The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ali almustofa, 2022-12-22 22:28:48

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 (Artikel)

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif

Ali Almustofa
CGP Angakatan 7 Kabupaten Grobogan

Koneksi antar materi pada modul 1.4 tentang budaya positif ini untuk memberikan kesimpulan
mengenai peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-
konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi
kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi
sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru
Penggerak, serta Visi Guru Penggerak.
Saya akan membuat refleksi dari pemahaman saya atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif
ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Sejauh mana pemahaman Saya tentang konsep-konsep inti yang telah saya pelajari di modul ini,
yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru,
kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi.
Disiplin positif merupakan bagian dari budaya positif dan merupakan bentuk kontrol diri untuk
mencapai tujuan yang membuat seseorang menggali potensinya untuk dihargai dan lebih
bermakna.Orang yang disiplin memiliki rasa tanggung jawab yang kuat dalam dirinya untuk
melaksanakan suatu tindakan sesuai dengan hati nurani dan tanpa paksaan atau karena mendapat
pujian. Teori motivasi perilaku manusia ada 3 hal yaitu untuk menghindari hukuman atau
ketidaknyamanan, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan untuk
menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka
percaya. Lima posisi kontrol seorang Guru adalah sebagai penghukum, pembuat merasa bersalah,
teman, pemantau dan sebagai manajer. Dalam hal ini kita diharapkan posisi kontrol kita sebagai
seorang manajer.Kebutuhan dasar manusia adalah bertahan hidup, cinta dan kasih sayang rasa
diterima, kebebasan , kesenangan dan penguasaan. Oleh karena itu kita sebagai guru harus benar-
benar memperhatikan lima kebutuhan dasar tersebut. Keyakinan kelas merupakan sebuah ketetapan
atau peraturan kelas yang telah disepakati dan diyakini serta telah dijelaskan konsekuensi yang

diterima jika kesepakatan tersebut dilanggar. Keyakinan kelas dibentuk untuk menciptakan disiplin
positifdari siswa sehingga siswa mempunyai kesadaran penuh tanpa paksaan melaksanakan
kesepakatan kelas yang sudah diyakininya dengan penuh tanggung jawab. Jika ada anak yang
melanggar keyakinan kelas maka perlu ada komunikasi yang baik antara guru dan siswa dan
mengatasi masalah tersebut dengan segitiga restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi
bagi siswa untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali kekelompoknya
dengan karakter yang kuat ( Gossen 2004). Restitusi bukan untuk menebus kesalahan melainkan
sebuah tawaran dan bukan paksaan. Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan,
disiplin positif , dan memulihkan dirinya setelah berbuat kesalahan. Ada tiga tahapn dalam segitiga
restitusi yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan. Hal-
hal yang menarik bagi saya dan diluar dugaan adalah pada saat saya menerapkan segitiga restitusi.
Disitu siswa lebih bebas mengungkapkan alasannya dan lebih terbuka kenapa dia melakukan
kesalahan yang sudah diyakininya. Sehingga kita bisa mendapatkan solusi untuk memperbaiki
kesalahan siswa tersebut dengan bersama-sama mencari penyelesaiannya. Dengan cara pendekatan
tersebut siswa akan lebih disiplin dan dengan sadar untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Budaya
positif dimulai dari disiplin positif dan ini harus datang dari diri. Disiplin pertama kali dibangun
dari dalam diri untuk memperoleh kemandirian belajar. Belajar tanpa disiplin sama saja dengan
membuat pendidikan menjadi tidak bermakna. Sehingga tujuan akhir untuk mendapatkan
kemantapan capaian kognitif, emosional, dan psikomotorik sudah pasti tidak tercapai.
Untuk mewujudkan Tujuan pendidikan tidak bisa terlepas dari pembiasaan budaya positif di
sekolah. Dengan menerapkan konsep-konsep disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman
dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi.

2. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir saya dalam menciptakan budaya positif di kelas
maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
Perubahan yang terjadi di dalam kelas tentu saja menuju ke arah yang lebih baik, yang sebelumnya
belum dikenalkan keyakinan kelas, setelah anak membuat keyakinan kelas maka peserta didik lebih
bisa memahami dan melaksanakan nilai-nilai kebaikan yang telah mereka ciptkan sendiri.
Perubahan yang ada di kelas membawa perubahan di sekolah tentunya. Budaya positif seperti 5S (
senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), peserta didik dengan kesadaran dari dirinya melaksanakan
di dalam kelas dan di lingkungan sekolah. Datang sekolah tepat waktu, dengan sendirinya ketertiban

akan tercipta. Membuang sampah pada tempatnya, akan tercipta lingkungan sekolah yang nyaman
dan bersih. Keyakina kelas otomatis membawa perubbahan di kelas dan lingkungan sekolah.

3. Pengalaman yang pernah saya alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya
Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
Pengalaman dalam penerapan konsep inti dalam modul budaya positif pada saat menangani
permaslahan peserta didik. Pengalaman ini saat saya menangani peserta didik saya yang terlambat
dating sekolah, yaitu siswa yang berangkat sekolah pukul 07.30 padahal sekolah masuk pukul
07.00. Sesuai aturan itu menyalahi keyakinan kelas, otomatis saya memposisikan diri saya
menghadapi peserta didik tersebut dengan sabar, Saya memposisikan diri sebagai kontrol meneger.
Saya mengajak siswa untuk mengetahui dan mengakui kesalahannya sendiri dan mencari solusi
atas kesalahannya sendiri tanpa menyalahkan atau memberikan hukuman. Mengingatkan akan
keayakinan kelas yang sudah disepakati dan mendorong siswa untuk menemukan solusi untuk
melakukan perubahan kea rah yang lebih baik agar menjadi siswa yang disiplin dantepat waktu.

4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
Perasaan saya ketika mengalami hal-hal tersebuat adalah bangga dan senang karena ternyata saya
bisa melakukan pendekatan dengan siswa dan dapat menyelesaikan permasalahan siswa tanpa
memberi hukuman tetapi dengan diskusi dari hati ke hati. Dengan cara segitiga restitusi dan
memposisikan diri sebagai manajer maka anak merasa nyaman untuk digali alasannya dan dalam
memperbaiki kesalahannya. Disini anak akan menjadi terbuka dan bisa mencari solusi untuk bisa
memperbaiki kesalahannya tanpa paksaan dan kita mengajak anak untuk mengingat kembali
keyakinan kelas yang telah disepakati dan apa konsekuensinya kalau melanggarnya, sehingga kita
melatih anak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

5. Menurut saya, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang
sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
Dari tindakan yang telah saya lakukan tersebut, posisi meneger, merupakan posisi yang terbaik
dalam mengahdapi permalahan yang dihadapi peserta didik, karena peserta didik tidak merasa
terhukum, dan akan muncul motivasi internal dari dirinya. Dan yang perlu diperbaiki dari saya

adalah perlu ditingkatkan kesabaran, dan lebih memahami karakter siswa, sehingga pelaksanaan
segitiga restitusi akan lebih baik lagi.

6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol,
posisi manakah yang paling sering saya pakai, dan bagaimana perasaan saya saat itu? Setelah
mempelajari modul ini, posisi apa yang saya pakai, dan bagaimana perasaan saya sekarang? Apa
perbedaannya?
Posisi yang sering pakai sebelum mempelajari modul ini, saya sering memposisikan sebagai teman.
Dan setelah memepalajari modul ini saya berusaha sebagai meneger. Perbedaan yang saya rasakan
posisi sebagai meneger lebih bisa memanusiakan peserta didik, bukan guru yang menyadarkan,
tetapi dari peserta didik sendiri yang akan menyadari kesalahannya, dan tindakannya telah
melanggar keyakinan kelas yang ada. Dan perasaan saya sebagai guru tentunya akan lebih senang
dan bangga apabila peserta didik bisa mengungkapkan dan menggali kesalahannya, tanpa kita
menghakiminya.

7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika
menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan
bagaimana Anda mempraktekkannya?
Setiap guru mungkin pernah melakukan tindakan segitiga restitusi, termasuk saya. Saya yakin
semua guru di sekolah selalu menghadapi pesera didik yang bermasalah, dan setiap guru tentunya
berusaha untuk membantu menyelesaikan permasalahan itu, Cuma guru-guru tersebut belum
mengerti tahapan-tahapan segitiga restitusi. Saya sudah menerapkan segitiga restitusi ini tetapi
mungkin saya kurang paham apa nama tahapan-tahapan yang telah saya lakukan dan mungkin yang
saya lakukan juga masih belum komplit dan benar sesuai tahapan segitiga restitusi. Tahap yang
saya praktekan adalah tahap validasi tindakan yang salah. Saya selalu menanyakan alasan kenapa
siswa tersebut melanggar peraturan. Dan kadang kala hanya sampai menyakan saja, tanpa
melanjutkan penyelesaikannya, atau kadang kalau sudah tertangani guru lain, saya merasa tidak
perlu lagi menyelesaikan.

8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut saya
penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun
sekolah?
Terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak
dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan
teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan
memberikan dorongan (tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka
menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai
kebahagiaan dan keselamatan. Dengan demikian Visi Diri atau visi guru penggerak harus sejalan
dengan pemikiran ki Hajar dewantara tersebut.
Serta diusahakan dapat berkolaborasi dengan pihak sekolah dan seluruh warga sekolah serta pihak-
pihak yang terkait untuk berpartisipasi dan berkontribusi langsung untuk mengembangkan dan
menerapkan budaya positif di sekolah. Itu harus dilakukan supaya budaya positif tercipta dengan
terlaksananya disiplin positif dari kesadaran dari masing-masing individu dengan penuh kesadaran
dan penuh rasa tanggung jawab.
Karena di kelas maupun di sekolah, guru menghadapi individu yang memiliki kemampuan dan
karakter yang berbeda. Guru harus memahami dan menguasai konsep-konsep ini sebagai bagian
integral dari pengajaran.
Membentuk disiplin positif di lingkungan kelas diperlukan keyakinan kelas. Keyakinan kelas
dibentuk dengan kesepakatan bersaman anggota kelas yang di dasarkan atas nilai-nilai Kebajikan
universal dan menekankan pada keyakinan diri sesrta memotivasi dari dalam. Seseorang akan lebih
tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti
serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.


Click to View FlipBook Version