The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Salah satu nilai dan prinsip yang harus dimiliki seseorang adalah sikap berbuat adil kepada semua orang tanpa membedakan dengan suatu apapun. Sikap berbuat adil harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak agar kelak ketika tumbuh dewasa sudah terbiasa dengan hal itu.
Buku ini menyuguhkan kumpulan cerita pendek para bibit penulis Gendis Sewu dari SDN Tandes Kidul I/110 Surabaya hasil dari pendampingan petugas Taman Baca Masyarakat se-Kecamatan Tandes.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tbmtandessurabaya, 2024-01-27 01:39:50

BERBUAT ADIL

Salah satu nilai dan prinsip yang harus dimiliki seseorang adalah sikap berbuat adil kepada semua orang tanpa membedakan dengan suatu apapun. Sikap berbuat adil harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak agar kelak ketika tumbuh dewasa sudah terbiasa dengan hal itu.
Buku ini menyuguhkan kumpulan cerita pendek para bibit penulis Gendis Sewu dari SDN Tandes Kidul I/110 Surabaya hasil dari pendampingan petugas Taman Baca Masyarakat se-Kecamatan Tandes.

GENDIS SEWU BERKARYA BERBUAT ADIL Antologi Cerita Pendek Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Bekerja Sama dengan SDN Tandes Kidul I/110 Surabaya


BERBUAT ADIL Penulis : Akilah Yandia, Noe Anugerah, Moreno Septiansyah, dkk. Desain Sampul : Indah Purnamasari dan Ikke Ariani Penyunting : Akbar Fitriadi, Khoiruli, Indah Purnamasari, dan Ikke Ariani Penyunting Akhir : Faradila Elifin Malidin, Vivi Sulviana, Ayu Dewi A.S.N, Rici Alric K, dan Vegasari Yuniati Diterbitkan pada tahun 2023 oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Jln. Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi yang telah diberikan dalam Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu (Gendis Sewu). Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.


KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt. atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang begitu besar, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan buku ini sebagai bentuk apresiasi kepada para bibit penulis yang mengikuti Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu (Gendis Sewu) dengan baik dan lancar. Antologi merupakan kumpulan karya cerita pendek dari para penulis SDN Tandes Kidul I/110 Surabaya. Buku ini mengangkat tema tentang keadilan dari para penulis yang merupakan bibit Gendis Sewu Berkarya. Kami menyadari bahwa sebuah karya memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam penyusunan buku ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih ada kekurangan, kami mengharap kritik dan saran yang bisa membangun dari segenap pembaca buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi


perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia pada umumnya. Surabaya, 2023 Petugas TBM se-Kecamatan Tandes


KATA SAMBUTAN Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayatNya, hanya dengan kemurahan-Nya kita selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam ikut serta membangun Kota Surabaya yang kita cintai. Kita patut bangga dan memberi apreasiasi kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu), para editor penulis Dispusip di Kota Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya tulis yang berjudul Berbuat Adil. Buku para bibit Gendis Sewu menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas yang telah melalui proses panjang dan berjenjang dan merupakankarya-karya imajinatif yang mengandung pesan moral dengan bahasa yang mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.


Semoga kedepannya akan menjadi inspirasi untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata, semoga buku Gendis Sewu Berkarya dengan judul Berbuat Adil bermanfaat bagi semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis Sewu. Surabaya, 2023 Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, S.H., M.Si.


SEKAPUR SIRIH Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya dengan kemurahan Allah Swt. kami dapat menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi cerpen dengan judul Berbuat Adil. Buku ini merupakan antologi cerpen kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Tandes Kidul I/110 Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan 10 karya tulis cerpen pendampingan petugas TBM seKecamatan Tandes yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas. Taman Kalimas yang merupakan singkatan


dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat memberikan layanan literasi yang di dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi. Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas berjenjang dari mulai kelas reguler Taman Kalimas di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan mendapatkan reward naik ke kelas khusus minat dan bakat setelah itu karyanya akan dibuat buku dan dipublikasikan. Saya mengapresiasi bangga kepada para bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain membaca juga mampu menulis. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip yang terdiri dari para tutor kelas reguler di tingkat kecamatan, para editor area (Dira), dan para penyunting akhir hingga buku ini terselesaikan


secara baik. Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja para petugas TBM se-Kecamatan Tandes yang berkolaborasi dengan SDN Tandes Kidul I/110 Surabaya. Membangun kota maka perlu disertai 'membangun' manusia di dalamnya. Tentu tidaklah mudah karena awal membangun seringkali terlihat abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun begitu, tetap terus 'membangun' karena 'membangun' manusia melalui literasi adalah sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta kita Kota Surabaya. Salam Literasi. Surabaya, 2023 Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Pudji Astuti, S.T.


DAFTAR ISI 1. Arka yang Nakal 1 2. Permainan yang Curang 4 3. Berbagi Adil 6 4. Guru Bijak 8 5. Kakak dan Adik Tiri 13 6. Keke Suka Berbagi 15 7. Kisah Anak Kembar 18 8. Petani 21 9. Sekolah Adiwiyata 24 10.Keadilan di Sekolah 28


1 ARKA YANG NAKAL Oleh Noe Anugerah Putra Ellik Hari Jumat pukul 06.10, jadwal Ririn, Damian, Amel, dan Arka piket kelas. Namun, Arka tidak mau karena dia malas untuk piket. Ririn bilang ke Arka supaya mau piket. "Ayo, piketlah bersama kita supaya cepat selesai, Arka!" ajak Ririn. "Mengapa sih harus ada piket? Aku malas untuk piket," jawab Arka kesal. "Kalau begitu, aku akan bilang ke Bu Guru kalau kamu tidak mau piket," ujar Ririn mengancam. Setelah Ririn berkata seperti itu, Arka pun akhirnya mau piket. Tidak lama kemudian, pelajaran di kelas pun dimulai. Namun, teman sebangku Arka yang bernama Farel tergelincir saat berlari untuk masuk ke kelas karena dia terlambat. Arka seketika membantu Farel untuk berdiri. Bu Guru memulai pelajaran di kelas, tetapi Arka dan Farel mengobrol. Mereka tidak memperhatikan yang diajarkan oleh Bu Guru.


2 Pukul 09.00 waktunya istirahat, Arka dan teman-teman pergi ke kantin untuk membeli makanan. Dia duduk bersama Damian, tetapi Arka meminta dibelikan makanan. Damian kesal dan akhirnya kembali ke kelas. Jam menunjukkan pukul 09.30, waktu istirahat telah habis. Saatnya Arka dan teman-teman masuk kelas. Namun, Amel tergelincir karena lantainya licin. Ririn dan Damian membantu Amel untuk berdiri, tetapi Arka malah tidak membantu. Bu Guru yang melihat itu bertanya. “Arka, kenapa kamu tidak menolong Amel? Padahal kamu ada di dekatnya,” tanya Bu Guru. “Saat Farel terjatuh kamu menolongnya. Namun, saat Amel terjatuh kamu tidak menolongnya,” tambah Bu Guru lagi. Bu Guru menasihati Arka untuk bersikap adil kepada teman-temannya. Semua teman yang mengalami kesusahan wajib kita bantu. Tidak hanya teman, orang lain yang membutuhkan juga kita bantu.


3 Arka menganggukkan kepalanya. Setelah kejadian itu, Arka dan teman-temnnya saling membantu tanpa pilih kasih.


4 PERMAINAN YANG CURANG Oleh Raffa Raditya Nugroho Siang hari sepulang sekolah, terlihat sekelompok anak-anak sedang bermain di sebuah taman. Mereka adalah Alex, Anton, Amir, Lina, dan Nasya. Lina dan Nasya sedang bermain lompat tali sedangkan Alex, Anton, dan Amir bermain bola. Namun, Alex merasa tidak pernah menerima bola. Dia pun berbuat curang dengan mendorong Anton dengan sengaja. Dia melakukannya saat sedang menggiring bola hingga terjatuh. "Gitu saja terjatuh," ujar Alex. Lina dan Nasya yang melihat itu langsung menegur Alex. "Kamu jangan curang begitu!" tegur Lina. “Kamu kira tidak sakit?” timpal Nasya. Alex hanya tertunduk menyesali perbuatannya tersebut. Kemudian Amir menyarankan bermain petak umpet dan mereka semua setuju dengan saran Amir.


5 Sebagai gantinya, Alex mendapat giliran pertama jaga dan yang lain bersembunyi. "Sampai hitungan kesepuluh, semuanya harus bersembunyi, ya!” kata Alex. Saat mulai menghitung, Alex mengintip teman-temannya yang sedang mencari tempat persembunyian. Namun, hal itu diketahui oleh Anton. “Hei, keluar semuanya. Alex mengintip waktu menghitung!” teriak Anton. Akhirnya mereka marah kepada Alex. “Main sepak bola curang, main petak umpet pun curang,” ujar Lina. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi dan tidak mau bermain lagi bersama Alex. Alex merasa berbuat salah. Dia menjadi tidak punya teman. Setelah merenungi kesalahan, Alex menemui teman-temannya untuk meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.


6 BERBAGI ADIL Oleh Amanda Putri Iskandar Siang hari, Lena dan Dito pulang sekolah. Saat pulang sekolah, mereka kelaparan. Mereka pergi ke dapur untuk mengambil makanan di dalam kulkas. Namun, di kulkas hanya ada satu susu dan roti. Mereka berdua sama-sama ingin memakannya. Ketika pulang dari bekerja, ayah mencari Lena dan Dito. “Asalamualaikum ... di mana ya anak-anak? Kok tidak ada yang menjawab,” gumam ayah. Ayah mencari di kamar, tetapi mereka tidak ada. Ayah berpikir mereka ada di dapur. Saat pergi ke dapur, ayah melihat Lena dan Dito memperebutkan sesuatu. “Hai, anak-anak! Rupanya kalian di sini. Pantas aja, Ayah salam kok tidak ada yang menjawab,” kata ayah. “Iya, Ayah. Kita tidak mendengar salam, Ayah,” jawab Lena.


7 “Kalian kenapa di sini? Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya ayah. “Pulang sekolah tadi kami berdua lapar, Yah. Lalu kami ke dapur untuk mencari makanan. Akhirnya kami membuka kulkas hanya ada satu susu dan roti. Kak Lena ingin memakan semuanya,” kata Dito panjang lebar menjelaskan kepada ayahnya. “Oh, begitu. Ayah mempunyai ide agar roti dan susu itu bisa dimakan bersama-sama. Ayah akan membagi sama rata sehingga kalian berdua bisa makan roti dan susu tanpa harus berebut.” “Baiklah, Ayah. Terima kasih telah berbuat adil untuk kita berdua,” jawab Lena. Setelah dibagi, ayah juga menasihati mereka agar tidak saling berebut, bertengkar, dan harus berbagi.


8 GURU BIJAK Oleh Kirana Yasmin S.G Hai, teman-teman perkenalkan namaku Yasmin. Sekarang, aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas lima. Di sekolah, aku punya banyak sekali teman. Aku punya teman dekat, tempat berbagi cerita, atau bisa dibilang bestie. Namanya Kiara. Dia adalah anak yang pintar, cantik, dan pendiam. Pada suatu hari, aku dan teman-teman sedang asyik ngobrol di kantin sambil menikmati bakso pada saat jam istirahat sekolah. Kemudian datanglah bu Siska dan menyapa kami. "Siang, anak-anak!" sapa bu Siska. "Selamat siang, Ibu!” jawab kami. Kemudian kami mengobrol santai bersama bu Siska sampai bel masuk kelas berbunyi. Bu Siska adalah guru kelas kami. Beliau sangat tegas, baik, dan suka bercanda dengan kami.


9 Suatu ketika, ada kegaduhan yang terjadi di kelas. Hal itu karena ada salah satu siswa yang melempar botol minuman dan mengenai kaca jendela hingga pecah. Suaranya terdengar sangat keras sekali, sampai ke ruang guru. Seketika para guru langsung keluar dan murid-murid dari kelas lain pun berkumpul di depan kelas kami. Saat itu kami semua sedang menunggu bel masuk kelas. Kemudian bu Siska langsung ke kelas dan menegur kami semua. “Siapa yang melempar botol minuman hingga mengenai kaca jendela sampai pecah?” tanya bu Siska. Semua terdiam dan tidak ada satu pun yang mengakuinya, mungkin karena merasa takut. Bu Siska sangat kecewa dan berlalu meninggalkan kelas. "Saya tunggu pengakuannya di ruang guru hingga jam sekolah selesai," kata bu Siska. Siang harinya, pada saat jam pulang sekolah, Kiara memanggilku.


10 "Yasmin, boleh aku bicara denganmu?” tanya Kiara. "Ada apa, Kiara?" jawabku. Kiara langsung memelukku sambil menangis. Aku kaget, karena tidak seperti biasanya Kiara bersikap seperti itu. "Kiara, kenapa kamu menangis?” tanyaku Akhirnya Kiara bercerita kalau dia yang melempar botol minuman hingga kaca pecah. Namun, itu terjadi karena ada yang mendorongnya dari belakang pada saat dia minum. "Siapa yang mendorongmu, Kiara?" tanyaku Namun, Kiara hanya diam dan tidak menjawab. Dia terlihat ketakutan dan wajahnya pucat. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Kiara mau bercerita siapa yang mendorongnya. "Adit dan Bayu yang mendorongku,”jawab Kiara Memang Adit dan Bayu adalah anak yang nakal dan jail di kelas, oleh sebab itu Kiara sangat takut dengan mereka karena sering mengganggu anak-anak lain di kelas.


11 Setelah menceritakan semua kepadaku kemudian kami bersama-sama menghadap bu Siska di ruang guru untuk menceritakan semuanya. Keesokan harinya pada saat jam pelajaran dimulai bu Siska masuk ke kelas kami dan langsung memanggil Adit dan Bayu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Awalnya Adit dan Bayu tidak mengakui perbuatannya dan malah menyalahkan Kiara dan menuduhnya berbohong. Setelah terjadi perdebatan di kelas, akhirnya bu Siska mengambil keputusan untuk melihat kejadian yang terjadi dari CCTV kelas. Terungkaplah semua kejadian sebenarnya. Adit dan Bayu tidak bisa menyangkal lagi. Bu Siska akhirnya memberikan hukuman kepada Adit dan Bayu, begitu juga Kiara harus ikut mempertanggungjawabkan perbuatannya meskipun itu tidak sengaja. Sebagai hukumannya mereka harus memungut kaca jendela yang pecah.


12 Setelah kejadian itu, akhirnya Adit dan Bayu bersikap lebih baik dari sebelumnya. Mereka sudah tidak lagi nakal dan jail kepada teman-temannya. Yasmin dan teman-teman sekelas sepakat untuk membantu Kiara, Bayu, dan Adit. Bu Siska sangat bangga kepada kami karena kami saling membantu satu sama lain. Dari sinilah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa bu Siska telah berlaku adil di kelas meski sudah memaafkan Bayu dan Adit, tetapi tetap diberikan hukuman. Begitu juga dengan Kiara, meskipun tanpa sengaja memecahkan kaca, tetap harus diberikan hukuman juga meski tidak seberat hukuman Bayu dan Adit. Kejadian itu membuat kami jadi lebih solid dan rukun.


13 KAKAK DAN ADIK TIRI Oleh Akilah Yandia Filza Pada suatu hari, hiduplah dua saudara tiri yaitu Aulia dan Dea. Aulia adalah kakak yang sangat baik hati dan adiknya bernama Dea. Pada saat pulang sekolah, mereka berdua sangat lapar. "Bu, apakah ada makanan yang sudah matang?" ucap Dea kepada ibu tirinya "Sudah, Nak. Apakah kamu ingin makan?" tanya ibu tirinya “Iya, Ibu,” kata Dea “Aku juga mau, Bu,” sahut Aulia "Hanya ada satu porsi yang Ibu buat, kamu masaklah sendiri," ucap ibu tirinya. “Aku lapar ingin memasak ayam goreng, tetapi tidak ada di kulkas,” gumam Aulia. Akhirnya, Aulia pun pergi membeli ayam ke pasar dengan uang tabungannya dan langsung memasak sendiri. Saat ingin mengambil nasi, Aulia kaget tidak ada nasi yang matang. Lalu Aulia pun


14 menanak nasi tersebut. Hingga Aulia bisa makan, tetapi Dea datang. “Kak, minta ayamnya dong,” kata Dea. “Iya, ini ambil,“ sahut Aulia dengan sabar sambil memberikan ayam gorengnya. Pada saat malam, tiba waktu makan malam bersama. Mereka duduk di meja makan. Seperti kejadian tadi siang, hanya ada satu lauk yang tersisa. Ibu tirinya hanya memberikan kepada Dea. “Dea, ini lauknya,” kata ibu tirinya. “Punyaku mana, Bu,” sahut Aulia Ibu tirinya merasa iba dan kasihan. Akhirnya Aulia mendapat sisa ikan yang ada. “Ini buat kamu, Nak,” kata ibu tirinya. Aulia kaget dan bersyukur melihat perubahan sikap ibu tirinya yang menjadi baik. Akhirnya setiap berangkat ke sekolah, mereka dibawakan bekal. Mereka pulang sekolah pun diberi makanan yang sama.


15 KEKE SUKA BERBAGI Oleh Mochammad Fathur Rohman Suatu hari, di kebun binatang ada seekor keledai yang bernama Keke. Ia suka berbagi makanan. Setiap hari ia berbagi dengan teman yang suka memakan rumput seperti Kuku seekor kuda, Ruru seekor rusa, Zeze seekor zebra, dan lainnya. Di kebun itu juga, ada Sisi seekor singa. Sisi sedang makan daging di kandangnya. “Hai, Keke. Apa kamu tidak makan?” tanya Sisi. “Tidak, Sisi. Aku belum lapar,” jawab Keke. “Ya, sudah kalau kamu belum lapar,” sahut Sisi. Siang mulai tiba, Keke mulai lapar dan keluar dari kebun binatang. Keke tersesat di dalam hutan. Sambil mencari jalan pulang, Keke bertemu seekor burung. “Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya burung yang bernama Bubu itu.


16 “Aku tersesat di hutan ini karena lapar dan ingin mencari makanan,” jawab Keke. “Ya, sudah. Aku bantu,” sahut Bubu. “Terima kasih, Bubu,” ucap Keke. “Sama-sama, Keke. Kita harus saling menolong,” balas Bubu. Bubu dan Keke bersama-sama untuk keluar dari hutan dengan membawa makanan. Sesampai di kebun binatang, Sisi melihat Keke membawa banyak rumput dan teman baru yaitu seekor burung yang indah. Sepertinya, Keke tadi pergi ke hutan, gumam Sisi dalam hati. Saat semua penghuni kebun binatang tidur, Sisi membawa dan menyembunyikan makanan Keke ke dalam hutan. Ia meletakkan di balik semaksemak. Keesokan paginya, Keke dan teman-teman mencari Sisi. Keke baru sadar kalau makanannya hilang dan menduga kalau Sisi yang mencuri.


17 Sambil mencari makanannya, terdengar suara Sisi berteriak lemas meminta tolong dengan kaki yang tersangkut akar pohon. Keke dan teman-teman langsung menghampiri Sisi. “Kenapa kakimu bisa tersangkut akar, Sisi?” tanya Keke. “Aku ingin menyembunyikan makanannmu di balik semak-semak, tapi kakiku tersangkut akar ini,” jawab Sisi. Keke dibantu dengan teman-temannya berusaha melepaskan akar yang melilit kaki Sisi. Akhirnya, Sisi pun lepas kemudian meminta maaf kepada Keke karena telah menyembunyikan makanannya. “Maafkan aku, ya, Keke,” pinta Sisi. “Iya, Sisi. Aku maafkan, lain kali jangan usil lagi, ya,” jawab Keke.


18 KISAH ANAK KEMBAR Oleh Salwa Salsabila A.R Di sebuah desa bernama Darurejo, hiduplah keluarga dari pak Saiful yang mempunyai anak perempuan kembar bernama Ana dan Ani. Mereka duduk di kelas enam sekolah dasar. Keluarga pak Saiful termasuk keluarga kurang mampu. Pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh tani sedangkan istrinya sebagai buruh cuci. Pak Saiful menyisihkan uang untuk kedua anaknya yang ingin melanjutkan sekolah dengan gaji yang sangat kecil. Mereka setiap hari makan apa adanya dengan tetap bersyukur. Ana dan Ani memiliki perbedaan kemampuan dalam bidang akademis. Ana adalah anak yang selalu mendapatkan nilai bagus di sekolah dan selalu juara kelas. Ani merupakan anak yang selalu mendapatkan nilai terendah di kelasnya. Walaupun mereka berbeda kemampuan, tetapi, kedua orang tuanya selalu bersikap adil kepada kedua anaknya dan tidak membeda-


19 bedakan. Sedikit demi sedikit uang pak Saiful terkumpul dengan kesabaran yang dimiliki. Pak Saiful merasa sudah cukup untuk kedua anaknya yang mau melanjutkan sekolah. Pak Saiful dan istrinya ingin melihat anaknya sukses. Ana dan Ani berterima kasih kepada kedua orang tuanya karena bisa melanjutkan sekolah lagi. “Terima kasih, Ayah ... Ibu. Atas jerih payahnya demi kami berdua bisa melanjutkan sekolah,” kata Ana dan Ani. “Iya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ayah juga berpesan kepada kedua anaknya supaya belajar lebih giat lagi,” jawab pak Saiful. “Iya, Yah. Kami berdua akan selalu belajar dengan giat dan tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu”, jawab mereka kompak. “Ana, jangan lupa kamu bantu Ani dalam belajar jika ada kesulitan. Selalu semangati dia, ya,” tambah pak Saiful. “Siap, Yah,” jawab Ana.


20 “Terima kasih, Ana. Kamu sudah menjadi kakak yang baik untuk Ani,” kata pak Saiful. “Sama-sama, Yah. Sudah sepantasnya Ana berbuat demikian sama Ani,” sahut Ana. Kini dengan bangga dan bahagia, Ana dan Ani bisa melanjutkan sekolah meskipun dalam kondisi keluarga yang kekurangan. Namun, tidak menyurutkan semangatnya untuk berjuang demi masa depan. Kedua orang tuanya pun tidak mengenal putus asa dalam mencari rizki untuk keluarganya terutama untuk pendidikan kedua putrinya.


21 PETANI Oleh Fifit Ayunda A.S Hiruk pikuk suara pinggir perkotaan tidak membuat para petani enggan pergi ke sawah. Desa Batu, terkenal dengan perkebunan apel sebagai ciri khas oleh-oleh di daerah tersebut. Banyak sekali perkebunan, ladang, dan sawah yang membentang. Pagi itu, seorang petani bernama Tono terlihat sibuk menanam padi. “Semoga cuaca hari ini bersahabat, ya, Ngga. Agar aku bisa menyelesaikan menanam benih-benih padi ini,” ucap Tono. “Iya, Ton. Aku harap juga begitu karena permintaan Bos, kita harus menyelesaikannya hari ini,” jawab Angga. Matahari tampak berada di tengah langit, menandakan bahwa waktunya mereka beristirahat. “Istirahat dulu, Ton! Sudah siang waktunya kita makan siang” kata Angga. “Oke, Ngga! Ayo kita lesehan di bawah pohon sebelah sana seperti biasa,” ajak Tono.


22 Mereka bersantai sejenak dan makan dengan lahap bekal dari rumah. Saat menikmati waktu istirahat, mereka melihat Simon yang sedang sibuk mengambil buah apel yang bukan miliknya berkarung-karung. “Woy, Mon! Sedang apa kamu di sini?“ tegur Tono. Simon terkejut mendengar ada yang menegurnya. Ia menolehkan kepalanya dengan perlahan ke arah suara itu. “Eng ... aa ... aku cuma mau mengambil sedikit buah apel ini,” jawab Simon dengan gugup. “Hah? Cuma sedikit katamu? Kamu mengambil buah apel berkarung-karung, Mon!” sindir Angga. “Jangan mengambil buah apel ini, Mon! Kebun apel ini ‘kan milik Haji Ridwan. Memang kamu sudah izin beliau?” tanya Tono. “Aku belum izin, tapi aku akan mengabarinya.” jawab Simon.


23 “Berarti jika kami tidak melihat perbuatanmu ini, kamu pasti tidak akan mengabarinya ‘kan? Itu sama saja dengan mencuri, Mon!” sindir Angga. “Wah ... jangan seperti itu, Mon! Perbuatanmu ini tidak benar. Kalau begitu kita laporkan saja kejadian ini kepada Haji Ridwan, Ngga!” ucap Tono. “Ya, benar itu, Ton. Kalau kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita, sama aja dengan mencuri,” imbuh Angga. “Hem ... maafkan aku, Teman-teman. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku khilaf karena butuh biaya untuk pengobatan anakku,” sesal Simon. “Baiklah. Ayo, kita ke rumah Haji Ridwan! Jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu ini, ya, Mon!” ajak Tono. Mereka bertiga pun bergegas ke rumah Haji Ridwan untuk menceritakan kejadian itu.


24 SEKOLAH ADIWIYATA Oleh Aerilyn Cinta Kirana Liburan sudah berakhir. Siswa-siswi pun sudah mulai masuk sekolah. Mereka masuk ke kelas masing-masing. Di kelas A, para siswa sedang menjadwalkan untuk piket. Di dalam kelas tersebut, ada 30 anak. Setiap hari ada lima anak yang piket. Piket dimulai hari Senin. Hari itu yang piket adalah Rani, Fiko, Ester, Doni, dan Jeno. Saat Ester datang, hanya ada Rani. Akhirnya Ester pun piket bersama Rani. “Ester, kamu tadi lihat Fiko, Doni, dan Jeno enggak?” tanya Rani. “Enggak, memangnya kenapa?” jawab Ester. “Tidak apa-apa. Cuma tadi mereka bilang mau beli sesuatu, tapi sampai sekarang belum kembali,” terang Rani. “Ya, sudah. Kita tunggu saja dulu di sini,” ajak Ester.


25 Akhirnya Fiko, Doni, dan Jeno pun datang. Rani segera menyuruhnya untuk piket. Namun, mereka tidak mau. “Nanti saja waktu istirahat,” kata mereka. Rani pun mengiyakan. Bel bunyi pelajaran selesai, mereka pun istirahat. Selesai istirahat, Ester bertanya kepada Jeno. “Kalian bertiga sudah piket?” “Sudah, kok,” jawab Jeno. “Oh, ya sudah kalau begitu,” sahut Ester. Kesya yang mendengarkan Jeno dan Ester mengobrol pun berceletuk. “Bukannya kamu tadi belum piket ya, Jeno?” tanya Kesya. “Aku, Doni, dan Fiko malas piket. Jadi kita bertiga tidak mau piket,” jawab Jeno. “Kamu tidak boleh seperti itu karena ini adalah kelas kita bersama. Jadi kita harus menjaga kebersihan bersama,” kata Rani. Bu Nindy datang ke kelas. “Mengapa kalian bertengkar?”


26 “Jeno, Doni, dan Fiko tidak mau piket, Bu!” jawab Rani dengan nada emosi. “Kita itu mempunyai kewajiban dan hak masing-masin. Jadi kita harus melaksanakan kewajiban,” terang bu Nindy. “Iya, Bu,” jawab mereka bertiga. Akhirnya mereka bertiga mau melaksanakan piket. Sebelum memulai pelajaran, bu Nindy memberitahukan bahwa sekolah kita adalah sekolah adiwiyata jadi harus mengurangi sampah plastik. “Baik, Bu Nindy!” seru anak-anak dengan kompak. “Besok kalian membawa pot kecil, ya. Kita akan menanam bunga bersama-sama,” ujar bu Nindy. Keesokan harinya, anak-anak kelas A menanam di kebun belakang sekolah. Mereka sedang menanam bunga telang. Selesai menanam bunga di kebun, mereka kembali ke kelas untuk pelajaran. ***


27 Beberapa bulan kemudian anak-anak kelas A melihat bunga telang yang mereka tanam tumbuh bermekaran sangat cantik. Mereka sangat senang dan berfoto bersama membelakangi bunga telang.


28 KEADILAN DI SEKOLAH Oleh Moreno Septiansyah N Pagi yang cerah, Rehan dan Adnan berangkat ke sekolah. Mereka sekolah di SDN Tandes Kidul I/110. Waktu menunjukkan pukul 07.00. Mereka bergegas untuk berkumpul dan berbaris dengan rapi di lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Sebelum upacara dimulai, mereka wajib melakukan piket bersama. Agar cepat selesai, Adnan sebagai ketua kelas membagi tugas untuk membersihkan kelas. “Teman-teman, mohon perhatiannya. Lima belas menit lagi, kita akan melaksanakan upacara bendera, agar kelas terlihat bersih. Supaya cepat selesai, saya akan membagi tugas piket, ya. Rehan dan Sila menyapu lantai sedangkan Vino menghapus papan tulis serta membersihkan jendela,” ucap Adnan. “Oke siap, Nan!” seru Rehan, Sila, dan Vino. Di sekolah, dibentuk kelompok piket setiap harinya supaya kebersihan kelas terjaga dan tidak


29 ada kuman penyakit. Sebagai ketua kelas, Adnan membagi tugas dengan adil dan merata supaya tidak terjadi rasa iri. Tugas yang sudah dibagi segera dikerjakan supaya cepat selesai. Mereka sangat senang melakukannya secara bersama-sama karena sudah menjadi tanggung jawab untuk semua. “Wah, kelasnya bersih dan rapi sekali,” Ibu Guru masuk kelas dengan gembira. “Iya, Bu. Kami bekerja sama membersihkan kelas agar lekas mengikuti upacara bendera”, seru Adnan sambil menyalami Ibu Guru. “Terima kasih, Anak-anak. Ayo, sekarang kita semua segera ke lapangan untuk mengikuti upacara, ya!” perintah Ibu Guru. “Siap, Bu,” ujar mereka serentak. Mereka bergegas mengikuti upacara dengan tertib. Melihat sekolah dan ruang kelas menjadi bersih, rapi, dan sehat membuat proses belajar mengajar lebih nyaman dirasakan. Selain itu dengan bergotong royong dan membagi tugas secara adil


30 dapat menciptakan suasana kerja sama yang menyenangkan.


31


Click to View FlipBook Version