JURNAL REFLEKSI MODUL 1.1
REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL – KI HADJAR DEWANTARA
Ku Lihat Muridku Bahagia Belajar dihari Itu……
Hari itu, Rabu 25 Mei 2022, tepat dijam pertama, pukul 07.00 WIB saya
memulai pembelajaran bahasa inggris di kelas X IPA-2. Sengaja saya selalu datang
awal untuk masuk ke kelas, untuk mencontohkan kedisplinan waktu pada siswa saya.
Saat saya masuk kelas, semua siswa sudah kelihatan siap menerima pelajaran.
Mungkin suasana pagi membuat semangat mereka masih membara untuk belajar.
Materi hari itu tentang Song(lagu). Pertemuan hari itupun melanjutkan materi
yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Dan hari itu waktunya, siswa
menyampaikan hasil pekerjaanya.Ya, sebelumnya saya sudah memberikan tugas
untuk menulis bagian lirik lagu yang menjadi favorit mereka masing-masing.
Kemudian, saya meminta untuk menentukan tentang apa lagu tersebut, apa
alasannya suka dengan bagian lirik yang ditulis, serta pesan yang tekandung dalam
lagu tersebut. Dan, tentu saja, saya juga meminta meminta mereka untuk menyajikan
lagu tersebut.
Sebelum siswa saya menyampaikan hasil pekerjaanya, seperti biasa saya
selalu mengecek pekerjaan mereka satu persatu dengan berjalan mengitari setiap
bangku. Saya dapatkan, semua mengerjakan. Ada yang malu-malu saat saya periksa
lagunya, ada beberapa juga yang belum tuntas menentukan isi lagu, pesan yang
dikandung dan alasan mengapa menyuka lirik lagu tersebut. Akan tetapi over all,
semua mengerjakan dengan baik.
Tiba saatnya, satu demi satu mereka menyampaikan hasil pekerjaanya. Ini
waktu yang ditunggu-tunggu. Di awal, saya memberikan kesempatan secara sukarela.
Akan tetapi tidak ada yang berani tampil. Hanya saling bebisik, tersenyum, saling
menunjuk teman. Saya merasa mereka sebenarnya ingin menampilkan lagu masing-
masing, hanya saja perasaan malu masih mendominasi. Dan…..satu siswa berani
tampil diawal. Tia nama panggilanya. Dia merupakan siswa terpandai dalam mata
pelajaran saya. Karena terbiasa tampil, mudah saja dia membuka tampilannya
dengan bahasa inggris. Kemudian dengan sedikit malu dia mencoba menyanyikan
lirik lagu pilihannya. Suaranya lumayan. Dengan apik dia menyanyikan lagu
pilihannya. Semua teman-teman mendengarkan,menikmati dengan senyum-senyum,
sayapun demikian. Ketika saya menanyakan alasan mengapa menyukai lagu tesebut,
jawabannya sederhana… “because it’s about movation, and when I listen the song, I
get new motivation and grow up.”jawabnya dengan lanca.” Wow…. It is a good song,I
think. Saya pun menimpali demikian. Diikuti tepuk tangan riuh teman sekelasnya.
Lanjut, penampilan berikutnya. Saya meminta Tia menunjuk temannya untuk
tampil selanjutnya. Semua pun diam. Ada juga yang berbisik. Jangan saya…jangan
saya…dia saja dan lain sebagainya. Akhirnya, pilihanpun jatuh pada Nanda. Nanda
juga merupakan siswa yang pandai dalam bahasa inggris,diapun tak kalah bagusnya
dalam menyampaikan lirik lagu pilihannya. Selanjutnya, dilanjutkan dengan hal serupa
dan seterusnya. Ada juga yang saat menyampakan tidak tahu mengapa menyukai lirik
lagu itu. “Just like…” katanya. Dan karena waktu hampir selesai, satu tampilan lagi.
Jatuh pada siswa putra, Adam namanya. Adam siswa yang cukup diam ketika
pembelajaran saya. Kemapuan bahasa inggrisnya punbiasa saja. Akan tetapi ketika
menyampiakan hasil pilihan lagunya….. tak disangka suaranya bagus, semuasekelas
melongo dibuatnya. Begitupun saya juga merasakan betul penguasaan lagu yang
dibawakan. Adam telihat sangat menjiwai lagu yang dibawakan, pronounciation nya
pun juga lumayan. Adam, dia siswa saya yang saya sama sekali tidak pernah berpikir
bisa sebagus itu dalam menyanyikan lagu bahasa inggris, hari ini saya melihat
bakatnya. Semua siswa sekelaspun memberikan tepukkan yang meriah untuknya.
Saya merasakan pembelajaran pada pertemuan hari itu sangat
menyenangkan. Saya melihat semua siswa sangat menikmati pembelajaran bahasa
inggris kala itu. Mereka terlihat bahagia dengan ekspresinya masing-masing, dengan
pilihan lirik lagu masing-masing. Jujur, belajar tentang bahasa inggris melalui lagu hal
yang selama ini belum saya coba. Karena padatnya materi, biasanya materi tentang
song(lagu) saya sampaikan secara sekilas saja. Tapi hari itu saya menemukan siswa
saya sangat menikmati pembelajaran yang saya bawakan. Mungkin, mereka memang
butuh warna dalam belajar bahasa inggris, tidak melulu belajar melalui teks yang
memang terkesan kaku atau grammar yang kadang banyak membuat siswa bingung.
Apalagi merupaanhalyang memang dekatdenganduniamereka, anak SMA
Ke depan saya sepertinya harus terus menemukan inovasi-inovasi
pembelajaran yang membuat siswa saya antusias dalam belajar mata pelajaran saya.
Bahasa Inggris. Dari sini, saya belajar sebagai guru harus terus berinovasi untuk
membuat suasana pembelajaran yang dibawakan mampu menghidupkan semangat
siswa.
JURNAL REFLEKSI MODUL 1.2
NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK
SCAN Barcode berikut untuk melihat video Jurnal refleksi
JURNAL REFLEKSI MODUL 1.3
VISI GURU PENGGERAK
Di modul 1.3 pendidikan guru penggerak ini saya belajar tentang Visi Guru Penggerak.
Ya, seorang guru, apalagi guru penggerak yang memang kehadiranya harus menggerakkan
diri dan lingkungannya sudah sewajarnya harus mempunyai visi. Saya pun merancang visi
ini dengan penuh pemikiran. Saya membayangkan kondisi murid saya ke depan seperti apa,
lingkungan belajar yang saya impikan bagaimana juga kondisi rekan-rekan sejawat saya pun
saya punya impian tentang mereka.
Membayangkan sebuah kondisi ideal pembelajaran di masa mendatang membuat saya
merasa bersemangat. Kondisi murid yang kritis, beretika, rekan sejawat yang saling
menghargai dan terbuka untuk saling berkolaborasi didukung dengan lingkungan sekolah
yang nyaman akan mewujudkan pembelajaran yang benar-benar berpihak pada murid.
Dalam pembelajaran kali ini saya menemukan ilmu baru tentang pendekatan inkuiri
Apresiatif, sebuah pendekatan yang berfokus pada kekuatan untuk mencapai sebuah tujuan.
Dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana,
Atur strategi) visi ataupun program-program yang saya canangkan bisa terencana secara
strategis.
Saya pun harus membentuk komunitas praktisi untuk berkolaborasi dalam mewujudkan
visi saya sebagai guru penggerak. Saya menemukan rekan-rekan yang ternyata yang
mendukung, serta dengan mudah Berkolaborasi. Sehingga, dari komunitas praktisi ini saya
bisa mengadakan sebuah workshop pembelajaran di instansi tempat saya mengajar.
Selanjutnya, saya akan semakin sering melakukan berbagai pendekatan pada rekan-rekan
sejawat untuk mewujudkan visi sekolah yang semakin berpihak pada murid.
JURNAL REFLEKSI MODUL 1.4
BUDAYA POSITIF
Di modul 1.4 inilah saya menemukan pelajaran yang sangat berharga.
Pembelajaran tentang mewujudkan budaya positif di sekolah.
Adanya budaya positif perlu dilandasi oleh motivasi internal dari seluruh warga
sekolah. Terbentuknya keyakinan kelas merupakan salah satu upaya pembentukan
budaya positif di sekolah. Selain itu, pendekatan restitusi juga merupakan cara paling
efektif untuk melakukan pendekatan pada siswa.
Di modul 1.4 ini saya merasa belum apa-apa. Masih banyak kekurangan sebagai
pendidik. Terlebih pendekatan saya pada siswa. Sehingga, dari modul budaya positif
ini mengajarkan saya banyak hal. Salah satu yang paling berkesan adalah tentang
posisi kontrol guru. Pemahaman ini berdampak pada pandangan saya tentang
bagaimana melakukan pendekatan secara efektif pada siswa.
Saya pun turut mendiseminasikan materi "Budaya Positif" ke rekan sejawat di
sekolah. Mereka pun sangat berkesan dengan materi yang saya sampaikan. Ke
depan saya pun merasa saya harus bisa mengimbaskan materi-materi yang lain yang
saya peroleh di pendidikan guru penggerak ini. Agar perubahan paradigma tentang
pendidikan bisa dipahami oleh semua warga sekolah.
Dengan demikian, perwujudan budaya positif di sekolah akan mudah dicapai
karena adanya kesamaan visi, pemahaman seluruh warga sekolah.
JURNAL REFLEKSI MODUL 2.1
MEMENUHI KEBUTUHAN MURID MELALUI PEMBELAJARAN DIFERENSIASI
Pembelajaran yang efektif mampu mengakomodir potensi yang dimiliki siswa.
Disinilah hadirnya pembelajaran diferensiasi mampu memetakan pembelajaran
sesuai dengan kondisi murid.
Pembelajaran diferensiasi merupakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan
kebutuhan siswa. Kebutuhan ini dapat dilihat dari tugas aspek yakni kesiapan belajar,
minat belajar dan profil belajar siswa. Pembelajaran diferensiasi dapat diterapkan
dengan tig acara yakni, diferensiasi content, diferensiasi proses dan diferensiasi
produk.
Sebelum saya belajar tentang modul 2.1 tentang pembelajaran diferensiasi,
sedikit banyak ternyata sudah menerapkan dalam pembelajaran di kelas. Hanya saja
perlu penyempurnaan. Dan memang benar, ketika pembelajaran disesuaikan dengan
kebutuhan siswa, siswa pun merasa bahagia dalam pembelajaran yang mereka
lakukan. Saya pun demikian, turut merasa enjoy dalam membawakan pembelajaran.
Selanjutnya, pembelajaran harus saya upayakan selalu di sesuaikan dengan
kebutuhan siswa agar tujuan pembelajaran bisa tercapai secara maksimal di mana
siswa menguasai kompetensi tertentu sesuai dengan cara yang mereka sukai.
JURNAL REFLEKSI MODUL 2.2
PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
Ketika saya memperoleh pemahaman tentang kompetensi sosial dan emosional,
saya pun mencoba menerapkannya dalam pembelajaran. Setelah membuka salam,
mengecek kehadiran siswa, bertanya tentang kabar, saya mencoba
memberikan ice breaking untuk memotivasi siswa sebelum memulai pelajaran. Saya
ingin, siswa saya fokus sekaligus enjoy dalam pembelajaran yang akan saya berikan,
karena bagaimanapun Bahasa inggris masih menjadi pelajaran yang tidak banyak
disukai siswa. Ditengah pembelajaran, Ketika siswa saya sudah merasa Lelah, saya
pun mencoba memecah kejenuhan mereka dengan mengajak sejenak untuk berhenti
dengan Teknik STOP. Saya berusaha menyeimbangkan emosional mereka juga
membuat mereka agar tetap bisa focus penuh pada pembelajaran.
Disitulah saya melihat, siswa saya sangat bersemangat ketika saya
berikan ice breaking.Mereka terlihat antusias dan gembira. Saya pun juga turut
merasa senang melihat wajah ceria mereka Ketika belajar Bahasa inggris.
Disini saya melihat, pengembangan kompetensi sosial emosional bagi siswa juga
saya sebagai pendidik sangatlah penting demi terwujudnya pembelajaran yang
menyenangkan.
Ke depan, saya akan berusaha terus menginbtegrasikan pembelajaran sosial-
emosional dalam pembelajaran. Sehingga siswa saya tidak emrasa jenuh, tapi akan
terus bersemangat dan fokus pada pembelajaran.
JURNAL REFLEKSI MODUL 2.3
COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Inilah materi yang paling saya sukai dalam Pendidikan guru penggerak. Karena
dalam modul ini, saya mendapatkan tentang sebuah pendekatan yang menumbuhkan
potensi seseorang. Tanpa menggurui, tanpa menjudge, tapi lebih pada
memberdayakan potensi yang sudah dimiliki orang tersebut.
Ketika saya menerapkan supervisi dengan rekan sejawat dengan pendekatan
coaching, saya merasa perlu belajar banyak dari pendekatan ini. Saya merasa perlu
untuk terus menggali kemampuan kritis untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan
berbobot.
Saya pun menyadari bahwa sebelum ini, saya sering melakukan praktik coaching
dengan rekan sejawat. Hanya saja saya belum tahu ternayata yang saya praktikan
adalah praktik coaching. Maka dengan belajar di modul 2.3 ini saya semakin
emmahami tentang coaching dan bagaimana menerapkan dalam masalah
pembelajaran khsusunya.
Ke depan,saya harap bisa menjadikan pendekatan coaching sebagai pendekatan
untuk mengatasi masalah pembelajaran yang saya temukan. Selanjutnya, saya
berharap rekan rekan sejawat pun menggunakan pendekatan ini dalam menangani
suatu masalah. Agar tidak ada judging, tapi lebih pada pemberdayaan potensi.
JURNAL REFLEKSI MODUL 3.1
PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Dalam pembelajaran di sekolah, sering saya mengalami kasus baik yang
tergolong dilema etika dan bujukan moral. Untuk kasus bujukan moral, InshaAllah
saya sudah mampu memilih mana yang bernilai benar untuk dilakukan.
Adapun kasus dilema etika, inilah yang seringkali membuat saya bingung dan
bimbang. Keputusan mana yang seharusnya saya ambil, bagaimana dampaknya ke
depan, khsuusnya bagi murid. Contohnya Ketika saya sebagai wali kelas menangani
kasus murid saya yang kehilangan HP di sekolah dengan indiaksi teman sekelasnya
yang mengambil, saya merasa sangat bingung. Banyak sekali pihak yang terlibat dan
dilibatkan. Akhirnya, bagaimanapun dua-dua nya adalah siswa saya, maka saya harus
memilih rasa kasihan atau keadilan.
Dari kauss itulah, saya belajar banyak hal. Saya merasa perlu menjadi guru yang
lebih sabar, lebih bijaksana dan teliti dalam mengambil sikap
Ke depan, jika kasus-kasus dilema etika ini saya jumpai, perlu koordinasi lebih
intens dengan pihak-pihak tertentu sehingga keputusan akan lebih bijak dan bisa
dipertanggungjawabkan.
JURNAL REFLEKSI MODUL 3.2
PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Dalam Pendidikan Guru penggerak ini, saya merasakan banyak sekali kemajuan.
Salah satunya menjadi pribadi yang positif dalam memandang diri saya sendiri.
Istilahnya mberpikir berbasis asset. Saya pun berpikir , asset apa yang saya miliki
agar saya bisa mewujudkan pembelajaran yang menarik bagi siswa. Aset usia
produktif, mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran sekaligus saya
memetakan asset yang ada dalam diri siswa saya, mereka adalah generasi z
Generasi yang suka berpikir instan, dekat dengan teknologi dan menyukai hal baru
dan menantang.
Berdasar asset yang sudah saya petakan di atas yakni potensi yang dimiliki oleh
siswa, saya menerapkan pembelajaran dengan pendekatan TPACK, hasilnya siswa
saya mampu menghasilkan produk animasi dialog dengan menggunakan aplikasi
tertentu. Mereka sangat antusias dan tertarik. Saya pun merasa sangat puas dengan
pencapaian mereka.
Disini, saya menemukan, saya mampu membawa siswa saya dalam
pembelajaran yang mereka sukai dengan mengintreasikan teknologi 4.0 dalam
pembelajaran.
Ke depan, pembelajaran-pembelajaran yang serupa harus saya rancang untuk
mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan meanrik bagi siswa
JURNAL REFLEKSI MODUL 3.3
PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID
Program kegiatan yang ada di sekolah harusnya memberikan dampak positif bagi
siswa. Salah satunya, saya mencoba merancang program madding digital bagi siswa
dengan nama E-Mading SMATA. Pertama , saya melakukan koordinasi dengan
Bapak Kepala Sekolah, Para Wakasek. Saya berkolaborasi dengan rekan sejawat
pembina ekstrakurikuler jurnalistik untuk mewujudkan program tersebut. MAding
digital ini memanfaatkan platform Instagram yang memang jebetulan akun media
sosial yang sangat diminati kaum remaja usia SMA.
Ketika saya melakukan sharing dengan para siswa junalistik, mereka sangat
antusias dan tertarik dengan program yang saya rencanakan. Ternyata, program
mading digital sudah lama dinangtikan siswa, beberapa siswa menuturkan demikian
dalam pertemuan sharing. Secara langsung program akan di handle oleh tim
jurnalistik, dan pemimpin redaksi dalam hal ini siswa akan mejadi pemegang akun
Mading tersebut. Selanjutnya, suara dan kepemilikan siswa juga akan sangat terlihat
dalam program ini dengan melibatkan siswa secara penuh dalam pembuatan content
mading, pengurus madding, juga keberlangsungannya. Disini saya merasa sangat
Bahagia, mampu mewujudkan harapan mereka.
Saya menemukan, ide-ide baru yang nanti bisa ditindak lanjuti dari program
tersebut , salah satunya memberikan skill pada siswa tentang content creator yang ke
depan skill ini bisa sangat bermanfaat bagi siswa.
Selanjutnya, program-program yang berdampak bagi siswa perlu untuk terus
digalakkan demi mewujudkan lingkungan yang positif di sekolah
AKHIRNYA……
Program Pendidikan guru
Penggerak sama sekali bukan
hal yang pernah terbayang
sebelumnya untuk saya ikuti.
Akan tetapi begitulah Tuhan
Yang maha Kuasa memberika
kesempatan pada saya untuk
menajdi bagian dari program
hebat ini. Sehingga, sampai
detik akhir ini saya mampu
menyelesaikan berbagai modul
pembelajaran yang diberikan.
Menjadi bagian dari guru-
guru hebat membuat saya
semakin sadar diri bahwa saya
sebagai pendidik masih harus
terus banyak belajar dan
terbuka dengan perubahan-
perubahan di masa depan. Dari
para rekan-rekan guru hebat
tersebut, saya mendapatkan
banyak inspirasi, ilmu, motivasi
serta kolaborasi yang sangat
positif.
Akhirnya, saya merasa
sangat bersyukur dapat
mengikuti program Pendidikan
Guru Penggerak. Semoga saya
mampu menerapkan ilmu yang
saya dapatkan, mewujudkan
program-program positif di
sekolah, dan yang pasti terus
tergerak, bergerak dan
menggerakkan diri dan
lingkungan menuju kebaikan
Pendidikan di masa depan.