Barkah Rizqi Nurul Isnaen Azzahra Khoerunisa Pilih Kasih? Cerita Pendek Karya Siswa SD Negeri Baros Mandiri 1
Pilih Kasih? Cerita Pendek Karya Siswa SD Negeri Baros Mandiri 1 Barkah Rizqi Nurul Isnaen Azzahra Khoerunisa
Kata Pengantar Puji syukur kepada Allah swt. Telah selesai buku cerita pendek karya siswa SD Negeri Baros Mandiri 1 edisi pertama. Buku ini berisi beberapa cerita pendek karya siswa SD Negeri Baros Mandiri 1 yang dibuat secara mandiri selama semester 1 Tahun Ajaran 2022- 2023. Dengan dibuatnya buku ini, diharapkan dapat memberikan motivasi siswa untuk terus belajar dalam literasi menulis dan membaca. Diharapkan juga dapat mengembangkan kemapuan imajinasi siswa untuk berkarya membuat inovasi karya tulis dan karya lainnya. Demikian, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membaca buku ini. Terima Kasih. Cimahi, November 2023 Penyusun. i
ii
Daftar Isi Kata Pengantar ........................................................................................................................ i Daftar Isi ................................................................................................................................... iii Pilih Kasih? ................................................................................................................................ 1 Tertangkap CCTV .................................................................................................................. 6 Ku Ucapkan Terima Kasih ................................................................................................... 8 Pembuat Kue Yang Cantik ................................................................................................. 11 Kapan Kita Bertemu Lagi? ................................................................................................. 13 Profil Pengarang ................................................................................................................... 14 Sketsa Cerita ......................................................................................................................... 15 iii
iv
Pilih Kasih? Hallo… namaku Azzura Calistya. Saat ini aku duduk di kelas 1 SMA. Aku berumur 16 tahun. Aku mempunyai seorang kakak. Kakakku bernama Anatasya Jolyn. Kakakku saat ini duduk di kelas 3 SMA. Kakakku berumur 18 tahun. Aku dan kakakku bersekolah di SMA Neo. Kakakku adalah anak adopsi. Orang tuaku mengadopsinya saat aku berumur 12 tahun. Semenjak kakak ada di keluargaku, aku merasa kasih sayang ayah dan bunda berkurang kepadaku. Oh ya, ayahku bernama Alex dan ibuku bernama Listya. Empat tahun yang lalu… Bunda : “Azzura, kesini sebentar, Nak. Ayah dan Bunda ingin bicara.” Azzura : “Iya, bun sebentar. Zura mau mandi dulu.” Lima belas menit kemudian, aku turun ke lantai satu menghampiri Ayah dan Bunda. Azzura : “Ada apa, Bun?” Bunda : “Sini, Sayang. Ayah dan Bunda ingin bicara.” Aku duduk diantara Ayah dan Bundanya. Azzura : “Apa yang Ayah Bunda ingin bicarakan?” Ayah : “Apakah kamu ingin punya saudara?” Azzura : “Mengapa Ayah tiba-tiba bertanya seperti itu?” Ayah dan Bunda terdiam. Tidak mengatakan apapun. Azzura : “Ayah, Bunda, mengapa diam saja?” Ayah : “Eummm, tidak, sayang.” Azzura : “Lalu?” Aku makin bingung dan penasaran. Ayah : “Sebenarnya, Ayah dan Bunda berniat untuk mengadopsi anak. Apakah kamu keberatan?” Aku terdiam. Mencoba memahami yang Ayah katakan. Aku cukup terkejut. Azzura : “Apakah Ayah serius?” 1
Ayah : “Ayah serius, Zura. Apakah kamu keberatan?” Azzura : “A-aku tidak keberatan, Yah. Aku senang jika memiliki saudara.” Ayah : “Syukurlah kalau begitu.” Azzura : “Tapi ada syaratnya.” Ayah : “Apa syaratnya?” Azzura : “Ayah dan Bunda jangan berubah ya. Ayah dan Bunda harus tetap sayang pada Zura.” Ayah : “Tentu saja, Sayang.” Bunda : “Ayah dan Bunda akan tetap sayang pada Zura.” Sekarang. Kenyataannya perlahan-lahan Ayah dan Bunda berubah sejak kedatangan Kak Tasya. Huuh… Mengapa mereka tidak menepati janji. Aku menatap kosong ke arah jendela. Melihat hujan yang sejak tadi mengguyur halaman rumah. Lima belas menit berlalu. Bunda : “Azzura…! Tasya…!” Aku pun tersadar dari lamunanku. Azzura : “Iya, Bun. Sebentar.” Aku keluar kamar menuruni anak tangga untuk menghampiri Bunda. Tasya : “Iya, Bun.” Tidak lama kakakku pun datang menghampiri. Ayah dan Bunda tampak berpakaian rapi. Seperti akan pergi ke luar rumah. Azzura : “Ayah, Bunda, mau kemana?” Di tengah kebingungankku, aku menatap Kak Tasya tersenyum lebar. Perasaanku menjadi tidak enak. Azzura : “Mau kemana, Bun?” Bunda : “Ayah dan Bunda mau pergi ke rumah Tante Sarah. Tante Sarah mengadakan syukuran atas kelulusan anaknya masuk ke universitas favorit. Ayo kalian siap-siap ikut kami.” Tasya : “Iya, Bun. Tasya siap-siap dulu.” 2
3 Kak Tasya sangat bersemangat untuk ikut. Sedangkan aku sebaliknya. Aku malas berkumpul dengan para orang tua yang membangga-banggakan kelebihan anak-anaknya. Azzura : “Zura, tidak ikut. Zura mau di rumah aja.” Kak Tasya berhenti menuju kamarnya mendengar jawabanku seperti itu. Ayah : “Kok tidak ikut, Zura. Disana banyak teman-teman seusia kamu. Kamu bisa mengobrol, berbagi cerita dan pengalaman. Agar kamu tidak di rumah terus juga. Setiap hari kamu menghabiskan waktu di kamar. Selain sekolah, kamu tidak ada kegiatan yang lain lagi. Kamu harus belajar bersosialisasi.” Azzura : “Pokoknya Zura tidak ikut.” Aku langsung pergi masuk kembali ke kamar. Tidak lama kemudian, Kak Tasya menyusulku ke kamar. Tasya : “Kalau kamu tidak ikut, Kak Tasya juga tidak akan ikut. Kak Tasya mau menemani kamu di rumah.” Aku tidak menghiraukannya. Kemudian Kak Tasya keluar dari kamarku. Katanya dia ingin keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Aku tetap tidak menghiraukannya. Kak Tasya itu nyaris sempurna. Cantik, pintar, berprestasi dan baik hati. Sedangkan aku tidak memiliki kelebihan apapun. Wajar saja jika Ayah dan Bunda lebih sayang pada Kak Tasya. Ayah dan Bunda sangat bangga pada Kak Tasya. Tiga puluh menit kemudian, Kak Tasya kembali ke kamarku. Tasya : “Zura, Kakak membeli pizza. Ayo kita makan bersama!” Wah! Pizza! Makanan kesukaanku. Aku pun langsung turun menuju ruang keluarga. Dan langsung memakan pizza yang Kak Tasya beli dengan lahap. Dengan cepat suasana hatiku pun langsung membaik. Tasya : “Bagaimana? Kamu senang, kan.” Aku hanya tersenyum sambil terus memakan pizza yang enak itu. Tasya : “Kakak paham mengapa kamu tidak mau ikut Ayah dan Bunda.
Kamu tidak nyaman kan dengan suasana seperti itu?” Aku hanya terdiam. Tasya : “Sebenarnya Kakak juga kurang nyaman, tapi…” Azzura : “Tapi Kak Tasya tetap bisa berkumpul dan bersikap baik pada mereka. Karena itu, mereka sangat suka Kak Tasya.” Tasya : “Zura. Kak Tasya hanya ingin membalas kebaikan Ayah dan Bunda. Jadi Kakak berusaha bersikap sebaik mungkin yang Kakak bisa.” Kami berdua terdiam sejenak. Tasya : “Ayah dan Bunda sayang Zura. Mereka tidak pernah membedabedakan kita. Zura tidak perlu mendengarkan apa kata orang.” Benar. Orang-orang selalu membanding-bandingkan aku dan Kak Tasya. Aku tidak suka mendengarnya. Hari ini hari minggu. Seperti biasa, aku tidak kemana-mana. Aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar membaca buku, menggambar atau sekedar menonton acara TV kesukaanku. Tiba-tiba Ayah datang ke kamarku. Ayah : “Zura, kita pergi jalan-jalan. Sudah lama kita tidak pergi bersama.” Azzura : “Zura capek, Yah. Zura tidak mau ikut.” Ayah : “Capek? Daritadi kamu di kamar terus. Ayo kita keluar, kita makan eskrim kesukaan Zura.” Sebenarnya aku ingin makan eskrim tapi aku malas. Kemudian Kak Tasya datang. Tiba-tiba dia menarikku dari tempat tidur dan memaksaku turun. Tasya : “Ayo Zura!” Kak Tasya menarik tanganku. Tidak tahu mengapa jika Kak Tasya yang memaksa aku tidak bisa menolak. Di halaman rumah sudah ada Bunda menunggu. Kemudian Ayah mengikuti di belakang aku dan Kak Tasya. Kami pergi ke tempat makan eskrim kesukaanku. Sudah lama sekali aku tidak kesana. Ayah sibuk bekerja. Bunda sibuk menemani Kak Tasya mengikuti kompetisi. Kemudian kami pun makan eskrim bersama. Bunda : “Zura, Ayah dan Bunda mau minta maaf pada Zura karena akhir-akhir 4
5 ini Ayah dan Bunda terlalu sibuk. Ayah dan Bunda tidak bermaksud membuat Zura merasa tidak diperhatikan.” Aku hanya terdiam. Ayah : “Ayah juga minta maaf karena kemarin memaksa Zura untuk ikut. Ayah tidak tahu kalau Zura tidak nyaman ke acara seperti itu. Zura tidak perlu memikirkan yang orang-orang katakan. Ayah dan Bunda tetap sayang Zura.” Kak Tasya tersenyum kepadaku. Pasti dia yang cerita pada Ayah dan Bunda. Bunda : “Bagaimana? Zura memaafkan Ayah dan Bunda kan?” Azzura : “Tapi Ayah dan Bunda senang kan orang-orang memuji Kak Tasya?” Ayah : “Ayah senang. Tapi Ayah juga bangga punya anak seperti Zura. Kamu anak Ayah dan Bunda yang paling lucu dan menggemaskan.” Ayah mencubit pipiku dengan gemas. Azzura : “Ayah… Zura udah besar. Jangan dicubit seperti itu.” Bunda : “Ayah dan Bunda percaya setiap anak punya kelebihan masingmasing. Zura tidak perlu sedih.” Aku senang mendengar ucapan Ayah dan Bunda. Kak Tasya pun senang melihatku tidak sedih lagi. Semoga suatu hari nanti aku bisa membuat Ayah dan Bunda lebih bangga. Sejak itu, Ayah dan Bunda selalu berusaha memperhatikanku walaupun mereka sibuk. Kak Tasya juga selalu berusaha mendampingiku di setiap kegiatan yang aku lakukan. Selesai. Pengarang : Barkah Rizqi Nurul Isnaen
Tertangkap CCTV Halo… namaku Sakura. Aku berumur 20 tahun. Aku tinggal di apartemen no. 10 lantai 2. Kamar ku tidak terlalu besar, tapi nyaman untu ditempati. Aku memilih kamar dekat tangga dan lift. Jika ada kebakaran atau hal buruk apapun, aku bisa cepat turun. Aku akan menceritakan pengalaman paling horror dalam hidupku. Pada tanggal 18 Juli 2020, tepatnya hari Sabtu, aku pergi ke pasar tradisional terdekat setelah solat Subuh. Jam 7 pagi, aku kembali ke apatemen. Kemudian aku melakukan aktivitas di rumah karena hari itu adalah hari libur. Tidak terasa sudah jam 5 sore. Aku segera mandi, kemudian menonton TV. Saat aku menonton TV, aku merasa di awasi. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Dengan rasa sedikit takut, aku membuka pintu. Ternyata, kurir pengantar paket yang datang. Aku membeli sebuah kamera CCTV kecil untuk dipasang di kamarku. Buat jaga-jaga. Kesokan harinya, aku pergi ke rumah temanku di jalan Mawar Sadis no. 93. Tidak begitu jauh dari apartemenku. Keasyikan ngobrol, aku pulang jam 10 malam. Aku naik menggunakan lift karena malas dan lelah untuk naik tangga. Saat di dalam lift, aku merasa merinding. Aku melihat ke kiri ke kanan dan ke atas untuk memastikan tidak ada apa-apa. Saat pintu lift terbuka, aku buru-buru masuk kamar dan menutup pintu dan menarik napas lega. Karena merasa gerah, aku ingin mandi. Tiba-tiba aku ingat ucapan nenekku kalau tidak boleh mandi di malam hari. Aku tidak percaya mitos seperti itu. Ya sudah, akhirnya aku mandi. Selesai mandi, aku terkejut. Ternyata sudah jam 12 tengah malam. Disitu aku mulai merasa aneh. Aku merasa ada yang mengawasi. Kemudian aku mendengar seperti suara beberapa anak kecil berlari-lari. Aku semakin merinding. Kemudian aku memutuskan untuk memainkan HP sambil rebahan untuk mengalihkan perhatian. Bukannya merasa tenang, aku malah merasa 6
7 kakiku susah digerakkan. Seperti ada yang menahan. Mulutku juga terasa kaku, susah bicara. Aku juga melihat ada yang merah-merah gitu di dekat kakiku. Jangan-jangan benar kata nenekku. Kalau mandi malam-malam, akan datang hantu?! Disitu aku ketakutan. Mana aku tinggal sendirian. Kemudain aku berhenti main HP dan langsung memaksa menutup mata agar cepat tidur. Dan akhirnya aku bisa tidur. Hari selanjutnya, aku langsung bersiap-siap untuk bekerja. Kemudian aku mengecek CCTV di HPku. Aku sangat terkejut karena ada mata-mata merah seperti melihat ke arahku. Aku juga melihat sosok makhluk aneh dalam rekaman CCTV itu. Aku panik. Aku buru-buru mengambil tas dan keluar dari kamar. Menuju tempat parkir, mengambil motorku dan pergi ke tempat kerja. Sesampai di tempat kerja, aku masih merasa panik. Keadaanku yang panik membuat teman-teman kerjaku merasa heran. Aku bergegas ke meja kerjaku. Salah satu temanku menghampiri dan menanyakan keadaanku yang sepertinya tidak baik-baik saja. Kemudian aku menceritakan apa yang terjadi di apartemenku. Mendengar ceritaku, temanku menyarankan agar aku mengadakan pengajian di apartemenku. Aku pun menerima dan menyetujui saran temanku itu. Malam harinya, aku mengadakan pengajian sederhana, mengundang seorang ustad dan beberapa teman dan tetanggaku. Kami membaca ayatayat suci Al-Quran bersama-sama. Setelah acara pengajian semalam, aku tidak merasakan hal-hal aneh lagi. Aku merasa lega. Aku bisa beraktifitas seperti biasa lagi tanpa rasa takut. Selesai. Pengarang : Azzahra Khoerunisa
Ku Ucapkan Terima Kasih Halo namaku Leo. Aku tinggal berdua dengan ayahku. Ayahku sakitsakitan sejak ibu dan adikku tiada. Aku duduk di kelas 3 SD. Leo : “Ayah, aku pergi keluar sebentar ya.” Ayah : “Me-memangnya ka-kamu mau kemana, Leoo..” Leo : Sebentar aja, kok Yah.” Sampailah aku di suatu tempat (toko kue yang tidak jauh dari rumahku). Leo : “Aku ingin membeli kue untuk ulang tahun ayah hari ini.” Bisikku dalam hati. Seorang perempuan pemilik toko menghampiriku. Pemilik Toko 1 : “Mau beli apa, dek.” Leo : “Mau beli kue kecil itu. Berapa harganya, bu?” Pemilik Toko 1 : “25.000.” Aku terdiam. Pemilik Toko 1 : “Bagaimana? Jadi tidak?” Tanpa berpikir panjang, aku mengambil kue itu dan berlari sekencang mungkin. Pemilik Toko 1 : “Sayaaang!! Ada yang mencuri kue kitaaa!!!” Teriak pemilik toko memanggil suaminya dan merasa panik. Aku terus berlari menuju rumahku tanpa menoleh ke belakang. Dalam pikiranku, hanya ingin membuat ayah senang di hari ulang tahunnya. Leo : “Ayah, Ayah! Lihat aku membawa kue untuk ayah. Selamat ulang tahun Ayahku sayaaang!” Seruku bahagia bisa memberikan kue untuk ayahku. Ayah pun tersenyum dan matanya berkaca-kaca. Ayah : “Padahal tidak usah, Leo.” Leo : “Tidak apa-apa, Yah. Ayo makan kuenya.” Ayah : “Ya udah deh.” Aku mengambil sendok dan menyuapi ayahku kue. Leo : “Buka mulutnyaaa. Aaaa…” 8
9 Ayah memakan kue itu dengan perasaan gembira. Aku juga merasa sangat senang. Beberapa saat kemudian. Ada yang mengetuk pintu rumahku. Tok-tok-tok!!! Aku segera membuka pintu. Aku terkejut karena yang datang adalah laki-laki pemilik toko kue tadi. Pemilik Toko 2 : “Jangan takut, Leo. Bapak kesini hanya ingin memberimu kue ini. Semoga kamu dan ayahmu suka.” Aku semakin terkejut dan merasa bingung. Pemilik toko itu memberiku 3 box kue. Pemilik Toko 2 : “Lain kali, jangan mengambil barang yang bukan milikmu lagi ya.” Pemilik toko itu mengusap kepalaku, kemudian pergi meninggalkan rumahku. Aku hanya terdiam karena masih merasa terkejut. Sampai-sampai, aku lupa mengucapkan terima kasih. Semakin hari ayahku semakin membaik kesehatannya. Kami bekerja sama agar dapat menjalani hidup kami seperti biasa lagi. Setiap bulan kami selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi makam ibu dan adikku. Ayah bekerja. Aku harus mandiri ketika ayah tidak ada di rumah. Aku belajar dengan giat agar bisa membanggakan ayah dan, ibu dan adikku di surga sana. Bertahun-tahun kemudian. Aku sudah dewasa dan memiliki karir yang bagus. Aku seorang dokter. Bahkan aku memiliki sebuah klinik. Ayahku sudah tidak bekerja. Aku meminta ayah menikmati masa tuanya. Biar aku saja yang bekerja sekarang. Suatu hari ada seorang kakek di klinikku. Dia nampak sangat familiar. Setelah melihat lebih dekat, ternyata dia adalah pemilik toko kue baik hati yang memberiku kue secara gratis. Sepertinya dia mengantar istrinya yang sedang sakit. Istrinya terbaring lemas di ranjang klinik. Kakek itu menangis melihat keadaan istrinya. Aku menghampiri mereka.
Leo : “Kakek, ada apa? Kenapa menangis?” Kakek : “Istri saya sakit leukemia, Dok. Tapi saya tidak memiliki cukup uang untuk pengobatannya” Jawab kakek itu sambil menangis. Leo : “Saya akan bantu biaya pengobatan nenek. Saya pemilik klinik ini. Nanti saya beri pengantar untuk berobat di rumah sakit besar. Agar nenek ditangani oleh dokter spesialis.” Kakek itu sangat terkejut. Kemudian berterima kasih kepadaku dengan penuh rasa haru. Leo : “Kakek masih ingat saya?” Kakek itu mencoba mengingat. Kakek : “Ka-kamuuu, Leo kan. Anak yaaang…” Leo : “Iya, Kek.” Kakek : “Jadi benar, kamu Leo. Akhirnya kamu bisa sehebat ini.” Leo : “Terima kasih, Kek. Oh, iya. Saya belum sempat mengucapkan terima kasih untuk kue yang kakek beri waktu itu.” Kakek : “Itu bukan apa-apa. Waktu itu saya terharu melihat kamu menyuapi ayahmu yang sedang sakit. Saya pikir kamu sedang kesusahan. Sampai-sampai kamu nekat seperti itu.” Leo : “Iya, kek. Maaf, saya salah. Untung kakek orang yang baik. Mengenai pengobatan nenek, kakek jangan khawatir. Kakek temani nenek saja.” Kakek : “Terima kasih banyak, Leo. Semoga kamu semakin sukses dan selalu peduli pada orang yang kesusahan.” Leo : “Aamiin. Terima kasih, Kek.” Selesai. Pengarang : Azzahra Khoerunisa 10
Pembuat Kue Yang Cantik Halo namaku Layla. Umurku 17 tahun. Aku mempunyai 2 orang adik. Ayah dan ibuku sudah tiada. Sekarang, aku yang harus bertanggung jawab untuk merawat kedua adikku. Kami tinggal di rumah sederhana peninggalan orang tua kami. Untuk memenuhi kebutuhanku bersama adik-adikku, aku berjualan kue keliling. Ini hari ke 5 aku berjualan kue. Penghasilanku cukup banyak. Tapi aku harus mengelolanya sebaik mungkin. Aku kelas 2 SMA. Pendidikanku terhenti karena kekurangan biaya. Aku hanya bisa membiayai sekolah adik pertamaku. Kueku laris karena pembeli selalu bilang aku cantik. Sekali saja laki-laki melihatku mereka akan membeli kueku dengan jumlah yang banyak dan kemudian membeli kembali secara terus menerus. “Aneh.” Karena kueku semakin laris, aku pun bisa membiayai sekolah adikku yang kedua. Beberapa tahun kemudian. Adikku yang pertama kelas 2 SMA dan yang kedua kelas 5 SD. Sedangkan aku berumur 22 tahun. Sekarang aku sudah memiliki toko kue meskipun tidak besar. Adikku selalu bilang. “Kakak kok semakin lama semakin cantik?” Aku heran dengan pertanyaan adikku itu. “Emmm, ya sudah. Kakak mau ke toko kue dulu ya. Bye...” jawabku mengalihkan pembicaraan sambil melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan adikku. “Tapi kak…” sahut adikku masih merasa penasaran. Di suatu sore hari. “Kakak pulaaang. Huuft capeek.” “Yeaaay… kakak pulaaang…” seru adik-adikku. “Lihat tabungan kakak sudah banyak. Kakak akan simpan untuk biaya pendidikan kalian. Kakak ingin kalian belajar sebaik mungkin dan 11
mewujudkan cita-cita kalian,” seruku sambil menunjukkan buku tabunganku. “Baik, Kak. Terima kasih sudah merawat kami dengan baik.” Kemudian adik-adikku memelukku dengan erat. Selesai. Pengarang : Azzahra Khoerunisa 12
Kapan Kita Bertemu Lagi? Halo… namaku Kia (Kiara Liora Putri). Aku tinggal di Jakarta. Aku berasal dari Bandung. Aku pindah ke Jakarta karena ayahku pindah tugas kerja. Aku duduk di kelas 5 SD. Ketika di Bandung aku memiliki seorang sahabat. Namanya Velia. Hari itu, aku sedang bermain boneka dengan Velia di rumahku. Tiba-tiba ayahku datang dan berkata bahwa kami harus pindah ke Jakarta karena ayah mendapat perintah untuk berpindah tempat tugas dari kantornya. Aku sangat terkejut. Aku menolak keputusan ayah untuk pindah dan ingin tetep tinggal disini. Namun ayah tidak bisa memenuhi keinginanku. Aku pun berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu, kemudian menangis karena aku sangat sedih. Velia dan ibuku menghampiri kamarku dan mencoba menenangkanku. Hari itu hari Rabu. Akhirnya aku bersedia ikut pindah. Aku mengemasi barang-barangku ditemani sahabatku, Velia. Sebelum pergi, Aku memeluk Velia dan mengucapkan selamat tinggal. Kami berjanji akan terus memberi kabar dan akan tetap bersahabat walaupun kami terpisah. Lima tahun kemudian. Aku duduk di kelas 10 SMA. Pekerjaan ayahku di Jakarta telah selesai. Kami sekeluarga bisa kembali tinggal di Bandung. Aku sangat bahagia karena dapat bertemu kembali dengan Velia. Begitu pun Velia. Saat memberitahunya bahwa aku akan kembali tinggal di Bandung, dia sangat bahagia. Kami tidak sabar untuk dapat bermain bersama lagi. Kami tiba di Bandung. Kami akan tinggal di rumah lama kami. Velia menunggu di depan rumahku untuk menyambut kedatanganku. Kami langsung berpelukan, bahagia karena bertemu lagi. Ayah dan ibuku pun merasa senang. Sejak itu, aku dan Velia selalu bersama. Kami bersekolah di sekolah yang sama. Kami sangat bahagia. Selesai. Pengarang : Azzahra Khoerunisa 13
Profil Pengarang Nama : Barkah Rizqi Nurul Isnaen Kelas : 6C Tahun Ajaran 2022-2023 Nama : Azzahra Khoerunisa Kelas : 6C Tahun Ajaran 2022-2023 14
Sketsa Cerita 15
16
17