Disusun Oleh : Wisnu Wardhana Bahan Ajar Rumah Adat Indonesia Kelas 4 Tema 7 : Indahnya Keragaman di Negeriku Subtema 2 : Indahnya Keragaman Budaya Negeriku
Daftar Isi Krong Bade Selaso Jatuh Kembar Bubungan Lima Baloy Radakng Lamin Jolopong Joglo Osing Dulohupa Boyang Tongkonan Honai Baileo Sasadu Daftar Isi KD dan IPK Tujuan Pembelajaran A.Rumah Adat Sumatra B. Rumah Adat Kalimantan C. Rumah Adat Jawa D. Rumah Adat Sulawesi E. Rumah Adat Maluku dan Papua Soal Evaluasi
KD dan IPK
Tujuan Pembelajaran Dengan berdiskusi kelompok, siswa mampu menjelaskan tentang bentuk, bahan pembuatan, dan keunikan dari rumah adat daerah mereka dengan tepat.. Dengan mengamati beberapa gambar rumah adat di Indonesia, siswamampu menunjukkan cerita daerah asal dan keunikan dari setiap rumah adat secara lisan dan tertulis dengan tepat
Rumah Adat Sumatra Jam Gadang, Bukittinggi
Krong Bade (Aceh) Rumah Krong Bade berbentuk persegi panjang yang memanjang dari timur ke barat. Rumah ini memiliki tangga di depan rumah yang berfungsi untuk masuk ke dalam rumah. Tinggi tangga tersebut sekitar 2,5-3 meter dari permukaan tanah. Rumah Krong Bade memiliki bahan dasar yaitu kayu. Rumah Krong Bade juga memiliki banyak ukiran pada dinding rumahnya. tetapi banyaknya ukiran pada Rumah Krong Bade bergantung dari kemampuan ekonomi pemilik rumah. 6
Selaso Jatuh Kembar (Riau) Selaso jatuh kembar sendiri bermakna rumah yang memiliki dua selasar (selaso, salaso) yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah. Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar memiliki bentuk khusus. Bangunan rumah ini memiliki keliling yang selaras antara penyangganya dengan lantai yang lebih rendah. rumah adat ini juga dipercantik dengan berbagai macam ukiran dengan bentuk tumbuhan dan hewan. Masing-masing ukiran memiliki makna dan nama yang berbeda-beda. Rumah adat Selaso Jatuh Kembar berbentuk panggung dan biasanya berjumlah genap serta memiliki tinggi sekitar 1 hingga 2,5 meter. Di mana dengan empat persegi panjang dan terbuat dari kayu. 8
Bubungan Lima (Bengkulu) Ciri khas rumah adat Bubungan Lima ini salah satunya terletak dari bentuk atapnya yang tampak seperti limas yang bertumpuk-tumpuk. Bahan pembuat atapnya adalah ijuk pohon enau. Namun seiring berjalannya waktu, bahan pembuat atap sudah berganti dengan seng. Rumah Bubungan Lima memiliki tiang yang menampung badan rumah. Ada sekitar 15 tiang dengan ukuran kurang lebih 1,8 meter yang menopang rumah ini. Karena memiliki banyak tiang penopang, maka rumah ini bisa tahan dengan gempa. Keunikan lain rumah ini terletak pada anak tangganya. Anak tangga rumah Bubungan Lima selalu berjumlah ganjil yang berkaitan dengan kepercayaan adat setempat. Biasanya kayu yang digunakan untuk membuat rumah Bubungan Lima adalah kayu medan kemuning. Dibangun tidak menggunakan paku, melainkan pasak kayu. Lantainya berlapis-lapis dengan papan dan pelupuh, atap ijuk enau dan surian (sirap).
Rumah Adat Kalimantan Monumen Equator, Pontianak
Rumah Baloy (Kalimantan Utara) Dari segi bangunan, rumah Baloy berbentuk rumah panggung. Biasanya, rumah adat ini dibangun menghadap ke arah utara dengan pintu utama menghadap ke selatan. Atapnya dihiasi ukiran yang menggambarkan kehidupan laut suku Tidung. Warna emas mendominasi perabotan yang ada di rumah adat ini. Mulai dari kursi hingga bilik singgasana karena rumah ini juga dibangun untuk kepentingan adat. Untuk membangun rumah adat Kalimantan Utara, masyarakat menggunakan kayu ulin. Kayu tersebut memang sangat mudah ditemukan di hutan Kalimantan sehingga tidak heran kalau masyarakat sekitar memanfaatkannya. Rumah ini tidak dipakai untuk tinggal sehari-hari, tetapi menjadi rumah bersama yang dipakai untuk acara pertemuan adat atau pertunjukan kesenian
Rumah Radakng (Kalimantan Barat) Rumah Radakng memiliki panjang 138 meter dengan lebar 30 meter dan tinggi 7 meter. Karena bentuknya yang memanjang, rumah Radakng ini juga biasa dijuluki rumah panjang. Rumah ini memiliki kolong atau pondasi rumah yang tinggi. Pondasi yang tinggi ini dimaksudkan untuk perlindungan binatang buas dan musuh.Rumah ini juga dilengkapi tangga yang disebut “hejot”. Hejot terbuat dari kayu. Menurut kepercayaan orang Dayak, hejot harus berjumlah ganjil. Setiap bagian depan rumah Radakng mengarah ke matahari terbit, sedangkan bagian belakangnya menghadap ke arah matahari terbenam. Hal ini melambangkan kerja keras dalam mengarungi kehidupan, mulai ari matahari terbit hingga terbenam. 19
Rumah Lamin (Kalimantan Timur) Bentuk rumah adat Lamin mengadopsi konsep rumah panggung yang tinggi kolongnya mencapai 3 meter. Bangunan Lamin menggunakan bahan material kayu ulin yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang sangat baik. Lantai rumah adat Lamin terbuat dari empat lapisan kayu yang dihubungkan melalui ikatan yang terhubung pada lubang-lubang kecil pada setiap lembaran lapisan. Rumah adat Lamin memiliki pintu yang terhubung langsung dengan tangga yang harus dibuat dengan jumlah ganjil, hal ini diyakini dapat membawa keberuntungan dan keselamatan. Anak tangga akan diturunkan pada saat siang hari, dan akan dinaikkan pada saat malam hari. Terdapat 2 macam tiang terdapat di rumah Lamin tersebut, yakni tiang pertama atau tiang inti digunakan untuk menyangga rumah dari bawah sampai atap rumah. Sedangkan tiang kedua merupakan tiang kecil yang menyangga balik lantai panggung. Kedua tiang ini juga dihiasi dengan ukiran patung yang mampu mengusir roh jahat agar tidak masuk ke dalam rumah.
Rumah Adat Jawa Candi Borobudur, Magelang
Rumah Jolopong (Jawa Barat) Rumah Jolopong adalah sebuah rumah panggung yang memiliki jarak dengan tanah setinggi 40-50 cm.Bentuk dari rumah Jolopong ini dianggap sebagai bentuk atap paling tua dan merupakan dasar atap pada rumah adat Sunda. Adapun salah satu karakteristik dari hunian adat ini adalah atapnya yang memanjang dan memiliki bentuk segitiga sama kaki yang tergolek lurus sehingga disebut dengan jolopong (terkulai). rumah dengan atap Jolopong terdiri atas empat ruangan yakni Ruang depan yang disebut dengan emper atau tepas, Ruang samping yang disebut dengan pangkeng, Ruang belakang yang terdiri atas dapur (pawon) dan menyimpan beras (padaringan), Ruang tengah yang disebut dengan imah atau patengahan
Rumah Joglo (Jawa Tengah) Dari segi bentuk bangunannya atap Joglo berbentuk Tajug yang menyerupai gunung. Kemudian itu ciri khas rumah Joglo adalah bentuk atapnya. Atap rumah joglo merupakan gabungan dari dua atap segitiga dengan dua atap trapesium. Atap memiliki sudut kemiringan yang berbeda. Atap Joglo selalu berada di tengah dan dikelilingi oleh atap. rumah joglo ini berbentuk persegi dengan empat tiang di tengahnya. Tiang disebut saka guru. Terdapat juga tiang untuk menopang. Denah rumah ini terbagi menjadi tiga ruang utama, yaitu pendopo untuk menerima tamu, pringgitan untuk menerima tamu dekat atau kerabat, dan omah njero untuk aktivitas keluarga, seperti memasak, menonton TV, dan makan. 28
Rumah Osing (Jawa Timur) Rumah Adat Osing adalah rumah yang terbuat dari kayu dan bambu. Kayu yang digunakan biasanya adalah kayu bendo dan kayu cempaka yang kuat, serta mudah ditemukan di Jawa Timur. Rumah adat Osing berupa susunan 4 tiang kayu dengan sistem tanding tanpa paku, tetapi menggunakan paju atau pasak pipih. Keunikan rumah adat Osing adalah arah menghadapnya rumah ditentukan oleh hari kematian orang tua sehingga bagian depan rumah Osing tidak selalu menghadap ke jalan seperti pada rumahrumah pada umumnya. Rumah Adat Osing termasuk sederhana dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan lantai yang biasanya masih berupa tanah. Kayu pembentuk rumah Osing diukir dengan srengge, bunga pare, selimpet, dan juga kawung yang masing-masing memiliki makna filosofis.
Rumah Adat Sulawesi Rumah Tongkonan, Toraja
Rumah Dulohupa (Gorontalo) Rumah adat Dulohupa adalah balai musyawarah dari kerabat kerajaan. Bentuk panggung rumah adat Gorontalo ini sebagai gambaran badan manusia. Dimana, atap menggambarkan kepala, badan rumah menggambarkan badan, dan penyangga rumah menggambarkan kaki. Bagian atap rumah adat Dulohupa terbuat dari jerami terbalik yang berbentuk seperti pelana. Bentuk atap rumah ini menggambarkan syariat dan adat penduduk Gorontalo. Atap bagian atas menggambarkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan agama yang merupakan kepentingan segalanya. Atap bagian bawah menggambarkan kepercayan terhadap adat istiadat serta budaya. Pada bagian dalam rumah adat Dulohupa bergaya terbuka tanpa sekat. Selain itu, ada anjungan yang digunakan sebagai tempat untuk peristirahatan raja dan keluarga. Rumah adat Gorontalo terdapat banyak pilar kayu yang berfungsi sebagai penyokong rumah panggung. Ada beberapa jenis pilar, yaitu pilar utama atau wolihi sebanyak dua buah, pilar depan sebanyak enam buah, dan pilar dasar atau potu sebanyak 32 buah.
Rumah Boyang (Sulawesi Barat) Rumah Boyang memiliki lantai dan dinding yang terbuat dari papan kayu sebagai bahan utamanya. Rumah Boyang memiliki jendela agar ruangan di dalamnya bisa mendapatkan sirkulasi udara yang baik dan tidak menjadi panas. Atap dari rumah Boyang dibuat agar memiliki bentuk layaknya sebuah prisma yang memanjang dari bagian depan hingga bagian belakang rumah. Dalam sejarahnya atap dari rumah Boyang dibuat dengan menggunakan daun rumbia dan sirap. Bahan rumbia dimanfaatkan karena sangat mudah untuk mendapatkannya dan selain itu juga menyusunnya bisa dilakukan oleh siapa saja dengan mudah. Tiang-tiangnya tidak ditancapkan di tanah, tetapi ditumpangkan di atas batu datar Rumah Boyang juga memiliki beberapa bagian rumah yang disebut sebagai lotang. Setiap bagian rumah tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda.
Rumah Tongkonan (Sulawesi Selatan) Ciri khas utama rumah Tongkonan adalah atap yang melengkung seperti bentuk perahu atau tanduk kerbau. Rumah tongkonan dibagi menjadi tiga tingkat. Paling atas disebut rattiangbanau untuk menyimpan benda pusaka dan berharga. Bagian tengah adalah kale banua yang berisi kamar kepala keluarga, ruang keluarga, dan kamar tidur anak. Bagian terbawah adalah sulluk banua, yaitu tempat untuk memelihara ternak atau menyimpan alat pertanian. Selain memiliki bentuk yang khas, rumah adat Tongkonan Toraja juga memiliki ciri khas empat warna dasar yang memiliki makna-makna tersendiri. Warnawarna dasar tersebut antara lain merah, kuning, hitam dan putih. Makna warna merah, yakni melambangkan kehidupan. Sementara warna kuning berarti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Warna hitam yang berarti kematian. Sedangkan warna putih yang melambangkan warna tulang yang berarti suci atau bersih.
Rumah Adat Maluku dan Papua Desa Wae Rebo, NTT
Rumah Honai (Papua) Rumah Honai merupakan salah satu rumah khas Papua yang hanya dapat temui pada suku Dani tepatnya di lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Rumah ini memiliki ciri khas yaitu berbentuk dasar lingkaran dengan rangka kayu dan beratap kerucut yang terbuat dari jerami. Tinggi rumahnya hanya mencapai 2,5 meter. Uniknya, semua bahannya berasal dari kayu dan jerami atau ilalang. Rumah Honai tidak memiliki jendela dan hanya ada satu pintu. Hal ini bertujuan untuk melindungi dari suhu dingin, mengingat suhu di sana bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam. Sementara bentuk rumah dengan atap menutup hingga ke bawah ini ternyata bertujuan untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak terkena air hujan. Sekaligus dapat meredam hawa dingin agar tidak masuk ke dalam rumah. Satu rumah honai memiliki 2 lantai, menariknya, meskipun mungil di dalam rumah ada dua lantai dengan fungsi yang berbeda.
Rumah Baileo (Maluku) Baileo adalah rumah adat yang dikenal masyarakat sebagai tempat pertemuan atau musyawarah. Rumah adat ini memiliki bentuk rumah panggung dengan banyak tiang penyangga berukir. Material rumah ini berasal dari alam yaitu kayu dan bambu. Atapnya yang berbentuk segitiga terbuat dari daun sagu atau daun kelapa, tiangnya dari batang kelapa, dan lantainya dari papan. Baileo dibangun tanpa paku namun menggunakan kait, ijuk, serta pasak yang terbuat dari kayu. Rumah ini memiliki tangga berukuran 1,5 meter yang mengantar pengunjung masuk ke ruang utama tempat berkumpulnya warga. Secara umum, rumah ini terdiri dari ruang utama sebagai tempat bersosial dan ruang tertutup untuk tempat tinggal.
Rumah Sasadu (Maluku Utara) Rumah Sasadu berbentuk segi delapan yang menunjukkan delapan arah mata angin dan berarti bahwa semua orang dari berbagai penjuru dapat masuk dan Suku Sahu terbuka untuk memberikan bantuan pada siapa saja yang membutuhkannya. Rumah Sasadu dibagun dari kayu dengan banyak tiang tanpa menggunakan paku melainkan dengan sisitem pasak. Rumah Sasadu terdiri dari delapan tiang induk (ngaso o lamo), 12 tiang kerangka atap luar (ngasu u dudu), dan 12 tiang penopang rangka atas (ngasu u taba) yang diletakkan di antara ngasu o lamo dan ngasu u dudu. Uniknya, walaupun Rumah Sasadu terdiri dari banyak tiang, namun rumah ini sama sekali tidak memiliki dinding tetapi memiliki pintu. Pintu paling tengah Rumah Sasadu diperuntukan untuk para pemuka adat, dua pintu khusus digunakan perempuan, dua pintu khusus digunakan laki-laki, dan pintu lainnya dapat digunakan oleh tamu Suku Sahu. Lantai Rumah Sasadu pada zaman dahulu hanya berupa tanah. Atap Rumah Sasadu seperti piramida yang rendah pada bagian samping dan meninggi hingga puncak di bagian tengah. Atap yang rendah dibagian samping membuat orang yang masuk ke Rumah Sasadu harus menunduk, menandakan sopan santun, rasa tunduk terhadap adat, serta kepatuhan pada Yang Maha Kuasa 47
Soal Evaluasi Sebutkan Nama, Asal Provinsi, serta 2 Keunikan dari Rumah adat pada gambar dibawah ini ! Nama : Asal Provinsi : Keunikan Nama : Asal Provinsi : Keunikan
Nama : Asal Provinsi : Keunikan Nama : Asal Provinsi : Keunikan Nama : Asal Provinsi : Keunikan
Terima Kasih