Dalam melakukan permainan dengan mengikuti suara
music/gamelan yang mengiringinya. Namun, apabila tidak untuk pentas,
permainan ini tidak menggunakan iringan musik atau lagu. Anak-anak
yang bermain jaranan bisa sendirian atau bisa pula berkelompok dengan
teman-temannya. Saat ini, dalam bermain jaranan, biasanya anak-anak
tampil dalam acara festival. Bahkan dolanan ini juga dilengkapi dengan
syair yang berjudul “Jaranan”.
C. Peralatan permainan
Dalam memainan menggunakan beberapa peralatan diantaranya yaitu
jaranan yang terbuat dari bambu, pedang-pedangan yang terbuat dari
bambu atau kayu. Pedang tersebut, bentuknya menyerupai seperti pedang
betulan. Saat bermain jaranan, pedang-pedangan digunakan sebagai
senjata.
D. Fungsi Permainan Jaranan
Manusia hidup pada dasarnya adalah untuk melakukan aktivitas dalam
memenuhi kebutuhan hidup, yaitu belajar, bekerja, bermain dan
berkesenian. Kebutuhan akan berkesenian sangat erat sekali
hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan manusia akan keindahan.
Salah satu peran seni pertunjukan tradisional sebagai bentuk kesenian
mempunyai fungsi yang dapat memenuhi kebutuhan akan keindahan dan
dapat menunjang kepentingan kegiatan manusia dalam beraktivitas
dalam hidupnya. Soedarsono mengatakan bahwa seni pertunjukkan
tradisional mempunyai fungsi utama yaitu sebagai sarana ritual,
ungkapan pribadi yang pada umumnya berupa hiburan pribadi dan
sebagai presentasi estetis (2002:123).
Menurut Ki Hadjar Dewantara
Tutwuri Handayani. Yang berarti mengikuti dari belakang dan
memberikan pengaruh. Mengikuti dari belakang berarti memberikan
kebebasan kepada anak didik tanpa meninggalkan pengawasan. Sehingga
anak didik tidak bebas lepas tanpa pengawasan dan juga tidak terkekang
atau terhambat dalam pertumbuhan dan perkembangannya sebagai
manusia merdeka.
48
E. Melestarikan Permainan Tradisional
1. Memperkenalkan kembali kepada anak tentang permainan
tradisional. Ajaklah kepada anak dan lingkungan terdekat untuk
permainan tradisional. Dan buatlah event-even kecil-kecilan
permainan tradisional agar anak tertarik untuk ikut bermain dan
berminat kedalam permainan tradisional tersebut di lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan sekolah.
2. Memberikan penghargaan atau hadiah kepada anak yang menang
lomba sehinga memacu anak untuk bersungguh-sunggun untuk
bermain permainan tersebut, dan membuat permainan tradisional
akan jauh lebih menarik.
3. Memberikan contoh bermain seperti langkah-langkah permainan dan
pertaturan kepada anak. Sehingga anak akan lebih mudah
memahaminya jika belom mengerti.
4. Membangun komunitas kepada anak tentang permainan tradisional
seperti jaranan agar cepat menyebar luas.\
5. Jangan memperkenalkan teknologi seperrti gadged kepada anak
terlalu dini. Anak akan ketergantungan menggunakan gadged saat
bermain dan akan menimbulkan kemalasan saat bermain diluar atau
berinteraksi.
6. Lebih baik ajaklah anak untuk berinteraksi dengan dengan orang tua
tentang permainan-permainan tradisional yang menyenangkan.
49
9. Dolananan Anak “Jamuran
A. Sejarah Permainan Tradisional Anak (Jamuran)
Belakangan ini jarang dijumpai sekelompok bocah memainkan
permainan tradisional. Permainan tradisional tak lagi mendapatkan
tempat, tergeser oleh permainan modern yang berasas pada teknologi, tak
memerlukan ruang terbuka bebas, dan tak membutuhkan banyak olah
tubuh. Sebagai bangsa yang memiliki kekayaaan budaya yang adi
luhung, sangat disayangkan bila kekayaan itu hilang. Munculnya
komunitas yang menggiatkan kembali permainan tradisonal adalah
secercah harapan membangkitkan rasa Indonesia. Salah satu permainan
yang mencitrakan keaslian Indonesia adalah Jamuran.
Jamuran pada awal mulanya di kreasikan pertama kali oleh seorang
ahli pendidik yang demokratis, yaitu Sunan Giri (salah satu Wali Songo).
Permainan ‘jamuran’ biasanya dimainkan pada malam-malam terang
bulan, oleh anak-anak perempuan usia sekolah dasar; adakalanya anak-
anak laki-laki juga ikut bermain. Jumlah anak untuk memainkan
permainan ini, kira-kira 10 orang atau lebih. Karena jumlah anak-anak
dalam permainan jamuran bisa mencapai 10 orang atau lebih, maka
diperlukan halaman yang cukup untuk melakukan permainan ini.
Permainannya sangat sederhana. Anak-anak berdiri membentuk
lingkaran dan berpegangan tangan. Besar kecil lingkaran tergantung
50
kepada banyak sedikitnya anak-anak yang bermain. Jika jumlah anak
yang bermain banyak, lingkaran itu besar, sebaliknya kalau anak-anak
yang bermain sedikit, lingkaran kecil. Adapun permintaan yang dapat
diucapkan yaitu:
a. Jamur patung
Anak-anak bergegas menjadi patung. Diam tak bergerak. Tidak
boleh tersenyum. Tidak boleh tertawa. Meski digoda. Meski
diajak berbicara. Bagi anak yang tertawa, tersenyum, atau yang
bergerak akan terkena hukuman yaitu ia harus menggantikan
posisi anak yang kalah tadi.
b. Jamur monyet
Anak-anak segera berhamburan saling berlarian untuk menirukan
gerkan menyerupai monyet. Macam-macam gerakannya, ada
yang dengan segera memanjat pohon, ada yang hanya
menggaruk-garuk kepala, ada yang sesekali meloncat-loncat.
Ada yang seketika duduk dan berpura-pura seperti sedang
mencari kutu pada kepala temannya.
c. Jamur gagak
Anak-anak berlari sambil merentangkan tangan, menirukan
kepakan sayap burung gagak lalu menirukan bunyinya “gaok
gaok”. Tugas anak yang ‘jadi’ adalah menangkap ‘burung
gagak’. Dan kawanan burung gagak harus menghindarinya agar
jangan mendapat hukuman. Cara menghindari pengejaran mudah
saja yaitu dengan berjongkok sebagai pengibaratan burung yang
sedang hinggap. Jika mendapati anak jongkok, maka pengejaran
dihentikan. Jika mau, menunggu agar anak yang berjongkok itu
lari lagi lalu dikejar. Jika ada anak yang tertangkap ketika masih
berlari, maka berlakulah hukuman.
d. Jamur motor
Anak-anak berhamburan untuk berubah menjadi berbagai
kendaraan. Ada yang menjadi mobil polisi, ada yang menjadi
dokar, ada yang menjadi sepeda motor, ada yang menjadi kereta.
51
Anak-anak bergumam menirukan suara tiap-tiapnya sembari
berjalan mondar-mandir. Hingga terdengar lagi sebuah suara.
Demikian permainan jamuran dilangsungkan dan diulang-ulang
berkali-kali, sederhana, riang, murah, dan mendidik. Keunggulan yang
diusung karena permainan ini memberikan kemungkinan kepada anak-
anak untuk membeberkan kekayaan fantasi dan rasa humor dengan
menyebutkan beraneka macam jamur. Jamuran tergolong unik, Satu hal
yang mungkin tidak terlintas saat permainan sederhana ini dikreasikan
yakni mendorong anak untuk bisa mengembangkan kecerdasan
majemuk, yakni ketrampilan gerak, kepekaan, dan kemampuan
berekspresi dengan irama, kemampuan memahami dan mengendalikan
diri sendiri serta kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan.
Lewat dolanan jamuran kita bisa melihat sebentuk kekayaaan budaya
Indonesia yang bukan hanya sebagai media hiburan, namun sebagai
penghargaan atas tradisi yang merupakan ‘akar’ atau cikal bakal
beradaban dan tentu saja tidak dimiliki oleh bangsa lain. Karena terus
terang, hanya Indonesia yang memiliki dolanan tradisional yang
beragam, salah satunya: Jamuran.
Tugas kita sebagai generasi penerus bangsa harus lebih peka lagi
terhadap kearifan lokal yang saat ini sudah hampir jarang sekali dijumpai
dilingkugan sekitar kita, maka dari itu kita sebagai calon pendidik harus
bisa menanamkan nilai tradisi daripada permainan tradisional itu sendiri.
Dengan cara memperkenalkan dan mengajarkan permainan atau dolanan
ana di lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar tempat tinggal. Kita
juga sekaligus dapat mewujudkan cita-cita dari asas TAMANSISWA itu
sendiri yaitu merdeka secara lahir dan batin dalam proses pembelajaran.
Yang dimaksud merdeka lahir dan batin yaitu kita sebagai claon pendidik
harus bisa mengambil hati anak, apabila anak sudah senang maka apapun
pembelajaran yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh anak.
Anak akan merasa senang dan bahagia pada saat proses pembelajaran
tidak merasa takut. Salah satunya supaya kita bisa meng
implementasikan ajaran Tamansiswa tersebut yaitu bisa melakukan ice
breaking atau penyegaran dengan cara bermain, bermain disini
52
bermaksud untuk mengedukasi dan memberikan stimulus yang positif
kepada anak, bisa di ambilkan salah satu permainan tradisional atau
dolanan anak yang salah satunya yaitu Jamuran.
Permainan jamuran memiliki nilai-nilai yang bermanfaat sama seperti
nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Tamansiswa. Jamuran dapat
meningkatkan kemampuan anak bersosialiasi dengan teman-teman
sebayanya dan dapat melatih anak untuk berinteraksi dengan orang lain.
Dolanan anak jamuran juga melatih kerjasama pada saat bermain.
Permainan ini anak-anak akan bernyanyi bersama sehingga muncul
suasana yang santai dan menggembirakan. Dengan menyanyi bersama,
pada diri anak-anak akan muncul rasa kebersamaan dan juga rasa
bersosialisasi yang tinggi dengan teman sebayanya. Nilai afektif yang
lain yang dapat diambil dari permainan jamuran yaitu bahwa permainan
ini mengajarkan kekompakan dan kebersamaan. Hal tersebut dapat
dilihat pada saat mereka bergandengan melingkar, bernyanyi, dan
berputar, dan juga pada saat mereka melakukan gerakan yang diperintah
oleh anak yang dadi. Selain itu akan menumbuhkan rasa tanggung jawab
yaitu pada saat mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh pemain
untuk memperagakan sesuatu. Bagi anak yang tidak dapat bertahan dari
permainan ini, maka dia harus mau menjadi pemain dadi. Bagi yang tidak
mau di tengah menjadi pemain dadi maka dia harus bertangggungjawab
untuk memperagakan dengan baik.
Permainan Jamuran ini juga secara tidak langsung mengajarkan anak
jiwa seni yaitu dengan bernyanyi, mereka akan dapat mengenal nada-
nada yang diyanyikan dalam tembang jamuran dan menyanyikannya
dengan kompak. Dalam dolanan jamuran ini, anak-anak juga harus
mematuhi peraturan permainan dan menjaga kedisiplinan, dengan
demikian anak-anak akan diajarkan untuk taat aturan, apalagi peraturan
tersebut telah disepakati sebelumnya. Permainan ini juga melatih anak
untuk berfikir, terutama untuk anak yang berada ditengah, anak tersebut
akan berfikir akan menyuruh teman-temannya untuk menjadi jamur apa
ketika lagu selesai dinyanyikan. Anak yang dadi tersebut akan
53
memikirkan strategi supaya teman-temannya sulit melakukan gerakan
yang diminta, kemudian menggantikan posisi yang ditengah.
B. Cara Bermain
Permainan jamuran diawali dengan anak-anak berdiri dan melingkar
saling bergandengan tangan kemudian ada yang jongkok ditengah,
kemudian anak-anak menyanyikan lagu.
Contohnya yang bermain berjumlah 10 orang (A, B, C, D, E, F, G,
H, I, J). Diantara kesepuluh anak ini ada seorang yang harus jadi batang
jamur (JADI), untuk menjadikannya melalui undian, biasanya dilakukan
dengan pingsut (bahasa Jawa). Pingsut adalah menjulurkan jari tangan,
kalau banyak dimulai dengan hompimpah, saat hompimpah juga
dinyanyikan, bila tinggal dua orang hanya menjulurkan jari tangan, dan
siapa yang kalah akan JADI.
Contohnya yang JADI adalah si B, lalu A, C, D,E, F, G, H, I, dan J
membentuk barisan yang berbentuk lingkaran dengan bergandengan
tangan untuk berputar mengelilingi B yang ada di tengah. Kemudian A
sampai J tadi mulai berjalan dan terus berputar memutari B, sambil
menyanyikan tembang Jamuran.
Jamuran ya gégéthok
Jamur apa ya gégéthok
Jamur gajih mbejijih sa ara-ara
Siram badhé jamur apa
Ketika tiba di akhir lagu, A sampai J berhenti mengelilingi B.
Kemudian B menjawab pertanyaan anak-anak yang mengelilinginya.
Misalnya B menjawab pithikkluruk (ayam berkokok, red), semua anak
harus menirukan layaknya ayam berkokok. Ketika ada anak yang tidak
bisa menirukan ayam berkokok, itu artinya ia yang JADI.
54
C. Manfaat Permainan Tradisional ( Jamuran )
Dalam melakukan kegiatan permainan “Jamuran” anak dapat
berpartisipasi aktif dalam kegiatan anak dapat bermain tanpa
pengawasan orang tua, anak juga dapat mandiri bermain, lalu ia juga
dapat bersosialisasi dengan mudah dengan temannya tanpa malu-malu
lagi. Sehingga anak merasa senang dan menikmati permainan. Dalam
permainan “Jamuran” ini mayoritas anak sangat aktif dan antusias karena
pembelajaran melalui permainan “jamuran” sangat menyenangkan,
selain itu permainan jamuran tidak memakan waktu yang lama dan
sangat menyenangkan karena permainan ini sangat mudah, juga sambal
bernyanyi dan bergerak sehingga anak sangat menikmatinya.
Perkembangan keterampilan social anak berkembang lebih optimal,
melatih ketahanan fisik, mengasah kemampuan motorik anak, melatih
kerjasama, melatih kedisiplinan dan berjiwa seni.
55
BAB III
KESIMPULAN
Permainan tradisional bukanlah suatu hal yang harus dihindarkan atau dilupakan.
Permainan tradisional dapat memberikan pengaruh dan manfaat yang luar biasa bagi
perkembangan jiwa seorang anak. Sehingga dengan adanya kegiatan bermain memberikan
kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan rasa percayanya kepada orang lain dan
kemampuan dalam bernegosiasi, memecahkan masalah atau sekedar bergaul dengan orang
sekitarnya. Dengan memberi kebebasan secara seimbang untuk anak bermain bersama teman-
temannya dapat memberikan nilai positif dan bermain dapat menjadi sarana belajar guna
mengembangkan nilai kecerdasan pada anak. Tetapi, tentu saja harus dalam pengawasan dan
memberi batasan waktu yang jelas agar tidak semua waktu digunakan untuk bermain.
Permainan tradisional juga merupakan salah satu identitas sosial suatu budaya, yang mana
harus diwariskan kembali kepada generasi yang akan datang agar tidak menghilangkan nilai-
nilai budaya dan akar budaya masyarakat dari permainan tradisional tersebut sebab permainan
tradisional merupakan permainan yang masih bercirikan unsur-unsur tradisi. Permainan yang
masih bercirikan unsur-unsur tradisi memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang dapat menjadikan
anak mengenal dan mencintai budaya sendiri. Permainan tadisioanal dapat meningkatakan
kecerdasan ganda (multiple intelegent), karena melalui gerak, irama serta yang lainya anak
membentuk karakter anak sejak dini maka dari itu permainan tradisional merupakan media yng
efektif dalam menumbuhkan karakter yang baik bagi anak.
56
DAFTAR PUSTAKA
Mini. Rose, dkk. (2010). Permainan Rakyat Patok lele dan Gobag
Sodor. Jakarta:Indocamp.
Tim Dosen Ketamansiswaan. (2020). Ketamansiswaan. Yogyakarta:
UST-PRESS.
https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/24/20162241/permainan-
dakon-perkembangan-anak-dan-ki-hadjar-dewantara
Lacksana Indra. 2017. KEARIFAN LOKAL PERMAINAN
CONGKLAK SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER PESERTA DIDIK
MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH.
Satya Widya. 33(2) : 111-113.
Alkhida, TiarAsfiyatul. 2014. “Permainan tradisional congklak
berpengaruh Terhadap perkembangan kognitif anak usia dini di tk
Aisyiyah beruk 1 karanganyar “. Skripsi.Surakarta
:UniversitasMuhmmadiyah Surakarta. PendidikanAnakUsiaDini.
Ahimsha- Putra, Heddy Sri. 1998. Permainan Tradhisional Di Jawa
Dan Tantangan Dalam Era Kesejagadan Dalam Prosising Dolanan
Anak Refleksi Budaya Dan Wahana Tumbuh Kembang AnakHalaman
9-18. Yogyakarta : Plan Internasional Indonesia – LPM Sosiatri Fisipol
Ugm
Prawiroatmojo, Bausastra Jawa – Indonesia ( Jakarta, 1988), hlm 95.
Depdibud, Transformasi Nilai Melalui Permainan Rakyat Daerah
Istimewa Yogyakarta ( Yogyakarta, 1992/1993).
Ariyani, C. 1998. Pembinaan Nilai Budaya Melalui Permainan Rakyat
Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Depdikbud.
Dewantara, Ki Hajar (2009). Menuju Manusia Merdeka. Hal 44-45.
Ypgyakarta. CV Grafina Media Cipta.
UST.(2018).“Dolanan anak nusantara”. Yogyakarta, K-Media.
(https://th.bing.com/th/id/OIP.t3cVIfEtxk6RAy3vZCaHuQHaEK?pid
=Api&rs=1). Diakses pada tanggal 26 oktober 2020 22.45
57
Anggita, Gustiana Mega, dkk. 2018. Eksistensi Permainan Tradisional
Sebagai Warisan Budaya.Journal of sport science and education.Vol
(3) : 55-56.
Iswinarti, I. (2010). Nilai-nilai terapiutik permainan tradisional
engklek pada anak usia sekolah dasar. Muhammadiyah University
Malang.
Mardayani, Komang Trisna, dkk. 2016. Penerapan Permainan
Tradisional Engklek Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar
Kelompok B Di PAUD WIDHYA LAKSMI.e-Journal Pendidikan Anak
Usia Dini.Vol (4).
Prantoro, G. (2015). Pengaruh penggunaan permainan tradisional
bakiak dan engklek terhadap keterampilan sosial anak usia dini. E-
Jurnal Skripsi Mahasiswa TP.
Rochmani, I. U. (2016). Permainan Tradisional Engklek Berpengaruh
Terhadap Perkembangan Motorik Anak. A Thesis.
Sitohang, M. N. (2018). Penggunaan permainan tradisional engklek
untuk pengenalan konsep matematika sederhana pada tk ridho pekan
kamis.
Yudiwinata, Hikmah Prisia.2014. Permainan Tradisional Dalam
Budaya Dan Perkembangan Anak.Paradigma.Vol (02) : 2-3.
Tim Dosen Ketamansiswaan. (2014). KETAMANSISWAAN.
Yogyakarta. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.
Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, Bagian Pertama, Majelis Luhur
Persatuam Tamansiswa, cetakan ke-3 (edisi Revisi), Yogyakarta, 2013.
https://www.kompasiana.com/baityjannaty0390/5e0587dbd541df0b90
190bf2/permaian-tradisional-bola-bekel-dan-manfaatnya
https://www.kompasiana.com/baityjannaty0390/5e0587dbd541df0b90
190bf2/permaian-tradisional-bola-bekel-dan-manfaatnya
http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/assibyan/article/download/196
3/1640
https://id.scribd.com/doc/310483394/makalah-bola-bekel
58
Muhammad Ragil Kurniawan. 2018. Permainan tradisional
Yogyakarta sebagai sumber belajar alternatif berbasis kearifan lokal
bagi pembelajaran di sekolah dasar. Premiere Educandum: Jurnal
Pendidikan Dasar dan Pembelajaran.vol.8 No.2.
Yudiwinata, Hikmah Prisia&Handoyo, Pambudi. (2014). Permainan
tradisional dalam budaya dan perkembangan anak.
Paradigma.Volume 2 No. 3 tahun 2014.
https://www.academia.edu/38117793/PERMAINAN_TRADISIONA
L_LAYANG_LAYANG_DAN_CARA_BERMAINNYA Tim Dosen
Ketamansiswaan. Materi Kuliah Ketamansiswaan. Universitas
Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.2014
https://www.beritabaik.id/read?editorialSlug=indonesia
baik&slug=1588130326172-rangku-alu-permainan-dan-tarian-untuk
melatih-konsentrasi.
https://www.mikirbae.com/2016/05/permainan-tradisional-rangku-
alu.html
https://indonesia.go.id/ragam/seni/kebudayaan/bermain-rangku-alu-
melatih-konsentrasi
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/12/21/rangku-alu
permainan-dan-tarian-tradisional
wida catur wulandari. 2013. Implementasi Trilogi Ki Hadjar
Dewantara Dalam Kepemimpinan. Jurnal penelitian. Volume 15, No 1,
hal 2
Sujarno, dkk. 2013. Pemanfaatan Permainan Tradisional dalam
Pembentukan Karakter Anak. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai
Budaya.
Ki Hadjar Dewantara, 2009 Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta:
Leutika
59
Safitri, E. (2014) Pengaruh Permainan Tradisional Jawa “Jamuran”
Terhadap Perkembangan Keterampilan Social Anak hal 9-10 Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
UST.(2018).”Dolanan Anak Nusantara”. Yogyakarta, K-Media
https://gpswisataindonesia.info/2014/02/sejarah-permainan-
tradisional-jamuran/
https://kissparry.com/2017/03/13/permainan-tradisional-jamuran/
60
LAMPIRAN
A. Biografi Penulis : Dolanan Anak “Gobag Sodor”
KELOMPOK 1 : Siti Nurjanah (2017015141)
Nama Kelompok
Maya N (2018015006)
Raden Roro Hidayati (2018015066)
Hanifah Nur Husna (2018015324)
Anggi Wahyu Saputra (2017015016)
KELOMPOK 2 : Dolanan anak “ Congklak ”
Nama Kelompok
: Muhamad Dodo Rifai (2017015084)
Nashrun F (2017015093)
Ginza Okta P (2017015101)
Alwi Caniago (2017015118)
Frengki Pratama Saputra (2017015152)
KELOMPOK 3 : Dolanan Anak “Cublak-cublak Suweng”
Nama Kelompok
: Donny Listyanto Saputro (2017015015)
Arma Rohmawan (2017015026)
Selvi Zavanya (2017015081)
Agus Firdayanti (2017015110)
Nilla Anaffia (2018015255)
Kelompok 4 : Dolanan Anak “Engklek”
Nama Kelompok
: Aenia Mubarokah (2017015111)
Rifki Auli (2017015117)
Dedi Saputro (2017015102)
Siska Lungan (2017015102)
Nadila Khazima (2017015085)
Kelompok 5 : Dolanan Anak “Layang-layang”
Nama Kelompok
: Letizya (2018015043)
Kelompok 6
Nama Kelompok Celsie Calorien (2018015044)
Hidayahtun Nisa (2018015145)
Dewi Rana Milenia Fitri (2018015051)
Retno Nurhasanah ( 2018015054)
: Dolanan Anak “ BEKEL”
: Pungkas Bintang R (2018015415)
61
Fakhri Nur A (2018015372)
Ananda Wahyu P (2018015410)
M. Ilham (2018015373)
Afdaul Hafiz (2018015386)
Kelompok 7 : Dolanan Anak “ Rangkuk Alu”
Nama Kelompok
: Lilik Khoiroh (2017015107)
Devi Yulianti Mapota (2017015120)
Windi Hamidah (2017015116)
Mega Tia Arum (2017015119)
Suster Tina (2017015208)
Kelompok 8 : Dolanan Anak “ JARANAN”
Nama Kelompok
: Adysta Nur Febrianti (2017015140)
Alfian Putra Darmawan (2017015121)
Fenni (2017015126)
Vivi Kalvarina (2017015154)
Candra Maulana (2017015144)
Kelompok 9 : Dolanan Anak “JAMURAN”
Nama Kelompok
: Meta Rosalinda (2017015142)
Ikhsan Hadi Pranata (2017015160)
Rizal Kurniawan (2017015248)
62