The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pada ulang tahun ke-70 yang lalu saya menerbitkan buku Otobiografi Bert Adriaan Supit: Pengalaman, Kesaksian, Pikiran, & Harapan bersama bunga rampai tiga buku lainnya yaitu Penyembuhan Holistik, Menggugat Suara Kenabian Gereja, dan Melawan Arus: Wacana Federalisme untuk Indonesia yang pada waktu itu saya pikir sebagai sumbangan terakhir saya yang paripurna untuk kehidupan dan peradaban manusia, khususnya di Minahasa. Dengan harapan pengalaman-pengalaman itu bisa menjadi bahan refleksi, motivasi, dan data historis untuk dianalisa bagi generasi muda dalam berjuang dan berkarya di Minahasa selanjutnya. Saya berpikir akan beristirahat dan menyerahkan tongkat estafet perjuangan pada mereka untuk mengemban tanggung jawab kehidupan. Tetapi apa yang terjadi kemudian adalah kekecewaan dan kegelisahan yang sangat mendalam menyaksikan kontradiksi-kontradiksi yang terjadi sesudah menulis otobiografi itu yang justru semakin parah. Sehingga memaksa saya untuk terlibat dan ambil bagian lagi dalam dialektika perjuangan menanggapi isu dan masalah-masalah sosial. Oleh karena ada kegelisahan dalam diri dan melihat tidak ada lagi inisiatif gerakan kritis dan konsisten yang sanggup melanjutkan perjuangan dan responsif terhadap masalah yang ada. Apalagi kekhawatiran saya tentang tidak adanya generasi muda yang memahami lagi pemikiran Sam Ratulangi dan juga semangat pelayanan Ds. A. Z. R. Wenas yang saya tokohkan sebagai sumber inspirasi untuk Tou Minahasa sebagai pelopor gerakan politik kultural dan teologi kultural. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih sehat secara fisik dan mental sehingga bisa menuliskan pengalaman-pengalaman yang cukup menarik dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir ini sebagai epilog otobiografi yang sudah diterbitkan sebelumnya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Penerbit Touweru, 2018-03-21 09:34:44

Menguak Akar Masalah Budaya Minahasa & GMIM: Epilog Otobiografi Bert Adriaan Supit

Pada ulang tahun ke-70 yang lalu saya menerbitkan buku Otobiografi Bert Adriaan Supit: Pengalaman, Kesaksian, Pikiran, & Harapan bersama bunga rampai tiga buku lainnya yaitu Penyembuhan Holistik, Menggugat Suara Kenabian Gereja, dan Melawan Arus: Wacana Federalisme untuk Indonesia yang pada waktu itu saya pikir sebagai sumbangan terakhir saya yang paripurna untuk kehidupan dan peradaban manusia, khususnya di Minahasa. Dengan harapan pengalaman-pengalaman itu bisa menjadi bahan refleksi, motivasi, dan data historis untuk dianalisa bagi generasi muda dalam berjuang dan berkarya di Minahasa selanjutnya. Saya berpikir akan beristirahat dan menyerahkan tongkat estafet perjuangan pada mereka untuk mengemban tanggung jawab kehidupan. Tetapi apa yang terjadi kemudian adalah kekecewaan dan kegelisahan yang sangat mendalam menyaksikan kontradiksi-kontradiksi yang terjadi sesudah menulis otobiografi itu yang justru semakin parah. Sehingga memaksa saya untuk terlibat dan ambil bagian lagi dalam dialektika perjuangan menanggapi isu dan masalah-masalah sosial. Oleh karena ada kegelisahan dalam diri dan melihat tidak ada lagi inisiatif gerakan kritis dan konsisten yang sanggup melanjutkan perjuangan dan responsif terhadap masalah yang ada. Apalagi kekhawatiran saya tentang tidak adanya generasi muda yang memahami lagi pemikiran Sam Ratulangi dan juga semangat pelayanan Ds. A. Z. R. Wenas yang saya tokohkan sebagai sumber inspirasi untuk Tou Minahasa sebagai pelopor gerakan politik kultural dan teologi kultural. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih sehat secara fisik dan mental sehingga bisa menuliskan pengalaman-pengalaman yang cukup menarik dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir ini sebagai epilog otobiografi yang sudah diterbitkan sebelumnya.

Keywords: Minahasa & GMIM

Menguak Akar Masalah
Budaya Minahasa & GMIM

Epilog Otobiografi Bert Adriaan Supit

Tomohon 2018

Supit, Bert Adriaan
Menguak Akar Masalah Budaya Minahasa & GMIM: Epilog Otobiografi

Bert Adriaan Supit
Maret 2018

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Copyright © 2018 by Dr. Bert Adriaan Supit All Rights Reserved

ISBN

Editor: Swadi Sual
Desain sampul & Tata Letak: Saul
(Lukisan dalam sampul adalah simbolisasi perjumpaan antara Injil Kristen
dan budaya Minahasa. Sumber lukisan dari Leo Supit di Tondano)

Penerbit Touweru
Jl. Pasiwuren Kakaskasen Tomohon

P.O. Box 95418 (0431) 351035
[email protected]
Penerbit Touweru

Dicetak oleh
Percetakan Teratai Emas
Jl. Arie Lasut No. 129 Wawonasa Manado

Untuk Minahasaku Tercinta......

UCAPAN TERIMA KASIH

Ketika buku ini disusun, konflik budaya Minahasa dan GMIM
telah dan sedang berlangsung sehingga harus dibuat suatu pembatasan.
Tujuan buku ini sangatlah sederhana, yaitu memberikan deskripsi tentang
keadaan Minahasa dari sudut pandang saya pribadi. Tulisan di dalamnya
tidak disusun dalam kaidah-kaidah ilmiah tetapi memiliki nilai historis
yang bisa dijadikan referensi dan bahan penelitian lebih lanjut.

Buku yang sedang anda baca ini tidak mungkin selesai tanpa
bantuan dari berbagai pihak sehingga saya berhutang untuk menyampaikan
terima kasih kepada yang pertama dan terutama Tuhan Yesus Kristus
sebagai Juru Selamat, Raja Damai bagi umat manusia yang telah
membimbing dan mengawali hidup saya sampai sudah berumur hampir 84
tahun. Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam umur sedemikian tua,
saya masih mempunyai semangat bahkan energy dan kesehatan jasmani
dan rohani untuk menulis pengalaman saya sebagai sebuah epilog hidup
saya sampai saya dapat menyelesaikan buku ini pada waktunya. Oleh sebab
itu segala “Puji dan Syukur kepada Tuhan Allah Tritunggal atas
karunia yang saya peroleh dariNya”.

Terima kasih banyak kepada Swadi Sual seorang pemuda asal
Tountemboan yang baru saya kenal pada bulan November 2013 dalam
kesempatan suatu Kongres Pemuda Minahasa yang terbatas di Resort
Meditasi keluarga kami di Pantai Korakora Tondano. Di antara hampir 100
Pemuda Minahasa yang hadir disana untuk berdiskusi tentang Minahasa,
dialah satu-satunya seorang yang rendah hati dan yang masih sangat muda
yang saya perhatikan dan terkesan mampu berdialog, berpikir, beranalisa
secara intelektual sambil memperlihatkan keseriusan dan kecintaannya
terhadap Tanah dan Bangsa Minahasa. Dari pengamatan dan pengenalan
saya terhadapnya itu, saya berani meminta daripadanya menjadi editor
buku saya ini. Ternyata saya tidak salah memilih dia; bahkan saya kagum
atas kesediaan dan kemampuannya melewatkan waktu yang cukup panjang
mendengar dengan sabar atas penuturan saya tentang pengalaman saya,
berdiskusi, membaca buku-buku yang pernah menginspirasi saya maupun
membaca naskah-naskah tulisan saya, memeriksa arsip-arsip penting yang
saya simpan lalu menyusun naskah-naskah tulisan saya tersebut dalam satu

sistematika sampai buku ini berhasil diterbitkan. Terima kasih banyak bung
Swadi Sual atas bantuan dan kerjamu yang sangat saya hargai; hidupmu
masih cukup panjang ke depan. Pergunakanlah hidupmu yang akan penuh
dengan kompleksitas, namun yang mungkin sangat menantang maupun
tetap indah itu untuk bermimpi terus dan bercita-cita terus melaksanakan
idealismemu.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih banyak melalui buku ini
kepada teman sepelayanan saya yang sangat setia di GMIM, Saudara Pdt.
Ecky Posumah dan istrinya Pdt. Jedida Santosa. Ecky mulai saya kenal
waktu kami berdua mulai bekerja sama dalam BPS GMIM periode 1970-
1974 di bawah kepemimpinan Pdt. R. M. Luntungan pastor pembimbing
kami berdua yang baik hati. Dalam kenyataan berteman selama 50 tahun
lamanya, ternyata sisa kami berdua dari Zaman Periode Pelayanan BPS
GMIM waktu itu yang masih hidup sekarang. Saya kemudian pernah
berkunjung Ecky dan keluaga di Ohio USA dan di Sydney Australia
sewaktu mereka diutus GMIM sebagai Fraternal workers di sana dalam
rangka hubungan kerja sama oikumenis dengan gereja-gereja di sana.
Hubungan pertemanan kami di GMIM maupun pertemanan secara pribadi
tidak pernah putus yang mana anak-anak mereka Theo dan Nathan adalah
anak baptisan kami sebagai papa dan mama ani. Saya sangat bersyukur dan
berterima kasih kepada mereka berdua atas dialog-dialog dan diskusi-
diskusi yang panjang mengenai teologi, eklesiologi dan filosofi hidup yang
saling menguatkan kami bersama mengenal dan mencintai Juru Selamat
kami Allah Tritunggal Maha Kuasa dan Maha Kasih. Sampai sekarang
hubungan jasmani maupun rohani kami masih tetap utuh menghadapi dan
berusaha bersama dengan teman-teman dalam Kelompok 16 Tua-Tua
GMIM menciptakan perdamaian dalam lembaga UKIT dan GMIM yang
kami bersama layani bertahun tahun. Terima kasih banyak Ecky dan
Jedida.

Saya akhirnya berhutang kasih sayang kepada istri saya Hilda yang
setia mendampingi saya maupun melayani saya dengan menyediakan
makanan dan minuman sampai larut malam ketika saya sedang menulis dan
mengedit buku yang ternyata sudah menjadi cukup tebal ini. Buku ini akan
menjadi hadiah saya kepadamu Hilda dalam kami memperingati 50 tahun
kami berdua berumah tangga pada tanggal 23 Maret 2018. Demikian juga

kepada anak-anak, Aldrin, Octo, dan Sesarini bersama istri Linda, Lisa dan
suami Hisar maupun anak-anak kamu dan cece kami Cleona. Terima kasih
banyak bahwa kamu telah menjadi bagian dalam kehidupan saya yang
hingga kini masih terjalin dalam kasih sayang Tuhan Yesus. Dalam buku
ini saya telah warisi seluruh falsafah rohani saya kepada kamu sebagai
pegangan hidup kamu selanjutnya.

Juga kepada semua teman-teman seperjuangan saya dalam
organisasi budaya dan gereja, yang saya tidak sempat menyebutkan nama-
nama terima kasih telah menjadi partner dan turut memberi arti dalam
kehidupan pribadi saya.

Tomohon, 9 Maret 2018

Bert A. Supit

DAFTAR ISI i
xx
UCAPAN TERIMA KASIH 1
DAFTAR ISI 6
DAFTAR SINGKATAN & AKRONIM 7
PENGANTAR EDITOR...................................................................
PENDAHULUAN............................................................................ 8
MINAHASA: PERJUANGAN TANPA AKHIR............................. 11
21
A. AWAL MULA..................................................................... 24
1. Lembaga Adat Toar Lumimuut.............................. 25
2. Kritik Terhadap MKM dan Berdirinya Lembaga
Adat Budaya Minahasa Wangko............................ 27
3. Persatuan Minahasa................................................ 28
4. Berdirinya Majelis Adat Minahasa.........................
30
B. DINAMIKA MAM.............................................................. 32
1. Disfungsional Organisatoris...................................
2. Kontroversi Pemberian Gelar Adat & Upaya 36
Pembentukan DAM................................................ 39
3. Bencana Budaya 7 Juli............................................ 39
4. Rencana Pengukuhan Jabatan Tonaas Wangko 41
Um Banua............................................................... 44
5. Kongres Kaum Muda Minahasa, Harapan Baru?... 49
6. Sekitar Kesalahpahaman Sekretaris Jenderal 50
MAM......................................................................
54
C. KERUKUNAN KELUARGA KAWANUA (KKK)...........
1. Diaspora Tou Minahasa.......................................... 62
2. Perpecahan KKK....................................................
68
QUO VADIS GMIM?....................................................................... 78
A. PERUBAHAN ORIENTASI PELAYANAN...................... 92
1. Gerakan 1 Triliun (G1T)......................................... 112
2. GMIM: Dari Lokal, Nasional, Ke Global – Suatu 122
Kontroversi.............................................................
3. GMIM & Teologi Kontekstual Dalam Budaya
Minahasa.................................................................
B. YAYASAN KESEHATAN GMIM MENJADI USAHA
BISNIS.................................................................................
1. Dari Pelayanan Kesehatan Menuju Komersialisasi
2. Penetrasi PT. Kimia Farma.....................................
3. Catatan Drs. Huub Lems, SH..................................
C. UKIT: “There Is No Future Without Forgiveness”.............
1. Tanda Awal Permasalahan Antar Pendeta Pelayan

GMIM..................................................................... 124
138
2. Polemik Pemilihan Rektor......................................
155
3. Pembubaran Yayasan-Yayasan GMIM & 168
170
Pembentukan Yayasan Ds. A. Z. R. Wenas............ 174
176
4. Pecahnya UKIT....................................................... 186
187
a) Pegangan UKIT YPTK.............................. 214
216
b) Dualisme Kepemimpinan UKIT................
228
c) Trialisme Kepemimpinan UKIT................
235
5. Upaya Rekonsiliasi................................................. 241
251
a) Rekonsiliasi Tahap I.................................. 251
257
b) Rekonsiliasi Tahap II................................. 262
264
c) Rekonsiliasi Tahap III................................ 266

6. Gagalnya Rekonsiliasi; Fakultas Kedokteran 269
276
UKIT Kandas.......................................................... 300
314
7. Kontroversi Korupsi Block Grant, Tanggung
335
Jawab Siapa?........................................................... 342

SEJARAH MINAHASA; SEJARAH KONFLIK............................ 351

EKSPEKTASI MINAHASA KE DEPAN....................................... 376
385
A. REVITALISASI BUDAYA MINAHASA..........................

B. PENETRASI KE-MINAHASA-AN KE UNIVERSITAS

C. MINAHASARAAD.............................................................

D. MAM & KONGRES MINAHASA RAYA.........................

E. PROVINSI MINAHASA.....................................................

F. MEMERDEKAKAN JEMAAT-JEMAAT SEBAGAI

BATU PENJURU GMIM....................................................

KLARIFIKASI BEBERAPA PRASANGKA..................................

ELEGI DI MASA TUA: SUATU ANTI-KLIMAKS.......................

WARISAN........................................................................................

APENDIKS I : Masyarakat Minahasa/Jemaat GMIM

Dalam Perangkap Post-modernisme..

APENDIKS II : Revolusi Budaya & Mental...................

APENDIKS III : Paradigma Baru Minahasa: Motif

Perlunya Kekuatan Budaya Gerakan

Advokasi Sosial Politik Lokal Minahasa

Sebagai Suatu Strategi Membangun
’Roh Jatidiri’ Minahasa...........................

APENDIKS IV : Kerangka Acuan Semiloka Revolusi

Kebudayaan Mengatasi Krisis Multi

Dimensional Minahasa Dalam Indonesia

Merdeka...................................................

APENDIKS V : Provinsi Minahasa & Kota Tondano.....

APENDIKS VI : Mengatasi Krisis SDM, Menyambut 404
APENDIKS VII Geostrategi Sulawesi Utara......................
: Quo Vadis Tou (Bangsa) Minahasa?: 433
APENDIKS VIII Revitalisasi Prinsip-Prinsip Utama 451
APENDIKS IX Budaya Minahasa.....................................
: Paradigma Baru Pendidikan Tinggi 458
GMIM: Menatap Kedepan.......................
: Memerdekakan Jemaat-Jemaat GMIM 470
Menuju Pendewasaannya Dari Dominasi 543
Sinode GMIM Yang Kian Menggurita 657
Perlunya Struktur GMIM Sinodal 678
Dimekarkan Sinode GMIM Menjadi 8 696
(Delapan) Sinode Wilayah GMIM - Sub- 699
Sinode GMIM dengan Sinode AM
GMIM di Tomohon.................................

LAMPIRAN-LAMPIRAN
 Lampiran Tentang Organisasi Budaya Minahasa................
 Lampiran Tentang GMIM, Yayasan Kesehatan, Dan

UKIT....................................................................................
 Lampiran Tentang Yayasan Waleta (Rumah & Tanah di

Winangun dan Kakaskasen).................................................
 Lampiran Tentang PT MSM/TTN.......................................
 Lampiran Tentang Block Grant...........................................
 Lampiran Berita Media Tentang Masalah UKIT.................

DAFTAR SINGKATAN & AKRONIM

AMALTA : Aliansi Masyarakat Menolak Limbah Tambang
AMAM : Aliansi Masyarakat Adat Minahasa
AMAN : Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
ASMI : Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia
BAP : Berita Acara Pemeriksaan
BIN : Badan Intelejen Negara
BPN :Badan Pertanahan Nasional
BPMS : Badan Pekerja Majelis Sinode
BPN : Badan Pertanahan Nasional
BPS : Badan Pekerja Sinode
DAM : Dewan Adat Minahasa
GERAPIM : Gerakan Persatuan (Federal) Indonesia dari Minahasa
GMIM : Gereja Masehi Injili di Minahasa
HGB : Hak Guna Bangunan
KAM : Kongres Adat Minahasa
KKK : Kerukunan Keluarga Kawanua
KKMM : Kongres Kaum Muda Minahasa
Kopertis : Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta
KRIS : Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
MA : Mahkamah Agung
MAM : Majelis Adat Minahasa
MKM : Majelis Kebudayaan Minahasa
MPA : Musyawarah Perwakilan Anggota
MM : Mawale Movement
MSM : Meares Soputan Mining
NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia
NPRI : Negara Persatuan Republik Indonesia
NZG : Nederlandsch Zendeling Genootschap
Permesta : Perjuangan Semesta
Pdt : Pendeta
Pjs : Pejabat Sementara
Plt : Pelaksana Tugas

PM : Persatuan Minahasa
PN : Pengadilan Negeri
Pnt : Penatua
PT : Pengadilan Tinggi
PT : Perguruan Tinggi
PT : Perseroan Terbatas
PTS : Perguruan Tinggi Swasta
PROM : Pertemuan Raya Orang Minahasa
SBPSL : Sidang Badan Pekerja Sinode Lengkap
Sekjen : Sekretaris Jenderal
SMS : Sidang Majelis Sinode
SP3 : Surat Perintah Pemberhentian Penyelidikan
SS : Sidang Sinode
STMS : Sidang Tahunan Majelis Sinode
ST4 : Si Tou Timou Tumou Tou
Sulut : Sulawesi Utara
Sym : Syamas
TTN : Tambang Tondano Nusajaya
UNIMA : Universitas Negeri Manado di Tondano
UKIT : Universitas Kristen Indonesia Tomohon
UNSRAT : Universitas Negeri Sam Ratulangi
UU : Undang-Undang
VOC : Vereenigde Oostindische Compagnie
YAZRW: Yayasan GMIM Ds. A. Z. R. Wenas
YISBS: Yayasan Institut Seni Budaya Sulut
YKM : Yasasan Kebudayaan Minahasa
YPPK : Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Kristen
YPTK : Yayasan Perguruan Tinggi Kristen
YSN : Yayasan Suara Nurani

Dr. Bert Adriaan Supit

lahir di Tondano 21 Juli 1934

anak dari keluarga Supit-

Engelen, ayah seorang

pendeta. Menikah dengan

Hilda Eveline Elfira Supit dan

karuniai tiga orang anak

(Aldrin, Solaiman, Sesarini).

Menempuh pendidikan

Algemeen Lagere School

Jakarta, lulus 1948;

Middelbare School/SMP

Jakarta, lulus 1951; Sekolah

Menengah Atas Jakarta, lulus 1954; Fakultas Kedokteran Universitas

Hasanudin Makasar, lulus 1965; Senior Health Administration Course,

London-Inggris 1973.

Jabatan yang telah dipangkuhnya baik di perusahan pemerintah dan

swasta adalah Asisten Dosen Ilmu Urai Fakultas Kedokteran UNHAS
Makasar (1956 – 1965); Kepala Kesehatan Wilayah Tomohon, Pineleng,
dan Tanawangko Kabupaten Minahasa (1965 – 1974); Kepala Kesehatan
Wilayah Kawangkoan dan Tareran, Kabupaten Minahasa (1970 – 1973);

Pejabat Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa (1967);
Pejabat Direktur RS Jiwa Manado (1976 – 1977); Kepala Direktorat
Daerah Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulut (1975 –

1980); Staf Ahli Pada Dinas Kesehatan Dati I Provinsi Sulawesi Utara
(1980 – 1990); Penasehat Gubernur Sulawesi Utara (2000 – 2005);
Penasehat Walikota Tomohon (2006 – 2010); Komisaris PT. Air Tomohon
(2007 – 2010); Komisaris Independen PT. MSM/TTN (2010). Pada tahun

1990 pensiun dari Pegawai Negeri Sipil setelah tahun 1979 sebelumnya

mengajukan permohonan pensiun dipercepat kepada Menteri Kesehatan

sebagai protes atas tindakan pemerintah mengganti Gubernur Sulut tanpa

alasan yang jelas permohonan ditolak oleh menteri.

Aktivitasnya dalam organisasi profesional, sosial-budaya, dan
gereja baik nasional dan internasional memberinya banyak posisi penting:
Ketua Ikatan Dokter Indonesia [IDI] Wilayah Provinsi Sulawesi Utara

(1983 – 1986); Ketua Panitia Pembinaan Dan Pertimbangan Etik
Kedokteran Provinsi Sulawesi Utara (1985 – 1987); Ketua Badan

Pembelaan Anggota Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Sulawesi Utara
(1986 – 1988); Anggota Panitia Pengarah International NGO Forum On
Indonesian Development [Infid] Jakarta (1988 – 1995); Pemimpin Umum
Mingguan Tabloid ‘KABAR’ Manado (1999 – 2001); Anggota Badan
Penasehat LBH Manado (1996 – 2007); Anggota Dewan Presidium Walhi
Sulut (1995 – 2005); Ketua Yayasan SPPM ‘Suara Nurani’ (1987 –
sekarang); Wakil Ketua Dewan Reformasi Sulawesi Utara (1999 – 2001);
Sekretaris Jenderal ’Persatuan Minahasa’ (2002 – 2006); Ketua Presidium
’Majelis Adat Minahasa’ (2004 – Sekarang); Dokter Umum pada RS
Bethesda Tomohon (1965 –2010); Direktur RS Bethesda Tomohon (1965 –
1990); Ketua Komisi Kesehatan/Kepala Dinas Kesehatan GMIM (1966 –
1990); Ketua Harian Remaja/Pemuda GMIM (1967 – 1971); Sekretaris
Departemen Diakonia Sinode GMIM (1970 – 1974); Bendahara Sinode
GMIM (1974 – 1982); Bendahara Panitia Sidang Raya PGI Ke 9 di
Tomohon (1977 – 1980); Ketua Panitia Yubileum 50 Tahun GMIM (1983
– 1984); Ketua Yayasan Kesehatan GMIM (1990 – 2000); Ketua Yayasan
Perguruan Tinggi Kristen GMIM (1990 – 1995); Wakil Ketua Syamas
Sinode GMIM (1982 – 1995); Penasehat Unit-Unit Rumah Sakit GMIM
(2000 – 2014); Bendahara Dewan Gereja-Gereja Wilayah Sulawesi Utara
dan Tengah (1977 – 1981); Wakil Ketua Persekutuan Gereja-Gereja
Indonesia Wilayah Sulawesi Utara Dan Tengah (1985 – 1995); KETUA
KOMISI PARPEM PGIW SULUTTENG (1981 – 1995); Anggota Komisi
Pelayanan Dan Pembangunan Dewan Gereja Gereja Di Indonesia – Jakarta
(1972 – 1980); Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (PGI)
Jakarta (1989 – 1994); Wakil Ketua Persekutuan Pelayanan Kristen Untuk
Kesehatan Di Indonesia (Pelkesi) Jakarta (1983 – 1992); Ketua Umum
Pelkesi, Jakarta (1992 – 2004); Ketua Majelis Pertimbangan

(Penggembalaan) Sinode Am Gereja-Gereja Di Sulawesi Utara dan Tengah
(1995 – 2010); Ketua Badan Pertimbangan Pelkesi Jakarta (2004 –

Sekarang); ANGGOTA Asia Regional Consortium Group, Interchurch Aid,
World Council Of Churches, Geneva – Swiss (1983 – 1987); Anggota
Central Committee, World Council Of Churches, Geneva – Swiss (1983 –

1998); Wakil Ketua Christian Medical Commission, World Council Of
Churches, Geneva – Swiss (1975 – 1990); Wakil Ketua Expert Committee

In Health Administration On The Role Of Hospitals In Community Health;
World Health Organization (WHO), Geneva – Swiss (1985 – 1998);
Anggota Joint Committee International Ngo Forum On Indonesian
Development (Infid), Den Haag – Nederland (1988 – 1995); Member
Speaker International Hospital Federation (IHF) London – England (1973 –
1990); Consultant Church World Service [CWS] Indonesia New York –
USA (1970 – 1990); Anggota Tim Survey Community Village
Development, World Council Of Churches Ke Bolivia, Argentina Dan Cina
(1987 – 1994); Anggota Tim Primary Health Care, World Council Of
Churches Ke Nicaragua, India, Pakistan, Srilanka Dan Thailand (1988 –
1992); Anggota Tim Survey PHC International Hospial Federation dan
CMC ke Finland, Swedia, Jerman Timur, Hongaria, Rusia Dan Jepang
(1985 – 1990); Anggota Tim Survey WCC Untuk Masalah Kewanitaan Ke
Afrika Selatan, Lesotho Dan Zimbabwe (1992 – 1997).

Selain menulis artikel dalam berbagai tema, buku yang pernah
ditulis adalah Penyembuhan Holistik; Penggalian dan Penerapan Tugas
Pelayanan Kesehatan Gereja dalam tiga dekade akhir abad ke 20
[Kumpulan Tulisan dan Pengalaman Dalam Bidang Kesehatan GMIM
1965 – 1995] (2004); Melawan Arus: Wacana Federalisme untuk
Indonesia (2004); Menggugat Suara Kenabian Gereja: Sejumput Jeritan
Parau di Tengah Pergulatan Zaman (2004); Otobiografi Bert Adriaan
Supit: Pengalaman Kesaksian, Pikiran, dan Harapan 2004; Ratulangi &
Wenas: Inspirasi Minahasa (2014).



Pada ulang tahun ke-70 yang lalu saya menerbitkan buku
Otobiografi Bert Adriaan Supit: Pengalaman, Kesaksian, Pikiran, &
Harapan bersama bunga rampai tiga buku lainnya yaitu Penyembuhan
Holistik, Menggugat Suara Kenabian Gereja, dan Melawan Arus: Wacana
Federalisme untuk Indonesia yang pada waktu itu saya pikir sebagai
sumbangan terakhir saya yang paripurna untuk kehidupan dan peradaban
manusia, khususnya di Minahasa. Dengan harapan pengalaman-
pengalaman itu bisa menjadi bahan refleksi, motivasi, dan data historis
untuk dianalisa bagi generasi muda dalam berjuang dan berkarya di
Minahasa selanjutnya. Saya berpikir akan beristirahat dan menyerahkan
tongkat estafet perjuangan pada mereka untuk mengemban tanggung jawab
kehidupan. Tetapi apa yang terjadi kemudian adalah kekecewaan dan
kegelisahan yang sangat mendalam menyaksikan kontradiksi-kontradiksi
yang terjadi sesudah menulis otobiografi itu yang justru semakin parah.
Sehingga memaksa saya untuk terlibat dan ambil bagian lagi dalam
dialektika perjuangan menanggapi isu dan masalah-masalah sosial. Oleh
karena ada kegelisahan dalam diri dan melihat tidak ada lagi inisiatif
gerakan kritis dan konsisten yang sanggup melanjutkan perjuangan dan
responsif terhadap masalah yang ada. Apalagi kekhawatiran saya tentang
tidak adanya generasi muda yang memahami lagi pemikiran Sam Ratulangi
dan juga semangat pelayanan Ds. A. Z. R. Wenas yang saya tokohkan
sebagai sumber inspirasi untuk Tou Minahasa sebagai pelopor gerakan
politik kultural dan teologi kultural. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan
karena masih sehat secara fisik dan mental sehingga bisa menuliskan
pengalaman-pengalaman yang cukup menarik dalam kurun waktu empat
belas tahun terakhir ini sebagai epilog otobiografi yang sudah diterbitkan
sebelumnya.

Penerbit Touweru
Jl. Pasiwuren Kakaskasen Tomohon

P.O. Box 95418 (0431) 351035
[email protected]
Penerbit Touweru


Click to View FlipBook Version