SISTEM KOORDINASI
Bahan Ajar
SISTEM KOORDINASI
Disusun oleh :
NADIA AMELIA
185040093
BIOLOGI B
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
Disusun oleh :
NADIA AMELIA
185040093
BIOLOGI B
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
SISTEM
KOORDINASI
Nadia Amelia
185040093
01 02
Pengertian Sistem
sistem Saraf
koordinasi
03 04
Daftar Sistem Sistem
isi Endokrin Indera
05 06
Gangguan Kelainan
pada pada
sistem sistem
koordinasi koordinasi
01
PENGERTIAN SISTEM
KOORDINASI
A. SISTEM KOORDINASI
Di dalam tubuh manusia dan hewan terdapat sistem
koordinasi yang berfungsi mengatur agar semua organ dapat bekerja
dengan semestinya. Sistem koordinasi yang dimiliki oleh manusia dan
hewan meliputi sistem saraf, sistem endokrin, sistem hormon dan
sistem indera.
Koordinasi gerakan tubuh melibatkan otot, sendi, dan
juga saraf. Ketika Anda ingin melakukan suatu gerakan, ada lebih dari
satu jenis otot, sendi, dan saraf yang terlibat di dalamnya dan setiap
komponen memiliki peran yang berbeda-beda. Fungsi sistem
koordinasi di sini adalah mengendalikan dan mengoordinasikan kerja
masing-masing bagian agar gerakan yang dihasilkan menjadi halus
dan tepat sasaran.
Otak kecil akan menerima beberapa sinyal dari seluruh
tubuh, seperti posisi tubuh terhadap lingkungan dan medan gerakan
dilakukan. Setelah itu otak kecil akan mengolah informasi tersebut
dan menentukan postur apa yang sesuai dengan posisi tubuh saat itu.
Otak kecil juga akan menentukan porsi gerakan masing-masing otot
yang terlibat dalam gerakan tersebut, sehingga gerakan otot menjadi
halus. Misalnya, jika Anda sedang berjalan di bidang yang miring,
otak kecillah yang berperan mengoordinasikan gerakan otot paha, otot
betis, dan otot telapak kaki serta posisi tubuh yang pas terhadap
bidang miring tersebut, supaya Anda bisa berjalan dan tidak jatuh.
Selain itu, fungsi sistem koordinasi juga berkaitan dengan kecerdasan
atau prestasi seseorang. Hal ini dibuktikan pada sebuah penelitian
yang menyatakan bahwa seorang anak yang sering berolahraga dan
aktif bergerak cenderung lebih berprestasi di sekolahnya dibanding
dengan anak yang malas atau kurang bergerak.
Sistem koordinasi merupakan sistem organ yang berperan
mengatur organ-organ tubuh lainnya agar dapat bekerja sebagaimana
mestinya, dan terintegrasi satu sama lainnya. Meski memiliki fungsi
yang berbeda-beda, seluruh organ dalam tubuh terhubung dengan
saraf dan darah, dua komponen utama sistem koordinasi. Interaksi
keduanya melibatkan sistem indra di dalam tubuh.
Pada sistem saraf, sinyal yang ditransmisikan adalah
sinyal elektrik melewati sel saraf. Sedangkan pada sistem hormon,
sinyal yang ditransmisikan adalah senyawa kimia berupa hormon
melewati pembuluh darah. Karena perbedaan ini, sisitem saraf tentu
memiliki kecepatan transmisi yang lebih cepat dibandingkan sistem
endokrin.
Meskipun sama-sama berperan dalam sistem regulasi, tetapi terdapat
perbedaan sistem kerja pada hormon dan saraf. Perbedaan tersebut
terletak pada jeda waktu yang diperlukan oleh kedua sistem dalam
menanggapi rangsang atau stimulus. Seperti halnya saraf, hormon bekerja
dengan sangat spesifik. Sel target atau organ target yang akan dituju harus
dilengkapi dengan sebuah reseptor yang dikenal oleh hormon, jika tidak
dikenali, hormon tidak akan bereaksi. Beberapa bagian dalam tubuh
tempat diproduksinya hormon disebut kelenjar endokrin. Sedangkan
istem indra merupakan suatu sensor yang menangkap berbagai perubahan
dari lingkungan sehingga tubuh bisa mengetahui keadaan disekitarnya,
sinyal yang dihasilkan oleh sistem indra akan disampaikan oleh sistem
saraf, tujuannyan adalah untuk mengintegritaskan berbagai rangsangan
yang ada sehingga bisa menghasilkan tanggapan atau respon yang tepat
dan cepat terhadap kondisi lingkungan.
SISTEM
02 SARAF
B. SISTEM SARAF
Sistem saraf bersama-sama dengan sistem hormon,
berfungsi untuk memelihara fungsi tubuh. Pada umumnya sistem saraf
berfungsi untuk mengatur, misalnya kontraksi otot, perubahan alat-alat
tubuh bagian dalam yang berlangsung dengan cepat, dan kecepatam
sekresi beberapa kelenjar endokrin.
Sistem saraf pada manusia memiliki sifat mengatur yang
sangat kompleks dan khusus. Sistem saraf menerima berjuta rangsangan
yang berasal dari berbagai organ. Semua rangsangan tersebut akan
bersatu untuk dapat menentukan respon apa yang akan diberikan oleh
tubuh. Rangsangan dapat berasal dari luar tubuh (rangsangan eksternal)
dan rangsangan dari dalam tubuh (rangsangan internal). Rangsangan
eksternal misalnya cahaya, suara, gravitasi, suhu, panas, dan dingin.
Sedangkan rangsangn internal misalnya rasa lapar, haus, sakit, nyeri, dan
sebagainya.
Untuk bereaksi terhadap berbagai rangsangan tubuh kita memerlukan tiga
komponen yaitu, reseptor, sistem saraf, dan efektor.
1. Reseptor
Reseptor atau penerima rangsangan adalah sel yang memberikan respon
terhadap rangsangan dari lingkungan eksternal maupun internal.
Kemudian reseptor akan mengubah rangsangan yang diterima menjadi
suatu impuls saraf (aliran listrik yang terjadi karena adanya perubahan
muatan listrik) yang akan diteruskan melalui neuron ( sel saraf). Pada
tubuh kita yang berperan sebagai reseptor adalah alat indera. Di
dalamnya terdapat ujung-ujung saraf sensorik yang peka terhadap
rangsangan tertentu. Saraf sensorik berfungsi menerima rangsangan dan
membawanya ke otak atau sumsum tulang belakang.
2. Sistem saraf
Sistem saraf berperan menerima, mengolah, dan meneruskan hasil olahan
rangsangan ke efektor. Sistem saraf tersebar ke seluruh organ tubuh
manusia. Secara fungsional, sistem saraf dibagi menjadi bagian somatik
dan otonom. Bagian somatik berperan mengatur koordinasi struktur-
struktur otot, tulang, dan kulit. Sedangkan sistem saraf otonom berperan
mengatur koordinasi otot polos, jantung, dan kelenjar-kelenjar tubuh.
3. Efektor
Efektor adalah sel atau organ yang digunakan untuk bereaksi terhadap
rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar tubuh. Pada tubuh kita
yang berperan sebagai efektor utama adalah otot dan kelenjar.
Sistem saraf terdiri dari tiga macam sel yang memiliki struktur dan fungsi
berbeda, yaitu neuron, sel schwan, dan sel penyokong (neuroglia).
Neuron bertugas mengantarkan impuls. Sel schwan merupakan
pembungkus sebagian besar akson pada sistem saraf perifer (sistem saraf
tepi). Akson merupakan neuron yang berfungsi membawa rangsangan
dari badan neuron. Sel penyokong (neuroglia) merupakan sel yang
terdapat diantara neuron dan sistem saraf pusat.
SEL SARAF (NEURON)
Neuron merupakan unit struktural dan fungsional dari sistem saraf. Neuron
mempunyai kemampuan merespon rangsangan yang cukup kuat. Neuron
tidak mengalami pembelahan sehingga tidak dapat di ganti jika sudah mati
atau rusak. Namun pada kondisi yang sesuai, neuron dari sistem saraf
perifer yang terluka dapat di perbaiki.
STRUKTUR NEURON
Sistem saraf tersusun atas miliaran sel yang sangat khusus yang disebut sel
saraf (neuron). Setiap neuron tersusun atas badan sel, dendrit, dan akson
(neurit).
1. Badan sel
Merupakan bagian sel saraf yang mengandung nukleus (inti sel) dan
tersusun pula sitoplasma yang bergranuler dengan warna kelabu. Sitoplasma
badan sel mengandung badan nissal (substansi kromatik) dan neurofibril
(fibril/serat yang ramping pada badan neuron). Badan nissal akan tampak
seperti retikulum endoplasma granuler yang tersusun sejajar satu dengan
yang lainnya. Badan nissal mengandung protein yang digunakan untuk
menggantikan protein yang habis selama metabolisme.
Protein ini juga digunakan untuk pertumbuhan neuron dan perbaikan saraf
dan sistem saraf perifer. Neurofibil merupakan fibil yang berbentuk panjang
dan ramping, serta terdiri dari mikrotubulus umumnya. Neurofibil diduga
memiliki peranan dalam pengangkutan nutrien dan penyokong3sel.
Lokasi badan sel terletak di sistem saraf pusat, meskipun ada beberapa yang
terletak di sistem saraf perifer. Di sistem saraf pusat badan sel neuron
berkelompok menjadi nukleus. Sementara itu, badan sel yang berkelompok
selain di saraf pusat, umumnya di sebut ganglion.
2. Dendrit
Pada badan sel terdapat bagian yang berupa serabut dengan penjuluran
pendek. Bagian ini disebut dendrit. Dendrit memiliki struktur yang
bercabang-cabang (seperti pohon) dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Fungsi dendrit adalah menerima impuls (rangsang) yang datang dari
reseptor. Kemudian impuls tersebut dibawa menuju ke badan sel saraf.
3. Akson
Selain itu, pada badan sel juga terdapat penjuluran panjang dan kebanyakan
tidak bercabang. Namanya adalah akson atau neurit. Akson berperan dalam
menghantarkan impuls dari badan sel menuju efektor, seperti otot dan
kelenjar. Walaupun diameter akson hanya beberapa mikrometer, namun
panjangnya bisa mencapai 1 hingga 2 meter.
Supaya informasi atau impuls yang dibawa tidak bocor (sebagai isolator),
akson dilindungi oleh selubung lemak yang kemilau. Kita bisa
menyebutnya selubung mielin. Selubung mielin dikelilingi oleh sel-sel
Schwan. Selubung mielin tersebut dihasilkan oleh sel sel pendukung yang
disebut oligodendrosit. Sementara itu, pada akson terdapat bagian yang
tidak terlindungi oleh selubung mielin. Bagian ini disebut nodus Ranvier,
yang berfungsi memperbanyak impuls saraf atau mempercepat jalannya
impuls.
Macam-Macam Neuron
Neuron beredasarkan jumlah uluran :
1. Neuron Unipolar
Neuron Unipolar hanya memiliki satu uluran yang timbul dari badan sel.
Misalnya neuron sensorik unipolar yang terdapat pada hewan tingkat
rendah.
2. Neuron Bipolar
Neuron ini memiliki dua uluran, yaitu akson dan dendrit. Badan selnya
berbentuk lonjong dan ulurannya timbul dari dua ujung badan sel. Neuron
ini terdapat pada retina (mata), koklea (telinga) dan epitel olfaktori
(hidung).
3. Neuron Multipolar
Neuron ini memiliki satu akson dan beberapa dendrit. Penyebaran neuron
multipolar ini paling banyak terdapat di dalam tubuh di bandingkan neuron
unipolar dan bipolar. Contoh neuron multipolar adalah neuron motorik
yang keluar dari sumsum tulang belakang.
SINAPSIS
Merupakan hubungan penyampaian impuls dari satu neuron ke neuron yang
lain. biasanya terjadi dari ujung percabangan akson dengan ujung dendrit
neuron yang lain.
Celah antara satu neuron dengan neuron yang lain disebut dengan celah
sinapsis. Di dalam celah sinapsis inilah terjadi loncatan-loncatan listrik yang
bermuatan ion, baik ion positif dan ion negatif. Di dalam celah sinapsis ini
juga terjadi pergantian antara impuls yang satu dengan yang lain, sehingga
diperlukan enzim kolinetarase untuk menetralkan asetilkolin pembawa
impuls yang ada. Dalam celah sinapsis juga terdapat penyampaian impuls
dengan bantuan zat kimia berupa asetilkolin yang berperan sebagai pengirim
(transmitter).
Berdasarkan tempat sinapsnya, neuron di bedakan menjadi tiga macam,
yaitu:
a. Sinaps aksosomatik (axosomatic synaps), yaitu sinaps yang terletak
diantara akson dari satu neuron dengan badan sel dari neuron lain.
b. Sinaps aksodendritik (axsodendrituc synaps), yaitu sinaps yang terletak
di antara akson dari neuron yang satu dengan dendrit dari neuron lain”
c. Sinaps aksoaksonik (axoaxonic synaps), yaitu sinaps yang terletak di
antara ujung akson dari neuron yang satu dengan akson dari neuron yang
lain.el saraf sensorik dan sel saraf motorik.
IMPULS SARAF
Salah satu sifat neuron adalah permukaan luarnya bermuatan positif,
sedangkan bagian dalamnya bermuatan negatif. Jadi, ada perbedaan
potensial antara neuron bagian luar dengan bagian dalam. Keadaan demikian
disebut polarisasi.
Bila neuron tersebut di rangsang, di tempat tersebut terjadi penurunan beda
potensial atau muatannya berubah, yaitu bagian luarnya menjadi negatif dan
bagian dalamnya menjadi positif. Keadaan tersebut di sebut depolarisasi.
Peristiwa perubahan muatan pada membran plasma neuron di sepanjang
serabut saraf di sebut dengan potensial aksi saraf atau yang lebih dikenal
dengan impuls saraf. Semua impuls saraf adalah sama. Respon yang
berlainan bukan di sebabkan karena impuls yang berbeda, tetapi karena
reseptor dan efektor yang berbeda. Impuls adalah rangsangan atau pesan
yang diterima oleh reseptor dari lingkungan luar, kemudian dibawa oleh
neuron. Impuls dapat juga dikatakan sebagai serangkaian pulsa elektrik yang
menjalari serabut saraf.
Prinsip kerja Impuls
Rangsangan (impuls) yang mengenai tubuh diterima oleh organ reseptor
untuk diteruskan ke pusat saraf. Dari pusat saraf akan disampaikan
tanggapan (respon) ke organ efektor. Respon ini biasanya berbentuk gerakan.
Proses perambatan impuls ini meliputi cara merambat melalui sel saraf dan
sinapsis.
1. Perambatan impuls melalui sel saraf
Rambatan impuls melalui serabut saraf terjadi dalam bentuk pulsa elektrik.
Alur impuls yang terjadi yaitu:
Perambatan impuls ini terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik
antara bagian luar dan bagian dalam sel saraf. Sel saraf pada saat beristirahat
bagian luarnya merupakan kutub positif, sedangkan bagian dalamnya kutub
negatif. Adanya rangsang dari organ reseptor menyebabkan pembalikan beda
potensial (depolarisasi), sehingga terjadi
2. Perambatan impuls melalui sinapsis
Ujung akson sel saraf membentuk tonjolan sinapsis yang berisi sitoplasma
(cairan sel). Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat membran kecil
(vesikula sinapsis) yang berisi neurotransmitter. Pada saat impuls sampai
pada ujung neuron, maka vesikula melepaskan neurotransmitter. Contoh
neurotransmitter yaitu asetilkolin (terdapat di seluruh tubuh), noradrenalin
(terdapat di sistem saraf simpatik), dopamin dan serotonin (terdapat di otak).
Penempelan asetilkolin pada reseptor menyebabkan terjadinya impuls pada
sel saraf berikutnya dengan bantuan enzim asetilkolinesterase.
Perambatan impuls dari sel saraf motorik ke otot pada organ efektor melalui
sinapsis. Sinapsis ini berbentuk cawan dan mengelilingi sel otot. Otot yang
bergerak dapat menggerakkan organ.Impuls yang diterima oleh reseptor dan
disampaikan ke efektor akan menyebabkan terjadinya gerakan atau
perubahan pada efektor. Gerakan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Gerak sadar
Gerak sadar atau gerak biasa adalah gerak yang terjadi karena disengaja atau
disadari. Impuls yang menyebabkan gerakan ini disampaikan melalui jalan
yang panjang. perambatan gelombang sesuai beda potensial. Contoh gerak
sadar misalnya olahraga, berjalan, berlari, makan dan sebagainya.
b. Gerak refleks
Gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Impuls yang menyebabkan
gerakan ini disampaikan melalui jalan yang sangat singkat dan tidak melewati
otak.
Perjalanan impuls pada gerak refleks disebut dengan lengkung refleks.
Neuron konektor ada yang terletak di otak dan ada yang terletak di sumsum
tulang belakang. Gerak refleks yang melibatkan neuron konektor yang
terletak di otak di sebut dengan refleks otak, misalnya refleks pupil mata
karena rangsangan cahaya. Gerak refleks yang melibatkan neuron konektor
yang teletak di sumsum tulang belakang disebut refleks sumsum tulang
belakang, misalnya refleks pada lutut.
Contoh gerak refleks adalah sebagai berikut:
a. Terangkatnya kaki jika terinjak sesuatu
b. Gerakan menutup kelopak mata dengan cepat jika ada benda asing yang
masuk ke mata
c. Menutup hidung pada waktu mencium bau yang sangat busuk
d. Gerakan tangan menangkap benda yang tiba-tiba terjatuh
e. Gerakan tangan melepaskan benda yang bersuhu tinggi
Sistem saraf manusia terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.
1. Sistem Saraf Tepi (Sistem Saraf Perifer)
Sistem saraf tepi adalah lanjutan dari neuron yang bertugas membawa impuls
saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat.
Dilihat dari arah impuls yang di bawanya, sistem saraf tepi di bedakan
menjadi dua, yaitu:
a. Sistem saraf aferen, yang membawa impuls saraf dari reseptor menuju
ke sistem saraf pusat
b. Sistem saraf eferen, yaitu membawa impuls saraf dari saraf pusat ke
efektor.
Sistem saraf tepi pada manusia terdiri dari 31 pasang saraf spinal( saraf tulang
belakang) dan 12 pasang saraf kranial (saraf kepala).
Berdasarkan karakteristik sifatnyanya sistem saraf kranial dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu:
a. Saraf Kranial yang sifatnya sensorik, terdiri dari 3 pasang
b. Saraf kranial yang sifatnya motorik, terdiri dari 5 pasang
c. Saraf kranial yang sifatnya gabungan sensorik dan motorik
terdiri dari empat pasang.
Berdasarkan fungsinya, saraf tepi di bedakan menjadi dua yaitu:
a. Saraf Somatik (saraf sadar)
Saraf somatik mengatur gerakan yang di sadari, misalnya gerakan kepala,
badan dan anggota gerak. Neuron sensori didalam saraf somatik
mengirimkan informasi dari kulit, otot rangka, dan tendon ke sistem saraf
pusat. Neuron sensori di dalam saraf somatik mengirimkan informasi dari
kulit, otot rangka, dan tendon ke sistem saraf pusat . Neuron motorik di
dalam saraf somatik mengirimkan perintah yang dibawa dari otak dan
sumsum tulang belakang menuju otot rangka.
b. Saraf Otonom (saraf tak sadar)
Saraf otonom mengatur gerak yang tidak di sadari, misalnya gerakan otot
polos, otot jantung dan kelenjer.
Berdasarkan sifat kerjanya, saraf otonom di bedakan menjadi dua, yaitu saraf
simpatik dan saraf parasimpatik. Namun pengaruh kerjanya berlawanan,
sehingga keduanya bersifat antagonis.
Saraf Simpatik
Saraf simpatik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang tulang
punggung dan menempel pada sumsum tulang belakang. Saraf simpatik
memiliki serabut praganglion yang pendek, sedangkan serabut pascaganglion
panjang.
Saraf Parasimpatik
Saraf parasimpatik memiliki serabut praganglion panjang dan serabut
pacsaganglion pendek. Susunan saraf parasimpatik berupa susunan saraf
yang berhubungan dengan ganglion-ganglion yang tersebar di seluruh tubuh.
2. Sistem saraf pusat
Seluruh aktivitas tubuh manusia dikendalikan oleh sistem saraf pusat. Sistem
ini yang mengintegrasikan dan mengolah semua pesan yang masuk untuk
membuat keputusan atau perintah yang akan dihantarkan melalui saraf
motorik ke otot atau kelenjar. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan
sumsum tulang belakang. Otak dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak,
sedangkan sumsum tulang belakang dilindungi oleh ruas-ruas tulang
belakang. Selain itu kedua organ tersebut dilindungi oleh selaput yang terdiri
dari jaringan ikat yang disebut meninges.
Meninges tersusun atas tiga lapisan yaitu:
-Piameter, merupakan lapisan paling dalam yang banyak mengandung
pembuluh darah
-Arachnoid, merupakan lapisan tengah berupa selaput jaring yang lembut.
Antara arachnoid dengan piameter terdapat rongga arachnoid yang berisi
cairan
-Durameter, merupakan lapisan paling luar, yang berupa membran tebal
fibrosa yang melapisi tengkorak dan melekat pada tulang
1. Otak
Otak manusia terdiri dari dua belahan (hemisfer),
yaitu belahan kiri dan belahan kanan. Kedua
belahan tersebut di hubungkan oleh balok otak yang
berongga (ventrikel) berisi cairan getah bening
(cerebrospinal). Pada tali spinal (jalur antara otak
dan sumsum tulang belakang) tejadi pindah silang
sehingga terjadi kebalikan sistem pengendalian,
yaitu belahan otak kiri akan mengendalikan sistem-
sistem tubuh yang terletak di bagian kanan tubuh,
sedangkan belahan otak kanan akan mengendalikan
sistem-sistem tubuh yang terletak di bagian kiri
tubuh.
Otak di bagi menjadi tiga daerah, yaitu otak depan,
otak tengah, dan otak kecil. Pembagian otak seperti
ini tampak jelas pada masa perkembangan embrio.
Sedangkan pada manusia dewasa tidak tampak jelas
karena masing-masing daerah terdiri dari beberapa
bagian atau lobus.
• Otak Besar (cerebrum)
• Otak tengah (mesencephalon)
• Otak tengah manusia berukuran cukup kecil,dan
terletak didepan otak kecil. Otak tengah memiliki
bagian dorsal yang disebut atap, tersusun oleh
empat bagian yang menonjol, dua tonjlan keatas
dan dua tonjolan ke bawah. Pada otak tengah
terdapat saraf okulomotoris (saraf yang
berhubungan dengan pusat pergerakan mata),
misalnya mengankat kelopak mata dan memutar
mata.
• Otak kecil (cerebelum)
SISTEM
03 endokrin
C. SISTEM ENDOKRIN
Sistem endokrin disebut juga sistem kelenjar buntu, yaitu kelenjar yang
tidak mempunyai saluran khusus untuk mengeluarkan sekretnya.
Kelenjar-kelenjar endokrin dimasukkan ke dalam suatu sistem karena
getah (sekret) dari satu kelenjar endokrin dapat mempengaruhi kelenjar
endokrin lainnya. Kelenjar endokrin berasal dari jaringan epitel, hanya
pada proses pembentukannya pada kelenjar endokrin sel-sel yang
berdiferensiasi menjadi kelenjar terlepas dari jaringan epitel induknya,
sehingga tidak mempunyai saluran pelepasan, karena itu disebut kelenjar
buntu.
Getah yang dihasilkan kelenjar endokrin disebut hormon, yang
didistribusikan melalui sistem peredaran. Hormon berasal dari kata
hormaein yang artinya “membangkitkan”. Hormon berperan dalam
mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh hewan, antara lain aktivitas
pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi serta
koordinasi tubuh. Dalam beberapa hal sistem endokrin bekerjasama
dengan sistem saraf untuk pengaturan terhadap fungsi organ-organ
tubuh. Bedanya sistem saraf bekerja lebih cepat dibandingkan dengan
cara kerja sistem hormonal yang lebih lambat, namun
berkesinambungan.
Kelenjar endokrin terdiri atas:
a. Hipotalamus
b. Pituitari dibagi atas bagian posterior dan anterior. Kelenjar posterior
pituitari menghasilkan hormon oksitosin dan hormon antidiuretik
(ADH). Kelenjar anterior pituitari menghasilkan hormon pertumbuhan,
prolaktin, follicle-stimulating hormone, luteinizing hormone, thyroid-
stimulating hormone, dan hormon adrenokortikotropik.
c. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon triodotironin dan tiroksin dan
kalsitonin.
d. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid.
e. Pankreas menghasilkan hormon insulin dan glukagon.
f. Kelenjar adrenal terbagi atas dua bagian yaitu medulla yang
menghasilkan hormon epinefrin dan norepinefin sedangkan bagian
korteks menghasilkan hormon glukokortikoid dan mineralkortikoid.
g. Gonad terbagi atas testes yang menghasilkan hormon androgen
sedangkan ovari akan menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.
h. Kelenjar pineal menghasilkan hormon melatonin.
Secara umum, kelenjar endokrin bertanggung jawab atas hampir seluruh
proses dalam tubuh yang berlangsung lambat, mencakup pertumbuhan
sel, tumbuh kembang badan, proses reproduksi, serta metabolisme.
SISTEM
04 indera
D. SISTEM INDERA
Sistem indra merupakan bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses
informasi indra. Di dalam sistem indra, terdapat reseptor indra, jalur saraf,
dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indra. Umumnya, sistem
indra yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan
dan peraba.
Di dalam tubuh manusia terdapat bermacam-macam reseptor untuk
mengetahui rangsangan-rangsangan dari luar atau disebut juga eksteroseptor.
Eksteroseptor sering disebut sebagai alat indera. Ada lima macam alat
indera pada tubuh manusia, yaitu indera penglihat, indera pendengar, indera
peraba dan perasa, indera pencium, dan indera pengecap.
1. Indera Penglihat ( Mata )
Mata merupakan indera penglihatan yang mendeteksi cahaya. Hal paling
sederhana yang dilakukan mata adalah mendeteksi terang dan gelap.
Kegiatan mata yang kompleks adalah
memberikan pengertian secara visual.
Mata tersusun atas :
a. Alat tambahan mata, terdiri atas :
b. Alis mata, berfungsi untuk melindungi mata dari keringat dan debu.
Kelopak mata, berfungsi sebagai alat pelindung dan penutup bola mata
sehingga aman dari kotoran.
c. Bulu mata, berfungsi untuk melindungi mata dari debu dan kotoran.
d. Aparatus lakrimalis, berfungsi untuk mengeluarkan air mata.
e. Otot bola mata, berfungsi untuk menggerakkan bola mata.
f. Bola mata, merupakan bola berukuran 2.5 cm yang terdiri atas 3 lapisan
Lapisan bola mata tersusun 3 lapisan yaitu:
a. Tunika fibrosa
b. Tunika vaskulosa
c. Tunika nervosa (retina),
Tunika fibrosa tersusun atas :
a. Sklera, berwarna putih, tidak tembus cahaya.
b. Kornea, lapisan tembus cahaya yang tidak mengandung pembuluh darah,
mengandung banyak saraf. Berfungsi untuk memfokuskan bayangan pada
retina.
Tunika vaskulosa tersusun atas :
a. Koroid, merupakan lapisan jaringan tipis dan mengandung banyak
pembuluh darah. Warnanya cokelat karena mengandung pigmen. Berfungsi
untuk memberi makan pada retina.
b. Iris, merupakan selaput yang terletak menggantung di antara lensa dan
kornea. Mengandung banyak pembuluh darah dan pigmen.
c. Pupil, merupakan lubang di tengah iris yang berfungsi untuk mengatur
jumlah cahaya yang masuk ke dalam retina.
Sistem kerja mata :
1. Mata menangkap cahaya.
2. Cahaya difokuskan menuju retina oleh kornea, dan diatur jumlahnya oleh
pupil.
3. Cahaya ditangkap oleh sel batang (untuk bayangan) dan sel kerucut (untuk
warna) yang terletak di retina.
4. Impuls dari sel dijalarkan ke neuron bipolar, lalu ke neuron ganglion.
Akson neuron ganglion akan membentuk saraf otak II, lalu impuls
disampaikan ke pusat saraf.
2. Indera Pendengar ( Telinga )
Telinga merupakan indera manusia yang berfungsi untuk menerima
rangsangan berupa bunyi. Selain itu, telinga juga berfungsi sebagai alat
keseimbangan manusia. Struktur telinga :
a. Telinga luar
-Daun telinga, berfungsi untuk membantu mengarahkan suara ke dalam liang
telinga dan akhirnya menuju gendang telinga
-Saluran telinga luar, berfungsi sebagai saluran yang menyampaikan suara
dari luar menuju ke gendang telinga.
-Membran timpani (gendang telinga), berfungsi untuk meneruskan suara ke
telinga tengah.
b. Telinga tengah
-Tulang martil, berfungsi untuk meneruskan getaran suara.
-Tulang landasan, berfungsi untuk meneruskan getaran suara.
-Tulang sanggurdi, berfungsi untuk meneruskan getaran ke koklea.
-Saluran eustachius, berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan telinga luar
dengan telinga dalam.
c. Telinga dalam
-Labirin osea, merupakan rongga pada tulang pelipis yang dilapisi
periosteum berisi cairan perilimfe.
-Kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran), mengandung reseptor
keseimbangan tubuh.
-Vestibula, mengandung reseptor keseimbangan tubuh.
-Koklea (rumah siput), mengandung reseptor pendengaran yang berfungsi
untuk meneruskan rangsang bunyi ke pusat saraf.
-Labirin membranasea, bentuknya menyerupai labirin osea, namun letaknya
lebih ke dalam
-dan dilapisi sel epitel serta berisi cairan endolimfe.
Cara kerja telinga : ini dimulai ketika organ telinga bagian luar,
yaitu daun telinga menangkap suara di sekitar Anda hingga masuk
ke telinga bagian tengah melalui liang telinga. Ketika suara tersebut
masuk, maka suara akan diubah menjadi getaran yang disalurkan ke
tulang pendengaran dengan bantuan gendang telinga.
Getaran ini nantinya akan menggerakkan tulang-tulang kecil di
dalam telinga tengah untuk membantu suara bergerak masuk ke
telinga bagian dalam. Ketika getaran tersebut mengenai rumah siput,
maka rambut akan bergerak dan menciptakan sinyal ke otak
sehingga otak mengenali getaran sebagai suara.
3. Indera Peraba dan Perasa ( Kulit )
Kulit merupakan indera peraba manusia. Kulit terdiri atas epidermis
dan dermis.Selain sebagai indera peraba, kulit juga berfungsi
sebagai pelindung bagi organ-organ manusia dan alat ekskresi
karena memiliki kelenjar keringat. Epidermis merupakan bagian
kulit yang tersusun atas sel-sel rapat. Dermis merupakan lapisan
yang terletak di bawah epidermis. Sel-selnya tersusun tidak terlalu
rapat.
Fungsi kulit :
a. Sebagai alat pengeluaran berupa kelenjar keringat.
b. Sebagai alat peraba.
c. Sebagai pelindung organ dibawahnya.
d. Tempat dibuatnya Vitamin D dengan bantuan sinar matahari.
e. Pengatur suhu tubuh.
f. Tempat menimbun lemak
Cara kerja kulit : Indra peraba yakni kulit akan menerima begitu
banyak rangsangan dari luar. Rangsangan yang dapat diterima oleh
kulit adalah sentuhan dingin, panas, tekanan serta rasa nyeri. Ketika
kulit merasakan panas, maka rangsangan akan diterima sel sel
reseptor. Di sel reseptor, rangsangan akan dibawa ke otak lewat urat
saraf yang akhirnya akan diolah otak dan akhirnya kita bisa
merasakan sebuah rangsangan. Setelah tubuh menerima rangsangan,
maka otak akan memerintahkan tubuh untuk memberi tanggapan
terhadap rangsangan yang sudah diterima tubuh.
4. Indera Pembau ( Hidung )
Hidung merupakan indera manusia yang berfungsi untuk menerima
rangsangan berupa bau. Hidung meliputi bagian eksternal yang
menonjol dari wajah dan bagian internal. Berupa rongga hidung
sebagai alat penyalur udara. Hidung bagian luar tertutup oleh kulit
dan disupport oleh sepasang tulang hidung.
Rongga hidung terdiri atas :
a. Rongga atas yang diisi oleh cabang saraf cranial, yaitu saraf
olfaktori.
b. Saraf ini menembus tulang tapis, masuk ke otak dan bersinaps
dengan neuron traktus
c. olfaktrius pada bulbus olfaktrius.
d. Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi.
e. Bagian rongga dalam mengandung sel-sel epitel yang berfungsi
untuk menerima
f. rangsang kimia. Bagian tersebut dilengkapi lendir dan rambut-
rambut pembau.
g. Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap udara
luar karena strukturnya yang berlapis.
h. Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian
anterior kebagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring.
Fungsi hidung :
a. Merupakan jalur masuk keluar udara dari dan menuju ke paru-
paru.
b. Tempat menyaring udara yang dihisap.
c. Media untuk menerima rangsang bau.
d. Berhubungan dengan pembentukkan suara suara phonetik dimana
ia berfungsi sebagai
e. ruang resonansi.
Cara kerja hidung dalam membau :
a. Bau diterima saat proses inspirasi.
b. Zat bau larut dalam lendir pada selaput lendir hidung.
c. Terjadi pengikatan zat dengan protein membran pada dendrit.
d. Timbul impuls untuk diproses oleh otak.
e. Indera Pengecap ( Lidah )
Struktur lidah :
a. Sebagian besar, lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada
tulang hyoideus, tulang rahang bawah dan processus styloideus di
tulang pelipis.
b. Terdapat dua jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik dan
intrinsik.
c. Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan
yang disebut papila.
Terdapat tiga jenis papila yaitu:
1. Papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus
2. Papila sirkumvalata (sirkum=bulat); berbentuk bulat, tersusun seperti
huruf V di belakang lidah
3. Papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur.
Terdapat satu jenis papila yang tidak terdapat pada manusia, yakni
papila folliata pada hewan pengerat. Tunas pengecap adalah bagian
pengecap yang ada di pinggir papila, terdiri dari dua sel yaitu sel
penyokong dan sel pengecap. Sel pengecap berfungsi sebagai reseptor,
sedangkan sel penyokong berfungsi untuk menopang.
Letak tunas pengecap berbagai macam rasa di lidah :
1. Rasa pahit terletak di dekat pangkal lidah.
2. Rasa asin terletak di samping tengah lidah.
3. Rasa asam terletak di samping depan lidah.
4. Rasa manis terletak di bagian lidah yang paling depan
Selain di lidah, beberapa tunas pengecap juga terletak pada langit langit
rongga mulut dan tenggorokan.
Cara Kerja Lidah : benda atau makanan yang memiliki rasa masuk
kedalam mulut menuju papila kemudian diteruskan menuju saraf
gustatori selanjutnya menuju medula oblongata kemudian diteruskan
kembali menuju talamus dan yang terakhir diteruskan menuju otak.
05 Gangguan
pada
sistem
endokrin
E. GANGGUAN PADA SISTEM KOORDINASI
1. Tremor
Tremor merupakan gangguan koordinasi pada manusia dengan gejala
gerakan gemetar yang tidak terkendali. Biasanya hal ini terjadi pada
anggota gerak tubuh seperti tangan. Tremor pada umumnya tidak
menimbulkan komplikasi khusus, namun kondisi ini mengganggu
aktivitas sehari-hari.
2. Parkinson
Penyakit parkinson ini merupakan kelainan akibat degeneratif sel saraf
pada bagian otak. Sel saraf mengalami kerusakan pada bagian tertentu
sehingga tidak mampu memproduksi dopamine. Gejala parkinson
umumnya muncul tremor, kaku otot, dan hilangnya reaksi spontan
secara bertahap.
3. Meningitis
Meningitis merupakan penyakit saraf akibat peradangan karena infeksi
virus dan pola hidup yang tidak sehat. Virus ini menginfeksi selaput
saraf pada otak. Pada umumnya penyakit ini diobati dengan vaksin
maupun antibiotik.
Sistem koordinasi pada manusia tentu mengemban peran sangat penting
dalam tubuh. Sehingga tidak kalah penting juga bagi kamu menjaga
kesehatan terkait sistem koordinasi tersebut. Supaya tubuh tetap
berfungsi sebagaimana mestinya.
F. KELAINAN PADA SISTEM KOORDINASI
Fungsi sistem koordinasi adalah melancarkan gerakan tubuh. Ketika
ingin melakukan sesuatu hal, otak kecil atau serebelum menerima
informasi dari sistem sensorik, saraf tulang belakang, dan bagian otak
lainnya. Setelah terintegrasi, bisa bergerak sesuai keinginan dengan
lancar, misalnya mengendarai sepeda. Sebagian orang rupanya kerap
mengalami beberapa penyakit pada fungsi sistem koordinasinya. Hal itu
membuat gerakan tubuh menjadi terganggu dan dapat mengganggu
aktivitas. Seperti peranan otak kecil atau serebelum pada diri yang
ternyata sangat penting. Meskipun tidak menyebabkan kelumpuhan
atau gangguan intelektual, kerusakan pada serebelum rupanya dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan pada tubuh Anda, gerakan Anda
menjadi lebih lambat, dan Anda bisa mengalami tremor atau gemetar.
Beberapa kelainan dan penyakit pada sistem koodnasi adalah sebagai
berikut :
● Kelainan dan Penyakit pada Sistem Saraf
a) Alzheimer
Alzheimer adalah penyakit sistem saraf yang berupa kehilangan
kemampuan untuk peduli kepada diri sendiri.Penderita penyakit sistem
saraf ini kehilangan kemampuan dalam hal mengingat peristiwa yang
baru terjadi. Penerita penyakit sistem saraf ini kemudian menjadi
bingung, menjadi pelupa, sering mengulang-ulang pertanyaan yang
sama, bahkan tersesat saat berada di tempat yang tak asing baginya atau
sering dikunjungi. Alzheimer adalah jenis kepikunan yang dapat
melumpuhkan pikiran dan kecerdasan seseorang. Keadaan ini
ditunjukkan dengan adanya kemunduran kecerdasan dan ingatan secara
perlahan sehingga mengganggu kegiatan sosial sehari-hari. Alzheimer
juga merupakan kelainan pada sistem saraf.
b) Meningitis
Penyakit sistem saraf ini disebabkan karena terjadinya peradangan pada
meninges.Penyakit sistem saraf ini dapat menular, dan ditularkan
melalui virus.Virus tersebut yang kemudian menginfeksi selaput saraf
pada manusia. Meningitis adalah radang yang terjadi pada membran
pelindung otak. Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme, luka
fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis merupakan penyakit
serius pada sistem koordinasi manusia karena letaknya dekat otak dan
tulang belakang sehingga dapat mengakibatkan kerusakan kendali
gerak, pikiran, bahkan kematian. Sebagian besar meningitis disebabkan
oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang
menyebar dalam darah ke cairan otak.
c) Penyakit Parkinson
Penyakit ini juga merupakan sejenis penyakit degeneratif yang
umumnya terjadi pada lansia. Penderita penyakit Parkinson mengalami
gangguan fungsi sistem koordinasi di otak. Hal ini menyebabkan
gangguan pergerakan yang khas seperti tremor, gerakan tubuh
melambat, dan sulit mempertahankan keseimbangan tubuh. Parkinson.
Parkinson adalah penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya
neurotransmitter dopamin pada dasar ganglion. Gejalanya tangan
gemetar sewaktu istirahat (tetepi gemetar tersebut hilang saat tidur),
sulit bergerak dan kekakuan otot. Otot muka kaku menimbulkan kesan
seolah-olah bertopeng, mata sulit mengedip dan langkah-langkah
menjadi kecil dan kaku. Penyakit ini juga merupakan sejenis penyakit
degeneratif yang umumnya terjadi pada lansia. Penderita penyakit
Parkinson mengalami gangguan fungsi sistem koordinasi di otak. Hal
ini menyebabkan gangguan pergerakan yang khas seperti tremor,
gerakan tubuh melambat, dan sulit mempertahankan keseimbangan
tubuh.
d) Dispraksia
Dispraksia adalah gangguan di mana pesan yang dikirim dari otak ke
otot terganggu. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah dengan
gerakan dan fungsi sistem koordinasi Anda. Biasanya, penyakit atau
gangguan ini kerap terjadi sejak usia anak-anak. Akan tetapi, orang
dewasa juga bisa terkena penyakit ini jika mengalami penyakit atau
cedera. Risiko dispraksia lebih tinggi terjadi pada bayi prematur, berat
badan saat lahir rendah, serta pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang
minum alkohol dan merokok selama kehamilan. Umumnya, anak-anak
yang terkena penyakit ini akan mengalami kesulitan ketika menulis,
mengikuti perintah atau pengaturan, dan mengalami kesulitan saat
berbicara dan mendengarkan. Tanda-tanda awal terkena dispraksia
dapat terlihat pada bayi yang lambat ketika duduk, merangkak, dan
berjalan. Setelah umur bertambah, anak menjadi ceroboh, rawan
mengalami kecelakaan, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk
belajar bersepeda.
● Kelainan dan Penyakit pada Sistem Endokrin
Dalam sistem endokrin terdapat hormon yang disebut dengan Growth
Hormon (GH). Jika jumlah GH pada tubuh seseorang tidak seimbang,
maka akan terjadi salah satu dari tiga penyakit tersebut diantaranya:
Dwarfisme, Gigantisme, dan Akromegali. Sesuai dengan namanya,
Dwarfisme adalah kekerdilan akibat kekurangan GH, sedangkan
Gigantisme adalah pertumbuhan yang melebihi kapasitas normal karena
kelebihan GH. Sedangkan yang dimaksud dengan Akromegali adalah
pertumbuhan yang tidak seimbang akibat kelebihan GH ketika sudah
dewasa. Adapun kretinismeKretinisme adalah kekerdilan dan
keterbelakangan mental karena kurangnya hormon yang diproduksi
oleh kelenjar tiroid. Ini juga merupakan salah satu bentuk gangguan
pada sistem endokrin. Selain kretinisme, ada juga yang disebut dengan
myxedema. Myxedema adalah kondisi ketika kecepatan metabolisme
tubuh rendah akibat kurangnya hormon yang juga diproduksi oleh
kelenjar tiroid.
a) Sindrom Adrenogenital
Sindrom Adrenogenital merupakan kelainan pada sistem endokrin
karena terjadinya kekurangan produksi glukokortikoid yang umumnya
disebabkan oleh terjadinya kekurangan enzim pembentuk
glukokortikoid pada kelenjar adrenal. Akibatnya hormon adrenotropin
meningkat dan merangsang zona retikularis untuk menskresikan
androgen sehingga mengakibatkan munculnya tanda-tanda kelamin
sekunder pria pada seorang wanita, yang disebut virilisme.
b) Struma
Struma merupakan pembengkakan kelenjar tiroid sehingga
menimbulkan benjolan pada leher bagian depan. Penyebabnya antara
lain karena adanya peradangan tumor atau kekurangan yodium.
c) Hipotiroidea
Hipotiroidea disebabkan oleh terjadinya kekurangan hormon tiroid.
Penyebabnya adalah kekurangan yodium pada makanan. Oleh karena
itu, penyakit ini dapat dicegah dengan mengonsumsi garam beryodium.
Hipertiroidea disebabkan oleh terjadinya kelebihan sekresi hormon
tiroid dari kadar normal. Gejala-gejalanya adalah berat badan menurun,
gemetaran, berkeringat, nafsu makan meningkat, jantung berdebar, dan
BMR meningkat melebihi 20 sampai 100.
d) Sindrom Cushing
Sindrom Cushing merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit yang
disebabkan oleh terjadinya sekresi yang berlebihan dari glukokortikoid
dan pemberian obat-obatan kortikosteroid secara berlebihan.
● Kelainan dan Penyakit pada Alat Indra
• Kelainan dan penyakit pada Indra Penglihatan
a) Astigmatis
Astigmatis (mata silindris) adalah kelainan pada mata yang
menyebabkan penglihatan menjadi kabur.Hal ini terjadi karena
penderita tidak mampu melihat garis-garis horizontal dan vertikal
secara bersama-sama.Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai
kacamata silindris. Astigmatisme adalah kelainan pada mata di mana
kornea tidak rata sehingga cahaya sejajar difokuskan ke satu titik.
Kelainan ini dapat ditolong menggunakan lensa silindris.
Dan kelainan pada sistem indra (penglihatan) yang lain adalah Miopi
(rabun jauh), Hipermetropi (rabun dekat), Presbiopi (rabun dekat dan
jauh), Hemeralopi (rabun senja), Buta Warna dan Katarak.
• Kelainan dan penyakit pada Indra Pendengaran
a) Otitis media (Radang Telinga)
Radang telinga atau otitis adalah peradagang sebagian atau seluruh
mukosa telinga, tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga
tengah dengan rongga mulut), antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
Radang telinga dapat terjadi di bagian luar maupun tengah. Radang
telinga bagian luar terjadi karena bakteri, jamur, atau virus yang masuk
melalui berbagai cara. misalnya masuk bersama air ketika berenang.
Radang telinga tengah (otitis media) dapat terjadi karena bakteri atau
virus, misalnya virus influenza.
b) Tuli
Tuli merupakan gangguan pendengaran karena kerusakan saraf
pendengaran, infeksi bakteri, atau jamur. Tuli merupakan gejala utama
radang telinga atau otitis. Gendang telinga terlihat utuh, namun tertarik
atau retraksi, suram, kuning kemerahan atau keabu-abuan. Penderita
peyakit pada sistem indera manusia ini tidak dapat mendengar dengan
jelas yang diucapkan oleh orang lain, terkadang juga tidak nyambung.
Dalam kondisi sudah parah, penderita tuli tidak dapat mendengar sama
sekali apa yang diucapkan oleh orang lain.Penderita penyakit ini akan
sulit bersosialisasi dengan orang lain. Oleh karena itu, penderita tuli
dapat dibantu dengan alat bantu pendengaran. Alat ini biasanya
dipasang di telinga bagian luar. Dengan alat ini, penderita tuli dapat
mendengar dengan jelas.
• Kelainan dan penyakit pada Indra Peraba
a) Kutu air
Kutu air adalah sebuah infeksi jamur pada kulit, biasanya di antara jari
kaki yang disebabkan oleh jamur parasit, penyakit ini menular.
b) Kusta
Kusta adalah sebuah penyakit infeksikronis yang disebabkan oleh
bakteriMycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit
granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas.
c) Panu
Panu merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur.
Penyakit panu ditandai oleh bercak yang terdapat pada kulit disertai
rasa gatal pada saat berkeringat..Jamur yang menyebabkan panau
adalah Malassezia furfur.
• Kelainan dan penyakit pada Indra Pengecap
a) Mati Rasa
Mati rasa dibedakan menjadi dua yaitu bersifat sementara dan bersifat
permanen. Mati rasa sementara terjadi ketika kita memakan atau
meminum sesuatu yang suhunya terlalu panas atau terlalu dingin.
Sedangkan mati rasa permanen terjadi karena rusaknya jaringan saraf
yang berhubungan dengan indra pengecap di otak karena si penderita
mengalami trauma pada bagian tertentu di otak.
b) Kanker Lidah
Penyebab kanker lidah salah satunya rokok.Asap yang lama mengepul
di rongga mulut dan terkena lidah bisa memicu kanker lidah. penyebab
terbesar terjadinya kanker lidah karena merokok, terutama yang lebih
dari 2 pak per hari. Risiko tersebut akan meningkat jika mengonsumsi
alkohol. Pengobatan dapat dilakukan dengan operasi, radiasi, sinar-X
dan kemoterapi.
• Kelainan dan penyakit pada Indra Pembau
a) Anosmia
Anosmia adalah gangguan pada hidung berupa kehilangan kemampuan
untuk membau. Penyakit ini dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya
cidera atau infeksi di dasar kepala, keracunan timbel, kebanyakan
merokok, atau tumor otak bagian depan.
b) Rhinitis Alergika
Rhinitis Alergika terjadi karena sistem kekebalan tubuh kita bereaksi
berlebihan terhadap partikel-partikel yang ada di udara yang kita hirup.
Sistem kekebalan tubuh kita menyerang partikel-partikel itu,
menyebabkan gejala-gejala seperti bersin-bersin dan hidung
meler.Partikel-partikel itu disebut alergen yang artinya partikel-partikel
itu dapat menyebabkan suatu reaksi alergi.
Gaya Hidup Sehat Untuk Menghindari Penyakit Pada Sistem
Koordinasi:
1. Pola Makan Sehat
Dengan pola makan yang benar, yakni mengonsumsi makanan bergizi
seimbang, tubuh akanmendapatkan nutrisi yang cukup. Itu artinya
setiap kali makan kita harus menyantap makanan yang mengandung
karbohidrat kompleks (karbohidrat yang mengandung serat dan zat gizi
lainnya), vitamin serta mineral, protein, juga lemak.Tentu saja semua
dalam jumlah yang cukup, sesuai kebutuhan tubuh. Dengan pola makan
sehat seperti ini maka sistem koordinasi dapat berfungsi dengan baik.
2. Istirahat yang Cukup
Salah satu cara menjaga sistem koordinasi adalah dengan tidur yang
cukup. Setelah melakukan aktifitas fisik dan otak seharian, manusia
membutuhkan istirahat yang optimum yang juga menjadi alternatif
untuk menciptakan pola hidup sehat karena pada saat manusia
melakukan ini, otot dan otak yang selama ini bekerja dapat relaksasi
dan beristirahat.
3. Olahraga
Olahraga setiap hari dapat membuat mental menjadi lebih sehat, pikiran
jernih, stres berkurang dan meningkatkan kemampuan otak. Karena
olahraga bisa meningkatkan jumlah oksigen dalam darah dan
mempercepat aliran darah menuju otak.
4. Hindari Stress
Stres memang sangat sulit dihindari jika hidup di kota besar seperti
Jakarta yang dikenal karena kemacetan dan kesibukannya. Saat
seseorang mengalami stres, tubuhnya akan mengeluarkan hormon
cortisol yang menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku. Hormon
norepinephrine akan diproduksi tubuh saat menderita stres, yang akan
mengakibatkan naiknya tekanan darah. Maka, sangat baik bila Anda
menghindari stres baik di kantor atau di rumah.
Tidak selamanya manusia akan diberikan kesehatan. Suatu saat
manusia pasti akan mengalami gangguan atau kelainan atau penyakit.
Entah itu disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun usia. Ada banyak
gangguan dan penyakit pada sistem koordinasi dan sistem indera
manusia. Tidak ada salahnya jika sejak sekarang kita menjaga
kesehatan agar bisa terhindar dari segala macam penyakit. Berikut ini
adalah beberapa gangguan, kelainan dan penyakit pada sistem
koordinasi dan sistem indera manusia.
Penyakit-Penyakit pada Fungsi Sistem Koordinasi :
Fungsi sistem koordinasi bisa mengalami gangguan. Hal ini dapat
membuat gerakan tubuh mengalami kelainan sehingga sangat bisa
mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa penyakit pada fungsi
sistem koordinasi yang kerap terjadi adalah:
● Ataksia
Ataksia adalah penyakit degeneratif yang memengaruhi fungsi sistem
koordinasi otak, batang otak, atau saraf tulang belakang. Ataksia
menyebabkan gerakan penderitanya menjadi tersentak dan terombang-
ambing. Bahkan, penderita ataksia jadi sering terjatuh ketika berjalan
karena gaya berjalannya yang tidak stabil. Gejala ataksia yang paling
umum terjadi adalah hilangnya keseimbangan dan koordinasi, adanya
masalah pada kemampuan berbicara, sulit menelan, dan tremor.
● Penyakit Parkinson
Penyakit ini juga merupakan sejenis penyakit degeneratif yang umum
terjadi pada lansia. Penderita penyakit Parkinson mengalami gangguan
fungsi sistem koordinasi di otak. Hal ini menyebabkan gangguan
pergerakan yang khas seperti tremor, gerakan tubuh melambat dan
kaku, serta kesulitan mempertahankan keseimbangan tubuh.
● Dispraksia
Dispraksia adalah gangguan ketika pesan yang dikirim dari otak ke otot
terganggu. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah dengan gerakan
dan fungsi sistem koordinasi. Biasanya, penyakit atau gangguan ini
terjadi sejak usia anak-anak. Akan tetapi, orang dewasa juga bisa
terkena penyakit ini jika mengalami penyakit atau cedera.
Fungsi sistem koordinasi sangat penting dalam kehidupan seseorang.
Hal ini dapat dilihat dari dampak gangguan sistem koordinasi yang
dapat membuat seseorang kesulitan untuk melakukan aktivitas, bahkan
yang sederhana seperti berjalan, dan mengalami penurunan performa
kerja yang cukup drastis. Sering kali penderita gangguan fungsi sistem
koordinasi yang tergolong parah memerlukan bantuan alat untuk bisa
bergerak secara mandiri atau mungkin asisten khusus untuk
membantunya melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan sendiri,
misalnya menyuapkan makanan dengan sendok atau mandi.
THANKS