Kalau Kiai Semar sudah tampil, Batari Durga akan ampun-
ampun dan Batara Kala tidak akan berani menegakkan sehelai
bulu pun—meskipun sebelum Kiai Semar bangun tidur, sudah
telanjur ada banyak korban yang dimakan oleh Batara Kala yang
gelap wajahnya, atas rekayasa Batari Durga yang sudah dilacak.
Saya sebagai Bagong dengan hati penuh gairah bersedia
ikut menyertai Kiai Semar, demi perbaikan dan reformasi
nasib seluruh penduduk Marcapada. Dan saya mengawalnya di
belakang ke mana pun pergi, sehingga kebagian “kentut” yang
terus-menerus terembus dari belakang bokongnya. Tak apa
kemleke-en21 sedikit, asal kesejahteraan rakyat akan bisa benar-
benar ditata, keadilan sosial benar-benar akan ditegakkan.
Akan tetapi, dari ke hari, sebagai Bagong saya merasa
semakin goblok, melihat kenyataan demi kenyataan yang
terjadi di Junggring Saloka.
Pertama saya hanya bertanya-tanya, “Semar ini maunya
melabrak Batara Guru, kok, tidak pakai koordinasi. Mau
merombak Marcapada yang kacau balau tidak pakai runding,
seperti lokomotif ucul dhewe22. Pekerjaan sangat besar, kok,
dilakukan tidak hanya dengan menyapa sebanyak mungkin
orang. Kalau bareng-bareng, kan, rakyat lebih bahagia.”
Akan tetapi, itu saya bantah sendiri dalam hati, “Lho,
Kiai Karang Kedempel kan memang lebih ampuh, lebih sakti
dari segala macam Dewa. Jadi, dia cukup sendirian. Dan lagi
emangnya Bagong itu siapa, kok, merasa perlu diajak?”
Tahap berikutnya mulai hadir kekecewaan. “Ini perjuangan
rakyat apa rebutan peluang kekuasaan antarkelompok
kepentingan?”
21 Kemleke-en: Jawa, arinya kecapekan, enek, mual.—peny.
22 Ucul dhewe: Jawa, arinya lepas atau bergerak sendiri.—peny.
[ 188 ]
pustaka-indo.blogspot.com
Akan tetapi, lagi-lagi saya bantah, “Jangan buruk sangka.
Namanya juga masa revolusi. Segalanya masih serabutan, kabur
seperti asap. Bersabarlah.”
Karena memang tidak berpolitik dan wilayahnya hanya
nurani dan budaya, Bagong bisa mendadak hadir di berbagai
sayap.
Terdengar ada yang targetnya mempresidenkan anu,
menomorsatukan ini. Yang sono menggunting sini, yang sunu
memanipulasi sene. Sementara suatu grand design dijalankan
dengan licin dan tak tampak, serta sukses memecah belah
masyarakat. Yang dadap fanatik buta terhadap waru, yang fulan
mati-matian ashobiyah kepada polan. Informasi yang beredar
dipenuhi oleh disinformasi, bias, penuh isu dan prasangka,
tetapi dijadikan dalil dan disebut kebenaran.
Terdengar suara, “Para pemimpin boleh bersatu, tetapi
saya harus paling depan.”
“Awas kalau saya tidak menjadi menteri, nanti saya akan
jadi pemimpin oposan.”
“Waduh, kalau menjadi menteri hanya dua bulan,
pensiunnya cuma enam persen.”
Bagong terperangah, ternyata yang ia kawal selama ini
bukan Kiai Semar.
Suasana di Jonggring Saloka riuh rendah, segala berjejal-
jejal, bertumpukan. Bagong terinjak-injak dan ketlingsut23. Ia
berlari minggir, pulang ke kampungnya di Karang Kedempel,
sambil bertanya kepada setiap orang yang dijumpainya,
“Adakah di antara kalian yang tahu di mana letaknya rakyat
dan mahasiswa? Kemarin mereka merupakan bintang utama di
panggung, kok, sekarang hilang?”[]
23 Ketlingsut: Jawa, arinya terselip; hilang di antara tumpukan sesuatu.—
peny.
[ 189 ]
pustaka-indo.blogspot.com
Tentang Penulis
EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang,
Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan
“singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus
budayawan, yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-
kata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-
puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka.
Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian
internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980);
International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa
City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam,
Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat,
Jerman Barat (1985).
Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun
esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit,
antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978),
Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990),
dan Cahaya Maha Cahaya (1991).
Adapun kumpulan esainya yang telah terbit, antara lain
Indonesia: Markesot Bertutur, Markesot Bertutur Lagi, Arus Bawah
(2014), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (2015) Gelandangan di
Kampung Sendiri (2015), Sedang Tuhan pun Cemburu (2015),
99 untuk Tuhanku (2015), Istriku Seribu (2015), Kagum kepada
Orang Indonesia (2015), dan Titik Nadir Demokrasi (2016).
pustaka-indo.blogspot.com
Inilah hari-hari kesunyian manusia dalam negara.
Manusia terasing di dalam rumah sejarahnya
sendiri. Inilah titik nadir dari sebuah demokrasi.
Rp58.000,00
pustaka-indo.blogspot.com
[ 192 ]
pustaka-indo.blogspot.com