Dasar Konstruksi Bangunan
Daftar Isi
1. Pemasangan Papan Bouwplank…………………………………………………1
2. Sloff…………………………………………………………………………………………..3
3. Jenis kayu………………………………………………………………………………….13
4. Galian tanah………………………………………………………………………………30
5. Keselamatan Kerja……………………………………………………………………..35
6. Plumbing……………………………………………………………………………………43
Cara memasang Bouwplank
• Bouwplank (papan bangunan) berfungsi untuk mendapatkan titik-
titik bangunan yang diperlukan
sesuai dengan hasil pengukuran. Syarat-syarat memasang bouwplank :
1. Kedudukannya harus kuat dan tidak mudah goyah
2. Berjarak cukup dari rencana galian, diusahakan bouwplank tidak
goyang akibat pelaksanaan galian
3. Terdapat titik atau dibuat tanda-tanda.
4. Sisi atas bouwplank harus terletak satu bidang (horizontal) dengan
papan bouwplank lainnya.
5. Letak kedudukan bouwplank harus seragam (menghadap kedalam
bangunan semua)
6. Garis benang bouwplank merupakan as (garis tengah) daripada
pondasi dan dinding batu bata.
Bentuk hasil pemasangan bouwplank dapat dilihat pada gambar berikut
:
Pemasangan Bouwplank
Sloof adalah struktur bangunan yang terletak di atas pondasi bangunan. Sloof berfungsi
mendistribusikan beban dari bangunan atas ke pondasi, sehingga beban yang tersalurkan
setiap titik di pondasi tersebar merata. Selain itu sloof juga berfungsi sebagai pengunci
dinding dan kolom agar tidak roboh apabila terjadi pergerakan tanah.
Sebagai tambahan pada sloof, untuk bangunan tahan terhadap gempa maka
disempurnakan pada ikatan antara sloof dengan pondasi yaitu dengan memberikan
angker dengan beri diameter 12 mm dengan jarak 1,5 meter. namun angka ini dapat
berubah untuk bangunan yang lebih besar atau bangunan bertingkat banyak.
Secara singkat, sloof adalah beton bertulang yang diletakkan secara horisontal di atas
pondasi. Kesimpulannya, Sloof berfungsi mendistribusikan beban dari atas (dinding dan
kolom) untuk disalurkan ke pondasi. Sehingga semua beban yang terdistribusikan ke
dalam pondasi kurang lebih sama. Selain itu Sloof berfungsi sebagai pengikat antara
dinding, kolom dan pondasi.
Definisi Sloof
Sloof merupakan jenis konstruksi beton bertulang yang sengaja di desain khusus luas
penampang dan jumlah pembesiannya disesuaikan dengan kebutuhan beban yang akan
dipikul oleh sloof tersebut nantinya. Untuk menentukan luas penampang (ukuran sloof
ini), dibutuhkan perhitungan teknis yang tepat agar sloof tersebut nanti “benar-benar
mampu” untuk memikul beban dinding bata diatasnya nanti. Untuk itu, ada baiknya kita
menggunakan jasa konsultan untuk menghitung dan mendesain dimensi sloof ini.
ilustrasi tie beam
Sloof adalah elemen penting dalam struktur yang berada pada dasar struktur tersebut,
sloof serupa dengan balok namun perbedaannya terletak pada tempatnya saja.
Sloof sebagian besar sekarang di pakai adalah dari beton bertulang yang di hitung sesuai
dengan ketentuan pondasi yang ada dengan dasar mengunakan SNI sebagai sumber
acuan perhitungan.
Fungsi Sloof
Fungsi sloof sangat penting dalam struktur, diantaranya sebagai penahan beban yang
ada di atasnya seperti dinding, jendela, kusen untuk di salurkan ke ujung-ujungnya atau
ke bagian pondasi sehingga pondasi tidak langsung menerima beban dari atas.
letak sloof sebagai penahan dan pengikat
Sloof berfungsi untuk memikul beban dinding, sehingga dinding tersebut “berdiri” pada
beton yang kuat, sehingga tidak terjadi penurunan dan pergerakan yang bisa
mengakibatkan dinding rumah menjadi retak atau pecah. Selain itu Sloof juga memiliki
fungsi sebagai berikut:
1. Menerima beban dari bagian bangunan diatasnya, seperti pasangan dinding, pintu, jendela, dan
sejenisnya.
2. Meratakan beban yang diterima dari bangunan diatasnya untuk kemudian disalurkan menuju
pondasi.
3. Sebagai pengikat antar kolom sehingga struktur bangunan menjadi kaku dan aman terhadap
goncangan akibat angin, gempa, dan lain-lain.
4. Sebagai dinding penahan material urugan tanah, pasangan keramik dan berbagai macam pekerjaan
lantai bangunan agar bisa tetap berada pada posisi yang direncanakan.
5. Sloof juga bisa difungsikan sebagai ornamen untuk memperindah arsitektur bangunan, terutama
sloof yang lokasinya diatas permukaan tanah sehingga bisa langsung terlihat oleh orang.
Selain itu, dari segi sosial, dengan adanya sistem struktur sloof maka beberapa orang
bisa memperoleh pendapatan, ada tukang bangunan yang mendapatkan upah kerja, ada
pengusaha besi begel yang mendapat keuntungan dari penjualan, ada toko bangunan
yang mendapatkan laba dari hasil penjualan material, ada juga arsitek atau insinyur yang
mendapatkan penghasilan dari kegiatan menghitung, merancang dan melaksanakan
pembangunan.
Macam-Macam Sloof
Berikut ini beberapa macam sloof yang biasa di pakai oleh masyarakat Indonesia pada
umumnya, diantaranya sebagai berikut:
1. Konstruksi Sloof dari Beton Bertulang
sloof beton bertulang
Konstruksi sloof ini bisa digunakan di atas pondasi batu kali apabila pondasi tersebut
dimaksudkan untuk rumah atau gedung (bangunan) tidak bertingkat dengan
perlengkapan kolom praktis pada jarak dinding kurang lebih 3 m. Untuk ukuran lebar /
tinggi sloof beton bertulang adalah > 15/20 cm. Konstruksi sloof dari beton bertulang
juga bisa dimanfaatkan sebagai balok pengikat pada pondasi tiang.
2. Konstruksi Sloof dari Batu Bata
sloof batu bata
Rollag dibuat dari susunan batu bata yang di pasang dengan cara melintang dan diikat
dengan adukan pasangan (1 bagian portland semen : 4 bagian pasir). Konstruksi rollag
ini tidak memenuhi syarat untuk membagi beban.
3. Konstruksi Sloof dari Kayu
ilustrasi sloof dari kayu
Konstruksi rumah panggung dengan pondasi tiang kayu (misalnya di atas pondasi
setempat), sloof dapat dibentuk sebagai balok pengapit. Jika sloof dari kayu ini terletak
di atas pondasi lajur dari batu atau beton, maka dipilih balok tunggal.
Metode Pelaksanaan Sloof
Dalam pengerjaan sloof pada bangunan proyek, pengerjaan sloof mempunyai metode
pelaksanaan sesuai dengan gambar kerja. Berikut langkah-langkah dalam pekerjaan
sloof:
1. Menyiapkan Papan Bekisting, Besi Beton, dan Job Mix Design dan Job Mix Formula untuk
pekerjaan sloof.
2. Menyiapkan sepatu kolom. Fungsinya agar bekisting tepat berada pada titik koordinatnya sesuai
dengan gambar perencanaan. Sepatu kolom biasanya menggunakan besi stek yang dibor pada lantai.
3. Melakukan perakitan besi sesuai dengan soft drawing.
4. Memasang bekisting sloof, jangan lupa beton decking atau tahu beton penyangga besi tulangan.
Tujuan beton decking ini untuk menjaga jarak selimut beton agar tidak berubah selama proses
pengecoran.
5. Memasang sabuk sloof pada bekisting kolom untuk memperkuat. Ukuran sloof yang digunakan
relative sesuai dengan Soft Drawing. Untuk mengunci sloof tersebut harus menggunakan tie rod.
Tie rod bisa dibuat sendiri atau membeli yang sudah jadi. Jika ingin membuat sendiri bisa
menggunakan as drat ukuran 10 mm, besi ulir 10 mm dan plat besi tebal 3-5 mm. Jarak sloof sangat
tergantung dari jarak pasangan kolom. Apabila jarak kolom sekitar 3-4 m maka jumlah sabuk sloof
2 dengan jarak dibagi rata. Namun jika jarak kolom lebih dari 4 m maka menyesuaikan dengan
prinsip semakin ke bawah jarak sabuk semakin pendek karena bebannya lebih besar di bawah.
6. Memasang pipa support Untuk menjaga horizontal dari sloof terhadap kolom.Untuk mendapatkan
sloof struktur yang sempurna, bekisting tidak boleh miring ataupun goyang saat pengecoran Oleh
karena itu pemasangan pipa support dinilai sangat penting.
7. Setelah komponen bekisting dan besi serta celah bekisting dirapatkan dan mendapatkan persetujuan
dari direksi, maka dilakukanlah pengecoran beton sesuai dengan jenis beton yang diinginkan. Untuk
hasil pengecoran merata harus dibantu dengan menggunakan alat concreate vibrator.
Untuk metode pemasangan dan pengecoran sloof untuk rumah pada umumnya dapat
dilihat dibawah ini:
1. Setelah pondasi batu kali telah selesai dicor, selanjutnya buatlah anyaman sloof langsung diatas
pondasi. Mengapa, sebab besi sloof harus masuk kepada tiang kolom sehingga membentuk ayaman.
Besi yang biasa digunakan untuk sloof biasanya berukuran 8 mm ke atas. Semakin besar, semakin
kuat.
2. Setelah anyaman sloof berhasil dibuat, buatlah papan bekisting untuk sloof. Cara pembuatannya
yaitu ambil dua buah papan bekisting dan satukan dengan kayu kaso. Jarak lebar antara papan
bekisting adalah sebesar bata yang akan digunakan. Bahkan para tukang biasanya langsung
mengambil bata saat pemakuan papan beskisting.
3. Jika papan bekisting telah dibuat, simpanlah papan bekisting diatas pondasi batu kali. Posisi besi
sloof harus ditengah papan bekisting, sehingga coran bisa menutupi besi sloof.
4. Pergunakan juga papan kaso untuk menyetel posisi papan bekisting sloof dan gunakan pula kertas
bekas pembungkus semen untuk menutup celah sehingga coran sloof tidak keluar.
5. pemasangan bekisting sloof
6. Setelah papan bekisting dipasang, selanjutnya adalah membuat coran. Takarannya adalah 1:2:3,
yang artinya satu untuk semen, dua untuk split dan tiga untuk pasir. Pergunakan air secukupnya. Di
lapangan takaran air biasanya cukup encer, dengan maksud beton yang encer akan bisa mengisi
ruang-ruang sloof sehingga hasilnya akan lebih mulus.
pengecoran sloof
7. Saat coran masuk kepada papan bekisting sloof pergunakan palu dari kayu untuk diketuk-ketuk.
Pergunakan pula besi untuk ditusuk-tusuk, gunanya agar coran memasuki setiap ruang dari sloof.
8. Diamkan selama 1 sampai 3 hari sampai mengering dan papan bekisting sloof bisa dibuka yang
kemudian hasilnya bisa anda lihat sendiri.hasil cetakan sloof
JENIS-JENIS KAYU UNTUK KONSTRUKSI BANGUNAN
Jenis-Jenis Kayu Untuk Konstruksi Bangunann
Kayu merupakan material bangunan yang berasal dari bilah-bilah pohon. Kayu
banyak digunakan sebagai bahan bangunan karena memiliki sifat yang mudah
dibentuk namun tetap kuat dan mudah didapatkan. Bahan bangunan tersebut sering
digunakan untuk elemen-elemen struktur dan arsitektur pada rumah tinggal seperti
kuda-kuda, reng, usuk, pintu kayu, jendela dan lainnya. Kendati mudah ditemukan,
namun tidak semua kayu tentu baik digunakan sebagai material bangunan. Kayu
harus memenuhi kriteria tertentu agar tidak berbahaya ketika nantinya bangunan
digunakan.
Kendati saat ini sudah banyak bangunan yang terdiri dari material besi maupun
semen, namun bangunan dengan material kayu tentu tidak sepenuhnya kehilangan
peminatnya. Beberapa orang masih membuat rumah dengan kayu agar dapat
mengusung tema klasik dari bangunan. Hal ini membuat permintaan pasar terhadap
jenis-jenis kayu yang baik untuk bangunan semakin tinggi.
Selain digunakan sebagai material yang terpasang, kayu juga menjadi material
pendukung pekerjaan struktur pada bangunan gedung seperti pada pembuatan
bekisting balok, pelat dan kolom. Beberapa material yang digunakan sebagai
pendukung pekerjaan struktur adalah Kayu Jati, Kayu Glugu, Kayu Merbau, Kayu
Ulin, Kayu Gelam dan lainnya.
Jenis-Jenis Kayu untuk Konstruksi Bangunan
Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa tidak semua jenis pohon yang kayunya
baik digunakan untuk material bangunan. Ada beberapa jenis kayu khusus yang baik
untuk material bangunan. Berikut adalah beberapa jenis kayu yang baik untuk
konstruksi.
5. Jenis-Jenis Kayu untuk Konstruksi Bangunan – Kayu Gelam
Kayu Gelam lebih terkenal sebagai kayu yang biasa digunakan sebagai kerangka
sementara kosntruksi. Material ini sering di duganakan sebagai stager atau perancah
dalam proyek bangunan. Pada beberapa daerah kayu ini digunakan sebagai cerucuh
pembangunan jembatan.
Itulah jenis-jenis kayu untuk konstruksi bangunan yang umum ditemukan di
Indonesia. Walaupun saat ini sudah banyak inovasi-inovasi baru dalam bidang
pembangunan namun perminataan pasar kayu masih sangat tinggi.
Jenis Kayu untuk konstruksi bangunan
Butuh material kayu untuk furniture, bangunan, produk atau kerajinan, tidak salah lagi Indonesia
adalah gudang dari berbagai kayu-kayu yang kelas kayunya diakui dunia. Iklim dan tanahnya
yang mendukung untuk tumbuh suburnya berbagai vegetasi menyediakan banyak varian kayu
kuat dan ber-urat bagus. Sering sekali kita mendengar tentang kekayaan alam ini secara turun
temurun, dan kenyataannya exploitasi kayu di Indonesia sudah berlangsung bahkan jauh sebelum
kemerdekaan dan menyisakan lahan-lahan yang kini sudah rusak karena kayunya sudah dijarah.
Meskipun demikian masih banyak kayu-kayu yang saat ini masih dapat kita temukan karena
terus dibudidayakan atau distribusinya dikendalikan oleh pemerintah melalui peraturan-peraturan
yang ketat, kayu-kayu tersebut dipergunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan
sebagian dapat kita beli di took material kayu diberbagai tempat.
Berikut adalah kayu-kayu asli Indonesia yang mungkin sering ada disekitar Anda dan wajib
Anda ketahui:
1. Jenis-Jenis Kayu untuk Konstruksi Bangunan – Kayu Jati
Kayu Jati memiliki kelebihan pada kekuatannya yang tinggi dibandingkan kayu-
kayu pada umumnya. Selain itu kayu ini juga memiliki serat dan tekstur yang indah,
tahan terhadap serangan serangga dan jamur. Jenis kayu ini sering digunakan untuk
bahan dasar furniture seperti pintu, jendela dan meja kursi. Masyarakat juga banyak
yang menggunakan Kayu Jati sebagai keperluan mebel interior.
KAYU JATI
Siapa orang Indonesia yang tidak pernah mendengar nama Kayu Jati? Kayu yang memiliki
predikat kayu kuat ini sering kali menjadi patokan bahan kayu yang berkualitas . Kayu yang
memiliki warna umum coklat ini memiliki urat bewarna coklat gelap yang berjarak antara satu
dengan yang lainnya sedikit jarang. Kayu Jati sebenarnya dibawa ke Indonesia sekitar tahun
1800 oleh Belanda ke Indonesia dan tumbuh subur di beberapa daerah panas di pulau Jawa, dari
Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Kayu Jati yang berkualitas tinggi biasanya di supply oleh daerah yang memiliki temperatur panas
dan tanah yang berkapur seperti di Jawa Tengah.
Kayu Jati terkenal akan kekuatan dan kepadatannya, yang mempengaruhi durabilitas kayu ini.
Minyak didalam Kayu Jati dianggap membuatnya menjadi lebih tahan rayap, dan pori-pori nya
yang kecil menyebabkan kayu ini dapat di finishing sangat halus. Kepadatan Kayu Jati
membuatnya menjadi kayu favorit untuk dibuat ukiran.
Kayu Jati saat ini juga sering diburu bekas-nya untuk menghasilkan produk berkesan rustic, dan
dengan berbagai karakter yang disebutkan tadi Kayu Jati sangat cocok untuk di jadikan furniture
berkelas dan bahan bahan ukiran.
KAYU MERANTI
Kayu Meranti atau sering juga disebut Kayu Kalimantan merupakan kayu yang sering
dipergunakan untuk membuat kusen, furniture dan panel. Mendapat julukan Kayu Kalimantan
karna meskipun dapat tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai negara tropis, Kayu
Meranti tumbuh paling baik di daerah Kalimantan. Batang Kayu Meranti dapat tumbuh hingga
70 meter dengan diameter bisa mencapai 4 meter lebih. Kayu Meranti yang bahasa latinnya
Mahoni Philipina sering kita temui berwarna coklat kemerahan dan tanpa urat (grain), dijual di
toko material sebagai papan atau kaso.
Kayu Meranti memiliki tingkat kekerasan antara 580-770 Kgs/m
Selain sebagai bahan bangunan dan furniture, Kayu Meranti juga dapat di jadikan Pulp untuk
kertas dan buah Tangkawang dari beberapa jenis Meranti dapat dijadikan bahan baku untuk
kosmetik. Berdasarkan karakteristik dari Kayu Meranti, Kayu ini lebih cocok digunakan untuk
bahan bangunan atau furniture yang finishingnya menggunakan cat.
KAYU MERBAU
Kayu yang berasal dari Maluku dan Papua ini merupakan jenis kayu keras dan memiliki julukan
sebagai Kayu Besi. Kayu Merbau telah menjadi primadona lokal dan eksport sejak lama karna
kualitasnya yang superior. Kayu Merbau berwarna coklat abu gelap atau merah coklat gelap
dengan arah serat yang hampir lurus. Kayu ini dapat tumbuh menjulang hingga 50 meter dengan
diameter hingga 2 meter. Karna kekerasan dan durabilitasnya, Kayu Merbau banyak dijadikan
sebagai parkit untuk lantai, tiang bangunan, bak truk hingga digunakan sebagai bahan konstruksi
jembatan. Saat ini harga Kayu Merbau cukup bersaing dengan harga Kayu Jati.
Daya tahan Kayu Merbau yang tinggi juga dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi laut.
Dalam pengolahannya, Merbau tidak sulit untuk dipotong dan di finishing, tapi cukup sulit untuk
dibubut dan di paku karna meskipun keras memiliki sifat getas karna serat-seratnya yang pendek.
Dengan karakteristiknya tersebut, Kayu Merbau dapat dijadikan andalan sebagai bahan
bangunan dan konstruksi.
KAYU ALBASIA
Kayu Sengon atau Albasia merupakan kayu khas daerah tropis dan dapat dengan mudah ditemui
diberbagai toko material dalam bentuk kaso atau papan. Kayu Albasia termasuk kayu yang lunak
dan sulit untuk langsung di finishing, karakternya yang berbulu dan berpori-pori besar dan
mudah patah membuat Kayu ini tidak dapat langsung dijadikan material pembuat produk.
Meskipun demikian permintaan Albasia yang meningkat dari tahun ketahun memberikan bukti
bahwa penggunaan dan manfaat yang disadari produsen atas kayu ini juga semakin luas.
Kenyataannya kayu yang mudah untuk di olah ini dipergunakan sebagai bahan utama pembuatan
kayu olahan seperti triplex dan blockboard, stick ice cream, pensil, korek api hingga bahan baku
untuk kertas.
Papan dan balok Kayu Albasia sering kita temukan menjadi material bangunan penyangga dan
sementara, digunakan untuk packing pada shipping atau pallet untuk barang. Warna nya putih
kotor bercampur coklat tampa urat, berpori-pori besar dan lunak.
KAYU CENDANA
Wangi, itulah kesan pertama yang anda dapatkan pada kayu Cendana. Kayu yang sering
digunakan sebagai bahan baku dupa dan produk-produk kerajinan ini sebenarnya bukan
merupakan golongan pohon yang tinggi bahkan bisa disebut sebagai parasit. Pohon Cendana
hanya tumbuh hingga 15 meter dengan diameter batang hanya 30 cm, sulit dibudidayakan dan
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat dipanen namun sangat diminati dipasaran
menjadikan kayu ini relatif cukup mahal, bahkan dijual dengan takaran kilogram. di Indonesia
Kayu Cendana putih dapat tumbuh subur di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur) dan telah
menjadi komoditas eksport sejak lama.
Kayu Cendana yang diubah menjadi produk kerajinan dan furniture sebaiknya tidak di coating,
tapi justru dibiarkan polos agar wangi dari Kayu Cendana ini dapat dinikmati saat berinteraksi
dengan produk tersebut. Kayu ini sangat baik dan kokoh untuk dijadikan furniture dan memiliki
nilai ekonomi yang tinggi baik didalam maupun diluar negeri.
KAYU ULIN
Kayu Ulin merupakan salah satu kayu yang dapat dijadikan sebagai material pembuat kapal yang
berasal dari Kalimantan dan Sumatra bagian selatan. Kayu Ulin dapat tumbuh hingga 50 cm
dengan diameter hingga lebih dari 1 meter. Kayu Ulin terkenal sangat tahan perubahan suhu,
kelembaban, tidak mudah dimakan rayap dan pengaruh air karna bersifat berat dan keras.
Kayu Ulin dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan terutama konstruksi. Di daerah tempat
ditemukannya banyak Kayu Ulin yaitu Kalimantan, kayu ini sejak dahulu kala dipergunakan
sebagai bahan pembuat rumah panggung bagi penduduk lokal. Selain itu Kayu Ulin juga sering
dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk digunakan sebagai bahan kerajinan seperti patung
hingga perhiasan.
KAYU EBONI
Kayu yang memiliki nama latin Diospyros Celebica ini, kini sudah cukup langka. Perpaduan
warna hitam dan coklat dengan urat yang kontras pada kayu yang terkenal dengan nama
Macassar Ebony dan Black Ebony ini membuatnya menjadi kayu yang sangat diburu oleh
bangsa Jepang, Eropa dan Amerika. Kegiatan eksport kayu ini mencapai puncaknya pada tahun
1973 dengan jumlah mencapai 26.000 m3 dan terus menurun dan kayu termasuk kayu yang
dilindungi.
Pohon Kayu Eboni dapat tumbuh hingga 40 m dengan diameter hingga 1 meter dan merupakan
kayu kelas awet 1 dan kelas kuat 1 dengan berat jenis rata-rata 1.05 (0.90-1.14), dengan berat
jenis ini kayu Eboni tergolong berat dan tidak dapat mengapung di air.
Kayu dengan urat yang eksotis ini kerap dijadikan bahan baku pembuatan alat musik seperti
gitar, piano hingga biola. Kayu ini juga digunakan sebagai tongkat, ukir-ukiran, patung dan juga
perhiasan.
KAYU TREMBESI
Beberapa waktu yang lalu, sebuah perusahaan rokok membuat program CSR dengan penanaman
ribuan bibit pohon Trembesi, alasannya pohon Trembesi merupakan salah satu jenis pohon yang
dapat menyerap hingga 28.5 ton gas CO2. Selain manfaatnya sebagai penyerap gas CO2 yang
baik, Kayu Trembesi kini juga semakin diminati oleh pasar lokal dan Asia untuk dijadikan bahan
baku furnitur, ukiran dan patung. Hal ini disebabkan oleh urat Kayu yang dimiliki Kayu
Trembesi yang menawan.
Kayu Trembesi mudah tumbuh diberbagai daerah Tropis dan curah hujan yang tinggi mulai dari
Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku hingga Nusa Tenggara.
Kayu Trembesi dapat tumbuh hingga mencapai 40 m dengan diameter hingga 4.5 meter. Kayu
Trembesi yang juga disebut Kayu Meh di daerah Jawa yang berarti “hampir menyerupai Kayu
Jati ini sering diubah menjadi furniture indoor yang tebal-tebal dan lebar hingga 1.5meter, hal ini
disebabakan kekuatannya yang kurang dan cukup lentur sehingga pengolahan kayu ini lebih
condong dipotong lebih besar. Kepadatan atau Density Kayu Trembesi yang kurang membuatnya
kurang cocok dijadikan bahan baku furniture outdoor. Selain menjadi bahan baku Furniture,
Kayu Trembesi juga sering digunakan sebagai bahan pembuat veneer.
Kayu Trembesi memiliki berat jenis 0.60 dengan tingkat keawetan kelas IV dan Kelas Kuat III.
Pohon Kayu. Kayu Trembesi kurang awet karna menghasilkan minyak kayu yang membuatnya
tahan terhadap serangan rayap lebih sedikit dibandingkan dengan Kayu Jati.
KAYU BANGKIRAI
Kayu yang memiliki nama lain Yellow Balau atau Balau ini banyak ditemukan di Indonesia,
Malaysia dan Filipina. Di Indonesia, Kayu ini banyak dipasok dari hutan Kalimantan. Kayu
Bangkirai dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter hingga 120 cm. Kayu ini bewarna
kuning kecoklatan dengan kekerasan antara 880-990 kg/m3 hingga 1050 kg/m3 pada kekeringan
12%. Pada suhu normal Kayu Bangkirai dapat kering dalam waktu 12 hingga 1 bulan. Ikatan
antar serat yang kuat dan mudah diolah menjadikan kayu ini cocok untuk decking, outdoor
furniture, dan berbagai keperluan konstruksi lainnya namun pada beberapa jenis bangkirai
seratnya cenderung mudah terbuka dam mudah melintir sehingga tidak disarankan dipergunakan
pada konstruksi yang membutuhkan kestabilan tinggi.
Kayu Bangkirai cukup terkenal didunia perkayuan dengan tingkat keawetan dari kelas I hingga
kelas III dan Kelas Kuat I dan II. Kayu Bangkirai memiliki berat jenis rata-rata 0.91.
KAYU KAMPER
Dahulu kala penggunaan getah beberapa jenis Kayu Kamper menjadi kapur barus merupakan
kegiatan bisnis primadona yang membuat Sumatera menjadi terkenal. Penggunaan kapur barus
dapat ditemui pada buku History of Sumatera (1783) yang ditulis oleh William Marsden,
Kimiya’Al-‘Ltr (Abad ke-9) yang ditulis oleh Al-Kindi dan Actius dari Amida (502-578) serta
berbagai tulisan lainnya yang mempropagandakan penggunakan kamper/kapur barus, bahkan
disebutkan pula bahwa pada abad ke 2 masehi terdapat bandar dagang yang terkenal menjual
kapur barus bernama Barosai.
Kini penggunaan kapur barus semakin meluas dan dibuat pula sintetisnya dengan terpentin.
Selain wangi, kapur barus juga dipergunakan untuk mengawetkan mayat dan tidak disukai oleh
hama. Demikian pula kayu kamper, kayu ini termasuk kayu yang tahan hama sehingga banyak
diminati banyak orang.
Kayu Kamper berwarna coklat muda hingga coklat kemerahan dan hampir mirip dengan Kayu
Mahoni. Kayu Kamper termasuk Kayu berkelas awet II, III dengan kelas kuat I dan II, Meskipun
Kamper dapat ditemui dipelbagai daerah, Kayu Kamper yang berasal dari Samarinda terkenal
halus dibandingkan dengan daerah yang lain. Selain Kamper Samarinda, dipasaran dikenal juga
Kamper Singkil, Kamper Kapur dan Kamper Banjar.
KAYU SONOKELING
Ini dia Rosewood-nya Indonesia, Sonokeling, Sonobrit, Sonosungu atau Sanakeling merupakan
kayu yang memiliki corak yang indah, bewarna coklat gelap dengan alur-alur berwarna hitam
membuat kayu ini terlihat sangat eksotis. Pohon Kayu Sonokeling dapat tumbuh hingga 40 meter
dengan diameter mencapai 2 meter. Pohon ini dapat ditemui di daerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur terutama didaerah-daerah yang berbatu dan agak kering.
Kayu Sonokeling dimanfaatkan untuk membuat pelbagai jenis produk, mulai dari furniture, alat
musik, hingga alat-alat olah raga. Dengan Berat jenis 0.77-0.86 dengan kadar air 15%, Kayu ini
juga termasuk kayu indah kelas 1, kelas awet I dan kelas kuat II. Karna Sonokeling termasuk
kayu keras, maka kayu ini dahulunya sering digunakan sebagai bahan konstruksi dan bahan
pembuat kusen-kusen mewah yang kuat. Kayu Sonokeling yang juga memiliki kadar air yang
rendah serta cukup menghasilkan minyak kayu juga terkenal tahan akan serangan rayap dan
jamur pembusuk kayu.
KAYU SUNGKAI
Kayu berwarna terang ini merupakan material Kayu yang sering digunakan oleh pengrajin untuk
membuat furniture indoor. Kayu Sungkai juga diolah oleh industri menjadi veneer yang warna
dan coraknya banyak diminati oleh pasar. Dengan corak Kayu perpaduan antri warna kuning,
coklat muda dan kuning setelah kuning, Kayu Sungkai dapat mempertegas kesan segar dan
compact pada furniture indoor.
Dipasaran harga Kayu Sungkai jelasnya lebih murah di bandingkan harga Kayu Jati atau
Sonokeling, oleh karna itu pemakaiannya juga lebih luas dibandingkan Kayu Jati, Sonokeling
atau Ulin yang kelasnya lebih tinggi. Dari segi kualitas, meskipun coraknya cukup menawan,
kayu ini hanya termasuk kayu Kelas Kuat II dan III dan Kelas Awet II dan III juga. Massa jenis
dan bobot Kayu Sungkai apalagi jika telah melalui proses Kiln atau pengeringan akan lebih berat
sedikit dibandingkan Kayu Pinus, Oleh karna itu, penggunaannya disarankan bukan untuk
keperluan outdoor kecuali dengan treatment khusus.
KAYU PINUS & CEMARA
Pada dasarnya Pohon Pinus dan Cemara memiliki ciri fisik dan nama latin yang berbeda pula,
namun corak kayunya tidak berbeda terlalu signifikan. Kayu Cemara memiliki warna yang lebih
menonjol dibandingkan Kayu Pinus, Kayu Cemara terkesan lebih merah dan pekat dibandingkan
warna Kayu Pinus yang lebih kuning dan terang. Selain itu Kayu Cemara memiliki banyak
(mata) karna lebih banyak ranting dan cabang dibandingkan Kayu Pinus.
Pinus dan Cemara memiliki banyak manfaat, mulai dari segi religius (sering digunakan sebagai
pohon natal) hingga kesehatan. Selain itu, Kayu nya juga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.
Kayu Pinus dan Cemara terkenal lembek dan mudah rusak, kepadatan kayunya yang kurang
justru dimanfaatkan untuk produk-produk kayu yang membutuhkan pengolahan ringan,
disposable dan flamabelity yang tinggi seperti korek api dan palet kayu untuk shipping. Kayu
Pinus dan Cemara termasuk Kayu dengan Kelas Awet dan Kuat level III. Kayu Pinus dan
Cemara memiliki densitas/kepadatan 480-520 kg/m3 dan kadar air MC 12% dan butuh waktu
12-15 hari untuk pengeringan.
Meskipun Kayu Pinus dan Cemara kini sering digunakan untuk furniture, sebaiknya perlu diingat
bahwa kayu ini merupakan kayu dengan kekuatan dan keawetan rendah, warnanya mudah
berubah dibawah sinar matahari. Disarankan jika dipergunakan sebagai furniture sebaiknya
menggunakan ukuran yang tebal dan tidak terkena air.
POHON KELAPA
Dipelbagai belahan dunia, kayu kelapa telah dipergunakan sebagai material untuk berbagai
keperluan karena keberlimpahannya di alam. Mulai dari kerajinan hingga furniture, Kayu Kelapa
menjadi Kayu yang hampir semua orang kenali. Kayu Kelapa telah digunakan sebagai tiang-
tiang bangunan hingga jembatan karna kekuatannya. Kayu ini memiliki corak yang unik,
perpaduan coklat tua dan coklat muda yang kontras yang berbentuk lurus-lurus. Serat-serat kayu
kelapa cukup pendek sehingga pada papan olahan dari kayu kelapa terlihat seperti goresan-
goresan pendek. Serat berwarna gelap merupakan serat yang lebih keras dibandingkan serat yang
lebih terang.
Kayu Kelapa tergolong kayu Kelas Kuat II dan III dengan berat jenis dari 0,5 hingga 0,9
tergantung umur dari pohon tersebut. Densitas Kayu Kelapa rata-rata 400 kg/m3 dengan
diameter batang hingga 50cm dan hampir lurus keatas. Salah satu produk akhir dari Kayu Kelapa
yang saat ini menjadi produk andalan ekspor adalah parket Kayu Kelapa. Parket Kayu Kelapa
saat ini menjadi primadona dipasar Eropa karna menjadi salah satu produk olahan Kayu yang
mendapat predikat Eco Labelling.
Kayu ini dapat diolah dengan baik menggunakan mesin-mesin namun sulit untuk diberi bahan
pengawet karna termasuk kayu yang padat. Kayu Sonokeling sejak tahun 1998 dicatat sebagai
kayu yang dilindungi karna sudah terancam punah, oleh karna itu bijak menggunakannya dan
memanfaatkannya secara efektif dan efisien adalah keharusan bagi pengguna nya.
KAYU MAHONI
Butuh kayu untuk di bengkok-kan (bend) dan mampu bertahan lama dalam bentuk tertentu serta
sangat baik difinishing duco atau alami maka Kayu Mahoni merupakan kayu yang tepat. Baik
secara vertikal maupun secara horizontal Kayu Mahoni cukup baik dalam uji tekan sehingga
dapat diaplikasikan penggergajian dari berbagai arah dengan baik. Karna kayu ini lebih lunak
dibandingkan Kayu Jati, Kayu ini cukup mudah untuk di ukir dan dibentuk sesuai keinginan.
Kayu Mahoni cukup tahan terhadap serangan hama kayu, dan ketika di proses seperti
pemotongan atau dipaku tidak mudah retak, dan cukup mudah untuk diampelas. Kayu ini tahan
terhadap keretakan saat di steam pada proses pembengkokan. Kayu Mahoni memiliki ciri fisik
berwarna merah pada bagian dalamnya, berpori-pori kecil dan plain (coraknya tidak terlalu
kelihatan).
Pohon Kayu Mahoni dapat dipanen pada umur 7 hingga 15 tahun, dan dapat tumbuh dengan baik
di daerah tropis. Penggunaan Kayu Mahoni cukup luas karna kekuatan dan ketersediaanya yang
cukup banyak sehingga banyak digunakan didunia konstruksi dan pertukangan. Pohon Kayu
Mahoni dapat tumbuh hingga berdiameter 125cm dengan tinggi 35-45 m. Pohon ini sering
ditanam dipinggir jalan karna ditengari dapat mengurangi polusi udara hingga 69% dan
membantu penangkapan air serta berdaun lebat sehingga menjadi peneduh dipinggir jalan.
KAYU AREN
Kayu Aren memiliki corak seperti Kayu Kelapa, namun perbedaan yang kontras dapat terlihat
dari warna-nya yang jauh lebih gelap dibandingkan Kayu Kelapa.
Aren, Enau, Hanau, Peluluk, Moka dan banyak lagi sebutan untuk tumbuhan aren ini memiliki
pohon yang dapat tumbuh hingga 25 m dengan diameter hingga 65cm. Bagian batang Aren yang
dapat digunakan sebagai papan adalah bagian agak luar hingga 10cm ke arah dalam. Sedangkan
bagian dalamnya lebih mudah rusak karna lebih lunak. Selain batang, Kayu Aren kita kenal
sebagai penghasil gula merah, aren atau enau, dan penghasil kolang-kaling. Tidak sedikit
yang mengubah air enau menjadi tuak dipelbagai daerah di Indonesia karna air nira cepat
terfementasi di udara.
Di negara Jepang, parket Kayu Aren yang berwarna hitam cukup disukai meskipun eksportir
mengatakan bahwa biasanya mereka lebih meyukai warna- warna kayu yang terang. Di daerah
seperti Sulawesi, Kayu Aren biasanya digunakan sebagai papan, gagang pisau, gagang cangkul
dan empulurnya dijadikan untuk penyaluran air.
Selain berbagai jenis kayu yang sudah disebutkan tadi, Indonesia memiliki banyak jenis kayu
endemik dan kayu-kayu yang berkualitas tinggi lainnya yang harus kita jaga keberlangsungan
supplynya serta dapat kita manfaatkan untuk berkarya. Untuk itu ayo kita tingkatkan
pengetahuan dan skill kita dalam memahami material ini agar kita dapat menghasilkan nilai
tambah dari pelbagai material mentah yang disediakan oleh alam seperti kayu.
Pelaksanaan Pondasi adalah struktur pada bangunan yang terletak
paling bawah yang berfungsi untuk meneruskan beban dari struktur atas
ke tanah. Secara garis besar pondasi ada 2 jenis yaitu pondasi dangkal
dan pondasi dalam. Pondasi dangkal salah satunya jenisnya adalah
pondasi batu kali. Ada beberapa tahapan dalam pelaksanaan pembuatan
pondasi batu kali antara lain :
1. Pekerjaan persiapan
2. Pekerjaan galian
3. Pekerjaan urugan pasir
4. Pekerjaan pasangan pondasi
Pekerjaan Persiapan
Rencanakan urutan galian, urutan pemasangan pondasi batu kali,
tempat penimbunan tanah hasil galian sementara sebelum diangkut
keluar dari tempat, juga tempat penimbunan sementara batu-batu kali
tersebut sebelum dipasang.
Pekerjaan Galian
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam pekerjaan galian adalah :
1. Siapkan alat-alat yang diperlukan
2. Menggali tanah dengan ukuran lebar sama dengan lebar pondasi
bagian bawah dengan kedalaman yang disyaratkan.
3. Menggali sisi-sisi miringnya, sehingga diperoleh sudut kemiringan
yang tepat.
4. Buang tanah sisa galian ke tempat yang telah ditentukan
5. Cek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya sesuai dengan rencana.
Rencana Galian Pondasi
Pekerjaan Urugan Pasir
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam pekerjaan urugan pasir adalah
:
1. Pasir urug diratakan pada dasar galian dan disiram air untuk
mendapatkan kelembaban untuk pemadatan.
2. Padatkan pasir urug tersebut dengan memakai alat stamper.
3. Jika diperlukan ulangi langkah satu dan dua sehingga didapatkan
tebal pasir urug seperti yang direncanakan.
Pekerjaan Urugan Pasir
Pekerjaan Pasangan Pondasi
Pada pekerjaan pasangan pondasi ada 2 tahap yaitu pembuatan profil
dan pemasangan batu kali.
Pembuatan profil :
1. Pasang patok batu untuk memasang profil (2 patok untuk tiap profil).
Profil dipasang pada setiap ujung lajur pondasi.
2. Pasang bilah batu datar pada kedua patok,setinggi profil.
3. Pasang profil benar-benar tegak lurus dan bidang atas profil datar.
Usahakan titik tengah profil tepat pada tengah-tengah galian yang
direncanakan dan bidang atas profil sesuai peil pondasi.
4. Ikat profil tersebut pada bilah datar yang dipasang antara 2 patok dan
juga dipaku agar lebih kuat.
5. Pasang patok sokong, miring pada tebing galian pondasi dan ikatkan
dengan profil, sehingga menjadi kuat dan kokoh.
6. Cek ketegakan / posisi profil dan ukuran-ukurannya, perbaiki jika ada
yang tidak tepat,demikian juga peilnya.
Pemasangan batu kali :
1. Siapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pasang benang pada sisi luar profil untuk setiap beda tinggi 25 cm dari
permukaan urugan pasir.
3. Siapkan adukan untuk melekatkan batu-batu tersebut.
4. Susun batu-batu diatas lapisan pasir urug tanpa adukan
(aanstamping) dengan tinggi 25cm dan isikan pasir dalam celah-celah
batu tersebut sehingga tak ada rongga antar batu kemudian siramlah
pasangan batu kosong tersebut dengan air.
5. Naikkan benang pada 25 cm berikutnya dan pasang batu kali dengan
adukan, sesuai ketinggian benang. Usahakan bidang luar pasangan
tersebut rata.
Profil Batu Kali Pembuatan
Pondasi Batu Kali
Pengertian keselamatan dan
kesehatan kerja K3
Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja K3
K3 adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapan guna mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit yang
disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. Menurut
America Society of safety and Engineering (ASSE) K3 diartikan
sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua
jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan
situasi kerja. Secara umum keselamatan kerja dapat dikatakan
sebagai ilmu dan penerapannya yang berkaitan dengan mesin,
pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan
tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara melakukan
pekerjaan guna menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset
perusahaan agar terhindar dari kecelakaan dan kerugian lainnya.
Keselamatan kerja juga meliputi penyediaan APD, perawatan
mesin dan pengaturan jam kerja yang manusiawi.
Dalam K3 juga dikenal istilah Kesehatan Kerja, yaitu : suatu ilmu
yang penerapannya untuk meningkatkan kulitas hidup tenaga
kerja melalui peningkatan kesehatan, pencegahan Penyakit Akibat
Kerja meliputi pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan
pemberian makan dan minum bergizi. Istilah lainnya adalah
Ergonomy yang merupakan keilmuan dan aplikasinya dalam hal
sistem dan desain kerja, keserasian manusia dan pekerjaannya,
pencegahan kelelahan guna tercapainya pelakasanaan pekerjaan
secara baik. Dalam pelaksanaannya K3 adalah salah satu bentuk
upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan
bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi
dan atau bebas dari kecelakaan dan PAK yang pada akhirnya
dapat meningkatkan sistem dan produktifitas kerja.
Secara teoritis istilah-istilah bahaya yang sering ditemui dalam
lingkungan kerja meliputi beberapa hal sebagai berikut :
HAZARD (Sumber Bahaya), Suatu keadaan yang memungkinkan /
dapat menimbulkan kecelakaan, penyakit, kerusakan atau
menghambat kemampuan pekerja yang ada
DANGER (Tingkat Bahaya), Peluang bahaya sudah tampak
(kondisi bahaya sudah ada tetapi dapat dicegah dengan berbagai
tindakan prventif.
RISK, prediksi tingkat keparahan bila terjadi bahaya dalam siklus
tertentu
INCIDENT, Munculnya kejadian yang bahaya (kejadian yang
tidak diinginkan, yang dapat/telah mengadakan kontak dengan
sumber energi yang melebihi ambang batas badan/struktur
ACCIDENT, Kejadian bahaya yang disertai adanya korban dan
atau kerugian (manusia/benda)
Dalam K3 ada tiga norma yang selalu harus dipahami, yaitu :
Aturan berkaitan dengan keselamatan dan kesehtan kerja
Di terapkan untuk melindungi tenaga kerja
Resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja
Sasaran dari K3 adalah :
Menjamin keselamatan operator dan orang lain
Menjamin penggunaan peralatan aman dioperasikan
menjamin proses produksi aman dan lancar
Tapi dalam pelaksaannya banyak ditemui habatan dalam
penerapan K3 dalam dunia pekerja, hal ini terjadi karena
beberapa faktor yaitu :
Dari sisi masyarakat pekerja
Tuntutan pekerja masih pada kebutuhan dasar (upah dan
tunjangan kesehatan/kesejahtraan)
K3 belum menjadi tuntutan pekerja
Dari sisi pengusaha
Pengusaha lebih menekankan penghematan biaya produksi dan
meningkatkan efisiensi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-
besarnya. dan K3 dipandang sebagai beban dalam hal biaya
operasional tambahan
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen
yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan
ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja.
Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi
oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan
menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan
konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan
banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap
sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi
keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.
Menurut Sumakmur (1988) kesehatan kerja adalah spesialisasi
dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang
bertujuan, agar pekerja/masyarakat pekerja beserta memperoleh
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental,
maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif,
terhadap penyakit-penyakit/gangguan –gangguan kesehatan yang
diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta
terhadap penyakit-penyakit umum.
Keselamatan kerja sama dengan Hygiene Perusahaan.
Kesehatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
Sasarannya adalah manusia
Bersifat medis.
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi
fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari
penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukan
kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan
pekerjaannya. Paradigma baru dalam aspek kesehatan
mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan bukan sekedar
mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan kesehatan
atau penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama dibidang
kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap
kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan
seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh
empat faktor yakni :
Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan) kimia
(organik / anorganik, logam berat, debu), biologik (virus, bakteri,
microorganisme) dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan,
pekerjaan).
Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan,
pencegahan kecacatan, rehabilitasi, dan
genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
Demikian pula status kesehatan pekerja sangat mempengaruhi
produktivitas kerjanya. Pekerja yang sehat memungkinkan
tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan
pekerja yang terganggu kesehatannya”. Menurut Suma’mur (1976)
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar
pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan
setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha
preventif atau kuratif terhadap penyakit/ gangguan kesehatan
yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta
terhadap penyakit umum. Konsep kesehatan kerja dewasa ini
semakin banyak berubah, bukan sekedar “kesehatan pada sektor
industri” saja melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan
untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan
mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan (Sumakmur, 1993).
Keselamatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
Sasarannya adalah lingkungan kerja
Bersifat teknik.
Pengistilahan Keselamatan dan Kesehatan kerja (atau sebaliknya)
bermacam macam ; ada yang menyebutnya Higiene Perusahaan
dan Kesehatan Kerja (Hyperkes) dan ada yang hanya disingkat K3,
dan dalam istilah asing dikenal Occupational Safety and Health.
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari
hari sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan
sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan
dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja
pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya
dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu
pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Pengertian Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian
atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap
manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.
Dewasa ini pembangunan nasional tergantung banyak kepada
kualitas, kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia
termasuk praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dari segi
dunia usaha diperlukan produktivitas dan daya saing yang baik
agar dapat berkiprah dalam bisnis internasional maupun
domestik. Salah satu faktor yang harus dibina sebaik-baiknya
adalah implementasi K3 dalam berbagai aktivitas masyarakat
khususnya dalam dunia kerja. Pengertian Hampir Celaka, yang
dalam istilah safety disebut dengan insiden (incident), ada juga
yang menyebutkan dengan istilah “near-miss” atau “near-
accident”, adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak
diinginkan dimana dengan keadaan yang sedikit berbeda akan
mengakibatkan bahaya terhadap manusia, merusak harta benda
atau kerugian terhadap proses kerja.
Bagaimana K3 dalam perspektif hukum? Ada tiga aspek utama
hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja
nyata. Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat
untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga
yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang
tidak kondusif.
Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja
sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap
pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan
peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah pencemaran
lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.Norma
kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu
menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-
tingginya.
Pengertian Plambing beserta Jenis, Fungsi, Syarat, Tahapan,
dan Pemasangan alat plambing
Plumbing atau plambing adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan,
pemeliharaan, dan perbaikan alat plambing dan pipa serta peralatanya di dalam atau di luar gedung
dengan sistem drainase saniter, drainase air hujan, ven, air minum yang dihubungkan dengan
sistem kota.
Secara khusus, pengertian plambing merupakan sistem perpipaan dalam bangunan yang meliputi
sistem perpipaan untuk :
a.penyediaan air minum
b.penyaluran air buangan dan ven
c.penyediaan air panas
d.penyaluran air hujan
e.pencegahan kebakaran
f.penyediaan gas
g.AC (air conditioner)
Plumbing atau plambing mempunyai sasaran sebagai berikut :
a.sanitasi, menciptakan kesehatan masyarakat
b.kenyamanan pemakai
c.menciptakan rasa aman
Fungsi plumbing atau plambing :
a.sebagai sistem penyediaan air minum, menyediakan air minum ke tempat yang dikehendaki
dengan tekanan yang cukup
b.sebagai penyaluran air buangan
Jenis-jenis peralatan plambing
dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, antara lain :
a.peralatan untuk penyediaan air panas
b.peralatan untuk penyediaan air bersih/ air minum
c.peralatan untuk pembuangan
Syarat perencanaa plumbing atau plambing :
a.sistem harus efektif dan efisien
b.pipa mudah dirawat dan diperbaiki
c.mudah dilakukan pemeriksaan
d.tidak mengganggu estetika
e.memperhatikan aspek kesehatan
f.tidak mengganggu struktur bangunan
g.pilih yang murah tapi berkualitas
h.minimalkan tikungan
Tahapan perencanaan plumbing atau plambing :
a.mengetahui fungsi bangunan
b.penetapan jenis peralatan plambing
c.rencana jaringan pipa
d.penetapan dimensi pipa (dimensioning)
e.rencana peletakan peralatan plambing
f.penggambaran
Pemasangan peralatan plambing atau plumbing :
a.pemasangan kasar
yaitu peralatan plambing dipasang bersamaan dengan berkembangnya konstruksi bangunan
b.pemasangan halus
yaitu pemasangan peralatan plambing dilakukan setelah konstruksi bangunan selesai. sehingga
menghindari terjadinya kerusakan peralatan plambing akibat pembangunan konstruksi.