3.1.1.2. Jembatan Kelvin
Jembatan wheatstone dilakukan dengan harapan agar
mempunyai keterbatasan bila menghasilkan ketelitian yang
digunakan untuk mengukur lebih tinggi bila digunakan untuk
tahanan rendah, dengan mengukur tahanan-tahanan
demikian maka jembatan rendah, biasanya dibawah 1
wheatstone dimodifikasi menjadi Ohm.
jembatan kelvin. Hal tersebut
R2 R1 Keterangan :
R1 : tahanan lengan 1
G R2 : tahanan lengan 2
R3 m p n RX R3 : tahanan lengan 3
Ry Rx : Tahanan yang diukur
Ry : tahanan variable dari
seutuas kawat yang
terminalkan pada titik m,
p dan n
E
Gambar 3 – 2 Jembatan Kelvin
Gambar 3-2 Ry menyatakan jembatan R3 dan hasil
tahanan kawat penghubung dari
R3 ke Rx. Jika galvanometer pengukuran Rx akan lebih kecil
dihubungkan ke titik m, tahanan dari yang sebenarnya. Apabila
Ry dari kawat penghubung galvanometer dihubungkan ke
dijumlahkan ke tahanan Rx yang
tidak diketahui dan menghasilkan titik p (diantara titik m dan n)
Rx yang lebih besar. Jika sehingga perbandingan tahanan
dihubungkan ke titik n, Ry
dijumlahkan dengan lengan dari n ke p dan dari m ke p sama
dengan perbandingan
tahanan-tahanan R1 dan R2 atau
jika ditulis :
Rnp R1 …………………… (3 – 6)
= -------
----------
R2
Rmp
maka persamaan setimbang untuk jembatan :
R x R np R1 ( R3 R mp ) .................. (3 - 7)
R2
R np Rmp R y
R np R1 R mp Keterangan :
R2
Rnp ; Tahanan antara titik m dan p
R1 (R y Rnp ) Rmp : tahanan antara titik m dan p
R2 Ry : Rmp + Rnp
R1 Ry R1 R np
R2 R2
R np R1 R np R1 Ry
R2 R2
R np ( 1 R1 ) R1 R4
R2 R2
R np R1 Ry . 1
R2 1 R1/R2
R np R1 Ry
R 2 R1
sedangkan Rmp bila dihitung dengan cara yang sama akan didapatkan :
R mp R1 R y
R1 R 2
Jika harga Rnp dan Rmp dimasukkan dalam persamaan (3 – 7), maka
didapatkan :
Rx R1Ry R1 ( R3 R2 Ry )...........................(3-8)
R1 R2 R2 R1 R2
Apabila persamaan ( 3 - 8 ) disederhanakan, maka didapatkan
Rx R1 R y R1 R3 R1 R 2R y
R1 R 2 R 2 R1R2 R2R 2
Rx R1 R3 R1 R 2R y R1 R y
-
R 2 R1 R 2 R1 R 2
Rx R1 R 3 .............................................................(3 -9)
R2
3.1.1.3. Jembatan Ganda Kelvin
Jembatan ganda kelvin digunakan Gambar adalah lengan a dan b).
secara khusus untuk Perlu diketahui bahwa
pengukuran-pengukuran tahanan perbandingan tahanan a dan b
rendah. Rangkaian tersebut sama dengan perbandingan R1,
dinamakan jembatan ganda, dan R2.
karena rangkaian mempunyai
pembanding lengan ke dua (dalam
k R1
R2
Go
l
p
R3 R
ba
m n
Ry
E
Gambar 3 – 3 Jembatan ganda Kelvin
Galvanometer akan menunjuk nol bila potensial di titik k sama
dengan potensial di titik p atau Ekl = Elmp.
E kl R2 E
R1 R2
E kl R2 I^ R3 Rx (a b) R y `
R1 R2 (a b R y )
E lmp I [ R3 b{ (a b) R y }]
a b (a b R y )
Ekl = Elmp, maka Rx dapat ditentukan :
R2 I ^ R3 Rx (a b) R y `
R1 R 2 (a b R y )
I ^ R3 b. (a b) R y `
a b (a b R y )
Bila R2 /(R1 + R2 ) dipindah ruas, maka :
R3 Rx (a b) R y R1 R 2 ^ R3 (a bRy `
(a b R y ) R2 b Ry)
R3 Rx (a b) R y R1R 3 R3 R1 R 2 . bRy
(a b R y ) R2 R2 (a b R y )
Rx R1R 3 R1 . bRy bRy - (a b) R y
R 2 R 2 (a b R y ) (a b R y ) (a b R y )
Rx R1R 3 R1 . bRy bRy - aRy - b R y
R 2 R 2 (a b R y ) (a b R y ) (a b R y )
Rx R1R 3 R1 . bRy . -aRy b
R 2 R 2 (a b R y ) (a b R y ) b
Rx R1R 3 bRy ( R1 - a )..........................(3 10)
R 2 (a b R y ) R 2 b
Sesuai dengan syarat awal yang sudah ditetapkan :
a/b = R1/R2, maka persamaan (VII - 10) dapat ditulis :
Rx R 1 R 3 .............................................................(3 -11)
R2
3.1.2. Prinsip Dasar Pengukuran L
3.1.2.1. Jembatan Pembanding Induktansi
Secara prinsip jembatan arus bolak-balik dapat digunakan untuk
mengukur induktansi yang tidak diketahui dengan membandingkan
terhadap sebuah induktor standar yang diketahui. Gambar 8-2
menggambarkan jembatan pembanding induktansi; R1 dan R2 adalah
lengan-lengan pembanding, sedang lengan standar adalah LS seri
dengan RS, yang mana LS adalah induktor standar kualitas tinggi dan
RS adalah tahanan variabel. Lx adalah induktansi yang belum
diketahui dan Rx adalah tahanannya.
E~ R1 R2
Detekt Keterangan :
Ls : Induktansi
LS
Rs standar
Lx : Induktansi yang
diukur
Lx
RX
Gambar 3 – 4 Jembatan pembanding induktansi bentuk
Apabila lengan-lengan dari dinyatakan dalam
jembatan pembanding induktansi kompleks, maka :
Z1 = R1 Z3 = RS + j? LS
Z2 = R2 Z4 = Rx + j? Lx
Dalam setimbang, maka :
Z1 . Z4 = Z2 . Z3
R1 ( Rx + j? Lx ) = R2 ( RS + j? Ls )
R1Rx + R1j? Lx = R2Rs + R2 j? Ls …………… (3 – 12)
Dua bilangan kompleks adalah adalah sama. Dengan
sama, apabila bagian-bagian nyata
dan bagian-bagian khayalnya menyamakan bagian-bagian nyata
dari persamaan (3 – 12), maka :
R1 Rx = R2 RS
Rx = R2 RS ……. …………………… (3 – 13)
R1
Sedangkan bagian–bagian khayalnya :
R1 j? Lx = R2 j? Ls
Lx = R2 LS …….………….……………(3 – 14)
R1
3.1.2.2. Jembatan Maxwell
Jembatan Maxwell digunakan kapasitansi yang diketahui.
Gambar 3 – 5 menggambarkan
untuk mengukur induktansi yang rangkaian jembatan Maxwell.
belum diketahui dengan
membandingkan terhadap
R1 C1 R2
~E Detektor
Rs LX Keterangan :
RX
Lx induktansi yang
diukur
Rx adalah tahanan
kumparan Lx
Gambar 3 – 5 Jembatan Maxwell
Apabila lengan-lengan dari jempatan Maxwell dinyatakan dalam
bentuk kompleks, maka :
1
Z1 = Z3 = R3
1/ R1 + jwC1
Z2 = R 2 Z4 = RX + jwl x
Dalam keadaan seimbang, maka
Z1Z4 = Z2Z3
Z2 Z3
Z4 =
Z1
RX + jwL x = R2R3 ( 1/R1 + jwC 1 )
R2R3
RX + jwLx = + R2R3jwC1…… (3 – 15)
R1
Jika bagian nyata dan bagian khayalnya dipisahkan, maka didapatkan
R2R3
RX = …………………………… (3 - 16)
R1
J w Lx = R2 R3 jwC1
Lx = R2R3 C1 ………… (3 – 17)
3.1.2.3. Jembatan Hay 1 < Q < 10 ).ini dapat ditunjukkan
dengan memperhatikan syarat
Jembatan Hay digunakan untuk setimbang dari jembatan arus
mengukur induktansi yang belum bolak-balik bahwa jumlah sudut
diketahui dengan membandingkan fasa satu pasang lengan yang
terhadap kapasitansi yang berhadapan harus sama dengan
diketahui. Jadi pada prinsipnya jumlah sudut fasa pasangan
sama dengan jembatan maxwell, lainnya. Sedang jembatan hay
bedanya pada jembatan maxwell dapat digunakan untuk pengukuran
lengan pertama C1 paralel dengan kumparan-kumparan dengan Q
R1, sedang pada jembatan hay C1 yang tinggi.
seri dengan R1. Pada jembatan
maxwell terbatas pada pengukuran
kumparan dengan Q menengah (
E~ R1
R2
C1
Detektor
Lx
Rs
Rx
Gambar 3 – 6 Jembatan Hay
Apabila lengan-lengan dari jembatan hay dinyatakan dalam bentuk
kompleks, maka :
Z1 R1 - j/ωC1 Z3 R3
Z2 R 2 Z4 R x jωL x
Dalam keadaan setimbang, maka :
Z1 Z4 Z2 Z3
(R1 - jωC1 )( R x jωL x ) R2R 3
R1 R x R1jωLx - jωR x Lx R 2R3.................(3 18)
ωC1 C1
Jika bagian nyata dan bagian khayal dipisahkan, maka didapatkan :
R1R x Lx R 2R3 .............................................(3 19)
C1
Rx ωLx R1 ........................................................(3 20)
ωC1
Dari persamaan (3 – 19) dan (3 – 20) keduanya mengandung Lx dan
Rx. jika diselesaikan secara simultan, maka didapatkan
Rx ωLx R1 - - - - - - - - - - - - - -- ! L x Rx
ωC1 ω 2C1R1
R1R x Lx R2R 3
C1
Jika harga Lx dimasukkan didapatkan :
R1R x Rx R3R 2
ω 2C12R1
Rx ( R1 1) R 2R3
ω 2C12R1
Rx R 2R3
(R1 1/ω 2C12R1)
Rx R 2R3
R1 ( ω 2C12R1) 1
ω 2C1R1
Rx R1R 2R3ω 2C12 ........................................(3 - 21 )
ω 2C12R12 1
Lx Rx
ω 2C1R1)
Catatan : ? = 2 p f
Bila harga Rx dimasukkan maka didapatkan :
Lx R1R2R 3ω 2C12 . 1
ω 2C12R12 1 ω 2C1R1
Lx R 2R3C1 ........................................(3 - 22)
ω 2C12R12 1
3.1.2.4. Prinsip Pengukuran Kapasitansi
Prinsip yang digunakan dalam R2 sebagai lengan – lengan
pembanding, sedang lengan
pengukuran kapasitansi adalah standar adalah Cs ( kapasitor
kualitas tinggi ) yang diseri
JEMBATAN PEMBANDING dengan Rs ( tahanan variable ).
Cx adalah kapasitansi yang
KAPASITANSI. Pada dasarnya belum diketahui harganya dan
Rx adalah tahanan kebocoran
jembatan pembanding kapasitor.
kapasitansi juga hampir sama
dengan jempatan pembanding
induktansi. Gambar VIII-3
menggambarkan jembatan
pembanding kapasitansi. R1 dan
E~ R1
R2
C1
Detektor
Rx
Rs
Cx
Gambar 3 – 7 Jembatan pembanding kapasitansi
Apabila lengan-lengan dari jembatan pembanding kapasitansi
dinyatakan dalam bentuk kompleks, maka dapat ditulis :
Z1 = R1 Z3 = RS – j /? Cs
Z2 = R2 Z4= RX – j /? Cx
Dalam keadaan setimbang, maka :
Z1Z4 = Z2Z3
j j
? Cx
R1 ( RX - ) = R2 ( Rs - )
? Cs
jj
R1 RX – R1 = R2 Rs – R2 ….. (3 - 23)
? Cx ? Cs
Sama dengan jembatan sama. Dengan menyamakan
pembanding induktansi, dua bagian-bagian nyata dari
bilang kompleks adalah sama persamaan seperti di atas,
bila bagian-bagian nyata dan maka didapatkan
bagian-bagian khayalnya adalah
R1 Rx = R2 Rs
Rx = (R2/R1) Rs ……………………………………… (3 -24)
Bagian-bagian khayalnya
(jR1/?Cx) = (JR2/? Cs) sehingga diperoleh hubungan :
Cx = (R1/R2) Cs …..(3 - 25)
3.1.2.5. Jembatan Schering
Jembatan schering digunakan dapat diatur); lengan 2 adalah
resistor yang dapat diatur ; lengan
untuk mengukur kapasitansi yang 3 adalah lengan standard yaitu C3
(kapasitor bermutu tinggi) dan
belum diketahui dengan lengan 4 adalah terdiri dari Cx
yaitu kapasitor yang belum
membandingkan terhadap diketahui harganya dan Rx yaitu
tahanan kebocoran kapasitor.
kapasitansi yang diketahui
(standard). Gambar 3 - 8
menggambarkan jembatan
schering, yang mana lengan 1
adalah R1 paralel dengan C1 ( C1
C1 R2
E R1
Detektor
~
C3 Cx
Rx
Gambar 3 – 8 Jembatan Schering
Apabila lengan-lengan dari jembatan schering dinyatakan dalam
bentuk kompleks, maka :
Z1 1 Z3 j
( 1/R 1 jωC1) ωC3
Z2 R 2 Z4 R x - j/ωCx
Dalam keadaan setimbang :
Z1 Z4 Z2 Z3
Z4 Z2 Z3
Z1
j R2 ( j 1 jωC1)
R x - ωC x )( R1
ωC 3
Rx - j jR 2 ( 1 jωC1)
ωC x ωC3 R1
Rx - j jR 2 R 2ωC1
ωC x ωC3R1 ωC3
Rx - j R 2C1 - jR 2 ............................(3 - 26)
ωC x C3 ωC3R1
Jika bagian-bagian nyata dan bagian-bagian khayalnya dipisahkan,
maka didapatkan :
Rx R2C1 ..............................................................(3 - 27)
C3
j jR 2
ωC x ωC 3R1
Cx C3R1 .............................................................(3 - 28)
R2
3.2. LCR meter model 740
LCR meter model 740 sistem dan L menggunakan osilator
jembatan dirancang untuk frekuensi 1 KHz dan system
mengukur resistansi (R), pendeteksi nol. Peraga hasil
kapasitansi (C) dan induktansi (L) pengukuran menggunakan tiga
dalam rangkaian pengukuran yang digit. Koneksi masukan
luas. Meter dilengkapi baterai menggunakan sumber tegangan
didalamnya sebagai sumber DC eksternal dan AC (950 Hz–40
tegangan DC untuk pengukuran R, KHz) dan adaptor AC.
sedangkan untuk pengukuran C
3.2.1 Spesifikasi LCR meter
Dalam pemilihan meter spesifikasi berbeda dengan meter yang
digunakan dibengkel. Meter
menjadi pertimbangan yang dilaboratorium harus memenuhi
kriteria peralatan laboratorium
penting. Keputusan pilihan dimana akurasi sangat diperlukan
harga mahal sedangkan untuk
tergantung pada karakter mana meter bengkel hanya sebagai
indikasi sehingga akurasi bukan hal
yang lebih diperlukan, disesuaikan yang penting, harga murah.
dengan tujuan pengukuran. Misal
pemilihan meter untuk penelitian
laboratorium tentu saja
menggunakan pertimbangan yang
Pengukuran Resistansi 0,001 O sampai 11 MOterbagi dalam 8 range
dengan kesalahan + 10% untuk setiap range
Range 1 mO – 100 kO
1O sampai 100 kO ± (0,5% +0,1 % f.s.)
Resoluai minimum 1 MO ± (0,1% +0,1 % f.s.)
Akurasi 0,1 O ± (2 % +0,1 % f.s.)
Pada (20o sampai ± 5o C) Mendekati 3mO
Resistansi terminal residu 1 pF sampai 11000F dalam delapan range
sampai dengan kesalahan + 10% untuk
Pengukuran Kapasitansi setiap range
1 pF
Range Range 1000pF – 100 F ± (0,5% +0,1 % f.s.)
100 pF ± (1% +0,1 % f.s.)
Resoluai minimum 1000 F ± (3 % +0,1 % f.s.)
Akurasi Mendekati 3pF
Pada (20o sampai ± 5o C)
0,1 F sampai 1100 H dalam delapan range
Resistansi terminal residu sampai dengan kesalahan + 10% untuk
setiap range
Pengukuran Induktasi 0,1 H
Range 100 H sampai 10H ± (0,5% +0,1 %
Range
Resoluai minimum
Akurasi
Pada (20o sampai ± 5o C) f.s.)
Resistansi terminal residu
100 H ± (1% +0,1 % f.s.)
10 H ± (3 % +0,1 % f.s.)
Mendekati 0,3 H
Pengukuran Faktor Disipasi dan Kualitas
Range 0,01 sampai 30 pada frekuensi 1KHz terbagi
dalam 2 range
Akurasi ± 10% + 3 skala divisi
Sumber pengukuran DC internal dan eksternal untuk pengukuran
resstansi.
AC internal 1kHz atau eksternal 50Hz sampai 40
kHz untuk pengukuran resistansi dan kapasitansi.
Kontrol Panel LCR -740 dan Koneksi
6
7
8 11 5
10 4
2
9
13 14
12
1
3
Gambar 3 – 9 Panel-panel LCR meter
1. Saklar POWER dan control putaran knob, harga L
SENSITIVITY : putar saklar sebenarnya tergantung pada
POWER on atau off dan atur saklar RANGE MULTIPLIER.
sensitivitas detector untuk 3. Knob pengunci L untuk
pengaturan AC. penguncian indikator R,C,L 2
2. Indikator R,C,L peraga 3 pada pengaturan
digit yang dikontrol oleh sebelumnya bila pengujian
toleransi komponen, atur resistansi seri) yang
normally pada kanan atau dikalibrasi pada frekuensi 1
posisi bebas. kHz. Harga ekuivalen
4. Saklar NORMAL +1,00 L resistansi seri yang
pengaturan normal pada sebenarnya harus dihitung
umumnya untuk pengukuran Rs = RE/(CF)
pembacaan langsung dari = (REX106)/(CpF) yang
indikasi R,C,L +1 : mana RE adalah pembacaan
pengaturan digunakan bila dial.
pengukuran di atas batas 10. Saklar X1 – X10 untuk
yang diukur. memilih pengali untuk
5. Saklar RANGE MULTIPLIER pembacaan D dan RE pada
untuk memilih range dial D,Q .
komponen yang diukur. 11. Saklar SOURCE untuk
6. Saklar SELECTOR diatur memilih sumber internal
pada R,C, L tergantung rangkaian jembatan, DC
komponen yang akan diukur. untuk pengukuran resistansi
7. Indikator NULL dengan DC dan AC pada frekuensi
skala 10 – 0 – 10 digunakan 1kHz untuk pengukuran
pada saat pengukuran resistansi, kapasitansi dan
resistansi DC dan skala 0 - induktansi.
10 (pada sisi kanan adalah 12. RED HI
0) untuk pengukuran 13. BLUE EXT + DC untuk
kapasitansi dan induktansi. dihubungkan dengan
8. Pengaturan mekanis nol komponen yang akan diukur
untuk indikator NULL. keduanya merupakan
9. Dial D Q : menggunakan dua terminal mengambang
skala, skala diluar untuk terhadap ground.
factor disipasi, D, dan skala 14. Terminal BLACK untuk
di dalam untuk RE(ekuivalen grounding case.
16 15
Gambar 3 – 10 Sisi atas case
15. Penutup baterai.
16. Pegangan untuk membawa meter.
17 19
18
Gambar 3 – 11 Panel belakang LCR meter
17. Jack EXT, SIG, IN : untuk meter penunjuk kondisi null,
memungkinkan dihubungkan
sumber AC eksternal dalam ke scope untuk tujuan yang
sama.
range 50 Hz sampai 40kHz, 19. Jack EXT, PWR, IN : Untuk
dihubungkan ke LPS-169
disisipkan dengan plug mini adapter AC, bila disisipkan
baterai internal di-offkan
secara otomatis meng-offkan
secara otomatis.
osilator 1kHz di dalam.
18. Jack telepon : untuk
menyisipkan earphone plug
bila menggunakan sinyal
yang dapat didengar
bersama-sama dengan
3.2.2 Pengoperasian
3.2.2.1. Tindakan Pencegahan Kerusakan
1. Saklar power posisikan off selama perioda standby atau bila
jembatan tidak digunakan. Ini akan memberi dampak baterai lebih
tahan lama.
Gambar 3 – 12 Posisi saklar off
2. Cek pengaturan 0 dari null meter, untuk mencegah kesalahan
pengukuran resistansi DC . Jika off atur saklar power pada posisi
OFF dan atur skrup pengenolan meter jika diperlukan sehingga
posisi jarum seperti berikut :
Tepat nol
Gambar 3 – 13 Posisi nol meter
3. Hubungkan komponen yang 4. Ketika knob indikator RCL
akan diukur pada terminal dikunci dengan knob
pengukuran merah dan biru pengunci jangan putar
sependek mungkin. Ini paksa.
diperlukan terutama untuk
pengukuran komponen yang 5. Gunakan adapter AC khusus
mempunyai nilai rendah. LPS -169 jangan
menggunakan tipe lain.
Gambar 3 -14 Panel depan LCR meter
3.3. Pembacaan Nilai Pengukuran
Bila jembatan telah diseimbangkan pembacaan dengan cara sebagai
dengan indikator R,C, L dan berikut :
pengaturan RANGE MULTIPLIER
Tabel 3 -1 Pembacaan nilai pengukuran
Range Pengali Indikasi RCL Harga yang diukur
6,85
100O 6,85 685O (=100 X 6,85)
R 10k 6,85 68,5kO (=10 X 6,85)
6,8
100kO 6,85 685kO (=100 X 6,85)
100pF 6,85 68pF (=100X0,68)
C 0,1 F 0,68 0,685F (=0,1X6,85)
10F 6,85 68,5F (=10X6,85)
10H 6,85 6,8H (=10X0,68)
L 10mH 68,5mH (=10X6,85)
10H 68,5 H (=10X6,85)
Penggunaan pengaturan saklar normal dari +1,00
Pada umumnya pengukuran saklar +1,00. Pembacaan akan dimulai
ini diatur pada posisi NORMAL. dari 9,00 sampai 0,00 meskipun
Oleh karena tu bila pengukuran harganya akan fari 10,00 keatas
yang lebih tinggi dari indikasi 9,99 sampai 11,00 (dengan
diberikan range pengali, ini menambahkan 1 pada
memungkinkan untuk memperluas pembacaan). Untuk lebih jelasnya
range 10%. Ini dikerjakan dengan dapat diperhatikan pada tabel di
memutar knob indikator sampai bawah ini.
9,00 dan mengatur saklar pada
Tabel 3 – 2 Pengaturan saklar NORMAL pada +1,00
Pembacaan Nilai yang diukur
9,00 10,00 (=9,00 + 1,00)
9,01 10,01
9,5 10,5 dan seterusnya
Setelah pengaturan +1,00 saklar 1,00 pada signifikan pertama,
direset NORMAL. Ini untuk sehingga meter menunjuk 5,5 pada
mencegah terjadinya kesalahan harga sebenarnya 6,5.
akibat penambahan pengukuran
3.3.1. Pengukuran Resistansi
1. Hubungkan komponen yang akan diukur pada terminal merah dan
biru.
Gambar 3 – 15 Cara mengukur resistansi
2. Atur saklar pemilih pada posisi R perhatikan gambar
Gambar 3 – 16 Posisi selector
Sumber tegangan DC dipilih pada DC/R
Gambar 3 – 17 Posisi DC R
NORMAL +1,00 PADA NORMAL
Gambar 3 – 18 Posisi normal
Saklar power pada posisi ON
Posisi
On
Gambar 3 – 19 Posisi on
RANGE MULTIPLIER digunakan sesuai komponen yang akan
diukur, bila belum diketahui atur pada range yang lebih tinggi agar
memberi keleluasaan ayunan penunjuk kekanan dan kekiri.
Gambar 3 -20 Range multiplier
3. Putar knob RCL sampai indikator meter NULL berada ditengah. Jika
diperlukan atur RANGE MULTIPLIER.
Diputar
sampai
indikator
meter nol
Gambar 3 – 21 Pengaturan indikator meter nol
4. Baca indikasi RCL dan terapkan range multiplier dalam menentukan
harga resistansi.
Gambar 3 – 22 Pembacaan indikator RCL
Catatan :
a. Jika menggunakan range 1MO penunjuk null
mungkin tidak terdefinisikan dengan baik, dalam
kasus demikian dapat digunakan tegangan DC
eksternal. Alternatifnya jika resistor atau
komponen yang diukur non induktif, dapat
digunakan tegangan internal AC pada frekuensi 1
kHz. Yang berubah hanya saklar SELECTOR
pasa R dan SOURCE pada AC /RCL
b. Pada pengukuran range 0,1 O, resistansi residu
terminal harus diperhitungkan.
3.3.2. Pengukuran Kapasitansi
1. Atur saklar SELECTOR pada C perhatikan gambar :
Gambar 3 – 23 Selector pada posisi C
Saklar SOURCE pada AC/RL
Gambar 3 – 24 Saklar source pada AC/RL
Dial D Q pada 0
Posisi
nol
Gambar 3 – 25 Dial D Q pada 0
Saklar D Q pada posisi X1
Gambar 3 – 26 Saklar D Q pada posisi x 1
Saklar NORMAL +1,00 pada posisi NORMAL
Gambar 3 – 27 Saklar normal +1,00 pada posisi normal
Saklar POWER pada posisi ON
On
Gambar 3 – 28 Saklar power pada posisi on
Kontrol SENSITIVITY diatur untuk NULL pembacaan meter pada
“5”.
Putar ke
kanan
Gambar 3 – 29 Kontrol sensitivity
2. Hubungkan komponen yang akan diukur pada terminal merah dan
biru.
Kapasitor
yang
diukur
Gambar 3 – 30 Posisi kapasitor yang diukur
3. Atur saklar RANGE MULTIPLIER dan knob RCL untuk mendapatkan
ayunan minimum atau mengarah 0.
Dipilih
Gambar 3 -31 Mengatur saklar range multiplier
4. Atur dial D, Q dan catat kondisi pengenolan, atur control SENSITIVITY
jika diperlukan.
Control
Sensitivitas
Atur
dial DQ
Gambar 3 – 32 Mengatur dial D Q
5. Atur kembali knob RCL dan dial D, Q untuk mendapatkan kondisi
pengenolan paling baik.
Atur Knob RCL
kembali
Dial DQ
Gambar 3 – 33 Mengatur knob RCL dan dial D Q
6. Jika pengaturan dial sampai mendekati 3 atur saklar D,Q pada posisi
X10.
Pindahkan
ke posisi
X10
Gambar 3 – 34 Mengatur Saklar D Q pada Posisi x 10
7. Pembacaan hasil pengukuran
Gambar 3 – 35 Pembacaan hasil pengukuran
Kapasitansi = Range multiplier X indikasi RCL.
Faktor disipasi D pasa 1 kHz langsung dari hasil pembacaan
dikalikan dengan 10 jika saklar A, Q pada posisi X10.
Ekuivalen resistansi seri Rs, nilainya dihitung melalui hubungan
Rs = (RE) /(CF)= (RE X 106)/(CpF) dimana RE adalah pembacaan
dial.
Catatan :
1. Kapasitor yang baik mempunyai nilai D yang
sangat rendah dan sebaliknya.
2. Pada pengukuran C diatas 1000pF kapasitansi
residu terminal harus diperhitungkan.
3. Untuk pengukuran kapasitansi yang
besar(elektrolitik, mempunyai polar diukur
menggunakan frekuensi yang rendah misalnya 120
Hz menggunakan sumber AC eksternal).
3.3.3. Pengukuran Induktansi
1. Pengaturan control saklar power pada posisi OFF dan saklar pemilih
pada posisi L.
Gambar 3 – 36 Saklar pemilih pada posisi L
Saklar sumber tegangan AC
Gambar 3 – 37 Saklar sumber tegangan AC
Saklar DQ X1 - X10 dipilih pada posisi X1
Gambar 3 – 38 Saklar DQ x 1 – x 10 dipilih posisi x1
Saklar normal -+1,00 dipilih pada posisi normal
Gambar 3 – 39 Saklar normal pada posisi normal
Saklar range pengali pada posisi 1 mH
Posisi
1mH
Posisi Diatur
0,3 2,5
Gambar 3 – 40 Saklar range pengali pada posisi 1 mH
Dial DQ mendekati titik tengah (Q sekitar 0,3)
Dial RCL digital mendekati 2,5
1. Hubungkan komponen yang akan diukur pada terminal merah dan
terminal biru (sumber tegangan eksternal DC).
2. Putar tombol SENSITIVIFY searah jarum jam secara perlahan –
lahan. Nyalakan, dan atur sampai jarum berpindah kesisi kanan titik
NULL dan berada di posisi antara 2 dan 3.
Putar ke
kanan
Gambar 3 – 41 Posisi induktor yang Diukur
jarum diantara 2
dan 3
Gambar 3 – 42 Penunjukan jarum
3. Pilih range pengukuran dengan menuju titik NULL ini
disebut sebagai Dip points).
mengikuti prosedur terutama Meskipun jarum indikator
bergerak menuju NULL,
pada saat mengukur L belum di tombol DQ sampai akhirnya
menjadi nol ( rotasi searah
ketahui. Bagaimanapun, jika jarum jam menuju titik
ekstrim ini) tanpa
komponen yang diukur memperlihatkan dip point.
Dalam kasusu demikian
diketahui nilai perkiraannya pilih pilih range lain dengan
menekan tombol range, dan
range multiplier dan dial R,C, L mencoba meletak kan dip
point dengan cara yang
pada harga yang sesuai. sama.
x Putar dial DQ, dan x Seandainya dip point tidak
bisa diletakkan meskipun
tempatkan disuatu titik tombol DQ berputar penuh
searah jarum jam 3, atur
dimana dip jelas terlihat.
(Saat dial DQ diputar dalam
arah yang sama, jarum
meter bergerak kearah
NULL, kemuadian
begoyang kembali ke
kanan. Di waktu yang
sama, titik dimana jarum
muncul bergerak mendekat
tombol X1- X10 pada X10 kabelnya patah karena
pengukuran resisten DC
dan coba untuk pada range R ).
5. Jika dip point sudah diperoleh,
menempatkan sebuah titik. lakukan langkah-langkah berikut
ini. Atur dial DQ pada titik
Saat dip point tetap tidak dimana terjadi dip terbesar.
Kemudian atur dial digital LCR
didapat, pilih range lain untuk mendapatkan titik dip
terbesar. (pada saat yang sama
dengan menekan tombol untuk mendapatkan dip point
atur knob SENSITIVITY hingga
range, dan coba untuk jarum indikator menunjuk antara
2 dan 3).
meletakkan dip point. 6. Dengan cara yang sama
lokasikan dip point dengan
Dalam waktu yang sama, mengatur dial DQ dan RCL
secara berturut-turut.
coba untuk mencari sebuah
titik sambil menyetel knob
SENSITIVITY untuk
mendapatkan jarum
indikator point terletak dititik
antara 2 dan 3 pada
pegangan sisi kanan.
(Apabila titik tidak dapat
ditemukan, periksa bagian
bagian nya apabila
Perhatian
Pengenolan nilai induktansi dengan memutar dial DQ
minimum pada arah berlawanan jarum jam 4. Bila
resistansi dc komponen induktansi yang diuji sangat
besar, atau Q kumparan kurang dari 0,1 pengukuran
dilakukan dengan frekuensi pengukuran (1kHz).
Sebaliknya nilai maksimum dial Q diputar maksimum
searah jarum jam 1X – 10X. Jika saklar sudah diatur pada
posisi X10 ternyata Q lebih besar dari 30 diluar range
pengukuran, maka tambahkan resistor seri beberapa ohm
sampai beberapa ratus ohm ke inductor sehingga
mengurangi Q sampai kurang dari 30.
3.4. Pengukuran Resistansi DC Dengan Sumber Luar
Pada saat pengukuran resistansi pengenolan indikasi tidak dapat
DC dari komponen yang tidak terjangkau. Dalam kasus
diketahui pada nilai resistansi demikian diperlukan sumber
yang tinggi dengan sumber tegangan DC luar.
baterai dalam mungkin
Penting untuk diperhatikan :
1. Atur tegangan tinggi masukan, pada saat dihubungkan dengan
colok meter dalam keadaan Off.
ke
sumber
tegangan
Off
Gambar 3 – 43 Hubungan ke sumber tegangan luar
2. Hati-hati jangan sampai 3.4.2.Langkah-langkah
menyentuh tegangan tinggi. Pengukuran :
3. Pelindung resistor harus 1. Atur saklar POWER (knob
selalu digunakan pada control SENSITIVITY) pada
masukan rangkaian. posisi off.
4. Bila akan merubah range 2. Atur supply DC eksternal
MULTIPLIER atur dahulu pada posisi off.
masukan DC pada posisi
Off, pastikan bahwa 3. Hubungkan colok negatip
tegangan dan renge aman meter ke terminal hitam dan
digunakan, jika ini tidak colok positip meter ke biru
terpenuhi dapat merusak (Ext +DC) perhatikan
komponen rangkaian dalam. gambar.
4. Hubungkan komponen yang
akan diukur pada terminal
merah dan biru.
5. Putar knob RCL dan baca
penunjukkan, pembacaan
dengan multiplier sama
seperti pengukuran dengan
sumber tegangan dalam.
Resistor
HI EXT +DC
R pelindung
Sumber
Tegangan
DC Luar
Gambar 3- 44 Pengukuran R dengan sumber dari luar
Catatan :
Besarnya tegangan DC yang digunakan tergantung pada pengaturan
RANGE MULTIPLIER dengan table di bawah ini.
Tabel 3 – 3 Range multiplier
Pengaturan RANGE MULTIPLIER 1 kO 10 kO 100 kO 1 MO
Tegangan Masukan Maks 30V 70V 220V 500V
Resistor seri pelindung >180O >2,2 kO > 27kO > 56kO
3.5. Prosedur Pengukuran C
1. Menghubungkan masukan
Keluaran generator menggunakan cord asesori yaitu dihubungkan ke
jack EXT, SIGN, IN pada casis bagian depan seperti ditunjukkan pada
gambar. Sebuah kapasitor 1 F dihubungkan seri dengan colok “hot”.
Audio Osilator 1F
1-5Vrms
Keluaran
EXT, SIG, IN
Gambar 3 - 45 Pengukuran C, L dengan sumber dari luar
a. Saklar SELECTOR dipilih pada C atau L sesuai dengan komponen
yang akan diukur.
b. Saklar SOURCE pada AC/RCL (Jika masukan esksternal dihubungkan
ke sumber internal 1 kHz dan rangkaian kondisi off).
c. C atau L diukur dengan cara yang sama seperti pada pengukuran
sumber internal. Dial control SENSITIVITY diatur, D, Q dan indikator
dan saklar RANGE MULTIPLIER untuk mencapai kondisi null.
d. Nilai C atau L ditentukan oleh pengaturan RANGE MULTIPLIER dan
indikator RCL.
LAMPIRAN. A
DAFTAR PUSTAKA
Agilent.2007. Agilent Automotive Electronics 10 Aplication Note on
Design Debug and Function. Agilent Test. USA. © Agilent
Technologies,Inc. www.agilent.com
Basic oscilloscope operationCreative Commons Attribution License,
version 1.0. To view a copy of this license, visit
http://creativecommons.org/licenses
Bernard Grob. 1984. Basic Television And Video Sistem. Singpore. Mc
Graw Hill International Edition Singapore
Carson Kennedy.1999. Introduction to GPS (Global Position System).
Leica Geosystem AG. Switzerland. www.leica-geosystems.com
Cooper, William D, 1999. Instrumentasi Elektronik dan Teknik
Pengukuran. (Terjemahan Sahat Pakpahan). Jakarta : Penerbit
Erlangga.(Buku asli diterbitkan tahun 1978)
Creative Commons 559 Nathan Abbott Way, Stanford, California 94305,
USA
David Matzke dkk. USE OF THE OSCILLOSCOPE. Science Learning
Center. Data University Of Michigan-Dearbon.
Deboo and Burrous.1977. Integreted Circuit And Semiconductor Devices
: theory and application. Tokyo Japan : Kogakusha.Ltd
Fluke. Principles testing methods and applications.
http://www.newarkinone.thinkhost.com/brands/p
romos/ Earth_Ground_Resistance.pdf
Garmin.(2000). GPS Guide for beginner. Garmin Corporation. USA.
www.garmin.com
Gekco. 2002. A Video Tutorial. Copyright Gekco.
http://www.gekco.com/vidprmr.htm tanggal 1 Oktober
Hai Hung Chiang. (1984). Electrical And Electronic Instrumentation. A
wiley Interscience New York. Publication Jhn Wiley And Son.
Healthline Network,Inc. 2007. Equipment Information. 2007 Healthline
Networks, Inc. All rights reserved.
http://www.healthline.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information
http://www.diagnostic medical IS\Medical ultrasonography -
Wikipedia,the free encyclopedia.mht
Jean-Marie Zogg.2002. GPS Basics Introduction to the system Aplication
overview. Thalwil Switzerland. www.u-blox.com
Kamran Khan. (2007). XYZ of Oscilloscopes. Posted by bailarina on 29
May 2007. www.sribd.com
Knopp Intercorporated. http://www.knoppinc.com/phase_seq.htm
Leader Electronics. Instruction Manual LCR Bridge Model LCR-740.
Leader electronics.Corp.
Le Magicien. 2000. 3 PHASE - 3 Wires Sequence Indikator. Tersedia
dalam
http://www.geocities.com/lemagicien_2000/elecpage/3phase/3pha
se.html diakses tanggal 19 Juni 2008
Magellan. Magellan Maestro TM 4050 User Manual. San Dimas CA
91773. Magellan Navigation Inc.
Manual stargass :
http://images.mycdmm.de/file/353bb62d149fcebb6f5537f0c8f152
203b41f7c9
Muslimim ,M. 1984. Alat-alat Ukur Listrik dan Pengukuran Listrik.
Bandung : CV.Armico.
Phase Squence Indoicator . tesco dua kawat . http://www.tesco-
advent.com/tesco-phase-sequence.html
R.S. Panti Rapih. MRI ( Magnetik Resonance Imaging ) Instalasi
Radiologi.R.S. Panti Rapih .
http://health.howstuffworks.com/mri1.htm
Soedjana, S., Nishino, O. 1976. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik.
Jakarta : PT. Pradnya Paramita.
Sanwa Electric. Instructional Manual YX-360 TRD Multitester. Sanwa
Electric
Sri M. Shanmukha Chary. 2005. Intermediate Vocational Course, 2nd
Year TV servicing Lab-II Manual. Andra Pradesh. Director of
Intermediate Education Govt.
Stanford. Basic oscilloscope operationCreative Commons Attribution
License,version 1.0. To view a copy of this license, visit
http://creativecommons.org/licenses Creative Commons 559
Nathan Abbott Way, Stanford, California 94305, USA Instrument
Co.Ltd.
Textronix. 2005. Fundamentals Of Real-Time Spectrum Analysis. USA.
Textronics. Inc. www.tektronix.com
Wikipedia.2007. Global Positioning System.
http://wikipedia.org/wiki/GPS
http://computer.howstuffworks.com/monitor1.htm
"http://en.wikipedia.org/wiki/CRO/Cathode_ray_tube"
www.tektronix.com/signal_generators 9
(www.interq or japan/se-inoue/e -oscilo0.htm)
http://www.doctronics.co.uk/scope.htm
http://www.tek.com/Measurement/App_Notes/37W_18400/eng/37W_184
00_0.pdf
http://productsearch.machinedesign.com/featuredproducts/Industrial_Co
mputers_Embedded_Computer_Components/Data_Acquisition/Spe
ktrum_Analyzers_Signal_Analyzers
http://www.aboutnuclear.org/view.cgi?fC=The_Atomhttp://www.radiologyi
nfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.duncaninstr.com/images
http://www.humminbird.com/images/ PDF/737.pdf
http://www.eaglesonar.com/Downloads/Manuals/Files/IntelliMap640c_01
43-881_121305.pdf tanggal 20 Desember 07
http://www2.tek.com/cmswpt/tidownload.lotr?ct=TI&cs=wpp&ci=3696&lc=
EN&wt=480&wtwi=3696&wtla=EN&wtty=TI&wtsty=White+Paper&wt
pt=DOWNLOAD&wtbu=Instrumens+Business&wtpl=Real+Time+Sp
ektrum+Analyzers&wtlit=37W-19285-
0&wtsize=27+KB&wtver=1.0&wtcat=tektronix&wtnbrp=0&wtmd=RS
A2203A%2CRSA2208A%2CRSA3303A%2CRSA3308A%2CRSA3
408A&wtti=EMI+Measurements+Using+Tektronix+Real-
Time+Spektrum+Analyzers
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.tek.com/Measurement/App_Notes/37W_18400/eng/37W_184
00_0.pdf
http://productsearch.machinedesign.com/featuredproducts/Industrial_Co
mputers_Embedded_Computer_Components/Data_Acquisition/Spe
ktrum_Analyzers_Signal_Analyzers
http://www2.tek.com/cmswpt/tidownload.lotr?ct=TI&cs=wpp&ci=3696&lc=
EN&wt=480&wtwi=3696&wtla=EN&wtty=TI&wtsty=White+Paper&wt
pt=DOWNLOAD&wtbu=Instrumens+Business&wtpl=Real+Time+Sp
ektrum+Analyzers&wtlit=37W-19285-
0&wtsize=27+KB&wtver=1.0&wtcat=tektronix&wtnbrp=0&wtmd=RS
A2203A%2CRSA2208A%2CRSA3303A%2CRSA3308A%2CRSA3
408A&wtti=EMI+Measurements+Using+Tektronix+Real-
Time+Spektrum+Analyzers
http://images.mycdmm.de/file/353bb62d149fcebb6f5537f0c8f152203b41f
7c9 Manual stargass
(www.wikimediafoundation.org/ Oktober 2007)
http://www.aboutniclear.org/view
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.healthline.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information
http://health.howstuffworks.com/mri1.htm
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26b.html CT ijo
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26c.html sumber CAT
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.html
http://en.wikilipedia.org/wiki/Functional_magnetik_resonance_imaging
http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_imaging
http://www.aboutnuclear.org/view.cgi?fC=The_Atomhttp://www.radiologyi
nfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/P
art2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.healthline.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information
http://health.howstuffworks.com/mri1.htm
http://www.DiagnostikMedicalIS/Medicalultrasonography-Wikipedia,the
freeencyclopedia.mht.
http://www.humminbird.com/images/PDF/737.pdf
LAMPIRAN B
DAFTAR TABEL
No. Tabel Nama Tabel Halaman
Tabel 1-1 Besaran-besaran satuan dasar SI 3
Tabel 1-2 Beberapa contoh satuan yang diturunkan 4
Tabel 1-3 Perkalian desimal 5
Tabel 1-4 Satuan bukan SI yang dapat dipakai bersama 5
dengan satuan
Tabel 1-5 Konversi Satuan Inggris ke SI 6
Tabel 1-6 Letak alat ukur waktu digunakan 9
Tabel 1-7 Beberapa Contoh Alat Ukur Penunjuk Listrik 13
Tabel 1-8 Tabel kebenaran decoder BCD 33
Tabel 1-9 Karakteristik beberapa fosfor yang lazim 39
digunakan
Tabel 2-1 Kalibrasi Arus 50
Tabel 2-2 Harga Rx dan D 64
Tabel 2-3 Spesifikasi Umum Meter Elektronik Analog 72
Tabel 2-4 Probe Multimeter Pengukuran Tegangan Tinggi 72
Tabel 2-5 Range Pengukuran dan Akurasi 73
Tabel 2-6 Kalibrasi Voltmeter 84
Tabel 2-7 Kesalahan dan Koreksi Relatip 85
Tabel 2-8 Kalibrasi Arus 89
Tabel 2-9 Kesalahan dan Koreksi Relatip 90
Tabel 2-10 Spesifikasi Multimeter Digital 114
Tabel 3-1 Pembacaan nilai pengukuran 145
Tabel 3-2 Pengaturan saklar NORMAL pada +1,00 146
Tabel 3-3 Range multiplier 158
Tabel 4-1 Rating, Internal Impedance, and rated power loss 175
Tabel 4-2 Konstanta Pengali (Tegangan perkiraan 179
120/240V, arus perkiraan 1/5A
Tabel 4-3 Range Tegangan dan Arus 194
Tabel 5-1 Tahanan pentanahan 221
Tabel 5-2 Panduan Penetapan Penyelidikan 226
Tabel 5-3 Spesifikasi Field Meter Statik 239
Tabel 5-4 Data Teknik 243
Tabel 5-5 Spesifikasi Smart Field Meter 246
Tabel 6-1 Spesifikasi generator fungsi 250
Tabel 6-2 Crest faktor dan bentuk gelombang 272
Tabel 6-3 Konversi dBm 273
Tabel 9-1 Span dipilih, dihapus dan kecepatan sampel 388
efektif
Tabel 9-2 Perbandingan pengaruh perubahan pengaturan 389
Tabel 9-3 span pada ranah frekuensi dan waktu 414
Tabel 9-4 Beberapa model penganalisa spectrum waktu riil 415
Tabel 9-5 Data Spesikasi 415
Tabel 9-6 416
Tabel 10-1 Simbol-simbol keamanan 456
Tabel 11-1 Kebutuhan Alat Pelengkap 502
Saklar pola gambar
Spesifikasi
Tabel 11-2 Karakteristik Pengetesan Alat 503
Tabel 11-3 Cakupan Nilai Antara Kandungan Gas Aman 515
Tabel 12-1 Faktor-faktor kesalahan 538
LAMPIRAN C
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Nama gambar Halaman
Gambar 1-1 Alat ukur standar galvanometer 2
Gambar 1-2 Alat ukur sekunder 3
Gambar 1-3 7
Gambar 1-4a Posisi pembacaan meter 7
Gambar 1-4b Pembacaan yang salah 7
Gambar 1-5 Pembacaan yang benar 7
Gambar 1-6 8
Gambar 1-7 Pengenolan meter tidak tepat
Gambar 1-8 Posisi pegas 10
Gambar 1-9 Kalibrasi sederhana ampermeter 11
Gambar 1-10 14
Gambar 1-11 Kalibrasi sederhana voltmeter 15
Gambar 1-12 Hukum tangan kiri Fleming 16
Prinsip kerja alat ukur 17
Gambar 1-13
Gambar 1-14 Momen penyimpang 17
Gambar 1-15 Penentuan dari penunjukkan alat ukur kumparan 18
Gambar 1-16 putar 19
Gambar 1-17 20
Gambar 1-18 Skala alat ukur kumparan putar 21
Gambar 1-19 Peredaman alat ukur kumparan putar 21
Gambar 1-20 Gerakan jarum penunjuk dari suatu alat ukur 23
23
Gambar 1-21 Prinsip kerja instrumen tipe tarikan
Gambar 1-22 Beberapa bagian instrumen tipe tarikan 25
Gambar 1-23 Besarnya momen gerak 26
Gambar 1-24 26
Gambar 1-25 Beberapa bagian penampang jenis repulsion 27
Gambar 1-26 Dua buah lembaran besi yang berbentuk seperti 29
Gambar 1-27 lidah 29
Gambar 1-28 30
Gambar 1-29 Prinsip alat ukur elektrodinamis 30
Gambar 1-30 Rangkaian ampermeter elektrodinamis 31
Gambar 1-31 Rangkaian voltmeter elektrodinanmis 31
Gambar 1-32 32
Gambar 1-33 Skema voltmeter elektrostatis 32
Gambar 1-34 Rekombinasi elektron 33
Gambar 1-35 Polaritas dan simbol LED 34
35
Gambar 1-36 LED
Gambar 1-37 Rangkaian LED 36
Gambar 1-38 Skematik seven segmen 36
Gambar 1-39 37
Gambar 2-1 Peraga seven segmen 40
Gambar 2-2a Rangkaian dekoder dan seven segmen 42
Gambar 2-2b Macam-macam peragaan seven segmen 43
Gambar 2-3 43
Konstruksi LCD 44
Contoh peraga LCD pada multimeter
Perkembangan LCD pada implementasi monitor
TV
Skema CRT
Cutaway rendering of a color CRT
Senapan elektron
Tanda skala gratikul
Basic meter unit
Ampermeter shunt
Ampermeter dengan basic meter unit
Contoh soal ampermeter shunt
Gambar 2-4 Ampermeter dengan ring yang berbeda 45
Gambar 2-5 Ayrton shunt 46
Gambar 2-6 Rangkaian penyearah pada Ampermeter AC 47
Gambar 2-7 Contoh dasar ampermeter AC 48
Gambar 2-8 Hasil posisi pembacaan meter 49
Gambar 2-9 Kalibrasi arus 49
Gambar 2-10a Rangkaian tanpa meter 50
Gambar 2-10b Rangkaian dengan meter 51
Gambar 2-11 Rangkaian ekivalen thevenin 51
Gambar 2-12 Contoh soal thevenin 52
Gambar 2-13 Contoh soal 52
Gambar 2-14 Contoh soal 54
Gambar 2-15 Voltmeter DC sederhana 54
Gambar 2-16 Voltmeter dengan basic meter unit dan multiplier 55
Gambar 2-17 Contoh soal voltmeter 56
Gambar 2-18 Contoh Implementasi 57
Gambar 2-19a Tegangan tanpa meter 60
Gambar 2-19b Tegangan dengan meter 60
Gambar 2-20a Rangkaian tanpa meter 60
Gambar 2-20b Rangkaian dengan meter 60
Gambar 2-21 Rangkaian penyelesaian aplikasi 1 61
Gambar 2-22 Rangkaian penyelesaian aplikasi 2 62
Gambar 2-23 Dasar ohmmeter seri 63
Gambar 2-24 Pembuatan tanda/skala ohmmeter 65
Gambar 2-25 Skala logaritmis pada ohmmeter seri 65
Gambar 2-26 Aplikasi ohmmeter seri 66
Gambar 2-27 Dasar ohmmeter parallel 67
Gambar 2-28 Skala ohmmeter parallel 67
Gambar 2-29 Jenis-jenis multimeter elektronik di pasaran 68
Gambar 2-30 Mulmeter elektronik 69
Gambar 2-31 Rangkaian voltmeter DC elektronik 69
Gambar 2-32 penyearah 70
Gambar 2-33 Rangkaian ohmmeter elektronik 71
Gambar 2-34 Gambar saklar jarum nol 74
Gambar 2-35 Gambar pemilih fungsi 74
Gambar 2-36 Panel depan 75
Gambar 2-37 Fungsi jarum penunjuk 75
Gambar 2-38 Fungsi skala 75
Gambar 2-39 Fungsi zero adjust secrew 76
Gambar 2-40 Fungsi ohm adjust knob 76
Gambar 2-41 Fungsi selector switch 77
Gambar 2-42 Fungsi lubang kutub (VAO terminal) 77
Gambar 2-43 Fungsi lubang kutub + (common terminal) 78
Gambar 2-44 Knob pemilih range 78
Gambar 2-45 Rangkaian pengukur tegangan DC 79
Gambar 2-46 Penunjukan pengukuran tegangan DC 79
Gambar 2-47 Pengawatan pengukuran tegangan DC salah 80
Gambar 2-48 Knob pemilih range 80
Gambar 2-49 Rangkaian pengukuran tegangan AC jala-jala 81
PLN
Gambar 2-50 Penunjukan pengukuran tegangan AC 81
Gambar 2-51 Rangkaian Kalibrasi Tegangan 83
Gambar 2-52 85
Gambar 2-53 Rangkaian Pengukuran Arus DC 86
Gambar 2-54 Knob Pemilih Range 86
Gambar 2-55 Skala Penunjukkan Arus DC 87
Gambar 2-56 87
Gambar 2-57 Knob Pemilih Range 88
Gambar 2-58 Rangkaian Pengukuran Arus DC yang Salah 91
Gambar 2-59 Rangkaian Kalibrasi Arus 91
Gambar 2-60 92
Gambar 2-61 Cara Pemasangan Ohmmeter 92
Gambar 2-62 Posisi Pemindahan Range Ohmmeter 93
Gambar 2-63 Kalibrasi Ohmmeter 93
Gambar 2-64 94
Gambar 2-65 Penempatan Resistor pada Pengukuran OHM 94
Gambar 2-66 Penunjukkan Hasil Pengukuran Ohm 95
Gambar 2-67 Rangkaian Pengukuran Resistansi 95
Gambar 2-68 96
Gambar 2-69 Membuka Sekrup Pengunci 96
Gambar 2-70 Bagian Belakang Meter 97
Gambar 2-71 Posisi Skala dB Meter 97
Gambar 2-72 98
Gambar 2-73 Pengenolan Sebelum Mengukur Hambatan 98
Gambar 2-74 Pengukuran Arus Bocor Transistor NPN 99
Gambar 2-75 Posisi Saklar Pembacaan ICEO 99
Gambar 2-76 Rangkaian Pengetesan LED dengan Ohmmeter 100
Gambar 2-77 Pengukuran Arus IF Dioda Bias Maju 101
Gambar 2-78 Pengukuran Arus IR Dioda Bias Mundur 101
Gambar 2-79 Posisi Skala Pembacaan LV 102
Gambar 2-80 Gerakan Jarum Pengukuran Kapasitor 102
Gambar 2-81 Posisi Skala Kapasitor 103
Gambar 2-82 Pengenolan jarum Ohmmeter 103
Pengetesan Dioda Bias Maju
Gambar 2-83 Pengetesan Dioda Bias Balik 104
Gambar 2-84 104
Gambar 2-85 Knob Selektor Posisi Ohmmeter 105
Gambar Kalibrasi Ohmmeter
Gambar 2-86 Pengetesan Transistor NPN Emitor Negatip 105
Gambar 2-87 106
Gambar 2-88 Meter Nunjuk Nol 106
Gambar 2-89a Pengetesan Transistor NPN Kolektor Negatip 107
Gambar 2-89b Meter Nunjuk Nol 107
Gambar 2-90 107
Gambar 2-91 Pengetesan Base Emitor Reverse 108
Gambar 2-92 Pengetesan Basis Kolektor Reverse 108
Gambar 2-93 SCR Anoda Gate dikopel Katoda Tegangan 110
Gambar 2-94 111
Negatip
Gate Dilepaskan Posisi Jarum Tetap Nol
Elektroda SCR FIR 3D
Pelepasan Skrup Pengunci Sekring
Posisi Sekering dalam PCB
Sekering
Pengetesan sekering
Pengukuran Baterai
Pengecekan Colok Meter
Pengubah analog ke digital
Bentuk gelombang pencacah pengubah analog
ke digital
Gambar 2-95 Meter Digital 111
Gambar 2-96a Sistem Pengukuran Tegangan 115
Gambar 2-96b 116
Gambar 2-97 Bentuk Gelombang Tegangan 117
Gambar 2-98 Pengukuran Resistansi dengan Voltmeter Digital 118
Sistem dan Bentuk Gelombang Pengukuran
Gambar 2-99 119
Frekuensi
Gambar 2-100 Sistem dan Bentuk Gelombang Pengukuran 120
Gambar 2-101 Perioda 121
Gambar 2-102 Sistem Pengukuran Interval Waktu 122
Gambar 2-103 Sistem dan Bentuk Gelombang pengukuran 124
Gambar 2-104 kapasitansi 125
Gambar 3-1 126
Gambar 3-2 Macam-macam Meter Digital 128
Gambar 3-3 Multimeter Digital dengan Selektor dan Otomatis 130
Gambar 3-4 Macam-macam Multimeter Digital di Pasaran 132
Gambar 3-5 133
Gambar 3-6 Jembatan Wheatstone 135
Gambar 3-7 Jembatan Kelvin 137
Gambar 3-8 Jembatan Ganda Kelvin 138
Gambar 3-9 141
Gambar 3-10 Jembatan Pembanding Induktansi 142
Gambar 3-11 Jembatan Maxwell 143
Gambar 3-12 Jembatan Hay 144
Gambar 3-13 144
Gambar 3-14 Jembatan Pembanding Kapasitansi 145
Gambar 3-15 Jembatan Schering 146
Gambar 3-16 Panel-panel LCR Meter 146
Gambar 3-17 147
Gambar 3-18 Sisi Atas Case 147
Gambar 3-19 Panel Belakang LCR Meter 147
Gambar 3-20 Posisi Saklar Off 147
Gambar 3-21 148
Gambar 3-22 Posisi Nol Meter 148
Gambar 3-23 Panel Depan LCR Meter 149
Gambar 3-24 Cara Mengukur Resistansi 149
Gambar 3-25 149
Gambar 3-26 Posisi Selector 150
Gambar 3-27 Posisi DC R 150
Gambar 3-28 Posisi Normal 150
Gambar 3-29 150
Gambar 3-30 Posisi On 151
Gambar 3-31 Range Multiplier 151
Gambar 3-32 Pengaturan Indikator Meter Nol 151
Gambar 3-33 152
Gambar 3-34 Pembacaan Indikator RCL 152
Gambar 3-35 Selector pada Posisi C 152
Gambar 3-36 Saklar Source pada AC/RL 153
Dial D Q pada 0
Saklar D Q pada posisi x 1
Saklar Normal +1,00 pada posisi Normal
Saklar Power pada posisi On
Kontrol Sensitivity
Posisi Kapasitor yang diukur
Mengatur Saklar Range Multiplier
Mengatur Dial D Q
Mengatur Knob RCL dan Dial D Q
Mengatur Saklar D Q pada Posisi x 10
Pembacaan Hasil Pengukuran
Saklar Pemilih pada Posisi L
Gambar 3-37 Saklar Sumber Tegangan AC 153
Gambar 3-38 Saklar DQ x 1 – x 10 dipilih Posisi x1 154
Gambar 3-39 154
Gambar 3-40 Saklar Normal pada Posisi Normal 154
Gambar 3-41 Saklar Range Pengali pada Posisi 1 mH 155
Gambar 3-42 Posisi Induktor yang Diukur 155
Gambar 3-43 157
Gambar 3-44 Penunjukan Jarum 158
Gambar 3-45 Hubungan ke Sumber Tegangan Luar 158
Gambar 4-1 Pengukuran R dengan Sumber dari Luar 160
Gambar 4-2 Pengukuran C, L dengan Sumber dari Luar 163
Pengukuran Daya dengan Memakai Voltmeter
Gambar 4-3 dan Ampermeter 165
Gambar 4-4 167
Gambar 4-5 Pengukuran Daya Metoda Tiga Voltmeter dan 168
Tiga Ampermeter
Gambar 4-6 Wattmeter Satu Fasa 169
Gambar 4-7 170
Metode ARON
Gambar 4-8 Diagram Fasor Tegangan Tiga Fasa Vac, Vcb, 170
Gambar 4-9 Vba dan Arus Tiga Fasa Iac, Icb, dan Iba 171
Gambar 4-10 172
Gambar 4-11 Konstruksi Wattmeter Elektrodinamometer 173
Gambar 4-12 Diagram Vektor Wattmeter Jenis 174
Elektrodinamometer
Gambar 4-13 174
Diagram Vektor Wattmeter Jenis Induksi
Gambar 4-14 Prinsip Wattmeter Jenis Thermokopel 176
Gambar 4-15 Rangkaian Wattmeter Jenis Elektrodinamometer 176
Gambar 4-16 Variasi Penyambungan Wattmeter 177
Konstruksi Wattmeter Tipe Portable Single
Gambar 4-17 Phase 177
Gambar 4-18 Hubungan Internal Wattmeter Tipe Portable 178
Single Phase
Gambar 4-19 Hubungan Kumparan Arus Seri terhadap Beban 178
Gambar 4-20 Pengukuran Daya Satu Fasa jika Arus Melebihi 180
Gambar 4-21 Nilai Perkiraan 181
Gambar 4-22 Pengukuran Daya Satu Fasa jika Tegangan 184
Gambar 4-23 185
Gambar 4-24 Melebihi Nilai Perkiraan 186
Pengukuran Daya Satu Fasa jika Arus dan
Gambar 4-25 Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan 187
Gambar 4-26 191
Gambar 4-27 Pengukuran Daya Tiga Fasa (Metode Dua 192
Gambar 4-28 Wattmeter) 193
Pengukuran Daya Tiga Fasa jika Arus dan
Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan
Rangkaian Wattmeter AC Satu Fasa
Rangkaian Kumparan tegangan
Konstruksi Wattjam Meter
Mekanik Meter Induksi Elektromekanik
Meter Induksi Elektromekanik, 100A 230/400 V
Cakram Baling-baling Aluminium Horizontal
Merupakan Pusat Meter
Meter Listrik Solid State
Rangkaian Alat Ukur Faktor Daya Satu Fasa
Konstruksi Alat Ukur Faktor Daya
Rangkaian Alat Ukur Faktor Daya Tiga Fasa
Gambar 4-29 Alat Ukur Faktor Daya Tipe Daun Terpolarisasi 193
Gambar 4-30 Konstruksi Faktor Daya (Cos Q meter) 194
Gambar 4-31 196
Gambar 4-32 Segitiga Daya 196
Gambar 4-33 Daya Bersifat Induktif 196
Gambar 4-34 Daya Bersifat Kapasitif 199
Gambar 4-35 200
Gambar 4-36 Pengukuran Faktor Daya Satu Fasa 200
Pengukuran Faktor Daya Tiga Fasa
Gambar 4-37 Metode Menentukan Urutan Fasa dengan R dan 201
Gambar 4-38 201
Gambar 4-39 C 202
Fasor Diagram saat Urutan Fasa Benar
Gambar 4-40 Fasor Diagram saat Urutan Fasa Salah 202
Gambar 4-41 203
Gambar 4-42 Metode Menentukan Urutan Fasa dengan 205
Gambar 4-43 Lampu 206
Konstruksi Indikator Tes Urutan Fasa
Gambar 4-44 207
Prinsip Indikator Tes Urutan Fasa
Gambar 4-45 Contoh Indikator Tes Urutan Fasa yang Lain 208
Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan R
Gambar 4-46 209
dan C pada Urutan Benar
Gambar 5-1 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan R 211
Gambar 5-2 dan C pada Urutan Salah 212
Gambar 5-3 213
Gambar 5-4 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan 213
Gambar 5-5 Lampu pada Urutan Benar 214
Gambar 5-6 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan 214
Gambar 5-7 214
Lampu pada Urutan Salah
Gambar 5-8 Penguji Tahanan Isolasi 215
Penguji tahanan Isolasi Menggunakan Baterai
Gambar 5-9 215
Pengecekan Kondisi Baterai
Gambar 5-10 Baterai dalam Kondisi Baik 216
Meter Siap Digunakan 217
Gambar 5-11 218
Gambar 5-12 Pengukuran Tahanan isolasi 218
Gambar 5-13 Pengukuran Tahanan Isolasi antara Fasa 219
Gambar 5-14 dengan Nol N
Gambar 5-15 221
Pengukuran tahanan isolasi antara Fasa dengan 222
Gambar 5-16 Tanah G 222
Gambar 5-17 Pengukuran tahanan isolasi antara nol N dengan 222
Gambar 5-18 222
Gambar 5-19 Tanah G 224
Gambar 5-20 Pengukuran Tahanan Isolasi antara Instalasi
Gambar 5-21 dengan Tanah G
Elektroda yang Mempunyai Pengaruh Lapisan
Tanah yang korosif
Sambaran petir
Nilai Tahanan Pentanahan yang Ideal
Hubungan antara Penghantar Tanah dan
Elektroda Tanah
Elektroda yang mempunyai pengaruh lapisan
Elektroda Pentanahan
Hubungan Beberapa Elektroda Pentanahan
Jaringan Bertautan
Pelat Tanah
Cara Mengukur Tahanan Tanah
Gambar 5-22 Uji drop tegangan 225
Gambar 5-23 Uji Selektif 227
Gambar 5-24 Pengetesan alur arus metoda tanpa pancang 228
Gambar 5-25 Susunan Metoda tanpa Pancang 229
Gambar 5-26 Mengukur Tahanan Tanah dengan Dua Kutub 230
Gambar 5-27 MGB Mentanahkan Tanah 230
Gambar 5-28 Pengetesan kantor pusat tanpa pancang 231
Gambar 5-29 Pelaksanaan Pengujian Jatuh Tegangan pada 232
Sistem Pentanahan Secara Keseluruhan
Gambar 5-30 Pengukuran Tahanan Tanah Masing-masing 232
pada Sistem Pentanahan Menggunakan
Gambar 5-31 Pengujian Terpilih 233
Susunan Khas Sistem Pentanahan pada Suatu
Gambar 5-32 Instalasi Menara Seluler 235
Susunan Khas Sistem Pentanahan pada Gardu
Gambar 5-33 Induk 235
Penggunaan Pengetesan tanpa Pancang pada
Gambar 5-34 Instalasi Switching Jarak Jauh 235
Penggunaan Pengetesen Tahanan Tanah
Gambar 5-35 Terpilih pada Sistem Penangkal Petir 235
Gambar 5-36 Mekanik field meter 236
Gambar 5-37 Rangkaian Elektronik Field Meter Statik 237
Gambar 5-38 Hasil pengukuran tegangan 237
Gambar 5-39a Field Meter Statik 238
Gambar 5-39b Rotating Shutters pada Permukaan Belakang 238
Gambar 5-40 Field Meter 239
Gambar 5-41 Field Meter Digunakan Diluar Ruangan 240
Gambar 5-42 Ukuran field meter statik 240
Gambar 5-43 Letrak Pin Field Meter Statik 241
Gambar 5-44 Aluminium-Clamp dengan Ulir 242
Gambar 5-45 Instrumen Field Meter Digital 244
Gambar 5-46 Display Field Meter Digital 245
Gambar 5-47 Smart field meter 245
Gambar 6-1 Aplikasi smart field met er 247
Gambar 6-2 Frekuensi respon 249
Gambar 6-3 Contoh Generator Fungsi 251
Blok Diagram Generator Fungsi
Gambar 6-4 Gambar Troubel Shooting Menggunakan Teknik 252
Signal Tracing
Gambar 6-5 Penggunaan Generator Fungsi Sebagai 253
Gambar 6-6 Kombinasi Bias dan Sumber Sinyal 255
Karakteristik Amplifier pada Overload
Gambar 6-7 Setting Peralatan dan Pengukuran Respon 255
Gambar 6-8 Frekuensi 256
Gambar 6-9a Peragaan Respon Frekuensi Audio Amplifier 257
Gambar 6-9b Pengaruh Variasi Tone Kontrol 257
Pengetesan Sistem Speaker
Gambar 6-10 Karakteristik Pengetesan Sistem Speaker dan 259
Rangkaian Impedansi
Pengoperasian Generator RF
Gambar 6-11 Rangkaian Direct Digital Synthesis 260
Gambar 6-12 Presentasi Gelombang Sinus dalam Memori 261
Gambar 6-13 Gelombang 262
Gambar 6-14 Phase Accumulator Circuitry 264
Bentuk gelombang arbitrary dengan
Gambar 6-15 264
diskontinyuitas
Gambar 6-16 Spektrum bentuk gelombang di atas pada 100 265
Gambar 6 -17 kHz 266
Gambar 6-18 266
Gambar 6-19 Rangkaian pembangkit bentuk gelombang kotak 269
Gambar 6-20 Rangkaian pembangkit bentuk gelombang pulsa 269
Gambar 6-21 Parameter bentuk gelombang pulsa 271
Gambar 6-22 272
Rangkaian kendali amplitudo output
Gambar 6-23 Impedansi keluaran generator fungsi 274
Gambar 6-24 Pengaruh rangkaian tertutup ground 275
Gambar 6-25 275
Gambar 6-26 Nilai tegangan yang penting pada gelombang 276
Gambar 6-27 sinus 277
Gambar 6-28 Modulasi amplitudo 278
Gambar 6-29 Modulasi frekuensi 278
Gambar 6-30 Frequensi shift keying 280
Fekuensi sapuan
Gambar 6-31 281
Gambar 6-32 Sweep with marker at DUT resonance 281
Gambar 6-33 Bentuk gelombang keluaran syn dan tiga siklus 283
Gambar 6-34 bentuk gelombang burst 284
Gambar 7-1 Konfigurasi dua instrumen 288
Gambar 7-2 Pengukuran lebar band dari filter bandpass dan 289
Gambar 7-3 penguat IF 290
Gambar 7-4 290
Bentuk gelombang keluaran generator fungsi
Gambar 7-5 Pelacakan Penganalisa spektrum 291
Gambar 7-6 Alignment penerima AM 291
Gambar 7-7 291
Gambar 7-8 Alignment dari penerima IF komunikasi FM dan 292
Gambar 7-9 diskriminator 293
Gambar 7-10 Pengambilan Data dengan CRO 293
Gambar 7-11 294
Gambar 7-12 Peraga Bentuk Gelombang Komponen X, Y, Z 295
Gambar 7-13 Bentuk Gelombang pada Umumnya 296
Gambar 7-14 Sumber-sumber Bentuk Gelombang pada 298
Gambar 7-15 298
Gambar 7-16 Umumnya 299
Gambar 7-17 Gelombang Sinus 301
Gambar 7-18 Bentuk Gelombang Kotak dan Segiempat 303
Bentuk Gelombang Gigi Gergaji dan Segitiga
Step, Pulsa dan Rentetan Pulsa
Bentuk Gelombang Komplek Video Komposit
Frekuensi dan Perioda Gelombang Sinus
Amplitudo dan Derajat Gelombang Sinus
Pergeseran Pasa
Operasi Dasar CRO
Hubungan Basis Waktu Masukan dan Tampilan
Struktur Tabung Gambar
Sistem Pembelokan Berkas Elektron
Blok Diagram CRO Analog
Blok Diagram CRO Free Running
Gambar 7-19 Blok Diagram Osiloskop Terpicu 305
Gambar 7-20 Peraga Osiloskop Free Running 055
Gambar 7-21 305
Gambar 7-22 Peraga Osiloskop Terpicu 306
Gambar 7-23 Blok Diagram CRO Jejak Rangkap 308
Diagram Blok Osiloskop Berkas Rangkap yang
Gambar 7-24 310
Disederhanakan
Gambar 7-25 Tabung Penyimpan dengan Sasaran Ganda dan 310
Senapan Elektron
Gambar 7-26 314
Gambar 7-27 CRT Menyimpan dengan Sasaran Ganda dan 315
Gambar 7-28 Dua Senapan Elektron 315
Gambar 7-29 Blok Diagram Osiloskop Digital 316
Gambar 7-30 316
Gambar 7-31 Pengambilan Sampel Real Time 320
Gambar 7-32 Interpolasi Sinus dan Linier 322
Gambar 7-33 Akusisi Pembentukan Gelombang 322
Gambar 7-34 323
Gambar 7-35 CRO Function Generator 323
Gambar 7-36 Fungsi Tombol Panel Depan CRO 324
Pengawatan Kalibrasi
Gambar 7-37 324
Gambar 7-38 Bentuk Gelombang Kalibrasi 324
Gambar 7-39 Berkas Elektron Senter Tengah 325
Gambar 7-40 Loncatan Pengukuran Tegangan DC 325
Gambar 7-41 326
Gambar 7-42 Pengawatan Pengukuran dengan Function 326
Gambar 7-43 Generator 327
Gambar 7-44 Pengaturan Function Generator Panel Depan 328
Gambar 7-45 329
Gambar 7-46 Pengaturan Frekuensi Sinyal 329
Gambar 7-47 Bentuk Gelombang V/div Kurang Besar 330
Gambar 7-48 Bentuk Gelombang Intensitas terlalu Besar 330
Gambar 7-49 Bentuk Gelombang Sinus 331
Gambar 7-50 Bentuk Gelombang Mode XY 332
Pengukuran Frekuensi Langsung
Gambar 7-51 333
Gambar 7-52 Pengawatan Pengukuran Frekuensi Langsung 334
Gambar 7-53 Pengukuran Frekuensi Model Lissayous 334
Gambar 7-54 Pengukuran Beda Pasa Langsung 334
Gambar 7-55 Perbandingan Frekuensi 1 : 3 Beda Pasa 90o 334
Gambar 7-56 Beda Pasa dan Beda Frekuensi Model 335
Gambar 7-57 Lissayous 335
Gambar 7-58 335
Gambar 7-59 Mixed Storage Osciloscope (MSO) 335
Gambar 7-60 Arsitektur Pemrosesan Parallel dari Osiloskop 337
Gambar 7-61 Digital Pospor 337
Gambar 7-62 338
Peragaan Sinyal DP O
Paket Pilihan Software
Aplikasi Modul
Modul Video
Pengembangan Analisis
Tombol Pengendali Tradisional
Peraga Sensitif Tekanan
Menggunakan Pengendali Grafik
Osiloskop Portable
Probe Pasip Tipikal beserta Asesorisnya
Probe Performansi Tinggi
Probe Sinyal Terintegrasi
Gambar 7-63 Probe Reliabel Khusus Pin IC 338
Gambar 7-64 Hasil dengan Probe Dikompensasi dengan 340
Gambar 7-65 benar 340
Gambar 7-66 Hasil dengan Probe Tidak Dikompensasi 340
Hasil dengan Probe Dikompensasi dengan
Gambar 7-67 341
Gambar 7-68 kompensasi berlebihan 341
Gambar 7-69 Tegangan Puncak ke Puncak 341
Gambar 7-70 Pengukuran Tegangan Senter Horizontal 343
Gambar 8-1 345
Gambar 8-2 Pengukuran Tegangan Senter Vertikal 346
Gambar 8-3 Pengukuran rise time dan lebar pulsa 346
Gambar 8-4 Kerja frekuensi meter jenis batang getar 347
Gambar 8-5 348
Gambar 8-6 Prinsip frekuensi meter jenis batang getar 348
Gambar 8-7 Bentuk frekuensi meter batang getar 349
Gambar 8-8 Prinsip frekuensi meter jenis meter pembagi 350
Gambar 8-9 351
Gambar 8-10 Prinsip alat ukur frekuensi besi putar 351
Gambar 8-11 Bentuk frekuensi meter analog 351
Gambar 8-12 Rangkaian dasar meter frekuensi digital 352
Gambar 8-13 352
Gambar 8-14 Blok Diagram Pembentukan Time Base 353
Gambar 8-15 Pernyataan simbolik dari rangkaian flip-flop 355
Rangkaian flip-flop (multivibrator bistable)
Gambar 8-16 356
Gambar 8-17 Rangkaian AND 357
Tabel kebenaran dari suatu rangkaian AND
Gambar 8-18 Rangkaian untuk mengukur frekuensi 358
Gambar 8-19 Rangkaian digital frekuensi meter 359
Blok diagram dari counter elektronik yang
Gambar 8-20 bekerja sebagai pengukur frekuensi 360
Gambar 8-21 Konversi Frekuensi Hiterodin 361
Gambar 8-22 Gambar putaran drum menghasilkan 10 pulsa 361
Gambar 8-23 perputaran untuk digunakan dengan counter 362
Gambar 8-24 365
Gambar 8-25 Diagram blok counter pada mode kerja perioda 367
Gambar 8-26 tungal dan perioda ganda rata-rata 368
Blok diagram counter yang bekerja sebagai
Gambar 9-1 372
perbandingan dan perbandingan ganda
Gambar 9-2 Blok diagram counter sebagai pengukur interval 374
Gambar 9-3 waktu 375
Gambar 9-4 376
Gambar 9-5 Trigger level control 377
Slope triggering
Pengukuran waktu delay suatu relay
Gating error
Kalibrasi sumber frekuensi lokal
Perubahan frekuensi vs waktu untuk ”oven
controlled crystal”
Langkah sapuan penganalisa spektrum pada
serangkaian unsur frekuensi seringkali terjadi
kesalahan transien diluar arus sapuan jalur yang
digaris kuning
Arsitektur tipikal penganalisa spektrum sapuan
Blok diagram VSA sederhana
Arsitektur tipikal penganalisa spektrum waktu riil
Sampel, bingkai dan blok hirarki memori dari
Gambar 9-6 RSA 378
Gambar 9-7 Penganalisa spektrum waktu riil blok akuisisi dan 379
Gambar 9-8 380
Gambar 9-9 pemrosesan 380
Penggunaan topeng frekuensi pada pemicuan
Gambar 9-10 ranah frekuensi waktu riil 381
Gambar 9-11 381
Gambar 9-12 Topeng frekuensi pada level burst rendah 382
Gambar 9-13 Penggunaan topeng frekuensi untuk memicu 383
sinyal berada pada sinyal besar sinyal tertentu
Gambar 9-14 383
Gambar 9-15 dalam lingkungan spectrum kacau 385
Gambar 9-16 Peraga spektogram 386
Gambar 9-17 Pandangan waktu dikorelasikan, peraga daya 387
Gambar 9-18 388
Gambar 9-19 terhadap frekuensi (kiri) dan spektogram (kanan) 388
Gambar 9-20 Ilustrasi dari beberapa waktu dikorelasikan 390
Gambar 9-21 disediakan untuk pengukuran pada RTSA 391
Gambar 9-22 393
Gambar 9-23 Pandangan multi ranah menunjukan daya 395
Gambar 9-24 terhadap waktu, daya terhadap frekuensi dan 395
demodulasi FM
Gambar 9-25 398
Pandangan multi ranah menunjukan spektogram
Gambar 9-26 daya terhadap frekuensi, daya terhadap waktu 398
Gambar 9-27 Blok diagram pemrosesan sinyal digital pada 398
Gambar 9-28 399
Gambar 9-29 penganalisa spektrum waktu riil 400
Gambar 9-30 Diagram pengubah digital turun 401
Gambar 9-31 Informasi passband dipertahankan dalam I dan 402
Gambar 9-32 403
Q terjadi pada setengah kecepatan sampel
Contoh lebar band pengambilan lebar
Contoh lebar band pengambilan sempit
Pemicuan waktu riil
Pemicuan sistem akuisisi digital
Proses pemicuan penganalisa spektrum waktu
riil
Definisi topeng frekuensi
Spectrogram menunjukkan sinyal transien diatur
pada pembawa. Kursor diatur pada titik picu
sehingga data sebelum picu ditampilkan, diatas
garis kursor dan data setelah picu diperagakan
dibawah garis kursor. Garis sempit putih pada
sisi kiri daerah biru dinotasikan data setelah
picu.
Satu bingkai spektogram yang menunjukkan
kejadian picu dimana sinyal transien terjadi
disekitar topeng frekuensi
Tiga bingkai sampel Sinyal Ranah Waktu
Diskontinuitas yang disebabkan oleh ekstensi
periodic dari sampel dan bingkai tunggal
Profil jendela Blackman-Harris 4B (BH4B)
Sinyal akuisisi, pemrosesan dan peraga
menggunakan bingkai overlap
Vektor besaran dan Pasa
Typical Sistem Telekomunikasi digital
Blok diagram analisa modulasi RSA