299 ”Si Putri Es minta bantuan gue.” Erika menyalami Putri seraya nyengir padaku. ”Cihuy banget, nggak?” ”Cihuy banget,” ucapku geli. ”Jadi, apa tugas kita yang pertama?” ”Menyusun kepengurusan OSIS yang baru,” sahut Putri, kembali ke sikapnya yang dingin dan serius. ”Kita akan bersikap demokratis di sekolah, tapi sebenarnya susunan kepengurusan sudah kita atur sehingga semuanya sesuai keinginan kita. Erika, aku ingin kamu yang jadi ketua OSIS tahun depan.” Sesaat Erika hanya menatap kosong. Lalu dia pun berbalik. ”Ayo, Val, kita pulang aja.” ”Tapi...” Putri tampak bingung. ”Apa kamu nggak mau jadi ketua OSIS, Erika? Semua kekuasaan itu…?” ”Nggak!” ”Gimana dengan kamu, Valeria? Kamu bisa menjadikan sekolah ini lebih baik...” ”Nggak,” sahutku sambil tersenyum padanya. ”Aku dan Erika nggak punya ambisi untuk jadi pusat perhatian. Malahan, semakin tersembunyi semakin baik buat kami...” ”Itu sih elo aja,” tukas Erika sambil merangkulku. ”Kalo gue, gue selalu butuh seorang lawan lagi. Cari ketua OSIS yang keren, Put, ketua OSIS yang bisa jadi lawan yang pantas buat gue.” Tak pernah kami duga, pilihan Putri Badai belakangan benar-benar membuat kami berdua tunggang-langgang.
300 ”RIMA, tunggu!” Suara itu lagi. Aku berlagak tuli dan meneruskan langkah. Biasanya itu sudah cukup untuk membuat orang-orang berhenti memanggilku. Soalnya, yah, aku kan tidak sepenting itu untuk dikejar-kejar. Tapi orang yang satu ini memang berbeda. Entah itu karena gigih atau hanya sekadar bermuka badak. ”Rima!” Mendadak lenganku ditahan—dan pelakunya sepertinya adalah mumi, karena yang kurasakan bukanlah kulit manusia, melainkan perban. Jantungku serasa copot dari rongganya. Meski begitu, aku berhasil membalikkan badan dan menampakkan wajah tanpa ekspresi, yang nyaris saja luluh melihat seringai Daniel. ”Kurasa kamu udah diperingatin dokter untuk nggak ngegunain tanganmu dulu sementara ini,” cetusku. ”Tapi mau gimana lagi?” Daniel mendekat, dan jantungku makin meloncat-loncat tak keruan. ”Gue emang pasien yang bandel kok.” Epilog Rima Hujan, X-B
301 ”Bukan cuma sebagai pasien kan, kamu bandel?” Aku semakin mengkeret saat Daniel mengangkat tangannya untuk menyisir rambutku. Rasanya seperti belaian—tapi sayangnya bukan. Pasti rambutku acakacakan setelah berbagai aksi yang kami lakukan di dalam perpustakaan tadi. Pasti tampangku konyol luar biasa— konyol dan seram, sesuatu yang jelas-jelas tak enak dilihat. Jadi tidak heran dia berusaha merapikan penampilanku. ”Lo bener-bener berani tadi di dalam sana, Rim,” ucap Daniel dengan suara lembut yang membuatku nyaris meleleh. Oh, tidak, aku tidak boleh terlena lagi. ”Kita semua selamat berkat elo.” ”Kita semua selamat berkat kemunculan Ajun Inspektur Lukas,” sahutku jujur. ”Dan aku nggak lebih berani daripada teman-teman yang lain. Buktinya, kalian semua terluka, tapi aku baik-baik aja.” Sesaat aku berusaha menahan diri untuk melontarkan pertanyaan yang mungkin seharusnya tak kutanyakan, tapi kekhawatiranku terlalu besar untuk kusingkirkan. ”Gimana tanganmu? Baik-baik aja?” ”Yep.” Daniel mengangkat tangannya yang diperban dan menatapnya dengan bangga. ”Katanya, setelah sembuh nanti, gue akan tetap bisa main piano seperti biasa. Yah, seperti biasa, gue emang terlalu jago untuk dihancurkan. Huahahaha….” Aku tersenyum mendengar tawa yang sengaja dibuatbuat itu. Cowok ini memang tidak kalah pedenya dibandingkan Erika. ”Baguslah kalo begitu,” sahutku, memutuskan sudah waktunya aku mengakhiri percakapan ini. ”Aku pamit dulu, ya.”
302 ”Tunggu dulu, Rim.” Sekali lagi aku mendapatkan tanganku dicekal oleh tangan mumi itu. Kali ini aku tidak menoleh. ”Kenapa rasanya lo lagi menghindari gue?” Aku tersenyum di balik rambut tiraiku. Untunglah, kegetiran yang pastinya tecermin di wajahku tidak terlihat olehnya. ”Aku emang menghindari kamu, Niel.” ”Kenapa?” Nada suara itu begitu lugu, seolah-olah tidak mengerti apa yang kumaksud, padahal yang namanya Daniel Yusman sama sekali bukan makhluk polos dan lugu. Karena itu, kuputuskan untuk blakblakan saja. ”Karena aku suka sama kamu.” Sumpah, kalau aku tidak tahu lebih baik, aku bakalan percaya cowok itu sedang shock hebat. ”Aku suka sama kamu, di saat aku tau betul perasaanmu hanya tertuju pada Valeria Guntur. Aku tetap suka sama kamu, di saat kamu jelas-jelas nunjukin bahwa waktu ada Valeria, kamu nggak memedulikan keberadaan orang lain, termasuk aku. Juga di saat kamu mengorbankan tanganmu untuk Valeria, tanpa ingat bahwa tanganmu adalah salah satu hal yang paling berharga bagimu.” Aku diam sejenak. ”Aku merasa seperti orang bodoh, berharap setengah mati kamu mau menoleh padaku di saat ada Valeria. Aku merasa tolol karena mengira kamu benar-benar mau berteman denganku, padahal kamu hanya mau memanfaatkanku. Aku merasa konyol mengorbankan diriku karena nggak tahan melihat kamu terluka. Semua ini harus kuhentikan, sebelum aku mulai benci sama diriku sendiri. Jadi maaf, kalo kamu mau mencari cewek untuk diperalat, cari aja cewek lain yang
303 lebih bodoh dariku. Aku adalah Rima Hujan, dan meski aku bukan siapa-siapa, aku juga bukan pecundang...” Aku terpana saat Daniel menarikku ke dalam pelukannya. Sesaat aku hanya bisa bengong saat dia memelukku erat-erat. Pelukan cowok itu kokoh dan menenangkan. Samar-samar tercium bau Betadine bercampur wangi khas Daniel yang sepertinya berasal dari sabun mahal yang dipakainya. Andai waktu bisa berhenti selamanya seperti ini. ”Sori, sori… gue nggak tau selama ini, Rim. Sori….” Hatiku tercekat saat merasakan bibir Daniel menyentuh puncak kepalaku. ”Gue emang belet banget.” ”Belet?” gumamku antara sadar dan tiada, mabuk oleh perasaan yang melayang-layang. ”Maksudmu bolot?” ”Iya, tapi belet itu levelnya lebih parah.” Tanpa sadar aku tersenyum. Perasaan asing yang hangat menjalari seluruh tubuhku, masuk jauh ke dalam hatiku. Apakah perasaan disayang itu rasanya seperti ini? Tidak. Daniel itu cowok playboy. Dia tipe cowok yang sanggup memanipulasi perasaanku, membuatku mengira dia benar-benar tulus padahal sesungguhnya tidak. Aku memang bodoh dalam hal-hal beginian, tapi aku tak boleh kembali tertipu dengan begitu mudahnya. Seperti kata orang bijak, ”Fool me once, shame on you, but fool me twice, shame on me.” Kalau sampai aku dibodohi sekali lagi, saat aku patah hati nanti, semua itu murni kesalahanku. Aku mendorong Daniel perlahan, melepaskan diri dari pelukannya. ”Rima....”
304 ”Kamu jangan khawatir. Aku nggak marah sama kamu kok.” ”Tapi,” suara Daniel terdengar cemas, ”kita tetap berteman, kan?” ”Ya.” ”Kayak dulu lagi?” Aku memilih kata dengan hati-hati. ”Sebaiknya nggak.” ”Kenapa?” tanya Daniel. Suaranya seakan-akan menyiratkan kepanikan—tapi mungkin itu harapanku saja. ”Nggak, enak aja. Gue nggak sudi! Gue nggak mau kehilangan lo, Rim...” ”Niel,” selaku lembut. ”Aku nggak pernah jadi punyamu kok. Gimana mungkin kamu merasa kehilangan?” Daniel tampak shock mendengar ucapanku, dan aku sendiri merasa bersalah melontarkan kata-kata yang begitu tega itu. Tapi semuanya harus disudahi. Dalam hidupku, aku masih punya banyak tugas penting, dan aku tidak boleh membiarkan masalah-masalah pribadi menyita pikiranku terlalu banyak. ”Rima, plis…. Ini nggak adil. Jangan begitu sama gue, Rim. Buat gue, elo...” Demi kewarasanku sendiri, kuputuskan untuk tidak mengindahkan ucapannya lagi. Jadi aku pun melangkah pergi, keluar dari hidup cowok yang pernah sangat berarti bagiku. *** ”Udah selesai drama percintaannya?” Aku memandangi cewek itu dari balik rambut tiraiku. Rambut panjang yang dikucir dan ditutupi topi pet
305 sudah menjadi ciri khasnya yang selalu efisien dan tidak banyak cincong, menutupi seraut wajah yang tampak polos. Yep, tampaknya saja polos, tapi kalau kita benarbenar memperhatikan, kita akan menemukan kerap kali sepasang mata bulat itu menyorotkan sinar cerdik yang nyaris mendekati licik. Yah, terkadang cewek ini memang licik juga. ”Ternyata kamu masih perhatiin aku,” senyumku padanya. ”Kukira kamu terlalu sibuk nyari duit.” Lalu dengan suara rendah kutambahkan, ”Si Makelar.” Hanya sesaat, tapi mata cewek itu langsung melayang ke sekitar kami. Setelah melihat keadaan aman, wajahnya mulai rileks, tapi bibirnya tetap cemberut. ”Jangan panggil gue dengan nama itu.” ”Maaf,” ucapku menyesal. ”Aku tau penyamaran itu penting untukmu. Hanya aja, saat ini aku nggak punya mood untuk meladeni sindiran kamu.” ”Ya, sebenarnya gue nungguin lo bukan karena gue kepingin jailin lo. Gue cuma mau meyakinkan lo masih tetep bisa ngejalanin tugas lo dengan baik.” ”Jangan khawatir,” ucapku datar. ”Sebentar lagi Erika nggak akan miskin lagi. Saat itu dia nggak akan gengsi lagi untuk tinggal di tempat yang lebih baik. Dalam waktu singkat, dia akan menghubungi kamu. Kuharap kamu bisa membujuknya untuk tinggal bersama kami.” ”No problemo. Tapi, seharusnya lo bisa bujuk dia lebih cepat.” ”Erika bukan orang yang mau menerima bantuan cuma-cuma dengan begitu gampangnya. Dia sangat angkuh dalam soal itu. Kalo kamu melakukan tugasmu dengan baik, seharusnya kamu tau itu.”
306 ”Iya, iya, gue tau.” Cewek itu menggerutu. ”Gue cuma nggak kepingin semua rencana kita hancur berantakan.” ”Semuanya berjalan dengan baik kok,” ucapku. ”Kedua cewek itu udah berada di bawah pengawasanku. Putri udah berhasil memasukkan kita semua ke dalam The Judges...” ”Nyaris gagal, kalo gue boleh komen. Udah gue bilang, Dicky bukan cowok yang baik, tapi dia nggak mau dengerin.” ”Tapi waktu itu kita semua sepakat Dicky Dermawan salah satu cowok yang memenuhi syarat untuk mengangkat status Putri. Dan yang lebih penting, sekarang semua kekacauan udah dibereskan, kan?” Aku menatap cewek itu dalam-dalam. ”Kamu yakin kamu bisa menghadapi Erika? Hati-hati. Dia nggak akan segampang itu memercayaimu. Dia jauh lebih parno daripada Valeria. Apa kamu sanggup mempertahankan penyamaranmu?” ”Jangan khawatir,” senyum Aya, alias Aria Topan. ”Serahkan semuanya padaku.”
Profil Pengarang Lexie Xu adalah penulis kisah-kisah bergenre misteri dan thriller. Seorang Sherlockian, penggemar sutradara J.J. Abrams, dan fanatik sama angka 47. Muse alias dewa inspirasinya adalah F4/ JVKV. Suka banget dengan Big Bang dan Running Man. Saat ini Lexie tinggal di Bandung bersama anak laki-lakinya, Alexis Maxwell. Karya-karya Lexie yang sudah beredar adalah Johan Series yang terdiri atas empat buku: Obsesi, Pengurus MOS Harus Mati, Permainan Maut, dan Teror, serta Omen Series yang baru terbit dua buku: Omen dan Tujuh Lukisan Horor. Selain dua serial ini, Lexie juga ikut menulis dalam kumcer Before The Last Day bersama rekanrekan penulis. Kepingin tahu lebih banyak soal Lexie? Silakan samperin langsung TKP-nya di www.lexiexu.com. Kalian juga bisa join dengannya di Facebook di www.facebook.com/lexiexu. thewriter, follow di Twitter melalui akun @lexiexu, atau mengirim email ke [email protected]. xoxo, Lexie
GRAMEDIA penerbit buku utama Baca buku pertamanya!
GRAMEDIA penerbit buku utama Jangan lupa buku keduanya!
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Kompas Gramedia Building Blok I, Lantai 5 Jl. Palmerah Barat 29-37 Jakarta 10270 www.gramediapustakautama.com File 3 : Kasus penganiayaan murid-murid SMA Harapan Nusantara dalam proses seleksi anggota organisasi rahasia “The Judges”. Tertuduh : Penyelenggara proses seleksi itu, alias para anggota “The Judges” yang semuanya misterius, mencurigakan, dan menyebalkan. Sifat sok berkuasa mereka membuat mereka jadi tertuduh ideal. Belum lagi undangan demi undangan yang dilayangkan pada para anggota kendati sudah terjadi peristiwa-peristiwa tak mengenakkan, menandakan mereka tidak peduli pada korban. Tentu saja, tertuduh utama adalah pemimpin organisasi sok keren ini, si Hakim Tertinggi. Fakta-fakta : Pada minggu terakhir tahun ajaran, surat-surat undangan dilayangkan pada anak-anak paling cerdas dan berbakat di kelas X, mengajak kami untuk mengikuti proses seleksi untuk menjadi anggota organisasi paling berpengaruh di sekolah kami. Tidak dinyana, satu per satu kami diserang secara brutal pada proses seleksi, ditinggalkan dalam posisi seolah-olah mereka menjadi korban ritual sebuah upacara. Misi kami : Menemukan pelaku kejahatan sebelum kami sendiri menjadi korban. Penyidik Kasus, Erika Guruh, Valeria Guntur, dan Rima Hujan