The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

menjelaskan tentang ROM (aktivitas)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novita Rahmawati, 2020-12-18 08:24:40

e-book ROM

menjelaskan tentang ROM (aktivitas)

Keywords: Teknologi Infoemasi

E- BOOK TEKNOLOGI INFORMASI
Konsep Range of Motion (ROM)

Dosen Pengampu: Henny Rosiana, S.ST, M.Kes

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknologi Informasi
Disusun Oleh: Novita Rahmawati (P1337420119329)
PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG KAMPUS KENDAL

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2020/2021

Konsep Range of Motion (ROM)

A. Pengertian
Range Of Motion (ROM), merupakan istilah baku untuk menyatakan
batas/besarnya gerakan sendi baik normal. ROM juga di gunakan sebagai dasar
untuk menetapkan adanya kelainan batas gerakan sendi abnormal (HELMI, 2012).

Menurut (potter, 2010) Rentang gerak atau (Range Of Motion) adalah jumlah
pergerakan maksimum yang dapat di lakukan pada sendi, di salah satu dari tiga
bdang yaitu: sagital, frontal, atau transversal.

Range of motion adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya
kontraksi dan pergerakan otot, di mana klien menggerakan masing-masing
persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. Tujuan ROM
adalah : (1). Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot, (2). Memelihara
mobilitas persendian, (3) Merangsang sirkulasi darah, (4). Mencegah kelainan
bentuk. (Potter dan Perry (2006).

B. Klasifikasi ROM
Menurut (Suratun,Heryati,Manurung, & Raenah, 2008) klasifikasi rom sebagai
berikut:

a. ROM aktif adalah latihan yang di berikan kepada klien yang mengalami
kelemahan otot lengan maupun otot kaki berupa latihan pada tulang maupun
sendi dimana klien tidak dapat melakukannya sendiri, sehingga klien
memerlukan bantuan perawat ataukeluarga.

b. ROM pasif adalah latihan ROM yang dilakukan sendiri oleh pasien tanpa
bantuan perawat dari setiap gerakan yang dilakukan. Indikasi ROM aktif
adalah semua pasien yang dirawat dan mampu melakukan ROM sendii
dankooperatif.

C. Tujuan ROM
Menurut Johnson (2005), Tujuan range of motion (ROM) sebagai berikut:

1. Mempertahankan tingkat fungsi yang ada dan mobilitas ekstermitas
yangsakit.

2. Mencegah kontraktur dan pemendekan strukturmuskuloskeletal.

3. Mencegah komplikasi vaskular akibatiobilitas.
4. Memudahkankenyamanan.
Sedangkan tujuan ltihan Range Of Motion (ROM) menurut Suratun, Heryati,
Manurung, & Raenah (2008).

1. Mempertahankan atau memelihara kekuatanotot.
2. Memelihara mobilitas persendian.
3. Merangsang sirkulsi darah.
4. Mencegh kelainanbentuk.
D. Prinsip Dasar ROM
Prinsip dasar latihan range of motion (ROM) menurut Suratun, Heryati, Manurung,
& Raenah (2008) yaitu:

1. ROM harus di ulangi sekitar 8 kali dan di kerjakan minimal 2kali sehari
2. ROM dilakukan perlahan dan hati-hati sehinga tidak melelahkan pasien.
3. Dalam merencanakan program latihan range of motion (ROM) ,

Memperhatikan umur pasien, diagnosis, tanda vital, dan lamanya tirah
baring.
4. ROM sering di programkan oleh dokter dan di kerjakan oleh ahli fisioterapi
5. Bagian-bagian tubuh yang dapat dilakukan ROM adalah leher, jari, lengan,
siku, bahu, tumit, atau pergelangankaki.
6. Rom dapat dilakukan pada semua persendian yang di curigai mengurangi
proses penyakit.
A. Melakukan ROM hrus sesuai waktunya, misalnya setelah mandi atau
perawatan rutin telahdilakukan.
E. Gerakan pada ROM
1. Rom aktif Merupakan latian gerak isotonik ( Terjadi kontraksi dan
pergerakan otot )yang dilakukan klien dengan menggerakan masing-
masing persendiannya sesuai dengan rentang geraknya yang normal.
(Kusyati Eni, 2006)
2. Rom pasif merupakan latihan pergerakan perawat atau petugas lain yang
menggerakkan persendian klien sesuai dengan rentang geraknya. (Kusyati
Eni, 2006)
Prosedur pelaksanaan:

Gerakan pinggul dan panggul
1. Fleksi dan ekstensi lutut dan pinggul

a. Angkat kaki dan bengkokkan lutut
b. Gerakkan lutut ke atas menuju dada sejauhmungkin
c. Kembalikan lutut ke bawah, tegakkan lutut, rendahkan kaki sampai

padakasur.
2. Abduksi dan adduksi kaki
a. Gerakkan kaki ke samping menjauh klien
b. Kembalikan melintas di atas kaki yang lainnya
3. Rotasikan pinggul internal dan eksternal

a. Putar kaki ke dalam, kemudian ke luar Gerakkan telapak kaki dan
pergelangan kaki

1. Dorsofleksi telapak kaki

a. Letakkan satu tangan di bawah tumit
b. Tekan kaki klien dengan lengan anda untuk menggerakkannya ke arah

kaki
7

2. Fleksi plantar telapak kaki
a. Letakkan satu tangan pada punggung dan tangan yang lainnya berada pada

tumit
b. Dorong telapak kaki menjauh dari kaki
3. Fleksi dan ekstensi jari-jari kaki
a. Letakkan satu tangan pada punggung kaki klien, letakkan tangan yang

lainnya pada pergelangankaki
b. Bengkokkan jari-jari kebawah
c. Kembalikan lagi pada posisi semula
4. Intervensi dan eversi telapakkaki

a. letakkan satu tangan di bawah tumit, dan tangan yang lainnyadi atas
punggung kaki

b. Putar telapak kaki ke dalam, kemudian keluar.
F. Konsep dasar kekuatan otot
Otot merupakan alat gerak aktif, sebagai hasil kerja sama antara otot dan tulang.
Tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidakdigerakan oleh otot, hal
ini karena otot mempunyai kemampuan berkontraksi ( memendek / kerja berat &
memanjang / kerja ringan ) yang mengakibatkan terjadinya kelelahan otot, proses
kelelahan ini terjadi saat waktu ketahanan otot ( jumlah tenaga yang dikembangkan
oleh otot ) terlampaui ( Waters & Bhattacharya 2009 ).
Pengertian kekuatan otot adalah kemampuan dari otot baik secara kualitas maupun
kuantitas mengembangkan ketegangan otot untuk melakukan kontraksi ( Waters &
Bhattacharya 2009 ).
Pengukuran kekuatan otot

Penilaian Kekuatan Otot mempunyai skala ukur yang umumnya dipakai untuk
memeriksa penderita yang mengalami kelumpuhan selain mendiagnosa status
kelumpuhan juga dipakai untuk melihat apakah ada kemajuan yang diperoleh
selama menjalani perawatan atau sebaliknya apakah terjadi perburukan pada
penderita. Penilaian tersebut meliputi : (1). Nilai 0: paralisis total atau tidak
ditemukan adanya kontraksi pada otot, (2) Nilai 1: kontaksi otot yang terjadi hanya
berupa perubahan dari tonus otot, dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat
menggerakan sendi, (3) Nilai 2: otot hanya mampu mengerakkan persendian tetapi
kekuatannya tidak dapat melawan pengaruh gravitasi, (4) Nilai 3: dapat
menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi tetapi tidak kuat
terhadap tahanan yang diberikan pemeriksa, (5) Nilai 4: kekuatan otot seperti pada
derajat 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap tahanan yang ringan, (6) Nilai
5: kekuatan otot normal. (Suratun, dkk, 2008).

Untuk mengetahui kekuatan atau kemampuan otot perlu dilakukan pemeriksaan
derajat kekuatan otot yang di buat ke dalam enam derajat ( 0

– 5 ) . Derajat ini menunjukan tingkat kemampuan otot yang berbeda- beda.

Derajat 5 Kekuatan otot normal dimanaseluruhgerakan
dapat dilakukan otot dengan tahanan maksimal dari

proses yang dilakukan berulang-ulang tanpa menimbulkan
kelelahan.

Derajat 4 Dapat melakukan Range Of Motion (ROM) secara penuh dan

dapat melawan tahanan ringan

Derajat 3 Dapat melkukan ROM secara penuh denganmelawan gaya

berat (gravitasi), tetapi tidak dapat melawan tahanan.

Derajat 2 Dengan bantuan atau dengan menyangga

sendi dapat melakukan ROM secara penuh.

Derajat 1 Kontraksi otot minimal terasa/teraba pada otot

bersangkutan tanpa menimbulkan gerakan.

Derajat 0 Tidak ada kontraksi otot sam sekali.

Adapun cara untuk memeriksa kekutan otot dengan menggunakan derajat kekuatan
otot tersebut yaitu sebagaiberikut:

1. Pemeriksaan kekuatan otot ekstermitasatas.
1) Pemeriksaan kekuatan otot bahu

Caranya:

a. Minta klien melakukan fleksi pada lengan ekstensi lengan dan beri tahanan.
b. Lakukan prosedur yang sama untuk gerakan ekstensi lengan, lalu beri

tahanan.
c. Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala0-5.
2) Pemeriksaan kekuatan otot siku

Caranya:
a. Minta klien melakukan gerakan fleksi pada siku dan beritahanan.
b. Lakukan prosedur yang sama untuk gerakan ekstensi siku, lalu beri tahanan.
c. Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala0-5.
3) Pemeriksaan kekuatan otot pergelangan tangan

a. Letakkan lengan bawah klien di atas meja dengan telapak tangan
menghadap keatas.

b. Minta klien untuk melakukan gerakan fleksi telapak tangan dengan
melawan tahanan.

c. Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala0-5.
4) Pemeriksaan kekuatan otot jari-jari tangan

Caranya:
a). Mintalah klien untuk meregangkan jari-jari melawan tahanan.
b). Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala 0-5.
2. Pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah
1). Pemeriksaan kekuatan otot panggul.

Caranya:
a. Atur posisi tidul klien, lebih baik pemeriksaan dilakukan dalam posisi
supine.
b. Minta klien untuk melakukan gerakan fleksi tungkai dengan melawan
tahanan.
c. Minta klien untuk melakukan gerakan abduktif dan adduksi tungkai
melawan tahanan.
d. Nilai kekuatan otot dengan menggunkan skala0-5.

2). Pemeriksaan kekuatan otot lutut

Caranya:
a. Minta klien untuk melakukan gerakn fleksi lutut dengan melawan tahanan.
b. Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala0-5.

3). Pemeriksan kekuatan otot tumit

Caranya:
a. Minta klien untuk melakukan gerakan plantarfleksi dan dorsifleksi dengan
melawan tahanan.
b. Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala0-5.

4). Pemeriksaan kekuatan otot jari-jarikaki

a. Minta klien untuk melakukan gerakan fleksi dan ekstensi jari-jari kaki
dengan melawan tahanan.

b. Nilai kekuatan otot dengan menggunakan skala0-5.
G. Konsep Fraktur Femur

1. Pengertian
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dan sudut dari enaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak di
sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur itu lengkap atau tidak lengkap.
Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak
lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. (Price & Wilson,2006)
Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar .
Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana
potensial untuk terjadi infeksi (Samsuhidayat, 2010)
Fraktur Femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat
trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih

banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan
pendarahan yang cukup banyak. Mengakibatkan penderita syok ( FKUI, 2011)

Fraktur femur adalah hilangnya kontuinitas tulang pada paha tanpa disertai
kerusakan jaringan kulit yang dapat disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi
tertentu. Degenerasi tulang (osteoporosis), dan tumor tulang paha dapat
menyebabkan fraktur patologis (Muttaqin,2011)

2. Lokasi Terjadinya Fraktur Femur
Menurut (Samsuhidayat, 2010) Fraktur femur dapat terjadi pada beberapa tempat
diantaranya:

a. Kolumfemoris
b. Trokhanter
c. Batang femur
d. Suprakondiler
e. Kondiler
f. Kaput
3. Anatomifisiologi
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh. Ruang tengah tulang-
tulang tertentu berisi jaringan hemato poeitik, yang membentuk berbagai sel darah.
Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium
danfosfat.

Komponen-komponen nonselular utama jari jaringan tulang adalah mineral-
mineral dan matriks organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan folfat
membentuk suatu gram kristal (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matrik kolagen
dan proteoglikan. Mineral-mineral ini menempatkan kekuatan tulang. Matriks
oraganik tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70% dari osteoid adalah
kolagen tipe 1 yang kaku dan memberikan daya rentang tinggi pada tulang. Materi
organik lain yang juga menyusun tulang berupa proteglikan seperti asamhialuronat.

Hampir semua tulang berongga di bagian tengahnya. Struktur demikian
memaksimalkan kekuatan struktur tulang dengan bahan yang relatif kecil atau

ringan. Kekuatan tambahan di peroleh dari susunan kolagen dan mineral dari
jaringan tulang. Jaringan dapat terbentuk anyaman atau lemaler. Tulang yang
berbentuk anyaman terlihat saat pertumbuhan cepat, sepertiseaktu perkembngan
janin atau sesudah terjadinya patah tulang, selanjutnya keadaan ini akan diganti
oleh tulang yang lebih dewasa yang berbentuk lamelar.

Tulang lamer tersusun dari lempengan-lempengan mineral yang sangat padat, dan
bukan merupakan suatu masa kristal yang padat.

Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan
bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis langsung
berbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga
pertumbuhan memanjang tulang terhenti. Seluruh tulang diliputi oleh la;isan fibrosa
yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan
berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulangpanjang.

Bila terjadi patah tulang maka sel-sel tulang akan mati. Perdarahan biasanya terjadi
disekitar tempat patah dan kedalaman jaringan lunak biasanya juga mengalami
kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur (Smeltzer & Bare, 2010)

Daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak,akan di temukan tanda-
tanda fungsiolesa (Tungkai bawah tidak dapat diangkat). Nyeri tekan, nyeri
gerak.Tampak adanya deformitas angulasi lateral atau angulasi anterior.

DAFTAR PUSTAKA

Suratun, dkk. 2008. Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal Seri Asuhan
Keperawatan. Jakarta: Kedokteran EKG

Risnanto,dkk. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah (Sistem
Muskuloskeletal). Yogyakarta: Deepublish

Pristiano, Arif. dkk. 2018. Terapi Latihan Dasar. Surakarta: Muhammadiyah
University Press


Click to View FlipBook Version