KESANTUNAN TUTURAN EKSPRESIF SISWA DENGAN GURU DI SMK AN NUR BULULAWANG PROPOSAL TESIS OLEH FINDI SETYA PAMBUDI NIM 210211829613 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA PROGRAM STUDI PASCASARJANA PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA 2022
i KESANTUNAN TUTURAN EKSPRESIF SISWA DENGAN GURU DI SMK AN NUR BULULAWANG PROPOSAL TESIS Diajukan kepada Universitas Negeri Malang untuk memenuhi salah satu persyaratan program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia OLEH FINDI SETYA PAMBUDI NIM 210211829613 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA PROGRAM STUDI PASCASARJANA PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA 2022
ii DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL...................................................................................................... i DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii DAFTAR TABEL............................................................................................................ iv DAFTAR GAMBAR........................................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 1 1.1 Konteks Penelitian............................................................................................. 1 1.2 Fokus Penelitian ................................................................................................ 4 1.3 Kegunaan Penelitian.......................................................................................... 4 1.4 Penegasan Istilah ............................................................................................... 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA............................................................................................ 6 2.1 Kesantunan Berbahasa dalam Lingkungan Pendidikan .................................... 6 2.1.1 Penyebab Ketidaksantunan Berbahasa.................................................... 8 2.2 Fungsi Tuturan Ekspresif .................................................................................. 9 2.2.1 Fungsi Tuturan Ekspresif Kesenangan.................................................. 11 2.2.2 Fungsi Tuturan Ekspresif Terima Kasih ............................................... 11 2.2.3 Fungsi Tuturan Ekspresif Meminta Maaf ............................................. 12 2.2.4 Fungsi Tuturan Ekspresif Mengeluh ..................................................... 12 2.2.5 Fungsi Tuturan Ekspresif Menyapa ...................................................... 12 2.2.6 Fungsi Tuturan Ekspresif Memuji......................................................... 12 2.2.7 Fungsi Tuturan Ekspresif Mengoda ...................................................... 13 2.2.8 Fungsi Tuturan Ekspresif Menyindir .................................................... 13 2.3 Bentuk Tuturan Ekspresif................................................................................ 13 2.3.1 Bantuk Deklaratif .................................................................................. 13 2.3.2 Bentuk Imperatif.................................................................................... 14 2.3.3 Bentuk Interogatif.................................................................................. 14 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................. 17 3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian...................................................................... 17 3.2 Kehadiran Peneliti ........................................................................................... 17 3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................................... 18 3.4 Data dan Sumber Data..................................................................................... 19 3.5 Instrumen Penelitian........................................................................................ 19 3.6 Prosedur Pengumpulan Data ........................................................................... 21
iii 3.7 Analisis Data ................................................................................................... 21 3.8 Pengecekan Keabsahan Data........................................................................... 22 3.9 Tahap-Tahap Penelitian................................................................................... 23 DAFTAR RUJUKAN..................................................................................................... 25
iv DAFTAR TABEL Tabel 1. Instrumen Panduan Pengumpulan Data Fungsi Tuturan Ekspresif .................. 19 Tabel 2. Instrumen Panduan Pengumpulan Data Bentuk Tuturan Ekspresif.................. 20 Tabel 3. Instrumen Klasifikasi Fungsi Tuturan Ekspresif .............................................. 20 Tabel 4. Instrumen Klasifikasi Bentuk Tuturan Ekspresif.............................................. 20 Tabel 5. Instrumen Panduan Analisis Data..................................................................... 22
v DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Bagan Model Teoritis.................................................................................... 16 Gambar 2. Implikasi Metodologi.................................................................................... 24
1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dikemukakan (1) konteks penelitian, (2) fokus penelitian, (3) kegunaan penelitian, dan (4) penegasan istilah. 1.1 Konteks Penelitian Berbahasa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam upaya melakukan komunikasi. Komunikasi yang berjalan antara petutur dengan penutur membutuhkan adanya saling kesepahaman di antara keduanya. Di dalam proses tersebut terdapat interaksi antara penutur dengan petutur. Penggunaan bahasa yang santun menjadi kesadaran penting yang perlu dibangun di sekolah pada ranah pendidikan resmi. Peran bahasa juga sangat diperhatikan dalam kegunaannya di sekolah. Sekolah merupakan lembaga resmi yang berfungsi melaksanakan pembelajaran resmi, di mana terdapat banyak harapan dan aspek yang hendak diwujudkan. Pendidikan merupakan komunikasi dalam artian kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan. Komunikasi tersebut berupa proses untuk menyampaikan sebuah kata atau kalimat yang bertujuan untuk membangun informasi serta memperjelas maksud dari sebuah tindakan memiliki fungsi, maksud, dan tujuan tertentu. Hal ini dipengaruhi adanya situasi dan konteks bahasa yang memegang peranan penting dalam adanya peristiwa komunikasi, sebab konteks tersebut mencangkup berbagai informasi yang berada di dalam makna suatu ujaran, misalnya waktu, tempat, dan situasi tuturannya. Konteks kerap terdapat pada sebuah tindak tutur. Tindak tutur merupakan kegiatan komunikasi sosial yang dilakukan oleh penutur dalam menyampaikan makna dan tujuan tuturan guna menghadapi situasi tertentu kepada mitra tutur. Tindak tutur tersebut memiliki bentuk yang bervariasi untuk menyatakan tujuan, salah satunya adalah tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ekspresif merupakan tuturan yang menunjukan perasaan atau sikap penuturnya. Tuturan ekspresif mencerminkan pernyataan psikologis yang menyangkut pada pengalaman penutur. Cerminan psikologis yang menyangkut pada pengalaman penutur, tuturan yang dipakai sebagai tuturan ekspresif adalah penyesuaian pada katakata perasaan si penutur sendiri. Sejalan dengan pendapat Yule (1996:93), yang menyatakan tindak tutur ekspresif merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh si penutur. Tindak tutur ekspresif tidak hanya dapat dipahami
2 melalui tuturan, hal ini juga dapat dilihat dari tindakan atau gerak yang dilakukan saat mengekspresikan suatu perasaan. Tuturan ekspresif ini merupakan tindak tutur yang menyatakan perasaan penutur, seperti pernyataan kegembiraan, kesulitan, keluhan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan. Pernyataan perasaan tersebut menggambarkan kondisi psikologis penutur yang ditampilkan melalui tuturan kepada lawan tuturnya. Tuturan ekspresif seringkali digunakan seorang guru pada saat berinteraksi dengan siswa dalam proses pembelajaran di kelas namun dalam penelitian ini peneliti mengambil konteks yang berbeda, yaitu tuturan ekspresif yang diucapkan siswa terhadap tuturan guru baik di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung dan di luar kelas saat siswa dengan guru baik saat kegiatan berdiskusi, bercerita, hingga berkeluhkesah. Berdasarkan hasil observasi di SMK An Nur Bululawang peneliti menemukan berbagai fenomena yang terjadi terkait dengan tuturan ekspresif siswa. Berikut ini contoh yang menunjukkan tuturan ekspresif siswa terhadap tuturan guru saat di luar kelas. Konteks : Siswa menghampiri gurunya di kantor pimpinan saat pembelajaran produktif untuk di ajak ke Lab Multimedia. Guru : “Jangan dibuat susah gitu lo!” Siswa : “Ayolah Mr itu lo labnya ndak bisa!” Dilihat dari aspek fungsi, tuturan siswa di atas merupakan tuturan ekspresif dengan fungsi mengeluh. Tindak tutur yang disampaikan oleh penutur dengan maksud mengeluh melahirkan keluh kesah serta penderitaan yang dirasakan siswa sehingga siswa mengajak gurunya untuk memperbaiki komputer yang ada di lab Multimedia. Dilihat dari aspek bentuk, tuturan ekspresif di atas merupakan bentuk imperatif ditandai dengan ucapan kata „ayo‟ dan partikel „(-lah). Pada akhir kalimat mengunakan tanda seru (!) dengan intonasi akhir kalimat naik. Tuturan siswa tersebut diangap santun karena memenuhi penanda kesantunan „ayo‟ dan partikel pengeras „-lah‟. Intonasi tuturan panjang pada pengucapan “Ayolah Mr...”. Penanda kata „ayolah‟ bermaksud sebagai ajakan siswa kepada gurunya. Penelitian ini menarik untuk diteliti di karenakan fokus utama permasalahannya mengenai kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru di sekolah. Umumnya siswa sangat enggan bahkan takut dalam mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis tuturan guru saat di sekolah. Pada penelitian ini masih jarang diteliti dengan fokus utama kesantunan tuturan ekspresif siswa terhadap tuturan guru di dalam sekolah.
3 Penelitian tentang kesantunan tuturan ekspresif di sekolah sebelumnya sudah pernah dilakukan khususnya tindak tutur guru dengan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini dilakukan bedasarkan penelitian terdahulu, tetapi penelitian ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Diperhatikan dari sisi penelitian terdahulu ditemukan beberapa penelitian yang relevan, sebagai berikut. Pertama, penelitian ini dilakukan oleh Rahajeng (2021), dengan judul Tindak Tutur Ekspresif dalam Video Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kanal Youtube Anisa Nur Aini. Penelitian tersebut mengungkapkan tindak tutur ekspresif dalam video pembelajaran pada kanal Youtube sebagai sarana pembelajaran siswa ketika pandemi Covid-19. Pembelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan secara daring. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya fokus permasalahan yang memamparkan tentang fungsi dan wujud tindak tutur ekspresif. Persamaan penelitian ini yaitu sama-sama mengkaji tindak tutur ekspresif serta pada fokus permasalahan yang sama. Perbedaan dalam penelitian tersebut terletak pada subjeknya, yaitu tuturan siswa kepada guru. Pada penelitian sebelumnya, tindak tutur ekspresif yang dikaji berupa fungsi dan modus pemyampaian monolog. Sedangkan pada penelitian ini, tindak tutur yang dikaji dalam bentuk penyampaian dialog di dalam dan di luar kelas oleh siswa dengan guru. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Erens (2016), dengan judul Tindak Tutur Ekspresif Guru Bahasa Indonesia dalam Interaksi Belajar-Mengajar Kelas VIII SMPN 2 Malang. Penelitian tersebut mengkaji tentang tuturan ekspresif di sekolah yang memamparkan tentang bentuk, jenis, dan modus tuturan guru terhadap siswa saat pembelajaran. Perbedaan dalam penelitian ini terletak pada subjek penelitian yakni tuturan ekspresif siswa dengan guru, fokus penelitian, serta konteks penelitian yang diambil di dalam kelas dan di luar kelas. Ketiga, penelitian dilakukan oleh Laurensia (2019), dengan judul Tindak Tutur Direktif Siswa terhadap Tuturan Guru dalam Interaksi Pembelajaran. Persamaan dalam penelitian ini terletak pada subjek penelitiannya yakni tuturan siswa terhadap guru di sekolah. Perbedaan dalam penelitian ini sangat terlihat jelas pada fokus penelitian yang diteliti, penelitian tersebut berfokus pada tindak tutur direktif dengan fokus permasalahan yang diangkat memamparkan tentang wujud, fungsi, dan strategi tindak tutur direktif. Kajian terdahulu di atas memberikan wawasan bahwa penelitian tentang analisis tindak tuturan ekspresif siswa dengan guru di sekolah terdapat persamaan dan perbedaan dengan ketiga penelitian sebelumnya. Persamaan dari ketiga penelitian terbebut terletak
4 pada kajian mengenai tindak tutur. Perbedaan pada ketiga penelitian sebelumnya terletak pada kajian tindak tutur yang diteliti, lokasi pengambilan data, subjek penelitian, serta konteks dalam penelitiannya, dan rumusan masalah. Penelitian ini berfokus pada kajian kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang, sekolah berbasis pondok pesantren dengan kultur dan bahasa yang berbeda-beda. Ketiga referensi penelitian tersebut memberikan pandangan dan sumbangsih terhadap kecermatan dan keakuratan penelitian sehingga kebaruan dan keaslian dari penelitian ini dapat diukur. 1.2 Fokus Penelitian Sehubungan dengan konteks penelitian tersebut, secara umum penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan kesantunan pada tuturan ekspresif siswa di SMK An Nur Bululawang. Adapun fokus dalam penelitian ini sebagai berikut. (1) Fungsi kesantunan tindak tutur ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang. (2) Bentuk kesantunan tindak tutur ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang. 1.3 Kegunaan Penelitian Secara teoritis penelitian ini berupaya dalam memperkaya teori kesantunan tuturan ekspresif dalam kaitannya dengan kajian pragmatik. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam memperkaya teori pragmatik terutama pada teori tindak tutur. Kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru dalam berinteraksi di SMK An Nur Bululawang sekolah berbasis pondok pesantren baik di dalam kelas saat pembelajaran dan saat di luar jam pelajaran. Penggunaan kesantunan tuturan ekspresif dalam interaksi di sekolah dapat dipengaruhi oleh situasi ujar tersebut, meliputi penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, serta tuturan sebagai produk tindak verbal. Dengan mengkaji aspek pragmatik kesantunan tuturan ekspresif siswa dapat dipahami secara utuh fungsi dan bentuk pragmatik respon kesantunan tuturan ekspresif siswa. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan tambahan dalam lingkungan pendidikan, terutama menyangkut aspek budaya berkomunikasi khususnya di lingkungan sekolah berbasis pondok pesantren yang melibatkan interaksi siswa dengan
5 guru di sekolah. Bagi guru temuan penelitian ini sebagai bahan masukan kepada siswa agar mengetahui pola komunikasi dalam berinteraksi dengan baik dan sebagai parameter tingkat kesantunan dalam bertutur. Selain itu, sebagai masukan untuk mengidentifikasi fungsi dan bentuk respon ekspresif siswa terhadap tuturan guru di sekolah. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan referensi atau acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kajian pragmatik terutama tindak tutur ekspresif siswa. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai model analisis dalam menerapkan teoriteori kesantunan tuturan terhadap tuturan ekspresif siswa di sekolah. 1.4 Penegasan Istilah Penegasan istilah digunakan sebagai batasan tafsiran dalam penelitian. Penegasan istilah pada penelitian ini sebagai berikut. 1) Kesantunan berbahasa merupakan nilai sopan yang melibatkan pertuturan yang halus, baik, dan indah serta menunjukkan sikap yang memiliki budi pekerti yang mulia. Penutur yang paham betul akan sikap satun dalam mengunakan bahasa yang halus dan mencermati setiap konteks bahasan yang akan dibicarakan. 2) Tuturan ekspresif adalah tuturan yang berhubungan dengan sikap dan psikologi penutur yang bertujuan untuk mengekspresikan perasaan penutur terhadap suatu keadaan yang sedang dialami oleh mitra tutur.
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini memamparkan kajian pustaka yang meliputi (1) kesantunan berbahasa dalam lingkungan pendidikan, (2) fungsi tuturan ekspresif, dan (3) bentuk tuturan ekspresif. 2.1 Kesantunan Berbahasa dalam Lingkungan Pendidikan Kesantunan menjadi tolak ukur dalam berkomunikasi yang tak luput dengan pemilihan bahasa yang baik serta dapat menentukan perilaku budaya manusia. Pernyataan tersebut benar adanya ketika berkomunikasi, seseorang akan mengucapkan kalimat dengan pilihan kata, ungkapan, dan struktur kalimat tertentu yang akan mengambarkan kesantunan manusia tersebut. Kesantunan berbahasa dalam lingkungan pendidikan sangat penting untuk diperhatikan karena berpegaruh pada kelancaran berkomunikasi. Berbahasa dalam lingkungan pendidikan menjadi tolak ukur yang sangat penting. Baik itu antara pengajar dengan peserta didik maupun peserta didik dengan pengajar. Hal ini dikarenakan kesantunan dalam berbahasa dianggap mampu mengurangi ketidaknyamanan situasi antara pengajar dan peserta didik yang mana tetap mampu membuat situasi aman terkendali sehingga diperlukan beberapa indikator penting dalam melakukan percakapan yang santun. Menurut Chaer (2010:56-57), ciri kesantunan berbahasa yang dapat digunakan di lingkungan pendidikan, yaitu (1) semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya, (2) tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lebih santun dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung, dan (3) memerintah dengan kalimat berita atau kalimat tanya dipandang lebih santun dibandingkan dengan kalimat perintah (imperatif). Saat melakukan percakapan, diperlukan beberapa indikator dengan tujuan mengukur kesantunan dalam kegiatan komunikasi, indikator yang dimaksud khususnya diksi. Menurut Pranowo (2009:104), terdapat enam saran agar tuturan mampu mencerminkan rasa santun di lingkungan pendidikan. Berikut keenam saran dalam kesantunan tuturan di lingkungan pendidikan, yaitu (1) menggunakan kata “tolong” ketika membutuhkan bantuan orang lain, (2) menggunakan kata “maaf” saat hal yang disampaikan dianggap menyinggung perasaan orang lain, (3) menggunakan kata “terima kasih” ketika mendapatkan kebaikan dari orang lain sebagai bentuk penghargaan, (4) menggunakan
7 kata berkenaan ketika meminta seseorang melakukan sesuatu, (5) menggunakan kata beliau ketika ingin menyebut orang ketiga yang dihormati, dan (6) menggunakan kata Bapak/Ibu menyapa seseorang. Keenam saran tersebut sebaiknya digunakan ketika melakukan percakapan dengan orang lain agar terjalin hubungan yang baik dengan lawan bicara. Selain itu, penggunaan kata yang tabu sebaiknya dihindari ketika melakukan percakapan seperti kata-kata yang berkaitan dengan seks serta kata-kata yang kasar dan dianggap kotor. Kata-kata yang berkaitan dengan organ tubuh yang biasanya ditutupi oleh manusia serta pemilihan kata yang terdengar kasar akan dianggap tabu kecuali percakapan yang dilakukan memiliki tujuan tertentu. Terkait dengan menghindari kata yang tabu, seseorang dapat menggunakan bahasa yang bersifat eufemisme yang diterapkan untuk menghindari dari kesan negatif. Demi menjadikan komunikasi yang lancar, antara penutur dengan lawan tutur perlu menjunjung tinggi apa yang disebut sebagai etika berbahasa atau tata cara berbahasa. Etika berbahasa berkaitan dengan norma-norma sosial dan norma-norma budaya. Chaer (2010:6-7), berpendapat bahwa terdapat lima etika dalam berbahasa, yaitu (1) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial serta budaya tertentu, (2) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam jam waktu serta budaya tertentu, (3) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita serta menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain, (4) kapan kita harus diam untuk mendengar tuturan orang, dan (5) bagaimana kualitas suara kita keras, pelan, meninggi, serta bagaimana sikap fisik kita di dalam berbicara. Sehubungan dengan etika berbahasa terdapat konsep muka yang disampaikan oleh Brown dan Levinson menggunakan istilah „muka‟ sebagai sesuatu yang harus diperhatikan. Menurut mereka „muka‟ adalah citra diri publik yang ingin diklaim oleh setiap anggota masyarakat untuk dirinya sendiri (Brown dan Levinson, 1987:66). Jadi muka di sini bukan bermakna fisik, namun dapat dimaknai sebagai representasi keinginan diri yang dimunculkan di depan publik agar dipandang sesuai dengan keinginan empunya muka. Agar disebut sopan, maka partisipan pertuturan harus dapat menjaga agar muka tidak terancam, baik muka si penutur, mitra tutur, atau pihak lain yang terlibat. Dalam teori ini setiap tindakan manusia dianggap mempunyai potensi untuk mengancam muka (Face Threatening Act/FTA), sehingga perlu ada usaha untuk mengurangi atau menghilangkan ancaman tersebut. Menurut Brown dan Levinson, muka dibedakan menjadi dua, yaitu muka positif dan negatif. Positif dan negatif di sini bukanlah bermakna konotatif baik dan buruk,
8 melainkan untuk membedakan dua kutub jenis keinginan. Muka positif menunjuk pada nilai-nilai keakraban, persahabatan, solidaritas, penghargaan, dan ketidakformalan. Sementara muka negatif terkait dengan kemandirian dan kebebasan dari tekanan maupun paksaan dari pihak lain. Gerak-gerik fisik dalam bertutur pun hendaknya diperhatikan agar lawan bicara kita tidak tersinggung atau menjadi marah. Etika bertutur melalui gerak-gerik fisik berkenaan dengan dua hal, yaitu kinesik dan proksimik. Kinestetik berhubungan dengan gerak-gerik muka, ekspresi wajah posisi berdiri, gerakan tangan, bahu, kepala, dan sebagainya. Sementara proksimik berkaitan dengan jarak tubuh di dalam bertutur. Jarak tubuh antara penutur dan mitra tutur perlu juga dijaga berdasarkan budaya setempat. Aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan dapat dipengaruhi dari aspek intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkaitan dengan suasana emosi penutur, nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir), faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Katika penutur menyampaikan maksud kepada mitra tutur dengan menggunakan intonasi keras, padahal mitra tutur berada pada jarak yang sangat dekat dengan penutur, sementara mitra tutur tidak tuli, penutur akan dinilai tidak santun. Sebaliknya, jika penutur menyampikan maksud dengan intonasi lembut, penutur akan dinilai sebagai orang yang santun. Namun, intonasi kadang dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat. Tujuan utama diperlukannya kesantunan dalam berbahasa ialah untuk memperlancar kegiatan komunikasi. Apabila seseorang menggunakan bahasa yang berbelit-belit dan tidak sesuai sasaran karena perasaan enggan terhadap lawan bicara yang lebih tua, maka hal ini juga dianggap sebagai ketidaksantunan dalam berbahasa. Fakta ini lebih sering dijumpai di lingkungan pendidikan karena masyarakat yang ada di dalam lingkungan pendidikan memiliki budaya untuk bicara terus terang serta lebih mengutamakan perasaan. 2.1.1 Penyebab Ketidaksantunan Berbahasa Pranowo (melalui Chaer, 2010:69), menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan sebuah pertuturan itu menjadi tidak santun. Penyebab ketidaksantunan berbahasa itu antara lain. 1) Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar. Kritik kepada lawan tutur secara langsung dan dengan menggunakan kata-kata kasar akan menyebabkan
9 sebuah pertuturan menjadi tidak santun atau jauh dari peringkat kesantunan. Dengan memberikan kritik secara langsung dan menggunakan kata-kata yang kasar tersebut dapat menyinggung perasaan lawan tutur, sehingga dinilai tidak santun. 2) Dorongan rasa emosi penutur, kadang kala ketika bertutur dorongan rasa emosi penutur begitu berlebihan sehingga ada kesan bahwa penutur marah kepada lawan tuturnya. Tuturan yang diungkapkan dengan rasa emosi oleh penuturnya akan dianggap menjadi tuturan yang tidak santun. 3) Protektif terhadap pendapat, seringkali ketika bertutur seorang penutur bersifat protektif terhadap pendapatnya. Hal ini dilakukan agar tuturan pada si lawan tutur tidak dipercaya oleh pihak lain. Penutur ingin memperlihatkan pada orang lain bahwa pendapatnya benar, sedangkan pendapat mitra tutur salah. Dengan tuturan seperti itu akan dianggap tidak santun. 4) Sengaja menuduh lawan tutur, acapkali penutur menyampaikan tuduhan pada mitra tutur dalam tuturannya. Tuturannya menjadi tidak santun jika penutur terkesan menyampaikan kecurigaannya terhadap mitra tutur. 5) Sengaja memojokkan mitra tutur, adakalanya pertuturan menjadi tidak santun karena penutur dengan sengaja ingin memojokkan lawan tutur dan membuat lawan tutur tidak berdaya. Dengan ini, tuturan yang disampaikan penutur menjadikan lawan tutur tidak dapat melakukan pembelaan. 2.2 Fungsi Tuturan Ekspresif Jhon R. Searle (dalam Rahardi, 2010) pada bukunya Speech Act: An Essay in The Philosophy of Language, menyatakan bahwa dalam praktik penggunaan bahasa terdapat setidaknya tiga macam tindak tutur, yakni (1) tindak lokusioner (locutionary acts), (2) tindak ilokusioner (illocutionary acts), dan (3) tindak perlokusioner (perlocutionary acts). Tindak lokusioner adalah tindak bertutur dengan kata, rasa, dan kalimat itu. Tindak tutur ini dapat disebut sebagai the act of saying something. Dalam tindak lokusioner tidak dipermasalahkan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan oleh si penutur. Tindak ilokusioner adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu pula. Tindak tutur ini dapat dikatakan sebagai the act of doing something. Tindak
10 perlokusioner adalah tindak menumbuhkan pengaruh (effect) kepada mitra tutur. Tindak tutur ini dapat disebut dengan the act of affecting someone. Menurut Searle (dalam Rahardi, 2010), tindak tutur ilokusi digolongkan ke dalam lima macam bentuk tuturan yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif. Pertama, asertif (assertives) yakni bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan, menyarankan, membuang, mengeluh, dan mengklaim. Kedua, direktif (directives) yakni bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, misalnya memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan merekomendasi. Ketiga, ekspresif (expressives) adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan berbelasungkawa. Keempat, komisif (commissives) yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu. Kelima, deklarasi (declarations) yakni bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya berpasrah memecat, membaptis, memberi nama, mengangkat, mengucilkan, dan menghukum. Tindak tutur ekspresif adalah tuturan tindakan yang terjadi untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan dengan cara tertentu, tindak tutur ini juga mengungkapkan atau menyisihkan perasaan pembicara. Tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang menyampikan perasaan sang penutur dengan fungsi menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Teori tersebut sejalan dengan pendapat Nababan dan Riyadi (2019:4), ekspresif tindak tutur merupakan bentuk tindak tutur yang menyatakan apa adanya yang dirasakan oleh penutur. Artinya, tindak tutur ini penutur mengungkapkan kondisi psikologis. Tindak tutur ekspresif berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis pembicara terhadap lawan bicara. Tuturan ekspresif dikelompokan menjadi tiga belas fungsi, yaitu (1) mengucapkan terima kasih, (2) memuji, (3) mengkritik, (4) bercanda, (5) menyalahkan, (6) menyapa, (7) meminta maaf, (8) mengeluh, (9) menilai, (10) mengungkapkan rasa kaget, (11) mengungkapkan rasa malu, (12) mengungkapkan rasa simpati, dan (13) mengucapkan selamat (Suyono, 1990:6). Tuturan ekspresif tersebut memiliki fungsi serta kedudukan yang berbeda tergantung konteks tuturan yang terjadi.
11 Kreidler (dalam Yuliantoro, 2020:24), menyatakan bahwa tuturan ekspresif adalah tuturan mengenai sesuatu yang telah dikerjakan sebelumnya oleh mitra tutur atau tuturan yang terjadi dari tindakan sebelumnya atau barangkali merupakan kesalahan tindakan yang dilakukan oleh penutur saat sekarang. Kata kerja yang umum digunakan dalam tuturan ekspresif berupa pernyataan-pernyataan menyatakan (acknowledge), mengakui (admit), menyangkal (deny), minta maaf (apologize). Felicity conditions tuturan ekspresif sama dengan felicity conditions tuturan verdiktif, yaitu tindakan yang dilakukan oleh penutur sesuai dengan kewenangannya dan penutur mengatakan sesuai dengan kedudukannya serta mitra tutur mempercayainya. Ahli pragmatik lain memberi penguatan tentang kaitan tindak tutur ekspresif dengan kondisi psikologi seseorang. Menurut Yule (2006:93), tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur dan berfungsi untuk menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang sedang dialami oleh mitra tutur. Tindak tutur ekspresif juga mencerminkan pernyataan-pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan. Menurut Chaer (2010:29-30), tindak tutur ekspresif mencerminkan pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa tindak tutur ekspresif memuji, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, kebahagiaan atau kesenangan, dan mengeluh. 2.2.1 Fungsi Tuturan Ekspresif Kesenangan Tuturan kesenangan melahirkan kepuasan, keenakan, kebahagiaan, dan kelegaan pada mitra tutur (KBBI). Menurut Yule (2006:93), tindak tutur ekspresif kesenangan adalah tindak tutur yang secara psikologis menandakan bahwa penutur merasa senang ataupun suka terhadap suatu hal atau kejadian. 2.2.2 Fungsi Tuturan Ekspresif Terima Kasih Menurut Rustono (2000:106), menyatakan fungsi mengucapkan terima kasih merupakan tuturan yang mengikat penuturnya untuk mengekspresikan sikap psikologis yang dimaksudkan agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi dengan mengucapka terima kasih. Pendapat Rustono tersebut didukung dengan pendapat Suyono (1990:6), menyatakan bahwa tuturan ekspresif terima kasih adalah tuturan yang sifatnya mengucapkan perkataan syukur terhadap budi baik orang.
12 2.2.3 Fungsi Tuturan Ekspresif Meminta Maaf Fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf adalah fungsi tindak tutur yang dilakukan penutur terhadap mitra tutur karena rasa bersalah atau suatu kesalahan yang telah dilakukan. Menurut Suyono (1990:6), meminta maaf merupakan tuturan yang sifatnya memohon, yaitu permohonan ampun atas kesalahan dan kekeliruan. Penanda mengenai fungsi tuturan ekspresif meminta maaf terjadi ketika penutur meminta maaf kepada mitra tutur telah melakukan kesalahan kepada mitra tutur. 2.2.4 Fungsi Tuturan Ekspresif Mengeluh Tuturan mengeluh melahirkan keluh kesah, penderitaan atas suatu hal ketidakadilan orang atasnya (KBBI). Menurut Rustono (2000:106), fungsi mengeluh merupakan tuturan yang mengikat penuturnnya untuk mengekspresikan sikap psikologis yang dimaksudkan agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi dalam tuturan mengeluh. Pendapat Rustono tersebut didukung pendapat Suyono (1990: 6), menyatakan bahwa mengeluh merupakan tuturan yang dilakukan untuk menyatakan susah karena penderitaan, kesakitan, atau kekecewaan. 2.2.5 Fungsi Tuturan Ekspresif Menyapa Fungsi tindak tutur ekspresif menyapa merupakan tindak tutur yang diucapkan untuk menyapa lawan bicara. Pernyataan tersebut sesuai dengan Suyono (1990:6), bahwa menyapa adalah sapaan yang sifatnya memberikan sapaan, yaitu perkataan yang menegur. Sapaan untuk menegur mempunyai maksud untuk menjadikan suatu ikatan batin dengan si lawan bicara. Biasanya ditandai dengan adanya pengunaan ujaran halo, hai, permisi, selamat siang, assalamualaikum, kata sapaan berupa bapak dan ibu, penanda sapaan dalam bahasa Jawa, seperti nuwun sewu. 2.2.6 Fungsi Tuturan Ekspresif Memuji Tuturan memuji merupakan tuturan yang digunakan untuk menyatakan penghargaan terhadap sesuatu yang dianggap baik, indah, cantik, bagus dan sebagainya. Tuturan ini muncul ketika seseorang (penutur) menyukai apa yang ada pada diri seseorang yang lainnya (mitra tutur). Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Rustono (2000:106), yang menyatakan bahwa fungsi memuji merupakan tuturan yang mengikat penuturnya untuk mengekspresikan sikap psikologi yang dimaksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi denag tuturan memuji.
13 Sedangkan menurut Suyono (1990:6), memuji adalah tuturan yang sifatnya ingin melegakan hati mitra tutur atau suatu perbuatan yang dianggap baik. Ahli pragmatik lain memberikan pendapat mengenai penanda sebuah tuturan dengan fungsi memuji. Menurut Ibrahim (1990:38-40), penanda mengenai bentuk tindak tutur ekspresif memuji terjadi ketika penutur bisa mengekspresikan kegembiraan kepada mitra tutur. 2.2.7 Fungsi Tuturan Ekspresif Mengoda Tindak tutur ekspresif menggoda adalah tindak tutur yang terjadi karena penutur mengganggu atau mengusik lawan tutur. Hal ini digunakan sebagai gurauan dan biasanya membuat lawan tutur malu, bahkan meningkatkan kepercaaan diri lawan tutur (KBBI). 2.2.8 Fungsi Tuturan Ekspresif Menyindir Menyindir adalah mengatakan sesuatu, seperti mencela dan mengejek tidak dengan langsung atau tidak dengan terus terang (KBBI). Tindak tutur ekspresif menyindir adalah tuturan yang berlawanan dengan fakta atau keadaan yang sebenarnya. Sindiran berarti menegur secara tidak langsung untuk menghindari tuturan yang mengancam atau membuat malu mitra tutur. 2.3 Bentuk Tuturan Ekspresif Bentuk tuturan ekspresif dibagi menjadi tiga, yaitu (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat interogatif atau kalimat tanya, dan (3) kalimat imperatif atau kalimat perintah. 2.3.1 Bantuk Deklaratif Kalimat deklaratif dalam bahasa Indonesia mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada si mitra tutur. Kalimat deklaratif adalah kalimat yang isinya hanya meminta pendengar atau yang mendengar kalimat itu untuk menaruh perhatian saja, tidak usah melakukan apa-apa, sebab maksud si pengujar hanya untuk memberitahukan saja. Kalimat deklaratif juga merupakan tuturan langsung dan dapat pula merupakan tuturan tidak langsung. Pernyataan di atas sejalan dengan pendapat Wijaya (1996:32), bahwa kalimat deklaratif ditandai dengan tanda titik dan diucapkan dengan intonasi yang datar. Bentuk kalimat deklaratif digunakan oleh penutur untuk membuat pernyataan. Isi dalam kalimat deklaratif mengandung kalimat berita bagi mitra tutur. Tanggapan
14 yang diharapkan dari kalimat deklaratif berupa perhatian yang tercermin dari pandangan mata yang menunjukkan perhatian atau ditandai dengan gerakan anggukan kepala dan jawaban ya. Pada kalimat deklaratif dalam bentuk tulisan diakhiri dengan tanda titik (.) sedangkan dalam bahasa lisan dapat ditandai dengan pola intonasi berita dengan nada turun. 2.3.2 Bentuk Imperatif Kalimat imperatif adalah kalimat yang isiannya meminta agar si pendengar atau yang mendengar kalimat itu memberi tanggapan berupa tindakan atau perbuatan yang diminta. Pernyataan tersebut berkaitan dengan pendapat Wijana (1996:32), yang menyatakan bahwa bentuk kalimat imperatif ditandai dengan tanda seru (!) dan diucapkan dengan intonasi naik. Kalimat imperatif mengharapkan adanya tindakan dari si lawan tutur. Menurut Rahardi (2005:125-134), pemakaian penanda kesantunan dalam kalimat imperatif, yakni ditandai dengan kata tolong, mohon, silakan, mari, ayo, biar, coba, harap, hendaknya, hendaklah, -lah, sudi kiranya, sudilah kiranya, dan sudi apalah kiranya. Tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia mencakup panjang pendek tuturan, urutan tutur, intonasi tuturan serta isyarat-isyarat kinesik, dan pemakaian ungkapan penanda kesantunan (politeness markers). 2.3.3 Bentuk Interogatif Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada si mitra tutur. Kalimat interogatif merupakan kalimat yang isianya meminta agar pendengar atau orang yang mendengar kalimat itu untuk memberi jawaban secara lisan. Jadi, yang diminta bukan hanya sekedar perhatian, melainkan memberi jawaban secara lisan. Menurut Alwi (2003:357), kalimat interogatif juga dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran penanda kata tanya, seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel -kah sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika kita tidak ada kata tanya atau suara turun. Sasangka (1989:127), mengemukakan bahwa kalimat interogatif adalah kalimat yang isinya berwujud pertanyaan, supaya yang bertanya diberi tahu
15 mengenai apa yang ditanyakan. Ciri-ciri kalimat interogatif pada ragam tulis, yaitu terdapat penanda keinterogatifan. Secara garis besar kalimat interogatif dibedakan menjadi dua, yakni pertanyaan untuk diakui atau untuk diingkari dan pertanyaan untuk meminta keterangan. Pertanyaan untuk diakui atau untuk diingkari, pertanyaan semacam ini dapat dikenal pada intonasi kalimatnya. Dalam bahasa lisan kita jumpai banyak pertanyaan-pertanyaan yang serupa, dalam ragam tulis penanda keinterogatifan pada jenis ini dapat dilihat dari partikel tanya yang digunakan, yaitu apa, pa, ya, ta. Pengakuan dapat dilakukan dengan jalan mengulangi unsur esensial pertanyaan itu. Pengingkaran dapat dilakukan dengan kata ora, dudu, durung. Pertanyaan untuk meminta keterangan kalimat interogatif pada jenis ini selain diakhiri dengan tanda tanya juga selalu berisi sebuah kata tanya, seperti apa, endi, sapa, piye, ngapa, kapan dan sebagainya. Jawaban atas pertanyaan ini dapat berupa keterangan atas pertanyaan yang diajukan.
16
17 BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini dipaparkan (1) pendekatan dan jenis penelitian, (2) kehadiran peneliti, (3) tempat dan waktu penelitian, (4) data dan sumber data, (5) Instrumen penelitian, (6) prosedur pengumpulan data, (7) analisis data, (8) pengecekan keabsahan data, dan (9) tahaptahap penelitian. 3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penggunaan pendekatatan kualitatif didasarkan pada tiga hal, yakni (1) ditinjau dari aspek data penelitiannya, penelitian ini menghasilkan data deskriptif, yaitu tuturan ekspresif, (2) data penelitian bersifat ilmiah dilakukan dalam konteks yang natural, yakni dilakukan ketika di dalam dan di luar kelas, (3) peneliti sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan data di lapangan, peneliti juga berperan serta dalam kegiatan mencatat apa yang didengar dan diketahui di lapangan, dan (3) sumber data diperoleh dari tuturan siswa yang direkam dengan menggunakan alat perekam dan selanjutnya ditranskripsikan ke dalam bahasa tulis. Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian pragmatik. Penelitian ini melihat kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru dalam lingkungan sekolah sebagai produk tuturan. Perumusan masalah dan teori pada penelitian ini menggunakan penelitian berbasis data yang nyata ditemukan dalam objek penelitian. Tuturan antara siswa dengan guru memperoleh hasil temuan data berupa satuan lingual kata, frasa, dan klaimat. Konteks ini digunakan peneliti untuk mengkaji makna dari sebuah tuturan yang diujarkan siswa kepada gurunya. Pengungkapan makna ini juga didasari pada pemahaman terkait konteks dalam suatu situasi tutur. Pengungkapan makna akan berhubungan dengan berbagai hal, yakni bentuk kesantunan tuturan ekspresif dan fungsi kesantunan tuturan ekspresif. 3.2 Kehadiran Peneliti Kehadiran dalam penelitian ini merupakan kunci dalam pelaksanaan penelitian. Peneliti sebagai orang yang melakukan observasi mengamati dengan cermat terhadap objek penelitian. Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, peneliti terjun langsung kelapangan. Tindakan peneliti dalam pengambilan data penelitian adalah sebagai instrumen kunci dan partisipan penuh dalam mengumpulkan data, penyeleksian data,
18 penganalisisan data, serta penyimpulan hasil analisis data yang telah diperoleh. Pelaksanaan penelitian ini, peneliti akan hadir di semua kelas tuturan yang diambil oleh peneliti berada di dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung dan di luar kelas seperti di dalam kantor, taman, halaman sekolah, kantin, dll. Dalam penelitian ini digunakan untuk melihat dan mengukur dampak penggunaan bahasa terhadap tingkat kesantunan bertutur ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang. 3.3 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan di SMK An Nur Bululawang, salah satu sekolah menengah kejuruan dengan berbasis sekolah pesantren yang terletak di Jl. Diponegoro IV/6 Bululawang Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sekolah ini memiliki enam jurusan, yakni TKJ (Terknik Komputer dan Jaringan), MM (Multimedia), KPR (Keperawatan), TBG (Tata Boga), TBS (Tata Busana), dan TBSM (Teknik Bisnis dan Sepeda Motor). SMK An Nur Bululawang sekolah berbasis pondok pesantren menggunakan kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka belajar dengan pola aktif dan interaktif dengan berpusat pada peserta didik. Pola seperti ini, akan muncul dalam berbagai macam tuturan kesantunan yang terjadi antara siswa dengan guru. Latar belakang sekolah yang berbasis pondok pesantren dengan nilai agama yang tinggi. Kehadiran santri yang berbeda daerah dan suku budaya serta pola bahasa bedasarkan faktor lingkungannya dapat mempengaruhi kesantunan dalam berbahasa. Perbedaan ini membuat peserta didik memiliki tingkat kesantunan yang berbeda-beda pula. Konteks penelitian ini ditentukan bedasarkan latar komunikasi yang terjadi. Begitu pula dengan sekolah yang berbasis pondok pesantren bahwa tidak semua sekolah tingkat kesantunan tuturan ekspresif siswa terhadap respon tuturan guru sama. Alokasi waktu yang digunakan untuk penelitian ini, dilaksanakan dalam waktu enam bulan dengan tahapan dua bulan pertama observasi, diawali penyusunan proposal dan seminar proposal, dua bulan kedua melaksanakan tahapan penelitian yang meliputi penggalian data dan analisis data, serta pada dua bulan ketiga tahapan hasil penelitian dan melakuakan konsultasi dari hasil analisis.
19 3.4 Data dan Sumber Data Data berupa satuan lingual kata, frasa, dan kalimat yang sesuai dengan kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru di sekolah. Data yang dipilah bedasarkan fokus penelitian, yakni fungsi dan bentuk kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang. Sumber data penelitian ini berupa tulisan yang didapat dari rekaman audio tuturan siswa dengan guru yang sudah ditranskrip. Tuturan kesantunan ini dilakukan di semua kelas baik di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung dan juga di luar kelas pada SMK An Nur Bululawang. 3.5 Instrumen Penelitian Peneliti secara aktif melakukan penelitian dan pengamatan terhadap subjek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen utama, yakni peneliti sendiri yang menjadi perancang penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, hingga pelaporan hasil temuan penelitian melalui beberapa pedoman untuk menjaga keabsahan data, keobjektifan data, dan hasil penelitian dalam kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang. Instrumen penelitian dilengkapi dengan tabel panduan pengumpulan data fungsi tuturan ekspresif, panduan pengumpulan data bentuk tuturan ekspresif, klasifikasi fungsi tuturan ekspresif, dan klasifikasi bentuk tuturan ekspresif. Tabel 1. Instrumen Panduan Pengumpulan Data Fungsi Tuturan Ekspresif No. Fungsi Tuturan Ekspresif Tuturan Konteks 1. Kesenangan 2. Terima Kasih 3. Meminta Maaf 4. Mengeluh 5. Menyapa 6. Memuji 7. Mengoda 8. Menyindir
20 Tabel 2. Instrumen Panduan Pengumpulan Data Bentuk Tuturan Ekspresif No. Bentuk Tuturan Ekspresif Tuturan Konteks 1. Deklaratif 2. Imperatif 3. Interogatif Tabel 3. Instrumen Klasifikasi Fungsi Tuturan Ekspresif No. Tuturan Kode Tuturan Fungsi Tuturan Ekspresif KSN TKS MMF MGLH MYP MMJ MGD MYDR Tabel 4. Instrumen Klasifikasi Bentuk Tuturan Ekspresif No. Tuturan Kode Tuturan Bentuk Tuturan Ekspresif Deklaratif Imperatif Interogatif Keterangan: Fungsi Tuturan Ekspresif KSN : Kesenagan TKS : Terima Kasih MMF : Meminta Maaf MGLH: Mengeluh MYP : Menyapa MMJ :Memuji MGD : Mengoda MYDR:Menyindir
21 3.6 Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan semua data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah berupa perekaman dan catatan lapangan. Peneliti melakukan pengamatan secara langsung terhadap peristiwa tutur yang terjadi antara siswa dengan guru dalam komunikasi di dalam kelas maupun di luar kelas. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui lima tahap, yakni (1) mengumpulkan data dengan merekam tuturan siswa kepada guru saat di dalam kelas dan di luar kelas, (2) menstrankripsi tuturan siswa terhadap respon tuturan guru yang sudah diperoleh ke dalam bahasa tulis, (3) mengidentifikasi data yang disesuaikan dengan fokus penelitian, (4) memberikan kodifikasi pada data yang sesuai, dan (5) mengklasifikasikan serta mendeskripsikan data terpilih sesuai dengan fokus penelitian, yakni fungsi dan bentuk kesantunan tuturan ekspresif. 3.7 Analisis Data Analisis data penelitian ini menggunakan analisis pragmatik, yaitu analisis bahasa berdasarkan sudut pandang pragmatik. Dalam sudut pandang ini lebih fokus pada pembahasan atau analisis sesuatu yang tidak hanya diucapkan, namun dikomunikasikan. Karena analisis makna wacana ditentukan oleh konteks dalam komunikasi, konteks itulah yang menentukan makna dari ekspresi bahasa. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, kemudian dijelaskan secara sistematis untuk memberikan gambaran secara cermat mengenai permasalahan yang dibahas sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Langkah-langkah analisis data penelitian ini menggunakan teori Miles dan Huberman (2007:15-20), yang terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) menarik simpulan. Pertama, pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan dan perekaman tuturan siswa. Kedua, reduksi data dilakukan dengan mentranskripsikan semua tuturan siswa dalam bahasa tulis, mengidentifikasikan data dalam transkrip yang termasuk tuturan ekspresif beserta konteksnya, memberi kode pada data yang ditemukan menggunakan tabel pengumpulan data serta mengklarifikasikan, dan mendeskripsikan data yang telah ditemukan bedasarkan fokus penelitian. Ketiga, penyajian data dilakukan dengan menyajikan dalam
22 bentuk diagram yang berfokus pada fungsi dan bentuk kesantunan tuturan ekspresif. Data pada diagram berisi hasil temuan yang dilengkapi dengan jumlah data bedasarkan pengelompokan temuan. Keempat, penarikan kesimpulan bedasarkan hasil ringkasan temuan. Untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis data, peneliti mengunakan tabulasi yang disesuaikan dengan fokus penelitian. Tabel 5. Instrumen Panduan Analisis Data No. Indikator Deskripsi Tuturan Konteks Kode Analisis 3.8 Pengecekan Keabsahan Data Pengecekan keabsahan temuan penelitian merupakan suatu proses yang penting untuk dilakukan. Peneliti melakukan pengecekan keabsahan temuan data dengan tiga langkah, yaitu (1) memperpanjang pengamatan, (2) menggunakan ketekunan serta ketelitian dalam pengamatan, dan (3) menggunakan instrumen tiangulasi. Pertama, memperpanjang pengamatan dilakukan karena penelitian ini termasuk jenis penelitian pragmatik, yakni penelitian tuturan ekspresif yang mengharuskan peneliti untuk terjun langsung ke lapangan dan ikut serta dalam kegiatan penelitian secara langsung. Memperpanjang pengamatan ini tidak dilakukan dengan waktu singkat, melainkan memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat melihat dan mengamati subjek penelitian dengan perpanjangan ini peneliti melakukan penelitian sampai data yang diperlukan cukup. Kedua, ketekunan dan ketelitian dalam pengamatan dimaksudkan untuk menentukan data dan informasi yang relevan dengan persoalan yang dicari oleh peneliti. Peneliti kemudian memfokuskan diri pada data yang diperoleh secara mendalam dan rinci. Ketekunan serta ketelitian ini menunjukkan kegigihan dalam menemukan dan memperoleh data yang sesuai. Ketiga, instrumen triangulasi data dilakukan terhadap sumber data dan metode pengumpulan data. Triangulasi data dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu (1)
23 mencocokan data dari hasil pengamatan yang sudah diperoleh sebelum dan sesudahnya, (2) mencocokan data yang diperoleh dari sumber data dan situasi tutur yang berbeda, dan (3) mendiskusikan hasil temuan dengan dosen pembimbing dan teman sejawat yang melakukan penelitian yang serupa. Triangulasi data ini dimaksudkan agar data yang ditemukan sesuai dengan tujuan penelitian. 3.9 Tahap-Tahap Penelitian Tahapan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap penyelesaian. Pertama, tahap persiapan terdiri atas enam tahapan, yaitu (1) memilih masalah yang akan diteliti, peneliti menemukan masalah penelitian dan mengamati kesantunan tuturan ekspresif siswa dengan guru di SMK An Nur Bululawang yang dijadikan sebagai salah satu objek dalam penelitian yang akan digunakan sebagai sumber data, (2) peneliti mencari sumber referensi, membaca, dan memahami teori mengenai kesantunan tuturan ekspresif untuk menemukan fokus penelitian, (3) peneliti datang ke sekolah kemudian mengamati tuturan siswa dengan guru selama di sekolah, lalu disesuaikan dengan konteks masalah yang diteliti, (4) membuat peta konsep untuk menggambarkan garis besar penelitian, (5) membuat matriks penelitian untuk membantu mengembangkan sub indikator, teori, sumber data, serta unit data, dan (6) membuat pedoman isntrumen penelitian dan analisis data. Kedua, tahap pelaksanaan yang terdiri dari lima tahapan, yaitu (1) pengumpulan data dilakukan dengan merekam tuturan siswa kepada guru dengan teknik simak libat cakap, (2) mengubah tuturan pada rekaman ke dalam bahasa tulis, (3) mengidentifikasi data bedasarkan fokus penelitian, (4) memberi kode pada setiap data, dan (5) mendeskripsikan data yang telah ditemukan. Ketiga, tahap penyelesaian terdiri dari enam, yaitu (1) memeriksa data bedasarkan tujuan penelitian, (2) menyusun setiap data serta membuat pelaporan, (3) memeriksa kembali keabsahan data yang sudah didapatkan serta mendiskusikannya dengan pembimbing, (4) melakukan penganalisisan data penelitian, dan (5) mendiskusikan hasil laporan yang telah dianalisis dengan dosen pembimbing. Bedasarkan pemamparan di atas disampaikan bagan implikasi metodologi dalam penelitian ini. Bagan tersebut disajikan sebagai berikut.
24 Gambar 2 Implikasi Metodologi Pendekatan penelitian kualitatif Jenis penelitian pragmatik Sumber data tuturan siswa dengan guru di sekolah Fokus Penelitian Fungsi kesantunan tuturan ekspresif siswa Bentuk kesantunan tuturan ekspresif siswa Ancangan Teori Kesantunan tindak tutur Fungsi tindak tutur Bentuk tindak tutur Satuan Analisis Penelitian Fungsi Bentuk Data Penelitian Tuturan ekspresif siswa terhadap tuturan guru Pengumpulan Data Perekaman Catatan lapangan Temuan Penelitian Deskripsi fungsi tuturan ekspresif siswa terhadap tuturan guru Deskripsi bentuk tuturan ekspresif siswa terhadap tuturan guru Analisis Data Pengumpulan data Reduksi data Penyajian data Penarikan simpulan Trigulasi Data Kesantunan Tuturan Ekspresif Siswa dengan Guru di SMK AN Nur Bululawang
25 DAFTAR RUJUKAN Al-Duleimi, Hutheifa Y, Sabariah Md Rashid, and Ain Nadzimah Abdullah. 2016. A Critical Review of Prominent Theories of Politeness. Advances in Language and Literary Studies 7 (6), 262-270. Bala Gawen, Alexander. 2017. Pembelajaran Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Brown, Penelope, and Stephen C Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage. Vol. 4. Cambridge University Press. B Miles, Matthew, dan A Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Carretero, Marta, Carmen Maíz-Arévalo, and M Ángeles Martínez. 2015. "An Analysis of Expressive Speech Acts in Online Task Oriented Interaction by University Students." Procedia-Social and Behavioral Sciences (173) 186-190. Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul, dan Agustina, Leonie. 2010. Sosiolinguistik:Perkenalan Awal. Jakarta: P. Rineka Cipta. Cummings, Louise. 2019. Pragmatik Sebuah Prespektif Multidispliner. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Effendy, Onong Unjana. 2015. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Eny Nur Aisyah, Hardika, dan Yuniawatika. 2019. Kesantunan di Dunia Pendidikan “Pergeseran Nilai Kesantunan di Era Kekinian”. Malang: Universitas Negeri Malang. Fokker, A.A. 1978. Pengantar Sintaksis Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita. Hartinah, Yulmi. 2020. Tindak Tutur Ekspresif dalam Debat Pemilihan Calon Pemimpin Bangsa Indonesia Tahun 2019. Tesis. Universitas Negeri Malang. Ibrahim, Abd Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional.
26 Izar, J., Nasution, M. M, Afria, & Harianto N. 2021. Expressive Speech Act in Comic Bintang Emon’s Speech in Social Media about Social Distancing. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 5(1), 148-158. KBBI Daring. 2016. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses pada 20 November 2022, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/Cari/Index Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Mardiyah, Siti. 2020. Tindak Tutur Ekspresif dalam Percakapan Nonformal Siswa di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Palu. Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 1. Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif: PT Remaja Rosdakarya. Muhammad. 2011. Metode Penelitian Bahasa. Jogjakarta: Penerbit Ar-Ruzz Media. Nababan, M. R, and Riyadi Santosa. 2019. Translation Techniques of Expressive Speech Acts on Anger Speech Events in Flawless. International Journal of Linguistics, Literature and Translation (IJLLT) ISSN: 2617-0299. Ningrum, Indah Widya, Andayani, dan Slamet Mulyono. 2017. Analisis Prinsip Kesantunan Berbahasa pada Kegiatan Diskusi Kelas Siswa SMA Negeri 7 Surakarta. Basastra, 5 (1), 127-143. Pranowo. 2012. Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahardi, Kunjana. 2010. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Rahardi, Kunjana.1999. Imperatif dalam Bahasa Indonesia:Penanda-Penanda Kesantunan Linguistiknya. Humaniora, 11(2), 16-23. Rahman, Erens Levian. 2016. Tindak Tutur Ekspresif Guru Bahasa Indonesia dalam Interaksi Belajar Mengajar Kelas VIII SMPN 2 Malang. Diss. Universitas Negeri Malang. Rahmatiah. 2011. Fungsi dan Kesantunan Kalimat Interogatif dalam Tuturan Bahasa Makassar. Sawerigading, 17(3), 435-444.
27 Rustono. 2000. Implikatur Tuturan Humor. Semarang: CV. IKIP Semarang Press. Ronan, Patricia. 2015. Categorizing Expressive Speech Acts in the Pragmatically Annotated SPICE Ireland Corpus. Icame Journal 39.1 : 25-45. Saifudin, Akhmad. 2020. Kesantunan Bahasa dalam Studi Linguistik Pragmatik. LITE: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 16(2), 135-159. Saputri, Andi Anita Lestari Dwi. 2017. Penggunaan Tindak Tutur Ekspresif dalam Acara Hitam Putih di Trans7. Jurnal Bahasa dan Sastra. 2 (2) 77-88. Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 1989. Paramasastra Jawa Gagrak Anyar. Surabaya: PT Citra Jaya Murti. Susilowati, Heni. 2013. Tindak Tutur pada Kalimat Interogatif dalam Novel Garuda Putih Karya Suparto Brata. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. https://eprints.uny.ac.id/25113/1/Heni%20Susilowati%2008205241047.pdf, diakses pada 13 Oktober 2022 pukul 22.00. Suyono, 1990. Pragmatik Dasar-Dasar dan Pengajarannya. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh Malang Wiwaha, Rahajeng Shafira Raihanah, Kusubakti Andajani, dan Titik Harsiati. 2021. Tindak Tutur Ekspresif dalam Video Pembelajaran Bahasa Indonesia. Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7 (2), 335-352. Yule, George. 2014. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Yuliantoro, Agus. 2020. Analisis Pragmatik. Surakarta: UNWIDHA Press. Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.