TAFSIR, TA'WIL dan TERJEMAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Tafsir
Dosen Pengampu:
Hidayatullah, MA.
Disusun Oleh :
Badruz Zaman
Abdurrahman Siregar
Alfin Firkhan Maulana
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN JAKARTA
2020
1
Kata Pengantar
Alhamdulillah rasa syukur yang sedalam dalamnya kepada Allah pengatur hidup, tempat
kembali semua mahkluk yang ada di muka bumi ini. Dengan mengucapkan Alhamdulillah
materi pertama dalam mata kuliah Ilmu Tafsir yang diserahkan kepada kelompok kami
sudah selesai, tentu makalah ini jauh dari sempurna maka perlu kiranya kritikan dan
masukan dari dosen pengampu dan rekan rekan mahasiswa lainnya agar pengetahuan kita
semakin bertambah.
Bagan Batu, 08 September 2020
PENYUSUN
2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ii
1
BAB I PENDAHUlUAN 1
1
Latar Belakang 1
2
Rumusan Masalah 2
2
A. Tujuan Masalah 4
6
BAB II PEMBAHASAN 7
8
A. Tafsir 9
9
1. Pengertian Tafsir 9
10
2. Pengertian Ta'wil
B. Persamaan dan Perbedaan Tafsir dan Takwil.
C. Terjemah.
D. Hukum Terjemah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
3
BAB I PENDAHUlUAN
A. Latar Belakang
Istilah T afsir, Takwil dan Tarjamah kerap didengar namun masih banyak yang belum
mengerti untuk istilah tersebut khususnya bagi pemula dalam mempelajari Ilmu
Tafsir. T afsir, Takwil dan Tarjamah memiliki perbedaan dari secara arti lafadz
maupun secara makna. Tentu, mahasiswa yang bergelut di dunia tafsir harus
memahami istilah tersebut agar mampu menjelaskan kepada khalayak. Disamping
itu, mata kuliah Ilmu Tafsir ini sabagai ilmu baru bagi mahasiswa semester tiga tentu
istilah T afsir, Takwil dan Tarjamah m asih asing di telinga sehingga dengan makalah
ini mahasiswa mampu memahami istilah tersebut baik secara pengertian, perbedaan
dan persamaan dan lain sebgainya.
B. Rumusan Masalah
a. Apa Pengertian Tafsir dan Takwil?
b. Apa Persamaan dan Perbedaan Tafsir dan Takwil?
c. Apa Pengertian Terjemah?
d. Sebutkan Ragam dan Hukum Terjemah?
C. Tujuan Masalah
a. Mahasiswa mampu memahami pengertian, perbedaan dan persamaan T afsir,
Takwil dan Terjemah serta ragam dan hukum terjamahnya sehingga mempu
menjelaskan kepada pendengar dengan baik.
1
BAB II PEMBAHASAN
A. Tafsir
1. Pengertian Tafsir
a. Tafsir secara etimologis, tafsir berakar dari kata fassara-yufassiru-tafsiran,
berarti keterangan dan penjelasan (al-idhah wa at-tabyin), sebagaimana
terdapat dalam firman Allah SWT:
وﻻ ﯾﺎﺗﻮﻧﻚ ﺑﻤﺜﻞ اﻻﺟﺌﻨﺎك ﺑﺎﻟﺤﻖ واﺣﺴﻦ ﺗﻔﺴﯿﺮا
"Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang
ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang bener dan yang paling
baik penjelasannya." (Q.S. Al-Furqon 25:33)
Tafsir menurut bahasa mengandung arti kata lain:
1) Kata f assara adalah bentuk muta'addi dari kata fassara-yufassiru- fasran,
atau fasara-yafsuru-fasran y ang berarti a l-bayan atau kasyf al-mughtha
(menyingkap yang tertutup). Dengan demikian tafsir berarti k asyfu
al-murad 'an al-lafdz al-musykil (menyingkap maksud yang sulit).1
2) Menjelaskan, menerangkan yakni ( ;)اﻻﯾﻀﺎح واﻟﺘﺒﯿﯿﻦada sesuatu yang
semula belum atau tidak jelas memerlukan penjelasan lebih lanjut,
sehingga jelas dan terang.
3) Keterangan sesuatu ()اﻟﺸﺮح, yakni ; perluasan dan pengembangan dari
ungkapan-ungkapan yang masih sangat umum dan global, sehingga
menjadi lebih terperinci dan dipahami serta dihayati.
4) ()اﻟﺘﻔﺴﯿﺮة, yakni ; (alat alat kedokteran yang khusus dipergunakan untuk
mendeteksi atau mengetahui segala penyakit yang diderita oleh seorang
pasien). Kalau tafsiroh adalah alat kedokteran yang mengungkap penyakit
dari seorang pasien, maka tafsir dapat mengeluarkan makna yang
tersimpan dalam kandungan ayat-ayat al-Qur'an.2
1 Ilyas Yunahar, Kuliah Ulumul Qur'an (Yogyakarta: ITQAN Publishing, 2013), hal. 269
2 M. Ali Hasan dan Rif‟at Syauqi Nawawi, P engantar Ilmu Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hal.
139
2
b. Para pakar ulum al-Qur'an memberi penjelasan etimologis yang berbeda:
1) Manna' al-Qatthan, kata tafsir a dalah bentuk taf'il dari kata fassara,
menerangkan, membuka dan menjelaskan (a l-bayan) . Dalam bahasa
arab, kata a l-fasru membuka arti yang sukar sedang kata a t-tafsir berarti
membuka atau menjelaskan arti yang dimaksudkan dari lafal-lafal yang
sulit. 3
2) Az-Zarkasyi mengatakan, kata tafsir berasal dari tafsirah, a rtinya
stetoskop, y aitu alat yang dipakai oleh dokter untuk memeriksa para
pasien, fungsinya adalah membuka dan menjelaskan. Dengan alat
tersebut seorang dokter dapat menjelaskan penyakit yang diderita oleh
seorang pasien. Demikian pula seorang mufassir, dengan tafsir ia dapat
menjelaskan ayat-ayat al-Qur'an.
3) As-Syuthi menyebutkan bahwa kata tafsir berasal dari kata safar, seperti
dalam ungkapan a sfara as-subhu y ang berarti ”fazar telah bercahaya
terang" sehingga secara bahasa tafsir berarti penerangan / keterangan.4
c. Dari segi terminologis, bermacam definisi dibuat oleh para ulama. Berikut ini
diantaranya:
1) Abu Hayyan
Tafsir adalah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan
lafazh-lafazh Al-Qur'an dan tentang arti dan makna lafazh-lafazh
tersebut, baik kata perkata maupun dalam bentuk kalimat yang utuh
serta hal-hal yang melengkapinya.
2) Az-Zarkasyi
Tafsir adalah ilmu yang memahami kitabullah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna-maknanya serta
mengeluarkan hukum dan hikmahnya.
3 Al-Qathathan, Manna Khalil, M abahist Fi Ulumul Qur'an ( Riyadh: al-Maktabah al-Ma'arif, 1992), hal
277
4 Mesra Alimin, Mu'min Rauf dan Wiwi Ma'shum, Ulumul Qur'an ( Jakarta: Pusat Studi Wanita UIN
Jakarta, 2005) hal, 216
3
3) Az-Zarqoni
Tafsir adalah yang membahas tentang al-Qur'an al-Karim dari segi
makna yang terkandung di dalamnya sesuai dengan maksud yang
diinginkan oleh Allah SWT sebatas kemampuan manusia. 5
4) As-Suyuthi
Tafsir adalah ilmu mengenai turunnya ayat-ayat dan ihwalnya,
cerita-cerita dan sebab-sebab turunnya, makkiyah d an m adaniyyah,
muhkam dan m utasyabihatnya, nasikh dan masnsyukhnya, khusus dan
umumnya, mutlaq d an muqayyadnya, mujmal dan mufassarnya, h alal
dan haramnya, janji dan ancamannya, perintah dan larangannya, dan
mengenai ungkapan dan perumpamaan-perumpamaannya.
5) Hasbi As-Shiddqiey
Tafsir adalah mensyarahkan lafadz yang sukar dipahami oleh
pendengar dengan menjelaskan maksudnya. Yang demikian itu,
adakalanya dengan menyebut sinonimnya atau mendekatinya.6
2. Pengertian Ta'wil
a. Kata ta'wil berasal dari kata " awwal" yang berarti a l-marja', y ang berarti
"tem pat kembali." Awwala-yu'awwilu-ta'wilan.7
b. Takwil menurut bahasa berarti memalingkan arti lafal kepada salah satu dari
beberapa arti yang bermacam macam.
c. Secara terminologis . T a'wil a dalah menafsirkan kalimat dan menerangkan
maknanya, baik sesuai dengan dzahir kalimat maupun tidak. Dalam
pengertian ini ta'wil dan tafsir menunjukkan arti yang sama. Menurut ulama
khalaf dari kalangan ahli fiqh, ahli kalam, ahli hadist dan ahli tasawwuf, ta'wil
artinya memalingkan lafal dari arti kata yang r ajih kepada arti yang marjuh
karena ada dalil yang melandasinya. Pengertian ini mengindikasikan adanya
perbedaan antara tafsir dan ta'wil.8
d. Macam-macam ta'wil:
5 Ilyas Yunahar, Kul iah Ulumul Qur'an (Yogyakarta: ITQAN Publishing, 2013), hal. 270
6 Mesra Alimin, Mu'min Rauf dan Wiwi Ma'shum, Ulumul Qur'an ( Jakarta: Pusat Studi Wanita UIN
Jakarta, 2005) hal, 217
7 Drajat Amroeni, Ulumul Qur'an ( Depok: Kencana, 2017) hal, 125
8 Mesra Alimin, Mu'min Rauf dan Wiwi Ma'shum, Ulumul Qur'an ( Jakarta: Pusat Studi Wanita UIN
Jakarta, 2005) hal, 217-218
4
1) Ta'wil kalam dalam pengertian si pembicara mengembalikan perkataanya
dengan merujuk pada asalnya. Kata kalam i alah mengembalikan kepada
makna hakikinya yang merupakan esensi sebenarnya dari yang dimaksud
si pembicara.
Kalam terdiri dua kemungkinan:
a) Insya a tau amr ' (kalimat perintah)
Ta'wil al-amr' ialah esensi perbuatan yang diperintahkan.
Misalnya hadis yang diriwayatkan dari A'isyah r.a. ia berkata
"Rasulullah membaca dalam rukuk dan sujudnya."
ﺳﺒﺤﺎن اﷲ وﺑﺤﻤﺪك اﻟﻠﻬﻢ اﻏﻔﺮﻟﻲ
Dalam hal ini, ia menakwilkan (melaksanakan perintah) Al-Qur'an,
yaitu firman Allah SWT:
ﻓﺴﺒﺢ ﺑﺤﻤﺪ رﺑﻚ واﺳﺘﻐﻔﺮه اﻧﻪ ﻛﺎن ﺗﻮاﺑﺎ
Maka bertasbilah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepadanya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
b) Al-ikhbar
Ta'wil al-ikhbar a dalah esensi dari apa yang diberitakan itu sendiri
yang benar-benar terjadi. Misalnya firman Allah:
ﯾﻮم,وﻟﻘﺪ ﺟﺌﻨﻬﻢ ﺑﻜﺘﺎب ﻓﺼﻠﻨﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﻠﻢ ﻫﺪى ورﺣﻤﺔ ﻟﻘﻮم ﯾﺆﻣﻨﻮن ﻫﻞ ﯾﻨﻈﺮون اﻻ ﺗﺎوﯾﻠﻪ
ﯾﺎﺗﻲ ﺗﺎوﯾﻠﻪ ﯾﻘﻮل اﻟﺬﯾﻦ ﻧﺴﻮه ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻗﺪ ﺟﺎءت رﺳﻞ رﺑﻨﺎ ﺑﺎﻟﻖ ﻓﻬﻞ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺷﻔﻌﺎء ﻓﯿﺸﻔﻌﻮا ﻟﻨﺎ
او ﻧﺮد ﻓﻨﻌﻤﻞ ﻏﯿﺮ اﻟﺬي ﻛﻨﺎ ﻧﻌﻤﻞ
Dan sesungguhnya kami telah mendatangkan sebuah kitab
(Al-Qur'an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya atas
dasar pengetahuan kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman. Tiadalah mereka menunggu, kecuali
(terlaksananya kebenaran) takwil Al-Qur'an itu. Pada hari datangnya
kenebaran pemberitaan Al-Qur'an (takwilnya). Berkatalah orang
orang yang melupakannyasebelum itu, "sesungguhnya telah datang
rasul-rasul Tuhan kami membawa membawa yang hak, maka adakah
5
bagi kami pemberi syafaat yang akan memberikan syafaatnya bagi
kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami
dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?"9
2) Ta'wil al-kalam d alam arti menafsirkan dan menjelaskan maknanya.10
B. Persamaan dan Perbedaan Tafsir dan Takwil.
a. Persamaan
1) Secara terminologi tafsir dan t a'wil m enafsirkan kalimat dan menerangkan
maknanya, baik sesuai dengan dzahir kalimat maupun tidak. Dalam
pengertian ini tafsir dan t a'wil menunjukkan arti yang sama. 11
b. Perbedaan
1) Tafsir selalu menggunakan medium (perantara) yang menjadi perhatian
mufassir h ingga dapat sampai pada pengungkapan apa yang diinginkan,
sementara at-ta'wil a dalah kegiatan (pemahaman) yang tidak selalu
membutuhkan medium. Dengan kata lain, a t-ta'wil d apat didasarkan pada
salah satu bentuk hubungan langsung antara "subyek" dan "obyek,"
sementara hubungan tersebut dalam kegitan a t-tafsir, tidak berupa
hubungan langsung, tetapi melalui mediator baik bahasa teks kadang-kadang
melalui "suatu" indicator.
2) Tafsir mengacu pada makna dhahir ayat-ayat al-Qur'an, sementara t a'wil
mengacu pada bermacam-macam kemungkinan makna yang dikandung
al-Qur'an.
Perbedaan cara kerja ini menelorkan tipologi penjelasan al-Qur'an, tafsir
menghasilkan tafsir yang dikenal dengan interpretasi rasional (at-tafsir bi
ad-dirayah) d an interpretasi dengan bantuan periwayatan hadis (at-tafsir bi
ar-riwayah), s ementara at-ta'wil melahirkan at-tafsir al-isyari d an at-tafir
al-batini.1 2
9 Ibid hal, 125-126
10 Ibid hal, 126
11 Mesra Alimin, Mu'min Rauf dan Wiwi Ma'shum, U lumul Qur'an ( Jakarta: Pusat Studi Wanita UIN
Jakarta, 2005) hal, 218
12 Ibid hal, 218
6
C. Terjemah.
1. Pengertian Terjemah
Tarjamah a tau dalam tradisi pengucapan Indonesia menjadi terjemah. Dalam
buku manahil al-Irfan karya al-Zarqoni dijelaskan menurut tinjauan bahasa kata
terjemah mengandung empat pengertian diantaranya:
a. Tejemah dalam arti menyampaikan pembicaraan kepada orang yang belum
mengetahui.
b. Terjemah dalam arti menafsirkan pembicaraan dengan menggunakan bahasa
aslinya.
c. Terjemah dalam arti menafsirkan pembicaraan dengan menggunakan bahasa
lain yang bukan aslinya
d. Terjemah dalam arti pemindahan pembicaraan dari satu bahasa ke bahasa
lain.13
Selain pengertian diatas kata terjemah dapat dikaitkan dengan beberapa istilah
misalnya " tarjamu al-bab, berarti "judul bab terkait." Ada pula istilah Tarjamatu
Fulan berarti "biografi si Fulan," dan t arjamatu hadza al-bab b erarti
"menerangkan maksud dari bab tersebut.
2. Jenis Terjemah.
Disamping pengertian secara lingustik diatas terdapat pula terjemeh menurut
'urf ( kebiasaan yang belaku umum) yaitu pemindahan k alam dari saru bahasa ke
dalam bahasa lain atau pengungkapan maknanya oleh pengguna bahasa tertentu
dengan tetap menjaga keserasian makna dan maksudnya. Terjemah menurut 'urf
terbagi menjadi dua yaitu:
a. Terjemah h arfiyah
Ialah proses menerjemahkan yang tetap menjaga keaslian dari segi
nazham d an susunannya secara konsisten. Proses penerjemahan ini
menyerupai penggantian kata per kata yang sinonimnya secara ketat,
sehingga sebagian orang menamakan harfiyah, terjemah l afziyah d an
terjemah m usawiyah.
b. Terjemah t afsiriyah
Ialah proses terjemahan yang tidak begitu terikat dengan nazham d an
susunan aslinya, namun lebih menekankan pada sisi kesamaan pesan
yang terkandung di dalamnya secara sempurna. Dinamakan dengan
tafsiriyah k arena lebih mengutamakan pengungkapan makna dan maksud
13 Drajat Amroeni, Ulumul Qur'an ( Depok: Kencana, 2017) hal, 128
7
di dalamnya dengan bahasa yang lugas dan tegas, sehingga menyurapai
tafsir.1 4
D. Hukum Terjemah.
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Tarjamah terbagi dua h arfiyah dan
maknawiyah. Maka dari itu untuk membahas hukum terjemah maka perlu diuraikan
satu persatu
a. Hukum Terjemah Harfiyah.
Tidak ada seorang pun yang mengharamkan menerjemahkan al-Qur'an
menggunakan terjemah harfiyah, karena al-Qur'an sendiri merupakan kalamullah
yang diturunkan kepada rasul-rasulnya yang merupakan mukjizat dengan lafadz
dan maknanya serta membacanya juga merupakan ibadah. Selin itu, tidak
seorangpun mengatakan bahwa kalimat kalimat al-Qur'an jika diterjemahkan
mengatakan bahwa terjemah itu kalamullah. Sebab Allah tidak berfirman kecuali
menggunakan bahasa al_qur'an yaitu bahasa arab dan kemukjizatan al-Qur'an
hanya untuk bahasa arab bukan terjemah. Serta ibadah dalam membaca
al-Qur'an ialah berbahasa arab yang jelas baik itu lafadz-lafadznya
huruf-hurufnya dan susunan kata-katanya.
b. Hukum Terjemah Tafsiriyah.
Menerjemahkan makna-makna sanawi al-Qur'an bukanlah pekerjaan yang
mudah karena tidak satu bahasa pun yang sesuai dengan bahasa arab dalam
petunjuk lafadz-lafadz terhadap makna-maknanya. Ulama-ulama ilmu bayan
menamakannya dengan k hawaassut tarkib (karakteristik-karakteristik susunan).
Maka dari itu tidak mudah seseorang dalam mendakwakannya. Inilah yang
dimaksudkan Zamarkasyi dalam pernyataan sebelumnya.
Dari sisi balaghah al-Qur'an dalam l afadz maupun susunan, nakirah dan
ma'rifatnya, taqdim dan ta'khirnya, disebutkan dan dihilangkannya dan lain
sebagainya adalah yang menjadi keunggulan bahasa al-Qur'an, dan ini memiliki
pengaruh terhadap jiwa. Sisi kebalaghahan al-Qur'an tidak mungkin terpenuhi
jika makna-makna tersebut dihilangkan dalam bahasa lain, karena bahasa
manapun tidak memiliki khawas t ersebut. 1 5
BAB III
14 Drajat Amroeni, U lumul Qur'an ( Depok: Kencana, 2017) hal, 128-130
15 Al-Qathathan, Manna Khalil, Mabahist Fi Ulumul Qur'a ( Maktabah Wahabah, TT) hal, 307-309
8
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tafsir, ta'wil d an terjemah memiliki pengertian berbeda-beda baik secara etimologi
maupun terminologi. Singkatnya pengertian tafsir secara terminologi ialah
pengungkapan penjelasan ayat-ayat al-Qur'an dengan memeperhatikan berbagai
aspek, baik susunan bahasa, m ufrodat-mufrodat yang terkait, lalu juga didukung
dengan keilmuan lainnya untuk menghasilkan penjelasan yang baik. Sementara
ta'wil pengungkapan maksud ayat-ayat Al-qur'an dengan tetap memperhatikan
susunan bahasa serta aspek lainnya, selain itu t a'wil j uga menjelaskan makna yang
tersembunyi dari Allah. Dalam hal ini memiliki persamaan antara t a'wil dan t afsir
yaitu sama-sama menjelaskan ayat-ayat al-Qur'an, namun disisi lain memiliki
perbedaan pertama, tafsir menggunakan perantara sehingga ungkapan sampai
kepada yang diinginkan, ta'wil k egiatan pemahaman yang tidak memebutuhkan
medium (perantara). T arjamah s etidaknya ada empat pengertian, pertama, dalam
arti penyampaian pembicaraan kepada orang yang belum mengerti, kedua, dalam
arti penafsiran penyampaian dengan menggunakan bahasa aslinya, ketiga, dalam arti
penafsiran pembicaraan dengan menggunakan bahasa yang bukan aslinya, keempat,
pemindahan bahasa dari bahasa satu kebahasa lain. Sehingga dari definisi tersebut
menghasilkan jenis tarjamah harfiyah dan maknawiyah.
Tidak seorang pun yang mengharamkan dalam melakukan pernerjemahan al-Qur'an
baik secara harfiyah m aupun m aknawiyah. K emukjizatan al-Qur'an sangat besar dari
berbagai macam aspek sehingga kegiatan penerjemahan al-Qur'an merupakan
keharusan. Selain itu, membaca al-Qur'an dengan menggunakan bahasa arab
merupakan ibadah.
9
DAFTAR PUSTAKA
Alimin Mesra, Mu'min Rauf dan Wiwi Ma'shum. 2005. Ulumul Qur'an. J akarta: Pusat
Studi Wanita UIN Jakarta.
Amroeni Drajat. 2017. Ulumul Qur'an. Depok: Kencana.
M. Ali Hasan dan Rif‟at Syauqi Nawawi. 1998. P engantar Ilmu Tafsir. Jakarta: Bulan
Bintang.
Manna Khalil Al-Qathathan.1992. Mabahist Fi Ulumul Qur'an. Riyadh: al-Maktabah
al-Ma'arif.
Manna Khalil Al-Qathathan. Mabahist Fi Ulumul Qur'a. Maktabah Wahabah.
Yunahar Ilyas. 2013. Kuliah Ulumul Qur'an. Yogyakarta: ITQAN Publishing.
10