Mari kita coba pakai sebuah premis, Premis I: Kurang tidur menyebabkan konsentrasi menurun Premis II: Kurang tidur untuk tetap berpikir kritis. Konklusi? Sampai kapanpun, premis ini tidak akan bisa bercumbu konklusinya. Secara teoritis pun, menurut Abraham Maslow (1994) bahwa dalam hierarki kebutuhan, kebutuhan yang pertama harus dipenuhi oleh manusia adalah kebutuhan fisiologis atau kebutuhan yang bersinggungan dengan fisik manusia, seperti halnya tidur. Sedangkan kekritisan berpikir berada pada hierarki meta teratas teori ini, yaitu disebut sebagai Aktualisasi Diri. Bagaimana bisa ketika fisiknya lemah, tidak terpenuhi kebutuhan tidurnya, akan tetapi tetap saja dipaksa untuk mengaktualisasikan dirinya dengan berpikir kritis? Non-Sense, Cok!
TlDURLAH, SAYAN anyak kesempatan, entah itu pelatihan, ataupun dalam agenda-agenda permusyawaratannya. Saya di sini tidak akan memandang secara sentimentil apapun organisasinya. Akan tetapi ini perihal cara berpikir aktivis yang sudah kacau sejak punya KTA. Bagaimana mereka suka berkelakar sambil mengatakan, ''Aktivis terdahulu itu bahkan berhari-hari tidak tidur untuk memikirkan teori don bangsa kita ini," Heh ndes, itu kalo gak terpaksa mereka juga tidak akan seperti itu! Kalau mereka ada pada momentum yang bisa membuat mereka berpikir dengan fisik yang sehat, istirahat cukup, dan waktu yang lengang maka mereka juga akan menggunakan momentum itu, karena apa? Karena mereka seharusnya tahu, bahwa dalam kondisi fisik yang tidak prima maka pikiranpikiran yang muncul, mayoritas akan didominasi o!eh pikiran
yang emosional dan cenderung irrasional. Secara ilmiah sudah dibuktikan juga, menurut penelitian yang dilakukan di Binghamton University bahwa jika kita kurang tidur minimal 7 jam dalam sehari maka potensi untuk mengalami kecemasan dan timbulnya cara pikir yang emosional semakin meningkat, bahkan menurut Dr. ltzhak Fried yang juga seorang profesor bedah saraf di University of California menyatakan bahwa efek samping orang yang kurang tidur adalah seperti ketika orang yang sedang mabuk minum alkohol, daya pikir lambat, lemah, dan sangat emosional. Maka, tidak dibenarkan ketika kita sebagai seorang aktivis pergerakan atau aktivis organisasi menerapkan jam melek yang berlebihan kepada anggota kita akan tetapi pada waktu yang sama kita juga menuntut anggota kita untuk terus berpikir kritis, fokus, dan berharap terciptanya hasil-hasil pikiran yang inovatif, kreatif, dan progresif.
ERH MENJADl P NTlLAtI P -PLEAS Tidak jarang, tabiat mendahulukan kepentingan orang lain menjadi dalih fundamental untuk para aktivis 'menunda' istirahatnya. Padahal bilamana organisasi yang kita selami adalah organisasi Islam, maka kegiatan tersebut sudah cukup dirasa dapat menyalahi aturan yang ada dalam Islam terkait konsep kesehatan. Bagaimana dalam surah AI-Baqarah ayat 195 sudah terpampang jelas bahwa kita sebagai hamba-Nya dilarang keras untuk merusak diri sendiri, yang pada hal ini adalah kesehatan tubuh. Memang iya, kepentingan umat adalah tanggungjawab, akan tetapi akan cukup naif ketika kita tidak dapat menjalankan syariatnya yang lain, yaitu dengan tidak menunda waktu istirahat tubuh kita, salah satunya. Akan tetapi, mungkin dalih ini dapat disangkal dengan dalih itsar dalam Islam. Bagaimana dalam beberapa riwayat dikisahkan tentang kaum Muhajirin yang mendahulukan
kepentingan kaum Anshar. Namun perlu diingat bersama bahwa manajemen diri juga adalah salah satu konsep penting dalam berorganisasi, bagaimana kita aktivis ini dapat mengatur secara proporsional antara waktu untuk mengamalkan AIBaqarah ayat 195 dan tetap tidak kehilangan amal AI-Hasyr ayat 9. Saya rasa, asas hukum muamalah adalah mubah. Maka terkait istirahat dan beramal kepada orang lain adalah dua hal yang mubah dan penting, namun ini semua dapat gugur ketika terdapat asas "keterpaksaan," terpaksa untuk tidak tidur sebagai contohnya. Namun selama ada waktu dan bisa di atur secara proporsional antara menerapkan hidup sehat dan melaksankan kepentingan umat maka akan lebih indah dan sehat kita para aktivis ini dalam memperjuangkan kepentingan umat ini. Mari direnungkan, dan mari kita ubah pelan-pelan kebiasaan kuno sistem organisasi yang ada ini dengan yang lebih ramah fisik, yang tentunya tak lain tak bukan agar tiap agenda organisasi itu senantiasa menghasilkan gerakan dan materi yang bersumber dari pikiran-pikiran cerdas, kritis dan sehat. Mantap, Sit! Fakta bahwa budaya sepakbola bisa menjamah ranah manapun baru-baru ini mulai terlihat ke-empirisannya. Mulai sempritan wasit hingga kartu kuning pun turut terjun di muka publik. Dan publik Jas Kuninglah yang menjadikannya populer. Universitas yang menjadi salah satu idaman para pelancong putih abu-abu ini beberapa hari yang lalu sempat
geger dengan hadirnya "wasit sepakbola" di acara perayaan milad institusi tersebut, dan Alumni UGM lah yang kena, gatau karna emang dendam gengsi antar universitas yang sama prestige-nya atau karna alumni dari Jas Kuning belum bisa merangsek ke tahta pertama di negri ini sih hehehe. Media nasional hingga warung air mineral ramai membincangkan kejadian ini. Ada yang bilang gak sopan lah, ada yang bilang wajar lah, sampai pada ada yang bilang ini memang sudah seharusnya dilakukan oleh Mahasiswa sebagai salah satu "wasif' yang ada di negri ini. Untung masih kuning ya, bayangin kalo merah? Gaboleh main lagi dong pak kapten hehe. Bahkan para jajaran menteri pun juga berkomentar. Mulai Bu Sri Mulyani hingga Bu Puan pun juga menanggapi kejadian tersebut. Namun sangat disayangkan, mayoritas dari para menteri memberikan sikap kurang setuju akan tindakan yang dilakukan Ketua "Wasif' BEM KUNING tersebut. Etika, data, dan waktu. ltulah 3 poin yang menjadi substansi kritikan para menteri kepada wasit itu. Disini aku akan membahas sedikit tentang etika dan waktu. Menurutku sih ya, kapten negri kita ini lebih cenderung menyukai hal yang kreatif, sehingga sesuatu bentuk sodoran kritik yang diberikan oleh "wasit-wasif' lain yang bersifat B aja itu cenderung tidak ditanggapi. Bahkan rencana pengangkatan kembali pasal penghinaan presiden pun sudah mulai digodok oleh MK dan akan dimasukkan RKUHP (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Gatau ya ini bentuk tanggapan kartu kuning kemarin atau memang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, Wallaualam.
fiO Tapi ini menjadi bukti bahwa Pak Kapten lebih perhatian ketika disemprit "wasit'' yang kreatif tinimbang wasit yang B aja. Dan menurutku sih ini bentuk kekreatifitasan wasit sih. Beberapa kali demo mulai dari kamisan yang abangan hingga demo "putihan" di monas yang katanya hingga ?rb "wasit'' turun pun tak tampak respon dari pak kapten. Bertemu dengan Pak Kapten memang sulit, makanya mumpung ada waktu ketemu dibikin sekreatif mungkin, dan hasilnya, respon pun muncul di berbagai kalangan, mulai dari Pak Kapten hingga jajaran pemain-pemain bintang lainnya. Dan kalau membahas soal ini harus disangkutkan dengan etika, bandingkan saja lebih tidak beretika mana dengan demo menjahit mulut tahun 2010 oleh mahasiswa UNAS terkait kenaikan BBM dan pencoretan bokong kerbau bertuliskan SBY pada waktu itu? Aduh, kartu kuning mah apa atuh. Dan kalau bahas masalah waktu ya, ya sekali lagi ya mumpung bisa ketemu kenapa gak gitu loh? Demo dijalan sulit bos buat ketemu sama Pak Kapten. Ye gak? Yogyakarta, 11 Februari 2018.
NE IA eberapa waktu yang lalu aku bertemu tetanggaku namanya Nesia. yang kebetulan hampir selama setengah abad ini dia sudah berprofesi menjadi satpam. Pertemuanku dengannya tak pernah luput dari dialog. Dialog yang mulai dari bab keluarga, pendidikan, hingga bab yang paling ia sukai adalah ketika ia menceritakan karir kesatpamannya selama 50 tahun terakhir ini. Pada satu kesempatan dia nyletuk seperti ini, "Eh gus, aku ki wingi bar kepilih dadi Dewan Satpam Tidak Tetap neng kampung iki neh /ho, setelah ameh 10 tahun kepungkur aku gak kepilih neh," Aku sungguh senang, dan tak pernah absen ngekek ketika dia mulai bercerita tentang hal itu, ditambah dengan mukanya yang polos. sederhana, ndesit, dan rodo plongo itu seakan menguatkan emotional
character dari si Nesia ini. Gatau sih, semenjak kecelakaan 4 tahun yang lalu dia jadi agak plongo seperti itu, katanya sih otaknya udah kena. Dan salahnya lagi dia diobati dan dirawat di klinik cina yang belum jelas secara kualitasnya, katanya sih asal murah aja gitu. Naah jadi deh dia kayak gitu. Lanjut ya, jadi setelah dia mengutarakan kalimat itu hatiku langsung tersentak, meskipun muka ku sungguh mengekspresikan kebahagiaan tiada tara di depannya. Masalahnya, selama karir dia jadi satpam kalo dia habis kepilih jadi Dewan Satpam Tidak Tetap itu pasti dia sedang lagi tidak beres. Pernah tuh tahun 1973-1974 dia kepilih kan jadi dewan itu tadi, nah tapi itu hanya untuk kepentingan ketua kampung yang ingin si Nesia ini jadi ketua RT, dan yaudah deh akhirnya Nesia terperdaya dan akibatnya lagi setelah dia kepilih jadi ketua RT, dia jadi sering trpancing untuk mukulin orang-orang yang ngelanggar aturan di RT-nya , apalagi tuh paling sering kena itu bapak-ibu petani sama penjual arit yang katanya sih, mereka sering melanggar aturan RT. Setelah kejadian itu akhirnya dia keluar tuh dari anggota dewan itu tadi meskipun dia masih tetap jadi ketua RT. Nah lalu terpilihnya dia lagi adalah waktu itu aku udah agak gedean sih, sekitaran tahun 1995-1996 kalo gak salah. Waktu itu aku baru aja wisuda sarjana kan, nah pas aku sampe rumah, si Nesia itu tadi udah nunggu di depan rumahku. Nah cerita tuh dia kalo dia barusan kepilih lagi jadi anggota Dewan Satpam Tidak Tetap di kampung. Waktu itu aku udah ngerasa mulai ada yang gak beres. kala itu sekitaran tahun 1991-1993 banyak guru TPA di RT ku yang mulai memberontak aturan RT. Nah sebelumnya kan si Nesia ini emang deket tuh sama guru-guru TPA itu tadi, akhirnya pada tahun '95 diangkat
lagi tuh jadi anggota dewan tu tadi, buat ngredam protes dari guru-guru TPA. Nah tapi itu juga tak lepas dari keinginan Ketua Kampung yang masih ingin si Nesia ini jadi bonekanya, soalnya tahun '97 di RT nya Nesia itu mau ada pemilihan ketua RT, dan hasilnya bener. tahun '97 dia kepilih lagi deh jadi ketua RT. Nah setelah itu gak lama berselang, kampungnya malah rusuh. Banyak keturunan-keturunan dari petani sama penjual arit yang dulu dipukuli sama Nesia ini menuntut balas. Naah itu gempar coy, bahkan sampe-sampe kerugian dari ricuh itu melebihi nominal jutaan tapi bahkan udah nyentuh angka milyaran. Dan dampak dari itu adalah si Nesia keluar lagi deh dari anggota dewan tu tadi. Sempet vakum tuh si Nesia dari aktivitas-aktivitas di kampung, katanya sih fokus benahi RT. Baru tuh tahun 2007-2008 dia kepilih lagi. Nah lagi-lagi itu bertepatan setaun sebelum ada pemilihan ketua RT. Dan benar lagi, hasilnya masyarakatnya seneng tuh sama si Nesia, soalnya dapet prestasi itu lagi setelah lebih dari 10 tahun gak kepilih lagi jadi anggota dewan. Dan ya tahun 2009 dia jadi deh ketua RT lagi. Nah baru yang kali ini gak semulus kejadian-kejadian sebelumnya. Sebelum dia jadi anggota dewan kemaren itu banyak banget masalah di RT nya. Mulai dari ricuh antar agama, ricuh antara geng partai, bahkan sampe rego udud yang munggah drastis. Wes iku a/amat 2019 rabakal kepilih neh dadi ketua RT. Soale ya warga udah kehilangan kepercayaan sama si Nesia itu tadi. Nah tapi kepercayaan warga iku mau dikembalikan secara instan dengan terpilihnya kembali si Nesia jadi anggota Dewan Satpam Tidak Tetap di kampungnya itu tadi. Nah gatau tuh Ketua Kampung rencananya apa. Soalnya petinggi-petinggi kampung sekarang
diisi orang-orang asia timur sana yang di tahun 2014 lalu bi kin si Nesia jadi plonga-plongo setelah diobatin di kliniknya mereka. Nah yaudah deh semua ceritane tak rungokke, dan aku yo gur mbatin, "Huh titen wae 2019 bakalan ono oponeh bar iki." Kebetulan atau settingan? Haha Yogyakarta, 12 )uni 2018.
PAKDH KU, PAKDH KU ebuah kisah tentang pakdhe dan seabrek perhatiannya. Ketika melihat tema yang saya usung ini, fantasi pikiran kalian seharusnya sudah berkreasi secara otomatis, dan bisa dipastikan pula kalian sudah memiliki gambaran yang begitu bhinneka atas judul yang saya angkat ini. Sekedar untuk merapikan mindset aja ya biar interaksi antara kita (re: pembaca dan penulis) bisa nyambung. Pasti lah ya siapa tak kenal pakdhe yang satu ini. Pakdhe yang manuver politiknya tak bisa diragukan lagi faktanya. Bagaimana tidak, hanya dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun pakdhe ini bisa menduduki 3 jabatan strategis lembaga eksekutif di negri yang sarat akan kompetisi ini. Ya tapi juga tak bisa dipungkiri juga, segudang konflik yang timbul setelah ia menjabat sih terbilang cukup mentereng ya. Mulai
dari konflik ekonomi yang katanya (akan) menguat namun nyatanya ah gitu lah, hingga konflik antar koalisi parpol dan tentunya konflik paling hits yakni konflik agama dan seperangkat keyakinan juga ideologinya. Eh tapi jangan salah ya jika dilirik dari segi pola pikir dan kepekaan warganya, pakdhe yang satu ini cukup berhasil loh. Dan menurutku juga, pakdhe ini sudah mulai berhasil mewujudkan salah satu cita-cita bangsa kita, yakni Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Buktinya? Buktinya ya baru pada periode pakdhe ini banyak rakyatnya yang benarbenar menjadi rakyat yang menganut politic partisipan loh. Kok bisa? Nah silahkan diliat saja ya di sekitar kita. Mulai dari kalangan yang kalo dipenjara masih masuk di penjara anak-anak hingga kalangan veteran-veteran seakan terpanah perhatiannya oleh sosok pakdhe ini. Bahkan gak cuma perhatiannya ya, tapi sampai pada level berargumen entah di jalanan ataupun hanya mengutatkan argumen di otaknya. Yang perlu diakui juga adalah argumen rakyat kini juga banyak yang gabisa dianggap remeh loh, bisa diliat dari aspek validitas data yang mereka angkat, meskipun gak sedikit pula yang masih keukeuh dengan label hoaxer-nya. Nah lantas di mana letak keberhasilannya dalam aspek ini? Ya secara alamiah rakyat seakan di setir untuk senantiasa mengamati situasi politik buatan pakdhe ini. Ya meskipun banyak juga yang jatuhnya mencaci dan menghina sih. Tapi ya menurutku itu keren loh. Rakyat seakan dibuat kepo akan kepemimpinan pakdhe ini. Rakyat menjadi akrab dengan pergaulan konflik-konflik yang terjadi pada akhir-akhir ini. Gatau sih tujuannya cuma mau nyari-nyari kebusukan dari pemerintah atau apa. Yang penting pakdhe ini dengan
llad1<1 Juforn C/1rnrnrri.:ill I F,7 seabrek daya persuasifnya berhasil menggaet segenap indra rakyatnya untuk senantiasa kepo kepo dan kepo akan situasi politik yang terjadi di tanah air tercintanya. Perlu diketahui sebuah kecerdasan bisa diperoleh dari belajar, dan proses belajar bisa dimulai tak lain dengan asas kepo itu tadi. Nah di sinilah kharisma pakdhe bermain. So, jangan keterusan menyesal ya.
GEDUN KURA-KURA alam sebuah study tour anak-anak SD ke Gedung Kurakura, ada sebuah percakapan yang cukup menggelitik yang muncul dari obrolan antara guru PAI dan salah satu murid peserta study tour tersebut. Kebetulan, beberapa hari yang lalu. murid-murid ini baru saja mempelajari doa-doa yang sering dipakai dalam kehidupan keseharian mereka. Mulai dari doa mau makan, mau tidur, hingga masuk kamar mandi. Selain itu. murid-murid ini juga diharuskan menghafalkan arti dari doa-doa tersebut. Wajar sih. sekolah ini adalah merupakan salah satu (mantan) sekolah unggulan di daerahnya. Karena sekarang sudah ada zonasi, jadi saya bubuhkan keterangan (mantan) sebelum kata unggulan. Akan tetapi. model pembelajarannya masih tetap sama dengan dulu ketika masih (boleh) memakai predikat sekolah unggulan.
60 Kisah menggelitik ini dimulai ketika guru PAI mereka menanyakan pertanyaan kepada murid-muridnya sebelum masuk Gedung Kura-Kura tersebut, "Selamat siang anak-anak! Kita udah sampai nih di Gedung Kura-Kura. Sekarang, ibu mau nanya deh. Siapa yang pengen masuk duluan?" "Saya, Bu Guruu!!!!," semua murid secara serentak sudah tidak sabar memasuki gedung yang sarat akan value dan perjuangan dalam 'mensejahterakan' rakyat ini. "Wah semuanya pengen cepet-cepet masuk ya ternyataa. Yaudah biar adil, ibu kasih pertanyaan ya. Yang pinter, yang bisa jawab boleh masuk duluan. Biar kayak orang-orang yang kerja di sini, yang pinter baru boleh masuk kerja di sini. Gimana anak-anak?" tanya Bu Guru mencoba memancing keaktifan otak ilmiah anak didiknya. "Mauu bu Guru, mauuu!!!!" "Oke, kemarin kan kita habis belajar doa-doa keseharian. Nah sekarang ibu tanya ya, gimana bunyinya doa masuk Gedung Kura-Kura?" dengan menahan tawa, Bu Guru ini coba menguji ingatan dan pemahaman anak didiknya terkait apa yang sudah dipelajari lampau hari. Dan seketika itu juga, murid guru ini nampak saling menatap satu sama lain. Mereka memiliki perasaan dan kebingungan yang sama, karena setau mereka, lampau hari tidak ada diajarkan oleh Bu Guru tersebut tentang doa masuk Gedung Kura-Kura. Akan tetapi, di tengah keheningan dan kebingungan para murid, ada satu murid yang tiba-tiba mengacungkan jarinya seraya mengucap, "Saya bu, saya tau!"
"Wah mantap ada yang tau nih, ayo coba gimana bunyinya?, tanya bu Guru kepo dan sebenarnya cukup heran, karena ya memang sebelumnya tidak pernah diajarkan adanya doa untuk masuk Gedung Kura-Kura. Terlebih lagi murid lainnya, mereka hanya bisa saling tatap dan menanti jawaban anak satu ini. Dan saat itu juga, anak ini dengan lantang menjawab, "Audzubillahi min asyaitonirrojiim, bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni audzubika minal khubutsi wal khobaaitsi, aamiin" lafadz anak yang di antara muridmurid lainnya sebenarnya cukup tergolong sebagai murid yang cerdas namun agak sedikit nakal di kelasnya. Pada saat yang sama, murid-murid lainnya dibuat bingung oleh satu anak ini. Karena mereka semua tahu, bahwa doa yang dilafadz-kan anak ini adalah doa masuk kamar mandi. Begitupula bu Guru, saking bingungnya, bu Guru ini sampai mencoba mengkonfirmasi jawaban kepada anak ini. "Ha? Nak, itu kan doa masuk kamar mandi nak. Bukan masuk Gedung Kura-Kura," jawab dan tanya bu Guru kepada anak tersebut. Dengan polosnya, anak ini menanyakan batik ke bu Guru nya, "Loh bu, emang artinya doa itu apa?" "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan lagi-laki dan set an perempuan," jaw ab bu Guru yang masih dipenuhi kebingungan. "Nah yaudah, cocok bukan?" timpal anak ini dengan santainya.
6i J Aku Bi11g11ng 1\Iaka Aku Adu
N ARGA MATT eperti biasanya, lingkungan mahasiswa jarang absen dari yang namanya demo. Dan dalam sebuah lingkungan kemahasiswaan pula, tidak sedikit juga terdapat sosok-sosok yang malas dan kurang minat dengan kegiatan demonstrasi, dan salah duanya adalah Sidek dan Tomi. Mereka adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menunggu jatahnya untuk di deportasi dari kampus. Magang sudah, KKN, sudah, namun untuk menyelesaikan satu skripsi mereka harus mengalami program pemutihan dari kampus. dan itu tandanya ajal mereka sebagai mahasiswa sudah di depan mata. "Heh Tom. delok ra wingi ono demo neng ngarep Rektorat?" tanya Sidek memastikan kebenaran informasi dari Grup WA milikinya.
"Oooo, iya tau Dek. Mereka demo katanya gara-gara ada mahasiswa yang terancam diskorsing kan?" jawab Tomi meyakinkan. Tomi ini dulu merupakan aktivis salah satu organisasi eksternal kampus. Bahkan pada masanya, Tomi ini pernah menjadi Calon Presiden Mahasiswa di kampus tersebut. Namun, usut punya usut Tomi ini kalah ketika Pemira garagara terkena skandal penyalahgunaan uang KKN waktu Tomi masih jadi Senat. Dan isu tersebut menjadi jurus yang ampuh bagi lawan politiknya untuk mengalahkan Tomi di Pemira saat itu. "Iyo, Tom. lku lho katanya ada yang diskors gara-gara berantem sama satpam Gedung E," timpal Sidek mulai meninggi. "Loh ngopo kok gelut barang ki, ngopo cah e?" "Wooo/ha tak kiro nek wes reti weki, Tom. Ngene lho, itu kan kemaren ada mahasiswa timur yang parkir di parkiran depan Gedung E. nah katanya sih parkirnya kurang rapih, padahal katanya saksi yang di situ itu ngomong kalau . mahasiswa itu parkirnya sudah rapih dan sesuai tempatnya. Nah terus ditegur sama satpam, katanya sih negurnya pake ngatain 'Monyet' segala. Lak pekok to? Yo je/as arek iku ra trimo /ah. Nah seketika itu juga si satpam iku gelut ro arek iku. Lah bar kui sek diskors ma/ah mahasiswane tok, dengan dalih melakukan kekerasan terhadap pegawai kampus. Padahal jarene arek-arek sek jadi awal permasalahan iku mergo katakata 'Monyet' itu tadi," jelas Sidek sambil menikmati rokok tingwe-nya. Sebenarnya cukup unik. Kampus mereka ini beberapa kali mendapatkan penghargaan "Green Campus," tapi kondisi
peredaran asap rokok di kampus ini seperti menyangkal penghargaan tersebut secara tidak langsung. Apa karena mungkin yang dinilai oleh tim 'akreditasi' Green Campus itu yang penting kondisi fisik kampusnya yang Green ya? Setau saya mbako juga warnanya Green sih. Tapi wal/ahualam. "Woh yo kurangajar nek ngono kui, Dek. Pantesan kok arek-arek wingi demone ono 'NKRI Harga Mati-Harga Matine'. Ternyata perkoro rasial to. Wah yo cen kudu dilabrak iku rektorat. Pas aparat woe didukung, eee pas kasus e urusan e soma mahasiswa terus langsung diskors. Parahparaaahh," ungkap Tomi mulai kesal terhadap perlakuan rektor kampusnya terhadap kasus tersebut. "Eh eh Tom, saiki ancene lagi rame soal demo rasial yo? Kayak e beberapa hari yang lalu juga barusan rame ada demo di Papua to?" "lyoo Dek, kasus e yo mirip-mirip karo arek-arek iku. Topi bedane lek iki massane /uweh akeh. Tidak jauh dari kasus diskriminasi ras lah pokokke," jawab Tomi yang cukup mafhum dalam dunia perdemoan masyarakat. "Wah, tapi to mesti pas lagi ada kasus seperti ini, pasti ada aja yang menganggap ini sebagai kasus separatism. Padahal kan menurutku mereka menuntut hak mereka atas keadilan dalam bermasyarakat gak sih? Bayangke woe /ho koe ki stigma le nempel neng awakmu ki 'Monyet'. Lok raurus to? Ngo po ra sekali-kali yang disa/ahkan itu Pemerintah? Padahal tugas Pemerintah juga untuk ngopeni daerah tersebut. Kalau ada yang mbrontak ngono kan brati Pemerintah yo salah karena kurang bisa ngopeni mereka," jabar Sidek yang kembali mulai emosional.
GG "Yoo hoo sih Dek, dan mungkin demo neng Papua wingi kae ki nampaknya seperti akumulasi dari dendam mereka selama bertahun-tahun deh. Akhirnya kebetulan ada momentum, yaudah deh mereka meledak lah emosinya," tambah Tomi menimpali penjabaran dari Sidek yang dari tadi nampak sudah mulai emosi. "Nah iyo kui maksudku Tom. Tapi ono le lebih aneh seko kui Tom. Reti ra? Aku due pertanyaan soal NKRI Harga Mati" "Oii oiii gaan degaan, apa kabaar broooh? Diem-diem bae di kampus. Betah amat bro di kampus, gak pengen lulus ta? Hahahaha," potong Fredy dari kejauhan dengan segala kebusukannya dalam bersosialisasi. Fredy ini adalah mahasiswa angkatan Tomi dan Sidek, namun bedanya si Fredy ini tinggal menunggu bulan September besok untuk wisuda. Dan Fredy inilah yang dulu jadi lawan politik Tomi waktu di Pemira, dan dia lah orang yang menyebarkan isu soal penyalahgunaan uang KKN. "Cuk! Bocah iki maneh. lki bocah ora berubah yo ketbien, Tom," ungkap Sidek ma las. "Ha/aah wes gak ngurus aku, Dek. Biarin aja seenak jidatnya mau ngomong apa" "Wue wue wuee, ngomongin apa e? kok saya tadi denger NKRI NKRI dari sana. Demo ta?" tanya Fredy kepo kepada dua temannya yang belum lulus-lulus ini. Dalam waktu yang singkat, jawaban kedua sahabat ini cukup menunjukkan seberapa besar emosi mereka terhadap tingkah polah Fredy dalam bersosialisasi, "BACOT!"
"Hahahaha, santai napa bang. Kenapa NKRI? Ada apa? Cerita lah sini sama mantan Presma yang udah mau wisuda ini," tanya Fredy dengan kelakarnya. "Cok koe woe kono le njawab. Males aku wisan weruh rupane," nampaknya Tomi sudah benar-benar ma las dengan sumpah serapah dari mantan Presma sialan ini, sehingga meminta Sidek melanjutkan obrolan taik ini. "Hmmm, iku /ho Fred. Pemerintah iku nek nanggepi demo neng Papua ki mesti nggowo-nggowo slogan 'NKRI Harga Mati'," "Mmm lalu?" "Yo kuii tapi nek ono aparat le mati gara-gara mengamankan lapangan, mesti demonstran e dikutuk, demonstran e dikepruk balik, konferensi pers terus ngomong nek mangkel gara-gara ono aparat le mati. Lok kan paradoks" tungkas Sidek meyakinkan. "Ha? Kok bisa paradoks?" tanya Fredy yang nampaknya masih bingung dengan penjelasan singkat dari Sidek. "Yo kan seharusnya kalau pemerintah udah bawa-bawa teriak-teriak slogan NKRI Harga Mati kan harusnya mereka gak perlu kaget dan marah kalau ada aparat yang mati dalam proses penyelesaian tugasnya. Kan mereka sendiri yang bilang Harga Mati, kenapa harus emosi dan kaget kalo ada yang mati gara-gara 'menjaga' harga NKRI? Lucu to?" "Cuoooh guyonane caaah, keras arek iki hahahahaaa," jawab tawa lepas dari Mantan Presma sialan ini.
((Tua.:rua Keladi" ,5 JAM ERSAMA BUYA Sosok pelawan arus j_aman now. Sosok yang begitu dicintai juga sekaligus dibenci oleh warga Muhammadiyah. Dicintai karena tindakan, dibenci pula karena tindakan. Sebuah manifestasi nyata seorang tokoh bangsa. Sosok kalem, njawani, dan tentunya sahaja tiada henti. ltulah Buya Syafi'i Maarif. Kebetulan hari Senin kemaren aku dan 10 temanku bisa berjumpa dengan sosok teduh itu. Dengan bantuan 'ajudan pribadinya' yang kebetulan adalah salah satu guru di sekolah kami, akhirnya kami bisa bertatap muka langsung dengan Bapak Bangsa ini di masjid dekat rumahnya. Terbesit olehku, pasti beliau di kampungnya adalah sosok yang disegani, dihormati, dan tentunya didahulukan. Namun tak pelak hati ini tertohok dengan sikap beliau ketika hendak sholat
maghrib di sebuah masjid hasil wakaf Bapak Soeharto ketika jadi presiden jaman dahulu. Pikirku beliau akan menjadi imam, atau paling tidak beliau akan dipersilahkan untuk mengisi shaf manusia-manusia yang kelak akan mendapatkan unta, katanya. Namun, hipotesisku kali ini salah, beliau justru menolak ajakan jamaah lain untuk mengisi shaf awal dan justru memilih mendahulukan seluruh jamaah mengisi shafshaf terdepan, baru beliau dengan menenteng kursi kecil yang nampaknya sudah disediakan oleh pihak masjid di situ dan mengisi shaf terbelakang. Tak mau dispesialkan! ltulah kalimat yang terucap dalam benakku kala itu. Setelah shalat, langsunglah kami membentuk semacam halaqah di dalam masjid itu. Aku dan 10 temanku yang lain, juga dengan 'ajudan pribadi' buya (re: Kak Erik) tak bisa menutupi muka antusias kami atas pertemuan kami dengan sosok pembesar bangsa pada petang kali ini. Mungkin bagi Kak Erik ini adalah momen biasa, namun bagi kami yang precil-precil ini, sungguhlah langka momen bisa satu karpet dengan beliau yang hanyak berjarak radius muka yang tidak sampai 2 meter ini. Renungan pertanyaan yang bejibun mulai muncul dalam benak kami, "Ah maneman iki nek ra takon!," itulah kata otakku pada waktu itu. Pertanyaan dari kami satu persatu sudah mulai terlontarkan, begitupula jawaban meyakinkan beliau pun sudah mulai menghujam titik pusat otak kami. Merasa bodoh! ltulah yang kami rasakan ketika bertemu cendekiawan bangsa ini. Daann akhirnya satu pertanyaan yang agak berani mulai dilontarkan oleh salah satu dari kami, "Buya, kan udah menjadi rahasia umum ya, kalau Buya akhir-akhir ini
Julian C/1airn1n°:<1! I l membuat tindakan dan pernyataan yang tak jarang melawan arus dari tokoh Muhammadiyah lain, nah kami mau nanya Buya, dasar dari Buya bisa berani melawan arus itu apa ya?" kata salah satu dari kami dengan sangat hati-hati. Muka kami pucat sejenak, takut jika beliau tersinggung. Dan akhirnya beliau membuka mulut dengan jawaban pertama yang sangat meyakinkan, "Ya dasarnya karena saya Alumni Mu'allimin". Haah?! Lantas apa maksudnya? Pikir kami. Lalu beliau melanjutkan tittahnya, "Saya dulu dididik di Mu'allimin dengan suasana over-preasure, dan ketika saya lulus akhirnya saya bisa 'seliar' ini. ltu yang pertama, lalu yang kedua adalah karena saya menjadikan Kyai Dahlan menjadi salah satu uswah saya. Kalo kalian tau, Kyai Dahlan itu termasuk sosok yang sang at melawan arus lho". Waaaw! It's amazing answer! Sebelum puncak kegilaan kami berhenti, dan akhirnya saya menyahut dengan pertanyaan lanjutan kepada beliau, "Kok bisa buya? Kok bisa Kyai Dahlan disebut tokoh pelawan arus?" lalu beliau mengawali jawabannya dengan senyum dan menjawab dengan tenang, "Lah mlencengke arah kiblat sak negoro kui opo kurang melawan arus pie? Melawan penyembahan matahari yang diperintahkan oleh serdadu Jepang yang kala itu sebagai koloni yang berkuasa itu juga kurang melawan arus gimana? Saya kadang malu sama beliau, saya itu sering dikatain orangtua mambu lemah lah. orangtua udah mau mati lah dan saya ambil hati kata-kata itu. Sedangkan Kyai Dahlan yang hampir mau ditebas lehernya ketika di Banyuwangi aja tetep santai dan keukeuh berdakwah. Di situ kadang saya malu. Tak kasih tau ya mas, melawan arus itu gapapa bahkan harus hukumnya, asalkan kamu benar dan yang kamu lawan itu salah, begitu".
7:2 Bodoh bodoh bodoh, itulah yang kami rasakan secara simultan. Sebuah tittah tentang perlawanan terhadap arus yang sungguh berlandas. Minder sekali kami pada saat itu. Kami merasa menjadi makhluk paling baperan. Baru dikatain dikit emosi, baru dihina dikit marah. Sedangkan beliau?
ANTU alam periode tiap tahunnya, Partai Komunis Indonesia selalu memiliki tempat dan waktu yang 'spesial' di hati kebanyakan masyarakat Indonesia, terkhusus angkatan 60- an. Sebagaimana hari besar suatu agama, PKI juga memiliki hari raya yang selalu dirayakan tiap tahunnya. Dibarengi dengan Hari Kesaktian Pancasila yang sebenarnya menurutku cukup dapat dipertanyakan maksud dan tujuannya. Karena, menurutku, sebuah kesaktian yang tiap tahunnya selalu diingatkan, itu menandai bahwa masih adanya kekhawatiran akan keraguan dari kesaktian itu sendiri. Lantas, apakah pemerintah sebagai pembuat kebijakan terkait Hari Kesaktian Pancasila adalah oknum yang sebenarnya masih meragukan kesaktian dari Pancasila? Wal/ahualam. Dalam tiap hari rayanya, kata-kata PKI seakan-akan lebih sering terucap bahkan mengalahkan jumlah pengucapan
kalimat thoyyib seperti tahmid, tasbih, takbir, dan sejenisnya. lroni kan ya, mengkomuniskan orang lain akhir-akhir ini dianggap lebih keren ke-lslamannya daripada dia yang diam dan senantiasa menyebut kalimat-kalimat thoyyib juga Ka/amul/ah. Memang cukup luar biasa, penulis dilahirkan di bangsa yang memiliki beban sejarah yang bejibun dan luar biasa berat. Tapi tak apa, itu Sunnatul/ah yang harus kita syukuri dan kita ambil hikmahnya. Dan pada nyatanya, di Indonesia ini identitas lebih laku dijual daripada kemanusiaan. Mau tau alasannya? Silahkan lihat proses penyelesaian dari negara perihal PKI dan Orde Baru. Tapi entah kenapa, dalam proses pemaklumanku, aku masih tetap merasa sangat miris ketika ada yang bilang bahwa, "Keturunan PK/ tetap/ah PK/, dan tetap harus terus diawasi!". Bahkan ada juga yang bilang bahwa keturunan dari PKI juga harus ikut dibumi hanguskan. Dalam hati nuraniku, sebenarnya aku agak setuju dengan kata-kata "diawasi" - nya. Tapi aku sangat menentang kalimat yang menyebutkan bahwa, "Keturunan PK/ tetaplah PK/, harus dibumi hanguskan dan mereka tetaplah musuh kita". Untuk sekadar informasi, ternyata anak dari Panjaitan itu sekarang sudah menjalin hubungan baik sebagai sahabat dengan anak dari Njoto (Wasekjen II CC-PKI) yang juga sempat menjadi Wakil Ketua II CC-PK! pada masanya. Bahkan mereka berdua seringkali makan nasi pecel bareng di Godean seperti yang dikatakan Buya Syafi'i di salah satu acara TV beberapa waktu yang lalu. Maksudku, mereka saja yang sudah jelas keturunan secara biologisnya saja sudah bisa menerima kenyataan dengan tetap bersahabat seperti biasa, mosok iya kita yang (hanya)
simpatisannya beranggapan seperti anggapan dangkal di atas. Kan gak elok. Cukup iba melihat keturunan yang gak ikut campur urusan kala itu kok ikut dipermasalahkan bahkan sampai pada kata "dibumi hanguskan". Kalau mau gitu sekalian aja keturunan Belanda, Jepang, Portugis, dan sekutu yang dibumi hanguskan, yang sebenarnya sudah jelas genocide-nya jauh lebih mengerikan dan lebih lama daripada para 'Hantu' tadi. Berdamai dengan penjajah saja bisa, kenapa untuk berdamai dengan 'pemberontak' yang masih satu tanah air nampaknya sangat berat? Yakin masih percaya NKRI Harga Mati? Handayani, 21 September 2017.
7G j Aku Bi11g11ng J111ka Aku Ada
JlAN PERMI UHAN ajian ini memiliki konotasi yang prefer terhadap dosamendosa, namun saya tetap akan mencoba mengambil kutipan yang penuh pahala. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Bukan/ah seorang mukmin orang yang suka mencaci, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/berkatakata keji dan orang yang berkata-kata kotor/jorok". [HR atTurmudziy] Selain itu ada juga dalil, "Berkatalah yang baik atau diam" Nah lantas dimana kerancuannya? Jadiii, sebenarnya masih banyak lagi ya dalil tentang misuh ini. tapi insyaAllah dua ini bisa cukup untuk membahas bahasan kali ini. Mungkin pernah ya keceplosan gitu ngomong anjing atau asu? Nah katanya sih katanya itu adalah salah satu dari sejuta macam kata misuh atau umpatan. Kok bisa? Karena 'katanya' KBBI, kata yang itu digunakan untuk mengumpat seseorang
dan biasanya cara pengucapannya bernada mbengok adalah misuh. Nah jikalau misuh diartikan sebagai sebuah perkataan yang bersifat mengumpat, menyakiti hati lawan bicara dan bernada mbengok itu tadi, brati kalau kita ngomong ke temen kita misal gini, "Wolah cen klambi!," lalu dia sakit hati berarti itu misuh dong? Padahal aku gak omong asu, aku juga gak ngomong jancuk, aku cuman ngomong KLAMBI yang disini artinya adalah baju. Nah di sinilah keunikan dan kerancuannya. Jadi, misuh menurutku dibagi menjadi 3 asas. Yaitu asas kultural, situasional, dan tentunya asas keniatan. Bisa dicoba ketika kita di Jogja ngomong, "Hello bitch," asal dia gak tau, bismillah itu bukan misuh dan kalau niatanmu adalah menyapa bukanlah memaki, ya itu bukan misuh. Sama halnya kita ke Eropa lalu bengak-bengok di keramaian, "Asuuuuuu! Asuuuuu!". Mungkin, kita hanya akan ditangkep gara-gara dikira orang gila bukan karena kita misuh, nah itu kalo misuh berasal dari asas kulturalnya. Lalu, kedua adalah misuh dari asas situasionalnya. Misal, kita lagi ke Jawa pesisir timur. Lalu kita punya piaraan nih semisal anjing. Kemudian, piaraan ini juara 1 lomba anjing hias, dan kit a nyletuk, "Cen asu ku wan gun pokokke rek!," lnsyaAllah rabakal kon iku ditapuk mergo memuji piaraanmu iku. Tapi beda lagi kalo kita ikut lomba lalu kalah dan ketika bertemu dengan orangtua kita lantas nyebut, "Cen asu tenan buk aku kalah lomba i! " lnsyaAllah bukan pelukan haru dan kasih sayang yang mendekap di tubuhmu, namun insyaAllah tamparan hangat yang siap mendarat neng lambemu. Nah itu kalo situasional.
Ketiga, ditengok dari asas keniatan, dan tentunya itu akan lebih sulit ditebak lagi. Kalau yang situasional dan kultural tadi kan bisa dirasakan keberbedaannya. Nah kalo niat? Siapa yang tau? Karena sependek pengetahuanku, niat itu adanya di dalam hati. Dan ilmu kehatian itu cuman dimiliki sang pemilik hatinya sendiri dan tentunya Sang Khaliqul Qalb itu sendiri. Jadi mending gausah main-main deh sama niat. Jangan sampai gara-gara kita di suatu tempat keceplosan ngomong "take beer" lalu besok nya kita dilaporkan atas kasus penistaan agama. Padahal niatannya sih mau beli minuman gitu di swalayan, heuheu. Dan sampai detik ini, penulis masih meyakini bahwa kata apapun di dunia ini memiliki sifat yang netral. Yang membuat tiap kata menjadi berkubu adalah subyektifitas pengucap dan penerima kata itu sendiri. Gimana? Tertarik untuk misuh?
KERAJAAN ATAU (RATU)AN • 60-an tahun yang lalu, salah satu kejadian perpecahan C. terbesar di bumi Jawa terjadi. Bagaimana Giyanti membagi salah dua dari banyaknya tangan Tuhan yang ada di Bumi ini. Dua representasi kekuasaan yang agung dapat dibelah. Padahal mulanya dua ini adalah bilangan tunggal yang obyektif. Berjalan menerabas jalanan sialan 'Negri Van· hingga menantang dan tu rut menumbangkan stamina dari 'Negri JAV'. Dunia bukan tandingan untuk kerajaan ini. Hanya Yang Maha Agung lah yang bisa meruntuhkan Yang Agung, dan sampai detik ini, ketika bangsa Tiongkok mulai bangkit dari keterpurukan sampah limbah manusia yang selama ini menguruk peradabannya, Kasultanan ini masih tetep ngadeg jejeg. Sekali lagi, Yang Maha Agung lah yang hanya bisa menumbangkan Yang Agung. Negeri ini lahir seperti trah Wilhemina. hidup di tengah air yang mengalir dari 81
hulu ke hilir. Bedanya, Netherland selalu ingin menggagahi air di bawahnya, namun Ngayogyokarto lebih memilih membersamai dan mencintai air sebagai teman hidupnya yang setara. Dua abad bukan waktu yang sedikit, namun memang itu baru 2/10 dari usia Aang sebagai avatar. Akan tetapi, Hamengkubuwono bukan subjek fiktif macam avatar. Dan Hamengkubuwono tak perlu menjadi fiktif untuk menyamai kharisma seorang avatar. Yang kali ini, usianya sudah cukup senja menurut hadits Nabi. Dan seperti halnya intrik dalam dunia kerajaan, tahta pasca yang berkuasa selalu menarik jadi bahan ghibahan. Perdebatan antar anggota keluarga pun sampai pada telinga masyarakat. Ya, ini resiko monarkhi di tengah kerumunan demokrasi. lnformasi mudah sekali di akses tanpa harus ada abdi dalem yang berkhianat untuk menyebar info private kerajaan kepada masyarakat umum. Dualisme adalah anggapan yang tersebar di masyarakat awam. Upaya menunjukkan siapa yang paling 'biru' sedang terjadi di dalam raga Kerajaan Mataram. Bahkan, saking pengingnya berita tersebut, angkringan yang jarang tersentuh tangan Raja pun turut terhembus topik tersebut. "Dab, pie iki sesok gubernur e dewe? Mosok wedok?" tanya resah salah seorang mahasiswa perantau dari Negri Majapahit. "Gubernurmu lak yo iseh Dhe Khofifah to? Lha meh ganti sopo?" sela Karto yang merupakan mahasiswa tulen berkelahiran Jogja, dan mungkin juga akan mati di Jogja. Nampak dari gelagatnya yang tidak mau repot dengan istilah 'rantau'.
"Oooo yo maksudku ki gubernurmu, To. Sri Sultan" "Yo mbuh, tapi ketok e fix putri deh sesok," tegas Karto. "Wah njuk pie wi To? Po ra ng/anggar aturan kerajaan ;>" yo. "Lho kan wes ono Sabda Raja kemarin. Secara kabudayan wes resmi dan konstitusionil" tegas Karto kembali meyakinkan keraguan Sapto. "Ooo iya deng, lah brati besok udah gak ada kerajaan ya di Jogja?" tanya jail Sapto. "Ha? Maksudmu?" "Yo kan nek le mimpin wedok, judule yo dadi ke(ratu) an no, wong ke(raja)an ki yo lenang. lki jowo bro, udu lnggris, yang apapun kondisinya yo tetep sebutane kingdom hahahaha," kelakar Sapto nampak puas menjadikan dapur raja sebagai konten jokes-nya. "Ndasmu Sap!" Mereka ini memang sedari ospek sudah saling mngenal satu sama lain, bahkan Sapto memilih keluar dari kos-annya untuk pindah singgah ke rumah Karto yang relatif dekat dari kampus dan tentunya ya tak berbayar. Jadi mereka berdua sudah sering menerima guyonan nylekit dari satu sama lain. Termasuk tentang Raja dari Karto. "Eh to. tapi bukan e Raja Jogja ki a/asane kudu lanang ki salah satune mergo kudu siap dadi Imam sisan yo?" "Saiki wes modern bro, sebenarnya kalau soal tahta itu cuman berkutat dengan simbol raja, maka tidak apa raja itu diisi oleh orang yang penting laki-laki tertua sekeluarganya. Tapi kan ini bukan cuma soal simbol. Sap. lni soal masa depan DIY yang kedepan harus dipimpin oleh gubernur yang
1-M< I Aku Binp;ung ll'laka Aku Adi1 berkualitas sekaligus masih menjaga kabudayan tahta kraton terkait hukum kenasaban. Sekarang tak tanya, kita ini mau cari imam sholat opo umara'? dalam konteks ini cobo, luweh penting le ndi jal?" "Oh iyo yo, To. Toh yo nek sholat, wedok yo oleh dadi imam kok" "Matamu! ajarane sopo wi?" "Loh iyo to? Tur nek makmum e wedok kabeh hiahahahaha"
KP KU lISI' ORAN PARTAI eberapa hari terakhir ini, Fahri sedang berada pada masa sibuknya. Masa yang membuat Fahri cukup hectic hingga menyebabkan jam tidurnya cukup terganggu. Bangun pagi tidur pagi. Tidak ada yang lebih tidak enak dari itu. Apalagi, siang hari sebagai waktu yang nikmat untuk menjadi muzzammi/ pun juga terpaksa diganggu oleh rutinitas yang tak kenal waktu ini. Sebagai orang yang bergerak pada bidang advokasi, ini adalah sebuah resiko dua tahunan yang harus diterima oleh Fahri. Kegiatan dan masalah yang datang tiada jeda. Dan seperti pekan-pekan sebelumnya, weekend adalah waktu yang tepat untuk menikmati kesendiriannya. Beristirahat dan bermain bersama pakaian kotor. tumpukan piring yang sudah nampak seperti tumpeng di wastafel, dan tentunya bermesraan dengan gadget-nya. Karena kebetulan Fahri ini adalah aktivis LDR. Doinya memilih untuk
melanjutkan studinya ke Jawa Timur. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan hasrat rindunya, ia hanya bisa menelfon doi di tiap waktu kosongnya. Karena juga kebetulan kondisi doinya yang merupakan aktivis di kampusnya, Fahri dan doi harus saling membagi waktu dan menumpuk rasa rindunya untuk diluapkan pada setiap telfonnya. Tapi katanya, bagi Fahri LOR itu menyenangkan. Melatih kedewasaan dan tentunya melatih untuk menjadi penyemangat dan pendoa satu sama lain di selang aktivitasnya masing-masing. Sampai pada akhirnya Fahri mendapatkan pesan singkat melalui WaGnya, pesan itu menyebutkan bahwa hari minggu besok akan diadakan Softskill dari jurusan. Yang cukup sialan, kegiatan tersebut akan di mulai pada jam 6 pagi, sampai jam 6 sore. Dan ini adalah penutup pekan yang cukup menyebalkan bagi Fahri, semua rencana me time-nya gaga!. Hingga akhirnya, pada jumat malam ini, Fahri memutuskan untuk nongkrong bersama teman-temannya, khususnya Hamzah. Teman debat dan ghibah terbaik bagi Fahri sejak 8 tahun yang lalu. "Zah, ayo ngangkring zah. aku mumet banget ki. Ngko bengi jam 8 iso metu ra?" tanya Fahri dalam chat personalnya kepada Hamzah. Dengan respon yang cepat, Hamzah langsung merespon dengan satu kata yang sangat melegakan bagi Fahri. "GAS!," kata Hamzah. Dan pada malamnya, mereka bertemu di sebuah angrkingan legendaris di dekat daerah mereka dulu mondok. Angkringan yang sudah ditempati oleh alumni-alumni lintas angkatan sekolah Fahri dan Hamzah. Karena mereka berdua memiliki hobi yang sama, yaitu berdebat, maka jamuan makan malam mereka kali ini kembali diawali dengan perdebatan
Uacha Julian Cliairni-ri.-:i1l j 87 mereka soal Revisi UU KPK yang beberapa pekan ini ramai dibincangkan. "Zah. apa iya Revisi UU KPK itu melemahkan KPK?" tanya Fahri. "Sek to, aku gek madang i /ho," jawab Hamzah yang sedang bercumbu dengan sate ayam khas dari angkringan tersebut. "YOH!," saut Fahri. Hamzah ini memang memiliki kemampuan perihal kecepatan dia dalam melahap sesuatu. Dan kemampuan ini seringkali diuji coba oleh teman-temannya dulu ketika masih di asrama. Dan semua upaya uji coba tersebut memutuskan bahwa kecepatan makan Hamzah sampai detik ini pun belum tertandingi. Sulit memang manusia seperti Hamzah menunaikan sunnah Rasul. "Pie Ri? Revisi UU KPK melemahkan KPK? YO JELASLAH NOES!," jawab Hamzah dengan tiba-tiba. "Seng santai, Zah. weki lagi wae bar madang langsung bengak bengok. Lha emang ngopo kok iso melemahkan? Bukane emang lembaga apapun ki perlu ada pengawas ben ra sewenang-wenang yo?" "Nek pengawas aku setuju, Ri. Tapi, yang jadi masalah itu, mereka ini mau bikin Pengawas apa Penentu Kebijakan? Namanya pengawas tu ya bekerja pasca-aksi bukan pra-aksi. Lha mosok pengawas kok diberi hak perihal perizinan untuk penyadapan," jawab Hamzah mulai rada emosional, karena kebetulan ia punya seorang kenalan dekat orang KPK. Dan dia seringkali mendapatkan sambatan dari kenalannya tersebut. "Ooo. iya sih. Terus ya Zah, kan setauku kalau penyidik KPK mau nyadap untuk OTT, kan harus izin dulu ke Dewan
Pengawas tuh, nah Dewan Pengawas kan dipilih sama Presiden. Nah, apa enggak malah wagu ya?" tanya Fahri yang mulai menjustifikasi pernyataan Hamzah. "Kan, makanya Ri. Sejauh ini, lembaga negara terkorup di tingkat pusat itu kan DPR, periode 2014-2019 udah 23 apa ya nek gak salah, termauk ketuanya dong jangan lupa hahahaha. Nah DPR itu isinya orang partai semua to? Yang jadi masalah adalah, kalau mau melakukan penyadapan untuk penyidikan potensi OTT, ya katakanlah KPK mau menyadap DPR ya. Nah untuk melakukan penyadapan, KPK harus izin dulu ke Dewan Pengawas, Dewan Pengawas yang milih Presiden, Presiden sekarang yang ngusung itu Partai, dan orang-orang partai itu kumpul jadi satu di DPR. Ya kan sama aja KPK minta izin buat nyadap orang partai kepada orang partai to secara tidak langsung? Make sense gak?" jawab Hamzah yang makin malam justru makin menggebu. "Masuk aka! sih, tapi emang iya Presiden selemah itu independesinya?" saut Fahri. "Lho kalo enggak, mosok iya Presiden setuju tandatangan Revisi UU KPK? Hiyahahahaha," timpal Hamzah dengan kelakarnya. "Coh, hoo yo! Hahahaha" Esok hari, mereka berdua sudah menikmati sunrise di LP, selesai.
BI RAFI PENULlS acha Julian Chairurrizal merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Berbah, Kabupaten Sleman, 5 Juli 1999. Putera pertama dari Chairul Agus Mantara dan Arika Damayanti ini pada masa kecilnya, ia habiskan di kampung halamannya di Gunungkidul, sebuah daerah pusat pariwisata di Daerah lstimewa Yogyakarta. la menghabiskan masa kecilnya dengan bermain layaknya anak kecil pada umumnya. Bibit-bibit kenakalan sudah muncul sejak ia menginjak sekolah dasar. la menimba ilmu formal sejak Taman Kanak-Kanak di TK Negeri Pembina dan melanjutkan pendidikannya di SD Muhammadiyah AI-Mujahidin Wonosari, Gunungkidul. Sejak saat itu pula, ia 'terkontaminasi' dan mendalami Muhammadiyah sebagai ideologinya. Kemudian, pada tahun 2012 ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dalam rangka menjadi murid di salah 89
~)0 I Aku Bingwzg Maka Aku Adt1 satu Pondok Pesantren ternama di Indonesia. Orang yang baru-baru saja ini mendeklarasikan sebagai penganut ideologi Muhamamadiyah Hedonis Epikurean ini memutuskan untuk 'mondok' di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, yang juga merupakan sekolah kandung dari K.H. Ahmad Dahlan sejak tahun 1918. Baginya, bisa lulus sebagai alumni dari Mu'allimin adalah prestasi besar bagi hidupnya. Terbukti ketika ia beberapa kali diundang untuk menjadi narasumber di berbagai acara dan berbagai daerah, ia selalu menulis "Lulus 6 tahun dari Mu'allimin" dalam kolom prestasi di CV-nya. Sejak MTs, ia aktif sebagai orang yang organisatoris. Hingga pada puncaknya, di MTs adalah ketika ia memutuskan untuk mendirikan Laskar Maident Santri bersama tiga orang teman 'mondok'nya yang saat ini sudah berganti nama menjadi Laskar Mataram Brotherhood, salah satu laskar terbesar yang ada di tubuh suporter The Maident (Kelompok Supporter PSIM) saat ini. Dua kali dibotak oleh ustadnya dan dua kali pula mendapatkan surat pernyataan terakhir (SPT) ketika di Mu'allimin. Dan itulah yang menjadikannya "Lulus 6 tahun dari Mu'allimin" sebagai salah satu prestasi terbesarnya. Masuk tingkat MA, ia aktif di lkatan Pelajar Muhammadiyah (1PM). la merintis karirnya di 1PM mulai dari ranting Mu'allimin sebagai Ketua Bidang Perkaderan hingga saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Advokasi di Pimpinan Wilayah 1PM DIY. Selain di 1PM, orang yang akrab disapa "Gus" atau "Raju" ini bersama beberapa temannya mendirikan Aliansi Pelajar lstimewa pada tahun 2018 yang juga pada akhirnya iya ketuai sendiri. Sebuah wadah bagi organisasi pelajar di DIY untuk beraliansi dan bersinergi. Selain itu, ia bersama
teman-temannya juga berhasil mendirikan Komunitas Rumah Politik Hukum dan Keamanan (POLHUKAM) Pelajar DIY pada tahun 2019. Sebuah komunitas yang bergerak di bidang edukasi terkait Polhukam bagi pelajar. Di Gunungkidul. sampai saat ini ia masih menjabat sebagai pengurus di KONI Kabupaten Gunungkidul. KNPI Kabupaten Gunungkidul, dan Karangtaruna Kabupaten Gunungkidul. Hingga pada tahun 2018 setelah lulus dari Mu'allimin, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai mahasiswa Jurusan llmu Pemerintahan. Di UMY, ia mendaftarkan dan mengabdikan diri sebagai Kader Himpunan Mahasiswa Islam MPO (Hml MPO) di fakultamya. Karena keaktifannya, pada tahun 2019 ia ditarik sebagai Sekretaris Unit Partai Amanat Mahasiswa, salah satu partai terbesar yang ada di UMY dalam tiap Pemira-nya. Racha Julian Chairurrizal bisa dihubungi melalui Email: [email protected].