The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by almasbilah06, 2021-12-10 20:39:35

NYOBAK

ADADEH AH

Keywords: HAHAHIHI

MARI SALING MENGENAL

Ijtihadi Kamilia Amalina atau yang lebih akrab dipanggil Lina
adalah perempuan yang lahir pada 29 Oktober 1993 di Surabaya. Ia
merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya berumur 30
tahun sedangkan kedua adiknya berumur masing-masing 26 dan 23
tahun. Lina kecil mulai bersekolah di TK Islam Raden Paku lalu
melanjutkan sekolahnya di SD Islam Raden Paku. Orang tua Lina
menyekolahkannya di sana karena alasan dekat dengan rumah. Setelah
lulus dari bangku sekolah dasar, ia bersekolah di SMP Khadijah lalu
lanjut ke SMA Khadijah setelah rampung menyelesaikan studinya di
bangku SMP.

Sebagai perempuan yang punya potensi lebih di bidang
akademik, Lina selalu masuk peringkat paralel mulai dari ketika
berada di bangku sekolah dasar hingga menginjak bangku SMA.
Berkat kurva prestasinya yang stabil itu, Lina pernah dipilih oleh
gurunya menjadi bagian team olimpiade sekolah . Lulus dari SMA, ia
memilih untuk kuliah S1 di Universitas Negeri Surabaya dan
memutuskan untuk melanjutkan S2 nya di universitas yang sama.
Lahir dengan karunia jago matematika, membuat Lina akhirnya
memutuskan untuk memilih jurusan pendidikan matematika sebagai
jurusan yang ditempuhnya ketika S1 dan S2. Prestasi lain yang pernah
diraih oleh Lina adalah Award Intership di Singapore School, prestasi
ini diraih saat ia masih menjadi mahasiswa S1.

YANG MENJADI TAKDIRMU TIDAK AKAN
MELEWATKANMU

Setelah rampung menyelesaikan pendidikan S2 nya di
Universitas Negeri Surabaya, Lina tak lantas puas dengan
pencapaiannya. Obsesinya untuk menempuh pendidikan S3 adalah
obsesi yang haus diraih. Dengan segala daya dan upaya ia berusaha
keras mewujudkan mimpinya agar dapat melanjutkan studinya hingga
S3.

Lina sangat berharap bisa menempuh S3 nya diluar negeri
sehingga ia sudah dari dulu mempersiapkan diri dengan mengikuti
kursus bahasa Inggris. Setelah beberapa beasiswa ia coba, seorang
dosen merekomendasikan beasiswa luar negeri untuknya. Salah satu
syarat mendapatkan beasiswa tersebut adalah dengan lolos tes IELS.
Namun, kursus bahasa Inggris yang diikutinya hingga S1 belum cukup
membantunya lolos tes IELS. Ambisinya untuk lolos tes membuat
Lina tidak berhenti berusaha. Lina kembali mencoba mengikuti kursus
beberapa kali dengan harapan akan mendapat hasil yang ia harapkan.

Perjuangannya untuk memenuhi syarat beasiswa itu sungguh
besar. Ia bekerja demi bisa membayar biaya kursus yang tidak murah.
Lina bekerja hingga sore lalu mengikuti kursus ketika malam hari.
Kegiatan itu berulang setiap hari sampai membuatnya hampir
menyerah karena benar-benar menyiksa jiwa dan raganya.

Keadaan semakin sulit karena sudah tidak ada lagi biaya untuk
kursus. Lina berusaha lapang menerima keadaan bahwasannya ia harus
mengubur dalam-dalam mimpinya kuliah di luar negeri. Semua
usahanya terasa seperti tidak ada artinya, terlebih lagi ia sudah
mencoba tes berkali-kali tetapi tetap gagal. Hanya hasil tes terakhir
yang masih ia tunggu dengan harapan yang semu. Ia sudah tidak
terlalu ingin meski masih ada ambisi dalam hatinya.

Namun benar kata pepatah, yang menjadi takdir tidak akan
terlewatkan. Sebelum beasiswa ditutup Lina berhasil lolos tes IELS
dan diterima menjadi salah satu mahasiswa yang berhak mendapat
beasiswa studi S3 ke Hungaria.

Dengan kerja keras dan usaha yang besar serta semangat
pantang menyerah, akhirnya Lina berhasil mewujudkan mimpinya.
Ternyata usahanya bukan sia-sia melainkan takdirnya untuk berhasil
hanya berjalan lebih lambat saja. Lina bertolak ke Hungaria bersama
beberapa temannya yang juga mendapatkan beasiswa untuk menempuh
studi S3 nya disana.

Lina dan teman-temannya berkuliah di University of Szeged.
Universitas yang terletak di kota Szeged yaitu kota terbesar ketiga di
Hungaria. Universitas Szeged ini merupakan universitas terpenting di
kota tersebut sehingga suatu kebanggaan untuk Lina bisa
berkesempatan menempuh studinya disana.

ASAM GARAM JADI PERANTAU

Hal pertama yang pasti dirasakan ketika menimba ilmu di
negeri orang adalah homesick. Itu merupakan perasaan yang wajar bagi
orang-orang yang baru saja merasakan jauh dari rumah. Terlebih lagi
apabila dalam kondisi tersebut tidak ada kesempatan untuk bertemu
dengan keluarga dalam waktu dekat karena terhalang jarak dan waktu.

Demikian pula yang terjadi dengan Lina, ia merasa kesepian di
sana. Bertahan hidup dengan segala macam kejadian yang
memaksanya segera beradaptasi membuatnya selalu rindu rumah.
Banyak sedih yang akhirnya harus ia nikmati sendiri karena hidupnya
benar-benar sibuk. Tidak ada waktu untuknya menceritakan kesedihan
yang ia rasakan, waktunya habis untuk belajar. Perbedaan waktu juga
menjadi alasan mengapa ia betah memikul bebannya sendirian.
Kadang kala muncul keinginan untuk pulang apabila rindu yang
dipaksa tenggelam sudah hampir meluap ke permukaan. Namun
syarat-syarat pulang dipersulit, mulai dari meminta izin ke pihak
beasiswa dan supervisor hingga pemberhentian uang beasiswa
sementara sampai mereka kembali. Hal ini membuat siapapun
mahasiswa yang ingin pulang harus memikirkan keputusannya dua
kali.

Ketika liburan musim panas semua teman-temannya pulang. Ia
semakin merasa kesepian. Hari-hari yang ia habiskan sendiri
membuatnya bosan sehingga ia memutuskan untuk mencari kerja

paruh waktu. Tapi disekitar daerahnya, pekerjaan paruh waktu hanya
diperuntukkan kepada mahasiswa lokal. Tidak ada lagi yang bisa Lina
lakukan selain membuat janji minum teh bersama temannya sambil
berbagi keluh dan kesah.

Lagi-lagi Lina didewasakan oleh keadaan. Rasa rindu yang
harus sabar menunggu untuk dipuaskan itu membuatnya belajar lebih
baik lagi soal mengontrol emosi. Sesekali perasaan suntuk yang sudah
sampai di ubun-ubun membuatnya kalang kabut. Solusi yang selalu ia
gunakan untuk menenangkan dirinya adalah dengan duduk sendirian di
tepi sungai beberapa menit. Mengatur jeda napas yang terengah-engah
sembari menstabilkan emosi yang memburuh dengan melihat
pemandangan sekitar adalah salah satu healing favoritnya.

Prinsipnya masih sama, tidak perlu lama untuk sedih, tugas-
tugas yang lain menunggu untuk diselesaikan. Seluruh yang ia rasakan
memang sudah ada jadwalnya, terpaksa seperti itu. Agar tidak
menganggu aktivitasnya yang lain dan kefokusannya dalam
menjalankan studi. Ia sudah berkomitmen pada dirinya sendiri bahwa
akan hidup demikian untuk beberapa waktu.

SEBELAH MATA

Kehidupan di Hungaria tak pernah seindah yang dibayangkan.
Selalu ada peristiwa-peristiwa yang membuatnya harus banyak-banyak
mengelus dada. Terlebih lagi tentang masalah rasisme pada orang-
orang berhijab yang masih acap kali terjadi. Tatapan sinis sudah
menjadi santapan sehari-hari yang lambat laun menjadi sesuatu yang
lumrah ia temui.

Pernah suatu ketika ia mendapati temannya mendapat
perlakuan yang tidak pantas dari warga lokal sekitar tempatnya tinggal.
Rasa benci terhadap seseorang yang berhijab sepertinya sudah
mendarah daging dan membuat mereka bertindak sesuka hati. Mereka
menghakimi teman Lina yang memakai masker dan menyuruhnya
untuk melepas maskernya dengan alasan tidak ada satupun seseorang
disini yang memakai masker kecuali teman Lina. Padahal alasan teman
Lina memakai masker adalah karena ia baru saja keluar dari kampus,
dimana peraturan kampus mengharuskan siapa saja yang masuk
kawasan kampus agar tetap memakai masker. Belum habis
penghakiman kepadanya, tiba-tiba saja salah seorang menarik paksa
masker yang dipakai olehnya dan menyuruhnya berjanji agar tidak
melakukan terror bom di daerah tersebut.

Rasisme tidak hanya terjadi satu kali, di lain kesempatan teman
Lina yang lain juga mendapat perlakuan yang hampir sama. Ketika
sedang berada di transportasi umum tiba-tiba saja hijabnya ditarik.

Perlakuan lain yang tidak kalah membuat jengkel adalah ketika Lina
dan temannya mencari apartemen. Dengan nada lelucon pemilik
apartemen memberikan mereka kelonggaran untuk membawa teman
masuk ke apartemen asal mereka harus berjanji bahwa tidak akan
mengebom.

Stigma masyarakat yang menganggap orang-orang berhijab
adalah teroris masih sangat kental. Hal ini dikarenakan keberadaan
orang muslim di Hungaria sangat sedikit bahkan mungkin hanya
didominasi oleh para pendatang dari Asia dan Timur Tengah.
Mayoritas penduduk ateis sehingga sulit untuk benar-benar menerima
orang-orang yang beragama terkhusus orang-orang yang memeluk
agama Islam.

Tetapi berbeda dengan kondisi di luar, di dalam kampus Lina
dan teman-temannya tidak mendapat perlakuan rasis. Mereka
dihormati dan keberadaannya dianggap. Demikian tidak terlepas dari
cara pandang orang-orang di lingkungan kampus yang sudah terbuka
dan terdidik sehingga perbedaan tidak pernah menjadi sesuatu yang
dipermasalahkan.

BERTARUH IMAN

Bertahan hidup di negara yang mayoritas penduduknya ateis,
berarti sudah bisa dibayangkan betapa sulitnya menyesuaikan diri
hidup sebagai muslim di sana. Banyak larangan-larangan dalam agama
Islam yang justru menjadi sangat lumrah dilakukan. Yang
dipertaruhkan kini adalah seberapa besar iman yang ada dalam diri
masing-masing.

Salah satu masalah utama yang Lina hadapi adalah kesulitan
mencari makanan yang halal. Di daerahnya saja bahkan hanya ada satu
restoran yang menyediakan makanan halal. Tentu dengan harga yang
tidak bisa dibilang murah. Meski begitu, Lina selalu membeli semua
kebutuhan makan di restoran tersebut. Walaupun pemilik restoran
tidak selalu mau berbagi bahan makanan dengan Lina karena
terkadang restoran juga ramai pengunjung sehingga pemilik restoran
tidak bisa menjual bahan makanan mentahnya ke orang lain.

Namun semenjak ada toko Pakistan, kebutuhan makanan yang
terjamin halal bisa Lina dapatkan di sana. Toko itu menyediakan
semua kebutuhan yang diperlukan oleh orang muslim yang sudah pasti
terjamin kehalalannya. Ada juga produk Indonesia yang dijual di sana
sehingga Lina bisa sedikit mengobat rasa rindunya kepada negara
tercinta.

Selain kebutuhan makanan halal yang sulit dicari, ujian iman
yang lainnya adalah tentang kesempatan untuk berbuat maksiat.

Perbuatan maksiat di negara tersebut menjadi hal yang biasa bahkan
akan sering di temui di hampir seluruh sudut kota. Tempat kumpul
para remaja bukan lagi café tetapi club. Di dalam club banyak
ditemukan pengguna ganja yang mengonsumsinya secara terang-
terangan. Minuman beralkohol bahkan sudah menjadi minuman yang
biasa dikonsumsi oleh orang-orang di sana.

Betapa keadaan di sana sangat menakutkan bagi Lina. Ia harus
tetap bisa menjaga nafsu dan menguatkan imannya. Sebab ia juga
membutuhkan relasi sosial dengan teman-teman lokalnya sehingga
ajakan untuk ke club tidak bisa ia hindari. Meski begitu ia pelan-pelan
memberi pemahaman kepada teman-temannya tentang larangan-
larangan yang ada dalam agamanya tanpa menghilangkan rasa hormat
sedikitpun. Dan bersyukur teman-temannya bisa mengerti tentang
keadaan Lina yang demikian.

KALIAN HARUS TAHU

Sebagai mahasiswa yang punya kesempatan berkuliah di luar
negeri, Lina tidak begitu sulit beradaptasi dengan kehidupan di
kampus. Tidak ada masalah yang berarti mengenai prosedur
perkuliahan karena memang hampir sama dengan sistem perkuliahan
di Indonesia. Hanya saja pendidikan di Hungaria lebih berkualitas.

Pendidikan yang berkualitas itu dibuktikan oleh minat baca
mahasiswa yang tinggi, yang mana menunjukkan bahwa kualitas ilmu
yang mereka dapat adalah berkat membaca berbagai sumber wawasan
yang disediakan cuma-cuma dalam berbagai buku yang ada.

Karena minat baca mahasiswa sangat tinggi, kampus memiliki
perpustakaan yang sangat besar dan tidak pernah sepi pengunjung.
Perpustakaan di University of Szeged ini menjadi perpustakaan
terbesar di Eropa Tengah. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa
literasi berperan penting dalam peningkatan sumber daya manusia.

Sebab minat baca mahasiswa University of Szeged yang tinggi,
sumber daya manusia di sana sangat berkualitas. Pernyataan ini
didukung oleh fakta bahwasannya banyak ilmuwan-ilmuwan yang
lahir dari kampus ini. Beberapa ilmuwan terkait antara lain Albert
Szent Gyorgyi de Nagyrapolt sebagai penemu ekstrak vitamin C, Erno
Rubik sebagai penemu rubik, dan George Polya sebagai penemu teori
problem solving dalam matematika.

TAK CUKUP HANYA LINGUA FRANCA

Kebanyakan orang mengira bahwa penguasaan bahasa Inggris
merupakan bekal terpenting yang harus dimiliki sebelum seseorang
bisa pergi ke luar negeri. Alasannya adalah karena bahasa Inggris
ditetapkan sebagai bahasa internasional yang menghubungkan bahasa-
bahasa dari banyak negara di dunia. Namun sepertinya pernyataan itu
belum sepenuhnya benar.

Meski sudah mahir berbahasa Inggris, Lina hanya bisa
menerapkan keahliannya berbahasa Inggris terbatas pada lingkungan
kampusnya saja. Ini karena di dalam lingkungan kampus banyak
mahasiswa dari berbagai negara yang juga bergantung pada bahasa
Inggris untuk berkomunikasi. Untuk berinteraksi dengan lingkungan
luar, bahasa Inggris sudah tidak bisa menjamin dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Hal ini lantaran banyak masyarakat lokal yang
tidak bisa berbahasa Inggris.

Satu-satunya solusi agar Lina tetap dapat berinteraksi adalah
dengan menggunakan bahasa isyarat. Selain itu, Lina sedikit demi
sedikit sudah mulai belajar bahasa Hungaria dengan mengikuti kursus
selama satu tahun meski pemahamannya masih dengan kosakata yang
sangat terbatas dan tentunya masih memerlukan bantuan dari aplikasi
google translate.

Bahasa Hungaria yang umum dikenal dengan nama bahasa
mager masuk ke dalam sepuluh bahasa tersulit di dunia. Terdapat lebih

banyak alphabet menggunakan simbol-simbol latin yang tentunya akan
berpengaruh terhadap cara pengucapannya. Sehingga mempelajari
bahasa mager memerlukan waktu yang cukup lama. Seseorang harus
dulu bisa mengucapkan pelafalan yang tepat agar tidak terjadi salah
arti atau penafsiran ketika menyebutkan suatu kosakata.

SETELAH SELESAI DISINI

Waktu ideal untuk mendapat gelar doktor dengan menempuh
pendidikan S3 adalah selama enam semester atau sekitar tiga tahun.
Setelah itu biasanya seorang doktor akan memiliki kesempatan luas
untuk berkarir di dalam dunia akademis. Seorang doktor biasanya akan
menduduki jabatan lebih tinggi di dalam jenjang jabatan fungsional
akademis. Hal ini karena pendidikan level doktoral ini memiliki
tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Bagi Lina menjadi dosen adalah tuntutan setelah
menyelesaikan pendidikan S3 nya. Ia memutuskan akan kembali ke
Indonesia setelah lulus dari University of Szeged. Sudah banyak
universitas-universitas yang memberinya tawaran untuk bekerja di
instasinya terutama universitasnya sendiri, yaitu Universitas Negeri
Surabaya. Namun Lina belum menentukan apakah keputusan yang ia
buat sekarang akan sama sampai waktu kelulusannya nanti.

Keputusan Lina masih fleksibel, bisa berubah sewaktu-waktu.
Apalagi beasiswa yang diikuti Lina adalah beasiswa yang
diselenggarakan oleh pihak Hungaria sehingga tidak ada kewajiban
untuknya pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studi S3 nya
disini. Kesempatan kerja di Hungaria juga besar nantinya, apalagi
disini kualitas sumber daya manusia sangat dihormati dan disegani.
Sehingga keputusan untuk pulang masih belum seratus persen menjadi
keputusan mutlak.

PESANKU UNTUK KALIAN


Click to View FlipBook Version