The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang konsep dan prinsip ketahanan militer udara, serta bagaimana hal tersebut berperan dalam menjaga kekuatan pertahanan suatu negara, khususnya negara Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by selly putri, 2023-05-14 12:07:07

Ketahanan Militer Udara

E-book ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang konsep dan prinsip ketahanan militer udara, serta bagaimana hal tersebut berperan dalam menjaga kekuatan pertahanan suatu negara, khususnya negara Indonesia.

Keywords: Militer Udara,Indonesia,TNI-AU

KETAHANAN MILITER UDARA


KETAHANAN MILITER UDARA DISUSUN OLEH: 1. Wafi Fahmi Wildhany (22040254050) 2. Selly Putri Widyawati (22040254051) 3. Novi Dwi Fitria (22040254052) 4. Habib Nihla Thohari (22040254053)


ii KATA PENGANTAR Selamat datang dalam buku elektronik ini tentang Ketahanan Militer Udara. Dalam era yang semakin kompleks dan serba cepat seperti sekarang, ketahanan militer udara menjadi aspek penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas suatu negara. Ketahanan udara melibatkan berbagai aspek, mulai dari kemampuan pertahanan udara, operasi udara, hingga strategi dan teknologi canggih. E-book ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang konsep dan prinsip ketahanan militer udara, serta bagaimana hal tersebut berperan dalam menjaga kekuatan pertahanan suatu negara. Melalui pembahasan yang mendalam, e-book ini mencakup berbagai aspek penting dalam ketahanan militer udara, termasuk sistem pertahanan udara, peran angkatan udara, strategi dan taktik, serta teknologi yang terus berkembang. Kami berharap bahwa e-book ini akan memberikan wawasan yang berharga kepada para pembaca, mulai dari mahasiswa, profesional di bidang pertahanan, hingga pecinta militer yang ingin memperdalam pengetahuan mereka tentang ketahanan militer udara. Semoga e-book ini dapat menjadi panduan yang berguna dalam memahami dan mengapresiasi pentingnya ketahanan militer udara dalam menjaga kedaulatan dan keamanan suatu negara. Terima kasih kepada semua kontributor yang telah memberikan wawasan dan pengetahuan mereka dalam membuat e-book ini menjadi kenyataan. Selamat membaca dan semoga e-book ini bermanfaat. Salam, Penulis


iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................................................. ii DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii BAB I KETAHANAN MILITER .............................................................................................1 A. Ketahanan Militer Udara ..................................................................................................1 B. Peran TNI-AU dalam Pertahanan Militer Udara ...............................................................2 BAB II TANTANGAN DAN HAMBATAN KETAHANAN TNI-AU ....................................5 A. Tantangan TNI-AU ..........................................................................................................5 B. Strategi.............................................................................................................................6 C. Hambatan ketahanan nasional militer udara ......................................................................7 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................9


1 BAB I KETAHANAN MILITER Ketahanan nasional merupakan konsep yang sangat penting dalam menjaga keutuhan suatu negara dan melindungi kepentingan nasionalnya. Salah satu aspek yang tak terpisahkan dalam ketahanan nasional adalah ketahanan militer udara. Militer udara memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan negara, melindungi wilayah udara, dan memberikan dukungan dalam operasi militer di darat dan laut. Pengaruh militer udara tidak hanya terbatas pada pertahanan, tetapi juga dalam mendukung operasi kemanusiaan, penegakan hukum, dan penjagaan perdamaian internasional. A. Ketahanan Militer Udara Ketahanan militer udara merupakan aspek yang penting dalam pertahanan suatu negara. Dalam era modern, kekuatan udara telah menjadi komponen vital dalam strategi pertahanan suatu negara, baik untuk melindungi kedaulatan negara maupun untuk menjaga stabilitas regional. Ketahanan militer udara melibatkan penggunaan berbagai macam aset, teknologi, dan strategi yang bertujuan untuk mempertahankan keunggulan di udara. Ketahanan militer udara mencakup kemampuan sebuah negara untuk melindungi wilayahnya dari serangan udara, mengamankan ruang udara nasional, serta memberikan perlindungan bagi pasukan dan infrastruktur kritis. Dalam menghadapi ancaman udara, negara-negara harus mampu merespons dengan cepat dan efektif guna mengatasi ancaman yang datang dari pesawat tempur musuh, rudal udara-ke-udara, dan serangan udara lainnya. Indonesia memiliki 458 pesawat, yang terdiri dari 188 helikopter, 15 helikopter tempur, 64 pesawat angkut, 109 pesawat latih, 17 pesawat pengintai dan misi khusus, dan 41 pesawat tempur. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-28 secara global dan tertinggi di Asia Tenggara. Namun, dalam hal kepemilikan pesawat tempur, berada di urutan ke-40 secara global, jauh di bawah Vietnam (ke-28), Singapura (ke-22), Thailand (ke-30), dan Myanmar (ke-36). Selain itu, dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia masih kekurangan jumlah helikopter tempur yang memadai. Dalam rangka mencapai ketahanan militer udara yang optimal, negara-negara harus melibatkan berbagai komponen yang saling terkait, seperti pesawat tempur, pertahanan udara, radar, sistem komunikasi, dan personel yang terlatih. Kombinasi dari semua elemen ini memungkinkan negara untuk memiliki keunggulan udara dan mampu menjaga dominasi di udara. Selain itu, ketahanan militer udara juga mencakup strategi dan taktik yang digunakan untuk menghadapi ancaman udara. Hal ini melibatkan perencanaan operasi udara, pengembangan doktrin pertahanan udara, serta pelatihan personel udara.


2 Negara-negara yang memiliki ketahanan militer udara yang kuat mampu melaksanakan operasi militer udara yang efektif dan menjaga keamanan serta stabilitas wilayahnya. Dalam era modern, teknologi juga memainkan peran penting dalam ketahanan militer udara. Kemajuan dalam bidang pesawat tanpa awak (UAV), sistem pertahanan udara canggih, dan kemampuan komunikasi yang tinggi memberikan keunggulan taktis bagi negara-negara yang mampu mengadopsi dan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam strategi pertahanan udara mereka. B. Peran TNI-AU dalam Pertahanan Militer Udara TNI AU mempunyai peran penting dalam menyelenggarakan pertahanan kedaulatan wilayah udara NKRI dalam menghadapi ancaman keamanan di udara. Pasal 10 Undang - Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia menegaskan bahwa tugas dari TNI AU antara lain adalah melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan wilayah yurisdiksi nasional, melaksanakan tugas TNI dalam pengembangan matra udara, serta melakukan pemberdayaan wilayah pertahanan udara. Segala usaha untuk menciptakan kondisi wilayah udara yang aman merupakan kewajiban bagi TNI AU. Sebagai bentuk pelaksanaan tugas di atas dapat diwujudkan dalam kegiatan Operasi Militer Untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). TNI AU merupakan kekuatan yang nyata untuk menegakkan hukum terhadap kasus pelanggaran wilayah udara sebagaimana tercantum dalam penjelasan Pasal 8 Ayat 1 Undang – Undang No.1 Tahun 2009 bahwa yang dimaksud dengan “melanggar wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia” adalah memasuki wilayah udara Indonesia tanpa izin dan tidak tertuju pada siapa yang dapat melakukan pelanggaran tersebut. Tidak hanya itu, pesawat udara yang memasuki Kawasan Udara Terlarang dan Terbatas, serta ADIZ (Air Defence Identification Zone) juga dinyatakan telah melanggar yurisdiksi negara. Pasal 9 Undang – Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI mencantumkan bahwa pihak yang berwenang untuk menindak pelanggaran wilayah yurisdiksi nasional adalah TNI AU. Bentuk upaya yang dilakukan oleh TNI AU untuk menegakkan hukum dan mempertahankan keamanan wilayah udara Indonesia yaitu dengan cara melaksanakan Operasi Pertahanan Udara dalam tahap mendeteksi, mengidentifikasi, menindak, dan menetralisir atau mengurangi dampak dari ancaman udara. Proses penindakan yang dilakukan oleh pesawat tempur TNI AU antara lain (Hakim & Abu, 2019): 1. Shadowing (Membayang – bayangi) Dilakukan terhadap pesawat udara yang diperkirakan akan melanggar kedaulatan wilayah udara nasional. 2. Intervention (Penghalauan) Dilakukan terhadap pesawat udara yang melanggar wilayah udara nasional atau jalur penerbangan yang telah ditentukan/ketentuan ADIZ yang berlaku.


3 3. Interception (Intersepsi) Peringatan yang dilakukan oleh pesawat militer TNI AU yang memasuki wilayah udara nasional tanpa memiliki izin. Intersepsi dilakukan ketika terdapat penerbangan yang tidak memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan dan kegiatan tersebut menggunakan pesawat udara interceptor milik TNI AU. Pelaksanaan tindakan intersepsi telah diatur dalam Pasal 32 Ayat (3) Peraturan Pemerintah No.4 Tahun 2018 yang melibatkan koordinasi antara personel pemandu lalu lintas penerbangan dengan TNI untuk pemberian informasi kepada pesawat udara TNI terkait dengan pesawat udara yang melanggar. Pelaksanaan tindakan intersepsi juga harus memperhatikan keselamatan penumpang jika pesawat yang diintersepsi adalah pesawat udara sipil. Pesawat udara yang diintersepsi juga wajib mengikuti semua perintah yang diberikan pesawat interceptor. 4. Force Down (Pemaksaan Mendarat) Dilakukan terhadap setiap pesawat udara yang melanggar wilayah udara nasional dan dapat diperkirakan bermaksud untuk melakukan kegiatan – kegiatan yang tidak bersahabat. Tindakan force down merupakan pemaksaan mendarat terhadap pesawat udara di Landasan Udara terdekat apabila perintah yang diberikan sebelumnya dihiraukan. 5. Destruction (Penghancuran) Dilakukan oleh pesawat tempur sergap terhadap setiap pesawat udara yang melanggar wilayah kedaulatan dan tidak mengindahkan peringatan yang diberikan, mengancam keselamatan obyek vital, dan melakukan manuver yang membahayakan selama pesawat tempur melaksanakan penyergapan yang telah diatur dalam ROE (Rule of Engagement). Peran TNI AU sangat penting dan krusial sebagai penjaga wilayah udara nasional agar terbebas dari ancaman keamanan kedaulatan nasional. Untuk mewujudkan peran tersebut tentu saja membutuhkan infrastruktur yang memadai. TNI AU saat ini didukung oleh 24 rada militer yang mencakup sebagian besar wilayah udara Indonesia serta memiliki delapan skadron tempur yang tersebut di berbagai kawasan di Indonesia (Roza, 2014). Akan tetapi alat utama sistem persenjataan TNI AU terdapat beberapa keterbatasan kesiapan. Hal tersebut bisa dilihat dari masih banyakanya kasus pelanggaran wilayah udara nasional yang terjadi karena kekuatan alutsista yang sudah ada tidak sebanding dengan luas wilayah yang harus dijaga sehingga faktor tersebut menjadi penghambat pengawasan wilayah udara Indonesia yang tidak dapat dilakukan secara maksimal.


4 Pengamanan wilayah udara secara maksimal merupakan hal yang mutlak untuk menegakkan kedaulatan di wilayah udara karena tanpa adanya pengamanan maka kedaulatan tersebut akan terancam terhadap serangan udara dari pihak luar. Oleh karena itu, TNI AU, sebagai pelaksana tugas untuk menegakkan kedaulatan wilayah udara nasional dan penegakan hukum, harus dapat terakomodir dalam segala kepentingannya agar tercapainya pengamanan wilayah udara nasional secara maksimal.


5 BAB II TANTANGAN DAN HAMBATAN KETAHANAN TNI-AU TNI-AU bertanggung jawab atas wilayah udara Indonesia. Sehingga setiap terjadi pelanggaran di wilayah udara, maka TNI-AU akan mengatasi pelanggaran terebut. Contoh pelanggaran memasuki wilayah udara Indonesia tanpa izin yang dilakukan pesawat sipil jenis Gulfstream IV dengan Nomor HZ-103. Pesawat asing tersebut berangkat dari Singapura menuju Darwin, Australia, hingga tujuan akhir di Brisbane. Dalam mengatasi hal tersebut, TNI-AU mengirim dua pesawat tempur Sukhoi milik TNI-AU dari Skuadron udara 11 Makasar untuk mengejar pesawat asing tersebut. Pesawat TNI-AU berhasil memaksa pesawat asing tersebut mendarat di El Tari, Kupang. Oleh karena itu, TNI AU memiliki fungsi dalam penyelenggaraan pertahanan negara yaitu sebagai penangkal, penindak & pemulih dari ancaman yang dapat mengganggu NKRI melalui tindakan OMP (Operasi militer perang) maupun OMSP (Operasi militer selain perang) guna penguasaan wilayah Udara Nasional. Namun hal tersebut juga menjadi tantangan bagi TNI-AU dalam mempertahankan dan melindungi negara Indonesia. A. Tantangan TNI-AU Tantangan ketahanan nasional militer udara di Indonesia melibatkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan dan keberlanjutan kemampuan militer udara negara. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam hal ketahanan nasional militer udara antara lain: 1. Kemampuan Pertahanan Udara Kemampuan untuk melindungi wilayah negara dari ancaman udara, termasuk serangan udara, rudal balistik, dan serangan pesawat tempur lawan. Tantangan dalam hal ini meliputi pengembangan sistem pertahanan udara yang efektif, pelatihan personel, dan pemeliharaan peralatan yang tepat. 2. Kekuatan Udara Lawan yang Superior Keberadaan kekuatan udara lawan yang memiliki kemampuan superior dapat menjadi tantangan bagi ketahanan nasional. Hal ini melibatkan pengembangan strategi dan taktik yang efektif, serta investasi dalam pesawat tempur, pelatihan personel, dan sistem pertahanan udara yang mampu menandingi atau mengimbangi kekuatan lawan.


6 3. Keterbatasan Anggaran Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk pengembangan dan pemeliharaan kemampuan militer udara. Anggaran yang terbatas dapat membatasi investasi dalam pengadaan pesawat tempur, sistem pertahanan udara, dan pemeliharaan fasilitas militer udara secara keseluruhan. 4. Kompleksitas Geografis Indonesia memiliki kepulauan yang luas dan wilayah yang terdiri dari berbagai jenis lingkungan geografis seperti gunung, hutan, dan lautan. Hal ini menciptakan tantangan dalam pengoperasian dan pemeliharaan pesawat tempur, perawatan landasan pacu, dan penyediaan dukungan logistik di seluruh wilayah yang terpencar. 5. Modernisasi dan Peningkatan Kemampuan Perkembangan teknologi dalam militer udara mengharuskan Indonesia untuk terus meningkatkan kemampuan dan memodernisasi peralatan militer udara. Upaya untuk mengadopsi teknologi baru dan pesawat tempur canggih memerlukan investasi yang signifikan dan kemampuan teknis yang memadai. 6. Ancaman Asimetris Ancaman asimetris seperti terorisme, perang cyber, dan serangan terhadap infrastruktur kritis dapat mempengaruhi ketahanan nasional militer udara. Menghadapi ancaman semacam ini membutuhkan kerjasama yang erat antara militer, intelijen, dan lembaga keamanan terkait. 7. Ketergantungan pada Teknologi Asing Tantangan lain adalah ketergantungan pada teknologi asing dalam pengadaan pesawat tempur dan sistem pertahanan udara. Ketergantungan ini dapat menciptakan keterbatasan dalam hal pemeliharaan, perbaikan, dan pengembangan kemampuan mandiri dalam industri pertahanan nasional. B. Strategi Strategi ketahanan militer udara nasional melibatkan serangkaian tindakan yang dirancang untuk melindungi wilayah suatu negara dari ancaman dan serangan udara. Berikut adalah beberapa strategi umum yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan militer udara nasional: a. Sistem Pertahanan Udara Terpadu (Integrated Air Defense System, IADS) IADS melibatkan penggunaan berbagai platform dan sistem pertahanan udara yang terintegrasi secara sinergis. Ini mencakup radar jarak jauh, sistem rudal pertahanan udara, pesawat tempur, dan sistem pengawasan udara untuk mendeteksi, melacak, dan menangkal ancaman udara.


7 b. Pertahanan Udara Asimetris Strategi ini melibatkan penggunaan kombinasi berbagai sistem pertahanan udara yang tidak biasa atau tidak konvensional untuk membingungkan dan memperlambat serangan musuh. Contohnya adalah penggunaan rudal permukaan-ke-udara portabel (man-portable air defense systems, MANPADS) oleh pasukan infanteri untuk mendukung pertahanan udara. c. Operasi Udara Taktis Dalam situasi konflik, operasi udara taktis dapat digunakan untuk melancarkan serangan udara terhadap pasukan musuh dan mengurangi kemampuan mereka untuk melancarkan serangan udara. Ini melibatkan penggunaan pesawat tempur, pesawat pembom, dan drone bersenjata untuk menghancurkan target udara musuh. d. Pengembangan Teknologi Pertahanan Udara Negara-negara harus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi pertahanan udara yang canggih. Hal ini mencakup pengembangan sistem pertahanan udara yang lebih cepat, lebih kuat, dan lebih akurat, serta pesawat tempur generasi berikutnya dengan kemampuan yang lebih baik dalam mendeteksi dan menghancurkan target udara musuh. e. Kerjasama Internasional Negara-negara dapat meningkatkan ketahanan militer udara nasional dengan menjalin kemitraan dan kerjasama dengan negara-negara lain. Ini dapat melibatkan pertukaran intelijen, pelatihan bersama, dan kolaborasi dalam pengembangan teknologi pertahanan udara. C. Hambatan ketahanan nasional militer udara Faktor – faktor penghambat pelaksanaan pengamanan wilayah udara di antaranya terdapat pada keterbatasan alutsista sehingga pengamanan wilayah udara nasional tidak bisa terlaksanakan secara maksimal, serta perihal keterlibatan TNI AU dalam proses penyidikan pada kasus pelanggaran wilayah udara nasional yang di mana TNI AU tidak terlibat dalam proses penyidikan melainkan kewenangan tersebut hanya diberikan kepada PPNS Penerbangan sehingga proses penegakan hukum terhambat. Untuk itu, demi mengatasi hambatan di atas maka, sebaiknya TNI AU dilibatkan dalam semua proses penegakkan hukum termasuk proses penyidikan agar tercapainya kelancaran dalam penindak lanjutan terhadap pelanggar wilayah udara nasional. Pengembangan alutsista yang memadai juga diperlukan agar seluruh wilayah udara nasional dapat dijangkau oleh TNI AU sehingga dapat menjalankan tugas pengamanan wilayah udara nasional tanpa hambatan.


8 Berikut beberapa faktor yang dapat menghambat ketahanan nasional militer udara Indonesia, di antaranya: a. Teknologi dan Peralatan yang Ketinggalan: Peralatan militer udara Indonesia tergolong ketinggalan dibandingkan negara-negara maju lainnya, sehingga operasionalnya kurang efektif dan tidak mampu bersaing dengan militer udara negara lain yang lebih maju. b. Masalah Perawatan dan Perbaikan Peralatan: Masalah perawatan dan perbaikan peralatan militer udara Indonesia yang seringkali terhambat karena kekurangan suku cadang dan sumber daya manusia yang terampil. c. Masalah Kebijakan dan Administratif: Kebijakan dan administrasi yang tidak efektif dan terkadang kurang jelas dapat menghambat kemampuan militer udara dalam mengambil tindakan operasional yang cepat dan tepat. Dengan demikian, semoga e-book ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh kalangan yang ingin menambah wawasan mengenai peran militer udara dalam pertahanan Indonesia. Maaf apabila ada kesalahan kata, kritik dan saran sangat terbuka bagi penulis. Adapun semua materi mengenai militer udara di dalam e-book ini, telah dipresentasikan dalam bentuk video. Apabila penjelasan kurang dipahami dapat mengakses video tersebut. Berikut link video: https://youtu.be/rN1NTPEXCE4


9 DAFTAR PUSTAKA Gendut Hery Wibowo, D. D. (2022). Penguatan Alutsista Sebagai Pilar Kekuatan Militer Indonesia. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol. 9 No. 5, 1691-1692. Indonesia, L. I. (2019). Ketahanan Keamanan Nasional Indonesia: Tantangan dan Strategi Pengembangan Ke depan. Jakarta : LIPI Press. Nugroho, R. B. (2016). Tantangan Ketahanan Nasional Indonesia. Jurnal Hubungan Internasional, 4 (2), 76-88. Soemarwi, V. W. (2016). Kekuatan Udara Indonesia dan Upaya-upaya Perlindungannya. Era Hukum, No. 1/TH.16/Juni 2016, p.31. Sudirin, W. B. (2022, April). Peran TNI-AU Dalam Manajemen Pertahanan Udara (Studi pada Kohanudnas dalam menggunakan Sishanudnas). Jurnal Politik, Keamanan dan Hubungan Internasional, Vol. 1 No.1, 67-69. Susanto, D. A. (2018). Tantangan Peningkatan Ketahanan Nasional di Era Disruptive Technology. Jurnal Pertahanan, 2(1), 73-84. Wiradipraja, E. S. (2009). Wilayah Kedaulatan Udara Negara (State Air Territory) Ditinjau dari Segi Hukum Internasional dan Nasional Indonesia. Indonesia Journal of International Law, Vol. 6, (No.4), p. 396.


Click to View FlipBook Version