The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang panduan praktikum bagi mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan pada Mata Kuliah Pencemaran Perairan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pane, 2022-08-26 02:44:25

Panduan Praktikum Pemantauan Sampah Laut (Marine Litter)

Buku ini berisi tentang panduan praktikum bagi mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan pada Mata Kuliah Pencemaran Perairan

Keywords: Sampah Laut,Marine Litter,Pemantauan,Manajemen Sumberdaya Perairan,Universitas Musamus

PANDUAN PRAKTIKUM

PEMANTAUAN
SAMPAH
LAUT

MK. PENCEMARAN PERAIRAN

Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Pertanian

Universitas Musamus



Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
karunia serta rahmat-Nya sehingga penyusunan panduan praktikum dengan
judul “Pemantauan Sampah Laut (Marine Litter)” dapat diselesaikan. Penyusunan
tersebut merupakan salah satu tugas dari seluruh rangkaian Pendidikan dan
Pelatihan Dasar CPNS (LATSAR CPNS) Gol.III tahun 2022 di Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan Teknologi.

Penulis menyadari panduan ini selesai berkat bimbingan, bantuan, dan
petunjuk dari berbagai pihak. Dalam kesempatannya penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berperan dalam
penyelesaian panduan praktikum. Semoga segala kebaikan dan bantuan yang
diberikan kepada penulis mendapat balasandari Yang Maha Kuasa dan penulis
mengharapkan semoga tugas ini bermanfaat bagi kita semua.

Merauke, Agustus 2022

Lindon R. Pane

ii

Daftar Isi

Lembar Pengesahan.................i

Kata Pengantar..........................ii

Daftar Isi......................................iii

Pendahuluan.............................1

Latar Belakang............................................ 3
Tujuan......................................................... 4

Panduan Sampah Pantai..........5

Metodologi....................................................7
1.Pemilihan Lokasi..................................7
2. Penentuan Unit Sampling..................8
3. Peralatan...............................................8
4. Pelaksanaan Sampling.....................10
5. Pengolahan Data & Pelaporan......14

Lampiran....................................17

Daftar Pustaka..........................22

iii

Daftar Gambar

No. Judul Halaman

1. Lokasi Sampling yang Tepat (Kiri) dan Tidak Tepat (Kanan) 8

2. Contoh-Contoh Timbangan yang Dapat Digunakan 9

3. Penentuan Lokasi Transek 10

4. Garis Transek Tampak Atas 11

5. Garis Transek Tampak Samping 11

6. Pembuatan Sub Transek 5x5 m 12

7. Pembuatan Sub Sub Transek 1x1 m 12

8. Penentuan 5 kotak setelah dirandom 13

9. Sketsa Denah Transek 13

10. Contoh Alat Membuat Sub dan Sub Sub Transek 14

iv

Pendahuluan

Pre Test..!!
1) Apa yang anda ketahui tentang sampah laut?
2) Apa dampak dari sampah laut terhadap perairan?



Latar Belakang

Sampah laut (marine debris) didefinisikan sebagai limbah padat yang masuk ke
lingkungan laut yang berasal dari aktivitas manusia (Pelamatti dkk., 2019). Sampah ini masuk
ke lingkungan laut melalui sungai-sungai, saluran drainase kota, atau bahkan pengunjung
pantai (Derraik, 2002). Dampak dari sampah laut ini sangat berbahaya bagi ekosistem
perairan, ekonomi, dan sosial (Lippiatt dkk., 2013).

Ancaman sampah di lingkungan laut menjadi penting karena memiliki dampak
terhadap manusia yang disebabkan adanya interaksi antara manusia dan laut itu sendiri.
Menyadari akan bahaya yang ditimbulkan oleh sampah laut ini, Pemerintah Indonesia
bertindak dengan mengeluarkan peraturan melalui Perpres Nomor 83 Tahun 2018
Tentang Penanganan Sampah Laut. Perpres ini bertujuan untuk menetapkan strategi,
program, dan kegiatan dalam bentuk rencana aksi nasional penanganan sampah laut dari
Tahun 2018-2025. Perpres ini pun menuntut Pemerintah Daerah agar membuat
kebijakan dalam hal percepatan penanganan sampah laut.

Tak terkecuali Kabupaten Merauke yang dalam beberapa tahun belakangan ini
memiliki masalah terhadap sampah laut. Berada di ujung Timur Negara Indonesia,
Merauke merupakan daerah perbatasan langsung dengan negara Papua New Guinea.
Kemajuan pesat yang dicapai dalam hal pembangunan guna peningkatan taraf hidup
masyarakat secara perlahan mulai dirasakan oleh penduduk Kabupaten tersebut.

Bukan hal yang tidak mungkin terjadi apabila pembangunan tersebut ternyata diiringi
oleh kemunduran kemampuan sumberdaya alam sebagai penyangga kehidupan. Di
samping itu, pelaksanaan pembangunan yang makin beragam juga menghasilkan produk
sampingan berupa limbah, sampah dan buangan lainnya. Berbagai upaya telah dilakukan
oleh pemerintah dan pihak yang berwenang dalam rangka pengelolaan limbah sebagai
usaha pencegahan permasalahan mendasar terhadap daerah yang mengalami
perubahan pola hidup masyarakatnya.

3

Tujuan

Pedoman ini digunakan sebagai panduan praktikum dalam melakukan sampling di
kawasan pantai. Hal ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik timbulan sampah pantai
baik sampah yang berukuran meso (0,5 - 2,5 cm) dan makro (> 2,5 cm). Berikut beberapa
informasi yang dapat ditentukan diantaranya:
1) Menentukan komposisi sampah laut berdasarkan jenisnya.
2) Mengetahui berat dan kepadatan sampah laut.

Tahu kah Kamu?

"Bahwa sampah plastik di lautan
telah membunuh sekitar 1 juta

burung laut, ribuan mamalia laut,
penyu dan ikan"

4

Panduan
Sampah Pantai



Metodologi

Metodologi pemantauan sampah laut yang berada di pantai memuat: 1) pemilihan
lokasi; 2) penentuan unit sampling; 3) peralatan; 4) pelaksanaan sampling; dan 5)
pengolahan data dan pelaporan.
1. Pemilihan Lokasi

Pedoman ini dapat digunakan untuk pemantauan di pantai berpasir atau berkerikil.
Pemilihan lokasi pemantauan memerlukan kriteria sebagai berikut:
a) Dapat diakses sepanjang tahun atau musiman (untuk kesinambungan pemantauan);
b) Berpasir atau berkerikil;
c) Tidak terdapat pemecah ombak, jetties, dermaga atau bangunan-bangunan lainnya;
d) Minimum sepanjang 100 m, dan dapat diperpanjang hingga 1000 m sejajar dengan

tepi air
e) Kemiringan landai-moderat (low-moderate 15⁰- 45⁰);
f) Tidak ada aktivitas clean up (bersih-bersih pantai) pada saat yang berdekatan

dengan waktu sampling selama 3 bulan;
g) Tidak ada pengelolaan sampah di lokasi tersebut;
h) Bukan merupakan habitat sensitif, atau tidak terdapat spesies yang terancam yang

mungkin terganggu akibat sampling ini; informasi ini dapat ditanyakan kepada pihak
yang berkompeten dalam bidang konservasi.

7

Gambar 1. Lokasi Sampling yang Tepat (Kiri) dan Tidak Tepat (Kanan)
(Modifikasi dari KLHK RI, 2017)

2. Penentuan Unit Sampling
Unit sampling diletakkan pada area lokasi dengan kriteria di atas, sepanjang 100 –

1000 meter garis pantai hingga ke bagian belakang minimal 5 meter dari garis pantai.
Luasan unit sampling disesuaikan dengan sumberdaya yang ada (waktu dan jumlah
petugas). Tempatkan unit sampling minimal sepanjang 100 m. Jika sampah yang
ditemukan sangat sedikit, unit sampling dapat diperbesar, misalnya sepanjang 500
atau bahkan hingga 1000 m garis pantai.

3. Peralatan
Alat yang dipergunakan dalam kegiatan ini antara lain:

1. Timbangan (yang mampu menimbang/ketelitian sampai dengan (mg / 0,001 gr), atau
tergantung jenis dan berat sampah), dapat pula menggunakan neraca analitik (khusus
sampah meso) dan timbangan lab (untuk sampah makro) jika analisis sampel
dilakukan di laboratorium;

8

Contoh timbangan (mg)

Contoh timbangan untuk di lapangan

Contoh timbangan untuk di lab

Contoh Neraca Analitik

Gambar 2. Contoh-Contoh Timbangan yang Dapat Digunakan
(Dari Berbagai Sumber)

2. Kamera;
3. Kalkulator;
4. Alat penentu koordinat (Global Positioning System /GPS);
5. Meteran gulung dan/atau meteran roda;
6. Serokan/sekop/garpu tanah;
7. Saringan/ayakan sampah ( Ø lubang 0,5 cm dan 2,5 cm);
8. Wadah sampah, dapat berupa nampan, karung, kotak makan, dll sesuai

kebutuhan;
9. Gunting, Cutter/Pisau Lipat sesuai kebutuhan;
10. Sarung tangan;
11. Masker;
12. Bendera/tongkat pembatas;
13. Alat tulis (pensil, clip board, spidol permanen, spidol, penggaris, kertas label);

dan tali (tambang, rafia);
9

4. Pelaksanaan Sampling
4.1. Penentuan Lokasi Transek

Tentukan area transek pada minimal sepanjang 100 m sejajar garis pantai dengan
lebar mengikuti batas belakang pantai (lebar sangat tergantung kondisi lapangan,
minimal 5 meter).

Gambar 3. Penentuan Lokasi Transek (Modifikasi dari KLHK RI, 2017)
4.2. Pembuatan Garis Transek

a) Menentukan area transek minimal sepanjang 100 m sejajar garis pantai dengan
lebar mengikuti batas belakang pantai (lebar sangat bergantung pada kondisi
lapangan, minimal 5 meter). Tali rafia / tambang reusable dan patok dapat dipakai
sebagai tanda batas.

10

b) Membagi 100 meter area tersebut menjadi 5 lajur, dengan masing-masing lajur
berjarak 20 m. Tali rafia/tambang reusable digunakan kembali dan dipatok
untuk memberi tanda batas. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 4. Garis Transek Tampak Atas
(Sumber: Prajanti & Berlianto, 2020)

Gambar 5. Garis Transek Tampak Samping
(Modifikasi dari KLHK RI, 2017)
11

c) Menentukan kotak sub transek dengan ukuran 5x5 m di dalam setiap lajur
20 m. Penempatan kotak sub transek dapat dilakukan secara acak yang
dianggap dapat merepresentasikan kondisi sampah pantai di lokasi terpilih.

Gambar 6. Pembuatan Sub Transek 5x5 m
(Sumber: Prajanti & Berlianto, 2020)

d) Membuat kotak sub sub transek dengan ukuran 1x1 m di dalam setiap
kotak sub transek ukuran 5x5 m sehingga terdapat 25 kotak dalam setiap
lajur 20 m.

Gambar 7. Pembuatan Sub Sub Transek 1x1 m
(Modifikasi dari KLHK RI, 2017)
12

e) Memilih masing-masing 5 kotak dari 25 kotak sub sub transek berukuran
1x1 m dengan sistem random sampling. Penentuan random sampling
dapat menggunakan berbagai macam metode seperti lotre atau
menggunakan bantuan website randomizer.

Gambar 8. Penentuan 5 kotak setelah dirandom
(Modifikasi dari KLHK RI, 2017)

Langkah penentuan random sampling dari 25 kotak sub sub transek diatas
HANYA untuk pengambilan sampel sampah UKURAN MESO.
4.3. Pengambilan, Identifikasi, dan Klasifikasi Sampah
Setelah unit sampling ditentukan dan transek telah dibuat, maka kegiatan yang perlu
dilakukan selanjutnya sebagai berikut:
a) Membuat sketsa denah transek dan sub transek sebagai berikut :

Gambar 9. Sketsa Denah Transek
(Sumber: Prajanti & Berlianto, 2020)

13

Tali Tambang Ikatan Kabel
Patok

Gambar 10. Contoh Alat Membuat Sub dan Sub Sub Transek
(Sumber: Prajanti & Berlianto, 2020)

b) Catat koordinat lokasi pengambilan sampel di lokasi transek dengan
menggunakan GPS.

c) Ambil foto area transek dari 2 sisi yang berbeda sebelum dilaksanakan
sampling.

d) Kumpulkan sampah makro di dalam area sub transek 5x5 m dan
sampah meso 1x1 m pada kedalaman 5 cm.

e) Saring sampah menggunakan saringan sampah dengan ukuran lubang
0,5 cm x 0,5 cm untuk sampah meso, dan saringan dengan ukuran
lubang 2,5 cm x 2,5 cm untuk sampah makro.

f) Pilah dan identifikasi sampah sesuai tabel klasifikasi kemudian catat
hasilnya (Link drive Tabel Klasifikasi https://bit.ly/3djWDDo)

g) Hitung dan timbang sampah per klasifikasi – per sub transek.
h) Catat hasil pengumpulan dan klasifikasi sampah (Formulir PL.01).
i) Mengambil data real time arah arus laut saat dilaksanakan sampling (Hari

H) dan sebelum pelaksanaan sampling (H-24 jam). Peta arus laut dapat
diambil dalam website https://peta-maritim.bmkg.go.id/ofs/# pada bagian
wave mean periode.

5. Pengolahan Data dan Pelaporan

5.1 Pengolahan Data

Data kondisi lapangan dan hasil sampling setelah diklasifikasikan dan

diidentifikasi pada form hasil (Lampiran 1) kemudian diinput dalam format

pengolahan data (https://bit.ly/3djWDDo). Hasil rekapitulasi data sampah pantai

meliputi: 14

a) Berat sampah per meter persegi (M) merupakan total berat sampah per
luasan kotak transek. Data berat sampah per meter persegi (M)
dilaporkan dalam satuan gram per meter kuadrat (g/m2).

M= ℎ ( )
( ) ( )

b) Komposisi sampah dihitung persentase (%), yaitu berat sampah per jenis
per keseluruhan sampah dalam kotak transek.

Presentase (%) = X X 100 %
n

Xi

i=1

X = berat sampah per jenis

c) Kepadatan sampah (K) dihitung dari jumlah sampah per jenis per luasan
kotak transek. Data kepadatan sampah dilaporkan dengan satuan jumlah
sampah per jenis/m2.

Jumlah sampah per jenis

K = panjang (m) x lebar (m)

Perhitungan dibedakan untuk sampah ukuran meso (0,5 cm - 2,5 cm) dan
makro (> 2,5 cm).

15

5.2 Pelaporan
Pelaporan pemantauan sampah laut dilaksanakan setelah seluruh kegiatan
dilaksanakan. Format pelaporan yang digunakan sesuai dengan Lampiran 2
& 3 atau dapat diakses pada link https://bit.ly/3djWDDo.
Secara garis besar, hal-hal yang perlu disajikan dalam laporan mencakup:
a) Nama pantai, akses menuju lokasi sampling (kendaraan, pejalan kaki

dan/atau kapal);
b) Biofisik pantai, termasuk substrat, tebing, dsb;
c) Koordinat maupun tanda-tanda lainnya untuk digunakan sebagai patokan

survei periode berikutnya;
d) Waktu dan jarak pasang surut;
e) Kemiringan pantai;
f) Kegiatan maupun penggunaan lahan di sekitar lokasi;
g) Habitat atau biota yang sensitif, atau kawasan konservasi di sekitar lokasi;
h) Musim, waktu badai, gelombang, arah arus laut, atau informasi cuaca

lainnya yang dianggap penting;
i) Peruntukan pantai (misalnya rekreasi-berenang, memancing, nelayan,

selancar, akses kapal, pusat latihan tempur, dll), lengkapi pula dengan
estimasi jumlah pengunjung per tahun;
j) Estimasi sumber atau pencetus sampah, apakah ada desa dan sungai
terdekat;
k) Kegiatan pembersihan sampah yang mungkin ada sebelumnya.

16

Lampiran

Lampiran 1. Form Pencatatan Hasil Pengumpulan dan Klasifikasi Sampah Pantai

Formulir Hasil

Kode Sub Transek : A Jenis Sampah : Makro
Kode Sub Sub Transek : 
Deskripsi Jumlah  
Kode (Per Jenis)
Botol Plastik Kecil Berat (g)
PL 02 Plastik lainnya 15
PL14 Kaca lampu 20 1,5
GC04 Busa 5 2,1
FP01 Pecahan kaca 4 4,3
GC07   7 0,54
    3,1
   
dst  
 

17

Lampiran 2. Form Informasi Pantai

Formulir Pelaksana Praktikum  
Informasi Pantai Kelompok  
Tanggal Praktikum  
Informasi Umum
Nama Pantai  
Alamat  
Desa/Kelurahan  
Kecamatan  
Kabupaten  
Provinsi  
Koordinat Pantai  

Karakteristik Pantai  
 
Panjang area pantai  
 
Lebar area pantai
 
Slope garis pantai
 
Tipe pantai (berpasir, berbatu,
dll)

Jarak pasut max & min diukur
dari batas pantai (informasi dari
masyarakat setempat atau data
dari Pushidros)

Arah pantai (Utara, Timur,
Selatan, Barat, dll)

18

Lampiran 3. Form Pelaksanaan Praktikum

Pelaksanaan Pemantauan Pelaksana Praktikum  
Nama Pantai Kelompok
Tanggal Praktikum  
Koordinat  
Transek Lat: Titik A1  
Long: Titik E1 Titik A2
Panjang Transek (m) Lat:
Lat: Long:  Titik E2
Long:
Lat: Selesai
Lebar Transek (m) Long: 
 
Waktu Praktikum Mulai  
Musim saat dilaksanakan
praktikum (Angin barat, Angin    
timur, Peralihan 1 atau 2)
1.  
Nama Anggota Kelompok 2.
3. 6.
4. 7.
5. 8.
9.
10.

Foto Transek

19

Lampiran 4. Contoh Sampel Sampah Laut

Jenis Sampah Keterangan

Sampah berjenis serpihan plastik dan
plastik busa

Kemasan makanan dan minuman
berbahan dasar plastik

Botol minuman baik itu berbahan
dasar plastik dan juga kaca.

Puntung rokok merupakan salah satu
penyumbang sampah terbesar di
pantai.

Jaring ikan, pelampung, dan umpan
buatan (minnow) sering ditemukan
terdampar di pantai.

Lebih lengkapnya Klasifikasi Sampah Laut dapat dilihat pada link
berikut ini https://bit.ly/3djWDDo

20

Karena

Di Laut

Kita Jaya

"Jalesveva Jayamahe"

"450 tahun dibutuhkan untuk
mendegradasi botol plastik di
lingkungan, sedangkan botol
kaca memerlukan lebih dari

1000 tahun"

Post Test..!!
1) Apa yang anda ketahui tentang sampah laut?
2) Apa dampak dari sampah laut terhadap perairan?

Daftar Pustaka

Cheshire, A. & Adler, A. 2009. UNEP/IOC Guidelines on Survey and
Monitoring of Marine Litter. UNEP, Regional Seas Reports and
Studies No. 186, IOC Technical Series No. 83.

Derraik, J. G. B., 2002. The Pollution Of The Marine Environment By Plastic
Debris: A Review. Marine Pollution Bulletin 44. 11 hal.

Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, 2017. Pedoman
Pemantauan Sampah Pantai. Direktorat Pengendalian Pencemaran
Dan Kerusakan Pesisir Dan Laut. 52 hal.

Lippiat, S., Opfer, S. & Arthur, C., 2013. Marine Debris Monitoring And
Assessment: Recommendations for Monitoring Debris Trends In
The Marine Environment. NOAA Marine Debris Program. 88 hal.

NOAA. 2013. Marine Debris Monitoring and Assessment: Recommendations
for Monitoring Debris Trends in the Marine Environment. NOAA
Marine Debris Program National Oceanic and Atmospheric
Administration U.S. Department of Commerce Technical
Memorandum NOS-OR&R-46.

Pelamatti, T., Fonseca-Ponce, I. A., Rios-Mendoza, L. M., Stewart, J. D., Marin-
Enriquez, E., Marmolejo-Rodriguez, A. J., Hoyos-Padilla, E. M., Galvan-
Magana, F., & Gonzales-Armas, R., 2019. Seasonal Variation In The
Abundance Of Marine Plastic Debris In Banderas Bay Mexico.
Marine Pollution Bulletin 145. 7 hal.

Prajanti, A. & Berlianto, M. 2020. Pedoman Pemantauan Sampah Pantai.
Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan
Laut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

22


Click to View FlipBook Version