1.Biografi Ir. Soekarno, Sang Proklamator Republik Indonesa Ir. Soekarno – Grameds pasti sudah tidak asing lagi dengan Ir.Soekarno, Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan presiden pertama Republik Indonesia. Perjuangan dan jasanya untuk bangsa Indonesia tidak terhitung jumlah, bahkan kehebatannya tidak hanya terkenal di dalam negeri namun sampai internasional. Itulah sebabnya biografi Ir. Soekarno sangat menarik untuk dibahas dan diketahui oleh generasi bangsa Indonesia. Sosok Soekarno memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Indonesia dan memberikan banyak teladan bagi bangsa. Banyak tenaga, pemikiran, bahkan jiwa dipertaruhkan oleh Soekarno untuk Indonesia, mulai dari melawan penjajahan sampai membangun bangsa ini menjadi seperti sekarang. Soekarno menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang akan terus terkenang jasa-jasanya. Berikut ini penjelasan singkat biografi Ir. Soekarno yang perlu Grameds ketahui sebagai generasi bangsa agar dapat memetik nilai-nilai positif dari kisah sang proklamator. 2.Kehidupan Pribadi Ir.Soekarno Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo (1873–1945) dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai (1881– 1958).[7] Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali.[7] Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.[7] Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir.[13]:4-6, 247-251 Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.[7] Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut.[7] Di Mojokerto, ayahnya memasukkan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.[13] Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS).[7] Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur.[7] Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto.[7] Tjokroaminoto bahkan memberi tempat
tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya.[7] Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.[7] Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo.[7] Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.[7] Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto. Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921,[14] bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921,[3]:38 setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali[3]:38 dan tamat pada tahun 1926.[15] Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas insinyur lainnya.[3]:37 Prof. Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan "Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa".[3]:37 Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo,[16]:167 selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.[16]:167 Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.[7] Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij. 3.Pekerjaan 1. Ir. Soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya. 2. Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami' di tengah kota. 4.Pengaruh Terhadap Karya Arsitektur Semasa menjabat sebagai presiden, ada beberapa karya arsitektur yang dipengaruhi atau dicetuskan oleh Soekarno. Juga perjalanan secara maraton dari bulan Mei sampai Juli pada tahun 1956 ke negara-negara Amerika Serikat, Kanada, Italia, Jerman Barat, dan Swiss. Membuat cakrawala alam pikir Soekarno semakin kaya dalam menata Indonesia secara holistik dan menampilkannya sebagai negara yang baru merdeka.[19] Soekarno membidik Jakarta sebagai wajah (muka) Indonesia terkait beberapa kegiatan berskala internasional yang diadakan di kota itu, namun juga merencanakan sebuah kota
sejak awal yang diharapkan sebagai pusat pemerintahan pada masa datang. Beberapa karya dipengaruhi oleh Soekarno atau atas perintah dan koordinasinya dengan beberapa arsitek seperti Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono, dibantu beberapa arsitek junior untuk visualisasi. Beberapa desain arsitektural juga dibuat melalui sayembara. 5.Masa Kecil Dan Pendidikan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, merupakan putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayah dari Bung Karno merupakan seorang guru yang pernah mengajar di Bali. Sedangkan, ibundanya adalah anak dari bangsawan Hindu Bali. Soekarno kecil tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulungagung, Jawa Timur. Kemudian, ia pindah bersama orang tuanya di Mojokerto dan bersekolah di Eerste Inlandse School. Pada Juni 1911, Bung Karno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS). Tepat tahun 1915, Soekarno diterima di Pendidikan Menengah Umum atau Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Di sana, ia berguru dan tinggal bersama politisi pendiri Sarekat Islam (SI), Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto. Setelah menyelesaikan pendidikan di HBS, Soekarno melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan teknik sipil di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau ITB pada tahun 1921. Soekarno mendapatkan gelar insinyur (Ir.) tahun 1926. 6.Perjuangan Ir.soekarno Pada Masa belanda Soekarno mulai aktif berorganisasi saat tinggal di Surabaya. Pemikirannya dipengaruhi oleh para pemimpin Sarekat Islam, seperti: Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim dan Abdul Muis. Kemudian, Soekarno juga aktif di organisasi pemuda Tri Koro Dharmo dan menulis di harian Oetoesan Hindia. Soekarno pindah ke Bandung dan tinggal bersama anggota Sarekat Islam, Haji Sanusi. Di sana Soekarno berinteraksi dengan pemimpin National Indische Partij, Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker. Di tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) yang nantinya menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Pemerintah Belanda terancam dengan aktivitas Soekarno di organisasi tersebut, maka pada 29 Desember 1929 Soekarno ditangkap dan dijebloskan ke penjara Banceuy.
Pada tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Soekarno dibebaskan setelah dirinya membaca pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat di hadapan pemerintah Hindia Belanda, anggota PNI dan masyarakat umum. 7.Perjuangan Soekarno Masa Penduduk Jepang Setelah bebas pada 31 Desember 1931, Soekarno kemudian bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) dan kembali ditangkap dan diasingkan ke Flores. Tahun 1938 Soekarno dipindahkan ke Provinsi Bengkulu dan kembali menghirup kebebasan saat Jepang datang pada tahun 1942. Pada awalnya, Soekarno begitu mendukung kedatangan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Pemerintah pendudukan Jepang pun memang memanfaatkan tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno dan Mohammad Hatta. Lembaga atau organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI adalah bentukan Jepang. Soekarno begitu aktif dalam organisasi tersebut. Berbeda dengan tokoh gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin yang menganggap Jepang berbahaya. Pada tahun 1943, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo mendapat undangan ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Pemimpin Jepang tersebut memberikan mereka tanda anugerah Bintang Kekaisaran (Ratna Suci). 8.Presiden republik Indonesia Pertama Kiprah Soekarno menjadi Presiden tidak hanya mencakup nasional saja, melainkan di dunia internasional Soekarno cukup vokal mengungkapkan pemikirannya. Soekarno diketahui begitu menyoroti isu kemerdekaan tiap bangsa di dunia. Tercatat bahwa Soekarno pernah menghimpun negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk membentuk Gerakan Non Blok (GNB) pada Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung. Soekarno juga kerap menemui berbagai pemimpin negara lain seperti Fidel Castro, John Kennedy, Nikita Khrushchev, sampai Mao Tse Tung. Pada 1963 - 1966, Soekarno pernah membuat ketegangan hubungan dengan negeri Jiran. Dia tidak menyetujui adanya penggabungan Federasi Malaya yang terdiri dari Malaysia, Singapura, dan koloni kerajaan Inggris. Menurutnya, koloni tersebut akan membuat kemerdekaan Indonesia terancam. Pada tahun 1965, situasi politik Indonesia makin panas dengan adanya Gerakan 30 September atau G30S PKI. Enam jenderal dibunuh dalam peristiwa tersebut, kemudian para mahasiswa menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) agar partai PKI (Partai Komunis Indonesia) dibubarkan. 9.Peralihan Kekuasaan
Soekarno menyatakan sikap untuk tetap mempertahankan PKI dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Kekuatan politiknya makin melemah hingga beberapa bulan kemudian Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar). Surat tersebut merupakan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan presiden. Pada 22 Juni 1966, Soekarno membacakan pidato pertanggungjawabannya atas kejadian G30S PKI “Nawaksara” pada Sidang Umum ke-IV MPRS. MPRS meminta Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut, dan pada 10 Januari 1967, Soekarno membaca “Pelengkap Nawaksara” dan ditolak kembali. Hingga akhirnya pada 20 Februari 1967, Soekarno menandatangani Surat Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Tongkat kepresidenan pun dilanjutkan oleh Letnan Jenderal Soeharto. Sejak saat itu, kondisi kesehatan Soekarno makin memburuk hingga pada 21 Juni 1970, Soekarno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta. Kemudian disemayamkan di sebelah makam ibunya di Blitar.