merupakan aktivitas yang memerlukan tanggung jawab moral
dalam pelaksanaannya, sehingga etika dalam praktik bisnis memiliki
hubungan yang erat. Bisnis tanpa etika akan membuat praktik bisnis menjadi
tidak terkendali dan justru merugikan tujuan utama dari bisnis itu sendiri.
Etika dilaksanakan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia bisnis. Etika
menuntut agar seseorang melakukan ajaran moral tertentu karena ia sadar
bahwa hal itu memang bermanfaat dan baik bagi dirinya dan orang lain
(Keraf,1998).
Perusahaan yang unggul sebaiknya tidak hanya tergantung pada kinerja yang
baik, pengaturan manejerial dan financial yang baik, keunggulan teknologi
yang dimiliki, sarana dan prasarana yang dimiliki melainkan juga harus
didasari dengan etis dan etos bisnis yang baik. Dengan memperhatikan etos
dan etis bisnis yang baik maka kepercayaan konsumen terhadap perusahaan
tetap terjaga. Hal ini tentunya membantu perusahaan dalam menciptakan citra
bisnis yang baik dan etis.
Dalam dunia bisnis peran psikologi sangatlah penting dimana
membantu memenuhi kinerja sumberdaya manusia yang dalam proses seleksi,
atau perekrutan pegawai. Dari sudut pandang ini psikologi dapat mengetahui
kinerja, skill kedepanya yang di butuhkan perusahaan apakah sesuai dengan
yang dimiliki calon karyawan tersebut atau tidak. Psikologi juga membantu
perkembangan dunia bisnis dengan cara mencari dan memiliki talenta terbaik,
orang-orang yang telah menginvestasikan waktu bertahun-tahun untuk belajar
dan mengasah keahlian atau studi mereka. Dalam laporan yang penulis buat
akan membahas mendalam mengenai peran psikologis islam dalam etika
bisnis.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Psikologi Bisnis dan Etika Bisnis dalam Islam
Agama Islam mewajibkan setiap orang untuk bekerja, dan tidak ada
peluang bagi orang yang beriman untuk menganggur. Al-Qur’an
menjelaskan tentang konsep bisnis dengan beberapa kata diantaranya: al
Tijarah (berdagang, berniaga), al-bai’u (menjual), dan tadayantum
(muamalah). Bisnis dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
keuntungan (profit), mempertahankan keberlangsungan hidup perusahaan,
pertumbuhan sosial, dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu setiap
bisnis wajib memiliki dasar ilmu yang dapat menjadi pedoman bagi setiap
elemen bisnisnya yaitu unsur dari etika berbisnis dan peran psikologi dalam
dunia bisnis, untuk mengetahui peranya berikut penjelasan.
1.1 ETIKA BISNIS DALAM ISLAM
Menurut (A.Mustafa 2007) Mengungkapkan etika sebagai ilmu yang
menyelidiki terhadap perilaku mana yang baik dan yang buruk dan juga
dengan memperhatikan perbuatan manusia sejauh apa yang telah
diketahui oleh akal pikiran. Menurut (K. Bertens 2002) dalam buku
Etika , merumuskan pengertian etika kepada tiga pengertian juga;
Pertama, etika digunakan dalam pengertian nilai-niai dan norma-norma
moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok
dalam mengatur tingkah lakunya. Kedua, etika dalam pengertian
kumpulan asas atau nilai-nilai moral atau kode etik. Ketiga, etika
sebagai ilmu tentang baik dan buruk. Menurut penulis etika bisnis
merupakan sarana pembatas antara kegiatan yang harus dilakukan untuk
menyesuaikan standar bisnis yang berlaku untuk tujuan penyempurnaan
dan target yang diinginkan atas aktifitas bisnis . Menurut (Ahmad Amin
1995) memberikan batasan bahwa etika atau akhlak adalah ilmu yang
menjelaskan arti yang baik dan buruk, menerangkan apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan
yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan
menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
Definisi bisnis Menurut ar-Raghib al-Asfahani dalam al-mufradat fi
gharib al- Quran atTijarah bermakna pengelolaan harta benda untuk
mencari keuntungan. Menurut Ibnu Farabi, yang dikutip ar-Raghib,
fulanun tajirun bi kadza, berarti seseorang yang mahir dan cakap yang
mengetahui arah dan tujuan yang diupayakan dalam usahanya. Dalam
penggunaannya kata tijarah pada ayat-ayat di atas terdapat dua macam
pemahaman. Etika dan Bisnis, mendeskripsikan etika bisnis secara
umum dan menjelaskan orientasi umum terhadap bisnis, dan
mendeskripsikan beberapa pendekatan khusus terhadap etika bisnis,
yang secara bersama-sama menyediakan dasar untuk menganalisis
masalah-masalah etis dalam bisnis. Menurut penulis Bisnis merupakan
kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan tujuan mencapai
sebuah target dimana dapat memberikan suatu keuntungan bagi pihak
yang berkaitan.
Dengan demikian, bisnis dalam Islam memposisikan pengertian
bisnis yang pada hakikatnya merupakan usaha manusia untuk mencari
keridhaan Allah SWT. Bisnis tidak bertujuan jangka pendek, individual
dan semata-mata keuntungan yang berdasarkan kalkulasi matematika,
tetapi bertujuan jangka pendek sekaligus jangka panjang, yaitu
tanggung jawab pribadi dan sosial dihadapan masyarakat, negara dan
Allah SWT.
2.2 Psikologi Bisnis
Peran Psikologis dalam dunia bisnis sangat erat kaitanya terutama dalam
meningkatkan kinerja dan produktivitas sumber daya manusia yang
dimiliki. Oleh sebab itulah, peran psikologi dalam dunia usaha sangat
besar dalam dalam mengembangkan sumber daya manusia dan
organisasi. Menurut (Muhibbin Syah, 2002) Psikologi merupakan ilmu
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada
manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya
dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang
bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan
dan lain sebagainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir,
berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
Dalam hal ini hubungan antara psikologis bisnis ialah psikologi industry,
mempelajari Ilmu yang mempelajari manusia dan segi-segi kejiwaan
dalam konteks kerja di industri atau perusahaan secara sistematis dan
ilmiah. Menurut (John Miner 2015)peran psikologi industri dalam
perusahaan adalah terlibat dalam proses input, berfungsi sebagai mediator
dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas, berfungsi sebagai
mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan, terlibat
dalam proses output.
Peran Psikologi dalam dunia usaha adalah :
1. Perekrutan Karyawan Lebih Efektif dan Efisien.
Pada saat rekrutmen membuat seorang pemimpin lebih selektif dan
harus memilih yang tepat sesuai dengan bidang masing-masing
karyawan. Dengan psikologi dapat membantu seorang pemimpin
dalam memilih dan memetakan sumber daya manusia. Sehingga dapat
meminimalisir ketidaksesuaian penempatan bidang pada seorang
karyawan bahkan ketidaksesuaian dalam memilih karyawan. Dengan
begitu perusahaan akan memiliki sumber daya manusia yang bagus.
2. Membantu dalam Pembuatan Strategi Pemasaran.
Perusahaan harus mampu melihat dan memahami perilaku lingkungan
sekitar termasuk perilaku konsumen yang tentunya dapat menjadi
acuan dalam membuat strategi pemasaran. Sehingga hal tersebut
tentunya diperlukan pemahaman psikologi agar dapat membuat
strategi pemasaran yang tepat.
3. Menciptakan Produk atau Jasa yang Bagus.
Perusahaan yang memiliki beberapa sumber daya manusia yang bagus
tentunya akan menciptakan ide-ide berbisnis yang bagus pula. Hal
tersebut juga secara langsung akan berdampak pada bagusnya kualitas
produk atau jasa yang ditawarkan pada sebuah perusahaan. Sehingga
dengan begitu, psikologi dapat membantu mendapatkan sumber daya
manusia yang bagus untuk menciptakan produk atau jasa yang bagus
pula.
4. Mediator dalam Hal-Hal yang Berorientasi Ppada Produktivitas.
Misalnya, melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan
manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja,
meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-
sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas
karyawan.
5. Menyusun Program Latihan ataupun Praktek Kerja.
Dan turut serta membentuk pimpinan dalam perusahaan serta
mengambil keputusan yang menyangkut semangat kerja dan
kesejahteraan para karyawan .
6. Mempertimbangkan Wawancara
Sebagai salah satu teknik untuk menggali potensi ketrampilan dan
keahlian) dan komptensi individu agar dapat ditempatkan pada
jabatan yang sesuai dengan potensi dan kompetensinya (the right
person in the right place), sehingga dapat melengkapi data dari
beberapa alat alat seleksi yang lainnya seperti test psikologi,
pengisian blanko aplikasi, dan assessment center.
2.3 Tujuan Umum Psikologi Bisnis dan Etika Bisnis dalam Islam
(Eko Suprayitno 2005) Prinsip-prinsip yang mengarahkan
pengorganisasian kegiatan-kegiatan ekonomi pada tingkat individu dan
kolektif bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan menyeluruh dalam tata
sosial Islam. Secara umum tujuan-tujuan itu adalah:
1. Menyediakan dan menciptakan peluang yang sama dan luas
bagi semua orang untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan
ekonomi. Peran serta individu dalam kegiatan ekonomi merupakan
tanggung jawab keagamaan, setiap orang diharuskan menyediakan
ataupun menopang setidaknya kebutuhannya sendiri dan keluarganya
yang bergantung padanya. Bekerja efisien dan produktif merupakan
tindakan terpuji, oleh Karena itu semua makhluk hidup di ciptakan
untuk manusia, dan hanya untuk manusia, kemampuan untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia sebagai kewajiban
agama sangat ditekankan bagi kaum muslim.
2. Memberantas kemiskinan absolut dan memenuhi
kebutuhankebutuhan dasar bagi semua individu masyarakat. Kemiskinan
bukan hanya merupakan penyakit ekonomi, tapi juga mempengaruhi
spiritualisme individu. Islam menomor satukan pemberantasan
kemiskinan. Pendekatan yang ditawarkan Islam dalam memerangi
kemiskinan adalah dengan merangsang dan membantu setiap orang
untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan ekonomi.
3. Mempertahankan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan, dan
meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Stabilitas ekonomi dalam
kerangka Islam menunjukkan pada pencapaian stabilitas harga dan
tiadanya pengangguran.
2.4 Prinsip Psikologi islam dalam etika Bisnis
Menurut Imaddudin (2007 : 156), ada lima dasar prinsip dalam etika Islam,
yaitu : kesatuan (unity), keseimbangan (equilibrium), kehendak bebas (free
will), taggung jawab (responsibility), kebenaran, kebajikan, dan kejujuran
(truth, goodness, honesty).
1. Kesatuan (Tauhid/Unity) Dalam hal ini adalah kesatuan sebagaimana
terefleksikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-
aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial
menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep
konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. Dari konsep ini maka
Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi
membentuk kesatuan.
2. . Keseimbangan (Equilibrium/Adil) Islam sangat mengajurkan untuk
berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku
dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan.
Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu orang-orang
yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta untuk dipenuhi,
sementara kalau menakar atau menimbang untuk orang selalu dikurangi.
Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut,
karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan.
3. Kehendak Bebas (Free Will) Kebebasan merupakan bagian penting
dalam nilai etika bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan
kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya
batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif
berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.
4. Tanggungjawab (Responsibility) Kebebasan tanpa batas adalah suatu
hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut
adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk memenuhi
tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu
mempertaggungjawabkan tindakanya secara logis prinsip ini
berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan
mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan
bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.
5. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran (truth, goodness, honesty)
Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran
lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan
kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat,
sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses
mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam
proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan. Dengan prinsip
kebenaran ini maka etika bisnis Islam sangat menjaga dan berlaku
preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang
melakukan transaksi, kerjasama atau perjanjian dalam bisnis.
2.5 Dasar Hukum
Dasar hukum merupakan landasan yang menjadi pedoman dalam kegiatan
yang dilakukakn khususnya dalam bisnis, tujuanya agara kegiatan dapat
mencapai target yang diingin dapat tercapai dan kegiatanya berjalan secra
terusmenerus agar kelangsungan bisnis terkendali. Adanya dasar hukum
mempermudah setiap elemen bisnis, baik bisnis multinasional ataupun
nonmultinasional. Dasar hukum yang digunakanpun beragam namun dasar
hukum yang akan kita bahas mengenai dasar hukum menurut islam yang
berpedoman pada beberapa surat dalam Al-Qur’an.
1. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 282 Allah SWT berfiman :
hai orang- orang yang beriman, apabila kamu ber’muamalah tidak secara
tunai waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah
seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah
penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka
hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu
mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada
Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada
hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah
walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki,
maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang
kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya.
janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka
dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun
besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi
Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak
menimbulakan keraguan mu. Kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai
yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika)
kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan
janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang
demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu.
dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.
2. Dalam surah An Nisa ayat 29, yang artinya : hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-
suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya
Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Larangan membunuh diri sendiri
mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain
berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan satukesatuan.
3. Dalam surah As Shaff ayat 10, yang artinya : : Hai orang-orang yang
beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
BAB 3
PETUTUP
3.1 Kesimpulan
Upaya membangun tatan bisnis yang menganut sistem syariah merupakan
rekonstruksi kesadaran baru mengenai bisnis, Suatu bisnis bernilai, apabila
memenuhi kebutuhan material dan spiritual secara seimbang, tidak
mengandung kebatilan, kerusakan dan kezaliman. Oleh karena itu sistem
hukum yang harus menyesuaikan dengan tujuan utama yaitu menghindari
segala bentuk transaksi haram, landasan dasar yang umum digunakan oleh
setiap bisnis berbasis syariah yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Namun bisnis
berbasis syariah harus mengikuti perkembangan zaman yang terus menerus
melakukan kontribusi dan revolusi khususnya dalam kegiatan yang berhungan
dengan bisnis seperti pemerintah,pemilik perusahaan,pemegang saham,
manajer, karyawan, produsen, pemasok, distributor, masyarakat, dan
konsumen, oleh karena itu dalam dunia bisnis kita memerlukan tenaga ahli
dalam bidang psikologi. Psokologi menyediakan, membantu memenuhi
sarana yang dibutuhkan setiap perusahaan khususnya dalam sumberdaya
manusianya. Dalam hal ini erat kaitanya antara psikologi dengan etika bisnis
menurut islam .
DAFTAR PUSTAKA
Abu-l-Qasim al-Husein Al-Asfahani, Mufradat Fi Ghari bil-4XU¶DQ Juz I,
dalam alMaktabah al-Shamilah.
Al-Hafizh ‘Imaduddin Abu Al Fida’ Ismail Ibnu Katsir. Tafsir Juz ‘Amma.
Jakarta: Pustaka Azzam. 2007.
Amin, Ahmad, Etika: Ilmu Akhlak, Jakarta: Bulan Bintang, 1995
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan terjemahanya, Jakarta: Departemen
Agama RI, 1985.
http://eprints.walisongo.ac.id
http://scholar.unand.ac.id/
https://dosenpsikologi.com
https://media.neliti.com
https://yamabara.com
John Miner dalam Sudarmanto. (2015). Kinerja dan Pengembangan Kompetensi
Sumber Daya Manusia. Cetakan Ketiga 2015. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
K. Barten, Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002
Muhibbin, Syah. 2000. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mustafa. 2007. Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Suprayitno Eko. 2005. Ekonomi Islam : Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan
Konvensional , Yogyakarta : Graha ilmu.