The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by morokoa.info, 2022-03-09 20:56:21

LP GENERAL WEAKNESS

LP GENERAL WEAKNESS

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIAGNOSA GENERAL WEAKNESS
RSUD UNDATA PROVINSI SULAWESI TENGAH

Disusun Oleh
Rayani Mpole, S.Kep

2021032083
Mengetahui
Pembimbing Lahan Praktek
Suparni, S.Tr.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS
STIKES WIDYA NUSANTARA PALU

TAHUN 2022

1

LAPORAN PENDAHULUAN
GENERAL WEAKNESS

A. Konsep Teoritis
1. Definisi
General weakness adalah kelemahan yang merupakan suatu keluhan
yang paling sering diutarakan oleh pasien. Kelemahan adalah penurunan
fungsi normal dari satu atau lebit otot manusia, tingkat tenaga yang rendah
dan perasaan mudah letih setelah melakukan aktivitas.
2. Etiologi
Penyebab General Weakness adalah:
a. Penurunan kesadaran pada awalnya dapat menyebabkan kelemahan
dikarenakan faktor asupan nutrisi yang menjadi berkurang,
metabolisme yang meningkat.
b. Infeksi merupakan salah satu penyebab munculnya kelemahan pada
pasien terutama pasien berusia lanjut. Infeksi memiliki penyebab, mulai
dari bakteri, virus, parasit, jamur, hingga penurunan system imun tubuh
yang menyebabkan agen-agen oportunistik dapat menimbulkan gejala
infeksi.
c. Penurunan intake makanan, kelemahan merupakan keadaan dimana
tubuh memiliki tingkat tenaga yang rendah. Pada pasien lanjut usia hal
ini dapat terjadi dikarenakan penurunan intake makanan yang
seharusnya dikonsumsi.
d. Obat-obatan yang menyebabkan kelemahan, beberapa obat memiliki
efek samping menimbulkan kelemahan apabila dikonsumsi dalam
jangka waktu lama. Diantaranya : obat penurun tekanan darah, obat
antidepressan.
3. Patofisiologi
Sel-sel otot bekerja mendeteksi aliran impuls listrik dari otak, yang
memberi sinyal mereka berkontraksi melalui pelepasan kalsium oleh
retikulum sarkoplasma. Kalsium yang keluar dari sel otot menyebabkan

2

kelemahan dikarenakan kalsium yang tersedia dalam otot menjadi sedikit
sehingga otot sulit untuk berkontraksi.

Substrat dalam ototnya umumnya berfungsi memicu kontraksi otot,
namun akibat dari creatine fosfat yang menyimpan energy sehingga dapat
memungkinkan kontraksi kuat otot habis atau berkurang menyebabkan
kurangnya sumber energy intraseluler untuk memicu kontraksi
menyebabkan otot berhenti berkontraksi dan terjadilah general weakness.
4. Pathway Keperawatan

Infeksi, Imunitas Terganggu,
Agen Opportunistik

Defisit kalsium ke sel-sel otot

Inefektif substrat dalam otot

Kontraksi otot berkurang
Kelemahan (Weakness)

Intoleransi aktifitas Kecemasan Ketidakmampuan menelan
atau menerima makanan

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

3

5. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis general weakness:
a. Rasa lelah yang sulit hilang
b. Sulit berkonsentrasi
c. Pingsan
d. Kualitas tidur yang tidak baik
e. Nyeri otot,sendi atau punggung
f. Pembesaran kelenjar pada daerah leher dan ketiak
g. Sakit kepala, pusing atau vertigo
h. Nyeri tenggorokan
i. Berdebar-debar

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik:
a. Darah lengkap
b. Gula darah
c. Serum elektrolit
d. Ureum kreatinin
e. Kalsium

7. Penatalaksanaan
a. Tatalaksana pengobatan
Pengobatan didasarkan dengan diagnosa, apabila diketahui. Kondisi-
kondisi kelainan metabolic, nutrisi, dan endokrin, dapat dikoreksi
dengan mengobati faktor penyebab, pengobatan spesifik diperlukan
untuk infeksi seperti TB, pneumonia, atau sinusitis. Pada pasien dengan
keganasan, kelemahan dapat timbul karena faktor kemoterapi atau
radioterapi. Pengobatan pada pasien tua memerlukan perhitungan dosis
yang disesuaikan (biasanya dengan penurunan dosis) dan pembatasan
regimen obat yang diberikan karena perubahan fungsi tubuh pada
pasien yang lanjut usia.
b. Tatalaksanan monitoring
Pengawasan terhadap perkembangan kondisi pasien geriatric memiliki
peran penting dalam rangkaian pengobatan penyakit yang dihadapi.

4

Pengawasan dapat berupa observasi perbaikan keadaan umum, tanda-
tanda vital, keluhan subjektif, produksi urine, keseimbangan cairan,
hingga pemeriksaan penunjang berkala untuk melihat perjalanan
kondisi pasien selama mendapat perawatan.
c. Tatalaksana edukasi
Edukasi membantu rencana pengobatan dokter dapat berjalan dengan
baik, dikarenakan diperlukan kerja sama antara pasien, keluarga, atau
pendamping pasien, dan juga dari pihak tenaga kesehatan yang terkait.
Informasi yang dapat diberikan antara lain penyakit yang diderita
pasien, rencana pengobatan yang akan diberikan, efek samping
pengobatan yang mungkin terjadi
8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita general weakness yaitu:
a. Sindrom kelemahan kronis
b. Gagal ginjal kronis
c. Penyakit paru obstruktif kronik
d. Penyakit jantung
e. Anemia
f. Diabetes

B. Konsep Dasar Keperawatan

I. Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
Gejala: insomnia, sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan
koordinasi, kelelahan berat. Tanda: Atrofi otot.
2. Sirkulasi Gejala: palpitasi, nyeri dada (angina) Tanda: disritmia
(Fibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan
darah dengan tekanan nada yang berat, takikardia saat istirahat,
sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis).
3. Eliminasi Gejala: urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam
feses (diare)
4. Integritas ego Gejala: Mengalami stres yang berat baik

5

emosional maupun fisik Tanda: Emosi labil (euforia sedang
sampai delirium), depresi .
5. Makanan / cairan Gejala: Kehilangan berat badan yang
mendadak, nafsumakan meningkat, makan banyak, makannya
sering, kehausan, mual dan muntah Tanda: Pembesaran tiroid,
goiter, edema non pitting terutama daerah pretibial
6. Neurosensori Tanda: Bicaranya cepat dan parau, gangguan
status mental dan perilaku, seperti: bingung, disorientasi,
gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma,
tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa bagian
tersentak-sentak, hiperaktif reflekstendon dalam (RTD)
7. Nyeri / kenyamanan Gejala: nyeri orbital, fotofobia
8. Pernafasan Tanda: frekuensi pernafasan meningkat, takipnea,
dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis)

9. Keamanan Gejala: tidak toleransi teradap panas, keringat yang
berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin
digunakan pada pemeriksaan) Tanda: suhu meningkat di atas
37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan emerahan, rambut
tipis, mengkilat, lurus, eksoftalmus: retraksi, iritasi pada
konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering
terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.

10. Seksualitas Tanda: penurunan libido, hipomenore, amenore dan
impoten

11. Penyuluhan / pembelajaran Gejala: adanya riwayat keluarga
yang mengalami masalah tiroid, riwayat hipotiroidisme, terapi
hormon toroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan
terhadappengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan
tiroidektomi sebagian, riwayat pemberian insulin yang
menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung atau
pembedahan jantung, penyakit yang baru terjadi (pneumonia),
trauma, pemeriksaan rontgen foto dengan kontras.

6

II. Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas
2. Kecemasan
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

7

1. Intervensi

Diagnosa Keperawatan/ Tujuan dan Kriteria Hasil
Masalah Kolaborasi

Intoleransi aktivitas NOC : NIC
 Ob
Berhubungan dengan : ❖ Self Care : ADLs
● Tirah Baring dal
atau ❖ Toleransi aktivitas  Ka

imobilisasi ❖ Konservasi eneergi me
● Kelemahan menyeluruh  Mo
Setelah dilakukan tindakan
● Ketidakseimbangan antara yan
keperawatan selama …. Pasien
 Mo
suplei oksigen dengan bertoleransi terhadap aktivitas dengan kel
ber
kebutuhan Kriteria Hasil :
❖ Berpartisipasi dalam aktivitas fisik  Mo
Gaya hidup yang dipertahankan. ter
dis
DS: tanpa disertai peningkatan tekanan pu
● Melaporkan secara verbal
darah, nadi dan RR  Mo
tid
adanya kelelahan atau ❖ Mampu melakukan aktivitas
 Ko
kelemahan. sehari hari (ADLs) secara mandiri Re
● Adanya dyspneu atau me
❖ Keseimbangan aktivitas dan tep

ketidaknyamanan saat istirahat  Ba
akt
beraktivitas.
 Ba
DO : ko

● Respon abnormal dari

tekanan darah atau nadi

terhadap aktifitas
● Perubahan ECG : aritmia,

iskemia

8

Rencana Keperawatan

Intervensi Rasional
:
bservasi adanya pembatasan klien  agar dapat memberikan rencanakan
lam melakukan aktivitas keperawatan dengan tepat
aji adanya faktor yang
enyebabkan kelelahan  agar dapat memberikan rencanakan
onitor nutrisi dan sumber energi keperawatan dengan tepat
ng adekuat
 dengan nutrisi yang adekuat, pasien
onitor pasien akan adanya akan mendapat energi yang cukup
lelahan fisik dan emosi secara untuk melakukan aktivitas
rlebihan
onitor respon kardivaskuler  agar dapat memberikan rencanakan
rhadap aktivitas (takikardi, keperawatan dengan tepat
sritmia, sesak nafas, diaporesis,
ucat, perubahan hemodinamik)  sebagai pantauan kestabilan dari
onitor pola tidur dan lamanya hemodinamik dan respon jantung
dur/istirahat pasien terhadap aktifitas

olaborasikan dengan Tenaga  memudahkan perawat dalam
ehabilitasi Medik dalam
erencanakan progran terapi yang mengetahui sejauh mana tingkat
pat.
antu klien untuk mengidentifikasi ketidaknyamanan agar dapat
tivitas yang mampu dilakukan
antu untuk memilih aktivitas merencanakan tindakan
onsisten yang sesuai dengan
keperawatan selanjutnya

 terapi medik yang tepat dapat

memungkinkan pemulihan tingkat

aktivitas

 menelaah kemampuan aktivitas
klien



8

kem
sos
 Ba
me
dip
dii
 Ba
ban
kre
 Ba
akt
 Ba
lat
 Ba
me
dal
 Se
yan
 Ba
me
pen
 Mo
dan

9

mampuan fisik, psikologi dan

sial

antu untuk mengidentifikasi dan

endapatkan sumber yang

perlukan untuk aktivitas yang

inginkan

antu untuk mendpatkan alat

ntuan aktivitas seperti kursi roda,

ek

antu untuk mengidentifikasi

tivitas yang disukai

antu klien untuk membuat jadwal

ihan diwaktu luang

antu pasien/keluarga untuk

engidentifikasi kekurangan

lam beraktivitas

ediakan penguatan positif bagi

ng aktif beraktivitas

antu pasien untuk

engembangkan motivasi diri dan

nguatan

onitor respon fisik, emosi, sosial

n spiritual

9

Diagnosa Keperawatan/ Rencana Keper
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil
Kecemasan
berhubungan dengan NOC : NIC
Faktor keturunan, Krisis Penurunan
situasional, Stress, perubahan - Kontrol kecemasan 1. Tenang
status kesehatan, ancaman 2. Berikan
kematian, perubahan konsep diri, - Koping
kurang pengetahuan dan diagnos
hospitalisasi Setelah dilakukan asuhan 3. Kaji tin

DO/DS: selama ……………klien pada tin
- Insomnia 4. Gunaka
- Kontak mata kurang kecemasan teratasi dgn kriteria
- Kurang istirahat sentuha
- Berfokus pada diri sendiri hasil: 5. Teman
- Iritabilitas
- Takut 1. Klien mampu keaman
- Nyeri perut 6. Sediaka
- Penurunan TD dan denyut nadi mengidentifikasi dan
- Diare, mual, kelelahan ketegan
- Gangguan tidur mengungkapkan gejala 7. Intruks
- Gemetar
- Anoreksia, mulut kering cemas menggu
- Peningkatan TD, denyut nadi,
2. Mengidentifikasi,
RR
- Kesulitan bernafas mengungkapkan dan
- Bingung
- Bloking dalam pembicaraan menunjukkan tehnik untuk
- Sulit berkonsentrasi
mengontol cemas

3. Vital sign dalam batas

normal

4. Postur tubuh, ekspresi

wajah, bahasa tubuh dan

tingkat aktivitas

menunjukkan berkurangnya

kecemasan

10

rawatan Rasional
Intervensi
1. Kecemasan tidak meningkat
n kecemasan 2. Pasien dapat memahami terkait

gkan klien keadaannya

n informasi tentang 3. Mengetahui tingkat kecemasan untuk

sa prognosis dan tindakan menentukan intervensi selanjutnya
Empati petugas kesehatan dapat dirasakan
ngkat kecemasan dan reaksi fisik pasien
5. Kecemasan tidak meningkat
ngkat kecemasan 6. Pengalihan terhadap kecemasan yang
dirasakan pasien
an pendekatan dan 7. Mengurangi kecemasan pasien

an

ni pasien untuk mendukung

nan dan penurunan rasa takut

an aktifitas untuk menurunkan

ngan

sikan kemampuan klien untuk

unakan teknik relaksasi

0

Diagnosa Keperawatan/ Rencana kepera
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil

Ketidakseimbangan nutrisi NOC: NIC:
kurang dari kebutuhan tubuh a. Nutritional status: ▪ Kaji ada
Berhubungan dengan: ▪ Ajarkan
Ketidakmampuan untuk Adequacy of nutrient
memasukkan atau mencerna b. Nutritional Status: food and makanan
nutrisi oleh karena faktor ▪ Monitor
biologis, psikologis atau ekonomi. Fluid Intake
DS: c. Weight Control darah
- Nyeri abdomen ▪ Monitor
- Muntah Setelah dilakukan tindakan ▪ Monitor
- Kejang perut keperawatan selama….nutrisi ▪ Monitor
- Rasa penuh tiba-tiba setelah ▪ Kolabor
kurang teratasi dengan
makan indikator: supleme
DO: ❖ Albumin serum
- Diare ❖ Pre albumin serum sehingga
- Rontok rambut yang berlebih ❖ Hematokrit
- Kurang nafsu makan ❖ Hemoglobin dipertah
- Bising usus berlebih ❖ Total iron binding capacity ▪ Pertahan
- Konjungtiva pucat ❖ Jumlah limfosit
- Denyut nadi lemah

11

awatan Rasional
Intervensi

anya alergi makanan 1. Mengetahui adanya alergi makanan atau tidak
n pasien bagaimana membuat catatan untuk menentukan kebutuhan diet yang tepat
n harian. bagi pasien
r adanya penurunan BB dan gula
2. Pasien dapat membuat catatan makanan
r turgor kulit sendiri dan agar tahu kapan saja jadwal
r mual dan muntah makan pasien.
r intake nuntrisi
rasi dengan dokter tentang kebutuhan 3. Kebutuhan nutrisi dapat diketahui melalui
en makanan seperti NGT/ TPN peningkatan/penurunan berat badan
a intake cairan yang adekuat dapat
hankan. 4. Turgor kulit jelek dapat menggambarkan
nkan terapi IV line keadaan klien.

5. Mual dan muntah mempengaruhi pemenuhan
nutrisi

6. supaya pola diet pasien akan mengidentifikasi
kekuatan/kebutuhan/defisiensi nutrisi

7. untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien

8. untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh

1

DAFTAR PUSTAKA
Buku saku Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014 – NANDA

International.
Bunner & Suddart. 2015, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : EGC
Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahern. 2015, Buku Saku Diagnosis Keperawatan:

Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC (Edisi 9). Jakarta:
ECG
Nurarif A. Huda, Kusuma H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction
Sudoyo, Aru W. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi 4. Jakarta :
Interna Publishing

12


Click to View FlipBook Version