MATA PELAJARAN : ILMU HADIS
JURUSAN : KEAGAMAAN
TAHUN PELAJARAN : 2020/2021
MAN 4 TANGERANG
JL. RAYA KRONJO KM. 3 PEJAMURAN DESA PASILIAN
KECAMATAN KRONJO – KABUPATEN TANGERANG
Tlp. (021) 59390574 Kode Pos 15550
Email : [email protected] website : https//: man4tangerang.sch.id
1
MATERI PEMBELAJARA 1
MEMAHAMI ILMU HADITS
A. Pengertian Ilmu Hadits
Ilmu hadis (ulūm al-hadīs) terdiri dari dua kata, yaitu ilmu (ulūm) dan al-hadīs.
Kata „ulūm dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari „ilm, yang berarti “ilmu-ilmu”;
sedangkan al-hadīs di kalangan ulama hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan
kepada nabi Muhammad SAW. dari perbuatan, perkataan, takrir, atau sifat.
Imam „I ad- in bin Jama‟ah sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin s-Suy t
911 H) dalam Tadrīb a-Rāwī fī Syarh Taqrīb an-Nawawī mengatakan:
Artinya: Ilmu hadis adalah ilmu tentang kaidahkaidah untuk mengetahui kondisi sanad dan
matan.
Sanad atau isnad (jamak) secara etimologi artinya sandaran. Sedangkan secara
terminologi adalah mata rantai atau jalan yang bersambung sampai kepada matan (isi
hadis) yang terdiri dari para rawi yang meriwayatkan matan hadis dan menyampaikannya.
B. Pembagian Ilmu Hadits
Ilmu Hadits dibagi dua, yaitu :
1. Ilmu Hadits Riwayah
ِعْل ٌم يَ ْشتَ ِم ُل َعلَى اَقْ َواِل الَنِِّّب َصَلّى اللّوُ َعلَْيِو َو َسَلّ َم َواَفْ َعالِِو َوتَْقِريِْرِه َوِرَوايَتَِها َو َضْب ِطَها َوَْتِريِْرأَلَْفا ِظَها
Ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) dari perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi
saw., periwayatannya serta pencatatannya dan penguraian lafadz-lafadznya.
Objek kajian ilmu hadits riwayah adalah hadits nabi Muhammad saw. dari segi
periwayatan dan pemeliharaannya (penulisan serta pembukuannya).
Pelopor ilmu hadits riwayah adalah Az-Zuhri.
2. Ilmu Hadits Diroyah
ِعْل ٌم يُْعَر ُف ِمْنوُ َحِقْي َقةُ الِّرَوايَِة َو ُشُرْوطَُها َوأَنَْواعَُها َوأَ ْح َكاُمَها َو َحا ُل الُّرَّواِة َو ُشُرْوطُُه ْم َوأَ ْصنَا ُف
.الْ َمْرِوَيّا ِت وَما يَتَ َعَلّ ُق ِِبَا
Ilmu yang mempelajari hakikat periwayatan, syarat-syarat, macam-macam dan hukum-
hukumnya, sifat-sifat perawi dan syarat-syaratnya, serta macam-macam yang diriwayatkan
dan hal-hal yang terkait dengannya.
Ilmu hadis dirāyah adalah kumpulan kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan perawi
(sanad) dan sesuatu yang diriwayatkan (matan) dari sisi diterima (maqbūl) dan tidak--keadaan
perawi dan sesuatu yang diriwayatkannya—(mardūd). Jadi, objek kajian atau pokok
pembahasan ilmu hadis dirāyah, berdasarkan defnisi di atas, adalah penelitian terhadap
keadaan para perawi hadis (sanad) dan matannya (teks hadis/matan).
2
MATERI PEMBELAJARA 2
UNSUR-UNSUR HADIS
Contoh :
لتََُِمَحَعُكََاّّمدِّثلَُدَلنَاابْْماَعِرُْننلوٍُُئإَِمبْْيَََعمرالِاَدِى ُْيىنَّيََموالَْعاىْبِلمَْتنُّدفَْيَِبَامِملُْنقِّلَيا بََْكأَلَناُّننَوُ اَلِْسُتَّزْعبَِسَِْعِىيُت ْقَجَعاََْررلتََُلقُوسُ َْموإََِةَحلَ َلّدبْاثَالنََنلالِلَِوَقُسَّواَْصفَلّيََارٍىصُُنس ْااولقلَِلَالِّولُْيَثِلفَََّعِيهلََحْيْيَجَِوّدَُقرثَتُْنََووُواُلَإِسََلَّْيلََمَِسياْعيَلبُْقِلُُْتنوَُولَعُسإَِرََّعِمّنْيََُسارٍْدولِابْاِْوَلنَلََنْْوعاَمََصمالَاَُْنلطِرّاُّيَبِكاِالبقنَََنّاَيََّْارلت ِِأضَتِىَْىخبََْجواَإَِرَِّرّتلُنَْاونلُ
لُِدنْيَا يُ ِصْيبُ َها أَْو اْمَرأَةٍ يَْنكِ ُحَها فَِه ْجَرتُوُ إَِل َما َىا َجَر إِلَْيِو (َرَواهُ البُ َخا ِري)
3
1. SANAD (Sanad secara bahasa adalah sandaran; sementara secara istilah adalah
silsilah perawi yang meriwayatkan hadis hingga kepada matan hadis. Imam
Nawawi menyatakan bila sanad suatu hadis bernilai Shahih maka hadis tersebut
dapat diterima dan mengamalkannya adalah berpahala. Sementara jika kualitas
sanad hadis tersebut tidak shahih maka harus ditinggalkan)
َََحدَثَنَاَالحَ َمَيدَ َيَعَبَ َدَالَلََب َنَالَزبَيَ َرََقالََحَ َدثََناَ َسفَيَا َنََقالََحَ َدثَنَاََيحَيَىَبَنََسََعيَدََا َلَن َصاَري
ََقَا َلََأ َخبََرَن َيََمحَ َمدَََب َنَإَبََرا َىَيمََالتَيَمَيَََأَنوََ َسمَ َعَعَلََق َمةَََبنَََوقَا َصَاللَيَثَيََيََقَولََسَ َمعَ َتَعَمَر
َبَ َنَال َخطَابَََر َضىََاللَتََعال َىَ َعَنوََعَلَىَاَلمَنَبَرَََقا َلَسَ َمعَ َتََر َسَو َلَالَلَصَلَىَاللََ َعلَيََوََوسَلَ َم
َيَقََول
2. MATAN (Yang dimaksud dengan matan di dalam ilmu hadis adalah
penghujung dari sanad, yaitu sabda baginda Nabi Saw.)
َإَنَ َماَالَعَ َما َلََبالنََيا َتََوإَنَمَاَلَكَ َلَاَمَر َئَمَاَنََوىَفَ َم َنَََكاَن َتَ َىجََرتََوَإََلىَالَلَوَََر َسَولَوَََفهَجََرَتَو
ََإلَىَالَلَ َوََر َسَوَلَوَ َوََمنََََكانَتََىَ َجَرَتَوََل َدنََياَيَ َصَيبَ َهاَأَوََاَمَرأَةََيَنَكَ َح َهاَفَهَ َجَرَتوََإَلَىََماَىَا َج َر
ََإلََيو
3. RAWI (Rawi adalah orang-orang yang menyampaikan dan menuliskan hadis
Nabi Saw ke dalam kitab-kitab hadis dari apa yang didengar dan diterima dari
gurunya. Rawi hadis yang dimaksud adalah semisal Imam Bukhari, Imam
Muslim, Abu Daud, al-Turmudzi, an-Nasa’i dan ibn Majah. Seorang
penyusun kitab hadis ketika hendak mengakhiri redaksi matan hadis dari
kitabnya, maka mereka menyematkan nama rawi pada akhir matan hadisnya)
)(َرَواهُ البُ َخا ِري
4
MATERI PEMBELAJARA 3
KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN
Peta Konsep Kedudukan Bayan Taqrir
Hadis Bayan Tafsil
Kedudukan Hadis Bayan Taqyid
dan Fungsinya dalam Islam Bayan Takhsis
Bayan Tasyri'
dalam Menentukan Fungsi Bayan Naskh
Hukum Syar'i Hadis
terhadap
Al-Qur'an
A. Kedudukan Hadis dalam Islam
Hadits menempati kedudukan sebagai sumber hukum yang ke-2 setelah Al-Qur‟an
1. Dalil Al-Qur’an
Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar beriman kepada Rasul-Nya. Mereka juga harus
menaati segala bentuk perundang-undangan atau peraturan yang dibawanya. Tuntutan taat dan patuh
kepada Allah SWT. Perhatikan beberapa ayat Al-Qur‟an sebagai berikut :
23 : ال عمران
Artinya :
Katakanlah (Muhammad), "Ta'atilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, Ketahuilah bahwa
Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali Imran :32)
7َ:َ الحشر
Artinya :
.... apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS.
Al-Hasyr :7)
Ketaatan kepada Rasulullah, Muhammad SAW adalah mutlak adanya, sebagaimana ketaatan kepada
Allah SWT. Demikian pula dengan ancaman atau peringatan bagi yang mengingkari atau
mendurhakainya. Ancaman Allah SWT kepada manusia yang mendurhakai-Nya sering disejajarkan
dengan ancaman manusia yang mendurhakai rasul-Nya.
5
Banyaknya ayat yang menyebutkan ketaatan kepada Allah secara bersama-sama terdapat pula ayat
yang memerintahkan taat kepada Rasul-Nya. Pada dasarnya, ketaatan kepada Rasulullah SAW
sejajar dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ayat-ayat semacam itu antara lain sebagai berikut.
08 : الىّساء....
Artinya :
“ Barangsiapa yang mentaati Rasul (Muhammad), Sesungguhnya ia telah mentaati Allah” (QS.
Annisa : 80)
23 : ال عمران
Artinya :
Katakanlah (Muhammad): "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mencintaimu
dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran :
31)
Ungkapan-ungkapan pada ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Rasulullah
dengan haditsnya sebagai sumber ajaran Islam.
2. Dalil Hadits
Selain berdasarkan ayat-ayat Al-Qur‟an, kedudukan hadits juga dapat dilihat melalui hadits-hadits.
Nabi Muhammad SAW bersabda sebagai berikut.
َرواهَمالك.تركتَفيكمَامرينَلنَتضلواماانَتمسكتمَبهماَكتابَاللَوسنةَنبيو
Artinya :
“Aku tinggalkan untumu dua perkara; kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang pada
keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur‟an) dan sunnah Nabi-Nya” (HR. Malik)
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda
َرواهَابواداود.ف عليكمَبسنتيَوسنةَالخلفاءَالراشدينَالمهدي ينَتمسكوابها
Artinya :
“Kamu harus berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin (Para khalifah yang
mendapat petunjuk), berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya” (HR. Abu Dawud)
Kenyataan itu memberikan suatu kepastian bahwa umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan
hukum dan kemasyarakatan. Al-Qur‟an dan Hadits harus ditempatkan sebagai sumber asasi.
Berpegang teguh pada hadits atau menjadikan hadits sebagai pegangan dan pedoman hidup adalah
wajib, sebagaimana wajibnya berpegang teguh pada Al-Qur‟an
3. Adanya Konsensus (Ijma’) Ulama
Umat Islam telah sepakat menjadikan hadits sebagai salah satu dasar hukum. Penerimaan mereka
terhadap hadits sama seperti penerimaan terhadap Al-Qur‟an Keduanya dijadikan sebagai sumber
ajaran dan hukum dalam Islam.
Kesepakatan ulama dan umat Islam dalam mempercayai, menerima, dan mengamalkan segala
ketentuan yang terkandung di dalam hadits, berlaku sepanjang zaman, tidak ada yang
mengingkarinya. Banyak diantara mereka yang tidak hanya memahami dan mengamalkan isi
kandungannya. Akan tetapi mereka juga menghafal, men-tadwin, memelihara, dan menyebarluaskan
kepada generas-generasi selanjutnya.
Banyak peristiwa menunjukkan adanya kesepakatan menggunakan hadits sebagai sumber hukum
Islam, antara lain dapat diperhatikan dalam beberapa peristiwa berikut ini.
a) Ketika Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah, ia pernah berkata, “ saya tidak meninggalkan sedikit
pun sesuatu yang diamalkan/dilaksanakan Rasulullah. Sesungguhnya saya takut tersesat apabila
meninggalkan perintahnya”
6
b) Saat Umar berada di depan Hajar s ad, ia berkata, “saya tahu bah a engkau adalah batu.
Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu, saya tidak akan menciummu”
c) iceritakan dari Sa‟id bin Musyayyab bah a Utsman bin „ ffan berkata, “ saya duduk
sebagaimana duduknya nabi Muhammad SAW, saya makan sebagaimana makannya Nabi, dan
saya shalat sebagaimana shalatnya Nabi”
4. Adanya Kesesuaian dengan Pertimbangan Akal
Kerasulan nabi Muhammad SAW telah dibenarkan dan diyakini umat Islam. Hal itu menunjukkan
adanya pengakuan bahwa nabi Muhammad SAW membawa misi untuk menegakkan amanat yang
diberikan Allah SWT. Dari sisi akidah, Allah SWT menjadikan kerasulan itu sebagai salah satu
prinsip keimanan. Dengan demikian, manifestasi dari keamanan itumengharuskan kita menaati dan
mengamalkan segala peraturan dan perundang-undangan serta inisiatif beliau, baik yang beliau
ciptakan atas bimbingan wahyu maupun hasil ijtihadnya sendiri.
Di dalam mengemban misinya, kadang-kadang beliau hanya menyampaikan apa yang diterima Allah
SWT. Namun tidak jarang beliau membawakan hasil ijtihad semata-mata mengenai suatu masalah
yang tidak ditunjuk wahyu. Hasil ijtihad beliau ini tetap berlaku sampai ada nash yang
menasahkannya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa hadits merupakan salah satu sumber hukum dan sumber
ajaran Islam yang menduduki urutan kedua setelah Al-Qur‟an Meski demikian, hadits mempunyai
kekuatan hujjah (sisi argumentasi) tidak sama dengan Al-Qur‟an Hukum yang ditimbulkan hadits
masih bersifat zanni (belum tentu pasti), kecuali hadits yang mutawattir, sedangkan hukum yang
dikandung Al-Qur‟an sudah bersifat Qat‟i (pasti).
B. Fungsi Hadis terhadap Al-Qur‟an
Al-Qur‟an dan hadits adalah sebagai pedoman hidup, sumber hukum, dan sumber ajaran
Islam. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Al-Qur‟an sebagai sumber
pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global. Oleh karena itu
kehadiran hadits sebagai sumber kedua untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi Al-Qur‟an
tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.
44: الىحل. ...
Artinya:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl :
44)
Allah SWT menurunkan Al-Qur‟an agar dapat dipahami manusia Untuk itu Rasulullah
SAW diperintahkan guna menjelaskan kandungan dan cara-cara melaksanakan ajarannya kepada
mereka melalui hadits-haditsnya.
Menurut Imam Malik, paling sedikit terdapat empat macam fungsi hadits sebagai bayan
(penjelas) terhadap Al-Qur‟an, yaitu bayan at-Taqrir, bayan at-Tafshil, bayan al-Ba‟ts, dan bayan
at-Tasyri‟. dapun Imam Syafi‟i menyebutkan ada lima fungsi hadits terhadap l-Qur‟an, yaitu
Bayan at-Tafshil, Bayan at-Takhsis, bayan at-Ta‟yin, bayan at-Tasyri‟, dan Bayan an-Nasakh.
Dalam kitabnya, ar-Risalah, Syafi‟i menambahkan bayan al-Isyarah sebagai salah satu
fungsi tambahan. Sementara itu Imam Ahmad Ibn Hambal menyebutkan empat fungsi hadits, yaitu
bayan at-Ta‟kid, Bayan at-Tafsir, bayan at-Tasyri‟ dan bayan at-Takhsis.
Berikut ini akan dijelaskan secara singkat beberapa fungsi hadits tersebut.
1. Bayan at-Taqrir
Bayan at-Taqrir disebut juga dengan bayan at-Ta‟kid atau bayan al-Isbat. Bayan ini
adalah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan di dalam Al-Qur‟an Fungsi
hadits dalam hal ini hanya memperkukuh kandungan Al-Qur‟an
Contoh hadits yang dapat dikategorikansebagai bayan at-Taqrir adalah hadits yang
diriwayatkan Muslim, dari Ibnu Umar sebagai berikut.
َرواهَمسلم.اذارايتمَالهلالَفصومواَواذارايتموهَفافطروا
7
Artinya :
“Apabila kamu melihat bulan, maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (yang kedua
kalinya) maka berbukalah (HR. Muslim)
Hadits tersebut datang men-taqrir/memperkuat hukum yang terkandung dalam pernyataan
ayat berikut ini.
301 : البقرة... ...
Artinya :
... karena itu, Barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, Maka berpuasalah ...(QS. Al-
Baqarah : 185)
2. Bayan At-Tafsir
Yang dimaksud bayan at-Tafsir adalah hadits berfungsi untuk memberika pennjelasan
dalam bentuk rincian (tafsil) terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang masih besifat global mujmal);
memberikan persyaratan/batasan (taqyid) ayat-ayat Al-Qur‟an yang bersifat pasti (mutlaq);
mengkhususkan (takhsis) terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang masih bersifat umum „am).
Diantara contoh ayat-ayat yang masih mujmal adalah perintah menegerjakan shalat, puasa,
zakat, disyariatkan jual beli, nikah, qishash, dan hudud. Ayat-ayat Al-Qur‟an tentang masalah
ini masih bersifat mujmal, baik mengenai cara mengerjakannya, sebab-sebabnya, syarat-syarat,
atau halangan-halangannya. Oleh karena itu Rasulullah SAW melalui haditsnya menafsirkan
dan menjelaskan masalah-masalah tersebut. Sebagai contoh di bawah ini akan dikemukakan
beberapa hadits yang berfungsi sebagai bayan at-Tafsir.
a) Hadits yang merinci keglobalan ayat (tafsil al-mujmal)
َرواهَالبخارى.صلواكماَراي تمونيَاصلي
Artinya :
“Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat” (HR. Bukhari)
Hadits tersebut menjelaskan bagaimana mendirikan shalat. Dalam Al-Qur‟an tidak
dijelaskan bagaimana teknis pelaksanaan perintah shalat. Salah satu ayat (yang masih
mengandung artiglobal/mujmal) yang memerintahkan shalat adalah sebagai berikut.
42 : البقرة
Artinya:
dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'
(QS. Al-Baqarah :43)
Jadi perintah nabi Muhammad SAW dengan hadits tersebut merupakan sebuah
upaya menjelaskan secara rinci praktik shalat, baik qauliyah maupun fi‟liyah.
b) Hadits yang membatasi ayat-ayat Al-Qur‟an yang bersifat mutlak taqyid al-mutlaq)
)َ(رواهَمسلم.لاتقطغَيدالسارقَالاَفيَربعَدينارفصاع ًدا
Artinya :
“Jangan potong tangan seorang pencuri, melainkan pada (pencurian senilai) seperempat
dirham atau lebih”. (HR. Muslim)
Hadits tersebut men-taqyid surat Al-Maidah ayat 38 yang berbunyi sebagai
berikut.
)20: (المائدة
Artinya :
“ Adapun orang laki-laki yang mencuri maupun perempuan yang mencuri, potonglah
tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai
siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah :38)
8
c) Hadits yang berfungsi untuk men-takhsis ayat Al-Qur‟an yang bersifat umum takhsis al-
„am)
َرواهَاحمد.لايرثَالقاتلَمنَالمقت ولَشيئًا
Artinya :
“ Pembunuh tidak berhak mewarisi dari orang yang dibunuh. (HR. Ahmad)
َرواهَالبخارىَومسلم.لايرثَالمسلمَالكافرَولاَالكافرالمسلم
Artinya :
“ Tidaklah orang muslim mewarisi dari orang kafir, begitu juga orang kafir tidak
mewarisi orang muslim (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua hadits tersebut men-takhsis keumuman surat An-Nisa: 11 yang berbunyi
sebagai berikut.
)33 : (الىّساء...
Artinya :
“ Allah mensyari'atkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-
anakmu. (yaitu) bagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak
perempuan”.... (QS. An-Nisa : 11)
3. Bayan at-Tasyri’
Kata tasyri‟ berarti pembuatan, mewujudkan, atau menetapkan aturan atau hukum. Yang
dimaksud dengan bayan tasyri‟ adalah penjelasan hadits yang berupa mewujudkan,
mengadakan atau menetapkan suatu hukum atau aturan syarak yang tidak didapati nashnya
dalam Al-Qur‟an Nabi Muhammad SAW berusaha menunjukkan suatu kepastian hukum
terhadap beberapa persoalan yang muncul pada saat itu dengan sabdanya sendiri. Beliau
berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para sahabat dengan menunjukkan
bimbingan dan menjelaskan duduk persoalannya.
Hadits-hadits yang termasuk dalam kelompok ini, diantaranya hadits tentang penetapan
haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antara istri dan bibinya), hukum syuf‟ah,
hukum merajam pezina wanita yang masih perawan, dan hukum tentang hak waris bagi seorang
anak.
Contoh hadits yang berfungsi sebagai bayan at-Tasyri‟
)نهىَرسولَاللَصلىَاللَعليوَوسلمَعنَكلَذيَنابَمنَالسباعَ(رواهَمسلمَغنَابىَعبّاس
Artinya :
“Rasulullah SAW melarang memakan tiap-tiap binatang buas yang mempunyai taring” (HR.
Muslim dari Ibnu Abbas).
Bayan ini oleh sebagian ulama disebut juga dengan bayan za‟id „ala al-Kitab al-Karim
(tambahan terhadap nas Al-Qur‟an) isebutkan tambahan karena sebenarnya dalam l-Qur‟an
ketentuan-ketentuan pokoknya sudah ada. Misalnya, hadits tentang haramnya binatang-binatang
buas dan keledai jinak (khimar ahliyah). Masalah ini, ketentuan pokoknya sudah ada,
sebagaimana disebutkan dalam QS. Al- ‟raf : 157 engan demikian menurut mereka
sebagaimana dikatakan Abu Zahrah, tidak ada satu hadits pun yang berdiri sendiri tanpa ada
aturan pokoknya dalam Al-Qur‟an
Hadits yang termasuk bayan at-Tasyri‟ ajib diamalkan sebagaimana ke ajiban
mengamalkan hadits-hadits lainnya. Ibnu Al-Qayyim berkata bahwa hadits-hadits yang berupa
tambahan terhadap Al-Qur‟an merupakan ke ajiban atau aturan yang harus diataati, tidak boleh
ditolak atau diingkari. Nabi Muhammad SAW tidak mendahului Al-Qur‟an, melainkan semata-
mata karena perintah-Nya.
9
4. Bayan Naskh
Secara etimologi, nasakh memiliki beberapa arti, di antaranya; menghapus dan
menghilangkan, mengganti dan menukar, memalingkan dan merubah, menukilkan dan
memindahkan sesuatu. Sedangkan dalam terminologi studi hadis, bayān nasakh
adalah penjelasan hadis yang menghapus ketentuan hukum yang terdapat dalam
Al-Qur‟an Hadis yang datang setelah l-Qur‟an menghapus ketentuan-ketentuan lQur‟an
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya hadis menasakh Al-
Qur‟an Ulama yang membolehkanpun juga berbeda pendapat tentang
kategori hadis yang boleh menasakh Al-Qur‟an Para ulama mengemukakan contoh
hadis:
Artinya: “Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” HR b ā ud)
Hadis tersebut me-nasakh ketentuan dalam QS. Al-Baqarah [2]:180 :
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara
kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat
dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orangorang yang bertakwa.” (QS.
AlBaqarah [2]: 180.
Menurut para ulama yang menerima adanya nasakh hadis terhadap Al- Qur‟an,
hadis di atas menasakh kewajiban berwasiat kepada ahli waris, yang dalam ayat di atas
dinyatakan wajib. Dengan demikian, seseorang yang akan meninggal dunia tidak wajib
berwasiat untuk memberikan harta kepada ahli warisnya, karena ahli waris itu akan
mendapatkan bagian harta warisan dari yang meninggal tersebut.
10
MATERI PEMBELAJARA 4
SEJARAH PERKEMBANGAN & PERTUMBUHAN HADIS
Hadis pada
masa Sahabat
Hadis pada Sejarah Hadis
masa Perkembangan dan pada masa
Rasulullah Pertumbuhan Tabi'in
Saw. Hadis
Hadis pada
masa Kodifikasi
A. Hadis pada masa Rasulullah Saw
Sebagai Nabi dan Rasul Allah, Muhammad Saw., dibekali berbagai keistimewaan, di antaranya
adalah mukjizat al-Qur‟an serta keluhuran akhlak Selama bertugas sebagai Nabi dan Rasul,
Muhammad Saw. mengajarkan nilai-nilai Islam sebagai dasar pembangunan peradaban Islam yang
mulia. Selain itu, sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad Saw. adalah sosok sentral, sosok panutan
bagi umat Islam di saat itu dan di kemudian hari. Apa yang Nabi Muhammad Saw. katakan adalah
perkataan yang bernilai yang dijalankan. Apa yang Nabi Muhammad Saw. lakukan adalah sesuatu
yang baik dan kemudian dicontoh. Dan apa yang Nabi Muhammad Saw. tetapkan adalah ketetapan
yang baik dan kemudian dipatuhi.
Metode Rasulullah Saw. dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam adakalanya
melalui perkataan (aqwāl), perbuatan (af‟āl), maupun ketetapan (taqrīr). Oleh
karenanya apa yang dilihat oleh ataupun disaksikan oleh para sahabat baik berupa
perkataan, perbuatan maupun taqrīr Nabi merupakan landasan bagi amaliyah seharihari mereka.
Nabi Muhammad Saw. di mata para sahabatnya adalah idola yang paling
sempurna. Rasulullah Saw. merupakan sentral kehidupan keagamaan dan keduniawian.
Pada masa Rasulullah Sawصmasih hidup, perhatian para sahabat lebih terkonsentrasikan
pada Al-Qur‟an i antara para sahabat yang pandai menulis ditugasi beliau Saw
untuk menulis Al-Qur‟an Penulisan l-Qur‟an pada aktu itu masih sangat sederhana
yakni ditulis di atas pelepah kurma, kulit binatang, dan batu-batuan. Sedangkan hadis
pada saat itu secara umum tidak tercatat. Namun hadis diterima dengan mengandalkan
hapalan para sahabat Nabi, dan hanya sebagian hadis yang ditulis oleh para sahabat Nabi.
Sejumlah sahabat Nabi telah menulis hadis Nabi, misalnya Abdullah bin 'Amr bin
as-'As (w.65 H/685 M) dengan catatannya yang diberi nama al-Ṣādiqah, bdullah bin
bbas H 7 M), li bin bi ālib H 1 M), Sumrah Samurah) bin
Jundab (w . 60 H), Jabir bin 'Abdullah (w. 78H/697 M), dan 'Abdullah bin Abi Auf (w.
86 H). Walaupun demikian tidaklah berarti bahwa seluruh hadis telah terhimpun dalam
11
catatan para sahabat tersebut. Catatan-catatan hadis tersebut di samping sebagai dokumen
bahwa pada masa Nabi telah terjadi aktivitas penulisan hadis juga dapat digunakan
sebagai sarana periwayatan hadis secara tertulis. Meskipun jarang, periwayatan hadis
secara tertulis pada masa ini juga pernah dilakukan.
Dengan demikian, hadis Nabi yang berkembang pada zaman Nabi (sumber aslinya),
lebih banyak berlangsung secara hapalan ketimbang secara tulisan. Penyebabnya adalah
Nabi sendiri melarang para sahabat untuk menulis hadisnya, di samping orang-orang
Arab sangat kuat hafalannya dan suka menghafal, dan ada kehawatiran bercampur
dengan al-Qur'an. Dengan kenyataan ini, sangat logis sekali bahwa tidak seluruh hadis
Nabi terdokumentasi pada zaman Nabi secara keseluruhan.
B. Hadis pada masa Sahabat Khulafaur Rasyidin
Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, para sahabat tidak dapat lagi mendengar sabdasabdanya,
tidak bisa lagi melihat perbuatan-perbuatannya dan hal-ihwalnya secara
langsung. Untuk mengenangnya dan melestarikan ajaran-ajarannya, periwayatan hadis
mulai berkembang dari para sahabat kepada kaum muslimin lainnya. Para sahabat
yang diibaratkan laksana meneguk air yang jernih yang langsung dari sumbernya, mereka
berkomitmen untuk tidak mendustakan Nabi Muhammad Saw.. Mereka adalah orangorang pilihan
yang rela mengorbankan segenap harta, jiwa dan raga untuk dakwah Islam.
Periode perkembangan hadis pada masa ini dikenal dengan zaman al-Tasabbut wa
al-Iqlāl min ar-Riwāyah, yakni periode membatasi hadis dan menyedikitkan riwayat
yang terjadi diperkirakan antara tahun 12-40-an H. Hal ini dilakukan karena para sahabat
pada periode ini lebih berkonsentrasi terhadap pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur‟an
Hal ini sangat nampak dilakukan oleh para sahabat besar khususnya adalah Khulafā arRāsyidūn
b akar as-Ṣidd q, „Umar bin al-Khat t hāb, „Usmān bin ffān, dan „ li bin
bi ālib ra ). Sebagai akibatnya, periwayatan hadis kurang mendapat perhatian, bahkan
mereka berusaha untuk selalu bersikap hati-hati dan membatasi dalam meriwayatkan
hadis.
Kehati-hatian dan pembatasan dalam meriwayatkan hadis yang dilakukan oleh para
sahabat ini lebih disebabkan adanya kekhawatiran akan terjadinya kekeliruan dalam
meriwayatkan hadis. Karena hadis menduduki posisi kedua setelah Al-Qur‟an dalam
Islam, ia harus selalu dijaga keotentikannya sebagaimana penjagaan terhadap Al-Qur‟an
Oleh sebab itu, para sahabat khususnya Khulafā ar-Rāsyidūn dan para sahabat lainnya
berusaha keras untuk memperketat periwayatan hadis. Para sahabat menyampaikan
dan menjaga hadis dengan hati-hati supaya tidak terjadi kesalahan dengan cara tidak
meriwayatkan kecuali pada saat dibutuhkan melalui penelitian yang mendalam.
C. Hadis pada masa Tabi‟in
Sama halnya seperti yang dilakukan oleh para sahabat, para tabi‟in juga berhatihati dalam
peri ayatan hadis eban tabi‟in tidak terlalu berat jika dibandingkan
dengan beban yang dihadapi para sahabat. Pada masa ini, Al-Qur‟an telah berhasil
dikumpulkan dalam satu mushaf, sehingga tidak lagi menghawatirkan bercampurnya
periwayatan hadis. Selain itu, pada akhir periode masaKhulafā ar-Rāsyidūn, para ahli hadis telah
menyebar ke beberapa ilayah kekuasaan Islam Ini memudahkan para tabi‟in untuk mempelajari
hadis-hadis dari mereka. Ini terjadi sekitar tahun 41 H hingga akhir abad ke-1 H. Kondisi
ini juga berimplikasi terhadap penyebaran hadis ke berbagai wilayah Islam. Oleh karena
itu, masa ini disebut dengan masa menyebarnya periwayatan hadis („Asr Intisyār ar- Riwāyah),
yakni masa di mana hadis tidak hanya terpusat di Madinah tetapi sudah
diriwayatkan di berbagai daerah dengan tokoh para sahabat. Kekuasaan Islam semakin
luas anyak sahabat atau tabi‟in yang pindah dari Madinah ke daerah-daerah yang
12
baru dikuasai, di samping masih banyak pula yang tinggal di Mekah dan Madinah. Para
sahabat pindah ke daerah baru disertai dengan membawa perbendaharaan hadis yang
ada pada mereka sehingga hadis-hadis tersebut tersebar ke berbagai daerah.
D. Hadis pada masa Kodifikasi
Periode ini juga disebut dengan „Asr al-Kitābah wa at-Tadwīn. Kodifkasi (tadwīn)
hadis dalam periode ini adalah pembukuan secara resmi yang didasarkan pada
perintah kepala negara. Kodifkasi hadis secara resmi terjadi pada penghujung abad
ke-1 Hijriah, ketika khalifah „Umar bin bdul „ (w. 101 H) memerintah. Keinginan
mengkodifkasikan hadis ini sebenarnya telah timbul ketika ia menjabat sebagai gubernur
di Madinah (86- 93 H) pada zaman al-Walid bin bdul Mālik berkuasa
Setelah „Umar bin bdul „ memerintah 99-101 H), beliau menginstruksikan
kepada seluruh ulama pada saat itu untuk menghimpun hadis nabi yang tersebar di
berbagai wilayah Islam. Mandat tentang kodifkasi hadis secara resmi ini diwujudkan
dalam bentuk surat perintah, yang isinya memerintahkan agar seluruh hadis Nabi di
masing-masing daerah segera dihimpun. Instruksi secara khusus disampaikan kepada Abu Bakar
bin Muhammad ibn Amr ibn a m gubernur Madinah, 117 H) agar mengumpulkan hadis yang
ada pada mrah binti bdurrah man al- ns ari murid kepercayaan Siti „ isyah) dan al-Qasim
bin Muhammad bin Abi Bakar (w. 107 H). Instruksi yang sama juga disampaikan kepada
Muh ammad bin Syihāb a -Zuhr 12 H), yang dipandang sebagai orang yang lebih
banyak mengetahui hadis dari pada yang lain.
E. Kitab-kitab pokok Hadis Nabi
Kitab-kitab Hadis yang merupakan hasil kodifikasi pada abad ke 2 Hijriyah adalah:
1. Kitab al-Muwaththa‟. Kitab ini disusun oleh Imam Malik Ibn Anas atas
permintaan khalifah bu Ja‟far al-Manshur, seorang khalifah dari bani Abbasiyah.
2. Kitab musnad al-Syafi‟i. kitab ini merupakan kumpulan hadis-hadis yang terdapat
dalam kitab al-um, karya imam Syafi‟i 3. Kitab Muhkatalif al-Hadis. Kitab ini juga
merupakan hasil karya imam Syafi‟I yang isinya terdiri atas pembahasan tentang tata cara
menerima hadis sebagai hujjah dan tata cara mengkompromikan hadis yang terlihat kontradiktif
antara satudengan yang lain.
4. Kitab Sirah al-Nabawiyah. Karya Ibn Ishaq ini berisi tentang perjalanan hidup
Nabi dan berbagai peperangan yang terjadi pada masa beliau
13
MATERI PEMBELAJARAN 5
PROSES KODIFIKASI HADIS YANG DILAKUKAN ULAMA
Peta Konsep
Kodifikasi Pengertian
Hadis
yang Faktor-faktor Pendorong
dilakukan
Para Kegiatan Kodifikasi
Ulama
Kitab-kitab Hadis hasil
Kodifikasi
A. Pengertian Kodifikasi Hadis
Kodifikasi secara bahasa berasal dari bahasa Inggris codification yang berarti penyusunan menurut
aturan atau system tertentu. Berasal dari bahasa Arab juga yaitu tadwin yang berarti perekaman,
penulisan, pembukuan, pendaftaran.
Yang dimaksud kodifikasi hadis secara istilah adalah penulisan hadis Nabi yang disusun menurut
aturan dan system tertentu dan diakui oleh masyarakat.
B. Faktor-faktor Pendorong Kodifikasi Hadis
Kodifkasi hadis secara resmi terjadi pada penghujung abad ke-1 Hijriah, ketika khalifah „Umar bin
bdul „ 1 1 H) memerintah. Ada beberapa hal yang mendorong Umar bin Abdul Aziz
memerintahkan kodifikasi hadis, yaitu :
1. Beliau khawatir akan hilang dan lenyapnya hadis.
2. Keinginan untuk memelihara dan membersihkan hadis dari hadis-hadis palsu maudlu‟)
3. Al-Qur‟an telah dibukukan dalam satu mushaf
4. Berkurangnya jumlah Ulama Hadis akibat peperangan.
C. Kegiatan Kodifikasi Hadis
Di dalam catatan sejarah umat Muslim, bahwa Islam dan ajarannya mengalami
kemajuan pada zaman klasik (650- 1250 M). Dan puncak kemajuan terjadi sekitar tahun
(650- 1000 M). Ulama besar yang hidup pada masa keemasan ini jumlahnya cukup banyak,
baik ulama yang menguasai di sudut bidang tafsir, hadis, fiqh, ilmu kalam, falsafah, tasawuf,
kedokteran, sejarah, algoritma maupun di bidang pengetahuan umum. Periode klasik berakhir
sampai Baghdad jatuh di tangan Hulagu Khan.
Berdasarkan bukti dari catatan sejarah ini, periwayatan, perkembangan dan
pertumbuhan pengetahuan pasca kodifikasi (tadwin) hadis berjalan seiring dengan
perkembangan pengetahuan lainnya. Ajaran hadis ikut mendorong kemajuan pesat dalam
berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam bagi umat di dunia. Karena hadis Nabi,
sebagaimana halnya al-Qur‟an telah memerintahkan agar umat Islam beriman kepada Allah
dan menuntut ilmu pengetahuan walau hingga ke negeri cina sekalipun.
14
• Masa pertama Penulisan Hadis • Abad Ke 1
• Masa Kedua Nabi Saw. • Abad Ke 2
• Abad Ke 3
Pengumpulan • Secara menyeluruh
Hadis Nabi Saw. • Secara terpisah Pembukuan
Hadis Nabi Saw.
D. Kitab-kitab hasil Kodifikasi Para Ulama
Kitab-kitab hadis al- mu‟tabarah as-sittah : Kitab-kitab hadis al- mu‟tabarah at-tis‟ah:
1. Shahih Bukhari 1. Shahih Bukhari
2. Shahih Muslim 2. Shahih Muslim
3. Sunan Abi Dawud 3. Sunan Abi Dawud
4. Sunan An-Nasa‟i 4. Sunan An-Nasa‟i
5. Sunan At-Tirmidzi 5. Sunan At-Tirmidzi
6. Sunan Ibnu Majjah 6. Sunan Ibnu Majjah
7. Sunan Ad-Darimi
8. Al-Muwatta‟ Imam Malik
9. Musnad Ahmad bin Hanbal
15
Pengelompokan Kitab-kitab Hadis :
No. Kelompok kitab Definisi Contoh kitab Hadits
1. Al-Jami‟ Kitab yang mencakup semua permasalahan - Kitab Shahih Bukhari
agama, yaitu : masalah aqidah, fiqh, riqab, - Kitab Shahih Muslim
adab, sejarah, akhlak, manaqib dan mashalib
Kitab yang di dalamnya hanya menyebutkan - Sunan Abi Dawud
2. As-Sunan hadits-hadits dari Nabi saja yang terdiri atas - Sunan At-Tirmidzi
bab-bab fiqhiyah, dan tidak menyebutkan - Sunan An-Nasa‟i
khabar dan atsar. - Sunan Ibnu Majah
3. Al-Musannaf Penghimpunan hadits-hadits yang relevan - Al-Mushannaf karya Abu
dalam satu bab, kemudian dihimpun dari Bakar Abdur Razak bin
beberapa bab atau beberapa kitab itu ke Hammam as-San‟ani
dalam sebuah mushannaf.
Kitab yang memuat hadits-hadits yang tidak - Al-Mustadrak „alaa
4. Al-Mustadrak dimuat dalam kitab-kitab tertentu yang shahihaini karya Abi
sebenarnya hadits-hadits tersebut memenuhi Abdillah al-Hakim an-
syarat yang ditetapkan oleh penulis kitab. Nisaburi
Kitab hadits yang memuat matan hadits- - Al-Mustakhraj „alaa
5. Al-Mustakhraj hadits yang diambil dari kitab hadits lain Shahihaini bu Nu‟aim al-
yang oleh penulisnya diriwayatkan dengan Asbahani
sanad yang berbeda dari sanad kitab semula.
Kitab hadits yang di dalamnya terhimpun - Musnad Imam Ahmad bin
6. Al-Musnad berbagai macam hadits tanpa menyaring dan Hanbal
menerangkan kualitas-kualitasnya apakah
shahih atau tidak.
Kitab hadits yang disusun berdasarkan nama - Al-Mu‟jam l-Kabir karya
7. Al-Mu‟jam periwayat (sahabat atau syeikh), negeri asal Abu Qasim Sulaiman At-
guru, nama kabilah atau nama kota. Thabrani
16
PENILAIAN PENGETAHUAN KD 5
KODIFIKASI HADIS YANG DILAKUKAN ULAMA
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1. Secara bahasa, kata mu‟tabarah berarti…
A. Diperhitungkan D. Masyhur
B. Diungkapkan E. Peninggalan
C. Baru / kontemporer
2. Secara resmi kodifikasi hadis terjadi atas perintah …
A. Umar bin Khattab
B. Utsman bin Affan
C. Ali bin Abi Thalib
D. Umar bin Abdul Aziz
E. Sufyan Ats-Tsauri
3. Secara istilah, kitab-kitab al-mu‟tabarah dapat diartikan sebagai…
A. Kitab-kitab yang diakui dan digunakan oleh para ulama sebagai rujukan dalam merumuskan hukum.
B. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan syariat Islam untuk menjawab permasalahan yang berkembang.
C. Kitab-kitab yang masyhur dan banyak dipelajari di pondok-pondok pesantren salafi maupun modern.
D. Kitab-kitab kontemporer sebagai hasil dari pengkajian para alim ulama dan para cerdik cendekia.
E. Kitab-kitab yang dirumuskan oleh para ulama agar generasi muda tidak meninggalkan tradisi lama.
4. Sebagian ulama sepakat bahwa kitab hadits yang pokok ada lima (kutub al-khamsah), sedangkan sebagian
ulama yang lain menetapkan enam kitab hadits pokok yang dikenal dengan sebutan kutub as-sittah, dengan
menambahkan kitab Sunan Ibnu Majjah. Ulama yang pertama yang menjadikan kitab Sunan Ibnu Majjah
sebagai kutub as-sittah adalah…
A. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani D. Al-Hafidz Abdul Qadir al-Jailani
B. Al-Hafidz Abdul Gani bin al-Wahid E. Al-Hafidz al-Baghdadi
C. Al-Hafidz Abdul Fadli bin Tahir al-Maqdisi
5. Di bawah ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah hadits shahih menurut Imam al-Bukhari,
kecuali…
A. Sidiq, berakal sehat, tidak mudallis. Pera i mu‟assirah, liqo‟ dan tsubut sima‟ihi
B. Tidak syad dan tidak berillat. E. Berakal sehat, kidzib dan sanadnya terputus.
C. Harus ittishal sanadihi.
6. Al-Jami‟ al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min umuuri Rasulillahi saw. wa Sunanihi wa Ayyamihi
) (اَ ْل َجا ٍمع ا ْل ُم ْسىَد ا ْل َص ِح ْيحِ ا ْل ُم ْختَ َصر ِم ْه أُ ُم ْى ِر َر ُس ْى ِل اللهِ َص َّلى اللهُ َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َو ُس َى ِى ِه َوأَ َّيا ِم ِهadalah judul lengkap
kitab…
A. Shahih Bukhari D. Sunan Ad-Darimi
B. Shahih Muslim E. Musnad Ahmad bin Hanbal
C. Sunan Ibnu Majjah
7. Kitab-kitab al-mu‟tabarah selain sangat berguna bagi umat Islam, juga mampu menginspirasi Ulama-ulama
yang lain untuk menyusun kitab yang sejenis atau menyusun kitab-kitab syarah sebagai pemapar dan
penjelas. Kitab Fathul Bari‟ karya al-Hafidz Ibnu Hajar al- tsqalani adalah syarah dari kitab…
A. Shahih Bukhari D. Sunan An-Nasai‟
B. Shahih Muslim E. Sunan At-Turmudzi
C. Sunan Abu Dawud
8. Menurut sebagian Ulama, Pentakhrij hadits yang paling unggul dalam sistematika penulisan kitab hadits
adalah…
A. Imam Bukhari D. Imam An-Nasai‟
B. Imam Muslim E. Imam At-Turmudzi
C. Imam Abu Dawud
9. Ketika menjelaskan suatu permasalahan hukum, Imam Abu Dawud dalam kitabnya juga meriwayatkan
hadits dengan sanad dha‟if (yang diberi komentar) jika tidak terdapat hadits lain selainnya. Alasan beliau
mencantumkan hadits dha‟if tersebut adalah…
A. Karena hadits tersebut tidak terlalu lemah. D. Lebih baik daripada pendapat orang semata.
B. Hadits-hadits tersebut masih ada manfaatnya E. Sayang kalau dibuang begitu saja.
C. Karena tidak menemukan yang lebih shahih.
17
10. Kitab Sunan An-Nasai‟ karya Imam n-Nasai‟ terbagi dua, yaitu Sunan al-Kubra dan sunan as-Sugra. Kitab
sunan as-Sugra disebui juga…
A. Sunan al-Kabir D. Sunan al-Mujtaba‟
B. Sunan as-Shagir E. Sunan al-Uula
C. Sunan al-Wasath
11. Perhatikan biografi mukharrij hadis berikut!
Tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya. Namun pada suatu ketika, ibunya bermimpi
melihat Nabi Ibrahim berkata kepadanya : “Wahai ibu, sesungguhnya llah telah memulihkan penglihatan
putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya” Pagi harinya dia dapati penglihatan
anaknya telah sembuh.
Sepenggal kisah di atas adalah bagian dari biografi…
A. Imam Nasa‟i
B. Imam tirmidzi
C. Imam bukhari
D. Imam Abu Dawud
E. Imam Ahmad bin Hanbal
12. Perhatikan biografi tokoh hadis berikut!
Tokoh ini dilahirkan di Naisabur, Iran pada tahun 204 H. Tidak ada informasi yang menjelaskan siapa dan
bagaimana keluarganya. Menurut sebuah sumber, dia berasal dari keluarga saudagar yang bernasib baik,
memiliki reputasi dan sikap yang ramah. Al-Dzahabi menyebut keluarganya dengan sebutan Muhsin
Naisabur (dermawan Naisabur). Dia mulai mempelajari hadis pada usia 12 tahun. Selain aktif belajar dan
mengajar ilmu hadis dia juga aktif menulis berbagai kitab di antaranya al-Jami‟ as-Sahih. Dia wafat pada
Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin,
25 Rajab 261 H / 5 Mei 875 M. dalam usia 55 tahun.
Nama tokoh dalam biografi di atas adalah …
A. Imam Bukhari
B. Imam Muslim
C. Imam Tirmidzi
D. Imam an-Nasai
E. Imam Malik bin Anas
13. Perhatikan biografi tokoh hadis berikut!
Tokoh ini lahir di kota Madinah pada tahun 93 H, yang bertepatan dengan tahun meninggalnya sahabat Anas
bin Malik ra. Ia mendapat sebutan (kunyah) Abu Abdillah. Dia hidup di lingkungan keluarga yang mencintai
ilmu. Di usia yang masih sangat belia dia telah menghafal Al-Qur‟an , menghafal sunnah Rasul sa ,
menghadiri majelis para ulama dan berguru pada salah seorang ulama besar pada masanya, yaitu
Abdurrahman bin Hurmuz. Dia merupakan seorang ulama yang produktif dalam menulis kitab. Salah satu
karya monumentalnya adalah kitab al-Muwaṭṭa‟ yang disusun selama 40 tahun. Dia meninggal dunia pada
usia 85 tahun dan dimakamkan di Baqi`, Madinah al-Munawwarah.
Dari biografi di atas, tokoh yang dimaksud adalah …
A. Ahmad bin Hanbal
B. Malik bin Anas
C. Abu Dawud
D. An-Nasa‟i
E. Muslim
14. Perhatikan nama-nama kitab hadis berikut!
1) Shahih Bukhari
2) Al-Kafi Al-Kulaini
3) Sunan Ibnu Majah
4) Musnad Imam Syafi‟i
5) Hadis „arba‟in
6) Sunan an-Nasa‟i
7) Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah
18
Nama-nama kitab di atas yang tidak termasuk kategori kitab hadis al-mu‟tabarah adalah…
A. 1, 2, 3 dan 4
B. 4, 5, 6 dan 7
C. 2, 4, 5 dan 7
D. 3, 4, 5 dan 6
E. 1, 3, 5 dan 6
15. Perhatikan pernyataan berikut!
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, Imam Bukhari menyebutkan judul bab untuk mengungkap kandungan hadis
tanpa menyebutkan hadis penguatnya. Imam Bukhari memotong hadis sesuai dengan tema bab, sehingga kita
akan sering menemui pengulangan satu hadis dalam Shahih al-Bukhari. Sementara dalam kitab Shahih al-
Muslim, Imam Muslim menuliskan satu hadis secara utuh. Imam Muslim menuliskan satu hadis pokok,
kemudian beliau menambahkan hadis-hadis penguat lain untuk menjelaskan kandungan ilmu dari hadis
tersebut.
erdasarkan keterangan tersebut maka …
A. Kitab Shahih Bukhari lebih sistematis daripada Kitab Shahih Muslim
B. Kitab Shahih Muslim penulisannya lebih sistematis daripada Shahih Bukhari
C. Kitab Shahih Muslim memuat jumlah hadis yang lebih banyak dari Shahih Bukhari
D. Kitab Shahih Bukhari memuat semua aspek agama, sedangkan Shahih Muslim memuat bab-bab fiqih
saja
E. Imam Bukhari mencantumkan semua hadis yang dihafalkannya, Imam Muslim tidak mencantumkan
semua hadis yang dihafalnya
16. Perhatikan pernyataan berikut!
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, Imam Bukhari menyebutkan judul bab untuk mengungkap kandungan hadis
tanpa menyebutkan hadis penguatnya. Imam Bukhari memotong hadis sesuai dengan tema bab, sehingga kita
akan sering menemui pengulangan satu hadis dalam Shahih al-Bukhari. Sementara dalam kitab Shahih al-
Muslim, Imam Muslim menuliskan satu hadis secara utuh. Imam Muslim menuliskan satu hadis pokok,
kemudian beliau menambahkan hadis-hadis penguat lain untuk menjelaskan kandungan ilmu dari hadis
tersebut.
erdasarkan keterangan tersebut maka …
A. Kitab Shahih Bukhari lebih sistematis daripada Kitab Shahih Muslim
B. Kitab Shahih Muslim penulisannya lebih sistematis daripada Shahih Bukhari
C. Kitab Shahih Muslim memuat jumlah hadis yang lebih banyak dari Shahih Bukhari
D. Kitab Shahih Bukhari memuat semua aspek agama, sedangkan Shahih Muslim memuat bab-bab fiqih
saja
E. Imam Bukhari mencantumkan semua hadis yang dihafalkannya, Imam Muslim tidak mencantumkan
semua hadis yang dihafalnya
19
MATERI PEMBELAJARAN 6
PEMBAGIAN HADIS BERDASARKAN KUANTITAS
(HADIS MUTAWATIR & HADIS AHAD)
A. HADIS MUTAWATIR
20
B. HADIS AHAD
HADIS HADIS
AHAD MASYHUR
HADIS AZIZ
HADIS
GHARIB
21
22
23
PENILAIAN KD 6
PEMBAGIAN HADIS DARI SEGI KUANTITAS (MUTAWATIR & AHAD)
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1. Perhatikan definisi berikut ini :
ا ٌْ َى ِز ِةٍَٝ ُْ َعِٙ ا ُط ِئَٛ َ تَٚ ُْ ِٙ ا ٌْ َعبدَ ٍح اٍ َدبٌَخُ اِ ْجتِ َّب ِعِٝاُٖ َعذَدٌ َج ٌُّ فَٚ َسْٞ ٍط اٌّ ِزْٛ ج َع ْٓ َِ ْذ ُغ٠ْ اٌذ ِذ
Kalimat di atas adalah definisi dari …
b. Hadits Shahih C Hadits la‟if E. Hadits Ahad
c. Hadits Hasan D. Hadits Mutawatir
2. Perhatikan definisi berikut ini :
اتُ ِشَٛ َّ ِط اٌتْٚ ُش ُشٍَٝ َعْٞ ِٛ َ ْذت٠َ َِب ََلَٛ ُ٘
Kalimat di atas adalah definisi dari …
A. Hadits Shahih C Hadits la‟if E Hadits had
B. Hadits Hasan D. Hadits Mutawatir
3. Bentuk tahammul hadits (penerimaan haditsnya) orang yang meriwayatkan mengatakan “kami telah
mendengar”, “kami telah melihat”, atau “kami telah merasakan” entuk sandaran tersebut adalah …
a. Sandaran beritanya ma‟na y
b. Sandaran beritanya lafdzy
c. Sandaran beritanya inderawy
d. Sandaran beritanya hukmy
e. Sandaran beritanya khayaly
4. Hadits yang susunan redaksi atau lafalnya berbeda-beda antara periwayat satu dengan yang lainnya, tetapi
prinsip maknanya sama disebut hadits …
a. Gharib mutlak D. Mutawatir lafdi
b. Gharib nisby E Muta atir ma‟na i
c. Masyhur
5. Salah satu kitab yang isinya tentang hadits mutawatir adalah kitab Al-Azhar al-Mutanaasirah fii al-Akhbar al-
Muta atirah yang ditulis oleh …
a. Jalaluddin as-Suyuti D. Muhammad Abduh
b. Mahmud at-Tahhan E Muhammad bin Ja‟far al-Kinani
c. Ibnu Hajar al-Atsqalani
6. Perhatikan definisi berikut ini :
ٌاُٖ َث ْعذَ را ٌِ َه َج َّب َعخَٚ ا ِدذَحٍ حُ َُّ َسَٚ َطجَ َم ٍخْٟ ِ َوب َْ فْٛ ٌََٚ ْاُٖ احْ َٕبَٚ َسْٞ ُج اٌَّ ِز٠ْ ا ٌْ َذ ِذَٛ ُ٘ ُض٠ْ ُج ا ٌْ َع ِض٠ْ اَ ٌْ َذ ِذ
rti kata yang bergaris ba ah adalah …
a. Diriwayatkan oleh satu orang D. Diriwayatkan oleh empat orang
b. Diriwayatkan oleh dua orang E. Diriwayatkan oleh jamaah
c. Diriwayatkan oleh tiga orang
7. Perhatikan matan hadits berikut : أْ َِ ْم َعذَُٖ ِِ َٓ إٌَّب ِسَّٛ ََتَج١ٍْ َ ُِتَ َع ِّّذًا فَّٟ ٍََِ ْٓ َوزَ َة َع
Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits di atas diriwayatkan oleh 40 sahabat dengan susunan redaksi dan
makna yang sama dan terakhir diriwayatkan oleh hampir semua imam al-kutub as-sittah, maka hadits di atas
merupakan contoh …
a. Hadits Mutawatir D. Hadits Aziz
b. Hadits Ahad E. Hadits Gharib
c. Hadits Masyhur
8. Perhatikan hadits berikut ini :
ِٓ ا ِص ًِ َع ْٓ ُِ َذب ِس ِة ث ِٓ ِدحَب ٍس َع ِٓ ا ْث ِٓ ُع َّ َش َعَٚ ٓ ٍذ َدذَّحَ َٕب ُِ َذ َّّ ْذ ثٓ َخب ٌِ ٍذ َع ْٓ ُِعَ ِّش ِف ث١ْ َشثٓ ُعج١ْ َِدذَّحََٕب َوخ
) دٚ داٛاٖ اثٚ (س. اللهِ اٌ َّط ََل ُقٌَٝ أَ ْث َغ ُض ا ٌْ َذ ََل ِي ِا: َعٍَّ َُ لَب َيَٚ ِٗ ١ْ ٍَ الله َعٍَِّٝ َصّٟ إٌَّ ِج
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Ubaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Khalid dari Mu‟arrif bin Washil dari Muharib bin itsar dari Ibnu Umar ra dari Nabi sa bersabda :
“perkara halal yang paling dibenci oleh llah s t adalah thalak ” HR bu a ud)
Hadits di atas merupakan contoh hadits masyhur di kalangan …
24
a. Ahli hadits (muhaddisin) D. Ahli hukum / fiqih (fuqaha)
b. Ahli tafsir (mufassirin) E. Ahli bahasa
c. Ahli ushul (ushuliyyin)
9. Perhatikan hadits berikut :
إٌَّب ِطَٚ ِٖ ٌَ ِذَٚ َٚ ِٖ ا ٌِ ِذَٚ ْٓ ِِ ِٗ ١ْ ٌَ َْ اَ َد َّت ِاْٛ اَ ُوٌَّٝ ْؤ ِِ ُٓ اَ َدذُ ُو ُْ َدت٠ ََل: َُ ٍَّ َعَٚ ِٗ ١ْ ٍَ اللهُ َعٍَّٝ ُي اللهِ َصْٛ َلب َي َس ُع
.َٓ ١ْ اَ ْج َّ ِع
Hadits di atas, pada thabaqah sahabat hanya diriwayatkan oleh dua orang sahabat yaitu Abu Hurairah dan
Anas bin Malik walaupun pada thabaqah-thabaqah selanjutnya diriwayatkan oleh banyak periwayat, maka
hadits tersebut termasuk contoh …
a. Hadits Mutawatir D. Hadits Aziz
b. Hadits Shahih E. Hadits Gharib
c. Hadits Masyhur
10. Perhatikan bagan hadits berikut :
.ِْ َّب٠ْ ب ُء ُش ْعجَخٌ ِِ َٓ ا َْ ِل١َ ا ٌْ َذَٚ ً َْ ُش ْعجَخْٛ ُ َع ْجعَٚ َّب ُْ ِث ْض ٌع٠ْ اَ ِل: َُ ٍَّ َعَٚ ِٗ ١ْ ٍَ الله َعٍَّٝ َصُّٟ َلب َي إٌَّ ِج
Abu Hurairah
Abu Shalih
Abdullah bin Dinar
Sulaiman bin Bilal
Abdullah bin Muhammad Abd. Bin Humaid Abu Salmah
Al-Bukhari Muslim
Dengan malihat bagan, maka hadits di atas merupakan contoh …
a. Hadits Mutawatir D. Hadits Aziz
b. Hadits Ahad E. Hadits Gharib
c. Hadits Masyhur
Uraian
1. Dilihat dari segi jumlah orang yang meriwayatkan hadits, Jumhur ulama membagi hadits
menjadi dua macam, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Pembagian ini menyebabkan
perbedaan diterima atau ditolaknya sebuah hadits. Jelaskan perbandingan (perbedaan) antara
hadits mutawatir dan hadits ahad !
25
MATERI PEMBELAJARAN 7
PEMBAGIAN HADIS BERDASARKAN KUALITAS
(HADIS SHAHIH DAN HADIS HASAN)
Hadis ṣaḥīḥ
1. Pengertian hadis ṣaḥ ḥ
Kata ṣaḥ ḥ dalam bahasa diartikan sehat, yang dimaksud hadis ṣaḥ ḥ adalah hadis yang sehat dan
benar tidak terdapat penyakit dan cacat.
Hadis ṣaḥ ḥ menurut istilah ulama berbeda pendapat, namun secara umum pendapat mereka tidak
ada perbedaan yang jauh. Diantara pendapat para ulama tentang definisi hadis ṣaḥ ḥ adalah
sebagai berikut:
“Hadis yang dinukil (diriwayatkan) oleh periwayat yang adil , sempurna ingatan,
sanadnya bersambung-sambung, tidak ber‟illat dan tidak syad ”
26
MATERI PEMBELAJARAN 8
PEMBAGIAN HADIS BERDASARKAN KUALITAS
(HADIS DLA’IF)
1. Sebab putusnya sanad
a. Hadits Mursal
Menurut bahasa mursal berarti bebas dari ikatan.
Menurut istilah, hadits mursal adalah hadits yang putus sanadnya di akhir sanad
yaitu orang setelah tabi‟in (sahabat). Atau hadits diriwayatkan oleh tabi‟in langsung
dari Nabi.
Hadits mursal ada 3, yaitu :
1) Mursal Shahaby : seorang sahabat kecil meriwayatkan hadits dari Nabi, padahal
tidak menerima langsung dari Nabi.
Contoh : ٍََّٝص
َُ ٍَّ َعَٚ َْ َّذ٠ََّْٔ َثُٗ ٍَأََغ ْخا َجٌْ َ َىش ِذأَٝ ََدّتبَّ أُٙ ََْٕ افَللهُ َصبَع ْٓ َع
َخ َش َد ِٗ ١ْ ٍَع ُالله ِ َي اللهْٛ َس ُع ََْٟ ٍط َس ََِس ِ َضضبْٟ اا ْْثٌفَ ِتْٓخِ َعجَّفِب ََ َعب
.حُ َُّ أَ ْف َط َش
Hadits tersebut diriwayatkan oleh sahabat, yaitu Ibnu Abbas (Abdullah bin Abbas)
yang ketika kejadian itu terjadi masih kecil, yaitu tepatnya pada saat penaklukan
kota Mekah. Maka hadits di atas adalah hadits mursal sahaby.
27
2) Mursal Jali (Mursal Tabi‟iy): yaitu tabi‟in meriwayatkan langsung dari Nabi.
Contoh :
ب ٍةَٙ عَِع ْآٌْ ُاّ ْث َض ِآ َثَٕ ِِشخ١ْ َٓ ًٍث١ْْ َُعع َم ْٓ َع ُج١ْ ٌٍَّا َدذَّحَ َٕب َّٕٝ َ ُٓ ْث ُٓ ا ٌْ ُّخ١ْ َدذَّحََٕب ُد َج ْثا ْل ُٓ ُم َسَسايَّفِعٍِب ُ ُِ َذ َّّذِٕٝ ََدذَّح
َٝٙ َٔ َُ ٍَّ َعَٚ ِٗ ١ْ ٍَ َع ّل ّلاٍَّٝ َي ّل ّلا َصْٛ أَ َّْ َس ُع ْب ِه.َعا ٌْْٓ ُّ َذ َسب َِلع ٍَْي ِِخدَٚ
Hadits ini mursal tabi‟in, karena Sa’id ibnu al-Musayyab adalah tabi‟in kabir dan
tidak pernah mungkin bertemu Nabi.
3) Mursal Khafi: yaitu seorang rijal meriwayatkan hadits dari syeikh yang pernah
dijumpainya namun sebenarnya dia tidak pernah menerima hadits satu pun
dari syeikh tersebut dengan bentuk tahammul seakan dia menerima langsung.
Contoh :
َْث ِٓ ُِ َذ َّّ ِذ ْث ِٓ َصائِذَح ِع ْ َلٓب َي َص َلببٌِ َيخَّٟ ِٕ ذ١ٍْ ََّّٙ ا ٌُِْ َُذج َِعضب ِْثِ ٍ ُٓش٠ْ ْثعَ ِِٓض.ٌْ ِحِِسضأَ ْٔ َجَطَعأََْٔآبٌْ َذ ُعَع َْجْشق َبذُِ َتاط٠ْ َُِم َعَ َرذٍَّ ََُّّْثذُِ َٓس ْث ِدَُعٓ َُْجاِذٌّلاّل ٌْاُ َّصَعجَّ َِبدضبَٚٓحَ َِٕٗب ُع١ََََّْْععد ٍَذ
ّل ّلاٍَّٝ ُي ّل ّلا َصْٛ َس ُع
Hadits ini mursal khafi karena Umar hanya pernah bertemu Uqbah dan tidak
pernah mendapatkan hadits dari Uqbah sama sekali termasuk hadits ini sebenarnya
tidak diterimanya dari Uqbah.
b. Hadits Mu‟allaq
Secara istilah, hadits mu‟allaq adalah hadits yang terputus di awal sanad (gurunya
pentakhrij hadits) satu atau lebih berturut-turut.
c. Hadits Mu‟dhal
Hadits mu‟dhal adalah hadits yang putus sanadnya dua atau lebih berturut-turut.
d. Hadits Munqati‟
Adalah hadits yang putus sanadnya satu atau lebih tidak berturut-turut selain
sahabat.
28
MATERI PEMBELAJARAN 9
PEMBAGIAN HADITS BERDASARKAN SIFAT SANAD
SIFAT SANAD HADITS
MUTTASIL NAZIL
MUSNAD ‘ALI
MUSALSAL MU’AN’AN
Bagan di atas adalah pembagian hadits berdasarkan sifat sanad. Yang dimaksud sifat
sanad adalah apakah sanadnya menggunakan kata „an (ْٓ ) َعatau menggunakan kata
haddatsana () َدذَّحََٕب, apakah jumlah tabaqahnya banyak atau sedikit apakah sanadnya
sambung hingga kepada Rasulullah saw. atau sambung namun tidak sampai kepada
Rasulullah saw.
Berdasarkan sifat sanad, hadits terbagi enam, yaitu :
A. Hadits Muttasil
Menurut bahasa, muttasil artinya sambung.
Menurut istilah, hadits muttasil yaitu :
فًبْٛ ُلْٛ َِ ْٚ َ ِي أْٛ اٌ َّش ُعٌَِٝ ًعب إْٛ ُا ٌء أَ َوب َْ َِ ْشفَٛ َ ِت ِٗ َع٠ َغبٌََِِٝب اتَّ َص ًَ َع َٕذُُٖ إ
“Hadits yang sanadnya sambung pada akhir sanad baik berupa hadits marfu‟
(sampai kepada Nabi), atau mauquf.” (definisi Muhammad ‘Ajjaj).
B. Hadits Musnad
Hadits musnad adalah hadits yang sanad dan periwayatnya sambung hingga
kepada nabi Muhammad saw.
Dari definisi di atas, hadits musnad mempunyai dua syarat, yaitu :
1. haditsnya harus sampai kepada nabi saw. (marfu‟);
2. sanadnya sambung.
29
Contoh :
ٝ اٌ ِّضَٔب ِد َع ِٓ ا ْْلَ ْع َشدِ َع ْٓ أَ ِثِٝ ُع َف َع ْٓ َِب ٌِ ٍه َع ْٓ أَثْٛ ُ٠ ُٓ َدذَّحََٕب َع ْجذُ ّل ّلاِ ْث
إَِٔب ِءْٝ َعٍَّ َُ َلب َي إِرَا َش ِش َة ا ٌْ َى ٍْ ُت ِفَٚ ِٗ ١ْ ٍَ ّل ّلا َعٍَّٝ َي ّل ّلا َصْٛ َشحَ َلب َي ِإ َّْ َس ُع٠ْ ُ٘ َش
ْغ ِغ ٍُْٗ َع ْجعًب١َ ٍْ َأَ َد ِذ ُو ُْ ف
Imam Bukhari berkata : “Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf dari Malik
dari Abi Zanad dari al-A‟raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“jika seekor anjing minum dalam bejana kalian, maka cucilah sebanyak tujuh kali.”
Hadits di atas bersambung dari awal hingga akhir sanad dan juga marfu‟ sampai
kepada Nabi, maka ditinjau dari segi sifat sanad hadits tersebut merupakan hadits
musnad.
C. Hadits Mu‟an‟an
Hadits mu‟an‟an adalah “hadits yang sanadnya terdapat redaksi „an (( = ) َع ْهdari)
seseorang”.
Ketika redaksi ( ) َع ْهpada sanad tingkat sahabat, maka ada dua kemungkinan :
Pertama, apabila sahabat yang meriwayatkannya termasuk sahabat yang sebagian
besar hidupnya senantiasa bersama Nabi, maka redaksi ( ) َع ْهsama dengan redaksi
() َس ِم ْع ُت.
Kedua, apabila sahabat yang meriwayatkannya merupakan sahabat yang sedikit
kesempatan bertemu Nabi, maka sanadnya perlu ditinjau ulang.
Pendapat ulama ahli hadits dalam masalah ini terdapat dua versi:
Bahwa hadits yang sanadnya menggunakan redaksi “an termasuk
dalam kategori hadits yang sanadnya muttaṣil. Akan tetapi hadits mu‟an‟an untuk
bisa dikategorikan sebagai hadits muttaṣil, harus memenuhi beberapa syarat.
Dalam hal syarat ini terdapat dua pendapat:
1. Menurut Imam Bukhari, Ali bin al-Madani dan sejumlah ahli hadits lain,
syarat hadits mu‟an‟an yang dikategorikan muttaṣil adalah:
a. Periwayat harus mempunyai sifat „adālah.
b. Harus terdapat hubungan guru murid, dalam artian keduanya harus pernah
bertemu.
c. Periwayat bukan termasuk mudallis.
2. Menurut Imam Muslim, syarat hadits mu‟an‟an yang dikategorikan muttasil adalah
:
a. Periwayat harus mempunyai sifat „adalah.
b. Periwayat bukan termasuk mudallis.
c. Hubungan antara yang meriwayatkan hadits cukup dengan hidup dalam satu
masa dan itu dimungkinkan untuk bertemu.
30
D. Hadits Musalsal
Menurut bahasa musalsal artinya berantai.
Menurut istilah, hadits musalsal adalah “ mengikutinya periwayat hadits hadits pada
sifat/keadaan periwayat sebelumnya, mengikutinya periwayat hadits pada cara
meriwayatkan periwayat sebelumnya,”
Macam-macam hadits musalsal :
1. Musalsal bi ahwal ar-ruwat (musalsal keadaan periwayat)
Periwayat mengikuti keadaan periwayat sebelumnya ketika menyampaikan hadits.
Contoh :
َُ ٍَّ َعَٚ ِٗ ١ْ ٍَ ّل ّلاُ َعَّٝ ٍّ ُي ّل ّلاِ َصْٛ أَ َخزَ َس ُع: ّل ّلا َع ُْٕٗ لَب َيَٟ َع ْٓ ُِعَب ِر ْث ِٓ َج َج ًٍ َس ِض
َيْٛ ب َس ُع٠َ ْٟ ِِّ ُأَٚ ْٟ ِ ثِأَث: ٌَُٗ فَمٍُ ُت,ب ُِ َعبدُ َوالّلِ إِوِّ ْي ََلُ ِحبُّ َك٠َ : ًِب حُ َُّ َلب َيْٛ ٠َ ْٞ ِذ١َ ِث
ْْ َ دُثُ ِش ُو ًِّ َص ََلَحِ أْٟ َب ُِ َعبرُ ََل تَذَ َع َّٓ ِف٠ َه١ْ ِصْٚ ُ أ: ّل ّلاِ أُ ِدجُّ َه فَمَب َيٚ أََٔبَٚ ِّل ّلا
ُ ثِزَا ٌِ َه ُِ َعبرٝ َصْٚ َأَٚ ُد ْغ ِٓ ِع َجبدَ ِت َهَٚ ُش ْى ِش َنَٚ ِر ْو ِش َنٍَٝ َعْٟ ِّٕ َُّ أَ ِعُٙ ٌٍَّ ا: َيْٛ ُتَم
ٍُ ٍِ أَثَب َع ْج ِذ اٌ َّش ْدّ ِٓ ُع ْمجَخُ ْث ُٓ ُِ ْغٟ اٌ َّص َٕب ِث ِذٝ َصْٚ َأَٚ ٟاٌ َّصَٕب ِث ِذ
Pada hadis di atas diketahui bahwa para perawi saat menyampaikan hadis selalu
menga ali dengan perkataan “sesungguhnya aku mencintaimu”, dari Muhammad
sa kepada Mu‟ad maupun kepada rawi-rawi berikutnya.
2. Musalsal bi sifat ar-ruwah (musalsal dalam hal sifat periwayat)
Periwayat mengikuti sifat periwayat sebelumnya ketika menyampaikan hadits.
3. Musalsal bi sifat ar-riwayah (musalsal pada sifat periwayatan)
Dalam musalsal ini terbagi menjadi 3 macam,yaitu musalsal dalam
bentuk ungkapan penyampaian periwayatan (adā‟), musalsal pada waktu
periwayatan, dan musalsal pada tempat periwayatan.
E. Hadits „Ali
“Suatu hadis yang sedikit jumlah rantai periwayatnya sampai kepada Rasulallah
Saw. dibandingkan dengan sanad lain hadis yang sama”.
Macam-macam hadits „ali :
1. Āli muṭlak, yaitu hadis yang lebih sedikit rantai periwayatnya hingga kepada
Rasulullah dibandingkan dengan sanad yang lain. Āli mutlak ini yang paling
tinggi diantara macam-macam āli apabila memiliki sanad yang ṣaḥīḥ .
2. Āli Nisbi atau Iḍāfi, yaitu hadis yang lebih sedikit rantai periwayatnya hingga pada
imam tertentu.
a. Lebih sedikit rantai sanadnya kepada salah seorang imam hadis
b. Lebih sedikit rantai sanadnya kepada salah seorang pengarang kitab induk
hadis yang dapat dipedomani.
31
F. Hadits Nazil
“Suatu hadis yang banyak jumlah rantai periwayatnya sampai kepada Rasulallah
Saw. dibandingkan dengan sanad lain pada hadis yang sama”.
Macam-macam hadis nā il :
1. Sanad yang rantai periwayatnya lebih banyak sampai kepada Nabi.
2. Sanad yang rantai periwayatnya lebih banyak sampai kepada salah seorang imam
ḥad ṡ
3. Sanad yang rantai periwayatnya lebih banyak sampai kepada suatu kitab hadis
yang mu‟tabarah.
4. Sanad yang di dalamnya terdapat periwayat yang menerima hadis dari seorang
syaikh kemudian meninggal, juga dari periwayat lain yang menerima dari syaikh
itu.
5. Sanad yang di dalamnya terdapat periwayat yang mendengar hadis dari seorang
syaikh, kemudian (belakangan) periwayat itu menerima hadis dari periwayat lain
yang juga mendengar dari syaikh itu.
32
MATERI PEMBELAJARAN 10
PEMBAGIAN HADITS BERDASARKAN SUMBER UTAMA
(TEMPAT PENYANDARANNYA)
Allah SWT.
(Qudsi)
Sahabat Sumber Nabi
(Mauquf) hadits Muhammad
Tabi'in atau SAW. (Marfu')
sesudahnya
(Maqtu')
33
Ketika mengamati sebuah hadits, ada yang matannya bersumber dari Allah, Nabi,
sahabat, tabi‟in, bahkan matannya merupakan fatwa ulama. Oleh karena itu para
muhadditsin membagi hadis dari segi sumbernya / tempat penyandarannya ada 4, yaitu:
A. Hadits Qudsi
Hadis Qudsi dinisbatkan kepada kata al-qudsu, artinya suci dan bersih. Disebut juga
hadis rabbany atau ilāhy.
Sedangkan menurut istilah, hadits Qudsi adalah hadits yang disandarkan oleh Rasul
Saw dan disanadkan kepada Tuhannya selain al-Qur‟an. Atau Hadits yang lafaẓ
matannya dari Nabi Muhammad Saw. dan maknanya dari Allah SWT.
Tanda-tanda hadits qudsi biasanya berisi tentang kekuasaan Allah, selain itu bentuk
penyampaian pertamanya adalah sebgai berikut :
1. ِّٗ ِٗ َع ْٓ َسث٠ْ ِٚ َ ْش٠ َّب١ْ ُي ّل ّلا ِفْٛ لَب َي َس ُع
2. ًَّ َجَٚ ُي ّل ّلا َلب َي ّل ّلا َع َّضْٛ َلب َي َس ُع
3. ِٗ ّ ُي ّل ّلا َع ْٓ َس ِثْٛ َلب َي َس ُع
4. ُي ّل ّلاْٛ اُٖ َع ُْٕٗ َس ُعَٚ َّب َس١ْ َِلب َي ّل ّلا ف
Contoh hadits qudsi :
َُع ْن أَِب ُىَريَْرَة قَاَل َىَنّاٌد قَاَل قَاَل َر ُسوُل الَلِّو َصَلّى الَلّوُ َعلَْيِو َو َسَلّ َم قالَاللوَعزَوج َل الْ ِكِْبيَاء
رواه أبو داود. ِرَدائِي َوالَْعظََمةُ إَِزا ِري فََم ْن نَاَزَعِن َوا ِح ًدا ِمْن ُه َما قََذفْتُوُ ِف الَنّا ِر
Perbedaan hadits qudsi dengan Al-Qur‟an :
AL-QUR’AN HADIS QUDSI
1. disyaratkan harus mutawātir 1. tidak harus mutawātir
2. dihukumi ibadah bagi yang 2. tidak dihukumi ibadah bagi yang
membacanya membacanya
3. sebagai mukjizat 3. bukan mukjizat
4. tidak boleh diriwayatkan 4. boleh diriwayatkan dengan maknanya
dengan maknanya saja saja
5. lafaẓ dan maknanya dari Allah 5. lafaẓ dari nabi dan maknanya dari
6. dibaca dalam shalat Allah
7. haram menyentuh bagi yang 6. tidak dibaca dalam shalat
7. boleh menyentuh bagi yang berhadats
berhadats 8. keberadaannya hanya perkiraan
8. keberadaannya pasti 9. membangkangnya tidak dihukumi
9. membangkangnya dihukumi kafir
10. tidak terdapat ayat dan surat
kafir
10. terdapat ayat dan surat
34
Perbedaan antara hadis Qudsi dan hadis Nabawi:
HADIS NABAWI HADIS QUDSI
1. Sandarannya adalah Nabi 1. Sandarannya Allah
2. Berhubungan dengan tata cara 2. Berhubungan dengan haq Allah
ibadah, kemaslahatan ummat, dengan menjelaskan keagungan
mu‟amalah, dan menyebutkan Nya, menampakkan rahmat-Nya, dan
halal dan haram. mengingatkan luasnya kekuasaan-Nya
B. Hadits Marfu‟
Secara bahasa al-marfu‟ berarti “yang diangkat”.
Hadis marf ‟ menurut istilah adalah “Perkataan, perbuatan, ketetapan,
atau sifat yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik dengan ungkapan yang
jelas dari nabi atau samar namun ketentuan hukumnya dari Nabi, baik yang
menyandarkannya itu shahabat atau bukan, baik sanadnya bersambung atau
terputus”.
Hadis marf ‟ ada yang secara jelas (ṣarīḥ) dan ada yang samar biasa disebut
(marfū‟ hukmi). marfū‟ ṣarīḥ seperti diungkapkan periwayat dengan kata-kata:
“Aku mendengar Rasulullah bersabda begini”; atau “Rasulullah menceritakan
kepadaku begini”; atau “Rasulullah bersabda begini”; atau “Dari Rasulullah
bahwasannya beliau bersabda begini”; atau yang semisal dengan itu. seperti
perkataan shahabat: “dari Jabir telah bersabda Nabi Saw.: “baik pekerti adalah
pelajaran dan buruk kelakuan itu adalah sial” HR ibnu „ syakir)
Adapun marfū‟ hukmi adalah ketentuan matan hadisnya disandarkan kepada
Nabi tetapi diriwayatkan dengan kata-kata yang memungkinkan sandarannya
bukan Nabi Sa seperti: “Kami diperintahkan seperti ini”; atau “kami dilarang
untuk begini”; atau “termasuk sunnah adalah melakukan begini” Contoh: “dari
umar ia berkata: “do`a itu terhenti antara langit dan bumi, tidak bisa naik sedikit
pun daripadanya sebelum dishalawatkan atas Nabi Saw.” (HR. Turmudzi).
Macam-macam hadits marfu‟ :
1. Hadits marfu‟ qauli
Adalah segala “perkataan” yang disandarkan kepada Nabi saw. baik yang
menyandarkannya itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttasil atau
munqati‟.
Contoh :
ُّ َِذيذ٠َ َلَشب ُْش٠ُِثّٞ ِْٓ ْ َ َعِبش١َٓ َعاب ْْ ََوِلَب ٌْخَ ْشجُ ْٕعُِٝ َعِِأٛ ْْؤَُٕٛبٌٍُِِأَُّْثَْٝع ُّا ْْٓؤ َِِأَد ِثذَُّٓحَٛ ٌْْ َُحَ َلٍا:لَّاثَُمِ ْدش ٍذدَٚسَْٝ أَََشثِو١ْ ٍِٖدَاحَاٌْلّ َلخَُعََّ ْٓل َعُيلَ َجْي ِذِّهَغٟ ََصع ٍِلَّثُ ْشّىْٝ ْٓثقَ َدا ِٓذََّلحَ َٕ َعب َْجر ِاذ ٌْ ُسّ َْلذىّلاِ َُلغ ْثُٓآِلّْثلِأَ ُِث
)ٜاُٖ اٌتِّ ْش ِِ ِزَٚ ( َس.ثَ ْع ُضُٗ َث ْع ًضب
Dari Abu Musa Al- sy‟ari R , Rasulullah SAW bersabda “Seorang mukmin dengan
mukmin lainnya seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” (HR.
Turmudzi)
35
2. Hadits marfu‟ fi‟li
Adalah segala “perbuatan” yang disandarkan kepada Nabi saw. baik yang
menyandarkannya itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttasil atau
munqati‟.
Contoh :
ٝ ا ْث َٓ أَ ِثِٕٝ ْع٠َ ٌُ ذُّل ّلاِ ْث ُٓ ُِ َعب ٍد َدذَّحَ َٕب َخب ٌِذُ ْث ُٓ ا ٌْ َذب ِس ِث َدذَّحَ َٕب َد ِت١ْ ََدذَّحَ َٕب ُعج
ٍش َلب َي َكا َن َر ُس ْى ُل الّلِ َصلَّى١ْ َشحَ َع ْٓ ِع َّب ٍن لَب َي َع ِّ ْع ُت إٌُّ ْع َّب َْ ْث َٓ ثَ ِش١ْ َص ِغ
ُٖاَٚ ( َس .َوجَّ َش َٕب٠ْ َٛ َا ْعت فَئِرَا ٌٍِ َّصَلَ ِح لُ َّْٕب إِرَا َف َٕبْٛ ُُصف ِّٜٛ ُ َغ٠ َو َسلَّ َم َع َل ْي ِه ُالّل
)َدُٚ دَا ُٛأَث
3. Hadits marfu taqriri
Adalah segala “ketetapan” yang disandarkan kepada Nabi saw. baik yang
menyandarkannya itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttasil atau
munqati‟.
Contoh
ََُُذٛثُلْْععاّلٍْٖذهاٌََََِِّٚسبثََثأَٝبٍَّٓل ِ(ٍَٓحي١ََََْلص.ََ َظْهوًٍَى َعْاثَصت١ْضَْىاِسَٝٓوَعُلَُتٍَّيفَُعْمٍََُأََّٔليََّلٌِْْٜٛٚ َََِرٗسِذوَاَعاْثأُع٠َْْٓل١ْْفَلش َلّلأٍعًًَاُْمب َُوةبَليَب َاأَْعَعٍََُْْْيم١ُْجٌَافُِْضٍُِّّْٗفََٝتٓ َم٠ٍَِّصسمُ ِلٍُّْشْيْثٍتَص ُِه٠َََّْعبَِش ِفُّٟ َشَِإَّْ ِجْذِةُووُتٌُٛذْأَََٓورْغثُاباِْ َوََِّٚ َيٙفَ ٍبِحَجَمًبخَََعْا ٌَْيَْع١لَْوٝ١ْصَع ٍَََِيصشَض َََشْٝ ِث َلفُْبًََُٝٓ ُوَثَّشٕعَُِِّْْىبّ ٍََثَذِصشُْٔعَََّّّظ ْلثذَذُ َصُلَُ٘ٓاٍِّْثْجٌَّْبُأََعٛبٌٍََََُِّّّٕٚٛشأةَذَّثُحَََعطْاٚ ْباصٌََِدتَِْٕٚٗ شَّٓحش١ٍَُِّْاَث ٌَََُْدعغعْىٍََعذ
)ُُ ٍِ ُِ ْغ
4. Hadits marfu‟ wasfi‟
Adalah segala “sifat” yang disandarkan kepada Nabi saw. baik yang
menyandarkannya itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttasil atau
munqati‟.
Contoh
ِٓ ََ َلَْع َْٕع ْجُٗ َطَِذد ِىذََّّعْحيَل َّٕلْ ٌلباّٝلثِاََُّبو١َْص ْ ْٓي ُعٌٍَّرلأَٟ غخْ ََََِّٓبلس َ ْْث ِ َق ِضٓ َِعَٟ–ٌّ ٌْْٓ)َع ٍَِذ ُعٝجب(ُثعدٍئِ َُعًٍَِٓ َع ُّاَُّّٝ-َّب َّشَعٍََُِّْْع َُخَْطب ِعَِعفَءٍَُمْبٓ لَََيعبٍَِد َي١ٌِٚٗ ْث آََِدُْٛٓ١ْ َعأَِْثٍَثُش١ْ ج َُْجُٝ ُّحَلَِّّٕلاب١َِّْْٓدثُعٍَذَٝ ٍَِِّ ْدَّٔلبَّّل ِفاَُِصشعٌَِِّٟاٍذٌََّٕعَعاجِْجْْ ْذُٓلّٟ َفِحَى ََٕخِخببَّٛاأَ ٌَْثُدِ َّْصذ
.ُم ْش َربًا َل ْىوُهُ ُح ْم َرةً َح َس َه ال َّشعَ ِر
C. Hadits mauquf
Secara etimologi mauqūf adalah „yang terhenti‟
Dalam istilah, Hadis mauqūf berarti “hadis yang disandarkan kepada Sahabat, berupa
ucapan, perbuatan atau ketetapan”
Contoh hadis mauqūf :
1. Perkataan (Qauly)
36
“ ari bdullah in Mas`ud), ia berkata : “janganlah salah seorang dari kamu
taqlid agamanya dari seseorang, karena jika seseorang itu beriman, maka ikut
beriman, dan jika seseorang itu kufur, ia pun ikut kufur”. (H.R. Abu Na`im).
bdullah bin Mas‟ud adalah seorang sahabat Nabi, maka ucapan diatas adalah
hadis mauqūf, dan berupa ucapan, maka dinamakan qauly.
2. Perbuatan (Fi‟ly)
“ ari bdillah in Ubaid in Umar ia berkata: Umar menyuruh kepada seorang
anak laki-laki memilih antara ayah dan ibunya. Maka anak itu memilih ibunya,
lalu ia membawa ibunya. (Kitab al-Muhalla).
Umar adalah sahabat Nabi Saw, maka hadis di atas dinamakan hadis mauqūf, dan
berupa perbuatan Umar yang memerintahkan untuk memilih antara ibu dan
ayahnya, maka dinamakan fi‟ly.
3. Ketetapan (Taqriry)
“ ari Zuhri, bah a tiqah inti Zaid in mr in Nufail jadi hamba Umar in
Al khattab adalah Atiqah pernah turut shalat dalam masjid. Maka Umar berkata
kepadanya: “demi Allah engkau sudah tahu, bahwa aku tidak suka perbuatan ini.
Atiqah berkata: demi Allah aku tidak mau berhenti sebelum engkau melarang
aku”. Akhirnya Umar berkata: aku tidak mau melarang kamu. (Al Muhalla 4:202).
Umar adalah sahabat Nabi Saw.. Maka dinamakan hadis mauqūf, dan berupa
ketetapan Umar yang menetapkan bahwa beliau tidak menyukai dan tidak
melarang perbuatan Atiqah, maka hadis ini dinamakan taqrīri
D. Hadits Maqtu‟
Maqṭū‟ artinya: yang diputuskan atau yang terputus; yang dipotong atau yang
terpotong.
Menurut ilmu hadis, maqṭū‟ adalah “perkataan, perbuatan atau taqrir yang
disandarkan kepada tabi‟in atau orang setelah tabi‟in. Hadis maqṭū‟ tidak bisa
dipergunakan sebagai landasan hukum, karena hadis Maqṭ ‟ hanyalah ucapan dan
perbuatan seorang muslim.
Contoh hadis maqṭ ‟:
1. Perkataan (Qauly)
“ ari bdillah in Sa`id in bi Hindin, ia berkata: aku pernah bertanya kepada
Sa`id Bin Musayyab; bahwasanya si fulan bersin, padahal imam sedang
berkhutbah, lalu orang lain ucapkan “yarhamukallah” bolehkan yang demikian?)
ja ab Sa`id in Musayyab “perintahlah kepadanya supaya jangan sekali-kali
diulangi” Kitab l tsar)
Sa`id Bin Musayyab adalah seorang tabi` n, maka hadis ini dinamakan maqṭ ‟
2. Perbuatan Fi‟ly)
“ ari Qatadah, ia berkata: adalah Sa`id in Musayyab pernah shalat dua rakaat
sesudah ashar. (Kitab al-Muḥalla)
Sa`id Bin Musayyab adalah seorang tabi`in, dan hadis diatas adalah hadis maqṭ ‟
berupa cerita tentang perbuatannya.
3. Ketetapan Taqr ri)
“ ari hakam bin utaibah, ia berkata: adalah seorang hamba mengimami kami
dalam mesjid itu, sedang syuraih (juga shalat disitu). (Kitab al-Muḥalla)
Syuraih ialah seorang tabi`in. riwayat hadis ini menunjukan bahwa Syuraiḥ
menetapkan untuk membenarkan seorang hamba jadi imam.
37
PEMBENAJARAN 11
SYARAT-SYARAT RIJAL AL-HADITS
Rijal Hadits Syarat Rijal Adil
al-hadits Dlabit
Tabaqah Rijal
al-hadits
1. Pengertian Rijal al-hadits
Secara etimologi, “rijalul hadits” berarti orang-orang di sekitar hadits. Kemudian
pengertian rijalul hadis secara istilah adalah orang-orang yang menerima hadis dari
gurunya dan menyampaikan hadis yang telah dia terima kepada orang lain.
Contoh :
حدثنا الحميدي َعبد َالل َبن َالزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى َبن َسعيد َالنصاري قال
أخبن محمدَبنَإبراىيمَالتيمي أنو سع علقمةَبنَوقاصَالليثي يقول سعت عمرَبنَالخطاب
رضى الل تعال عنو على المنب قال سعت رسول الل صلى الل عليو وسلم يقول إّنا العمال بالنيات
وإّنا لكل امرئ ما نوى فمن كانت ىجرتو إل الل و رسولو فهجرتو إل الل و رسولو و من كانت ىجرتو
لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرتو إل ما ىاجر إليو
Nama yang bergaris bawah adalah rijalul hadis karena mereka telah menerima dan
meriwayatkan hadis yang berbunyi:
َإنماَالعمالَبالنياتَوإنماَلكلَامرئَماَنوىَفمنَكانتَىجرتوَإلىَاللَوَرسولوَفهجرتوَإلىَالل
وَرسولوَوَمنَكانتَىجرتوَلدنياَيصيبهاَأوَامرأةَينكحهاَفهجرتوَإلىَماَىاجرَإليو
Hadis tersebut dapat dikatakan benar-benar dari Nabi Saw. karena orang-orang yang
menyampaikan dari waktu ke waktu adalah orang yang dapat diterima dan dibenarkan
perkataannya.
Sedangkan pengertian ilmu rijalul hadis adalah ilmu yang membahas tentang keadaan
para peri ayat hadis, baik dari kalangan sahabat, tabi‟in, maupun generasi-generasi
berikutnya.
Pembahasan dalam ilmu rijalul hadis adalah tentang biografi para periwayat hadis
yang meliputi tanggal lahir dan wafat, guru-guru dan murid-murid mereka, ke mana
38
saja mengembara dan dalam jangka berapa lama, sifat-sifat mereka, dan lain
sebagainya.
2. Kegunaan Ilmu Rijal al-hadits
Secara umum dari ilmu rijalul hadis digunakan untuk dapat mengetahui mana hadis
yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima. Sedangkan fungsinya secara
terperinci adalah sebagsi berikut:
1). Mengetahui nama-nama periwayat, julukannya, nama kunyah-nya dan
membedakan nama yang sama. Dengan ini kita dapat menentukan sosok perawi,
sehingga tidak ada keserupaan dengan perawi lain dan tidak ada kesalahfahaman
ketika ada nama yang sama.
2). Mengetahui tanggal lahir dan wafatnya perawi, tempat tinggal, dan kota mana saja
yang pernah dikunjungi. Dengan mengetahui waktu kelahirannya, kita akan tahu
status generasinya (tabaqat). Semisal dia lahir setelah wafatnya Nabi Saw, berarti
hadis yang disampaikan ketika langsung disandarkan ke Nabi Saw. merupakan hadis
mursal. Dengan mengetahui waktu hidup dan tempatnya, kita dapat mengetahui
apakah rawi mungkin untuk berjumpa dengan periwayat sebelumnya atau tidak
sehingga dapat menentukan hadis tersebut muttasil atau munqathi‟.
3). Dapat mengetahui status hadis apakah shahih atau ḍa'īf ketika belum ada kejelasan
status hadis dari ulama‟ dulu Kita juga dapat mengetahui sifat-sifat para perawi dari
ilmu jarh wa ta‟dil seperti keterangan dari Imam Nawawi.
3. Syarat-syarat Rijal al-hadits
a. Adil
Ādil artinya adalah orang yang adil alam konteks ini adalah orang yang
memenuhi syarat-syarat berikut ini :
1). Muslim
2). Sudah baligh, artinya ia adalah orang yang mumayyiz (Bisa membedakan
mana yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, perbuatan dosa dan
perbuatan yang mengasilkan pahala.
3). Berakal sehat, artinya bukan orang gila, bukan orang yang mabuk dan bukan
juga orang yang terlalu fanatik terhadap golongannya ketika ia menyampaikan
hadis yang berisi tentang dalil yang mendukung golongannya atau sebaliknya.
4). Tidak fasik, artinya ia tidak melakukan dosa besar atau sering melakukan dosa
kecil.
5) Menjaga mur ah atau harga dirinya
Sebab-sebab peri ayat hadis dikatakan “tidak adil”, sehingga ri ayatnya tidak
bisa diterima adalah sebagai berikut:
1). Al-kiżb (bohong): artinya dia sering bohong dalam pembicaraan seharihari dan
juga pernah membohongkan riwayat hadis.
2). Al-muttahamu bi al-kiżb (dianggap bohong): artinya ada dua kemungkinan,
pertama dia sering bohong dalam ucapan sehari-hari namun tidak pernah
ditemukan bahwa dia telah membohongkan hadis. Yang kedua pernah
meriwayatkan hadis sendirian dan hadisnya bertentangan dengan kaidah
yang berlaku secara umum atau bertentangan dengan riwayat hadis yang lebih
kuat.
3). Al-fisq (Fasik): artinya dia sering melakukan perbuatan dosa kecil atau pernah
melakukan perbuatan dosa besar.
4). Al-bid‟ah cara ibadah yang baru yang tidak di syari‟atkan) : artinya dia
melakukan perbuatan-perbuatan bid‟ah
39
5). Al-jahālah (bodoh/tidak mengetahui): artinya dia orang yang tidak
mengetahui tentang keadaan para periwayat hadis, dan juga tidak
mengetahui ajaran agama Islam
b. Dlabit
Ḍābiṭ berasal dari bahasa arab yang artinya kuat/tepat, Rijāl al-ḥadīṡ ada
yang ḍābiṭ fī al-kitābah yaitu kuat menjaga tulisannya dan ḍābiṭ fī al-ḥifḍ yaitu
kuat dalam menjaga hafalannya. Adapun yang dimaksud ḍābiṭ fī al-kitābah adalah
kuat dalam menjaga tulisannya dan sekirannya tulisan hadis yang dimilikinya
dibutuhkan dia bisa menunjukkan dengan cepat. Kemudian yang dimaksud ḍābiṭ fī
al-ḥifḍ adalah kuat menjaga hafalannya dan sekirannya hafalan hadisnya
dibutuhkan dia bisa menunjukkan dengan cepat.
Cacatnya peri ayat hadis sebab tidak “ḍābiṭ”, adalah sebagai berikut:
1). Faḥsy al-galaṭ (kesalahan yang terlalu) artinya dia pernah meriwayatkan
hadis dengan kesalahan yang fatal.
2). Sū u al-ḥifżi (hafalannya jelek/tidak cerdas) artinya dia sering mengalami
kesalahan dalam meriwayatkan hadis namun kesalahan itu tidak fatal.
3). Al-gaflah (pelupa/pikun) dia sering lupa atau pikun.
4). Mukhālafah as-siqāt (bertentangan dengan orang yang lebih ṡiqāt) artinya
hadis yang diriwayatkannya ternyata bertentangan dengan hadis yang
diriwayatkan oleh orang yang lebih ṡiqāt.
4. Gelar-gelar untuk Rijal al-hadits
Para muhaddisin mendapat julukan dari umat Islam atau mendapat gelar-gelar kultural
sebagaimana berikut:
a. Al-Musnid
yaitu orang-orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik ia
mengetahuinya atau tidak. Al-musnid juga disebut dengan at-tālib, al-mubtadi, dan
ar-rā i
b. Tholibul Hadits
yaitu orang yang sedang menuntut hadis.
c. Al-Hafidz
orang yang menghafal 100.000 hadis baik dalam segi matan maupun
sanadnya, meskipun dengan jalur yang beragam, mengetahui yang ṣaḥīḥ
dan mengenal berbagai peristilahan yang digunakan dalam buku hadis.
d. Al-Muhaddits
Orang yang mahir dalam bidang hadits, baik dari segi riwayah maupun dirayahnya,
mampu membedakan yang lemah dari yang ṣaḥ ḥ, mengenal ilmu-ilmu dan
peristilahannya, mengenal yang mukhtalif dan mu‟talif dari para peri ayatnya, dan
memperoleh semua itu dari imam-imam hadits, disamping mengetahui dalam kata-
kata gar b dalam hadits dan hal-hal lain, yang memungkinkan mengajarkannya
kepada orang lain.
Para muhaddits yang mendapat gelar ini antara lain Atha ibn Abi Ribah (seorang
mufti masyarakat Mekah, w. 115 H) dan Imam Al Zabidi (salah seorang ulama
yang mengikhtisharkan kitab Bukhari Muslim).
e. Al-Hujjah
yaitu gelar keahlian bagi para imam yang sanggup menghafal 300.000 hadis, baik
matan, sanad, maupun perihal si periwayat tentang keadilannya, kecacatannya, dan
biografinya ri ayat hidupnya) Para muhaddiṡ yang mendapat gelar ini antara lain
ialah Hisyam ibn Ur ah 1 H), bu Hużail Muḥammad ibn al-Wal d 1 9
H), dan Muḥammad bdullah ibn mr 2 2 H)
40
f. Al-Hakim
yaitu orang yang mengetahui seluruh hadis yang pernah diriwayatkan, baik dari
segi sanad maupun matan, jarḥ tercela)nya, ta‟d l terpuji)nya, dan sejarahnya.
Setiap periwayat diketahui sejarah hidupnya, perjalanannya, guru guru, dan sifat
sifatnya yang dapat diterima maupun yang ditolak. Ia hafal hadis lebih dari
300.000 hadis beserta sanadnya. Para muhaddiṡ yang mendapat gelar ini antara lain
Ibn Dinar (w. 162 H), Al-Laiṡ ibn Sa ad, seorang ma ali yang menderita buta di
akhir hayatnya (w. 175 H), Imam Malik (w. 179 H), dan Imam Syafi'i (w. 204 H).
g. Amirul Mukminin fil hadits
Julukan ini diberikan kepada orang yang populer pada masanya dalam bidang
hafalan dan dirayah hadits, sehingga menjadi tokoh dan imam pada masanya.
Julukan ini telah diberikan kepada orang-orang semisal Abdurrahman ibn Abdillah
ibn ak an al Madany bu a Zanad), Syu‟bah ibn Hajjaj, Sufyan al Tsauriy,
Imam Malik ibn Anas, Imam Bukhari, dan lain-lain. Mereka merupakan imam-
imam hadits terkemuka, yang mendapat kesaksian imam-imam besar dan
mayoritas umat mengenai keimanan mereka dan kedalaman mereka dalam bidang
ini.
Gelar ini sebenarnya diberikan kepada para khalifah setelah Khalifah Abu Bakar
r.a. Para khalifah diberikan gelar demikian mengingat jawaban Nabi atas
pertanyaan seorang sahabat tentang siapakah yang dikatakan khalifah, bahwa
khalifah ialah orang-orang sepeninggal Nabi yang meriwayatkan hadisnya. Para
muhaddits pada masa itu seolah-olah berfungsi khalifah dalam menyampaikan
sunnah Mereka yang memperoleh gelar ini antara lain Syu‟bah ibn Hajjaj, Sufyan
al Tsauri, Ishaq ibn Rahawaih, Ahmad ibn Hambal, Al Bukhari, Ad Daruquthni,
dan Imam Muslim.
5. Tabaqah Rijal al-hadits
abaqah menurut bahasa ialah suatu kaum yang memiliki kesamaan dalam suatu sifat
Sedangkan menurut Muhaddiṡ n ialah : abaqah adalah suatu kaum yang hidup dalam
satu masa dan memiliki keserupaan dalam umur dan sanad, yakni pengambilan hadis
dari para guru.
seluruh sahabat adalah ṭabaqah pertama, ṭabaqah kedua
tabi‟īn, ṭabaqah ketiga atbā‟ tābi‟īn dan seterusnya. Dan perlu diperhatikan bahwa
tidak semua ṭabaqah ke dua mesti tābi‟īn, karena biasa juga ṭabaqah kedua masih
sahabat, selain itu jumlah ṭabaqah pun belum tentu 4 ṭabaqah bahkan ada yang 11
ṭabaqah. Perhatikan skema berikut ini!
41
6. Cabang-cabang Ilmu Rijal Al-hadits :
a. Ilmu Ilmu tarikh ar-ruwat
b. Ilmu jarh wa ta‟dil
c. Ilmu Thabaqat ar-ruwat
d. Ilmu al-mu`talif dan al-mukhtalif
e. Ilmu al-muttafiq wa al-muftariq
42
PEMBELAJARAN 12
ILMU AL-JARH WA TA’DIL
A. PENGERTIAN
Menurut bahasa, kata jarḥ merupakan bentuk mashdar dari kata “jaroha-yajrohu-jarhan”
yang artinya melukai.
Menurut istilah, Al-jarh adalah “terlihatnya sifat pada perawi yang dapat menghilangkan
keadilannya atau mencederai kemampuan menghafal dan menjaga hadis, sehingga
berakibat digugurkan, dilemahkan atau ditolaknya suatu hadis yang diri ayatkannya ”
Sedangkan kata at-ta‟dil menurut bahasa adalah “addala-yu‟addilu-ta‟dilan” artinya
mengemukakan sifat adil yang dimiliki oleh seseorang.
Menurut istilah, ta‟dil adalah “Mensifati peri ayat dengan sifat-sifat yang mensucikannya,
sehingga tampak keadilannya dan hadisnya diterima ”
Ilmu jarh wa ta‟dil adalah ilmu yang membahas tentang menunjukkan aib atau
memberikan pujian adil kepada seseorang perawi. Ilmu ini termasuk cabang ilmu hadis
yang sangat penting. Karena dengan ilmu ini, dapat diketahui status hadis shahih atau
tidak, dapat diterima atau tidak.
B. FUNGSI POKOK ILMU JARH WA TA’DIL
Fungsi pokok dalam ilmu jarh wa ta‟dil adalah:
1) Untuk menentukan status periwayat hadis.
2) Untuk mengetahui kedudukan hadis. Karena status suatu hadis tidak dapat diketahui
tanpa mengetehui kaidah jarh wa ta‟dil.
3) Mengetahui syarat-syarat periwayat yang dapat diterima riwayatnya.
43
C. SEJARAH JARH WA TA’DIL
Sejarah pertumbuhan ilmu al-jarḥ a at-ta‟d l selalu seiring dan sejalan dengan sejarah
pertumbuhan dan perkembangan periwayatan hadis, karena bagaimanapun juga untuk
memilah dan memilih hadis-hadis ṣaḥīḥ melewati penelitian terhadap
periwayat-periwayat dalam sanadnya, yang pada akhirnya memungkinkan untuk
membedalan antara hadis yang maqbūl dan yang mardūd.
Embrio praktek men-jarḥ dan men-ta‟dīl sudah tamapk pada masa Rasulullah
yang beliau contohkan sendiri secara langsung dengan mencela bi‟sa akh al-„asyirah
dan pernah pula beliau memuji sahabat Khalidِوbّلiلnف اWِ وaْlُيiُسd dْنeِمngٌفanَسْيsebِدuِالtَوaْلnا : َخالِ ُد نِْع َم
بْ ُن الَْعْب ُد
“Sebaik-baik hamba Allah adalah Khalid bin Walid. Dia adalah pedang dari sekian
banyak pedang Allah”
D. TINGKATAN LAFAL YANG DIGUNAKAN UNTUK MELAKUKAN JARH DAN
TA’DIL
Terkait susunan tingkatan lafal yang digunakan untuk melakukan ta‟dil, Imam Ibnu
Hajar al-Atsqolani menyusunnya ke dalam tingkatan-tingkatan, yaitu :
1. Berbentuk “af‟alut tafdil” seperti lafal “orang yang paling tsiqoh ( حَ ُك إٌَبطْٚ َ”) ا
2. Berbentuk pengulangan lafal, seperti lafal „orang yang teguh lagi teguh ”) حُ ًج ٌت حُجُ ٌت
3. Lafal yang mengandung arti kuat ingatan, seperti lafal “orang yang kuat hafalannya
Hafid )”
4. Menggunakan lafal yang tidak menggunakan arti kuat ingatan dan adil.
5. Lafal yang menunjukkan kejujuran rawi tanpa ada “ke-dabit-an”, seperti lafad “orang
yang berstatus jujur”
6. Lafal yang menunjukkan arti mendekati cacat, seperti lafal “orang yang jujur in syaa‟a
Allah ( ٌق اِ ْْ َشب َء اللهْٚ ُ”) َصذ
44
PEMBELAJARAN 13
SEJARAH SAHABAT YANG BANYAK MERIWAYATKAN HADIS
1. Abu Hurairah
Mengabdikan seluruh hidupnya bersama Nabi Muhammad, Abu Hurairah adalah salah satu
perawi hadist yang meriwayatkan paling banyak hadist. Tercatat dari beberapa sumber, ada 5.374
hadist yang telah beliau riwayatkan.
Beliau turut ikut serta dalam perang bersama Nabi Muhammad SAW atas nama Allah SWT. Dia
juga memiliki keistimewaan yakni kemampuan hafalan yang luar biasa.
2. Abdullah bin Umar
Dia merupakan anak dari Umar bin Khattab. Pada masa itu, Abdullan bin Umar adalah pemuda
yang istimewa dengan tekadnya yang kuat untuk meniru segala hal tentang Nabi Muhammad
SAW. Dia dikenal pandai di bidang hadist, tafsir, dan fiqih. Tak hanya di bidang ilmu, dia juga
handal di medan tempur.
Selama hidup, Abdullah bin Umar telah meriwayatkan 2.630 hadist.
3. Anas bin Malik
Berada dekat dengan Nabi Muhammad SAW hingga menjadi asisten pribadinya, Anas telah
meriwayatkan kurang lebih 2.286 hadits.
Selama sekitar 10 tahun berada dekat dengan Nabi Muhammad SAW, tentu saja dia mampu
meriwayatkan banyak hadist karena mengetahui banyak hal tentang nabi. Dalam hidupnya juga, ia
dikenal sebagai pemanah ulung.
4. Aisyah binti Abi Bakar
Aisyah adalah salah satu istri nabi yang termasuk orang yang berada dalam hidup Nabi
Muhammad SAW. Dia meriwayatkan banyak hadist mengenai kehidupan pribadi Nabi
Muhammad SAW, perihal rumah tangga, serta peran Nabi Muhammad SAW sebagai suami.
Beliau merupakan perempuan yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. Setidaknya, ada 2.210
hadist yang telah diriwayatkannya terkait urusan pribadi Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.
5. Abdullah bin Abbas
Nah, untuk prawi hadist yang satu ini, dia telah meriwayatkan 1.660 hadist. Dia merupakan anak
dari paman nabi, Al-Abbas bin Abdul Muthalib.
Di sekitar para sahabat lainnya, Abdullah bin Abbad diberi gelar "tinta umat". Ia merupakan
junior dari para sahabat lainnya dan termasuk sumber ilmu yang sangat diperhitungkan.
45
PEMBELAJARAN 14
SEJARAH SINGKAT PARA IMAM HADIS
A. Imam Bukhari
Nama lengkap Imam ukhari adalah bdullah Muhammad bin Isma‟il ibn Ibrahim ibn ibnu al-
Mughirah ibn Bardizyah al-ju‟hi adalah ulama hadis yang sangat masyhur, dia lahir pada hari jumat
tanggal 13 Syawwal 194 Hijriyah (21 Juli 810 M) di kota Bukhhara Uzbekistan, wilayah Uni Sovyet
termasuk Negara perpenduduk Islam terbesar kelima didunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan
Cina. maka tak heran kalau beliau lebih dikenal dengan nama bukhari karena dia adalah putra daerah
Bukhara. Ayahnya bernama Ismail seorang alim dibidang hadis, mempelajarinya dari ulama terkenal
seperti, malik ibn Anas, Hammad ibn Zaid dan ibn al-Mubarak. Tampaknya spesialisasi ayahnya inilah
yang mengilhami al-Bukhari untuk menekuni hadis.
Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim,
juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya
tersebut) Ibunya senantiasa berusaha dan berdo‟a untuk kesembuhan beliau lhamdulillah, dengan
izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.
Kegemaran belajar agama dimilikinya sejak iya masih berumur 10 tahun di kampung halamannya.
Beberapa buku tulisan ulama seperti ibn al-Mubarak (guru ayahnya), dan al-Waki‟ sampai
dihafalkannya. Imam Bukhari tidak saja mempelajari materi hadis, tetapi beliau juga mengenal biografi
para periwayat hadis secara detail. Pada usia 16 tahun dia meninggalkan kampung halamannya iya pergi
kehijaz bersama ibunya dalam rangka menunaikan ibadah haji. Kemudian ia tinggal di Madinah untuk
beberapa lama.
Pada usia itu al-Bukhari telah berhasil menghafalkan beberapa buah buku tokoh ulama pertama yang
prominem, seperti Ibnu Mubarak dan Waki. Beliau merantau kenegri Syam, Mesir jazirah sampai dua
kali dank ke Basrah empat kali, ke Hijaz bermukim 6 tahun dan pergi ke Bagdag bersama-sama para
ahli hadis yang lain sampai delapan kali. Menurut pengakuannya, kitab hadis yang ditulisnya
membutuhkan jumlah guru tidak kurang dari 1.080 orang guru hadis.
Riwayat yang popular tentang kebesaran al-Bukhari sebagai ulama hadis adalah ketika ia memasuki
kota Baghdag. Disana terlibat dalam majelis ulama hadis. Terdapat sepuluh orang ulama hadis muda
yang masing-masing ditugaskan membacakan sepuluh hadis dengan sanad dan matan yang telah di
bolak balik atau di acak. Beberapa orang dicoba untuk memberi komentar tentang hadis yang dibacakan
tadi. Tidak seorangpun melaksanakan tugas dengan memuaskan. Akhirnya al-Bukhari tampil
memberikan komentar satu persatu hadis. Mengomentari kesalahnnya lalu bukhari memberikan
pembetulan atas kesalahan tersebut. Demikian ia berkomentar dari hadis orang pertama hingga orang
kesepuluh, hingga genap seluruhnya seratus hadis. Tidak seorangpun ulama membantah atas komentar
al-Bukhari tersebut. Para ulama yang hadir tercengang dan terpaksa harus mengakui kepandaian,
ketelitian dan hafalannya dalam ilmu hadis.
Imam ukhari telah memperoleh hadis dari beberapa huffadh, antara lain Maky ibn Ibrahim, „ bdullah
ibn „Usman l-Marwazy, Abdullah ibn Musa Al-„ bbasy, bu „ shim l-Syaibany dan Muhammad
ibn „ bdullah l-Anshari.
Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari
satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits..
46
Selain itu hadis Imam Bukhari pun pernah dikutip olah 289 ahli hadis dalam kitab Shaih mereka,
diantara ahli hadis tersebuat adalah Imam Muslim, bu Zur‟ah, l-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Al-
Nasa‟i
Karya-karya Imam Bukhari
Karya-karya beliau banyak sekali, diantaranya adalah:
1. Al-jami‟ l-Musnad Al-Shahih Al-Mukhtashr min Umar Rasulillah wa sunani wa Ayyamihi atau
biasa disebut shahih Al-Bukhari. Kitab ini ditulis ketika iya berada di Mekkah dan penulisannya
berakhir ketika iya berada di Madinah. Buku ini disebut al-jami karena menghimpun berbagai tema,
seperti Huku, Fadhilah, berita ummat terdahulu, adab, dan lain-lain. Kumpulan hadis-hadis sahih ini
beliau persiapkan selama 16 tahun. Beliau sangat berhati-hati menuliskan tiap hadis pada kitab ini,
ternyata setiap hendak mencantumkan dalam kitabnya, beliau lebih dahulu mandi dan shalat sunnah dan
beristikhorah minta petunjuk kepada Allah tentanh hadis yang akan ditulisnya.
Dikatakan Muhammad Abu Syahbah dalam buku Muh. Zuhri bahwa, Dari sekian ratus ribu hadis yang
iya hafal, untuk dimasukkan kedalam kitabnya iya mengadakan seleksi ketat bila iya merasa sreg,
barulah memasukkan hadis tersebut. iya melakukan hal ini selam kurang lebih 16 tahun. Ini bukan
satu-satunya cara untuk menentukan keshahihan hadis secara ilmiah, namun lebih dari itu, seluruh
ulama Islam diseluruh penjuru dunia setelah mengadakan penelitian sanad-sanadnya mengakui, bahwa
seluruh sanad-sanadnya adlah tsiqqah. Walaupun ada beberapa buah yang didakwah lemah sanadnya,
namun tidak terlalu lemah sama sekali.
Kitab tersebut berisikan hadi-hadis shahih semuanya, berdasarkan pengakuan beliau sendiri, ujarnya:
“saya tidak memasukkan dalam kitabku ini, kecuali shahih semuanya ”
2 Qudhaya as Shahabah at Tabi‟ien” Peristi a-peristi a Hukum di aman Sahabat dan Tabi‟ien)
Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun kitab ini merupakan kitab pertama dari Imam
Bukhari, dan sekarang tida ada kabar berita tentang kitab tersebut.
3. At-Tarikh
Buku ini ditulis pada usia 22 tahun dalam pada itu iya beserta ibu dan kakaknya bernama Ahmad disaat
mereka menunaikan ibadah haji bersama-sama, beliau pernah berkata: Saya menulis buku “ t-Tarikh”
di atas makam Nabi Muhammad S W di aktu malam bulan purnama”
4. Karya-karya yang lain: Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al
Kabir, At Tafsir Al Kabir, l Musnad al Kabir, Kitab al „Ilal, Raf‟ul Yadain fis Salah, irrul Walidain,
Kitab d u‟afa, sami s Sahabah dan l Hibah, irru al alidain
Metode Imam Bukhari dalam menulis kitab hadis
Dalam menulis hadis, Imam bukhari menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern
sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan. Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan
menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan
hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan
menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih.
Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi
sejumlah hadits lainnya. Imam Bukhari meninggal dunia pada tanggal 1 Syawal 256 H ( 31 Agustus
47
870 M) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat
Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti
jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu
dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang
anakpun.
B. Imam Muslim
Imam Muslim memiliki nama lengkap Abu Al-Husain Muslim ibn Al-hajjaj Al-Qusyairi. Lahir di
Naisabur kota kecil di iran bagian timur laut pada tahun 204 H. (820 M). Keramahannya kepada orang
lain telah membuat dirinya sebagai pedagang yang sukses. Ia dikenal sebagai dermawan Naisabur.
Seperti pada umumnya ulama lain, ia belajar semenjak kecil, saat dia berusia kurang dari lima belas
tahun (218 H). Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan.
Beliau kunjungi kota Khurasan untuk berguru hadis kepada Yahya ibn Yahya dan Ishaq ibn Rahawaih;
didatanginya kota Rey untuk belajar hadis kepada Muhammad ibn mahran, Abu hasan dan lainnya; di
Huja ditemuinya Yaji ibn Mansur dan bu Mas‟ad, dan di mesir beliau berguru kepada mir ibn
Sawad, Harmalah ibn yahya dan kepada ulama hadis yang lain.
Selain yang disebutkan di atas beliau masih berguru kepada ulama hadis lainnya seperti Qatadah ibn
Said, Al-Qa‟naby, Ismail ibn bi U ais, Muhammad ibn l-Mutsanna, Muhammad ibn Rumhi dan
lain-lainnya. Demikian juga, Imam Muslim mempunyai banyak murid terkenal, seperti, Imam al-
Turmudzi, ibn Khuzaimah, Abdurrahman ibnuabi Hatim.
Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan
seleksinya) setelah Imam ukhari “ i dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya
empat orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim,” komentar ulama besar bu Quraisy l
Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu
Quraisy.
Karya-karya Imam Muslim
1. Shahih Muslim yang judul aslinya, Al-Musnad Al-Shahih, Al-Mukhtasharmin Al-Sunan bi Naql Al-
„ dl‟an l-„ dli‟an Rasul llah Para ulama menyebut kitab shahih ini sebagai kitab yang belum
pernah didapati sebelum dan sesudahnya dalam segi tertib susunannya, sistematis isinya, tidak tertukar-
tukar, dan tidak berlebih dan tidak berkurang sanadnya. Menurut munzier saputra secara global kitab ini
tidak ada bandingannya dalam ketelitian menggunakan isnad. Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad
Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits.
2. Al-Musnad Al-Kabir, Kitab yang menerangkan nama-nama rijal Al-hadits
3.Karya-karyanya yang lain: ljami‟ lkabir Kitab I‟lal a Kitabu uhamil Muhadditsin, Kitab l-
Tamyiz, Kitabu man Laisa lahu Illa Rawin Wahidun dll.
Metode Imam Muslim dalam menyusun kitab hadis mengenai metode penyusunan hadits, Imam
Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta‟dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk
menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at tahammul (metode-metode
penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan
kepada kami), akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan
qaalaa (ia berkata).
48
Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya,
mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang
sholeh.
C. Imam Abu Dawud
Terdapat perbedaan pendapat tentang nama lengkap tokoh imam Abu Daud.
1 Menurut bdurrahman bin bi Hatim, bah a nama bu aud adalah Sulaiman bin al sy‟ats bin
Syadad bin „ mru bin „ mir
2 Menurut Muhammad bin bdul „ i l Hasyimi; Sulaiman bin al sy‟ats bin asyar bin Syadad
3. Munzier Suparta mengatakan bahwa nama lengkap Imam Abu Daud adalah Imam Abu Daud
Sulaiman ibn Al-asy‟ats ibn Ishaq l-Sijistany.
4. Menurut muh zuhri bahwa nama lengkapnya adalah Sulaiman Ibn al- sy‟ats ibn Ishaq al-Azdawi al-
Sijitstani.
Tokoh ini dilahirkan di Sijistan kota ini terletak antara Iran dengan Afganistan), pada tahun 202
H/817M. Mencari ilmu merupakan kesenangan iman Abu Daud sejak kecil. maka kesempatan itu dia
gunakan untuk mendengarkan hadits di negrinya Sijistan dan sekitarnya. Kemudian dia memulai rihlah
ilmiahnya ketika menginjak umur delapan belas tahun.
Beliau mengelilingi negeri tetangga Ia belajar hadits dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya,
yang dijumpainya di Hijaz,Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri-negeri lain.
Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia untuk memperoleh pengetahuan luas tentang
hadits,kemudian hadits-hadits yang diperolehnya itu disaring dan hasil penyaringannya
dituangkandalam kitab As-Sunan.
Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di sana ia mengajarkan hadits dan fiqih kepada para
penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya. Kitab Sunan karyanya itu
diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadits,Ahmad bin Hanbal. Kemudian Abu Dawud menetap di
asrah atas permintaan gubernur setempat yangmenghendaki supaya asrah menjadi “Ka‟bah” bagi
para ilmuwan dan peminat hadits.
Di antara guru beliau yang terdapat di dalam sunannya adalah; Ahmad bin Muhammmad bin Hanbal as
Syaibani al agdadi, Yahya bin Ma‟in bu Zakariya, Ishaq binIbrahin bin Rahuyah abu ya‟qub al
Hanzhali, Utsman bin Muhammad bin abi Syaibah abu al Hasan al Abasi al Kufi, Muslim bin Ibrahim
al Azdi, bdullah bin Maslamah bin Qa‟nab al Qa‟nabi al Harits al Madani, Musaddad bin Musarhad
bin Musarbal, Musa bin Ismail at Tamimi, Muhammad bin Basar, Zuhair bin Harbi (Abu Khaitsamah),
Umar bin Khaththab as Sijistani, Ali bin Al Madini, Ash Shalih abu sarri (Hannad bin sarri), Qutaibah
bin Sa‟id bin Jamil al aghlani, Muhammad bin Yahya d uhli, an masih banyak yang lainnya
Sebagai ulama besar tentu memiliki banyak murid-murid diantara murid-murid beliau adalah: Imam
bu „Isa at Tirmid i, Imam Nasa‟I, Abu Ubaid Al Ajuri, Abu Thayyib Ahmad bin Ibrahim Al Baghdadi
Pera i sunan bi aud dari beliau), bu „ mru hmad bin li l ashri pera i kitab sunan dari
beliau), bu akar hmad bin Muhammad l Khallal l Faqih, Isma‟il bin Muhammad sh Shafar,
Abu Bakr bin Abi Daud (anak beliau) dan masih banyak lagi.
49
Karya-karyanya :
Karya-karya imam abu daud diantaranya: s Sunan, l marasil, l Masa‟il, Ijabaatuhu „an su‟alaati
bi „Ubaid al juri, Risalatuhu ila ahli Makkah, Tasmiyyatu al Ikh ah allad iina ro aa „anhum al
hadits, Kitab a uhd, r Radd „ala ahli al qadar, n Nasikh al Mansuk, t Tafarrud, dll
Diantara kitab-kitab tersebut yang paling terbesar dan terkenal adalah sunan Abi Daud. Imam Abu
Daud menyusun kitab sunannya dengan sistimatika Fiqh. Kitab ini berisi 4.800 hadis. Kitab ini sangat
memudahkan pembaca dalam mencari hadis-hadis huku, ia juga mengakui bahwa tidak semua hadis
yang ditulis itu shahih. Karenanya, ia member catatan sejumlah hadis lemah yang dicantumkan dalam
kitabnya. Sehingga pantas kitab ini berada di bawah tingkatan shahih al-Bukhari dan Muslim. Imam
Abu Daud meninggal dunia di Basrah pada tanggal 16 Syawal 275 H(889 M) di usia 73 Tahun.
50