The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aisahnurul011, 2022-01-27 23:17:41

E-BOOK PERIODISASI SASTRA

E-BOOK PERIODISASI SASTRA

1

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ....................................................................................................2
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................3

A. Latar Belakang ......................................................................................3
B. Kompetensi Dasar .................................................................................3
C. Tujuan Pembelajaran .............................................................................3
D. Tujuan Penggunaan Modul ....................................................................4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................4
A. Genre Sasra ...........................................................................................5
B. Karya Sastra Menurut Genre Sastra .......................................................5
C. Periode Sastra Indonesia .......................................................................8
D. Sastra Balai Pustaka ............................................................................13
E. Nilai-nilai dan Manfaat Karya Sastra ..................................................15
BAB IlI. Penutup............................................................................................18
A. Kesimpulan .........................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................19

2

BAB I
PENDAHULUAN

MATERI GENRE SASTRA BERDASARKAN PERIODESASI
A. LATAR BELAKANG
SASTRA INDONESIA

Pengembangan zaman atau pembabakan waktu atau periodesasi sastra Indonesia
modern sampai saat ini memang masih menjadi bahan perdebatan. Kata “sastra” sering
dipakai dalam berbagai konteks yang beda. Hal itu mengisyaratakan bahwa satra bukanlah
suatu istilah yang dapat digunakan untuk menyebut fenomena yang sederhana melainkan
sastra merupakan istilah yang mempunyai arti luas dan meliputi kegiatan yang berbeda-
beda (Rahmanto, 1988:10). Sebagai karya seni bermediumkan, sastra beisi ekpresi pikiran
spontan dari perasaan mendalam penciptanya. Ekpresi tersebut berisi ide, pandangan,
perasaan, dan semua kegiatan manuasia yang diungkapkan dalam bentuk keindahan.

B. KOMPETENSI DASAR

Modul ini dibuat khusus untuk siswa-siswi kelas XI mata pelajaran bahasa
Indonesia peminatan dengan kompetensi dasar 3.5 dan 4.5 Mengidentifikasi berbagai genre
sastra berdasarkan periodisasi sastra Indonesia dari berbagai sumber. Menyajikan hasil
identifikasi berbagai genre sastra berdasarkan periodisasi sastra Indonesia secara lisan dan
tertulis.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan pembelajaran pada modul ini khusus untuk pembelajaran SMA Kelas XI

peminatan bahasa yaitu:

1. Peserta didik diharapkan setelah membaca dapat mengidentifikasi berbagai genre
sastra berdasarkan periodisasi sastra Indonesia

2. Peserta didik diharapkan dapat mengidentifikasi karya sastra menurut genre.
3. Peserta didik diharapkan dapat menjelaskan sastra balai pustaka
4. Peserta didik diharapkan dapat memahami periodesasi satra Indonesia dari buku

lintas sastra Indonesia modern.
5. Peserta didik diharapkan dapat memaparkan manfaat karya sastra setalah

membaca teks.
6. Peserta didik diharapkan dapat menyajikan nilai-nilai karya sastra

3

D. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Berikut beberapa hal yang peru diperhatikan dalam penggunaan modul ini.
1. Pastikan kalian mengerti mengenai target kompetensi yang akan dicapai
2. Peserta didik diberi materi dengan Periodesasi Sastra di Indonesia
3. Mulai dengan membaca materi dan memahami
4. Secara berkelompok dan individu mengumplkan untuk menabah bahan referensi

mengenai periodesasi sastra Indonesia
5. Peserta didik mengerjakan latihan soal

4

BAB II

MATERI GENRE SASTRA BERDASARKAN PERIODESASI
SASTRA INDONESIA

A. Genre Sastra

Istilah genrMe AbTerEaRsaI lGdEaNriRbEaShSaAsASaSTPRTeRArAaBnIEcNRiDsDOyAaNSnEAgSRmIAKeAmNiPliEkiRaIOrtDi “EjSeAniSsI”. Jadi genre sastra
berMarAtiTEjeRnIisGEkNarRyEa SsAaSstTraR.AABhElRi DpAikSiAr RyKaAnNg pertama meletakkan dasar teori genre adalah
AristoPteEleRsI,OdDaElSamASItuSlAisSaTnRyAaIiNtuDOPNoiEtiScIaAm. Teori Aristoteles tentang jenis karya sastra di
dasarkan pada karya sastra Yunani klasik. Aristotles berpendapat bahwa karya sastra
berdasakan ragam perwujudannya terdiri atas tiga jenis, yaitu :

1. Drama adalah karya sastra yang di dominasi oleh percakapan para tokoh. Kriteria
drama yang membedakan dengan dua jenis karya sastra lainnya adalah hubungan
manusia dengan dunia ruang dan waktu. Drama bersifat objektif karena sama sekali
tidak mengemukakan dunia oengaranganya, tanpa deskripsi diluar cakapan. Dalam
drama waktu diaktualisasikan seolah-seolah nyata terjadi.

2. Epic adalah teks yang berisi sebagian deskripsi (paparan kisah), dan sebagian lainnya
berisi ujiaran tokoh (cakapan). Epic berisi prosa, epic campuran antara subjektif dan
objektif karena hanya dalam karya sastra epic waktu mengalir secara kronologis atau
flashback.

3. Lirik adalah ungkapan ide atau perasaan pengarang. Dalam hal ini yang berbicara
adalah penyair. Lirik sering dikenal sebagai puisi atau sejak, yakni karya satra yang
berisi curahan perasaan pribadi yang mengutamakan cara mengekspresinya.lirik
bersifat subjektif karena hanya mengemukakan dunia penyair. Dalam lirik waktu
seolah-olah beku, karena sesungguhnya lirik tidak dapat terikat oleh waktu.

Penelitian tentang genre sastra terus berkembang dari waktu ke waktu dan sering kali
tidak memuaskan karena pengertian-pengertian yang dirumuskan selalu bergeser dan
mengalami perubahan. Hal ini disebabkan oleh selalu adanya perubahan-perubahan konsep
tentang karya sastra. Meskipun konsep-konsep tentang karya sastra selalu berubah, tetapi
objek studi sastra dapat dikatakan tetap sama yaiitu prosa, drama, dan puisi.

B. Karya Sastra Menurut Genre Sastra

MATERI GKEaNryRaE sSaAsStrTaRmA eBrEuRpaDkAaSnARwKuAjuNd nyata dari karya sastra. Menurut genre atau
jenisnyPaE,RkIaOrDyaESsaAsStIraSAdSapTaRtAdiINbeDdOaNkaEnSImAenjadi puisi, prosa, dan drama. Pembagian tersebut
semata-mata didasarkan atas perbedaan bentuk fisiknya, bukan substansi karya sastra
tersebut. Subtansi karya sastra apapun bentuknya tetap sama, yakni pengalaman kemanusiaan

5

dalam segala wujud dan dimensinya. Pengenalan terhadap ciri-ciri bentuk sastra ini
memudahkan proses pemahaman terhadap maknanya. Demikian pula komponen-komponen
yang turut membangun karya sastra tersebut.

1. Puisi
Puisi cenderung ke dalam tulisan singkat, namun memiliki makna yang sangat

mendalam. Puisi merupakan ragam karya sastra yang berkaitan dengan irama, ritma, rima,
bait, larik, dan ditandai dengan bahasa yang padat. Puisi juga merupakan seni tertulis yang
mana menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya atau keindahannya. Puisi adalah
karya sastra yang khas penggunaan bahasa dan memuat pengalaman yang disusun secara
khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah
diberi makna dan ditafsirkan secara estetik.

Pilihan kata yang digunakan dalam puisi relative lebih padat dibangkan dengan
prosa. Kehadiran kata-kata dan ungkapan dalam puisi diperhitungkan dari segi makna,
citraan, rima, titme, nada, rasa, dan jangkauan simboliknya. Sebagai alat kata-kata dalam
puisi harus diboboti oleh gagasan yang ingin diutarakan oleh penyair. Sebagai sistem tanda,
karya sastra puisi dapat disikapi sebagai salah satu ragam penggunaan bahasa dalam
kegiatan komunikasi. Akan tetapi, bentuk komunikasi dalam sastra juga bersifat khas
dikarenakan hal-hal berikut:

1. Tidak mempunyai bentuk huubngan timbal balik antara penutur dan
penanggapan secara langsung.

2. Pemahaman pesannya telah mengalami otonomisasi karena pemahaman pesa
yang terjadi secara otomatis.

3. Berbeda dengan komunikasi lisan, karena komunikasi lisan, karena komunikasi
sastra tidak lagi terikat oleh konteks hubungan langsung, misalnya tempat,
waktu dan peristiwa.

Puisi dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan bentuknya yaitu puisi terikat dan
puisi bebas:

1. Puisi terikat dapat dikatakan sebagai puisi lama, yaitu puisi yang dicipatakan
oleh masyarakat lama seperti : pantun, mantra, syair, karmina, seloka, dan
gurindam.

2. Puisi baru merupakan puisi bebas atau dikenal sebagai puisi modern. Puisi
modern lahir dalam semangat mencari kebebasan pengucapan pribadi. Puisi
modern dapat dianggap sebagai bentuk pengucapan puisi yang tidak
menginginkan pola-pola estetika yang kaku atau patokan-patokan yang
membelenggu kebebasan jiwa penyair.

2. Prosa
Prosa merupaka jenis karya sastra dengan ciri-ciri bentuknya yang bersifat

penguraian, adanya satu-satuan makna dalam mewujudkan alinea-alinea dan
penggunaan bahasa uang cenderung longgar. Bentuk ini merupakan rangkaian

6

peristiwa imajinatif yang diperankan oleh pelaku-pelaku cerita dengan latar dan
tahap-tahap tertentu yang sering disebut dengan cerita rekaan. Pembagian bentuk
prosa seperti yang dikemukakan oleh H.B. Jassin adalah cerpen, novel, dan roman.
a. Cerpen

Cerpen merupakan cerita pendek. Menurut suroto cerpen adalah suatu karangan
prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan manusia pelaku/ tokoh
dalam cerita tersebut. Ciri-ciri cerpen yaitu:
1. Cerpen memiliki alur tunggal
2. Pelaku terbatas (jumlahnya sedikit)
3. Mencakup peristiwa yang terbatas
4. Kualitas tokoh dalam cerpen jarang dikembangkan secara penuh (karena

serba dibatasi, tokoh dalam cerpen biasanya langsusng ditunjukkan
karakternya)
5. Cerpen biasanya mencakup renta waktu cerita yang pendek pula
b. Novel
Novel menceritakan suatu kisah yang panjang. Novel biasanya menceritakan
sebagaian kehidupan seorang sebagai tokoh utama yang mengandung beberapa
konflik. Konflik tersebutlah merubah kehidupan pelaku utamanya yang
mengandung beberapa konflik. Konflik-konflik tersebutlah yang merubah
kehidupan pelaku utamanya. Novel memiliki durasi cerita yang lebih panjang
dibandingkan dengan cerpen. Novel memiliki peluang yang cukup untuk
mengeksplorasi karakter tokohnya dalam renta waktu yang cukup panjang dan
kronologi cerita yang bervarias. Novel memungkinkan kita untuk menangkap
perkembangan kejiawaan tokoh secara lebih komperhensif dan memungkinkan
adanya penyajian secara panjang lebar mengenai permasalahan manuasia. Oleh
karena itu permasalahan tema yang diangkat dalam novel uumnya jauh lebih
kompleks dan rumit dibandingkan dengan cerpen.
c. Roman
Kata roman berasal dari bahasa Perancis roman pada abad ke-12, serta di
ungkapkan bahasa lain lingua romana, yang dimaksudkan untuk semua karya
satra dari golongan biasa. Roman adalah suatu jenis karya sastra yang
merupakan bagian dari cerita (prosa) panjang. Dalam perkembangannya roman
menjadi suatu karya yang sangat digemari.
Dalam perkembangannya roman disamakan dengan novel, padahal berbeda.
Roman merupakan cerita yang digambarkan secara panjang lebar dan
menceritakan tokoh0tokoh atau peristiwa-peristiwafiktif, sedangkan novel
adalah sebuah cerita yang menceritaan peristiwa-peristiwa lebih panjang dari
pada cerpen, tetapi lebih pendek dari pada roman.
3. Drama

7

Karya sastra tidak jauh dengan karya sastra prsa fiksi. Kesamaan itu berkaitan
dengan aspek kesastraan yang terkandung di dalamnya. Terdapat perbedaan terletak pada
tujuannya, yaitu naskah drama bertujuan untuk dipentaskan. Sehingga dapat disimpulkan
bahwasannya drama adalah cerita manusia yang dipentaskan. Drama memiliki dua aspek
yakni aspek cerita dan aspek pementasan.

Drama memiliki sebernya memiliki tiga dimensi, yakni sastra, gerakan dan ujaran.
Oleh karena itu naskah drama tidak disusun khusus untuk dibaca seperti cerpen atau novel,
tetapi lebih dari pada itu pencipraan naskah drama sudah dipertimbangkan aspek-aspek
pementasannya.dalam naskah drama ditemukan narasi, dialog, dan acting.

C. Periodisasi Sastra Indonesia

Pembagian zaman atau pembabakan waktu atau periodisasi sastra Indonesia modern
sampai saat ini memang masih mejadi bahan perdebatan. Periodesasi sastra merupakan
kesaMtuAaTnEwRaI kGtEuNdRaElamSApSeTrRkeAmBbEaRnDgAanSAsRasKtrAaNyang dikuasai oleh suatu sistem norma tertentu
atau kePsaEtRuaIOnDwEaSkAtSuI ySaAnSgTmRAemINiDlikOiNsEifSaItAdan cara pengucapan khas yang berbeda. Periode
merupakan kurun waktu yang ditentukan oleh kesamaan ciri khas bagian terbesar karya sastra
yang diciptakan pada masanya. Dengan demikian dapat kita lihat adanya 5 angkatan dalam
sejarah sastra Indonesia. Angkatan demi angkatan itu muncul hampir setiap 10 tahun atau 15
tahun sekali. Selama waktu itu pengalaman dan situasi masing-masing generasi rupanya agak
berbeda sehingga melaha=irkan ciri-ciri tersendiri pada angkatannya. Dengan demikian
dapatlah kita membuat sebuah bebakan waktu dalam sejarah sastra Indonesia modern sebagai
berikut:

1. Sastra Awal (1900-an)
2. Sastra Balai Pustaka (1920-1942)

Balai pustaka didirikan pada tahun 1908, tetapi baru 1920-an kehiatannya
dikenal oleh banyak pembaca. Comissie de inlandsche School-en Volkselvuur
(Kommisi Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi) yang diketuai oleh Dr.G.A.J.
Hazeu dengan 6 orang anggotanya. Tugas komisi ini adalah memberikan
pertimbangan kepada Direktur Pendidikan dalam hal memilih karangan-karangan
yang baik untuk dipakai disekolah-sekolah dan dijadikan bacaan rakyat. Dalam
masanya balai pustaka pustaka mempunya beberapa starategi sebagai berikut :

1. Merekrut dewan redaksi secara selektif
2. Membentuk jaringan distribusi buku secara sitematis
3. Menentukan kriteria liner
4. Mendominasi dunia kritik satra.

Angkatan balai pustaka membentuk dewan redaksi yang, beberapa di
antaranya adalah Armjin Pane dan Alisjahbana. Angkatan balai pustaka baru
mengeluarkan novel pertamanya berjudul Azab dan Sengsara karya Meragi Siregar

8

pada tahun 1920-an. Novel yang mengangkat tema kawin paksa pada masa itu
menjadi trend baru bagi dunia sastra. Sejalan dengan itu novel-novel lain dengan
tema serupa pun mulai bermunculan. Adapun ciri-ciri karya sastra pada masa Balai
Pustaka adalah sebagai berikut :

1. Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise, pepatah, dan
peribahasa.
2. Alur yang dihunakan sebagian besar alur lurus.
3. Teknik penokohan menggunakan teknik analisis langsung.
4. Pusat pengisahan menggunakan metode orang ketiga.
5. Latar cerita umumnya daerah pedesaaan.
3. Satra Pujangga Baru (1930-1942)

Angkatan pujangga baru resminya muncul tahun 1933, tetapi karya-karya
yang bercorak pujangga baru dan upaya mendirikan majalah serupa itu telah muncul
jauh sebelumnya, yakni sekitar 1921. Munculnya sastra punjangga baru juga tidak
dapat dipisahkan dari perkembangan gerakan nasional di indonesia, bahkan banyak
penulis pujangga baru yang aktif dalam gerakan nasional, seperti Muhammad
Yamin, Amir Hamzah (ketua Indonesia Muda di Solo), Sutan Syahrir, Dr.M.Amir
dan sebagainya. Pujangga baru adalah pernyataan nasionalisme dalam bidang
kebudayaan dan kesusastraan. Pujangga baru merupakan bagian dari pergerakan
nasional Indonesia. Gerakan nasional Indonesia, seperti kita ketahui, muncul pada
tahun 1908 dengan berdirinya Budi Utomo yang didirikan oleh kaum terpelajar
penyair.

Majalah pujangga baru terbit pada bulan Mei 1933. Tujuan dari majalah ini
adalah : pertama menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai dengan zamannya,
kedua mempersatukan sastrawan baru dalam satu wadah, yang sebelumnya itu
tercerai berai menulis dalam beberapa majalah yang menyediakan ruang
kebudayaan. majalah ini diasuh oleh tiga tokohnya yang utama, yakni Sutan Takdir
Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah.

Asapun karakteristik karya sastra pada masa pujangga baru pada masa itu
terlihat melalui roman-roman yang sangat produktif dan diterima secara luas oleh
masyarakat. Pengarang yang paling produktif yaitu Hamka dan Sultan Takdir
Alisjahbana. Pengarug barat sangat kental pada masa perkembangan periode
pujangga baru ini.

Beberapa ciri sastra pujangga baru:
1. Sastra majalah
Sebagai sastra majalah, karya-karya yang banyak dibuat adalah puisi
dan esei sastra. Karangan-karangan demikian tidak memakan banyak
halaman majalah dan sekaligusdapat memuat banyak karya puisi.
Keuntungan dari sastra majalah ini adalah bahwa karya para
sastrawan lebih cepat diumumkan kepada pembacanya. Sastra

9

majalah ini adalah lahirnya pemikiran-pemikiran kebudayaan dan
kesusastraan dalam pujangga baru.
Sebagai asastra majalah, pujangga baru banyak menghasilkan karya-
karya puisi, drama, dan esai. Sedangkan roma jarang sekali ditulis.
Dan mulai ditulis pula cerita pendek. Dilihat dari ragam karya sastra
yang dihasilakn, pujangga baru menghasilkan roman, cerita pendek,
puisi modern, kritik dan esei. Dalm pujangga baru, sastra modern
berkembang sepenuhnya.
2. Romantik
Pada pujangga baru keidahan kata adalah keidahan bunyinya,
keindahana keluar. Padawarna, bunyi, dan gerak. Pujangga baru
mementingkan keidahan ke dalam, pada makna kata. Inilah sebabnya
persamaan bunyi bait-bait sajak pujangga baru masih dientingkan.
Kadang-kadang penyair hanya mementingkan adanya persamaan
bunyi, meskipun kata-kata yang dicantumkannya tidak diperlukan.
Bentuk yang amat digemari oleh pujangga baru adalah sonrta yang
juga digemari ileh gerakan 80 di negeri Belanda.
3. Lambang, kiasan dan metafora
Ciri yang menonjol dari puisi pujangga baru adalah penggunaan
lambang dan kiasan. Penggunaan lambang ini menu`PHnjukkan
bahwa mereka ingin menyatakan hasrat kebebahasan dan
nasionalismenya dengan cara-cara tersembunyi, tidak mau terang-
terangan ini disebabkan karena adanya tekanan dan ancaman yang
nyata dari penjajah Belanda. Pengambilan kata-kata kuno banyak
dilakukan, misalnya angina disebut pawana,bunga disebut puspa,
matahari disebut surya, pikiran disebut kalbu, jiwa disebut sukma.
4. Berbahasa Indonesia
Bahasa yang digunakan dalam sastra pujangga baru adalah bahasa
yang lain dengan satra balai pustaka. Banyak kata-kata yang hidup
dalam masyarakat dimasukkan ke dalam bahasa satra. Penggunaan
bahasa Belanda terhadap bahasa pujangga baru ini kadang terlalu
besar, sehingga struktur kalimat diambil begitu saja dari bahasa
Belanda.
4. Satra Angkatan 45 (1942-1955)
Ada tokoh utama yang sering dianggap sebagai para pelapor angkatan 45, yakni
Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan ldrus. Dari keempat tokoh tersebut
Chairil Anwar merupakan tokoh sentral. Chairil Anwar bole disebut sebagai Bapak
revolusi dalam sastra Indonesia modern. Angkatan pujangga varu yang beraliran
romantic hanya mementingkan estetika, sedangka angkatan 45 beralih
eksptrsionisme realistik.

10

Tema yang diangkat angkatan 45 adalah tema tentang perjuangan kemerdekaan.
Darir karya-karya perjuangan itulah amanat yang menyarakan bahwa perjuangan
mencapai kemerdekaan tak hanya dapat dilakukan melalui politik atau angkatan
senjata, tetapi perjuangan juga dapat dilakukan dengan karya sastra yang bersifat
seni. Angkatan 45 terbentuk pada gencarnya perjuangan kemerdekaan. Ciri-ciri
angkatan 45 sebagai berikut:

1. Puisi bebas.
2. Puisi mengekspresikan kehidupan batin atau kejiwaan
3. Pilihan kata menggunakan kosakata sehari-hari.
4. Penokohan digambarkan secara dramatic (tidak langsung)
5. Karya sastra prosa menggunakan alur sorot balik, meskipun ada juga alur

lurus.
6. Karya sastra prosa mengemukakan pandangan hidup dan pikiran-pikiran

pribadi untuk memecahkan suautu masalah.
5. Sastra Generasi Kisah (1955-1965)

Berbeda dengan tahun sebelum-sebelumnya, masa setelah tahun 1953 sampai
tahun 1966, tidak ada penamaan yang pasti. Ajip Rosidi menamakan angkatan
setelah angkatan 45 sebagai angkatan sastra terbaru dalam simpesium sastra di
Jakarta tahun 1960. Bahkan pada tahun 1966, H.B Jassin menamakan angkatan
sasrawan yang menulis antara tahun 1953-1966 sebagai angkatan 66. Penamaan oleh
Jassin ini bannyak ditentang oleh banyak orang. Dalam penamaan angkatan yang
terakhir itu dimasukkan nama-nma sastrawan yang telah menulis tahun 1953
sepperti Trisno Juwono, W.S. Rendrea, Yusach Ananda, A.A.Navis dan sebagainya.

Pada bulan Juli 1953 Sudjati S.A. dan kawan-kawannya menerbitkan majalah
yang khusus memuat karya-karya sastra, terutama cerita pendek, maka dengan
segera Nampak betapa banyaknya penulis-penulis baru yang berhasrat
mengumumkan karya-karya mereka. Beberapa ciri yaitu :

1. Kesusastraan cerita pendek
Menurut ajip Rosidi , salah seorang tokoh penting dari generasi ini,

bentuk cerita pendek amat digemari oleh angakatannya bukan karena
sarana penerbitan yang ada hanya masalah maka tidak mungkin menulis
novel atau novelet dalam wadah semacam itu. Meskipun cerita
pendekmerupakan hasil utama dari kesastrawan generasi kisah, muncul
pula beberapa penyair dan esais serta penulis cerita pendek yang juga
penyair, bahkan beberapa di antara mereka ini kemudian akan lebih dikenal
sebagai penyair.
2. Bersifat seni-otobiografis

Karya-karya sastra berupa cerita pendek dari masa ini kebanyakan ditulis
berdasarkan pengalaman kongkrit para pengarangnya. Apa yang mereka
tuangkan dalam cerita pendek adalah kehidupan nyata yang ada dalam

11

masyarakat waktu itu, terutama yang diketahui dan dialami penulisnya.
Membea cerita pendek Indonesia pada masa itu dapat berarti membaca
membaca kehidupan nyata masyarajat Indonesia. Kesusastraan cerita
pendek tahun 1950-an adalah dokumen sosial Indonesia zamannya. Apa
yang diceritakan oleh pengarang dalam cerita pendeknya adalah bagian
dari pengalaman hidupnya yang konkrit sehari-hari dengan beberapa
perubahan sesuai dengan tuturan sebuah karya sastra yang harus menarik
dan mengikat pembacanya.
3. Berorientasi kepada kesusastraan Indonesia sendiri.

Berorientasi kepada kesusastraan Indonesia sendiri artinya para
sastrawan angkatan ini belajar menulis dari karya-kaya sastra Indonesia
modern, sejak sastra balai pustaka sampai sastra angkatan 34. Kekurrang
pahamanan terhadap teori-terori sastra, ilmu pengetahuan, filsafat
mengakibatkan mereka hanya dapat belajar satu-satunya dari pengalaman
hidup mereka sendiri. Dengan demikian mereka juga menggantungkan diri
seperti H.B Jassin, Asrul Sani, Buyung Saleh, Idrus, Sitor situmorang,
Iwan Simatupangn yang memahami dengan naik kesusastraan dunia akibat
kemampuan bahasa asing mereka. Maka adalah mustahil apabila
diharapkan adanya suatu sikap pemberharuan dalam angkatan ini.
4. Kesusastraan yang diskriptif

Kesusastraan yang diskriptif berhubungan dengan kuranya dasar-dasar
pemahaman teori sastra, maka karya-karya mereka juga kebanyakan
merupakan laporan-laporan agak telanjang tentang kenyataan yang mereka
kenal.
6. Sastra Generasi Horison (1966-)
Angkatn ini ditandai dengan terbitnya satra Horison. Angkatan 66 lahir karena
adanya peristiwa sejarah Indonesia, istilah angkatan 66 ini pertama kali
diperkanalkan oleh Jassin dalam sebiah karangannya dalam majalah Horison pada
agustus tahun 1966. Tokoh pada angkatan 66 adalah Taufik Ismail yang lahir di
Bukit Tinggi 25 juni 1937, lulusa fakultas kedokteran hewan UI redaktur senior
Horison. Taufik Ismail adalah pelapor puisi-puisi demonstrasi. Puisi-puisinya
adalah puisi demonstrasi yang mengungkapkan tuntutan membela keadilan dan
kebenaran.puisinya adalah proses sosial menentang Rezim. Puisi-puisi Taufik
Ismail menandakan suatu kebangkitan angkatan 66 dalam dunia perpuisian di
Indonesia. Menurut Jassin ciri-ciri karya angkatan 66 ini sebagai berikut:
1. Mempunyai konsep pancasila
2. Mengemukakan protes sosial dan politik
3. Membawa kesadaran nurani manusia.
4. Mempunyai kesadaran akan moral dan agama.

12

D. Sastra Balai Pustaka

Sastra Balai Pustaka tidak muncul dari masyarakat Indonesia seacar bebas dan
spoMntAaTnE. RSIaGstEraNRinEi SdAimSuTnRcAuBlkEaRnDdAaSnAdRiKatAuNr oleh pemerintah jajahan Belanda di Indonesia.
SastraPiEnRi IpOeDnuEhSAdSeInSgAanSTsRyaAraIN-sDyOaNraEtSdIAan di tulis dengan dengan maksud-maksud tertentu,
yang akhirnya bermuara bagi kepentingan politik jajahan. Dari sudut ini dapat dikatakan
bahwa sastra Balai Pustaka bukanlah hasil ekspresi bangsa secara murni. Dalam banyak hal
sastra Balai Pustaka adalah sastra bertendens, yakni sastra yang ditulis untuk maksud-maksud
praktis tertentu, dalam hal ini adalah mendidik bangsa Indonesia agar mejadi pegawai negeri
yang patuh dan tidak ambisius sehingga ingin menyamai orang-orang Belanda.

Berdasarkan keputusan Raja Belanda 30 September 1848, kepada Gubernur Jenderal
Belanda di Indonesia diberi wewenang untuk menggunakan dana sebanyak f.25.000,- tiap
tahun bagi penyelewengan pendidikan. Pendidikan yang ditujukan untuk kaum bangsawan
rendah pada pertengahan abad 19 itu bukanlah tujuan memberikan kemajuan dan kepandaian
bagi bangsa Indonesia, tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pegawai rendahan
sebagai aparat pemerintah jajahan.

Inilah sebabnya pada tanggal 14 september 1908 pemerintah membentuk Comissie de
inlandsche School-en Volkselvuur (Kommisi Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi) yang
diketuai oleh Dr.G.A.J. Hazeu dengan 6 orang anggotanya. Tugas komisi ini adalah
memberikan pertimbangan kepada Direktur Pendidikan dalam hal memilih karangan-
karangan yang baik untuk dipakai disekolah-sekolah dan dijadikan bacaan rakyat.

Komisi Bacaan RaKyat dikembangkan menjadi sebuah badan tetap yang dinamai
Balai Pustaka.

a. Organisasi Balai Pustaka
Pada garis besarnya Organisasi Balai Pustaka terdiri dari 4 bagian yakni

Bagia Redaksi, Bagian Adminidtrasi, Bagian Perpustkaan dan Bagian Pers.
Keempat bagian tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Balai Pustaka yang tugas
pokoknya adalah memajukan moral dan budaya pembacanya dan meningkatkan
apresiasi sastra. Dialah yang akan menentukan buku-buku mana yang harus
diterbitkan. Ketua Balai Pustaka ini antara lain Dr. D. A. Rinkes, Dr, G.W.J.
Drewes, Dr.K.A. Hidding, dan tokoh-tokoh sastrawan Indonesia yang pernah
bekerja di Balai Pustaka sebagai redaktur ialah Adinegoro, Sutan Takdir
Alisjahbana, Armijn Pane, Nur Sutan Iskandar dan H.B Jassin.

Bagian Redaksi merupakan dapur Balai Pustaka yang mengolah makanan
rohani pembacannya, bagian inilah yang memperbaiki bahasa dan memperbaiki
naskah yang masuk. Bagian ini juga menerjemahkan karya-karya sastra asing.

13

Bagia Ad ministrasi bertugas menyimpan buku, menyebarkan buku ke
masyarakat, mencetak dan mempropagandakan buku-buku kepada masyarakat.
Bagian perpustakaan mengurus terselenggaranya perpustakaan di seluruh
Indonesia (Hindia Belanda). Ada dua macam perpustakaan : Taman Pustaka dan
Perpustakaan Belanda yang pertama berada di sekolah-sekolah Belanda
(Hollandsch Inlandshe School = sekolah pribumi berbahasa Belanda). Taman
pustaka terdiri dari tiga bahasa, yakni perpustakaan sekolah dengan buku-
bukusastra Jawa, Sunda dan Melayu. Para guru bertugas memberikan penerangan
buku-buku mana yang pantas dibaca oleh pembacanya.

Perpustakaan berbahasa Belanda berisi dua macam buku, yakni buku-buku
biasa dan buku-buku istimewa. Baik Taman Pustaka maupun Perpustakaan
Belanda berisi buku-bulu yang telah disensor oleh Bagian Perpustakaan. Bagian
Pers bertugas mengikut perkembangan pemikiran dan perubahan masyarakat, agar
Balai Pustaka dapat menentuka sikap dalam menerbitkan buku-bukunya.

Balai Pustaka adalah alat preventif untuk mencegah berkecambuknya
pemikiran-pemikiran kebangsaan dan anti colonial bagi kaum terpelajar
Indonesia. Sebaliknya Balai Pustaka bertugas menanamkan rasa setia dan patuh
pada pemerintah.
b. Pengelolaan

Sebagai alat kolonial, Balai Pustaka dengan sendirinya memerlukan biaya
pengelolaan. Balai pustaka memang merupakan badan penerbit yang tidak
bertujuan komersial. Namun biaya pengelolaan Balai Pustaka ini dapat ditekan
akibat cara kerja yang mereka sebut “efficiency”, yakni mencetak buku-buku
dengan percetakan sendiri (semula dicetak di luar Balai Pustaka), membeli kertas
dalam jumlah besar dan menyerahkan sendiri buku-buku ke tengah masyarakat.
c. Jenis Penerbit

Balai Pustaka menerbitkan berbagai macam buku, majalah dan almanak.
Buku-buku Balai Pustaka tidak hanya meliputi buku-buku sastra tetapi juga buku-
buku pengetahuan popular tentang kesehatan, pertanian, pertenakan, budi pekerti,
sejarah, adat istiadat, dan sebagainya. Selain itu diterbitkan pula majalah-majalah
dalam tiga bahasa, yakni Sri Pustaka, (sejak 1918), Panji Pustaka, (sejak 1923
menggantikan Sri Pustaka) dalam bahasa Melayu; Kejawen dalam bahasa jawa
(sejak 1926) dan Parahiangan dalam bahasa Sunda (sejak 1929). Jumlah penerbit
majalah-majalah itu mencapai 7000 eksemplar unntuk Panji Pustaka dan 5000
eksemplar untuk Kejawen dan 2500 untuk Parahiangan pada tahun 1941, yakni
jumlah tertinggi yang pernah dicapai oleh majalah-majalah itu.
d. Bahasa Balai Pustaka

Mengapa Balai Pustaka tidak menerbitkan buku-buku majalah-majalah, dan
almanak-almanak dalam bahasa Melayu saja? Pertanyaan ini kiranya dapat
dijawab dengan alasan-alasan :

14

1. Penerbit Balai Pustaka ditunjukan untuk orang-orang Indonesia di daerah-
daerah yang kebanyakan hanya menguasai bahasa daerah sendiri. Meskipun
bahasa Melayu menjadi bahasa perhubungan, namun terbatas pada mereka
yang telah menjalani pendidikan rendah dan mereka yang menjadi pegawai di
kota-kota.

2. Balai Pustaka sebagai alat kolonial justru ingin membagi masyarakat dalam
daerah budayakan masing-masing agar jiwa persatuan tidak terbentuk. Untuk
tujuan ini menghiduokan bahasa daerah adalah merupakan salah satu jalan.
Inilah sebabnyak karya sastra Barat tidak cukyp hanya diterjemahkan ke dalam
bahasa Melayu tetapi juga dalam bahasa yang lain.
Bahasa melayu yang dipergunakan oleh Balai Pustaka adalah bahasa Melayu
yang sudah agak terpengaruh oleh berbagai macam bahasa, berbeda dengan
bahasa Melayu Tinggi di sekolah-sekolah dan di daerah Riau. Sedangkan
bahasa Melayu-Rendah lebih bebas lagi terpengaruh oleh bahasa daerah lain,
bahasa Jakarta dan bahasa Belanda serta Inggris.

e. Reaksi
Balai Pustaka pada mulanya dicurigai kaum pergerakan nasional. Balai

Pustaka merupaka alat kolonial untuk meninabobokan rakyat dengan kisah-kisah
sentimentilnya. Balai Pustaka sama sekali tidak merupakan badan untuk
“mencerdaskan” rakyat. Buku-buku Balai Pustaka hanya dibaca oleh pegawai-
pegawai rendahan kota-kota. Namun bagaimanapun coraknya, Balai Pustaka
memang merupakan satu-satunya badan penerbit yang kuat yang mampu
menyerbar luaskan penerbitannya ke seluruh pelosok tanah air.
f. Persyaratan Balai Pustaka

Ada beberapa persayaratan yang dipakai Balai Pustaka untuk menerbitkan
buku-buku yakni:
1. Tulisan tidak mengandung unsur-unsur anti pemerintah Belanda.
2. Tulisan tidak menyinggung perasaan golongan masyarakat tertentu, suku

tertentu.
3. Tulisan tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Inilah sebabnya Dr.

Soetomo, misalnya, menulis di Balai Pustaka bukan mengenai pergerakan
tetapi mengenai kesehatan.

E. Nilai-nilai dan Manfaat Karya Sastra

A. Nilai-nilai dalam karya Sastra
Sastra, yang terkandung dalam ilmu-ilmu Humaniora (IIH), bersama-sama dengan

MAfTilEsRafIaGt,EeNtRikEa,SsAeSjaTrRahA, BbEaRhaDsAaS, AaRgaKmAaN, ilmu hokum, ilmu purnakala, serta kritik seni,
sPeEcRarIOa DkEoSlAekStIifSAmSTerRuApaINkDanONsEuSatIAu kurangka sekaligus kosakatabagi telaah-telaah

15

mengenai nilai-nilai kemanuasiaan, kebutuhan, aspirasi, juga kemampuan dan
kelemahan manusia seperti terungkap dalam kebudayaannya.

Memperlajari, tepatnya menelaah karya sastra akan membantu kita menangkap
makna yang terkandung dalam pengalaman-pengalaman kita, dan memberikan cara-
cara memahami segenap jenis kegiatan kemasyarkatan, serta maksud terkandung dalam
kegiatan-kegiatan tersebut, baik kegiatan masyarakat kita sendiri maupun masyarakat
kita sendiri maupun masyarakat lain. Sayangnya, tidak banyak para teknokrat dan
penentu kebijakan negeri ini yang menyadari akan hal ini.

Fungsi lain yang dapat dikembangkan melalui membaca dan menelaah katya satra
adalah kemampuan untuk mengembangkan kebiasaan dan perangkat intelektual yang
dapat menopang pelaksaan analisis, penilaian, dan kritik secara mandidiri. Kemampuan
jenis terakhir ini akan terasa sangat penting ketika berhadapan dengan persoalan
moralitas, baik moralitas sosial (public moralitily) maupun moralitas prbadi (private
morality).

Karya sastra membuat kita mampu memahami segenap perjuangan tokoh-tokoh
yang dilukiskan turut gembira dengan kebahagiaan yang dicapai dan turut bersedih
dengan kemalangan yang dialaminya. Kita mengenali diri kita sendiri pada tokoh-
tokoh dalam karya sastra yang kkita baca. Dengan membaca karya sastra dalam bentuk
novel, cerpen, drama, dan puisi, kita turut menghayati segenap kebahagiaan dan
kesedihan yang dialami tokoh-tokoh kita. Dalam proses penghayatan ini dunia kita
diperluas, menembus batas-batas duniawi yang ada di sekitar kita (Al-Ma’aruf,
2003:39).

Berbagai nilia kehidupan dan pesan-pesan moral yang bermanfaat bagi manusia
untuk memperkaya khasanah batin terkandung di dalam karya satra bagikan mosaic
yang indah, yang tidak ditemukan dalam karya lainnya. Nilai-nilai kehidupan itu
beraneka ragam baik yang berkaitan dengan kemanusiaan sosial, kultur, moral, politik,
ekonomi, dan gender. Tak ketinggalan nilai-nilai kehidupan yang berhubungan dengan
ambisi, simpati, empati, dan toleransi, cinta dan kasih sayang, dendam, iri hato, rasa
berdosa, kegundahan dan kegamangan hidup, serta kematian. Kesumuanya dapat kita
temukan dalam karya sastra.

Telaah atau studi karya sastra dengan demikian mencakup suatu kawasan yang
paling manusiawi dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini, suatu kawasan pemikiran
yang secara ensesial menyentuh masalah-masalah kehormatan prestis atau harga diri,
keberhasilan, kebebasan, keadilan, dan ketulusan. Semua itu merupakan persoalan-
persoalan inti bagi penggalangan motivasidan keberhasilan usaha, dank arena itu
merupakan persoalan-persoalan pokok bagi pembangunan karakter bangsa. Apresiasi
dan telaah sastra daoat digunakan sebagai jendela untuk mengintip manusia dengan
segenap kompetemsi, ambisi, sifat, dan karakternya yang kompleks, unik, dan variatif.
B. Manfaat telaah dalam karya sastra

16

Moody (1979:16) menjelaskan bahwa telaah karya satra pada dasarnya memiliki
banyak manfaat. Manfaat utama adalah:

1. Membantu pembaca sastra memiliki keterampilan berbahasa,
2. Meningkatkan pengetahuan budaya,
3. Mengembangkan daya cipta dan rasa,
4. Dan menunjang pembentukan watak.
Dalam hal ini Philip Sidney menyatakan bahwa telaah sastra harus dapat
memberikan fungsi to teach (memberikan ajaran) dan delight (memberi
kenikmatan) cheers (kepuasaan) dan applause (kekaguman) bagi pembaca.

17

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan MATERI GENRE SASTRA BERDASARKAN PERIODESASI
SASTRA INDONESIA

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa periodisasi sastra Indonesia terbagi
menjadi lima kesimpulan yaitu sebagai berikut pertama genre sastra terbagai menjadi tiga jenis
yaitu drama. epic, dan lirik. Kedua karya sastra menurut genre sastra terbagi menjadi tiga jenis
yaitu puisi, prosa, dan drama. Ketiga periodisasi terbagi menjadi enam jenis yaitu sastra awal
(1900-an), sastra balai pustaka (1920-1942), sastra pujangga baru (1930-1942), sastra angkatan
45 (1942-1955), sastra generasi kisah (1955-1965), sastra generasi horizon (1966-). Keempat
sastra balai pustaka. Dan kelima nilai-nilai dan manfaat karya sastra.

18

DAFTRA PUSTAKA

Al-Ma’ruf, Ali Imron dan Farida Mugrahani. 2020. Pengkajian Sastra Teori dan Aplikasi. Surakarta:

Djiwa Amarta Press. MATERI GENRE SASTRA BERDASARKAN

Sumardjo, Jacob. 1992. Lintasan SasPtrEaRIInOdDoEnSesAiSaIMSAodSeTrRnAJIiNliDdOI.NBEaSnIAdung: PT. Citra Aditya Bakti

19


Click to View FlipBook Version