2. Klorfeniramin Pehachlor Tablet 4 mg Phapros
Maleat Cohistan
Chlorphenon Biomedis
Ethica
Injeksi 10 mg/ml ; tablet 4
mg
3. Deksklorfeniramin Lorson Tablet 2 mg IPI
Maleat Polaramine Tablet 2mg ; syrup Schering P
2mg/ml
4. Feniramin Maleat Avil Injeksi 50mg/2ml ; syrup Aventis
15mg/5ml ; tablet 25 mg;
tablet retard 50mg
Tablet 50 mg
Benohist Bernofarm
5. Difenhidramin Benadryl Capsul 25 mg Parke Davis
HCl Decadryl Injeksi 10 mg/ml Harsen
6. Dimenhidrinat Antimo Tablet 50mg Phapros
Amocaps Kapsul 50mg Erela
7. Mebhidrolin Biolergi Kaplet 50mg Konimex
Napadisilat Histapan
Sanbe
8. Prometazin Phenergan Farma
Tablet 25mg; syrup Aventis
51
Cendofergan 5mg/5ml Cendo
9. Homoklorsiklizin Homoclomin Syrup 1 mg/ml Eisai
Tablet 10mg
10. Azatadine Maleat Zadine Syrup 0,5 mg/5ml ; tablet Schering P
1mg
11. Setrizina CCl Incidal OD Kapsul 10 mg ; syrup 5 Bayer
mg/ml
12. Siproheptadina Alphahist Tablet 4 mg Pharmac
Heptasan Tablet 10 mg Apex
13. Loratadina Alloris Sanbe
Zeos Farma
Sanbe
Farma
Dankos
52
PENGGUNAAN OBAT-OBAT HIV/AIDS
a. Definisi HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan pathogen yang
menyerang sistem imun manusia, terutama semua sel yang memiliki penenda CD
4+ dipermukaannya seperti makrofag dan limfosit T. AIDS (acquired
Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu kondisi immunosupresif yang
berkaitan erat dengan berbagai infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, serta
manifestasi neurologic tertentu akibat infeksi HIV.
1.
2.
3.
4. ambar 3: Virus HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu retrovirus yang berarti
terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk ke dalam inti sel pejamu dan
ditranskripkan kedalam DNA pejamu ketika menginfeksi pejamu. AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu penyakit virus yang menyebabkan
kolapsnya sistem imun disebabkan oleh infeksi immunodefisiensi manusia (HIV),
dan bagi kebanyakan penderita kematian dalam 10 tahun setelah diagnosis.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau kumpulan berbagai
gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV.
b. Penyebab HIV
AIDS disebabkan oleh virus HIV. HIV merupakan suatu virus yang material
genetiknya adalah RNA (Asam Ribunukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks
yang sebagian besar terdiri atas protein. Virus ini menyerang organ-organ vital
sistem kekebalan tubuh manusia.
53
HIV merupakan virus RNA yang mengandung transkriptase terbalik yang
memiliki kapasitas untuk mengubah antigenisitasnya tanpa batas dan dengan
demikian mempersulit dalam memproduksi vaksin. Virus ini menyebabkan
penyakit AIDS yang menyeramkan karena tidak ada obatnya.
Fase perjalanan infeksi HIV dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu : fase infeksi
akut, kronik, dan laten sebagai berikut :
1. Fase Infeksi Akut Fase ini terdapat 40-90% kasus yang merupakan
keadaan klinis yang bersifat sementara yang berhubungan dengan
replikasi virus pada stadium tinggi dan ekspansi virus pada respon imun
yang spesifik. Proses replikasi tersebut menghasilkan virus-virus baru
yang jumlahnya jutaan dan menyebabkan terjadinya viremia yang
memicu timbulnya sindroma infeksi akut. Diperkirakan 50-70% orang
yang terinfeksi HIV mengalami sindroma infeksi akut selam 3 minggu
setelah infeksi virus dengan gejala umum seperti demam, faringitis,
limfadenopati, mialgia, letargi, malaise, nyeri kepala, mual, muntah,
diare, anoreksia dan penurunan berat badan. HIV juga dapat
menyebabkan kelainan sistem saraf meskipun paparan HIV terjadi pada
stadium infeksi masih awal.
2. Fase ini terjadi penurunan limfosit T, meskipun demikian tidak ada
antibodi spesifik HIV yang dapat terdeteksi pada stadium awal infeksi
ini. Selama masa infeksi akut, HIV mereplikasikan dirinya secara terus-
menerus, sehingga mencapai level 100 juta kopi HIV RNA/ml. HIV
tersebut mempunyai topisme pada berbagai sel target, terutama pada
sel-sel yang mampu mengekspresi CD4+, yaitu :
a. Sistem saraf: astrosit, mikroglia, dan oligodendroglia.
b. Sirkulasi sistemik: limfosit T, limfosit B, monosit dan makrofag.
c. Kulit: sel langerhans, fibroblast dan dendritik. Terjadi interaksi
antara gp120 dengan resptor CD4+ yang terdapat pada sel limfosit T
pada awal infeksi, interaksi tersebut menyebabkan terjadinya ikatan
dengan reseptor kemokin yang bertindak sebagai koreseptor spesifik
CXCR4 dan CCR5 yang juga terdapat pada membran sel target.
Proses internalisasi HIV pada membran sel target juga memerlukan
54
peran Glikoprotein 41 (gp41) yang terdapat pada selubung virus. Gp41
tersebut berperan dalam proses fusi membran virus dengan membran sel
target. Peran dari Gp41 tersebut menyebabkan seluruh komponen inti HIV
dapat masuk dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan
etiologi dari infeksi HIV/AIDS. Virus HIV dapat berada dalam cairan
tubuh manusia, misalnya darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu
ibu.
c. Gejala HIV
Beberapa gejala penyakit HIV/AIDS terdiri dari 4 stadium, yaitu :
1.) Stadium 1 Stadium awal infeksi HIV, gejala-gejalanya; demam,
kelelahan, nyeri sendi, pembesaran kelenjar getah bening (di leher, ketiak,
lipatan paha), gejala-gejala ini menyerupai influenza/monokleosis.
2.) Stadium 2 Stadium tanpa gejala, stadium dimana penderita tampak
sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV.
3.) Stadium 3 Stadium ARC (AIDS Related Complex) dengan gejala;
demam >38 derajat celsius secara berkala/terus menerus, menurunnya berat
badan >10% dalam waktu 3 bulan, pembesaran kelenjar getah bening,
diare/mencret yang berkala/terus menerus dalam waktu yang lama (lebih dari
1 bulan tanpa sebab yang jelas), kelemahan tubuh yang menurunkan
aktivitas fisik, dan keringat malam.
4.) Stadium 4 Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang
disebut sarkoma kaposi (tampak bercak merah kebiruan dikulit), kanker
kelenjar getah bening, infeksi penyakit penyerta, misalnya pneumonia yang
disebabkan oleh pneumocystis carinii, TBC, peradangan otak/selaput otak.
d. Replikasi HIV
HIV bereplikasi atau memperbanyak diri setelah menginfeksi sel
targetnya pada CD4 (Cluster of differentiation). Tahapan-tahapan HIV
memperbanyak diri adalah sebagai berikut:
1. Virus mengenali (landing) sel target CD4, kemudian berfusi ke dalam sel
target dan melepaskan materi genetiknya ke dalam sel target.
55
2. Terjadi transkripsi terbalik RNA menjadi DNA dengan bantuan enzim reverse
transcriptase.
3. Integrasi DNA virus ke dalam DNA manusia yang sedang bereplikasi dibantu
enzim integrase.
4. Terbentuk RNA virus yang ditranslasi menjadi protein besar, untuk
kemudian dipecah menjadi protein kecil.
5. Virus immature melewati membran sel inang dengan mengambil protein
pada sel membran (budding) dibantu enzim protease
6. Virion baru yang menular dilepaskan dari sel target
Gambar 2 : Proses Replikasi Virus HIV
e. Penularan dan Pencegahan HIV
Media penularan HIV AIDS, yaitu melalui darah (bisa berbentuk luka),
cairan sperma, dan cairan Vagina. Selain dari ke-tiga media tersebut, HIV
memang ditemukan dalam air ludah, air mata, air kencing, serta tinja penderita.
Tetapi jumlahnya sangat sedikit, dan karena itu tidak pernah dilaporkan berperan
sebagai sumber penularan. Bersalaman dan atau berpelukan dengan penderita
AIDS tidak akan menularkan AIDS. Nasehat untuk tidak sampai menimbulkan
luka memang sangat dianjurkan, terutama untuk petugas kesehatan yang
merawat penderita AIDS.
Memakai peralatan minum dan makan penderita AIDS, mandi dalam satu
56
kolam renang dengan penderita AIDS, menggunakan kamar mandi atau kakus
yang sama dengan penderita AIDS, dan atau gigitan atau serangga yang telah
menggigit penderita AIDS, juga tidak akan menularkan HIV AIDS.
Tindakan yang berisiko dalam penularan HIV AIDS yaitu :
a. Hubungan Seksual (Seks Bebas) Hubungan seksual (tanpa adanya ikatan
pernikahan) termasuk dalam resiko tinggi penularan HIV AIDS. Salah satu
media penularan HIV AIDS dalam hubungan seksual yaitu melalui cairan
vagina maupun cairan sperma. Ketika seseorang melakukan hubungan
seksual dengan pengidap HIV, maka seseorang tersebut akan ikut tertular.
Oleh karenanya perilaku hubungan seks bebas tidak aman merupakan
perilaku yang berisiko tertular maupun menularkan virus HIV.
b. Transfusi Darah Transfusi darah merupakan salah satu tindakan yang
berisiko tinggi menularkan HIV AIDS. Melalui transfusi darah yang tercemar
HIV (didonorkan oleh penderita HIV), maka akan menyebabkan sang
penerima donor ikut tertular. Harus ada pemeriksaan yang lebih teliti sebelum
melaksanakan atau melakukan prosedur transfusi darah, khususnya dalam
mencegah penyebaran HIV AIDS .
c. Penggunaan Jarum Suntik Penggunaan jarum suntik, tindik, tato, pisau
cukur, dll dapat menimbulkan luka. Benda-benda tersebut ketika tidak
disterilkan kemudian bersama-sama dipergunakan dan sebelumnya telah
dipakai orang yang terinfeksi HIV maka akan berisiko tertular HIV. Cara-cara
ini dapat menularkan HIV karena terjadi luka dan kontak darah dengan orang
yang terinfeksi HIV.
d. Ibu Hamil kepada Anak yang Dikandungnya Transmisi HIV/AIDS dapat
terjadi dari ibu ke anaknya. Beberapa situasi atau keadaan yang berisiko
tinggi dalam penularan HIV AIDS antara ibu dan anak adalah :
1. Antenatal, saat bayi masih berada di dalam rahim, melalui plasenta.
2. Intranatal, saat proses persalinan. Bayi terpapar darah ibu atau cairan
vagina.
3. Postnatal, setelah proses persalinan. Melalui air susu ibu (ASI), maka
57
anak yang menyusui dari ibu yang positif HIV akan ikut tertular HIV.
e. Penyalahgunaan Napza Walau tidak seluruh pengguna NAPZA, namun
sebagian besar pengguna beberapa jenis NAPZA cenderung menggunakan
jarum suntik yang tidak steril dan dilakukan secara bergantian sangat rentan
terhadap penularan HIV AIDS (tertular maupun menularkan). Hal yang lebih
mengerikan, pengguna napza yang merupakan ODHA akan lebih cepat
memasuki fase AIDS. Hal ini dikarenakan karakteristik NAPZA yang bersifat
menggerogoti organ tubuh. Termasuk juga perokok, karena rokok memiliki
sifat yang sama
Pencegahan primer AIDS bertujuan untuk menghindari penularan HIV
pada usia reproduktif. Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
menggunakan konsep “ABCD”. Sebagai langkah awal untuk pencegahan
primer, yaitu :
A : Abstinence, berarti Absen Seks, dengan tidak melakukan hubungan
seks bagi orang yang belum menikah
B : Be Faithful, berarti Bersikap Setia kepada satu pasangan, tidak
berganti-ganti pasangan seks.
C : Condom, berarti cegah penularan HIV dengan memakai kondom.
Kondom harus dipakai oleh pasangan seks yang salah satu
pasangannya telah diketahui terinfeksi HIV.
D : Drug No, berarti dilarang menggunakan narkoba.
Karena semua orang tanpa kecuali dapat tertular HIV apabila
perilakunya sehari-hari berisiko termasuk melakukan hubungan seks sebelum
menikah, hal yang ditekankan disini yaitu hubungan seks tidak aman akan
berisiko IMS (infeksi menular seksual), dan IMS memperbesar risiko penularan
HIV AIDS.
Hal yang dapat dilakukan untuk terhindar dari risiko penularan HIV
AIDS adalah;
1) mencari informasi yang lengkap dan benar yang berkaitan dengan HIV AIDS
2) mendiskusikan secara terbuka permasalahan yang sering dialami remaja
dalam hal ini tentang masalah perilaku seksual dengan orang tua, guru,
58
teman maupun orang yang memang paham mengenai hal ini,
3) menghindari penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tato dan
tindik.
4) tidak melakukan kontak langsung percampuran darah dengan orang yang
sudah terpapar HIV.
5) menghindari perilaku yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat
dan tidak bertanggung jawab .
Diagnosis Laboratorium HIV/AIDS
Diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan menguji HIV. Tes ini meliputi tes
Elisa, latex agglutination dan western blot. Penilaian Elisa dan latex agglutination
dilakukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan
positif infeksi HIV harus dipastikan dengan tes western blot. Tes lain adalah dengan
cara menguji antigen HIV, yaitu tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau
PCR. Bila pemeriksaan pada kulit, maka dideteksi dengan tes antibodi (biasanya
digunakan pada bayi lahir dengan ibu HIV)
Antibodi biasanya baru dapat terdeteksi sejak 2 minggu hingga 3 bulan
setelah terinfeksi HIV (97%).Masa tersebut disebut “masa jendela” (window
period). Jika hasil tes HIV negatif, yang dilakukan dalam masa 3 bulan setelah
kemungkinan terinfeksi adalah melakukan tes ulang. Petanda Perkembangan HIV
1. Jumlah CD4
2. Muatan Viral Plasma
Infeksi oportunis pada penderita HIV/AIDS adalah infeksi pada berbagai
macam organ yang disebabkan oleh berbagai jenis bakteri. Berbagai jenis infeksi
oportunistik yang sering menyertai penderita HIV/AIDS antara lain, Tuberkulosis
paru (hampir sekitar 50-65% pada penderita HIV/AIDS), kandidiasis, herpes, dan
lain lain.
f. Pengobatan HIV/AIDS
1. Sasaran terapi adalah mencapai efek penekanan maksimun replikasi
HIV. Sasaran sekunder adalah peningkatan limfosit CD4 dan perbaikan
kualitas hidup. Sasaran akhirnya adalah penurunan mortalitas dan
morbiditas.
59
2. Pengukuran peridik, teratur tingkat RNA HIV di plasma dan hitung
CD4 untuk menentukan kemajuan terapi dan untuk mengawali atau
memodifikasi regimen terapi
3. Penentuan terapi harus secara individual berdasarkan CD4 dan beban
virus (viral load)
4. Penggunaan kombinasi ARV poten untuk menekan replikasi HIV
sampai dibawah tingkat sensitivitas penetapan virus HIV membatasi
kemampuan memilih varian HIV yang resisten terhadap ARV, yaitu
faktor utama yang membatasi kemampuan ARV menghambat replikasi
virus dan menghambat perbaikan
5. Setiap ARV digunakan dalam kombinasi harus selalu digunakan sesuai
dengan regimen dosis
6. Setiap orang yang terinfeksi HIV, bahkan dengan beban virus dibawah
batas yang didapat terdeteksi, harus dipertimbangkan dapat menularkan
dan harus diberi konsultasi untul menghindari perilaku seks dan
penggunaan obat yang berkaitan dengan penularan HIV dan infeksi
pathogen lain
7. Terapi dengan kombinasi ARV menghambat replikasi virus adalah
strategi yang sukses pada terapi HIV
Ada tiga golongan obat yaitu
a. Reverse Trancriptase Inhibitor
1) Analog nukleosida (NRTI), Analog nukletida (NtARTI)
(Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor) memiliki
mekanisme kerja seabagai analog nukleosida yg menghambat
proses perubahan RNA virus menjadi DNA sehingga dapat
menghambat produksi DNA virus.
2) Non nukleosida (NNRTI)
Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor memiliki
mekanisme kerja menghambat kerja enzim reverse
transcriptase.
b. HIV Protease Inhibitor (PI)
60
Menghambat enzim protease yang memotong rantai panjang asam
amino menjadi protein lebih kecil.
8. Bila terjadi kegagalan terapi yang dapat disebabkan oleh resistensi atau
pasien tidak dapat menoleransi reaksi obat yang tidak diinginkan maka
terapi harus ditukar.
61
g. Mengklasifikasika obat-obat HIV
Penggolongan Terapi Antiretroviral (ARV) Antiretroviral (ARV) adalah obat antivirus yang
menghambat replikasi HIV (retrovirus).
1. Nucleoside/nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)/(NtRTI) NRTI bekerja dengan
cara menghambat kompetitif reverse transcriptase HIV1 dan dapat bergabung dengan rantai
DNA virus yang sedang aktif dan menyebabkan terminasi (berhentinya proses replikasi virus).
a. analog deoksitimidin: zidovudin (AZT/ZDV)
b. analog timidin: stavudin (d4T)
c. analog deoksiadenosin: didanosin (ddl)
d. analog adenosin (nukleotida/nt): tenofovir disoproxil fumarat (TDF)
e. analog sitosin: lamivudin (3TC), zalcitabin (ZTC)
f. analog guanosin: abacavir (ABC)
2. Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI) (nevirapin (NVP), efavirenz
(EFZ), dan delavirdin) NNRTI bekerja dengan cara membentuk ikatan langsung pada situs aktif
enzim reverse transcriptase yang menyebabkan aktifitasi polimerase DNA terhambat.
3. Golongan ini tidak bersaing dengan nukleosida triposfat dan tidak memerlukan posforilasi
untuk menjadi aktif. Protease Inhibitors (PI) (saquinavir (SQV), lopinavir (LPV), ritonavir (r),
nelfinavir, dan amprenavir) Obat golongan ini menghambat kerja enzim protease sehinggga
mencegah pembentukan virion baru yang infeksius.
4. Fusion Inhibitors (FI), menghambat masuknya virus kedalam sel sehingga fusi virus ke sel
target dapat dihambat. Obat golongan ini adalah: enfuvirtide (T20).
5. Antagonis CCR5 (maraviroc, aplaviroc, vicrivirox CCR5 bekerja dengan cara mengikat CCR5
(reseptor kemokin 5) dipermukaan sel CD4 dan mencegah perlekatan virus dengan sel target.
6. Integrase Strand Transfer Inhibitors (INSTI) (raltegravir dan elvitegravir) INSTI bekerja
dengan cara menghambat penggabungan sirkulasi DNA virus dengan sel inang (hospes)
62
LATIHAN SOAL
I. Pilihlah Jawaban yang paling tepat!
1. Enzim yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan carica papaya dalam bentuk kristal
yang berkhasiat sebagai penghilang bengkak-bengkak adalah…
a. Lipase d. Papase
b. Amylase e. Streptokinase
c. Bromelin
2. Berikut yang bukan merupakan enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme bakteri
atau jamur adalah…
a. Lipase d. Streptokinase
b. Amylase e. Penisilinase
c. Papase
3. Vitamin E yang aktif yang banyak dijumpai dalam minyak nabati padi-padian dll
adalah…
a. Alfa tokoferol d. Delta tokoferol
b. Beta tokoferol e. Teta tokoferol
c. Gamma tokoferol
4. Senyawa organic yang dalam jumlah kecil dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk
memelihara fungsi metabolisme normal yang sifatnya larut dalam air adalah…
a. Vitamin A d. Vitamin E
b. Vitamin B e. Vitamin K
c. Vitamin D
5. Nama lain dari vitamin B1 adalah…
a. Riboflavin d. Thiamin
b. Laktoflavinum e. Citacon
c. Sianokobalamin
6. Bahan pembangun tulang, berperan penting pada regulasi daya rangsang dan
kontraksi otot-otot serta penerusan impuls syaraf adalah…
a. Kalium klorida d. Fluor
b. Natrium klorida e. Fluoride
c. Kalsium
7. Vitamin yang larut dalam air yang dapat digunakan untuk melawan mual muntah dan
depresi karena pil anti hamil dan muntah kehamilan adalah…
a. Thiamin d. Nikotinamida
b. Riboflavin e. Asam folat
c. Piridoksin
8. Berikut yang bukan merupakan hormone yang dihasilkan oleh kelenjar hypofisa
adalah…
63
a. Somatotropin d. Oksitosin
b. Gonadotropin e. Testoteron
c. Kortikotropin
9. Etinil estradiol merupakan salah satu hormone yang termasuk kedalam golongan…
a. Hormone hipofisa d. Hormone estrogen
b. Hormone androgen e. Hormone kortikosteroida
c. Hormone progestagen
10. Kontrasepsi berikut yang diberikan secara suntikan adalah…
a. Linestrenol d. Etonogestrel
b. Ethynilestradiol e. Medroksiprogesteron
c. Levonogestrel
11. Injeksi kontrasepsi yang diberikan tiga bulan sekali dengan efek kerja panjang adalah
berisi…
a. Kombinasi estrogen c. Linestrenol
progesterone d. Medroksiprogesteron
b. Estrogen dosis tinggi e. Noretisteron
12. Penyakit alergi kronis yang berciri serangan sesak nafas secara akut secara berkala
yang disertai batuk dan hipersekresi dahak dimana pasien tidak menunjukan suatu
gejala adalah…
a. Asma d. Influenza
b. Bronchitis e. ISPA
c. Emfisema paru
13. Dimenhidrinat merupakan obat yang digunakan untuk…
a. Antitusif d. Anti histamine
b. Ekspektoran e. Bronchodilator
c. Dekongestan
14. Terapi pengobatan asma pada status asmathicus adalah…
a. Injeksi i.v salbutamol atau aminofilin dosis tinggi
b. Inhalasi salbutamol dan terbutalin
c. Tablet salbutamol
d. Tablet teofilin
e. Tablet ketotifen
15. Antiasma derivate xantin yang mempunyai daya bronkodilatasi berdasarkan
penghambatan enzim fosfodiesterase adalah…
a. Teofilin d. Ephedrine
b. Oksifenonium e. Ketotifen
c. Bromheksin
16. Obat batuk yang tidak bekerja mengurangi viskositas dahak, mengencerkan dahak,
dan mengeluarkanya adalah …
64
a. Asetilkarbosistein d. Mesna
b. Bromhexin e. Ammonium klorida
c. Ambroxol
17. Obat batuk yang berkhasiat sebagai sekretolitik yang biasanya diberikan dalam
bentuk syrup misalnya OBH adalah…
a. Asetilkarbosistein d. Mesna
b. Bromhexin e. Ammonium klorida
c. Ambroxol
18. Berikut yang bukan merupakan efek dari adanya kelebihan histamine didalam tubuh
adalah…
a. Kontraksi otot polos bronchi, usus dan uterus
b. Vasokonstriksi pembuluh darah
c. Memperbesar permeabilitas kapiler
d. Memperkuat sekresi kelenjar ludah, air mata, dan asam lambung
e. Stimulasi ujung syaraf dengan akibat eritema dan gatal-gatal
19. Menurut struktur kimianya antihistamin turunan propilamin yang memiliki daya
antihistamin kuat adalah…
a. Difenhidramin d. Sinarizin
b. Dimenhidrinat e. Ranitidine
c. Klorfeniramin
20. Obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan gangguan sesak nafas
yang disertai batuk dan dahak berlebihan adalah..
a. Dekongestan
b. Bronchodilator
c. Anti histamine
d. Antitusif
e. Ekspektoran
21. Obat berikut yang bukan merupakan anti astma adalah…
a. Aminofilin d. Terfenadine
b. Teofilin e. Terbutalin
c. Salbutamol
22. Yang merupakan satu-satunya antihistamin yang mempunyai efek tambahan
menstimulasi nafsu makan adalah…
a. Prometazin d. Siproheptadine
b. Klorfeniramin e. Difenhidramin
c. Loratadine
23. Antihistaminika yang digunakan pada mabuk perjalanan dan muntah muntah pada
sakit hamil…
a. Difenhidramin b. Siproheptadine
65
c. Dimenhidrinate e. Loratadine
d. Cetirizine
24. Antihistamin yang digunakan pada rhinitis alergi, perineal rhinitis, dan urtikaria
idiopatik adalah…
a. Cetirizine d. Klorfeniramin
b. Siproheptadin e. Dimenhidrinat
c. Feniramin
25. AIDS kepanjangan dari…
a. Active Immune Deficiency Syndrome
b. Adictive Immune Dehidration Syndrome
c. Acquired immune Deficiency Syndrome
d. Acquired Immune Dehidration Syndrome
e. Aqua Immune Deficiency Syndrome
26. Suatu keadaan yang tidak menunjukan gejala-gejala walaupun sudah terinfrksi HIV
adalah …
a. Tahap pertama masa inkubasi
b. Tahap kedua masa inkubasi
c. Tahap ketiga masa inkubasi
d. Tahap keempat masa inkubasi
e. Tahap kelima masa inkubasi
27. Menggunakan jarum suntik, tindik tato, merupakan contoh penularan HIV dengan
cara...
a. Oral
b. kontrasepsional
c. Seksual
d. Parenteral
e. Perinatal
28. Berikut yang bukan merupakan contoh golongan obat retro virus adalah…
a. Stavudin d. Acyclovir
b. Lamivudin e. Zidovudin
c. Ritonavir
29. Golongan obat ARV yang bekerja menghambat masuknya virus kedalam sel adalah…
a. Tenofovir
b. Zidofudine
c. Stavudin
d. Enfuvirtid
66
e. Abacavir
30. Berikut yang bukan merupakan tujuan terapi antiretroviral adalah…
a. Mengurangi laju penularan dimasyarakat
b. Memulihkan atau memelihara fungsi kekebalan tubuh
c. Memacu replikasi virus secara maksimal dan terus menerus
d. Memperbaiki kualitas hidup ODHA
e. Menurunkan angka kesakitan yang berhubungan dengan HIV
31. Pada pasien dewasa yang bukan presentasi klinik dari infeksi primer HIV adalah…
a. Diare
b. Mual
c. Muntah
d. Hepatomegali
e. Myalgia
32. Pada pasien anak yang lahir dengan HIV memiliki tanda gejala tanda fisik…
a. Diare
b. Mual
c. Muntah
d. Hepatomegali
e. Fatigue
67
a. HIV
b. Anemia
c. Miastenia gravis
d. TBC
e. Kanker
II Jawablah pertanyaan berikut dengan benar !
1. Apa yang dimaksud dengan vitamin, mineral dan elemen supra?
2. Sebutkan 5 penggolongan obat asma !
3. Sebutkan 10 spesialite obat obat antihistamin !
4. Apa yang dimaksud dengan HIV dan AIDS !
Farmakologi Kelas XII FARMASI 68
apt. Putri Baning Dian Laela MP, S. Farm
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Orang
dengan HIV/AIDS (ODHA), Jakarta : Direktorat Bina
Farmasi Komunitas dan Klinik.
Anonim, 2011, Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV
dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa, Jakarta :
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Anonim, 2014, Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 87 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengobatan
Antiretroviral, Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.
Gunawan SG, Setiabudy R, 2011, Farmakologi dan terapi, Edisi
5, Jakarta : Badan Penerbit FKUI.
Katzung BG, Trevor AJ, 2015, Basic and Clinical Pharmacology
13th edition, New York : Graw Hill.
Pramita, Risna D., dan Subagiartha, I M., 2017, Prinsip Dasar
Farmakologi, Denpasar: Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana.
Woro, Sujati, 2016, Bahan Ajar Farmakologi Farmasi, Jakarta
: Kementrian kesehatan Republik Indonesia.
Farmakologi Kelas XII FARMASI 69
apt. Putri Baning Dian Laela MP, S. Farm