The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MODUL PRAKTIKUM ZOOLOGI VERTEBRATA KEGIATAN 2 KELAS AMPHIBIA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 2001080013, 2022-12-06 21:34:16

MODUL PRAKTIKUM ZOOLOGI VERTEBRATA KEGIATAN 2 KELAS AMPHIBIA

MODUL PRAKTIKUM ZOOLOGI VERTEBRATA KEGIATAN 2 KELAS AMPHIBIA

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji Penulis hanturkan kehadirat Illahi Robbi atas rahmat, karena atas
berkat rahmat dan anugerah-Nya terutama ilmu-Nya yang maha luas, Penulis dapat menyelesaikan
modul Penuntun Praktikum Zoologi Vertebrata tepat pada waktunya. Dan tak lupa Penulis
sampaikan pula ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mempermudah
penulisan modul Penuntun Praktikum Zoologi Vertebrata.

Modul ini disusun untuk kegiatan praktikum mata kuliah Zoologi Vertebrata, yang diberikan
untuk mahasiswa S-1 Tadris Biologi IAIN Metro Lampung. Penuntun praktikum ini diharapkan
berfungsi sebagai pedoman bagi mahasiswa untuk bekerja di laboratorium maupun dilapangan.
Praktikum Zoologi Vertebrata bertujuan untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam
mengenai materi kuliah yang diberikan dan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam
menggunakan alat-alat laboratorium dan kegiatan praktikum lapangan.

Terbitnya modul penuntun praktikum Zoologi Vertebrata ini diharapkan dapat meningkatkan
keterampilan dasar bagi mahasiswa dalam menangani alat dan bahan kimia, sebab hampir setiap alat
dan bahan kimia memerlukan penanganan khusus dengan teknik khusus pula. Dasar teoritik yang
tercantum dalam tiap kegiatan praktikum hanya berisi pengetahuan dasar yang sangat minimum
sehingga untuk dapat memberikan pengetahuan yang lebih baik mahasiswa harus membaca pokok-
pokok pengetahuan teoritis dari referensi lain. Selain untuk memudahkan mahasiswa dalam
melakukan praktikum, modul penuntun praktikum Zoologi Veretbrata ini juga ditulis sebagai
pedoman dan tuntunan mahasiswa dalam menulis laporan hasil praktikum sehingga harapannya dapat
membimbing mahasiswa menghasilkan laporan praktikum yang berkualitas.

Modul Penuntun ini mungkin masih banyak kekurangannya, untuk itu akan selalu dilakukan
revisi dan perbaikan guna memenuhi tuntutan kurikulum yang berlaku. Adapun kritik dan saran yang
bersifat konstruktif dari berbagai pihak sangat Penuli harapkan untuk kesempurnaan penulisan modul
ini di edisi berikutnya. Akhir kata, semoga modul ini bermanfaat bagi pengguna, khususnya para
mahasiswa S-1 Jurusan Tadris Biologi IAIN Metro Lampung.

Metro, 24 Oktober 2022

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ iv
PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1

A. Sasaran Utama ............................................................................................................ 1
B. Sasaran Khusus .......................................................................................................... 1

TATA TERTIB DAN TATA KERJA LABORATORIUM ............................................. 2
A. Aturan Umum ............................................................................................................. 2
B. Aturan Khusus ............................................................................................................ 3

TEORI PEMBUKA .............................................................................................................. 4
POKOK BAHASAN ............................................................................................................ 8

A. Tujuan ......................................................................................................................... 8
B. Dasar Teori ................................................................................................................. 8

1. Pendahuluan ......................................................................................................... 8
2. Klasifikasi Ampibi ............................................................................................... 8
3. Morfologi Amphibi .............................................................................................. 13
4. Bagian dan Sistem Tubuh Amphibi ..................................................................... 15
5. Tinjauan Umum Morfologi Katak ........................................................................ 25
6. Tinjauan Umum Morfologi Kodok ...................................................................... 28

METODOLOGI PRAKTIKUM ......................................................................................... 29
FOKUS PENGAMATAN .................................................................................................... 31
PENUGASAN ....................................................................................................................... 33
PENILAIAN DIRI ................................................................................................................ 34
DAFTAR REFERENSI ....................................................................................................... 35
LAMPIRAN .......................................................................................................................... 36

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Diagram Struktur Umum Dari Chordata .............................................................. 5
Gambar 2. Apoda (Caecilia) ................................................................................................... 9
Gambar 3. Salamander (Urodela) ........................................................................................... 10
Gambar 4. Anura .................................................................................................................... 11
Gambar 5. Morfologi Tubuh Katak (Rana sp.) ...................................................................... 27
Gambar 6. Gelang Bahu Pada Anura (Cingulum Et Pectoral) ............................................... 27
Gambar 7. Amplexus .............................................................................................................. 28
Gambar 8. Pengukuran Morfometrik Amphibi ...................................................................... 30
Gambar 9. Pematang dan Kelenjar Paratoid .......................................................................... 31
Gambar 10. Beberapa Aksesoris Pada Jari Anura .................................................................. 32

iv

PENDAHULUAN

Modul penuntun praktikum ini disusun sebagai pedoman para mahasiswa untuk melakukan
kegiatan Praktikum Zoologi Vertebrata pada Program S-1 Tadris Biologi IAIN Metro Lampung.
Sasaran yang hendak dicapai meliputi:
A. Sasaran Utama

a. Memberikan pengalaman dalam melakukan cara-cara eksperimen dan pengamatan
b. Memberikan beberapa ilustrasi tentang bahan kuliah.
c. Memberikan pengetahuan yang mendalam tentang Zoologi Vertebrata, khususnya mengenai

kerangka dasar teori dan cara pemecahan masalah.
d. Menanamkan kesadaran akan keterkaitan berbagai pengetahuan alam lainnya beserta

batasan-batasannya.
B. Sasaran Khusus

a. Mengembangkan keterampilan dalam melakukan kegiatan praktikum Zoologi Vertebrata.
b. Melatih mengadakan pengamatan dengan cermat.
c. Melatih keterampilan menggunakan alat-alat gelas, zat kimia dan instrumen.
d. Melatih menganalisis data eksperimen dan menulis laporan.
e. Memberikan motivasi dalam melakukan eksperimen.

1

TATA TERTIB PRAKTIKUM

Dalam melaksanakan praktikum, praktikan diharuskan memperhatikan dan mengikuti
ketentuan serta aturan berikut:
A. ATURAN UMUM

1. Praktikan diwajibkan mengenakan Jas laboratorium berwarna putih disertai label nama
masing-masing. Bagi mahasiswi, sebaiknya ujung jilbab dimasukkan ke dalam jas
laboratorium.

2. Praktikan harus datang tepat pada waktunya, sehingga pada saat praktikum dimulai semua
sudah hadir di dalam ruangan praktikum. Mahasiswa yang terlambat 15 menit atau lebih, tidak
diijinkan mengikuti pretest dan praktikum

3. Tidak diperkenankan makan, minum, merokok dan menghidupkan alat komunikasi di dalam
lab. selama melakukan praktikum.

4. Dilarang membuang zat padat, asam-basa pekat, sampah dan sisa larutan pereaksi ke dalam
bak cuci. Buanglah sampah-sampah itu pada tempat yang telah disediakan.

5. Praktikan harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh semua keterangan yang diberikan
oleh Dosen pembimbing/asisten praktikum mengenai latihan yang dihadapi sehingga tidak
akan menemukan kesulitan dalam menjalankan praktikum

6. Jangan melakukan kegiatan atau percobaan di luar petunjuk praktikum yang telah tercantum
dalam penuntun, tanpa izin dari Asisten Lab.

7. Setiap praktikan diwajibkan memiliki Modul Penuntun Praktikum, lebih baik dalam bentuk
cetak/hard file.

8. Setiap praktikan akan diberi peminjaman alat-alat yang sudah disediakan oleh pihak
laboratorium. Sebelum alat-alat digunakan, periksa dan pastikan alat-alat dalam keadaan baik
dan utuh.

9. Setiap praktikan diwajibkan mengisi daftar hadir sebelum dan sesudah praktikum. Kehadiran
praktikum 100% dari keseluruhan pertemuan. Bagi yang kehadirannya kurang, maka dapat
mengikuti susulan praktikum 1 minggu setelah semua acara praktikum selesai dengan
menyelesaikan administrai terlebih dahulu pada Laboran laboratorium Biologi.

10. Mahasiswa yang tidak dapat hadir untuk menjalankan praktikum diharuskan untuk
menyerahkan surat keterangan dari dokter atau orang tua/wali yang menerangkan tentang
ketidakhadirannya. Mahasiswa yang sampai 2 kali berturut-turut tidak hadir tanpa keterangan
dianggap mengundurkan diri dan namanya akan dicoret dari daftar.

11. Sebelum dan sesudah praktikum, alat yang digunakan harus dalam keadaan bersih, utuh dan
disimpan kembali di lemari. Apabila ada alat yang rusak segera lapor kepada petugas dan

2

harus diganti dengan alat yang sama oleh kelompoknya paling lambat pada praktikum
selanjutnya.
12. Sebelum meninggalkan laboratorium meja kerja harus bersih, kursi disimpan di atas meja,
dan ruangan harus bersih dari sampah.

B. ATURAN KHUSUS
1. Setiap praktikan harus mempelajari petunjuk percobaan yang akan dilakukan.
2. Sebelum pelaksanaan praktikum, praktikan harus menyerahkan laporan praktikum dan
mengikuti ujian pretest dan posttest praktikum sesuai dengan percobaan yang akan
dilakukan.
3. Sebelum percobaan dilakukan, praktikan mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dengan
asisten yang berhubungan dengan percobaan yang akan dilakukan.
4. Jika pada saat praktikum kelompok kerja praktikan tidak membawa bahan atau preparat yang
akan dipraktikumkan maka tidak dapat mengikuti praktikum mata acara tersebut.
5. Selama melakukan percobaan, tuliskan semua hasil pengamatan pada lembar pengamatan
yang telah disiapkan dalam jurnal/lembar pengamatan modul penuntun praktikum Zoologi
Vertebrata.
6. Setelah percobaan, jurnal harus diberikan kepada asisten laboratorium untuk diperiksa dan
dipresentasikan didepan praktikan lain.
7. Percobaan harus selesai sampai batas waktu 15 menit terakhir dari jadwal waktu yang telah
ditentukan. Alokasi waktu tersebut digunakan untuk membersihkan alat, meja kerja dan
ruang laboratorium.
8. Setiap praktikan diwajibkan membuat laporan tulis tangan dari semua percobaan yang
dilakukan. Format laporan adalah sebagai berikut :
I. COVER: Judul Praktikum, Nama, Kelas, Logo IAIN Prodi, Fakultas, Kampus.
II. BAB 1 PENDAHULUAN: Judul, Waktu Pelaksanaan, Tempat, Tanggal, Asprak,
Dosen Pengampu, Tujuan Praktikum
III. BAB II: DASAR TEORI
IV. BAB III METODE PRAKTIKUM: Alat, Bahan, Metode Praktikum (langkah-
langkah dll)
V. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN: Hasil Pengamatan dan Pembahasan Hasil
Percobaan
VI. BAB V PENUTUP: Kesimpulan dan Saran
VII. DAFTAR REFERENSI
VIII. LAMPIRAN PENDUKUNG (FOTO DOKUMENTASI KEGIATAN,
PENGAMATAN, DAN REFERENSI

3

TEORI PEMBUKA

Pada saat ini para ahli zoologi telah berhasil mendeskripsikan kurang lebih satu juta spesies
hewan yang terdapat dimuka bumi dan kurang lebih 5% mempunyai tulang belakang yang disebut
sebagai vertebrata. Sisa hewan yang ada 95% merupakan hewan yang tidak bertulang belakang
(invertebrata ). Para ilmuwan mengklasifikasikan hewan kepada dua kelompok besar, yaitu hewan
bertulang belakang dan hewan tanpa tulang belakang.
1. Hewan yang bertulang belakang disebut Vertebrata.
2. Hewan tanpa tulang belakang disebut Invertebrata atau Avertebrata.

Vertebrata merupakan salah satu subfilum dari filum Chordata. Sebelum Anda
mempelajari secara khsusus tentang Vertebrata, di bawah ini akan diuraikan terlebih dahulu tentang
Chordata. Perbedaan yang jelas antara invertebrata (Achardata) dan vertebrata (Chordata) adalah tiga
pola dasar yaitu: notochord (batang penyokong tubuh), neverchord (batang syaraf), gill slits
(celah insang) pada pharynx.

Chordata merupakan coelomata yaitu hewan yang mempunyai coelom sejati. Chordata
memiliki perkembangan embrio deuterostomous yaitu perkembangan anusnya pada sisi blastopore.
Secara mendasar Chordata (chorda = notochord) mempunyai struktur yang berbeda dengan
Invertebrata. Letak dari sistem saraf Chordata sebelah dorsal, sedangkan pada Invertebrata letaknya
ventral. Beberapa tahap pada perkembangan Chordata mempunyai notochord, yaitu batang rangka
primitif di sebelah bawah system saraf pusat. Chordata juga mempunyai lubang-lubang lateral pada
saluran pencernaan depan (faring) yaitu celah visceral, meskipun pada Chordata tingkat tinggi
keberadaannya bersifat sementara. Selain itu Chordata memiliki sistem peredaran darah yang berbeda
dengan Invertebrata, sebab jantung Chordata terletak ventral dari sistem pencernaan makanan dan
darah mengalir dari anterior ke posterior melalui pembuluh dorsal. Sedangkan pada Invertebrata,
jantung terletak dibagian dorsal dan darah mengalir ke arah anterior pada pembuluh dorsal. Filum
Chordata terdiri atas 3 subfilum.

4

Gambar 1. Diagram struktur umum dari Chordata, (A) diagram tampak dari sisi lateral, menunjukkan
struktur umum dari Chordata, perhatikan letak tali saraf dan jantung yang
membedakannya dari Invertebrata, (B) diagram sayatan melintang dari Chordata, tampak
coelom yang sesungguhnya yang terdapat pada daerah dorsal dan ventral

Urochordata sering disebut juga Tunicata. Hidup di laut. Chorda (notochord) terdapat pada
bagian ekor dan hilang jika sudah dewasa pada yang hidupnya sesil (menempel). Tubuhnya dilapisi
oleh semacam selulosa yang disebut tunica. Hidupnya ada yang berkoloni ada juga yang soliter dan
hampir semuanya sesil. Contoh: Ciona. Cephalochordata merupakan golongan kecil dengan bentuk
menyerupai ikan. Tubuh berbentuk langsing. Hidup di laut daerah tropis dan subtropis. Mempunyai
chorda sampai dewasa. Tidak mempunyai tengkorak, karena itu disebut juga acraniata. Saluran
pencernaan masih sederhana bentuknya, yaitu berupa tabung. Memiliki kekerabatan yang dekat
dengan Vertebrata. Contoh: Branchiostoma (Amphyoxus). Vertebrata merupakan subfilum dari
Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar dan paling dikenal. Tubuh dibagi menjadi tiga
bagian yang cukup jelas: kepala, badan, dan ekor. Kepala dengan rangka dalam, cranium, di
dalamnya terdapat otak, karena mempunyai cranium ini Vertebrata dikenal juga sebagai
Craniata. Notochord sebagai penyokong berakhir pada cranium dan pada tingkat

5

yang telah maju diganti oleh-unsur-unsur tulang rawan atau tulang sejati yang membentuk tulang
belakang. Kelompok ini dikatakan sebagai Vertebrata karena mempunyai tulang belakang
yang beruas-ruas (vertebrae). Tubuh dilapisi oleh jaringan yang berlapis yaitu dermis dan di
atasnya terdapat epidermis. Epidermis ada yang mempunyai lapisan tanduk, bersisik, berbulu atau
berambut. Mempunyai rangka dalam yang bersendi dari rawan atau tulang rawan dan tulang.
Memiliki tiga tipe jaringan otot yaitu otot polos atau otot visceral, otot rangka atau otot bergaris
melintang dan otot jantung atau otot cardiac. Memiliki saluran pencernaan yang komplit yaitu: mulut,
lidah, gigi, faring, esofagus, lambung, usus, kloaka atau rektum dan anus. Peredaran darah tertutup
yang terdiri atas sebuah jantung, pembuluh arteri, kapiler, dan vena. Juga dilengkapi dengan sistem
pembuluh limfa. Sistem ekskresi berupa ginjal yang mengalami berbagai tingkat perkembangan (pro-
, meso-, dan metanefros). Sistem sarafnya sudah dilengkapi dengan otak dan sumsum tulang belakang
sebagai sistem saraf pusat, saraf tepi (perifer), dan sistem saraf otonom yang mengontrol organ
visceral. Mempunyai sejumlah kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon yang berfungsi dalam
mengatur berbagai proses dalam tubuh. Berkelamin terpisah, pada beberapa Vertebrata rendah
mempunyai daya regenerasi terbatas.

Vertebrata adalah subfilum dari Chordata, mencakup semua hewan yang memiliki tulang
belakang yang tersusun dari vertebra. Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata. Ke dalam
vertebrata dapat dimasukkan semua jenis ikan (kecuali remang, belut jeung, "lintah laut", atau
hagfish), amfibia, reptil, burung, serta hewan menyusui. Kecuali jenis-jenis ikan, vertebrata diketahui
memiliki dua pasang tungkai (SALAH SATU ALASAN VETEBRATA DIBAGI 2 SUPER
CLASS). Vertebrata memiliki sistem otot yang banyak terdiri dari pasangan massa, dan juga sistem
saraf pusat yang biasanya terletak di dalam tulang belakang. Sistem respirasi menggunakan insang
atau paru-paru.

Berdasarkan ada tidaknya rahang Vertebrata dibagi menjadi dua kelompok yaitu Agnatha ( a
= tidak, gnatho = rahang; tidak berahang ) dan Gnathostomata (gnatho = rahang, stoma = lubang;
mulutnya berahang). Agnatha merupakan Vertebrata yang tidak berahang, memiliki rangka dari
rawan, lidah seperti parut, chorda tetap ada sepanjang hidup, hidup di laut dan air tawar, spesies yang
hidup tidak memiliki anggota badan yang berpasangan, contohnya : Myxine (Hagfish) pemakan
bangkai yang hidup di laut, mulut dikelilingi oleh tentakel pendek; Petromyzon (Lamprey), bersifat
anadromus (hidup dewasa di laut dan berkembangbiak di air tawar), bersifat parasit hidup menempel
dan menghisap darah inangnya. Gnathostomata merupakan Vertebrata yang mempunyai rahang,
notochord sebagian besar atau seluruhnya digantikan oleh vertebra pada hewan dewasa pada
sebagian besar spesies dan anggota badan berpasangan. BERDASARKAN BENTUK ALAT
GERAKNYA, Gnathostomata dikelompokkan menjadi dua

6

kelompok besar (beberapa sumber menamakannya sebagai takson superkelas) yaitu Pisces dan
Tetrapoda.

Vertebrata merupakan kelompok hewan yang memiliki tulang belakang. Berdasarkan
jenis tulang belakang dan alat geraknya (tungkai) ini sub philum Vetebrata dibagi menjadi 2
super class.

Tetrapoda merupakan Gnathostomata dengan anggota tubuh berpasangan masing-masing
dengan lima jari, kepala mempunyai leher dan dapat bergerak bebas kecuali pada Amphibia.
Kelompok hewan ini juga memiliki lubang hidung dalam yang terbuka ke arah rongga mulut,
repirasi terutama melalui paru-paru, memiliki satu kantung alantois terdapat pada Amphibia
dewasa sedangkan pada Reptilia, Aves, dan Mammalia terdapat pada saat embrio. Kebanyakan
hidup di darat dan beberapa jenis menggunakan air sebagai tempat hidup sekunder. Tubuh ditutupi
oleh kulit yang lembab (Amphibia), sisik epidermis (Reptilia), bulu (Aves) atau rambut
(Mammalia). Tetrapoda berdasarkan struktur anatomi dan morfologinya terbagi menjadi
empat kelas.

7

POKOK BAHASAN
A. TUJUAN

Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu untuk:
1. Mengenal contoh spesies dari Class Amphibia.
2. Mempelajari karakteristik morfologi katak (Rana sp.) dan kodok (Bufo sp.)
3. Mempelajari karakteristik anatomi katak (Rana sp.) dan kodok (Bufo sp.)
4. Mempelajari karakteristik dan bagian-bagian spesifik dari katak (Rana sp.) dan kodok

(Bufo sp.) berkaitan dengan kepentingan identifikasi.

B. DASAR TEORI

1. Pendahuluan

Sebetulnya amphibia berasal dari kata amphi, artinya rangkap dan bios artinya

kehidupan. Jadi, dapat dikatakan bahwa amphibia adalah hewan yang hidup melalui dua fase

kehidupan, yaitu fase kehidupan di dalam air, keadaan ini pada umumnya disebut fase larva

atau dalam istilah yang lebih populer disebut berudu. Kemudian, setelah fase di air selesai

dilanjutkan fase kehidupan di darat. Hewan yang sudah dewasa mempunyai columna

vertebralis dan juga dilengkapi pula adanya extremitas (anggota badan) dengan jari-jari

atau disebut digiti yang bentuknya berbeda-beda, sedangkan kulit bentuknya lembut dan tidak

mempunyai sisik ataupun rambut.

Tetapi kriteria semacam ini, sering tidak dapat digunakan untuk species tertentu.

Ada beberapa species yang mengalami modifikasi, bahkan ada pula yang tidak mengalami

fase larva di dalam air dan sebaliknya ada beberapa jenis hewan dewasa yang tetap bertahan

di dalam kehidupan air contohnya adalah Xyophus sp. Untuk membahas materi ini diambil

contoh jenis katak atau Rana sp. yang mewakili kelas amphibia.

2. Klasifikasi Amphibi

Adapun kedudukan amphibia dalam system klasifikasi yaitu sebagai berikut:

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Superkelas : Tetrapoda

Kelas : Amphibia

8

Amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Apoda (Caecilia), Urodela (Salamander), dan Anura ( katak
dan kodok), Proanura (telah punah).
a. Ordo Apoda (Caecilia)

Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki
sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak
bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata
tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai
fotoreseptor.

Gambar 2. Apoda (Caecilia)
Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini
menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan
bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya
ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik. Fertilisasi pada Caecilia terjadi
secara internal. Ordo Caecilia mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae,
Uraeotyphilidae, Scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Famili Caecilidae mempunyai 3
subfamili yaitu Dermophinae, Caecilinae dan Typhlonectinae. Famili yang ada di
Indonesia adalah Ichtyopiidae. Anggota famili ini mempunyai ciri-ciri tubuh yang
bersisik, ekornya pendek, mata relatif berkembang. Reproduksi dengan oviparous. Larva
berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang segera hilang
walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum metamorphosis. Anggota famili
ini yang ditemukan di Indonesia adalah Ichtyophis sp., yaitu di propinsi DIY.
b. Urodela (Salamander)
Ordo ini mempunyai ciri bentuk tubuh memanjang, mempunyai anggota gerak dan
ekor serta tidak memiliki tympanum (system syaraf yang berfungsi sebagai
pendengaran). Tubuh dapat dibedakan antara kepala, leher dan badan. Beberapa spesies
mempunyai insang dan yang lainnya bernafas dengan paru-paru. Pada bagian kepala

9

terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi. Fase larva
hampir mirip dengan fase dewasa. Anggota ordo Urodela hidup di darat akan tetapi tidak
dapat lepas dari air. Pola persebarannya meliputi wilayah Amerika Utara, Asia Tengah,
Jepang dan Eropa.

Gambar 3. Salamander (Urodela)
Salamander merupakan kelompok Amphibia yang berekor. Mereka secara umum
dicirikan seperti kadal. Semua anggota dari family ini memiliki ekor yang panjang, tubuh
silinder yang memanjang serta kepala yang berbeda. Sebagian besar memiliki tungkai
yang berkembang dengan baik, biasanya pendek tergantung pada ukuran tubuh.
Tengkoraknya mereduksi dikarenakan adanya beberapa bagian yang menghilang.
Sebagian besar anggotanya memiliki fertilisasi internal meski tak satu pun anggota dari
family ini yang memiliki organ kopulasi. Fertilisasi internal terjadi ketika jantan
mendepositkan spermatopora yang kemudian akan diterima oleh betina melalui bibir
kloakanya. Salamander memiliki tubuh yang memanjang dan memiliki ekor. Sebagian
besar Salamander memiliki empat kaki, meskipun tungkai pada beberapa spesies akuatik
jelas sekali mereduksi. Ada 2 kecenderungan yang cukup menonjol dalam proses evolusi
Salamander yaitu hilangnya (mereduksi) paru-paru serta adanya paedomorphosis.
Paedomorphosis adalah salah satu contoh dari fenomena evolusi yang disebut dengan
heterochrony. Herterochorny terkait dengan perubahan waktu dan tingkat dari proses
perkembangan (terutama dalam masa embryonik) yang merubah bentuk tubuh hewan
dewasanya. Hewan dewasa yang paedomorphic biasanya memiliki habitat aquatic dan
memiliki karakteristik larva seperti adanya insang luar, hilangnya kelopak mata serta
perubahan pola gigi dewasanya.Paedomorphosis merupakan karakteristik pada beberapa
Salamander aquatic seperti Proteidae. Pada family lain, seperti Ambystomatidae,
beberapa spesies paedomorphic tetap bermetamorfosis menjadi Salamander dewasa yang
terrestrial.

10

Urodella mempunyai 3 sub ordo yaitu Sirenidea, Cryptobranchoidea dan
Salamandroidea. Sub ordo Sirenidae hanya memiliki 1 famili yaitu Sirenidae, sedangkan
sub ordo Cryptobranchoidea memiliki 2 famili yaitu Cryptobranchidae dan Hynobiidae.
Sub ordo Salamandroidea memiliki 7 famili yaitu Amphiumidae, Plethodontidae,
Rhyacotritoniade, Proteidae, Ambystomatidae, Dicamptodontidae dan Salamandridae.
c. Anura (Katak dan Kodok)
Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini
mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak
mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada
tungkai depan.

Gambar 4. Anura
Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat
selaput diantara jari- jarinya. Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan
ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat digerakkan.
Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan
prosesnya dilakukan di perairan yang tenang dan dangkal. Ada 5 Famili yang terdapat di
Indonesia yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae, Microhylidae dan Rachoporidae.

11

Adapun penjelasan mengenai kelima famili tersebut adalah sebagai berikut:

Familia Keterangan
Bufonidae Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-ciri umumnya yaitu kulit

kasar dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum

dan terdapat pematang di kepala. Mempunyai tipe gelang bahu

arciferal. Secara diapophisis melebar, Bufo mempunyai mulut yang

lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang

dari pada tungkai depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput.

Fertilisasi berlangsung secara eksternal. Famili ini terdiri dari 18

genera dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili Bufo

yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo

melanosticus dan Leptophryne borbonica.

Megophryidae Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti

tanduk di atas matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak

matanya. Pada umumnya famili ini berukuran tubuh kecil. Tungkai

relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah.

Gelang bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada

fase berudu terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari

makan di permukaan air. Adapun contoh spesies anggota famili ini

adalah Megophrys dan Leptobranchium hasselti.

Ranidae Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif

ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya

terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan

ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada

kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan

terdapat gigi seperti parut dibagian maxillanya. Sacral diapophysis

gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar.Famili ini terdiri

dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota,

Rana hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis,Fejervarya

cancrivora,Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga

sumatrana.

12

Microhylidae Famili ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif
Rachoporidae panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada maxilla
dan mandibulanya, tapi beberapa genus tidak mempunyai gigi.
Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang secara
horizontal. Gelang bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah:
Microhyla achatina.
Famili ini sering ditemukan di areal

d. Ordo proanura
Anggota-anggota ordo ini tidak dapat diketemukan atau dapat dikatakan telah punah.
Anggota-anggota ordo ini hidupnya di habitat akuatik sebagai larva dan hanya sedikit saja
yang menunjukkan perkembangan ke arah dewasa. Ciri-ciri umumnya adalah mata kecil,
tungkai depan kecil, tanpa tungkai belakang, kedua rahang dilapisi bahan tanduk,
mempunyai 3 pasang insang luar dan paru-paru mengalami sedikit perkembangan.
Amphibi ini tidak menunjukkan adanya dua bentuk dalam daur hidupnya.
Beberapa pertimbangan memungkinkan pemilihan katak atau Rana sp, untuk

mewakili Kelas Amfibi. Selain genus ini mudah diperoleh dan ukurannya cukup besar, juga
menunjukkan banyak persamaan dalam bentuk dan fungsi dengan vertebrata tingkat tinggi.
Susunan tubuhnya mudah dipelajari, demikian pula fisiologinya dapat segera ditunjukkan.
Cara hidupnya ialah sederhana dan mudah diamati. Adapun tambahan spesimen kodok
adalah sebagai spesimen pembanding dalam praktikum ini.
3. Morfologi Amphibi

Karena adanya sekresi kelenjar-kelenjar kulit (yaitu kelenjar yang menghasilkan
lendir) maka kulit yang membungkusnya selalu basah. Kulit ini mudah untuk dilepaskan
(kecuali pada tempat-tempat yang ada perlekatan otot), karena adanya cairan lympha yang
dihasilkan oleh sinus-sinus lypha subcutan (dibawah kulit). Selain dari itu akan ditemukan
pula kelenjar-kelenjar dari vena dan arteri cultaneamagna, sehingga kulit mempunyai peranan
di dalam pernafasan (disamping insang pada larva hewan dan paru-paru pada hewan
dewasa).Tubuh hewan ini dapat kita pisahkan menjadi caput truncus (badan) extrimitas
anterior (kaki depan) dan extrimitas posterior (kaki belakang).

13

a. Caput /Cephal (Kepala)
Bentuk segitiga yang cembung pada bagian dorsal pada kepala dapat ditemukan organ:
1) Mulut
Berfungsi pada pengambilan makanan dan pernafasan dan terletak pada ujung anterior
caput, lebar dan dibatasi oleh os mandibula (tulang rahang bawah) yang tidak bergigi
dan os premaksilla dan maksilla (tulang rahang atas) dengan gigi kecil berbentuk
kerucut tajam. Nares eksterna (lubang hidung luar) berpasangan antara nares dan
rongga mulut melalui choane (lubang hidung dalam)
2) Mata
Berpasangan bentuknya menonjol keluar terletak sebelah postero dorsal dari nares
mata tersebut terlindung oleh dua buah palpebra (kelopak mata) yaitu pelpebra inferior
berupa kulit yang tak dapat digeser- geserkan. Membrana nictitans (selaput mata yang
ketiga yang transparan) dapat ditarik dari anterior mata, mudah digerak-gerakan ke
arah superior interior dan berfungsi melindungi bola mata, bila hewan tersebut berada
dalam air .
3) Membran Tympani (selaput gendang pendengaran)
Terletak postero-laeral dari mata membran ini dikelilingi oleh annulus tympancus
(cincin rawan) dan ditengahnya membayang columella (tulang telinga) sebesar sebuah
titik .
4) Saccus vocalis berpasangan berupa kantung suara yang terletak latero ventral pada
ujung posterior mandibula (hanya terdapat pada hewan jantan).

b. Truncus (Badan)
Berbentuk cembung pada bagian dorsal dan merata pada bagian ventral, dimana terdapat
bagian-bagian sebagai berikut :
1) Lubang Cloaca sedikit superior dari lipatan kedua extrimitas posterir
2) Sepasang extrimitas ariterior dari proximal ke distal dibangun oleh brachium (lengan
atas ) antebrachium (lengan bawah) dan manus dengan 4 buah digili (jari-jari) yaitu
digili nomor 2 sampai dengan nomor 5
3) Sepasang extrimitas pasterior dari proximal ke distal dibangun oleh femur (paha) arus
(betis) dan pes (telapak kaki)dengan 5 buah digili hubungan antara digili oleh selaput
renang (web)

14

4. Bagian dan Sistem Tubuh Amphibi
a. Cavum Oris (Rongga Mulut)
Dibatasi oleh mandibulla dan premaksilla-maxilla. agar supaya bagian-bagiannya
dapat terlihat jelas, maka potonglah sudut mulut hingga pembukaannnya dapat
diperlebar. Kenalilah organ-organ sebagai berikut:
1) Lidah pangkalnya melekat pada ujung anterior sedangkan ujungnya yang
bercabang melipat kedalam ( ke posterior )
2) Choane sepasang terletak sebelah anterior langit- langit mulut
3) Os vomer, sepasang masing- masing terletak di muka choane bergigi yakni gigi
vower
4) Osteo tubae auditivas sepasang merupakan muara dari saluran Eustachius
penghubung cavum oris dengan telinga tengah masing- masing letaknya postero-
lateral dari bola mata
5) Lubang oeshopagus merupakan awal dari oeshopagus (kerongkongan) didalam
cavum oris dan terletak median
6) Glottis (auditilas laryngis) tampak sebagai celah sebelah anterior dari oeshopagus
diapit oleh kedua tulang rawan (cartilago arythenoidea)
b. Viscera In Situ (Organ Dalam)
Pengerjaan ini dimaksudkan untuk melihat organ -organ dalam tubuh dan posisi
letaknya japitlah dengan pinset sedikit ke dinding perut sebelah medio posterior
dengan sedikit diangkat, guntinglah dengan hati-hati lapisan otot sebelah kiri kanan
linea alba untuk menjaga kemungkinan terpotongnya vena abdominalis di bawah linea
alba. Pengguntingan dilanjutkan ke arah anterior sampai kira-kira dekat xiphisternum.
Kemudian arah perpotongan dilanjutkan ke kiri dan ke kanan sampai pangkal lengan
atas. Otot – otot pada sternum dibuang dan potonglah tulang-tulang yang menyusun
tulang pectoral ini, sehingga sternum dapat dihilangkan. Kusculus rectus abdominis
sekarang dapat dikesampingkan. Perhatikan sampai organ-organ yang terdapat di
dalam tubuh hewan ini, tanpa dirubah-rubah posisi letaknya.
Cor (jantung) untuk melihat bagian-bagiannya maka selaput pericardium yang
membungkusnya dilepaskan. Maka akan terlihat :
1) Atrium sinistra (serambi kiri) dan atrium dextra (serambi kanan) yang berdinding
otot tipis berwarna merah kehitam-hitaman yang dipisahkan antara keduanya pada
bagian ventral oleh truncus arteriosus
2) Ventrikel (bilik) berwarna lebih muda dan berdinding tebal

15

3) Pulmo (paru- paru) terletak sebelah lateral dikiri kanan jantung
4) Hepar (hati) terdiri dari 3 lobi (belahan) dan berwarna merah coklat. Padanya

melekat vesica telea ( kantung empedu ) berwarna hijau terletak di antara lobi
hepar
5) Gastrum (lambung) terletak sebelah kiri rongga badan merupakan lanjutan dari
oesophagus
6) Intestinum (usus halus) mempunyai bentuk berliku-liku merupakan organ
kelanjutan dari gastrum
7) Alat – lalat genitalia : pada hewan betina sepasang ovarium sering terlihat dan
mengandung ovn (sel-sel telur) di dalamnya, sedangkan testis (dari hewan jantan)
terhalang oleh intestinum
c. Sistem Musculer ( Sistem Otot )
Musculi ventralis (otot ventral), untuk melihat bagian- bagiannya maka letaknya katak
yang telah dibunuh dengan bagian dorsalnya pada papan preparasi. Guntinglah kulit
dari medio- posterio ke arah anterior, (perhatikan perlekatan kulit tersebut pada
musculus subhyoideus kira- kira pada batas kepala dan dada ) hati- hati dengan
pengguntingan selanjutnya dan akhirnya seluruh kulit ventral itu dilepaskan.
1) Otot – otot pada bagian kepala mscullus submaxillaris (m submandibularis)
serabut- serabutnya mengarah transversal musculus subhyoideus seperti pita,
transpersal posterior dari m. subbmaxilaris (biasanya ikut terbawa waktu
menguliti)
2) Otot – otot daerah pectoral musculus deltoideus terdiri dari :
a) Pars episternalis merupakan otot dengan ujungnya yang menyempit,

menempel pada episentrum di bawah m. subhyoideus
b) Pars scapularis ujungnya menempel pada scapula (tulang baru)

Muscullus pectoralis yang terdiri dari :
a) Pars epicoracoidea (m. pectoralis I) ujungnya menempel pada stenum dan

menutupi m. Caracoradialis
b) Pars starnalis (m. pectoralis II ) ujungnya pada sternum terdapat posterior dari

m. pectoralis I
c) Pars abdominalis (m. pectoralis III ) ujungnya yang bawah menempel pada

dinding lateral dari m. rectus abdominis dan ujungnya menempel pada lengan
atas.

16

Muscullus coracoradialis ujungnya pada tulang coracoid. Letaknya sebelah darso
anterior pars epicoracoraidea dan darso posterior dari pars episternalis untuk
melihat musculus ini potonglah sedikit botot- otot dari pers episternalis dan
epicoracoraidea sebelah kiri sumbu tubuh.
Otot- Otot (Musculus) Daerah Abdomen
a) Musculus Rectus abdominis terdapat medio ventral tubuh ditengahnya

terdapat tendo (urat) berwarna putih yang disebut linea alba dibawahnya
tampak bayangan hitam karena adanya vena abdominalis. Otot ini
bersegmentasi karena adanya inscriptio tendinae yang berjumlah 4 pasang
b) Muscullus abliqus externus letaknya lateral dari m. pectoralis III. Serabut-
serabut ototnya tersusun miring lateral dan ujungnya menempel pada m.
rectus abdominis. Dibawah obligus externus terdapat m. obligus intermus
dimana arah dari pada serabut- serabut ototnya berlawanan dari arah
musculus di atasnya. Cobalah potong hati- hati bagian m. obligus extemus
Otot – Otot (Musculus) Pada Extrimitas Posterior
Bagian femur dianggun oleh otot-otot (yang letaknya lateral ke medial ) berturut-
turut
a) m. trisep femoris, otot besar letaknya paling lateral
b) m. sartorius, otot pipih yang letaknya sebelah medial dari. M femorius
c) m. adductor magnus medial dari m sartorius dari luar tampak sebagai kerucut
d) m. gracillis mayor otot- otot yang agak besar pada femur bagian medial
e) m. gracilis minor berbentuk pita tipis biasanya ikut terbawa waktu mengikuti
f) Bagian crus dibangun oleh :
g) m. gastronimeus besar bagian atasnya dilanjutkan dengan tendo achllis
h) m. tiblialis anticus longus, otot – otot terdepan pada kaki bawah ujungnya
melekat pada femur bagian distal dengan perantaraan suatu tendo yang
panjang
i) m. libialis anticus brevis terletak dibawah m. tibalis anticus longus
pangkalnya melekat pada tibio – fibulla bagian tengah
j) m. tibalis posticus terletak antara m. gastronimeus dan m.. tibialis articus
longus ujungnya melekat sepanjang tiblo–fibulla

17

d. Sistem Digesti
Untuk melihat organ – organ yang menyusun sistem ini dengan lebih jelas, maka
lakukan pemotongan dari pangkal oesophagus dan ujung rektum. Kemudian selaput
yang menahan organ tersebut dengan dinding tubuh sebelah dorsal (yaitu selaput
mesenterium) digunting dan di biarkan mesenterium yang melekat antara gastrum dan
duodenum karena pada selaput ini melekat pancreas. Sistem urogenitaliar yang
terdapat di bawah intestinum jangan dirusak biarkan pada rongga tubuh pada
tempatnya.
Organ-organ yang menyusun sistem ini dapat dibagi menjadi :
1) Organ penyusun saluran pencernaan makanan
a) Cavum oris (rongga mulut)
b) Pharink merupakan kelanjutan cavum oris dengan bentuk yang pendek sekali
dan menyempit
c) Oesophagus usus penelan
d) Gastrum berdinding tebal dengan bagian anterior dan melebar dibandingkan
dengan bagian posteriornya. Di dalam gastrum proses pencernaan makanan
telah dimulai
e) Hylorus, letaknya diantara gastrum dan duodenum dengan bentuk yang
menyepit
f) Intestinum bagian interiornya segerra setelah pylorus disebut duodendum,
padanya terdapat muara dari dustus choledohus (yaitu saluran pelepasan dari
hati dan pancreas)
g) Color (usus besar) akhir dari saluran pencernaan makanan berakhir menjadi
rectum dan bermuara pada kloake
2) Kelenjar – kelenjar pencernaan makanan.
a) Hepar (hati) letaknya posterior dari cor dan terdiri dari 3 lobi hepar.
b) Empedu yang dibuat disimpan dalam vesica falea (kantung empedu) melalui
ducti hepatica. Empedu tersebut akan dikeluarkan melalui ductus cysticus dari
vesica felea dan dialirkan melalui duclus choledocus ke duodenum.
c) Pancreas berwarna kekuning-kuningan terletak pada pesenterium antara
lekukan gastrum dan duodenum. Pankreas menghasilkan cairan pancreas yang
mengandung enzim dan hormon pencernaan makanan yang dialirkan melalui
ductus pencreaticus ke ductus choledochus sebelum ke doudenum.

18

d) Limfe (limpha), sering organ ini dimasukkan ke dalam sistem pencernaan
makanan, tetapi sebenarnya organ ini berhubungan dengan pembentukan sel -
sel darah. Letaknya pada masenterium di antara lekukan instestinum sebelah
posterior dan berwarna merah tua

e. Sistem Respiratori
Larva dari rana bernafas dengan kulit dan insang, sedangkan hewan dewasa melalui
kulit dan paru – paru. Melalui gerakan otot-otot ventral rahang bawah pengembalian
organ dapat diatur melalui proses nares. Sampai ke paru-paru melalui saluran lewat
choane, lewat rongga mulut dan glotis dan mengeluarkan CO2 dan uap air sebaliknya.
Pormo (paru-paru) merupakan 2 buah kantung yang elastis sifatnya terletak dorsal dari
gastrum dan hepar. Permukaan sebelah dalamnya banyak mengandung lipatan-lipatan
untuk memperluas permukaan respirasi. Larynx pulmo diatas langsung berhubungan
dengan larynk. Larynk berhubungan dengan rongga mulut melalui suatu celah yang
disebut auditivus laryngis (glotis).

f. Sistem Urogenitalia
Terdiri dari sistem ekskretori (urinaria) dan sistem genitalia (reproduksi) sistem
eksretoria
1) Ren (ginjal) berpasangan kiri dan kanan dari columna vertebralis, terletak di
bagian posterior dari rongga badan. Bentuknya pipih memanjang, wqarnanya
merah kehitaman
2) Glandula suprarenalis letaknya ventral paa ren yaitu suatu kelenjar endokrin
3) Ductus mesonephros (ureter / ductus wolifi ) yang keluar dari masing – masing
tepi ren menyalurkan urine. Ada hewanjantan berfungsi juga menyalurkan
spermatozoa, karena itu disebut dustus urospermaticus
4) Vesica urinaria tempat penampungan urine sebelumdikeluarkan melalui cloaca
dinding tipis dan letak kantung kemih ini adalah ventral dari rectum
5) Sistem genitalia ( dapat dibedakan pada hewan jantan dan hewan betina ) organ –
organ pada hewan jantan meliputi :
6) Testis berpasangan terletak pada selaput mesorchium dan menempel pada dinding
dorsal bentuknya lonjong warna kekuning-kuningan, merupakan organ pembuat
sparmatozoa
7) Vassa efferentia berupa deretan saluran-saluran halus yang keluar dari testis di
dalam mesorchium melalui ren dan bermuara di duclus urospermaticus untuk
mengelearkan spermatozoa keluar tubuh

19

8) Ductus urospermaticus (lihat sistem eksretori)
9) Vesica seminalis merupakan bagian caudal dari ductus urospematicus yang di

dalamnya mengandung alveoli tempat penyimpanan spermatozoa sebelum
dikeluarkan dari tubuh
10) Corpus odiposum (badan lemak) letaknya anterior dari ren berbentuk seperti
lengan berwarna kuning merupakan bahan cadangan makanan yang dipergunakan
pada musim perkelaminan
g. Organ Kelamin Betina
1) Ovarium (Indung Telur)
Berpasangan melekat pada dinding tubuh bagian dorsal yang disokong oleh suatu
selaput yang disebut mesovarium. Organ pembentuk ova. Pada hewan betina
dewasa sangat besar berwarna hitam berlipat-lipat penuh ov. Ova yang telah
masak akan diikuti dengan pecahnya dinding ovarium, sehingga terjadi
penyebaran ova ke dalam rongga badan. Oleh gerakan-gerakan cilia dari selaput
paritonium (selaput-selaput pada daerah abdomen yang menempel pada dinding
dorsal tubuh dan dengan bantuan kontraksi otot-otot abdomen ova akan terdorong
ke depan menuju ostia tubae yaitu sepasang lubang seperti corong, pangkal dan
oviduct letaknya di kiri kanan oesophagus
2) Oviduct (Saluran Telur)
Merupakan sepasang saluran yang berliku-liku berwarna putih. Pada dinding
oviduct terdapat kelenjar yang menghasilkan lendir-lendir yang dipakai untuk
menyelubungi ova. Sebelum eviduct bermuara di cloaca. Tiap oviduct
memperlihatkan pelebaran yang berdinding tipis yang disebut “utarus“ (ovisac)
sebagai tempat pencampur ova untuk sementara sebelum ova dikeluarkan dari
tubuh. Fartilisasi (pembuahan sel telur oleh spermatozoa berlangsung diluar
tubuhnya yakni di dalam air / fertilisasi external)
3) Corpus Odiposum (Badan Lemak)
Letaknya sebelah anterior dari ovarium
h. Sistem Saraf
1) Saraf Pusat (Central Nervous System)
a) Encephalon (otak)

Untuk melihat bentuk encephalon ini maka dilepas kulit dan otot yang
menempel padanya dari sebuah dorsal. Kemudian secara hati-hati potong dan
angkat tulang tengkorak. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati, kalau

20

tidak maka pisau dan gunting yang saudara pakai akan merusak bagian- bagian
encephalon yang sangat lunak itu. Setelah bebas dari tulang- tulang yang
menutupinya amati daerah otak yang berwarna putih ini aspek dorsal dan aspek
ventralnya
b) Telencephalon
Bagian – bagian yang membangunnya adalah berupa cerebrum himesphere
(otak besar) sepaang bentuk bulat memanjang pada masing-masing bagian
anteriornya tampak pembesaran yang disebut lobus olfakterius dari lobus ini
keluar urutan syaraf, yakni nervus olfactorius berpasangan yakni saraf chanial
I ujung tersebut bercabang menuju ke lubang hidung
c) Diencephalon
Bagian-bagiannya tidak tampak dari dorsal. Apabila dilihat dari ventral tampak
1. Infundibulum berupa tonjolan yang berwarna putih letaknya posterior dri

chiesma opticus (dari daerah mesencephalo )
2. Hypophyse suatu kelenjar endokrin yang letaknya pada ujung infundibulum

pada waktu melepaskan otak, sering kelenmjar ini ikut kebawa dengan
tulang-tulang tengkorak apabila dilihat dari dorsal, tampak epiphise sebagai
penonjolan yang letaknya dorsal letaknya antara lobus optipus sebelah
antara median
d) Mesencephalon
Bagian ini disebelah dorsal menutupi bagian diencaphalon :
1. Lobus opticus sepasang dimana keluar tractus optipus yang kemudian
membentuk chiasma opticus di daerah ventral diencephalon
2. Metencephalon
3. Cerebelum merupakan penonjololan yang melintang dan agak sempit
4. Teca choroidea ( choroid plexus ) yang tampak berwarna kemerah –
merahan karena adanya anyaman dari kalipier – kalipiler daah teca
choroldea ini menutupi fossa rhomboidea yang ventricel ( kamar ) otok
yang ke IV
Myelencephalon merupakan daerah terakhir dari encephalon yang membentuk
medulla oblongata ke arah posterior
2) Saraf Periferi (Peripheral Nervous System)
Terdiri dri saraf-saraf cranial (berpasangan yang terpancar dari encephalon (otak)
dan saraf-saraf spinal (berpasangan) terpancar dari medulla spinalis (sumsum

21

tulang belakang) diantara ruas-ruas vartebrae jumlahnya ada 9 pasang hanya
didapatkan waktu stadium embrional.
Perhatian uluran-uluran saraf seperti benang-benang halus yang berwarna putih
pemberian nama dimulai dengan saraf ke 2 dst ( n. spinal-2 , n. spinal 3, dst)
beberapa saraf spinal menjadi saluran pembentuk plexus saraf yaitu :
a. Plexsus brachialis dibentuk oleh saraf spinal ke 3 dan ke 4 satu diantaranya

yang besar merupakan nervus brachialis yang menuju ke extrimitas anterior.
b. Plexus ischiocoxygeus dibentuk oleh saraf spiral ke 8, ke 9 dan ke 10 satu

diantaranya yang besar menuju ke extrimitas posterior berupa nervus
ischiodeus.
Saraf Simpatik
Dari gangkion nervus vagus (saraf cranial ke 10) muncul sepasang saraf yang
berjalan mengikuti kedua arcus aortikus. Pada pertemuan arcus aorticus kedua saraf
tersebut berdekatan letaknya disebut truncuis symphathicus pada pertemuan antara
ramus communicantes dengan truncus sympathicus terdapat ganglion yang
seluruhnya berjumlah 9 pasang sesuai dengan jumah saraf spinal.
i. Sistem Peredaran Darah
Dipergunakan hewan-hewan baru untuk mempelajari sistem ini pada waktu disectio
harus hati-hati supaya tidak merusak pembuluh darah waktu memotong kulit dari
hewan tersebut (sama halnya sewaktu saudara melihat sistem otot ventral) perhatikan
vena cultanes magna (yang berbentuk huruf U) supaya jangan dirusak. selanjutnya
buka rongga badan dengan gunting yaitu dengan membuat guntingan di kiri kanan
linea alba, maksudnya ialah agar vena abdominalis yang terdapat dibawahnya tidak
terpotong untuk membuka daerah jantan caranya sama saja seperti pada waktu akan
melihat viscera in situ sekali-kali jangan sampai jantungnya tertusuk atau luka.
1) Cor (jantung) dan beberapa pembuluh darah yang terletak padanya terdiri dari dua
atrium dan satu ventricel Atrium sinistra menerima daerah dari vena pulmonalis
a. Atrium dekstra menerima darah dan sinus venosus (Coba perhatikan
perbedaan dari kedua atrium tersebut)
b. Ventrical berbanding tebal sebelah dalam memperlihatkan trabeculae
(penonjolan-penonjolan) dari otot jantung
c. Onus arteriosus letaknya miring ke kiri berwarna putih menerima darah dari
ventricel

22

d. Trunchus arteriosus sebagai kelanjutan dari conus ateriosus yang pada bagian
distalnya bercabang dua ke kiri dan kanan

2) Sistem Peredaran Vena (Pembuluh Balik)
a. Sistem peredaran vena langsung yaitu darah dari bagian muka tubuh langsung
menuju ke jantung tanpa melalui sistem kapiler
b. Sistem peredaran vena tidak langsung yaitu daah yang kembali dari bagian
belakang tubuh tidak langsung ke jantung tetapi terlebih dahulu melalui
sistem kapiler dari hepar (sistem vena porta hepatica) atau dari ginjal (sistem
vena porta renalis) porta berarti pembuluh-pembuluh vena yang melakukan
darah diantara dua sistem kapiler
c. Sistem peredaran vena langsung
d. vena cutanea magna sepasang membentuk U yaitu vena yang mengumpulkan
darah dari kulit yang banyak mengandung O2 (pernafasan kulit )
e. vena brachialis mengalirkan darah dari extrimitas anterior dan berstu dengan
vena cultanea magna
f. vena subclavia, persatuan vena cutanea magna dan vena brachialis berjalan
medial
g. vena jugularis interna berasal dari bagian otak dan berjalan medio caudal
bermuara di vena anonima
h. vena jugularis externa mengalirkan darah dari bagian lidah dan dasar mulut
mengarah caudal dan bersatu dengan vena subclavia
i. vena subscapularis bermuara di vena anonima mengalirkan darah dari daerah
ventral scapula
j. vena cava anterior adalah vena hasil perpaduan dari vena subclavia, vena
anonima, dan vena jugularis externa yang kemudian langsung bermuara di
sinus venasus
k. vena pulmonalis vena yang datang dari pulmo membawa darah bersih ke
atrium sinestra
l. Sistem peredaran vena tak langsung
m. Sistem vena porta ronals ialah sistem vena yang dilalui olerh darah yang
datang dari kapiler dari vena extrimitas posterior dan bagian badan posterior
menuju ke ren

23

n. Vena femonaris mengalirkan darah dari extrimitas posterior bagian distal dan
bercabang dua menjadi ramus abdominis vena femoralis dan vena liaca
externa

o. Vena liaca interna mengalirkan darah dari otot femur dihubungkan oleh vena
communicantes dengan vena fermoalis

p. Vena porta renalis perpaduan dario masing – masing vena lianca interna
dengan vena iliaca externa mengalirkan darah keren dibagian dorsal

q. Vena realis adventisia ( 5 pasang ) percabangan pembuluh – pembuluh
pendek yang datang dari portae realis menuju ren

r. Vena cava posterior menerima darah dari corpus odiposum goal dan ren
melalui vena renalis revehentas

s. Sistem vena portae hepaticia ialah sistem vena yang membawa darah dari
sistem kapiler organ – organ pencernaan lien (limpa) dll menuju hepar .

t. Ramus abdominalis vena femoralis sepasang berasal dari vena femoralis dan
bersatu dibagi anterior menjadi vena abdominalis letaknya median menuju ke
anterior ventral segera dibawa otot-otot abdomen dan bermuara pada vena
hevatica dekat pada hepar

u. Vena porta hepatica besar tunggal menampung darah dari intestinum gastrum
lien prancreas dan pasenterium disekitarnya menuju hepar

v. Vena hepatica sepasang dan pendek sekali keluar dari hepar dan bermuara
pada pangkal vena cava posterior segera sebelum masuk sinus venosus

3) Sistem Pendarahan Arteri
Darah dari ventricel akan dipompa melalui truncus ateriosus kiri dan kanan yang
bercabang menjadi 9 pembuluh utama yaitu :
a. Arteri carotis comunis sepasang pendek dan masing – masing bercabang
menjadi dua arteri. Arteri carotis extema mengalirkan darah ke bagian dasar
mulut dan lidah. Alteri carotis internal pangkalnya memperlihatkan suatu
gelembung
b. Aorta kedua aorta yang keluar dari truncus kiri dan kanan membentuk suatu
arcus aoricus dan sebelah medial darsal dari herpal bersatu merupakan oarta
dorsalis yang berjalan caudal
c. Arteria subclavia sepasang berasal dari cabang arcus aorticus dan sejajar
dengan nervus spinalis yang ke 3 dan tebal sekali. Pembuluh ini antara lain
memberikan cabang alteria yang mengalirkan darah ke extrimitas anterior

24

d. Arteria cholelaca mesenterica (satu) cabang dari aorta dorsalis dekat pada
persatuan aorta sinistra dan dextra. alteria bercabang dua yaitu 1. Alteria
mesenterica anterior yang cabang – cabangnya menuju ke cloaca, lien
mesenterium dan intastinum. 2 alteria cholelaca yang bercabang lagi menjadi
duia, satu menuju gastrum ( ateria gastrica ) dan lainnya menuju hepar ( alteria
hepatica )

e. Alteria urogenitas merupakan cabang – cabang dari aorta dorsalis menuju ke
kiri dan kanan menuju alat – alat urogenitalia gonad damn ren

f. Alteria llicia communis ( sepasang merupakan percabangan dari ujung aorta
dorsalis yang kemudian bercabang lagi masing – masing menjadi

g. Arteri lliaca interna ( sepasang ) menembus ke bagian dorsal otot – otot paha
dan terletak terbenam ( otot – otot harus dibuka )

h. Alteria llicia externa ( sepasang ) menuju terus kebaian – bagian exterimits
postarior

i. Alteria misentrica posterior (satu) keluar dari aorta dorsalis sebelum
bercabang menjadi alteria lliaca interna dan ateria lliaca externa arteui ini
menuju ke rectum dan pada yang betina menuju ke uterus

j. Alteri pulmocultanea sepasang merupakan arteris yang ke 3 yang keluar dari
truncus arteriocus

k. alteri pulmonalis (sepasang) menuju ke pulmo Alteri cultanea (sepasang)
mengarah mula- mula kebagian kranial ke sudut tengkorak dan bercabang dua
yaitu kebagian dasar mulut dan yang lainnya menuju ke bagian punggung
selain peredaran darah dalam tubuh katak terdapat pula peredaran lymph
(limpa)

j. Peredaran Lymph
Membantu mengembalikan plasma darah kembali ke cor (b jantung) melalui vena.
Pada katak terdapat banyak kantung-kantung lymph yang ada diantara kulit dan
badannya. Hal ini mengingatkan bahwa amhibia harus hidup dalam keadaan basah
maka kantung- kantung lymph ini berguna sekali bagai mantel air.

5. Tinjauan Umum Morfologi Katak
Tubuh katak bentuknya hampir serupa pada masing-masing anggota katak,

bentuknya menjadi lebih pendek. Hal ini disebabkan katak tidak mempunyai bagian ekor yang
biasa disebut Cauda. Dalam pembahasan ini dapat ditegaskan bahwa hewan-hewan yang
hidup berenang dalam air tidak satu pun bagian leher yang jelas atau batas antara daerah caput

25

(kepala) dan truncus (badan) tidak jelas. Bagian caput ujungnya tumpul, tanpa dilengkapi
dengan moncong yang menonjol, pada bagian ini juga memiliki rima oris (mulut) yang
bentuknya lebar biasanya berfungsi untuk memasukkan makanan. Pada bagian dorsal dari
moncong terdapat sepasang nares atau lubang hidung yang kecil dan berfungsi dalam
pernapasan. Sepasang mata atau disebut juga organon visus yang bulat ukurannya cukup besar
dan bentuknya bulat menonjol. Organon visus atau mata dilengkapi juga dengan alat-alat,
seperti:
a. Palpebra superior, yaitu berupa lipatan kulit tebal pada bagian tepi atas dari mata;
b. Palpebra inferior, yaitu berupa lipatan kulit tebal pada bagian tepi bawah dari mata;
c. Membrana nictitans adalah berupa lipatan kulit yang tipis dan transparan terletak pada

bagian tepi bawah mata, ini dapat ditarik hingga dapat menutupi seluruh permukaan mata.
Pada bagian dekat sebelah caudal dari organ mata terdapat bagian yang membulat

yang berupa kulit disebut membrana tympani, organ ini merupakan bagian dari alat
pendengaran dan tidak dimiliki oleh kelompok ikan. Bagian truncus atau badan dari katak
bentuknya pendek. Adapun lubang cloaca terletak di bagian terakhir dari badan. Seperti pada
jenis hewan vertebrata terrestrial yang lain, tubuh katak mempunyai dua pasang extremitas,
yaitu sepasang extremitas anterior yang bentuknya pendek, tetapi mempunyai bagian-bagian
yang jelas karena dilengkapi dengan adanya persendian. Adapun bagian-bagian extremitas
anteriornya adalah:
a. Brachium (lengan atas);
b. Antebrachium (lengan bawah);
c. Manus (telapak tangan);
d. Carpus (pergelangan tangan) yang dilengkapi dengan metacarpus dan phalangus atau

digiti, yaitu merupakan jari-jari yang jumlahnya masing-masing ada 5 buah. Di antara jari-
jari biasanya terdapat selaput yang berfungsi untuk berenang dan disebut webs (selaput
renang).

Kemudian, pada bagian belakang terdapat extremitas posterior yang bentuknya
lebih besar, bila dibandingkan dengan extremitas anterior. Adapun bagian-bagian dari
extremitas posterior adalah sebagai berikut.
a. Femur (paha);
b. Crus (betis);
c. Pes (telapak kaki) yang terdiri dari metatarsus dan phalangus atau jari-jari disebut juga

sebagai digiti yang jumlahnya 5 buah.

26

Gambar 5. Morfologi Tubuh Katak (Rana sp.)
Adapun ciri-ciri dari Ordo Anura adalah:
a. Tidak berekor.
b. Tungkai berotot. Tungkai belakang biasanya lebih besar dan lebih panjang daripada

tungkai depan → untuk melompat
c. Columna vertebralis pendek terdiri atas sembilan atau kurang vertebra presacral, semua

vertebra presacral (kecuali atlas) memiliki procesus transversus
d. Beberapa vertebra caudalis menyatu membentuk urostylus
e. Tulang rusuk tidak ada atau mereduksi
f. Ulna dan radius berfusi → radioulna,
g. Tibia dan fibula berfusi → tibiofibular → fungsi melompat
h. Memiliki tipe gelang bahu arciferal dan firmisternal

Gambar 6. Gelang Bahu Pada Anura (Cingulum Et Pectoral). Kiri: letak gelang bahu pada
tungkai depan (merah). Tengah (A): tipe Arciferal, Kanan (B): tipe firmisternal

27

Katak mempunyai permukaan kulit yang basah dan licin tak bersisik sehingga tidak
dapat lepas jauh dari habitat basah. Mata berkelopak sedangkan skeleton sebagian besar
berupa tulang keras. Katak mempunyai suhu tubuh yang mengikuti suhu lingkungan
sekitarnya (poikilotermik ektotermik). Katak memiliki tungkai belakang yang relatif panjang
untuk pergerakan melompat yang lebih baik, tubuhnya pun umumnya slim/langsing. Secara
anatomi, katak umumnya memiliki tipe gelang bahu firmisternal. Meskipun terdapat
perbedaan, pada amphibi masih mempunyai persamaan dengan ikan. Amphibi merupakan
vertebrata darat dan diduga berasal dari nenek moyang dengan ikan (Jasin, 1984).
6. Tinjauan Umum Morfologi Kodok

Kodok memiliki kulit yang relatif lebih kering dan bergranular sehingga kelompok
ini lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengan katak. Kodok memiliki kelenjar
racun yang disebut kelencar paratoid yang letaknya dibelakang membrane tympanum. Sama
seperti kerabat dekatnya, kodok juga bersifat poikilotermik ektotermik. Kodok memiliki
pematang pada caput daerah dorsal yang tidak dimiliki katak. Pergerakan kodok lebih lambat
dibandingkan katak karena memiliki tungkai belakang yang relatif pendek sehingga memiliki
kemampuan melompat yang lebih terbatas, ditambah dengan tubuh kodok yang umumnya
cenderung gemuk. Tipe gelang bahu yang dimiliki oleh kodok adalah arciferal. Baik katak
maupun kodok keduanya masuk dalam Ordo Anura.

Gambar 7. Amplexus. Kiri: Katak pohon (Rhacophorus reinwardtii), Kanan: Kodok
buduk/bangkong (Bufo melanostictus)

28

METODOLOGI PRAKTIKUM
Alat dan Bahan

1. Bak Preparat
2. Alat bedah,
3. Jarum penusuk
4. Penggaris,
5. Alat tulis
6. Kertas gambar
7. Tissue atau lap
8. Katak (Rana sp)
9. Kodok (Bufo sp)
Prosedur Kerja
1. Siapkan semua peralatan yang akan digunakan
2. Bius katak dengan menggunakan chlorofom atau matikan dengan merusak bagian otak

menggunakan jarum penusuk (melalui metode single atau double pitching)
3. Amati bagian-bagian morfologi tubuhnya, lakukan pengukuran karakter morfometrik,

meristic selanjutnya diamati dan digambar.

29

Gambar 8. Pengukuran Morfometrik Amphibi
Keterangan: Snout-vent length (SVL); head width (HW); internarial distance (IND); eye-
nostril distance (END); eye length (EL); tibia length (TL); foot length (FL); length of
internal metatarsal tubercle (IMT); and distance from the nostril to the most anterior
extremity of the rostra (DNR).

4. Kemudian lakukan pembedahan secara tepat dan hati-hati
5. Biuslah katak, setelah pingsan letakkan pada papan seksi dan pakulah ke 4 kakinya
6. Bedahlah kulit katak di dekat anus kea rah anterior, perhatikan susunan otot abdomen

dan cocokkanlah dengan buku teks!
7. Bedahlah otot tersebut sehingga tampak organ visceranya, gambarlah topografi organ-

organ tersebut!
8. Setelah mengurai organ-organ dalam, diskusikan tentang:

a. System pencernaan makanan
b. System pernafasan
c. System peredaran darah
d. System urogenital
9. Bersihkan otot dan kulit dari tulangnya untuk mengenali susunan rangka tubuh katak!
10. Gambarkan bagian Morfologi dan anatomi dengan teliti.
11. Buatlah laporan sementara setelah selesai pengamatan.
Rapihkan dan bersihkan meja kerja setelah selesai melakukan pengamatan.

30

FOKUS PENGAMATAN
1. Morfologi

Kepala (caput)
a. Temukan rima oris, carilah lidah dan giginya! Sebutkan jenis-jenis giginya!
b. Carilah lubang Hidungnya, adakah hubungannya dengan cavum oris?
c. Amati mata dan bagian-bagiannya:

1) Palpebra superior dan anterior
2) Membrane nictitans
3) Bulbus oculi (bola mata)
1. Temukan membrane tymphani
2. Amati pematang dan kelenjar paratoid pada kodok

Gambar 9. Pematang dan Kelenjar Paratoid. Pematang : Alur meninggi berwarna gelap
menyambungkan antar mata. Kelenjar paratoid tonjolan memanjang dibelakang mata dan

membrane tympanum.
Leher (Cervix)
1. Tunjukkan bagian leher dan gambarlah! Apakah ada?
Extrimitas
1. Pada tungkai depan gambarlah dan tunjukkan bagianbagian:

a. Branchium (lengan atas)
b. Antebranchium (lengan Bawah)
c. Manus (tangan)
d. Digiti (jari-jari), hitung jumlahnya, kemudian amati jari-jarinya! Bandingkan jari-

jari tersebut antara jantan dan betina.
e. Gambar secara rinci jari-jarinya berikut asesorisnya (jika ada)
2. Gambar dan tunjukkan bagian-bagian tungkai belakang: → Femur (paha)
a. Crus (tungkai bawah) → Pessive pedes (kaki)

31

b. Digiti, hitunglah jumlahnya!
c. Gambar secara rinci jari-jarinya berikut asesorisnya (jika ada)
d. Cermati! Apa beda antara tungkai depan dan belakang?

Gambar 10. Beberapa Aksesoris Pada Jari Anura: karakter dan ukuran selaput, digital plate
(pelebaran ujung jari).

2. Anatomi
1. Setelah mengurai organ-organ dalam Bandingkan gambar hasil pengamatan Anda
dengan gambar pada buku teks, kemudian buatlah deskripsi hasil pengamatan
tersebut!
a. System pencernaan makanan
b. System pernafasan
c. System peredaran darah
d. System urogenital
e. System saraf
2. Bersihkan otot dan kulit dari tulangnya untuk mengenali susunan rangka tubuh katak!

32

PENUGASAN

1. Sebutkan ciri kelas kelas Amphibi, yang tidak dimiliki kelas lain dari super kelas tetrapoda
2. Sebutkan pembagian ordo pada kelas Amphibi dan gambarkan karakteristik khusus dari

ordo-ordo tersebut.
Perhatikan gambar dibawah ini untuk menjawab pertanyaan no. 3-5!

AB C

3. Termasuk kedalam kelas apakah hewan pada tabel gambar diatas? Sebutkan bagian bagian

morfologi yang dapat diamati dari gambar tersebut!

4. Identifikasi bentuk tubuh, bagian tubuh dan jenis kulit ketiga hewan diatas!

5. Ordo anura ditandai dengan tubuhnya yang tidak memiliki ekor, pada gambar manakah

yang menunjukkan kelas anura dan kenapa hal tersebut dapat terjadi?

33

PENILAIAN DIRI

Untuk mengukur diri kalian terhadap materi yang sudah kalian pelajari di kegiatan belajar 2,

jawablah sejujurnya terkait dengan penguasaan materi pada modul ini di tabel berikut.

No Pertanyaan Ya Tidak

1. Saya dapat memahami konsep dasar kelas Amphibi

2. Saya dapat memahami konsep pembagian ordo dalam kelas Amphibi

Saya dapat menentukan spesies yang digunakan dalam praktikum
3.

sesuai dengan klasifikasi kelas Amphibi

Saya mampu melakukan pengamatan anatomi dan morfologi
4.

spesimen dari ordo yang ada pada kelas Amphibi

Saya mampu mengidentifikasi karakter morfometrik dan meristik
5.

spesimen dari ordo yang ada pada kelas Amphibi

Bila ada jawaban "Tidak", maka segera lakukan review pembelajaran, terutama pada bagian yang
masih "Tidak".
Bila semua jawaban "Ya", maka Anda dapat melanjutkan ke pembelajaran berikutnya.

34

DAFTAR REFERENSI
Chaeri Achmad dkk. 2016. Buku Materi Pokok Struktur HewanUniversitas Terbuka: Jakarta
Maya Sri & Rizki Amalia Nur. 2021. Zoologi Vertebrata. Widina Bhakti Persada: Bandung
Umami Muhimatul. 2022. Modul Praktikum Zoologi Vertebrata. Cirebon: IAIN Syekh Nurjati

Cirebon

35

LAMP
A. FORM LAPOR
DATA HASIL PENGAMATAN SEMENT
1. Pengamatan Morfologi

BAGIAN YANG PRAKTIKUM
NO
KATAK KODO
DIAMATI
1 Caput

2 Truncus

3 Abdomen

PIRAN
RAN SEMENTARA
TARA KEGIATAN 2: KELAS AMPHIBI

KETERANGAN

REFERENSI HASIL

OK KATAK KODOK SESUAI TIDAK

(√) (√)

4 Cauda
5 Extremitas anterior
6 Extremitas posterior
7 Jumlah Digiti



8 Warna Tubuh
9 Jantan/Betina
10 Saccus vocalis
11 Bagian mulut /cavum oris
Catatan tambahan (bila ada):



2. Pengamatan Anatomi PRAKTIKUM
BAGIAN YANG
KATAK KODO
NO
DIAMATI

1 Sistem Respirasi

2 Sistem Digesti

3 Sistem Sirkulasi

KETERANGAN

REFERENSI HASIL

OK KATAK KODOK SESUAI TIDAK

(√) (√)

4 Sistem Eksresi
5 Sistem Reproduksi



3. Pengamatan Karakter Meristik PRAK
KATAK
NO BAGIAN YANG DIAMATI

1 Jumlah digiti pada ekstrimitas anterior
2 Jumlah digiti pada ekstrimitas posterior
3 Jumlah Gigi rahang atas
4 Jumlah Gigi rahang Bawah
Catatan tambahan (bila ada):


Click to View FlipBook Version