The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2024-01-20 20:10:33

Memanah Bintangdi_Tambasa

Memanah_Bintang_di_Tambasa

46 Memanah Bintang di Tambasa Rahman berhenti bertanya, juga berhenti mengkhayalkan sepeda keren itu menjadi milik nya. Dia mengikuti instruksi dari Aditya sambil meliarkan pandangan ke segala arah saat me masuki rongga rumah Aditya yang mewah. “Waahhh…. Rumahmu bagus sekali,” ucap Rahman takjub. “Wah… masa sih? Biasa kok.” Melalui pintu samping, Aditya bisa melihat ruang tamu kecil yang dibatasi lemari jepara ukuran besar dan lebar, yang men jadi sekat dengan ruang tamu yang luas di sebelahnya. Warna gorden, sofa, juga karpet, semua senada. Warna kuning emas dengan kombinasi putih terang. “Kita langsung ke kamar ya, biar kalau orang tua saya datang, ndak ketahuan abis menerima tamu.” Rahman menurut saja, tapi jalannya sambil terus melihat-lihat seisi rumah. Apalagi saat Aditya lewat di dekat saklar lampu dan me nyalakannya,


Janjian 47 Rahman lagi-lagi terpukau melihat lampu kristal yang menggantung di tengah-tengah rumah, menyala terang. “Kayak istana ya, rumah kamu,” puji Rahman. “Alhamdulillah,” Aditya membalas pujian Rahman dengan tersenyum. Di luar sudah terdengar azan maghrib. Aditya yang memang selalu salat tepat waktu mengajak duluan. “Kita salat di rumah?” “Iya. Saya salat di masjid kalau bersama ayah.” “Kalo kita ke masjid sekarang? Masjid Ikhtiar dekat kok.” “Ndak boleh. Saya ndak boleh keluar rumah, kecuali bersama orang tua.” Rahman mengiyakan dengan anggukan. Dia yang selama ini selalu maghrib di masjid, mengalah untuk salat di rumah. “Tapi kamu yang imam ya?”


48 Memanah Bintang di Tambasa “Loh kok saya?” balas Aditya sambil menggulung celana panjangnya untuk masuk kamar mandi di kamarnya. “Kamu kan sekolah di SDIT. Pasti ngaji kamu lebih bagus dan hafalanmu lebih banyak.” “Ndak juga sih. Hafalanku baru satu juz. Juz 30.” “Haahh…. Hafal juz 30? Luar biasa. Saya baru hafal beberapa surah.” Aditya yang malu-malu karena selalu dipuji, memilih masuk kamar mandi mengambil air wudu. Saat Aditya mengambil wudu. Rahman sibuk memperhatikan seisi kamar Aditya yang baginya semua adalah barang mewah dan tak ada di rumahnya. “Hey, ini kamar saya, bukan ruang pameran,” tegur Aditya bercanda karena Rahman yang memelototi semua yang ada di kamar Aditya. “Maaf ya, saya takjub lihat rumahmu. Benarbenar rumah orang kaya.” “Ayo mi salat dulu! Karena saya yang imam, berarti kau yang ikamah!”


Janjian 49 Rahman langsung mengiyakan dengan ikamah tanpa menunggu instruksi lagi. Ketika salat, Aditya membacakan Surah An Naba dan Al Bayyinah. Rahman yang tak hafal surah itu, terkagum-kagum dalam salatnya. Belum lagi bacaan surah Aditya yang sangat merdu. “Kau cocok jadi imam masjid,” puji Aditya lagi saat selesai salat. “Aamiinn…. Tapi itu ndak seberapa kok. Saya baru hafal An Naba pekan lalu. Itu juga karena selalu saya murajaah di bacaan salat saya. Ada kok teman saya yang sudah pindah ke juz 29. Ngajinya juga jauh lebih bagus….” Panjang lebar Aditya menjelaskan, ternyata Rahman sudah berdiri dari tempat salat dan asyik men cermati barang-barang yang ada di meja belajar Aditya. “Eh ini ndak apa-apa ya saya pegang?” tanya Rahman sambil mencermati beberapa mainan mobil ukuran kecil di meja belajar Aditya.


50 Memanah Bintang di Tambasa Setiap ke mini market, Rahman hanya bisa melihat-lihat mobil-mobilan bermerek yang ber - bahan besi itu, karena uangnya tak pernah cukup untuk membeli. Aditya mengangguk mengiyakan. “Itu baru sebagian kecil,” Aditya membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan mobil-mobilan Hotwheel dari tempatnya yang berbentuk seperti koper. “Ini saya punya koleksi lebih lengkap.” “Waaaww….” Mata Rahman terbelalak. Dia seperti merasa berada di surga. Dia mengambil dan mengamatinya satu per satu. Semua jenis Hotwheel ada. “Dit? Boleh saya nginap di rumahmu?” “Nginap?” Aditya tersentak. Keningnya berkerut. “Gimana bisa? Kamu bisa ketahuan orang tua saya. Terus, apa kamu ndak dicari sama orang tuamu?” Rahman membenarkan dalam diam.


Janjian 51 “Kamu bisa sampai isya di sini. Tadi pagi, sebelum ke sekolah, ayah sudah sampaikan ke saya kalau pulang abis isya. Ibu saya juga.” “Padahal, saya ingin merasakan menjadi anak orang kaya. Semalam saja. Tidur di kamar ber-AC, kasur empuk, selimut tebal….” “Sebenarnya saya juga senang kalau kamu di sini, saya punya teman. Tapi, kalo ketahuan, bisa fatal akibatnya.” Rahman naik ke tempat tidur Aditya, ber baring sambil memeluk guling. Memejamkan mata seolah sudah hendak tertidur. “Hmmmm…. Benar-benar empuk. Di rumahku masih pakai kasur dan bantal kapuk,” ucap Rahman sambil menarik selimut tebal dan menenggelamkan tubuhnya dalam selimut. “Hmmmm…. Selimutmu harum. Masih bau pewangi cucian. Di rumah saya hanya tidur pakai sarung,” lanjutnya lagi.


52 Memanah Bintang di Tambasa Aditya yang melihat itu, merasa kasihan. Dia baru menyadari, hal-hal yang dianggapnya biasa selama ini, ternyata begitu berarti buat Rahman. Selama ini dia tidak pernah merasa jika tempat tidurnya sangat empuk dan nyaman. Dia bahkan sering meminta ke ayahnya untuk sesekali nginap di hotel, dengan alasan fasilitas hotel lebih nyaman dan lengkap. Ketika Rahman sementara asyik menikmati kasur empuk Aditya, tiba-tiba Aditya memperlihatkan wajah panik. “Duh, Rahman, ayah saya datang. Gimana nih?” “Haah…?” Rahman memasang telinga baik-baik. Benar saja. Terdengar suara pagar dan bunyi mesin mobil. “Ibumu atau ayahmu?” “Ayah. Kalau masuk lewat pintu utama itu ayah. Pintu samping, itu pintu masuk mobil ibu. Suara mobilnya juga kentara kok.”


Janjian 53 “Terus bagaimana mi?” Aditya panik luar biasa. Untuk membawa Rahman keluar lewat pintu samping, sepertinya akan sia-sia. Pasti akan ber - papasan dengan ayahnya di ruang tamu. Dia benarbenar panik dan tak tahu harus berbuat apa. “Saya pulang mi sekarang?” “Ja…jangan! Kau akan kedapatan,” “Terus bagaimana?” “Ndak ada jalan lain. Kamu diam di kamar dulu, jangan sekali-kali bersuara. Saya akan masuk kembali untuk membawa kamu keluar setelah ayah saya masuk kamarnya. Ingat ya, jangan bersuara!” Rahman mengangguk ketakutan. Aditya ber lari keluar menjemput ayahnya, seperti yang selama ini dia lakukan saat ayahnya datang. “Katanya, pulang setelah isya, Yah?” tanya Aditya berusaha bersikap wajar sambil mencium tangan ayahnya.


54 Memanah Bintang di Tambasa “Alhamdulillah. Urusan Ayah cepat selesai.” Bukannya langsung masuk kamar, seperti yang ayahnya lakukan selama ini saat pulang kerja, ayahnya malah duduk di sofa ruang tamu. Aditya semakin cemas tapi berusaha untuk ber sikap wajar. “Ndak masuk kamar dulu, Yah? Saya bantu bawakan tas laptopnya ya. Ayah pasti kecapean.” “Saya istirahat di sofa saja dulu, Dit. Kalo masuk kamar, takutnya tertidur sebelum isya.” Aditya membawa tas ayahnya masuk kamar sambil memutar otak demi mencari cara agar dia bisa mengeluarkan Rahman dengan aman dari rumah nya. Rahman yang di dalam kamar, dengan penuh debar menunggu kedatangan Aditya. Namun, meski penuh debar, matanya tetap mengamati seisi kamar Aditya yang sejak tadi memukaunya. Desktop di meja belajar dia pegangpegang, meski tidak sedang menyala.


Janjian 55 “Yah, nanti salat isya saya ndak usah ikut ke masjid ya. Saya mau salat di rumah dulu.” Rahman mendengar percakapan Aditya dari dalam kamar. “Loh kenapa?” “Saya mau nunggu ibu.” “Ibumu kan bawa kunci sendiri. Ntar malah terbiasa malas ke masjid lagi. Biasanya kamu paling rajin ngajak ayah ke masjid.” “Kalo kali ini ndak ke masjid, ndak apa-apa kan, Yah? Sekali iniji!” “Tapi jangan keterusan ya!” “Siap!” Dalam hati Aditya berteriak yes. Begitu juga Rahman yang di kamar. Itu berarti dia punya waktu untuk pulang saat ayah Aditya ke masjid. Aditya segera kembali ke kamar saat ayahnya masuk kamar untuk bersiap-siap ke masjid salat isya. Dia harus mengatur strategi sebaik mungkin agar bisa mengeluarkan Rahman tanpa diketahui siapa pun.


56 Memanah Bintang di Tambasa “Sstt….!” desisnya pelan sambil menempel kan telunjuk di depan bibirnya. Rahman yang baru saja mau bersuara pelan, langsung menutup mulutnya sendiri. “Pokoknya ndak boleh bersuara dulu sampai ayah saya berangkat ke masjid untuk salat isya,” bisik Aditya pelan sekali. Rahman mengangkat jempol pertanda setuju. Tanpa suara matanya mengamati semua barangbarang milik Aditya di kamar. Meski baru kenalan, dia tiba-tiba merasa sudah berteman dekat dengan Aditya. Dia bahkan membuka lemari pakaian. Dia meng angguk-anggukkan kepala pelan pertanda kagum, melihat pakaian Aditya yang terlipat rapi, juga yang tergantung sudah disetrika. Di matanya, seisi lemari itu adalah pakaian baru. Dia benarbenar merasa berada dalam surga. Semua yang dilihatnya adalah hal-hal yang di impi kannya selama ini, meski sayang tak bisa dia miliki.


Janjian 57 Aditya yang melihatnya geleng-geleng kepala. Aditya tahu Rahman anak tukang bentor dan dia memaklumi jika barang-barang miliknya sangat berharga di mata Rahman. Bahkan saat melihat sepeda yang sering dipakai Rahman, Aditya sangat kasihan. Sepeda bekasnya yang dia beli dua tahun lalu, jauh lebih bagus daripada sepeda Rahman. Namun, sepeda itu dia kirim ke kampung untuk dipakai sepupunya di sana. Lalu, ayahnya membelikan dia sepeda yang lebih bagus lagi. Pakaian yang dipakai Rahman juga, sudah lusuh. Dia tiba-tiba kepikiran, suatu saat dia memberikan kepada Rahman, sebagian baju-bajunya yang jarang lagi dipakai. Ketika terdengar salawat dari masjid, dia keluar menemui ayahnya, sebelum ayahnya datang untuk pamit. “Yakin ndak mau ikut ke masjid?” tanya ayahnya yang ternyata sudah mengenakan sarung salatnya dan sudah di ruang tamu mencari kunci rumah.


58 Memanah Bintang di Tambasa “Iya. Saya salat di rumahmi dulu ya.” “Tapi Daeng Kulle ndak jaga di depan rumah loh. Ibumu juga belum tentu datang sampai saya pulang dari masjid. Berani di rumah sendirian?” Meski keheranan karena Aditya tiba-tiba tak mau ke masjid, ayahnya tak curiga jika ada sesuatu yang disembunyikannya karena selama ini Aditya sangat patuh pada orang tuanya. “Berani dong, Yah. Sudah kelas enammi.” “Kalo gitu, abis azan di masjid langsung salat ya! Janganmi tunda-tunda lagi!” “Siap, Bosku!” candanya sambil hormat kanan. Ayahnya pergi setelah mengucek-ngucek rambut Aditya yang sedikit ikal. Andai dia tahu anak nya sudah berani berbohong padanya, pastilah akan sangat kecewa. Sedih pastinya.


Rumah Kedua 59 B egitu terdengar suara pagar didorong per tanda tertutup, Aditya langsung me ngajak Rahman keluar dari kamar. Rahman yang masih ingin menikmati kamar Aditya yang begitu keren di matanya, terpaksa mengikuti langkah Aditya keluar kamar. “Kapan-kapan saya masih bisaji datang toh?” “Tentu saja. Saya tentu senang punya teman ber main saat orang tua saya belum pulang dari kerja.” Rumah Kedua


60 Memanah Bintang di Tambasa Baru saja Aditya hendak memutar kunci pintu samping, tiba-tiba sebuah lampu mobil me nyorot dari luar. Siapa lagi kalau bukan mobil ibunya. Setiap datang dari luar, pasti lewat pintu samping. Garasi depan sebenarnya bisa untuk dua mobil, tapi saat pagi hari terkadang ayahnya yang harus keluar duluan, sementara di belakang mobilnya, ada mobil ibunya. Biar tidak saling menghalangi, ibunya lebih memilih untuk menggunakan garasi samping. “Ibumu datang?” Rahman memastikan kecuriga annya. “Iya nih…! Duuuh bagaimana mi ini? Kalo ketahuan saya terima tamu tanpa izin, pasti kena marah.” “Terus bagaimana mi?” Ibunya sudah mematikan mesin mobil di garasi. “Kamu sembunyi mi dulu di kamar. Nanti kalau ibu saya masuk kamar, kita cari cara lagi.”


Rumah Kedua 61 Rahman berlari kembali ke kamar, ketika men - dengar pintu pagar tertutup kembali. Aditya menyambut ibunya sesantai mungkin. “Loh, tumben kamu ndak ke masjid? Ayahmu ndak ke masjid juga?” serang ibunya melihat Aditya membukakan pintu. “Ayah ke masjid kok, Bu. Tadi saya izin ke ayah untuk salat di rumah sambil tungguin ibu.” “Alasan izinnya apa? Biasanya kamu yang paling suka kalau ke masjid,” ucap ibunya heran. “Alasannya? Apa ya? Ndak ada ji alasan selain mau nunggu ibu pulang,” ucap Aditya sambil mengambil belanjaan yang dibawa ibu nya. “Ibu abis dari mal ya?” lanjutnya sambil mem buka kantongan berisi belanjaan. “Ndak. Mampir di supermarket aja. Buat kebutuhan sehari-hari. Kalo ndak ada alasan selain mau nunggu ibu datang, itu namanya malas.” “Sayapi yang bawa ke dapur, Bu. Ibu istirahatmi di kamar.”


62 Memanah Bintang di Tambasa “Tumben, mau bawa-bawa belanjaan ke dapur?” “Daripada dibilang malas….” Ibunya tertawa. “Kamu selalu saja punya jawaban,” ucap ibunya pura-pura ngomel. Namun, bukannya ke kamar seperti yang diharapkan Aditya, ibunya mengikut ke dapur. Aditya deg-degan luar biasa. Ya, Allah…! Semoga ibu ndak mampir di kamar. Aditya melangkah duluan ke dapur dengan perasaan yang penuh ketakutan. Kamar Aditya dilewati saat ke dapur. Sebenarnya kamar itu adalah kamar kakaknya, tapi sejak kakaknya kuliah di luar negeri, dia memilih pindah ke kamar itu karena ada kamar mandi di dalamnya. Kamarnya yang bersebelahan dengan kamar orang tuanya, dijadikan kamar tamu. “Loh…. Kok ada suara air mengalir di kamar mu ya?”


Rumah Kedua 63 Aditya meringis. Menggigit bibir, tanpa ber balik ke arah ibunya yang menghentikan langkah tepat di depan pintu kamarnya. Duuuhhh gawat…. Rahman kok buka keran air? “Kayaknya saya lupa tutup keran tadi, Bu,” ucap Aditya tanpa berbalik. “Nanti pi abis dari dapur saya tutup.” Rahman yang mendengar percakapan itu dari dalam kamar mandi tempatnya bersembunyi, langsung menutup keran. Dia membuka keran karena baru saja selesai buang air kecil. Ibu Aditya yang baru saja meninggalkan depan kamar dan mendengar air mengalir tiba-tiba berhenti sendiri, langsung menghentikan langkah. “Loh, kok tertutup lagi kerannya ya?” tanya ibunya keheranan. Aditya yang membawa kantongan belanja, ikut berhenti dan berbalik ke arah ibunya.


64 Memanah Bintang di Tambasa “Biar saya cek dulu, Bu. Bukan tertutup, mungkin bathtub-nya sudah penuh, jadi suara air kerannya ndak kedengaran lagi.” Ibunya mendesah napas lega mendengarkan jawaban Aditya yang masuk akal. “Lain kali jangan tinggalin kamar mandi dengan keran terbuka,” ucap ibunya sambil me ngangkat barang belanjaannya ke dapur. Aditya yang masuk kamar, langsung mengunci nya dari dalam. Begitu Rahman keluar dari kamar mandi, dia langsung memasang jari telunjuk di depan bibirnya. Dia tak ingin siapa pun bersuara. Rahman meminta maaf telah mem - buka keran dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Aditya mengangguk pertanda memaafkan. “Adiiitt…. Jangan lupa salat isya!” ucap ibunya setengah berteriak saat lewat kembali di depan kamarnya.


Rumah Kedua 65 Rahman berlari masuk kamar mandi kembali. “Iye, Buu…! Siap, insyaallah.” Aditya ke luar kamar untuk memastikan ibunya sudah masuk kamar kembali. Ternyata tidak. Ibunya bersantai di sofa sambil menikmati buah yang dibelinya tadi dibelinya di supermarket. “Ibu beli buah kesukaan kamu. Lengkeng.” Bukannya berterima kasih, Aditya malah mengarahkan ibunya masuk kamar untuk ber istirahat. “Loh, biasanya pulang kantor ibu masuk kamar?” “Istirahat di sini mi dulu, sambil nunggu ayahmu pulang dari masjid.” Aditya benar-benar merasa dirinya sial malam ini. Semua yang terjadi tidak seperti yang direncana kannya. “Saya salat isya dulu ya, Bu,” ucapnya hendak berlalu ke kamar.


66 Memanah Bintang di Tambasa “Ndak makan lengkeng dulu? Tumben. Biasanya kamu ndak bisa nunda kalo ketemu lengkeng.” “Saya bawa ke kamar saja ya, Bu. Sekalian anggurnya.” Aditya masuk kamar dengan perasaan yang sangat gelisah. Ingin jujur, takut dimarahi. Sementara dia juga tidak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa mengeluarkan Rahman dari rumahnya malam ini. Biar tenang, dia memilih salat dulu. Ingin rasanya dia salat sekhusyu mungkin, agar doanya diterima. Doa agar Rahman bisa keluar dari rumah tanpa ketahuan orang tuanya. Mereka salat berjemaah, tentu saja setelah Aditya mengunci pintu. Bukannya masuk kamar, ibunya malah asyik cerita di ruang tamu saat ayahnya datang dari masjid. Lagi-lagi, Rahman terkagum-kagum dengan suara Aditya yang sangat merdu dengan lantunan Surah Al Fatiha dan Abasa yang dibacakannya di rakaat pertama. Tadi, sebelum memulai salat, Aditya berbisik ke Rahman agar tidak teriak amin saat dia selesai


Rumah Kedua 67


68 Memanah Bintang di Tambasa membaca Al Fatiha. Rahman tertawa geli tanpa suara, sambil mengangkat jempol tanda OK. Ayah dan ibunya yang mendengar suara Aditya sedang salat, sama sekali tidak curiga jika di dalam kamar, ada Rahman yang bersembunyi. Karena takut bersuara, selesai salat Aditya dan Rahman menikmati lengkeng dan anggur sambil mem baca buku. Aditya membaca buku Tematik karena ada tugas yang akan dikumpul besok, sementara Rahman membaca novel anak yang ada di kamar. “Sepertinya orang tua kamu sudah masuk kamarmi,” bisik Rahman. “Iya. Tapi kita pasti ketahuan kalau terdengar membuka pintu samping apalagi mendorong pintu pagar,” balas Aditya dengan suara yang lebih kecil. “Jadi?” “Kamu nginap mi saja.”


Rumah Kedua 69 Rahman bersorak tanpa suara. Dia me lompatlompat di spring bed. Aditya kehera nan melihatnya. “Kamu ndak dicari orang tuamu?” Rahman terdiam sejenak. “Palingan dia pikir saya nginap di rumah sepupu di Kampung Parang.” Sejak malam itu, mereka benar-benar seperti saudara. Rahman dengan senang hati bisa mengena kan pakaian Aditya, bisa menggunakan desktop untuk bermain game, terlebih lagi bisa bertukar cerita. Tentu saja, mereka harus memerankan semua itu dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan orang tua Aditya. Rumah Aditya telah menjadi rumah kedua Rahman. Aditya bahkan tak lagi mencari cara untuk me ngeluarkan Rahman dari rumahnya karena senang ada teman bermain dan teman cerita saat orang tuanya terlambat pulang dari kantor.


70 Memanah Bintang di Tambasa


Hari - Hari Mimpi 71 M atahari pagi menyusup masuk melalui jendela kamar yang kain gordennya sedikit ter - singkap. Sinar yang sedikit itu menyilaukan mata Rahman yang masih malas-malasan di bawah selimut tebalnya. Dia meraih remote AC, membidikkannya ke sisi kanan tempat tidur nya. Klikk! AC mati, dia bangun dari tidur dengan menguap dan merenggangkan kedua tangan nya. Dua potong roti tawar yang telah diolesi selai coklat, terhidang di meja samping tempat tidurnya. Hari Rabu berarti, pikirnya. Dia sudah hafal menu Hari - Hari Mimpi


72 Memanah Bintang di Tambasa sarapannya, setidaknya hingga hari ketiga ini. Senin nasi goreng, Selasa ubi rebus, Rabu roti tawar tapi bukan dengan selai coklat. Dari cerita Aditya, sarapannya untuk Kamis akan kembali ke nasi goreng karena Aditya ada pelajaran PJOK di sekolah, Jumat roti tapi bukan roti tawar, Sabtu bubur ayam, Ahad nasi kuning. Di meja tempat sarapannya selalu tersedia itu, juga, ada desktop putih lebar, berikut mouse dan keyboard-nya. Jam dinding di bawah AC menunjukkan pukul 09.00 tepat. Sejak menjadi penghuni rumah ini, dia selalu tidur setelah Aditya berangkat sekolah, lalu bangun di atas jam 08.00. Itu karena setiap malam, dia kurang tidur. Jika tidak cerita dengan suara berbisik dengan Aditya, mereka main game tanpa meng gunakan suara. Di sekolah, Aditya juga selalu ngantuk. Biasa - nya tidur malam lebih awal agar segar bangun subuh, tapi sejak Rahman menginap di rumah nya, dia selalu begadang dan harus tetap bangun salat subuh di masjid bersama ayahnya.


Hari - Hari Mimpi 73 Seperti biasa, setiap bangun pagi, hal yang paling pertama dikerjakannya setelah menikmati sarapan yang harusnya disantap Aditya, adalah mandi. Mandi dengan air hangat yang keluar dari shower, berendam sepuasnya di bathtub sambil bermain busa sabun. Itu biasa dia habis kan sampai jam 10. Lalu dia akan bermain game sepanjang hari sambil menunggu Aditya pulang sekolah, pukul 16.30. “Brrrr…. Segaarrr…!” ucapnya sambil memasang kepalanya di bawah shower yang airnya menyemprot ke kepala. Tanpa menutup keran shower, dia mengambil sampo dan menggosokkannya di kepala hingga rambut hitamnya tertutupi busa sampo. Setelah itu dia kembali ke bawah shower. Kadang duduk bersila, kadang memasang muka ke arah shower. Terakhir, dia akan mengisi bathtub dengan air dan sabun cair, lalu membenamkan kaki hingga leher ke dalam lautan busa.


74 Memanah Bintang di Tambasa Andai saya orang kaya beneran. bisik batin nya dengan mata yang menatap lurus ke arah langitlangit kamar mandi. Rahman memang selalu berkhayal menjadi orang kaya. Siapa sangka khayalan itu terwujud dengan cepat. Tinggal di rumah seorang ayah yang professor dan ibu seorang dokter ternama di Makassar bahkan hingga se-Indonesia. Meski sayang, orang tua yang professor dan dokter itu hanya bisa dilihatnya dari foto yang terpajang di ruang keluarga, dia juga sering mendengar suaranya. Mendengar suaranya dari dalam kamar, tapi dia tak berani dan tak akan mungkin dia keluar menemuinya Orang tua kandungnya tetaplah warga kampung Tambasa. Ayahnya masih tukang bentor, becak motor. Ibunya juga, ibu rumah tangga IRT sekaligus bekerja di rumah Prof. Ahmad sebagai tukang bersih-bersih. Siapa sangka, pertemuan pertamanya dengan Aditya saat dia mengkhayal di jalanan, akan berlanjut terus dan mewujudkan mimpinya untuk


Hari - Hari Mimpi 75 menjadi anak orang kaya. Pertemuan berikut nya, di lapangan Blok H saat ada per tandingan futsal dalam rangka peringatan HUT RI. Mereka berdua hanya penonton dan mereka berkenalan di situ. Saat itu Aditya menggunakan kaus olahraga sekolahnya. Rahman yang sejak dulu memang sudah tertarik dengan apa pun tentang sekolah swasta tempat Aditya bersekolah itu, mendekati Aditya. Punya teman dari sekolah Islam terpadu, adalah kebanggaan tersendiri bagi Rahman. Rahman mendekat ke arah Aditya yang me nonton sendiri sambil berpikir bagaimana caranya dia bisa berkenalan. “Sekolahmu yang main?” Ternyata Aditya bertanya duluan ketika Rahman berdiri tak cukup setengah lancang kanan darinya. Rahman yang memang sedang mencari cara berkenalan akhirnya menemukan jalan. Dia meng geleng.


76 Memanah Bintang di Tambasa “Kau sekolah di mana?” tanya Rahman berbasa-basi. Aditya memperlihatkan tulisan nama sekolah di kaus olahraga yang dikenakannya. Rahman memperhatikan tulisan nama sekolah itu seperti melihat potongan kue tar berlapis coklat yang hanya sesekali saja bisa dia cicipi. Dia pernah membayangkan menjadi anak orang kaya dan bisa sekolah di tempat Aditya. Seragam nya kerenkeren, bukan hanya putih-merah hati, Pramuka, dan olahraga. Ada yang kotak-kotak dengan warna cerah, bahkan untuk hari Rabu bisa mengenakan seragam warna asal kan model koko. Tentang seragam keren-keren ini, dia sering berpapasan dengan siswa-siswa swasta itu dan sudah menjadi bahan cerita yang menarik di sekolahnya. “Kalau kamu?” “Saya di SD negeri yang di blok sebelah,” jawab Rahman sambil menunjuk ke arah kantor pos di persimpangan pertama masuk kompleks perumahan.


Hari - Hari Mimpi 77 “Aditya!” ucap Aditya sambil mengulur tangan. Bukan hanya nama, dia juga menyebut blok dan nomor rumahnya. Rahman benar-benar tak kesulitan untuk mendapatkan teman kali ini karena Aditya yang aktif. “Rahman!” ucapnya singkat. Tatapan Aditya sangat jelas masih meminta jawaban. Seperti halnya dia yang menyebut alamat rumahnya, dia pun menginginkan itu dari Rahman. Pertandingan futsal telah usai sebabak, pemain sudah tukar posisi, mereka baru sadar itu ketika para pendukung pemain ikutan tukar tempat. Mereka berdua masih di bawah pohon palem tinggi yang pelepahnya tinggal beberapa karena sudah termakan usia. “Saya tinggal di Tambasa,” Rahman bersuara lagi ketika dia tahu Aditya meminta hal yang sama.


78 Memanah Bintang di Tambasa “Wowww….” Rahman mengerutkan kening melihat eks presi Aditya yang tak biasa itu. “Apanya yang wow?” “Dulu waktu kecil, ayah sering membawa saya keliling kompleks dan biasanya terus ke Tambasa dan Kampung Parang.” “Lalu apanya yang wooww?” Rahman masih mengerutkan kening. “Saya suka suasana kampungnya. Saya seperti pulang kampung setiap memasuki lorong-lorong Tambasa ataupun Kampung Parang.” Rahman terdiam. Mungkin dia berpikir itu aneh. Tak ada yang menarik di Tambasa, kampung nya. Sama seperti halnya dengan Kampung Parang. Semua hal yang menarik bahkan selalu dimimpimimpikannya akan tinggal di sana adalah di Perdos. Mendengar nama kompleksnya saja, dia seperti melambung ke langit ke tujuh. Perdos, Perumahan Dosen.


Hari - Hari Mimpi 79 Meski tidak semua rumah di kompleks ini adalah rumah megah, tapi bagi Rahman, rumahrumah di Perdos adalah rumah impiannya. Apalagi, di kompleks ini, banyak dihuni profesor, juga ada rumah pribadi mantan Gubernur Sulsel yang dulu adalah Bupati Bantaeng. Rahman sering bersepeda di jalan raya depan rumah pak gubernur sambil membayangkan dia bisa berada di dalam rongga rumah mewah itu. Untuk kebiasaan bersepeda di depan rumah pak gubernur ini, Rahman sering ditegur ayahnya saat kedapatan. Pastinya, dia akan mudah kedapatan karena ayahnya yang tukang bentor sering mangkal di persimpangan jalan dekat rumah pak gubernur. Agar tak kedapatan, ketika ayah nya pulang istirahat siang, dia mengambil sepedanya demi melintas dan melihat rumah pak gubernur. Rahman, yang kini duduk di kelas VI, sering mengkhayal jika ayahnya yang tukang bentor bukanlah ayah kandungnya tapi sebenarnya adalah anak orang kaya, mungkin anak dosen,


80 Memanah Bintang di Tambasa yang tertukar saat lahir di rumah sakit. Namun, tentu saja itu benar-benar hanyalah khayalan. Meski dia tahu itu khayalan, dia tak pernah bosan apalagi sakit hati jika dia mendapati semua mimpimimpinya hanyalah khayalan. Gurunya pernah menyampaikan di depan kelas, orang-orang yang sekarang adalah kaya, kebanyakan di antara


Hari - Hari Mimpi 81 mereka adalah orang miskin di masa kecilnya, tapi punya banyak mimpi. Ketika mendapatkan teman-temannya yang anak orang kaya, mubazir dan berlebih-lebihan dalam menggunakan uang jajan, dia berharap itu adalah cara mereka untuk jatuh miskin. Lalu, Tuhan berkata bahwa, kini giliran kamu, Rahman. “Kamu ternyata suka mengkhayal!” Rahman tersenyum malu-malu saat kedapa tan melamun. “Oh iya, kamu yang beberapa hari yang lalu hampir tertabrak mobilku gara-gara mengkhayal di jalanan kan?” Rahman baru sadar jika Aditya yang di depannya, adalah anak orang kaya yang selama ini diincar rumahnya untuk sekadar dilihat-lihat dan dikagumi kemegahannya. Dia semakin senang dan bangga bisa punya teman anak orang kaya seperti Aditya. “Oooh…. Iya ya. Saya baru ingat kejadian itu. Saya juga baru tau kalau itu adalah kamu,” ucapnya malu-malu.


82 Memanah Bintang di Tambasa “Kapan-kapan kamu jalan-jalan ke rumahku, ya! Kita main sama.” “Serius? Kamu ndak bercanda kan? Bener ya saya boleh main ke rumahmu?” serang Rahman serius. Baginya ini bukan sekadar ajakan jalan-jalan, tapi juga ajakan untuk mewujudkan salah satu mimpinya. Melihat respons Rahman yang se - antusias itu, dia membayangkan dirinya saat pekan lalu diajak ke Inggris oleh ayahnya. Aditya ter kekeh melihat wajah Rahman yang masih juga seperti menang undian. “Kamu kok ketawa? Kamu hanya basa-basi ya?” Kegembiraan Rahman menguap seperti gas. Untunglah Aditya bisa mengembalikan aura bahagia nya. “Siapa yang basa-basi? Saya serius kok. Tapi jangan hari ini ya! Saya mau lanjut ke bimbingan belajar dulu.”


Hari - Hari Mimpi 83 “Siap. Saya menunggu. Tapi, gimana ya caranya kita bisa ketemu lagi?” ucap Rahman yang tibatiba murung lagi. “Kamu boleh datang ke tempat bimbelku di Perintis Delapan. Saya hampir tiap sore di sana. Jika kondisinya sudah memungkinkan, saya dengan senang hati akan mengajakmu ke rumahku.” “Kondisinya memungkinkan?” “Iya. Ayah dan Ibu saya, ndak sembarang menerima teman bermain di rumah. Saat ada teman di rumah, ayah atau ibu harus ada di rumah.” Rahman mengangguk-angguk. “Jadi, kamu ndak pernah main sendiri di luar rumah?” Giliran Aditya mengangguk. “Terus, sekarang kenapa ada di sini?” “Tukang bentor langganan saya, yang antar. Dia nongkrong di pos satpam sana,” ucap Aditya sambil menunjuk ke arah pos satpam di sudut lapangan.


84 Memanah Bintang di Tambasa “Ndak bisa dong saya ke rumahmu kalau gitu.” “Makanya saya bilang, kalo kondisi memungkinkan. Pokoknya, saya janji akan membawa kamu main ke rumah saya.” Rahman tersenyum ceria. Sangat jelas jika dia sangat senang dengan ajakan Aditya. Dia seperti memenangkan undian jalan-jalan ke tempat wisata yang belum pernah dikunjunginya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya sebatas khayalan, ternyata akan terwujud. Di antara beberapa rumah megah di Perdos yang selalu di pelo totinya setiap lewat di depannya, ada tiga rumah yang seolah menariknya masuk men jelajahi setiap jengkal isinya. Pertama, rumah pribadi pak gubernur yang bersebelahan dengan Masjid Ikhtiar. Kedua, sebuah rumah di dekat kompleks sekolahnya. Rumah itu memiliki tiang depan yang tinggi men-


Hari - Hari Mimpi 85 julang dan selalu terparkir sekurang-kurang nya tiga mobil di pekarangannya. Ketiga, rumah megah dengan patung elang besar di balkon lantai duanya. Rumah berpatung elang ini hampir setiap hari dia lalui depannya karena me rupakan jalan utama masuk dan keluar Tambasa, kampungnya. Dan, siapa sangka jika rumah Aditya adalah rumah kedua yang selama ini selalu dia bayangkan, kini dia masuki dan menjadi penghuninya, meskipun dengan diam-diam. Melihat sofa empuknya, lantai porselen yang me ngilap, kain gordennya yang senada dengan semua isi rumah, dan banyak lagi yang selama ini hanya bisa dilihatnya di sinetron. Kini, dia sudah ada di rongga rumah kedua itu. Meninggalkan rumah panggungnya di Tambasa, meninggalkan ayah dan ibunya yang pasti mencarinya.


86 Memanah Bintang di Tambasa Semua fasilitas yang ada di rumah Aditya, membuatnya lupa pada sekolahnya, lupa pada ayah dan ibunya. Terlebih lagi, lupa jika hal yang dilakukan nya itu sangatlah tak terpuji. Pergi dari rumah tanpa izin.


Tambasa 87 T ak ada yang tahu pasti arti kata Tambasa selain bahwa itu adalah nama kampung. Tambasa berada tepat di belakang Perumahan Dosen Universitas Hasanuddin. Selain Tambasa, juga ada Kampung Parang. Beda dengan Kampung Parang, ia punya arti. Parang dalam bahasa Makassar berarti lapangan yang luas. Dulu, sebelum Perumahan Dosen Unhas ini dibangun, daerah ini adalah lapangan yang luas. Ketika tanah terjual ke pihak pengembang Tambasa


88 Memanah Bintang di Tambasa perumahan, orang-orang Tambasa menyingkir ke belakang. Jauh ke belakang. Tak ada lagi di belakangnya kecuali Sungai Tello yang kelokannya membelah Makassar. Jika musim hujan datang, seluruh kompleks perumahan yang berada di sekitar sungai ini, akan tergenangi air. Tambasa dan Perdos adalah dua hal yang sangat kontras. Seperti dua kutub, yang saling berjauhan. Jika itu kutub magnet, meski ber dekatan, mereka


Tambasa 89 tak akan bisa bertemu. Jika diibaratkan, Perdos itu full color sedangkan Tambasa adalah hitam putih. Tak ada tembok tinggi yang membatasi, hanya sebuah jalan ber aspal, tapi per bedaannya seperti langit dan bumi. Jalan raya di manapun di dunia ini hanya memisahkan sisi kiri dan kanan tapi jalan raya yang membatasi Tambasa dan Perdos, lebih daripada itu. Ia tak hanya memisahkan sisi kiri dan kanan tapi juga golongan atas dan golongan bawah. Untuk sampai di Tambasa harus melewati kompleks Perdos yang penampakannya megah, halaman luas dan beberapa di antaranya dengan garasi yang dihuni mobil-mobil mengilap. Namun, begitu menyeberangi jalan raya yang men jadi pembatas ‘langit dan bumi’ ini, peman dangan akan berubah tiba-tiba. Rumah dengan halaman sempit, ayam dan bebek berkeliaran di jalan, beberapa rumah panggung khas Makassar masih berdiri kokoh, juga anak-anak kecil yang berkeliaran bebas tanpa takut diculik.


90 Memanah Bintang di Tambasa Namun, sejak menghilangnya Rahman dari rumah, jalanan sepi dari anak-anak kecil. Semua orang tua melarang anaknya berkeliaran di jalanan karena takut ada penculik anak. Tak ada satu pun warga Tambasa, termasuk kedua orang tua Rahman, yang berpikir bahwa Rahman kabur dari rumah. Semua menganggap Rahman diculik. Di sekolah, guru dan teman-temannya merasa kehilangan. Hari pertama menghilang, ayahnya masih meng anggap bahwa dia asyik bermain sepeda keliling Perdos seperti yang selalu dilakukannya selama ini. Saat malam belum juga pulang ke rumah, ayahnya menganggap dia menginap di rumah sepupu nya di Kampung Parang karena memang dia biasa menginap di sana. Dua hari setelah tak pulang ke rumah, barulah ayah dan ibunya panik. Seisi Tambasa dan Kampung Parang sibuk mencari dan bertanya. Rahman tak pulang. Hilang.


Tambasa 91 Dengan menggunakan bentor, ayahnya berkeliling, kadang dia mendatangi tempat yang sama untuk bertanya, siapa tahu ada yang pernah melihat Rahman. Selain di Kampung Parang, ujung jalan masuk Perdos, yakni Jalan Perintis Kemerdekaan VIII, juga sebuah kampung yang disebut Kampung Pasar karena dulunya ada pasar di sana, juga selalu didatangi ayahnya untuk mencari Rahman. Semua prihatin, berharap dalam cemas Rahman bisa kembali. Ayahnya, hampir setiap hari, bukan hanya sekali, melewati jalan depan rumah Aditya untuk mencarinya. Setiap malam, rumah Rahman selalu ramai dikunjungi keluarga dekat maupun keluarga jauh dari Kampung Parang dan Kampung Pasar, bahkan dari Kera-kera, sebuah perkampungan di samping kampus Unhas. Kera-kera, Tambasa, Kampung Parang dan Kampung Pasar memang masih serumpun. Setelah Perdos dibangun mereka berpencar mencari lahan baru untuk dihuni. Kerabat


92 Memanah Bintang di Tambasa serumpun itulah yang selalu datang me nyemangati ibu dan ayah Rahman yang sangat terpukul dengan kehilangan anak laki-lakinya. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, Rahman memang sangat disayang. Umur Syarif, kakaknya, beda jauh dengannya. Kakaknya sudah kuliah semester delapan. Kuliah dengan bea siswa tidak mampu, di Unhas. Pulang kuliah, awalnya, Syarif biasanya menggantikan ayahnya membawa bentor saat pulang kuliah siang tapi belakangan dengan alasan banyak sibuk urus skripsi, dia sering pulang malam. Jiwa pemimpi Rahman, didapatkan dari kakaknya ini. Setiap Rahman ada di rumah dan Syarif tidak sedang ke kampus, dia selalu menyemangati adiknya untuk belajar. “Saya dan kamu yang harus mengubah Tambasa ini menjadi Perdos. Kelak saya dan kamu akan punya rumah megah di Perdos. Saya akan


Tambasa 93 menjadi dosen dan membeli rumah paling megah di Perdos. Kamu juga, kelak jadi apa pun kamu, pulanglah dan beli rumah di Perdos.” Entah berapa kali Syarif mengucapkan kalimat itu, telah bertahun-tahun. Hingga cita-citanya tak ada yang lain kecuali menjadi dosen lalu berumah di Perdos. Kalimat-kalimat itulah yang membuat kakinya tak pernah pegal me ngayuh sepeda keliling Perdos, hanya untuk memilih-milih rumah yang kelak akan dia beli setelah sukses nanti. “Kalo kita sudah punya rumah di Perdos, bagaimana rumah kita yang di Tambasa ini?” “Tenang! Kita memang berumah di Perdos tapi kita tetap membangun Tambasa. Bukan hanya mem bangun rumah, tapi juga anak-anak Tambasa harus kita besarkan dengan cita-citanya.” Untuk kalimat yang ini, Rahma sulit mencernanya. Bagi Rahman, membangun anakanak itu, bagaimana caranya? Sementara Syarif, dia selalu miris melihat kebanyakan anak-anak


94 Memanah Bintang di Tambasa Tambasa putus sekolah dengan kendala biaya. Lebih memilih mewarisi pekerjaan ayahnya sebagai tukang bentor daripada sekolah. Prinsip anak-anak sama dengan orang tua kebanyakan di Tambasa, bahwa dengan menjadi tukang bentor bisa langsung menghasilkan uang. Akhirnya, cap pengangguran, tawuran, hingga geng motor sering dilabelkan pada anak-anak Tambasa. Kak Syarif yang paling depan berdiri menentang itu. Menurutnya, pe ngangguran memang ada di Tambasa tapi tetap tak boleh mengidentikkan pengangguran sebagai geng motor. Seolah tak ada harapan yang bisa tumbuh di Tambasa. Syarif bertekad untuk membuktikan bahwa bukan hanya yang patah akan tumbuh kembali tetapi juga yang tak pernah ada. Rahman kemudian menjadi korban dari semangat Kak Syarif yang menyala-nyala. Pulang sekolah, silakan tetap punya jadwal untuk keliling


Click to View FlipBook Version