The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MODUL P5 TEMA KEARIFAN LOKAL SUBTEMA PERMAINAN TRADISIONAL DI BANGKALAN

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fin Finayah, 2022-08-29 09:12:38

MODUL P5 TEMA KEARIFAN LOKAL

MODUL P5 TEMA KEARIFAN LOKAL SUBTEMA PERMAINAN TRADISIONAL DI BANGKALAN

Keywords: KEARIFAN LOKAL

MODUL PROJEK PENGUATAN
PROFIL PELAJAR PANCASILA

Kearifan Lokal: Permainan Tradisional Madura

TIM PENYUSUN

DINAS PENDIDIKAN PROPINSI JAWA TIMUR
CABANG DINAS PENDIDIKAN WILAYAH BANGKALAN

SMA NEGERI 4 BANGKALAN
2022

LEMBAR PENGESAHAN

MODUL PROJEK Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan Tema “Kearifan Lokal” dan
Sub Tema “Permainan Tradisional ” disusun oleh :

Tim Penyusun :
1. Firqah Inayah,S.Pd.,M.Pd.
2. David Martadinata, M.Pd.

3. Indrawati,S.Pd.
4. Uswatun Hasanah,S.Pd.
5. Indi Shofi Fikria,S.Pd.

Jenjang Sekolah : SMA
Satuan Pendidikan : SMA Negeri 4 Bangkalan

Tahun Ajaran : 2022/2023
Kelas : 10

Pembuatan modul projek ini telah disetujui dan disahkan oleh

Mengetahui Bangkalan, 18 Agustus 2022
Kepala SMA Negeri 4 Bangkalan Wakasek Kurikulum

R. Syamsul Hadori,S.Pd.,M.Pd. Firqah Inayah,S.Pd.,M.Pd.
NIP. 19690404 199412 1 002 NIP. 198103312008012013

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Modul Pengembangan Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila. Tak lupa juga salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
Nabi Besar Muhammad SAW, karena berkat beliau, kita mampu keluar dari kegelapan
menuju jalan yang lebih terang.

Kami mengucapkan rasa terima kasih kami kepada pihak-pihak yang mendukung
lancarnya modul projek ini mulai dari proses penulisan hingga proses cetak, yaitu Pengawas
Pembina, Kepala sekolah, dan guru-guru. Adapun, modul projek ini bertema Kearifan
Lokal dengan tema “ Permainan Tradisional di Bangkalan”, ini telah selesai kami buat
secara semaksimal dan sebaik mungkin agar menjadi manfaat bagi pembaca yang
membutuhkan informasi dan pengetahuan mengenai projek penguatan profil pelajar
pancasila.

Dalam modul ini, diuraikan tentang alur pembelajaran projek penguatan profil
pelajar pancasila tema kearifan lokal, definisi permainan tradisional, nilai, dan contoh-
contoh permainan tradisional. Modul ini menjadi alternatif pegangan bagi guru dan peserta
didik dalam melaksanakan Pengembangan projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila .

Kami sadar, masih banyak kekurangan yang tentu saja jauh dari sempurna tentang
modul ini. Oleh sebab itu, kami mohon saran dan kritik membangun karya modul projek ini
agar kami dapat terus meningkatkan kualitas modul.

Demikian modul projek ini kami buat, dengan harapan agar pembaca dapat
memahami Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila bertema Kearifan
Lokal dengan subtema “ Permainan Tradisional di Bangkalan”.

Tim Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
SMA Negeri 4 Bangkalan

PENDAHULUAN

Projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek
yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil
pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Pelaksanaan Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, dari segi muatan, kegiatan, dan waktu
pelaksanaan.

Modul pengembangan projek penguatan profil pelajar Pancasila ini memuat penyiapan
ekosistem sekolah, desain projek, pengelolaan projek, pengolahan asesmen dan melaporkan hasil
projek, serta evaluasi dan tindak lanjut projek. Modul ini disusun dalam rangka memberikan inspirasi
dalam merancang dan melaksanakan projek penguatan profil pelajar Pancasila pada jenjang SMA
terutama yang memuat tema Kearifan Lokal dengan subtema Permainan Tradisional di Bangkalan.
Pemilihan subtema tersebut berdasarkan pertimbangan mengajak peserta didik untuk bisa berpikir
kritis dan peduli terhadap permainan tradisional yang saat ini cenderung tergeser dengan permainan
anak yang lebih modern seperti game.

Modul ini berisi pengertian, manfaat, nilai-nilai dan contoh permainan tradisional di
Bangkalan. Selain itu pada modul ini juga dilengkapi dengan alur waktu pelaksanaan serta penilaian
yang digunakan pada kegiatan projek. Diharapkan dengan adanya modul ini dapat menjadi panduan
dan lebih memudahkan kegiatan.

MODUL AJAR
PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA

PERMAINAN TRADISIONAL ANAK-ANAK BANGKALAN

A. Profil Modul

Identitas

Sekolah : SMA NEGERI 4 BANGKALAN

Tahun : 2022

Fase / Kelas : E / X

Semester : Ganjil

Tema : Kearian Lokal

Topik : Mainan Tradisional di Bangkalan

Alokasi waktu : 162 JP

B. Tujuan

Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
✔ Bernalar Kritis
✔ Gotong Royong
✔ Kreatif

Elemen Profil Pelajar Pancasila:

✔ Bernalar Kritis
✔ Gotong royong
✔ Kreatif

Sub-elemen Profil Pelajar Pancasila

✔ Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasan
✔ Mengajukan pertanyaan
✔ Kerja sama
✔ Koordinasi sosial
✔ Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan
✔ Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal

C. Asesmen Projek
Untuk menilai perkembangan P3 siswa maka digunakan 3

instrumen penilaian yang digunakan saat penilaian formatif maupun
sumatif yaitu : Lembar penilaian Bernalar kritis, lembar penilaian
gotong royong, dan lember penilaian kreatif.

Rubrik Penilaian

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Bernalar kritis
✔ Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan
mengolah informasi dan gagasan
Secara kritis mengklarifikasi serta menganalisis
gagasan dan informasi yang kompleks dan
abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaskan
suatu gagasan yang paling relevan dari hasil
klarifikasi dan analisis.

✔ Mengajukan pertanyaan
Mengajukan pertanyaan untuk menganalisis
secara kritis permasalahan yang kompleks dan
abstrak.

Gotong royong ✔ Kerja sama
Membangun tim dan mengelola kerjasama untuk
mencapai tujuan bersama sesuai dengan target
yang sudah ditentukan.

✔ Koordinasi sosial
Menyelaraskan dan menjaga tindakan diri dan
anggota kelompok agar sesuai antara satu
dengan lainnya serta menerima konsekuensi
tindakannya dalam rangka mencapai tujuan
bersama

Kreatif ✔ Memiliki keluwesan berfikir dalam mencari
alternatif solusi permasalahan

✔ Menghasilkan karya dan tindakan orisinal

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

D.Langkah-langkah

Aktivitas Kegiatan Projek

Projek Permainan Tradisional Anak Anak Bangkalan merupakan
serangkaian kegiatan yang terdiri dari “Pagelaran mainan tradisional Bangkalan”
dan “Kampanye pelestarian mainan tradisional Bangkalan”. Dari kegiatan
tersebut diharap siswa dapat mempertajam nalar kritis yang di asah dari sejumlah
proses diskusi kelompok, mahir bergotong royong dalam projek pemetasan dan
kampanye serta kreatif dalam mengimplementasikan gagasan terkait
permasalahan krusial tentang kearifan lokal Bangkalan.

Capaian strategis yang diharapkan adalah pemahaman yang mendalam
terhadap nilai nilai yang terkandung dalam permainan tradisional dan
menumbuhkan keperdulian terhadap pelestariannya. Setelah berakhirnya projek
kumpulan laporan tertulis siswa akan dikumpulkan sebagai suatu bunga rampai
tentang mainan mainan tradisonal Bangkalan.

Kegiatan Inti dan Alur Projek

Peserta didik mengenali berbagai permainan tradisional di

Tahap Temukan Bangkalan serta membangun kesadaran untuk

pelestariannya.

Aktivitas Kegiatan Projek Pertemuan

1. Perkenalan: Beragam permainan tradisional di Bangkalan Senin, 19 Sept
(seminar oleh budayawan) (6 JP)

2. Pembentukan kelompok dan penjelasan prosedur projek Senin, 19 Sept
(bersama fasilitator) (4 JP)

3. Eksplorasi: Mengidentifikasi mainan tradisional yang masih Selasa, 20
dimainkan dan tidak/ jarang dimainkan di Bangkalan (materi Sept (2 JP)
fasilitator)
Selasa, 20 Sept
4. Refleksi: Awal tentang eksistensi permainan tradisional di (2 JP)
Bangkalan (dialog sisfa dan fasilitator)

Aktivitas Kegiatan Projek Pertemuan

5. Observasi: Mengamati permainan tradisional yang masih Selasa, 20 Sept
dimainkan secara langsung atau menyimak audio visual dari (6 JP)
berbagai sumber serta pencarian informasi tentang mainan
tradisional yang sudah jarang atau tidak lagi dimainkan di
Bangkalan (siswa dalam kelompok)

Tahap Menggali permasalahan tentang eksistensi permainan

Membayangkan tradisional di Bangkalan

Aktivitas Kegiatan Projek Pertemuan

6. Diskusi Kritis: Merumuskan permasalahan esensial tentang

eksistensi permainan tradisional di Bangkalan, di antaranya;

(a). perbandingan permainan modern dengan permainan

tradisional di Bangkalan, (b). nilai nilai yang relevan dari Rabu, 21 Sept

permainan tradisional di Bangkalan untuk generasi Z, dan (c) (10 JP)

masih perlukan permainan tradisional di Bangkalan

dimainkan? (dan presentasi) : Fasilitator mengunakan istrumen

dimensi penilaian nalar kritis.

7. Get an Idea: Membangun beragam ide kreatif untuk Kamis, 22 Sept
pelestarian mainan tradisional di Bangkalan dalam dikusi (6 JP)
kelompok dikusi

8. Asesmen Formatif Presentasi: Pelestarian Mainan tradisional

di Bangkalan: presentasi Fasilitator mengunakan istrumen Kamis, 22 Sept
(4 JP)

penilaian nalar kritis.

Melakukan aksi nyata pelestariraian permainan tradisisonal

Tahap Lakukan di Bangkalan

Aktivitas Kegiatan Projek Pertemuan

9. Merancang aktivitas projek Profil: Pagelaran permainan Jumat, 23
tradisional di Bangkalan (Fasilitator menggunakan istrumen Sept (6 JP)
Penilaian dimensi Gotong royong)
Senin-Senin
10. Melaksanakan Aksi Projek profil: Pagelaran permainan 26 Sept – 3
tradisional di Bangkalan (Fasilitator menggunakan istrumen Okt (56 JP)
Penilaian dimensi Gotong royong dan kreatifitas)
Selasa, 4 Okt
11. Asesmen Formatif: Presentasi hasil Pagelaran permainan (4 JP)
tradisional di Bangkalan (Fasilitator mengunakan istrumen
dimensi penilaian nalar kritis).

Menggenapi proses dengan berbagi karya serta melakukan

Tahap Bagikan evaluasi dan refleksi

Aktivitas Kegiatan Projek Pertemuan
Selasa-Rabu
12. Melaksanakan Perayaan Projek profil : Pembuatan
konten kampanye pelestarian permainan tradisional di 4-5 Okt
Bangkalan. (Fasilitator menggunakan istrumen Penilaian (16 JP)
dimensi Gotong royong dan kreatifitas)
Kamis, 6 Okt
13. Asesmen Sumatif Refleksi dan berdiskusi bersama (9 JP)
teman sekelompok : Tentang kampanye pelestarian
permainan tradisional yang diakhiri dengan presentasi Kamis, 6 Okt
kelompok dan tes tulis) Fasilitator mengunakan istrumen (1 JP)
penilaian nalar kritis.

14. Membuat kesimpulan terhadap data umpan balik

Tahap Tindak Menyusun Langkah strategis
Lanjut

Aktivitas Kegiatan Projek Pertemuan

15. Memperbaiki hasil projek profil berdasarkan Jumat, 7 Okt
kesimpulan: dalam kegiatan diskusi kelempok menyusun (6 JP)
laporan tertulis. (Fasilitator menggunakan istrumen
Penilaian dimensi Gotong royong dan kreatifitas)

E. Media Pembelajaran
Untuk mencapai tujuan projek P5 ini digunakan media ajar

Handout (ringkasan materi) permainan tradisional anak anak di
Bangkalan dan akses internet (youtube/artikel digital).

LAMPIRAN 1
FORMAT PENILAIAN

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Diskusi Kritis

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Bernalar Kritis
• Mengajukan pertanyaan

Mengajukan pertanyaan untuk

menganalisis secara kritis permasalahan

yang kompleks dan abstrak.

• Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan

mengolah informasi dan gagasan

Secara kritis mengklarifikasi serta

menganalisis gagasan dan informasi yang

kompleks dan abstrak dari berbagai

sumber. Memprioritaskan suatu gagasan

yang paling relevan dari hasil klarifikasi

dan analisis.

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Asesmen Formatif Presentasi 1

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Bernalar Kritis
• Mengajukan pertanyaan

Mengajukan pertanyaan untuk

menganalisis secara kritis permasalahan

yang kompleks dan abstrak.

• Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan

mengolah informasi dan gagasan

Secara kritis mengklarifikasi serta

menganalisis gagasan dan informasi yang

kompleks dan abstrak dari berbagai

sumber. Memprioritaskan suatu gagasan

yang paling relevan dari hasil klarifikasi

dan analisis.

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Merancang Aktivitas Projek

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Gotong • Kerja sama
royong
Membangun tim dan mengelola kerjasama
untuk mencapai tujuan bersama sesuai
dengan target yang sudah ditentukan.

• Koordinasi Sosial
Menyelaraskan dan menjaga tindakan diri
dan anggota kelompok agar sesuai antara
satu dengan lainnya serta menerima
konsekuensi tindakannya dalam rangka
mencapai tujuan bersama

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Melaksanakan Aksi Projek (Pagelaran)

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Gotong • Kerja sama
royong
Membangun tim dan mengelola kerjasama
untuk mencapai tujuan bersama sesuai
dengan target yang sudah ditentukan.

Kreatif • Koordinasi Sosial
Menyelaraskan dan menjaga tindakan diri
dan anggota kelompok agar sesuai antara
satu dengan lainnya serta menerima
konsekuensi tindakannya dalam rangka
mencapai tujuan bersama

• Memiliki keluwesan berpikir dalam
mencari alternatif solusi dari
permasalahan

• Menghasilkan karya dan tindakan
orisinal

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Asesmen Formatif Presentasi 2

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Bernalar Kritis
• Mengajukan pertanyaan

Mengajukan pertanyaan untuk

menganalisis secara kritis permasalahan

yang kompleks dan abstrak.

• Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan

mengolah informasi dan gagasan

Secara kritis mengklarifikasi serta

menganalisis gagasan dan informasi yang

kompleks dan abstrak dari berbagai

sumber. Memprioritaskan suatu gagasan

yang paling relevan dari hasil klarifikasi

dan analisis.

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Melaksanakan Perayaan Projek (Pembuatan Konten)

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Gotong • Kerja sama
royong
Membangun tim dan mengelola kerjasama
untuk mencapai tujuan bersama sesuai
dengan target yang sudah ditentukan.

Kreatif • Koordinasi Sosial
Menyelaraskan dan menjaga tindakan diri
dan anggota kelompok agar sesuai antara
satu dengan lainnya serta menerima
konsekuensi tindakannya dalam rangka
mencapai tujuan bersama

• Memiliki keluwesan berpikir dalam
mencari alternatif solusi dari
permasalahan

• Menghasilkan karya dan tindakan
orisinal

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Asesmen Sumatif Refleksi dan Diskusi

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Bernalar Kritis
• Mengajukan pertanyaan

Mengajukan pertanyaan untuk

menganalisis secara kritis permasalahan

yang kompleks dan abstrak.

• Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan

mengolah informasi dan gagasan

Secara kritis mengklarifikasi serta

menganalisis gagasan dan informasi yang

kompleks dan abstrak dari berbagai

sumber. Memprioritaskan suatu gagasan

yang paling relevan dari hasil klarifikasi

dan analisis.

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila (P3)
Tema : “Kearifan Lokal”

Kegiatan : Revisi Hasil Projek

Tanggal observasi : ...................

Nama : ...................

Petunjuk : berilah tanda centang () pada kolom skor yang sesuai

Dimensi P3 Rumusan Kompetensi/Indikator Penilaian MB SB BSH SAB
Gotong • Kerja sama
royong
Membangun tim dan mengelola kerjasama
untuk mencapai tujuan bersama sesuai
dengan target yang sudah ditentukan.

Kreatif • Koordinasi Sosial
Menyelaraskan dan menjaga tindakan diri
dan anggota kelompok agar sesuai antara
satu dengan lainnya serta menerima
konsekuensi tindakannya dalam rangka
mencapai tujuan bersama

• Memiliki keluwesan berpikir dalam
mencari alternatif solusi dari
permasalahan

• Menghasilkan karya dan tindakan
orisinal

Keteragan:
MB : Mulai Berkembang
SB : Sedang Berkembang
BSH : Berkembang Sesuai Harapan
SAB : Sangat Berkembang

LAMPIRAN 2
FORMAT LAPORAN

LAPORAN PROJEK KELOMPOK (Isi nama kelompok)
(MAINAN………………….)
Di susun Oleh :
(Isi daftar anggota kelompok)

A. Hasil Projek
1. Pagelaran Permainan
(jelaskan tentang peoses perencanaan, pelaksanaan, dan kendala selama
pelaksanaan Pagelaran)
2. Kampanye Pelestarian
(jelaskan tentang bentuk kampaye, isi kampaye, sasaran dan target kampanye)

B. Diskripsi Permainan
(ceitakan secara lengkap tentang bentuk permainan, cara bermain. dan nilai nilai yg
terdapat dalam permainan)

LAMPIRAN 3
BAHAN BACAAN FASILITATOR DAN PESERTA DIDIK

MATERI PROJEK PROFIL PELAJAR PANCASILA
TEMA KEARIFAN LOKAL (PERMAINAN TRADISIONAL)

1. Definisi Permainan Tradisional

Menurut KBBI, kata “tradisional” memiliki makna menurut tradisi atau adat. Dengan
pengertian tersebut dan disandingkan dengan kata permainan, maka permainan tradisional
adalah permainan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat dan sesuai
dengan adat di suatu tempat.
Wahyuningsih (2009: 5) menyatakan bahwa permainan tradisional atau biasa yang disebut
dengan permainan rakyat, yaitu permainan yang dilakukan masyarakat secara turun-
temurun dan merupakan hasil dari penggalian budaya lokal yang didalamnya banyak
terkandung nilai-nilai pendidikan dan nilai budaya, serta dapat menyenangkan hati yang
memainkannya. Permainan tradisional pada umumnya dimainkan secara berkelompok
atau minimal dua orang.
Pendapat lain dikemukakan oleh Mahendra (2005: 3) yang menyatakan bahwa permainan
tradisional adalah bentuk kegiatan permainan dan atau olahraga yang berkembang dari
suatu kebiasaan masyarakat tertentu. Pada perkembangan selanjutnya permainan
tradisional sering dijadikan sebagai jenis permainan yang memiliki ciri kedaerahan asli
serta disesuaikan dengan tradisi budaya setempat. Kegiatannya dilakukan baik secara rutin
maupun sekali-kali dengan maksud untuk mencari hiburan dan mengisi waktu luang
setelah terlepas dari aktivitas rutin seperti bekerja mencari nafkah, sekolah, dsb.
Rahmawati (2009: 2) permainan tradisional anak adalah proses melakukan kegiatan yang
menyenangkan hati anak dengan mempergunakan alat sederhana sesuai dengan potensi
yang ada dan merupakan hasil penggalian budaya setempat menurut gagasan dan ajaran
turun temurun dari nenek moyang.
Ki Hajar Dewantara dalam bukunya yang berjudul Tentang Frobel dan Methodenya, beliau
menganjurkan adanya syarat-syarat yang diperlukan dalam permainan, khususnya
permainan anak yang bertujuan untuk pendidikan. Adapun syaratsyarat untuk permainan
anak adalah:

1. Permainan harus menggembirakan anak karena kegembiraan adalah pupuk bagi
tumbuhnya jiwa;

2. Permainan harus memberi kesempatan pada anak untuk berfantasi;. Permainan harus
mengandung semacam tantangan sehingga merangsang daya kreativitas anak;

3. Permainan hendaknya mengandung unsur keindahan atau nilai seni; dan
4. Permainan anak harus mengandung isi yang dapat mendidik anak ke arah ketertiban,

kedisplinan, sportifitas, kebersamaan.

2) Manfaat Permainan Tradisional
Permainan tradisional memiliki kekayaan tersendiri dibandingkan permainan modern yang
sekarang sedang marak-maraknya. Selain menjadi ciri khas budaya dan melestarikan nilai-
nilai luhur didalamnya, permainan tradisional tetap dipilih di beberapa kalangan
masyarakat khususnya anakanak yang membutuhkan permainan yang dapat mengeksplor
kebutuhan mereka. Permainan tradisional dikenal mempunyai banyak manfaat yang
hingga saat ini masih tetap dilestarikan keberadaanya.
Menurut Rahmawati (2009: 2) permainan tradisional dapat memberikan berbagai manfaat,
diantaranya sebagai berikut:
(1) Menggali dan mengenalkan kembali permainan tradisional bagi anak-anak, Sehingga
permainan ini bisa terus dilestarikan dan tidak tergantikan oleh mainan dari luar.
(2) Memberikan sarana bermain bagi anak yang mudah dan murah serta dapat
menanamkan dan meningkatkan kecintaan pada budaya dan potensi lokal.
(3) Menanamkan dan meningkatkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan pada anak sejak
dini.

3) Nilai-nilai pada Permainan Tradisional
Nilai-nilai Budaya dan Manfaat Permainan Tradisional Anak Pada dasarnya permainan

tradisional lebih banyak bersifat mengelompok yang dimainkan minimal dua orang anak,
menggunakan alat permainan yang relatif sederhana serta mudah dicari, serta mencerminkan
kepribadian bangsa sendiri. Permainan tradisional merupakan hasil penggalian dari budaya kita
sendiri.

Apabila dikaji lebih mendalam lagi, sebenarnya dalam permainan tradisional terdapat atau
mengandung unsur-unsur nilai budaya. Kadang unsur-unsur nilai budaya itu tidak terpikirkan
oleh kita. Namun sebenarnya apabila kita amati dan rasakan, ternyata dalam permainan

tradisional banyak unsur-unsur nilai budaya yang umumnya bersifat positif, sehingga dapat
untuk membentuk kepribadian anak untuk menjadi generasi bangsa yang berbudi luhur.

Menurut Dharmamulya, unsur-unsur nilai budaya yang terkandung dalam permainan
tradisional yaitu:
- Nilai kesenangan atau kegembiraan, dunia anak adalah dunia bermain dan anak akan

merasakan senang apabila diajak bermain. Rasa senang yang ada pada si anak mewujudkan
pula suatu fase menuju pada kemajuan.
- Nilai kebebasan, seseorang yang mempunyai kesempatan untuk bermain tentunya merasa
bebas dari tekanan, sehingga ia akan merasa senang dan gembira. Dalam keadaan yang
gembira dan hati yang senang, tentunya lebih mudah untuk memasukkan hal-hal baru yang
positif dan bersifat mendidik.
- Rasa berteman, seorang anak yang mempunyai teman bermain tentunya akan merasa senang,
bebas, tidak bosan dan dapat saling bertukar pikiran dengan sesama teman. Selain itu,
dengan mempunyai teman berarti anak akan belajar untuk saling mengerti pribadi masing-
masing teman, menghargai teman dan belajar bersosialisasi.
- Nilai demokrasi, artinya dalam suatu permainan setiap pemain mempunyai kedudukan yang
sama, tidak memandang apakah anak orang kaya atau anak orang miskin, tidak memandang
anak pandai atau bodoh. Jadi, apabila dalam suatu permainan undiannya dengan cara sut,
hompimpah atau yang lain untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah,
maka semua pemain harus mematuhi peraturan itu.
- Nilai kepemimpinan, biasanya terdapat pada permainan yang sifatnya berkelompok. Setiap
kelompok memilih pemimpin kelompok mereka masingmasing. Anggota kelompok
tentunya akan mematuhi pimpinannya.
- Rasa tanggung jawab, dalam permainan yang bertujuan untuk memperoleh kemenangan,
biasanya pelaku memiliki rasa tanggung jawab penuh, sebab mereka akan berusaha untuk
memperoleh kemenangan. Apabila menang berarti suatu prestasi yang tentunya
menimbulkan rasa bangga yang pada akhirnya berpengaruh juga pada pertumbuhan dan
perkembangan jiwa anak.
- Nilai kebersamaan dan saling membantu. Dalam permainan yang bersifat kelompok, nilai
kebersamaan dan saling membantu nampak sekali. Kelompok akan bekerjasama dan saling
membantu untuk meraih kemenangan. Apabila antaranggota kelompok tidak saling
membantu, maka kekalahanlah yang akan diperoleh.

- Nilai kepatuhan. Dalam setiap permainan tentunya ada syarat atau peraturan permainan di
mana peraturan itu ada yang umum atau yang disepakati bersama. Setiap pemain harus
mematuhi peraturan itu.
Jadi dengan bermain maka secara tidak langsung anak dilatih untuk mematuhi suatu
peraturan yang berlaku. - Melatih cakap dalam berhitung, yaitu pada permainan dhakon.
Setiap pemain harus cakap menghitung. - Melatih kecakapan berpikir, seperti dalam
permainan mul-mulan, macanan, bas-basan, para pelaku secara terus menerus dilatih untuk
berpikir pada skala luas atau sempit, gerak langkah sekarang dan selanjutnya baik diri
sendiri atau lawannya dan untuk mendapatkan suatu kemenangan maka harus cermat dan
jeli.

- Nilai kejujuran dan sportivitas. Dalam bermain dituntut kejujuran dan sportivitas. Pemain
yang tidak jujur akan mendapatkan sangsi, seperti dikucilkan teman-temannya, atau
mendapat hukuman kekalahan.

4) Macam-macam Permainan Tradisonal Madura
a. Taneker

Taneker atau kelereng adalah permainan cukup menarik dan sering ditemukan di kalangan
anak-anak. Kelereng telah ada sejak dulu. Kelereng dengan berbagai sinonim gundu (Btw),
keneker (Jv), kaléci (Sd), guli (Ms) adalah bola kecil dibuat dari tanah liat, marmer atau
kaca untuk permainan anak-anak. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya
½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung. Kelereng kadang-kadang dikoleksi, untuk tujuan
nostalgia dan warnanya yang estetik.
aturan permainan taneker atau kelereng pada umumnya adalah sebagai berikut: 1) Setiap
anak menggunakan 1 kelereng sebagai pemukul yang dimainkan menggunakan tangan (di

beberapa daerah menggunakan dua tangan dan berbentuk seperti sumpit diujung tangan),
setiap pemain “bertaruh” sejumlah kelereng pada area yang bisanya dibatasi dengan garis
persegi. Namun, jumlah yang diperebutkan bergantung kesepakatan. Semua
kelereng yang berada di dalam batas persegi akan diperebutkan oleh semua pemain sesuai
dengan aturan. Sedangkan jika ada taneker yang rusak atau pecah, dianggap tidak berharga
dan tidak diperebutkan lagi atau dibuang.

b. Tanjan

Tanjan adalah permainan tradisional yang biasanya dimainkan oleh anak perempuan,
namun anak laki-laki juga boleh memainkan permainan ini.
Cara bermain tanjan ini adalah dengan membuat pola-pola seperti persegi, lingakaran,
maupun setengah lingkaran. Ada banyak macam bentu permainan tanjan ini, seperti
tanjang orang, tanjan rumah, tanjan bolak-balik, tanjan roket, tanjan seribu, dll. Cara
bermainnyapun berbeda-beda, sesuai dengan macam tanjan yang dimainkan.
Kita tidak boleh menginjak garis pada tanjan itu. Sebelum meloncat kita perlu
melemparkan batu berbentuk gepeng disetiap tempat yang disediakan. Kita harus
mengulang permainan itu sampai semua bagian dalam permaianan tanjan ini sudah
terlewati. Apabila kita berhasil melewati setiap tempat, kita bisa membuat rumah pada
bagian tanjan itu. Cara membuat rumah pada permainan tanjan ini dengan menghadap ke
belakang dan melemparkannya. Batujatuh dibagian mana, maka tempat itulah yang akan
menjadi rumah pemain yang melemparkan batu. Yang boleh menginjak rumah itu hanya
si pemilik rumah. Sedangkan teman-teman yang lain tidak boleh menginjaknya.

c. Tor-Cetor

Untuk membuat senapan bambu, mereka juga tidak mengeluarkan biaya sama sekali.
Sebab bahan-bahannya dari ranting bambu didapat di pekarangan atau kebun bambu secara
gratis pula. Pletokan dibuat dari bambu, panjangnya sekitar 30 cm. Bambu dipilih yang
kuat dan tua supaya tidak cepat pecah. Bambu dibagi dua, satu untuk penyodok, dan
satunya lagi diraut bundar sesuai dengan lingkaran laras dan bagian pangkal dibuat
pegangan sekitar 10 cm.
Peluru dibuat dari kertas yang dibasahkan, atau juga dari bunga jambu air yang masih
muda. Caranya, kertas di basahi air, lalu di dimasukkan ke lubang laras sampai padat lalu
disodok.
Meski gratis, mereka mereka mengaku sangat senang memainkan permainan perang-
perangan dari senapan bambu yang oleh anak-anak setempat di kenal dengan nama TOR
CETOR.
Suara letusan dari laras senapan ini juga tak kalah dengan senjata mainan yang banyak
dijual di toko-toko mainan anak. Bahkan, suaranya tidak membuat bising dan tidak
mengejutkan siapa saja yang mendengarnya. Sejumlah anak mengaku, jka terkena sasaran
senapan bambu, tidak sakit.
Meski banyak mainan serupa yang lebih modern, mereka tetap senang dengan mainan
senapan bambu ini. Permainan yang sering dimainkan sejumlah anak antara lain dengan
meniru adegan film action atau perang, selain asyik, mereka dapat saling serang dan saling
kejar. Mereka tidak khawatir sakit meskipun terkena mata ataupun bagian tubuh lainnya.

d. Bhanteng

Bhanteng dimainkan oleh dua kelompok anak-anak yang masing-masing kelompok
punya satu benteng. Benteng tersebut adalah pohon berbatang agak besar, sekiranya bisa
dipegang oleh sejumlah anak. Jarak antara dua benteng tergantung kesepakatan pemain,
yang penting masih bisa dijangkau.
Masing-masing kelompok harus mempertahankan bentengnya dari penyelundup yang
kapan saja bisa merebutnya. Pohon tersebut tak boleh disentuh oleh musuh. Jika disentuh,
maka ia menjadi milik musuh dan mereka dinyatakan kalah.
Para penyelundup di masing-masing kelompok juga?harus hati-hati. Sebab, bila mereka
tertangkap, harus siap ditahan. Semakin banyak anggota ditahan, maka kian lemah
pertahanan benteng tersebut. Hal itu bisa membuat musuh makin leluasa menguasainya.
Para tahanan bisa dibebaskan dengan cara dijemput secara hati-hati oleh temannya yang
belum tertangkap. Para tahanan ditawan di tengah-tengah antara dua benteng. Mereka
bisa bebas jika yang menjemput tidak kena tangkap juga. Jika kena tangkap, maka
mereka juga harus siap ditahan.
Para penahan juga harus awas. Sebab, musuh bisa kapan saja membebaskan kawannya
yang mereka tahan.

e. Gobak Sodor

Permainan ini cukup mudah dimainkan, begini caranya:
• Buat garis-garis penjagaan dengan menggunakan kapur, atau biasanya juga bisa

menggunakan lapangan bulu tangkis yang sudah ada garis-garisnya. Hanya
bedanya dalam Gobak Sodor ini tidak ada garis yang rangkap.
• Bagi pemain menjadi dua tim, setiap tim ini terdiri dari 3 hingga 5 anggota.
• Satu tim akan menjadi tim “penjaga benteng” dan tim lain aka n menjadi pihak
yang berusaha menerobos pertahanan benteng tersebut.
• Untuk tim yang menjadi “penjaga benteng”, ia harus menjaga lapangan menurut
garis horizontal dan garis vertikal.
• “Penjaga benteng” garis horizontal ini harus berusaha menghalangi tim lawan
yang tengah bergerak memasuki garis batas.
• Sementara, bagi “penjaga benteng” garis vertikal bertugas untuk menjaga
keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.
• Lalu, tim lawan harus bergerak lewati garis dan penjagaan-penjagaan tersebut
dari awal hingga akhir

f. Pe Sapean

DAFTAR PUSTAKA

Permainan Pesapean bersifat religius magis, karena permainan ini merupakan bagian dari
upacara minta hujan, yang mempunyai kaitan kepercayaan yang kuat dengan kehidupan
petani dan peternak sapi, yang kegiatannya tergantung pada perubahan musim, seperti
kemarau yang panjang akan menyebabkan pertanian terhambat. Permainan ini
dilaksanakan waktu upacara minta hujan yakni pada musim kemarau, di waktu siang
hari. Pesapean dapat pula etangga (diundang bermain) untuk selamatan perkawinan, yang
dalam pelaksanaannya terpisah dari upacara minta hujan. Akan tetapi yang mengundang
harus memenuhi persyaratan, yakni harus menyediakan sesajen tertentu.

Para pelaku dari permainan Pesapean ini terdiri dari enam atau tujuh orang. Dua orang
yang memakai topeng sapi dan masing- masing ada yang menjadi pengendali sapi dengan
memegang tali kendali lalu dua atau tiga orang lagi bertopeng yang menjadi badut. Semua
pemain ini terdiri dari para petani laki-laki dewasa atau agak tua. Laki-laki yang menjadi
sapi ini memakai topeng sapi, sedangkan yang menjadi badut juga memakai topeng yang
aneh-aneh tetapi lucu.

DAFTAR PUSTAKA

Mahendra, Agus. 2005. Permainan Anak dan Aktivitas Ritmik. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Rahmawati, Ami.2009. Permainan Tradisional Untuk Anak Usia 4-3 Tahun.
Bandung.Sandiarta Sukses.

Wahyuningsih, Sri. 2009. Permainan Tradisional Untuk Usia 4-5 Tahun. Bandung:
Sandiarta Sukses.

https://www.lontarmadura.com/ diakses 18 Agustus 2022
https://www.orami.co.id/magazine/gobak-sodor diakses 22 Agustus 2022


Click to View FlipBook Version