The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

UAS Literasi Lintas Mapel Buku Panduan Kegiatan Literasi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adelia endarwati, 2023-03-29 03:35:52

UAS Literasi Lintas Mapel Buku Panduan Kegiatan Literasi

UAS Literasi Lintas Mapel Buku Panduan Kegiatan Literasi

Buku Panduan “Kegiatan Literasi My Zone (Zona Karyaku) dan WAKUNCAN (Wajib Kunjung Perpustakaan)” Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Disusun Oleh: Adelia Endarwati (9223610477) Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MARET-2023


Kata Pengantar Literasi memungkinkan masyarakat akademis menjadi entitas yang mampu bersaing dan lebih maju dibandingkan dengan individu-individu lainnya yang tidak literat. Salah satu upaya agar individu menjadi literat adalah melalui membaca, sebab membaca merupakan kegiatan memahami berbagai aspek kehidupan. Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai suatu institusi yang di dalamnya terdapat individuindividu potensial untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul Indonesia harus diupayakan menjadi penggerak lahirnya masyarakat literat agar menjadi entitas pembelajar yang mempunyai potensi dan kemampuan yang sangat luar biasa untuk bersaing. Oleh karenanya, kebiasaan membaca perlu ditumbuhkan, dibina, dan dikembangkan. Mengacu pada tujuan menumbuh kembangkan kebiasaan membaca, pada tahun 2016 digulirkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini diprogramkan oleh Direktorat Pembinaan SMP untuk membina peningkatan minat membaca peserta didik SMP. Pada pelaksanannya, sekolah bersama dengan pemangku kepentingan lainnya memberikan bantuan berupa fasilitas dan dorongan untuk menggerakkan budaya membaca peserta didik. Agar mempunyai persepsi yang sama, diperlukan panduan literasi di SMP yang menyajikan praktik-praktik baik pelaksanaan GLS dalam kegiatan pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk menduplikasi, mengadaptasi, atau memodifikasi kegiatan literasi sekolah sebagai sebuah gerakan. Semoga buku ini dapat memberikan inspirasi tambahan dan memperkaya inovasi bagi sekolah untuk melaksakanan program GLS atau melakukan program lanjutan GLS Medan, Maret 2023 Penulis Adelia Endarwati


PENDAHULUAN Kemendikbud mengukur keterampilan membaca melalui program Indeks Alibaca (Angka Literasi Membaca) Indonesia 2019 yang terdiri atas Dimensi Kecakapan, Dimensi Akses, Dimensi Alternatif, dan Dimensi Budaya. Indeks Alibaca Provinsi dari 34 provinsi di Indonesia, sembilan provinsi (26%) masuk dalam kategori aktivitas literasi sedang; 24 provinsi (71%) masuk kategori rendah; dan satu provinsi (3%) masuk kategori sangat rendah. Artinya, sebagian besar provinsi berada pada level aktivitas literasi rendah dan tidak satu pun provinsi termasuk ke dalam level aktivitas literasi tinggi. Atas permasalahan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghasilkan beberapa regulasi untuk mengentaskan masalah literasi di kalangan peserta didik, misalnya Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Undang-undang ini menjelaskan tentang perbukuan, mencakup tentang pemerolehan naskah, penerbitan hingga penyediaan dan pengawasan buku. UUD 1945 Pasal 31, Ayat 3 berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Ayat ini menerangkan bahwa SMP di seluruh Indonesia merupakan bagian dari institusi yang memberikan layanan pendidikan. Institusi tersebut memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan sebuah program yang memfasilitasi lahirnya warga sekolah yang memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, emosi, bahasa, estetika, dan sosial agar eksistensinya diperhitungkan dalam persaingan, baik pada tataran lokal, regional, nasional maupun internasional. Selain itu, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu butirnya menetapkan adanya budaya baca yang diawali dengan kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah. Peraturan ini dikuatkan dengan ditetapkannya program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai sebuah gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah. Hasil dari GLS diharapkan mampu membekali peserta didik dengan kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Gerakan Literasi di SMP Negeri 4 Medan saat ini telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik dimana sekolah tersebut merupakan sekolah tempat saya PPL PPG Prajabatan, Kegiatan literasi dilakukan setiap hari rabu dan dijuluki sebagai kegiatan


“Rame-Rame” Rabu Membaca Rabu Menulis. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini di pimpin oleh salah satu guru sementara guru lainnya mengawasi peserta didik. Peserta didik diwajibkan membawa buku bacaan dari rumah dan dalam hal ini kriteria buku yang dibawa bebas. Kegiatan literasi ini dilakukan dilapangan sekolah dengan waktu 30 menit. Peserta didik masing-masing membaca buku bacaan yang ia bawa, lalu setelahnya peserta didik diminta untuk menliskan apa yang ia dapat dari buku bacaan tersebut, misalnya saja menuliskan ceritanya secara singkat lalu menuliskan pesan moral apa yang dapat diambil dari bacaan tersebut. Setelah itu guru yang memimpin berjalannya kegiatan akan mengarahkan beberapa peserta didik untuk menyampaikan sedikit bacaan dari buku yang telah dibaca di hadapan seluurh masyarakat sekolah. Kemudian disetiap kelas juga memiliki sudut baca yang telah disiapkan beberapa buku yang bisa dibaca setiap peserta didik selain pojok baca setiap ruang kelas juga terdapat hasil kreativitas peserta didik yang ditempelkan didinding kelas untuk menghiasi kelas tersebut dan ada tulisan-tulisan literasi yang dapat dibaca oleh setiap anak didik yang dapat menambah pengetahuan mereka dan juga pemahamannya. Namun kegiatan literasi yang dilakukan di SMP Negeri 4 Medan ini menurut saya masih dapat ditingkatkan lagi terlebih dalam penggunaan perpustakaan di sekolah yang terlihat tidak banyak peserta didik yang mengunjungi, tentunya sangat disayangkan sebab perpustakaan merupakan salah satu tempat yang bisa dilaksanakan kegiatan literasi pada peserta didik. Mengingat saat ini adalah zaman yang serba digitaliasi tentunya kegiatan literasi juga harus memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini, literasi yang kreatif dan inovatif akan lebih menunjang semangat para peserta didik ingin berliterasi, tidak seperti literasi yang biasanya dilakukan yaitu masih dengan menggunakan teks yang dibacakan dan peserta lain mendengarkan dan memberikan tanggapan, dari pemantauan saat melakukan kegiatan PPL bahwa kegiatan literasi yang telah dilaksanakan belum dapat membuahkan hasil yang signifikan atas minat semua peserta didik untuk berliterasi, terbukti pada saat kegiatan literasi dilapangan masih terdapat banyak siswa yang tidak memperhatikan temannya yang sedang bertugas di depan membacakan materi literasinya bahkan tidak mendengarkan namun berbicara dibarisan sehingga jadi mengundang ribut dan menggangu temannya yang lain. Maka dari itu dibawah ini ada beberapa program literasi yang dapat diterapkan di sekolah SMP Negeri 4 Medan untuk meningkatkan literasi peserta didik.


1. Nama Kegiatan Wakuncan (Wajib Kunjung Perpustakaan) 2. Deskripsi Singkat Kegiatan Program wajib Kunjungan perpustakaan sekolah dilakukan agar peserta didik melakukan kunjungan ke perpustakaan baik langsung maupun secara digital (e-library). Kunjungan ke perpustkaan bertujuan untuk memperkaya bahan bacaan peserta didik dengan berbagai macam buku yang tersedia di perpustakaan. Lalu juga bertujuan untuk menimbulkan rasa kecintaan, kesadaran dan kebiasaan siswa terhadap membaca, 3. Strategi yang digunakan Strategi yang digunakan yaitu : Mengusulkan kegiatan kepada pihak sekolah dan mendiskusikan kegiatan tersebut, apakah yang menjadi dasar dan manfaat kegiatan tersebut, setelah disetujui maka setelah itu memepersiapkan lingkungan fisik didalam perpustakaan seperti menata perpustakaan semenarik mungkin, representative, dan nyaman dengan melengkapinya dengan sarana yang memadai. Lalu mempersipakan buku bacaan untuk disediakan diperpustakaan 4. Alokasi Waktu Alokasi waktu yang diperlukan dalam kegiatan ini adalah setiap hari Rabu secara bergiliran perkelas, missalnya jam pertama kelas IX 1, maka di jam kedua lanjut kelas IX-2, da jam ketiga lanjut kelas IX-3. Setiap harinya terdapat tiga kelas yang berkunjung keperpustakaan. Alokasi waktu selama 1 jam pelajaran diperpustakaan sekolah. Untuk lebih kondusif, maka perkelas akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama 30 menit untuk 15 peserta didik dan sesi kedua 15 peserta didik. 5. Alat dan Bahan yang dibutuhkan Buku-Buku fiksi dan non-fiksi dan buku penunjang lainnya, jurnal harian untuk mengisi pemahaman yang didapatkan oleh pembaca dan sebagai catatan kunjungan keperpustakaan. 6. Langkah-langkah kegiatan 1. Membentuk petugas perpustakaan dan memberikan arahan untuk dapat mengawasi dan memantau berjalannya kegiatan kunjungan perpustakaan dalam


rangka kegiatan literasi. 2. Membuat aturan di perpustakaan, tidak boleh mengotori buku dan tidak boleh membawa pulang untuk menghindari supaya buku tidak hilang. 3. Setiap peserta didik akan diberikan buku jurnal literasi untuk diisi setiap hari apa yang mereka dapatkan dan pahami dari literasi yang dilakukan pada saat itu. 4. Setiap akhir bulan jurnal harian akan dikumpulkan kepada petugas perpustakaan dengan bantuan wali kelas untuk dicek dan diberikan penilaian untuk melihat perkembangan literasi dari setiap peserta didik. 7. Penilaian yang digunakan Penilaian yang dilakukan yaitu dengan cara keterlibatan dari berbagai pihak diantaranya ialah keluarga, Kepala sekolah juga akan mengevaluasi kegiatan literasi yang terlaksana bersama tim penyelenggara kegiatan inii, penilaian yang dilakukan menggunakan daftar hadir ke perpustakaan, kemudian dari jurnal harian yang wajib di isi oleh pembaca, selanjutnya penilaian dari hasil pemahaman pembaca dari hasil berliterasi 1. Nama Kegiatan My Zone (Zona Karyaku) 2. Deskripsi Singkat Kegiatan Program My Zone (Zona karyaku) dilakukan dengan mewajibkan peserta didik untuk membuat karya terbaiknya tentang literasi, misalnya saja membuat cerpen, novel, komik, lagu, video dan sebagainya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimiliki yang berkaitan dengan literasi. 3. Strategi yang digunakan 1. Membentuk petugas yang nantinya akan menampung seluruh hasil karya peserta didik yang kemudian nantinya akan diposting di media sosial. 2. Peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar guna memberi kesempatan kepada peserta didik dalam menggali referensi yang dapat membantunya dalam


berkarya. 4. Alokasi Waktu My Zone dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, tidak harus berada di sekolah, namun peserta didik harus memberikan karyanya sekali dalam satu semester 5. Alat dan Bahan yang dibutuhkan 1. Komputer/laptop, alat tulis dan perlengkapan yang dibutuhkan peserta didik secara pribadi 2. Perpustakaan menyediakan referensi yang mendukung siswa untuk berkarya 6. Langkah-langkah kegiatan 1. Setiap wali kelas mengkondisikan dan mengkoordinir peserta didik untuk membuat karya terbaik mereka dalam bentuk puisi, cerpen, komik, dan novl dalam bentuk soft file ataupun hardfile 7. Penilaian yang digunakan 1. Penilaian dari Kepala Sekolah 2. Penilaian dari Orang Tua 3. Penilaian dari Wali kelas 4. Penilian dari Diri sendiri Penilaian dapat dilakukan dengan cara dilakukannya evaluasi oleh Kepala sekolah, Orangtua, wali kelas, dan guru-guru serta teman-teman sejawat.


Click to View FlipBook Version