Best Practice dan Rencana Tindak Lanjut
Menggunakan Metode STAR (Situasi,
Tantangan, Aksi, Refleksi) dalam Mengatasi
Permasalahan Siswa
Disusun oleh:
Siti Qadarsih S.Pd
NIM: 239018495066
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN
KATEGORI I
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASAR
TAHUN 2023
Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan,
Aksi, Refleksi Hasil dan Dampak)
Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran
Lokasi MTsN 8 Blitar
Lingkup Pendidikan Madrasah Tsanawiyah
Tujuan yang ingin dicapai PPL 1
Pertemuan 1: Meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik pada
materi Peran IPTEK dalam Kegiatan Ekonomi dengan
menggunakan model pembelajaran TAI (Team Assisted
Individualization)
Pertemuan 2: Meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik pada
materi Peran IPTEK dalam Kegiatan Ekonomi dengan
menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based
Learning)
PPL 2
Pertemuan 1: Meningkatkan minat baca siswa terhadap buku pegangan
pada materi Letak dan Luas Benua Amerika dengan
menggunakan metode Cooperative Script
Pertemuan 2: Meningkatkan minat baca siswa terhadap buku pegangan
pada materi Iklim Benua Amerika dengan menggunakan
metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Recall)
Penulis Siti Qadarsih, S.Pd
Tanggal PPL 1
Aksi 1: Jum’at, 16 Juni 2023
Aksi 2: Selasa, 20 Juni 2023
PPL 2
Aksi 1: Selasa, 4 Juli 2023
Aksi 2: Jum’at, 7 Juli 2023
Situasi: Kondisi yang menjadi latar belakang masalah:
Kondisi yang menjadi latar PPL 1:
belakang masalah, mengapa Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis selama menjadi
praktik ini penting untuk guru di MTsN 8 Blitar permasalahan umum yang dihadapi yaitu masih
dibagikan, apa yang menjadi rendahnya tanggung jawab belajar peserta didik. Dari kajian literatur dan
peran dan tanggung jawab hasil wawancara dengan Kepala MTsN 8 Blitar, Instruktur AKMI 2022,
anda dalam praktik ini. rekan sejawat dan beberapa rekan guru, kondisi yang melatarbelakangi
hal tersebut sebagai berikut:
1. Motivasi belajar peserta didik rendah. Hal ini dapat dilihat dari
kurangnya minat, motivasi, kesadaran, komitmen peserta didik
dalam mengikuti tiap pelajaran di sekolah dan kurangnya rasa
percaya diri terutama saat melakukan presentasi, dimana mereka
cenderung membaca hasil diskusi kelompok saat presentasi.
2. Peserta didik kurang dilatih untuk bertanggung jawab. Misalkan
saja peserta didik yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu dan
diberi kelonggaran untuk mengumpulkan pada pertemuan
selanjutnya, pada dasarnya menggiring mereka untuk tidak
bertanggung jawab.
3. Kurangnya penanganan terhadap peserta didik yang tidak
bertanggung jawab. Sebagai contoh, pembiaran atau kurangnya
punishment yang diberikan. Hal ini berujung pada sikap
meremehkan terhadap tugas atau tanggung jawab yang diberikan.
4. Tidak adanya deadline terhadap tugas. Tidak adanya deadline tugas
yang jelas, misalkan dikumpulkan pada hari, tanggal dan jam
sekian. Sebagian besar masih
5. Pengaruh negatif teman. Terdapat beberapa peserta didik yang
“spesial” (malas belajar dan mengerjakan tugas, mengganggu
teman, dan hal negatif lainnya. Anggota “genk”nya biasanya
mengikuti ketuanya untuk berbuat negatif juga karena merasa takut.
6. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif.
Permasalahan ini bisa menyebabkan motivasi dan minat peserta
didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran rendah, sehingga
berakibat pada tanggung jawab belajar rendah dan berujung pada
hasil belajar yang kurang optimal.
Berdasarkan beberapa kondisi di atas, yang menjadi akar/pokok
permasalahannya yaitu model pembelajaran yang dilakukan guru selama
ini masih belum bisa mengatasi permasalahan rendahnya tanggung jawab
belajar peserta didik. Guru masih menggunakan model pembelajaran
yang kurang inovatif. Guru merupakan tokoh sentral dalam kegiatan
pembelajaran.
Model pembelajaran yang dituangkan guru dalam kegiatan
pembelajaran menjadi salah satu penentu keberhasilan pembelajaran.
Model pembelajaran yang inovatif, selama ini, berdasar kajian-kajian
ilmiah dan penilitian sudah teruji mampu meningkatkan tanggung jawab
belajar siswa. Oleh karena itu, lewat PPL 1 ini, digunakan salah satu
model pembelajaran inovatif , yaitu model pembelajaran TAI (Team
Assisted Individualization) pada pertemuan pertama dan PBL (Problem
Based Learning) pada pertemuan kedua.
PPL 2:
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis selama menjadi
guru di MTsN 8 Blitar permasalahan umum yang dihadapi yaitu masih
rendahnya minat baca peserta didik terhadap buku pegangan. Dari kajian
literatur dan juga dari hasil wawancara dengan Kepala MTsN 8 Blitar,
Instruktur AKMI 2022, rekan sejawat dan beberapa rekan guru, beberapa
kondisi yang melatarbelakangi masalah tersebut sebagai berikut:
1. Kondisi siswa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, yang pertama
yaitu pembawaan atau bakat yang diturunkan orang tua kepada
anaknya, dimana jika kedua orangtuanya senang membaca buku,
dimungkinkan sifat tersebut akan menurun kepada anaknya. Hal
yang kedua jenis kelamin, pria dan wanita memiliki minat dan
selera yang berbeda. Selanjutnya keadaan kesehatan, kondisi sakit
bisa mengganggu minat baca. Keadaan jiwa, seperti keresahan
/kesedihan ataupun kacau pikirannya juga akan kehilangan gairah
untuk membaca. Faktor selanjutnya terkait kebiasaan membaca,
belum bisa mengatur waktu, dan sikap malas membaca
2. Buku atau bahan bacaan yang belum memadai, judul dan isi buku
kurang menarik, harga mahal, dan kurang interaktif.
3. Sarana/media membaca kurang. Perpustakaan sebagai salah satu
sarana untuk membaca berpengaruh pada minat baca peserta didik.
Perpustakaan yang mempunyai ruangan besar, nyaman, bersih, rapi,
dan lengkap koleksi bukunya, tentunya menjadi daya tarik minat
baca peserta didik
4. Kurangnya rangsangan untuk membaca dari guru.
5. Metode pembelajaran yang kurang tepat
Berdasar kondisi di atas yang menjadi akar/pokok permasalahannya
yaitu metode pembelajaran yang dilakukan guru selama ini masih belum
bisa meningkatkan minat baca peserta didik terhadap buku pegangan.
Metode pembelajaran yang tepat mampu meningkatkan minat baca
peserta didik. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kajian ilmiah ataupun
penelitian ilmiah yang mengangkat beberapa metode pembelajaran yang
mampu menumbuhkan minat baca peserta didik khususnya terhadap
buku pegangan yang merupakan buku wajib peserta didik. Oleh karena
itu, lewat PPL 2 ini, digunakan salah satu metode pembelajaran yang
diharapkan bisa meningkatkan minat baca peserta didik terhadap buku
pegangan , yaitu metode pembelajaran cooperative script pada
pertemuan pertama dan SQ3R pada pertemuan kedua.
Praktik ini penting untuk dibagikan karena:
Praktik ini dapat memberikan pengaruh yang luar biasa dalam
proses pembelajaran, diantaranya yaitu dengan menerapkan model dan
metode pembelajaran yang inovatif, peserta didik lebih antusias,
bertanggung jawab dan minat baca terhadap buku pegangan meningkat.
Model pembelajaran TAI dan metode SQ3R merupakan alternatif solusi
yang dipilih. Model dan metode pembelajaran ini berpusat pada siswa
yang melibatkan keaktifan serta peran peserta didik dalam membentuk
tanggung jawab belajar dan minat siswa dalam kegitan membaca buku
pegangan. Selain itu, proses pembelajaran lebih terstruktur, karena
terdapat panduan kegiatan atau sintaks yang harus dilakukan.
Sebagaimana pembelajaran inovatif lainnya, dengan menggunakan
model dan metode yang terpilih tersebut, pembelajaran terpusat pada
peserta didik, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator.
Sehingga, saat proses pembelajaran berlangsung peserta didik lebih
fokus karena pembelajaran lebih menarik dan inovatif dan hasil akhirnya
tercapai tujuan pembelajaran seperti yang direncanakan. Nah, dengan
dibagikannya praktik ini diharapkan pula menjadi sumber referensi bagi
rekan guru yang memiliki permasalahan yang sama untuk diadaptasi atau
ditindaklanjuti sesuai materi pembelajaran dan karakteristik peserta
didiknya.
Peran dan tanggung jawab saya dalam praktik ini:
Praktik ini menjadikan guru berperan hanya sebagai fasilitaor dan
motivator. Pembelajaran terpusat pada peserta didik. Sebagai fasilitator
guru memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik agar mereka
dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira dan penuh
semangat. Sedangkan sebagai motivator, guru mampu membangkitkan
minat belajar peserta didik
Dalam melaksanakan perannya tersebut, terdapat beberapa tanggung
jawab yang harus dilaksanakan dalam praktik ini, yaitu yang pertama
mengidentifikasi permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran
di dalam kelas serta menyelesaikan permasalahan yang sudah
diidentifikasi dengan mencari alternatif solusi dari berbagai sumber.
Menyusunan perangkat pembelajaran yang akan digunakan (RPP, bahan
ajar, LKPD, media pembelajaran, instrumen penilaian dan refleksi)
untuk menyelesaikan masalah merupakan tanggung jawab yang kedua.
Rangkaian tanggung jawab selanjutnya yang harus dilakukan guru
dalam praktik ini yaitu berdiskusi dan mempresentasikan hasil
penyusunan RPP bersama dosen, guru pamong, dan teman-teman
mahasiswa PPG, melakukan revisi RPP berdasar hasil diskusi dan
presentasi yang dilakukan, mengunggah perangkat pembelajaran di
LMS, melaksanakan PPL 1 dan 2 sesuai dengan urutan kegiatan yang
tertuang di RPP, mendokumentasikan dalam bentuk video proses
pelaksanaan PPL, mengunggah video yang sudah diedit di LMS dan
yang terakhir melaksanakan refleksi kegiatan yang sudah dilaksanakan.
Tantangan : Hasil identifikasi masalah, refleksi diri, dan wawancara terhadap
Apa saja yang menjadi beberapa tokoh (Kepala madrasah, instruktur nasional AKMI 2022,
tantangan untuk mencapai teman sejawat dan rekan guru), menghasilkan beberapa hal yang menjadi
tujuan tersebut? Siapa saja tantangan, diantaranya yaitu:
yang terlibat, 1. Guru masih berfokus pada penyelesaian materi yang sangat banyak
2. Proses pembelajaran yang dilakukan guru belum inovatif
3. Keberagaman kesiapan, keaktifan dan kemampuan peserta didik
dalam proses pembelajaran
4. Rendahnya motivasi dan minat peserta didik dalam mengikuti
pembelajaran
5. Rendahnya minat baca siswa terhadap buku pegangan
mengharuskan guru untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan.
Dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan
ini dibutuhkan bantuan dari beberapa pihak, yaitu peserta didik yang
berperan sebagai objek/sampel praktik. Selanjutnya guru sebagai
fasilitator dan motivator. Instruktur nasional AKMI tahun 2022, Waka
kesiswaan dan rekan sejawat sebagai observer, dan Dosen Pembimbing
serta Guru Pamong yang berperan sebagai pembimbing.
Aksi : Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan:
Langkah-langkah apa yang Tantangan yang ada harus diatasi guru dengan beberapa
dilakukan untuk menghadapi aksi/langkah. Sebagai aksi pertama, melakukan diskusi bersama rekan
tantangan tersebut/strategi apa guru, peserta PPG, dosen dan guru pamong untuk menemukan solusi
yang digunakan/bagaimana permasalahan. Dalam diskusi tersebut diarahkan untuk memfokuskan
prosesnya, siapa saja yang pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dan diputuskan untuk
terlibat /Apa saja sumber daya menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan
atau materi yang diperlukan metode pembelajaran yang bisa menumbuhkan minat baca peserta didik
untuk melaksanakan strategi Aksi selanjutnya menyusun RPP berbasis student centered yang
ini mengandung unsur literasi, numerasi, HOTS, dan teknologi informasi
yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, materi dan aturan
madrasah. Salah satu aturan atau kebijakan madrasah yaitu tidak boleh
menggunakan HP dalam proses pembelajaran.
Menyiapkan bahan ajar yang menarik merupakan aksi/langkah
ketiga. Selanjutnya membuat instrumen penilaian merupakan aksi yang
keempat. Instrumen penilaian yang kurang baik berakibat pada biasnya
hasil penilaian atau tidak sesuainya hasil penilaian dengan kenyataan.
Aksi kelima dengan membuat LKPD yang baik, yaitu memenuhi
kriteria penulisan dan memiliki komponen atau struktur yang sesuai.
Selanjutnya persiapan sebelum pelaksanaan praktik dengan
mempersiapkan sarana dan fasilitas penunjang pembelajaran seperti
kelas, laptop, infokus, dan speaker. Dan pada saat praktik, guru berusaha
untuk melaksanakan kegiatan yang baik, sesuai dengan RPP.
Strategi yang digunakan:
Strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan yang ada dan
disesuaikan dengan langkah-langkah atau aksi yang telah dijabarkan di
atas dijabarkan sebagai berikut:
Terkait penggunaan model pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik dan metode pembelajaran yang bisa menumbuhkan minat baca
peserta didik berdasar wawancara yang dilakukan terhadap tokoh yang
sudah disebutkan diatas dipilihlah model pembelajaran TAI (Team
Assisted Individualization) di pertemuan pertama dan PBL (Problem
Based Learning) di pertemuan kedua pada PPL 1. Sedangkan untuk
metode pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan minat baca
peserta didik terhadap buku pegangan yaitu metode cooperative script di
pertemuan pertama dan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Recall)
untuk pertemuan kedua pada PPL 2.
Selanjutnya dibuat rancangan perangkat pembelajaran yaitu RPP
yang sesuai dengan model dan metode pembelajaran tersebut dengan
membaca dan mencari literatur yang sesuai kemudian dijabarkan sesuai
dengan materi. Bahan ajar dibuat dengan tata letak yang menarik,
disertai gambar, dan di PPL 2 karena berkaitan bahan ajar, selain dibuat
bahan ajar semenarik mungkin, guru juga membuat buku versi digital
dengan menggunkan aplikasi anyflip. Dengan harapan peserta didik
dapat membaca ulang materi pelajaran di rumah dengan lebih
menyenangkan.
Instrumen penilaian yang dibuat diusahakan memenuhi syarat yaitu
valid (mengukur apa yang hendak diukur dan seharusnya diukur),
reliabel (tepat atau teliti). Syarat selanjutnya yaitu objektif (tidak ada
unsur pribadi yang mempengaruhi), praktikabilitas (praktis dan mudah
pengadministrasiannya) juga ekonomis (tidak membutuhkan biaya yang
mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama). Terkait dengan
pembuatan LKPD yang baik, pemberian gambar, variasi huruf, tata letak,
penggunaan/kombinasi warna huruf diharapkan bisa menambah daya
tarik siswa terhadap kegiatan pembelajaran.
Praktik pembelajaran yang baik dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya yaitu memberi motivasi kepada peserta didik dengan
memasukkan materi yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Ice breaking juga dilakukan untuk menumbuhkan konsentrasi dan
kesiapan siswa. Dan pemberian apresiasi berupa rewards seperti pujian,
gerakan memuji maupun hadiah untuk meningkatkan keaktifan peserta
didik dan melakukan evaluasi pembelajaran merupakan beberapa aksi
guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran baik.
Proses:
Praktik yang dilakukan sesuai dengan RPP. Garis besarnya yang
pertama menyiapkan kelas dengan menata kelas agar peserta didik
merasa nyaman saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Yang kedua
memasang alat pembelajaran yang akan digunakan seperti HP (untuk
memvidio), laptop, proyektor dan speaker untuk selanjutnya melakukan
uji coba. Proses selanjutnya dengan melaksanakan kegiatan pendahuluan
sesuai langkah-langkah yang termuat dalam RPP yaitu, memberikan
salam, berdoa, apersepsi, motivasi, penyampaian tujuan pembelajaran
dan evaluasi, pelaksanaan pretest serta ice breaking.
Melaksanakan kegiatan inti merupakan proses yang keempat.
Diantaranya dengan membimbing peserta didik selama proses
pembelajaran, memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mempresentasikan hasi diskusi kelompok di depan kelas yang nantinya
akan ditanggapi kelompok lain dan menarik kesimpulan terhadap materi
yang baru saja diajarkan dan didiskusikan. Sedangkan proses terakhir
dari praktik ini dengan melaksanakan kegiatan penutup sesuai dengan
langkah-langkah yang terdapat di RPP yaitu, melakukan refleksi,
melakukan post test, pemberian informasi mengenai materi mendatang
dan salam.
Berikut link video PPL 1 dan 2:
PPL 1
Pertemuan 1 : https://youtu.be/qb5-GeKIq1k
Pertemuan 2 : https://youtu.be/2F-_KqDU3xk
PPL 2
Pertemuan 1 : https://youtu.be/hJSw2FY6nf8
Pertemuan 2 : https://youtu.be/UhRIyIAyLp4
Dukungan:
Dalam pelaksanaan praktik ini guru mendapat dukungan dari rekan
guru sekaligus instruktur nasional AKMI 2022 dan wali kelas VII B
yang peserta didiknya dijadikan sebagai objek praktik, yaitu Dra. Arina
Hidayati, M.Pd, dengan memilih dan memberi motivasi peserta didiknya
agar mengikuti praktik dengan baik. Selain itu beliau juga membantu
dalam proses pengambilan video dan juga sebagai observer.
Selanjutnya Iqbal Fathurrahman, S.Psi., meminjamkan tripod untuk
tempat HP dalam pengambilan video. Dan ini membantu sekali dalam
proses pengambilan video sehingga gambar tidak goyang.
Ibu Syarifah Balqis, M.Pd selaku Dosen pembimbing dan Ibu Hj.
Suriani, S.Pd sebagai Guru Pamong, melakukan sit in sewaktu
pelaksanaan PPL mampu memberikan semangat tersendiri bagi saya
untuk melaksanakan kegiatan ini dengan berusaha semaksimal mungkin.
Selain itu beliau juga memberikan dan mengarahkan agar proses
pembelajaran berlangsung dengan baik
Sumber Daya/Sarana yang diperlukan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, dibutuhkan juga
dukungan sumber daya yang baik. Sumber daya yang dimaksud adalah
ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana madrasah yang memadai,
diantaranya yaitu ruang kelas yang nyaman, 1 set perangkat
pembelajaran, 1 laptop (digunakan untuk presentasi dan kegiatan test), 1
proyektor, 2 HP, 2 kabel terminal listrik, 1 speaker aktif, LKPD dan
aplikasi PPT serta Anyflip
Refleksi Hasil dan dampak Dampak dari aksi dan langkah-langkah yang telah dilakukan:
Bagaimana dampak dari aksi Aksi dan langkah-langkah yang telah dilakukan memberikan
dari Langkah-langkah yang dampak/pengaruh terhadap beberapa pihak, diantaranya yaitu bagi
dilakukan? Apakah hasilnya peserta didik. Peserta didik sebagian besar lebih aktif dan semangat dari
efektif? Atau tidak efektif? biasanya dengan memberikan komentar, tanya-jawab, dan berdiskusi
Mengapa? Bagaimana respon aktif dalam kelompok. Selain itu ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan
orang lain terkait dengan hasil belajar mereka mengalami peningkatan.
strategi yang dilakukan, Apa Selanjutnya bagi penulis yang merupakan guru, dampak yang
yang menjadi faktor dirasakan yaitu kegiatan pembelajaran semakin inovatif dengan
keberhasilan atau penggunaan model pembelajaran TAI, PBL dan metode pembelajaran
ketidakberhasilan dari strategi cooperative script dan SQ3R. Motivasi guru untuk belajar
yang dilakukan? Apa memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran juga
pembelajaran dari keseluruhan mengalami peningkatan. Guru mencoba untuk mencari template PPT
proses tersebut yang lebih menarik dan juga menerapkan aplikasi anyflip agar presentasi
yang ditampilkan dan bahan ajar menjadi lebih menarik.
Dampak bagi madrasah, terutama MTsN 8 Blitar yaitu semakin
berwarnanya kegiatan belajar mengajar di madrasah. Hal ini diharapkan
bisa menjadi contoh atau motivasi bagi guru lain untuk menerapkan
pembelajaran inovatif. Dengan semakin berwarnanya kegiatan beajar
mengajar inovatif, pihak pemangku kebijakan di MTsN 8 Blitar
diharapkan bisa menyediakan sarana prasarana yang lebih memadai.
Misalnya penyediaan infokus di setiap kelas. Begitu juga dengan
beberapa kebijakan yang kurang mendukung penggunaan IT, seperti
pelarangan HP dalam proses kegiatan belajar, semoga bisa ditinjau
ulang. Misalkan dengan memberi kelonggaran untuk diperbolehkannya
penggunaan HP saat kegiatan belajar mengajar yang memerlukan HP
sebagai media dan sumber belajar.
Hasil aksi yang dilakukan efektif karena:
1. Meningkatnya tanggung jawab peserta didik terlihat dari hasil
belajar dan tugas yang diberikan, dikerjakan dengan baik. Berikut
ini hasil LKPD pada pertemuan pertama PPL 1:
Berdasar hasil ini, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan
peserta didik memiliki tanggung jawab belajar. Hal ini merupakan
satu langkah positif bahwa metode TAI mampu menumbuhkan
tanggung jawab peserta didik.
2. Meningkatnya minat baca peserta didik terlihat dari hasil rangkuman
peserta didik yang telah terkumpul. Berikut beberapa contoh hasil
rangkuman yang telah dikerjakan:
PPL 2
Pertemuan 1
Pertemuan 2
Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa keseluruhan peserta
didik membaca bahan ajar. Walaupun terpaksa membaca, tetapi
metode ini sudah mampu meningkatkan minat baca peserta didik.
3. Peserta didik mampu memecahkan masalah dan memberikan solusi
yang terdapat di LKPD. Dapat dilihat dari nilai rata-rata penugasan,
dimana pada PPL 1 pertemuan pertama sebesar 94,75 dan pada
pertemuan kedua skor nilai rata-rata yang diperoleh 94. Sedangkan
pada PPL 2 pertemuan pertama dan kedua nilai rata-rata tugas 100.
4. Meningkatnya nilai pengetahuan peserta didik. Hal ini terlihat dari
rata-rata nilai pretest dan post test tiap pertemuan yang mengalami
peningkatan. Pada saat PPL 1 pertemuan pertama, rata-rata nilai
pretest sebesar 88,75 dengan prosentase ketuntasan 95%.
Sedangkan untuk rata-rata nilai post testnya 92,5 dengan
prosentase ketuntasan 100%. Sedangkan pada saat pertemuan
kedua, nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik saat pretest sebesr
80,95 dengan prosentase ketuntasan 80%. Adapun skor rata-rata
post test 98 dengan prosentase ketuntasan 100%
Untuk PPL tahap 2 pertemuan pertama nilai pretest peserta didik
87,5 dengan prosentase ketuntasan 81%. Sedangkan nilai post
testnya 92,5 dengan prosentase ketuntasan 94%. Adapun pada saat
pertemuan kedua nilai rata-rata pretest 90,9 dengan prosentase
ketuntasan 91 % dan untuk post testnya 96,4 dengan prosentase
ketuntasan 100%.
Respon orang lain terkait strategi yang dilakukan:
1. Respon dari instruktur nasional AKMI tahun 2022 keseluruhan
kegiatan pembelajaran sudah terlaksana dengan baik. Berikut hasil
observasinya:
2. Respon dari wakil kepala madrasah bagian kesiswaan positif juga
dimana seluruh aspek kegiatan pembelajaran pada PPL 2 pertemuan
1 sudah terlaksana. Berikut hasil observasinya:
3. Berdasarkan hasil observasi teman sejawat seluruh aspek kegiatan
pembelajaran pada PPL 2 aksi 2 sudah terlaksana. Berikut hasil
observasinya:
4. Respon Dosen pembimbing dan Guru pamong saat refleksi juga
cukup baik
Faktor yang menjadi keberhasilan dari strategi yang dilakukan:
Strategi yang sudah direncanakan akan berjalan dengan baik jika
didukung beberapa hal, yaitu yang pertama terkait sarana prasarana,
seperti ruang kelas, infokus, jaringan dan peralatan pendukung lainnya
yang tersedia di madrasah cukup memadai. Jika salah satu dari sarana
prasarana tersebut tidak berfungsi dengan baik, strategi sebagus apapun
tidak akan berjalan dengan baik.
Faktor yang kedua terkait dukungan dari beberapa pihak, mulai dari
Kepala Madrasah yang telah memberikan kemudahan berupa dispensasi
kegiatan KBM selama persiapan sampai pelaksanaan PPL, teman guru
dan sejawat yang telah memberi saran masukan demi terlaksananya
praktik ini, dosen pembimbing dan guru pamong yang telah
membimbing sehingga terlaksananya praktik ini, teman-teman
mahasiswa PPG yang saling memberi support, serta peserta didik yang
telah rela meluangkan sedikit waktunya meskipun pada saat libur dan
hujan deras pada saat PPL 2 pertemuan kedua. Begitu juga orang tua
peserta didik yang telah memberikan ijin dan mengantar putra putrinya
untuk mengikuti praktik ini.
Kemampuan teknologi informasi guru, seperti pengetikan,
pembuatan materi di PPT dan anyflip, editing video sangat membantu
dalam kegiatan ini. Tidak dapat dibayangkan seandainya kemampuan
tersebut tidak ada pada diri guru, pastinya akan butuh biaya besar dan
hasilnya kurang efektif dan efisien.
Selanjutnya faktor terakhir terkait langkah-langkah dari aksi yang
memang telah direncanakan sesuai dengan karakteristik peserta didik,
karena sebelumnya sudah dikonsultasikan mulai dari wawancara tokoh,
masukan sesama teman PPG dan bimbingan dari Dosen Pembimbing
dan Guru Pamong. Sehingga kesiapan dan kematangan perencanaan ini
berdapak pada lancarnya kegiatan praktik.
Pembelajaran dari keseluruhan proses yang telah dilakukan:
Dari keseluruhan proses praktik ini, pembeajaran yang dapat
diambil yaitu dengan menggunakan model pembelajaran TAI dan PBL
dapat meningkatkan tanggung jawab peserta didik serta penggunaan
metode cooperative script dan SQ3R dapat meningkatkan minat baca
peserta didik terhadap buku pegangan. Selain itu jika pembelajaran
berorientasi kepada peserta didik, pembelajaran semakin efektif dan
efisien.