BAHAN AJAR
IKATAN ION
Ikatan Ion 1
1. IDENTITAS BAHAN AJAR
a. Nama Mata Pelajaran : Kimia
b. Kelas :X
c. Semester : 1 (Satu)
d. Alokasi Waktu : 1 X Pertemuan (2 JP)
e. Materi Pokok : Ikatan Kimia
f. Sub Materi : Ikatan Ion
2. PETUNJUK PENGGUNAAN BAHAN AJAR
1. Baca tujuan pembelajaran yang tercantum pada bahan ajar
2. Dengan bimbingan guru, diskusikan informasi/ gambar untuk memecahkan
masalah.
3. Berdasarkan pemahaman terhadap model dan informasi, maka jawablah
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
4. Setiap kelompok masing-masing melakukan penyelidikan terhadap analisis
masalah tersebut (mendiskusikan dan memecahkam masalah yang ditemukan
dalam kelompok) yang diberikan dalam bahan ajar, guru bertindak sebagai
fasilitator.
5. Setiap kelompok diharuskan menyampaikan kesimpulan hasil laporan percobaan
kelompoknya dan kelompok lain diminta untuk menanggapi, sedangkan guru
melakukan analisis, evaluasi, serta penguatan terhadap penyelidikan siswa sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
Ikatan Ion 2
Kompetensi Dasar:
3.5 Membandingkan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan
ikatan logam serta kaitannya dengan sifat zat
4.5 Merancang dan melakukan percobaan untuk menunjukkan karakteristik
senyawa ion atau senyawa kovalen (berdasarkan titik leleh, titik didih, daya
hantar listrik atau sifat lainnya)
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.5.1 Menjelaskan cara atom dari unsur selain gas mulia untuk mencapai kestabilan
3.5.2 Menganalisis proses terbentuknya ikatan ion
3.5.3 Menganalisis sifat-sifat senyawa ion
4.5.1 Menggambarkan struktur lewis suatu unsur
4.5.2 Menggambarkan proses terbentuknya ikatan ion
Tujuan Pembelajaran:
Peserta didik menunjukkan kekaguman terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan
menunjukkan perilaku ilmiah : rasa ingin tahu (curiosity), jujur, teliti, cermat dan
tekun dalam aktivitas sehari-hari.
Pertemuan 1:
Melalui kegiatan studi pustaka dan mencari informasi, peserta didik dapat:
1. Menjelaskan cara atom dari unsur selain gas mulia untuk mencapai kestabilan
bila disajikan data nomor atom dan konfigurasi elektron dengan teliti.
2. Menuliskan struktur lewis dari suatu atom dengan benar
3. Menganalisis proses terbentuknya ikatan ion suatu senyawa dengan benar
4. Menggambarkan proses terbentuknya ikatan ion dengan benar
5. Menganalisis sifat-sifat senyawa yang berikatan ion
Daftar Rujukan
Purba, Michael. 2016. Kimia untuk SMA/MA untuk Kelas X. Jakarta: Erlangga
Rahardjo, Sentot Budi. 2016. Buku SIswa Kimia Berbasis Eksperiment 1. Solo :
Tiga Seragkai
Sudarmo, Unggul. 2013. Kimia untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Ikatan Ion 3
Kegiatan Belajar 1
MOTIVASI
Mempelajari ikatan kimia adalah bagian dari mengagumi kebesaran Allah SWT. Alam semesta
beserta isinya merupakan ayat-ayat kauniyah atas tanda-tanda kebesaran Allah SWT Sang
Pencipta. Sebagaimana diketahui bahwa molekul terbentuk dari penggabungan atom-atom
dengan proses pembentukan ikatan kimia. Elektron merupakan pemegang peranan penting dalam
proses terbentuknya ikatan kimia. Proton dan elektron merupakan partikel dasar penyusun atom
yang muatannya berlawanan. Pasangan sifat ini tersirat dalam Al-Qu’an surat Yasin 36:
Makna “pasangan” di sini bukan hanya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan
betina, sebagaimana telah tercantum di ayat di atas. Selain itu juga ada kalimat “maupun dari apa
yang tidak mereka ketahui” hal ini menjelaskan makna “pasangan” memiliki cakupan makna
yang lebih luas. Hal tersebut ternyata sesuai dengan hasil analisis Ilmuan dari Inggris yaitu Paul
Dirac yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan bahkan dari level atomik.
Paul Dirac diaugerahi hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuannya disebut juga
“parite” yang menyatakan bahwa materi itu berpasangan. “setiap partikel memiliki anti partikel
dengan muatan berlawanan yaitu elektron dan proton”.
Ikatan Ion 4
Pada kegiatan pembelajaran kali ini, kita akan mempelajari mengenai Ikatan kimia. Seperti yang
pernah kita pelajari sebelumnya bahwa atom adalah bagian terkecil dari alam semesta. Atom-
atom tersebut membentuk senyawa dan molekul. Senyawa ataupun molekul tersebut terbentuk
dalam suatu ikatan kimia..
FENOMENA
Problem Statement
Berdasarkan fenomena di atas, Kenapa unsur-unsur selain gas mulia cenderung
berikatan dengan unsur lain? Bagaimana cara unsur-unsur berikatan agar mencapai
kestabilan?
Untuk menjawab fenomena
tersebut, mari kita pelajari
materi berikut
Ikatan Ion 5
KESTABILAN ATOM
Kestabilan Atom Jika diamati di antara atom-atom di alam, hanya atom gas mulia
yang stabil sedangkan atom yang lain tidak stabil. Atom-atom yang tidak stabil tersebut
cenderung bergabung dengan atom lain untuk mendapatkan kestabilan.
Mengapa atom gas mulia stabil sedangkan atom yang lain tidak stabil?
Kossel dan Lewis berpendapat bahwa pada dasarnya, sifat unsur ditentukan oleh
bagaimana elektron-elektron dalam atom tersebut tersusun. Oleh karena itu, maka dicarilah
hubungan antara konfigurasi elektron dengan kestabilan atom. Untuk lebih jelasnya, simak
konfigurasi elektron gas mulia yang merupakan atom-atom stabil berikut.
Dari konfigurasi elektron tersebut, Kossel dan Lewis membuat kesimpilan bahwa
konfigurasi elektron atom-atom akan stabil bila jumlah elektron terluarnya 2 (duplet) atau 8
(oktet). Untuk mencapai keadaan stabil seperti gas mulia, maka atom-atom membentuk
konfigurasi elektron seperti gas mulia. Untuk membentuk konfigurasi elektron seperti gas
mulia, dapat dilakukan dengan cara membentuk ion atau membentuk pasangan elektron
bersama.
Suatu atom akan melepas atau mengikat elektron. Atom-atom yang mempunyai energi
ionisasi rendah, misalnya atom-atom dari unsur golongan IA dan IIA dalam sistem periodik
unsur, akan mempunyai kecenderungan untuk melepaskan elektronnya, sedangkan atom-
atom yang mempunyai afinitas elektron yang besar, misalnya atom-atom unsur golongan
VIA dan VIIA dalam sistem periodik unsur akan cenderung mengikat elektron
Ikatan Ion 6
Perhatikan gambar berikut:
Atom 11Na memiliki konfigurasi elektron: 1s22s22p63s1 . Untuk mencapai kestabilan,
atom Na lebih mudah melepaskan satu elektron valensinya dibandingkan menerima
elektronnya agar mencapai konfigurasi oktet. Akibat hilangnya 1 elektron tersebut maka
atom Na menjadi ion bermuatan +1 (kation) karena terdapat 11 proton pada inti dan 10
elektron di sekitar inti.
Sementara, atom Cℓ yang memiliki nomor atom 17 dengan konfigurasi elektron
1s22s22p63s23p5 cenderung menerima satu elektron untuk mencapai konfigurasi oktet. Oleh
karenanya atom Cℓ membentuk ion Cℓ- karena terdapat 17 proton dalam inti dan 18 elektron
di sekitar inti.
STRUKTUR LEWIS
Struktur Lewis atau sering disebut simbol Lewis adalah suatu pola atau diagram yang
menggambarkan jumlah elektron valensi dari atom-atom yang akan membentuk ikatan kimia.
Struktur lewis ini berbentuk titik, silang atau bulatan-bulatan yang mengelilingi lambang
atomnya, baik atom tunggal maupun atom-atom yang berikatan.
Ikatan Ion 7
IKATAN KIMIA
Istilah ikatan kimia antara dua atom atau lebih muncul oleh karena bergabungnya
atom-atom yang bersangkutan dalam membentuk senyawa. Gagasan pembentukan ikatan ini
umumnya diarahkan pada pembentukan konfigurasi elektronik yang lebih stabil. Sampai
dengan saat ini, konfigurasi elektronik atom unsur-unsur gas mulia dianggap sebagai ukuran
kestabilan suatu spesies karena gas mulia jauh lebih sukar bergabung dengan atom unsur lain,
meskipun akhir-akhir ini telah ditemukan beberapa senyawa gas mulia. Sifat kestabilan
kelompok gas mulia tercermin pada harga energi ionisasinya yang sangat tinggi, tertinggi
dalam periode, dan afinitas elektronnya yang sangat rendah, terendah dalam periode.
G.N. Lewis mengemukakan bahwa atom bergabung untuk mencapai konfigurasi
elektron yang lebih stabil, yakni mengikuti konfigurasi gas mulia. Berikut ini merupakan
beberapa ide yang diterapkan dalam teori lewis yaitu:
1. Elektron pada kulit terluar atau disebut juga elektron valensi yang memegang peranan
penting dalam ikatan kimia.
2. Untuk mencapai konfigurasi elektron yang stabil, suatu atom melakukan ikatan kimia
dengan atom lain melalui dua cara, yaitu pertama dengan cara serah terima atau
transfer elektron valensi dan kedua dengan cara pemilikan/pemakaian bersama
pasangan elektron "sekutu" (sharing) atau “patungan” dari elektron valensi atom-atom
penyusunnya.
3. Ikatan kimia melalui serah-terima atau transfer elektron menghasilkan ion positif
(kation) bagi atom yang melepas elektron, dan ion negatif (anion) bagi atom yang
menerima elektron. Dengan demikian, ikatan yang terjadi antara keduanya karena
gaya elektrostatik. Ikatan kimia seperti ini disebut ikatan ionik.
4. Ikatan kimia yang melibatkan pemakaian elektron secara bersama diantara atom-atom
disebut sebagai ikatan kovalen. Pasangan elektron yang dipakai bersama terbentuk
oleh atom-atom yang berikatan, dapat berasal dari kedua atom yang bergabung atau
dapat pula berasal dari salah satu atom yang bergabung. Hal ini terjadi pada unsur
yang memiliki kelektronegatifan tinggi yang cenderung untuk menarik elektron.
Konfigurasi elektron dapat lebih stabil dicapai dengan cara memasangkan elektron
valensinya. Jumlah elektron yang dipasangkan sesuai dengan keadaan paling stabil
yang mungkin dicapai.
Ikatan Ion 8
IKATAN ION
Ikatan ion terbentuk akibat adanya gaya tarikan elektrostatis antar ion-ion yang
memiliki muatan yang berlawanan dalam suatu senyawa kimia. Ikatan ionik terjadi dengan
cara transfer elektron, maka dapat diramalkan bahwa unsur-unsur golongan alkali (elektron
valensi ns1) dan alkali tanah (elektron valensi ns2) mempunyai kecenderungan yang cukup
kuat untuk membentuk ikatan ionik dengan unsur-unsur golongan halogen (elektron valensi
ns2 np5) dan oksigen (elektron valensi ns2 np4).
Atom 11Na memiliki konfigurasi elektron: 1s22s22p63s1 . Untuk mencapai kestabilan,
atom Na lebih mudah melepaskan satu elektron valensinya dibandingkan menerima
elektronnya agar mencapai konfigurasi oktet. Akibat hilangnya 1 elektron tersebut maka
atom Na menjadi ion bermuatan +1 (kation) karena terdapat 11 proton pada inti dan 10
elektron di sekitar inti.
Sementara, atom Cℓ yang memiliki nomor atom 17 dengan konfigurasi elektron
1s22s22p63s23p5 cenderung menerima satu elektron untuk mencapai konfigurasi oktet. Oleh
karenanya atom Cℓ membentuk ion Cℓ- karena terdapat 17 proton dalam inti dan 18 elektron
di sekitar inti.
Ikatan Ion 9
Terbentuknya senyawa NaCℓ melalui pembentukan ikatan ion terjadi karena atom
natrium (Na) mendonorkan salah satu elektronnya kepada atom klor (Cℓ), sehingga
menghasilkan Na+ (kation) dan Cl- (anion) yang kemudian menyebabkan terjadilah gaya tarik
menarik (gaya elektrostatis) antara ion positif dengan ion negatif tersebut. Peristiwa ini
disebut serah terima elektron atau transfer elektron. Contoh lain senyawa ionik adalah NaF,
Na2O, MgF2, dan MgO yang mengadopsi konfigurasi elektron valensi gas mulia terdekat, Ne.
Ikatan Ion 10
SIFAT SENYAWA ION
Beberapa sifat senyawa ion antara lain:
a. Kristalnya keras tetapi rapuh
Ketika senyawa ion dipukul, maka terjadi pergeseran posisi ion positif dan negatif, dari
yang semula berselang-seling menjadi berhadapan langsung. Hal ini menyebabkan ion
positif bertemu muka dengan ion positif dan terjadi gaya tolak-menolak. Inilah yang
menyebabkan kristal senyawa ion bersifat rapuh.
b. Mempunyai titik lebur dan titik didih yang tinggi
Hal ini disebabkan karena kuatnya gaya elektrostatis yang ditimbulkan antara ion positif
dan ion negatif.
c. Mudah larut di dalam air
Ketika senya ion dimasukkan ke dalam air, maka molekul-molekul air akan menyusup di
antara ion positif dan ion negatif sehingga gaya tarik-menarik elektrostatis dari ion
positif dan ion negatif akan melemah, dan akhirnya terpecah.
d. Dapat menghantarkan arus listrik
Ion positif dan ion negatif apabila bergerak dapat membawa muatan listrik. Apabila
senyawa ion terpecah menjadi ion positif dan ion negatif serta dapat bergerak secara
leluasa, maka senyawa ion dalam keadaan cair dan larutan dapat menghantarkan
Ikatan Ion 11