The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

TATA PENGGEMBALAAN DAN PETUNJUK PELAKSANAAN

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by saut.psitompul, 2024-02-22 10:19:58

TATA PENGGEMBALAAN DAN PETUNJUK PELAKSANAAN

TATA PENGGEMBALAAN DAN PETUNJUK PELAKSANAAN

1 TATA PENGGEMBALAAN DAN PETUNJUK PELAKSANAAN PENDAHULUAN Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) adalah persekutuan gerejawi orang-orang percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, Kristus dan Juruselamat dunia (Tata Gereja GKPI: Pasal I ayat 1). GKPI adalah juga wujud dan realitas tubuh Kristus yang secara konkret bersekutu di dalam dan kepada Tuhan Yesus Kristus (1 Kor. 12:14, Rm. 12:4-5), di mana Kristus adalah kepala tubuh, dan orang-orang beriman (warga jemaat) adalah anggota tubuh (Ef. 4:15-16); semuanya bersekutu menjadi satu di dalam Kristus (Gal. 3:27) melalui baptisan (Ef. 4:3-6). GKPI adalah bagian integral dari persekutuan gereja-gereja, yang memiliki Visi dan Misi pelayanan yang sama dalam melayani di tengah-tengah dunia ini. GKPI dalam perjalanannya dan di tengah pelayanannya, mengalami pertumbuhan, perkembangan dan perubahan dalam beragam kenyataan hidup, sebagai dampak dan implikasi perkembangan zaman. Dalam menghadapi ragam realitas hidup tersebut, misalnya isu kloning, euthanasia, bayi tabung, dsb., gereja selalu berupaya memelihara warisan teologi yang benar dan selalu mengaktualisasikannya dalam kehidupannya secara kontekstual. Hal seperti inilah yang mendorong gereja untuk merumuskan Tata Penggembalaan sebagai norma kehidupan bergereja, untuk menjaga, memelihara dan menuntun umat Tuhan dalam keberadaannya selaku anggota tubuh Kristus. Tata Penggembalaan Gereja Kristen Protestan Indonesia (disingkat TP-GKPI) disusun sebagai pedoman dalam mengawasi penyimpangan dari dogma atau ajaran gereja dan mengawasi pelanggaran etis-moral, agar warga dan pelayan gereja terpelihara dalam ajaran dan moralitas (perilaku) yang sehat, terutama dalam menjawab masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian diharapkan bahwa penyelesaian masalah di semua aras GKPI (dari Jemaat hingga Sinode) diselesaikan secara internal dan tidak dibawa ke ranah hukum ataupun di luar gereja. Tata Penggembalaan ini juga dirumuskan untuk menggantikan Hukum Siasat Gereja (HSG) GKPI tahun 1982, yang dianggap perlu direvisi agar dapat memberi jawaban terhadap berbagai persoalan dan pergumulan hidup warga jemaat dewasa ini. Amanat untuk merevisi HSG itu tertuang dalam Keputusan Sinode Am Kerja GKPI ke-XV, No. 6/SAK-XV/X/2003). Dengan demikian TP-GKPI ini bukan terutama sebagai suatu kitab undang-undang atau hukum yang berorientasi pada penghakiman dengan menjatuhkan vonis hukuman kepada yang melakukan pelanggaran, melainkan untuk menggembalakan dan membangun kehidupan yang teratur; tidak sebagai hukum yang tertulis untuk semata-mata memberi ganjaran terhadap pelaku pelanggaran, melainkan suatu kabar baik yang menuntun mereka menemukan jalan pertobatan atau perubahan hidup (dalam hal pandangan hidup, sifat, sikap, karakter, dsb.) menuju keselamatan yang diberikan Tuhan Yesus Kristus. Di samping itu, kalau Hukum Siasat Gereja (HSG) 1982 lebih dititik-beratkan pada pelanggaran Hukum Ketujuh (Jangan berzinah), maka TP ini lebih komprehensif dan mencakup sebanyak mungkin aspek kehidupan warga dan pelayan GKPI. Fungsi utama Tata Penggembalaan GKPI ini adalah untuk membawa dan menuntun setiap orang kepada Tuhan Yesus Kristus di dalam iman dan moralitas yang benar. TP-GKPI dimaksudkan menggembalakan warga jemaat agar hidup dalam kekudusan, serta membimbing mereka menjaga kekudusan hidup tersebut dengan cara menghindari dan melawan dosa, untuk menuntun warga jemaat agar tidak binasa di dalam dosa, melainkan bertobat dan hidup baru di dalam kebenaran Firman Tuhan (Yeh. 33:11). Dengan demikian TP-GKPI ini semata-mata didasarkan pada Firman Allah, ajaran Tuhan Yesus Kristus, sebagai Gembala yang baik dan Kepala Gereja. Untuk menjaga tugas dan misi GKPI sebagai terang dan garam dunia di dalam persekutuan dan kesatuan jemaat maka seluruh warga jemaat GKPI semestinyalah hidup dalam keteraturan, kesopanan, ketertiban, damai dan hidup dalam kebenaran Firman Allah. GKPI, dalam usahanya untuk membentuk dan mempersekutukan semua orang di dalam Kristus, dan untuk menjadikan orang Kristen bertumbuh dalam iman dan perilaku yang benar, supaya dapat menjadi terang dan garam dunia, memiliki tanggungjawab untuk:


2 1. Membimbing setiap warga jemaatnya untuk terus membina hubungan yang bersifat pribadi dengan Tuhan. 2. Menciptakan suasana yang dapat mendukung terjadinya persekutuan yang erat di dalam jemaat. 3. Membimbing jemaat agar dapat membangun hubungan dengan sesama manusia di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, dan menjawab tantangan, baik dari kehidupan sehari-hari yang dihadapi jemaat itu sendiri maupun yang berasal dari lingkungan sekitar, secara kristiani. 4. Menggali karunia jemaat, serta mendorong jemaat untuk menggunakan karunia tersebut dalam melakukan pekerjaan Tuhan (1 Kor. 12:1-12; Rm. 12:6-8). 5. Memperlengkapi jemaat dalam menjalankan tugas apostolat, pastorat, dan diakonat. TP-GKPI ini mencakup: • Pengertian dan Dasar-dasar Penggembalaan, • Penggembalaan Umum, • Penggembalaan Pranikah, • Penggembalaan Khusus dalam berbagai aspek kehidupan, dan • Pelaksana Tata Penggembalaan. Di dalam perumusannya diupayakan selaras dengan isi Alkitab maupun dokumen-dokumen lain yang berlaku di GKPI, antara lain Tata Gereja, Pokokpokok Pemahaman Iman, dan Garis Kebijaksanaan Umum. Bahkan pada bagian-bagian tertentu dimuat kutipan langsung. Proses penyusunan Tata Penggembalaan ini cukup panjang. Segera setelah Sinode Am Kerja 2003, dibentuk Tim Penyusun TP-GKPI. Hasilnya baru dapat disampaikan pada Sinode Am Periode 2010. Namun demikian, Sinode Am ini memandang perlu revisi atas draft yang diajukan Tim Penyusun tersebut. Pada awal 2011 Pimpinan Pusat GKPI membentuk Tim Revisi atas draft TP-GKPI itu, terdiri dari beberapa anggota Tim Penyusun yang lama, ditambah dengan beberapa yang baru. Tim Revisi bekerja secara maraton di sepanjang tahun 2011-2012, menampung sebagian hasil kerja Tim Penyusun yang lama, serta menerima masukan dari Rapat Pendeta ke-37 tahun 2011 dan ke-38 GKPI tahun 2012, dari Sidang Majelis Pusat V akhir 2012, dan selanjutnya disampaikan ke Sinode Am Periode 2013 untuk dibahas secara final dan disahkan. Semoga dengan adanya TP-GKPI ini-yang telah memakan banyak waktu dan tenaga pelayan dan warga GKPI memperoleh tuntunan, serta menjalankan dan menerima penggembalaan, yang lebih jelas di dalam menjalani kehidupan ini. Tentu - sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan GKPI di masa mendatang - TP-GKPI ini terbuka untuk ditinjau dan disempurnakan. Semua itu kita lakukan demi ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, Gembala yang Baik, yang telah lebih dulu mengasihi kita. BAB I PENGERTIAN DAN DASAR-DASAR PENGGEMBALAAN 1. Pengertian 1.1 Tata Penggembalaan GKPI adalah sarana pembinaan dan pemeliharaan kehidupan anggota jemaat maupun pelayan gereja (pejabat gerejawi) sebagai Persekutuan umat percaya yang telah dikuduskan oleh darah Yesus Kristus. 1.2 Penggembalaan Umum adalah Penggembalaan kepada semua warga dan pelayan gereja yang dilakukan secara terus-menerus (berkesinambungan) melalui Kebaktian, Kunjungan (Perlawatan) Pastoral, Percakapan Pastoral, Surat Penggembalaan, dan bentuk-bentuk Penggembalaan Umum lainnya. 1.3 Penggembalaan Khusus adalah Penggembalaan yang dilakukan khusus kepada warga atau pelayan gereja tertentu sehubungan dengan kebutuhan ataupun masalah khusus yang dihadapi atau dialaminya.


3 1.4 Tata Cara Penggembalaan ialah pengaturan tentang cara pelaksanaan Tata Pengembalaan di GKPI. 2. Dasar TP-GKPI 2.1 Dasar TP-GKPI adalah Firman Allah dan Amanat Tuhan Yesus Kristus yang terdapat dalam Alkitab, antara lain Kel. 20:1-20; Mzm. 23; 128; Yeh. 33:11; Mat. 16:19, 18:18, 28:19-20; Yoh. 10:11; 20:24; Rm. 3:23; Kol. 3:18-24; Ef. 5:21-23; 1 Tim. 1:3-11; 2 Tim. 3:16-17; Why.2:3. 2.2 Hakikat Tata Penggembalaan adalah cara dan alat Tuhan untuk menjaga dan memelihara dombadomba-Nya, yaitu gereja-Nya, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya: ""Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan... Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya"" (Yeh. 34:12, 16). 2.3 Wujud Tata Penggembalaan adalah seperangkat ketentuan yang dipedomani Gereja (d.h.i. GKPI) untuk melaksanakan tugas penggembalaan bagi warga dan pelayannya. 3. Maksud TP-GKPI 3.1 Maksud TP-GKPI adalah memelihara kesehatan gereja sebagai tubuh Kristus agar anggota gereja jangan tersesat dan tidak dibiarkan tinggal dalam kesesatan." 3.2 Tujuan TP-GKPI adalah membimbing kehidupan anggota jemaat sebagai kawanan domba Allah yang hidup berdasarkan iman, harap dan kasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan kepada orang tersesat/bersalah diambil tindakan sesuai dengan Tata Penggembalaan ini dalam rangka membimbingnya kembali ke jalan yang benar. 4. Sikap terhadap Tata Penggembalaan dan Terhadap yang menjalaninya. 4.1 Semua warga dan pelayan gereja menerima dengan sukacita Penggembalaan Umum yang dilakukan secara terus-menerus (berkesinambungan) melalui Kebaktian, Kunjungan Pastoral, Percakapan Pastoral, Surat Penggembalaan, Perlawatan, dan bentuk-bentuk Penggembalaan Umum lainnya. 4.2 Mereka yang menjalani Penggembalaan Khusus bukanlah musuh atau orang yang paling hina/kotor yang harus dihindari oleh Jemaat, melainkan saudara yang harus dibimbing supaya kembali ke jalan yang benar. Dengan demikian TP-GKPI ini tidak didasarkan pada dendam ataupun kebencian." 4.3 Untuk itu perlu diingat dan diperhatikan agar warga dan terutama pelayan gereja: a. Mendoakan mereka. b. Mengunjungi serta menasehati orang yang bersalah itu. c. Menasehatidan mengajak mereka untuk turut serta mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian lainnya di jemaat. 5. Pemulihan bagi mereka yg menjalani Penggembalaan Khusus. Setelah Majelis Jemaat meneliti dan mengawasi tingkah laku (kehidupan) warga jemaat dan pelayan jemaat yang menjalani Penggembalaan Khusus, dan ybs. menunjukkan pertobatan, maka ia diterima kembali sebagai anggota jemaat penuh dengan ketentuan sebagai berikut: 5.1 Setelah melalui pembimbingan/penggembalaan/pengajaran secukupnya sesuai dengan keputusan rapat pelayan tahbisan di setiap aras GKPI. 5.2 Bila orang yang diterima kembali itu berasal dari kalangan pejabat gerejawi, ia dapat diterima kembali memangku jabatannya semula menurut pertimbangan rapat yang berwenang untuk itu. 5.3 Pemulihan dan penerimaan kembali.


4 BAB II PENGGEMBALAAN UMUM 1. Penggembalaan Umum kepada Para Pelayan 1.1 Penggembalaan Umum kepada Pendeta 1.1.1 Arti dan Tujuan Penggembalaan Umum kepada Pendeta: Pendeta sebagai gembala secara umum perlu juga mendapat enggembalaan. Pendeta membutuhkan pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gereja-Nya. Untuk itu setiap pendeta, selain sendiri berupaya, juga membutuhkan pendampingan dari kalangan atau wadah tertentu di luar dirinya. 1.1.2 Tata Cara Pelaksanaan: Para pendeta GKPI melalui Badan Pekerja Rapat Pendeta (BPRP) GKPI membentuk Tim atau Komisi Penggembalaan Pendeta (Pastor Pastorum). Komisi ini terdiri dari sejumlah Pendeta Senior (telah berdinas minimum 20 tahun, termasuk Pendeta yang sudah pensiun). Komisi ini menyusun Tata Kerjanya sendiri dan disahkan pada Rapat Pendeta GKPI. Setiap anggota (termasuk pengurus) Komisi ini bertugas melakukan penggembalaan umum terhadap setiap pendeta GKPI minimum sekali setahun. 1.2 Penggembalaan Umum kepada Penatua 1.2.1 Arti danTujuan Penggembalaan Umumkepada Penatua Para penatua (sebagai penilik dan pengawas ajaran dan perilaku di jemaat) juga perlu mendapat penggembalaan. Penatua membutuhkan pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gereja-Nya. Untuk itu setiap penatua selain sendiri berupaya juga membutuhkan pendampingan dari kalangan atau wadah tertentu di luar dirinya. 1.2.2 Tata Cara Pelaksanaan a. Di setiap jemaat atau resort dibentuk Tim atau Komisi Penggembalaan Penatua yang diketuai oleh pendeta jemaat/ resort yang bersangkutan, yang anggotanya terdiri dari sejumlah penatua senior (telah berusia Minimal 50 tahun dan telah ditahbiskan minimum 10 Tahun , termasuk Pentua yang sudah purnabakti). b. Tata Kerja Komisi Penggembalaan Penatua disusun oleh GKPI melalui Kepala Departemen Pastorat GKPI. Setiap anggota (termasuk pengurus) Komisi ini bertugas melakukan penggembalaan umum terhadap setiap penatua GKPI minimum sekali setahun. 1.3 Penggembalaan Umum kepada Pelayan Lainnya 1.3.1 Arti dan Tujuan Penggembalaan Umum kepada Pelayan Lainnya Para pelayan lainnya (Evangelis, Bijbelvrouw, Guru Sekolah Minggu, dll.) juga memerlukan penggembalaan yang bersifat umum dalam rangka pemeliharaan, penyegaran dan peningkatan komitmen untuk melayani Tuhan dan gereja-Nya. 1.3.2 Tata Cara Pelaksanaan Tata Cara Penggembalaan bagi para pelayan lainnya ini disusun oleh GKPI melalui Kepala Departemen Pastorat GKPI dan dapat digabungkan dengan Tata Cara Penggembalaan Umum bagi Penatua. Setiap pelayan seboleh-bolehnya mendapat penggembalaan umum minimum sekali setahun. 2. Penggembalaan Umum kepada Warga Jemaat 2.1 Perkunjungan 2.1.1 Arti dan Tujuan Perkunjungan Setiap warga jemaat berhak mendapat penggembalaan umum berupa perkunjungan (perlawatan) pelayan jemaat (pendeta dan/atau penatua), ataupun komisi yang dibentuk


5 dan ditugaskan untuk itu, ke tempat tinggalnya minimum sekali setahun. Tujuannya, selain mempererat ikatan silaturahmi dan saling kenal, adalah untuk memelihara iman dan kesetiaan warga jemaat itu kepada Tuhan serta untuk berbagi (sharing) suka-duka dan pergumulan, dengan harapan bahwa ia mendapat penguatan dan bersama para pelayan jemaat menemukan jalan keluar bagi setiap pergumulan dan masalahnya. 2.1.2 Tata Cara Pelaksanaan Setiap jemaat membentuk Komisi Perkunjungan (Perlawatan) yang diketuai oleh seorang pelayan jemaat. Anggota Komisi Perkunjungan terdiri dari sejumlah pelayan dan warga jemaat yang memberi diri dan sudah mendapat pelatihan. Komisi bekerja dan membagi diri sesuai dengan pembagian sektor / lingkungan di jemaat itu. Perkunjungan tidak digabungkan dengan penyelenggaraan kebaktian sektor / lingkungan di rumah warga jemaat itu. Tata Cara lebih rinci diatur oleh jemaat yang bersangkutan. 2.2 Percakapan/Konseling Pastoral 2.2.1 Arti dan Tujuan Percakapan/Konseling Pastoral Percakapan/Konseling Pastoral adalah percakapan dan konseling yang diadakan oleh seorang pastor (pendeta, gembala) atau konselor (yaitu seseorang yang sudah mendapat pendidikan dan pelatihan di bidang Konseling Pastoral), dengan seorang warga gereja (ataupun pelayan gereja lainnya) sebagai konseli, menyangkut permasalahan atau pergumulan hidup tertentu yang tidak dapat dipecahkan sendiri oleh si konseli. 2.2.2 Tata Cara Pelaksanaan Percakapan/konseling pastoral diadakan secara pribadi, di ruang yang cukup terbuka, dan waktunya diatur berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Konselor berfungsi sebagai pendamping dan pendengar, memberi kesempatan seluasluasnya kepada konseli untuk mengutarakan pergumulan, masalah dan isi hatinya, serta menggugah, menantang, dan memotivasi konseli untuk menghadapi dan memecahkan masalahnya, dan pada akhir percakapan ditutup dengan berdoa bersama. Penggembalaan Umum juga diberikan kepada Calon Warga Jemaat, antara lain untuk mengetahui alasan, motivasi dan tujuannya masuk ke jemaat dan menjadi warga jemaat itu, serta untuk memberitahukan kepada yang bersangkutan hal-hal mengenai gereja/ jemaat yang akan dimasukinya (ajarannya, sistem organisasi dan pelayanannya, dsb.) Serta hak maupun tugas dan tanggungjawabnya sebagai warga jemaat. Bila ybs. berasal dari gereja lain, penggembalaan ini dilakukan beberapa minggu sebelum nama ybs. diwartajemaatkan. Bila ybs. berasal dari jemaat GKPI lain, cukuplah ybs. mendaftarkan diri dengan membawa surat pindah (atestasi) dari jemaat asalnya. BAB III PENGGEMBALAAN PRA-NIKAH 1. Pengertian Dan Tujuan Penggembalaan Pranikah 1.1 Penggembalaan Pranikah (Premarital Counseling) adalah penggembalaan yang dilakukan gereja/jemaat kepada warga jemaat yang akan menikah, baik bersifatkolektif atau secara bersama-sama (diberikan serempak kepada sejumlah pasangan yang akan menikah) maupun bersifat individual atau sendirisendiri (sepasang demi sepasang). 1.2 Tujuan Penggembalaan Pranikah adalah mempersiapkan dan membekali pasangan yang akan menikah dengan pemahaman dan pengetahuan yang penting dan mendasar dalam menjalani kehidupan perkawinan dan rumahtangga, dengan harapan bahwa mereka dapat mempraktikkan hal-hal itu, agar mereka tidak sampai terbentur atau gagal, melainkan menikmati kebahagiaan bersama dengan Tuhan dan sesama.


6 2. Pokok-pokok isi Penggembalaan Pranikah Pokok-pokok isi Penggembalaan Pranikah pada umumnya digali dari dan didasarkan pada Alkitab, serta diperkaya dengan sejumlah disiplin ilmu dan pengetahuan yangberkait dengan perkawinan, meliputi: 2.1 Prinsip-prinsip Pernikahan Kristen; mencakup antara lain: a. Arti perkawinan Kristen: persekutuan hidup dan kesatuan jasmani-rohani sepasang suamiisteri yang didasarkan pada cinta-kasih yang dari Tuhan (terutama agape); b. Tujuan perkawinan Kristen: memenuhi panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dan setia, memenuhi panggilan Tuhan untuk prokreasi (berketurunan), dan memberi wadah bagi suami-isteri untuk menikmati kemesraan dan penyegaran berkelanjutan; c. Ciri dan sifat perkawinan Kristen: mencakup seluruh aspek kehidupan, monogami dan eksklusif (satu laki-laki dan satu perempuan, tidak mengenal orang ketiga), dan langgeng (terus-menerus, tidak mengenal perceraian). Lihat perintah Allah kepada manusia tentang berkembang biak (Kej.1:28); teguran Tuhan yang keras terhadap perselingkuhan dan zinah (2 Sam. 12); pernikahan adalah lambang dari ikatan kasih antara Allah dan umat-Nya (Hos. 3), dan terutama pengajaran Yesus tentang pernikahan (suami-isteri bukan lagi dua melainkan satu, karena mereka telah dipersatukan Allah; dan Yesus sangat menentang perceraian: Markus 10: 6-12; bdk. 1Kor. 7). d. Perkawinan yang tidak dikaruniai keturunan juga diberkati Tuhan. "Karena keturunan hanyalah salah satu wujud karunia Allah yang ditambahkan atas perkawinan dan keluarga, maka suami-isteri yang tidak beroleh keturunan adalah juga keluarga yang lengkap. Mereka dapat menerima karunia Tuhan dalam bentuk dan wujud lain; karena itu ketiadaan keturunan tidak dapat dijadikan alasan untuk bercerai ataupunberpoligami." (P31 GKPI Bab XII ayat 5) e. Kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai yang diciptakan menurut gambar Allah; f. Panggilan untuk saling melayani, saling menolong, saling mengingatkan, saling mengisi, dan saling melengkapi; g. Kemandirian dan kedewasaan, yang digambarkan dengan ungkapan ""seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibu dan Bersatu dengan isterinya"" (Kej. 2:24); h. Ibadah dan doa dalam keluarga. 2.2 Komunikasi Antar Pasangan; mencakup antara lain a. Saling mendengar, bukan hanya saling berbicara; b. Bersama-sama membahas masalah dan mengupayakan pemecahannya; c. Mengerti dan menghargai pendapat yang berbeda; d. Memperhatikan kebutuhan pasangan, bukan hanya kebutuhan diri sendiri; e. Berusaha menjadi orang yang dapat dipercaya pasangan; membuat pasangan malu/dipermalukan, takut, rendah diri, tersinggung, menutup diri, dst. f. Menata waktu untuk diri sendiri maupun Bersama pasangan dan anak-anak. 2.3 PersiapanFisikdanMentalMemasuki Pernikahan; mencakup antara lain: a. Pemeriksaan kesehatan tubuh, termasuk fungsi organ-organ prokreasi (ke dokter). b. Pemeriksaan kesehatan jiwa, termasuk kedewasaan, kemandirian persekutuan hidup, stabilitas emosional, dan kemampuan menghadapi tekanan (ke psikolog); c. Pekerjaan dan penghasilan yang jelas dan memadai (dari sumber-sumber yang halal) untuk menunjang ekonomi rumah tangga; d. Kemandirian, termasuk dalam hal tempat tinggal (tidak mesti milik sendiri, tetapi sebaiknya terpisah dari orangtua; bnd. Kej. 2:24). 2.4 Etika Seksual; mencakup antara lain: a. Pemahaman tentang seks dan hubungan seksual sebagai karunia Tuhan; b. Pengenalan terhadap aspek-aspek dan fungsi-fungsi seksual; c. Hubungan seksual yang sehat dan penggunaan organ-organ seksual secara benar; d. Pengenalan terhadap gangguan, kelainan, dan penyakitpenyakit seksual;


7 e. Kekerasan dan pelecehan seksual yang harus dihindarkan." 2.5 Penataan Ekonomi Rumah Tangga; mencakup antara lain: a. Kejelasan dan kepastian sumber dana keluarga (gaji/ penghasilan, warisan, dsb.); b. Perencanaan ekonomi/keuangan/anggaran belanja keluarga; c. Pengendalian keuangan: kebutuhan versus keinginan; kendalikan kredit; d. Pembukuan dan pengelolaan keuangan keluarga; e. Kesepakatan penggunaan uang/penghasilan, termasuk untuk orangtua dan sanak saudara. 2.6 Menjadi Orangtua; mencakup antara lain: a. Persiapan (fisik dan mental) kehamilan dan kelahiran anak; b. Wujud kasih-sayang kepada anak-anak (bukan terutama kelimpahan material); c. Merawat dan menjaga kesehatan (fisik dan mental) anakanak; d. Pendidikan anak-anak (di rumah, di gereja, di sekolah, ekstra kurikuler); e. Antisipasi kesulitan dan ketidak-berhasilan memperoleh anak kandung, a.l. bayi tabung, inseminasi, dan adopsi; f. Konsekuensi wanita karier, dan suami atau isteri banyak bepergian. 2.7 Undang-undang Perkawinan;mencakup antara lain: a. Arti dan tujuan perkawinan menurut Undang-undang Perkawinan;" b. Syarat-syarat perkawinan menurut Undang-undang Perkawinan; c. Pentingnya Perkawinan secara hukum (Pencatatan Sipil); d. Perbedaan UUP dengan prinsip-prinsip perkawinan Kristen, a.l. masalah perceraian (dibenarkan UUP tetapi tidak dibenarkan gereja Kristen); e. Perkawinan antar yang berbeda agama: masalah-masalah di dalamnya (a.l. apakah boleh menikah dan boleh. mempertahankan agama masing-masing?) dan konsekuensinya. 2.8 Adat-Istiadat Perkawinan/Kekeluargaan; mencakup antara lain: a. Arti dan tujuan perkawinan menurut adat (terutama adat Batak); b. Tatacara perkawinan menurut adat (terutama adat Batak): marhori-hori dinding, marhusip, marhata sinamot, marunjuk, paulak une, maningkir tangga; c. Perkawinan dan keluarga sebagai bagian dari keluarga besar/ persekutuan adat; d. Hak, kewajiban, dan tanggungjawab dalam persekutuan adat /marga; e. Sikap gereja terhadap adat perkawinan: menghormati sekaligus mengendalikan. 3. Tata Cara Pelaksanaan 3.1 Penggembalaan Pranikah yang bersifat kolektif diberikan sekurang-kurangnya dua bulan (delapan minggu) sebelum Ikat Janji Pranikah (Marpadan/Martumpol), setelah masing-masing pasangan mendaftar ke Majelis Jemaat. 3.2 Apabila calon mempelai berdomisili di tempat yang jauh dari jemaat tempat menerima pemberkatan nikah, Penggembalaan Pranikah (termasuk pemeriksaan kesehatan) dapat dilakukan di gereja/jemaat/tempat yang dekat dengan domisili mereka. Mereka membawa surat keterangan dari jemaat tempat menerima Penggembalaan Pranikah dan dari RS/dokter tempat memeriksa kesehatan. 3.3 Penggembalaan Pranikah yang bersifat kolektif itu diadakan selama 8 (delapan) sesi, masingmasing kurang lebih 90 menit sebagaimana disebut pada butir 3.1. Namun dalam hal situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, maka pendeta dapat memberikan dispensasi. 3.4 Penggembalaan Pranikah yang bersifat individual diadakan 2-3 kali sebelum Ikat Janji Pranikah, untuk memantapkan dan mematangkan persiapan fisik-mental-spiritual-psikologis serta sosialekonomi-kultural dari pasangan yang akan menikah itu. 3.5 Penggembalaan yang bersifat kolektif diberikan oleh pendeta dan/atau narasumber yang ditugaskan jemaat dan dinilai cakap untuk tiap pokok yang akan dibekalkan. 3.6 Penggembalaan yang bersifat individual diberikan oleh Pendeta ataupun Guru Jemaat. 3.7 Pasangan mendapat pelayanan pemberkatan nikah di GKPI setelah lebih dulu mengikuti Penggembalaan Pranikah.


8 BAB IV PENGGEMBALAAN KHUSUS 1. Penggembalaan khusus kepada pelayan/pejabat gerejawi 1.1.Penggembalaan khusus kepada pelayan/Pejabat dst… 1.2 Jenis-jenis Pelanggaran Etika Jabatan Pelayanan 1.2.1 Pejabat/Pelayan gerejawi dalam waktu tertentu (maksimal satu tahun) tidak mau melaksanakan tugasnya. 1.2.2 Pejabat/Pelayan gerejawi menyalahgunakan jabatannya. 1.2.3 Pejabat/Pelayan gerejawi tidak menjaga rahasia jabatan." 1.3 Penggembalaan khusus kepada pelayan/pejabat gerejawi dilaksanakan secara berjenjang dan bertahap: 1.3.1 Penggembalaan khusus kepada pendeta dilakukan Tim/Komisi Penggembalaan Pendeta (Pastor Pastorum; lihat bab II, butir 1.1.2). Penggembalaan dilakukan dalam bentuk percakapan. Bila pendeta ybs. mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ. Bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, maka masalahnya disampaikan kepada BPRP atau Pimpinan Sinode GKPI. Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas pendeta ybs. untuk sementara ditangguhkan. Hal-hal lain yang belum diatur dalam butir ini diatur dalam Disiplin Kependetaan. 1.3.2 Penggembalaan khusus kepada pelayan/pejabat gerejawi dilaksanakan bila ybs. melakukan kesalahan atau pelanggaran (yang antara lain diuraikan pada butir 3 s/d 23 dibawahini),yaitu menganut dan mengajarkanajaran yang bertentangan dengan Firman Allah dan Pokok-pokok Pemahaman Iman (P31) GKPI, atau menyalahgunakan dan/atau mengingkari jabatannya dan menimbulkan keresahan, kekacauan atau perpecahan di dalam jemaat, atau kelakuannya bertentangan dengan Firman Allah, sehingga menjadi batu sandungan kepada masyarakat, dengan tujuan agar ia menyesal, bertobat, dan memohon pengampunan pada Allah. 1.3.3 Penggembalaan khusus kepada penatua dilakukan Tim/Komisi Penggembalaan Penatua (lihat bab II, butir 1.2.2). Penggembalaan dilakukan dalam bentuk percakapan. Bila penatua ybs. mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan, maka masalahnya selesai sampai di situ, namun bila ybs. tidak mengakui kesalahannya, tetapi ada bukti yang jelas, maka masalahnya disampaikan kepada Majelis atau pendeta ybs. Selama masalah belum diselesaikan, pelaksanaan tugas penatua ybs. untuk sementara ditangguhkan. 1.3.4 Pemulihan dan penerimaan kembali: Setelah penggembalaan khusus dijalankan dan masalah diselesaikan, dan pelayan ybs. menunjukkan pertobatan, maka statusnya dipulihkan dan ia diterima kembali sebagai pelayan GKPI." 2. Penggembalaan Khusus kepada warga jemaat. 2.1 Penggembalaan khusus dilaksanakan kepada anggota jemaat yang melakukan kesalahan atau pelanggaran (yang antara lain diuraikan pada butir 3 s.d. 23 di bawah ini), yaitu menganut ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah/P31-GKPI, atau kelakukannya bertentangan dengan Firman Allah,ataumenjadi batu sandungan bagi orang lain. 2.2 Langkah pertama adalah: Pada dasarnya semua anggota Jemaat terpanggil untuk memberikan teguran dan nasehat dalam kasih, agar ia menyesal dan memohon pengampunan dan bertobat (lihat Mat. 18:15-20). 2.3 Jika tegoran itu tidak membawa hasil, anggota yang menyampaikan teguran itu memberitahukan kepada Majelis Jemaat Berdasarkan laporan tersebut Majelis Jemaat, dalam hal ini Penatua


9 bersama pendeta, menyampaikan teguran terhadap anggota jemaat tersebut dengan mengikutsertakan orang yang melaporkan." 2.4 Jika yang bersangkutan sudah ditegur beberapa kali dan tidak membawa hasil, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan menerima Perjamuan Kudus, menjadi anggota Majelis Jemaat, atau menerima pelayanan Pernikahan jika yang bersangkutan belum menikah, atau haknya sebagai anggota jemaat dibekukan 2.5 Majelis Jemaat terus melaksanakan Penggembalaan Khusus kepada yang bersangkutan agar ybs. memohon pengampunan dan bertobat. 2.6 Pemulihan dan penerimaan kembali: Setelah Majelis Jemaat meneliti dan mengawasi perilaku warga jemaat yang menjalani Penggembalaan Khusus, dan ybs. menunjukkan pertobatan, maka statusnya dipulihkan dan ia diterima kembali sebagai anggota jemaat penuh di hadapan Majelis Jemaat. 3. Perkawinan dan kehidupan Rumahtangga 3.1 Syarat-syarat Umum 3.1.1 Sesuai dengan Undang-undang Perkawinan, umur calon pengantin laki-laki dan perempuan tanpa di bawah perwalian minimal 21 tahun. Dispensasi mengenai umur ini hanya dapat diberikan oleh Pendeta Resort, bila ada alas an yang mendesak, sejauh tidak menyimpang dari UU Perkawinan (yaitu minimum 18 tahun dan di bawah perwalian). 3.1.2 Bila usia calon mempelai belum mencapai 21 tahun (tetapi minimum sudah 18 tahun), mereka harus mendapat persetujuan dari orangtua/wali. 3.1.3 Sudah dibaptis dan naik sidi, dibuktikan oleh Akte Baptis dan Akte Sidi. 3.1.4 Calon mempelai (laki-laki dan perempuan) memiliki surat keterangan keanggotaan jemaat. 3.1.5 Sudah mengikuti Penggembalaan Pranikah (lihat Bab III Butir 3.3). 3.1.6 Memperhatikan syarat-syarat yang terdapat di dalam Undang-undang Perkawinan RI yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, termasuk mencatatkan perkawinan kepada negara (Catatan Sipil). 3.1.7 Jika pengantin laki-laki dari kalangan ABRI atau Kepolisian, diperlukan surat persetujuan menikah dari pimpinan kesatuannya. 3.1.8 Kebaktian Pemberkatan Nikah didahului dengan kebaktian Perjanjian Pra-Nikah (Martumpol) 3.1.9 Diumumkan melalui Warta Jemaat dua kali hari Minggu berturut-turut. Jika hanya diumumkan satu kali, Pendeta Resortlah yang memberikan dispensasi untuk itu, setelah meneliti dengan seksama apa alasannya. 3.1.10 Perkawinan yang monogami. 3.1.11 Perkawinan yang dikukuhkan dan diberkati oleh pendeta dengan mengambil tempat di gedung gereja ataupun di rumah, setelah memenuhi syarat-syarat umum tersebut di atas. 3.2 Syarat-syarat Khusus 3.2.1 Pemberkatan nikah bagi mereka yang disebut “kawin lari" dilayani oleh Pendeta juga, dengan mengambil tempat di gedung gereja atau di rumah keluarga yang bersangkutan, setelah memenuhi syarat-syarat perkawinan pada butir 3.1 di atas. Jika surat persetujuan orangtua/wali tidak ada, mereka boleh menerima pelayanan pemberkatan nikah bila telah berusia di atas 21 tahun, dan mereka berada dalam pengawasan penatua sebelum pelayanan pemberkatan nikah. 3.2.2 Bagi seorang janda atau duda (karena kematian) yang akan menikah lagi, diberikan syaratsyarat tambahan: 3.2.2.1 Perkawinan seorang janda atau duda dapat disetujui setelah ia menjanda atau menduda sekurang-kurangnya 1 tahun dan tidak bertentangan dengan adat-istiadat setempat.


10 3.2.2.2 Dispensasi bagi peraturan pada butir 3.2.2 ini dapat diberikan oleh Pendeta Resort dan Majelis Jemaat dengan pertimbangan khusus terhadap kasus-kasus tertentu. 3.2.3 Pemberkatan perkawinan bagi orang Kristen yang berasal dari Gereja tetangga dapat dilaksanakan di GKPI berdasarkan permohonan mereka setelah memenuhi persyaratan yang berlaku di GKPI, sebagaimana diatur pada butir 3.1, dan ybs. membawa Surat Keterangan dari gerejanya. 3.2.4 Pelayanan pemberkatan nikah dapat diberikan kepada warga GKPI yang hendak kawin dengan orang yang berasal dari agama lain dengan ketentuan: orang yang berasal dari agama lain itu membuat surat pernyataan yang berisi: 3.2.4.1 Meninggalkan agama semula bukan karena paksaan tetapi dengan iman dan hati yang tulus. 3.2.4.2 Bersedia menjadi pengikut Kristus. 3.2.4.3 Bersedia menerima bimbingan dan dibaptis sebelum pemberkatan nikah 3.3 Ketentuan Tambahan 3.3.1 Pemberkatan perkawinan di GKPI tidak terpengaruh oleh ada-tidaknya kegiatan-kegiatan secara adat setempat, uang mahar, dsb. 3.3.2 Apabila pendeta berhalangan, maka evangelis, guru jemaat ataupun penatua dapat melayani pemberkatan nikah (tanpa penumpangan-tangan), atas persetujuan pendeta tersebut. 3.3.3 Kepada setiap warga jemaat yang perkawinannya dikukuhkan dan diberkati di GKPI diberikan Akte Kawin. 3.4 Perkawinan Terlarang 3.4.1 Perkawinan yang tidak dilaksanakan dalam kebaktian pemberkatan pernikahan secara Kristiani, baik di gereja ataupun di rumah. 3.4.2 Perkawinanyanghanya dikukuhkanoleh tua-tua adat (bhs. Batak: pasu-pasu raja). 3.4.3 Perkawinan Poligami (Poligini ataupun Poliandri) 3.4.4 Kawin kontrak 3.4.5 Kumpul kebo 3.4.6 Perkawinan sejenis (homoseksual: gay, lesbian), bisek sual, ataupun transgender. 3.4.7 Perkawinan dengan ibu tiri/ayah tiri (bnd. Im. 18:8; 1 Kor 5:1-2). 3.4.8 Perkawinan dengan menantu (bnd. Im. 18:15). 3.5 Perkawinan Liar 3.5.1 Melakukan hubungan suami-istri sebelum pemberkatan atau hamil di luar nikah. 3.5.2 Melahirkan anak tanpa suami yang sah. 3.5.3 Berzinah atau melakukan pelacuran, atau menjadi germo dan Pekerja Seks Komersial (PSK). 3.5.4 Segala bentuk kecemaran dan perbuatan yang memalukan (Rm. 1:24-27). 3.6 Tindakan Mencederai Perkawinan 3.6.1 Menceraikan istri atau suami. 3.6.2 Suami mengusir atau menganiayai istri atau sebaliknya, atau pisah ranjang tanpa alasan yang jelas 3.6.3 Orangtua mengusir dan tidak mengizinkan menantunya bersama dengan putra/putrinya, atau Tindakan lain yang menyebabkan terjadinya pisah ranjang/cerai. 3.6.4 Berbagai tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), di antara suami-isteri maupun orangtua-anak (rinciannya lihat butir 18; bnd. Undang-undang Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga). 3.7 Tata Cara Penggembalaan 3.7.1 Bagi warga jemaat yang melakukan pelanggaran atas ketentuan di atas dikenakan Tata Penggembalaan, yaitu bimbingan dan pengajaran, sampai yang bersangkutan mengungkapkan pertobatan di hadapan Majelis Jemaat dan yang bersangkutan diterima kembali sebagai warga jemaat penuh. 3.7.2 Warga dan pelayan gereja yang melakukan pelanggaran sebagaimana disebut pada butir 3.5.1 digembalakan secara khusus dan menyampaikan pengakuan di hadapan Majelis


11 Jemaat, lalu perkawinannya dapat diberkati, agar perkawinannya tidak menjadi liar, dan penggembalaan dapat dilanjutkan. 3.7.3 Bagi warga jemaat yang melakukan perkawinan terlarang (butir 3.4.1 dan 3.4.2), setelah dilakukan penerimaan dan dikukuhkan menjadi keluarga yang sah di GKPI maka diberikan Akte Pernikahan ataupun Surat Keterangan Menikah sesuai dengan tanggal pernikahan. Tujuannya adalah untuk merespons peraturan pemerintah tentang catatan sipil perkawinan yang membutuhkan Akte Pernikahan ataupun Surat Keterangan Menikah dari Gereja, dan agar anak-anak yang lahir dari perkawinan itu diperlakukan sebagai anak-anak yang sah. 3.7.4 Bagi suami/istri yang melakukan poligami dan poliandri dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk pengakhiran keanggotaannya. Ybs. dapat diterima kembali bila yang bersangkutan kembali menjalani perkawinan monogami. 3.7.5 Suami atau isteri yang ditinggalkan atau diceraikan oleh pasangannya dengan bukti yang sah, tidak dikenakan TP-GKPI." 3.7.6 Jika pasangan yang menjalani TP-GKPI mendaftar ke jemaat GKPI lain, mereka dapat diterima tetapi status pasangan ini adalah warga yang dikenai TP-GKP 4. Kelahiran dan Perolehan Anak 4.1 Perolehan anak yang normal adalah melalui hubungan suami-istri dalam perkawinan yang sah. 4.2 Dalam banyak kasus suami-istri tidak mendapat anak melalui cara yang normal. Karena itu dimungkinkan memperoleh anak melalui metode atau jalan lain, antara lain: 4.2.1 Bayi Tabung Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan modernisasi ilmu kedokteran maka pembuahan dan kelahiran dapat diupayakan melalui bayi tabung. Tujuannya membantu pasangan keluarga yang tidak punya anak untuk mempunyai anak. Warga GKPI diizinkan mengupayakan anak melalui metode bayi tabung, dengan ketentuan bahwa benih harus dari suamiistri yang sah. 4.2.2 Inseminasi juga diizinkan apabila benih yang disuntikkan berasal dari suami yang sah. 4.2.3 Adopsi Anak Pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak kandung diperbolehkan untuk mengangkat atau mengadopsi anak. Adopsi anak harus dilaksanakan dengan memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta ditindak-lanjuti dengan mendidik, membesarkan dan membina si anak dalam kasih Yesus Kristus." 4.3 Jenis-jenis Pelanggaran terhadap Kelahiran dan Perolehan Anak: 4.3.1 Metode bayi tabung yang bukan dari benih suami-istri yang sah. 4.3.2 Benih yang disuntikkan melalui metode inseminasi tidak berasal dari suami ybs. 4.3.3 Adopsi yang tidak memenuhi ketentuan perundangundangan atau yang hanya bertujuan untuk memancing, lalu setelah mendapat anak kandung anak yang diadopsi itu diterlantarkan. 4.3.4 Memperoleh anak dari hasil mencuri (menculik), membeli (perdagangan anak), atau menukar bayi. 4.3.5 Kloning (cloning, penggandaan manusia melalui pemecahan sel yang terpilih sebagai sel unggulan) tidak diizinkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip perkembang-biakan manusia (lihat juga Pasal 18.3). 4.4 Tatacara Penggembalaan: Bagi warga jemaat yang melakukan pelanggaran atas ketentuan di atas dikenakan Tata Penggembalaan, yaitu bimbingan dan pengajaran, sampai yang bersangkutan mengungkapkan pertobatan di hadapan Majelis Jemaat dan yang bersangkutan diterima kembali sebagai warga jemaat penuh. 5. Pekerjaan


12 5.1 Bekerja adalah perintah Allah kepada manusia Ketika manusia diciptakan (Kej. 1:28; 2:15). Oleh karena itu hakikat manusia sebagai yang harus bekerja telah ditetapkan sejak semula. Janganlah orang mencuri dan melakukan pekerjaan yang tidak benar dan tidak baik (Kel. 20:15; Ef. 4:28), tidak malas melainkan memiliki semangat bekerja keras (Amsal 6:6-11; 20:4, 13). Yesus sendiri bekerja, demikian juga Rasul Paulus, sekadar menyebut parapanutan kita(Mrk. 6:3;Titus3:14; 2Tes. 3:6-12). Maka anggota jemaat harus mencermati dorongan Paulus, jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes. 3:10). Perintah agar manusia bekerja, mendorong kita untuk melaksanakan pekerjaan kita dengan penuh rasa tanggung jawab (Mat. 25: 14-30), tetapi juga panggilan untuk tidak menjalankan usaha dan pekerjaan berlandaskan rasa kuatir (Mat. 6:28-30) dan perencanaan yang tanpa menyertakan Tuhan (Yak. 4:13-17). 5.2 Pelanggaran terhadap Pekerjaan yang Benar: 5.2.1 Mencuri, menipu, korupsi, menadah hasil curian, merampok, menodong, menyandera atau menculik, berjudi dan melakukan toto gelap (togel) atau sejenisnya. 5.2.2 Menjual yang bukan hak miliknya. 5.2.3 Rentenir 5.2.4 Perdagangan Manusia dan Organ-organ tubuh manusia 5.2.5 Perdagangan Narkotika dan Zat Adiktif lainnya (Narkoba). 5.3 Tata Cara Penggembalaan 5.3.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran tersebut di atas, ybs. dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang pekerjaan yang benar, dan janji Allah tentang hal itu. Setelah ada pengakuan dan pertobatan di hadapan Majelis jemaat, ybs. diterima kembali sebagai anggota penuh. 5.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan pelanggarannya makasetelah dilakukan penggembalaan secara berulang-ulang - keanggotaan ybs. diakhiri. 6. Penyakit dan Penyembuhan 6.1 Memiliki tubuh dan jiwa yang sehat adalah kerinduan setiap orang. Untuk itulah orang berusaha untuk tidak jatuh dalam sakit dengan mengusahakan hidup yang sehat, mengkonsumsi makanan yang sehat dan vitamin, berolahraga, bersantai dan bersikap positif serta menikmati hidup. Kita juga bersyukur bahwa sejumlah obat penting ditemukan dan berbagai penyakit mematikan sudah dapat disembuhkan. Akan tetapi ternyata penyakit dan jatuh sakit tetap dapat menimpa kita. 6.2 Tidak ada orang yang berharap untuk sakit, tetapi bila hal itu terjadi, keadaan itu harus diterima, sambil mengusahakan penyembuhan. Maka penyakit haruslah dilihat sebagai hal yang wajar muncul dalam kehidupan manusia. Yang penting adalah - di samping menerimanya melakukan sesuatu bagi penyembuhan, yaitu berobat dan berdoa memohon pertolongan dari Tuhan, agar Tuhan memberi kesembuhan dan kekuatan serta ketenangan hati sehingga tidak bertambah susah karena kekuatiran-kekuatiran perasaan dan pikiran. Bersama dengan pengobatan medis, sikap percaya dan berharap kepada Tuhan adalah hal yang seharusnya dilakukan orang yang percaya kepada Tuhan; memiliki kerinduan yang tak kunjung putus untuk sembuh (2Raj. 5: 1-14; 20:1-11; Yoh. 5: 1-9; 9: 1-41; Luk. 5: 12-16; 17-26; Mat. 9: 1-8; Yak. 5:15-20). Kiranya Tuhan memberikan kesembuhan dan orang yang sakit sertakeluarganya tidak kehilangan pengharapan kepada Tuhan. 6.3 Kendati demikian perlu disadari bahwa pengobatan yang wajarlah yang seharusnya dilakukan orang pecaya. Bila penyakit tidak terobati, orang percaya kiranya dapat menerimanya dan tidak kehilangan kepercayaan kepada Tuhan, dan melihatbahwa didalamkeadaansakit dan tidak sembuh, ia juga berada dalam penyertaan dan penguatan dari Tuhan. 6.4 Karena itu penyembuhan yang boleh diupayakan adalah penyembuhan dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen. 6.5 Beberapa jenis upayapenyembuhan yang tidak sesuai dengan iman Kristen antara lain: 6.5.1 Pengobatan/penyembuhan yang mengandalkan kuasa okultisme (lihat Pasal 8);


13 6.5.2 Cangkok organ-organ tubuh melalui pemaksaan ataupun pembunuhan; 6.5.3 Euthanasia yaitu melakukan tindakan bunuh diri berbantuan (maksudnya dokter membantu pasien terminal untuk membunuh dirinya untuk mengakhiri penderitaannya). 6.5.4 Penggunaan Narkoba di luar cara-cara kedokteran yang resmi. 6.6 Tata Cara Penggembalaan 6.6.1 Warga jemaat yang sedang sakit dan mengupayakan penyembuhan memerlukan penggembalaan. Bentuk-bentuk penggembalaannya a.l. perkunjungan, percakapan pastoral (menjelaskan makna kesakitan/penyakit dan penyembuhan). 6.6.2 Bila warga jemaat terbukti melakukan penyembuhan dengan cara yang dilarang tersebut di atas (butir 6.5), maka ybs. dikenakan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang penyembuhan yang benar, dan janji Allah tentang hal itu. Setelah ada pengakuan dan pertobatan, kemudian ybs. diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 6.6.3 Jika ybs. tidak mau meninggalkan pelanggarannya, setelah dilakukan penggembalaan secara berulang-ulang, maka keanggotaan ybs. diakhiri. 7. Kematian Dan Pemakaman 7.1 Kematian adalah hal yang wajar terjadi atas manusia. Orang yang beriman memahami bahwa di balik kematian tersedia kehidupan yang kekal. Warga GKPI yang meninggal patut dimakamkan atau dikremasi (jasadnya diperabukan sesuai permintaan ybs.) dengan pemahaman bahwa itu adalah perhentian sementara menunggu kebangkitan d 7.2 Tata Cara Pemakaman yang baik: 7.2.1 Setiap jenazah warga jemaat dimakamkan dengan acara kebaktian pemakaman yang ditetapkan dalam Agenda GKPI. 7.2.2 Pemakaman jenazah warga jemaat yang masih dalam status dikenaiTata Penggembalaan dengan kategori kesalahan yang berat (a.l. poligami dan bunuh diri) tidak menggunakan Agenda GKPI, namun demikian diberangkatkan dengan nyanyian, doa dan khotbah penghiburan. 7.2.3 Jenazah pelayan dan warga gereja dapat diberangkatkan dari gedung gereja untuk seterusnya menuju pemakaman. 7.2.4 Penyemayaman sampai dengan pemakaman jenazah tetap berada di bawah pengawasan para pelayan jemaat, agar jangan terjadi hal-hal yang bertentangan dengan peraturan gereja. 7.2.5 Tindakan yang dipahami sebagai bentuk penghormatan terakhir dari keluarga/ kerabat, misalnya: menjatuhkan tanah atau menaburkan bunga, hendaklah diikuti dengan pengucapan Firman Allah atau doa yang menggambarkan pengharapan Kristen akan hidup yang kekal. 7.2.6 Ibadah pemakaman jenazah yang tidak diketemukan dapat dilaksanakan di tempat kejadian dengan menggunakan Tata Ibadah GKPI yang khusus untuk itu. 7.2.7 Persemayaman jenazah sebaiknya paling lama tiga hari, dan acara pemakaman selambatlambatnya sampai pukul 18.00 waktu setempat (tergantung situasi dan kondisi setempat). 7.2.8 Bila pemakaman dilakukan pada hari Minggu atau setelah itumaka Kebaktian Minggu diadakan di rumah duka dengan menggunakan Liturgi (Agenda) Kebaktian Minggu. 7.2.9 Kremasi Jenazah dilaksanakan dengan menggunakan Liturgi Pemakaman, dan berdasarkan 1 Korintus 15:35-50. 7.4 Jenis-jenis kegiatan yang tidak dibenarkan sehubungan dengan pemakaman" 7.4.1 Menabur garam dan melangkahi mayat. 7.4.2 Memasukkan barang-barang milik ybs. semasa hidup ke peti jenazah.


14 7.4.3 Menggunakan lambang-lambang kebudayaan yang mengandung paham animisme dalam rumah duka dan pada saat upacara pemakaman. 7.4.4 Menyapa jenazah, termasuk meminta berkat dari jenazah 8. Okultisme 8.1 Okultisme adalah kepercayaan kepada hal-hal yang tersembunyi, rahasia (misterius), gaib dan magis, serta pemujaan kepada -kekuatan yang bers adikodrati (supra-alamiah) dan supra-indrawi di luar Allah, dan bersifat irasional, yang mempengaruhi kehidupan manusia. Okultisme mencakup antara lain: Guna-guna, Sihir, Takdir, Penyembahan roh nenek-moyang, Menjalin hubungan dengan orang mati, Penyembahan kepada benda-benda, Perdukunan, Ramalan (Astrologi, Peruntungan, Meniti hari, dsb.; termasuk memakai Almanak Gereja untuk menentukan hari baik atau hari buruk), Mejik, Spiritisme (pemujaan terhadap roh-roh), Begu Ganjang, dan Berhala-berhala modern (a.l. pemujaan terhadap alat-alat teknologi modern). 8.2 Tata Cara Penggembalaan 8.2.1 Warga jemaat yang masih menganut okultisme dinasehati supaya-berpedoman pada Firman Tuhan (a.l. Kej. 35:2-4; Bil. 23:23; Ul. 7:25-26, 18:9-13; 1Raj. 15:12-13; 2 Raj. 21:3-6; 2Taw. 33:6,15; Kis. 19:19, 26:18; 2Kor. 11:14; Kol. 1:13; 2Tes. 2:9; 1Yoh, 4:4; dan Why. 3:20) tidak lagi menganut dan mempraktikkannya. 8.2.2 Khusus menyangkut hubungan dengan orang mati, kepada mereka a.l. dijelaskan bahwa tidak ada hubungan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati (bnd. Pkh. 12:7). Karena itu Firman Tuhan melarang orang yang beriman kepada Kristus untuk berhubungan dengan orang mati (bnd. Yes. 8:19; Ul. 18:10-12; Im. 19:31, 20:6,27). Namun demikian orang beriman dapat mengenang orang-orang yang mati di dalam Tuhan, karena mereka itu pun adalah bagian dari keluarga Allah (Ef. 2:19) dan pengenangan itu dilakukan pada Minggu Akhir Tahun Gereja. 8.2.3 Bila warga jemaat terbukti melakukan praktik okultisme maka kepada ybs. dikenakan Tata Penggembalaan berbentuk bimbingan dan pengajaran tentang keesaan dan kemahakuasaan Allah. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan, maka ybs. diterima kembali menjadi anggota penuh. 8.2.4 Jika ybs. tidak mau meninggalkan praktik tsb., atau masih melakukannya secara berulangulang, maka keanggotaannya di GKPI diakhiri. 9. Uang dan Harta Benda 9.1 Sikap dan pandangan GKPI terhadap uang dan harta-benda: pada hakikatnya uang dan hartabenda berasal dari Allah, yang dititipkan kepada kita sebagai penatalayannya, untuk kita kelola demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama manusia. Namun demikian kita juga memahami bahwa Iblis dapat juga memberikannya kepada manusia. Karena itu kita harus waspada terhadap godaan Iblis maupun sikap dan tindakan yang mendewakan dan mengutamakan uang dan harta benda. 9.2 Pemahaman, sikap dan tindakan yang mendewakan dan mengutamakan uang dan harta benda antara lain adalah: 9.2.1 Korupsi, yaitu menyelewengkan, menyalahgunakan wewenang dan jabatan, atau mengambil yang bukan haknya (terutama berupa uang dan harta-benda) (bnd. Ul. 5:21; 2Raj. 5:19-27; Pkh. 5:9; Am. 2:6; Luk. 3:12-14; Kis. 5:1-12,8:18-24; 1Tim. 6:10; 2Tim. 3:2; Ibr. 13:5); 9.2.2 Suap, yaitu memberikan atau menerima sejumlah uang atau benda tertentu dalam rangka memperoleh atau memberikan hal tertentu (penerimaan siswa/mahasiswa baru, penerimaan pegawai, pengurusan izin, penetapan pemenang tender, dsb.) (bnd. Kel. 18:21,


15 23:8; Ul. 10:17, 16:19; 1Sam 8:3; Ayb. 15:34; Mzm. 15:5; Ams. 15:27; Yes. 1:23; Am. 5:12; Mi. 7:3); 9.2.3 Rentenir, yaitu menjalankan/meminjamkan uang dengan bunga tinggi (riba) dengan tujuan memperoleh keuntungan besar sambil memerasatau merugikan orang lain (bnd. Im. 25:36; Neh. 5:7; Mzm. 15:5; Ams. 28:8; dan Yeh. 22:12). 9.2.4 Materialisme, yaitu pemahaman bahwa materi (hartabenda, termasuk uang) dapat memberi kepuasan, kebahagiaan dan kepenuhan hidup; sehingga materi ditimbun dan dipuja, dan hidup diarahkan untuk memperoleh materi sebanyak-banyaknya (bnd. Mzm. 49:7; Ams. 23:4; Luk. 6:24, 12:13-21; 1Tim. 6:9-10; 2Tim. 3:2; Ibr. 13:5).9.2.5 Konsumtivisme, yaitu pemahaman dan sikap yang mengejar, memuaskan dan memuja perolehan dan penggunaan harta-benda sebanyak-banyaknya (antara lain makananminuman, pakaian, perhiasan, alat-alat komunikasi, kendaraan, rumah dan perlengkapannya) (bnd. Ul. 21:18-20; Ams. 23:21; Tit. 1;12). 9.2.6 Hedonisme: pemahaman dan sikap yang berorientasi pada pemuasan hasrat dan hawa nafsu, serta perolehan kenikmatan (a.l. berpesta-pora, mengkonsumsi narkoba, dan mengumbar nafsu seksual) (bnd. Ams. 6:30, 11:6, 21:26; Mrk.7:22; Rm.13:13; Gal. 5:19; Ef. 4:19-22;Kol.3:5; 1Tes. 4:5; 1Tim. 6:19; 2Tim. 2:22, 3:4-6; Yak. 3:15, 4:1-3; 1Ptr. 1:14, 4:3; 2Ptr. 1:4; 2Ptr. 2:2-22) 9.3 Tata Cara Penggembalaan: 9.3.1 Pelayan atau warga jemaat yang terbukti memperlihatkan pemahaman, sikap dan Tindakan yang mendewakan atau memuja uang dan harta-benda sebagaimana dikemukakan di atas diajak bercakap-cakap serta disadarkan bahwa pemahaman, sikap dan tindakan itu bertentangan dengan firman dan kehendak Tuhan. 9.3.2 Bila ybs. mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya, masalahnya sampai di situ. Bila tidak, maka langkah-langkah yang dikemukakan pada Pasal 2 di tas dijalankan terhadapnya. 10. Pemeliharaan dan Hubungan Okemenis 10.1 Sebagai pendukung dan bagian dari gerakan oikoumenis, serta menjadi anggota dari berbagai organisasi dan persekutuan oikoumenis (a.l. PGI/PGIW, WCC, CCA, UEM, dan LWF) GKPI pada semua aras memelihara hubungan yang sehat dan saling menghormati dengan gereja-gereja pada umumnya dan gereja-gereja anggota persekutuan oikoumenis tersebut pada khususnya, termasuk mengikuti secara aktif berbagai kegiatan oikoumenis. 10.2 Khusus dengan gereja-gereja anggota PGI, GKPI berpegang pada salah satu Dokumen Keesaan Gereja, yaitu Piagam Saling Menerima dan Saling Mengakui, terutama dalam hal Baptisan dan Perkawinan. Dengan demikian bila ada warga dari gereja-gereja itu diterima menjadi anggota GKPI, mereka cukup membawa surat pindah (atestasi) dan tidak perlu berlama-lama menempuh Penggembalaan Umum kepada Calon Warga Jemaat (lihat Bab II.3). 10.3 Warga dari gereja-gereja yang bukan anggota PGI (termasuk yang dari Gereja Katolik Roma), bila hendak menjadi warga GKPI, diwajibkan mengikuti Penggembalaan Umum kepada Calon Warga Jemaat sebagai-mana diatur dalam Bab II.3. 10.4 Warga dan pelayan GKPI perlu waspada dan hati-hati terhadap berbagai persekutuan dan kegiatan gerejawi lainnya yang memakai label 'oikoumene' tetapi menyampaikan ajaran dan menjalankan praktik yang tidak sesuai dengan yang di GKPI (bnd. Pasal 11). 10.5 Kepada warga dan pelayan GKPI yang mengikuti kegiatankegiatan yang disebut pada butir 10.4 di atas dijalankan Penggembalaan Umum kepada Pelayan dan Warga Jemaat sebagaimana diatur pada Bab II. 11. Paham/Ajaran Lain yang berbeda dengan Ajaran / P3I GKPI 11.1 Selain pemahaman yang disebut pada Pasal 8-9, masih banyak paham/ajaran/aliran lain yang ada di sekitar GKPI. Sikap dan pandangan GKPI terhadap berbagai paham/ajaran/aliran lain itu


16 adalah: Bertolak dari Alkitab dan Pokok-pokok Pemahaman Iman (P31) GKPI, ada berbagai paham/ajaran/aliran lain yang dapat diterima, namun ada juga yang tidak dapat diterima oleh GKPI, dan oleh karena itu warga dan pelayan GKPI hendaknya tidak menganutnya. 11.2 Contoh-contoh paham/ajaran/aliran lain berbeda dan tidak dapat diterima GKPI: 11.2.1 Teologi Sukses (Teologi Kemakmuran): Paham ini mengajarkan bahwa orang Kristen sebagai anak-anak Tuhan pasti selalu sukses dan makmur (kaya-raya) secara material, tidak pernah sakit atau gagal, karena anak-anak Tuhan pasti diberkati Tuhan secara berkelimpahan. Dalam kenyataannya, bahkan Alkitab juga menyaksikan, orang-orang yang beriman kepada Tuhan banyak yang sakit, susah, miskin, dan menderita, namun tetap disertai dan diberkati Tuhan. 11.2.2 Saksi-saksi Yehuwa/Persekutuan Menara Pengawal/ Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab: Aliran ini menolak doktrin Trinitas (ketritunggalan Allah). Bagi mereka Yehuwa-lah satusatunya Allah; Yesus Kristus adalah ciptaan Allah Yehuwa yang pertama, Saksi yang Setia, dan tokoh terbesar sepanjang masa, tetapi bukan Tuhan. Menurut mereka, di dunia ini ada dua organisasi dan kekuasaan: Organisasi Iblis (di dalamnya terdapat a.l. pemimpin agama dan politik) dan Organisasi Allah (mencakup Yesus Kristus yang akan memimpin Kerajaan Seribu Tahun di bumi, 144.000 orang yang terpilih, diurapi dan masuk surga, serta para pemimpin dan anggota Saksi-saksi Yehuwa di luar 144.000 orang itu (yang disebut Kaum Yonadab). Mereka juga menolak transfusi darah (baik sebagai donor maupun resipien), karena menurut mereka jiwa manusia terdapat di dalam darahnya. 11.2.3 Komunisme: Paham ini terutama dicanangkan Karl Marx pada abad ke-19, lalu menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Paham ini menentang kapitalisme dan menekankan pertentangan antar kelas (buruh dan kapitalis). Harta-milik pribadi harus ditiadakan, sehingga semua orang menikmati harta dan kehidupan yang sama rasa sama rata. Pertentangan antar kelas harus diselesaikan dengan melakukan revolusi. Agama dianggap sebagai candu dan Tuhan dianggap sebagai hasil angan-angan manusia yang pada dasarnya tidak ada. Walaupun sebagian besar negara berideologi Komunis sudah runtuh ataumengubah ideologinya, namun pahamini masih dianut banyak orang. 11.2.4 Ateisme: Paham ini menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, manusialah penguasa alam semesta dan dapat mencapai puncak perkembangannya menjadi manusia sempurna. Ateisme dekat dengan Komunisme, tetapi tidak identik. Banyak orang di dunia Barat maupun Timur pada masa kini yang menjadi ateis tanpa menjadi komunis. 11.2.5 Kapitalisme: Paham ini menyatakan bahwa manusia yang berkuasa di muka bumi ini adalah pemilik modal (kapital). Karena itu paham ini mendorong orang untuk memupuk, menumpuk dan mengembangkan modal sebesar-besarnya, tanpa harus memperhatikan kesejahteraan bersama umat manusia maupun kelestarian alam atau lingkungan hidup. 11.2.6 Sekularisme: Paham ini menyatakan bahwa saeculum(dunia) ini mempunyai hukum dan kedaulatannya sendiri, dengan manusia sebagai pusatnya. Karena itu dunia dan manusia tidak perlu tunduk kepada Tuhan - seandainya pun Dia ada ataupun kekuatan-kekuatan lainnya yang ada di luar dunia. Orang atau negara yang menganut paham ini (lazim disebut negara sekuler) tidak merasa perlu mengindahkan agama (yang berdasar dan berpusat pada keyakinan padaTuhan), dan karena itu nilai-nilai dan ketentuan agama tidak perlu dimasukkan dalam hukum, peraturan atau ketentuan yang mengatur kehidupan manusia. 11.2.7 AntiAdat:Sikapinibertolak dari pemahaman bahwa adat-istiadat (dan kebudayaan pada umumnya) adalah hasil karya Iblis, karena itu harus ditolak dan ditinggalkan oleh orang yang beriman kepada Kristus. Orang-orang atau gereja tertentu yang menganut sikap dan pemahaman seperti ini antara lain memusnahkan (membakar dsb.) benda-benda budaya, seperti ulos, tongkat pusaka, dll. Sebagaimana dikemukakan pada butir 21, GKPI menghargai dan menghormati kebudayaan/adat-istiadat kendati juga tetap kritis terhadapnya.


17 11.2.8 Agama Parmalim (Pemuja Si Raja Batak): Agama ini memuja Debata Mulajadi na Bolon sebagai Tuhan dan Pencipta alam semesta, serta meyakini bahwa Si Raja Batak adalah keturunan Debata Mulajadi na Bolon dan leluhur tertinggi orang Batak. Agama ini dipimpin oleh parmalim (imam, orang suci) dan memiliki serangkaian peraturan menyangkut moral maupun ritual dan wadah/organisasi keagamaan. Walaupun agama ini mengandung dan menyampaikan banyak nilai dan pengajaran yang baik, terutama dalam hal moral, tetapi berbeda dari keyakinan kristiani, terutama mengenai siapa Tuhan. Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat dunia dan umat manusia. 11.2.9 Pemahaman tentang Akhir Zaman (Kiamat) yang Bertentangan dengan Alkitab: Pemahaman ini antara lain menyatakan bahwa manusia dapat menghitung waktu terjadinya akhir zaman dan kedatangan kembali Tuhan Yesus, menentukan tempat terjadinya, menetapkan syarat-syarat agar diangkat Tuhan, serta mengatur cara-cara menyambut kedatangan akhir zaman itu (misalnya menggunakan pakaian khusus, melakukan upacara tertentu, dsb.). 11.2.10 Pemahaman yang Sempit tentang Penggunaan Nama Allah: Pemahaman ini menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menggunakan nama Allah, melainkan nama Yehuwa (Yahweh), dan juga menggunakan nama lain untuk Tuhan Yesus (misalnya Yesua Hamasiah). GKPI menggunakan Alkitab yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang menggunakan nama Allah dan menerima penjelasan LAI, kenapa orang Kristen Indonesia (dan Kitab Sucinya) boleh menggunakan nama Allah. 11.3 Tata Cara Penggembalaan 11.3.1 Pelayan atau warga jemaat GKPI yang terbukti menganut atau menjadi pengikut paham/ajaran/aliran tersebut di atas diberi penggembalaan khusus, dengan tahapantahapan yang diatur pada butir sub-pasal 9.3 butir 1 dan 2. Kepada mereka disampaikan isi Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI maupun pengajaran yang berlaku di GKPI, dan dijelaskan bahwa paham/ajaran/aliran tersebut di atas tidak sesuai dengan yang dianut GKPI. 11.3.2 Untuk menanamkan pemahaman dan ajaran yang dianut GKPI, kepada seluruh pelayan dan warga jemaat GKPI secara kolektif diberikan pembinaan dan pembekalan, baik secara langsung (tatap muka) maupun tertulis (melalui surat penggembalaan ataupun literatur yang diterbitkan atau direkomendasi GKPI). 12. Kekudusan Nama Allah 12.1 GKPImemahamibahwa Nama Allah Yang Esa adalah Kudusadanya, dan NamaAllah Yang Kudus ini diagungkan dan dimuliakan. Nama Allah Yang Kudus adalah Nama yang berkuasa dan mempunyai otoritas tinggi. 12.2 Jenis-jenis Penghujatan terhadap Kekudusan Nama Allah 12.2.1 Mengutuk, mengumpat, berbohong, menipu. 12.2.2 Bersumpah dengan memakai nama Allah baik secara langsung maupun tidak langsung untuk suatu kejahatan. 12.2.3 Menuduh tanpa fakta dan bukti yang jelas. 12.2.4 Mempermain-mainkan Nama Allah, memperalat Nama Allah atau memakai Nama Allah untuk kepentingan dan kemuliaan diri sendiri. 12.2.5 Menyangkal Nama Allah, nama Yesus Kristus di depan umum. 12.3 Tata Cara Penggembalaan: 12.3.1 Setelah terbukti melakukan penghujatan atas Kekudusan Nama Allah, maka ybs. dikenakan Tata Penggembalaan. berbentuk bimbingan dan pengajaran tentang Kekudusan Nama Allah. Setelah menyatakan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan, maka ybs. diterima kembali menjadi anggota penuh. 12.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan praktek tsb., atau masih melakukannya secara berulang-ulang maka keanggotaannya di GKPI dapat diakhiri.


18 13. Pengudusan Hari Minggu, Peribadahan/Penyembahan dan Persembahan 13.1 Pemahaman GKPI tentangPengudusan Hari Minggu, Peribadahan/Penyembahan dan Persembahan: 13.1.1 Pengudusan Hari Minggu: Hari Minggu adalah hari perayaan kemenangan Tuhan Yesus Kristus atas kuasa Iblis, dosa dan maut. Bagi orang Kristen semua hari adalah baik, namun ada suatu hari yang dikhususkan dan dikuduskan untuk beribadah untuk memujiTuhan, yaitu hari Minggu. 13.1.2 Ibadah pada hakikatnya adalah penyembahan, pemujaan dan pengabdian kepada Tuhan. 13.1.3 Persembahan adalah ungkapan syukur umat Tuhan terhadap perbuatan Allah, yang membebaskan, memelihara, menuntun dan memberkati umat-Nya (Kej. 4:3-4 dst.; lihat P31 GKPI, Bab X, ayat 12). 13.2 Contoh-contoh Pelanggaran atas Pengudusan Hari Minggu: 13.2.1 Malas dan menolak mengikuti kebaktian Minggu. 13.2.2 Menghasut oranglain supaya tidak beribadah pada hari Minggu. 13.2.3 Menganut ajaran yang mengatakan tidak perlu menguduskan hari Minggu. 13.2.4 Tidak membawa anaknya ke sekolah Minggu.\13.2.5.Melaksanakan hobinya pada hari Minggu sehingga tidak ke Gereja. 13.3 Contoh-contoh Pengabaian atas Peribadahan/Penyembahan: 13.3.1 Tidak melakukan ibadah di rumah masing-masing. 13.3.2 Tidak mengikuti ibadah di sektor/lingkungan ybs. 13.3.3 Tidak mengikuti persekutuan kategorial. 13.3.4 Tindakan mengganggu Peribadahan. 13.4 Contoh-contoh Pengabaian dan Pelanggaran terhadap Persembahan: 13.4.1 Tidak setia memberikan persembahan/bakti bulanan/ tahunan. 13.4.2 Mengambil/mencuri uang persembahan. 13.4.3 Menyelewengkan uang Gereja. 13.4.4 Menggunakan/membagi-bagi uang persembahan tanpa dibukukan. 13.4.5 Memamerkan dan melagakkan persembahan yang diberikan. 13.4.6 Memaksakan kehendak di gereja/jemaat dengan menyebut persembahan yang sudah diberikan. 13.5 Tata Cara Penggembalaan: 13.5.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal tsb. di atas maka kepada ybs. dilakukan Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang pengudusan hari Minggu, Ibadah/Penyembahan dan Persembahan. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan pertobatan, maka ybs. diterima kembali sebagai anggota penuh. 13.5.2 Jika ybs. tidak mau memperbaiki dirinya atau mengikuti bimbingan, atau masih melakukan tindakan itu secara berulang-ulang maka keanggotaannya di GKPI diakhiri. 13.5.3 Khusus mengenai penyelewengan di bidang keuangan, diselesaikan secara berjenjang pada forum majelis masing-masing aras. 14. Babtisan Kudus 14.1 Pemahaman GKPI tentang Baptisan Kudus: Baptisan Kudus adalah permandian ke dalam Nama Allah Bapa, Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus, sesuai dengan amanat Tuhan Yesus (Mat. 28:19). 14.2 Tata Cara Pelaksanaan Baptisan Kudus 14.2.1 GKPI melaksanakan baptisan percikan. 14.2.2 GKPI melaksanakan baptisan anak dan baptisan dewasa.


19 14.2.3 Untuk baptisan anak, sebelumbaptisan dilakukan, perlu diadakan bimbingan baptisan kepada orangtua yang membawa anaknya dibaptis. 14.2.4 Baptisan dewasa dilaksanakan setelah ybs. terlebih dahulu mengikuti katekisasi. Baptisan dilaksanakan bersamaan dengan Naik Sidi." 14.2.5 Baptisan Kudus dilayankan oleh Pendeta. 14.2.6 Baptisan dilayankan pada saat kebaktian Minggu atau pada kebaktian khusus. 14.2.7 Baptisan Kudus bagi anak yang sakit dilayankan oleh pendeta di rumah atau di rumah sakit maupun di tempattempat lainnya. Jika pendeta berhalangan, baptisan tersebut dapat dilayankan oleh evangelis, guru jemaat atau penatua atau warga jemaat yang sudah naik sidi (atau orangtua si anak itu sendiri), tetapi tanpa penumpangan tangan, dengan catatan: kalau si anak sehat kembali, orangtuanya harus membawa si anak ke gedung gereja waktu diadakan Baptisan Kudus untuk menerima berkat baptisan dari Pendeta. 14.2.8 Anak-anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dapat dibaptis jika ia sudah berada dalam asuhan orang lain yang membuat surat pernyataan bahwa anak itu sudah menjadi anak asuh dan tanggungannya. 14.2.9 GKPI mengakui baptisan yang dilaksanakan oleh gerejagereja lain yang memiliki formula baptisan: di dalam Nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (bnd. Pasal 10: Pemeliharaan Hubungan Oikoumenis) 14.2.10 Anak dari warga gereja lain dapat dibaptis di GKPI apabila ada surat permohonan dari keluarga. 14.2.11 Anak-anak hasil perkawinan poligami dapat dibaptiskan atas permohonan keluarga, dan anak tsb. dibawa oleh pelayan tahbisan (partohonan). 14.2.12 Jika ada salah seorang dari orangtua si anak yang akan dibaptis sedang dikenakan Tata Penggembalaan, maka ybs. tidak dizinkan mendampingi atau ikut membawa anak itu untuk dibaptiskan. 14.3 Pelanggaran terhadap Baptisan Kudus: 14.3.1 Pelaksanaan baptisan yang tidak memakai formula di dalam Nama Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus. 14.3.2 Menerima Baptisan Ulang, yaitu menerima Kembali baptisan dengan formula yang sama ataupun berbeda. 14.3.3 Orangtua yang lalai membawa anaknya untuk dibaptis. 14.4 Tata Penggembalaan bagi Pelanggaran BaptisanKudus: 14.4.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal tsb. di atas maka kepada ybs. dilakukan Tata Penggembalaan dalambentuk bimbingan dan pengajaran tentang Baptisan Kudus. Setelah ybs. menyatakan pengakuan dan pertobatan, maka ybs. diterima kembali sebagai anggota penuh. 14.4.2 Jika ybs. tidak mau memperbaiki dirinya atau mengikuti bimbingan, atau masih melakukan tindakan itu secara berulang-ulang, maka keanggotaannya di GKPI diakhiri. 15. Perjamuan Kudus 15.1 Pemahaman GKPI tentang Perjamuan Kudus: Perjamuan Kudus adalah tanda peringatan atas penderitaan Tuhan Yesus Kristus dan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus (1Kor. 10:16), yang diwujudkan dalam tanda roti dan anggur sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus (Mat. 26:26-28; Luk. 22:19). 15.2 Tata Pelaksanaan Perjamuan Kudus: 15.2.1 Di setiap jemaat GKPI diadakan pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus oleh pendeta sesering mungkin, minimal dua kali dalam satu tahun.


20 15.2.2 Pelayanan Perjamuan Kudus dapat diberikan kepada orang sakit, di rumah maupun di rumah sakit sesuai dengan permohonannya. 15.2.3 Setiap warga jemaat dan pelayan yang sedang dikenai Tata Penggembalaan tidak diperkenankan mengikuti Perjamuan Kudus. 15.2.4 Bagi warga jemaat atau pelayan yang sedang menjalani Tata Penggembalaan, jika menurut pengamatan jemaat hendak meninggal dunia, kemudian dengan sepenuh hati ia mengakui kesalahan di depan Pendeta, dan memohon agar dia menerima Perjamuan Kudus, maka kepadanya dapat dilayankan Perjamuan Kudus tanpa terlebih dahulu dibawakan dalam rapat pelayan jemaat. Kalau ybs. meninggal dunia, jenazahnya dimakamkan dengan liturgi pemakaman. Apabila ybs. tidak jadi meninggal dunia maka ybs. harus menunjukkan tanda pertobatan dan dengan demikian keanggotaannya dipulihkan. Tetapi apabila ia tidak menunjukkan tanda pertobatan maka ybs. tetap dikenai Tata Penggembalaan. 15.3 Pelanggaran terhadap Perjamuan Kudus: 15.3.1 Warga jemaat dan pelayan yang tidak bersedia dan tidak pernah menerima Perjamuan Kudus selama 3 (tiga) tahun dikenai Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan tentang Perjamuan Kudus. 15.3.2 Orang yang menghina atau melecehkan Perjamuan Kudus, misalnya menjadikan bahanbahan Perjamuan Kudus sebagai jimat, dikenai Tata Penggembalaan dalam bentuk bimbingan tentang Perjamuan Kudus. 16. Katekisasi dan Sidi 16.1 Katekisasi berasal dari bahasa Latin: catechesis, yang berarti: pengajaran agama (iman). Bagi gereja, termasuk GKPI, Katekisasi adalah kegiatan pendidikan dan pengajaran tentang iman Kristen yang diselenggarakan gereja bagi seluruh warganya, dari anakanak hingga dewasa, bertolak dari keyakinan bahwa pendidikan dan pengajaran Kristen berlangsung seumur hidup. Pendidikan dan pengajaran ini bersumber dari dan didasarkan pada Alkitab (bnd. 1 Tim. 4:6,11; 2Tim. 3:16). 16.2 Khusus bagi warga gereja yang sudah dibaptis pada waktu anakanak, ataupun bagi calon warga gereja yang hendak menerima baptisan pada waktu dewasa, diselenggarakan katekisasi, agar mereka memahami iman dan ajaran Kristen, termasuk baptisan yang sudah ataupun belum mereka terima, karena baptisan tidak terpisah dari iman (bnd. Mrk. 16:16). 16.3 Mereka yang telah selesai mengikuti Katekisasi, mengikrarkan pengakuan imannya sebagai tanda bahwa merekatelahmemahamiimannya dantelah menjadi warga gereja yang dewasa dan penuh (bnd. Rm. 10:9-10). Perbuatan mereka mengikrarkan pengakuan iman dan pengukuhan mereka sebagai warga gereja yang dewasa dan penuh disebut naik sidi atau peneguhan sidi. 16.4 Tata Pelaksanaan Katekisasi dan Sidi: 16.4.1 Setiap jemaat wajib melaksanakan kelas katekisasi sebanyak 100 jam pelajaran, dengan materi pelajaran yang mengacu kepada Buku Katekisasi yang diterbitkan GKPI. 16.4.2 Setiap warga jemaat wajib mengikuti Katekisasi sebanyak 100 jam pelajaran. Dispensasiatas hal ini diberikan oleh Pendeta Resort ybs. 16.4.3 Kelas Katekisasi direncanakan, diawasi, dibimbing dan diarahkan oleh pendeta, tetapi dapat dibantu oleh para pelayan yang mempunyai pengetahuan Teologi/ Alkitab dan pengetahuan umum maupun dedikasi. 16.4.4 Katekisasi (krisma) dari Gereja Katolik Roma maupun bentuk lain yang sejenis dari gereja-gereja lain dapat diakui di GKPI setelah memperoleh bimbingan seperlunya dari pendeta. 16.4.5 Bagi warga jemaat yang berkebutuhan khusus (misalnya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autis, dsb.) dan kurang waras, dapat dilakukan katekisasi dan sidi karena pertimbangan moral dan anugerah Allah. 16.5 Pelanggaran di Sekitar Katekisasi dan Sidi:


21 16.5.1 Orangtua yang lalai membawa dan menyuruh serta mengingatkan anaknya untuk mengikuti katekisasi. 16.5.2 Warga jemaat yang berumur 17 tahun ke atas yang tidak mau mengikuti katekisasi. 16.5.3 Warga jemaat yang menerima baptisan dewasa di gereja lain dan tidak mau mengikuti Katekisasi dan Naik Sidi. 16.6 Tata Cara Penggembalaan: 16.6.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran dan kelalaian dalam Katekisasi dan Sidi, maka ybs. dapat dikenai TPGKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang dasar serta tujuan Katekisasi dan Sidi bagi orang percaya. 16.6.2 Jika warga jemaat tsb. sudah berulang kali menerima bimbingan tentang pengertian katekisasi tetapi tidak mau untuk mengikuti Katekisasi dan Sidi, maka keanggotaannya diakhiri. 17. Penghormatan kepada Orangtua: 17.1 Penghormatan kepada orangtua adalah suatu perintah yang harus dijalankan oleh anak atau cucu yang didasarkan pada Titah Kelima: Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu. (Kel. 20:12; Ul.5:16). Dengankata lain penghormatan kepada orangtua adalah suatu kewajiban atau sikap yang patut dilakukan seorang anak (Ef. 6:1-2); sikap yang demikian adalah sikap yang indah di dalam Tuhan (Kol. 3:20). 17.2 Jenis-jenis Pelanggaran: 17.2.1 Sikap melawan, menghina, menyangkal dan menelantarkan orangtua, terlebih yang sudah jompo. 17.2.2 Mengancam, memukul dan membahayakan nyawa dan mengusir orang tua. 17.3 Tata Cara Penggembalaan: 17.3.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran Titah Kelima, di mana seorang warga jemaat/pelayan tidak menghormati orangtua, maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran entang penghormatan terhadap orang tua. Setelah mengaku dan bertobat, diterima kembali warga penuh. 17.3.2 Jika warga/pelayan jemaat terbukti mengancam, memfitnah dan melakukan tindakan kekerasan terhadap orang tua sebagaimana disebut pada butir 17.2 di atas, maka kepadanya diberi bimbingan dan pengajaran tentang sikap menghormati orang tua dan orang-orang yang dituakan. Setelah mengaku dan bertobat di hadapan Majelis Jemaat, maka ybs. diterima Kembali menjadi anggota penuh. 17.3.3 Jika warga jemaat/pelayan itu tidak mau meninggalkan sikap pelanggaran Titah Kelima, atau dilakukan secara berulang-ulang maka keanggotaannya diakhiri. 18. Pemeliharaan Kehidupan 18.1 GKPI memahami bahwa Tuhanlah yang menciptakan segala jenis kehidupan di dunia (Kej. 1:20- 27), dan segala yang bernyawa bergantung kepada Sang Pencipta, Pemelihara kehidupan (Mzm. 104:29-30; Ayb. 12:10). Dialah juga yang telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26), serta mengembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej. 2:7). Sejak dalam kandungan pun, manusia telah "ditenun" oleh Penciptanya dan dilihat sebagai bakal anak (Mzm. 139:13-15). Selaras dengan itu, kehidupan sebagai anugerah Allah Yang Mahakudus pada hakikatnya kudus, harus dihormati dan dipelihara dari permulaannya. 18.2 Selain kasih setia Tuhan, tidak ada yang lebih berharga daripada hidup itu sendiri (Mzm. 63:4). Karena itu, berbagai kekerasan dan Tindakan sewenang-wenang yang mengancam atau menghancurkan kehidupan merupakan pelanggaran terhadap firman Tuhan yang melarang pembunuhan (Kel. 20:13; Mat. 5:2122).


22 Hal ini berlaku tidak hanya untuk kekerasan yang dilakukan terhadap orang lain tetapi juga terhadap diri sendiri. Pengecualian terhadap ketentuan ini hanya dapat ditoleransi dalam kasus-kasus ekstrem ketika hidup itu sendiri benar-benar dipertaruhkan, khususnya apabila nyawa pelakunya terancam bahaya. 18.3 Sebaliknya, segala upaya untuk memelihara dan merawat hidup dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dibenarkan, bahkan didukung sejauh tidak melanggar hakikat dan kedudukan manusia yang bermartabat sebagai ciptaan Tuhan yang berpribadi dan unik. Upaya medis seperti kloning tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan integritas genetis manusia dan martabat manusia sebagai pribadi yang unik di hadapan Allah. 18.4 Jenis-jenis Pelanggaran atas Pemeliharaan Kehidupan: 18.4.1 Melukai, membahayakan nyawa atau membunuh seseorang secara berencana ataupun tidak berencana (kecuali dalam situasi yang sangat terpaksa, demi mempertahankan nyawa atau membela bangsa dan negara); 18.4.2 Melakukan bunuh diri secara langsung ataupun melalui euthanasia (yakni, dengan sengaja memudahkan proses kematian melalui bantuan orang lain); 18.4.3 Menggugurkan kandungan (abortus provocatus) tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan (yakni, apabila nyawa ibu yang mengandung benar-benar dalam bahaya menurut pertimbangan medis yang sah); 18.4.4 Melakukan tindakan yang mempertaruhkan nyawa seseorang, antara lain menculik, menyandera atau melakukan teror dengan ancaman nyawa; 18.4.5 Memproduksi, memperdagangkan atau mengonsumsi narkotika dan sejenisnya yang mengancam kehidupan (kecuali dengan alasan medis yang sah); 18.4.6 Melakukan kekerasan dalam Rumah Tangga, antara lain: 1. Kekerasan terhadap anak, misalnya dengan memberi hukuman yang membahayakan nyawa atau perkembangan jiwa anak, menelantarkan anak, memperdagangkan anak, ataupun mencabuli anak; 2. Kekerasan terhadap pasangan hidup (suami atau istri), antara lain dengan memukuli, menelantarkan, atau bertindak sewenang-wenang tanpa menghormati hak-haknya sebagai pribadi yang bermartabat (misalnya pemaksaan terhadap pasangan hidup untuk melakukan hubungan seksual); hubungan seksual); 18.4.7 Bertindak sewenang-wenang dengan menyiksa atau membunuh makhluk hidup tanpa alas an yang dapat dipertanggungjawabkan (yakni, demi kelangsungan hidup itu sendiri). 18.5 Tata Cara Penggembalaan: 18.5.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran. Setelah ybs. mengaku dan bertobat, ia diterima Kembali sebagai warga penuh di hadapan Majelis Jemaat. 18.5.2 Jika warga jemaat/pelayan itu tidak mau mengaku dan meninggalkan sikap dan tindakan yang salah itu, dan ia melakukannya secara berulang-ulang, maka keanggotaannya diakhiri. 19. Berkata dan Berbuat Benar 19.1 Pengertian dan Dasar Pemahaman: 19.1.1 Berkata dan Berbuat adalah dua sisi pemberian atau anugerah Tuhan kepada manusia. Pengertian "kata" adalah suatu kesatuan bunyi bhasa yang mengandung pengertian, yaitu apa yang dilahirkan dari ucapan, ujar, bicara. Berkata berarti berbicara, berucap untuk menyatakan atau menyampaikan sesuatu dalam hal komunikasi satu arah atau lebih. Demikian halnya dengan "buat" (berbuat), ini memiliki pengertian menjadikan dalam arti: adanya tindakan atau aksi. Pada hakikatnya berkata dan berbuat adalah dua sisi yang berbeda namun memiliki kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


23 19.1.2 Alkitab dengan jelas berbicara tentang Berkata dan Berbuat Benar: "Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya" (Mzm. 145:13b); Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintupintu gerbangmu"" (Zak. 8:16); ""Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita"" (Kol. 3:17); ""Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah-lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (1Tim 4:12b); "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia" (Ef. "4:29); "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Mat. 5:37; bnd. Yak. 3:1-12). 19.1.3 Keseluruhan Dasa Titah dengan mutlak menuntut setiap orang percaya untuk "berkata dan berbuat benar". Apa yang disinggung dalam Dasa Titah, khususnya Titah Kesembilan, "Jangan mengucapkan saksi dusta", menunjukkan betapa pentingnya sikap dan perilaku "berkata dan berbuat benar", yang menjadi substansi kepribadian seorang percaya. 19.1.4 Pandangan dan pemahaman GKPI tentang "berkata dan berbuat benar" bertitik tolak dari P31 GKPI, khususnya mengenai Imamat Am Orang Percaya. Berkata dan berbuat benar adalah suatu kewajiban bagi warga GKPI untuk menjalankannya, yang di dalamnya nyata kebenaran firman dan anugerah Tuhan pada diri setiap orang percaya sebagai bagian dari tubuh Kristus. 19.2 Pelanggaran terhadap Berkata dan Berbuat Benar: 19.2.1 Bersaksi dusta/palsu atau berkata kotor (Im. 19:11; Rm. 9:1; Yak. 3:14; Tit. 1:2); 19.2.2 Bersumpah (Mat. 5:34-36); 19.2.3 Memfitnah dan menghina, melecehkan sesama manusia (Im. 19:16; Ef. 4:31; 1Ptr. 2:1); 19.2.4 Menyebarkan ajaran sesat (Mat. 7:15, 18:7, 24:24; Mrk. 13:5; Kis. 20:29; 2Yoh. 1:7); 19.2.5 Menyebarkan informasi yang berisi kebohongan dan fitnah melalui alat-alat komunikasi modern atau melalui surat kaleng. (Mzm. 40:5; Ams. 14:5, 19:5); 19.2.6 Memutar-balikan kata, pembicaraan dan keputusan (Kel. 23:8; Ul. 1:9; Mi. 7:3; Gal. 1:7); 19.2.7 Memalsukan data, dan menyelewengkan hukum dan kebenaran (Im. 19:13; Yeh. 22:12; Am. 3:1; Luk. 3:14). 19.3 Tata Cara Penggembalaan: 19.3.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran terhadap Berkata dan Berbuat Benar, seorang warga. jemaat/pelayan dikenakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang hidup dalam kebenaran tanpa ada dusta terhadap sesama, dan janji Allah. 19.3.2 Jika kemudian dengan warga jemaat/pelayan itu mengakui kesalahannya dan bertobat, dapat diterima kembali. 19.3.3 Jika warga jemaat/pelayan itu tidak mau meninggalkan tindakan pelanggaran atau kesalahannya setelah diingatkan secara berulang-ulang, maka keanggotaan ybs.diakhiri. 20. Memelihara danMenjaga Harta Milikdan HakOrang Lain 20.1 Melalui anugerah dan berkat-Nya Tuhan telah mencukupkan setiap orang dalam kebutuhannya sehari-hari (Ibr. 13:5). Dan Tuhan telah mengajarkan kepada semua orang untuk selalu bersyukur dalam segala hal (1Tes. 5:18). Orang percaya harus senantiasa hidup dalam rasa cukup dan syukur, sehingga tidak ada lagi keinginan hati untuk menguasai harta milik orang lain, baik rumah, isteri/suami, hamba laki-laki atau perempuan, lembu atau keledainya, maupun harta apapun yang dimiliki orang lain. Dan semua orang percaya, oleh karena imannya kepada Tuhan Yesus Kristus, memiliki tanggungjawab untuk memelihara dan menjaga harta


24 milik dan hak orang lain dengan baik. Namun apabila masih ada orang yang pada diri atau hatinya mengingini harta milik dan hak orang lain, maka ia telah melanggar Firman Tuhan. 20.2 Jenis Pelanggaran terhadap Pemeliharaan dan Penjagaan Harta Milik dan Hak Orang Lain: 20.2.1 Mengingini harta orang lain; 20.2.2 Mengingini istri/suami/anak orang lain; 20.2.3 Memecah belah keluarga orang lain; 20.2.4 Mengambil dan mengubah batas-batas tanah orang lain menjadi miliknya; 20.2.5 Tidak mau membayar hutangnya sehingga merugikan orang lain; 20.2.6 Main judi, memberi modal kepada penjudi, atau menjadi bandar judi. 20.3 Tata Cara Penggembalaan: 20.3.1 Setelah melalui proses penelitian yang seksama dan terbukti bahwa ybs. melakukan pelanggaran tersebut di atas, maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang hidup bersyukur dalam segala hal dan setia berharap pada janji Allah. Bila ybs. menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 20.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. 21. Budaya dan Adat Istiadat 21.1 Pemahaman GKPI tentang Budaya, termasuk Adat-istiadat: 21.1.1 Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya dan memerintahkan kepada manusia agar menguasai, menaklukkan, mengusahakan dan memelihara seluruh alam ciptaan-Nya (Kej. 1:28, 2:15). Untuk melaksanakan tugas itu Allah mengaruniai dan memperlengkapi manusia dengan akal-budi, daya dan pengetahuan (Kej. 2:29; Mzm. 94:10, 111:10; Ams. 1:7; bnd. Dan. 1:17, 19:22). Dengan semua itu manusia merupakan makhluk berbudaya dan mengembangkan kebudayaannya. 21.1.2 Kebudayaan manusia terjelma dalam berbagai jenis dan bentuk, antara lain: kesenian, adat-istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi, nilai-nilai, sikap hidup dan perilaku, baik yang tradisional maupun yang modern, sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. Semua itu pada hakikatnya merupakan hasil dari pendayagunaan kemampuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia, dan dimaksudkan untuk memuliakan Allah serta mendatangkan kesejahteraan bagi manusia (bnd. 1Ptr. 4:11). 21.1.3 Akibat kejatuhan manusia ke dalamdosa, gambar dan rupa (citra) Allah di dalam diri manusia menjadi rusak, sehingga segala hal yang dimiliki dan dihasilkan manusia, termasuk kebudayaannya, ikut rusak dan dicemari oleh dosa (bnd. Kej. 3:14-19; Rm. 3:10-18). Setelah kejatuhan ke dalam dosa, Tuhan masih memperkenankan manusia untuk berbudaya dan mengembangkan kebudayaannya. Namun kebudayaan itu sudah tidak lagi semata-mata ditujukan untuk memuliakan Allah dan menyejahterakan manusia (bnd. Rm. 1:21). Kebudayaan bisa menjadi sarana dan wahana bagi manusia untuk menentang kehendak Allah, dan bisa ditunggangi atau disusupi Iblis untuk membawa manusia kepada kejahatan dan kebinasaan. 21.1.4 Setelah Tuhan Yesus Kristus dating menebus manusia dari kuasa dosa, serta memulihkan harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah, manusia mendapat kemungkinan untuk mengembalikan kebudayaannya kepada makna dan fungsi semula. Karena itu berbagai upaya manusia untuk memanfaatkan dan mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi patut dihargai dan didukung oleh gereja. Namun demikian Iblis masih terus merusak, membahayakan dan menyesatkan manusia (1Ptr. 5:8; bnd. Ef. 6:11-12), termasuk kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, sambil tetap menghargai upaya manusia dalam menggunakan dan


25 mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, gereja menyadari pelbagai bahaya dan kesesatan yang bisa terkandung di dalamnya. 21.2 Jenis-jenis Pelaksanaan Budaya dan Adat-Istiadat yang Perlu Digembalakan: Bertolak dari pemahaman di atas, dan melihat pelbagai kegiatan budaya yang sering dijalani, diikuti atau dilakukan warga dan pelayan GKPI, ada beberapa yang secara khusus perlu mendapat perhatian dan penggembalaan, antara lain: 21.2.1 Upacara Kematian dan Pemakaman 21.2.1.1 GKPI menghargai adat-istiadat menyangkut kematian dan pemakaman sejauh tidak bertentangan ajaran/P3I GKPI sebagaimana dikemukakan di atas. 21.2.1.2 Pelayan GKPI bersama warga jemaat mendampingi dan memberi penghiburan kepada keluarga yang berduka, seraya menasehati agar mereka tidak menjalankan upacara adat-istiadat yang bertentangan dengan ajaran GKPI, misalnya: menyapa jenazah, memohon berkat dari almarhum, atau memberi sajian kepada almarhum. 21.2.1.3 Pelayan GKPI bersama warga jemaat melayankan pemakaman kepada almarhum menurut Tata Ibadah Pemakaman, seraya mengawasi agar keluarga tidak menjalankan upacara adat-istiadat yang bertentangan dengan ajaran GKPI, misalnya memasukkan benda-benda kesayangan almarhum ke dalam peti jenazahnya dan meletakkan benda-benda tertentu (termasuk makanan dan minuman) di atas makam almarhum. 21.2.2 Penggalian Tulang-belulang 21.2.2.1 Penggalian Tulang-belulang adalah kegiatan menggali tulang-belulang orangtua atau leluhur serta memindahkan dan memakamkannya kembali ke tempat lain, dengan upacara tertentu. 21.2.2.2 Penggalian Tulang-belulang diizinkan jika kuburan rusak, dibuat menjadi jalan, industri atau untuk pembangunan (jalan, kantor, dll), serta kuburan berada di tempat yang jauh (tanah rantau). 21.2.2.3 GKPI tidak mengizinkan penggalian tulangbelulang yang disertai dengan menari-narikan dan memberi sirih kepada tulang-belulang, mempercayai "Tunggal panaluan", dll. 21.2.2.4 Pelaksanaan penggalian tulang-belulang atau tengkorak: 21.2.2.4.1 Penggalian dan penguburan kembali tulangbelulang hendaknya mendapat pengawasan dari pelayan gereja. 21.2.2.4.2 Segala rupa-rupa dan bentuk serta sisa-sisa penyembahan berhala dan sihir dalam hubungannya dengan penggalian dan penguburan tulang-belulang harus dilarang. 21.2.2.4.3 Penguburan kembali tulang-belulang tersebut tidak lagi dilayani menurut upacara dan tata ibadah pemakaman, melainkan tata ibadah pemakaman kembali tulang belulang atau tengkoraknya menurut tata ibadah yang berlaku di GKPI. 21.2.2.4.4 Bagi orang Kristen yang dikuburkan secara darurat (tanpa liturgi penguburan), dengan pertimbangan pendeta, pada pemakaman kembali tulang-belulangnya dapat dijalankan tata ibadah pemakaman. 21.2.2.5 Pelanggaran dalam Penggalian Tulang-Belulang: 21.2.2.5.1 Penggalian tulang belulang atau tengkorak dilakukan karena alasan atau desakan kesurupan/roh tertentu. 21.2.2.5.2 Penggalian dan penguburan tulang-belulang memakai gondang sabangunan. 21.2.2.5.3 Berbicara dan menangisi tulang-belulang yang diangkat. 21.2.2.5.4 Memberi makanan dan sebagainya kepada orang yang meninggal itu.


26 21.2.2.5.5 Memohon berkat dari tulang-belulang atau bentuk aninisme lainnya. 21.2.2.5.6 Mengambil tanah sebagai pengganti tulang belulang berdasarkan pemahaman animis. 21.2.2.5.7 Memanggil dukun untuk menentukan kebenaran dan kepastian tempat penguburan tulang-belulang nenek-moyang. 21.2.3 Pembangunan Tugu 21.2.3.1 Pada dasarnya adalah lebih baik melakukan pembangunan yang berorientasi kepada pengembangan masyarakat dan peningkatan sosial, seperti pendirian sekolah, gereja, koperasi, Credit Union, beasiswa, dan bentuk lainnya. 21.2.3.2 Jika perlu membangun suatu monumen atau tugu sebagai tanda sejarah suatu kesatuan marga atau bangsa, maka yang lebih lebih diutamakan adalah kesatuan dan persatuan di dalam Kristus. 21.2.3.3 Hendaklah di setiap pembangunan tugu atau monument ada tanda atau simbol salib. 21.2.3.4 Pelaksanaan Pembangunan tugu atau monumen harus dibuka dan diakhiri dengan doa. 21.2.3.5 Di dalam pembangunan dan peresmian tugu harus dihindarkan unsur-unsur kekafiran. 21.2.4 Seni Musik 21.2.4.1 Setiap seni-budaya yang ada beserta upacara-upacara atau ritus-ritusnya harus tetap mendapat penelitian dan pengawasan dari pelayan Jemaat, yang menegur serta menasehati warga jemaat agar tidak melakukan segala bentuk seni-budaya yang dikaitkan dengan penyembahan berhala, sihir dan lain-lain. 21.2.4.2 GKPI berusaha untuk memelihara dan meresapkan nilai-nilai kristiani ke dalam rupa-rupa seni budaya tersebut, agar kiranya dapat selalu bertujuan untuk kemuliaan Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. 21.2.4.3 Setiap upacara seni-budaya yang diadakan oleh warga GKPI hendaknya mendapat persetujuan dari pelayan jemaat; dan upacara tersebut harus dimulai serta ditutup dengan upacara kebaktian khusus yang dipimpin oleh pelayan jemaat yang bersangkutan. 21.2.4.4 Lagu rakyat atau daerah yang telah digubah dan diterima secara resmi menjadi nyanyian Rohani dapat dinyanyikan dalam kebaktian/ibadah di GKPI. 21.2.4.5 Pakaian-pakaian adat (termasuk ulos) dapat dipakai dalam ibadah atau upacara tertentu, berlandaskan kasih Tuhan dan sebagai ungkapan kasih kepada sesama. 21.2.4.6 Falsafah, umpama dan peribahasa setempat dapat diterima setelah disesuaikan dengan Firman Tuhan. 21.2.4.7 Jemaat dibimbing kepada pengertian tentang kematian dan kebangkitan Kristus, sebagai tanda pengharapan, keselamatan dan kemenangan bagi orang yang percaya dibandingkan dengan penderitaan yang ada pada saat ini. Untuk itu tidak diizinkan dilaksanakan gondang untuk memohon pengampunan, pemulihan, menyembah dan memberikan persembahan kepada roh-roh (mamele sombaon). Tidak izinkan gondang siar-siaran, karena hal itu adalah ungkapan kurang percaya kepada Tuhan. Setiap gondang yang akan dilakukan hendaklah dibuka dan ditutup dalam doa. Jika pun diadakan gondang pada waktu acara kematian, maka harus dibuang bentuk kekafirannya. 21.3 Tata Cara Penggembalaan: 21.3.1 Setelah melalui proses penelitian yang seksama dan ybs. terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka kepada ybs. dijalankan TP. GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang budaya dan adat-istiadat menurut


27 ajaran GKPI. Bila ybs. Menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 21.3.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. 22. Ideologi Politik Dan Negara 22.1 GKPI hidup di dalam negara Republik Indonesia yang berideologikan Pancasila. Pancasila adalah ideologi bangsa yang menekankan hidup berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keadilan, persatuan negara, sikap saling menghargai dan menghormati, tolong-menolong, dan kebersamaan yang adil. Pancasila dan UUD 1945 menjamin semuaorang Indonesia beribadah dan menjalankan agama dan imannya masing-masing. Ini menjadi dasar hukum yang sangat kuat yang menjadi peluang bagi semua umat beragama termasuk bergereja. Dalamhal ini GKPI harus pandai-pandai mencari peluang untuk berperan sebaik-baiknya di masyarakat, bangsa dan negara. GKPI - dalam arti warga jemaat, wilayah dan sinode - perlu memikirkan peran konkret bagi negara ini agar keberadaan GKPI benar-benar bermakna bagi bangsa dan negara. GKPI perlu menjalin relasi dengan berbagai golongan, untuk bersama-sama bertekad dan berjuang mempertahankan dasar negara Pancasila dan UUD 1945, agar negara kesatuan Republik Indonesia tetap terwujud. 22.2 GKPI mendorong warganya untuk aktif dalam bidang politik dalam arti yang paling mendasar dan seluas-luasnya yakni berkiprah dan berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan keadilan dan cinta kasih. Tujuan keterlibatan gereja dan warga gereja dalam politik adalah untuk tujuan pelayanan/ pembebasan (bdk. Luk. 4:18-19; Mat. 25:31-46); tujuan bermisi, yaitu memberitakan kabar baik, menegakkan kebenaran dan keadilan, mewujudkan kasih dan mengusahakan kesejahteraan kota di mana orang Kristen dihadirkan Tuhan (bdk. Yer. 29:7); tujuan korektif yaitu melakukan koreksi perbuatan yang tidak benar dan baik (bdk. 2Sam. 12). 22.3 Gereja memahami bahwa kekuasaan negara dan pemerintah berasal dari Tuhan, Sang Penguasa alam semesta dan segala isinya (Mzm. 47:9; 96:10; Yes. 11:10; Yer. 16:19; Yeh. 39:21). Negara dan pemerintah ditetapkan Tuhan untuk melayani Dia dan melaksanakan kehendakNya untuk mendatangkan keteraturan, kebaikan dan kesejahteraan bagi umat manusia, sekaligus menjalankan hukuman bagi mereka yang berbuat jahat (bdk. 1Sam. 8:1-22). Orang Kristendiajarkan untuk taat dan memenuhi kewajibannya kepada negara dan pemerintah, mendoakannya serta mendukung dan ambil bagian dalam rencananya yang baik (Rm. 13:1-7; Tit. 3:1; 1Ptr. 2:13; Mat. 22:21). Akan tetapi dalam hal Negara dan pemerintah tidak melaksanakan kehendak Tuhan, gereja wajib bersikap seperti dikatakan Rasul Petrus: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis. 5:29). 22.3.1 GKPI bersama dengan gereja-gereja lain, sebagaimana diamanatkan dalam salah satu dokumen dalam Dokumen Keesaan Gereja yang dirumuskan oleh PGI, terus melanjutkan keterlibatan dan tanggung jawab dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat secara positif, kritis, kreatif dan realistis. Sebagaimana dirumuskan dalam P3I, GKPI mengajarkan kepada warganya agar taat kepada negara dan pemerintah serta mendoakannya, sekaligus menyampaikan suara kenabian, agar negara dan pemerintah menyelenggarakan kekuasaannya seturut dengan ketetapan dan kehendak Allah, demi kepentingan seluruh bangsa, dan bukan untuk kepentingan sendiri ataupun segolongan orang. 22.3.2 GKPI tetap menjaga, memelihara dan menjalin hubungan baik dengan negara RI, yang diwujudkan dalam ketaatannya sebagai warga negara RI. Sebagai warga negara, GKPI secara bertanggungjawab menunjukkan diri sebagai warga negara yang baik. GKPI tetap membimbing warganya menjadi warga Negara yang baik dan bertanggung jawab dengan ikut mengusahakan dan memelihara keutuhan, kesatuan dan persatuan di


28 dalam Negara RI. Sebagai warga negara, GKPI turut ambil bagian di dalam menciptakan kesejahteraan bersama/k esejahteraan negeri (bdk. Yer. 29:7), keamanan dan ketertiban berbangsa dan bernegara. 22.3.3 Salah satu bentuk keterlibatan GKPI dalam pembaruan kehidupan nasional sebagaimana digariskan dalam GKU adalah penyelenggaraan pendidikan umum. GKPI membuka dan mengelola sekolah-sekolah, yang terbuka bagi seluruh warga masyarakat, sambil tetap menjaga dan memelihara jati diri pendidikan Kristen. 22.3.4 GKPI menjalankan dan mengakui segala peraturan dan UU Negara Republik Indonesia yang tidak bertentangan dengan Firman Allah. (Roma 13:1-7; 1 Tim. 2:2; Kis. 5:29; Why. 19:16). 22.3.5 GKPI sebagai bagian dari warga negara turut ambil bagian di dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Melalui kerukunan umat beragama, hidup bernegara dan melayani dapat aman dan damai disertai dengan adanya kebebasan umat beragama (menjalankan kesaksian) di negara ini. 22.3.6 Tetapi janganlah diartikan bahwa kerukunan umat beragama berarti semua agama adalah sama. Harus dipercayai dalam iman bahwa hanya di dalam Yesus ada keselamatan dan kebahagiaan hidup (Kis. 4:12; 1Kor.3:11; Yoh.14:6). 22.3.7 Sebagai orang Kristen, di dalam upacara dan kegiatan kenegaraan, maka kita berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. GKPI menghargai dan menghormati segala bentuk upacara kenegaraan Republik Indonesia (misalnya upacara Proklamasi Kemerdekaan, Hari Kesaktian Pancasila, Hari Sumpah Pemuda, dll.). 22.4 Pelanggaran terhadap Ideologi dan Politik dan Negara 22.4.1 Warga Jemaat yang tidak mengakui keberadaan Negara RI. 22.4.2 Warga Jemaat yang tidak mengakui UU dan peraturan dan ketentuan yang ada di Negara RI. 22.4.3 Warga Jemaat yang menganut ideologi dan paham yang bertentangan dengan iman Kristiani, seperti komunisme /ateisme, yang juga bertentangan dengan ideologi Pancasila. 22.4.4 Politik yang tidak berazaskan Firman Tuhan dan bertentangan dengan Firman Tuhan. 22.4.5 Bentuk-bentuk ideologi dan politik yang memecah-belah serta merongrong negara kesatuan Republik Indonesia. 22.5 Tata Penggembalaan menyangkut Ideologi, Politik dan Negara: 22.5.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran tentang ideologi dan politik dan negara, di mana seseorang warga jemaat/pelayan tidak mengakui Negara dan Undangundang dan ketentuan serta peraturan perundangundangan Republik Indonesia, sertamembawakan ideologi dan politik yang bertentangan dengan Firman Tuhan dan mengakibatkan perpecahan di jemaat maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang Ideologi dan Politik dan Negara. Bila ybs. menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh. 22.5.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. 23. Hubungan Dengan Penganut Agama Lain 23.1 Kita hidup dalam negara RI yang majemuk, baik secara suku, budaya, bahasa, dan juga agama. Sebagai orang Kristen tentu saja kita harus berpegang pada iman dan identitas kita sebagai orang Kristen; kita harus meyakini ajaran Gereja dan agama kita. (bdk. Yoh. 14:6). Oleh karena itu kita tidak boleh mencampur-adukkan agama yang satu dengan yang lain. Kita tidak boleh menganut pendapat bahwa semua agama itu sama saja. Itu adalah pandangan yang sinkretis (mencampuradukkan agama).


29 23.2 Di sisi lainkita harusmenyadari bahwa kita hidup bersama dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama dengan kita. Mereka adalah juga saudara-saudara kita; mereka adalah juga manusia ciptaan Tuhan yang dikasihi oleh Tuhan. Tanpa mencampuradukkan agama, kita harus menghormati mereka dan tidak boleh menjelek-jelekkan orang beragama lain dan menghina agama mereka. 23.3 Tugas bersaksi dan mengabarkan Injil Yesus Kristus adalah tugas setiap orang percaya. Kita dipanggil senantiasa untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, melalui perkataan dan perbuatan. Akan tetapi menginjili dan bersaksi tidak sama dengan mengkristenkan. Tugas kita bukan untuk mengkristenkan, melainkan menyampaikan berita gembira Yesus Kristus itu, yang di dalam Dia, Allah telah menyediakan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kita berkarya dan melakukan perbuatan-perbuatan kasih yang tulus sebagai buah dari kasih Kristus kepada kita. Roh Kudus-lah yang menggerakkan hati seseorang untuk menerima Kristus, kita tidak boleh memaksa orang untuk menjadi pengikut Kristus. 23.4 Salah satu masalah yang sangat peka dalam hubungan antar umat beragama adalah perkawinan antar penganut agama yang berbeda. Pasangan yang berbeda agama itu sesudah menikah tetap mempertahankan agama masingmasing, dan kemudian sesudah mempunyai anak, anak-anak itu setelah dapat memutuskan, diminta memilih salah satu agama orangtuanya. Kelihatannya adil, enak dan mudah. Akan tetapi kenyataannya keluarga seperti itu akan mengalami banyak kesulitan. Alkitab tidak menyetujui perkawinan yang demikian (1Kor. 7:12; 2Kor. 6:14; Yosua mengingatkan bahwa seluruh keluarga harus beribadah kepada Tuhan yang satu dan sama, Yos. 24:15). Oleh karena itu tidak boleh ada dua agama di dalam satu rumahtangga. 23.5 Orang dari agama lain yang masuk menjadi warga jemaat GKPI dapat diterima dengan syarat membuat surat pernyataan menjadi warga GKPI yang percaya pada Yesus Kristus, tanpa paksaan tetapi dari hati yang tulus. Kemudian diterima sebagai warga bimbingan. Setelah mendapat bimbingan dan pengajaran secukupnya dari pendeta atau majelis jemaat/Resort dapat ditindaklanjuti dengan baptisan. Kemudian melalui baptisan itu dapat diterima sebagai warga jemaat penuh di GKPI. 23.6 Merupakan tugas kita yang mulia juga, sebagai pengikut-pengikut Yesus Kristus yang cinta damai dan mengajarkan kasih, untuk membangun secara konsisten hubungan baik dengan umat beragama lain. Hal ini bukan hanya penting bagi kita orang Kristen, melainkan merupakan salah satu syarat terpenting agar Indonesia dapat membangun masa depan yang damai, ramah, solider, adil dan sejahtera. Pengembangan hubungan ini, betapapun sulitnya, perlu mendapat prioritas, baik di tingkat pimpinan gereja maupun di tingkat warga jemaat. 23.7 Pelanggaran terhadap Hubungan dengan penganut agama lain 23.7.1 Warga Jemaat yang tidak mengakui dan bahkan menjelekjelekkan serta menghina keberadaan agama dan penganut agama lainnya yang diakui oleh negara. 23.7.2 Warga Jemaat yang mengungkapkan dan mengajarkan bahwa semua agama sama saja. 23.7.3 Warga Jemaat yang melakukan pernikahan beda agama." 23.8 Tata Penggembalaan menyangkut Hubungan dengan penganut agama lain: 23.8.1 Setelah terbukti melakukan pelanggaran tentang hubungan dengan penganut agama lain maka dilaksanakan TP-GKPI dalam bentuk bimbingan dan pengajaran tentang hubungan dengan penganut agama lain. Bila ybs. menyampaikan pengakuan dan memperlihatkan pertobatan maka selesailah masalahnya dan ybs. dapat diterima kembali di hadapan Majelis Jemaat sebagai anggota penuh.


30 23.8.2 Jika ybs. tidak mau meninggalkan tindakan pelanggarannya dan masih mengulanginya, maka setelah diingatkan secara berulang-ulang-keanggotaan ybs. diakhiri. BAB V PELAKSANA TATAPENGGEMBALAAN 1. Penggembalaan kepada semua warga dan pelayan gereja dilakukan secara terus menerus (berkesinambungan) melalui kebaktian, kunjungan (perlawatan) pastoral, percakapan pastoral, surat penggembalaan, dan bentuk-bentuk penggembalaan umum lainnya. Di samping itu dilakukan penggembalaan khusus kepada warga atau pelayan gereja tertentu sehubungan dengan kebutuhan ataupun masalah khusus yang dihadapi atau dialaminya. 2. Pelaksana TP-GKPI pada dasarnya adalah jemaat, melalui Rapat Majelis Jemaat. Majelis Jemaat mendelegasikan dan atau memberi wewenang kepada Pendeta dan Penatua untuk melaksanakan TP tsb. 3. Seluruh warga jemaat memiliki tanggung jawab untuk menuntun, memperhatikan dan mendoakan warga gereja/pelayan yang menjalani TP-GKPI. 4. Bimbingan dan pengajaran kepada warga jemaat yang bersalah harus dijalankan. Di dalam rapat perlu dihadirkan dan dipanggil warga jemaat yang bersalah ke ruang konsistori maupun langsung kunjungan ke rumah untuk memastikan kesalahan yang dilakukan. 5. Pelaksana Tata Penggembalaan bagi Pendeta adalah Komisi Penggembalaan Pendeta (Pastor Pastorum). 6. Pelaksana Tata Penggembalaan bagi Penatua adalah Tim/Komisi Penggembalaan Penatua. 7. Pelaksana Tata Penggembalaan bagi para pelayan lainnya adalah Pendeta Resort dan Penatua Jemaat. 8. Adalah wajib bagi setiap pelayan gereja GKPI untuk turut memelihara dan memberi peringatan terhadap sesama warga gereja, agar jangan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tata penggembalaan maupun yang terhadap peraturan-peraturan yang ada di GKPI ataupun tidak bertentangan dengan Firman Allah. 9. Keputusan tentang Tata Penggembalaan yang dibuat terhadap seseorang warga atau pelayan gereja berlaku di seluruh GKPI. 10. Setelah Tata Penggembalaan ini ditetapkan dan disahkan di Sinode Am Kerja GKPI 2013, dan diterbitkan oleh Kolportase GKPI, Tata Penggembalaan ini dikirimkan ke seluruh Jemaat dan Resort dan disosialisasikan kepada seluruh warga dan pelayan GKPI di semua aras. BAB VI PENUTUP Hal-hal yang belum diatur dalam Tata Penggembalaan GKPI ini dapat ditetapkan pengaturan aturannya oleh Pendeta Resort setempat bersama dengan Majelis Jemaat setempat setelah berkonsultasi dengan Pimpinan Pusat GKPI. Disahkan pada Sinode Am Kerja XIX GKPI Tanggal 27-31 Agustus 2013


31 PETUNJUK PELAKSANA TATA PENGGEMBALAAN GKPI Pengantar Tata Penggembalaan (TP) GKPI, yang disusun melalui proses yang cukup panjang (lihat Pendahuluan TPGKPI), sudah disahkan pada Sinode Am Kerja XIX GKPI 27-31 Agustus 2013. Ternyata TP itu masih membutuhkan Petunjuk Pelaksanaan atau pedoman teknis, berdasarkan beberapa alasan dan pertimbangan, antara lain: Syarat-syarat dan Tata Cara pelaksanaan Baptisan. Hal ini di perlukan dengan mempertimbangkan perundang-undangan yang berlaku di Negara RI, seperti : UU tentang Perlindungan Anak, UU tentang Keluarga, UU tentang Kependudukan, UU Perkawinan dan Peraturan Pemerintah tentang Pencatatan Sipil, dsb. Syarat-syarat dan Tata Cara pelayanan Pranikah dan pemberkatan Pernikahan. Ini berkaitan dengan UU Perkawinan dan Peraturan Pemerintah tentang Pencatatan Sipil. Penggembalaan terhadap korban Narkoba. Ini berkaitan dengan UU tentang Narkoba dan Hukum Pidana; di sini perlu pemahaman terhadap mereka sebagai pelaku tindak pidana atau sebagai korban, agar para Pendeta dapat menempatkan diri dengan benar. (Demikian dikemukakan dalam Surat Penugasan Pimpinan Sinode GKPI no. 287/F.5/IV/2014 ttgl. 28 April 2014 kepada Pdt. Prof. Dr. Jan S. Aritonang, untuk menyiapkan draft Petunjuk Pelaksanaan TP-GKPI ini). Di dalam TP-GKPI sebenarnya sudah terdapat juga Tata Cara Pelaksanaan untuk bidang dan jenis khusus. Misalnya untuk Penggembalaan Pranikah (bab III), pada butir 3 telah dikemukakan Tata Cara Pelaksanaan. Buku khusus tentang Penggembalaan Pranikah juga sudah disediakan. Untuk Perkawinan dan Kehidupan Rumah Tangga (bab IV, Pasal 3), pada butir 3.7 telah dikemukakan Tata Cara Penggembalaan. Demikian seterusnya untuk tiap jenis Penggembalaan Khusus yang diatur pada Bab IV. Pada Bab V juga djelaskan siapa pelaksana Tata Penggembalaan. Diasumsikan bahwa para pelayan GKPI dapat memahami dan memberlakukannya dengan baik. Ternyata Pimpinan Sinode serta para Pendeta dan pelayan lain di Jemaat masih membutuhkan Petunjuk Pelaksanaan yang lebih rinci dan teknis. Untuk itu disusunlah Petunjuk Pelaksanaan ini untuk jenis-jenis Penggembalaan Khusus tertentu (jadi tidak semua), terutama yang berkait langsung dengan Undang-undang yang berlaku di negara kita. Setelah draft Petunjuk Pelaksanaan TP-GKPI ini dibahas dan dilengkapi pada Rapat Pendeta GKPI di Pematangsiantar 2830 Agustus 2014, lalu diperbanyak dan dilampirkan pada buku Tata Penggembalaan GKPI, maka diharapkan bahwa TP-GKPI dapat dijalankan dengan baik dan lancar, kendati tetap disadari bahwa TP-GKPI ini belum sempurna, sehingga terbuka untuk perbaikan dan penyempurnaan, dan itu dapat saja dilakukan GKPI pada Sinode-sinode Am selanjutnya. Pematangsiantar, akhir 2014


32 PETUNJUK PELAKSANAAN UNTUK JENIS-JENIS PENGGEMBALAAN TERTENTU Pasal 3 Perkawinan dan Kehidupan Rumahtangga 3.1. Perkawinan a. Kedua calon mempelai mendaftarkan rencana pernikahan mereka ke Majelis Jemaat, mengusulkan tanggal ikat janji (martumpol) dan pemberkatan nikah (keputusan tentang tanggal dibuat oleh Majelis Jemaat), sambil menyerahkan dokumendokumen yang dipersyaratkan (lihat TP-GKPI bab IV, butir 3.1, a.l. Akte Baptis dan Akte Sidi, Surat Keterangan dari gereja asal [bagi mereka yang datang dari gereja lain], dan Surat Persetujuan dari pimpinan kesatuan [bagi calon mempelai dari ABRI atau Polisi]). b. Kedua calon mempelai mengikuti Penggembalaan Pranikah (lihat bab III dan buku Penggembalaan Pranikah di GKPI) dan mendapat keterangan (tertulis ataupun lisan) bahwa mereka sudah mengikutinya. c. Bila kedua atau salah seorang dari calon mempelai tinggal jauh dari lokasi jemaat tempat ybs. terdaftar dan/atau menerima pemberkatan nikah, maka ybs. dapat mengikuti Penggembalaan Pranikah di jemaat GKPI atau di gereja yang seas as dengan GKPI, di tempat ybs. tinggal, dan membawa surat keterangan tentang itu. d. Kedua calonmempelai mengurus Pencatatan Sipilatas Perkawinan mereka; dapat diadakan sebelum upacara Pemberkatan Nikah, di kantor Pencatatan Sipil ataupun di gedung gereja/ruang konsistori, atau segera setelah upacara Pemberkatan Nikah. e. Kedua calon mempelai bersama sanak keluarga mengikuti Kebaktian Perjanjian Pranikah (Martumpol) dua minggu sebelum Pemberkatan Nikah. f. Majelis Jemaat mewartakan rencana Pemberkatan Nikah pada dua kali Kebaktian Minggu berturut-turut. (Catatan: Dispensasi untuk butir d dan e (menjadi satu minggu/satu kali Kebaktian Minggu) diberikan oleh Pendeta Resort). g. Kebaktian Pemberkatan Nikah diadakan di Gedung gereja sesuai pengaturan Majelis Jemaat serta kesepakatan dengan kedua mempelai dan orangtua/Wali. h. Kebaktian Pemberkatan Nikah dilayankan sesuai dengan Tata Ibadah Pemberkatan Nikah yang ditetapkan GKPI. Modifikasi ataupun penambahan dapat dilakukan bila terlebih dulu diberitahukan kepada dan disetujui oleh Majelis Jemaat dan Pendeta yang melayankan. i. Acara adat yang berlangsung sebelum dan sesudah Kebaktian Pemberkatan Nikah hendaknya tidak bertentangan dengan Ajaran/Pemahaman Iman GKPI dan tidak mengganggu tahapantahapan yang dilayankan GKPI (lihat di atas). Pasal 4 Kelahiran dan Perolehan Anak a. Anak lahir paling cepat sembilanbulan setelah perkawinan orangtuanya. Bila lahir prematur, dibuktikan oleh surat keterangan dokter/rumah sakit. b. Bila anak lahir kurang dari sembilan bulan, dan tidak prematur, kedua orangtuanya dihubungi Mejelis Jemaat untuk diminta penjelasan. Bila mereka melakukan apa yang disebut pada butir 3.5.1 (melakukan hubungan suami-isteri sebelum pemberkatan nikah atau hamil di luar nikah), mereka digembalakan sekitar 3-6 bulan, namun tidak perlu diwarta-jemaatkan (bnd. butir 3.7.2), dan perkawinan mereka tidak dibatalkan. c. Perolehan anak melalui bayi tabung, inseminasi dan adopsi anak didukung oleh surat keterangan dari yang berwewenang (dari dokter/rumah sakit untuk bayi tabung dan inseminasi, dan pengadilan negeri untuk adopsi anak).


33 Pasal 5 Pekerjaan a. Tindakan pelanggaran terhadap Pekerjaan yang Benar (mencuri, menipu, korupsi, menadah, menyandera, menculik, berjudi, melakukan toto gelap, menjual yang bukan hak-miliknya, serta perdagangan manusia dan organ-organ tubuh manusia; lihat TP butir 5.2.1, 5.2.2 dan 5.2.4) perlu didukung oleh bukti yang sah (surat kepolisian, vonnis pengadilan, pernyataan saksi, dsb.). b. Yang dimaksud dengan rentenir (butir 5.2.3) adalah seseorang yang meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi (makan riba), jauh melampaui bunga bank yang normal (bnd. Im. 25:36; Neh. 5:7; Mzm. 15:5; Ams. 28:8; Yeh. 22:12). Perbuatan sebagai rentenir perlu pengakuan ybs. ataupun kesaksian dari orang yang menjadi nasabahnya, atau dari orang lain yang menyaksikan ybs. menjalankan praktik itu. c. Khusus menyangkut Narkoba, perlu dibedakan dua kategori: pengguna (korban) dan pengedar (pedagang). (1) Pengguna (korban) tidak perlu didukung oleh bukti-bukti formal (surat kepolisian dsb.), cukuplah pengakuan ybs. atau keterangan keluarganya. Kepadanya diberikan pendampingan dan pelayanan pelepasan dari keterikatan kepada Narkoba, bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang terkait dengan itu (Badan Nasional Narkoba/BNN atau perwakilan di daerah, rumah sakit, dsb.) sampai ybs. dinyatakan sembuh dan bebas dari pengaruh Narkoba." (2) Pengedar (pedagang) perlu didukung oleh bukti formal. Bila ybs. ditangkap, diadili dan dipenjarakan, Majelis Jemaat (yang dipimpin Pendeta Resort) juga perlu mendampingi, agar ybs. menunjukkan pertobatan (mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi). Pendampingan terus dilakukan, pun setelah ybs. bebas dari hukuman pidana. Pasal 6 Penyakit dan Penyembuhan a. Penyakit atau keadaan sakit adalah kodrat atau bagian yang wajar dari kehidupan manusia (bnd. BE 291,2: ...parsahiton, halojaon, jambarmi o hajolmaon, di portibi on). Karena itu, ketika hal itu menimpa warga dan pelayan GKPI, mereka perlu dihibur, didoakan, dan dikuatkan. b. Mereka yangsakit perlu juga diingatkanbahwa tidak semua sakit penyakit sembuh. Dalam banyak kasus, Tuhan juga mengizinkan si sakit untuk tidak beroleh kesembuhan. Namun mereka yang sakit perlu diingatkan bahwa Tuhan tetap merangkul mereka dengan kasih-Nya, kendati mereka sakit dan tidak sembuh. c. Penyembuhan dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen (butir 6.4) pada dasarnya adalah yang mengandalkan kuasa dan pertolongan Tuhan, Tabib Maha Agung, entah itu melalui pengobatan secara medis modern maupun melalui pengobatan tradisional (termasuk herbal dansinshe). Karenaitu warga dan pelayanGKPI diingatkan agar tidak mengupayakan penyembuhan kepada para penyembuh yang tidak sepenuhnya mengandalkan kuasa Tuhan (lihat butir 6.5). d. GKPI terbuka pada cara Tuhan memberikan kesembuhan melalui mujizat (divine healing/penyembuhan ilahi, atau spiritual healing /penyembuhan rohani). Namun demikian GKPI percaya bahwa tidak dalam semua kasus penyakit Tuhan berkenan menyatakan kuasaNya melalui penyembuh rohani. Karena itu GKPI menolak anggapan bahwa seseorang dapat mengklaim dirinya sebagai penyembuh rohani, karena karunia menyembuhkan seperti itu tidak bersifat permanen. Tuhan memberikan karunia itu kepada siapa saja yang la perkenan, tanpa terikat waktu. e. Warga dan pelayan GKPI yang sudah tiba pada keadaan terminal illness dan dying (keadaan sakit yang sudah mengarah pada kematian) perlu disiapkan, agar dengan hati yang teguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan menyongsong kematian dengan sukacita dan pengharapan akan hidup yang kekal. Para pelayan GKPI perlu mempelajari pelayanan pastoral kepada mereka yang telah berada pada kondisi ini. f. Perkunjungan kepada mereka yang sedang sakit, terutama yang sakit keras, hendaknya tidak dilakukan dengan beramai-ramai dan dalam waktu panjang, karena mereka yang sakit itu


34 membutuhkan waktu untuk beristirahat. Pada waktu berkunjung kiranya pengunjung tidak banyak bertanya kepada si sakit tentang selukbeluk penyakitnya. h. Warga dan pelayan GKPI yang tidak mampu menanggung biaya pengobatan hendaknya dibantu oleh GKPI (Jemaat bahkan hingga Sinode) sesuai kemampuan. Pasal 7 Kematian dan Pemakaman a. GKPI melayani keluarga yang berduka sejak menerima berita tentang wafatnya seorang warga (termasuk pelayan) GKPI, baik di rumah maupun di tempat lain (di rumah sakit, di tempat kejadian, dsb.). b. GKPI menolong dan mendampingi keluarga untuk mengurus berbagai hal menyangkut pemakaman seorang warga GKPI (tempat dan biaya pemakaman, surat keterangan meninggal, visum et repertum dan autopsy seandainya dibutuhkan, dsb.)." c. Ketika jenazah disemayamkan sampai bermalam, Jemaat GKPI mengadakan ibadah penghiburan pada malam harinya, tetapi tidak perlu panjang dan bertele-tele, mengingat kondisi keluarga yang sudah lelah dan banyaknya pihak yang hendak memberi kata-kata penghiburan. d. Pada waktu menyampaikan penghiburan, atau memasang papan bunga dukacita, hendaknya tidak menyampaikan janji atau ungkapan yang berlebihan, misalnya: "si Anu ini sekarang sudah berada di pangkuan Bapa di sorga"; sebab pengakuan iman Kristen menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal berhenti dari pekerjaannya dan beristirahat (bnd. Why. 14:13; Kis. 7:60) sambil menantikan kedatangan Kristus kembali untuk membangkitkan orang-rang yang percaya kepada-Nya (bnd. Yoh. 6:39-40; 1Kor. 15:13-57; 1Tes. 4:1318). e. GKPI mendampingi keluarga yang hendak membawa dan memakamkan jenazah ke tempat lain (a.l. bona pasogit/kampung halaman), sambil mengingatkan bahwa semua tempat pemakaman adalah tempat peristirahatan sementara, sehingga pemakaman di kampung halaman tidak memiliki nilailebih secara kristiani. f. GKPI memberikan tanda duka dan empati berupa karangan bunga ataupun dana, sesuai dengan kemampuan. Tanda duka dapat diberikan pada waktu jenazah masih disemayamkan, ataupun sesudah dimakamkan di waktu penghiburan (mangapuli). g. Penggembalaan dalam upacara penggalian tulang-belulang (mangongkal holi) diatur pada Pasal 21, butir 21.2.2, sedangkan dalam upacara pembangunan tugu diatur pada Pasal 21 butir 21.2.3. Pasal 8 Okultisme a. Pemahaman GKPI tentang Okultisme dan cakupannya telah dikemukakan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 8, butir 8.1. Di luar yang disebut pada butir ini, masih ada lagi berbagai jenis dan bentuk lain, misalnya mardondon tua, dukun patah yang mengandalkan kuasa atau unsur magis, menyembah dan meminta berkat kepada roh-roh yang diyakini ada di tempat tertentu (di danau, gunung, dsb.). b. Kegiatan - kegiatan budaya maupun juga Upaya pengobatan / penyembuhan secara tradisional (menggunakan metode dan bahan / ramuan yang digunakan leluhur atau masyarakat tempo dulu) tidak secara otomatis masuk kategori Okultisme, sebab budaya (termasuk seni musik, seni suara, seni pahat/ukir, seni tenun dsb.) dan pengobatan tradisional adalah juga karunia Tuhan. Yang terutama adalah bahwa di dalam semua kegiatan dan upaya itu Tuhan Allah Tritunggallah yang disembah. c. Sebaliknya budaya modern dan upaya pengobatan/penyembuhan modern pun dapat masuk ke dalam kategori Okultisme, bila yang diandalkan di situ bukan kuasa dan kekuatan Tuhan Tritunggal, melainkan kuasa dan kekuatan lain, termasuk diri manusia yang melakukannya. d. Karena itu, sebelum menerapkan TP kepada seorang warga atau pelayan GKPI, para pelayan di Jemaat perlu meneliti secara cermat dan mendalam, selanjutnya membahasnya di dalam rapat Majelis Jemaat, untuk memastikan apakah praktik itu masuk kategori Okultisme dan kuasa apa/siapa yang diandalkan dalam kegiatan itu.


35 Pasal 9 Uang dan Harta-Benda a. Sikap dan pandangan GKPI terhadap uang dan harta-benda telah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 9, butir 9.1. Contoh-contoh pemahaman, sikap dan Tindakan yang bertentangan dengan pandangan itu, serta mendewakan dan mengutamakan uang dan harta benda, juga sudah dikemukakan pada butir 9.2, antara lain: korupsi, suap, rentenir, materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. b. Melalui penggembalaan umum, a.l. khotbah dan pengajaran [Sekolah Minggu dan Katekisasi], Penelaahan Alkitab, serta pembinaan warga dan pelayan) maupun penggembalaan khusus kepada warga dan pelayan yang terlibat dalam berbagai kasus korupsi, suap, dan rentenir, diberitahu bahwa semua tindakan itu melawan kehendak Tuhan, sehingga mereka harus mengaku dan bertobat. c. Kepada warga dan pelayan yang menjalani proses hukum akibat tindakan-tindakan tersebut GKPI tetap memberi perhatian dan pendampingan, tanpa melibatkan diri dalam proses itu, agar mereka mengakui kesalahan dan menyatakan pertobatan. Pasal 11 Paham / Ajaran Lain yang berbeda dengan Ajaran / P3I GKPI a. Pada TP-GKPI Bab IV Pasal 11 telah dikemukakan sejumlah contoh paham/ajaran/ aliran yang tidak sesuai dengan pemahaman iman dan ajaran GKPI (a.l. Teologi Sukses/Kemakmuran, Saksi-saksi Yehuwa, Komunisme, Ateisme, Kapitalisme, Sekularisme, dan Anti Adat/Budaya). Di luar itu masih banyak yang lain. b. Seiring dengan perkembangan iptek, temasuk teknologi informasi, GKPI tidak dapat mencegah dan membendung penyebaran berbagai paham/ajaran/aliran itu melalui beraneka-ragam media. GKPI juga tidak boleh melarang warga dan pelayannya mempelajari semua itu, sebab hanya dengan mempelajarinyalah diketahui isi dari tiap paham/ ajaran/aliran. Yang dapat dilakukan GKPI adalah mengingatkan warga dan pelayannya bahwa isi dari paham/ajaran/aliran itu pada pokoknya berbeda, bahkan dalambanyak hal bertentangan dengan yang dipahami dan diimani GKPI. c. Bila ada warga dan pelayan GKPI terbukti menganut paham/ ajaran/aliran itu dan aktif di dalam perkumpulan yang menganutnya, GKPI mengingatkan mereka dan mengajak mereka untuk kembali kepada pemahaman iman dan ajaran GKPI. d. Bila mereka tetap bersikukuh bahwa paham/ajaran/aliran itulah yang benar, sedangkan pemahaman iman dan ajaran GKPI mereka anggap tidak/kurang benar, maka mereka dipersilahkan memilih untuk tetap setia pada GKPI, atau beralih ke paham/ajaran/aliran lain yang mereka anggap [lebih] benar itu. Pasal 18 Pemeliharaan Kehidupan a. Pemahaman GKPI tentang pemeliharaan kehidupan sudah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 18, butir 18.1 s.d. 18.3. b. Apabila ada warga dan pelayan GKPI yang melakukan pelanggaran sebagaimana disebut pada butir 18.4, dan pelanggaran tersebut sudah diproses secara hukum (misalnya terlibat dalam kasus pembunuhan, pemberontakan terhadap negara/ pemerintah, terorisme, penculikan, menggunakan dan memperdagangkan narkoba, serta kekerasan dalam rumah tangga terhadap pasangan maupun anak dan orangtua) maka GKPI mendukung proses hukum itu, dan tidak menghalangi upaya penegakan hukum. c. Sementara proses hukum (peradilan) berlangsung, bahkan bila ybs. dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman, GKPI tetap mendampinginya untuk mengingatkan bahwa tindakannya adalah salah, dan membimbing ybs. kepada pertobatan.


36 Pasal 20 Memelihara dan Menjaga Harta-Milik dan Hak Orang Lain a. Pemahaman GKPI tentang memelihara dan menjaga harta-milik dan hak orang lain telah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 20, butir 20.1. b. Terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dirinci pada butir 20.2, bila sudah dibawa ke ranah hukum, maka GKPI mendukung penegakan hukum atas pelanggaran itu. c. Terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dirinci pada butir 20.2 masih perlu ditam-bahkan tindakan korupsi (terutama mengambil atau menerima yang bukan haknya) dan menipu dengan tujuan mengambil harta-milik orang lain. d. Sementara proses hukum (peradilan) berlangsung, bahkan bila ybs. dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman, GKPI tetap mendampinginya untuk mengingatkan bahwa tindakannya adalah salah, dan membimbing ybs. kepada pertobatan. Pasal 21 Budaya dan Adat-Istiadat a. Pemahaman GKPI tentang budaya dan adat-istiadat telah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV Pasal 21, butir 21.1. Pada pokoknya GKPI menghargai kebudayaan dan adat-istiadat sebagai karunia Tuhan, sambil mewaspadai adanya unsur-unsur atau kegiatan-kegiatan yang bisa bertentangan dengan firman dan kehendak Tuhan. b. Sebelum menentukan penilaian, apakah unsur atau kegiatan budaya /adat-istiadat tertentu sesuai atau bertentangan dengan firman dan kehendak Tuhan, Majelis Jemaat (yang dipimpin Pendeta Resort) perlu terlebih dulu membahas dan memiliki pemahaman yang sama atas hal itu. c. Apabila warga dan/atau pelayan GKPI yang melakukan kegiatan itu terbukti melakukan tindakan yang bertentangan dengan firman dan kehendak Tuhan, maka tata cara penggembalaan yang diatur pada butir 21.3 diberlakukan kepadanya. Pasal 22 Ideologi, Politik, dan Negara a. Pemahaman GKPI tentang ideologi, politik, dan negara telah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV, Pasal 22, khususnya butir 22.1 hingga 22.3. b. Pelanggaran terhadap Ideologi dan Politik dan Negara juga sudah dirumuskan pada butir 22.4. Terhadap pelanggaran-pelanggaran yang disebut pada butir 22.4 ini perlu ditambahkan tindakan penghinaan dan pengrusakan terhadap bendera Indonesia(merah putih) maupun terhadap lambinglambang kenegaraan lainnya (a.l.Garuda Pancasila). GKPI mendorong dan membekali warganya untuk melaksanakan secara sehat dan bersih tugas dan tanggung jawabnya di bidang politik, termasuk menjadi pengurus partai politik atau menjadi anggota legislatif dan pejabat eksekutif. Tetapi GKPI tidak mengizinkan para pendetanya terjun ke politik praktis tersebut, agar pendeta tetapbisa bersikapnetraldanberdiridi tengahsemua partai atau organisasi politik. c. Bila pendeta GKPI terjun ke politik praktis, ia harus lebih dulu meninggalkan jabatan kependetaannya. Setelah mengakhiri kiprahnya di bidang politik praktik, yang bersangkutan dapat saja kembali ke jabatan pendeta setelah mendapat pengukuhan kembali oleh Rapat Pendeta dan Pimpinan Sinode GKPI. Pasal 23 Hubungan dengan Penganut Agama Lain a. Pemahaman GKPI tentang hubungan dengan penganut agama lain telah dirumuskan pada TP-GKPI Bab IV, Pasal 23, butir 23.1 hingga 23.6." b. Pelanggaran menyangkut hubungan dengan penganut agama lain telah dirumus-kan pada butir 23.7. c. Bila di dalam satu keluarga anggota GKPI terdapat perbedaan agama (antara suami dan isteri, atau antara orangtua dan anak), pelayan GKPI mendorong keluarga itu agarmemilikiagama daniman


37 yangsama. Bila halitu untuk sementara ataupun dalam jangka panjang tidak terwujud, pelayan GKPI mendorong mereka untuk saling menghormati, sesuai dengan Undang-Undang Dasar RI Pasal 28. d. Bila salah satu dari orangtua anak di dalam keluarga yang berbeda agama itu hendak membawa anak mereka ke dalam Baptisan Kudus, atau kakek/neneknya hendak membawa cucu dari anak-16-mereka yang berbeda agama dengan pasangannya, maka yang bersangkutan perlu menginformasikan niat dan rencana itu kepada pasangannya atau menantunya yang berbeda agama itu, agar mereka tidak dituduh melakukan pengkristenan secara sembunyisembunyi dan tanpa bermusyawarah. Catatan Umum : 1. Penyelesaian proses penggembalaan, dan penerimaan-kembali seseorang yang menjalani Penggembalaan Khusus untuk menjadi anggota penuh (anggota sidi) di Rapat Majelis Jemaat, tidak perlu menggunakan Tata Ibadah yang ada di buku Agenda GKPI. 2. Bila Majelis Jemaat memandang forum Majelis Jemaat terlalu besar untuk menjalankan Tata Penggembalaan, Majelis Jemaat dapat membentuk Tim Penggembalaan pada aras Jemaat ataupun Resort. Pekerjaan dan keputusan tim ini dilaporkan ke rapat Mejelis Jemaat atau Resort.


Click to View FlipBook Version