The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah Peminatan
Kelas XI Semester 1
KD 3.1
Menganalisis kerajaan-kerajaan maritim Indonesia pada masa Hindu dan Buddha dalam sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rianadea2203, 2021-11-21 08:53:27

Pengaruh Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Sejarah Peminatan
Kelas XI Semester 1
KD 3.1
Menganalisis kerajaan-kerajaan maritim Indonesia pada masa Hindu dan Buddha dalam sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.

Keywords: 220302

PENGARUH
KERAJAAN HINDU-

BUDHA DI
INDONESIA
HINGGA MASA KINI

SMA Semester 1
Kelas XI

Media Pembelajaran (B)

DESKRIPSI2

KD 3.1
Menganalisis kerajaan-kerajaan
maritim Indonesia pada masa Hindu

dan Buddha dalam sistem
pemerintahan, sosial, ekonomi, dan
kebudayaan serta pengaruhnya dalam

kehidupan masyarakat Indonesia
masa kini

Pengajar : Riana Dea Marita

NIM : 200210302088

Mata Pelajaran: Sejarah Peminatan

Kelas : XI

Semester : 1 (Ganjil)

Waktu : 90 Menit

Tujuan : Mengetahui dan mampu

memahami mengenai pengaruh

dari Kerajaan Hindu-Budha pada

masyarakat saat ini.

[email protected]

3 Proses Interaksi Masyarakat di
Berbagai Daerah dengan
Tradisi Hindu-Budha

Proses akulturasi selama berabad- abad
menimbulkan sinkretisme antara kedua agama
tersebut dan unsur budaya asli hingga lahirlah
agama baru yang dikenal dengan sebagai
Syiwa Budha. Sinkretisme adalah paham atau
aliran baru yang merupakan perpaduan dari
beberapa paham untuk mencari keserasian
dan keseimbangan. Aliran ini berkembang
pesat pada abad ke-1M. Pengannutnya, antara
lain Raja Kertanegara dan Adityawarma.
Akulturasi budaya paling mudah kita lihat
dalam bentuk kesenian, seperti seni rupa, seni
sastra, dan seni bangunan yang merupakan
unsur kebudayan material. Akulturasi budaya
ini juga dapat kita saksikan dalam upacara –
upacara ritual. Pelaksanaan proses akulturasi
tersebut dilakukan oleh para cendekiawan,
agamawan, arsitek, sastrawan istana maupun
rakyat, dan para seniman.

4 PENGARUH DALAM
BENTUK FISIK

1. PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU-
BUDHA TERHADAP SENI BANGUNAN

Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha
dalam bidang arsitektur atau seni bangunan
dapat dilihat denggan jelas pada candi –
candi. Ada perbedaan fungsi antara candi
dalam agama Hindu dan candi dalam agama
Budha. Dalam agama Hindu, candi
difungsikan sebagai makam adapun dalam
agam Budha, candi berfungsi sebagai tempat
pemujaan atau peribadatan.

Meski difungsikan sebagai makan,
namun tidak berarti bahwa mayat atau abu
jenazah dikuburkan dalam candi. Benda yang
dikuburkan atau dicandikan adalah macam –
macam benda yang disebut pripih. Pripih
dianggap sebagai lambang zat jasmaniah
yang rohnya sudah bersatu dengan
penitisnya. Pripih diletakkan dalam peti batu
di dasar bangunan, kemudian di atasnya
dibuatkan patung dewa sebagi perwujudan
sang raja.

5

Bangunan candi di Indonesia yang
bercorak Hindu, antara lain candi Prambanan,
Candi Sambisari, Ratu Boko, Gedongsongo,
Sukuh, Dieng, Jago, Singasari, Kidal,
Panataran, Surawan, dan Gapura Bajang Ratu.
Sedangkan bangunan yang bercorak Budha,
antara lain Candi Borobudur, Mendut, Pawon,
Kalasan, Sewu, Sari, dan Candi Muara Takus.

Candi Muara Takus

Gapura Bajang Ratu

Candi Panataran

6 PENGARUH DALAM
BENTUK FISIK

2. PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU-
BUDHA TERHADAP SENI RUPA

Unsur seni rupa atau seni lukis India
telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti
dengan telah ditemukannya area Budha
berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai.
Juga patungan Budha berlanggam Amarawati
ditemukan di Sikendeng (Sulawesi Selatan).
Seni rupa India pada Candi Borobudur ada
pada relief – relief cerita Sang Budha
Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada
umumny lebih menunjukkan suasana alam
Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan
rumah panggung dan hiasan burung merpati.
Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu
bercandik. Lukisan – lukisan tersebut
merupakan lukisan asli Indonesia, karena
lukisan seperti itu tidak pernah ditemukan
pada candi – candi yang ada di India. Juga
relief Candi Prambanan yang memuat cerita.

7 PENGARUH DALAM
BENTUK NON-FISIK

1. PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU-
BUDHA TERHADAP SENI SASTRA

Periode awal di Jawa Tengah pengaruh
sastra Hindu cukup kuat. Periode tengah
bangsa Indonesia mulai melakukan
penyaduran atas karya India. Contohnya: Kitab
Bharatayuda merupakan gubahan Mahabarata
oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Isi
ceritnya tentang peperangan selama 18 hari
antara Pandawa melawan Kurawa. Para ahli
berpendapat bahwa isi sebenarnya merupakan
perebutan kekuasaan dalam keluarga raja –
raja Kediri.

Prasasti – prasasti yang ada ditulis
dalam bahasa Sanksekerta dan Huruf Pallawa.
Bahasa Sanksekerta banyak digunakan pada
kitab – kitab kuno/Sastra India. Mengalami
akulturasi dengan bahasa Jawa melahirkan
bahasa Jawa Kuno dengan aksara Pallawa yang
dimodifikasi sesuai dengan pengertian dan
selera Jawa sehingga menjadi aksara Jawa
Kuno dan Bali Kuno. Perkembangannya
menjadi aksara Jawa sekarang serta aksara
Bali.

8

Prasasti Yupa
Prasasti Kalasan

9 PENGARUH DALAM
BENTUK NON-FISIK

2. PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU-
BUDHA TERHADAP SENI SISTEM
PEMERINTAH

Sebelum masuknya pengaruh Hindu-
Budha, bangsa Indonesia telah mengenal
sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan
kepala suku berlangsung secara demokratis,
yaitu salah seorang kepala suku merupakan
pemimpin yang dipilih dari kelompok sukunya,
karena memiliki kelebihan dari anggota
kelompok suku lainnya. Akan tetapi, setelah
masuknya pengaruh Hindu-Budha, tata
pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku,
melainkan seorang raja yang memerintah
wilayah kerajaannya secara turun – menurun
(bukan lagi ditentukan oleh kemampuan,
melainkan oleh keturunan).

10 PENGARUH DALAM
BENTUK NON-FISIK

3. PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA
TERHADAP SENI KEPERCAYAAN

Pada saat budaya Hindu-Budha masuk
ke Indonesia, masyarakat masih menganut
kepercayaan asli, yaitu animisme dan
dinamisme. Akibat adanya proses akulturasi,
agama Hindu dan Budha lalu diterima
penduduk asli. Dibandingkan agama Hindu,
agama Budha lebih wilayah. Sebab, agama
Budha tidak mengenal kasta, tidak membeda –
bedakan manusia, dan menganggap semua
manusia itu sama derajatnya dihadapan Tuhan
(tidak diskriminatif). Menurut agama Budha,
setiap manusia dapat mencapai nirwana
asalkan baik budi pekertinya dan berjasa
terhadap masyarakat.

“Belajarlah dari hari
kemarin, hiduplah untuk
hari ini, dan berharaplah

untuk esok hari. hal
terpenting adalah tidak
berhenti untuk bertanya”

-Albert Einstein-

UNIVERSITAS JEMBER

Jl. Kalimantan Tegalboto NO. 37, Krajan Timur,
Sumbersari, Kec. Sumbersari, Kab. Jember,
Jawa TImur


Click to View FlipBook Version