MODUL PELATIHAN
HAND PAINTING
untuk
EKSTRAKURIKULER SEKOLAH
MENENGAH ATAS DAN KEJURUAN
Dr.MOH.HURI,S.Pd,M.Pd,M.Sn,M.Art 2022
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang
telah memberi kemampuan dan kemudahan sehingga penulis
mampu menyelesaikan Modul Pelatihan Hand Painting.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan
terimakasih atas segala dukungan, bimbingan, dan bantuan dari
beberapa pihak.
Modul pelatihan ini sebagai alat bantu peserta pelatihan
untuk mempelajari materi tentang hand painting, alat dan bahan
dalam pembuatan hand painting, teknik dasar hand painting serta
langkah-langkah pembuatan hand painting.
Modul ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
bersifat membangun demi kesempurnaan modul pelatihan ini.
Surabaya, April 2022
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................... iii
GLOSARIUM .................................................................................v
PENDAHULUAN
A. Kompetensi Dasar .......................................................................... 1
B. Deskripsi ............................................................................................. 1
C. Alokasi Waktu .................................................................................. 1
D. Prasyarat............................................................................................. 2
E. Materi Pokok Pelatihan................................................................ 2
F. Manfaat Modul Bagi Peserta Pelatihan ................................. 2
G. Petunjuk Penggunaan Modul .................................................... 2
H. Tujuan Akhir..................................................................................... 3
PEMBELAJARAN I KONSEP HAND PAINTING
A. Tujuan Pembelajaran...................................................................... 4
B. Uraian Materi ................................................................................... 4
1. Pengertian Hand Painting ...................................................... 4
2. Warna .............................................................................................. 5
3. Pemilihan Bahan dan Alat Hand painting.....................9
C. Rangkuman .....................................................................................15
D. Tes Formatif.....................................................................................16
E. Kunci Jawaban ...............................................................................16
PEMBELAJARAN II TEKNIK DASAR HAND PAINTING
A. Tujuan Pembelajaran....................................................................17
B. Uraian Materi .................................................................................17
1. Teknik Dasar Memegang Kuas...........................................17
2. Sapuan Kuas...............................................................................18
3. Persiapan Dasar Melukis ......................................................25
4. Langkah-langkah Pembuatan .............................................27
C. Rangkuman .....................................................................................31
D. Tugas..................................................................................................31
iii
E. Tes Formatif..................................................................................... 31
F. Kunci Jawaban ...............................................................................32
G. Lembar Kerja Praktik ...................................................................33
EVALUASI
A. Kognitif Skill....................................................................35
B. Attitude Skill ....................................................................35
C. Psikomotor Skill ..............................................................35
D. Produk Sesuai Kriteria .................................................................35
E. Batas Waktu.....................................................................................35
F. Kunci Jawaban ...............................................................................36
DAFTAR PUSTAKA............................................................................ 38
PENUTUP ...............................................................................................39
iv
GLOSARIUM
Kata Arti
Bristle Kuas bulu sintetis
Pusat perhatian yang pertama kali
Center of interest membawa mata pada sesuatu yang
penting dalam suatu rancangan
dyestuff Jenis pewarna yang harus ditimbulkan
atau dikuatkan dengan cara di uap atau
fiksasi dengan panas tinggi
Proses menimbulkan warna dan
Flat brush melekatkan cat ke kain dengan cara
Gutta resist dipanaskan
Hue Kuas yang memiliki ujung pipih
Alat yang digunakan untuk membuat
Pallete garis pingir atau garis batas warna
Round brush (outline)
Suatu istilah yang dipakai untuk
Sable membedakan suatu warna dengan warna
Spanraam yang lainnya
Spotter brush
Wadah untuk menempatkan cat
Kuas yang memiliki ujung bulat
Kuas bulu asli
Alat bentangan untuk melukis di atas kain
Kuas yang memiliki ujung kecil dan lancip
v
PENDAHULUAN
A. Kompetensi Dasar
Menerapkan teknik menghias kain (hand painting)
B. Deskripsi
Modul pelatihan ini merupakan modul dasar dalam
mempelajari salah satu teknik menghias, yaitu melukis di kain
atau biasa disebut dengan hand painting. Di dalam modul
pelatihan ini diuraikan tentang konsep hand painting, konsep
warna dan desain, langkah-langkah pembuatan hand painting
serta teknik yang digunakan.
Hand painting merupakan karya seni lukis yang
mengapresiasikan kreativitas seseorang melalui bidang dua
dimensi (diatas kain). Hand painting dilakukan menggunakan
teknik lukis manual (dengan tangan dan kuas sebagai alatnya),
menghasilkan hiasaan lukisan pada suatu benda sebagai
bentuk dari kerajinan tangan.
Orang-orang telah melukis di atas kain selama ribuan
tahun, dan seniman di tempat-tempat seperti Asia dan India
mengembangkan banyak metode lukisan kain khusus.
Lukisan kain dapat digunakan untuk mendekorasi segala
sesuatu mulai dari pakaian hingga perabot rumah seperti tirai
dan taplak meja. Hal ini membuka segala macam
memungkinkan untuk menuangkan ide kreativitas dengan
membuat karya seni unik, yaitu melukis di kain.
C. Alokasi Waktu
Waktu yang digunakan dalam menyelesaikan modul
pelatihan ini adalah selama 2 kali (360 menit) pertemuan
dengan rincian sebagai berikut ;
1 jam = 60 menit
1
1 kali pertemuan = 3 jam pelajaran x 60 menit = 180 menit
2 kali pertemuan = 2 x 180 menit (360 menit)
D. Prasyarat
Untuk mempelajari modul ini, prasyarat yang harus
dimiliki oleh peserta didik atau peserta pelatihan adalah
sudah memahami dan menguasai unsur desain, prinsip
desain, serta menggambar desain motif. Sehingga peserta
didik atau peserta pelatihan tidak mengalami kesulitan ketika
mempelajari modul Pelatihan Hand Painting ini.
E. Materi Pokok Pelatihan
Materi pokok pelatihan ini adalah sebagai berikut:
1. Konsep hand painting
2. Teori warna
3. Macam-macam alat dan bahan hand painting
4. Teknik dan langkah-langkah pembuatan hand painting
F. Manfaat Modul Bagi Peserta Pelatihan
Materi ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan
bagi peserta dalam hal teknik menghias dan bisa
menerapkannya pada suatu benda, seperti busana maupun
lenan rumah tangga, sehingga menambah nilai estetika dari
benda yang dilukis.
G. Petunjuk Penggunaan Modul
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
mempelajari modul pelatihan ini adalah sebagai berikut;
a. Pelajarilah modul ini secara cermat, pahami setiap materi
yang disajikan.
b. Jika ada informasi yang kurang jelas atau mengalami
kesulitan dalam pembahasannya segera tanyakan dan
konsultasikan kepada instruktur pelatihan.
2
c. Untuk membantu anda memahami isi, anda diminta
mengerjakan semua pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan.
d. Kerjakan soal evaluasi tanpa melihat uraian pada modul.
H. Tujuan Akhir
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta pelatihan
mampu:
a. Peserta pelatihan mampu menjelaskan konsep hand
painting
b. Peserta pelatihan mampu memahami teori warna
c. Peserta pelatihan mampu memahami peralatan melukis
di kain (hand painting)
d. Peserta pelatihan mampu memahami bahan-bahan
dalam melukis di kain (hand painting)
e. Peserta pelatihan mampu menjabarkan prosedur teknik
melukis di atas kain (hand painting)
f. Peserta pelatihan mampu membuat lukisan di atas kain
(hand painting) sesuai desain
3
PEMBELAJARAN I
KONSEP HAND PAINTING
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, secara mandiri peserta
pelatihan mampu:
a. Secara mandiri peserta pelatihan mampu menjelaskan
konsep hand painting
b. Secara mandiri peserta pelatihan mampu memahami
teori warna
c. Secara mandiri peserta pelatihan mampu memahami
peralatan melukis di kain (hand painting)
d. Secara mandiri peserta pelatihan mampu memahami
bahan-bahan dalam melukis di kain (hand painting)
B. Uraian Materi
Hand painting
1. Pengertian Hand painting
Hand painting atau melukis adalah salah satu cabang
dari seni rupa. Seni lukis merupakan seni yang
mengapresiasikan kreativitas seseorang melalui bidang
dua dimensi. Hand painting dapat diartikan sebagai sebuah
karya yang dapat dibuat dengan cara memulaskan cat
memakai alat seperti kuas lukis. Hand artinya tangan,
painting artinya lukisan. Sehingga hand painting dapat
diartikan sebagai lukisan yang cara pengerjaannya
menggunakan tangan (Echols, 2000:287).
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan
bahwa hand painting merupakan karya seni yang
diciptakan melalui goresan tangan secara bebas
menggunakan alat (kuas) dan teknik tertentu pada bidang
4
dua dimensi. Ada beberapa media untuk melukis, salah
satunya adalah kain. Menurut Garnadi (2006:23) seni lukis
diatas kain merupakan karya seni yang dituangkan diatas
kain, dengan menggunakan teknik melukis dengan media
cat yang berbeda dalam penggunaannya, yaitu cat tekstil.
2. Warna
Warna merupakan unsur desain yang paling
menonjol. Dengan adanya warna menjadikan suatu benda
dapat dilihat. Selain itu warna juga dapat
mengungkapkan suasana perasaan atau watak benda
yang dirancang. Warna dapat menunjukkan sifat dan
watak yang berbeda-beda, bahkan mempunyai variasi
yang sangat banyak yaitu warna muda, warna tua, warna
terang, warna gelap, warna redup, dan warna cemerlang.
Sedangkan dilihat dari sumbernya, ada warna merah,
biru, kuning, hijau, orange dan lain sebagainya. Tetapi jika
disebut warna panas, warna dingin, warna lembut, warna
ringan, warna sedih, warna gembira dan sebagainya maka
ini disebut juga dengan watak warna.
1.1 Pengelompokan warna
Pengelompokan warna ada bermacam-macam
teori yang berkembang mengenai warna, diantaranya
teori Oswolk, Mussel, Prang, buwster dan lain-lain.
Dari bermacam-macam teori ini yang lazim
dipergunakan dalam desain busana dan mudah
dalam proses pencampurannya adalah teori warna
Prang karena kesederhanaannya.
5
Gambar 2.1 Lingkaran warna
(Sumber: Ernawati, 2008:192)
a. Warna primer
Warna primer juga dengan warna dasar atau
pokok, karena warna ini tidak dapat diperoleh
dengan pencampuran hue lain. Warna primer ini
terdiri dari merah, kuning dan biru.
Gambar 2.2 Warna Primer
(Sumber: Ernawati, 2008:192)
6
b. Warna sekunder
Warna sekunder merupakan hasil
pencampuran dari dua warna primer, warna
sekunder terdiri terdiri dari orange, hijau dan
ungu.
a) Warna orange merupakan hasil dari
pencampuran warna merah dan warna
kuning.
b) Warna hijau merupakan pencampuran dari
warna kuning dan biru.
c) Warna ungu adalah hasil pencampuran
merah dan biru.
Gambar 2.3 Warna Sekunder
(Sumber: Ernawati, 2008:192)
c. Warna tertier
Warna tertier adalah warna yang terjadi
apabila dua warna sekunder dicampur. Warna
tertier ada tiga yaitu tertier biru, tertier merah dan
tertier kuning.
a) Tertier biru adalah hasil pencampuran ungu
dengan hijau.
b) Tertier merah adalah hasil pencampuran
orange dengan ungu
7
c) Tertier kuning adalah hasil pencampuran
hijau dengan orange.
1.2 Istilah warna
a. Spectrum Colour
Spectrum colour adalah warna yang dihasilkan dari
pembiasan prisma, yaitu warna pelangi (merah,
jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu).
Sumbernya berasal dari cahaya.
b. Hue
Hue adalah sebutan lain untuk warna (primer,
sekunder, tertier).
c. Value
Value adalah nilai gelap terang suatu warna
tergantung dari banyak atau sedikitnya warna
hitam dan putih. Dengan kata lain, jika warna
merah dicampur warna putih maka menjadi
warna merah muda sebaliknya warna merah
dicampur dengan hitam menjadi merah marun.
d. Chromatic
Chromatic adalah pencampuran satu warna +
hitam atau satu warna + putih. Chromatic dibagi
menjadi 2 yaitu Monochromatic dan Polychromatic.
Monochromatic adalah suatu kumpulan warna
menuju warna putih pada suatu komposisi
namun hanya diambil dari satu buah warna.
Sedangkan Polychromatic adalah suatu kumpulan
warna menuju warna putih pada suatu komposisi
yang terdiri dari dua warna atau lebih.
e. Tint
Tint adalah warna yang dihasilkan dari
percampuran satu warna dengan putih.
f. Tone
8
Tone adalah warna yang dihasilkan dari
percampuran satu warna dengan abu-abu.
g. Shade
Shade adalah warna yang dihasilkan dari
percampuran satu warna dengan hitam.
3. Pemilihan Bahan dan Alat Hand painting
Menurut Garnadi (2006:56) bahan dan yang
digunakan dalam proses pembuatan hand painting adalah:
3.1 Pewarna Tekstil
Pewarna tekstil yang digunakan berbahan dasar
air. Jenis pertama adalah pigment colour dan jenis kedua
adalah dyestuff. Pigment colour hanya menempel di
permukaan tekstil dan umumnya dikenal dengan
istilah cat tekstil, sedangkan dyestuff meresap ke dalam
serat tekstil, istilah dyestuff adalah pewarna tekstil.
Berdasarkan pada cara proses pengeringan, pigment
colour lebih sederhana karena cukup dipanaskan
dengan cara disetrika atau dijemur matahari,
sementara proses pengeringan dyestuff harus di steam
atau dipanaskan dengan uap air atau dengan panas
tinggi (high temperature).
Hasil akhir dari pewarna pigment colour adalah
tidak memiliki kedalaman (deep colour) karena hanya di
permukaan kain. Contohnya untuk warna hitam, pada
pigment colour tidak akan mendapatkan warna hitam
yang pekat namun lebih ke warna hitam keabuan.
Sementara untuk hasil akhir dyestuff karena meresap
masuk dalam serat kain maka hasil warnanya memiliki
kedalaman (deep colour), lebih cerah dan tahan lama.
9
Gambar 2.4 Cat tekstil
(Sumber: Garnadi, 2006:56)
3.2 Gutta resist
Menurut Garnadi (2006:57) Gutta resist digunakan
untuk membuat garis pingir atau garis batas warna
(outline). Khusus untuk permukaan yang licin, seperti
Sutra, garis pinggir ini dibutuhkan agar cat tekstil yang
digunakan tidak melebar (belobor).
Gambar 2.5 Gutta resist
(Sumber: Garnadi, 2006:57)
Gambar dibawah ini merupakan hasil karya
menggunakan gutta langsung pada dasar kain.
10
Gambar 2.6 Hasil garis pinggir gutta dapat langsung
digunakan untuk melukis.
(Sumber: Garnadi, 2006:27)
Gambar 2.7 Hasil garis pinggir gutta yang disapu dengan
kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:27)
11
3.3 Tekstil
Untuk melukis di atas kain dapat menggunakan
bermacam-macam jenis tekstil yang mudah menyerap
cat seperti linen, katun, kaos, kanvas, dan sejenisnya
yang cukup lembut dan tebal seratnya.
3.4 Spanraam/Wooden frame/Styrofoam
Spanraam atau pemidangan terbuat dari kayu atau
plastik. Wooden frame, Spanraam dan Styrofoam
merupakan alat bentangan untuk melukis di atas kain.
Styrofoam khususnya untuk permukaan tekstil seperti
katun atau linen sementara wooden frame dan spanraam
khusus digunakan untuk bahan silk atau sejenisnya
yang licin dan halus.
Gambar 2.8 Spanraam
(Sumber: Garnadi, 2006:56)
3.5 Kuas
Kuas merupakan alat yang digunakan untuk
mengoleskan cat ke media lukis. Jenis, ukuran dan
bentuk kuas berbeda-beda. Pemilihan kuas tergantung
dari goresan atau bidang lukis.
Menurut Garnadi (2006:34) ada tiga macam
bentuk ujung kuas, yaitu:
12
a) Round brush (ujung bulat) bentuk ini dapat
menampung jumlah cat yang cukup banyak. Hasil
goresan dari kuas berujung bulat ini menghasilkan
tarikan kuas yang lembut dan ideal untuk
mewarnai suatu bentuk dengan satu arah (blocking
colors). Kuas ujung bulat dengan bulu lembut dapat
menghasilkan garis halus dan detail.
Gambar 2.9 Round brush
(Sumber: Garnadi, 2006:34)
b) Flat brush (ujung pipih), ujung pipih berbulu
Panjang berbentuk persegi dapat menampung
banyak cat. Kuas ujung pipih dengan bulu lembut
menghasilkan tarikan garis yang rapi.
Gambar 2.10 Flat brush
(Sumber: Garnadi, 2006:34)
c) Spotter brushes (ujung lancip), memiliki ujung yang
kecil dan lancip. Sangat baik untuk pewarna
dengan bentuk fisik cair dan digunakan untuk
melukis dengan ketelitian tinggi.
Gambar 2.11 Spotter brush
(Sumber: Garnadi, 2006:34)
13
3.6 Wadah cat / Pallete
Pallete adalah wadah untuk menempatkan cat.
Pallete dapat juga berupa ubin untuk cat tekstil yang
kental atau plastik yang bisa diperoleh di took
peralatan melukis.
Gambar 2.12 Pallete
(Sumber: Garnadi, 2006:57)
3.7 Pensil
Pensil digunakan untuk membuat sketsa atau
menjiplak pola pada permukaan tekstil.
3.8 Lap atau tisu
Lap atau tisu digunakan untuk mengelap kuas
yang basah dan menyerap tetesan cat yang tumpah.
Gambar 2.13 Lap atau tisu
(Sumber: Garnadi, 2006:57)
14
3.9 Alat pengering
Selain menggunakan sinar matahari, kipas angin
dan pengering rambut dapat juga digunakan apabila
cuaca mendung atau hujan. Setrika digunakan setelah
cat kering dan penyetrikaan dilakukan pada bagian
belakang kain.
Gambar 2.14 Alat pengering (kipas angin)
(Sumber: Garnadi, 2006:57)
C. Rangkuman
Hand painting merupakan sebuah karya yang dapat
dibuat dengan cara memulaskan cat memakai alat yaitu kuas
lukis. Hand artinya tangan, painting artinya lukisan. Sehingga
hand painting dapat diartikan sebagai lukisan yang cara
pengerjaannya menggunakan tangan (Echols, 2000:287).
Beberapa alat dan bahan untuk membuat hand painting,
diantaranya adalah; cat tekstil, pallete, kuas, pensil, tekstil,
pemidangan, lap/tisu, pengering. Dalam pembuatan hand
painting, memahami warna sekaligus pewarna tekstil sangat
penting, hal ini dikarenakan warna adalah penarik perhatian,
warna selalu menjadi objek yang pertama kali ditangkap oleh
mata.
15
D. Tes Formatif
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Jelaskan pengertian hand painting!
2. Jelaskan pengertian dari istilah warna (tint, tone, shade,
dan hue)!
3. Sebutkan alat dan bahan untuk membuat hand painting!
E. Kunci Jawaban
1. Hand painting merupakan sebuah karya yang dapat
dibuat dengan cara memulaskan cat memakai alat yaitu
kuas lukis
2.
- Tint: Tint adalah warna yang dihasilkan dari
percampuran satu warna dengan putih.
- Tone: Tone adalah warna yang dihasilkan dari
percampuran satu warna dengan abu-abu.
- Shade: Shade adalah warna yang dihasilkan dari
percampuran satu warna dengan hitam.
3. Alat dan bahan membuat hand painting:
- Kuas
- Pallete
- Spanraam
- Alat pengering
- Pensil
- Lap/tisu
- Tekstil
- Cat tekstil
16
PEMBELAJARAN I
TEKNIK DASAR HAND PAINTING
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, peserta pelatihan mampu:
Menjabarkan prosedur teknik melukis di atas kain (hand
painting)
Membuat lukisan di atas kain (hand painting) sesuai desain
B. Uraian Materi
Teknik Dasar Hand painting
1. Teknik Dasar Memegang Kuas
Menurut Garnadi (2006:36) cara memegang kuas
adalah dengan teknik sebagai berikut:
1) Memegang kuas tidak boleh terlalu dekat dengan
ujung kuas, kecuali untuk mencapai hasil maksimum
pada bidang kecil yang perlu dikontrol. Selain itu
dapat menyebabkan kelelahan pada jari.
Gambar 3.1 Cara memegang kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:36)
17
2) Jarak memegang kuas adalah antara bagian tengah
tongkat kuas. Gambar dibawah ini adalah contoh
teknik memegang kuas yang nyaman.
Gambar 3.2 Cara memegang kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:36)
3) Posisi tangan seperti gambar dibawah ini tidak
disarankan, kecuali jika ingin melukis dengan posisi
yang relaks.
Gambar 3.3 Cara memegang kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:36)
2. Sapuan Kuas
Menurut Garnadi (2006:36) beberapa cara menyapukan
kuas, diantaranya dengan teknik sebagai berikut:
a) Kuas jenis bristle (bulu sintetis) dengan ujung pipih
berurukuran nomor besar ini disapukan secara vertical
18
ke bawah. Bida menyapukan kuas saat masih basah
kemungkinan akan mendapatkan warna pencampuran
seperti ungu pada contoh di gambar 3.4.
b) Menggunakan kuas jenis sable (bulu asli) dan berujung
bulat. Bila ingin menciptakan efek semak-semak seperti
contoh di gambar 3.4.
Gambar 3.4 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:37)
c) Contoh garis hasil sapuan kuas sable berujung lancip
dengan ukuran kecil pada gambar 3.5.
d) Contoh garis hasil sapuan kuas berujung pipih
bernomor kecil pada gambar 3.5.
e) Tiga contoh garis yang dihasilkan dari kuas berujung
pipih dengan bulu sintetis putih berukuran sedang pada
gambar 3.5.
f) Contoh tarikan garis dari kuas berujung bulat dengan
bulu sintetis warna cokelat berukuran sedang pada
gambar 3.5.
19
Gambar 3.5 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:37)
g) Contoh garis yang diperoleh dari jenis kuas yang
berujung bulat dan dengan cat yang encer. Kuas yang
digunakan berukuran sedang.
Gambar 3.6 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:37)
20
h) Contoh garis yang berasal dari kuas berujung pipih
dengan bulu kuas sintetis.
Gambar 3.7 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:37)
i) Untuk memperoleh hasil sapuan kuas seperti foto di
atas, dibuat dengan cara menekan kuas apada tarikan
garis awal dan berangsur-angsur tekanan dikurangi
sehingga garis akhir menipis.
Gambar 3.8 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:38)
j) Hasil tarikan ini diperoleh dengan cara menyapukan
kuas dua kali. Setelah sapuan pertama agak mengering
21
kemudian timpa kembali dengan sapuan ke dua
sehingga menghasilkan ketebalan cat.
Gambar 3.9 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:38)
k) Untuk memperoleh hasil sapuan ini, menggunakan
kuas berujung pipih. Membentuk garis lengkung tanpa
mengubah posisi memegang kuas. Hal ini
menghasilkan efek tekanan yang berbeda saat kuas
berada pada titik lengkung.
Gambar 3.10 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:38)
l) Untuk membuat variasi yang menarik dengan cara
menggabungkan 2 buah kuas berujung lancip
22
bernomor kecil maka akan mendapatkan berbagai
tarikan garis yang unik.
Gambar 3.11 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:38)
m) Kuas yang digunakan adalah kuas berujung lancip
bernomor kecil. Kuas disapukan dengan tarikan garis
bebas. Sebelumnya kuas dimasukkan sebentar ke
dalam air sehingga pada akhir garis dapat
menimbulkan efek cat encer.
Gambar 3.12 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:39)
23
n) Masih menggunakan kuas berujung lancip bernomor
kecil, kuas disapukan dengan tarikan vertical. Untuk
memperoleh efek cat seakan-akan habis atau menipis,
kuas yang telah diberi cat dikeringkan dengan
meniriskan catnya.
Gambar 3.13 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:39)
o) Kuas yang digunakan adalah kuas berujung bulat
dengan nomor besar. Menggunakan cat agak encer,
kuas disapukan dengan arah vertikal dan diagonal
sehingga menghasilkan efek detail tarikan kuas.
Gambar 3.14 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:39)
24
p) Masih dengan kuas berujung bulat dan bernomor
besar, kuas disapukan dengan tarikan melengkung
atau berkelok-kelok. Cat dibuat sangat encer sehingga
warnanya menjadi muda dan menghasilkan efek cat
air.
Gambar 3.15 Contoh sapuan kuas
(Sumber: Garnadi, 2006:39)
3. Persiapan Dasar Melukis
a. Mempersiapkan kain
Kain yang digunakan untuk melukis sebaiknya
dicuci terlebih dahulu. Pada umumnya untuk jenis kain
katun, kaos dan nylon dicuci dengan sabun cuci
(detergen) dan menggunakan air hangat kurang lebih
60c. sementara untuk kain sutra dicuci dengan sabun
khusu sutra atau shampoo (hal ini karena serat sutra
sehalus rambut). Tujuan kain dicuci ini untuk
menghilangkan kotoran atau kanji yang melekat di
atasnya.
Pilih jenis kain untuk melukis yang mudah
menyerap cat seperti katun, linen, belacu, kaos dan
sejenisnya yang cukup lembut dan tebal seratnya. Hal
ini agar dilakukan agar saat melukis lebih mudah
mengendalikan cat dan tidak memerlukan campuran
air yang banyak.
25
b. Mempersiapkan alas kerja
Alas kerja yang digunakan untuk persiapan
melukis adalah meja dengan permukaan yang rata
yang dilapisi plastik, hal ini bertujuan agar meja tidak
ternodai tetesan pewarna.
c. Mencampur cat tekstil dengan air
Cat tekstil pada dasarnya dapat digunakan
langsung, namun bila ingin mencampur 2 warna pada
cat tekstil, perhatikanlah teknik dibawah ini;
Contoh: Membuat campuran warna jingga
Yang harus disiapkan;
Cat tekstil warna kuning dan merah
Wadah cat (pallete)
Air matang
Sendok teh
Takaran
Pelaksanaan:
Satu sendok teh pewarna tekstil warna merah yang
kental, kemudian dicampur dengan 10cc air
matang pada wadah A.
Satu sendok teh pewarna tekstil kuning, kemudian
dicampur dengan 10cc air matang pada wadah B.
Kemudian campur ke dua warna pada salah satu
wadah, maka akan mendapatkan satu warna baru
yaitu warna jingga.
Catatan:
Selalu menggunakan air matang sebagai campuran
cat tekstil, tujuannya agar ketika cat tekstil tersisa
dan hendak menyimpannya, maka cat tidak akan
menimbulkan bau yang menyengat.
26
Sebelum memulai melukis di atas kain, coba dulu
menguaskan cat tekstil pada kain yang tidak
terpakai lagi (kain perca dari bahan sejenis).
Kenali sifat cat tekstil sebelum mulai bekerja
dengan melakukan percobaan dan latihan.
Saat bekerja dengancat, gunakan pakaian lama
atau celemek untuk melindungi pakaian yang
sedang dikenakan.
d. Teknik pengeringan atau fiksasi
Setelah selesai melukis, tunggu sampai cat
mengering kurang lebih 1 jam. Kemudian kain
disetrika pada bagian belakang kain. Selain alat setrika,
sinar matahari, pengering rambut dan kipas angin
dapat menjadi alternatif untuk membantu proses
pengeringan.
e. Teknik pemeliharaan
1) Setelah cat mengering, disetrika pada bagian
belakang kain (bagian buruk kain) dengan
meletakkan selembar kertas atau kain perca dia
atas kain yang telah kering lukisannya.
2) Bila akan mencuci pakaian yang telah selesai
dilukis cukup dibilas lembut dan perlahan dengan
tangan.
3) Bila ingin dicuci dengan mesin cuci, putaran diatur
pada kondisi gentle atau pelan.
4. Langkah-langkah Pembuatan Hand painting (Teknik
melukis langsung pada kaos motif bunga matahari)
a. Sebelum bekerja, biasakan untuk mencuci terlebih
dahulu kain yang digunakan dengan sabun cuci.
27
Setelah kering, berilah alas styrofoam dan rekatkan
dengan jarum.
Gambar 3.16 Menggambar sketsa
(Sumber: Garnadi, 2006:54)
b. Langkah awal yaitu membuat sketsa dengan cara
menggambar langsung ataupun menjiplaknya pada
kaos seperti gambar dibawah ini.
Gambar 3.17 Menggambar sketsa
(Sumber: Garnadi, 2006:62)
c. Setelah selesai, siapkan warna cat yang akan
diaplikasikan pada kaos. Mulai dengan membuat
28
garis batas (outline) pada sketsa dengan menggunakan
warna cat muda tiap lembar (petalle) bunga matahari.
Adanya elemen contoh untuk detail dari objek bunga
matahari sangat membantu dalam membuat lukisan.
Untuk mempertegas bentuk bunga, bubuhkan sapuan
tipis berwarna cokelat.
Mulailah dengan melukis kelopak bunga dengan cat
berwarna kuning. Dapat pula mencampurkan dengan
sedikit warna cokelat pada bagian lingkaran bunga.
Selanjutnya batang dan daun menggunakan warna
hijau dari 2 nuansa hijau (hijau kuning dan hijau tua).
Gambar 3.18 Mulai melukis
(Sumber: Garnadi, 2006:62)
d. Untuk membuat detail biji-bijian bunga matahari,
dapat menggunakan wadah gutta atau corong dari
kertas kaca. Secara perlahan tekan ujung corong kertas
kaca dan buatlah titik-titik kecil di sekitar lingkaran
tengan bunga matahari. Supaya lebih menarik, dapat
mengkombinasikan warna cokelat dan hijau pada biji-
bijian bunga matahari.
29
Gambar 3.19 Mulai melukis
(Sumber: Garnadi, 2006:63)
e. Setelah selesai melukis, jemur di bawah sinar matahari
atau keringkan secara alami selama ± 2 jam. Bila cuaca
mendung, gunakan pengering rambut unutk
mempercepat proses pengeringan lukisan. Jarak
antara pengering rambut dari permukaan kain ± 15
cm.
Gambar 3.20 Mulai melukis
(Sumber: Garnadi, 2006:63)
f. Setelah mengering, keluarkan styrofoam secara
perlahan dan setrika pada bagian belakang kain untuk
mengikat pewarna agar menempel pada permukaan
30
bahan kaos sekitar 5 menit. Kaos dengan gambar
bunga matahari siap untuk dikenakan.
Gambar 3.21 Mulai melukis
(Sumber: Garnadi, 2006:63)
C. Rangkuman
Teknik dasar hand painting yang harus dipelajari adalah
teknik memegang kuas, teknik sapuan kuas, dan persiapan
dasar melukis mulai dari persiapan kain, persiapan alas kerja,
mencampur cat tekstil dengan air, teknik pengeringan atau
fiksasi sampai pada teknik pemeliharaan hasil lukisan yang
telah dibuat.
D. Tugas
1. Pelajari isi modul dengan seksama!
2. Lengkapi pengetahuan anda tentang pengertian hand
painting sampai ke teknik pembuatannya!
3. Buatlah hand painting pada sepatu kanvas!
E. Tes Formatif
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Sebutkan jenis kuas yag bisa digunakan untuk melukis di
atas kain!
31
2. Sebutkan alat bantu yang bisa digunakan untuk
pengeringan hand painting!
3. Jelaskan cara pemeliharaan hasil lukisan hand painting!
F. Kunci Jawaban
1. Jenis kuas untuk melukis di atas kain (hand painting):
- Round brush (ujung bulat)
- Flat brush (ujung pipih)
- Spotter brush (ujung lancip)
2. Alat pengering hasil lukisan hand painting:
- Sinar matahari
- Kipas angin
- Hair dryer
3. Teknik pemeliharaan hand painting:
Setelah cat mengering, disetrika pada bagian belakang
kain (bagian buruk kain) dengan meletakkan selembar
kertas atau kain perca dia atas kain yang telah kering
lukisannya.
Bila akan mencuci pakaian yang telah selesai dilukis
cukup dibilas lembut dan perlahan dengan tangan.
Bila ingin dicuci dengan mesin cuci, putaran diatur
pada kondisi gentle atau pelan.
32
LEMBAR KERJA PRAKTIK
Nama Pelatihan : Pelatihan Singkat Melukis di atas Kain (Hand
Painting)
Kompetensi : Menerapkan Teknik Menghias Kain (Hand
Painting)
Alokasi Waktu :
A. Judul
Hand painting pada sepatu kanvas
B. Tujuan
Membuat lukisan (hand painting) pada sepatu
kanvas
C. Petunjuk Belajar
a. Baca dengan cermat dan teliti dalam mengerjakan tugas.
b. Baca literatur lain selain yang ada dalam modul ini.
c. Kejakan sesuai dengan tugas yang telah dibeikan.
d. Kerjakan dengan baik secara individu
e. Selesaikan tugas sesuai dengan batas waktu yang telah
ditentukan dan dikumpulkan.
D. Alat
Pensil
Penghapus
kertas
Kuas
Pallete
Alat pengering (setrika, kipas angin, cahaya
matahari, hair dryer, dll)
Lap/tisu
E. Bahan
Sepatu kanvas (warna putih)
Cat tekstil
Air
33
F. Tugas
1. Buatlah pola desain pada sepatu kanvas sesuai
keinginan, atau jiplak pola yang sudah
digambar sebelumnya pada kertas.
G. Petunjuk Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Campurkan cat pewarna tekstil sesuai kebutuhan
3. Ikutilah langkah kerja tahapan melukis di atas kain
(hand painting), serta teknik melukis yang tersedia di
modul
4. Setelah selesai mewarna, tunggu cat mengering
dengan bantuan alat pengering
34
EVALUASI
A. Kognitif Skill
1. Bagaimana memilih jenis kain yang baik untuk melukis?
2. Jelaskan fungsi dari spanraam, pallete, dan gutta resist!
B. Attitude Skill
1. Apa yang harus diperhatikan saat mulai bekerja dengan
memegang cat tekstil?
2. Bagaimana memegang kuas dengan cara baik dan benar?
C. Psikomotor Skill
1. Jelaskan teknik mencampur pewarna tekstil yang
menghasilkan warna (ungu)!
2. Jelaskan langkah awal yang harus diperhatikan sebelum
tekstil siap untuk dilukis!
D. Produk Sesuai Kriteria
Produk atau benda yang bisa dilukis diantaranya adalah
sepatu, kaos, busana maupun lenan rumah tangga dengan
jenis kain yang digunakan yaitu kain katun, linen, belacu, kaos
dan kanvas yang mudah menyerap cat, serta cukup lembut
dan tebal seratnya.
E. Batas Waktu
Waktu yang digunakan dalam menyelesaikan modul
pelatihan ini adalah selama 2 kali (360 menit) pertemuan
dengan rincian sebagai berikut ;
1 jam = 60 menit
1 kali pertemuan = 3 jam pelajaran x 60 menit = 180 menit
35
F. Kunci Jawaban
Kognitif Skill
1. Pilih jenis kain untuk melukis yang mudah menyerap
cat seperti katun, linen, belacu, kaos dan sejenisnya
yang cukup lembut dan tebal seratnya
2. Spanraam merupakan alat bentangan untuk melukis
di atas kain.
Attitude Skill
1. Persiapan bekerja dengan cat
Selalu menggunakan air matang sebagai
campuran cat tekstil, tujuannya agar ketika cat
tekstil tersisa dan hendak menyimpannya, maka
cat tidak akan menimbulkan bau yang
menyengat.
Sebelum memulai melukis di atas kain, coba dulu
menguaskan cat tekstil pada kain yang tidak
terpakai lagi (kain perca dari bahan sejenis).
Kenali sifat cat tekstil sebelum mulai bekerja
dengan melakukan percobaan dan latihan.
Saat bekerja dengan cat, gunakan pakaian lama
atau celemek untuk melindungi pakaian yang
sedang dikenakan.
2. Teknik memegang kuas:
- Memegang kuas tidak boleh terlalu dekat dengan
ujung kuas, kecuali untuk mencapai hasil
maksimum pada bidang kecil.
- Jarak memegang kuas adalah antara bagian tengah
tongkat kuas.
- Tidak boleh memegang kuas mendekati ujung
tongkat.
36
Psikomotor Skill
1. Yang harus disiapkan;
Cat tekstil warna biru dan merah
Wadah cat (pallete)
Air matang
Sendok teh
Takaran
Pelaksanaan:
Satu sendok teh pewarna tekstil warna merah yang
kental, kemudian dicampur dengan 10cc air
matang pada wadah A.
Satu sendok teh pewarna tekstil biru, kemudian
dicampur dengan 10cc air matang pada wadah B.
Kemudian campur ke dua warna pada salah satu
wadah, maka akan mendapatkan satu warna baru
yaitu warna ungu.
2. Sebelum bekerja, biasakan untuk mencuci terlebih
dahulu kain yang digunakan dengan sabun cuci
unutk menghilangkan lilin, maupun debu atau
kotoran yang menempel.
37
DAFTAR PUSTAKA
Echols. John. M and Shadily, Hasan. 2000. Kamus Inggis-Indonesia.
Jakarta: PT Gramedia.
Ernawati, dkk. 2008. Tata Busana Jilid 2. Jakarta: Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Ernawati, dkk. 2008. Tata Busana Jilid 3. Jakarta: Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Garnadi, Yati. 2006. Melukis di Atas Kain. Jakarta Utara: Dian
Rakyat.
38
PENUTUP
Modul ini berisi tentang materi hand painting, alat dan
bahan untuk hand painting, teknik dasar hand painting serta
langkah-langkah pembuatan han painting. Semoga modul ini
bermanfaat bagi guru/pelatih/peserta pelatihan, terutama
untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan dan
keterampilan serta mengembangkan kreativitas dalam
melukis di kain (hand painting) yang bisa diterapkan pada
busana maupun lenan rumah tangga.
39