Sifat Konsumtif Masyarakat Indonesia Dalam Membeli Produk Impor dan Lokal
Oleh : Moch. FahranSyah S
6021801050
Masyarakat Indonesia dikenal mempunyai perilaku konsumtif. Latif (2014) menyebutkan
bahwa Masyarakat Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan masyarakat paling
konsumtif di dunia. Alasan masyarakat Indonesia mempunyai perilaku konsumtif diantaranya,
mudah terpengaruh oleh promosi dan diskon, rasa ingin mempunyai barang seperti apa yang
dimiliki oleh public figure, dan rasa ingin memiliki barang-barang branded karena menghasilkan
rasa kesenangan bagi konsumen. Perilaku konsumtif mempunyai dampak positif bagi
pertumbuhan ekonomi, dimana ketika pengeluaran konsumsi rumah tangga tinggi, maka hal ini
akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu, sifat konsumtif masyarakat Indonesia
merupakan sebuah keuntungan bagi Indonesia.
Berkaca pada krisis ekonomi 1998, krisis ekonomi pada tahun itu telah menyebabkan
perekonomian Indonesia menjadi resesi. Dalam proses pemulihan ekonomi, sifat masyarakat
konsumtif telah membantu proses tersebut sehingga perekonomian Indonesia berangsur-angsur
membaik (Daniel, 2019). Berdasarkan hal ini, pasca krisis ekonomi 1998 hingga saat ini, perilaku
konsumtif sudah mengakar di masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang mempunyai
penghasilan tinggi. Perilaku konsumtif merupakan bagian dari proses globalisasi, dimana ketika
negara produsen luar negeri memproduksi suatu barang, maka barang tersebut akan mudah masuk
ke Indonesia melalui kegiatan impor. Dengan begitu, sifat konsumtif masyarakat Indonesia
merupakan sebuah keuntungan bagi produsen luar negeri, dimana dengan menggunakan strategi
marketing yang baik, maka produk mereka akan laris terjual di Indonesia.
Kegiatan impor merupakan salah satu bentuk dari perdagangan internasional. Terdapat
beberapa alasan suatu negara melakukan impor, diantaranya terkadang biaya impor lebih murah
dibandingkan biaya produksi dalam negeri, impor dilakukan ketika kuantitas dalam negeri tidak
mencukupi permintaan dalam negeri, dan impor dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar.
Ketika suatu negara memiliki nilai impor lebih besar dibandingkan nilai ekspor, maka hal ini akan
mengakibatkan neraca perdagangan menjadi defisit. Maka dari itu, salah satu cara untuk
mengurangi impor yaitu berupaya untuk memenuhi setiap kebutuhan dalam negeri dengan
produksi dalam negeri. Namun, upaya mengurangi ketergantungan impor tidak bisa hanya dilihat
dari sisi kuantitas saja, tetapi perlu melihat dari sisi kualitas, dimana untuk mengurangi impor,
produsen lokal harus mampu menghasilkan suatu produk berkualitas sesuai dengan yang
diharapkan konsumen.
Produk impor memiliki kualitas yang baik. indonesia banyak mengimpor produk-produk
dari berbagai negara, misalnya garam dengan kandungan NaCl 97%-99% sebagai salah satu
produk perikanan non-konsumsi, apel dan mangga sebagai salah satu produk perkebunan.
Perbedaan kualitas antara barang impor dengan barang lokal disebabkan oleh proses produksinya,
dimana sebagian besar produsen Indonesia belum menggunakan teknologi dalam proses
produksinya atau dengan kata lain masih konvensional, sedangkan produsen luar negeri sudah
menggunakan teknologi dalam proses produksinya. Kualitas produk merupakan salah satu kunci
suatu produk digandrungi masyarakat. Maka dari itu, produsen lokal harus memperhatikan kualitas
produknya agar produknya disukai oleh masyarakat.
Namun, kualitas barang bukanlah penentu barang tersebut akan laris terjual, dimana selera
masyarakat turut menentukan suatu produk akan laris dipasaran atau tidak. Selera masyarakat akan
mempengaruhi permintaan suatu barang, misalnya ketika ripped jeans sedang menjadi tren masa
kini, akibatnya jumlah permintaan terhadap ripped jeans akan meningkat. Begitu juga apabila
selera masyarakat Indonesia lebih menyukai produk impor dibandingkan dengan produk lokal,
akibatnya produk impor akan lebih laku terjual dibandingkan dengan produk lokal. Hal ini akan
berdampak negatif terhadap produsen dalam negeri, dimana mereka akan mendapatkan kerugian
karena produknya tidak laku dipasaran. Ramli (2021) menyebutkan bahwa terdapat beberapa
alasan masyarakat Indonesia lebih menyukai produk impor dibandingkan dengan produk lokal,
diantaranya produk lokal berkualitas rendah, packaging yang kurang menarik, dan kurangnya
inovasi.
Seiring berjalannya waktu, terdapat beberapa produk lokal yang mampu menempuh
kancah internasional, diantaranya indomie sebagai salah satu produk instant food, dan erigo
sebagai salah satu produk fashion. Hal ini menunjukan bahwa selain diminati oleh masyarakat
Indonesia, produk-produk ini juga diminati oleh masyarakat luar negeri. Dengan kata lain, produk-
produk tersebut sesuai dengan selera masyarakat luas. Selain itu, produk-produk ini mampu
bersaing dengan produk impor, dimana harga yang ditawarkan sebanding dengan kualitas yang
dimiliki. Kualitas produk-produk tersebut dapat dilihat dari segi rasa, design yang menarik, bahan
yang baik, dan kenyamanan saat digunakan.
Sifat konsumtif Indonesia belum bisa dimanfaatkan oleh sebagian produsen lokal, dimana
harga dan kualitas produk yang dihasilkan belum bisa menarik minat konsumen untuk membeli.
Seringkali produsen lokal menghasilkan kualitas baik namun menawarkan harga yang relatif
mahal, akibatnya masyarakat Indonesia cenderung memilih produk impor yang mempunyai
kualitas baik dengan harga yang relatif murah. Membeli dan menggunakan produk lokal
merupakan salah satu upaya mendukung produsen lokal, seperti UMKM. Dengan membeli produk
UMKM, hal tersebut sama halnya dengan membantu mereka untuk terus berkembang. Dengan
begitu, produk UMKM dapat bersaing dengan produk impor.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa sifat konsumtif masyarakat
Indonesia merupakan sebuah keuntungan bagi produsen luar negeri untuk menjual produknya di
Indonesia. Masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih untuk membeli produk impor
dibandingkan dengan produk lokal. Selain dari sisi kualitas, harga yang ditawarkan pun relatif
lebih murah dibandingkan dengan harga produk lokal. Maka dari itu, produsen lokal perlu fokus
terhadap kualitas dan harga produk yang ditawarkan kepada konsumen. Hal ini dilakukan agar
konsumen tertarik untuk membeli produk lokal.
DAFTAR PUSTAKA
Daniel, J. R. (2019, February 18). Gaya Hidup Konsumtif Akibat Majunya Perekonomian Indonesia
Semakin Menyisihkan Orang Miskin. Retrieved from Theconversation:
https://theconversation.com/gaya-hidup-konsumtif-akibat-majunya-perekonomian-indonesia-
semakin-menyisihkan-orang-miskin-109334
Dendy, M. (2017, November 30). Hal-hal yang Menyebabkan Orang Indonesia Berpikir Konsumtif.
Retrieved from Kompasiana:
https://www.kompasiana.com/dendy166/5a1fc5c72599ec2df80595a2/hal-hal-yang-
menyebabkan-orang-indonesia-berpikir-konsumtif?page=all&page_images=1
Latif, S. (2014, January 29). Penduduk Indonesia Paling Doyan Belanja di Dunia. Retrieved from Liputan6:
https://www.liputan6.com/bisnis/read/813277/penduduk-indonesia-paling-doyan-belanja-di-
dunia
Ramli, M. (2021, March 5). Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Produk Luar Negeri Dibanding Produk
Lokal? Retrieved from Timesindonesia:
https://www.timesindonesia.co.id/read/news/331799/mengapa-masyarakat-lebih-memilih-
produk-luar-negeri-dibanding-produk-lokal
Sirclo. (2019, Oktober 17). Apa yang Menyebabkan Perilaku Konsumtif di Indonesia. Retrieved from
Sirclo: https://www.sirclo.com/apa-yang-menyebabkan-perilaku-konsumtif-di-indonesia/