43 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM pemerintah dan menghitung pengeluaran biaya kesehatan untuk memelihara kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. C. Ruang Lingkup Manajemen Kesehatan 1. Manajemen Personalia (Mengurusi SDM) Adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan kegiatankegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan karyawan atau pegawai agar tercapai tujuantujuan individu, organisasi, dan masyarakat. 2. Manajemen Keuangan Adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang perencanaan keuangan suatu perusahaan atau perorangan. Manajemen memiliki peranana penting pada setiap kegiatan yang kita reencanakan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Manajemen Logistik (Mengurusi Logistik Obat-Obatan dan Peralatan) suatu penerapan prinsip-prinsip manajemen dalam kegiatan logistik dengan tujuan agar pergerakan personil dan barang dapat dilakukan secara efektif dan efisien. 4. Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Sistem Informasi Manajemen. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui pengelolaan pembangunan kesehatan yang disusun dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Salahsatu komponen pengelolaan kesehatan tersebut adalah manajemen informasi dan regulasi kesehatan. Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efesien diperlukan informasi kesehatan. Informasi kesehatan digunakan sebagai masukan pengambilan keputusan dalam setiap proses manajemen kesehatan baik manajemen pelayanan kesehatan, manajemen institusi kesehatan, maupun manajemen program pembangunan kesehatan atau manajemen wilayah. Di samping itu, dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
44 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM masyarakat, pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan. D. Konsep dasar dan fungsi dalam manajemen kesehatan Secara umum manajemen merupakan suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Hal ini berdasarkan beberapa pendapat ahli berikut : 1. Manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu orang /lebih untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain guna mencapai hasil (tujuan) yang tidak dapat dicapai oleh hanya satu orang saja. (Evancevich) 2. Manajemen adalah proses dimana pelaksanaan dari suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi (Encyclopaedia of sosial sciences) 3. Manajemen membuat tujuan tercapai melalui kegiatan-kegiatan orang lain dan fungsi-fungsinya dapat dipecahkan sekurang-kurangnya 2 tanggung jawab utama (perencanaan dan pengawasan) 4. Manajemen adalah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan orang lain (Robert D. Terry). Dalam bidang kesehatan masyarakat – Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan.” Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek dan sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003) Sedangkan Fungsi manajemen, menurut beberapa ahli mengandung berbagai komponen sebagai berikut :
45 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM 1. Menurut L. Gullick manajemen mengandung beberapa unsur antara lain Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgetting 2. Menurut George Terry – Planning, Organizing, Actuating, Controlling 3. Menurut Koonzt O’ Donnel – Planning, Organizing, Staffing, Directing, Controlling 4. Menurut H. Fayol – Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling Berbagai Komponen Fungsi Manajemen diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Planning (perencanaan) adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan alternative kegiatan untuk pencapaiannya. 2. Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan menajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi. 3. Actuating (directing, commanding, motivating, staffing, coordinating) atau fungsi penggerakan pelaksanaan adalah proses bimbingan kepada staff agar mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan ketrampilan yang telah dimiliki, dan dukungan sumber daya yang tersedia. 4. Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan. E. Aplikasi Manajemen Bidang Kesehatan
46 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Banyak pengertian sehat disampaikan para ahli, WHO, maupun menurut Undang-Undang, antara lain disebutkan bahwa sehat adalah suatu keadaan yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan tidak hanya terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja. Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan tersebut, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi niaga (business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi umum/publik (public administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum. Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi kesehatan di Indonesia. F. Unsur-Unsur Manajemen a. Manusia (Man) Pembangun organisasi kehesehatan seperti rumah sakit, Sumber daya manusiamerupakan salah satu faktor yang sangat menentukan terlaksanananya manajemen. b. Uang (money) Uamga atau anggran sangat diperlukan sebagai biaya yang harus dimiliki organisasiuntuk melakukan pelayanan kesehatan, mulai dari perizinan, pembangunan rumahsakit, peralatan, pembayaran tenaga kerja dan lain sebagainya. c. Bahan baku (material) Meterial adalah obat-obatan yang digunakan organisasi kesehatan untuk melakukankegiatan pelayanan kesehatan secara efisien.d. d. Mesin (machine) Mesin adalah peralatan yang digunakan dalam pelayanan kesehatan seperti peralatan untuk perawatan gigi, peralatan untuk persalinan, peralatan radiologi dan sebagainya.
47 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM e. Metode (Method) Metode adalah cara yang ditempuh untuk melaksanakan sesuatu yang telah dirancang dengan baik sehingga tujuan akan dapat dicapai dengan tepat sesuai dengan perencanaan semula. Metode yang digunakan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dengan berperdoman pada SOP. (Standar Operational Procedure). G. Jenis-Jenis Manajemen Kesehatan Manajemen adalah upaya pengelolaan suatu sistem atau entitas dan sumber dayanya dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Inti dari upaya ini adalah pengambilan keputusan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manajemen pada hakikatnya adalah rangkaian dari proses pengambilan keputusan-keputusan. Dalam bidang kesehatan dikenal adanya paling sedikit dua jenis manajemen, yaitu: a. Manajemen Pasien/Klien, yaitu rangkaian proses pengambilan keputusankeputusan dalammenghadapi masalah kesehatan (penyakit dan lain-lain) yang diderita oleh seseorang,sekelompok orang, atau masyarakat. Tujuannya adalah agar pasien/klien tersebut dapatterhindar atau terbebas dari masalah kesehatan, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Dalam hal ini manajer atau pengambil keputusannya adalah setiap petugas kesehatan yangmelayani pasien/klien (disebut petugas fungsional– dokter, perawat, bidan, sanitarian, dan lain-lain), baik yang bertugas di Puskesmas dan jaringannya maupun yang bertugas di Rumah Sakitdan sarana-sarana kesehatan lain. b. Manajemen Unit/Organisasi Kesehatan, yaitu rangkaian proses pengambilan keputusan-keputusan dalam menghadapi masalah yang menghambat atau potensial menghambat kinerjaunit/organisasi kesehatan. Misalnya masalah tingginya absensi karyawan, masalah kurangnya dana/anggaran, masalah tidak terawatnya peralatan, masalah tingginya kebocoran pendapatan, dan lain-lain. Tujuannya adalah agar unit/organisasi terhindar atau terbebas dari masalah, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Dalam hal ini
48 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM manajer atau pengambil keputusannya adalah para pimpinan unit/organisasi kesehatan–Menteri Kesehatan dan pejabat terasnya, Kepala Dinas Kesehatan dan staf intinya, Direksi Rumah Sakit, KepalaPuskesmas, dan lain-lain. BAB VII PERENCANAAN PROGRAM KESEHATAN A. Perencanaan Program Kesehatan Perencanaan merupakan fungsi pertama dalam fungsi pokok manajemen, yang mendahului fungsi pengorganisasian, ketenagaan, kepemimpinan, dan pengendalian yang dimaksudkan untuk membantu tercapainya tujuan organisasi. Menurut Terry (1977), perencanaan adalah penentuan dan penghubungan fakta-fakta serta pembentukan dan penggunaan asumsi tentang masa depan dalam formulasi aktivitas-aktivitas yang dianggap penting untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Koontz dan O’Donnel (1968) mendefinisikan perencanaan sebagai sebuah proses intelektual; membutuhkan penentuan terus menerus dariurutan aksi dan pendasaran keputusan pada tujuan, pengetahuan dan perkiraan- perkiraan terukur. Perencanaan atau planning adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut apa yang akan dilakukan di masa mendatang, kapan, bagaimana dan siapa yang akan melakukannya. Perencanaan merupakan inti kegiatan manajemen, karena semua kegiat an manajemendiatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan perencanaan itu memungkinkan para pengambil keputusan atau manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasilguna dan berdaya guna. Perencanaan merupakan suatu fungsi penganalisaan tujuan yang telah di tetapkan terlebih dahulu menjadi urutan tindakan yang sistematis. Perencanaan merupakan suatu organisasi adalah suatu proses yang
49 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM berkesinambungan, tidak akan pernah berhenti, karena organisasiakan terus menghasilkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh unit-unit pelaksanaan. Dari batasan-batasan yang telah ada dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisaan dan pemahaman sistem, penyusunan konsepdan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik. Dari batasan ini dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan antara lain: a. Perencanaan harus didasarkan kepada analisis dan pemahaman sistem dengan baik. b. Perencanaan pada hakekatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi. c. Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yanglebih baik. Secara sederhana dan awam dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yang menghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap tentang suatu program atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh sebab itu, hasil proses perencanaan adalah "rencana" (plan). Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masal ah-masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan akan menjadi efektif jika perumusan masalah sudah dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan bukan berdasarkan emosi atau anganangan saja. Fakta-fakta diungkap dengan menggunakan data untuk menunjang perumusan masalah. Perencanaan juga merupakan proses pemilihan alternative tindakan yang terbaik untuk mencapai tujuan. Perencanaan juga merupakan suatu keputusan untuk mengerjakan sesuatu di masa akan datang, yaitu suatu
50 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM tindakan yang diproyeksikan di masa yang akan datang. Salah satu tugas manajer yang terpenting di bidang perencanaan adalah menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek organisasi berdasarkan analisis situasi di luar (eksternal) dan di dalam (internal) organisasi. B. Fungsi Perencanaan Fungsi perencanaan adalah fungsi terpenting dalam manajemen. Fungsi ini akan menentukan fungsi–fungsi manajemen selanjutnya. Perencanaan merupakan landasan dasar dari fungsi manajemen. Tanpa perencanaan tidak mungkin fungsi manajemen lainnya dapat dilaksanakan dengan baik. Perencanaan manajerial terdiri dari perumusan strategi dan penerapan strategi. Dalam perumusan strategi, manajer kesehatan harus memiliki kemampuan ketrampilan konseptual, dan pada penerapan strategi, manajer kesehatan harus memiliki keterampilan teknis. Fungsi perencanaan dapat dilihat dari 4 aspek utama: 1. Kontribusi Pada Tujuan Tujuan semua perencanaan adalah memfasilitasi perusahaan dalam mencapai semua tujuannya. Merupakan prinsip utama dalam mencapai tujuan bersama perusahaan. 2. Keutamaan Perencanaan Perencanaan adalah perintah yang berfungsi untuk melakukan eksekusi berjalannya fungsi manajemen. Walaupun perencanaan juga bersifat aksi, tapi juga bias menunjang tujuan bersama perusahaan. Selain itu perencanaan harus dibuat sebelum fungsi manajemen yang lain. Tentu saja semua fungsi harus juga direncanakan agar berjalan secara efektif. Perencanaan dan pengawasan tidak bisa dipisahkan. Kegiatan yang tidak direncanakantidak dapat direncanakan, kontrol mengikuti jalur – jalur yang ada pada perncanaan 3. Penembusan Rencana
51 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Perencanaan merupakan fungsi dari manajer, meskipun karakter dan pelaksanaannya dari perencanaan bermacam–macam tergantung dengan otoritas dan kebijakan alami sertadibatasi oleh kekuatan. Hal tersebut secara virtual tidak mungkin untuk membatasi darilingkupan pilihan perencanaan. Pengenalan terhadap penembusan perencaaan melangkah jauh dalam mengklarifikasi pada bagian dari sejumlah siswa yang mempelajari ilmu manajemen menuju pembedaan antara pembuatan kebijakan (penyiapan penuntun untuk berfikir dalam membuat keputusan) dan pekerja administrasi, atau antara manajer dan pekerja administrasi atau pengawas. Dikarenakan delegasi autoritas atau posisinya dalam organisasi, mungkin membutuhkan lebih banyak perencanaan atau perencanaan yang lebih penting dibandingkan yang lain, atau perencanaannya mungkin lebih mendasar dan lebih aplikatif pada porsi yang luasterhadap perusahaan / swasta dibanding terhadap yang lain. Bagaimanapun juga, semua rencana manajer dari presiden hingga pengawas-dibatasi oleh prosedur – prosedur garis pandu yang jelas dan tegas. 4. Efisiensi dari Rencana Efisiensi terhadap rencana diukur menurut kontribusi sejumlah rencana terhadap beberapa tujuan dan obyektivitas sebagai hasil dari pengeluaran biaya dan kosekuensi lainyang diperlukan untuk merumuskan dan menjalankannya. Konsep efisiensi ini mempunyai implikasi terhadap rasio normal daripada pemasukan dan pengeluaran. Banyak manajer memiliki berbagai recana yang mungkin tidak efisien jika biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pada hasil yang dicapai. Rencana mungkin juga tidak efisien dalam mencapai obyek bila membahayakan kepentingan /kepuasan kelompok. C. Manfaat Perencanaan
52 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Manfaat perencanaan bagi organisasi kesehatan adalah manajer dan staf organisasi kesehatan tersebut dapat mengetahui : 1. Tujuan yang ingin di capai organisasi dan cara mencapainya. 2. Jenis dan struktur organisasi yang dibutuhkan. 3. Sejauh mana efektivitas kepemimpinan dan pengarahan yang diperlukan. 4. Bentuk dan standar pengawasan yang akan dilakukan 5. Aktivitas organisasi dalam mencapai tujuan dapat dilaksanakan secara teratur. 6. Menghilangkan aktivitas yang tidak produktif. 7. Mengukur hasil kegiatan. 8. Sebagai dasar pelaksanaan fungsi manajemen lainnya. D. Istilah yang Identik dengan Perencanaan 1. Peramalan Peramalan (Forcasting) adalah suatu upaya mendga apa yang akan terjadi pada masadepan, yang juga merupakan ciri perencanaan. Tetapi peramalan bukan perencanaan, karena pada peramalan tidak ditemukan adanya unsurunsur yang bersifat pasti dankarena itu dapat diperhitungkan. 2. Penyelesaian Masalah Penyelesaian masalah (problem solving) adalah suatu upaya menghilangkan hambatan atau masalah, yang juga merupakan ciri perencanaan. Tetapi penyelesaian masalah bukan perencanaan, karena pada penyelesaian masalah tidak terkandung uraian yang lengkaptentang bagaimana melaksanakan berbagai kegiatan. 3. Penyusunan program (programming) Penyusunan program adalah satu upaya menysusn rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, yang juga merupakan ciri perencanaan. 4. Penyusunan Rancangan
53 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Penyususnan rancangan (designing) adalah suatu upaya menghasilkan pedoman (bagan) kerja, yang juga merupakan ciri perencanaan. Tetapi penyusunan rancangan bukan perencanaan, karena hasil akhir perencanaan tidak terbatas hanya pada penyusunan pedoman (bagan) kerja saja. E. Aspek Perencenaan Ada 3 aspek pokok yang di perhatikan dalam perencanaan: 1. Hasil dari pekerjaan perencanaan. Hasil perencanaan disebut plan, berbeda antara satu perencanaan kegiatan dengan perencana kegiatan yang lain Ex : rencana kesehatan atau rencana pendidikan. 2. Perangkat pelaksanaan Perangkat pelaksanaan (Mechanic of planning) adalah suatu organisasi yang ditugaskan/yang bertanggung jawabmenyelenggarakan pekerjaan pelaksanaan. 3. Proses perencanaan Proses perencanaan (process of planning) adalah langkah-langkah yang harus dilaksanakan pada pekerjaan perencanaan. Ciri-Ciri Perencanaan 1. Bagian dari sistem administrasi 2. Dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan. 3. Berorentasi pada masa depan. 4. Mampu menyelesaikan masalh. 5. Mempunyai tujuan 6. Bersifat mampu kelola.Unsur – Unsur Perencanaan Menurut Manullang (2009:41), rencana yang baik pada umumnya memuat enam unsur yaitu what, why, where, when, who, how. Selanjutnya
54 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM menurut Hasibuan (2008 : 112), pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab secara ilmiah, artinya atas hasil analisis data,informasi, dan fakta, supaya rencana yang dibuat itu relatif baik, pelaksanaannya mudah dan tujuan yang diinginkan akan tercapai. Jenis-Jenis Perencanaan Kesehatan Perencanaan atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain: 1. Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana : a. Rencana jangka panjang (long term planning), yang berlaku antara 10- 25 tahun. b. Rencana jangka menengah (medium range planning), yang berlaku antara 5-7 tahun. c. Rencana jangka pendek (short range planning), umumnya hanya berlaku untuk 1tahun. 2. Dilihat dari tingkatannya : a. Rencana induk (masterplan), lebih menitikberatkan uraian kebijakan organisasi. Rencana ini mempunyai tujuan jangka panjang dan mempunyai ruang lingkup yangluas. b. Rencana operasional (operational planning), lebih menitikberatkan pada pedomanatau petunjuk dalam melaksanakan suatu program. c. Rencana harian (day to day planning) ialah rencana harian yang bersifat rutin. 3. Ditinjau dari ruang lingkupnya : a. Rencana strategis (strategic planning), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencana ini sulit untuk diubah
55 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM b. Rencana taktis (tactical planning) ialah rencana yang berisi uraian yang bersifat jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatankegiatannya, asalkan tujuan tidak berubah. c. Rencana menyeluruh (comprehensive planning) ialah rencana yang mengandung uraian secara menyeluruh dan lengkap. d. Rencana terintegrasi (integrated planning) ialah rencana yang mengandung uraianyang menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain diluar kesehatan. Meskipun ada berbagai jenis perencanaan berdasarkan aspek-aspek tersebut diatasnamun prakteknya sulit untuk dipisah-pisahkan seperti pembagian tersebut. Misalnya berdasarkan tingkatannya suatu rencana termasuk rencana induk tetapi juga merupakanrencana strategis berdasarkan ruang lingkupnya dan rencana jangka panjang berdasarkan jangka waktunya F. Proses Perencanaan Perencanaan dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, perencanaan pemecahan masalah, implementasi (pelaksanaan pemecahan masalah) dan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut akan muncul masalah-masalah baru kemudian dari masalah-masalah tersebut dipilih prioritas masalah dan selanjutnya kembali ke siklus semula. Di bidang kesehatan khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Secara terinci, langkah-langkah perencanaan kesehatan adalah sebagai berikut : 1. Identifikasi MasalahPerencanaan pada hakekatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh sebab itu, langkah awal dalam perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan masyarakat di lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Sumber masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain:
56 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM a. Laporan-laporan kegiatan dari program-program kesehatan yang ada. b. Survailance epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit. c. Survei kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan perencanaan kesehatan. d. Hasil kunjungan lapangan supervisi, dan sebagainya 2. Menetapkan Prioritas Masalah. Kegiatan identifikasi masalah menghasilkan segudang masalah kesehatan yang menunggu untuk ditangani. Oleh karena keterbatasan sumber daya baik biaya, tenaga dan teknologi maka tidak semua masalah tersebut dapat dipecahkan sekaligus (direncanakan pemecahannya). Untuk itu harus dipilih masalah mana yang "feasible" untuk dipecahkan. Proses memilih masalah ini disebut memilih atau menetapkan prioritas masalah. Pemilihan prioritas dapat dilakukan melalui 2 cara, yakni : a. Teknik Skoring Yakni memberikan nilai (scor) terhadap masalah tersebut dengan menggunakan ukuran (parameter) antara lain : Prevalensi penyakit (prevalence) atau besarnya masalah. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh masalah tersebut (severity). Kenaikan atau meningkatnya prevalensi (rate increase). Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut (degree of unmeet need). Keuntungan sosial yang diperoleh bila masalah tersebut diatasi (social benefit). Teknologi yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical feasiblity). Sumber daya yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah (resources. availability), termasuk tenaga kesehatan.
57 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Masing-masing ukuran tersebut diberi nilai berdasarkan justifikasi kita, bila masalahnya besar diberi 5 paling tinggi dan bila sangat kecil diberi nilai 1. Kemudian nilai-nilai tersebut dijumlahkan. Masalah yang memperoleh nilai tertinggi (terbesar) adalah yang diprioritaskan, masalah yang memperoleh nilai terbesar kedua memperoleh prioritas keduadan selanjutnya. b. Teknik Non. Skoring Dengan menggunakan teknik ini masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu juga disebut "nominal group tecnique (NGT)". Ada 2 NGT yakni : Delphi Technique Yaitu masalah-masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang mempunyai keahlianyang sama. Melalui diskusi tersebut akan menghasilkan prioritas masalah yang disepakati bersama. Delbeq Technique, Menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini adalah juga melalui diskusi kelompok namun peserta diskusi terdiri dari para peserta yang tidak sama keahliannya maka sebelumnya dijelaskan dulu sehingga mereka mempunyai persepsi yang sama terhadap masalah-masalah yang akan dibahas. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yag disepakati bersama. 3. Menetapkan Tujuan. Menetapkan tujuan perencanaan pada dasarnya adalah membuat kete tapan-ketetapantertentu yang ingin dicapai oleh perencanaan tersebut. Penetapan tujuan yang baik apabila dirumuskan secara konkret dan dapat diukur. Pada umumnya dibagi dalam tujuan umumdan tujuan khusus. a. Tujuan UmumAdalah suatu tujuan masih bersifat umum dan masih dapat dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan khusus dan pada umumnya masih
58 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM abstrak. Contoh : Meningkatnya status gizi anak balita di kecamatan Cibadak. b. Tujuan Khusus Adalah tujuan-tujuan yang dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus merupakan jembatan untuk tujuan umum, artinya tujuan umum yang ditetapkan akan tercapai apabila tujuan-tujuan khususnya tercapai. Contoh : Apabila tujuan umum seperti contoh tersebut di atas dijabarkan ke dalam tujuan khusus menjadi sebagai berikut : Meningkatnya perilaku ibu dalam memberikkan makanan bergizi kepada anak balita. Meningkatnya jumlah anak balita yang dittimbang di Posyandu. Meningkatnya jumlah anak yang berat badannya naik, dan sebagainya. 4. Menetapkan Rencana Kegiatan Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada umumnya kegiatan mencakup 3 tahap pokok, yakni : a. Kegiatan pada tahap persiapan, yakni kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok dilaksanakan, misalnya rapat-rapat koordinasi, perizinan dansebagainya. b. Kegiatan pada tahap pelaksanaan yakni keegiatan pokok program yang bersangkutan. c. Kegiatan pada tahap penilaian, yakni keggiatan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian program tersebut 5. Menetapkan Sasaran (Target Group) Sasaran (target group) adalah kelompok masyarakat tertentu yang ak an digarap oleh program yang direncanakan tersebut. Sasaran program kese hatan biasanya dibagi dua, yakni : a. Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenai oleh program tersebut. Misalnya kalau tujuan umumnya : Meningkatkan status gizi
59 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM anak balita seperti tersebutdi atas maka sasaran langsungnya adalah anak balita. b. Sasaran tidak langsung adalah kelompok yang menjadi sasaran antara program tersebut namun berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung. Misalnya : seperti contoh tersebutdi atas, anak balita sebagai sasaran langsung sedangkan ibu anak balita sebagai sasarantidak langsung. Ibu anak balita, khususnya perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak sangat menentukan status gizi anak balita tersebut. 6. Waktu Waktu yang ditetapkan dalam perencanaan adalah sangat tergantung dengan jenis perencanaa yang dibuat serta kegiatan-kegiatan yang ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan. Oleh sebab itu, waktu dan kegiatan sebenarnya dapat di jadikan satu dan disajjikan dalam bentuk matriks, yang disebut gant chart. 7. Organisasi dan Staf Dalam bagian ini digambarkan atau diuraikan organisasi sekaligus staf atau personel yangakan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program tersebut. Disamping itu juga diuraikan tugas (job description) masingmasing staf pelaksana tersebut. Hal ini penting karena masing-masing orang yang terlibat dalam program tersebut mengetahui dan melaksanakan kewajiban. 8. Rencana Anggaran Adalah uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan sampai dengan evaluasi. Biasanya rincian rencana biaya ini dikelompokkan menjadi : a. Biaya personalia b. Biaya operasional.
60 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM c. Biaya sarana dan fasilitas d. Biaya penilaian 9. Rencana Evaluasi. Rencana evaluasi sering dilupakan oleh para perencana padahal hal ini sangat penting. Rencana evaluasi adalah suatu uraian tentang kegiatan yang akan dilakukan untuk menilai sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut telah tercapai. BAB VIII PENGORGANISASIAN PROGRAM KESEHATAN A. Pengertian pengorganisasian program kesehatan 1. Pengorganisaasian adalah pengelompokan berbagai kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan suatu rencana sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan memuaskan. 2. Pengorganisasian adalah pengaturan sejumlah personil yang dimiliki untuk memungkinkan tercapainya suatu tujuan yang telah disepakati dengan cara mengalokasikan masing-masing fungsi dan tanggungjawabnya. 3. Pengorganisasian adalah pengkoordinasian secara rasional berbagai kegiatan dari sejumlah orang tertentu untuk mencapai tujuan bersama, melalui pengaturan pembagian kerja dan fungsi menurut penjenjangannya secara bertanggungjawab. B. Definisi pengorganisasian menurut para ahli : 1. Menurut Ensiklopedia Indonesia, Jakarta 1990, pengorganisasian adalah suatu kerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. Menurut Siagian, 1983, pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan
61 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM 3. Menurut Kamus Kata Bahasa Indonesia, T. Hani Handoko, pengorganisasian adalah sesuatu yang digambarkan sebagai sesuatu yang tersentralisasi dan berisi tugas-tugas yang sangat terspesialisasikan C. Kesimpulan : Pengorganisasian program kesehatan adalah suatu kerja sama, pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, kewenangan dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan dari program kesehatan yang telah di tetapkan Prinsip – prinsip pengorganisasian program kesehatan Menurut Henry Fayol (1918) : 1. Pembagian Kerja Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja untuk meraih tujuan bersama. Namun, pada dasarnya, sebuah organisasi terdiri atas bagian-bagian tertentu yang masingmasing memiliki tanggung jawab. Oleh karena itu, harus ada pembagian kerja yang jelas antara tiap-tiap bagian. Prinsip-prinsip organisasi berupa pembagian kerja akan memberi pengaruh positif pada efisiensi dan efektivitas organisasi. Pembagian itu menghindarkan sekelompok orang terkonsentrasi pada pekerjaan tertentu, sementara pekerjaan yang lain terbengkalai. 2. Pendelegasian wewenang Pendelegasian wewenang sangat penting agar setiap elemen dalam organisasi memiliki rasa tanggung jawab. Prinsip-prinsip organisasi ini di satu sisi merupakan bagian dari pembagian kerja dan di sisi lain merupakan pelimpahan tanggung jawab. Di samping itu, pendelegasian wewenang sangat penting fungsinya dalam komando. 3. Disiplin
62 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Setiap organisasi pasti memiliki tata tertib dan peraturanperaturan menyangkut sistem kerja. Namun, semua tata tertib dan peraturan itu menjadi tidak ada artinya jika tidak ditunjang dengan kedisiplinan para pelaksananya. Oleh karena itu, disiplin dalam suatu organisasi adalah prinsip-prinsip organisasi yang sangat mendasar yang mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. 4. Kesatuan Komando Komando dalam hal ini adalah kepemimpinan dalam menjalankan visi dan misi organisasi. Dalam pelaksanaan lapangan, komando dan wewenang bisa didelegasikan kepada struktur di bawahnya. Namun, hakikatnya, komando tetap harus tunggal. Adanya lebih dari satu komando akan membuat organisasi bergerak tidak fokus pada tujuan. 5. Kesatuan Tujuan Organisasi tanpa tujuan yang jelas adalah omong kosong. Tujuan organisasi harus tergambar dengan jelas dalam visi dan misi organisasi tersebut. Sebab, tujuan organisasi ini menjadi acuan gerak dan program kerja. Kesatuan tujuan dari seluruh jenjang organisasi merupakan kunci pokok keberhasilan organisasi tersebut dalam mengorganisasi elemenelemennya. Prinsip Prioritas, Penghargaan atas prestasi dan Sanksi kesalahan, Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan, wewenang, tata tertib, Keadilan & kejujuran, Stabilitas & regulasi, Inisiatif dan Keselarasan & persatuan.
63 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM D. Pengembangan organisasi program kesehatan 1. Cara pengembangan organisasi program kesehatan, yaitu : Sensitivity training, merupakan teknik pengembangan organisasi yang pertama diperkenalkan dan ayang dahulu paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group. Dalam kelompok kelomok T (singkatan training) yang masing masing terdiri atas 6 – 10 peserta, pemimpin kelompok (terlatih) membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity) terhadap orang lain, serta ketrampilan dalam hubunga antar-pribadi. Team Building, adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektivitas serta kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya atau tim. Teknik team building sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek dan organisasinya bersifat matriks. Survey feedback. Dalam teknik sruvey feedback. Tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil surveini diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk pada para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan perbaikan konstruktif. Transcational Analysis (TA). TA berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar-individu. TA mengajarkan cara menyampaikan pesan yang jelas dan bertanggung jawab, serta cara menjawab yang wajar dan menyenangkan. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan.
64 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Intergroup activities. Fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan baik antar-kelompok. Ketergantungan antar kelompok , yang membentuk kesatuan organisasi, menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Intergroup activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau memecahkan konflik yang mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut. Proses Consultation. Dalam Process consultation, konsultan pengembangan organisasi mengamati komunikasi , pola pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, metpengembangan organisasie kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Konsultan kemudian memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya, serta menganjurkan tindakan koreksi. Grip pengembangan organisasi. Pendekatan grip pada pengembangan organisasi di dasarkan pada konsep managerial grip yang diperkenalkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Konsep ini mengevaluasi gaya kepemimpinan mereka yang kurang efektif menjadi gaya kepemimpinan yang ideal, yang berorientasi maksimum pada aspek manusia maupun aspek pengembangan organisasi. Third-party peacemaking. Dalam menerapkan teknik ini, konsultan pengembangan organisasi berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar-individu dan kelompok. E. Pengorganisasian kegiatan masyarakat terkait program kesehatan
65 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Menurut “Adi Sasongko (1978)”, langkah-langkah dalam pengorganisasian masyarakat adalah : a. Persiapan sosial Tujuan persiapan sosial adalah mengajak berpartisipasi atau peran serta masyarakat sejak awal kegiatan, sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan hingga pengembangan programkesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam persiapan sosial inilebih ditekankan kepada persiapan-persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program-program kesehatan yang akan dilakukan. • Tahap pengenalan masyarakat Dalam tahap awal ini kita harus datang ketengah-tengahmasyarakat dengan hati yang terbuka dan kemauan untuk mengenalsebagaimana adanya, tanpa disertai prasangka buruk sambilmenyampaikan maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan. • Tahap pengenalan masalah Dalam tahap ini dituntut suatu kemampuan untuk dapatmengenal masalah-masalah yang memang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat. Beberapa pertimbangan yang dapatdigunakan untuk menyusun skala prioritas penanggulangan masalah adalah : a) Beratnya Masalah. Seberapa jauh masalah tersebut menimbulkan gangguan terhadap masyarakat. b) Mudahnya mengatasi c) Pentingnya Masalah bagi Masyarakat, yang paling berperan disini adalah subyektivitas masyarakat sendiri dan sangat dipengaruhi oleh kultur budaya setempat
66 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM d) Banyaknya Masyarakat yang Merasakan Masalah,misalnya perbaikan gizi, akan lebih mudah dilaksanakan diwilayahyang banyak balitanya. • Tahap penyadaran masyarakat Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka tentang tahu dan mengerti masalah-masalah kesehatan yang mereka hadapi sehingga dapat berpartisipasi dalam penanggulangannya serta tahu cara memenuhi kebutuhan akan upaya pelayanan kesehatan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada. Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan kesehatan, diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan terorganisasi dengan baik, untuk itu beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka menyadarkan masyarakat : a) Lokakarya mini kesehatan b) Musyawarah masyarakat desa (MMD) c) Rembuk desa b. Pelaksanaan Setelah rencana penanggulangan masalah disusun dalam lokakarya mini, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat adalah : a) Pilihlah kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. b) Libatkan masyarakat secara aktif dalam upaya penanggulangan masalah.
67 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM c) Kegaitan agar disesuaikan dengan kemampuan, waktu, sumberdaya yang tersedia di masyarakat. d) Tumbuhkan rasa percaya diri masyarakat bahwa mereka mempunyai kemampuan dalam penanggulagan masyarakat. c. Evaluasi Penilaian dapat dilakukan setelah kegiatan dilaksanakan yangdilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dalam penilaian dapatdilakukan dengan : 1) Penilaian selama kegiatan berlangsung • Disebut juga penilaian formatif = monitoring • Dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan kegiatan yang telah dijalankan apakah telah sesuai dengan perencanaan penanggulangan masalah yang telah disusun. 2) Penilaian setelah program selesai dilaksanakan • Disebut juga penilaian sumatif = penilaian akhir program • Dilakukan setelah melalui jangka waktu tertentu dari kegiatan yang dilakukan. • Dapat diketahui apakah tujuan atau target dalam pelayanan kesehatan telah tercapai atau belum • Perluasan Perluasan merupakan pengembangan dari kegiatan yang dilakukan dan dapat dilaksanakan dalam 2 cara : a. Perluasan kuantitatif
68 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Perluasan dengan menambah jumlah kegiatan yang dilakukan, baik pada wilayah setempat maupun pada wilayah lainnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. b. Perluasan kualitatif Perluasan dengan meningkatkan mutu atau kualitas kegiatan yang telah dilaksanakan sehingga dapat meningkatkan kepuasan dari masyarakat yang dilayani BAB IX PENGGERAKAN DAN PELAKSANAAN A. Pengertian Penggerakan Didalam bahasa Inggris, ada lima istilah yang artinya hampir sama tetapi maknanya berbeda untuk pengeritan “menggerakan orang lain”, seperti dijelaskan berikut ini. (Husein Umar, 2000 : 77) 1. Directing, yakni menggerakan orang lain dengan memberikan berbagai pengarahan, 2. Actuiting, yakni menggerakan orang lain dalam artian umum, 3. Leading, yakni menggerakan orang lain dengan cara menempatkan diri dimuka orang-orang yang digerakan, membawa mereka ke suatu tujuan tertentu serta memberikan contoh-contoh, 4. Commanding, yakni menggerakan orang lain disertai unsur paksaan, 5. Motivating, yakni menggerakan orang lain dengan terlebih dahulu memberikan alasan-alasan mengapa hal itu harus dikerjakan. Dari lima pengertian pengarahan diatas, maka dapat dikatakan bahwa pengarahan merupakan aspek hubungan manusiawi dalam kepemimpinan yang
69 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efektif serta efisien untuk mencapai tujuan. Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia, juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Manusia dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda, memiliki pandangan serta pola hidup yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada tiga prinsip, yaitu : 1) Prinsip Mengarah Kepada Tujuan, 2) Prinsip Keharmonisan Dengan Tujuan, dan 3) Prinsip Kesatuan Komando. Selain tiga prinsip diatas, hal yang tidak kalah pentingnya adalah ketika dalam menggerakan orang-orang dalam suatu organisasi, perlu diingat prinsipprinsip lain sebagai berikut : a) efisien, b) komunikasi, c) jawaban terhadap pertanyaan 5W+1H, dan d) penghargaan/insentif. Jadi, pengarahan atau directing adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuatu dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Demikian pula actuating, yaitu menggerakan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership). Namun demikian, untuk menggerakan orang-orang agar mau bekerja bukanlah perkara yang mudah. Manajer harus memiliki kemampuan dan seni untuk menggerakan mereka. Kemampuan dan seni inilah yang disebut kepemimpinan (leadership). B. Tujuan dan Fungsi Penggerakan
70 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Fungsi penggerakan dalam suatu organisasi adalah usaha atau tindakan dari pimpinan dalam rangka menimbulkan kemauam dan membuat bawahan tahu pekerjaannya sehingga dengan sadar menjalankan tugasnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Tindakan penggerakan ini oleh para ahli adakalanya diperinci lebih lanjut ke dalam tiga tahap tindakan sebagai berikut : 1) Memberikan semangat, motivasi, inspirasi atau dorongan sehingga timbul kesadaran dan kemauan para petugas untuk bekerja dengan baik. Tindakan ini juga disebut motivating. 2) Pemberian bimbingan lewat contoh-contoh tindakan atau teladan. Tindakan ini juga disebut leading, yang meliputi beberapa tindakan seperti : pengambilan keputusan, mengadakan komunikasi agar ada bahasa yang sama antara pimpinan dan bawahan, memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompok, dan memperbaiki sikap, pengetahuan, dan keterampilan bawahan. 3) Pengarahan (directing atau commanding) yang dilakukan dengan memberikan petunjuk-petunjuk yang benar, jelas dan tegas. Segala saransaran dan perintah atau instruksi kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas harus diberikan dengan jelas dan tegas agar terlaksana dengan baik terarah kepada tujuan yang telah ditetapkan. Adapun fungsi pokok penggerakan didalam manajemen adalah sebagai berikut: Mempengaruhi orang-orang supaya bersedia menjadi pengikut. Menaklukkan daya tolak orang-orang Membuat seseorang atau orang-orang suka mengerjakan tugas dengan lebih baik. Mendapatkan, memelihara dan memupuk kesetiaan pada pimpinan, tugas dan organisasi tempat mereka bekerja.
71 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Menanamkan, memelihara dan memupuk rasa tanggung jawab seorang atau orang-orang terhadap Tuhan-nya, negara dan masyarakat. Jadi, pengarahan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting. Sebab masing-masing orang yang bekerja didalam suatu organisasi mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Supaya kepentingan yang berbeda-beda tersebut tidak saling bertabrakan satu sama lain, maka pimpinan perusahaan harus dapat mengarahkannya untuk mencapai tujuan perusahaan. Seorang karyawan dapat mempunyai prestasi kerja yang baik, apabila mempunyai motivasi. Makadari itu, tugas pimpinan perusahaan adalah memotivasi karyawannya agar mereka menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Supaya manajer atau pimpinan perusahaan dapat memberikan pengaraha yang baik, pertama-tama ia harus mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan dan harus pandai mengadakan komunikasi secara vertical. Karena itu, pengarahan harus dilihat dari segi proses dan implementasinya. Dimana proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi. Kegiatan dalam fungsi pengarahan dan implementasi mengandung tiga fungsi utama, yaitu : Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan. Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan. Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan. Jadi fungsi penggerakan merupakan bagian dari proses kelompok atau organisasi yang tak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan
72 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM ke dalam fungsi penggerakan ini adalah directing, commanding, leading, dan coordinating, yang dalam bahasaArabnya disebut “tahai’atul afrad, directing, staffing “at-taujih”, “isdaarul awamir, commanding dan ‘at-tansieq, coordinating”. C. Macam-Macam Penggerakan Pada umumnya, pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan maksud agar mereka bersedia untuk bekerja sebaik mungkin, dan diharapkan tindak menyimpang dari prinsip-prinsip dimuka. Adapun macam-macam pengarahan yang dilakukan dapat berupa : 1. Orientasi Orientasi merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu agar supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik. Pada umumnya, orientasi ini diberikan kepada pegawai baru dengan tujuan untuk mengadakan pengenalan dan memberikan pengertian tentang berbagai masalah yang dihadapinya. Pegawai lama yang pernah menjalani orientasi tidak selalu ingat atau paham tentang masalah-masalah yang pernah dihadapinya. Dengan demikian, orientasi ini perlu juga diberikan kepada pegawai-pegawai lama agar mereka tetap memahami akan peranannya. 2. Perintah Perintah merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang yang berada dibawahnya untuk melakukan atau mengulang suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu. Jadi, perintah itu berasal dari atasan, dan ditunjukan kepada para bawahan; atau dapat dikatakan bahwa aus perintah ini mengalir dari atas ke bawah. Perintah tidak dapat diberikan kepada orang lain yang memiliki kedudukan sejajar atau orang lain yang berada dibagian lain. 3. Delegasi Wewenang
73 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Pendelegasian wewenang bersifat lebih umum jika dibandingkan dengan pemberian perintah. Dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan melimpahkan sebagian dari wewenang yang dimilikinya kepada bawahan. Kaitannya dengan macam-macam penggerakan yang merupakan proses penggerakan adala memberikan perintah, petunjuk, pedoman dan nasehat serta keterampilan dalam berkomunikasi. Penggerakan merupakan inti daripada manajemen yaitu menggerakan untuk mencapai hasil, sedang inti dari penggerakan adalah leading, harus menentukan prinsip-prinsip efisiensi, komunikasi yang baik dan prinsip menjawab pertanyaan : Who (siapa) Why (mengapa) How (bagaimana) What (apa) When (kapan) Where (dimana) Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi motivator pendorong untuk bergerak dan mampu menggerakan suatu organisasi. D. Teori – Teori Motivasi Penggerakan Kemampuan seorang manajer untuk memotivasi dan mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi akan menentukan efektifitas manajer. Dan ini bukan satu-satunya factor yang mempengaruhi tingkat prestasi seseorang. Manajer yang dapat melihat motivasi sebagai suatu system akan mampu meramalkan perilaku dari bawahannya. Pengertian dan pandangan motivasi dalam organisasi motivasi seperti yang telah disebutkan diatas, akan mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi dengan bawahannya, yang selanjutnya akan menentukan efektifitas manajer. Ada dua factor yang mempengaruhi tingkat prestasi seseorang, yaitu kemampuan individu dan pemahaman tentang perilaku untuk
74 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM mencapai prestasi yang maksimal disebut prestasi peranan. Dimana antara motivasi, kemampuan dan presepsi peranan merupakan satu kesatuan yang saling berinteraksi. Model Tradisional Tidak lepas dari teori manajemen ilmiah yang dikemukakan oleh Frederic Winslow Taylor. Model ini mengisyaratkan bagaimana manajer menentukan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan dengan system pengupahan intensif untuk memacu para pekerja agar memberikan produktivitas yang tinggi. Model Hubungan Manusiawi Elton Mayo dan para peneliti hubungan manusiawi lainnya menetukan bahwa kontrak-kontrak sosial karyawan pada pekerjaannya adalah penting, kebosanan dan tugas yang rutin merupakan pengurang dari motivasi. Untuk itu para karyawan perlu dimotivasi melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial dan membuat mereka berguna dan penting dalam organisasi. Model Sumber Daya Manusia McGregor Maslow. Argyris dan Lkert mengkritik model hubungan manusiawi bahwa seorang bawahan tidak hanya dimotivasi dengan memberikan uang atau keinginan untuk mencapai kepuasan, tapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti dalam arti lebih menyukai pemenuhan kepuasan dari suatu prestasi kerja yang baik, diberi tanggungjawab yang lebih besar untuk pembuatan keputusan dan pelaksanaan tugas. Teori-Teori Motivasi Untuk dapat memahami tentang motivasi dalam manajemen ini, akan dikemukakan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan
75 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Berprestasi); (3) Teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) Teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) Teori Keadilan; (6) Teori Penetapan Tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan); (8) Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (Dikutip dari berbagai sumber Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono, 183-190, Fred Luthan, 140-167) Dari berbagai teori motivasi sebagaimana tersebut diatas, maka secara sederhana dapat dikelompokan menjadi 3(tiga) tema besar, yaitu Teori Kepuasan (Content Theory), Teori Proses (Process Theory), dan Teori Perilaku (Reinforcement Theory). a. Teori Motivasi Kepuasan Teori ini berdasarkan pada factor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang membuat mereka melakukan aktivitasnya, jadi mengacu kepada diri seseorang. Teori ini mencoba mencari tahu kebutuhan apa yang dapat memuaskkan dan mendorong semangat kerja seseorang. Semakin tinggi standar kebutuhan dan kepuasan yang diinginkan, akan semakin giat pula seseorang bekerja. Teori ini menekankan arti pentingnya pemahaman factor-faktor yang ada didalam individu yang menyebabkan mereka bertingkah laku tertentu. Kebutuhan tertentu yang mereka rasakan akan menetukan tindakan yang mereka lakukan, yaitu para individu akan bertindak untuk memuaskan kebutuhan mereka. Termasuk dalam teori kepuasan ini ada 4 (empat) teori penting yang perlu diperhatikan, yaitu : 1) Teori Motivasi Taylor Menurut teori ini, motivasi bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan biologis, yaitu mempertahankan kelangsungan hidup saja.
76 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM 2) Teori Kebutuhan Berprestasi dari McClelland (McClelland’s Achievement Motivation Theory). Teori McClelland atau biasa disebut sebagai Teori Kebutuhan Berprestasi dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Achievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi (2001: 69-93), merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan. Hal ini dikatakan : “Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atai mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuatu kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai perfprma puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.” Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga cirri umum, yaitu : (1) sebuah prefensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upayaupaya mereka sendiri, dan bukan karena factor-faktor lain seperti kemujuran; (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka. McClelland dalam teorinya menyatakan bahwa banyak kebutuhan diperoleh dari kebudayaan. Terdapat 3 kebutuhan dari teori ini, yaitu : 1) Kebutuhan akan prestasi (need for achievement, n-ach)
77 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM 2) Kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation, n-aff) 3) Kebutuhan akan kekuasaan (need for power, n-pow) Menurut Achievement Motivation Theory, seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi dalam melakukan suatu aktivitas apabila kativitas tersebut menuntut tantangan intelektual dengan tingkat kesukaran yang dapat diatasi melalui usaha keras. Demikian juga halnya motivasi mahasiswa dalam meningkatkan aktivitas belajarnya. Apabila mahasiswa mempersepsikan bahwa ia tidak memiliki kemapuan untuk belajar dengan baik, maka hal ini menjadi factor penghambat bagi dirinya untuk termotivasi. Menurut Exectancy Theory of Motivation, seseorang akan termotivasi perilakunya apabila ia mempunyai keyakian bahwa ia akan mampu melakukan tugas dan keberhasilannya menyelesaikan tugas tersebut memberikan suatu yang bermakna bagi dirinya. Karena itu, menurut Edwards dan Atkinson, maka seorang mahasiswa akan terdorong meningkatkan belajarnya apabila ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu melaksanakan kegaitan pembelajaran dnegan baik, dan ia melihat bahwa keberhasilan dalam prestasi akademiknya memberikan arti atau makna penting bagi dirinya, entah itu makna yang berkaitan dengan materi, sosial, maupun psikologis. Dari teori ini dapat disimpulakn bahwa apabila kebutuhan seseorang sangat mendesak, maka kebutuhan itu akan memotivasi seseorang untuk berusaha keras memenuhinya. 3) Teori Dua Faktor dari Herzberg (Herzberg Two-Factor Theory) Dua factor ini dinamakan factor yang membuat orang tidak puas dan factor yang membuat orang merasa puas (dissatifiers-satisfiers) atau factor yangmembuat orang merasa sehat dan factor yang memotivasi
78 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM orang (hygiene-motivation) atau ekstrinsik dan intrinsic (extrinsicintrinsic). Teori ini diuji dengan melibatkan sekelompok orang yang terdiri dari 200 orang akuntan dan ahli mesin. b. Teori Motivasi Proses Teori ini adalah merupakan teori yang digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana menguatkan (energize) mengarahkan (direct), memelihara (maintain) dan mengentikan (stop) perilaku individu. Dalam teori proses ini terdapat 4 teori penting, yaitu : 1) Teori Harapan (Expectancy Theory) Teori harapan dipelopori oleh Victor H. Vroom, dalam bukuny yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseoeang menginginkan sesuatau dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Dikalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para
79 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya. 2) Teori Keadilan Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu : Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu : 1. Harapannya tentang jumlah imnalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaaan dan pengalamannya; 2. Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannya relative sama dengan yang bersangkutan sendiri; 3. Imbalan yang diterima oleh pegawai lain diorganisasi lain dikawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis; 4. Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai.
80 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas dibagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidak adilan timbul apalagi meluas dikalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negative bagi organisasi, seperti ketidak puasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi yang lain. c. Teori Perilaku (reinforcement theory) Teori perilaku biasa disebut dengan nama Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG”). Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG”. Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain), dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan) Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hirarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “Relatedness” senada dengan hirarki, kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasanny secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
81 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM 1. Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya; 2. Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan; 3. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar. Tampaknya pandangan ini, hemat penulis, didasarkan kepada sifat pragmatism oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya. Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan system motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakatan dikalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu. Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengauhi oleh berbagai factor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada factor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan. Sedangkan factor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e)_ system imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
82 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM BAB X MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM KESEHATAN A. Pengertian, Tujuan, dan Jenis Evaluasi Bidang Kesehatan Menurut American Public Health Association (Azwar, 1996) evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai atau besarnya sukses dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Proses ini mencakup langkahlangkah memformulasikan tujuan, mengidentifikasi kriteria secara tepat yang akan dipakai mengukur sukses, menentukan besarnya sukses dan rekomendasi
83 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM untuk kegiatan program selanjutnya.Evaluasi adalah suatu proses yang menghasilkan informasi tentang sejauh mana suatu kegiatan tertentu telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan standar tertentu untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara keduanya dan bagaimana manfaat yang telah dikerjakan dibandingkan dengan harapan-harapan yang ingin diperoleh. Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan cara membandingkan hasil yang telah dicapai dengan rencana yang telah ditentukan. Evaluasi merupakan alat penting untuk membantu pengambilan keputusan sejak tingkat perumusan kebijakan maupun pada tingkat pelaksanaan program (Wijono, 1999). Evaluasi juga merupakan serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh informasi tentang keberhasi lan pencapaian tuj uan, kegiatan, hasil dan dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan yang sistematis dari dampak program. Dengan demikian evaluasi merupakan suatu usaha untuk mengukur suatu pencapaian tujuan atau keadaan tertentu dengan membandingkan dengan standar nilai yang sudah ditentukan sebelumnya. Juga merupakan suatu usaha untuk mencari kesenjangan antara yang ditetapkan dengan kenyataan hasil pelaksanaan. Menurut Wijono (1997), evaluasi adalah prosedur secara menyeluruh yang dilakukan dengan menilai masukan, proses dan indikator keluaran untuk menentukan keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Sementara menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata evaluasi berarti penilaian hasil. Evaluasi juga merupakan upaya untuk mendokumentasikan dan melakukan penilaian tentang apa yang terjadi dan juga mengapa hal itu terjadi atau dengan kata lain evaluasi adalah upaya untuk mengetahui apakah ada hubungan antara program yang dilaksanakan dengan hasil yang dicapai. Lebih
84 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM jauh dikatakan bahwa evaluasi yang sederhana adalah mengumpulkan informasi tentang keadaan sebelum dan sesudah pelaksanaan suatu program. Menurut WHO (1990) pengertian evaluasi adalah suatu cara sistematis untuk mempelajari berdasarkan pengalaman dan mempergunakan pelajaran yang dipelajari untuk memperbaiki kegiatan-¬kegiatan yang sedang berjalan serta men ingkatkan perencanaan yang lebih baik dengan seleksi yang seksama untuk kegiatan masa datang. Pengertian lain menyebutkan, bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang memungkinkan administrator mengetahui hasil programnya dan berdasarkan itu mengadakan penyesuaian-penyesuaian untuk mencapai tujuan secara efektif. Jadi evaluasi tidak sekedar menentukan keberhasilan atau kegagalan, tetapi juga mengetahui mengapa keberhasilan atau kegagalan itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan terhadap hasil-hasil tersebut. B. Jenis-Jenis Evaluasi Evaluasi terdiri atas dua macam, yaitu Evaluasi formative dan Evaluasi summative : 1. Evaluasi formative, adalah evaluasi yang dilakukan pada tahap pelaksanaan program dengan tujuan untuk mengubah atau memperbaki program. Evaluasi ini dilakukan untuk memperbaiki program yang sedang berjalan dan didasarkan atas kegiatan sehari-hari, minggu, bulan bahkan tahun, atau waktu yang relatif pendek . Manfaat evaluasi formative terutama untuk memberikan umpan balik kepada manajer program tentang hasil yang dicapai beserta hambatan-hambatan yang dihadapi. Evaluasi formative sering disebut sebagai evaluasi proses atau monitoring. 2. Evaluasi summative, adalah evaluasi yang dilakukan untuk melihat hasil keseluruhan dari suatu program yang telah selesai dilaksanakan. Evaluasi ini
85 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM dilakukan pada akhir kegiatan atau beberapa kurun waktu setelah program, guna menilai keberhasilan program. Sedangkan menurut Azwar (1996), jenis evaluasi antara lain : 1. Evaluasi formatif (Formative Evaluation) yaitu suatu bentuk evaluasi yang yang dilaksanakan pada tahap pengembangan program dan sebelum program dimulai. Evaluasi formatif ini menghasilkan informasi yang akan dipergunakan untuk mengembangkan program, agar program bisa lebih sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran. 2. Evaluasi proses (Process Evaluation) adalah suatu proses yang memberikan gambaran tentang apa yang sedang berlangsung dalam suatu program dan memastikan ada dan terjangkaunya elemen¬elemen fisik dan struktural dari pada program. 3. Evaluasi sumatif (Summative Evaluation) adalah suatu evaluasi yang memberikan pernyataan efektifitas suatu program selama kurun waktu tertentu dan evaluasi ini menilai sesudah program tersebut berjalan. 4. Evaluasi dampak program adalah suatu evaluasi yang menilai keseluruhan efektifitas program dalam menghasilkan target sasaran. 5. Evaluasi hasil adalah suatu evaluasi yang menilai perubahan-perubahan atau perbaikan dalam hal morbiditas, mortalitas atau indikator status kesehatan lainnya untuk sekelompok penduduk tertentu. Terkait dengan kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan dapat dinilai dari informasi tentang penggunaan pengaruh (evaluasi hasil), tentang penampilan kegiatan¬kegiatan (evaluasi proses) atau tentang fasilitasfasilitas dan penataan-penataan (evaluasi struktur). Evaluasi harus dipandang sebagai suatu cara untuk perbaikan pembuatan keputusan untuk tindakantindakan di masa yang akan datang. C. Tujuan Evaluasi Menurut Supriyanto (1988) tujuan evaluasi adalah :
86 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM 1. Memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan kembali suatu program. Sehubungan dengan ini perlu adanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain memeriksa kembali kesesuaian dari program dalam hal perubahan-perubahan kecil yang terus-menerus, mengukur kemajuan terhadap target yang direncanakan, menentukan sebab dan faktor di dalam maupun di luar yang mempengaruhi pelaksanaan suatu program. 2. Sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan perencanaan dan pelaksanaan program yang akan datang. Hasil evaluasi akan memberikan pengalaman mengenai hambatan dari pelaksanaan program yang lalu dan selanjutnya dapat dipergunakan untuk memperbaiki kebijaksanaan dan pelaksanaan program yang akan datang. 3. Sebagai alat untuk memperbaiki alokasi sumber dana dan sumber daya manajemen saat ini serta di masa mendatang. Sedangkan tujuan dari evaluasi program kesehatan adalah untuk memperbaiki program-program kesehatan dan pelayanannya untuk mengantarkan dan mengarahkan alokasi tenaga dan dana untuk program dan pelayanan yang sedang berjalan dan yang akan datang. Evaluasi harus digunakan secara konstruktif dan bukan untuk membenarkan tindakan yang telah lalu atau sekedar mencari kekurangan-kekurangan saja.Terdapat berbagai kesulitan dalam melaksanakan evaluasi kesehatan, antara lain bahwa kebutuhan akan pelayanan kesehatan melebihi dari yang diterapkan. Pendekatan sistematis dalam evaluasi dapat dilakukan untuk menilai suatu program kesehatan. Penilaian secara menyeluruh terhadap program kesehatan dapat dilakukan dengan menilai input, proses dan output. Pendekatan sistem pada manajemen memandang organisasi sebagai suatu kesatuan, yang terdiri dari bagian¬bagian (sumber daya, masukan, proses, keluaran, umpan balik, dampak dan lingkungan).Dalam prakteknya, terdapat berbagai kendala dalam pelaksanan evaluasi, Dalam melakukan evaluasi suatu perencanaan program dan
87 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM implementasinya, terdapat beberapa kendala, antara lain: (a) Kendala psikologis, yaitu evaluasi dapat menjadi ancaman dan orang melihat bahwa evaluasi itu merupakan sarana untuk mengkritik orang lain; (b) Kendala ekonomis, yaitu untuk melaksanakan evaluasi yang baik itu mahal dalam segi waktu dan uang, serta tidak selalu sepadan antara ketersedian data dan biaya; (c) Kendala teknis, yaitu kendala yang berupa keterbatasan kemampuan sumberdaya manusia dalam pengolahan data dan informasi yang tidak dapat disediakan tepat pada waktu dibutuhkan. Kejadian ini biasanya timbul ketika informasi dan data itu belum dibutuhkan, maka biasanya hanya akan ditumpuk begitu saja tanpa diolah; (d) Kendala politis, yaitu hasil-hasil evaluasi mungkin bukan dirasakan sebagai ancaman oleh para administrator saja, melainkan secara politis juga memalukan jika diungkapkan. Berbicara tentang evaluasi sering juga dikaitkan dengan supervisi. Supervisi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan meliputi pemantauan, pembinaan dan pemecahan masalah serta tindak lanjut. Kegiatan ini sangat berguna untuk melihat bagaimana program atau kegiatan dilaksanakan sesuai dengan standar dalam rangka menjamin tercapaianya tujuan program. Supervisi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan meliputi pemantauan, pembinaan dan pemecahan masalah serta tindak lanjut. Kegiatan ini sangat berguna untuk melihat bagaimana program atau kegiatan dilaksanakan sesuai dengan standar dalam rangka menjamin tercapainya tujuan program. Tujuan diadakannya supervisi adalah untuk meningkatkan cakupan secara merata dan berkesinambungan serta kualitas pelaksanaan program imunisasi. Sasaran supervisi adalah seluruh petugas yang terlibat dengan program imunisasi disesuaikan dengan jenjang supervisi.
88 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Evaluasi dari sisi manfaat, mempunyai beberapa manfaat antara lain : 1) menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang berjalan. 2) meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan memperbaikinya. 3) mengukur kegunaan program-program yang inovatif. 4) meningkatkan efektifitas program, manajeman dan administrasi. 5) kesesuaian tuntutan tanggung jawa. Program dapat dievaluasi dengan berbagai cara, di antaranya melakukan observasi terhadap program secara terus-menerus dalam upaya melakukan interprestasi terhadap informasi yang didapat dan sangat berguna bagi umpan balik program serta relevansi dan efisiensi program. Pada prinsipnya evaluasi program akan memberikan dampak yang lebih baik bagi kelangsungan program sesuai prinsip manajemen yaitu: Perencanaan: Perencanaan merupakan salah satu fungsi fundamental dari manajemen yang sangat menentukan, karena didalamnya termuat apa yang ingin dicapai oleh suatu organisasi serta langkah-langkah apa yang akan perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ada empat tahap kegiatan perencanaan yaitu: menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan, merumuskan keadaan saat ini, mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, mengembangkan rencana untuk mencapai tujuan. Pengorganisasian: Pengorganisasian merupakan suatu proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi dan tersedianya sumber daya seperti tenaga, keuangan, prasarana dan sarana dalam organisasi. Pelaksanaan: Manajemen adalah pelaksanaan atau penggerakan (actuating) yang dilakukan setelah organisasi memiliki perencanaan dan melakukan pengorganisasian dengan memiliki struktur organisasi termasuk tersedianya personil sebagai pelaksana sesuai dengan kebutuhan unit atau satuan kerja.
89 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Pengarahan dan bimbingan: Pengarahan dan bimbingan adalah kegiatan menciptakan, memelihara, menjaga atau mempertahankan dan memajukan organisasi melalui setiap personil, baik secara struktural maupun fungsional agar langkah-langkah operasionalnya tidak keluar dari usaha mencapai tujuan organisasi. Pembinaan atau supervisi: Pembinaan adalah suatu upaya pengarahan dengan memberikan petunjuk serta saran, setelah menemukan alasan dan keluhan pelaksanaan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pembinaan dan supervisi mempunyai tujuan untuk memotivasi petugas dan mengendalikan susuatu kegiatan agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. DAFTAR PUSTAKA Aniroen S. Manajemen pelayanan medik rumah sakit. Seminar IRSYAM. Jakarta, 15 September 1984. Husin H. Menuju profesionalisme keperawatan di Indonesia. Pelatihan Pendayagunaan Laboratorium Kependidikan di Institusi Pendidikan bagi Guru SPK dan AKPER. Bandung, Agustus 1992.
90 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Jacobalis S. Menjaga matu pelayanan rumah sakit. PERSI. Jakarta, 1989. Kozier B & Lea G. Fundamental of Nursing; Concepts and Procedures. California. Addison Wesley. Pub. Comp. 1983. Mentri Kesehatan. Surat Keputusan No. 134/SK/IV/1978. Jakarta, 1985. Stevens, Warren F. Management and leadership in nursing. New York: McGrawHill Inc, 1978. Taurany HM. Administrasi Rumah Sakit. Editor. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. 1990. Putra, Teddy Minahasa. 2019. Pelayanan Publik dan Ketahanan Nasional. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia Dwiyanto, Agus. 2006. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Yogyakarta: UGM Press Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Azwar, Azrul.1994. Pengantar Administrasi Kesehatan. Tangerang : Binarupa Aksara. Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta : Binarupa Aksara Henry M et al. Strategy safari, a guided tour through the. wilds of strategic management. New York, London, The Free Press. 1998. Azwar, A. (1996). Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta. W.H.O. (1990). Evaluasi Program Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Depkes RI. Wijono D., (1997)., Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan., UNAIR., Surabaya. Supriyanto, S. (1988). Evaluasi Bidang Kesehatan, Brata Jaya, Surabaya. BIODATA PENULIS
91 Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes Erlina HB, SKM.,M.Kes Usti Syah Putri, SKM.,M.KM Muh Yunus, S.Sos.,M.Kes, Lahir di Rannaloe, 02 Juni 1976. Nama Kedua orang tua Bapak Pele (almarhum) nama ibu Dg, Te’ne ( Almarhumah) saya anak ketiga dari 5 orang bersaudara. RIWAYAT PENDIDIKAN 1. Madrasyah Ibtidaiyah Rannaloe Tahun 1990 2. Madrasyah Tsanawiyah Pattalassang Kab. Takalar Tahun 1993 3. Madrasayah Aliyah Negeri Makassar (MAN1) 1997 4. S1. Sarjana Ilmu Administrasi Negara Univ. PEPABRI Makassar Tahun 2004 5. S2 Magister STIK Tamalatea Makassar Tahun 2010 RIWAYAT PEKERJAAN 1. 2008-2011 : Kepala BAAK Universitas Pepabri Makassar 2. 2010-Sekarang : Direktur Utama Penerbit CV. Cahaya Bintang Cemerlang 3. 2014-2018 : Ketua LPPM Universitas Mega Rezky Makassar 4. 2018-2020 : Staf Teknik Gigi. 5. 2020-2022 : Staf Pasca Sarjana S2 STIE AMKOP 6. 2023-Sekarang : Ketua LPPM ITEKES Tri Tunas Nasional RIWAYAT ORGANISASI 1. 1991-1995 : Ketua Kwartir Cabang Binamu Kab. Jeneponto 2. 1995-1997 : Ketua Kwartir Cabang Tamalatea Kab. Jeneponto 3. 1997-2004 : Ketua PGRI Kec. Tamalatea Kab. Jeneponto. 4. 2004-2009 : Kepala PGRI Kec. Bangkala Barat Kab. Jeneponto. 5. 2009-2014 : Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Jeneponto.