The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

teknik menterjemahkan jumlah ismiyah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ichwan ma'rifatullah, 2020-12-19 09:48:13

dasar-dasar penerjemahan al qur'an

teknik menterjemahkan jumlah ismiyah

MAKALAH
TEKNIK MENERJEMAH JUMLAH ISMIYAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-dasar Penerjemahan Al-Qur’an

Dosen Pengampu : Abdul Kholiq, MA.

Disusun oleh
Badruz Zaman
Abdul Hakim Musyara
Faruq Auliyan Syaifil Hikam

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA
FAKULTAS USHLUHUDDIN

JURUSAN ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
TAHUN AKADEMIK 2020-2021

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur selalu kami haturkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat limpahan
rahmat, taufik, hidayah serta inayah-Nya, kami bisa menyelesaikan tugas penyusunan Makalah
Ilmu Kalam dengan judul “Teknik Menerjemah Jumlah Ismiyah.”

Kami selaku penyusun makalah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abdul Kholiq,
MA . selaku dosen mata kuliah Ilmu Kalam yang telah memberikan kepercayaan untuk
membuat makalah ini, orang tua yang senantiasa berdoa untuk kelancaran tugas kami, serta
pada teman-teman yang telah memberikan motivasi dalam pembuatan makalah ini.

Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik yang membangun sangat kami
harapkan. Semoga makalah ini bisa memberikan suatu manfaat bagi kami dan para pembaca
serta dapat dijadikan referensi untuk penyusunan makalah di waktu yang akan datang.

Jakarta, 22 November 2020

Penyusun

Kelompok 10

DAFTAR ISI

Kata Pengantar I

Daftar isi II

Bab I Pendahuluan 1

1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah 1
3. Tujuan Masalah 1

Bab II Pembahasan 2

1. Pola Mubtada’ Khabar 2
2. Pola Mubtada’ Muakhkhar Khabar Muqaddam 4
3. Pola Khabar Jumlah 6
4. Pola Khabar Syibhul Jumlah 6
5. Praktik Menerjemah QS, Ar Rum ayat 11, Fathir ayat 6-7 7

Bab III Penutup 9

1. Kesimpulan 9
2. Saran 9

Daftar pustaka 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al Quran dan sebagian besar

kitab kitab hukum Islam. Dan bahasa yang akan digunakan kelak di akhirat.
Kosakata dalam Bahasa Arab memiliki bentuk bentuk yang lebih komplek dan

sedikit sulit di fahami terutama bagi pemula. Oleh karena itu penulis berniat untuk
mencoba memaparkan tentang salahsatu bentuk kalimat dalam Bahasa Arab, yaitu
Jumlah Ismiyah yang terbentuk dari Mubtada dan Khobar.

Mubtada dan Khobar adalah bentuk kalimat yang saling berkaitan satu sama
lainnya, sehingga belumlah menjadi kalimat yang sempurna jikalau mubtada belum
dilengkapi oleh khobar. Mubtada dan Khobar juga memiliki ketentuan ketentuan
yang sudah baku, seperti harus sesuainya antara mubtada dan khobar dalam
mufrod, tasniah,jama’nya dan muannats, mudzakkarnya. Pada makalah ini penulis
akan memperdalam pembahasan tentang kesesuaian antara mubtada dan khobar.
Akhirnya semoga tulisan ini dapat bermanfa’at khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi seluruh ummat islam di seluruh dunia.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja pola mubtada’ khabar?

2. Apa saja pola Mubtada’ Muakhkhar Khabar Muqaddam?

3. Apa saja pola Khabar Jumlah?

4. Apa saja pola Khabar Syibhul Jumlah?

5. Bagaimana praktik menerjemah QS, Ar Rum ayat 11, Fathir ayat 6-7?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pola mubtada’ khabar

2. Untuk mengetahui pola Mubtada’ Muakhkhar Khabar Muqaddam

3. Untuk mengetahui pola Khabar Jumlah

4. Untuk mengetahui pola Khabar Syibhul Jumlah

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pola Mubtada’ Khabar
A. Mubtada’
1. Pengertian Mubtada’

Mubtada adalah setiap isim yang dimulai pada awal kalimat baik didahului oleh
nafyu maupun istifham, contoh (‫= ﻣﺤﻤﺪ ﻣﺒﺘﺴﻢ‬Muhammad tersenyum), contoh didahului
oleh nafyu (‫= ﻣﺎ ﻗﺎدم اﻟﻀﯿﻒ‬tamu itu tidak datang) dan contoh isim yang didahului oleh
kata Tanya (‫= أ ﻧﺎﺟﺢ ﻋﻠ ﱡﻲ‬apakah yang lulus adalah Ali).[​1​]

Dan hukum isim yang dimulai pada awal kalimat tersebut (‫ )اﻟﻤﺒﺘﺪأ‬adalah Marfu’
(dibaca akhir katanya dengan harakah dhamma), kecuali apabila isim tersebut didahului
oleh huruf Jarr tambahan atau yang menyerupainya maka hukumnya secara Lafadznya
adalah Majrur namun kedudukannya dalam kalimat tetaplah Marfu’. Contohnya firman
Allah SWT : ‫ وﻣﺎ ﻣﻦ إﻟﻪ إﻻ اﷲ‬kata Ilah pada ayat tersebut secara lafadznya adalah majrur
namun kedudukannya tetaplah Rafa’.[2​ ​]

Dan Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu Mubtada Sharih (‫ )ﻣﺒﺘﺪأ ﺻﺮﯾﺢ‬yang mencakup
semua isim dhahir seperti pada contoh di atas, dan juga terdiri dari Dhamir, contohnya (
‫= ﻫﻮ ﻣﺠﺘﻬﺪ‬dia bersungguh-sungguh) atau (‫= أﻧﺖ ﻣﺨﻠﺺ‬kamu ikhlas), yang Kedua adalah
Mubtada Muawwal (‫ )ﻣﺆول‬dari An (‫ )أن‬dan fi’ilnya, contohnya firman Allah SWT (‫وأن‬
‫ )ﺗﺼﻮﻣﻮا ﺧﯿﺮ ﻟﻜﻢ‬dan (‫ )أن ﺗﺘﺤﺪوا أرﻫﺐ ﻟﻌﺪوﻛﻢ‬mubtada pada contoh ini adalah An dan Fi’ilnya
dita’wilkan menjadi isim mashdar sebagai mubtada. [3​ ​]

2. Macam macam mubtada’

1 ​Moch Anwar. ​Ilmu Nahwu ; Terjemahan Matan ljumuriyyah dan ‘Imrithy ​(Bandung : Sinar Baru Algesindo , 2007)
hlm.85
2 ​ Djawahir Djuha. ​Tata Bahasa Arab (Ilmu Nahwu) Terjemahan Matan Al-Ajrumiyah​ (Bandung : Sinar Baru
Algesindo , 2007) hlm. 85-86
3 ​Ibid., ​hlm. 87.

Apabila dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu Mubtada
yang mempunyai khabar, contohnya (‫ )ﻣﺤﻤﺪ ﻣﺒﺘﺴﻢ‬dan Mubtada yang tidak memiliki
Khabar, akan tetapi mempunyai isim marfu’yang menempati posisi dari pada khabar,
contohnya (‫= أﻧﺎﺋﻢ اﻟﻄﻔﻞ‬apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl
adalah Fa’il yang menempati posisi khabar, Mubtada yang memiliki khabar haruslah
terdiri dari isim sharih atau dhahir ataupun yang telah dita’wilkan menjadi mashdar
yang sharih, sedangkan mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh
menta’wilkannya dan penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau
istifham.

Adapun Isim marfu’yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki khabar yang
dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya dalam I’rab kalimat adalah
sebagai berikut:
a. Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya adalah isim yang
tunggal contohnya (‫ )أ ﻣﺴﺎﻓﺮ اﻟﺮﺟﻞ‬atau (‫ )ﻣﺎ ﻣﺤﺒﻮب اﻟﻜﺴﻮل‬maka I’rabnya ada dua
kemungkinan yaitu :
1) Sifat yang pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya
adalah Fa’il karena letaknya setelah Isim Fa’il, atau Naib Fa’il apabila terletak setelah
isim maf’ul, keduanya marfu’menempati kedudukan khabar.
2) Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang didahulukan (khabar
muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada
muakkhar).
b. Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian setelahnya
adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau Jamak, maka sifat yang pertama
adalah mubtada dan isim setelahnya tersebut adalah Fa’il atau naib fa’il yang
menempati posisi khabar, contoh (‫ )ﻣﺎ ﻣﻬﻤﻞ اﻟﻄﺎﻟﺒﺎن‬dan (‫ )ﻣﺎ ﻣﺤﺒﻮب اﻟﻤﻘﺼﺮون‬kata Muhmil
adalah mubtada sedangkan thalibani adalah Fa’il karena terletak setelah isim Fa’il, dan
kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah Naíb Fa’il karena terletak
setelah Isim Maf’ul.
c. Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan setelahnya
adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah khabar yang didahulukan
(khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya adalah mubtada yang diakhirkan
(mubtada muakkhar), contohnya (‫ )أ ﻣﺴﺎﻓﺮان اﻟﻀﯿﻔﺎن‬dan (‫)ﻣﺎ ﻣﻘﺼﺮون اﻟﻤﺠﺘﻬﺪون‬, kata
musafirani dan muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan
mujtahidun adalah Mubtada muakkhar.

Apabila dilihat dari contoh-contoh di atas dapat dilihat perbedaan kedudukan
mubtada yang kadang didahulukan (mubtada muqaddam) dan kadang diakhirkan
(mubtada muakkhar), kesemuanya itu mempunyai aturan yang wajib didahulukan
maupun boleh didahulukan.

B. Khabar
1. Pengertian Khabar

Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai Jumlah Ismiah (‫ )اﻟﺠﻤﻠﺔ اﻻﺳﻤﯿﺔ‬yang
terdiri dari dua bagian yang memberikan petunjuk serta pemahaman kepada pendengar
agar diterima. Para pakar Nahwu menyebut bagian pertama dari jumlah ismiah ini
dengan Mubtada karena ia adalah bagian yang dimulai dalam pembicaraan, sedangkan
bagian keduanya dinamakan Khabar karena ia memberitahukan keadaan yang ada pada
mubtada, dan bisa saja terdiri dari segala bentuk sifat baik ia isim fa’il, atau maf’ul
ataupun tafdhil, contohnya, (‫ )ﻣﺤﻤﺪ ﻓﺎﺿﻞ‬dan (‫)ﻋﻠﻲ ﻣﺤﺒﻮب‬.[​4]​

2. Hukum Khabar
Para ahli nahwu menyebutkan hukum dari pada khabar adalah sebagai berikut:
a. Wajib merafa’ (memberi harakah dhamma) khabar, penyebab khabar itu
marfu’adalah mubtada , contohnya (‫ )أﻧﺖ ﻛﺮﯾﻢ‬Karim adalah khabar marfu’disebabkan
oleh mubtada.
b. Khabar pada dasarnya haruslah nakirah, contohnya (‫ )ﻣﺤﻤﺪ ﻓﺎﺿﻞ‬fadhil adalah
nakirah dan ia khabar mubtada.
c. Khabar haruslah disesuaikan atau ikut kepada mubtada dari segi tunggalnya atau
tasniyah (bentuk duanya) ataupun jamak.
d. Boleh menghilangkan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya,
dan masalah ini nanti akan dibahas pada pembahasannya.
e. Wajib menghilangkan khabarnya, masalh ini pun akan dibahas nanti pada
pembahasannya.
f. Khabar boleh banyak dan beragam sedangkan mubtadanya hanya satu, contohnya
(‫ )ﻣﺤﻤﺪ ذﻛﻲ ﻓﻄﻦ‬zakiyun dan fithn adalah khabar mubtada.
g. Boleh dan wajib didahulukan khabar dari pada mubtada, dan pembahasan ini pun
akan di bahas pada pembahasannya.

B. Pola Mubtada’ Muakhkhar Khabar Muqaddam

1.​ W​ ajib mendahulukan dan Wajib menghilangkan Mubtada
Mubtada itu wajib didahulukan apabila:
a. Isim yang mempunyai kedudukan sebagai pendahuluan di dalam kalimat, seperti
isim syarat, atau istifham atau Ma yang menunjukkan ketakjuban, contohnya (‫ﻣﻦ ﯾﻘﺮأ‬
‫= اﻟﺸﻌﺮ ﯾﻨﻢ ﺛﺮوﺗﻪ اﻟﻠﻐﻮﯾﺔ‬barangsiapa yang membaca syair maka akan bertambah
kekayaannya dengan bahasa), kata Man di sini adalah mubtada yang harus di dahulukan
karena posisinya dalam kalimat sebagai pembukaan dan pendahuluan,

4 D​ jawahir Djuha. ​Loc.cit . ​ hlm. 87

b. Mubtada yang menyerupai isim syarat,

c. Isim tersebut haruslah disandarkan kepada isim yang menempati posisi dan
kedudukan kata pendahuluan,

d. Apabila khabarnya adalah jumlah fi’liyah dan fa’ilnya adalah dhamir yang
tersembunyi yang kembali kepada mubtada.

e. Isim tersebut haruslah disertai dengan huruf Lam untuk memulai atau Lam
tauwkid.

f. Mubtada dan khabarnya adalah Ma’rifat atau kedua-duanya nakirah dan tidak
adanya kata yang menjelaskannya.

g. Mubtada teringkas khabarnya oleh Illa atau Innama.
h. Selain dari tujuh masalah di atas, maka boleh mendahulukan atau mengakhirkan

mubtada.
Mubtada wajib dihilangkan dalam hal-hal sebagai berikut:
a. Apabila mubtada ikut kepada Sifat yang marfu’ dengan tujuan memuji atau

menghina atau sebagai rasa iba dan sayang.
b. Jika menunjukkan jawaban terhadap sumpah.

c. Jika khabarnya adalah mashdar yang mengganti fi’ilnya.
d. Jika khabarnya dikhususkan pada pujian atau cercaan setelah kata Ni’ma (‫ )ﻧﻌﻢ‬dan
Bi’sa (‫ )ﺑﺌﺲ‬dan terletak diakhir.
2. Wajib mendahulukan dan menghilangkan Khabar

Khabar wajib di dahulukan dari mubtada dalam keadaan sebagai berikut:
a. Apabila mubtada nya adalah isim nakirah yang semata-mata tidak untuk
memberitahukan dan khabarnya adalah jar wal majrur atau dharf, contohnya (‫ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬
‫= ﻣﻌﻠﻤﻮن‬di sekolah ada para guru), (‫= ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺿﯿﻒ‬ada tamu). Jika mubtadanya nakirah

dengan maksud untuk memberitahukan maka hukumnya boleh didahulukan atau pada
tempatnya semula, contohnya (‫)ﺻﺪﯾﻖ ﻗﺪﯾﻢ ﻋﻨﺪﻧﺎ‬.
b. Jika khabarnya adalah istifham (kata Tanya) atau disandarkan pada kata Tanya,
contohnya (‫= ﻛﯿﻒ ﺣﺎﻟﻚ‬bagaimana kabarmu),
c. Apabila ada dhamir yang berhubungan atau bergandengan dengan mubtada

sedangkan kembalinya dhamir tersebut kepada khabarnya atau sebagian dari
khabarnya, contohnya, (‫= ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻃﻼﺑﻬﺎ‬di sekolah ada murid-murid-nya),
d. Meringkas khabar mubtada dengan Illa (‫ )إﻻ‬atau Innama (‫)إﻧﻤﺎ‬, contohnya, (‫ﻣﺎ ﻓﺎﺋﺰ إﻻ‬
‫= ﻣﺤﻤﺪ‬tiada yang menang kecuali Muhammad),

Adapun tempat-tempat dimana khabar itu wajib dihilangkan adalah sebagai berikut:
a. apabila mubtadanya adalah isim yang sharih yang menunjukkan pada sumpah,
contohnya (‫= ﻟﻌﻤﺮك ﻷﺷﻬﺪن اﻟﺤﻖ‬demi hidupmu saya bersaksi dengan kebenaran),
khabarnya wajib dihilangkan, asalnya adalah (‫)ﻟﻌﻤﺮك ﻗﺴﻤﻲ‬.

b. Khabarnya menunjukkan pada sifat yang mutlak artinya sifat tersebut
menunjukkan akan keberadaan dari sesuatu, dan hal itu terdapat pada kata yang
bergandengan dengan jar majrur atau dharf, contohnya (‫= اﻟﻤﺎء ﻓﻲ اﻹﺑﺮﯾﻖ‬air berada di
dalam teko), (‫= اﻟﻜﺘﺎب ﻓﻮق اﻟﻤﻜﺘﺐ‬buku berada di atas meja), yang menunjukkan khabarnya
telah dihilangkan yaitu (‫)ﻣﻮﺟﻮد‬. Dan apabila mubtadanya terletak setelah Lau la (‫)ﻟﻮﻻ‬
maka khabarnya yang berarti keberadaan pun wajib dihilangkan, contohnya (‫ﻟﻮﻻ اﷲ‬
‫= ﻟﺼﺪﻣﺖ اﻟﺴﯿﺎرة اﻟﻄﻔﻞ‬jika tidak ada Allah, maka mobil akan menabrak anak itu), khabar
yang dihilangkan adalah kata (‫ )ﻣﻮﺟﻮد‬pada contoh ini.
c. Jika mubtadanya adalah mashdar atau isim tafdhil yang disandarkan pada mashdar
dan setelahnya bukanlah khabar melainkan hal yang menduduki tempatnya khabar,
contohnya (‫= ﺗﺸﺠﯿﻌﻲ اﻟﻄﺎﻟﺐ ﻣﺘﻔﻮﻗﺎ‬saya mendukung pelajar yang berprestasi), (: ‫أﻓﻀﻞ ﺻﻼة‬
‫= اﻟﻌﺒﺪ ﺧﺎﺷﻌﺎ‬sebaik-baik shalatnya sorang hamba dalam keadaan khusu’) asalnya adalah (
‫)أﻓﻀﻞ ﺻﻼة اﻟﻌﺒﺪ ﻋﻨﺪ ﺧﺸﻮﻋﻪ‬.
d. Khabarnya terletak setelah huruf Wau (‫ )واو‬yang berarti dengan/bersama (‫)ﻣﻊ‬,
contohnya, (‫= ﻛﻞ ﻃﺎﻟﺐ وزﻣﯿﻠﻪ‬semua pelajar bersama kawanya), wau di sini berarti
bersama sehingga khabarnya dihilangkan, dan khabar yang dihilangkan adalah kata (
‫)ﻣﻘﺮوﻧﺎن‬.

C. Macam-macam Khabar (Mufrad, Jumlah, Syibhul Jumlah)

Khabar terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Khabar Mufrad (‫)اﻟﻤﻔﺮد‬, khabar yang bukan berbentuk kalimat atau yang
menyerupai kalimat, akan tetapi terdiri dari satu kata baik menunjukkan pada tunggal
atau mutsanna (bentuk dua) ataupun jamak, dan harus disesuaikan dengan Mubtada
dalam pentazkiran (berbentuk muzakkarf=lk) atau ta’nis juga dalam bentuk tunggal,
mutsanna dan jamak. Contoh (‫= اﻟﻘﻤﺮ ﻣﻨﯿﺮ‬bulan bersinar), (‫= اﻟﻄﺎﻟﺒﺔ ﻣﺆدﺑﺔ‬pelajar pr itu
sopan).
b. Khabar Jumlah (‫)ﺟﻤﻠﺔ‬, khabar yang berbentuk kalimat baik jumlah ismiah (‫)اﺳﻤﯿﺔ‬
maupun fi’liyah (‫)ﻓﻌﻠﯿﻪ‬. Contoh khabar jumlah ismiah (‫= اﻟﺤﺪﯾﻘﺔ أﺷﺠﺎرﻫﺎ ﺧﻀﺮاء‬taman itu
pepohonannya berwarna hijau) atau (‫= اﻟﺜﻮب ﻟﻮﻧﻪ ﻧﺎﺻﻊ‬pakaian itu warnanya bersih),
Atsaub =adalah mubtada pertama, Lawn=Mubtada kedua dan mudhaf, dhamir
Hu=mudhaf ilaih, Nashi’=khabar mubtada kedua, Jumlah dari mubtada kedua dan
khabarnya menempati posisi rafa’ yaitu khabar dari mubtada pertama.
c. Khabar syibhu jumlah (‫)ﺷﺒﻪ اﻟﺠﻤﻠﺔ‬, khabar yang bukan mufrad atau jumlah akan
tetapi menyerupai jumlah, terdiri dari Jarr wal majrur (‫ )ﺟﺎر وﻣﺠﺮور‬dan dharf =kata
keterangan,(‫)ﻇﺮف‬. Contoh khabar dari jar wal majrur (‫= اﻟﻜﺘﺎب ﻓﻲ اﻟﺤﻘﯿﺒﺔ‬buku di dalam tas),
(‫= اﻟﻤﺎء ﻓﻲ اﻹﺑﺮﯾﻖ‬air di dalam teko).

D. Praktik Menerjemah QS, Ar Rum ayat 11, Fathir ayat 6-7

Ar-rum 11,
‫اَﻟ ّٰﻞُه ﯾَﺒَْﺪ ُؤا اﻟْ َﺨﻠْ َﻖ ﺛُﱠﻢ ﯾُ ِﻌﯿُْﺪه ﺛُﱠﻢ اِﻟَﯿْ ِﻪ ﺗُ ْﺮ َﺟ ُﻌ ْﻮ َن‬

UII (Gus Baha’):
“Allah berkuasa memulai ciptaan lalu membangkitkannya kembali, kemudian kamu
semuanya dikembalikan kepada-Nya.”
KEMENAG:
“Allah yang memulai (makhluk), kemudian mengulanginya kembali; kemudian
kepada-Nya kamu dapat dikembalikan.”
QURAISH SHIHAB:
“Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan
(menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
TAFSIRIYYAH:
“Allahlah yang memulai penciptaan. Kemudian Allah akan menghidupkan kembali
manusia setelah mati. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada-Nya untuk
menghadapi perhitungan amal kalian.”

Fathir 6-7

‫وۗا اِﱠﻧ َﻤﺎ ﯾَ ْﺪ ُﻋ ْﻮا ِﺣ ْﺰﺑَﻪ ﻟِﯿَ ُﻜ ْﻮﻧُ ْﻮا ِﻣ ْﻦ اَ ْﺻٰﺢ ِب اﻟ ﱠﺴ ِﻌﯿْ ِﺮ‬ ‫اِ ﱠن اﻟ ﱠﺸﯿْﻂٰ َن ﻟَُﻜ ْﻢ َﻋُﺪ ﱞو َﻓﺎﱠﺗ ِﺨُﺬ ْوُه َﻋُﺪ‬

‫اَﱠﻟِﺬﯾْ َﻦ َﻛَﻔ ُﺮ ْوا ﻟَُﻬ ْﻢ َﻋَﺬا ٌب َﺷِﺪﯾٌْﺪۗە َواﱠﻟِﺬﯾْ َﻦٰا َﻣﻨُ ْﻮا َو َﻋ ِﻤﻠُﻮا اﻟ ّٰﺺﻟِﺢٰ ِت ﻟَُﻬ ْﻢ ﱠﻣ ْﻐِﻔﺮٌة ﱠواَ ْﺟ ٌﺮ َﻛﺒِﯿْ ٌﺮ‬
UII (Gus Baha’):
“Ketahuilah bahwa setan betul-betul musuhmu, hadapilah setan sebagai musuh, setan
akan selalu mengajak pengikutnya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala.”
“Orang-orang yang kafir akan menerima siksa yang sangat keras, sedang orang-orang
yang beriman dan selalu beramal saleh akan menerima ampunan dan pahala yang
besar.”
KEMENAG:
“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena
sebenarnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala.”
“Orang-orang yang kafir, mereka akan mendapat azab yang sangat keras. Dan
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan
dan pahala yang besar.”
QURAISH SHIHAB :

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu),
karena sebenarnya syaitan-syaitan itu hanya ajakan golongannya yang menjadi
penghuni neraka yang menyala-nyala.”
“Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
TAFSIRIYAH:
“Sungguh setan adalah musuh bagi kalian. Wahai manusia, karena itu hendaklah kalian
tetap jadikan setan sebagai musuh. Setan hanya mengajak pengikut-pengikutnya agar
menjadi penghuni neraka sa’ir.”
“Para pengikut setan adalah orang-orang kafir. Kelak di akhirat orang-orang kafir akan
mendapatkan adzab yang berat. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal Soleh,
mereka akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.”
Dari versi- versi terjemahan di atas, tidak ada perbedaan yang sangat mencolok,
semuanya hampir sama, cuma terjemahan Tafsiriyyah yang agak sedikit berbeda.
Mungkin karena proses terjemahannya melalui metode tafsir jadi ada sedikit keterangan
tambahan untuk memahamkan pembaca.
Kalau menurut kami, versi UII inilah yang bahasanya mudah dipahami oleh masyarakat
umum.

Terjemah versi pemakalah:
Arrum 11
“Allah berkuasa untuk memulai menciptakan makhluknya, lalu membangkitkannya
kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
Fathir 6-7
“Sesungguhnya setan itu adalah benar-benar menjadi musuhmu, maka hadapilah ia
sebagai musuhmu. Karena setan selalu mengajak pengikutnya supaya menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala.”

“Orang-orang kafir akan mendapatkan siksa yang sangat keras. Sedangkan orang-orang
yang beriman dan melakukan amal shaleh akan mendapatkan ampunan dan pahala
yang besar.”

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Asal dari pada mubtada adalah ma’rifah sedangkan khabar adalah Nakirah,
contohnya (‫)اﻟﻄﻼب ﻣﺘﻔﻮﻗﻮن‬, namun kadang ada mubtada datang dalam bentuk ma’rifat
dan khabarnya pun ma’rifat, contohnya (‫ )اﷲ رﺑﻨﺎ‬dan (‫ )ﻣﺤﻤﺪ ﻧﺒﯿﻨﺎ‬mubtadanya ma’rifah dan
khabarnya pun ma’rifah karena idhafah. Contoh lain (‫ )واﻟﺴﺎﺑﻘﻮن اﻟﺴﺎﺑﻘﻮن‬assabiqun yang
pertama adalah mubtada dan yang kedua adalah khabarnya, sama dengan (‫)أﻧﺖ أﻧﺖ‬,

terdiri dari mubtada dan khabar, tapi bisa juga assabiqun dan anta yang kedua adalah
taukid (menegaskan) pada yang pertama.
2. Jika mubtadanya adalah mashdar marfu’, maka mubtadanya boleh didahulukan,
contohnya (‫)ﺳﻼم ﻋﻠﯿﻜﻢ‬.
3. Asal dari khabar mubtada adalah satu, namun boleh saja khabar terhadap mubtada
menjadi banyak, contohnya (‫ )ﻣﺤﻤﺪ ﺷﺎﻋﺮ ﻛﺎﺗﺐ ﻗﺎص‬kata penyair, penulis dan penulis kisah
semuanya adalah khabar dari mubtada yang menunjukkan bolehnya ta’addud khabar
terhadap mubtada.
4. Haruslah memperhatikan pnyesuaian antara khabar dan mubtada, sebagaimana
yang telah disebutkan pada hukum-hukum khabar di atas, akan tetapi ada sebagian
ayat-ayat Al Quran yang membingungkan dan menimbulkan kesan bertentangan dengan
hukum penyesuaian tersebut, padahal jika dilihat dengan seksama ternyata semua itu
ada kesesuaian antar keduanya.
B. Saran

Untuk penyempurnaan pembuatan makalah kedepannya, kami mengharapkan
adanya saran dari semua pihak baik dosen maupun seluruh mahasiswa yang membaca
makalah ini terhadap kekurangan yang terdapat pada makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar , K . H . Moch. ​Ilmu Nahwu Terjemahan Matan Al-Ajrumiyah dan ‘Imrithy. B​ andung: Sinar Baru

Algesindo , 2007.
Djuha , Djawahir . ​Tata Bahasa Arab (Ilmu Nahwu) Terjemahan Matan Al-Ajrumiyah. B​ andung : Sinar

Baru Algesindo , 2007
Djupri , Ghaziadin . I​ lmu Nahwu Praktis. ​Surabaya : Apollo.


Click to View FlipBook Version