E - BOOKLET
GASTROPODA & BIVALVIA
DI MANGROVE MOROSARI DEMAK
(GAVIAMORIDA)
Mar’atush Sholihah Romadho1 ni
GASTROPODA & BIVALVIA
DI MANGROVE MOROSARI DEMAK
(GAVIAMORIDA)
Mar’atush Sholihah Romadhoni
Program Studi Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Semarang
1
PRAKATA
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan e-booklet GAVIAMORIDA
(Gastropoda dan Bivalvia di Morosari Demak). Shalawat beserta salam tak lupa
pula diucapkan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi sebaik-baik
manusia untuk dicontoh akhlaknya.
Terimakasih turut saya ucapkan kepada dosen pembimbing dan dosen
validator media yang telah memberikan arahan sehingga e-booklet
GAVIAMORIDA ini dapat terselesaikan dengan baik.E-booklet GAVIAMORIDA ini
berfokus pada data hasil riset identifikasi keragaman spesies Gastropoda dan
Bivalvia di kawasan Mangrove Morosari Demak. Isinya disesuaikan dengan KI dan
KD siswa SMA agar dapat menjadi sumber belajar alternatif yang lebih
kontekstual.
Harapannya semuga e-booklet GAVIAMORIDA dapat menumbuhkan rasa
ingin tahu pada siswa SMA tentang potensi alam yang dapat dijadikan sumber
belajar alternatif lainnya. Penulis menyadari bahwa sebaik apapun e-booklet
tetaplah tidak lupat dari kekurangan. Atas kesalahan tersebut penulis meminta
maaf dan memohon saran kritik yang membangun untuk pengembangan ebooklet
selanjutnya. Terima kasih.
Semarang, .................. 2020
iii
DAFTAR ISI iii
iv
Prakata v
Daftar Isi v
Kompetensi Inti 1
Kompetensi Dasar 2
Mangrove Morosari Demak 3
Filum Mollusca 4
Kelas Gastropoda 5
Kelas Bivalvia
Cara Pengambilan Sampling 12
Gastropoda dan Bivalvia di Mangrove 13
Morosari Demak 14
15
Mytilus viridis 16
Littorina carinifera 17
Telescopium Telescopium 18
Cassidula nucleus 19
Cerithidea cingulate 20
Cerithidea obtuse 21
Cerithium kobelti 22
Terebralia sulcate 23
Bellamya javanica 24
Pila scutata 25
Pila ampullaceal 26
Pleuroploca filamentosa 27
Latihan Soal
Daftar Pustaka
Biografi Penulis
iv
KOMPETENSI INTI
KI 3 : Memahami dan menerapkan pengetahuan factual, konseptual,
procedural, dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,
dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan.
KOMPETENSI DASAR
KD 3.8 : Menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan hewan ke dalam
filum berdasarkan pengamatan anatomi dan morfologi serta
mengaitkan peranannya dalam kehidupan.
v
MANGROVE MOROSARI DEMAK
Area Kebun, Bedono, Ekosistem estuari memiliki biodiversitas yang
Sayung, Demak tinggi, termasuk makrozoobentos, yaitu organisme
dasar perairan yang hidup di atas atau di dalam
sedimen dasar perairan. Hutan mangrove adalah
hutan yang secara teratur tergenang oleh air laut
akibat pengaruh dari pasang surut air laut .
Ekosistem mangrove berperan sebagai penahan
erosi, perangkap sedimen, pendaur hara,
pelindung berbagai jenis binatang, tempat
pemijahan berbagai jenis ikan dan udang, serta
penopang ekosistem pesisir lainnya.
Site Penelitian Kawasan Morosari dulunya adalah pemukiman
padat penduduk, tetapi dikarenakan proses abrasi
Kawasan Mangrove Morosari merupakan bagian dari pesisir yang parah, sebagian besar wilayahnya
utara Laut Jawa, dan terletak di Desa Bedono, Kecamatan terendam air. Penduduk desa mengatasi masalah
Sayung, Kabupaten Demak. Pantai tersebut membentuk kawasan rob dengan membuat rumah panggung agar air
estuari dengan ekosistem hutan mangrove. Habitat yang terdapat tidak masuk ke dalam rumah. Namun, hal ini
di bagian estuari sebagian besar didominasi oleh substrat yang masih sering terjadi, sehingga masyarakat
berlumpur. Ekosistem estuari berfungsi sebagai tempat hidup, melakukan penanaman mangrove di sekitar Desa
berkembang biak, dan mencari makan bagi organisme Bedono sejak tahun 2004. Program tersebut
sekitarnya. diinisiasi oleh OISCA, salah satu organisasi yang
bergerak di bidang lingkungan. Berbagai elemen
masyarakat pun mulai tergerak untuk turut serta
dalam penyelamatan Desa Bedono melalui
penanaman mangrove.
1
FILUM MOLLUSCA Berbagai jenis mollusca dapat dimanfaatkan
dalam kehidupan manusia, seperti:
Mollusca berasal dari bahasa Yunani yang berarti lunak. • sebagai bahan makanan (cumi-cumi, kerang,
Filum Mollusca merupakan kelompok hewan triploblastik
selomata dan invertebrata dengan tubuh lunak dan sotong)
mulstiseluler yang hidup di daratan dan perairan seperti • sebagai perhiasan (kerang dan tiram)
laut, air tawar, maupun air payau. Berbagai jenis hewan • sebagai obat maag (cangkang kerang laut)
seperti siput, kerang, cumi-cumi, kiton, dan hewan lunak
lainnya dengan ataupun tanpa cangkang termasuk dalam Klasifikasi Mollusca:
filum mollusca. Mollusca merupakan hewan hermaprodit • Amphineura: jenis primitif dengan tubuh simetri
dengan kelamin ganda pada satu individu, namun ada
juga yang terpisah, sehingga cara reproduksinya dengan bilateral dan berinsang dalam rongga
fertilisasi internal. Mollusca merupakan salah satu filum mantelnya, contoh: chiton
dari kerajaan binatang yang terbesar kedua setelah • Scaphopoda: jenis dengan cangkang tajam
Arthropoda. Pada cabang ilmu zoologi yang mempelajari seperti terompet, memiliki khaki kecil dan
mollusca disebut dengan malakologi (malacology). tentakel di kepala, serta tidak berinsang,
contoh: Dentalium vulgare
Macam-macam Mollusca • Gastropoda: hewan yang memakai perutnya
sebagai kaki,contoh: siput
• Cephalopoda: hewan yang memakai
kepalanya sebagai alat gerak, contoh: cumi-
cumi
• Pelecypoda (Bivalvia): hewan bercangkang
dengan kaki seperti kapak pada anteriornya
yang memiliki sistem saraf dan otak, contoh:
kerang mutiara (Meleagrina), tiram (Ostrea),
kerang raksasa (Generosa), dan kijing
(Anadonta).
2
KELAS GASTROPODA
Anatomi Gastropoda Gastropoda merupakan hewan dari kelas taksonomi
dalam filum Mollusca yang bertubuh lunak dan berjalan
Sumber: pendidikan.co.id diakses 9/11/2020 dengan menggunakan perut. Gastropoda berasal dari
bahasa Yunani terdiri dari kata gaster berarti perut dan
Morfologi Cangkang Gastropoda podos berarti kaki. Gastropoda biasa dikenal sebagai
siput dan segala macam jenisnya yang hidup di seluruh
Sumber: pendidikan.co.id diakses 9/11/2020 permukaan bumi baik di darat, air tawar, air payau, dan
air laut.
Ciri-ciri Gastropoda:
• Tripoblastik selomata;
• Simetri bilateral;
• Memiliki cangkang tunggal (univalve) berbentuk kerucut
dan berpilin/ spiral, namun ada yang tidak
bercangkang disebut siput telanjang karena proses
evolusi
• Gerakannya disebabkan kontraksi otot dari bagian
belakang ke bagian depan
• Memiliki sepasang tentakel panjang untuk
membedakan gelap terang dan tentakel pendek
sebagai indra peraba dan pembau.
Tipe cangkang gastropoda ini terdiri dari 17 tipe
diantaranya : tipe conical, biconical, obconical, turreted,
fusiform, patelliform, spherical, ovoid, discoidal, involute,
globose, lenticular, obovatus, bulloid, turbinate, cylindrical
dan trochoid.
3
KELAS BIVALVIA Bivalvia atau Pelecypoda merupakan kelas
hewan terbesar kedua pada filum Mollusca
Anatomi Bivalvia yang bertubuh lunak dan memiliki kaki
berbentuk seperti kapak. Bivalvia memiliki arti
Sumber: pendidikan.co.id diakses 9/11/2020 dua daun pintu karena memiliki sepasang
cangkang berengsel yang dapat terbuka dan
Morfologi Cangkang Bivalvia tertutup.
Sumber: pendidikan.co.id diakses 9/11/2020 Karakteristik Bivalvia yaitu:
• Memiliki cangkang berengsel dengan otot
aduktor untuk menutup rapat cangkang
dalam melindungi tubuh lunaknya
• Cangkang berbentuk simetri bilateral
• Tidak memiliki kepala dan radula
• Memiliki ctenidium, yaitu insang berlapis-
lapis untuk menyaring makanan dan
bernafas
• Terdapat saluran air untuk masuk dan keluar
disebut sifon
Susunan Cangkang Bivalvia terdapat 3 lapis:
• Ostrakum : lapisan berkapur bagian tengah
• Periostrakum : lapisan terluar yang tahan
dari goresan
• Nakreas/ lapisan mutiara: lapisan dalam
bertekstur halus
4
CARA PENGAMBILAN SAMPLING
DI MANGROVE MOROSARI DEMAK
59
Tahapan Sampling
Sebelum melakukan tahapan sampling, perlu dilakukan pengamatan lapangan (survey awal) yang meliputi
informasi tentang kondisi kawasan hutan mangrove, komposisi tegakan hutan serta keadaan pasang surut
(Fachrul, 2007). Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah dalam pengambilan sampel. Kondisi hutan
mangrove umumnya lebat dan berawa-rawa, sehingga memerlukan usaha cukup keras dan strategi yang tepat.
Waktu pelaksanaan tahapan sampling yang paling baik adalah saat kondisi air surut dalam waktu cukup lama
(kisaran 2-3jam).
Pemantauan mangrove tidak membutuhkan sumber daya manusia dalam jumlah banyak, minimal 2 orang yang
terdiri dari satu orang peneliti/pimpinan grup yang merupakan SDM terlatih dan satu orang teknisi/pembantu
teknis. Namun demikian kegiatan survey awal (to) membutuhkan 1 orang teknisi tambahan karena memiliki
tahapan pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan survey berikutnya (tn).
Tabel 1. Rincian jumlah SDM yang dibutuhkan untuk tahapan sampling Gastropoda dan Bivalvia.
No Fungsi Jumlah SDM Tugas
to tn
1. Penliti/Tenaga terlatih Pengambilan foto, identifikasi jenis, pencatatan hasil
11 sampling dan pengukuran parameter lingkungan (suhu,
salinitas, pH, substrat)
2. Teknisi/Tenaga Lokal 2 1 Pembuatan transek, penandaan lokasi (khusus to),
pemeliharaan tanda, dan pengukuran data kuantitatif.
3. Tukang Perahu 1 1 Transportasi dilapangan
6
Tahap Persiapan
Checklist Peralatan Sampling Pada tahap persiapan ada beberapa langkah kerja yaitu:
a) Menyiapkan surat izin penelitian.
Perlengkapan pribadi b) Menyiapkan peralatan sampling yang digunakan.
Baju lengan panjang c) Melakukan survey awal (pengamatan lapangan).
Celana panjang d) Menentukan lokasi pencuplikan dan waktu penelitian.
Kamera e) Membuat kuadrat bujur sangkar dengan ukuran 1x1m.
Plastik klip & label f) Memasang garis transek berupa bentangan tali rafia sejauh
100m yang sebelumnya telah ditandai dengan penanda tali
Peta lokasi pengamatan warna berbeda disetiap jarak 20m. Tanda tersebut dijadikan
Buku identifikasi Gastropoda & Bivalvia patokan untuk meletakkan kuadrat.
Global Position System (GPS) receiver
Meteran panjang (50m) Panjang transek 100m
Tali raffia (2 gulung)
Kertas tahan air (Newtop) a
Pensil 2B/4B 20m 20m
Thermometer
Salinometer (Refractometer) Gambar ilustrasi pemasangan garis transek dengan metode Line transek dengan
pH meter panjang garis transek 100m. Ada 5 stasiun dengan 5 plot disetiap stasiun, sehingga
P3K dan obat-obatan total cuplikan ada 25plot. Jarak antar stasiun berkisar 20m. Gambar (a) adalah
kuadrat bujur sangkar yang terbuat dari bambu dengan ukuran 1x1m. Kuadrat
tersebut yang digunakan sebagai plot. Gastropoda dan Bivalvia yang diidentifikasi
adalah yang terdapat di dalam plot.
7
Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, kegiatan berfokus pada:
1. Pelacakan lokasi pencuplikan kuadrat dengan bantuan GPS receiver.
2. Pengukuran data lapangan seperti suhu, pH, salinitas, dan jenis substrat
3. Penghitungan jumlah spesies yang terdapat pada setiap kuadrat.
4. Pengambilan sampel jenis Gastropoda dan Bivalvia dengan plastik klip dan
kertas label
5. Pencatatan data dengan panduan format seperti pada tabel 2.
6. Analisis data guna menghitung kelimpahan dan keanekaragaman
Gastropoda serta Bivalvia.
Tabel 2. Contoh penulisan data spesies yang ditemukan dilapangan. Gambar tahapan pelaksanaan dan pengambilan sampling
Stasiun
No Kode I II III IV V
Jenis
1234512345123451234512345
1. G1 8 6 5 7 7 - 5 8 6 9 - 5 8 5 7 3 4 4 5 4 - 8 7 5 6
2. G2 6 9 4 4 5 7 9 5 5 5 4 6 7 5 3 7 8 7 6 - 4 6 7 5 4
Data untuk selanjutnya dianalisis nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansinya.
a. Indeks Keanekaragaman dengan b. Indeks Keseragaman dihitung c. Indeks Dominansi dihitung
persamaan Shanon-Wiener: dengan persamaan berikut: dengan persamaan berikut:
Dengan: ′
E = ( )
′ = − . C = ( )2
=1 =1
ni= nilai tiap individu ke-i 8
N=jumlah total semua individu
= S=jumlah spesies yang ditemukan
Tahap Pelaporan Data
AB CD E F G
1 Stasiun I Data kemudian dihitung dengan bantuan Ms. Excel.
N Nama 1. Tabel berikut adalah tampilan setelah kode jenis
2 o Spesies n = Ln ( ) − .Ln( ) ( )2 spesies diidentifikasi dan penghitungan kuadrat 5
plot disederhanakan dengan cara menjumlahkan tiap
individu di setiap stasiun.
3 1 Littorina 33 =C3/C$14 =LN(D3) =-D3*E3 =(D3)^2 2. Tabel disamping telah menjabarkan rumus Excel
carinifera yang dapat digunakan untuk menghitung (Pi), (Ln Pi),
+4 (H’), dan (E) pada Stasiun 1 dengan Ms.Excel.
2 Telescopium 28 3. Rumus indeks Diversity (H’) dapat dicari setelah
telescopium mengetahui nilai Pi. Pi jika dihitung dengan Ms.Excel
maka cukup dengan rumus pembagian antara yang
5 3 Cassidula 33 ada pada kolom nilai n dan kolom total N, maka
nucleus ditulis “=C3/C$14”. Tanda string $ ditambahkan
dengan tujuan agar nilai yang jadi pembagi tetap
6 4 Cerithidea 32 yaitu (S) pada kolom “C14”.
cingulata 4. Nilai (H’) untuk Stasiun 1 dapat dicari dengan
menjumlahkan semua hasil (H’) dari seluruh spesies
7 5 Bellamya 9 di stasiun 1 (dari F3 sampai dengan F12). Nilai H’
javanica tampak pada kolom kuning.
5. Rumus kemerataan spesies tampak pada kolom biru
8 6 Cerithidea 35 yang merupakan hasil bagi dari (H’)/Ln (S). Rumus
obtusa Excel tampak pada kolom biru dengan F13 adalah
H’, sedangkan C14 adalah S (jumlah spesies yang
9 7 Cerithium 20
kobelti
10 8 Pleuroploca 8
filamentosa
11 9 Terebralia 24
sulcata
12 10 Pila scutata 5 H’ =SUM(F3:F12) ditemukan pada stasiun 1).
13 N = 233 C=SUM(G3:G12)
14 S = 10 6. Rumus indeks dominansi dapat diketahui dengan
E=F13/LN(C14) menjumlahkan semua hasil (Pi)2 dari seluruh spesies
pada stasiun 1 dari kolom G3 sampai G12.
9
Tahap Representasi Data
Data hasil penghitungan yang diperoleh untuk kemudian dianalisis kriterianya berdasarkan keterangan berikut.
1. Hasil penghitungan indeks keanekaragaman (H’) dapat diklasifikan dengan kriteria dibawah ini:
Indeks Keanekaragaman Kriteria Keanekaragaman
′ < 0,8 Keanekaragaman rendah
Keanekaragaman sedang
0,8 ≤ ′ ≤ 1,4 Keanekaragaman tinggi
′ > 1,4
2. Hasil indeks keseragaman (E) dapat diklasifikasikan seperti tabel berikut:
Indeks Keanekaragaman Kriteria Kemerataan
0 < < 0,4 Kemerataan rendah
0,4 < < 0,6 Kemerataan sedang
> 0,6 Kemerataan tinggi
3. Nilai hasil indeks dominansi (C) berada di rentang 0 – 1. Jika nilai C mendekati angka 0 berarti tidak
terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil. Jika nilai C
mendekati angka 1 berarti terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam
keadaan labil. Faktor abiotik seperti suhu, pH, salinitas, dan jenis substrat juga berpengaruh terhadap adanya
dominansi, keseragaman serta persebaran makhluk hidup di wilayah tersebut.
10
LATIHAN SOAL
Tabel berikut adalah data hasil pengambilan sampling. Analisislah bagaimana indeks
keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi (C) pada komunitas Gastropoda tersebut!
No Nama Spesies n − . ( ) ( )2 Berikut adalah rumus dari ketiga indeks:
1 Littorina carinifera 28 a. Indeks Keanekaragaman dengan
2 Telescopium telescopium 31 C=
3 Cassidula nucleus 39 persamaan Shanon-Wiener:
4 Cerithidea cingulata 40
5 Bellamya javanica 8 =
6 Cerithidea obtusa 28
7 Cerithium kobelti 22 ′ = − .
8 Pleuroploca filamentosa 4
9 Terebralia sulcata 27 =1
10 Pila scutata 4
11 Pila ampullacea 4 Dengan:
ni= nilai tiap individu ke-i
N=jumlah total semua individu
b. Indeks Keseragaman
′
E = ( )
Dengan:
H’ = indeks Keanekaragaman
S = jumlah spesies yang ditemukan
c. Indeks Dominansi =
C = ( )2
=1
H’ = E = Dengan:
ni= nilai tiap individu ke-i
N= jumlah total semua individu
Kesimpulan:
11
GASTROPODA & BIVALVIA
DI MANGROVE MOROSARI DEMAK
12
Mytilus viridis
KLASIFIKASI : Animalia Dokumentasi Peneliti, 2018
Kingdom : Mollusca
Filum : Bivalvia id.wikipedia.org diakses 10/11/2020
Kelas : Mytilida
Ordo : Mytilidae 13
Famili : Mytilus
Genus : Mytilus viridis (Linnaeus, 1758)
Spesies
DESKRIPSI
Mytilus viridis atau yang dikenal dengan Perna viridis (Linnaeus, 1758) adalah
spesies kerang hijau. Hewan ini bercangkang dua, berwarna hijau, hidup di
laut, serta ditemukan melimpah pada perairan pesisir dan mangrove dengan
substrat pasir lumpur dan salinitas yang tidak terlalu tinggi. Perna viridis hidup
bergantung pada ketersediaan fitoplankton, zooplankton, dan material kaya
bahan organik karena hidupnya menetap (sesil). Perna viridis juga termasuk
dalam kelompok suspension feeder, sehingga untuk mendapatkan makanan
yang terlarut dalam air adalah dengan menyaring airnya terlebih dahulu. Cara
hidup Perna viridis adalah dengan bergerombol dan menempel kuat
menggunakan benang byssus pada benda keras, seperti kayu, bambu, batu,
atau substrat yang keras.
Littorina carinifera
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Littorinimorpha
Ordo : Littorinidae
Famili : Littorina
Genus : Littoraria carinifera (Menke, 1830)
Spesies
Dokumentasi Peneliti, 2018
DESKRIPSI
Littorina carinifera adalah spesies dari kelas gastropoda yang umumnya hidup
di bakau/ mangrove. Hewan ini bercangkang seperti piramidal yang
menunjukkan sedikit modifikasi, yaitu spire membentuk struktur menonjol yang
dikenal sebagai carina. Berdasarkan struktur tersebut Littoraria carinafera
dibedakan dari Littoraria scubra. Berdasarkan keberadaan carina tersebut,
diturunkan nama spesifik – carinafera (Karyanto, P, dkk, 2003).
www.gastropods.com diakses 10/11/2020
14
Telescopium telescopium
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Caenogastropoda
Ordo : Potamididae
Famili : Telescopium
Genus : Telescopium telescopium (Linnaeus, 1758)
Spesies
DESKRIPSI Dokumentasi Peneliti, 2018
Telescopium telescopium merupakan gastropoda pada famili Potamididae yang
Dokumentasi Peneliti, 2018
memiliki cangkang berukuran relatif besar (10-15 cm) dan tebal namun tidak
berrigi-rigi aksial. Cangkang berbentuk kerucut memanjang, apex runcing, dan 15
putaran cangkang dekstral. Spirenya berwarna coklat gelap pada bagian unit
whorl dan semakin terang ke arah apex. Columella tebal, membelit, dan
berwarna cokelat gelap. Habitat hewan ini ditemukan dalam substrat berlumpur
di ekosistem mangrove dan secara umum berada di perairan payau dengan
salinitas tinggi (Arbi, 2014 dalam Wahyuni S, dkk, 2016)
Cassidula nucleus
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Ellobiida
Ordo : Ellobiidae
Famili : Cassidula
Genus : Cassidula nucleus (Gmelin, 1791)
Spesies
DESKRIPSI Dokumentasi Peneliti, 2018
Cassidula nucleus merupakan gastropoda asli mangrove yang
Dokumentasi Peneliti, 2018
memanfaatkan mangrove sebagai habitatnya yang ditemukan menempel
pada akar dan batang mangrove (Rusnaningsi, 2012). Menurut Islami 16
(2015), Cassidula nucleus merupakan gastropoda yang berasosiasi
dengan mangrove yang keberadaannya sangat ditentukan oleh vegetasi
mangrove, terutama mangrove yang lebih tua.
Cerithidea cingulata
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Caenogastropoda
Ordo : Potamididae
Famili : Cerithidea
Genus : Cerithideopsilla cingulata (Gmelin, 1791)
Spesies
Dokumentasi Peneliti, 2018
DESKRIPSI
Cerithidea cingulata atau Cerithideopsilla cingulata (Gmelin, 1791)
merupakan hewan dari kelas gastropoda yang dapat ditemukan di pantai
dengan tekstur lumpur dengan kedalaman sekitar 453-620 cm (Riniatsih
dan Kushartono, 2009). Menurut Carpenter dan Niem (1988) menyatakan
bahwa habitat dari famili Potamididae merupakan daerah estuari yang
berlumpur, dan daerah mangrove atau rawa dekat garis pasang tertinggi.
Dokumentasi Peneliti, 2018
17
Cerithidea obtusa
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Caenogastropoda
Ordo : Potamididae
Famili : Cerithidea
Genus : Cerithidea obtusa (Lamarck, 1822)
Spesies
DESKRIPSI Dokumentasi Peneliti, 2018
Cerithidea obtusa merupakan bagian dalam kelas gastropoda yang
Dokumentasi Peneliti, 2018
memiliki bentuk ukuran cangkang panjang berbentuk kerucut, tebal, dan
bagian luarnya terdapat ornamen berupa rusuk-rusuk aksial dan spiral. 18
Jumlah whorl 7-8 yang berbentuk cembung, spire berjumlah banyak, apex
tumpul dan memiliki suture agak dalam. Warna cangkang cokelat, atau
cokelat keunguan pudar, aperture lebar-tebal-membulat berwarna putih
dan columella cokelat terang. Hewan ini biasa ditemukan di atas substrat,
di akar dan batang tumbuhan mangrove.
Cerithium kobelti
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Caenogastropoda
Ordo : Cerithiidae
Famili : Cerithium
Genus : Cerithium kobelti (Dunker, 1877)
Spesies
DESKRIPSI Dokumentasi Peneliti, 2018
Cerithium kobelti merupakan hewan anggota dari kelas Gastropoda karena
Dokumentasi Peneliti, 2018
memilik cangkang tunggal yang terpilin membentuk spiral. Otot pada bagian
ventral tubuh berperan sebagai kaki atau alat gerak. Berlokomosi dengan cara 19
merayap menggunakan kaki. Tektur cangkangnya kasar. Ukurannya sekitar ±
1,5 - 2 cm. Warna cangkangnya putih dan coklat. Mempunyai putaran dekstral.
Mulut cangkang berbentuk lonjong dan bagian puncak lancip. Habitatnya di
perairan laut, biasanya menempel pada permukaan atau batu karang.
(http://alfiapunyainfo.blogspot.com/2011/04/v-behaviorurldefaultvml-o.html diakses 11 november
2020)
Terebralia sulcata
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Caenogastropoda
Ordo : Potamididae
Famili : Terebralia
Genus : Terebralia sulcata (Born, 1778)
Spesies
DESKRIPSI Dokumentasi Peneliti, 2018
Terebralia sulcata merupakan salah satu jenis gastropoda yang
20
berasosiasi dengan mangrove dan memiliki kemampuan dalam memecah
atau menghancurkan daun mangrove yang baru jatuh untuk dimakan
(Slim et al. 1997; Pramudji 2001; Wells 2003; Fratini et al. 2004).
Terebralia merupakan spesies yang aktif baik dalam keadaan air laut
pasang maupun keadaan ketika air laut surut (Fratini et al. 2001). Tue et
al. (2012) menyatakan bahwa T. sulcata dengan ukuran yang lebih besar
dari 3 cm aktif mengonsumsi daun mangrove. Terebralia sulcata ukuran
kecil lebih banyak mengonsumsi fitoplankton laut, sedangkan T. sulcata
dewasa lebih banyak mengonsumsi mangrove.
Bellamya javanica
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Viviparoidea
Ordo : Viviparidae
Famili : Filopaludina
Genus : Bellamya javanica (von dem Busch,1844)
Spesies
Dokumentasi Peneliti, 2018
DESKRIPSI
Bellamya javanica atau dikenal sebagai siput tutut merupakan jenis keong
dalam kelas gastropoda yang digemari masyarakat dengan kandungan
protein hewaninya yang tinggi. Bellamya javanica biasanya ditemukan di
perairan tawar seperti pada sawah atau sungai. Siput tutut sering
dikonsumsi sebagai sumber protein yang murah dan mudah didapat,
terutama di pedesaan (Sulianti, 2008 dalam Sari WP dkk, 2016)
www.wikimedia.org diakses 10/11/2020
21
Pila scutata
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Archaeogastropoda
Ordo : Ampullaridae
Famili : Pila
Genus : Pila scutata (Mousson, 1848)
Spesies
reeflifesurvey.com
DESKRIPSI
Pila scutata merupakan hewan dari kelas gastropoda yang memiliki
cangkang tinggi 50 mm dengan diameter 40 mm dengan sulur tinggi dan
berundak. Warna cangkang hijau kehitaman atau kecoklatan sampai
kekuningan yang dihiasi sabuk-sabuk lingkar coklat. Operkulum lonjong,
tebal, dan keras, coklat kelabu, agak cekung, bergaris-garis konsentrik
dengan intinya agak tepi. Hewan ini hidup menempel di bebatuan dan
lumpur berpasir yang biasanya ditemukan di danau, rawa, kolam, sungai
dengan arus lambat sampai ketinggian 1000 mdpl. (Apmayasari, A.,
dkk., 2015)
Dokumentasi Peneliti, 2018
22
Pila ampullacea
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Architaenioglossa
Ordo : Ampullariidae
Famili : Pila
Genus : Pila ampullacea (Linnaeus, 1758)
Spesies
shutterstock.com
DESKRIPSI
Pila ampullacea merupakan hewan jenis gastropoda dikenal sebagai
keong sawah atau siput air, keong gondang, siput sawah, siput air, atau
tutut yang mudah dijumpai di perairan tawar Asia tropis seperti sawah,
parit, dan danau. Hewan bercangkang ini berbentuk seperti kerucut
membulat dengan warna hijau-kecokelatan atau kuning kehijauan dengan
seluk cembung berjumlah 6-7. Memiliki operculum agak bundar telur,
tipis, agak cekung, coklat kehitaman untuk melingungi tubuh lunaknya di
dalam cangkang.
Dokumentasi Peneliti, 2018
23
Pleuroploca filamentosa
KLASIFIKASI : Animalia
Kingdom : Mollusca
Filum : Gastropoda
Kelas : Neogastropoda
Ordo : Fasciolariidae
Famili : Pleuroploca
Genus : Pleuroploca filamentosa
Spesies
(Röding, 1798)
reeflifesurvey.com
DESKRIPSI Dokumentasi Peneliti, 2018
Pleuroploca filamentosa atau dikenal juga Filifusus filamentosus
24
merupakan spesies siput laut dalam kelas gastropoda yang cara
makannya bersifat karnivora (Cappenberg, HAW dan Wulandari, DA,
2019). Hewan ini berbentuk seperti siput gelendong, siput tulip, dan
sekutunya yang sedikit sekali ditemukan dan sebarannya yang terbatas.
Selain itu hewan ini mirip dengan P. trapezium, tetapi dengan cangkang
dan kanal siphonal yang jauh lebih panjang hingga 15 cm. Warna
terang sampai coklat tua dengan pola garis spiral yang padat.
Habitatnya berada di batuan dangkal atau daerah lamun yang
terdistribusi pada daerah Indo-Pasifik (Richmond, 1997).
LATIHAN SOAL a. c.
b.
Pasangkan deskripsi dari jenis spesies yang dimaksud pada kunci d. e.
determinasi dengan gambar dan nama makhluk hidup di dalam kotak! f. g.
1. a. Hewan ini memiliki kaki perut, dengan atau tanpa satu cangkang yg 25
berpilin dan memiliki kerucut …..… lanjut ke no 2
b. Hewan ini memiliki kaki kapak, dan dua cangkang di kedua sisi hewan
dengan engsel dibagian dorsal ……………...… i
2. a. Habitat hidupnya di air laut ……………………. ii
b. Habitat hidupnya di air tawar ……. lanjut ke no 3
c. Habitat hidupnya di air payau …… lanjut ke no 4
3. a. Badan cangkang berwarna terang dengan motif bercak merah kecoklatan
yang berpola ………. iii
b. Badan cangkang berwarna coklat kehitaman dengan motif garis
melintang ……… iv
4. a. Tinggi cangkang rata-rata 7-12cm, tebal, dan hidup di permukaan
berlumpur ………. v
b. Tinggi cangkang rata-rata 2,5-5cm, memiliki rusuk-rusuk aksial dengan
warna coklat kehitaman, dan sering ditemukan menempel pada pohon
bakau……… lanjut ke no 5
5. a. Aperture tebal, membulat dan memiliki lapisan putih dibagian
pinggir………. vi
b. Aperture membulat namun tidak tebal……… vii
Mytilus viridis Pila ampullacea Pleuroploca filamentosa Cerithidea obtusa
Pila scutata Bellamya javanica Telescopium telescopium Cerithidea cingulata
DAFTAR PUSTAKA
Apmayasari, A., Mahatma, R., Khairijon. 2015. “Komunitas Makrozoobentos di Sungai Batang Lubuh Kecamatan
Rambah Kabupaten Rokan Hulu”. JOM FMIPA 2(1): 200-210
Cappenberg, H.A.W. dan Wulandari, D.A., 2019. “Struktur Komunitas Moluska di Padang Lamun Perairan Pulau
Belitung Provinsi Bangka Belitung“. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis 11(3): 735-750
Islami, M.S. 2015. Distribusi Spasial Gastropoda dan Kaitannya dengan Karakteristik Lingkungan di Pesisir Pulau
Nusalaut, Maluku Tengah. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 7(1): 365-378.
Karyanto, P., Maridi, Indrowati, M., 2003. “Variasi Cangkang Gastropoda Ekosistem Mangrove Cilacap sebagai
Alternatif Sumber Pembelajaran Moluska;Gastropoda”. BIOEDUKASI 1(1):1-6
MolluscaBase eds. (2020). MolluscaBase: World Register of Marine Species. www.marinespecies.org diakses 9
November 2020
Pak Guru. 2020. Pengertian Gastropoda. https://pendidikan.co.id/pengertian-gastropoda/ diakses 9 November 2020
Riniatsih, I. dan Kushartono, E.W., 2009. “Substrat Dasar dan Parameter Oseanografi Sebagai Penentu Keberadaan
Gastropoda dan Bivalvia di Pantai Sluke Kabupaten Rembang”. Ilmu Kelautan 14(1): 50-59
Rusnaningsi. 2012. Struktur Komunitas dan Studi Populasi Cerithidea obtuse Lamarck 1822 di Hutan Mangrove Pangkal
Babu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi. Tesis. Depok: Universitas Indonesia.
Sari, W.P., Bahtiar, Emiyarti. 2016. “Studi Preferensi Habitat Siput Tutut (Bellamya javanica) di Desa Amonggedo
Kabupaten Konawe”. Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan, 1(2): 213-224
Sholhah, A. 2011. https://alfiapunyainfo.blogspot.com/2011/04/v-behaviorurldefaultvml-o.html diakses 11 November
2020
Wahyuni S., Purnama, A.A., Afifah, N., 2016. “Jenis-Jenis Moluska (Gastropoda dan Bivalvia) pada Ekosistem
Mangrove di Desa Dedap Kecamatan Tasikputripuyu Kabupaten Kelupauan Meranti, Riau”. Jurnal Mahasiswa FKIP
Prodi Pendidikan BIOLOGI 2(1): 15
26
BIOGRAFI PENULIS
MAR’ATUSH SHOLIHAH ROMADHONI
Seorang mahasiswi Magister Pendidikan Biologi Universitas
Negeri Semarang yang akrab dipanggil Oni. Lahir di
Semarang, 19 Maret 1991. Saat ini telah berkeluarga dan
memiliki 2 orang anak, sehingga statusnya selain sebagai
seorang mahasiswa juga seorang ibu. Selain itu, Oni
menerapkan ilmunya melalui pembelajaran ekstrakulikuler di
SD Nashima Semarang. Ketertarikan akan ilmu biologi
membuatnya terjun ke alam dan berjuang
mendokumentasikan biota-biota laut, terutama Mollusca pada
kelas Gastropoda dan Bivalvia. Melalui booklet inilah Beliau
menyebarkan ilmu pengetahuannya dan semoga bermanfaat.
27
33