dan redup, meski sebenarnya hari ini cerah.
Namun hati yang risau ini membuatku merasa kelam. Aku
duduk di depan rumah yang hanya berdinding kardus-
kardus bekas. “Sampai kapan aku terus begini? Huft… Aku
ingin sekolah,” ucapku dalam hati sambil melamun.
“Danis, kamu nggak ngaji, Nak?” Tanya Ibu yang
keluar dari pintu rumah.
“Nggak, Bu. Danis lagi malas,” jawabku singkat.
Ibu menyandingku duduk di atas kursi
panjang. Dan memberiku nasehat, agar aku tetap
semangat dalam segala hal.
“Lho, nggak boleh gitu donk. Memangnya kamu
tidak ingin jadi orang sukses? Kamu ingin jadi
dokter, kan? Ayo donk semangat, Danis nggak
boleh malas ngaji yah. Siapa tahu kamu bisa jadi
penerusnya Ustadz Falah (guru ngajiku),” tutur Ibu
sambil mengelus rambutku.
“Bagaimana Danis bisa jadi dokter kalau Danis
nggak sekolah? Danis ingin sekolah, Bu…” jawabku
cetus.
Ibu hanya diam dan menundukkan kepala.
Mukanya terlihat gelisah dan sedih.
“Sabar ya, Nak. Bapak dan Ibu akan berusaha
mencari uang untuk biaya sekolah kamu. Yah?”
ucap Ibu sembari memelukku.
Aku bersyukur mempunyai orang tua yang
sangat menyayangiku. Akhirnya aku mau
berangkat ngaji. Karena tak perlu mengeluarkan
biaya, dengan semangat aku melangkah menuju
masjid di dekat kampungku. Aku termotivasi oleh
nasehat-nasehat Ibu tadi. Aku harus bisa
bahagiakan Bapak Ibuku.
Di rumah…
Ketika Bapakku baru pulang kerja
memunguti sampah, Ibu sudah menunggu di teras.
Dia menjelaskan bahwa aku benar-benar ingin
sekolah seperti teman-temanku. Bapak dan Ibu
begitu resah memikirkan bagaimana mendapatkan
uang untuk menyekolahkan aku. Sepulang mengaji,
aku bantu Bapak merapikan dan memilah sampah
dan barang bekas yang baru ia punguti di
perumahan-perumahan kotaku. Tiba-tiba Bapak
menyodorkan beberapa buku bekas yang dia ambil
dari sampah-sampah untukku.
“Danis, ini buat kamu. Kebetulan tadi ada
ibu-ibu membuangnya, untuk sementara kamu
belajar ini dulu ya, Nak,” ucap Bapak. Aku terdiam
sejenak melihat buku-buku itu, lalu ku ambil dan
ku buka lembar demi lembar. Betapa malangnya
nasib buku itu, padahal masih memiliki banyak
manfaat meski sudah jelek dan kusut.
Selesai membantu Bapak, ku rapikan, ku
tata dan ku pelajari buku-buku yang ku dapat dari
Bapak tadi. Alhamdulillah aku bisa memahaminya,
meski tak banyak dan meski buku itu untuk
pendidikan SMP, padahal umurku baru 10 tahun.
Melihatku sedang belajar, Ibu duduk
menyandingku sembari bertanya, “Belajar apa
Danis?” “Ini, Bu. Tadi Bapak menemukan buku-
buku bekas di sampah. Trus, dikasih ke Danis.
Lumayanlah buat belajar,” jawabku penuh
semangat. Tanpa sepengetahuanku, air mata Ibu
menetes karena melihatku belajar. Mungkin Ibu
merasa prihatin atas nasibku yang tak kunjung
sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Mmmm… Bu, kok para ahli bisa tahu ya organ-
organ dan jaringan tubuh manusia. Apa mereka
membunuh manusia dulu lalu dibelah?” tanyaku
tentang isi buku yang sedang ku pelajari.
Ibu mengusap air matanya, lalu menjawab “Ibu
juga tidak tahu, Nak. Dulu Ibu mu ini hanya lulusan
SD. Yang jelas mereka pasti mempunyai alat-alat
canggih. Tidak mungkin membunuh manusia.
”Banyak yang belum aku pahami tentang isi buku
itu, salah satunya tentang Ilmu Alam. Tapi aku juga
tak tahu, kepada siapa aku bertanya tentang isi
buku ini? Bapak dan Ibuku hanyalah lulusan SD,
karena dulunya mereka juga terhambat ekonomi.
Keesokan harinya, aku sengaja bangun
pagi-pagi sekali, sholat tahajjud, bantu-bantu Ibu,
dan mandi. Lalu aku segera bersiap untuk
berangkat ke salah satu sekolah besar di kotaku
dan mengikuti pelajaran, meskipun secara diam-
diam.
“Mau ke mana, Danis?” Tanya Ibu yang sedang
memasak nasi.
“Ke sekolah, Bu. Danis ingin melihat suasana
sekolah di SMP 1 Budi Utomo,” jawabku sambil
merapikan rambut di depan cermin.
“Tapi kamu kan belum sarapan. Sarapan dulu ya?”
“Nggak usah, Bu. Aku minum air putih saja,”
ucapku sembari mengambil segelas air putih di
atas meja.
Ku cium tangan Ibuku. Dengan semangat aku
berangkat menuju SMP 1 Budi Utomo yang
lumayan jauh dari tempat tinggalku.
“Assalamu’alaikum…” teriakku keluar dari pintu
rumah.
“Wa’alaikumsalam… Hati-hati ya, Nak.” jawab Ibu
khawatir, sambil terus melihatku berjalan semakin
jauh dari rumah. Aku berjalan menelusuri rel
kereta api dan pasar-pasar yang sudah ramai sejak
tadi. Fajar pagi yang mulai muncul di ufuk timur
dan lalu lalang kota metropolitan mengiringi
langkahku berjalan, semangatku semakin berkobar
ketika aku melihat beberapa pelajar berangkat
sekolah dengan seragam rapi, dan mengenakan
tas. Semakin dekat langkahku dengan SMP yang
kutuju, langkahku mulai ragu. Aku lihat para siswa
berseragam rapi dan mengumbarkan senyum
cerah di pagi ini. Keceriaan mereka tak seperti aku,
yang hanya menghabiskan waktu untuk
memunguti sampah. Awalnya aku ingin pulang lagi,
tapi nasehat dan motivasi Ibu selalu terngiang di
pikiranku. Akhirnya aku beranikan diri, aku
mantapkan langkahku menuju belakang sekolah
secara diam-diam.
Ketika bel masuk kelas, jam pelajaran
dimulai. Aku perhatikan dari jendela luar sudut
kelas, guru sedang mengajar muridnya. Seolah aku
juga muridnya, aku pahami betul penjelasan dari
guru itu. Dan aku catat di buku tulis bekas
pemberian Bapakku.
Hal itu aku lakukan rutin sampai beberapa
Minggu, bangun pagi dan semangat menuju
sekolah itu. Serasa aku sudah bersekolah seperti
teman-teman lain. Tapi suatu hari, seorang tukang
kebun di sekolah itu memergokiku, dia mengira
aku pencuri. Padahal aku hanya ingin belajar.
Akhirnya aku diseret ke ruang keamanan. Seorang
satpam bermuka seram dan bertubuh besar
memakiku habis-habisan. Bahkan dia sempat
memukulkan tongkatnya ke kedua tanganku. Aku
hanya bisa diam dan menangis, lalu aku diusir dari
sekolah itu. Satpam itu mendorongku keluar pintu
gerbang sekolah. Aku pulang dengan langkah
lunglai, tubuhku begitu lemas, aku seperti sampah
kaleng yang ditendang jauh-jauh. Ya Allah… kenapa
mereka tak mengerti bahwa anak seperti aku
sangat ingin sekolah.
Sejak kejadian itu, aku sama sekali tak
pernah menginjakkan kaki di sekolah itu lagi. Rasa
kesal, marah dan kecewaku pada tukang kebun
dan satpam itu masih terpendam di dalam hati.
Aku sangat kecewa karena aku difitnah. Namun
tekadku untuk bersekolah dan mencari ilmu tak
akan pernah pudar. Aku ingin mewujudkan cita-
citaku menjadi dokter. Semakin hari ambisiku
semakin besar. Aku selalu berdo’a kepada Allah
agar cita-citaku bisa tercapai, dan aku bisa
membahagiakan Bapak Ibuku.
“Bapak, kok nggak ada buku yang dibuang lagi ya?”
tanyaku ketika membantu Bapak memunguti
sampah-sampah di perumahan.
“Yahh.. semoga saja ada. Biar kamu bisa belajar,”
jawab Bapak sambil mengais-ngais sampah.
Aku sangat berharap bisa menemukan
buku-buku bekas lagi. Entah angin apa yang
membawaku ke jalan buruk. Ketika perjalanan
pulang melewati pasar besar di kotaku, aku lihat
sebuah dompet mewah terjatuh dari saku seorang
mahasiswi. Tanpa berpikir panjang, langsung saja
ku ambil dompet itu tanpa ada yang tahu. Lalu, ku
masukkan ke saku celanaku. Seolah tak ada apa-
apa, aku ikuti lagi langkah Bapak pulang.
Sesampainya di rumah, hidangan nasi dan tempe
sudah disiapkan Ibu di atas meja.
“Danis, makan dulu ya? Trus sholat dan ngaji,”
tutur Ibu setelah ku letakkan barang-barang bekas
hasil pungutanku dengan Bapak. “Iya, Bu,” jawabku
sembari berjalan mengambil piring.
Selesai makan dan mandi, aku berangkat
ke masjid untuk mengaji, sekalian aku sholat ashar
di sana. Sebelum berangkat ku buka sejenak
dompet yang ku dapat dari pasar tadi. Aku
terkejut, dua belas lembar uang 100 ribuan dan
beberapa lembar 50 ribuan memenuhi dompet
warna klasik yang terlihat mewah itu. Juga
beberapa lembar foto pemilik dompet itu, beserta
KTPnya yang bertuliskan nama “Alya Nur permata
”.
“Wah… uang sebanyak ini bisa buat biaya
sekolahku donk,” ucapku dalam hati yang riang ini.
Pikiranku tertuju pada khayalan ketika aku sudah
berseragam rapi dan berkumpul bersama teman-
teman untuk belajar. Ah.. aku ngaji dulu, tak lama
lagi aku akan masuk sekolah. Khayalanku
menghilang. Ku tutup kembali dompet itu dan ku
selipkan di bawah bantal, lalu aku berangkat ngaji.
Selang beberapa menit setelah aku pergi, Ibu
sengaja merapikan kamarku dan menemukan
dompet itu di bawah bantal.
“Astaghfirullahal’adzim… dari mana Danis
mendapatkan barang ini?” Ibuku terkejut dan
langsung memanggil Bapak.
“Mas …!!” teriaknya Mendengar teriakan itu,
Bapak bergegas menuju sumber suara.
“Ada apa, Bu?” “Lihatlah Mas…” jawab Ibu sambil
menunjukkan isi dompet itu.
“Hah??!! Milik siapa ini, Bu?” Bapak pun terkejut.
“Aku juga tidak tahu. Aku menemukannya di
bawah bantal Danis, Pak.” Ibu dan Bapak semakin
khawatir. Dan mereka mengira bahwa aku mencuri
dompet itu dari seseorang. Mereka menunggu
kedatanganku di dalam rumah. Selang setengah
jam.
“Assalamu’alaikum…” Aku masuk rumah dan
mencium tangan Bapak dan Ibu.
“Wa’alaikumsalam..” jawab Bapak Ibu serempak.
“Danis, duduk sini dulu, Nak,” tutur Ibu lembut.
Aku merasa ada yang aneh. Tak biasanya Bapak
dan Ibu terlihat serius seperti ini. Suasana pun
hening sejenak. Hatiku bertanya-tanya, “Ada apa
ini?” “Danis, dari mana kamu dapatkan dompet
ini?” Tanya Ibu memulai pembicaraan sambil
menunjukkan dompet mewah itu. Aku hanya diam
menundukkan kepala. Jantungku berdetak
kencang. “Dari mana, Danis? Jawab..!!!” bentak
Bapak sambil menatapku tajam. Jantungku seperti
tersambar petir, Bapakku tak pernah semarah itu
padaku. “Jawab jujur, Nak. Dari mana dompet ini?”
lanjut Ibu dengan suara lembut. Ibuku memang
sangat sabar dalam menghadapi anaknya yang
bandel ini. “A… aku.. aku nemu..” jawabku gugup.
Keringatku mulai mengucur di leher. “Jangan
bohong kamu!! Kamu…” kemarahan Bapak
semakin memuncak, hampir saja tangannya
diayunkan ke mukaku. Untungnya Ibu berusaha
menahannya. “Mas… Jangan!! Dia anak kita satu-
satunya,” gertak Ibu sambil menahan tangan
Bapak. “Danis, kamu jangan bohong. Jawab yang
jujur, Nak. Insya Allah jika kamu jujur, Bapak tidak
akan memarahi kamu lagi,” lanjutnya. Air mataku
mulai menetes, dan semakin mengalir. “Aku ingin
sekolah… Aku ingin sekolah seperti teman-teman
yang lain…” ucapku sambil menangis terisak-isak.
“Lalu dari mana kamu dapat dompet dengan uang
sebanyak ini, Danis…” sahut Ibu. Sedangkan Bapak
masih berusaha menahan amarahnya.
“Tadi waktu lewat pasar, dompet itu jatuh dari
saku orang. Trus Danis ambil. Danis pikir uangnya
bisa untuk bantu Bapak Ibu menyekolahkan Danis,”
jawabku sambil terus menangis.
“Ya… Allah… Bukan begitu caranya, Danis… Itu
haram! Kenapa tidak kamu kembalikan pada
pemiliknya?” kata Bapak yang amarahnya mulai
mereda. Aku hanya terdiam menunduk, menyesali
perbuatanku. “Danis… Bapak dan Ibu akan
berusaha keras mancari uang untuk biaya sekolah
kamu. Tapi bukan dengan cara yang haram. Kita
juga harus sabar dengan cobaan ini. Bapak janji
akan menyekolahkan kamu, Nak,” lanjutnya. Ibu
juga mengangguk atas perkataan Bapak. Ku coba
mengangkat kepalaku dan menatap Bapak Ibu.
Meski air mata ini terus mengalir. “Maafkan Danis,
Bapak, Ibu…” “Jangan diulangi lagi ya, Nak,” tutur
Ibu sembari memelukku, Bapak pun juga ikut
memelukku. Air mataku semakin mengalir deras,
betapa bodohnya aku melakukan hal yang sangat
dilaknat Allah. Dan betapa bahagianya aku masih
mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku.
“Ya sudah. Besok Bapak bantu kamu mencari
pemilik dompet ini, ya…” kata Bapak. Aku
mengangguk.
Esok harinya di pagi hari, aku dan Bapak
kembali menekuni pekerjaan yang dilakukan Bapak
sejak aku lahir. Memunguti dan mengais-ngais
sampah di pasar, sambil mencari pemilik dompet
yang bernama Alya Nur permata itu. Ku telusuri
setiap sudut pasar sambil ku amati foto KTP yang
ada di dompet itu. Setelah kira-kira 2 jam aku
mengitari pasar, akhirnya ku temukan pemilik
dompet mewah itu. “Maaf, Kak. Apa ini dompet
Kakak?” tanyaku menghentikan langkahnya. “Oh
iya, Dek. Alhamdulillah… Dari mana kamu
menemukannya?” tanya perempuan berjilbab itu.
“Maaf, Kak. Kemarin waktu terjatuh dari saku
Kakak, langsung aku ambil. Tapi demi Allah, aku
sama sekali tidak mengambil uangnya
sepeserpun.” Dia membalasnya dengan senyum
lebar, seolah melihat kelucuan pada diriku.
“Iya… Kakak percaya kok sama kamu. Mmmm…
nama kamu siapa?” tanyanya sambil mengelus
rambutku. “Danis,” jawabku singkat. Dia pun juga
memperkenalkan dirinya padaku. Panggilannya
adalah Kak Alya. Aku terlibat perbincangan dengan
anak orang berduit itu, dan kita semakin mengenal
dekat meskipun baru pertama kali bertemu. Tak
lama berbincang-bincang, Bapak datang
menghampiriku. Kami pun saling mengenal hingga
terlihat akrab. Bahkan Kak Alya tahu apa yang ada
dalam pikiranku. Aku sangat ingin bersekolah.
Pantas saja, karena kak Alya kuliah di jurusan
Psikologi. Suatu hari kak Alya berkunjung ke
rumahku yang kecil, kumuh, dan sangat tidak
nyaman. Baru kali ini aku temui seorang yang
cantik dan baik hati. Aku, Bapak, Ibu dan kak Alya
berbincang-bincang dan saling bertukar
pengalaman. Ketika Ibu menceritakan kehidupan
keluarganya yang selalu miskin, air mata kak Alya
mulai mengalir di pipinya, dia terharu. Begitu juga
Bapak dan Ibu. Sedangkan aku, lebih tak kuasa
menahan tangis.
Aku lari keluar rumah, ku kerahkan seluruh
tenagaku untuk berlari sekencang-kencangnya.
Entah bisikan apa yang membuatku berhenti tepat
di tengah rel kereta api. Pikiranku serasa kacau.
Aku ingin mengakhiri semua beban dan
penderitaan ini. Aku tak mau membebani Bapak
Ibu lagi. Aku berdiri memejamkana mata, dan
berharap kereta akan datang menindas tubuhku
yang tak berguna ini. Bapak, Ibu dan kak Alya
berusaha mengejarku dan mencegahku. Kak Alya
pun langsung menarikku keluar dari rel dan
memelukku erat sambil menangis. “Kamu kenapa
Danis?” tanya kak Alya. “Danis.. Kamu kenapa,
Nak? Jawab!” sambung Bapak. Aku terdiam
sejenak. “Aku tak mau membebani Bapak dan Ibu
terus. Selama ini Danis hanya menyusahkan Bapak
Ibu. Danis tidak bisa sekolah. Danis tidak bisa
bahagiakan Bapak Ibu. Biarkan Danis pergi… Danis
tidak berguna…!!” teriakku kencang. Suara kereta
melaju kencang mengiringi teriakanku. Angin
berhembus mengikuti arah kereta melaju dan
menghempas rerumputan di sekitar rel.
“Tidak Danis!! Kamu sangat berguna buat Bapak
dan Ibu. Kamu anak kami satu-satunya…” sahut Ibu
yang menangis terisak-isak. Ibu sangat
menyayangiku, dan beliau sangat takut kehilangan
aku. “Sadar Danis! Masa depan kamu masih
panjang. Kakak yakin, kamu pasti akan jadi orang
yang bisa membahagiakan Ibu Bapak. Yah…” ucap
kak Alya sembari memegang kedua bahuku.
Semuanya terdiam, hanya isak tangis yang
terdengar. Kak Alya merasa trenyuh, dia berusaha
berpikir dan mencari jalan keluar untuk bisa
meringankan beban keluargaku. Akhirnya dia
mengajakku kembali ke rumah, Bapak dan Ibu
mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah,
kak Alya memutuskan untuk merawatku di
rumahnya yang sungguh bagaikan istana.
Sedangkan Bapak dan Ibu membantu pekerjaan
rumah. Ibu membantu kak Alya dan keluarganya
untuk merawat rumah serta memasak, dan Bapak
membantu tukang kebun untuk selalu merawat
tanaman yang mengelilingi rumah keluarga kak
Alya. Tak ku sangka, keluarga kak Alya begitu baik.
Mereka mau menyekolahkan aku dan
memperlakukan Bapak Ibuku seperti keluarga
sendiri.
Sepuluh tahun kemudian, akhirnya aku
lulus kuliah. Bapak, Ibu dan keluarga kak Alya
sangat senang mengunjungiku waktu wisuda di
kampus tempatku kuliah. Sungguh, Allah Maha
Adil. Tak ku sangka, aku juga mendapat
penghargaan sebagai wisudawan termuda dan
berprestasi. “Terima kasih, kak. Danis sangat
berhutang budi pada kakak dan keluarga. Terima
kasih..” ucapku ketika kupeluk kak Alya. “Iya Danis.
Kakak dan keluarga sangat senang Danis jadi orang
sukses. Semoga Allah selalu melindungi kita semua
ya..” jawab kak Alya dengan senyum lebar. Kini,
aku menjadi seorang dokter spesialis bedah di
rumah sakit daerahku. Aku sangat bersyukur, Allah
mendengarkan do’aku, cita-citaku sejak kecil yang
ku anggap hanya mimpi yang tak pernah menjadi
nyata, akhirnya menjadi kenyataan. Dan aku bisa
membahagiakan Bapak Ibuku. Terima kasih ya
Allah… terima kasih kak Alya, aku sangat merasa
berhutang budi pada kakak dan keluarga kakak.
Tapi, belum genap satu bulan aku
menjalani profesiku, musibah telah menimpa kak
Alya. Dia dan suaminya mengalami kecelakaan
maut. Mobilnya jatuh ke jurang ketika perjalanan
berlibur. Aku pun berusaha membantu
menyembuhkan luka mereka yang parah. Namun
Allah berkehendak lain, nyawa kak Alya dan
suaminya tak bisa di tolong lagi. Ya Allah… hati ini
sangat terpukul, kenapa begitu cepat kebahagiaan
ini untuk kak Alya, belum sempat aku membalas
kebaikannya, tapi dia sudah pergi ke dunia lain,
selamanya. Tapi aku selalu berharap, kebaikan
yang selama ini dia berikan pada keluargaku, akan
dibalas oleh Allah. Sekali lagi, terima kasih kak
Alya, kebaikanmu akan selalu melekat di hatiku.
Dan maafkan kesalahanku, Bapak dan Ibu selama
ini.
TAMAT