BBAALLII B A R C O D E L I T E R A S I P P G P R A J A B A T A N G E L 1 2 0 2 3
BUKU PANDUAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI MELALUI PROGRAM BARCODE LITERASI (BALI) Mata Kuliah : Proyek Kepemimpinan DPL : Hermi Yanzi, M.Pd. Guru Pamong : Ricadesta Amalia, M.Pd. Oleh : Mahasiwa PPG Prajabatan Gelombang 1 1. Amreza Firginia Putri 2. Anisa Sukma Mulyani 3. Della Setiya Putri 4. Ema Elviana Pendidikan Profesi Guru Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung 2022
KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, Shalawat teriring salam kita sanjung agungkan kehadapan junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya yang InsyaAllah taat kepada ajarannya sampai akhir nanti, aamiin. Dengan terselesaikannya buku panduan pelaksanaan program barcode literasi (BALI), disampaikan ucapan terimakasih kepada berbagai pihak, atas masukan dan bantuannya. Panduan buku ini disusun sebagai gebrakan untuk meingkatkan literasi peserta didik menyesuaikan minat dan bakat peserta didik yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa pembaharuan untuk kegiatan literasi sesuai perkembangan zaman. Selain itu, buku panduan ini bertujuan untuk menuntun dan mempermudah pembaca dalam merapkan langkah-langkah literasi menggunakan sistem barcode. Buku panduan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak agar kedepannya bisa menjadi lebih baik. Bandar Lampung, Februari 2023 Penyusun
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI MELALUI PROGRAM BARCODE LITERASI (BALI) A. PENDAHULUAN Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa. Penyesuaian yang dimaksud yakni terkait minat, profil belajar, kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar. Penulis menemukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang akan mereka hasilkan sesuai minat mereka. Melalui kegiatan pembelajaran berdiferensiasi, semua kebutuhan belajar siswa terakomodir sesuai minat atau profil belajar yang dimiliki. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu cara berpikir yang sangat penting tentang proses belajar mengajar pada zaman digitalisasi era 4.0 ini. Perkembangan peradaban pada zaman digitalisasi era 4.0 memerlukan cara pandang berbeda dalam pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kemajuan teknologi, pengetahuan dan ilmu pengetahuan akan mudah tersampaikan melalui media teknologi. Pemanfaatan media teknologi dalam Perkembangan peradaban harus menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik dalam mempersiapkan sumber daya unggul dalam persaingan global. Perbaikan dan pemberlakukan Kurikulum merdeka pada jenjang pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kompetensi keahlian dan mampu bersaing secara global. Hal yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan di zaman digitalisasi era 4.0 ini meliputi Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kemampuan dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara holistik. Oleh karena itu,
kondisi demikian menjadi tantangan khusus bagi guru dalam mempersiapkan SDM unggul melalui pengembangan literasi. Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Menurut Unesco, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata. khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya. Unesco menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Cara yang digunakan untuk memperoleh literasi adalah melalui pendidikan. Pendidikan dan kemampuan literasi adalah dua hal yang sangat penting dalam hidup kita. Kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada tingkat melek huruf di negara tersebut. Orang berpendidikan diharapkan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Secara historis, menurut Tarwotjo dalam Rochmah (2021) dalam pengantar bukunya yang berjudul
Terampil Menulis Paragraf, produk dari aktivitas literasi berupa tulisan adalah sebuah warisan intelektual yang tidak akan kita temukan di zaman prasejarah. Dengan kata lain, apabila tidak ada tulisan, sama saja kita berada di zaman prasejarah. Tulisan merupakan bentuk rekaman sejarah yang dapat diwariskan dari generari ke generasi, bahkan hingga berabadabad lamanya.Dalam dunia pendidikan, tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus terus berupaya mendorong serta membimbing para generasi muda termasuk pelajar dan mahasiswa untuk membudayakan kegiatan literasi. Peningkatan budaya literasi disekolah dalam meningkatkan pengetahuan siswa sesuai dengan profil pelajar pancasila yaitu menciptakan siswa yang berkebhinekaan global.. Kemampuan dasar literasi yang berupa kemampuan membaca menulis harus menjadi prioritas utama dalam dunia pendidikan. Banyak manfaat yang didapatkan dari hasil membaca. Dengan membaca, kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan, misalnya membaca koran atau majalah. Dengan membaca kita juga bisa mendapatkan hiburan. Dengan membaca, kita mampu memenuhi tuntutan intelektual, meningkatkan minat terhadap suatu bidang, dan mampu meningkatkan konsentrasi. Menurut Lerner dalam Rochmah (2021) kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada
kelas-kelas berikutnya. National Institute for Literacy dalam rochmah (2021), mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini, terkandung makna bahwa definisi literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Berdasarkan Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti melalui pembiasaan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai sekarang ini juga sudah diterapkan di sekolah-sekolah. Jenis buku yang dibaca beragam, tidak harus buku pelajaran, bisa juga buku-buku sastra, seperti cerpen, novel, ataupun melaui media digital berupa buku digital, bacaan digital, dan video. Tujuan kegiatan membaca tersebut adalah untuk membudayakan cinta membaca. Dalam hal ini guna meningkatkan literasi di Indonesia, kami berinisiasi untuk menerapkan program barcode lliterasi (BALI). B. PEMBAHASAN 1. Makna Pembelajaran Berdiferensiasi Menurut Schöllhorn dalam Herwina (2021) pembelajaran diferensial adalah model pembelajaran motorik yang dicangkokkan pada pentingnya variabilitas gerakan dan berakar pada teori sistem dinamis gerakan manusia. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pembelajaran diferensiasi banyak diadopsi dalam konteks pembelajaran yang bersifat motorik . Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas guna memenuhi kebutuhan
belajar setiap individu. Penyesuaian yang dimaksud yakni terkait minat, profil belajar dan kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar. Menurut Marlina (2019) pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, preferensi belajar, kesiapan siswa agar tercapai peningkatan hasil belajar. Perlu diingat bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang diindividualkan. Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar siswa dengan strategi pembelajaran yang independen. Lebih lanjut Marlina menjabarkan bahwa dalam pembelajaran berdiferensiasi guru dituntut untuk memahami siswa secara terus menerus membangun kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan murid, mengamati, menilai kesiapan, minat, dan preferensi belajarnya. Selain itu guru juga harus menggunakan semua preferensi tentang bagaimana siswa mendemonstrasikan preferensi belajarnya terkait isi, proses, produk dan lingkungan belajar. Sehingga ketika guru terus belajar tentang keberagaman potensi muridnya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud. Banyak guru yang belum biasa membayangkan bagaimana pelaksanaan pendekatan pembelajaran diferensiasi. Karena sudah terbiasa dan sejak lama melakukan suatu proses pembelajaran satu arah dan berpusat hanya pada guru. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu siswa mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang akan dihasilkan sesuai minat mereka. Produk yang dihasilkan dapat disajikan dalam sebuah artikel, lagu, puisi, infografis, poster, video performance, video animasi atau bentuk lain sesuai keterampilan dan minat kelompok masing-masing. Siswa diperbolehkan memilih cara mendemonstrasikan pemahaman sesuai yang disukainya, seperti:
1) siswa yang suka menggambar membuat produk berupa info grafis/poster/kliping; 2) siswa yang suka menyanyi membuat produk berupa lagu; 3) siswa yang menyukai praktik langsung membuat produk berupa video performance/video animasi; 4) siswa yang suka menulis membuat produk berupa artikel/puisi. Melalui kegiatan pembelajaran berdiferensiasi, semua kebutuhan mereka terakomodir sesuai minat atau profil belajar yang mereka miliki. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang melaporkan bahwa dalam metode pelatihan pembelajaran diferensial dirancang untuk mendorong organisasi diri para peserta pelatihan (Gray, 2020). Kepedulian siswa dalam memperhatikan kekuatan dan kebutuhan belajarnya menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran berdiferensiasi. Profil pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar siswa sehingga pembelajaran berdiferensiasi mengharuskan guru mencurahkan perhatian dan memberikan tindakan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Guru dalam pembelajaran berdiferensiasi harus dapat mengembangkan cara belajar siswa untuk mendapatkan, mengelola, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi yang diperlukan. Siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran tersebut baik secara individual ataupun kelompok. Menurut Suryosubroto dalam Herwina (2021) keaktifan siswa dapat terlihat dari: 1) berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan; 2) mempelajari, memahami, dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan; 3) merasakan sendiri bagaimana tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepadanya; 4) belajar dalam kelompok;
5) mencoba sendiri konsep-konsep tertentu; 6) mengkomunikasikan hasil pikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan. Dengan demikian, keberhasilan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi tergantung pada peran guru dalam mengelola pembelajaran. Guru memegang peranan yang amat penting dalam proses pembelajaran differensiasi dalam mengarahkan potensi siswa, oleh karenannya penting untuk mempelihatkan peranannya dalam usaha membantu siswa 2. Makna Program Barcode Literasi (BALI) Barcode disebut juga QRcode merupakan singkatan dari Quick Respone code, Permata kali digunakan di industri otomotive untuk melakukan tracking terhadap komponen kendaraan. Saat ini, penggunaan barcode dua dimensi ini sudah sangat luas, namun umumnya di pakai untuk mengkodekan alamat website, nomor contact, alamat email, nomor telepon atau sekedar teks biasa.. Saat ini penggunaan QR Code mulai digunakan di beberapa institusi meskipun masih terus berkembang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Saleh, Dkk (2018) bahwa pada umumnya mahasiswa menyatakan bahwa aplikasi QR Code merupakan aplikasi yang fiturnya sangat mudah digunakan. Dengan menggunakan aplikasi QR Code Reader, mereka dapat menscan data materi yang diberikan dengan cepat. Terdapat banyak fitur yang disediakan mulai dari link website, audio, video, teks, kontak, yang mudah diidentifikasi hanya dengan scan code. Hal ini memudahkan mahasiswa untuk tidak lagi terpaku dalam teks yang panjang ataupun link website yang rumit untuk memeroleh materi yang diinginkan. Sehingga dalam hal ini membuat kami tertarik mengerakkan program literasi sekolah melalui sistem barcode QR Code.
Program Barcode literasi merupakan program penggerak literasi peserta didik melalui sistem barcode. Sistem barcode ini berisi media literasi berupa video, gambar dan bacaan. Barcode literasi merupakan program literasi yang dapat diterapkan melalui scan barcode yang dibuat dengan muatan materi, media, atau bahan bacaan yang diterapkan disetiap kelas melalui barcode. Program literasi dilaksanakan setiap satu minggu sekali pada hari selasa sebelum memulai pembelajaran selama 5-10 menit. 3 pembagian Tugas
4. Sintak Pelaksanaan Program Barcode Literasi (BALI) Adapun sintak untuk menerapkan program barcode literasi mencakup langkh-langkah berikut ini: 1. Berkomunikasi dengan pemangku kepentingan (Kepala sekolah dan Wakil kepala sekolah bidang kurikulum) dalam kegiatan program barcode literasi 2. Berkoordinasi dengan pihak perpustakaan sekolah dalam pemilihan bahan bacaan yang berkiatan dengan program barcode literasi 3. Mengadakan kegiatan sosialisasi
Mahasiswa PPL bersama guru pamong mengadakan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah terkhusus guru dan siswa atas persetujuan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. 4. Penyediaan media atau bahan pembelajaran a. Penyediaan media atau bahan pembelajaran oleh pihak perpustakaan melalui wali kelas b. Wali kelas memberdayakan setiap peserta didik untuk membuat bahan literasi baik berupa pamflet, infografis, video, puisi, power point, peta konsep, narasi, poster, dll yang mencakup 6 tema eleman pelajar pancasila. - Siswa dibagi menjadi 6 kelompok - Masing-masing kelompok membuat media literasi berdasarkan elemen pelajar pancasila, misalnya kelompok 1 dengan tema “beriman bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kelompok 2 “Mandiri”, Kelompok 3 “bergotong royong”, kelompok 4 “berkebhinnekaan global”, kelompok 5 “ bernalar kritis”, kelompok 6 “kreatif”. - Pembuatan media dilaksankan setiap satu bulan sekali. c. Media yang sudah dibuat diapload di google drive dan link dari google drive dikumpulkan ke wali kelas d. Wali kelas menyerahkan link media kepada pihak perpustakaan e. Pihak perpustakaan bekerjasama dengan operator sekolah membuat barcode yang berisi link google formulir (link media literasi, waktu pelaksanaan, nama siswa, kelas, kesimpulan) f. Pihak perpustakaan mencetak barcode dan identitas barcode yang memuat hari, tanggal bulan dan tahun serta kelas g. Pihak perpustakaan kembali membagikan barcode kewali kelas baik berbentuk soft file dan barcode yang sudah dicetak h. Wali kelas membagikan barcode kepada kelasnya masingmasing, dan setiap kelas diberikan kebebasan untuk membuat pohon Bali sesuai
lembar barcode yang sudah dicetak digantung pada pohon yang sudah dibuat sebagai buahnya. 5. Pembuatan Barcode oleh pihak perpustakaan dan operator sekolah Pembuatan barcode bisa melalui google drive, jadi bahan lierasi sebelumnya sudah di apload di google drive. Langkah selanjutnya yaitu membuat barcode: a) Langkah pertama Anda login ke akun Google Drive yang sudah dibuat b) Selanjutnya pilih File yang ingin dibuatkan barcode. Lalu klik kanan pilih menu Dapatkan Link c) Setelah selesai menyalin link, silakan Anda kunjungi situs The QRcode Generator d) Pada tampilan QR Code Generator, pilih menu URL dan paste link Google Drive yang sudah Anda salin/ e) Tunggu beberapa saat sampai QR code Google Drive berhasil dibuat. Anda bisa melihatnya dihalaman tersebut karena akan ditampilkan jika QR code sudah selesai dibuat f) Untuk menyimpan barcode yang sudah jadi. Pilih icon download lalu pilih format gambar yang ingin dipakai seperti PNG, EPS dan SVG g) Setelah barcode di download, barcode di cetak dikertas dna diberi tanggal sesuai tanggal pelaksanaan, untuk ukuran kertas setiap barcode bisa disesuaikan dengan kebutuhan. 6. Peserta Didik Mengakses Barcode Setelah barcode dibagikan dan sudah didesain rapih didalam kelas, maka setiap peserta didik wajib mengakses barcode dan mulai membuka bahan
literasi. Setiap barcode yang dibagikan akan berbeda-beda berdasarkan Fase/ jenjang kelas yaitu kelas X, kelas XI, dan kelas XII. 7. Setelah melaksanakan literasi, peserta didik diwajibkan mengisi google formulir yang tersedia dalam barcode yang sudah discane tadi yang berisi nama, kelas, waktu pelaksanaan literasi, serta kesimpulan dari media literasi yang sudah dipahami. 8. Rutinitas Pelaksanaan Barcode Literasi Program barcode literasi dilakukan setiap hari selasa sebelum pembelajaran dimulai tepatnya setelah selesai berdoa dengan waktu 5-10 menit. 5. Syarat Pelaksanaan Program Literasi (BALI) a. Adanya persetujuan dan dukungan dari pihak sekolah terutama kepala sekolah dan wakil kepala sekolah serta seluruh civitas sekolah b. Sarana dan prasarana sekolah yang mendukung berlangsungnya kegiatan program bali, seperti wifi dan lain-lain c. Jaringan gaway yang baik sehingga tidak menghambat terlaksanaya program BALI. C. PENUTUP Adanya barcode literasi diharapkan mampu meningkatkan minat baca peserta didik dengan tetap mengikuti arus perkembangan zaman era abad 21 yang dituntun melalui prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara yang terwujud dalam kurikulum merdeka. Kurikulum ini sangat mendukung peserta didik
literasi. Setiap barcode yang dibagikan akan berbeda-beda berdasarkan Fase/ jenjang kelas yaitu kelas X, kelas XI, dan kelas XII. 7. Setelah melaksanakan literasi, peserta didik diwajibkan mengisi google formulir yang tersedia dalam barcode yang sudah discane tadi yang berisi nama, kelas, waktu pelaksanaan literasi, serta kesimpulan dari media literasi yang sudah dipahami. 8. Rutinitas Pelaksanaan Barcode Literasi Program barcode literasi dilakukan setiap hari selasa sebelum pembelajaran dimulai tepatnya setelah selesai berdoa dengan waktu 5-10 menit. 5. Syarat Pelaksanaan Program Literasi (BALI) a. Adanya persetujuan dan dukungan dari pihak sekolah terutama kepala sekolah dan wakil kepala sekolah serta seluruh civitas sekolah b. Sarana dan prasarana sekolah yang mendukung berlangsungnya kegiatan program bali, seperti wifi dan lain-lain c. Jaringan gaway yang baik sehingga tidak menghambat terlaksanaya program BALI. C. PENUTUP Adanya barcode literasi diharapkan mampu meningkatkan minat baca peserta didik dengan tetap mengikuti arus perkembangan zaman era abad 21 yang dituntun melalui prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara yang terwujud dalam kurikulum merdeka. Kurikulum ini sangat mendukung peserta didik mengembangkan potensi, minat dan bakatnya sesuai dengan kodrat dan kebutuhan peserta didik yang berdasarkan 6 elemen pelajar pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif. Oleh karena itu, barcode literasi bisa dijadikan salah satu media untuk mengembangkan pengeathuan dan wawasan peserta didik dengan tetap memegang teguh jati diri Peserta didik sebagai pelajar pancasila.
DAFTAR PUSTAKA Gray, R. (2020). Comparing the constraints led approach, differential learning and prescriptive instruction for training opposite-field hitting in baseball. Psychology of Sport & Exercise 51 (2020) 101797 https://doi.org/10.1016/j.psychsport.2020.101797 Herwina, Wiwin. 2021. Optimalisasi Kebutuhan Siswa Dan Hasil Belajar Dengan Pembelajaran Berdiferensiasi. Jurnal PERSPEKTIF Ilmu Pendidikan - Vol. 35 No.2 Oktober 2021 Kusmana , Suherli. 2017. Pengembangan Literasi Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar Dan Menengah. Diglosia - Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol. 1, No. 1, Februari 2017 Marlina, (2019). Panduan Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdiferensiasi di Sekolah Inklusif. Universitas Negeri Padang Rochmah, Zuliyatur. 2021. Studi Kebijakan mengenai Gerakan Literasi Sekolah. Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 02. No. 02 (2021) Saleh, Nurming. 2018. Pemanfaatan QR-Code sebagai media pembelajaran Bahasa Asing pada Perguruan Tinggi di Indonesia. Seminar Nasional Dies Natalis UNM Ke 57, 9 Juli 2018. ISBN 978- 602-5554-35-3
B A R C O D E L I T E R A S I Program Barcode literasi merupakan program penggerak literasi peserta didik melalui sistem barcode. Sistem barcode ini berisi media literasi berupa video, gambar dan bacaan. Barcode literasi merupakan program literasi yang dapat diterapkan melalui scan barcode yang dibuat dengan muatan materi, media, atau bahan bacaan yang diterapkan disetiap kelas melalui barcode. Program literasi dilaksanakan setiap satu minggu sekali pada hari selasa sebelum memulai pembelajaran selama 5-10 menit. Pendidikan Profesi Guru Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung Della Setiya Putri S.Pd PPG Prajab gel 1 Anisa Aukma M, S.Pd PPG Prajab gel 1 Amreza Firginia p, S.Pd PPG Prajab gel 1 Ema Elviana, S.Pd PPG Prajab gel 1 Ricadesta Amalia, M.Pd Guru pamong