The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bahan Ajar XI Bab 6 Keragaman Budaya Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by doni.labsky2020, 2021-05-24 13:25:26

Bahan Ajar XI Bab 6 Keragaman Budaya Indonesia

Bahan Ajar XI Bab 6 Keragaman Budaya Indonesia

Produk kebudayaan Indonesia dapat bermanfaat dalam aspek
pendidikan. Banyak sekali mahasiswa, pelajar, dan peneliti
melakukan kunjungan wisata edukasi untuk mempelajari adat
istiadat budaya, arsitektur, kehidupan masyarakat dalam suatu
daerah.
2. Aspek agama
Produk kebudayaan di Indonesia dapat bermanfaat dalam aspek
agama, berkaitan dengan upacara keagamaan ajaran agama tertentu.
Misalnya masjid kuno, candi, pura dan lain sebagainya
3. Aspek sosial
Produk kebudayaan di Indonesia dapat bermanfaat dalam aspek
sosial, misalnya permainan tradisional bambu gila, jamuran, dan lain
sebagainya menumbuhkan dan memupuk sikap kerjasama antar
masyarakat. Adanya produk kebudayaan mengajarkan nilai – nilai
luhur, mengajarkan bagaimana kita bersama-sama dengan yang lain.
Artinya kita diajarkan toleran dengan yang lain. Jadi perbedaan
bukan menjadi sesuatu yang harus diperdebatkan, justru itu bisa
menjadi suatu keunggulan.

Pertemuan 6

Kebudayaan Indonesia Sebagai Bagian dari Kebudayaan Global

1. Kebudayan Indonesia yang diakui dunia

Budaya merupakan pengembangan majemuk dari budi daya,
yang berarti daya dari budi. Jadi, budaya adalah daya dari budi yang
berupa cipta, rasa, dan karsa. Dalam kehidupan bermasyarakat,
budaya membekali anggotanya pedoman perilaku dalam bertindak.

Keragaman budaya suatu wilayah bergantung pada faktor
geografis. Pada umumnya budaya yang berkembang di suatu wilayah
cenderung menunjukkan karakteristik dan pemenuhan kebutuhan
masyarakat daerah itu sendiri. Kebudayaan daerah di Indonesia
sangatlah beragam, beberapa diantara bahkan diakui secara global
sebagai warisan dunia.

Dengan masuknya arsip dan dokumentasi KAA ke dalam
Memory of the World, Indonesia memiliki lima warisan dokumenter,
yaitu: Arsip VOC (2003); Teks Puisi Klasik I La Galigo (2011); Babad
Diponegoro (2013); Kitab Negarakertagama (2013); dan Arsip KAA
(2015). Sedangkan dalam kategori warisan budaya tak benda
(intangible cultural heritage/ICH) beberapa warisan asal Indonesia
juga telah mendapatkan pengakuan UNESCO, yakni Wayang dan
Keris (2008); Batik dan Pelatihan Batik (2009); Angklung (2010), Tari

Saman (2011); Noken (2012); dan Tiga Genre Tradisi Tari Bali (2015).

http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/penghargaan-unesco-.aspx

Mengitup dari laman

http://whc.unesco.org/en/statesparties/id beberapa situs kebudayan

yang diakui UNESCO adalah

a. Candi Borobudur (1991)

b. Sistem Subak 2012

c. Candi Pambanan 1991

d. Situs manusia purba Sangiran 1996

2. Globalisasi

Globalisasi adalah suatu proses dunia menjadi satu tanpa

batas. Proses globalisasi ini terjadi antara akhir abad ke-20 dan

permulaan abad ke-21. Dengan adanya globalisasi, dunia menjadi

seperti borderless atau tanpa sekat. Hal yang paling mendapat

pengaruh globalisasi adalah trade (perdagangan), travel (pariwisata),

dan telekomunikasi.

Globalisasi tidak begitu saja sampai ke masyarakat, akan tetapi

membutuhkan saluran. Beberapa saluran yang dapat mempercepat

proses globalisasi antara lain sebagai berikut:

a. Komunikasi dan transportasi;

b. Perdagangan internasional;

c. Pariwisata internasional;

d. Migrasi internasional;

e. Kerjasama antar Negara;

f. Media massa.

Globalisasi memberikan pengaruh positif, namun tidak sedikit

pula dampak negatif yang ditimbulkan. Berikut dampak-dampak

globalisasi.

Dampak positif Dampak negatif

Akses berkomunikasi Interaksi masyarakat semakin

dan informasi semakin berkurang karena interaksi lebih banyak

mudah. dilakukan melalui teknologi komunikasi.

kemajuan transportasi  Polusi udara dan lingkungan

menyebabkan mobilitas  penggunaan bahan bakar yang

tinggi semakin bertambah

 meningkatkan angka kemacetan

Mudah mendapatkan  timbul masyarakat dengan pola

barang komoditas dari konsumtif

berbagai Negara  lunturnya rasa cinta terhadap
produk dalam negeri

Kualitas SDM semakin  persaingan dunia kerja menjadi
meningkat. Masyarakat

semakin gencar semakin berat

meningkatkan kualitas  spesialis dalam berbagai bidang

SDM sebagai antisipasi pekerjaan

persaingan global.

Sikap toleransi semakin  sikap individulistik

berkembang  kepekaan sosial semakin memudar

Pengelolaan SDA dengan  eksploitasi SDA secara berlebih

teknologi canggih  banyak kerusakan lingkungan alam

Berkembangnya - Ideologi asing mudah masuk sehingga

demokrasi mengubah tata nilai dalam masyarakat

- adopsi budaya yang belum tentu sesuai

dengan kepribadian bangsa.

3. Pengaruh Globalisasi terhadap Kebudayaan Nasional.
Pengaruh globalisasi yang mengancam jati diri bangsa adalah

masuknya unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan budaya
nasional. Di era globalisasi ini, setiap bangsa bebas keluar masuk
memberikan pengaruhnya kepada bangsa lain. Akibatnya, berbagai
paham dan ideologi pun masuk ke bangsa ain, begtu pula bangsa
Indonesia. Globalisasi dewasa ini merambah hampir di semua bidang
kehidupan kehidupan.Tidak semua masyarakat menerima globalisasi
dengan tangan terbuka. Ketidaksiapan menerima globalisasi akan
menciptakan perubahan dalam masyarakat. Beberapa dampak akibat
ketidak siapan dalam penerimaan globalisasi adalah sebagai berikut:
a. Guncangan Budaya (culture shock)

Menurut Soeryono Soekanto, goncangan budaya terjadi
apabila warga masyarakat mengalami disorientasidan frustasi. Hal
ini berlangsung apabila ada anggota masyarakat yang tidak siap
menerima kenyataan perubahan-perubahan akibat globalisasi.
b. Ketimpangan budaya (cultural lag)

Ketimpangan budaya adalah suatu kenyataan bahwa
masuknya unsur-unsur golobalisasi tidak terjadi secara serempak.
Unsur-unsur yang terkait dengan teknologi masuk sedemikian
cepatnya, sedangkan unsur-unsur sosial budaya, katakanlah di
bidang pendidikan sedemikian lambatnya. Di pihak lain ada
sekelompok masyarakat yang begitu cepat menyerap dan
menerima unsur-unsur globalisasi. Akan tetapi, ada juga
sekelompok masyarakat yang begitu tertinggal untuk menerima
unsur-unsur globalisasi tersebut. Akibat situasi tersebut,
perubahan unsur-unsur sosial budaya yang terjadi dalam
masyarakatnya juga tidak terjadi secara serempak. Ketidak

serempakan inilah yang kita kenal dengan ketimpangan budaya (

culture lag ).

c. Pergeseran nilai-nilai budaya yang menimbulkan anomie

Masuknya unsur-unsur globalisasi yang gencar dalam

waktu yang relatif singkat akan mengakibatkan terjadinya

berbagai perubahan sosial budaya secara menyusul. Sistem nilai

dan norma yang ada dalam kehidupan masyarakat yang tidak siap

mengantisipasi terjadinya perubahan-perubahan itu

mengakibakan masyarakat menjadi kebingungan ( anomie ).

Kebingungan ini tentang nilai dan norma sosial budaya mana yang

paling cocok untuk mengantisipasi arus globalisasi yang sedang

berlangsung.

Diantara kelompok masyarakat yang paling kebingungan

adalah kelompok remaja yang secara sosial belum memiliki

identitas yang mantap. Kelompok masyarakat lainnya adalah

mereka yang secara tiba-tiba “ketiban rezeki nomplok” menjadi

orang kaya baru, karena berbagai “keberuntungan”. Contoh akibat

adanya anomie, yaitu :

1) Pergaulan bebas, kenakalan remaja, dan penyalahgunaan

narkotik yang melanda para remaja.

2) “aji mumpung” dan “konsumerisme” di kalangan orang kaya

baru.

4. Kearifan lokal sebagai tameng negatif globalisasi
Arus global dapat cepat menggerus nilai-nilai budaya lokal

termasuk kearifan lokal yang dipegang oleh masyarakat. Jika
ditelusur lebih dalam, nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya
penduduk Indonesia selaras dengan isu-isu seperti demokrasi, hak
asasi manusia, dan lingkungan hidup. Globalisasi telah mendorong
terjadinya pergeseran atau perubahan terhadap system atau aturan
yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Masuknya nilai-nilai budaya barat ke Indonesia yang
menumpang arus globalisasi merupakan ancaman bagi budaya asli
yang mencitrakan lokalitas khas daerah di negeri ini. Kesenian-
kesenian daerah seperti ludruk, ketoprak, wayang, gamelan, dan tari
menghadapi ancaman serius dari berkembangnya budaya pop khas
barat yang semakin diminati oleh masyarakat karena dianggap lebih
modern. Budaya konvensional yang menempatkan tepo seliro,
toleransi, keramahtamahan, penghormatan pada yang lebih tua juga
digempur oleh pergaulan bebas dan sikap individualistik. Dalam
situasi demikian, kesalahan dalam merespon globalisasi dapat
berakibat pada lenyapnya budaya lokal dan inilah yang menjadi

masalah terbesar budaya lokal di tengah-tengah era globalisasi.
Ketika gelombang globalisasi menggulung wilayah Indonesia, ternyata
kekuatannya mampu menggilas budaya-budaya lokal.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan beragam etnis,
suku bangsa, dan budaya sesungguhnya telah dimodali mekanisme
penjagaan diri terhadap globalisasi melalui sebuah kearifan lokal.
Kearifan lokal atau dalam bahasa Inggris dikonsepsikan sebagai
kebijaksanaan setempat (local wisdom) merupakan gagasan-gagasan
lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik, serta
tertanam sekaligus diikuti oleh anggota masyarakatnya. Di dalam
kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Adapun
kearifan budaya lokal ialah pengetahuan lokal yang sudah menyatu
dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya, serta diekspresikan
dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Kearifan lokal lahir dari learning by experience yang tetap
dipertahankan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Kearifan lokal diperoleh melalui suatu proses pengalaman panjang
yang menitik beratkan pada pengamatan secara langsung dan juga
didukung oleh pendidikan formal maupun informal.

Pada dasarnya masyarakat Indonesia telah dibekali
kemampuan untuk menyaring budaya asing sehingga hanya
menyerap budaya yang sesuai dengan budayanya sendiri atau
disebut dengan local genius. Dengan modal ini kita tidak perlu
khawatir dalam menghadapi terjangan arus globalisasi. Apabila
kemampuan local genius ini mampu bersinergi dengan kearifan lokal,
maka keduanya dapat dijadikan tameng untuk menangkis serangan
globalisasi yang mulai megikis budaya lokal. Oleh karena itu, jati diri
bangsa sebagai nilai identitas masyarakat harus dibangun secara
kokoh dengan cara menanamkan nilai-nilai kearifan lokal sejak dini
kepada generasi muda. Dalam hal ini, pendidikan memegang peranan
yang penting sehingga pengajaran budaya perlu dimasukkan dalam
kurikulum pendidikan nasional dan diajarkan sejak sekolah dasar.

Patut menjadi perhatian bersama bahwa nilai-nilai lokal
bukanlah nilai usang yang ketinggalan zaman sehingga
ditinggalkan, tetapi kearifan lokal ini dapat berkolaborasi dengan
nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa
globalisasi. Isu mengenai demokrasi, hak asasi manusia, dan
lingkungan hidup diangkat sebagai agenda pembangunan di dunia
internasional. Isu-isu tersebut dapat bersinergi dengan filosofi budaya
lokal yaitu hamemayu hayuning buwana. Makna dari hamemayu
hayuning buwana adalah memberi pelajaran kepada masyarakat
untuk berbersikap dan berperilaku yang mengutamakan harmoni,
keselarasan, keserasian, dan keseimbangan hubungan antara

manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia
dengan Tuhan dalam melaksanakan hidup dan kehidupannya agar
negara menjadi panjang, punjung, gemah ripah loh jinawi, karta tur
raharja.

Khasanah ke-Bhinnekaan sebagai karakteristik sangat
berharga yang dimiliki bangsa ini. Ragam pesona budaya yang
tersebar dari Sumatera hingga Papua, dari beraneka suku, agama,
ras yang mendiami beribu pulau dipersatukan oleh perairan,
bahasa dan perasaan senasib sebagai bangsa Indonesia. Bhinneka
Tunggal Ika, Berbeda tetapi tetap satu dengan diversifikasi kearifan
lokal yang besar. sebuah karakteristik paling Indonesia.

Budaya Gotong Royong adalah kearifan lokal yang paling
Indonesia. budaya ini adalah ciri khas utama bangsa ini melekat di
hampir semua elemen bangsa indonesia. Manifestasinya terjabarkan
dalam acara-acara yang akan dilaksanakan oleh masyarakat.
Misalnya dalam acara pernikahan, pembangunan fasilitas umum
seperti tempat ibadah, jalan ataupun gotong royong di sawah.
Bahkan kata ini sudah terejahwantahkan dalam prinsip masyarakat
Tana Toraja “ Mesa’ Kada di Potuo, Pantan Kada di Pomate”.
diterapkan dalam upacara Rambu Solo' ataupun Rambu Tuka' dan
prinsip ini menjadi koleksi kekayaan budaya paling Indonesia.

Kearifan lokal lain yang menjadi karakteristik paling
Indonesia adalah Musyawarah Mufakat. Budaya ini adalah budaya
klasik yang sudah sangat lama diterapkan oleh bangsa ini. bahkan
sejak zaman kerajaan di nusantara, musyawarah mufakat digunakan
oleh Raja Goa Tallo dengan beberapa pabbicara buta (penasehat)
kerajaan untuk menetapkan keputusan kerajaan misalnya jadwal
tanam padi. Musyawarah mufakat ini dalam budaya orang Sulawesi
disebut pula dengan Tudang sipulung. Dalam perkembangannya
digunakan sampai kepada penyelesaian masalah yang krusial dan
penentuan keputusan yang strategis untuk diimplementasikan.

Rasa Malu dan saling menghormati adalah kearifan lokal
sangat mahal yang dimiliki bangsa ini. Menghormati yang lebih tua
dan menyayangi yang mudah dengan menundukkan badan sambil
menjulurkan tangan kebawah ketika melewati kerumunan orang dan
malu untuk melakukan kesalahan adalah cerminan karakteristik
paling Indonesia. Yang dalam bahasa orang Sulawesi menyebutnya
budaya Tabe’ dan budaya siri’.

Akan tetapi kearifan-kearifan lokal tersebut perlahan
mengalami pergeseran bahkan terkikis seirama pesatnya
perkembangan teknologi dan komunikasi. Bahkan untuk acara
penguburan keluarga saja gotong royong sirna dengan membayar
orang lain. Padahal dulu ketika ada yang meninggal semua

berbondong untuk menguburkan keluarga. Dulu untuk mengolah
sawah dilakukan dengan menggunakan tenaga hewan secara Gotong
royong , namun dengan teknologi yang semakin maju, budaya kita
terasimilasi dengan jiwa individualisme dan salah satu efeknya
adalah terjadinya impor daging sapi karena sapi tergantikan total
dengan mesin dan polusi lahan pertanian yang berefek pada
munculnya beberapa spesies hama dan penyakit tanaman.

Budaya Musyawarah mufakat perlahan luntur dengan ego
individualis seirama perkembangan zaman. Budaya Tabe' dan Siri'
mulai pudar, bahkan yang kita sering temukan seorang anak
menggertak orang tua, atau bahkan melecehkan orang tua sendiri.
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme semakin tak terbendung bahkan
dalam menyelesaikannya semakin berbelit-belit karena budaya Tabe'
dan Siri' untuk bermaksiat semakin pudar. Dan seharusnya yang
terjadi dengan perkembangan teknologi tersebut adalah jiwa sosial
semakin erat karena efektivitas dan efisiensi kerja semakin tinggi.
budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme akan hilang karena siapa yang
melakukannya akan terekam dalam kamera teknologi yang semakin
modern. Budaya Musyawarah mufakat semakin terjalin karena
meskipun tidak sempat hadir dilokasi musyawarah, kita tetap bisa
melangsungkan jalannya musyawarah dengan teknologi 3G misalnya.
Entah sistem kita yang bermasalah dan kontra dengan
perkembangan zaman ataukah kita yang belum mampu
menghadapinya?

Sumber:
Aji Arifin.( ( 2016 ). Buku Siswa Geografi Peminatan Ilmu – Ilmu Sosial

Untuk SMA/MA Kelas XI. Surakarta : CV Mediatama
Anonim. 2015. Faktor-faktor Keberagaman Budaya Indonesia.

http://kukerjakanprmu.blogspot.co.id/2015/02/faktor-faktor-
keberagaman-budaya.html diakses pada tanggal 13 April 2017.
Anonim. 2015. Pengaruh Bentuk Muka Bumi Bagi Kehidupan.
http://www.guruips.com/2015/12/mata-pencaharian-di-pantai-
dataran.html diakses pada tanggal 14 April 2017.
Arya. 2016. 17 Pengaruh Letak Geografis Indonesia beserta Pengertiannya.
Gatot Harmanto. ( 2013). Geografi Untuk SMA/MA Kelas XI. Bandung
:Yrama Widya
I.D Sobandi (2013). Geografi Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Erlangga
K. Wardiyatmoko. 2013. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta:
Erlangga.
Koentjaraningrat. 2015. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Wardiyatmoko, K. 2014. Geografi untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta :
Erlangga.

Yasinto Sindhu P. 2016. Geografi untuk SMA/MA kelas X. Jakarta:
Erlangga.
Yulmadia Yulir. 2013. Geografi untuk SMA Kelas X. Bogor: Yudistira.


Click to View FlipBook Version