The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Khazanah pernaskahan Nusantara adalah harta karun intelektual yang mencatat warisan budaya dan sejarah masyarakat Nusantara. Naskah-naskah Nusantara yang berupa manuskrip atau naskah kuno tersebut mengandung kekayaan informasi yang melimpah, mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari sastra, agama, hingga ilmu pengetahuan yang menjadi saksi bisu sejarah dan budaya masyarakat Nusantara. Isinya tidak terbatas pada kesusastraan belaka, melainkan juga berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, adat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain.

Kajian pernaskahan di Nusantara telah dilakukan selama berabad-abad. Para ahli, peneliti, dan cendekiawan telah lama tertarik untuk menyelidiki, menerjemahkan, dan menganalisis naskah-naskah kuno yang mencerminkan kekayaan budaya dan intelektual di wilayah Nusantara. Penelitian-penelitian ini melibatkan kajian kebahasaan, kesejarahan, dan kebudayaan untuk memahami konteks dan makna naskah. Dengan berjalannya waktu, kajian pernaskahan di Nusantara terus berkembang dan tetap relevan. Hal ini mencerminkan komitmen yang kuat terhadap pelestarian dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap warisan intelektual di wilayah ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpus.sdwates2, 2024-05-29 20:38:39

Khazanah Pernaskahan Nusantara rekam jejak dan perkembangan kontemporer

Khazanah pernaskahan Nusantara adalah harta karun intelektual yang mencatat warisan budaya dan sejarah masyarakat Nusantara. Naskah-naskah Nusantara yang berupa manuskrip atau naskah kuno tersebut mengandung kekayaan informasi yang melimpah, mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari sastra, agama, hingga ilmu pengetahuan yang menjadi saksi bisu sejarah dan budaya masyarakat Nusantara. Isinya tidak terbatas pada kesusastraan belaka, melainkan juga berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, adat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain.

Kajian pernaskahan di Nusantara telah dilakukan selama berabad-abad. Para ahli, peneliti, dan cendekiawan telah lama tertarik untuk menyelidiki, menerjemahkan, dan menganalisis naskah-naskah kuno yang mencerminkan kekayaan budaya dan intelektual di wilayah Nusantara. Penelitian-penelitian ini melibatkan kajian kebahasaan, kesejarahan, dan kebudayaan untuk memahami konteks dan makna naskah. Dengan berjalannya waktu, kajian pernaskahan di Nusantara terus berkembang dan tetap relevan. Hal ini mencerminkan komitmen yang kuat terhadap pelestarian dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap warisan intelektual di wilayah ini.

28 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Babad Tong Tya merupakan karya besar yang sampai ke Jawa secara lengkap. Hal ini terbukti dari catatan dalam naskah yang menyatakan bahwa naskah telah selesai ditulis dan tamat. Kisah kronik yang panjang tentang lima kerajaan dalam Babad Tong Tya ditulis dalam beberapa jilid dengan ukuran naskah yang tebal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karya tersebut bagi pemilik budaya sastra Cina. Kisah Tong Tya dapat menjadi sumber cerita bagi budaya sastra Cina di Jawa dalam pertunjukan seni, seperti Wayang Thithi, Wayang Potehi, dan drama ketoprak. C. Keberadaan Cerita Sastra Cina dalam Manuskrip Jawa Keberadaan cerita sastra Cina dalam manuskrip Jawa adalah contoh menarik bahwa budaya dan sastra dapat berinteraksi, saling memengaruhi, dan menciptakan warisan budaya yang unik. Ini juga mencerminkan kemampuan masyarakat Jawa dalam merespons dan mengintegrasikan elemen-elemen budaya dari luar untuk menciptakan warisan sastra yang kaya dan beragam. Cerita sastra Cina memiliki keberadaan yang signifikan dalam manuskrip Jawa, terutama pada masa lalu. Hal ini terkait erat dengan hubungan sejarah dan budaya antara Tiongkok dan Jawa, serta dengan perkembangan sastra di wilayah tersebut. Berikut penjelasan singkat tentang keberadaan cerita sastra Cina dalam manuskrip Jawa khususnya Babad Tong Tya koleksi Museum Radya Pustaka (MRP) Surakarta. 1. Serat Babad Tong Tya Koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka Di antara sastra Cina dalam manuskrip Jawa, Serat Babad Tong Tya dan Sam Kok dapat dikatakan merupakan sumber cerita sastra Cina. Kedua naskah koleksi Museum Radya Pustaka tersebut hingga saat ini dapat dikatakan sebagai manuskrip yang paling lengkap dan masih terawat dengan baik. Serat Babad Tong Tya koleksi perpustakaan Museum Radya Pustaka merupakan manuskrip sastra Cina yang termasuk tua. Serat


Babad Tong Tya ... 29 Babad Tong Tya ini berisikan kisah daratan Cina era dinasti Tang atau jatuhnya dinasti Tang In Syu, yang digarap dalam aksara dan bahasa Jawa (van der Meij, 2013). Menariknya, meskipun diambil dari cerita soal Cina, naskah kuno itu ditulis dengan aksara Jawa, bahasa Jawa, dan dalam bentuk metrum tembang macapat. Hal ini diperkuat dengan data yang ada di Museum Radya Pustaka bahwa manuskrip ini ditulis sebanyak satu sampai enam jilid yang digarap dalam bahasa aksara dan bahasa Jawa yang memakai metrum tembang macapat. Serat ini berisikan kisah daratan Cina era dinasti Tang atau jatuhnya dinasti Swi. Babad Tong Tya jilid dua ditulis oleh Babah Tan Ing Syu dan Tjan Tjoen Thiang yang berasal dari negara Cina. Kondisi naskah Tong Tya saat ini masih sangat baik dan dilestarikan di Museum Radya Pustaka. Meskipun demikian, oleh karena usia naskah yang sudah hampir 1,5 abad, ada beberapa bagian yang sudah mulai rapuh. Dalam perkembangannya, kondisi naskah Tang Tiao (Tong Tya) pada tahun 2022 secara umum masih baik. Naskah manuskrip ini disimpan dengan kode koleksi SMP-RP 134-139. Secara fisik naskahnaskah tersebut dapat ditampilkan dari kover, awal pupuh, dan akhir pupuh dalam setiap jilid seperti berikut ini. Naskah jilid I yang tersimpan dengan kode koleksi SMP-RP 134 merupakan awal cerita sejarah kerajaan-kerajaan di Cina. Dalam naskah Tong Tya jilid I ini disebutkan mengenai pemilik naskah, Foto: Sumarno (2022) Gambar 2.1 Naskah Tong Tya Jilid I Koleksi Radya Pustaka No SMP-RP 134


30 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... penyalin, tahun penyalinan, dan latar tempat cerita. Naskah Tong Tya koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta merupakan naskah salinan. Naskah asli Babad Tong Tya ini sebenarnya merupakan milik seorang Cina yang menjadi tentara dan bertempat tinggal di Surakarta, yaitu Kapten Can Si. Penyalin naskah adalah Babah Tan Ang Syu (Tan In Syu) di Surakarta. Adapun tujuan penyalinannya adalah untuk mengetahui sejarah leluhur mereka di daratan Cina. Hal itu tampak pada pupuh I bait 2–3 yang berbunyi: 2. Sirnaning pandhita ngesthi, ing Allah kang luwih wikan, serat punika kang darbe, babah litnan Can Si ingkang, dalem ing Surakarta, tinedhak babah Tan Ang Syu, yun wrin gancare ing kuna (Ernawati, 2019). (Sirnaning pandhita ngesthi, ing Allah (1870) yang lebih mengetahui. Buku ini pemiliknya adalah Babah Letnan Can Si yang bertempat tinggal di Surakarta. Disalin oleh Babah Tan An Syu (yang) ingin mengetahui kisah pada jaman dahulu). 3. Tanah sabrang duk inguni, leluhur kang kuna-kuna, jinarwa jawa tembunge, supaya bisaa terang, lelakon bangsa Cina, mugi antuk barkahipun, pra leluhur kang wus mulya. (Wilayah seberang masa lalu, leluhur kuna bahasanya diterjemahkan dalam bahasa Jawa agar dapat jelas kisah bangsa Cina. Semoga mendapat berkah dari para leluhur yang sudah meninggal.) Dari kutipan dua bait tersebut diperoleh informasi bahwa naskah Babad Tong Tya koleksi Radya Pustaka merupakan naskah salinan yang dilakukan pada tahun 1870. Tujuan dari penyalinan adalah untuk mengetahui kisah para leluhurnya di Cina pada masa dahulu dan memperoleh berkah dari leluhurnya. Dikisahkan bahwa pada waktu itu daratan Cina sedang bertikai atau huru-hara karena mereka tidak bersatu. Ada lima orang yang menjadi raja, yaitu Ti Yun, Syung Bya, Wu Bya, Tin Tya, dan An Tya. Mereka saling bermusuhan dan saling ingin mengalahkan. Kronik


Babad Tong Tya ... 31 sejarah ini menjadikan alur cerita Babad Tong Tya menarik dan menjadi salah satu sastra Cina yang mewarnai manuskrip Jawa. Jilid I Babad Tong Tya ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa dengan metrum tembang macapat. Naskah ini berjumlah 210 halaman. Penomoran halaman menggunakan angka huruf Jawa dan halaman verso rekto (depan belakang hanya diberikan penomoran satu). Naskah ini menggunakan kertas Eropa dengan ukuran kertas 33,5 cm x 21,5 cm. Setiap halaman verso dan rekto memuat 25 baris (Gambar 2.1). Kondisi naskah saat ini sudah mengalami perbaikan pada sampul. Babad Tong Tya Jilid II koleksi Radya Pustaka merupakan kelanjutan dari jilid I, tetapi ada satu perbedaan yang tampak pada gaya tulisan dan penulis. Pada jilid II secara fisik tampak bahwa sampul naskah berbeda dengan jilid I maupun lainnya. Di dalamnya, pada awal teks diberikan keterangan tulisan dengan huruf latin yang berbunyi Soerakarta den 20 Maart, 1900 dan tulisan berhuruf Jawa Foto: Sumarno (2022) Gambar 2.2 Naskah Tong Tya Jilid II 235 Halaman


32 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... di bawahnya berbunyi Surakarta ping 18 Dulkangidah Jimawal, 1829 dengan huruf Jawa yang berbunyi Surakarta. Di akhir penulisan diberikan tanda bahwa penulisan sudah selesai, yaitu berbunyi TITI. Setelah itu ada tulisan latin yang berbunyi Soerakarta den 5 Mey 1900 dan tulisan huruf Jawa yang berbunyi Surakarta ping 5 Sura 1830 serta tulisan latin Than Tjoen Hiang. Pada halaman terakhir juga terdapat cap stempel berwarna merah yang berbunyi Handelaar, Tjn Tjoen Hiang, Soerakarta Java. Dari hal tersebut diperoleh informasi bahwa penulis jilid II Serat Tong Tya berbeda dengan penulis jilid I. Penulis jilid II bernama Tjan Tjoen Hiang. Waktu penulisan dimulai pada 20 Maret 1900 dan berakhir pada 5 Mei 1900. Hal ini menunjukkan bahwa naskah selesai ditulis dalam kurun waktu 47 hari, setebal 235 halaman verso-rekto seperti terlihat pada Gambar 2.2. Foto: Sumarno (2022) Gambar 2.3 Naskah Tong Tya Jilid III 259 Halaman


Babad Tong Tya ... 33 Foto: Sumarno (2022) Gambar 2.4 Naskah Tong Tya Jilid IV 330 Halaman Foto: Sumarno (2022) Gambar 2.5 Naskah Tong Tya Jilid V 233 Halaman


34 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Penulisan jilid III sampai VI dilakukan oleh orang yang sama dengan penulis jilid I. Hal itu tampak pada jenis huruf yang sama dan gaya penulisan yang sama. Penyalinan/penulisan Babad Tong Tya telah selesai dilakukan yang ditandai dengan penulisan kata penutup (Tamat). Secara keseluruhan, Serat Babad Tong Tya dituliskan dalam 1431 halaman verso. Secara awam dapat dikatakan bahwa Babad Tong Tya ditulis dalam 1431 lembar kertas Eropa berukuran 33,5 cm x 21,5 cm, setiap halaman terdiri dari 25 baris, dan ditulis dalam bentuk tembang macapat. Naskah Babad Tong Tya koleksi Radya Pustaka sependek pengetahuan penulis belum dikaji secara keseluruhan meskipun sudah dilakukan beberapa pendeskripsian secara global oleh beberapa ahli (Girardet dan Nancy) dalam bentuk penyusunan katalogus naskah. Satu hasil pemahaman terhadap Babad Tong Tya dilakukan oleh Yenny Ernawati yang mengalihaksarakan dan mengalihbahasakan sebanyak sembilan pupuh pada jilid I. D. Kondisi Cerita Sastra Cina dalam Manuskrip Jawa Hingga Saat Ini Manuskrip Jawa yang memuat karya sastra Cina hingga saat ini berpusat pada naskah Tong Tya ataupun Sam Kok. Sebagai naskah yang termasuk babad, keberadaan manuskrip Tong Tya maupun Sam Kok cukup tebal. Di Surakarta, sastra Cina yang terekam dalam Foto: Sumarno (2022) Gambar 2.6 Naskah Tong Tya Jilid VI 164 Halaman Verso


Babad Tong Tya ... 35 manuskrip Jawa sampai saat ini dapat dilihat dalam Babad Tong Tya. Ada tiga tempat atau perpustakaan yang menyimpan manuskrip Jawa, yaitu Perpustakaan Sana Pustaka Keraton Surakarta, Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran, dan Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta. Dari ketiga perpustakaan tersebut, hanya perpustakaan Radya Pustaka yang sampai saat ini masih lengkap menyimpan manuskrip Babad Tong Tya. Secara fisik maupun teks, Babad Tong Tya yang disimpan di Radya Pustaka masih lengkap walaupun sudah ada beberapa lembar atau halaman yang mulai rapuh maupun patah. Babad Tong Tya yang ada di Reksa Pustaka Mangkunegaran sudah tidak dapat dilihat atau dikeluarkan untuk dibaca. Hanya ada dua buku hasil pelatinan dari jilid I dan jilid II. Sementara itu, Perpustakaan Sana Pustaka Keraton Surakarta, sampai saat ini belum dapat dikunjungi oleh umum atau tutup. Dengan demikian, untuk mengkaji secara komprehensif manuskrip Babad Tong Tya yang ada di Surakarta mengalami berbagai kendala. Agar isi teks dapat dimengerti oleh masyarakat luas maka para pemerhati dan peneliti manuskrip hendaknya segera mencari solusi. 1. Kendala yang Dihadapi dalam Mempelajari Sastra Cina dalam Manuskrip Jawa Isi teks Babad Tong Tya yang ada di Surakarta merupakan karya sastra Cina yang sangat menarik untuk dipelajari maupun untuk diaktualisasikan dalam bentuk pementasan kesenian tradisional. Namun dengan kondisi naskah yang cukup tebal, mempelajari sesuatu yang sudah berlalu dan sudah tidak terbiasa hidup dalam masyarakat merupakan tantangan tersendiri. Banyak kendala yang dihadapi, termasuk dalam mempelajari karya sastra Cina dalam manuskrip Jawa. Dari uraian yang sudah disampaikan, untuk mempelajari sastra Cina dalam manuskrip Jawa ada beberapa kendala yang dihadapi, antara lain sebagai berikut. 1) Media penyampaian, yang dimaksudkan di sini adalah bahwa manuskrip yang ada merupakan naskah yang sudah cukup tua


36 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... (140 tahun) secara fisik maka media kertas yang digunakan sudah mulai rapuh. 2) Tulisan juga sudah mengalami penurunan kualitas kejelasan huruf sehingga mulai kabur atau pudar. 3) Naskah sangat tebal. 4) Istilah atau nama-nama Cina yang mungkin di-Jawa-kan. 5) Keterbatasan sumber daya manusia dalam penguasaan aksara, bahasa, dan tembang Jawa menjadi faktor utama dalam penulisan manuskrip. Dalam sebuah manuskrip, aksara Jawa sering kali tidak mengikuti standar yang baku, dipengaruhi oleh kemampuan bahasa dan gaya penulisan penulisnya. Kendala lainnya adalah penguasaan bahasa Jawa yang menjadi hambatan bagi pembaca yang ingin memahaminya. Banyak istilah dan frasa yang keluar dari aturan penulisan yang seharusnya digunakan. Hal ini terjadi karena dalam bahasa Jawa terdapat aturan dasanama dan penulis sering kali harus menyesuaikan dengan metrum yang harus diikuti jika naskah ditulis dalam bentuk tembang (macapat). Selain itu, kendala juga muncul dalam penguasaan tembang, karena aturan tembang macapat sudah tetap dan tidak bisa dinegosiasikan sehingga hal ini dapat menyebabkan katakata tertentu menjadi tidak sesuai dengan yang seharusnya. 6) Waktu, kendala yang dimaksudkan di sini adalah terbatasnya waktu yang tersedia bagi para peneliti manuskrip Jawa untuk membacanya. Umumnya, perpustakaan hanya buka selama jam kerja dengan waktu yang terbatas, kecuali beberapa museum atau perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah. Sebagai contoh, Perpustakaan Reksa Pustaka hanya buka selama 4 jam yang efektif. Oleh karena itu, membaca manuskrip yang tebal menjadi sebuah kendala tersendiri dalam hal ini.


Babad Tong Tya ... 37 2. Solusi yang Dapat Ditempuh dalam Mempelajari Manuskrip Jawa Sastra Cina Untuk dapat melindungi, mempelajari, dan mengkaji sastra Cina dalam manuskrip Jawa yang tebal dengan berbagai aspek kendala yang dihadapi maka perlu beberapa solusi yang dapat dilakukan. Beberapa solusi yang dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Perekaman secara digital Pemanfaatan teknologi digital saat ini seharusnya dimanfaatkan secara luas, termasuk dalam melindungi naskah dan teks sastra kuno, terutama manuskrip. Beberapa waktu yang lalu, beberapa lembaga telah melakukan perekaman menggunakan teknologi mikrofilm terhadap koleksi naskah kuno di beberapa perpustakaan, termasuk di Kota Surakarta. Salah satu contohnya dilakukan oleh Nancy K. Florida, yang tidak hanya membuat katalog naskah, tetapi juga melakukan perekaman dalam bentuk mikrofilm. Namun, dalam perkembangan lebih lanjut, perekaman naskah menggunakan kamera menjadi lebih umum digunakan karena menghasilkan hasil yang lebih baik dan mendekati aslinya. Meskipun demikian, proses digitalisasi ini belum sepenuhnya dilakukan karena beberapa faktor, seperti biaya, ketersediaan peralatan, dan sumber daya manusia. 2) Pembacaan langsung terhadap naskah sastra Cina secara bertahap Mengingat tebalnya naskah maka pembacaan naskah diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi tinggi. Namun, cara ini memerlukan waktu yang cukup lama mengingat tebalnya naskah tersebut. 3) Penyelamatan naskah secara fisik. Pengaturan suhu udara, pengawetan bahan, dan lain-lain. 4) Penyelamatan teks. Dilakukan dengan penerjemahan dan pengkajian. 5) Implementasi isi teks dalam kehidupan masyarakat. Pementasan Wayang Thithi, Wayang Potehi, maupun drama tradisional dengan mengambil cerita atau lakon dalam Babad Tong Tya maupun Sam Kok yang pernah terjadi tahun 70-an sampai awal 80-an.


38 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... E. Nilai Lebih Babad Tong Tya sebagai Sastra Cina Sastra Cina dalam manuskrip Jawa dapat ditemukan dalam berbagai judul dan perpustakaan, satu di antaranya adalah Babad Tong Tya yang disimpan Reksa Pustaka Mangkunegaran Surakarta. Babad Tong Tya merupakan sastra Cina yang cukup populer dan menjadi sumber dari naskah yang lainnya. Babad Tong Tya ditulis oleh Tang Ang Syu dan Tjian Tjoen Hiang di Surakarta. Babad Tong Tya ditulis dalam enam jilid. Babad Tong Tya mengisahkan peperangan lima tokoh negara atau raja (kerajaan) dalam memperebutkan kekuasaan tunggal. Raja-raja tersebut, antara lain Ti Yun, Syung Bya, Wu Bya, Tin Tya, dan An Tya. Sementara itu, Babad Sam Kok mengisahkan tiga negara atau negeri yang saling bermusuhan untuk menjadi penguasa tunggal. Tiga negeri tersebut adalah Kerajaan Shu Han, Cao Wei, dan Dong Wu. Keberadaan karya sastra Cina dalam manuskrip Jawa memiliki nilai lebih bagi manuskrip Jawa maupun masyarakat Cina. Nilai lebih tersebut, antara lain memperkaya manuskrip Jawa dengan banyaknya naskah sastra Cina dalam manuskrip Jawa. Terciptanya sastra Cina dalam aksara dan bahasa Jawa serta tembang macapat menunjukkan bahwa bangsa Cina cepat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan di mana mereka bertempat tinggal, termasuk dalam sastra. Karya sastra Cina dalam bentuk manuskrip Jawa merupakan bukti nyata bahwa bangsa Cina sangat menghormati leluhur mereka, tetapi tidak konflik dengan budaya di mana mereka berada. Karya sastra Cina yang berupa manuskrip dapat menjadi sumber pertunjukan kesenian, seperti Wayang Thithi, Wayang Potehi, maupun drama tradisional (ketoprak). Naskah Jawa sastra Cina tersebut cukup tebal dan belum banyak dikaji. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelindungan, pemanfaatan, dan pengkajian manuskrip tersebut, antara lain waktu baca yang sangat terbatas, naskah yang sangat tebal, sumber daya manusia yang terbatas, dan kondisi manuskrip yang mulai rapuh. Oleh sebab itu, diperlukan solusi yang bijak agar naskah dan teks dapat


Babad Tong Tya ... 39 tetap dilindungi dan dimanfaatkan oleh generasi penerus bangsa. Beberapa solusi itu, antara lain digitalisasi naskah, pengalihaksaraan, pengalihbahasaan, dan pengkajian isi teks. Selain itu, juga perlu dilakukan implementasi isi teks berupa pementasan seni yang bersumber dari karya sastra tersebut, antara lain Wayang Thithi, Wayang Potehi, maupun drama tradisional ketoprak. Bukan tidak mungkin karya sastra tersebut dibuatkan film animasi ataupun film lainnya. Referensi Anisa, S. (2014). Analisis semiotik serat babad banyuurip pupuh maskumambang karya Ki Amat Takjin. ADITYA-Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, 5(5), 38–46. Babad Sam Kok Jilid 1-5 Koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta kode koleksi SMP-RP 140–144. Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta. Babad Tong Tya Jilid 1–6 Koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta kode koleksi SMP-RP 134–139. Perpustakaan Museum Radyapustaka Surakarta. Behrend, T. E. (1990). Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid <I>. Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Penerbit Djambatan. Behrend, T. E. (1998). Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid <4>. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Ernawati, Y. (2019). Babad Tang Tiau Jilid 1A. Surakarta: Tim digitalisasi dan kajian naskah. UPT Museum Dinas Kebudayaan. Girardet, N. (1983). Descreptive catalogue of The Javanese manuscripts and printed books in the main libraries of Surakarta and Yogyakarta. Franz Steiner Verlag GMBH. Handoko, P., & Pujimahanani, C. (2014). Analisis unsur sastra babad sejarah madura, babad giri kedhaton, dan serat pararaton. DINAMIKA: Jurnal Sastra dan Budaya1(2), 97–114.


40 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Handita Kesoema, I., & Handriyotopo, H. (2022). Perancangan katalog digital Museum Radya Pustaka Surakarta. CITRAWIRA: Journal of Advertising and Visual Communication, 3(1), 69–91. https://doi. org/10.33153/citrawira.v3i1.4622 Hendrawati, T. (2018). Digitalisasi manuskrip Nusantara sebagai pelestari intelektual leluhur bangsa. Media Pustakawan,  25(4), 21–29.  https:// doi.org/10.37014/medpus.v25i4.196 Kuswati, S. N. (2021). Kegiatan digitalisasi naskah kuno sebagai upaya diseminasi informasi. LIBRIA, 13(1). http://dx.doi.org/10.22373/10971 Nasution, W. (2016). Kajian sosiologi sastra novel dua Ibu karya Arswendo Atmowiloto: suatu tinjauan sastra. Jurnal Metamorfosa, IV(1), 14–27. Ningsih, R. W., Sunarya, S., & Werdiningsih, Y. K. (2020). Pesan moral dalam teks suluk tanen koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta. JISABDA: Jurnal Ilmiah Sastra Dan Bahasa Daerah, Serta Pengajarannya, 2(1), 9–18. https://doi.org/10.26877/jisabda.v2i1.5495 Prastiani, I., & Subekti, S. (2019). Digitalisasi manuskrip sebagai upaya pelestarian dan penyelamatan informasi (Studi kasus ada Museum Radya Pustaka Surakarta). Jurnal Ilmu Perpustakaan, 6(3), 141–150. Ricklefs, M. C. (2014). Babad giyanti: sumber sejarah dan karya Agung Sastra Jawa.  Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara,  5(2), 11–25. https://doi.org/10.37014/jumantara.v5i2.155. Slamet, Y. B. M. (2018). Fungsi dan peran karya sastra dari masa ke masa. Praxis: Jurnal Sains, Teknologi, Masyarakat dan Jejaring,  1(1), 24–40. Sulaiman, A. M., & Bastian, H. (2019). Revitalisasi desain iluminasi pada naskah Jawa kuno di Museum Radya Pustaka Surakarta. ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia,  5(02), 240–250. https://doi.org/10.33633/andharupa.v5i2.2059 Taniputera, I. (2011). History of China. Ar-Ruzz Media. van der Meij, D. (2013). Nancy K. Florida, Javanese literature in Surakarta manuscripts. volume 3. Manuscripts of the Radya Pustaka Museum and the Hardjonagaran library. Ithaca, NY: Southeast Asia Program Cornell University, 2012, 360 pp. ISBN 9780877276098. Price: USD 45.95 (pap). Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 169(1), 151–154. https://doi.org/10.1163/22134379-12340010 Widati, S., Rahayu, P., & Prabowo, D. P. (2015).  Ensiklopedi Sastra Jawa. Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta.


Babad Tong Tya ... 41 Widiyanto, G. (2019, November). Lanskap linguistik di Museum Radya Pustaka Surakarta. Dalam Prosiding seminar nasional linguistik dan sastra (SEMANTIKS) (255–262). Widyastuti, S. H. (2022). Studi Islam dalam kawasan Sastra Jawa. Kejawen, 2(1), 1–10. 10.21831/kejawen.v2i1.49120


43 Bab 3 Rekonstruksi Pembuatan Daluang Gulungan dan Salin Ulang Teks Khotbah Tedi Permadi A. Daluang sebagai Bahan Naskah Sebelum digunakan kertas dan tinta tulis modern untuk keperluan tulis-menulis, masyarakat Nusantara terdahulu telah memanfaatkan kekayaan alam berupa dedaunan (lontar, nipah, dan gebang), jenis kulit (kayu dan binatang), bambu, dan tanduk. Bahan-bahan yang dijadikan sebagai media tulis-menulis tersebut umumnya diolah dengan cara sederhana, secara tradisional. Dalam hal pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dalam rangkaian tradisi tulis Nusantara, kiranya dapat menunjukkan adanya konsep keselarasan hidup antara masyarakat dan lingkungannya; adapun pengolahan alat dan bahan yang dilakukan secara sederhana dapat menunjukkan adanya teknologi tradisional yang menarik untuk dijadikan kajian khusus dengan berbagai pendekatan. T. Permadi Universitas Pendidikan Indonesia, e-mail: [email protected] © 2023 Editor & Penulis Permadi, T. (2023). Rekonstruksi pembuatan daluang gulungan dan salin ulang teks khotbah. Dalam W. Indiarti, & Suyami (Ed.), Khazanah pernaskahan Nusantara: Rekam jejak dan perkembangan kontemporer (43–72). Penerbit BRIN. DOI: 10.55981/brin.909.c770 E-ISBN: 978-623-8372-42-3


44 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Di antara pemanfaatan kekayaan sumber daya alam tersebut, saat ini dapat kita saksikan dalam bentuk naskah atau manuskrip dengan terdapat bahan naskah yang menarik untuk dikaji karena dapat menjadi penanda adanya teknologi tradisional yang berkembang di wilayah Indonesia saat ini, yakni daluang. Daluang sebagai kertas tradisional Indonesia, mendapat perhatian yang sangat luar biasa dari para peneliti naskah dan ahli kertas, terlebih karakteristiknya yang berbeda dengan kertas pabrikan dan karena seratnya mirip dengan serat pakaian kulit kayu yang dikenal dengan istilah tapa. Daluang dikategorikan sebagai proto-paper (prakertas) atau near paper (menyerupai kertas) (Guillot, 1983; Pudjiastuti, 1992; Teygeler, 1995b). Daluang sebagai kertas tradisional Indonesia, sejarah perkembangannya terkait dengan penggunaan serat kulit kayu dalam kehidupan masyarakat Austronesia masa lampau, cara pembuatannya serupa dengan pembuatan kain kulit kayu yang pada masyarakat Hawaii kuno disebut tapa atau kapa, artinya ditumbuk. Adapun pemanfaatan kulit kayu terbaik di Nusantara, terdapat di Sulawesi Selatan berupa pakaian kulit kayu dan di Pulau Jawa berupa daluang (Hunter, 1978, 59). Daluang, di samping berupa kertas tradisional, berdasarkan penelusuran informasi atas beberapa kamus berbahasa daerah dan teks naskah kuno, dimanfaatkan juga sebagai kain, pakaian, kopiah, dan sarana upacara suatu agama atau kepercayaan. Daluang sebagai bahan naskah, bisa ditelusuri melalui berbagai katalogus naskah, baik di dalam dan luar negeri dengan deskripsi sebagai naskah berbahan kulit kayu. Naskah Batak yang berbahan kulit kayu dikenal dengan istilah pustaha, naskah Jawa dan Madura yang berbahan kulit kayu dikenal dengan istilah daluang; penyajian naskahnya dalam bentuk lipatan seperti akordeon, gulungan (roll), ataupun buku (codex) (Ekadjati, 1996; Guillot, 1983; Permadi, 2005). Khusus untuk naskah berbahan daluang berbentuk gulungan, sampai saat ini nyaris tidak ada hasil kajian yang menyeluruh atas aspek material dan teknik yang menyertainya. Satu-satunya penelitian yang dapat diajukan adalah hasil penelitian Permadi (2012) berupa disertasi


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 45 yang berjudul "Naskah Khutbah Gulungan Berbahan Daluang Koleksi Candi Cangkuan: Identifikasi Fisik dan Tinjauan Kandungan Teks". Identifikasi fisik dilakukan dengan metode pengamatan langsung dan analisis laboratorium, sedangkan tinjauan kandungan teks dihasilkan setelah melalui cara kerja filologis yang prosedurnya melalui tahapan transliterasi dan transkripsi, kritik teks, serta penyajian edisi teks. Kondisi terkini terkait tradisi daluang yang pernah punah di tahun 1960 dan terakhir kali dapat disaksikan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dan Kabupaten Garut, Jawa Barat; sejak tahun 1998 dapat dinyatakan mulai hidup kembali walau belum berkembang sepenuhnya. Saat ini sudah ada para pelaku pembuat daluang di Kota Bandung dan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat; Kabupaten Bantul, Yogyakarta; Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; Ponorogo, Jawa Timur; dan Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Namun, produksi dan daya serap pasarnya masih terbatas; pelaku, bahan baku, dan permintaannya masih kurang banyak (Ekadjati, 1996; Guillot, 1983; Noorduyn, 1965; Permadi, 1998; Soetikna, 1939; Teygeler, 1995a; Wirasoetisna, 1941). Terkait dengan masih adanya perbedaan konsep yang menyatakan daluang sebagai proto-paper, near paper, quasi paper, false paper, not paper, penulis bersepakat dengan Baker dan Miles (2018) yang menawarkan kembali definisi kertas dan menyarankan bahwa daluang harus dinyatakan sebagai kertas. Adapun meminjam pernyataan Guillot (1983) dan Teijgeler (1995a) yang menyebut daluang sebagai kertas (khas) Jawa dan Madura, saat ini dapat diajukan untuk disepakati bahwa daluang adalah Kertas Tradisional Indonesia dengan mengacu pada penetapan daluang sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) tahun 2014 dengan SK Menteri Nomor 270/P/2014 tentang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2014. Mengenai pemanfaatan daluang dalam kaitannya dengan tradisi tulis keagamaan Islam di Nusantara, antara lain dapat dilihat pada artikel Permana dan Mardani (2017) yang memaparkan daluang berikut asal-usulnya, bentuk aksara, dan alat tulisnya. Metode penelitian arkeologis adalah metode yang digunakannya dengan


46 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... langkah kerja meliputi menelusuri dan mengolah data, analisis budaya dan rekonstuksinya. Data penelitiannya berupa naskahnaskah bercorak keagamaan Islam berbahan daluang koleksi beberapa lembaga preservasi naskah, baik tingkat daerah maupun nasional. Adapun dalam kesimpulannya dinyatakan bahwa daluang memiliki peran penting dalam dakwah Islam di Nusantara, terutama sebagai sarana untuk menuliskan khazanah intelektual para ulama. Rohmana (2018) mengkaji empat naskah mushaf Al-Qur’an dari Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Kajiannya berupa bahan naskah dan penulisannya. Kajian kodikologinya, tiga naskah berbahan kertas Eropa yang bercap air Concordia dengan pembuatan kertas abad ke-19, tetapi penulisannya memungkinkan awal abad ke-20. Adapun naskah berbahan daluang, usianya tidak dapat diketahui. Jenis aksara yang digunakannya adalah gaya naskhi dengan rasm imla’i. Kesimpulannya adalah bahwa kajian kodikologi mushaf Al-Qur’an dapat menegaskan keumuman penggunaan bahan naskah, gaya tulis, dan hiasan pinggir (iluminasi) mushaf Al-Qur’an di Nusantara yang sekaligus menunjukkan pula bahwa penyalinan mushaf Al-Qur’an berada dalam kerangka pengajaran dan penyebaran agama Islam. Selanjutnya, Saputra (2022) yang memaparkan hasil temuannya dengan menyatakan bahwa manuskrip khotbah dalam bentuk gulungan merupakan salah satu bukti penting untuk memahami dinamika keagamaan masa lampau pada masyarakat Nusantara yang bukan keturunan dan berkebudayaan Arab. Data naskah khotbah berbentuk gulungan dikaji berdasarkan pendekatan Islam kontekstual dalam konteks sosio-historis dengan metode double movement. Kesimpulannya berupa gambaran masuknya Islam di Indonesia bersifat dinamis, tekstual, dan menyesuaikan dengan fenomena kontekstual yang ada. Digunakannya daluang berbentuk gulungan sebagai bahan naskah merupakan ijtihad yang memudahkan dalam penggunaannya ketika pelaksanaan aktivitas khotbah, adapun penggunaan bahasa Arab dalam teks khotbah merupakan adaptasi penggunaan bahasa Arab dalam penyampaian dakwah Islam.


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 47 Metodologi yang digunakan dalam pokok bahasan ini memiliki dua dimensi, yakni dimensi keilmuan filologis dan metode kajian. Dimensi keilmuan filologis terkait pemahaman kajian budaya masa lampau yang terdapat dalam objek kajian berupa naskah; adapun metode kajian menyangkut prosedur dan teknik dalam menganalisis naskah sebagai objek penelitiannya. Kerangka keilmuan filologis mengarahkan penelitian pada studi naskah sebagai tinggalan budaya masa lampau, baik teks dan kodeks, bertujuan mempelajari budaya masa lampau, menyajikannya pada kehidupan masa kini, dan memanfaatkannya untuk kehidupan selanjutnya. Aspek-aspek budaya yang dipelajari dapat dibedakan atas sifat dan jenisnya, yaitu aspek material (benda) dan aspek imateriel (ide) yang dipandang memiliki dimensi kekinian dan kesinambungan (Soeratno, 2004). Penerapan prosedur kajian dengan penekanan pada upaya rekonstruksi bahan naskah daluang berbentuk gulungan, dilaksanakan dengan langkah-langkah: (1) melakukan studi pustaka, dalam hal ini berupa penelusuran sumber tertulis yang membahas daluang sebagai kertas tradisional, daluang sebagai bahan naskah, dan penggunaan daluang dalam tradisi tulis bercorak keagamaan Islam di Nusantara; (2) pendeskripsian naskah berbahan daluang berbentuk gulungan yang berisi teks Naskah Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha (NKIFIA), pendeskripsiannya dilakukan secara langsung, yakni di Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC); (3) melakukan rekonstruksi pembuatan daluang berbentuk gulungan, dilakukan dengan menyediakan alat dan bahan yang secara prinsip sesuai dengan tradisi masa lampau sehingga menghasilkan daluang yang sesuai dengan kriteria yang dihasilkan dalam pendeskripsian naskah; dan (4) penggunaan daluang hasil rekonstruksi untuk salin ulang teks naskah NKIFIA dengan memanfaatkan edisi atau suntingan teks NKIFIA yang telah dihasilkan pada penelitian sebelumnya.


48 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... B. Deskripsi Fisik Daluang Gulungan NKIFIA Pemberian judul NKIFIA atas objek penelitian didasarkan pada kandungan teks yang terdapat dalam naskah karena secara objektif pada naskahnya tidak tertera adanya judul, termasuk identitas lainnya berupa identitas penulis, titimangsa penulisan, maksud dan tujuan penulisan, tempat penulisan, serta keterangan lainnya yang biasa terdapat dalam kolofon naskah. Pemberian judul naskah ini pun berupa perbaikan yang disarankan atas judul naskah yang tertera pada keterangan naskah (caption) yang dideskripsikan sebagai Naskah Khotbah Jum’at. Analisis fisik NKIFIA berbahan daluang gulungan koleksi CBCC dilakukan dengan metode pengamatan langsung di lapangan dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan agar memudahkan proses pengidentifikasiannya. Karena CBCC juga merupakan tempat kunjungan wisata, waktu pengamatan dipilih selain hari Sabtu dan Minggu yang diperkirakan akan banyak pengunjung; demikian juga pemilihan musim kemarau agar proses pengidentifikasiannya lebih leluasa karena didukung cuaca yang cerah. NKIFIA diidentifikasi dengan menggunakan alat yang mendukung berupa mistar kain untuk pengukuran dimensi panjang serta lebar bahan naskah, micrometer digital untuk mengukur ketebalan bahan naskah, colour guide untuk pengukuran warna bahan naskah, kain warna hitam untuk alas pemotretan, kamera digital untuk pendokumentasian, dan alat tulis berikut buku catatan lapangan untuk mencatat hal-hal yang diperlukan (Permadi, 2012, 68–71) Analisis fisik NKIFIA tidak dapat dilakukan di laboratorium karena pada saat melakukan penelitian, naskahnya tidak memungkinkan dibawa ke luar lokasi. Di samping itu, terdapat adanya kepercayaan warga yang tinggal di situs CBCC mengenai keutamaan NKIFIA agar senantiasa berada di lokasi penyimpanannya. Sesungguhnya, NKIFIA ini dapat saja dipinjam untuk dianalisis di laboratorium dengan sebelumnya melakukan peminjaman melalui lembaga pemerintah yang menaungi CBCC sebagai situs cagar budaya. Namun, karena


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 49 analisis karakteristik fisik bahan naskah daluang berbentuk gulungan dapat diamati secara langsung di lapangan, termasuk pertimbangan alasan pertama yang harus menjadi prioritas, metode pengamatan langsung di lapangan adalah yang terbaik sekaligus dapat mengamati bagaimana perlakuan terhadap NKIFIA sebagai bagian dari konsep naskah yang hidup di masyarakatnya (living manuscripts). Ketika dilakukan penelitian, NKIFIA koleksi CBCC belum tercatat dalam katalogus naskah mana pun. NKIFIA berbahan daluang berbentuk gulungan dengan ukuran 176 cm x 23 cm adalah naskah yang termasuk langka karena ukuran naskah pada umumnya lebih kecil dan berbentuk buku. Berdasarkan pengamatan, NKIFIA ditempatkan di sebuah bangunan kecil atau site museum yang terletak tepat di depan bangunan Candi Cangkuang dan disimpan pada sebuah lemari kaca. Kondisi tempat penyimpanan dan upaya perawatan yang dilakukan oleh juru pelihara CBCC terhadap NKIFIA dapat dinyatakan cukup baik, naskahnya senantiasa dirawat agar kondisinya tetap bersih dan terhindar dari berbagai faktor penyebab kerusakan, bahkan naskahnya tidak diperkenankan dipegang oleh sembarang pengunjung. Kecuali untuk tujuan penelitian, peneliti dapat memegang NKIFIA secara langsung dengan tetap harus menggunakan sarung tangan, itu pun dengan pendampingan juru pelihara CBCC. NKIFIA koleksi CBCC seperti terlihat pada Gambar 3.1, berdasarkan keterangan naskah (caption), dideskripsikan berbahan kulit kambing. Namun, berdasarkan pengamatan atas lembaran pembentuk bahan naskah, tidak terdapat adanya tanda bekas rambut atau bulu binatang. Serat pembentuk lembaran tampak lebih menyerupai serat kulit kayu. Di samping itu, dimensi bahan naskah dengan ukuran 176 cm x 23 cm, tidak dapat memberikan jawaban logis jika bahannya kulit kambing, hal ini berangkat dari kenyataan bahwa panjang kulit kambing tidak akan mencapai 176 cm. Pengamatan selanjutnya adalah pola arah serat kulit kayu, arah seratnya sejajar dengan lebar bahan naskah dan tidak sejajar dengan panjang naskah. Adanya kenyataan arah serat yang sejajar dengan lebar naskah, dapat menunjukkan bahwa panjang bahan naskah


50 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... dengan ukuran 176 cm bukan dihasilkan dari penebangan tinggi pohon, panjang bahan naskah dihasilkan dari pelebaran kulit kayu dan pemotongan batang pohonnya di orientasi lebar bahan naskah, yakni 23 cm sebagai lebar bahan naskah. Mengenai ketebalan bahan NKIFIA, diukur menggunakan micrometer digital yang mempunyai akurasi sampai 0,00 mm, alat ukurnya merupakan produk Mitutoyo yang merupakan produsen ternama di Jepang yang banyak menghasilkan alat industri. Berdasarkan pengukuran, ketebalan bahannya tidak sama dan tidak merata di seluruh bagian naskah, paling tipis 0,290 mm dan paling tebal 0,480 mm. Adanya perbedaan tebal dan tipis pada bahan naskah dan serat bahannya berupa serat kulit kayu, disimpulkan bahwa bahan NKIFIA berupa kertas tradisional; tidak termasuk jenis kertas pabrik. Selanjutnya warna bahan naskah, diukur berdasarkan pola warna dengan bantuan colour guide bertabel warna C/M/Y/K. Tabel warna yang digunakan adalah tabel pisah warna (separation) yang biasa digunakan di industri percetakan (press atau printing). Berdasarkan Keterangan: NKIFIA yang dideskripsikan sebagai khotbah Jumat dan berbahan kulit kambing Foto: Tedi Permadi (2012) Gambar 3.1 Naskah Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 51 pengukuran, pola warnanya adalah (1) 5/10/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4) 5/20/50/0, (5) 0/10/50/0, dan (6) 10/20/50/0. Selanjutnya, pengukuran warna tersebut disandarkan pada panduan warna Winsor & Newton seperti terlihat pada Gambar 3.2 dan didapatkan nama naples yellow, yellow ochre, dan raw sienna untuk nama-nama warnanya. Penamaan warna bahan naskah yang dihasilkan ini sejatinya lebih terukur jika dibandingkan penamaan warna bahan naskah yang selama ini terdapat dalam berbagai katalogus naskah, seperti putih kekuningan atau putih kecokelatan. Pola warna yang bergradasi pada bahan NKIFIA, warna yang lebih gelap pada bagian tertentu menandakan lebih sering terekspos cahaya dibandingkan bagian yang jarang terekspos cahaya, juga menandakan sering dipegang tangan secara langsung dibandingkan bagian lainnya yang lebih warnanya terang. Adanya gradasi warna ini secara langsung dapat menunjukkan reaksi bahan naskah terhadap pengaruh lingkungan, dampak kontak fisik seringnya dipegang tangan, dan hal lainnya sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. Keterangan: Nama warna bahan NKIFIA sesuai tabel warna Winsor & Newton Foto: Tedi Permadi (2012) Gambar 3.2 Tabel Warna/Colour Chart Winsor & Newton


52 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... C. Penyediaan Alat dan Bahan Pembuatan Daluang Terkait NKIFIA koleksi CBCC dengan karakteristik bahan seperti telah diuraikan sebelumnya dan dikaitkan dengan pemaparan Wirasutisna (1941), Ekadjati (1996), dan Permadi (1998), tradisi pembuatan bahan naskahnya dapat diasumsikan serupa dengan tradisi pembuatan yang ada di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja. Namun, jika NKIFIA dikaitkan dengan informasi dari juru pelihara dan warga yang tinggal di lingkungan CBCC, informasi turun-temurun dalam rangkaian tradisi lisan yang menjadi ingatan bersama masyarakat tradisinya maka NKIFIA dapat diasumsikan berasal dari tradisi penyebaran Islam yang dibawa dari Cirebon dan berlanjut pada kerajaan Islam Mataram dengan tokoh kunci Pangeran Arif Muhammad atau dikenal juga dengan sebutan Embah Dalem Arif Muhammad, penyebar Islam di kawasan CBCC di sekitar abad ke-17. NKIFIA dan koleksi naskah lainnya di sites museum CBCC, semuanya berasal dari keturunan Pangeran Arif Muhammad dan semuanya berbahan daluang. Berikut ini adalah alat dan perlengkapan yang digunakan dalam pembuatan daluang di Kampung Tunggilis: (1) gergaji atau golok, digunakan untuk menebang pohon; (2) pisau, untuk membuang kulit ari dan menguliti kulit kayu; (3) ember, untuk membersihkan kulit kayu; (4) alat tumbuk berbahan perunggu dan berbentuk trapesium (pameupeuh), merupakan alat yang utama dalam pembuatan daluang; (5) balok kayu pohon nangka, sebagai alas tumbuk; (6) batang pohon pisang, untuk menjemur daluang; dan (7) daun ki kandel “Hoya spec.” untuk menghaluskan permukaan serat kulit kayu ketika proses penjemuran. Saat ini, alat dan perlengkapan pembuatan daluang yang telah diuraikan, pengadaannya masih mudah dengan cara membeli di toko perlengkapan alat rumah tangga atau toko bahan bangunan walaupun bentuk dan ukurannya tidak sama. Namun, khusus untuk pameupeuh atau alat tumbuk yang tidak ada penjualnya, pengadaannya harus dibuat secara khusus di bengkel teknik. Pembuatan alat tumbuk mengacu pada alat tumbuk yang ditemukan penulis di Kampung


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 53 Tunggilis pada tahun 1998 dan dibuat dengan beberapa penyesuaian, terutama bahan, ukuran, dan bentuk alurnya. Bahan yang digunakan berupa logam kuningan, ukuran dibuat menjadi 500 gram per alat tumbuk dan alur alat tumbuknya dibuat menjadi dua jenis alur, pertama berukuran lebar alur 1 mm dengan jarak antaralur dan kedalaman alur 0,5 mm, kedua berukuran lebar alur 0,5 mm dengan jarak antaralur dan kedalaman alur 0,5 mm. Penggunaan bahan logam kuningan (brass) sebagai pengganti perunggu (bronze) pada pembuatan alat tumbuk baru, didasarkan pada pertimbangan bahwa seperti halnya perunggu, kuningan pun tidak mengandung unsur besi (ferro) yang menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan bahan naskah. Di samping itu, pertimbangan yang tidak kalah pentingnya adalah kemudahan dan biaya produksi di bengkel teknik yang bersedia membuatnya dengan skala kecil. Pembuatan alat tumbuk seperti terlihat pada Gambar 3.3 dikerjakan di salah satu bengkel teknik di Kota Bandung dengan menggunakan teknik pengecoran atau penuangan logam cair ke cetakan pasir (sand casting) dan pembuatan alur pada permukaan alat tumbuknya menggunakan teknik bubut (scraft machining). Penggunaan teknik sand casting memungkinkan untuk pembuatan alat tumbuk dalam skala kecil, berbeda jika diproduksi dalam skala industri yang memerlukan adanya master cekatan logam (mould). Untuk menekan biaya produksi, bahan baku kuningan yang digunakan berupa limbah atau sisa produksi berupa potongan kecil (chipping) sehingga harganya lebih terjangkau dan lebih mudah untuk proses peleburannya.


54 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Di samping ketersediaan pameupeuh sebagai alat tumbuk, balok kayu nangka sebagai alas tumbuk pun tidak mudah didapatkan. Penggunaan balok kayu nangka sebagai alas tumbuk, secara tradisional didasarkan pada pertimbangan tingkat kekerasan kayu yang tidak mudah rusak dan tidak adanya getah berwarna yang dapat mengotori kulit kayu ketika proses penumbukannya. Penggunaan balok kayu sebagai alas tumbuk dalam tradisi pembuatan pakaian dan kertas kulit kayu merupakan hal yang lazim digunakan, terlebih ketika ketersediaannya secara alamiah terdapat di lingkungan sekitarnya. Namun, ketika hal tersebut menjadi kendala atau permasalahan yang dihadapi, jalan keluarnya adalah mencari pengganti balok kayu pohon nangka dengan menggunakan balok kayu yang tersedia di toko bangunan, seperti balok kayu untuk pembuatan tiang rumah kayu atau balok pintu yang memiliki ketebalan yang Keterangan: Alat tumbuk (pameupeuh) hasil rekonstruksi yang diproduksi di salah satu bengkel teknik di Kota Bandung Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.3 Alat Tumbuk Pembuatan Daluang


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 55 cukup ideal, itu pun harus balok kayu yang tidak memiliki kandungan warna atau getah yang dapat mengotori proses pembuatan daluang. Penyediaan alas tumbuk yang diupayakan dalam rekonstruksi daluang gulungan, dengan berbagai pertimbangan, dibuat dari limbah papan besi yang dibeli di toko bahan logam bekas pakai dengan ukuran 75 cm x 22 cm x 1,5 cm. Proses pembuatannya diawali dengan membersihkan papan besi dari berbagai kotoran dan karat besi yang menempel, melapisi seluruh permukaan papan besi dengan cat dasar yang diikuti dengan pengecatan agar logam besinya terhindar dari proses oksidasi, melapisi salah satu permukaan dengan menggunakan lakban tebal, melapisi permukaan lakban dengan menggunakan lembaran plastik sejenis pvc yang diperuntukkan sebagai perkukaan alas tumbuk. Penggunaan lakban tebal bertujuan agar permukaan alas tumbuk tidak terlalu keras, sedikitnya menyerupai kekerasan permukaan papan kayu, adapun penggunaan plastik pvc bertujuan agar proses penumbukan kulit kayu menjadi lebih bersih dan lembaran kulit kayunya tidak menempel di permukaan alas tumbuk. Papan alas tumbuk tersebut seperti terlihat pada Gambar 3.4. Keterangan: Proses pelapisan permukaan papan besi alas tumbuk dengan menggunakan lembaran plastik PVC Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.4 Alas Tumbuk Pembuatan Daluang Berbahan Logam Besi


56 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Permasalahan selanjutnya adalah ketersediaan batang pohon pisang untuk proses pengeringan atau penjemuran kulit kayu yang telah diproses sedemikian rupa, terlebih batang pohon pisang berdiameter besar sejenis pohon pisang tanduk yang digunakan di Kampung Tunggilis. Permasalahan penyediaan batang pohon pisang ini diganti dengan membuat papan penjemur kertas seperti yang digunakan pada pembuatan kertas daur ulang, pernah ramai dilakukan oleh pengrajin daur ulang kertas di Kota Bandung sekitar tahun 1998 sampai tahun 2000. Papan penjemur seperti terlihat pada Gambar 3.5, dibuat dari kayu multiplek tebal 10 mm, berukuran 240 cm x 120 cm yang dibagi empat dengan masing-masing berukuran 60 cm x 120 cm dan pada satu permukaannya dilapisi lembaran plastik dan kain katun. Lembaran plastik sebagai pembatas antara kayu multiplek dan lembaran kulit kayu yang dikeringkan dengan cara ditempel pada kain katun dalam keadaan basah. Lembaran plastik menjadi pembatas agar kandungan kimia pewarna yang terdapat lembaran papan multiplek tidak mengotori kulit kayu daluang yang sedang dikeringkan sekaligus berfungsi agar kandungan air yang terdapat dalam kulit kayu tidak membasahi papan multiplek sehingga umur pakainya menjadi lebih lama. Hal ini dilakukan sebagai upaya memperlambat pelapukan dan menghindari tumbuhnya jamur sebagai akibat tereksposnya papan multiplek oleh air ketika proses pengeringan daluang.


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 57 Di antara beberapa permasalahan yang dihadapi dalam upaya rekonstruksi pembuatan daluang gulungan, ketersediaan pohon daluang merupakan hal yang utama karena berkaitan dengan kulit kayu sebagai bahan baku pembuatannya. Pohon daluang secara umum dikenal dengan nama pohon paper mulberry dan bernama latin Broussounetia papyrifera Vent. Pohon daluang dikategorikan sebagai pohon atau tanaman berguna Indonesia dengan kategori langka dan terancam punah (Heyne, 1988). Namun, sejak dilakukan upaya revitalisasi pembuatan dan pemanfaatan daluang oleh kelompok Bungawari Bandung, yang dilakukan pada tahun 1998 dan mendapat bantuan dari Global Environment Facility-Small Grant Programme (GEF-SGP) United Nation Development Programme (UNDP), keberadaan pohon daluang di Indonesia sudah lebih mudah didapatkan dan sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang melakukan budi daya dan pemanfaatan pohonnya. Beberapa lokasi yang dapat disebutkan di antaranya berada di seputar Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Indramayu di Provinsi Jawa Keterangan: Proses pelapisan permukaan papan multiplek dengan menggunakan lembaran plastik dan kain katun Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.5 Papan Penjemur Pembuatan Daluang Berbahan Kayu Multiplek


58 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Barat; Kabupaten Bantul di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Sumenep di Provinsi Jawa Timur; Kabupaten Badung dan Kota Denpasar di Provinsi Bali. Menurut Heyne (1988, 660) dan Merrill dalam Kooijiman (1972, 121), walaupun masih memerlukan pembuktian ulang, pohon daluang bukan tumbuhan lokal Indonesia dan dimungkinkan berasal dari Cina yang penyebarannya dibawa dari Asia Timur melalui Indocina, Thailand, dan Burma, yang kemudian oleh para pendatang dibawa ke Indonesia dan Oceania. Pohon daluang termasuk kelas Dicotylodonae, ordo Urticurales, famili Moraceae. Nama umumnya adalah paper mulberry, japanischer papierbaum, murier a papier, dan paper moerbeiboom; di Indonesia namanya sesuai dengan daerahnya, yakni sepukau, saéh, glugu, galugu, dhalubang, dhulubang, kembala, rowa, ambo, linggowas, iwo, dan malak. Berdasarkan beberapa sumber tertulis di atas dan pengamatan langsung atas pohon daluang yang awalnya ditemukan di daerah Garut di sekitar tahun 1998, pohon ini memiliki jenis akar rimpang. Dari akar utamanya muncul akar-akar kecil yang apabila menyembul ke permukaan tanah akan memunculkan tunas sebagai anakan baru, biasanya berjumlah lebih dari satu dan ada kalanya berumpun sampai sepuluh tunas sekaligus. Pohon berusia setahun tingginya sekitar 4 m dengan diameter batang sekitar 4–8 cm, batang pohon lurus berbentuk bulat, kulitnya berwarna cokelat muda sampai cokelat tua, dan daun sejatinya menjari lima berdiameter lebih dari 30 cm. Walaupun pohon ini berbatang lurus, sering kali terdapat cabang, terutama pada pohon yang tumbuh secara tidak tegak lurus atau sering diterpa angin sehingga memunculkan cabang dari ketiak daunnya. Di samping itu, percabangan ditentukan oleh sinar matahari, makin sedikit pohon mendapat sinar matahari maka akan makin banyak cabangnya. Penebangan pohon daluang hendaknya mengunakan alat potong yang tajam, lebih baik berupa gergaji agar hasil penebangannya tidak membuat koyak kulit kayu yang tersisa sehingga memungkinkan batang pohon hasil tebangan bisa memunculkan tunas pohon yang baru. Batang pohon yang ditebang disisakan sekitar 10–20 cm dari


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 59 permukaan tanah. Setelah proses penebangan pohon selesai dan bagian batang yang berdaun sudah dihilangkan, dilanjutkan dengan proses pemotongan batang pohon sesuai dengan lebar kertas daluang yang hendak dibuat dan dikuliti seperti halnya mengupas kulit singkong. Mengenai bagian pohon yang digunakan untuk pembuatan daluang, Teijgeler (1995a) menyatakan bahwa bagian tersebut adalah bagian kulit kayu (boombast) yang berada di antara kulit luar dan lapisan kambium dengan ilustrasi Gambar 3.6 berikut. D. Pembuatan Daluang Gulungan dan Penulisan Teks Khotbah Tradisi pembuatan daluang di Indonesia punah di tahun 1960, terakhir kalinya terdapat di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tradisinya dapat ditelusuri melalui tulisan Soetikna (1939), Wirasoetisna (1941), Hunter (1978), Guilot (1983), Ekadjati (1996), Teygeler (1995b), dan Permadi (1998). Keterangan: Tampak bagian kulit kayu yang dijadikan bahan baku pembuatan daluang Sumber: Ilustrasi oleh Teijgeler (1995) Gambar 3.6 Penampang Batang Pohon Daluang


60 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Proses pembuatan daluang di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, berdasarkan pemaparan Wirasoetisna (1941), Ekadjati (1996), dan Permadi (1998), secara berurutan diwakili dengan angka (1), (2), dan (3) seperti pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Tabel Urutan Proses Pembuatan Daluang di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut No. Jenis Pengerjaan (1) (2) (3) 1. Melakukan penebangan pohon - √ √ 2. Melakukan pembuangan kulit ari √ √ √ 3. Melakukan pengelupasan kulit kayu - √ √ 4. Melakukan perendaman kulit kayu √ √ √ 5. Melakukan penumbukan kulit kayu tahap awal √ √ √ 6. Melakukan penempelan 2 atau 3 lembar kulit kayu √ √ √ 7. Melakukan penumbukan kembali sampai lembaran kulit kayunya bersatu √ √ √ 8. Melakukan pelipatan kulit kayu dan penumbukan kembali hingga mencapai lebar yang dikehendaki - √ √ 9. Membuka lipatan kulit kayu - √ √ 10. Melakukan perendaman kulit kayu semalam √ - - 11. Melakukan pemeraman lembaran kulit kayu - √ √ 12. Melakukan penjemuran lembaran kulit kayu √ √ √ 13. Melakukan pemotongan daluang sesuai ukuran yang diperlukan √ √ √ Berdasarkan Tabel 3.1, terdapat sedikit perbedaan dalam urutan pembuatannya, hal ini bisa jadi karena informasi yang didapatkan dari informan tidak lengkap, informan terlupa pada beberapa bagian tertentu atau proses pewarisan pengetahuannya tidak utuh. Perbedaan Keterangan: (1) Urutan pengerjaan daluang berdasar pemaparan Wirasoetisna, (2) Urutan pengerjaan daluang berdasar pemaparan Ekadjati, dan (3) Urutan pengerjaan daluang berdasar pemaparan Permadi. Sumber: Wirasoetisna (1941), Ekadjati (1996), Permadi (1998)


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 61 urutan yang dimaksud, terutama pada pekerjaan nomor 8, 9, 10, dan 11. Urutan pekerjaan nomor 8 dan 9 memungkinkan mendapatkan panjang daluang yang lebih maksimal, pekerjaan nomor 10 dan 11 memungkinan alur bekas penumbuk hilang dan daluang yang dihasilkan lebih bersih. Adapun daluang yang berwarna agak gelap, dimungkinkan karena proses pemeraman yang terlalu lama sehingga menghasilkan lendir berwarna agak gelap yang berdampak pada hasil akhir lembaran daluang. Walaupun proses pembuatan daluang di atas mengacu pada pembuatan daluang ukuran sekitar A3, teknik pembuatannya dapat dijadikan acuan untuk pembuatan daluang gulungan dengan panjang 120 cm sesuai dengan ketersediaan papan penjemur yang telah dibuat. Adanya bukti berupa garis memanjang searah panjang gulungan pada NKIFIA seperti terlihat pada Gambar 3.7, dipastikan berasal dari proses melipat kulit kayu pada pekerjaan nomor 9 Tabel 3.1. Panjang daluang yang mencapai 176 cm tanpa sambungan pada NKIFIA seperti terlihat pada Gambar 3.8 dihasilkan dari pelebaran dua lapis (layer) kulit kayu yang sudah cukup tua, serat kulit kayunya Keterangan: Tampak garis memanjang searah panjang gulungan dan tampak serat pembentuk lembaran Foto: Tedi Permadi (2012) Gambar 3.7 Naskah NKIF Koleksi CBCC


62 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... cukup tebal dan terbentuk dari dua helai kulit kayu seperti terlihat pada Gambar 3.8 berikut. Berdasarkan hal tersebut dan pertimbangan lainnya yang bersifat praktis, pada proses persiapan (preparing) pembuatan daluang gulungan ditambahkan proses (1) merebus kulit kayu dengan larutan abu gosok dan sedikit garam dapur, (2) merendam lembaran kulit kayu dengan larutan abu gosok bekas perebusan, dan (3) memeram lembaran kulit kayu dalam kontainer plastik yang dilapisi lap kanebo basah hingga kulit kayunya cukup lunak. Pada proses perebusan kulit kayu, digunakan sedikitnya 1/2 kg abu gosok yang dilarutkan ke dalam 25 L air; larutan abu gosok didapatkan dengan cara membungkus abu gosok dengan kain dan dicelupkan ke air untuk memisahkan kadar abu terlarut dengan ampas abu gosok. Proses perebusan dan perendaman kulit kayu dengan larutan abu gosok bertujuan untuk menghilangkan kadar asam lignin dan pektin yang terdapat dalam kulit kayu, harapannya dapat menghasilkan daluang yang bebas asam (acid free) dengan nilai pH mendekati angka Keterangan: Tampak dua lembar kulit kayu pembentuk bahan NKIFIA Foto: Tedi Permadi (2012) Gambar 3.8 Naskah NKIF Koleksi CBCC


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 63 7 serta memenuhi prinsip ramah lingkungan karena menggunakan senyawa kimia organik seperti pembuatan pakaian kulit kayu secara tradisional di beberapa tempat di Indonesia yang pernah penulis saksikan. Perendaman kulit kayu dengan menggunakan larutan abu gosok terlihat pada Gambar 3.9 berikut. Adapun proses rekonstruksi pembuatan daluang gulungan selengkapnya adalah sebagai berikut. 1) Menebang pohon saéh yang berusia sekitar 1,5 tahun dengan diameter batang sekitar 8 cm, pohon yang ditebang adalah pohon yang sehat dan berkulit tebal dengan ciri warna dan tekstur permukaan kulit ari yang cerah dan segar. 2) Memotong bagian batang pohon yang masih ditumbuhi daun, bagian ini tidak digunakan karena pada kulit kayunya terdapat lubang bekas tumbuhnya batang daun. 3) Memotong batang pohon sepanjang 65 cm untuk orientasi lebar daluang yang akan dihasilkan, dalam hal ini jika hendak membuat daluang dengan lebar 60 cm maka diperlukan adanya tambahan Keterangan: Proses perendaman kulit kayu pohon daluang dengan menggunakan air abu gosok sisa proses perebusan Foto:Tedi Permadi (2015) Gambar 3.9 Perendaman Kulit Kayu Pohon Daluang


64 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... panjang pemotongan sebagai cadangan untuk penyusutan lebar ketika proses penumbukannya. 4) Membuang bagian kulit kayu terluar yang berwarna kecokelatan berikut serat di bagian bawah kulit ari yang berwarna kehijauan, adanya kulit kayu terluar menjadikan kotor dan berwarna kehijauan sehingga lembaran daluang yang dihasilkan bersifat kaku dan kurang lentur. 5) Membuat sayatan pada kulit kayu yang masih menempel di batang pohonnya dari bagian ujung sampai pangkal batang sepanjang 65 cm, menggunakan pisau yang tajam atau pisau cutter agar hasilnya rapi dan serat kulit kayunya tidak terurai. 6) Menguliti kulit kayu dari ujung batang sampai pangkal dengan bantuan ujung gagang sendok atau benda tumpul halus lainnya agar kulit kayu yang dihasilkannya tidak rusak atau terkoyak. 7) Merebus kulit kayu dengan menggunakan larutan abu gosok ditambah sedikit garam dapur sekitar dua jam, kulit kayu yang direbus harus terendam sempurna dan wadahnya ditutup rapat agar suhu dan uap panasnya menjadikan serat kulit kayu menjadi lunak, perebusan dilakukan dengan menggunakan api sedang. 8) Merendam kulit kayu dengan larutan abu gosok sisa perebusan selama dua hari dua malam, perendaman dilakukan dengan menggunakan tempat yang ada tutupnya agar rendamannya tetap bersih dan terhindar dari kotoran. Perendaman yang terlalu lama tidak disarankan karena akan menghasilkan serat kulit kayu yang mudah terurai ketika proses penumbukan. 9) Membilas kulit kayu hasil perendaman dengan air mengalir sampai noda dan kotoran yang dihasilkan selama perendaman hilang, seperti terlihat pada Gambar 3.10. Berdasarkan pengamatan, selama proses perendaman akan menghasilkan buih kotor yang diperkirakan berupa pelarutan kandungan lignin dan pektin serta getah kulit kayu.


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 65 10) Memeram kulit kayu yang sudah dibersihkan di dalam kotak atau kontainer plastik yang bertutup rapat, di bagian bawah kotak plastik dialasi kain lap kanebo basah (kain chamois), setelah kulit kayu diletakan di atas alas kain lap kanebo kemudian ditutup lagi dengan kain lap kanebo basah selama dua hari dua malam agar menghasilkan serat kulit kayu yang lebih lunak dan merata. 11) Menyiapkan dua hingga empat helai kulit kayu untuk pembuatan lembaran daluang, jumlah kulit kayu tergantung lebar dan ketebalan kulit kayu yang tersedia yang diperkirakan mampu menghasilkan panjang 120 cm atau panjang yang dikehendaki sebagai hasil dari pelebaran atas penumbukannya. 12) Masing-masing helai kulit kayu ditumbuk sampai mencapai dua kali pelebaran dan disatukan dengan menempelkan bagian luar kulit kayu untuk kemudian ditumbuk kembali, demikian halnya jika menggunakan empat helai kulit kayu. Penumbukan tahap ini adalah penumbukan awal untuk menyatukan dua helai atau lebih dan pelebarannya sampai sekitar 3–4 kali pelebaran kulit kayu sebelum ditumbuk, seperti terlihat pada Gambar 3.11. Keterangan: Pembilasan kulit kayu pohon daluang dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang dihasilkan selama proses perendaman Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.10 Pembersihan Kulit Kayu Pohon Daluang


66 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... 13) Memeram kembali lembaran kulit kayu agar serat pembentuk lembarannya menjadi lebih lunak yang ditandai dengan adanya lendir, tujuannya untuk memudahkan proses penumbukan akhir hingga selesai dan menghasilkan lembaran daluang yang seratnya lebih padat dan rapat. 14) Menumbuk kembali lembaran kulit kayu yang sudah lunak sambil diperciki air bersih sedikit demi sedikit dengan menggunakan semprotan air (spayer), penggunaan air dalam tahap ini membantu proses penumbukan sehingga menghasilkan ketebalan/ketipisan dan pelebaran kulit kayu sesuai panjang yang dikehendaki. Proses penumbukan dilakukan di atas papan tumbuk yang diletakan di atas papan penjemur sehingga memudahkan proses menempelnya lembaran kulit kayu pada papan penjemur. 15) Mengeringkan lembaran kulit kayu dengan cara dijemur di panas matahari sedang atau diangin-anginkan sekitar 2–3 hari sampai kering menjadi lembaran daluang. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama ini, proses pengeringan ini tergantung cuaca, Keterangan: Proses penumbukan kulit kayu dengan menggunakan pameupeuh beralaskan papan tumbuk besi yang sudah dilapisi karet Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.11 Penumbukan Kulit Kayu Pohon Daluang


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 67 waktu pengeringan di musim kemarau dan musim penghujan akan memakan waktu yang berbeda dan menghasilkan kelenturan kertas daluang yang berbeda. Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk pengerjaan daluang. 16) Memotong lembaran daluang yang sudah kering sesuai ukuran yang diperlukan, dalam hal ini lembaran daluang yang digunakan berukuran 26,5 cm x 120 cm. 17) Melakukan penulisan ulang teks naskah NKIFIA, teks diambil dari teks yang terdapat pada naskah koleksi CBCC yang sebelumnya sudah dilakukan proses transkripsi dan kritik teks sehingga teksnya sudah bersih dari kesalahan tulis dan penyimpangan redaksional. NKIFIA berisi dua teks, teks pertama bertema Idulfitri yang selanjutnya diberi judul Khutbah Idul Fitri (KIF) dan teks kedua bertema Iduladha sehingga diberi judul Khutbah Idul Adha (KIA). Apabila kedua teks tersebut dibaca langsung melalui naskahnya, diperkirakan akan sedikit menyulitkan pembaca umum karena terdapat beberapa bagian teks yang tidak dapat dibaca sebagai akibat kesalahan tulis dan penyimpangan redaksional, serta terdapat bagian naskah yang rusak karena lapuk termakan usia. Untuk memudahkan pembacaan, dipandang perlu adanya edisi teks yang lebih memudahkan bagi siapa pun yang ingin membaca dan mempelajarinya. Upaya perbaikan kesalahan tulis dan penyimpangan redaksional teks NKIFIA tidak mengalami kendala yang berarti karena teksnya ditulis dengan bahasa Arab Fusha dan perbaikannya disandarkan pada kaidah tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf). Demikian halnya ayat Al-Qur’an dan petikan hadis, perbaikannya disandarkan kepada sumbernya secara langsung. Bagi pembaca yang menguasai aksara dan bahasa Arab, edisi teks disajikan dalam aksara Arab (transkripsi) dengan tujuan memudahkan pembacaan dan pelafalan bahasa Arab secara tepat. Sementara itu, bagi pembaca yang tidak menguasai aksara dan bahasa Arab, edisi


68 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... teks disajikan dalam aksara Latin (transliterasi). Edisi teks KIF dan KIA adalah edisi teks yang penyajiannya disesuaikan dengan struktur atau rukun khotbah (Baried et al., 1985, 61–65; Lubis, 1996, 31–73; Sudardi, 2001, 25–26, 29–30; Sudjiman, 1994, 99). Pada penyajian edisi teks KIA di halaman kedua NKIFIA, terdapat bagian teks yang sulit dibaca karena bahan naskahnya berwarna gelap, yakni baris 1–6. Namun, edisi teks dapat disajikan secara lengkap karena adanya kesamaan pola redaksi di kedua teks khotbah, dalam hal ini baris 1–6 pada teks KIF dipandang sama dengan baris 1–6 teks KIA sehingga dapat dijadikan penyaksi untuk perbaikan baris 1–6 teks KIA, tentunya dengan tetap disandarkan pada prinsip dasar penyuntingan teks naskah secara filologis. Peralatan yang digunakan dalam penyalinan KIF dan KIA berupa mistar, pensil, penghapus, dan drawing pen dengan tinta permanen ukuran 1.0 dan 2.0. Mistar yang digunakan adalah mistar berukuran 30 cm dan 100 cm, penggunaan mistar berukuran 30 cm adalah untuk memudahkan membuat garis panduan antarbaris dan mistar berukuran 100 cm untuk membuat garis tepi di sepanjang pinggiran kertas daluang yang berfungsi juga sebagai garis pembatas (border) atau iluminasi. Keterangan: Proses penulisan teks khotbah Idulfitri di media daluang dengan menggunakan alat tulis pensil dan drawing pen Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.12 Penulisan Teks Khotbah Idulfitri


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 69 Dalam hal pemilihan jenis huruf, font atau khat, karena penulisan teks khotbah bersifat informasional, berisi pesan, dan agar informasinya mudah dibaca maka dipilih jenis huruf naskhi seperti yang biasa digunakan dalam penulisan atau pencetakan mushaf Al-Qur’an. Penulisan teks diawali dengan membuat garis panduan antarbaris (guidelines) agar jarak antarbarisnya sama dan memudahkan penulisannya. Teks khotbah yang disalin didasarkan pada edisi teks KIF dan KIA yang telah dikerjakan Permadi (2012, 119–135) dengan penulisan menggunakan pensil (drafting) terlebih dahulu, tujuannya adalah jika terdapat kesalahan dalam penulisan maka akan dengan mudah dilakukan perbaikan dengan menggunakan karet penghapus. Langkah terakhir, setelah penulisan teks KIF selesai menggunakan pensil dan tidak terdapat kesalahan tulis, dilakukanlah penghitaman aksara (inking) dengan menggunakan drawing pen seperti terlihat pada Gambar 3.12 dan Gambar 3.13. Keterangan: Lembaran daluang gulungan yang sudah ditulisi teks khotbah Idulfitri Foto: Tedi Permadi (2015) Gambar 3.13 Khotbah Idulfitri Berbahan Daluang Hasil Salin Ulang


70 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... E. Daluang sebagai Kertas Tradisional Indonesia Temuan utama dari upaya rekonstruksi pembuatan daluang gulungan dan salin ulang teks KIF dan KIA adalah berupa adanya teknologi tradisional pada masa lampau dalam hal pembuatan daluang sebagai bahan naskah. Daluang dapat dinyatakan atau dideklarasikan sebagai kertas yang sesungguhnya, bukan proto-paper, near paper, quasi paper, false paper, atau not paper. Daluang adalah kertas tradisional Indonesia dan pernah menjadi bagian dari tradisi tulis keagamaan Islam di Nusantara, khususnya untuk penyebaran ajaran agama Islam. Walaupun dalam berbagai penelitian terdahulu dan sumber tertulis lainnya tidak ada informasi mengenai proses pembuatan daluang gulungan dengan ukuran 176 cm x 23 cm tanpa sambungan, berkat adanya NKIFIA koleksi CBCC yang masih terpelihara cukup baik sebagai acuan, pembuatan daluang gulungan dengan ukuran 120 cm x 26,5 cm tanpa sambungan dapat dilakukan dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk pembuatan daluang gulungan selanjutnya dengan panjang berapapun sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam hal salin ulang teks KIF dan KIA, secara teknis penyalinannya tidak menghadapi kendala karena teks NKIFIA yang disalin sudah melalui tahap kritik teks dan disajikan dalam bentuk edisi teks yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Adapun saran yang dapat diajukan agar diadakannya upaya bersama di antara pemangku kepentingan untuk menyelamatkan naskah-naskah koleksi masyarakat dan lembaga penyimpanan non pemerintah yang sampai saat ini belum terperhatikan secara penuh, selanjutnya melakukan pengkajian dan pemanfaatannya untuk memberikan penguatan identitas dan sebagai salah satu upaya konkret dalam pemajuan kebudayaan Indonesia.


Rekonstruksi Pembuatan Daluang ... 71 Referensi Baker, C. A., & Miles, L. (2018). New definitions for “Watermark” and “Paper”. American Printing History Association. Baried, S. B., Soeratno, S. C., Sawoe, S., Sutrisno, S., Syakil, M., & Syakil, M. (1985). Pengantar teori filologi. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ekadjati, E. S. (1996). Saeh atawa daluang: Cara nyyieunna di Kampung Tunggulis. Kalawarta LBSS, 19–24. Guillot, C. (1983). Le Dluwang Ou, Papier Javais. Archipel, 105–116. Heyne, K. (1988). Tumbuhan berguna Indonesia (Jilid II). Badan Litbang Kehutanan. Hunter, D. (1978). Papermaking: The history and technique of an ancient craft. Courier Corporation. Kooijiman, S. (1972). Tapa in Polynesia. Bishop Museum Press Honolulu. Lubis, N. (1996). Naskah, teks dan metode penelitian filologi. Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab, Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Noorduyn, J. (1965). The making of bark paper in West Java. Bijdragen Tot de Taal-, Land-En Volkenkunde, 121(4), 472. Permadi, T. (1998). Daluang, kertas tradisional Jawa Barat. Kelompok Bungawari Bandung. Permadi, T. (2005). Identifikasi fisik naskah Sunda berbahan daluang. Universitas Padjadjaran. Permadi, T. (2012). Naskah gulungan koleksi cagar budaya Candi Cangkuang: tinjauan medium dan kandungan isi. Universitas Padjadjaran. Permana, A., & Mardani. (2017). Daluang sebagai alas tulis dalam proses penyebaran Islam di Nusantara. Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 14(2), 229–248. Pudjiastuti, T. (1992). Overview of materials used in Cirebon manuscripts. Royal Institute of Linguistics and Anthropology. Rohmana, J. A. (2018). Empat manuskrip Al-quran di Subang Jawa Barat (studi kodikologi manuskrip Al-quran). Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial Budaya, 3(1), 1–16. Saputra, I. (2022). Menelaah eksistensi manuskrip khutbah gulungan abad XVIII perspektif konstekstual. Majalah Ilmiah Tabuah: Talimat, Budaya, Agama Dan Humaniora, 26(1), 30–38. Soeratno, C. (2004). Studi naskah klasik dengan teori baru.


72 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Soetikna, R. (1939). Dloewang Panaraga (Het een onder over de vervaardiging en verbreiding van kertas gendong te Tegalsari). Djawa, 191–194. Sudardi, B. (2001). Dasar-dasar teori filologi. Badan Penerbit Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret. Sudjiman, P. (1994). Filologi Melayu. Pustaka Jaya. Teygeler, R. (1995a). Dluwang: Cultural-historical aspects and material characteristics [Research report]. Leiden University, Faculty of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania. Teygeler, R. (1995b). Dluwang, van bast tot boek. Koninklijke Bibliotheek. Wirasoetisna, H. (1941). Saeh. Parahiangan, 251–252.


73 Bab 4 Digitalisasi, Deskripsi, dan Peta Naskah Kalimantan Selatan Dede Hidayatullah, Derri Ris Riana, Titik Wijanarti, Sri Wahyu Nengsih, Siti Akbari, Nurhidayati Kurniasih, dan Nidya Triastuti Patricia A. Naskah dan Masyarakat Banjar Masyarakat Banjar tidak mengenal aksara Banjar. Aksara yang digunakan orang Banjar adalah aksara Melayu yang disesuaikan dengan bahasa Banjar sehingga semua warisan leluhur berupa tradisi disebarkan dan disampaikan secara lisan; dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi (Hidayatullah et al., 2013). Aksara Arab Melayu mulai dikenal oleh Masyarakat Banjar sejak masuknya agama Islam pada abad ke-16. Hal ini bisa dilihat dari surat Pangeran Samudera yang beraksara Arab berbahasa Banjar ketika meminta bantuan kepada Kerajaan Demak untuk menghadapi Pangeran Temanggung dalam perang saudara (Hidayatullah et al., 2013). D. Hidayatullah*, D. R. Riana, T. Wijanarti, S. W. Nengsih, S. Akbari, N. Kurniasih, N. T. Patricia *Badan Riset dan Inovasi Nasional, e-mail: [email protected] © 2023 Editor & Penulis Hidayatullah, D., Riana, D. R., Wijanarti, T., Nengsih, S. W., Akbari, S., Kurniasih, N., & Patricia, N. T. (2023). Digitalisasi, deskripsi, dan peta naskah Kalimantan Selatan. Dalam W. Indiarti, & Suyami (Ed.), Khazanah pernaskahan Nusantara: Rekam jejak dan perkembangan kontemporer (73–101). Penerbit BRIN. DOI: 10.55981/brin.909.c771 E-ISBN: 978-623-8372-42-3


74 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Tradisi penulisan naskah dengan mengunakan aksara Arab melayu dalam masyarakat Banjar mencapai masa keemasannya pada abad XVIII, yaitu pada masa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (selanjutnya disebut al-Banjari) tahun 1122–1227 H/ 1710–1812 M. Al-Banjari menulis hampir semua karyanya menggunakan huruf Arab melayu dengan bahasa Banjar, kecuali sebuah karyanya yang ditulis sewaktu mengaji di Madinah. Karya ini berisi tentang persoalan pajak berjudul Fatawa Sulaiman Qurdie yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab (Daudi, 2003) dan sebuah salinan kitab yang ditulis ulang oleh al-Banjari dengan judul Hidayatul Mustarsyidin. Pada saat itu, muncul penulis lain, seperti Syekh Muhammad Nafis dan Fatimah binti Abdul Wahab Bugis. Ketiga penulis ini banyak menulis tentang agama Islam, baik itu fiqih, tauhid, maupun tasawuf (Wawancara dengan Guru H. Sibawaihi, 21 Oktober 2021, di Desa Dalam Pagar ). Selain itu, bermunculan juga tulisan yang menggunakan huruf Arab melayu Banjar yang berkaitan dengan tradisi lisan, seperti naskah syair Siti Zubaidah yang biasa dilantunkan untuk acara sesudah panen padi dan juga untuk mengetahui nasib, naskah syair Brahma Syahdan yang merupakan bagian akhir dari cerita dalam tradisi lisan balamut, naskah syair nasihat yang dibawakan pada malam acara perkawinan, dan naskah syair cerita panji. Demikian juga yang berkaitan dengan cerita-cerita rakyat, seperti naskah Tutur Candi dan naskah Hikayat Banjar. Selain itu, ditemukan juga tulisan-tulisan yang berkaitan dengan pengobatan dan mantra. Naskah-naskah berharga tulisan Syekh Muhammad Arsyad alBanjari masih tersimpan rapi di Museum Dalam Pagar, Kampung Dalam Pagar, yang sekarang dipegang oleh Muhammad Faisal yang merupakan zuriah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sementara itu, naskah syair banyak tersimpan di Museum Lambung Mangkurat. Adapun naskah pengobatan dan mantra sebagian besar masih disimpan masyarakat. Penelitian dan tulisan tentang al-Banjari pernah dilakukan oleh Siddiq (1931), Zamzam (1979), Daudi (2003), Humaidy (2004), Islami (1998), Haries (1999), Yusran (1988), Wardani (2004), dan Munadi


Digitalisasi, Deskripsi, dan ... 75 (2010). Penelitian-penelitian ini mengkaji riwayat hidup al-Banjari serta peran-perannya dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Kalimantan Selatan. Tulisan-tulisan yang mengupas al-Banjari ini merupakan tulisan nonfilologi. Adapun tulisan yang mengupas alBanjari dalam kajian filologi, seperti yang dilakukan Wardani (2004) dan Islami (1998) yang mengkaji kitab karangan al-Banjari, tetapi sumber datanya bukan berasal dari naskah lama, kecuali penelitian Munadi (2010) yang meneliti Al-Qur’an tulisan tangan al-Banjari. Penelitian naskah lainnya di Kalimantan Selatan juga dilakukan oleh Hidayatullah yang mengupas kodikologi dan isi naskah Mantra Mistik (2016), suntingan naskah Doa Wirid Tolak Bala (2017), naskah Pengobatan (2020) yang membandingkan hasil penelitian lain seperti Sunarti et al., (1978), Ganie (2011), Sulistyowati dan Ganie (2016), dan Penyusun (2005). Selain itu ada beberapa penelitian naskah agama, seperti Munadi et al. (2011) yang membahas Ini Pasal pada Menyatakan Sembahyang yang merupakan satu pasal dalam Naskah Negara dan Humaidy et al. (2011) yang mengkaji studi naskah Syarâb al-‘Âsyiqîn karya Hamzah Fansuri dalam Naskah Negara. B. Sebaran Naskah di Kalimantan Selatan Naskah di Kalimantan Selatan sangat erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam. Oleh karena itu, naskah-naskah di Kalimantan Selatan ini sangat berkaitan erat dengan tokoh-tokoh penyebar agama Islam seperti al-Banjari dan keturunannya. Salah satu daerah yang memiliki naskah yang berlimpah adalah Kabupaten Banjar. Kabupaten Banjar dengan ibu kotanya Martapura merupakan tempat tinggal al-Banjari. Dari penelusuran hingga saat ini, ditemukan ada tujuh pemilik naskah di Kabupaten Banjar, yaitu Guru H. Sibawaihi, Ahmad Daudi dan Faisal bin Muhammad Irsyad Zein, Abu Najib, Abdul Malik, H. Syaiful, Mulkan, dan Salman alFarisi. Lima pemilik naskah yakni, Guru H. Sibawaihi, Ahmad Daudi dan Faisal bin Muhammad Irsyad Zein, Abu Najib, Abdul Malik dan H. Syaiful, merupakan keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.


76 Khazanah Pernaskahan Nusantara ... Guru H. Sibawaihi berdomisili di Desa Dalam Pagar Ulu RT 002, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar. Desa Dalam Pagar merupakan desa al-Banjari yang didapatnya sebagai tanah pemberian Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah I. Ada 15 naskah yang dikoleksi oleh Guru H. Sibawaihi. Naskah-naskah ini ditulis oleh tiga orang, yaitu Syekh Muhammad Arsyad bin Abdillah al-Banjari, Muhammad Khatib bin Pangeran Ahmad Mufti bin Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan anaknya, yaitu Musaffa bin Muhammad Khatib bin Pangeran Ahmad Mufti bin Muhammad Arsyad AlBanjari. Naskah yang dikoleksi oleh H. Sibawaihi ini belum masuk katalog manapun, baik katalog Kalimantan (Achdiati et al., 2010) maupun katalog naskah Kalimantan Selatan dan Tengah (Pudjiastuti et al., 2019). Namun, naskah-naskah ini sudah didigitalisasi oleh Perpustakaan Nasional pada bulan Agustus 2022. Pemilik naskah selanjutnya adalah H. Faisal bin Muhammad Irsyad Zein yang beralamat di Desa Dalam Pagar Ulu RT 001, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar. Ada 13 naskah yang dikoleksi oleh Faisal yang diwarisi dari ayahnya. Namun, satu naskah dari 13 naskah tersebut, yaitu naskah Fatawa Sulaiman Kurdi sekarang sedang dikoleksi oleh H. Ahmad Daudi bin Muhammad Irsyad Zein, kakak dari Faisal. Ketiga belas naskah ini sudah masuk dalam Katalog Naskah Kalimantan (Achdiati et al., 2010) dan Katalog Naskah Kalimantan Selatan dan Tengah (Pudjiastuti et al., 2019), tetapi belum semua halaman didigitalisasi. Hal ini karena zuriah dari guru Irsyad Zein tidak memberi izin untuk mendigitalisasi seluruh isi naskah, hanya beberapa lembar halaman awal dan halaman akhir. Adapun penulis naskah dari 13 naskah yang dikoleksi oleh Faisal ada beberapa orang, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang menulis Al-Qur’an dalam naskah yang besar dengan ukuran 57 cm x 63 cm. Namun, naskah Al-Qur’an ini belum didigitalisasi. Adapun penulis kedua adalah Muhammad Khatib bin Pengeran Ahmad Mufti yang menulis Sabilal Muhtadin karya kakeknya al-Banjari. Penulis selanjutnya adalah Musyaffa anak dari Muhammad Khatib yang menyalin karya kakeknya berjudul Fatawa Sulaiman Kurdi. Penulis


Digitalisasi, Deskripsi, dan ... 77 selanjutnya diperkirakan adalah Mufti Abdusshamad bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang menulis Sabilal Muhtadin versi Marabahan. Pemilik naskah di Kabupaten Banjar selanjutnya adalah Abu Najib. Abu Najib merupakan pemilik rumah adat Gajah Baliku di Teluk Selong, Jalan Martapura Lama No. 28, Kecamatan Martapura Barat. Naskah yang disimpan Abu Najib merupakan milik H. Muhammad Yusuf Khotib bin Siti Aisyah binti Pangeran H. Ahmad Mufti bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ada 49 naskah yang ditemukan di tempat Abu Najib. Sebelumnya, tim dari Universitas Indonesia (UI) yang dipimpin oleh Prof. Titik Pudjiastuti telah mendigitalisasi dan memasukkan 36 naskah koleksi Abu Najib ke dalam Katalog Naskah Kalimantan Selatan dan Tengah (Pudjiastuti et al., 2019). Namun, 36 naskah yang telah masuk Katalog Naskah Kalimantan Selatan dan Tengah ini tidak termasuk 13 naskah yang baru ditemukan. Ketiga belas naskah ini kemudian didigitalisasi oleh Perpustakaan Nasional, termasuk naskah yang sudah didigitalisasi oleh tim dari UI. Naskahnaskah yang dikoleksi Abu Najib ini sebagian besar sudah tidak lengkap dan rusak dimakan rayap. Adapun penulis naskah-naskah ini masih belum ditemukan. Namun, kemungkinan besar pemilik naskahnya adalah H. Muhammad Yusuf Khotib sendiri. Pemilik naskah selanjutnya adalah H. Abdul Malik, beliau beralamat di komplek Mustika Raya, Kabupaten Banjar. H. Abdul Malik memiliki koleksi naskah yang berjudul Parukunan Besar. Menariknya, Parukunan Besar sendiri merupakan bacaan wajib orang Banjar untuk belajar Islam dan Iman. Selain itu, ada parukunan yang dinisbahkan kepada Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arysad al-Banjari, tetapi (katanya) ditulis oleh Fatimah binti Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Abdul Malik sendiri masih keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dari istrinya yang bernama Bidur. Naskah ini belum pernah didigitalisasi dan belum pernah juga dimasukkan dalam katalog (Wawancara dengan Abdul Malik, 21 Oktober 2021).


Click to View FlipBook Version