The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Booklet ini merupakan panduan untuk orang tua dalam melatih kegiatan toileting pada anak. Hadirnya booklet ini berdasarkan hasil assessment yang telah dilakukan selama menjalani Praktikum 2 di Yayasan Sayap Ibu. Dari hasil tersebut ditemukan bahwa terdapat beberapa murid Anak Berkebutuhan Khusus pada SPS Sayap Ibu masih menggunakan diaper dan belum mampu untuk kegiatan toileting secara mandiri, maka dari itu booklet ini hadir dan diharapkan dapat memudahkan orang tua dalam membimbing dan melatih anak mereka dalam kegiatan toileting. Booklet ini khusus dibuat untuk para orang tua murid SPS Sayap Ibu dan pengasuh panti Yayasan Sayap Ibu.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by angel puspita, 2024-04-24 10:00:30

Lancar Toilet Training Bersama Orang Tua Cerdas

Booklet ini merupakan panduan untuk orang tua dalam melatih kegiatan toileting pada anak. Hadirnya booklet ini berdasarkan hasil assessment yang telah dilakukan selama menjalani Praktikum 2 di Yayasan Sayap Ibu. Dari hasil tersebut ditemukan bahwa terdapat beberapa murid Anak Berkebutuhan Khusus pada SPS Sayap Ibu masih menggunakan diaper dan belum mampu untuk kegiatan toileting secara mandiri, maka dari itu booklet ini hadir dan diharapkan dapat memudahkan orang tua dalam membimbing dan melatih anak mereka dalam kegiatan toileting. Booklet ini khusus dibuat untuk para orang tua murid SPS Sayap Ibu dan pengasuh panti Yayasan Sayap Ibu.

LANCAR TOILET TRAINING BERSAMA ORANG TUA CERDAS Angelica Irda Puspita


LANCAR TOILET TRAINING BERSAMA ORANG TUA CERDAS Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2024 Angelica Irda Puspita


kATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis dapat diberikan kemudahan dalam penyusunan booklet toilet training yang berjudul “Lancar Toilet Training Bersama Orang Tua Cerdas”. Pembuatan booklet ini digunakan sebagai panduan bagi orang tua dalam melakukan pembiasaan toilet training pada anak. Dalam booklet ini, akan menyajikan berbagai informasi yang dapat menunjang pengetahuan orang tua dalam mengajarkan anak kegiatan toileting, sehingga dapat memudahkan orang tua selama proses pelatihan toileting. Dengan adanya booklet ini diharapkan dapat memberikan kemudahan untuk orang tua dalam kegiatan toilet training pada anak. Sekaligus menjadi sumber inspirasi dan dukungan dalam perjalanan kegiatan toileting. ii ‘‘Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal hebat, tapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”' - Mother Teresa


Kata Pengantar.....................................................................................................ii Daftar Isi...................................................................................................................iii Pendahuluan...............................................................................................................1 Pengertian Toilet Training..............................................................................2 Manfaat Toilet Training....................................................................................3 Tanda saat Memulai Toilet Training...........................................................5 Tanda Kesiapan Toilet Training....................................................................6 Tahapan Toilet Training....................................................................................7 Teknik Toilet Training.........................................................................................8 Keberhasilan Toilet Training..........................................................................11 Kegagalan Toilet Training..............................................................................12 Tips Lancar Penerapan Toilet Training..................................................13 Hal-hal yang dapat Dikenalkan dalam Toilet Training....................15 Penutup.....................................................................................................................19 Daftar Pustaka..................................................................................................20 DAFTAR ISI iii


pENDAHULUAN Selama anak menjalani tumbuh kembang, orang tua memiliki tugas perkembangan. Tugas ini perlu dilakukan dan harus tercapai agar tugas tumbuh kembang lainnya tidak terhambat dan anak tidak selamanya hidup bergantung pada orang lain. Salah satu tugas tumbuh kembang adalah melalui kegiatan toilet training. Toilet training menjadi proses yang penting dalam mendukung tugas perkembangan anak (Autonomy vs. Shame and Doubt) dan juga membangun kepribadian anak. Kegiatan toilet training harus dibiasakan pada anak sebagai bentuk dari melatih kemandirian. Apabila toilet training tidak berjalan dengan baik maka dapat mengarahkan anak pada dua reaksi: melepaskan dengan sembarangan atau menahan kotoran yang ingin dikeluarkan. Perilaku ini dapat berdampak pada kepribadian yang akan dikembangkan anak, yakni anal retentive personality yang merupakan kepribadian yang cenderung keras kepala, pelit, suka menimbun atau menyimpan sesuatu, kaku, keras kepala, dan terlalu berhati-hati (Schultz & Schultz, 2017). Tidak hanya itu, menahan kotoran juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit yang berkaitan dengan daerah anal (Matson, 2023). 1


Pengertian TOILET TRAINING Toilet training menjadi salah satu milestone pada perkembangan anak (Li dkk., 2020). Pelatihan toilet (toilet training) merupakan suatu usaha berupa pelatihan atau pembiasaan melalui instruksi lisan dan pencontohan yang dilakukan agar anak mampu mengontrol keinginan membuang air besar (pup) dan membuang air kecil (pipis) secara mandiri di kamar mandi dengan benar dan teratur (American Psychology Association, 2018). 2


Manfaat Toilet Training Pada ORANG TUA Proses toilet training memberikan manfaat bagi orang tua: Ayah dan bunda dapat terlibat secara langsung dalam proses tumbuh kembang anak sekaligus melaksanakan tugas perkembangan. Dari adanya hal ini orang tua sebagai agen utama dalam tumbuh kembang anak dapat mengetahui apa saja yang diperlukan oleh anak. 1. Ayah dan bunda dapat membina hubungan dan kedekatan pada anak. Proses toilet training memungkinkan orang tua dan anak untuk menghabiskan waktu bersama-sama dan memperkuat ikatan emosional, sehingga dapat memperkuat keterampilan, seperti keterampilan komunikasi, memberikan arahan, dukungan, pemecahan masalah, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, kegiatan toilet training juga dapat membantu orang tua dalam melatih kesabaran, fleksibel, dan mampu menangani tantangan dalam mengasuh anak. 2. Memperkuat ikatan dengan pasangan, proses toilet training melibatkan kedua orang tua sekaligus kerjasama diantara keduanya. Hal ini menjadi kesempatan untuk berkolaborasi, mendiskusikan strategi, dan mendukung satu sama lain dalam mengasuh anak. 3. 3


Manfaat Toilet Training Pada anak Proses toilet training memberikan manfaat untuk sang anak: Anak dapat memenuhi tugas perkembangannya sekaligus memiliki sifat mandiri; 1. Anak mengenal dan mengetahui bagian tubuh yang dimiliki khususnya pada tubuh bagian bawah; 2. Anak dapat menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih. Dari kegiatan toilet training, anak mengetahui bagaimana cara merawat tubuh, khususnya pada alat kemaluan. 3. Melatih kemampuan fisik pada anak, seperti kemampuan anak untuk duduk di kloset duduk atau jongkok di kloset jongkok sekaligus kemampuan memakai dan melepas celana. 4. Melatih kemampuan kognitif seperti kemampuan anak mengikuti intruksi yang diberikan oleh orang tua, kemampuan anak menyatakan keinginan saat pipis atau pup, dan kemampuan anak memahami reaksi tubuhnya saat merasakan keinginan pup atau pipis. 5. 4


5 Tanda saat memulai toilet training dapat dilakukan ketika: Ayah dan bunda menyadari akan pentingnya tugas perkembangan yang harus segera dilaksanakan dan diselesaikan. 1. Ayah dan bunda menyadari dan memiliki keinginan untuk anak berhenti mengompol. Pada umumnya anak berhenti mengompol pada usia 3 tahun, tetapi batas usia anak mengompol dianggap wajar berada pada usia 7 tahun . 2. Tanda Saat memulai toilet training


tANDA kESIAPAN tOILET TRAINING pADA ANAK 6 Dalam memulai proses toilet training, ayah dan bunda perlu memperhatikan kesiapan anak: 1.Anak dapat meniru tindakan orang tua Anak dapat meletakkan beberapa benda “di tempatnya ” 2. 3.Anak dapat berjalan dan duduk Anak dapat mengkomunikasikan keinginan untuk pipis atau pup secara verbal atau nonverbal 4. 5.Anak dapat mengerti perintah 6.Anak memiliki semangat meminta atau menolak 7.Anak tertarik untuk ke kamar mandi


TAHAPAN TOILET TRAINING Ayah dan bunda dapat membiasakan anak untuk memberitahu apabila anak ingin pipis atau pup. Dengan melatih anak dalam mengucapkan kata yang menunjukkan keinginannya untuk pipis atau pup, seperti “ pipis’ atau “ eek” atau “ pup ”. 1. Membantu dan membiasakan anak untuk membuka celana sendiri 2. Membantu dan menuntun anak untuk menggunakan kloset saat pipis atau pup. Ayah dan bunda dapat mempraktikkan terlebih dulu cara penggunaan toilet, agar anak dapat melihat bagaimana menggunakan toilet. 3. Melatih anak untuk cebok atau membersihkan kemaluannya dengan benar setelah pipis atau pup. 4. 5.Membantu dan membiasakan anak memakai celana sendiri. Mengajari anak cara menyiram kloset dan membiasakan anak menyiram kloset setelah pipis dan pup. 6. Mengajarkan dan membiasakan anak untuk melakukan cuci tangan menggunakan sabun setelah pipis atau pup. 7. 7


TEKNIK TOILET TRAINING 8 Teknik lisan Ayah dan bunda dapat menerapkan teknik lisan dengan cara memberikan instruksi berupa kata-kata yang diucapkan pada anak. Teknik lisan memiliki nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk pipis dan pup. Ayah dan bunda dapat melakukan 3 tahap pelaksanaan teknik oral atau lisan: Sebelum anak pipis atau pup: Mengenalkan anak peralatan yang ditemukan saat melakukan toileting Mengingatkan anak ketika muncul gerak-gerik untuk pipis atau pup untuk segera ke toilet atau meminta bantuan pada ayah dan bunda Ketika anak pipis atau pup: Meminta anak untuk membuka celana Meminta anak untuk jongkok atau duduk di kloset meminta anak untuk cebok atau membersihkan kemaluan Meminta anak untuk membersihkan alat kemaluan menggunakan tisu atau handuk Meminta anak untuk memakai celana Meminta anak menyiram kloset


TEKNIK TOILET TRAINING 9 Teknik lisan Setelah anak pipis atau pup: Meminta anak untuk mencuci tangan setelah pipis dan pup Memberikan pujian pada anak karena telah melaksanakan perintah yang diberikan Memberikan motivasi agar anak dapat melakukan toilet training dengan baik Teknik pencontohan Ayah dan bunda dapat menerapkan teknik pencontohan dengan cara memberikan contoh agar anak dapat meniru apa yang dilakukan orang lain. Dengan teknik ini, anak dapat dengan mudah meniru apa yang telah dilakukan oleh ayah dan bunda. Selain itu, teknik ini lebih mudah diserap oleh anak. Ayah dan bunda dapat melakukan hal-hal berikut: Memberi contoh melepas celana Memberi contoh cara menggunakan kloset duduk dan jongkok Memberi contoh membersihkan alat kemaluan dengan benar Memberi contoh mengeringkan alat kemaluan dengan tisu atau handuk Memberi contoh menggunakan celana Memberi contoh menyiram kloset dengan benar Memberi contoh mencuci tangan setelah pipis atau pup


TEKNIK TOILET TRAINING 10 Ayah dan bunda dapat menerapkan teknik kombinasi antara lisan dan pencontohan pada anak. Hal ini dilakukan agar proses toilet training dapat berjalan dengan optimal. Ayah dan bunda dapat menerapkan teknik kombinasi saat proses pipis atau pup berlangsung, seperti: Anak dalam posisi duduk atau jongkok di kloset, ayah dan bunda dapat membantu mencontohkan membersihkan alat kemaluan pada anak. 1. Ayah dan bunda dapat mempraktekkan cara menurunkan celana dan meminta anak untuk mengikutinya, ketika sudah minta anak untuk duduk atau jongkok di kloset untuk pup atau pipis. 2. Ayah dan bunda dapat meminta anak untuk menggunakan celananya sendiri, kemudian mempraktekkan cara menyiram kloset dengan benar dan diikuti oleh anak. 3. Teknik kombinasi Teknik kombinasi dapat dilakukan sesuai dengan urutan tahapan-tahapan toilet training. Teknik ini dilakukan ketika anak mulai memahami proses toileting,


Keberhasilan Toilet tRAINING Proses toilet training dikatakan berhasil ketika anak mampu melakukan hal-hal berikut: Anak lebih jarang mengompol sehingga menghemat penggunaan popok sekaligus dapat menjaga lingkungan sekitar. 1. Anak mampu merasakan keinginan pipis dan pup sekaligus meminta pertolongan pada ayah dan bunda 2. 3.Anak mampu menurunkan celana 4.Anak mampu membuang pipis dan pup di kloset Anak mampu membersihkan alat kemaluan setelah pipis atau pup 5. Anak mampu memasang kembali celana setelah pipis atau pup 6. 7.Anak mampu menyiram kloset 8.Anak mampu mencuci tangan setelah pipis atau pup 11


Proses toilet training dapat mengalami kegagalan, seperti: Tidak tercapai tugas perkembangan, hal ini dapat disebabkan karena adanya ketidakkonsistenan dari ayah dan bunda dalam menerapkan kegiatan toilet training. Kegagalan ini dapat berakibat ketergantungan pada anak ketika beranjak dewasa sekaligus tidak mampu mengerjakan sesuatu terkait mencapai tujuan tertentu, walaupun tugas sederhana. 1. Anak phobia dengan kegiatan toileting karena adanya faktor pola asuh yang terlalu memaksa pada anak. Menghindari hal ini, ayah dan bunda selama proses berjalannya kegiatan toileting perlu memberikan dukungan pada anak dalam setiap proses kecil yang akan berikan. 2. Ayah dan bunda menemukan anak masih mengompol. Jika hal ini terjadi anak dapat mengalami masalah terkait kebersihannya. 3. 12 KEGAGALAN Toilet tRAINING


tIPS LANCAR PENERAPAN TOILET TRAINING 13 Kegiatan toilet training tidak hanya dijalankan oleh ibu saja, maka dari itu perlu adanya dukungan dari berbagai pihak salah satunya ayah. Dalam kegiatan toilet training ini kerjasama antara ayah dan bunda sangat diperlukan. Selain itu, Ayah dan bunda harus memiliki komitmen yang tinggi sekaligus niat besar dalam proses toilet training. Ayah dan bunda tidak diperbolehkan untuk memaksa anak melakukan kegiatan toileting, hal ini dapat menghambat anak dalam proses toilet training. Hal yang perlu dilakukan selama proses toilet training adalah selalu memberikan dukungan dan apresiasi pada anak sekaligus mengingatkan anak pada waktu-waktu tertentu, seperti bangun tidur, sebelum berpergian, sebelum tidur, dan setelah mengkonsumi minuman. Ayah dan bunda dapat mengatakan “’ adek, sudah terasa ingin pipis belum?”’ atau “’Adek kalau sudah ingin pipis bilang bunda ya ”’.


tIPS LANCAR PENERAPAN TOILET TRAINING 14 Ayah dan bunda dapat mengamati gerak-gerik anak saat kebelet pipis dan pup, seperti memegang alat kemaluan, jalan jinjit, atau lain sebagainya. Ketika ayah dan bunda telah paham dengan gerak-gerik anak, maka dapat mengingatkan anak dengan ‘“dek, ini tuh tanda mau pipis atau pup, yuk kita ke toilet!’’. Dari hal ini anak dapat mengenali ciri-ciri pada saat dirinya kebelet pipis dan pup. Ayah dan bunda tidak perlu khawatir dengan ompol karena ompol adalah proses belajar. Saat anak mengompol, ayah dan bunda dapat mengatakan ‘“ wah pipis di celana ya? seharusnya bisa dikeluarkan di kloset loh. Nanti kalau adek mau pipis langsung buru-buru ke kamar mandi ya atau bilang ke bunda ’’. Dari perkataan tersebut anak dapat belajar dan paham akan ketidaknyamanan pada ompolnya sendiri.


Hal-hal yang dapat dikenalkan dalam proses toilet training 15 PIPIS Anak dapat dikenalkan bentuk pipis secara langsung saat anak sedang melakukan kegiatan toileting dan memberitahu anak tempat yang tepat untuk membuang pipis, yakni kloset. Perlu diingat bahwa warna pipis tidak selamanya kuning, sehingga perlu dikenalkan warna-warna pipis yang lainnya. Pentingnya mengetahui warna pipis untuk kesehatan. PUP Anak dapat dikenalkan bentuk pup secara langsung saat sedang melakukan kegiatan toileting sekaligus memberitahu anak tempat yang tepat untuk membuang pipis dan pup, yakni kloset. Perlu diingat bahwa bentuk dan warna pup dapat bervariasi. Penting untuk selalu mengetahui bentuk dan warna untuk kesehatan anak. Celana digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah. Ayah dan bunda perlu mengajari dan mempraktekkan cara menggunakan dan melepas celana. Agar anak dapat terbiasa melakukannya EMBER AIR GAYUNG CELANA secara mandiri


16 JET SHOWER CELANA DALAM Pakaian dalam digunakan untuk menutupi alat kemaluan. Dalam kegiatan toilet training, ayah dan bunda dapat menyediakan celana dengan gambar atau motif yang beragam agar anak termotivasi untuk kegiatan toilet training. KLOSET DUDUK Anak dapat dikenalkan kloset sebagai tempat pembuangan kotoran. Anak dapat diajarkan menggunakan kloset, pembelajaran dapat menggunakan teknik lisan dan pencontohan. KLOSET JONGKOK Ayah dan bunda perlu memperkenalkan kloset duduk dan jongkok pada anak, untuk mengantisipasi anak bertemu dengan toilet yang menggunakan salah satu diantaranya sekaligus mengajarkan cara menyiramnya. Hal-hal yang dapat dikenalkan dalam proses toilet training


17 Anak dapat dikenalkan ember air yang digunakan sebagai wadah untuk menampung air. Ayah dan bunda dapat menunjukkan bagaimana cara mengisi airnya. EMBER AIR Anak dapat dikenalkan gayung sebagai alat untuk menciduk air dari bak mandi atau ember. Ayah dan bunda dapat menunjukkan cara menggunakannya, yakni memegang bagian terpanjang dari gayung. JET SHOWER Anak dapat dikenalkan jet shower atau bidet spray sebagai semprotan yang digunakan untuk membersihkan alat kemaluan. Bidet spray dikenalkan pada anak untuk mengantisipasi anak bertemu dengan bidet spray di beberapa tempat. GAYUNG Hal-hal yang dapat dikenalkan dalam proses toilet training


TISU DAN HANDUK Anak dapat dikenalkan dengan tisu dan handuk pada anak untuk mengerikan alat kemaluan, kaki, dan tangan. Ayah dan bunda harus membiasakan anak untuk mengeringkan alat kemaluan sehabis cebok, sekaligus dapat digunakan sehabis mencuci tangan. 18 WASTAFEL Anak dapat dikenalkan wastafel pada anak sebagai tempat untuk mencuci tangan setelah pipis dan pup. Wastafel dapat dijumpai ketika anak sedang mengikuti kegiatan di luar rumah, sehingga ayah dan bunda perlu membiasakan anak dalam mencuci tangan setelah pipis dan pup JET SHOWER Anak dapat dikenalkan sabun yang dapat digunakan untuk membersihakan tangan setelah pipis dan pup. Ayah dan bunda perlu membiasakan anak menggunakan sabun saat mencuci tangan. SABUN Hal-hal yang dapat dikenalkan dalam proses toilet training


terima kasih Perjalanan dalam buku toilet training telah selesai, penulis harap informasi yang disajikan dalam buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya orang tua yang akan menerapkan toilet training pada anak. Ingatlah untuk memperhatikan sinyal-sinyal yang diberikan oleh anak dan memberikan pujian serta dukungan yang pantas setiap kali anak mengalami kemajuan. Jangan lupa untuk menjaga suasana hati yang positif dan santai. Proses toilet training adalah momen berharga untuk membangun ikatan yang kuat antara orang tua dan anak. "Nikmati hal-hal kecil, karena suatu hari Anda mungkin melihat ke belakang dan menyadari bahwa itu adalah hal-hal besar." - Robert Brault 19


daftar referensi Agustina, W., & Sapta, R. F. (2015). Tiga faktor dominan penyebab kegagalan toilet training pada anak usia 4-6 tahun. Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), 2(2), 188-192. American Psychology Association. (2018). APA Dictionary, apa.org. Choby BA, George S. Toilet training. Am Fam Physician. 2008 Nov 1;78(9):1059-64. PMID: 19007052. Habsari, D. Pembiasaan Orang tua dalam Menerapkan Toilet Training (TT) Pada Anak Usia 2-3 Tahun Di Pontianak. Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, 8(2). Li, X., Wen, J. G., Xie, H., Wu, X. D., Shen, T., Yang, X. Q., Wang, X. Z., Chen, G. X., Yang, M. F., & Du, Y. K. (2020). Delayed in toilet training association with pediatric lower urinary tract dysfunction: A systematic review and metaanalysis. Journal of Pediatric Urology, 16(3). https://doi.org/10.1016/j. jpurol.2020.02.016 Larasanti, D. S., Ana, & Achdiani, Y. 2022. Panduan Toilet Training Bagi Pengasuh Anak di Daycare. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Matson, L. (2023). Hanabook of Clinical Child Psychology: Integrating Theory and Research Into Practice. Springer Nature. Marwah. 2023. Trik Toilet Training. Miller, P. H. (2011). Theories of Developmental Psychology (5th ed.). Worth Publishers. Riyantika, Kirana. (2022). Batas Usia Anak Ngompol Dianggap Normal Berapa? Ini Penjelasannya. https://nakita.grid.id/read/023624235/batasusia-anak-ngompol-dianggap-normal-berapa-ini-penjelasannya?page=all Saparahayuningsih, S., Qalbi, Z., & Indrawati, I. (2020). Sosialisasi Toilet Training Di Desa Taba Baru Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah. Jurnal ABDI PAUD, 1(1), 1-6. Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of personality (1Ith ed.). Cengage Learning. 20


Click to View FlipBook Version