2020
KETENAGAKERJAAN DAN
PENGANGGURAN
Pengembangan Bahan Ajar
Ekonomi
• Apliani Tobing
• Miftahul Jannah
• Revi Murni Syari
• Suciani
Daftar Isi
A.Ketenagakerjaan
Pengertian ................................................................................................... 1
Bagan Pembagian Penduduk dan Tenaga Kerja .................................... 4
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ........................................................ 4
B. Pengangguran
Pengertian Pengangguran ....................................................................... 6
Penyebab Pengangguran ........................................................................ 7
Jenis Pengangguran ................................................................................ 8
Tingkat Pengangguran .......................................................................... 12
Dampak yang disebabkan dari Penganggur ....................................... 13
Cara Mengatasi Pengangguran ............................................................ 17
Kesimpulan ......................................................................................................... 20
Daftar Pustaka ................................................................................................... 21
1
A. KETENAGAKERJAAN
PENGERTIAN
a. Pengertian Angkatan Kerja
Menurut Sumarsono, pengertian angkatan kerja (labor force) adalah
bagian penduduk yang mampu dan bersedia melakukan pekerjaan. Dalam
hal ini pengertian angkatan kerja “mampu” berarti mampu secara fisik,
jasmani, kemampuan mental dan juga secara yuridis mampu serta tidak
kehilangan kebebasan untuk memilih dan juga melakukan pekerjaan yang
dilakukan serta bersedia secara aktif maupun juga pasif dalam melakukan
dan mencari pekerjaan.
Menurut BPS (2010), Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja
yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Pendekatan mencakup
angkatan kerja yang secara aktif bekerja ataupun sedang mencari pekerjaan
yang mana dalam kedua aktivitas tersebut berada dalam jangka waktu
tertentu dengan demikian dalam pendekatan ini mampu membedakan
angkatan kerja yang menjadi dua kelompok bekerja dan sedang mencari
pekerjaan. Jadi dapat disimpulkan angkatan kerja adalah penduduk dalam
usia produktif sedang bekerja atauu mencari pekerjaan.
b. Pengertian Tenaga Kerja
Menurut Undang-Undang Nomor. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah
setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang
dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk
masyarakat. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia tenaga kerja
adalah orang yang bekerja atau mengerjakan sesuatu, orang yang mampu
melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.
Menurut Alam (2014) tenaga kerja adalah penduduk dengan usia
antara 17 tahun sampai 60 tahun yang bekerja untuk menghasilkan uang
sendiri. Dan menurut Hamzah (2014), tenaga kerja adalah tenaga yang
2
bekerja didalam maupun luar hubungan kerja dengan alat produksi utama
dalam proses produksi baik fisik maupun pikiran. Jadi tenaga kerja adalah
jumlah penduduk dalam suatu Negara yang berada dalam kerja atau usia
produktif antara 15-64 tahun.
c. Pengertian Kesempatan Kerja (Employment)
Sumarsono (2003 : 41) memberikan definisi bahwa kesempatan kerja
adalah lapangan pekerjaan yang sudah di duduki (employment) dan masih
lowongan (vacancy).
Kesempatan kerja merupakan keadaan yang sedang menggambarkan
ketersediaan lapangan kerja bagi para pencari pekerjaan. Sehingga
kesempatan kerja adalah jumlah lapangan kerja yang tersedia bagi orang-
orang yang sedang mencari pekerjaan. Atau bisa juga dikatakan
ketersediaan sebuah lapangan pekerjaan bagi yang sedang membutuhkan
pekerjaan. Sedangkan secara umum kesempatan kerja merupakan gambaran
keadaan dari berapa jumlah total dari angkatan kerja yang mampu diserap
dan juga ikut aktif di dalam perekonomian. Kesempatan kerja juga bisa
dikatakan jika orang yang bekerja semakin banyak, maka itu menandakan
bahwa kesempatan kerjanya cukup luas ataupun banyak. Bisa dikatakan
bahwa kesempatan kerja sangat erat hubungannya dengan kemampuan dari
pemerintah supaya menciptakan investasi yang aman dan juga nyaman. Di
Indonesia masalah kesempatan kerja dijamin dalam UUD 1945 pasal 27
ayat (2) berbunyi tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak.
d. Pengertian Pengangguran (Unemployment)
Nanga (2005: 249) mendefinisikan pengangguran adalah suatu
keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja
tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif tidak sedang mencari pekerjaan.
Dalam sensus penduduk 2001 mendefinisikan pengangguran sebagai orang
yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama
seminggu sebelum pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan (BPS,
3
2001: 8). Jadi pengangguran atau unemployment adalah penduduk dalam
usiakerja yang mendapatkan pekerjaan.
BAGAN PEMBAGIAN PENDUDUK DAN TENAGA KERJA
TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA
Mantra (2003:120) menyatakan semakin besar TPAK, semakin besar pula
angkatan kerja dalam kelompok yang sama. Sebaliknya semakin besar jumlah
penduduk yang bersekolah dan mengurus rumah tangga, semakin besar jumlah
yang tergolong bukan angkatan kerja, maka semakin kecil jumlah angkatan
kerja, dan akibatnya semakin kecil pula TPAKnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar TPAK menurut Simanjuntak
(2001:45) adalah sebagai berikut :
1. Penduduk yang masih sekolah dan mengurus rumah tangga. Semakin
besar penduduk yang bersekolah dan mengurus rumah tangga, maka
4
semakin kecil jumlah angkatan kerja, sehingga semakin kecil pula
TPAKnya.
2. Jenis kelamin. TPAK antara laki-laki dan perempuan berbeda, biasanya
TPAK perempuan lebih rendah dibandingkan dengan TPAK laki-laki, hal
ini erat kaitanya dengan sistem nilai masyarakat, bahwa laki-laki memikul
kewajiban utama untuk mencari nafkah.
3. Tingkat umur. Penduduk yang berumur muda umumnya tidak mempunyai
tanggung jawab sebagai pencari nafkah untuk keluarga, karena mereka
pada umumnya bersekolah.
4. Tingkat upah. Semakin tinggi tingkat upah dalam masyarakat, semakin
banyak anggota keluarga yang tertarik masuk pasar kerja, maka semakin
banyak jumlah angkatan kerja yang mengakibatkan semakin tinggi juga
TPAKnya.
5. Tingkat pendidikan. Semakin banyak penduduk yang bersekolah maka
jumlah angkatan kerja semakin kecil sehingga TPAKnya rendah. Selain
itu, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin banyak
Analisis tingkat partisipasi angkatan kerja menggunakan rumus TPAK,
seperti yang dikemukakan Simanjuntak (2005:45) sebagai berikut:
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
(TPAK) =
Contoh soal
Jika diketahui jumlah angkatan kerja di Indonesia 112 juta jiwa dan jumlah
penduduk total adalah 224 juta jiwa maka berapakah tingkat partisipasi
angkatan kerjanya?
Jawab :
TPAK = 112 juta x 100% = 50%
224 juta
5
B. PENGANGGURAN
PENGERTIAN PENGANGGURAN
Pengertian pengangguran dalam arti luas adalah penduduk yang tidak
berkerja atau tidak memiliki pekerjaan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
dalam indikator ketenagakerjaan, pengangguran adalah penduduk umur 15 tahun
ke atas yang tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan atau sedang
mempersiapkan suatu usaha baru atau penduduk yang tidak mencari pekerjaan
karena sudah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja. Badan Pusat Statistik
(BPS) dalam indikator ketenagakerjaan, pengangguran adalah penduduk yang
tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan
suatu usaha baru atau penduduk yang tidak mencari pekerjaan karena sudah
diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja. Menurut Sukirno (2006)
pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja
yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu,
tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Berdasarkan
pengertian tersebut, untuk dikatakan sebagai pengangguran seseorang tidak
cukup tidak memiliki pekerjaan dan tidak bekerja tetapi harus aktif mencari
pekerjaan.
Menurut Sukirno (2004: 28) pengangguran adalah jumlah tenaga kerja
dalam perekonomian yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum
memperolehnya. Menurut Nanga Pengangguran merupakan salah satu keadaan
di mana seseorang yang akan tergolong dalam sebuah kategori angkatan kerja
tidak mempunyai pekerjaan dan juga secara aktif tidak sedang mencari
pekerjaan. Menurut Mankiw Pengangguran akan selalu muncul dalam suatu
keadaan perekonomian karena beberapa alasan. Alasan pertama yakni dengan
adanya proses pencarian kerja yang dibutuhkannya waktu untuk dapat
mencocokkan para pekerja dan pekerjaan. Alasan kedua ialah adanya keadaan
6
dalam kekakuan upah. Kekakuan upah ini juga dapat disebabkan oleh tiga hal,
yaitu adanya kebijakan upah minimum, daya tawar kolektif dari serikat pekerja,
serta upah efisiensi.
Fator utama yang menyebabkan terjadinya pengangguran adalah
kurangnya pengeluaran agregat. Pengusaha memproduksi barang dan jasa
dengan maksud memperoleh keuntungan, akan tetapi keuntungan tersebut akan
diperoleh apabila pengusaha tersebut dapat menjual barang dan jasa yang
mereka produksi. Semakin besar permintaan, semakin besar pula barang dan
jasa yang mereka wujudkan. Kenaikan produksi yang dilakukan akan
menambah penggunaan tenaga kerja
Pengangguran merupakan masalah makroekonomi yang mempengaruhi
kelangsungan hidup manusia secara langsung. Bagi kebanyakan orang
kehilangan suatu pekerjaan merupakan penurunan suatu standar kehidupan.
(Mankiw,2000).
PENYEBAB PENGANGGURAN
• Penduduk yang sangat relatif banyak sedangkan lapangan kerja sedikit.
Yang akan mengakibatkan, permintaan tenaga kerja berkurang.
• Pendidikan dan keterampilan yang sangat rendah sehingga tidak mampu
bersaing dan tersisih.
• Angkatan kerja yang tidak memenuhi berbagai persyaratan-persyaratan
yang diminta oleh dunia kerja
• Teknologi yang akan semakin modern belum terimbangi oleh
kemampuan
• Pengusaha yang selalu mengejar sebuah keuntungan dengan cara
melakakukan penghematan-penghematan, misalnya pada penerapan
rasionalisasi.
• Adanya sebuah lapangan kerja yang dipengaruhi oleh musim.
• Terdapat ketidakstabilan pada perekonomian, politik, dan kemanan suatu
negara.
7
Faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran (Sukirno, 2006)
antara lain:
1. Besarnya angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja. Hal ini
terjadi saat jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja
yang tersedia.
2. Struktur lapangan kerja tidak seimbang.
3. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga kerja terdidik dan penyediaan tenaga
kerja terdidik tidak seimbang.
4. Meningkatnya peranan dan aspirasi angkatan kerja wanita dalam seluruh
struktur angkatan kerja Indonesia.
5. Penyediaan dan pemanfaatan tenaga kerja antar daerah tidak seimbang.
JENIS PENGANGGURAN
a. Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya pengangguran dapat dibagi empat kelompok
(Sukirno, 1994) :
1) Pengangguran Normal atau Friksional
Apabila dalam suatu ekonomi terdapat pengangguran sebanyak
dua atau tiga persen dari jumlah tenaga kerja maka ekonomi itu sudah
dipandang sebagai mencapai kesempatan kerja penuh. Pengangguran
sebanyak dua atau tiga persen tersebut dinamakan pengangguran
normal atau pengangguran friksional. Para penganggur ini tidak ada
pekerjaan bukan karena tidak dapat memperoleh kerja, tetapi karena
sedang mencari kerja lain yang lebih baik. Dalam perekonomian yang
berkembang pesat, pengangguran adalah rendah dan pekerjaan mudah
diperoleh. Sebaliknya pengusaha susah memperoleh pekerja, akibatnya
pengusaha menawarkan gaji yang lebih tinggi. Hal ini akan mendorong
para pekerja untuk meninggalkan pekerjaanya yang lama dan mencari
8
pekerjaan baru yang lebih tinggi gajinya atau lebih sesuai dengan
keahliannya. Dalam proses mencari kerja baru ini untuk sementara para
pekerja tersebut tergolong sebagai penganggur. Mereka inilah yang
digolongkan sebagai pengangguran normal.
2) Penggangguran Siklikal
Perekonomian tidak selalu berkembang dengan teguh. Adakalanya
permintaan agregat lebih tinggi, dan ini mendorong pengusaha
menaikkan produksi. Lebih banyak pekerja baru digunakan dan
pengangguran berkurang. Akan tetapi pada masa lainnya permintaan
agregat menurun dengan banyaknya. Misalnya, di negara-negara
produsen bahan mentah pertanian, penurunan ini mungkin disebabkan
kemerosotan harga-harga komoditas. Kemunduran ini menimbulkan
efek kepada perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan, yang juga
akan mengalami kemerosotan dalam permintaan terhadap produksinya.
Kemerosotan permintaan agregat ini mengakibatkan perusahaan-
perusahaan mengurangi pekerja atau menutup perusahaanya, sehingga
pengangguran akan bertambah. Pengangguran dengan wujud tersebut
dinamakan pengangguran siklikal.
3) Pengangguran Struktural
Tidak semua industri dan perusahaan dalam perekonomian akan
terus berkembang maju, sebagiannya akan mengalami kemunduran.
Kemerosotan ini ditimbulkan oleh salah satu atau beberapa faktor
berikut: wujudnya barang baru yang lebih baik, kemajuan teknologi
mengurangi permintaan ke atas barang tersebut, biaya pengeluaran
sudah sangat tinggi dan tidak mampu bersaing, dan ekspor produksi
industri itu sangat menurun oleh karena persaingan yang lebih serius
dari negara-negara lain. Kemerosotan itu akan menyebabkan kegiatan
produksi dalam industri tersebut menurun, dan sebagian pekerja
terpaksa diberhentikan dan menjadi penganggur. Pengangguran yang
wujud digolongkan sebagai pengangguran struktural. Dinamakan
demikian karena disebabkan oleh perubahan struktur kegiatan ekonomi.
9
4) Pengangguran Teknologi
Pengangguran dapat pula ditimbulkan oleh adanya penggantian
tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia. Racun ilalang dan
rumput misalnya, telah mengurangi penggunaan tenaga kerja untuk
membersihkan perkebunan, sawah dan lahan pertanian lain. Begitu juga
mesin telah mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk membuat lubang,
memotong rumput, membersihkan kawasan, dan memungut hasil.
Sedangkan di pabrik- pabrik, ada kalanya robot telah menggantikan
kerja-kerja manusia. Pengangguran yang ditimbulkan oleh penggunaan
mesin dan kemajuan teknologi lainnya dinamakan pengangguran
teknologi.
6). Pengangguran Jangka Panjang
Pengangguran jangka panjang bisa disebabkan karena jenis
pengangguran siklis atau struktural. Dengan kata lain pengangguran
jangka panjang bisa disebabkan karena resesi atau karena skill pekerja
tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pasar.
7). Pengangguran Kasual
Jenis pengangguran ini terjadi ketika pekerja tidak memiliki
pekerjaan karena kontrak kerja yang berakhir. Biasanya ini terjadi pada
pekerja yang dipekerjakan secara harian atau kontrak di mana mereka
harus meninggalkan pekerjaan begitu kontrak berakhir. Mereka yang
dihadapkan pada situasi ini dianggap menganggur sampai menemukan
pekerjaan lain atau sampai memperbarui kontrak dengan perusahaan
yang sama untuk penyelesaian pekerjaan baru.
b. Penggangguran Berdasarkan Cirinya
Berdasarkan cirinya, Pengangguran dibagi menjadi empat kelompok
(Sukirno, 1994):
1. Pengangguran Terbuka
10
Pengangguran ini tercipta sebagai akibat pertambahan lowongan
pekerjaan yang lebih rendah dari pertambahan tenaga kerja. Sebagai
akibatnya dalam perekonomian semakin banyak jumlah tenaga kerja
yang tidak dapat memperoleh pekerjaan. Efek dari keadaan ini di
dalam suatu jangka masa yang cukup panjang mereka tidak melakukan
suatu pekerjaan. Jadi mereka menganggur secara nyata dan separuh
waktu, dan oleh karenanya dinamakan pengangguran terbuka.
Pengangguran terbuka dapat pula wujud sebagai akibat dari kegiatan
ekonomi yang menurun, dari kemajuan teknologi yang mengurangi
penggunaan tenaga kerja, atau sebagai akibat dari kemunduran
perkembangan suatu industri.
2. Pengangguran Tersembunyi
Pengangguran ini terutama wujud di sektor pertanian atau jasa.
Setiap kegiatan ekonomi memerlukan tenaga kerja, dan jumlah tenaga
kerja yang digunakan tergantung pada banyak faktor, faktor yang perlu
dipertimbangkan adalah besar kecilnya perusahaan, jenis kegiatan
perusahaan, mesin yang digunakan (apakah intensif buruh atau intensif
modal) dan tingkat produksi yang dicapai. Pada negara berkembang
seringkali didapati bahwa jumlah pekerja dalam suatu kegiatan
ekonomi adalah lebih banyak dari yang sebenarnya diperlukan supaya
ia dapat menjalankan kegiatannya dengan efisien. Kelebihan tenaga
kerja yang digunakan digolongkan dalam pengangguran tersembunyi.
Contoh-contohnya ialah pelayan restoran yang lebih banyak dari yang
diperlukan dan keluarga petani dengan anggota keluarga yang besar
yang mengerjakan luas tanah yang sangat kecil
3. Pengangguran Musiman
Pengangguran ini terutama terdapat di sektor pertanian dan
perikanan. Pada musim hujan penyadap karet dan nelayan tidak dapat
melakukan pekerjaan mereka dan terpaksa menganggur. Pada musim
kemarau pula para petani tidak dapat mengerjakan tanahnya.
Disamping itu pada umumnya para petani tidak begitu aktif di antara
11
waktu sesudah menanam dan sesudah menuai. Apabila dalam masa
tersebut para penyadap karet, nelayan dan petani tidak melakukan
pekerjaan lain maka mereka terpaksa menganggur. Pengangguran
seperti ini digolongkan sebagai pengangguran bermusim.
4. Setengah Menganggur
Pada negara-negara berkembang migrasi dari desa ke kota sangat
pesat. Sebagai akibatnya tidak semua orang yang pindah ke kota dapat
memperoleh pekerjaan dengan mudah. Sebagian terpaksa menjadi
penganggur sepenuh waktu. Disamping itu ada pula yang tidak
menganggur, tetapi tidak pula bekerja sepenuh waktu, dan jam kerja
mereka adalah jauh lebih rendah dari yang normal. Mereka mungkin
hanya bekerja satu hingga dua hari seminggu, atau satu hingga empat
jam sehari. Pekerja-pekerja yang mempunyai masa kerja seperti yang
dijelaskan ini digolongkan sebagai setengah menganggur
(underemployed). Dan jenis penganggurannya dinamakan
underemployment.
TINGKAT PENGANGGURAN
BPS menghitung berbagai nilai statistika untuk menyimpulkan kondisi
pasar tenaga kerja. BPS mendefinisikan angkatan kerja (labor force) sebagai
jumlah populasi yang bekerja dan yang tidak bekerja:
Angkatan kerja = Jumlah yang bekerja + Jumlah yang tidak
bekerja
Selain itu, BPS juga mendefinisikan tingkat pengangguran (unemployment rate)
sebagai persentase dari angkatan kerja yang tidak bekerja:
Tingkat Pengangguran= (Jumlah yang Tidak Bekerja/Angkatan Kerja x 100
BPS juga memakai hasil survei yang sama untuk menghasilkan data
menyangkut partisipasi angkatan kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja
Tingkat partisipasi angkatan kerja=(Angkatan kerja/Populasi orang dewasa)× 100
12
(labor-force participation rate) mengukur persentase dari seluruh populasi orang
dewasa yang tergolong angkatan kerja:
Nilai statistika ini dapat menggambarkan persentase dari populasi yang
memilih untuk berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja. Sama halnya dengan
tingkat pengangguran, tingkat partisipasi angkatan kerja dapat dihitung, baik
untuk seluruh populasi orang dewasa maupun untuk kelompok-kelompok yang
lebih spesifik (Mankiw, 2006: 134).
DAMPAK YANG DIAKIBATKAN DARI PENGANGGURAN
Bisa dipastikan bahwa pengangguran yang terjadi akan membawa dampak
pada aspek (sektor) lainnya. Aspek-aspek yang akan terkena langsung adalah
kesehatan dan pendidikan. Karenanya sebagian beban biaya pendidikan dan
kesehatan harus ditanggung (bahkan merupakan kewajiban) pemerintah. Bila
pengangguran tersebut berlangsung cukup lama, maka kemiskinan absolut
bahkan kelapran bisa terjadi. Dampak lain dari pengangguran di antaranya
adalah :
a. Ketimpangan sosial, Ini terjadi karena tidak seluruh komponen masyarakat
menganggur, selalu ada sekelomok masyarakat yang nasibnya
masih beruntung, ia dapat bekerja dengan normal bahkan memperoleh
penghasilan yang berlebih.
b. Kecemburuan sosial, Hal ini terjadi karena terpicu oleh disparitas sosial
yang ada, misalnya ketimpangan pendapatan, status sosial dan kekuasaan.
c. Meningkatnya budget pemerintah untuk sektor pendidikan dan kesehatan.
d. Meningkatnya kriminalitas dan kekerasan sosial lainnya.
e. Munculnya sikap permisif (serba boleh) sebagai jalan pintas untuk
mempertahankan hidup.
f. Tidak lancarnya sistem demokrasi. Karena money politic lebih dominan.
g. Disharmonisnya sistem rumah tangga, karena penopang kelangsungan
rumah tangga (penghasilan) tidak memadai lagi.
13
h. Meningkatnya sex komersial (pelacuran), sebagai representasi sulitnya
mencari lapangan kerja.
i. Melemahnya daya beli, sebagai konsekuensi langsung dari
ketidakberdayaan ekonomi (rendahnya pendapatan rumah tangga).
j. Kekuasaan dan harga diri diukur oleh tingkat kekayaan dan penghasilan
yang dapat diperoleh (serba uang). Sebetulnya ini suatu kekeliruan yang
paling fatal, namun masyarakat cenderung berperilaku seperti itu.
Dirasakan sekali dengan uang segalanya. Jadi lancar, menyenangkan,
status sosial terangkat dan dihargai orang lain.
Adapun dampak lain yang terjadi karena pengangguran ialah :
1. Dampak Pengangguran Terhadap Pembangunan Nasional
Pengangguran merupakan masala pokok dalam suatu masyarakat modern.
Jika tingkat pengangguran tinggi, sumber daya menjadi terbuang percuma
dan tingkat pendapatan masyarakat akan menurun. Pengangguran
berdampak besar terhadap pembangunan nasional. Dampak pengangguran
terhadap pembangunan dapat dilihat melalui hubungan antara
pengangguran dan indikator-indikator berikut ini :
a. Pendapatan Nasional dan Pendapatan per Kapita. Upah merupakan
salah satu komponen dalam perhitungan pendapatan nasional.
Apabila tingkat pengangguran semakin tinggi, maka nilai
komponen upah akan semakin kecil. Dengan demikian, nilai
pendapatan nasional pun akan semakin kecil.
b. Penerimaan Negara . Salah satu sumber penerimaan negara
adalah pajak, khususnya pajak penghasilan. Pajak penghasilan
diwajibkan bagi orang-orang yang memiliki pekerjaan. Apabila
tingkat pengangguran meningkat, maka jumlah orang yang
membayar pajak penghasilan berkurang. Akibatnya penerimaan
negara pun berkurang.
c. Beban Psikologis. Semakin lama seseorang menganggur, semakin
besar beban psikologis yang harus ditanggung. Secara psikologis,
orang yang menganggur mempunyai perasaan tertekan, sehingga
14
berpengaruh terhadap berbagai perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari
d. Biaya sosial. Dengan demikian besarnya jumla penganggur,
semakin besar pula biaya sosial yang harus dikeluarkan. Biaya
sosial itu mencakup biaya atas peningkatan tugas-tugas medis,
biaya keamanan, dan biaya proses peradilan sebagai akibat
meningkatnya tindak kejahatan.
2. Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian suatu Negara
Tujuan akhir pembangunan ekonomi suatu negara pada dasarnya adalah
meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar
stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran disuatu
negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan
pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan. Hal ini terjadi karena
pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian,seperti
yang dijelaskan di bawah ini:
a. Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat
memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Karena
pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata)
yang dicapai masyarakat akan lebih rendah dari pada pendapatan
potensial (pendapatan yang seharusnya). Maka, oleh karena itu,
kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
b. Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang
berasal dari sektor pajak berkurang. Jika pengangguran tinggi maka
akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun, dan
selanjutnya pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan
demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan
menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan
ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan
pembangunan pun akan terus menurun hingga tidak adanya
pembangunan ekonomi.
15
c. Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya
pengangguran akan menyebabkan daya beli masyarakat akan
berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil
produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang
kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau
pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi
menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.
3. Dampak Pengangguran terhadap Individu yang Mengalaminya dan
Masyarakat
Berikut ini merupakan dampak negatif pengangguran terhadap individu
yang mengalaminya dan terhadap masyarakat pada umumnya :
a. Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian.
Dinegara-negara maju para penganggur memperoleh tunjangan
(bantuan keuangan) dari badan asuransi pengangguran. Oleh sebab
itu, mereka masih mempunyai pendapatan untuk membiayai
kehidupannya dan keluarganya. Mereka tidak perlu bergantung
kepada tabungan mereka atau bantuan orang lain. Sedangkan
dinegara indonesia, tidak terdapat program asuransi pengangguran.
Maka kehidupan penganggur harus dibiayai oleh tabungan masa
lalu atau pinjaman bantuan keluarga dan kawan-kawan. Keadaan
ini bisa menyebabkan pertengkaran dan kehidupan keluarga tidak
harmonis.
b. Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan para pencari
kerja
Ketrampilan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan hanya dapat
dipertahankan apabila ketrampilan tersebut digunakan dalam
praktek. Pengangguran dalam periode yang lama akan
menyebabkan tingkat ketrampilan pekerja menjadi semakin
merosot.
c. Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial politik
suatu negara.
16
Kegiatan ekonomi yang lesu dan pengangguran yang tinggi dapat
menimbulkan rasa tidak puas masyarakat kepada pemerintah.
Golongan yang memerintah semakin tidak popular di mata
masyarakat. Berbagai tuntutan dan kritikan akan dilontarkan
kepada pemerintah dan adakalanya disertai oleh aksi demonstrasi.
Karena masyarakat akan berpadangan bahwa pemerintah tidak
melakukan tindakan untuk menanggulanginya kemudiam
menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah.
d. Meningkatnya kriminalitas. Mereka yang tidak memiliki pekerjaan
terpaksa melakukan tindakan kriminalitas guna memenuhi
kebutuhannya.
e. Meningkatnya kemiskinan . Hal ini karena mereka tidak memiliki
lagi sumber pendapatan
CARA MENGATASI PENGANGGURAN
Secara umum, cara mengatasi pengangguran adalah dengan
membuka lapangan pekerjaan. Tetapi, diperlukan aksi-aksi yang lebih spesifik
daripada hanya membuka lapangan pekerjaan yang masih bermakna luas
tersebut. Pengangguran juga sangat erat kaitannya dengan permasalahan
ekonomi. Banyaknya pengangguran dapat menimbulkan naiknya tingkat
kemiskinan. Untuk itu, sangat dibutuhkan cara mengatasi pengangguran agar
perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Diperlukan peran
aktif dan aksi dari pemerintah dalam cara mengatasi pengangguran ini. Inilah
beberapa cara mengatasi pengangguran yang dapat dilakukan pemerintah:
1. Menyelenggarakan Bursa Tenaga Kerja
Cara mengatasi pengangguran yang pertama, yaitu menyelenggarakan
bursa tenaga kerja atau job fair. Bursa tenaga kerja ini merupakan tempat
yang mempertemukan antara pemberi kerja dengan pencari kerja. Dengan
melakukan cara ini, para pencari kerja tidak akan kesulitan lagi dalam
mendapatkan informasi lowongan pekerjaan yang sesuai dengan
potensinya. Setiap pekerjaan akan diisi oleh Sumber Daya Manusia yang
sesuai di bidangnya dan pencari kerja tinggal melakukan sistem seleksi
17
untuk menentukan pihak yang layak diterima untuk mengisi posisi yang
ditawarkan Adanya bursa kerja memang salah satu penanganan
pemerintah untuk merekrut lulusan terbaru dari berbagai lapangan
pekerjaan yang tersedia. Bursa tenaga kerja ini tentunya dapat memberikan
jumlah lapangan kerja untuk banyak orang. Hal ini memang sangat mampu
dalam mengatasi segala permasalahan mengenai permasalahan
pengangguran.
2. Memberikan Pelatihan Kerja
Pelatihan kerja juga merupakan salah satu cara mengatasi pengangguran
yang efektif dilakukan di Indonesia. Banyaknya masyarakat usia produktif
merupakan suatu potensi yang baik. Hal ini harus dimanfaatkan dengan
pemberian pendidikan yang berkualitas hingga tingkat perguruan tinggi.
Program pelatihan juga diperlukan untuk orang-orang yang ingin
mengembangkan keterampilan atau hobinya. Program dapat menciptakan
peluang untuk mencetak pekerja-pekerja yang memadai, baik dari segi
kuantitas, maupun kualitas. Pemerintah juga harus mengarahkan mereka
untuk berwiraswasta atau membuka lapangan pekerjaan.
3. Meningkatkan Mutu Pendidikan
Cara mengatasi pengangguran selanjutnya adalah dengan meningkatkan
mutu pendidikan. Ketahuilah semakin tinggi mutu pendidikan di Indonesia
maka akan membuat negara kita menjadi lebih maju. Tentu dengan mutu
pendidikan yang bagus maka akan membuat sumber daya manusia yang
berkualitas bagus. Pendidikan dapat dilakukan untuk menghasilkan
generasi-generasi penerus bangsa yang potensial dan merupakan hal yang
sangat penting. Hal ini harus diperhatikan pemerintah dalam mengatasi
pengangguran.
4. Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan
cara mengatasi pengangguran yang juga sangat efektif adalah dengan
meningkatkan jiwa kewirausahaan. Hal ini juga dapat dilakukan sejak dini,
dimulai dari sekolah. Hal tersebut tentunya disebabkan karena apabila
setiap orang sudah memiliki sikap kewirausahaan maka tidak perlu
18
bingung apabila lapangan pekerjaannya kurang. Dengan jiwa
kewirausahaan yang dimiliki tentunya akan membuat setiap orang mampu
mendirikan usaha ataupun bisnis sendiri sehingga dapat memberikan
lapangan pekerjaan bagi setiap orang. Oleh karena itu, menanamkan jiwa
kewirausahaan di sekolah juga merupakan hal yang diprioritaskan.
Sayangnya hal ini belum terlalu dilakukan dengan serius sehingga masih
belum tampak hasilnya.
5. Informasi Lowongan Kerja
Informasi mengenai lowongan pekerjaan juga sangat penting sebagai cara
mengatasi pengangguran. Saat ini, sudah begitu banyak media untuk
pemberitahuan mengenai lowongan pekerjaan di media massa, baik di
media cetak, maupun di media elektronik.
Cara mengatasi pengangguran dengan memberikan informasi setiap kali
ada lowongan pekerjaan harus tetap dilakukan. Dengan informasi-
informasi ini, nantinya para pencari kerja bisa menyesuaikan diri dan
segera melengkapi persyaratan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan jika
memang berminat dan sesuai dengan kemampuannya. Lowongan
pekerjaan juga harusnya dilakukan dengan transparan, sehingga tidak ada
praktek “lewat jalur belakang”.
6. Transmigrasi
Transmigrasi menjadi sangat penting bila kita membahas cara mengatasi
pengangguran. Hal ini terjadi karena bila terlalu banyak jumlah penduduk
di suatu daerah, hal itu juga akan membuat lapangan pekerjaan menjadi
penuh, ataupun bahkan kekurangan lapangan pekerjaan. Transmigrasi
merupakan cara mengatasi pengangguran dengan memindahkan penduduk
dari daerah yang jumlahnya padat ke daerah yang daerah jarang
penduduknya. Dengan melakukan transmigrasi, akan terbagi dengan
seimbang porsi untuk mendapatkan lapangan pekerjaan di berbagai daerah.
Tentu saja kita mengetahui bahwa mengetahui bahwa sebagian besar
daerah yang penuh penduduknya biasanya akan kekurangan lapangan
pekerjaan pula. Masalah pengangguran adalah masalah yang selalu terjadi
19
tiap tahunnya di Indonesia. Adanya permasalahan pengangguran akan
membuat sebagian besar orang memicu permasalahan berikutnya dari
permasalahan psikologis, kemiskinan, dan kriminalitas. Oleh karena itu,
dengan cara mengatasi pengangguran yang telah diajabarkan di atas, kita
dapat setidaknya mengurangi permasalah pengangguran yang selalu
menghantui kita setiap tahunnya.
KESIMPULAN
Angkatan kerja (labor force) adalah bagian penduduk yang mampu dan
bersedia melakukan pekerjaan. Tenaga kerja adalah orang yang bekerja atau
mengerjakan sesuatu, orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam
maupun di luar hubungan kerja. Kesempatan kerja merupakan keadaan yang
sedang menggambarkan ketersediaan lapangan kerja bagi para pencari pekerjaan.
Pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam
kategori angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif tidak sedang
mencari pekerjaan.
Penyebab pengangguran yaitu Penduduk yang sangat relatif banyak
sedangkan lapangan kerja sedikit yang akan mengakibatkan, permintaan tenaga
kerja berkurang. Pendidikan dan keterampilan yang sangat rendah sehingga tidak
mampu bersaing dan tersisih. Angkatan kerja yang tidak memenuhi berbagai
persyaratan-persyaratan yang diminta oleh dunia kerja.
Jenis pengangguran dibedakan berdasarkan penyebab dan cirinya.
Berdasarkan penyebabnya terdiri dari pengangguran normal atau friksional,
penggangguran siklikal, pengangguran struktural, pengangguran teknologi,
pengangguran jangka panjang, pengangguran kasual. Berdasarkan cirinya terdiri
dari terdiri dari pengangguran terbuka, pengangguran tersembunyi, pengangguran
musiman, setengah menganggur
20
DAFTAR PUSTAKA
Fudloli, Moh Taufiq, and Sukidin Sukidin. "Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Masyarakat Miskin Di Rt. 01 Rw. 06 Desa Tegal Gede Kecamatan
Sumbersari Kabupaten Jember." JURNAL PENDIDIKAN EKONOMI:
Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sosial 9.1 (2016).
Mala, Vina Shofia Nur, Bambang Suyadi, and Retna Ngesti Sedyati. "Analisis
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Berdasarkan Kegiatan Ekonomi
Masyarakat Desa Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi
Tahun 2015." JURNAL PENDIDIKAN EKONOMI: Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan, Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sosial 11.1 (2017): 130-139.
Mantra, I B. 2003. Demografi Umum. Jakarta: Pustaka Belajar
Marini Lisa & Putri Novi,(2019).Peluang Terjadinya Pengangguran. The Journal
Of Economic Development. Vol. 1(1) : 70-83
Simanjutak, J Payaman. 2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Simanjuntak, Payaman J. 2005, Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sukirno.2006.Masalah dan Dasar Kebijakan.Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.
21