(a)
(b)
Gambar 2. 111 Daya mengalir melalui rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar (b)
(a) PB1 tidak ditekan dan (b) PB1 ditekan.
Pada gambar 2.112 kondisi input NC telah diprogram sebagai instruksi NO. selama
beropersi jika PB1 tidak ditekan, modul input 10 akan dibaca pada status kondisi ON.
Ketika prosesor PLC mengevaluasi rung, hasil pengujian dari kondisi ON pada
referensi alamat 10 adalah „TRUE‟. Oleh karena itu, kontak 10 akan menutup dan
memberikan daya ke rung, sehingga mengidupkan output 100 dan PL1 ON.
Sebaliknya, jika PB1 ditekan, input akan mempunyai status OFF dan prosesor akan
menyimpan logika „0‟ di table input. Selama evaluasi dari rung, prosesor akan
mendapatkan hasil pengujian dari kondisi ON pada alamat referensi 10 menjadi OFF
(input 10 OFF), dan kontinuitas tiak akan terjadi karena kontaknya masih teap terbuka,
dengan demikian output 100 dalam keadaan OFF dan PL1 juga OFF.
(a)
(b)
Gambar 2. 112 Daya mengalir melalui rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar (a)
169
(a) PB1 tidak ditekan dan (b) PB1 ditekan.
Solusi pemrograman untuk hubungan input NC seperti ditunjukkan pada gambar 2.112
adalah sebuah contoh untuk peralatan input yang mempunyai kontak NC ketika
dihubungkan, maka harus deprogram sebagai sebuah instruksi kontak NO. Input diskrit
ke PLC dapat dibuat untuk beraksi sebagai kontak NC sebagaimana aslinya.
Kemampuan untuk menguji sebuah peralatan tungga untuk keadaan terbuka atau
tertutup adala kunci dari kefleksibelan PLC, tidak merupakan masalah bagaimana
beralatan dirangkai dan dikawati (NO atau NC),PLC dapat deprogram untuk
menampikan aksi sesuai dengan keinginan tanpa mengubah pengawatan. Ingat bahwa
pernyataan pemrograman dari sebuah input tergantung tidak hanya pada bagaimana
peralatan dikawati, tetapi juga pada aksi kontrol yang diinginkan. Contoh erikut
menunjukkansebuah kasus yag mana pemrograman PLC dari sebuah tombol tekan
dengan dua buah kontak yang berbeda tergantung pada kontak yang mana yang
dihubungkan ke modul.
Contoh 2-6:
Gambar berikut menunjukkanimplementasi logika kontrol rele yang hanya
menggunakan hanya satu buah tombol tekan. Jelaskan operasi dari rangkaian kontrol
tersebut.
(a) kontak NO dihubungkan ke modul input
(b) kontak NC dihubungkan ke modul input.
Solusi:
(a) Berdasakan gambar 2.113 tersebut, maka jika PB1 tidak ditekan PL1 harus OFF
dan PL2 harus ON. PL2 ON karena kontak yang lain dari PB1 memberi daya ke
PL2. Kita dapat mengawati dua hubungan yang mana saja (A atau B) ke modul
input untuk memenuhi logika yang dikehendaki. Ingat bahwa kita dapat membuat
kontak apa saja beraksi sebagai yang kita inginkan dalam program PLC apakah itu
NO atau NC.
170
Gambar 2. 113 Logika kontrol rele untuk contoh 2-6
(b) gambar 2.114 menunjukkansolusi untuk hubungan kontak NO. Instruksi NO
mengendalikan PL1 dan instruksi NC mengendalikan PL2. Ketika PB1 tidak
ditekan, PL1 akan OFF dan PL2 ON. Tombol tekan PB1 pada rung pertama
terpasang dan beraksi sebagai tombol tekan NO dan pada rung kedua beraksi
sebagai tombol tekan NC.
Gambar 2. 114 Implementasi NO dari gambar 2.113
(b) Gambar 2.115 menunjukkansolusi rangkaian untuk hubungan kontak NC. Pada
solusi ini, instruksi NC mengendalikan PL1. Selama operasi PB1 akan memberikan
daya ke input jika tidak ditekan, oleh karena itu referensi alamat 10 logikanya
adalah „1‟. Kontak NC dengan alamat 10 akan terbuka sepanjang PB1 tidak ditekan
dan menjaga PL1 (output 30) tetap OFF. Pada rung kedua instruksi NO
mengendalikan output PL2 (31) akan tetap tertutup sepanjang PB1 tidak ditekan.
Pada rung pertama terpasang tombol tekan yang beraksi sebagai NO, sementara
pada rung kedua beraksi sebagai NC.
171
Gambar 2. 115 Implementasi NC pada dari gambar 2.113
Seperti diilustrasikan pada contoh sebelumnya, input NO dapat deprogram di PLC
untuk menjadi seperti peralatan yang mempunyai kontak NC dan sebaliknya. Oleh
karena itu untuk alas an keamanan, peralatan input NC harus dikawati ke modul
input sebagai peralatan NC dan kemudian deprogram untuk beraksi sebagai
peralatan NC. Pengawatan peralatan NO tidak boleh deprogram untuk beraksi
sebagai peralatan NC, khususnya jika akan digunakan untuk memutus kontinuitas
ketika peralatan ditekan atau ditutup.
Gambar 2.16 menunjukkansebuah contoh tombol tekan STOP dengan kontak NC yang
digunakan untuk memberhentikan aliran daya ke motor. Selama operasi, ketika tombol
tekan „START‟ ditekan, maka kontak internal motor (100) tertutup dan motor akan
ON (lihat gambar 2.116). Kontak NC tombol tekan „STOP‟ akan memutus kontinuitas
daya ke motor melalui kontak kumparan output, hanya dengan menekan tombol tekan
„STOP‟ inilah motor dapat dihentikan (lihat gambar 2.117). Akan tetapi jika kabel
penghubung dari kontak tombol tekan ke modul input terputus, rangkaian motor juga
akan terputus (lihat gambar 2.119).
Operasi logika yang sama juga dapat diperoleh denggan menggunakan tombol tekan
PB dengan kontak NO dan mengimplementasikannya sebagai rangkaian NC dalam
program PLC lihat gambar 2.120. Ketika tombol tekan „START‟ ditekan, motor ON,
jika tombol tekan „STOP‟ ditekan, motor OFF (lihat gambar2.121). Namun demikian
tidak ada jalan untuk menghentikan motor jika kawat penghubung tombol tekan yang
menuju ke terminal kita putus (lihat gambar 2.123). Hanya ada satu cara untuk
menghentikan motor yaitu dengan mematikan seluruh daya yang diberikan ke sisitem
PLC.
172
Gambar 2. 116 Tombol stop kontak NC
(a) tombol tekan NC diprogram sebagai NO. kontak 100 digunakan sebagai sebuah
interlock dengan tombol tekan start setelah tombol start ditekan. Ketika tombol
tekan start ditekan, motor ON.
Gambar 2. 117 Tombol stop ditekan
(b) Setelah tombol tekan start ditekan dan dilepas lagi, motor masih tetap ON.
Gambar 2. 118 Motor tetap ON
(c) jika tombol tekan stop ditekan sementara motor dalam keadaan ON, maka motor
akan OFF
Gambar 2. 119 Kabel penghubung kontak NC putus
(d) jika hubungan tombol tekan stop putus sementara motor ON, motor akan tetap ON.
Gambar 2. 120 Tombol tekan stop NC diprogram sebagai NO
173
(a) Tombol tekan stop NO diprogram sebagai NC. Ketika tombol tekan strat ditekan,
motor ON
Gambar 2. 121 Tombol start ditekan
(b) Setelah tombol start ditekan dan dilepas lagi, motor masih teap ON
Gambar 2. 122 Motor tetap ON ketika tombol start dilepas
(c) Jika tombol tekan stop ditekan sementara motor ON, maka motor akan OFF
(d) Jika hubungan tombol tekan stop putus sementara motor ON, dengan menekan
tombol tekan stop, maka motor tidak akan OFF. Ini adalah situasi yang berbahaya.
Gambar 2. 123 Kabel penghubung kontak NO putus
D. Pemrograman Timer dan Counter
Timer dan counter PLC adalah instruksi internal yang berfungsi sama seperti perangkat
keras timer pada umumnya. Timer akan atif atau tidak aktif setelah interval waktu
tertentu terlampaui atau hitungan waktu telah tercapai nilai preset-nya. Instruksi timer
dan counter umumnya dilengkapi dengan internal output.
Instruksi timer mungkin mempunyai satu atau lebih dengan apa yang disebut dengan
dasar waktu (time base) time base adalah merupakan resolusi atau akurasi dari timer.
Sebagai contoh, jika timer menginginkan di-set pada rentang waktu 10 detik, maka kita
174
harus memilih jumlah waktu dari dasar waktu yang harus dihitung hingga mencapai 10
detik. Oleh karena itu, jika timer mempunyai time base 1 detik, kemudian timer harus
menghitung 10 kali sebelum timer mengaktifkan outputnya. Time base yang umum
digunakan adalah 0.01 detik, 0,1 detik dan 1 detik. Table 2.20 menunjukkanjumlah
hitungan yang diperlukan untuk mencapai 10 detik dengan time base yang berbeda-
beda.
Tabel 2. 20 Dasar waktu
Waktu Yang Dikendaki Jumlah Hitungan Time Base
10 detik 10 1,00
10 detik 100 0,10
10 detik 1000 0,01
Waktu yang dikehendaki = jumlah hitungan x time base
Timer digunakan dalam aplikasi untuk melakukan penundaan pada sebuah output
dalam program. Aplikasi timer PLC dilapangan sangat banyak sejak timer ini telah
menggantikan perangkat keras timer dalam system kontrol. Sebagai contoh mungkin
timer digunakan untuk kontrol tunda waktu 0,01 detik, maka disini program kontrol
memerlukan tunda waktu karena PLC menghidupkan outputnya sangat cepat jika
dibandingkan dengan perangkat keras timer berbasis rele.
Instruksi counter digunakan untuk minghitung kejadian, seperti komponen atau benda
yang lewat di konveyor, jumlah berapa kali solenoid ON dan sebagainya. Counter
sama dengan timer, yaitu mempunyai dua nilai: nilai preset dan nilai akumulasi. Nilai
ini disimpan dalam lokasi register atau word dalam table data. Nilai preset adalah
jumlah target hitungan yang harus dicapai sebelum timer atau counter outputnya ON.
175
Nilai akumulasi adalah jumlah hitungan yang setelah counter selesai menghitung
selama counter beroperasi.
Nilai preset disimpan dalam sebuah register, sementara nilai yang terakumulasi
tersimpan pada register akumulasi. Kedua register tersebut harus didefinisikan selama
pemrograman dari instruksi timer tersebut.
1. Instrukasi Timer
PLC menyedakan beberapa jenis instruksi timer. Namun demikian beberapa pabrik
pembuat PLC mempunyai definisi yang berbeda untuk setiap jenis fungsi timer.
Tabel 2. 21 Instruksi Timer
Instruksi Timer
Instruksi Simbol Fungsi
ON – Delay Energize
TON Mengaktifkan output flag setelah
ON – Delay De-energize
perioda waktu yang telah ditetapkan
OFF – Delay Energize (ketika logikanya timer „1‟)
OFF – Delay TON Menonaktifkan output flag setelah
De-energize
Rententive ON – Delay perioda waktu yang telah ditetapkan
(ketika logikanya timer „1‟)
Rententive Timer Reset
TOF Mengaktifkan output flag setelah
perioda waktu yang telah ditetapkan
(ketika logikanya timer „0‟)
TOF Menonaktifkan output flag setelah
perioda waktu yang telah ditetapkan
(ketika logikanya timer „0‟)
RTO Mengaktifkan output flag setelah
perioda waktu yang telah ditetapkan
(ketika logikanya timer „1‟) dan
kemudian mempertahankan nilai
akumulasinya
RTR Me-reset nilai akumulasi dari
retentive timer
176
Fungsi dari beberapa macam instruksi timer pada dasarnya sama, perbedaannya
hanya pada jenis output yang disediakan. Gambar 2.124 mengilustrasikan dua buah
format yang digunakan untuk timer. Sebuah blok format timer mempunyai satu atu
dua buah input, tergantung pada PLC. Input ini disebut dengan contro line (garis
kontrol) dan reset line. Jika control line „TRUE‟ dan reset line juga „TRUE‟, maka
blok fungsi akan mulai menghitung waktu. Sebuah format ladder timer umumnya
mempunyai hanya satu input, yaitu control line. Jika control line ON, maka timer
akan mulai menghitung waktu.
(a) (b)
Gambar 2. 124 (a) Instruksi timer format blok dan (b) Instruksi timer format ladder
Kedua jenis format timer tersebut adalah sama-sama menggunakan register preset
untuk mempertahankan nilai preset-nya dan sebuah register akumulasi untuk
menyimpan nilai akumulasinya. Beberapa PLC mengijinkan pengguna untuk
memasukkan nilai konstanta secara langsung ke timer untuk men-set nilai preset-
nya. Oleh karena itu, nilai ini harus dimasukan kedalam register untuk alamat
spesifik timer.
177
Dasar waktu (time base) dari timer dapat dipilh tergantung pada time base yang
digunakan dalam PLC tersebut (0,01 detik, 0,1 detik, atau 1 detik). Jika nilai
akumulasi hitungan sama dengan hitungan nilai preset-nya, timer akan
mengeksekusi fungsi waktunya dan men-set kondisi outputnya, yang mana
tergantung pada jenis timer yang digunakan.
TON Energize
Sebuah instruksi output ON-delay (TON) menyediakan aksi tunda waktu, sekali di
rung ada kontinuitas, timer mulai menghitung interval time base dan menghitung
sampai akumulasi waktu sama dengan waktu preset-nya. Ketika kedua nilai
tersebut sama, timer akan mengaktifkan outputnya dan akan menutup kontak yang
terkait dengan alamat output timer tersebut.
Gambar 2. 125 Instruksi timer ON-delay energize
TON De-Energize
Sebuah instruksi TON de-energize beroperasi mirip dengan instruksi TON
energize, bedanya bahwa outut timer ini sudah ON. Instruksi ini output-nya tidak
aktif apabila di rung ada kontinuitas dan interval waktunya telah berakhir (nilai
178
register akumulasi = nilai register preset-nya). Gambar 2.26 mengilustrasikan
sebuah diagram waktu untuk kedua jenis timer tersebut.
Gambar 2. 126 Diagram waktu untuk (a) timer ON-delay energize dan
(b) timer ON-delay de-energize.
TOF Energize
Instruksi output TOF energize menyediakan aksi tunda waktu. Jika rung tidak
mempunyai kontinuitas, timer mulai penghitungan interval time-base sampai nilai
waktu akumulasi sama dengan nilai preset yang diprogramkan. Ketika nilai ini
sama, timer mengaktifkan output tunda waktu (delay) yang terkait dengan output
timer tersebut (lihat gambar 2.127). Kontak tunda waktu dapat digunakan di dalam
program baik berupa NO maupun NC. Jika kontinuitas terjadi sebelum mencapai
waktu preset-nya, nilai akumulasiny kembali ke nol.
179
Gambar 2. 127 Instruksi timer OFF-delay energize
TOF De-Energize
Instruksi TOF de-energize mirip dengan TOF energize, namun demikian output
timer ini ON dan akan di non-aktifkan ketika rung kehilangan kontinuitas dan
interval waktu telah berakhir (nilai register akumulasi = nilai register preset).
Gambar 2.128 menunjukkandiagram waktu untuk kedua jenis TOF tersebut.
Gambar 2. 128 Diagram waktu untuk (a) timer OFF-delay energize dan
(b) timer OFF-delay de-energize.
Retentive TON
Instruksi output timer retentive ON-delay (RTO) digunakan jika nilai akumulasi
timer harus mempertahankan meskipun kontinuitas atau dayanya hilang. Jika alur
rung mempunyai kontinuitas logika, timer mulai menghitung interval time-base
sampai waktu akumulasi sama dengan nilai preset-nya. Register akumulasi
mempertahankan nilai yang terakumulasi ini, meskipun daya atau logika
180
kontinuitas hilang sebelum waktu timer berakhir. Ketika waktu yang terakumulasi
sama dengan waktu preset-nya, timer mengaktifkn output dan menghidupkan (ON)
kontak tunda waktu yang terkait dengan output. Kontak timer ini dapat digunakan
program baik kontak NO atau NC-nya. Retentive timer reset me-reset nilai
akumulasi dari timer retentive.
Retentive Tmer Reset
Instruksi output retentive timer reset (RTR) adalah hanya cara untuk secara
otomatis mereset nilai akumulasi dari timer retentive. Jika pada rung terdapat
logika kontinuitas, kemudian instruksi ini me-reset nilai akumulasi dari retentive
timer menjadi nol (alamat retentive reset timer akan sama dengan alamat instruksi
output timer retentive).
Berikut ini adalah instruksi timer yang mengacu pada dua buah merek PLC Siemens
dan OMRON:
a. Instrusi Timer (Siemes S7-200)
Timer dengan resolusi 1 mdetik, bit dari timer dan nilai saat ini di perbaharui
secara tidak serempak dalam suatu siklus scan. Untuk scan yang melebihi 1
mdetik, bit timer dan nilai saat ini diperbaharui beberapa kali secara lengkap
dalam siklus scan.
Untuk timer dengan resolusi 10 mdetik, bit timer dan nilai saat ini
diperbaharuhi pada saat awal setiap siklus scan. Bit timer dan nilai saat ini tetap
konstan selama satu siklus scan dan interval waktu yang terakumulasi selama
scan ditambahkan ke nilai pada saat mulai dari setiap scan.
Untuk timer dengan resolusi 100 mdetik, bit timer dan nilai saat ini
diperbaharuhi ketika instruksi dieksekusi, oleh karena itu untuk meyakinkan
instruksi program untuk timer 100 mdetik hanya sekali tiap siklus scan agar
supaya timer mempertahankan timing yang benar.
181
Tabel 2. 22 Resolusi dan Jumlah Timer
Jenis Timer Resolusi Nilai Maksimum Jumlah Timer
TONR 1 mdetik 32.767 detik T0 sampai T60
(Retentive)
10 mdetik 32.767 detik T1 sampai T4, T65 sampai T68
TON, TOF
(non-retentive) 100 mdetik 32.767 detik T5 sampai T31, T69 sampai 95
1 mdetik 32.767 detik T32 sampai T96
10 mdetik 32.767 detik T33 sampai T36, T97 sampai T100
100 mdetik 32.767 detik T37 sampai T63, T101 sampai 225
(a)
(b)
Gambar 2. 129 Timer Delay-ON
182
(a)
(b)
Gambar 2. 130 Timer Delay-OFF
183
Gambar 2. 131 Timer retentive delay-ON
b. Instrusi Timer (OMRON CPM1)
Dalam timer parameter SV (Set Values) adalah antara 000.0 dan 999.9. Setiap
nomor TC hanya dapat dipakai untuk satu instruksi TIMER atau COUNTER.
Nomor yang dipakai untuk TC pada PLC jenis CPM1 adalah dari nomor 000
s.d. 127.
184
TC 000 sampai TC 003 dalam PLC jenis CPM1 tidak digunakan untuk TIM
namun digunakan untuk TIMH(15)-HIGH SPEED TIMER.
TIMER akan aktif apabila kondisi eksekusi ON dan akan reset apabila kondisi
eksekusi OFF. Sekali TIMER diaktifkan maka TIMER akan menghitung waktu
dengan pengurangan nilai 0.1 mulai dari nilai SV-nya. Jika kondisi eksekusi
tetap ON hingga nilai setnya mencapai nol Flag Timer nomor tersebut akan
ON dan akan tetap On sampai timer di reset kembali.
Simbol Ladder Definer Values
TIM N N : TC number
SV
#
Operand Data Area
SV : Set value (word, BCD)
IR, SR, AR, DM, HR, LR, #
Kondisi ON
eksekusi OFF
ON
Flag
OFF
SV SV SV
Gambar 2. 132 Instruksi timer CPM1A
2. Instruksi Counter
Terdapat dua jenis counter, yaitu: count up (hitungan maju) dan count down
(hitungan mundur). Tergantung pada PLC-nya, format dari counter ini mungkin
bervariasi. Beberapa PLC menggunakan format ladder (kumparan output),
sementara yang lain menggunakan blok fungsi. Gambar 2.133 menunjukkan kedua
185
buah format counter tersebut dan tabel 2.23 menunjukkan instruksi timer pada
umumnya.
Gambar 2. 133 (a) Instruksi counter format blok dan (b) Instruksi counter format ladder
Tabel 2. 23 Instruksi Counter
Instruksi Timer
Instruksi Simbol Fungsi
Up Counter
CTU Nilai register yang terakumulasi
bertambah setiap waktu terjadi
186
Down Counter CTD kejadian
Counter Reset CTR
Nilai register yang terakumulasi
berkurang setiap waktu terjadi
kejadian
Me-reset nilai yang terakumulasi
dari sebuah up atau down
counter
Up Counter
Sebuah instruksi output up counter (CTU) menambah hitungan (bertambah satu)
setiap saat terjadi suatu kejadian (input menerima sinyal). Pada aplikasi kontrol,
counter ini akan ON atau OFF setelah mencapai hitungan tertentu (nilai preset yang
ada di register preset-nya).
Counter ini dapat menghitung obyek benda atau bagian benda (botol, bagian mesin,
dsb) yang meleati titik tertentu. Sebuah up counter bertambah nilai akumulasinya
setiap saat terjadi suatu kejadian dan membuat transisi dari OFF ke ON. Ketika
nilai akumulasinya mencapai nilai presetnya, counter menghidupkan output, dan
kemudian mengakhiri hitungannya dan menutup kontak yang terkait dengan output
yang direferensikan. Setelah counter mencapai nilai preset-nya, maka akan me-
reset register akumulasi ke nol atau melanjutkan hitungannya untuk setiap transisi
ndari OFF ke ON tergantung pada PLC.
Down Counter
Instruksi output sebuah down counter mengurangi nilai hitungan dengan satu pada
register akumulasinya setiap saat kejadian. Dalam praktek, sebuah don counter
digunakan dalam hubungannya dengan up counter untuk membuat bentuk counter
up/down, kedua counter tersebut mempunyai referensi register yang sama. Pada
up/downcounter, down counter menyediakan cara untuk mengkoreksi data yang di-
input oleh up counter. Sebagai contoh, sementara sedang melakukan hitungmaju
187
jumlah benda seperti botol yang sudah terisi misalnya yang melewati titik tertentu,
down counter dengan referensi alamat yang sama dapat mengurangi satu dari nilai
hitungan yang terakumulasi setiap saat jika mendeteksi botol yang kosong.
Tergantung pada PLC, down counter akan memberhentikan hitungan mundur
sampai nol atau sampai pada nilai maksimum negative tertentu. Dalam sebuah
instruksi format blok, penghitungan mundur terjadi setiap input counter transisi dari
OFF ke ON.
Berikut ini adalah instruksi counter yang mengacu pada dua buah merek PLC
Siemens dan OMRON:
a. Instruksi Counter (Siemes S7-200)
Oleh karena terdapat satu nilai saat ini (current value), maka jangan memberi
nomor alamat yang sama lebih dari satu counter (Up Counter, Up/Down
Counter dan Down counter dengan alamat yang sama).
(a)
188
Gambar 2. 134 Instruksi down-counter di PLC S7-200
a. Instrusi Counter (OMRON CPM2*)
COUNTER atau biasa disingkat dengan CNT digunkan untuk menghitung
mundur yang dimulai dari nilai SV-nya ketika kondisi eksekusinya beranjak
dari OFF ke ON.
Present Values (PV) nilainnya akan berkurang satu apabila CNT dieksekusi
dengan kondisi eksekusi ON pada CP (count pulse) . Jika kondisi eksekusi tidak
berubah atau telah berubah dari ON ke OFF nilai PV-nya akan tidak berubah.
FLAG dari counter akan ON apabila PV mencapai nilai nol dan akan tetap ON
dan akan OFF apabila counter di-reset.
189
Simbol Ladder Definer Values
CP N : TC number
CN N
#
R T
S Operand Data Area
V SV : Set value (word, BCD)
IR, SR, AR, DM, HR, LR, #
Kondisi ON
eksekusi On OFF
menghitung
pulsa (CP) ON
OFF
Kondisi
eksekusi
On reset ( R )
Flag ON
OFF
SV SV
PV SV-1 0002
SV-2 0001
0000
Gambar 2. 135 Instruksi counter di PLC OMRON CPM1A
Counter Reset
Instruksi output counter reset (CTR) me-reset nilai yang terakumulasi ke nol
dari up counter dan down counter. Ketika deprogram sebuah kumparan counter
reset mempunyai refernsi alamat yang sama yang terkait dengan kumparan
up/down counter. Jika kondisi rung counter reset adalah „true‟, instruksi reset
akan membersihkan referensi alamat tersebut. Garis reset pada format blok
instruksi counter men-set hitungan yang terakumulasi ke nol (register
akumulasi = 0). Gambar 2.136 mengilustrasikan rung blok format counter yang
dilengkapi dengan instruksi up, down dan reset. Counter akan menghitung maju
ketika kontak 10 menutup, menghitung mundur ketika kontak 11 mmenutup,
dan me-reset register 1003 ke „0‟ ketika kontak 12 menutup. Jika hitungan sama
190
dengan 15 sebagai hasil dari hitungan maju atau hitungan mundur, output 100
akan ON. Jika isi dari register 1003 lebih besar dari 15, maka output 101 akan
ON. Output 102 akan ON jika nilai hitungan yang terakumulasi kurang dari 15.
Gambar 2. 136 Blok fungsi instruksi dengan counter up, down, dan reset
Contoh 2-7:
Gambar 2.137 mengilustrasikan instruksi blok counter yang akan digunakan
untuk menghitung benda yang dideteksi oleh input yang berasal dari sensor
photoelectric. Nilai preset-nya adalah 500, modifikasi rangkaian ini agar
menjadi reset secara otomatis setiap kali conter mencapai nilai preset-nya (500).
Juga tambahkan instruksi untuk mengimplentasikan sebuah kumparan output
yang mengindiasikan bahwa counter telah mencapai 500.
Gambar 2. 137 Instruksi counter blok fungsi
191
Solusi:
Gambar 2.138 mengilustrasikan sebuah ragkaian yang akan secara otomatis
me-reset counter. Ketika preset dan nilai hitungan yang terakumulasi adalah
sama, maka output counter 100 ON, dan mengunci output 101 untuk
mengindikasikan bahwa hitungan sudah tercapai.
Gambar 2. 138 Me-reset counter secara otomatis
Contoh 2-8:
Dengan mengacu pada solusi contoh 2-7 (lihat gambar 2.138) implementasikan
rangkaian deteksi dengan mengunakan instruksi kumparan output latch dan
output unlatch.
Solusi:
Gambar 2.139 mengilustrasikan sebuah rangkaian interlocking yang mengunci
output counter, megindikasikan bahwa nilai hitungan telah tercapai. Catatan,
bahwa tombol tekan reset (input 11) diprogram sebagai NC dari peralatan input
NO.
192
Gambar 2. 139 Solusi dari contoh 2-8
193
Tugas:
1. Buat program kontrol dengan menggunakan bahasa ladder, untuk kasus di bawah ini:
Sensor mendeteksi botol yang berdiri di conveyor dan menyingkirkan botol yang rebah
dan menjatuhkannya ke tempat yang telah. disediakan
Peralatan Fungsi
X0 X0 = ON, ketika mendeteksi sinyal input dari bagian
bawah botol
X1 X1 = ON, ketika mendeteksi sinyal input dari bagian atas
Y0 botol
Silinder pneumatik
Jika botol yang berada di conveyor berdiri, sinyal input dari photo-sensor yang
ditempatkan untuk menyensor bagian bawah botol dan bagian atas botol akan
memberikan sinyal ke PLC (X0 = ON dan X1 = ON).
Jika botol yang berada di conveyor rebah, maka hanya ada satu sensor yang akan
memberi sinyal ke PLC (X0 = ON dan X1 = OFF)
194
2. Buat program kontrol dengan menggunakan bahasa ladder, untuk kasus di bawah ini:
Peralatan Fungsi
X0 Tombol tekan START untuk motor pompa pelumas, X0 akan ON
ketika tombol ditekan.
X1 Tombol tekan START untuk motor utama, X1 akan ON ketika tombol
ditekan.
X2 Tombol tekan STOP untuk motor pompa pelumas, X2 akan ON ketika
tombol ditekan.
X3 Tombol tekan STOP untuk motor utama, X3 akan ON ketika tombol
Y0 ditekan.
Y1 Motor pompa pelumas.
Motor utama.
Aplikasi kontrol ini digunakan untuk mengontrol motor pompa oli yang akan memberikan
pelumasan pada gear-box yang digerakan oleh pompa utama. Oleh karena itu kontrol harus
didisain dengan syarat bahwa motor utama tidak akan bekerja sebelum motor pompa
pelumas bekerja terlebih dahulu. Motor utama dapat dimatikan dengan menekan tombol
stop (X3) dan motor pompa pelumas dimatikan dengan menekan tombol stop (X2). Motor
utama akan ikut mati, jika tombol tekan stop (X2) ditekan, meskipun pada awalnya masih
hidup (aktif).
195
3. Buat rangkaian sistem kontrol pencahayaan yang digunakan untuk mematikan dan
menghidupkan lampu dengan menggunakan saklar yang ditempatkan dibagian atas dan
bawah tangga.
Peralatan Fungsi
X0 X0 akan ON, ketika saklar bawah tangga ditekan
X1 X1 akan ON, ketika saklar atas tangga ditekan
Y1 Lampu tangga
Lampu akan menyala, jika kedua saklar (atas dan bawah) keduanya dalam posisi ON
semua, atau OFF semua. Lampu akan mati, jika satu ON dan yang lain OFF.
Jika lampu mati, kita dapat menyalakan dengan mengubah status saklar tersebut
menjadi ON semua atau OFF semua dan ini dapat dilakukan pada tangga di bagian atas
maupun dibaiag bawah.
196
4. Buat ragkaian konrol yang akan digunakan untuk mengontol kipas angin yang terpasang
di plafon:
Untuk menghidupkan dan mematikan kipas angin dengan car menekan tombol
tekan START dan STOP.
Untuk memeriksa bahwa kipas angin bekerja normal atau tidak dengan cara
menekan tombol tekan TEST.
Peralatan Fungsi
X0 Tombol START ditekan, X0 = ON.
X1 Tombol STOP ditekan, X1 = ON.
X2 Tombol TEST ditekan, X2 = ON.
X3 Sinyal error
Y1 Kipas angin plafon
Untuk mengoperasikan kipas angin plafon dengan jalan menekan tombol START dan
STOP. Kipas angin ini dilengkapi dengan perangkat yang dapat memberikan sinyal ke
rangkaian kontrol untuk menyatakan bahwa kipas angin dalam kondisi baik atau tidak.
Oleh karena itu dalam kontrol ini dilengkapi juga dengan tombol TEST yang digunakan
untuk menguji apakah kipas angin dalam keadaan baik atau tidak yang didasarkan pada
sinyal yang diterima dari kipas angin.
197
5. Buatlah rangkaian kontrol interlock yang akan digunkan untuk mengontrol
masuk/meninggalkan gerbang pintu parkir.
Kontrol ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa bahwa hanya ada satu mobil yang
dapat melewati gerbang dan menjamin mobil akan aman dari hantaman palang pintu.
Gerbang parkir ini dilengkapi dengan dua buah sensor yasng digunakan untuk
mendeteksi saat mobil masuk dan meninggalkan gerbang pada arah yang telah
ditentukan.
Peralatan Fungsi
X0 Sensor mobil masuk, ketika mobil melewati sensor, X0 = ON.
X1
Y0 Sensor mobil meninggalkan, ketika mobil melewati sensor, X1 = ON.
Y1 Indikator mobil masuk (ON berarti „GO‟, OFF berarti „STOP‟.
Indikator mobil meninggalkan (ON berarti „GO‟, OFF berarti „STOP‟.
Pada pintu parkir terdapat dua buah indicator yang masing-masing member
petunjuk pada mobil yang mau masuk dan mobil yang mau meninggalkan gerbang.
Dengan menggunakan rangkaian kontrol interlock, hanya satu indicator „GO‟ yang
akan menyala, sehingga kecelakaan mobil dapat dicegah.
Ketika mobil yang masuk mendekati palang pintu penghalang, X0 akan ON
demikian juga Y0 akanON. Lampu indicator masuk mobil „GO‟ akan menyala.
Lampu indicator mobil keluar „STOP‟akan menyala, dalam keadaan ini mobil
diperbolehkan masuk tetapi tidak boleh meninggalkan pintu gerbang.
Ketika mobil yang akan meninggalkan gerbang mendekati palang pintu gerbang,
X1 akan ON demikian juga Y1 akan ON. Lampu indicator mobil meninggalkan
198
pintu gerbang „GO‟ akan menyala dan lampu indicator mobil masuk „STOP‟ juga
menyala.
Kegiatan Belajar 6
PERANGKAT LUNAK PEMROGRAMAN PLC
Kompetensi Dasar
1. Mendeskripsikan bahasa pemrograman PLC berdasarkan programming manual
2. Menerapkan bahasa pemrograman PLC
Informasi
Pada unit ini anda akan mempelajari tentang bagaimana membuat program kontrol dan
mengoperasikan PLC OMRON CPM2A dan CPM1A.
Pengetahuan ini akan sangat menunjang dalam memahami PLC sebagai alat kontrol.
Disamping itu juga dapat memberikan pengetahuan awal tentang pembuatan program
kontrol PLC yang merupakan dasar untuk dapat membuat program yang lebih komplek
dalam aplikasi kontrol.
Tujuan
Setelah selesai mempelajari unit ini siswa diharapkan dapat
1. Menjelaskan konsep file yang dipakai untuk menyimpan program PLC.
2. Menjelaskan hubungan antara I/O eksternal dengan prosesor (CPU).
3. Membuat pengalamatan (addressing) I/O eksternal.
4. Menjelaskan pengertian tentang scan program.
5. Menjelaskan pengertian tentang diagram ladder.
6. Membuat diagram ladder.
7. Menjelaskan cara memasukkan program ke PLC.
199
8. Melakukan pengujian program.
9. Menggunakan software CX-Programmer untuk membuat program kontrol.
10. Membuat dan menguji program kontrol aplikasi sederhana menggunakan instruksi bit,
timer dan counter.
11. Melakukan pengawatan (wiring) PLC
Materi Pembelajaran
Pada unit ini akan kita bahas tentang bagaimana melakukan pemrograman PLC. Setiap
pabrikan tentu mempunyai standar sendiri-sendiri dalam hal pemrograman. Untuk itu
disini akan kita ambil contoh bagaimana melakukan pemrograman pada PLC merk Omron
tipe CPM1A dan CPM2A.
Persyaratan Lulus
Pada unit ini peserta diharuskan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan yang
tercantum dibagian akhir unit ini. Penilaian terhadap unit ini mencakup penilaian tetntang
ketuntasan terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh instruktor.
Untuk dapat lulus dari unit ini anda harus telah mengerjakan seluruh latihan dan tugas
yang diberikan. Selanjutnya untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh, peserta harus
menyerahkan hasil kerja dari tugas-tugas yang diberikan kepada pembimbing untuk
diberikan penilaian.
200
Uraian Materi Pembelajaran 6
A. Pendahuluan
Persyaratan pokok dari setiap bahasa pemrograman PLC adalah bahwa bahasa
pemrograman haruslah mudah dipahami dan digunakan dalam situasi kontrol. Dengan
demikian maka diperlukan bahasa pemrograman level tinggi (High Level Language),
untuk melengkapi beberapa perintah atau instruksi yang mendekati fungsi yang
dikehendaki oleh seorang ahli teknik dan teknisi dalam bidang kontrol.
Diagram ladder merupakan metoda yang telah dipakai untuk menggambarkan
rangkaian logika rele. Teknisi listrik di industri pada umumnya sudah familier dengan
diagram ladder ini. Namun demikian beberapa PLC merek lain mengembangkan atau
menggunakan bahasa pemrograman yang lain disamping juga menggunkan bahasa
ladder, seperti contohnya yaitu menggunakan bahasa pemrograman STL (statement
List), CSF (Control Sistem Flowchart), SFC, FBD, Grafcet, Grafik (Sequence Control)
dan lain-lain.
B. Pengalamatan Dalam CX-Programmer
Pengalamatan ini adalah sangat penting untuk kita harus mengetahui format alamat
dari merek dan jenis PLC yang digunakan, sebab jika kita salah menuliskan alamat
akan mengakibatkan sistem tidak bekerja atau bekerja tida sesuai dengan yang kita
inginkan.
Dalam pengalamatan menggunakan software CX-Programmer mempunyai dua
komponen yaitu channel dan nomor bit antara keduanya harus dipisahkan dengan
sebuah titik. Sebagai contoh untuk pengalamatan input dan output eksternal untuk tipe
PLC tipe CPM1A-20 I/O, seperti ditunjukkan pada gambar. 2.140 berikut ini.
201
Alamat input eksternal
000.05
000.05
Menunjukan nomor bit (terminal)
Menunjukan channel input
Alamat output eksternal
010.03
010.03
Menunjukan nomor bit (terminal)
Menunjukan channel output
Gambar 2. 140 Pengalamatan dalam CX-Programmer
202
C. Perangkat Lunak Pemrograman CX-Programmer
CX-Programmer adalah sebuah perangkat lunak pemrograman PLC untuk membuat,
menguji dan memelihara program yang terkait dengan PLC OMRON seri CS1, CV, dan C.
Perangkat lunak pemrograman ini dilengkapi fasilitas untuk mendukung peralatan PLC
dan informasi alamat dan komunikasi PLC OMRON.
CX-Programmer mempunyai fasilitas yang koperhensif yang dapat dimanfaatkan oleh
programmer, mulai dari mengedit, network debugging, termasuk juga:
Pembuatan program baru
Pengeditan dan store program
Upload dan Down load program ke PLC
Status program selama program dieksekusi PLC
Pemberian keterangan pada Program
Pemeliharaan library files
Pencetakan program dan dokumentasi termasuk cross-refernces
CX-Programmer dapat dijalankan di Microsoft Windows 95, 98 atau versi di atasnya pada
komputer standar IBM.
CX-Programmer mudah digunakan dan memungkinkan pemrogram dapat mengkonfigurasi
dengan cepat sebuah proyek khusus, memasukkan network dan data program.
Program PLC dapat dibuat dalam bahasa Ladder atau Statement List. Editor statement list
memmungkinkan program PLC dapat dilihat dan diperiksa dalam format mnemonic.
Software CX-Programmer berkomunikasi dengan SYSMAC C atau CV melalui antamuka
(serial interface) RS-232C atau RS-422, atau SYSMAC LINK untuk layanan jaringan.
203
1. Pemrograman CPM1A dan CPM2A
a. Memulai Kerja Dengan CX-Programmer
Sekali perangkat lunak ini telah ter-instal secara lengkap pada komputer anda, ikon grup
program akan muncul di Program Manajer. Untuk mengeksekusi CX-Programmer, ikuti
langkah sebagai berikut:
Gambar 2. 141 Program manager
Layar CX-Programmer akan muncul, atur toolbar dengan cara klik dan geser pada posisi
yang diinginkan.
Gambar 2. 142 Layar CX-Prorammer
204
Untuk memulai membuat sebuah program/proyek baru, ikuti langkah-langkah sebagai
berikut:
Langkah 1:
Sebelum melakukan pemrograman, buat daftar sebagai berikut:
Parameter PLC yang digunakan untuk proyek.
Model PLC.
Jenis CPU.
Jenis interface komunikasi.
Buat tabel I/O.
Buat simbol untuk variabel.
Langkah 2:
Kemudian membuat proyek baru
Pilih <File>--<New>
Atau klik pada ikon Proyek Baru.
Gambar 2. 143 Menu membuat proyek baru
205
Sebuah layar proyek akan muncul, dengan sebuah jendela <Change PLC>
Gambar 2. 144 Pemilihan jenis PLC
Langkah 3:
Beri nama untuk PLC pada Device Name (Default-NewPLC1)
Pilih model PLC yang sesuai dengan klik pada jenis peralatan . Pada contoh ini, pilih
CPM1A sebagai jenis peralatan.
206
Gambar 2. 145 Pemilihan jenis CPU
Langkah 4:
Pilih <Setting...>
Untuk setup jenis CPU untuk jenis peralatan, dan set komunikasi untuk jenis Network. Set
driver pada port COM yang dihubungkan dari komputer ke PLC.
Gambar 2. 146 Pengaturan komunikasi
Setelah setup selesai dilakukan, layar berikut ini akan muncul:
Ruang kerja Disain
proyek Ladder
207
Jendela Output
Kesalahan dalam
penyusunan
Pemantaun I/O
Gambar 2. 147 Ruang kerja proyek
b. Penulisan Program Ladder
Sebuah program logika ladder terdiri dari sejumlah rung dan sejumlah instruksi
yang ditempatkan pada rung tersebut. Setiap instruksi masing-masing
mempunyai sebuah alamat data yang saling berhubungan. Dengan didasarkan
pada status dari instruksi-instruksi tersebut suatu hasil dari proses kontrol dapat
kita peroleh. Penulisan sebuah program ladder terdiri dari:
Pembuatan simbol.
Pembuatan program ladder.
Pengolahan program.
Transfer program dari dan ke PLC.
Membandingkan program dengan PLC program.
Pemantauan program selama eksekusi.
Penyuntingan on-line.
c. Pembuatan Simbol
Sebuah langkah penting dalam pembuatan sebuah program ladder adalah
definisi area data PLC yang akan direferensikan oleh program. Ini mungkin
untuk melewati langkah ini, dan menggunakan alamat secara langsung dalam
program.
Ini lebih baik, karena membuat nama simbol untuk alamat akan membuat
program lebih mudah dibaca dan mudah dalam pemeliharaan.
208
Gunakan prosedur sebagai berikut dalam membuat simbol:
1. Klik pada jendela program dan pilih tombol View Local Symbol dari
toolbar.
2. Pilih tombol New Symbol dari toolbar. Dialog Insert Symbol akan
ditampilkan.
3. Masukan “Motor 1” sebagai nama.
4. Tetapkan alamat “10.00”.
5. Biarkan jenis data di-set “BOOL” untuk mengindikasikan sebuah nilai
bit.
6. Pilih tombol OK untuk meneruskan.
d. Pembuatan Program Ladder
PLC dapat diprogram menggunakan salah satu bahasa pemograman Ladder
atau Mnemonic. Program ladder dibuat pada Diagram View dari Diagram
Window.
209
Gunakan prosedur berikut ini dalam membuat sebuah program ladder:
1. Yakinkan program ladder ditampilkan pada diagram Workspace.
2. Berikan komentar pada rung dengan menggunakan kotak Properties
(gerakan kursor ke margin rung dan akses kotak Properties dari menu).
3. Tempatkan tombol New Contact dari toolbar dan klik pada bagian sel
kiri atas, maka dialog New Closed Contact ditampilkan.
4. Pilih “S_1” dari daftar nama atau alamat.
5. Tempatkan tombol New Contact dari toolbar dan klik disamping kanan
S_1, kemudian berikan nama S_2 yang diambil dari daftar nama.
6. Tempatkan New Vertical diantara kontak S_1 dan S_2 dan klik,
kemudian tempatkan New Contact di bawah S_1 dan beri nama M_1
yang diambil dari daftar nama.
7. Tempatkan tombol New Contact dari toolbar dan klik disamping kanan
kontak S_1, kemudian berikan nama S_2 yang diambil dari daftar nama.
8. Tempatkan tombol New Coil dari toolbar dan klik disamping kanan
S_2, kemudian berikan nama M_1 yang diambil dari daftar nama.
9. Tempatkan tombol New Contact dari toolbar pada rung berikutnya
(rung 1), kemudian beri nama M_1 yang diambil dari daftar nama.
10. Tempatkan sebuah instruksi dengan memilih tombol New PLC
Instruction dari toolbar dan klik pada kontak berikutnya, maka dialog
New Instruction akan muncul.
11. Masukan instruksi „TIM‟ dan operand “Conveyor” yang diambil dari
daftar nama.
12. Selanjutnya berpindahlah pada rung berikutnya (rung 2), tempatkan
tombol New Contact dari toolbar pada rung berikutnya , kemudian beri
nama TIM007 yang diambil dari daftar nama.
13. Tempatkan tombol New Coil dari toolbar dan klik disamping kanan
kontak TIM007, kemudian berikan nama M_2 yang diambil dari daftar
nama.
14. Tempatkan sebuah instruksi „END‟ pada rung beriktnya (rung 3)
melalui dialog New Instruction.
210
Program ladder harus tampak seperti diilustrasikan pada gambar berikut:
Gambar 2. 148 Program ladder
e. Penyusunan Program
Verifikasi Program dilakukan secara kontinyu selama pembuatan dan setiap
urutan penyuntingan, ini diterapkan pada dua pemrograman secara on-line
maupun offline. Kesalahan akan nampak warna merah pada diagram ladder.
Jika terdapat sebuah kesalahan di rung, sebuah garis merah di sisi sebelah kiri
bawah dari rung. Ini dapat terjadi, sebagai contoh ketika elemen telah
ditempatkan pada diagram window tetapi belum diberi simbol atau alamat.
Gunakan prosedur berikut untuk menyusun program:
1. Untuk mendaftar setiap kesalahan dalam program, klik tombol mouse
sebelah kanan dan pilih tombol Compile Program dari toolbar. Output
ditampilkan dalam Compile tab dari Output Window.
211
2. Pengujian Program
Bekerja dengan CX-Programmer dalam keadaan komputer terhubung dengan PLC,
berarti anda mengontrol semua aspek transfer program dan data antara komputer
dan PLC. Anda dapat memonitor operasi dari program , termasuk area data memori
yang sedang dimodifikasi , dan perubahan interaksi instruksi dan data pada saat
progam jalan atau program tidak dijalankan.
Terdapat lima elemen pemrograman dalam keadaan komputer terhubung dengan
PLC, yaitu:
Setup hubungan, termasuk komunikasinya;
Download program dan eksekusi;
Memonitor program;
Pengeditan program saat online;
Pengeditan area memory PLC.
Sebelum menghubungkan komputer dengan PLC anda harus mengetahui dengan
pasti tentang spesifikasi peralatan yang dipakai sehingga tidak mengalami
kesalahan dalam melakukan set-up.
Berikut adalah checklist yang mungkin dapat membantu anda dalam memeriksa
hubungan antara PLC dengan Komputer.
Tetapkan Parameter Esensial dari PLC
Periksa bahwa proyek yang dibuat sesuai dengan jenis PLC yang digunakan. Catat
karakteristik yang penting dari PLC yang berkaitan dengan : memory, setup I/O,
dsb.
212
Tetapkan Jenis Komunikasi Yang Digunakan
Yakinkan bahwa komputer telah dikonfigurasi dengan benar untuk berkomunikasi
dengan PLC
Periksa Proyek Dalam Hal Ketelitian Dan Kelengkapanya
Gunakan CX-Programmer tools untuk memeriksa isi proyek dan network, dan
bilamana perlu buat copynya.
Buat Catatan Yang Sesuai Mengenai Tugas/Fungsi Dari I/O
Buat daftar dari semua peralatan I/O dan beri keterangan tugas/fungsinya.
Buat Map Memory PLC Yang Digunakan
Buat catatan tentang variabel yang dipakai dalam program, yang mana ini dapat
didapatkan dalam memory PLC untuk keperluan Monitoring.
a. Set Up Komunikasi PLC
Untuk menghubungkan PLC dengan Komputer, maka memerlukan set-up
hardware dan software yang sesuai. Anda boleh menghidupkan PLC apabila
telah betul-betul secara fisik antara komputer dengan PLC terhubung.
Untuk memeriksa hubungan anda dapat menghidupkan PLC, kemudian
gunakan perintah Project/Comunications untuk set-up parameter software dan
tes hubungan. Dalam dialog ini anda dapat menggunakan daftar dan memilih
parameter yang akan digunakan, seperti :
Port
Pilih nama dari port yang akan digunakan untuk hubungan ke PLC
Unit
213
Masukan data tentang jumlah PLC yang akan dihubungkan dalam sistem.
Baud
Pilih kecepatan komunkasi yang diinginkan, dan ini harus cocok dengan set-up
yang ada di PLC.
Protokol
Pilih jenis protokol komunikasi yang diinginkan, dan ini sekali lagi harus sesuai
dengan set-up dalam PLC.
Tes Hubungan
Setelah set parameter selesai , klik pada tombol Work Online untuk melihat
apakah ada hubungan atau tidak. Apabila ada hubungan, maka akan ditampakan
dalam layar kata “Connected”, dengan demikian kini anda siap untuk memulai
melakukan operasi on-line yang lain.
b. Operasi Mode PLC
Sebelum melakukan download dan eksekusi, adalah penting untuk mengetahui
pada mode mana PLC dapat di set ketika sedang on-line. Mode Operasi PLC
dapat di set dengan menggunakan perintah Operating Mode.
Memilih mode baru akan mengubah kondisi PLC segera setelah anda menerima
dialog sesuai keinginan.
Monitor
Pada moda monitor sementara program dalam keadaan jalan dan komputer
terhubung dengan PLC program dapat diedit.
Run
Pada mode ini membuat PLC mengeksekusi program. Pada mode ini umumnya
214
digunakan untuk pengujian final setelah progam di-tes dan di-debug. CX-
Programmer tidak dapat menulis ke PLC dalam kondisi PLC pada mode Run.
Program
Memilih mode Stop sama saja menghentikan PLC, dan pada mode ini
digunakan untuk me-download program dan data ke PLC.
Debug
Moda operasi debug PLC adalah digunakan untuk memeriksa eksekusi program
dan operasi I/O.
c. Download Program ke PLC
Proyek berisi detail tentang jenis dan model PLC untuk program yang akan di
download ke PLC. Sebelum program dapat didownload, informasi ini harus
dilihat lagi untuk meyakinkan bahwa program benar adanya dan sesuai dengan
PLC yang digunakan. Jenis interface komunikasi yang sesuai harus juga dipilih
untuk dihubungkan ke PLC. Parameter yabg lain, sebagai contoh setup PLC
mungkin perlu ditetapkan sebelum menghubungkan ke PLC dan menjalankan
program.
Gunakan prosedur berikut untuk metransfer program ke PLC
1. Simpan proyek dengan memilih tombol Save Project dari toolbar. Jika
proyek belum disimpan sebelumnya, dialog file Save CX-Programmer
ditampilkan. Masukan sebuah nama file pada File name dan pilih
tombol Save untuk mengakhiri operasi penyimpanan file.
2. Hubungkan PLC dengan memilih tombol Work On-line dari toolbar.
Sebuah dialog konfirmasi akan ditampilkan, pilih tombol Yes untuk
menghubungkannya (komunikasi On-line).
3. Set moda operasi PLC ke Program , melalui tombol Program Mode
dan pilih Program.
4. Pilih tombol Download dari toolbar. Dialog pilihan Download
ditampilkan. 215
5. Set Program dengan cara klik pada box dan pilih tombol OK.
d. Pemantau Program Selama Eksekusi
Sekali program telah di download, program dapat dipantau pada Diagram
Workspace selama eksekusi. Gunakan prosedur berikut untuk memonitor
program PLC.
1. Pilih obyek Project Workspace PLC.
2. Pilih tombol Toggle PLC Monitoring dari toolbar.
3. Selama eksekusi program berlangsung, data dan aliran daya dapat
diikuti di program ladder; sebagai contoh pada hubungan dan harga, jika
ada perubahan akan terlacak.
216
Tugas:
1. Tangki berikut adalah contoh tangki yang akan diisi dengan dua buah bahan kimia,
dicampurkan dan kemudian dikosongkan. Ketika tombol ekan start ditekan pada input
I0.0, program menjalankan pompa 1 yang dikontrol dari output Q0.0. pompa 1 bekerja
selama 5 detik mengisi bahan kimia pertama kemudian mati kembali. Program
kemudian menjalankan pompa 2 yang dikontrol melalui outpt Q0.1. Pompa 2 berjala
selama selama 3 detik untuk mengisi tangki dengan bahan kimia yang kedua. Setelah 3
detik pompa 2 berhenti. Kemudianprogram mulai menjalankan motor pengaduk
(mixer) yang dijalankan melalui output Q0.2 dan mengaduk dua bahan kimia tersebut
selama 60 detik. Program kemudian membuka katup pembuangan yang dikontrol
melalui output Q0.3 dan menghidupkan pompa 3 yang dikontrol melalui output 0.4.
pompa 3 berhenti setelah 8 detik dan kemudian proses berhenti secra keseluruhan.
Buat rangkaian kontrol dalam format ladder dengan menggunakan software
pemrograman dan uji program tersebut pada PLC
217
2. Buat rangkaian kontrol dalam format ladder dengan menggunakan software
pemrograman dan uji program tersebut pada PLC yang akan digunakan untuk
mengontrol motor putaran maju dan mundur (forward dan reverse).
Peralatan Fungsi
X0 Tombol tekan FORWARD motor, X0 akan ON ketika tombol ditekan.
X1 Tombol tekan REVERSE motor, X1 akan ON ketika tombol ditekan.
X2 Tombol tekan FORWARD motor, X0 akan ON ketika tombol ditekan.
X3 Tombol tekan STOP untuk motor, X2 akan ON ketika tombol ditekan.
T0 Timer 1 detik
T1 Timer 1 detik
Y0 Kontaktor forward.
Y1 Kontaktor reverse.
Jika tombol tekan Forward ditekan (X0 = ON), maka setelah tunda waktu 1 detik Y0
akan kerja (energize) dan motor akan bekerja dengan arah putaran maju. Sebaliknya
jika tombol tekan Reverse ditekan (X1 = ON), maka setelah tunda waktu 1 detik Y1
akan kerja (energize) Dan motor akan berputar dengan arah putaran mundur. Dua buah
timer dipakai pada program kontrol ini untuk mencegah hubung singkat antar fasa,
ketika motor arah putarannya diubah dari putaran maju ke putaran mundur atau
sebaliknya.
218