The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E book ini adalah materi tentang pemenuhan kebutuhan oksigenasi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 1902016111 Laili Fitriyah, 2020-12-18 03:26:17

E BOOK PEMBELAJARAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI

E book ini adalah materi tentang pemenuhan kebutuhan oksigenasi

Keywords: TEKNOLOGI INFORMASI

MATERI
PEMENUHAN
KEBUTUHAN
OKSIGENASI

OLEH :
HUSNUL FARIDA
P1337420119305

MATERI

1. PENGERTIAN OKSIGENASI
Oksigenasi adalah suatu proses untuk mendapatkan O2 dan

mengeluarkan CO2. Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan
kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan
metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan hidupnya dan untuk
aktivitas berbagai organ atau sel.

Apabila lebih dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka
akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan
biasanya pasien akan meninggal.

Oksigen memegang peranan penting dalam semua proses tubuh
secara fungsional. Tidak adanya oksigen akan menyebabkan tubuh secara
fungsional mengalami kemunduran atau bahkan dapat menimbulkan
kematian. Oleh karena itu, kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan yang
paling utama dan sangat vital bagi tubuh.

Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi
sistem pernapasan secara fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu
organ sistem respirasi, maka kebutuhan oksigen akan mengalami
gangguan.

Sering kali individu tidak menyadari terhadap pentingnya oksigen.
Proses pernapasan dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Banyak
kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam
pemenuhan kebutuhan oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran
pernapasan. Pada kondisi ini, individu merasakan pentingnya oksigen.

2. SISTEM TUBUH YANG BERPERAN DALAM KEBUTUHAN
OKSIGENASI

Sistem tubuh yang berperan dalam membantu dalam pemenuhan
kebutuhan oksigenasi adalah saluran pernafasan bagian atas dan saluran
pernafasan bagian bawah. Saluran pernapasan bagian atas, terdiri atas:

1) Hidung, proses oksigenasi diawali dengan masuknya udara melalui
hidung.

2) Esophagus.
3) Laring, merupakan saluran pernapasan setelah faring.
4) Epiglotis, merupakan katup tulang rawan yang bertugas menutup

laring saat proses menutup.

Saluran pernapasan bagian bawah, terdiri atas:

1) Trakhea, merupakan kelanjutan dari laring sampai kira-kira ketinggian
vertebrae torakalis kelima.

2) Bronkhus, merupakan kelanjutan dari trakhea yang bercabang menjadi
bronchus kanan dan kiri.

3) Bronkiolus, merupakan saluran percabangan setelah bronchus.
4) Alveoli, merupakan kantung udara tempat terjadinya pertukaran

oksigen dengan karbondioksida.
5) Paru-Paru (Pulmo), paru-paru merupakan organ utama dalam sistem

pernapasan.

Secara anatomi, system respirasi terbagi menjadi dua, yaitu saluran
pernafasan dan parenkim paru. Saluran pernafasan dimulai dari organ
hidung, mulut, trakea, bronkus sampai bronkiolus. Didalam rongga toraks,
bronkus bercabang menjadi dua kanan dan kiri. Bronkus kemudian
bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bagian parenkim paru berupa

kantong-kantong yang menempel di ujung bronkiolus yang disebut alveoli
(bila 1) atau alveolus (bila banyak)

Gambar 1. Anatomi system pernafasan, suplai O2 dan pengeluaran CO2
3. PROSES OKSIGENASI

Proses oksigenasi melibatkan system pernafasan dan sistem
kardiovaskuler. Proses tersebut terdiri dari 3 tahapan, yaitu ventilasi paru,
difusi gas dan transportasi gas.
A. Ventilasi

Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke
dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer yang terjadi saat respirasi
(inspirasi-ekspirasi). Ventilasi paru dipengaruhi oleh beberapa faktor:

1. Tekanan oksigen di atmosfer

Tekanan udara atmosfir merupakan jumlah tekanan
berbagai gas yang terkandung dalam udara. Saat inspirasi udara
atmosfir akan masuk ke dalam alveoli, sehingga tekanan udara

atmosfir yang rendah akan menyebabkan tekanan oksigen yang
masuk ke dalam alveolipun rendah. Hal ini akan dijumpai pada
dataran tinggi dimana makin tinggi suatu tempat tekanan udara
makin rendah dan ini berbanding lurus dengan tekanan O2.

Oleh karena itu saat seseorang berada dalam ketinggian
tertentu diperlukan suplemen oksigen pada udara inspirasinya.
Pada lingkungan normal, udara atmosfir yang dihisap terdiri dari
nitrogen (N2), Oksigen (O 2), dan karbon dioksida (CO 2). Dari
ketiga gas tersebut, hanya O 2 yang masuk kapiler, sedangkan CO2
dan N 2 kembali di ekspirasi keluar. Bahkan CO2 dari kapiler
berpindah ke alveoli di buang keluar bersama udara ekspirasi.
Proses Pertukaran O2 dan CO2 antara darah kapiler dan alveoli
disebut ventilasi alveolar

2. Keadaan saluran napas

Selama inspirasi udara akan melewati saluran nafas, mulai
hidung, pharynx, laring, trachea, bronchus, bronchioles, sampai ke
alveoli dan sebaliknya saat ekspirasi. Ada beberapa keadaan yang
menyebabkan jalan nafas ini menjadi lebih sempit atau tersumbat,
misalnya secret yang berlebihan atau kental, spasme atau
konstriksi, ada benda asing atau ada masa baik pada saluran nafas
sendiri atau diluar saluran nafas yang mendesak saluran nafas
sehingga mempersulit ventilasi.

3. Complience dan Recoil

Yaitu daya pengembangan dan pengempisan paru dan
thorak. Kemampuan ini terbentuk oleh:
a. Gerakan turun naik diafragma melalui kontraksi dan relaksasi

otot diafragma untuk memperbesar dan memperkecil rongga
dada. Gerakan ini akan terhambat apabila individu mengalami
nyeri pada abdomen, akibat trauma/ pembedahan, distensi
abdomen yang akan menghalangi turunnya diafragma.

b. Elevasi dan depresi iga-iga untuk meningkatkan dan
menurunkan diameter anteroposterior rongga dada melalui
kontraksi dan relaksasi otot-otot pernafasan. Keadaan ini dapat
terganggu jika individu mempunyai bentuk dada yang
abnormal, terjadi fraktur beberapa iga (multiple fracture
costae), gangguan hubungan saraf-otot atau kerusakan pusat
nafas

c. Elastisitas jaringan paru yang memungkinkan alveoli bisa
mengembang dan mengempis. Ada 2 kemungkinan dalam
abnormalitas elastisitas jaringan paru, yaitu pertama jaringan
paru berubah menjadi jaringan ikat, sehingga kemampuan
compliance paru menurun dan kedua jaringan paru bisa
berkembang tetapi saat recoil terbatas sehingga CO2 tertahan,
seperti dijumpai pada emphysema.

d. Adanya surfaktan, yaitu zat phospholipid yang terdapat pada
lapisan cairan yang meliputi permukaan alveoli dan bersifat
menurunkan tegangan permukaan alveoli sehingga paru-paru
mudah dikembangkan dan mencegah terjadinya kolap paru.
Surfaktan ini dihasilkan oleh sel septal (sel alveoli type II)
dengan bahan baku yang dibawa melalui aliran darah.
Surfaktan ini akan dengan mudah dikeluarkan saat alveoli
teregang optimal (saat nafas dalam). Oleh karena itu pernafasan
dangkal merupakan resiko untuk terjadinya atelectasis.

4. Pengaturan Nafas

Pusat pernafasan terdapat pada Medulla oblongata dan
Pons. Area bilateral dan bagian ventral di dalam Medulla oblongata
sangat sensitive terhadap perubahan konsentrasi hydrogen dan
karbondioksida. Tetapi sebenarnya tidak ada pengaruh langsung
dari perubahan konsentrasi hydrogen dan karbondioksida dalam
darah, karena saraf-saraf ini hanya terangsang oleh ion hydrogen
secara langsung, sementara ion hydrogen tidak mudah melewati

sawar darah otak atau sawar darah cairan cerebrospinalis, sehingga
kenaikan konsentrasi hydrogen dalam darah kurang memberikan
pengaruh terhadap pusat pernafasan.

Pusat nafas biasanya terangsang oleh peningkatan CO2
darah yang merupakan hasil metabolism sel yang mampu dengan
mudah melewati sawar darah otak atau sawar darah cairan
cerebrospinalis. Kenaikan CO2 inilah yang akan meningkatkan
konsentrasi hydrogen dan akan merangsang pusat nafas.
Perangsangan pusat pernafasan oleh peningkatan CO2 merupakan
mekanisme umpan balik yang penting untuk mengatur konsentrasi
CO2 seluruh tubuh. Adanya trauma kepala atau edema otak atau
peningkaan tekanan intracranial dapat menyebabkan gangguan
pada system pengendalian ini.
B. Difusi Gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen dialveoli dengan
kapiler paru dan CO2 di kapiler dengan alveoli. Proses pertukaran ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasnya permukaan paru, tebal
membran respirasi atau permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli
dan interstisial (keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila
terjadi proses penebalan). Perbedaan tekanan dan konsentrasi O2
(hal ini sebagai mana O2 dari alveoli masuk kedalam darah oleh
karena tekanan O 2 dalam rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O 2
dalam darah vena pulmonalis, masuk dalam darah secara difusi).
Alveoli dipisahkan dengan darah kapiler oleh membrane pulmonal
dan dinding kapiler. Tebal membrane pulmonal hanya sekitar 0.1-1.5
μm. Oksigen dan CO2 dapat melewati membrane tersebut secara difusi
dengan bebas. Oksigen dari alveoli ke darah dan CO2 dari darah ke
alveoli. Kemampuan berpindah secara difusi ini karena pengarauh
tekanan parsial gas-gas tersebut Tekanan parsial gas adalah tekanan
yang menyebabkan substansi gas memiliki daya menembus dinding
sekitar.

Tekanan parsial gas O2 di atmosfir berkisar 159 mmHg dan CO2
berkisar 0.15 mmHg. Di alveoli, tekanan parsial O2 sekitar sekitar 104
mmHg dan CO2 sekitar 40 mmHg. Di dalam darah, tekanan parsial O2
100 mmHg dan CO2 46 mmHg. Tekanan parsial ini menyebabkan
oksigen cenderung bergerak dari atmosfir (159 mmHg) ke alveoli (104
mmHg) dan dari alveoli oksigen cenderung masuk ke kapiler karena
tekanan parsialnya lebih rendah (100 mmHg). Sedangkan CO2
cenderung bergerak dari kapiler ke alveoli (46 → 40 mmHg) dan dari
alveoli cenderung ke atmosfir bebas (0.15 mmHg)

Selain tekanan parsial, kemampuan suatu gas dalam menembus
(difusi) membrane pulmonal juga ditentukan beberapa factor lain,
berikut beberapa faktor yang menentukan difusi gas:

1. Ketebalan membrane respirasi
Membran respirasi yang akan dilalui oleh udara terdiri dari

lapisan epitel alveoli, interstitial alveoli (sangat sedikit) dan
lapisan endotel kapiler paru. Ketebalan membran respirasi ini
dapat meningkat oleh berbagai keadaan, misalnya karena
peningkatan julah cairan instertitial yang dijumpai pada
keadaan edema paru yang disebabkan oleh peningkatan
tekanan hidrostatik kapiler paru (misalnya pada kelebihan
volume cairan intravaskuler atau congesti paru akibat payah
jantung kiri), peningkatan permeabilitas kapiler paru (misalnya
pada radang akut parenkim paru) atau penurunan tekanan
osmotic koloid (misalnya karena hipoalbuminemia yang dapat
dijumpai pada kekurangan gizi yang berat, syndrome nefrotik,
atau proses keganasan), sehingga udara selain harus melewati
membrane respirasi yang biasanya juga harus melewati cairan
ini. Oleh karena itu kecepatan difusi berbanding terbalik
dengan tebalnya membran.
2. Luas permukaan membrane pulmonal

Bila luas permukaan total berkurang menjadi tinggal
sepertiga saja, pertukaran gas- gas tersebut terganggu secara
bermakna bakhan dalam keadaan istirahat sekalipun.
Penurunan luas permukaan membrane yang paling sedikitpun
dapat menganggu pertukaran gas yang hebat saat olah raga
kompetitif atau gerak badan lainnya. Pada konsolidasi paru
seperti dijumpai pada randang paru akut, atau pada tuberkulosa
paru, pengangkatan sebagian lobus paru, terjadi penurunan luas
permukaan membrane respirasi.
3. Koefisien Difusi

Koefisien difusi tiap gas dalam membrane respirasi
tergantung pada daya larutnya didalam membrane itu dan
berbanding terbalik dengan akar pangkat dua berat molekulnya.
Kecepatan difusi CO2 20 kali lebih cepat dari O2 sehingga
kekurangan O2 belum tentu disertai kelebihan CO2 Sebaliknya
O2 berdifusi 2 kali lebih cepat daripada nitrogen (N).
Kecepatan difusi CO 200 kali lebih cepat dari O2 sehingga
mudah terjadi keracunan. Selain itu karena kecepatan difusi O2
lebih rendah dari CO2, penurunan O2 tidak selamanya disertai
peningkatan CO2.
4. Perbedaan tekanan parsial gas antara alveoli dan kapiler

Perbedaan tekanan diantara kedua sisi membrane respirasi
adalah perbedaan tekanan partial gas didalam alveoli dengan
didalam darah kapiler paru. Bila tekanan partial suatu gas
didalam alveoli lebih besar daripada tekanan partial di dalam
darah kapiler paru, seperti O2, terjadi perpindahan gas dari
alveoli ke dalam darah kapiler paru, tetapi bila tekanan partial
gas dalam darah kapiler paru lebih besar dari pada tekanan
partial dalam alveoli, seprti CO2, terjadi perpindahan gas dari
darah kapiler paru ke alveoli. Oleh karena itu difusi paru juga
ditentukan oleh ventilasi paru.

5. Tingkat kelarutan gas pada membrane (semakin besar semakin
mudah berdifusi)
→ O2 ; 1, CO2 : 20.3, N2 : 0.53 Nitrogen yang diinspirasi
tidak akan masuk ke dalam darah karena tekanan parsial di
atmosfir sangat rendah. Selain itu tingkat kelarutan N2 hanya
0.53 sehingga sulit menembus membrane pulmonal.

C. Transportasi Gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke

jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Transportasi gas
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu curah jantung (kardiak
output), kondisi pembuluh darah, latihan (exercise), perbandingan sel
darah dengan darah secara keseluruhan (hematokrit), serta eritrosit dan
kadar Hb.

Pada kondisi normal, hampir seluruh oksigen diikat oleh
hemoglobin (Hb) yang berada di dalam eritrosit (RBC) untuk
dihantarkan keseluruh tubuh. Eritrosit bersama cairan plasma dipompa
oleh jantung keseluruh sel di tubuh. Sebagian kecil O2 (3%) langsung
larut dalam plasma dalam bentuk oksigen bebas. Setelah sampai di
kapiler organ, O2 lepas dari Hb dan berdifusi ke jaringan interstisial
dan selanjutnya masuk ke dalam sel. Dengan berikatan dengan Hb, tra
sportasi O2 ditingkatkan sampai 60 x lipat.

Ikatan Oksigen-Hemoglobin
Ketika berdifusi dari alveoli ke dalam kapiler, tekanan parsial O2
masih 100 mmHg. Tekanan yang cukup tinggi ini membuat sekitar
97% O2 terikat dengan Hb (Hb O2). Ketika sampai dikapiler organ
(tempat tujuan) tekanan parsial oksigen menurun sampai 40 mmHg,
akibatnya sekitar 27% O2 dilepas oleh Hb masuk ke insterstisial
sehingga hanya tinggal 70% O2 yang terikat dengan Hb. Bila tubuh
sedang stress (missal berolahraga), oksigen akan banyak habis terpakai
sehingga tekanan parsial O2 menurun, hal ini menyebabkan

kemampuan Hb mengikat O2 menurun sehingga O2 banyak dilepas ke
jaringan.

Transport Karbon-Dioksida di Jaringan
Di dalam sel, O2 akan bereaksi (bermetabolisme) dengan
karbohidrat (CH2O) untuk suplai energy bagi kehidupan sel. Sisa
metabolism berupa CO2 dan air (H2O). Rerikut reaksi utama untuk
kehidupan ini:
CH2O + O2 → CO2 + H2O + energi Bila air tetap berguna untuk
proses kehidupan, maka CO2 akan dikeluarkan dari sel, CO2 beredar
di pembuluh darah untuk nantinya keluar melalui ekspirasi udara paru.
Karbon dioksida cenderung keluar dari sel karena memiliki tekanan
parsial gas di dalam sel (55 mmHg) lebih tinggi disbanding tekanan
parsial di darah (46 mmHg). Setelah sampai di kapiler paru, CO2 akan
cenderung ke alveoli karena tekanan parsial CO2 di alveoli lebih
rendah (40 mmHg).
Didalam darah, CO2 ditranspor dalam 3 bentuk:
1. Karbon dioksida akan masuk ke eritrosit dan diikat oleh ion

bikarbonat menjadi asam karbonat (HCO3) dengan bantuan
enzim karbonik anhydrase.
2. Masuk ke eritrosit dan diikat oleh Hb menjadi karbamino
hemoglobin (Hb-CO2) namun dalam jumlah yang terbatas.
Hemoglobin dapat mengikat O2 dan CO2 sekaligus.
3. Bentuk CO2 bebas yang larut dalam plasma.

4. JENIS PERNAPASAN DAN VOLUME PERNAFASAN

A. Jenis Pernafasan

Pernafasan dibedakan atas 2, yaitu pernafasan eksternal dan pernafasan
internal

1) Pernapasan Eksternal Pernapasan eksternal merupakan proses
masuknya O2 dan keluarnya CO2 dari tubuh, sering disebut sebagai
pernapasan biasa. Proses pernapasan ini dimulai dari masuknya
oksigen melalui hidung dan mulut pada waktu bernapas, kemudian
oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli, lalu
oksigen akan menembus membrane yang akan diikat oleh Hb sel
darah merah dan dibawa ke jantung. Setelah itu, sel darah merah
dipompa oleh arteri ke seluruh tubuh, kemudian meninggalkan paru
dengan tekanan oksigen 100 mmHg.

2) Pernapasan Internal Pernapasan internal merupakan proses terjadinya
pertukaran gas antar sel jaringan dengan cairan sekitarnya yang sering
melibatkan proses semua hormon termasuk derivate catecholamine
dapat melebarkan saluran pernapasan.

B. Volume Pernafasan

Volume pernafasan menggambarkan kapasitas pernafasan seseorang.
Volume pernafasan dapat diukur dengan alat yang disebut spirometer. Spirometer
menggunakan prinsip salah satu hukum dalam fisika yaitu hukum Archimedes.
Hal ini tercermin pada saat spiromete ditiup, ketika itu tabung yang berisi udara
akan naik turun karena adanya gaya dorong ke atas akibat adanya tekanan dari
udara yang masuk ke spirometer. Spirometer juga menggunakan hukum Newton
yang diterapkan dalam sebuah katrol. Katrol ini dihubungkan kepada sebuah
bandul yang dapat bergerak naik turun. Bandul ini kemudian dihubungkan lagi
dengan alat pencatat yang bergerak diatas silinder berputar.

Karena proses pernafasan terbagi menjadi inspirasi dan ekspirasi, maka
volume pernafasan akan terbagi menjadi beberapa jenis:

1. Volume Paru
a. Volume tidal (Tidal volume/TV), yaitu jumlah udara yang masuk
ke dalam dan ke luar dari paru pada pernapasan biasa/ istirahat.
Pada orang dengan berat badan 70 kg, volume tidal berkisar 500
ml, hal ini berarti dalam kondisi relaks, individu bernafas
sebanyak 12 x per menit, menghisap dan menghembuskan nafas
sebanyak 500 x 12 = 6 liter per menit
b. Volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume/IRV),
yaitu jumlah udara yang masih dapat masuk ke dalam paru pada
inspirasi maksimal setelah inspirasi biasa. Volume ini
menggambarkan seberapa banyak udara yang dapat dihisap
sebanyak mungkin diluar pernafasan biasa. Nilai normal IRV
berkisar 3000 ml
c. Volume cadangan ekspirasi (Expiratory Reserve Volume/ERV),
yaitu jumlah udara yang dikeluarkan secara aktif dari dalam paru
setelah ekspirasi biasa. Nilai normal ERV berkisar 1200 ml
d. Volume residu yaitu jumlah udara yang tersisa dalam paru setelah
ekspirasi maksimal, tetap ada udara yang masih tersimpan di
dalam paru-paru. Nilai normal volume residual berkisar 1.2 liter.

2. Kapasitas paru
1. Kapasitas paru total (total lung capacity/ TLC), yaitu jumlah total
udara dalam paru setelah inspirasi maksimal. Nilai normal TLC
seseorang berkisar 6 liter. Akan tetapi arti klnis TLC tidak sebesar
VC, karena TLC hanya gambaran anatomi dari volume respirasi.
2. Kapasitas vital (vital capacity/ VC), yaitu jumlah udara yang dapat
diekspirasi maksimal setelah inspirasi maksimal. Kapasitas vital
memb erikan arti klinis yang bermakna dimana sebagai
gambaran seberapa besar kemampuan paru-paru seseorang untuk

menggerakkan udara pada kondisi inspirasi dan ekspirasi
maksimal. Dapat dikatakan bahwa VC merupakan gambaran
kapasitas fisiologis seseorang untuk menghisap dan
menghembuskan udara. Nilai normal VC berkisar 5 liter. Pada atlet
VC dapat mencapai 6.5 liter, orang yang kurus berkisar 3 liter.
Ukuran VC akan sangat berkurang pada klien gangguan kronis
parenkim paru seperti Tuberkulosis (TBC). Kapasitas vital juga
akan berkurang bila terjadi kelemahan otot pernafasan akibat
penyakit (missal Polio, Guillan Barre Syndrome) dan konsumsi
obat tidur.
3. Kapasitas inspirasi, yaitu jumlah udara maksimal yang dapat
masuk ke dalam paru setelah akhir ekspirasi biasa.
4. Kapasitas residu fungsional, yaitu jumlah udara dalam paru pada
akhir ekspirasi biasa

5. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN OKSIGEN

Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu
tubuh memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab.
Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status kesehatan.

1. Lingkungan
Pada lingkungan yang panas tubuh berespon dengan

terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer, sehingga darah
banyak mengalir ke kulit. Hal tersebut mengakibatkan panas
banyak dikeluarkan melalui kulit. Respon demikian menyebabkan
curah jantung meningkat dan kebutuhan oksigen pun meningkat.
Sebaliknya pada lingkungan yang dingin, pembuluh darah
mengalami konstriksi dan penurunan tekanan darah sehingga
menurunkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen. Pengaruh
lingkungan terhadap oksigen juga ditentukan oleh ketinggian
tempat. Pada tempat tinggi tekanan barometer akan turun, sehingga
tekanan oksigen juga turun. Implikasinya, apabila seseorang berada

pada tempat yang tinggi, misalnya pada ketinggian 3000 meter
diatas permukaan laut, maka tekanan oksigen alveoli berkurang. Ini
mengindikasikan kandungan oksigen dalam paru-paru sedikit.
Dengan demikian, pada tempat yang tinggi kandungan oksigennya
berkurang. Semakin tinggi suatu tempat maka makin sedikit
kandungan oksigennya, sehingga seseorang yang berada pada
tempat yang tinggi akan mengalami kekurangan oksigen. Selain
itu, kadar oksigen di udara juga dipengaruhi oleh polusi udara.
Udara yang dihirup pada lingkungan yang mengalami polusi udara,
konsentrasi oksigennya rendah. Hal tersebut menyebabkan
kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara optimal.
Respon tubuh terhadap lingkungan polusi udara diantaranya mata
perih, sakit kepala, pusing, batuk dan merasa tercekik.
2. Latihan

Latihan fisik atau peningkatan aktivitas dapat
meningkatkan denyut jantung dan respirasi rate sehingga
kebutuhan terhadap oksigen semakin tinggi.
3. Emosi

Takut, cemas, dan marah akan mempercepat denyut
jantung sehingga kebutuhan oksigen meningkat.
4. Gaya Hidup

Kebiasaan merokok akan mempengaruhi status oksigenasi
seseorang sebab merokok dapat memperburuk penyakit arteri
koroner dan pembuluh darah arteri. Nikotin yang terkandung
dalam rokok dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah
perifer dan pembuluh darah koroner. Akibatnya, suplai darah ke
jaringan menurun.
5. Status Kesehatan

Pada orang sehat, sistem kardiovaskuler dan sistem
respirasi berfungsi dengan baik sehingga dapat memenuhi
kebutuhan oksigen tubuh secara adekuat. Sebaliknya, orang yang

mempunyai penyakit jantung ataupun penyakit pernapasan dapat
mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.

6. GANGGUAN OKSIGENASI
Permasalahan dalam hal pemenuhan kebutuhan oksigen tidak

terlepas dari adanya gangguan yang terjadi pada sistem respirasi baik pada
anatomi maupun fisiologis dari organ-organ respirasi. Permasalahan dalam
pemenuhan tersebut dapat disebabkan adanya gangguan pada sistem tubuh
lain, misalnya sistem kardiovaskuler. Gangguan pada sistem respirasi
dapat disebabkan diantaranya oleh peradangan, obstruksi, trauma, kanker,
degeneratif dan lain-lain. Gangguan tersebut akan menyebabkan
kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara adekuat.

Secara garis besar, gangguan-gangguan respirasi dikelompokkan
menjadi tiga yaitu gangguan irama/ frekuensi pernapasan, insufisiensi
pernapasan dan hipoksia.
1. Gangguan irama/ frekuensi pernapasan

a. Gangguan irama pernapasan antara lain:
a. Pernapasan “Cheyne-stokes” yaitu siklus pernapasan yang
amplitudonya mula-mula dangkal, makin naik kemudian
menurun dan berhenti. Lalu pernapasan dimulai lagi dengan
siklus baru. Jenis pernapasan ini biasanya terjadi pada klien
gagal jantung kongesti, peningkatan tekanan intrakranial,
overdosis obat. Namun secara fisiologis, jenis pernapasan ini
terutama terdapat pada orang di ketinggian 12.000-15.000 kaki
di atas permukaan laut dan pada bayi saat tidur.
b. Pernapasan “Biot” yaitu pernapasan yang mirip dengan
pernapasan Cheyne- stokes, tetapi amplitudonya rata dan
disertai apnea. Keadaan pernapasan ini kadang ditemukan
pada penyakit radang selaput otak.
c. Pernapasan “Kussmaul” yaitu pernapasan yang jumlah dan
kedalamannya meningkat sering melebihi 20 kali/menit. Jenis

pernapasan ini dapat ditemukan pada klien dengan asidosis
metabolik dan gagal ginjal
b. Gangguan frekuensi pernapasan
a. Takipnea/hiperpnea, yaitu frekuensi pernapasan yang
jumlahnya meningkat di atas frekuensi pernapasa normal.
b. Bradipnea, yaitu kebalikan dari takipnea dimana ferkuensi
pernapasan yang jumlahnya menurun dibawah frekuensi
pernapasan normal
2. Insufisiensi pernapasan
Penyebab insufisiensi pernapasan dapat dibagi menjadi tiga kelompok
utama yaitu:
a. Kondisi yang menyebabkan hipoventilasi alveolus, seperti:

• Kelumpuhan otot pernapasan, misalnya pada
poliomielitis, transeksi servikal.

• Penyakit yang meningkatkan kerja ventilasi, seperti
asma, emfisema, TBC dan lain-lain.

b. Kelainan yang menurunkan kapasitas difusi paru:
• Kondisi yang menyebabkan luas permukaan difusi
berkurang, misalnya kerusakan jaringan paru, TBC,
kanker dan lain-lain
• Kondisi yang menyebabkan penebalan membran
pernapasan, misalnya pada edema paru, pneumonia, dan
lain-lain.
• Kondisi yang menyebabkan rasio ventilasi dan perfusi
yang tidak normal dalam beberapa bagian paru,
misalnya pada trombosis paru.

c. Kondisi paru yang menyebabkan terganggunya pengangkutan
oksigen dari paru- paru ke jaringan yaitu:
• Anemia dimana berkurangnya jumlah total hemoglobin
yang tersedia untuk transpor oksigen.

• Keracunan karbondioksida dimana sebagian besar
hemoglobin menjadi tidak dapat mengankut oksigen.

• Penurunan aliran darah ke jaringan yang disebabkan oleh
karena curah jantung yang rendah.

3. Hipoksia
Hipoksia adalah kekurangan oksigen di jaringan. Istilah ini lebih

tepat daripada anoksia. Sebab, jarang terjadi tidak ada oksigen sama
sekali dalam jaringan. Hipoksia dapat dibagi ke dalam empat
kelompok yaitu hipoksemia, hipoksia hipokinetik, overventilasi
hipoksia dan hipoksia histotoksik

a. Hipoksemia
Hipoksemia adalah kekurangan oksigen di darah arteri.

Terbagi atas dua jenis yaitu hipoksemia hipotonik (anoksia
anoksik) dan hipoksemia isotonik (anoksia anemik).
Hipoksemia hipotonik terjadi dimana tekanan oksigen arteri
rendah karena karbondioksida dalam darah tinggi dan
hipoventilasi. Hipoksemia isotonik terjadi dimana oksigen
normal, tetapi jumlah oksigen yang dapat diikat hemoglobin
sedikit. Hal ini terdapat pada kondisi anemia, keracunan
karbondioksida.
b. Hipoksia Hipokinetik (stagnat anoksia/anoksia bendungan)

Hipoksia hipokinetik yaitu hipoksia yang terjadi akibat
adanya bendunagn atau sumbatan. Hipoksia hipokinetik dibagi
kedalam dua jenis yaitu hipoksia hipokinetik ischemic dan
hipoksia hipokinetik kongestif. Hipoksia hipokinetik ischemic
terjadi dimana kekurangan oksigen pada jaringan disebabkan
karena kuarngnya suplai darah ke jaringan tersebut akibat
penyempitan arteri. Hipoksia hipokinetik kongestif terjadi akibat
penumpukan darah secara berlebihanatau abnormal baik lokal
maupun umum yang mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan
terganggu, sehingga jarinagn kekurangan oksigen.

c. Overventilasi hipoksia
Overventilasi hipoksia yaitu hipoksia yang terjadi karena

aktivitas yang berlebihan sehingga kemampuan penyediaan
oksigen lebih rendah dari penggunaannya.
d. Hipoksia histotoksik

Hipoksia histotoksik yaitu keadaan dimana darah di kapiler
jaringan mencukupi, tetapi jaringan tidak dapat menggunakan
oksigen karena pengaruh racun sianida. Hal tersebut
mengakibatkan oksigen kembali dalam darah vena dalam
jumlah yang lebih banyak daripada normal (oksigen darah vena
meningkat).

7. METODE PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN (SPO)
A. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan memberikan oksigen ke
dalam paru- paru melalui saluran pernapasan dengan alat bantu
oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui beberapa cara
yaitu melalui nasal prong (oxygen canule), masker, simple mask,
masker partial rebreather dan nonrebreather, serta venture mask.
Pemberian oksigen tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia. Terapi O2 merupakan
salah satu dari terapi pernafasan dalam mempertahankan oksigenasi
jaringan yang adekuat. Secara klinis tujuan utama pemberian O2
adalah :

1. untuk mengatasi keadaan Hipoksemi asesuai dengan hasil Analisa
Gas Darah,

2. untuk menurunkan kerja nafas dan meurunkan kerja miokard.
Secara umum tujuan pemberian oksigen adalah:

1. Meningkatkan ekspansi dada

2. Memperbaiki status oksigenasi klien dan memenuhi kekurangan
oksigen

3. Membantu kelancaran metabolisme
4. Mencegah hipoksia
5. Menurunkan kerja jantung
6. Menurunkan kerja paru-paru pada klien dengan dyspnea
7. Meningkatkan rasa nyaman dan efisiensi frekuensi napas pada

penyakit paru
Syarat-syarat pemberian O2 meliputi:
1. Konsentrasi O2 udara inspirasi dapat terkontrol
2. Tidak terjadi penumpukan CO2
3. Mempunyai tahanan jalan nafas yang rendah
4. Efisien dan ekonomis
5. Nyaman untuk pasien dalam pemberian terapi
Dalam pemberian terapi O2 perlu diperhatikan“Humidification”.
Hal ini penting oleh karena udara yang normal dihirup telah
mengalami humidfikasi sedangkan O2 yang diperoleh dari sumber O2
(Tabung) merupakan udara kering yang belum terhumidifikasi,
humidifikasi yang adekuat dapat mencegah komplikasi pada
pernafasan.

DAFTAR PUSTAKA

https://books.google.co.id/books?id=IJ3P1qiHKMYC&pg=PA13&dq=kebutuhan
+oksigenasi&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjijo70o-XoAhU-
7HMBHYEeDDAQ6wEIKDAA#v=onepage&q=Kebutuhan%20oksigenasi&=fal
se

https://books.google.co.id/books?id=aabo4N8QHzQC&pg=PT5&dq=Kebutuhan+
oksigenasi&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjijo70o-XoAhU-
7HMBHYEeDDAQ6wEILjAB#v=onepage&q=Kebutuhan%20oksigenasi&f=fals
e

https://books.google.co.id/books?id=cq_iCAAAQBAJ&pg=PA25&dq=Kebutuha
n+oksigenasi&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjijo70o-XoAhU-
7HMBHYEeDDAQ6wEINDAC3v=onepage&q=Kebutuhan%20oksigenasi&f=fa
lse


Click to View FlipBook Version