MENGENAL BEBERAPA TOKOH
Sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_tokoh_Sumatra_Utara
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan dapat:
1. Menelaah teks biografi
2. Mengungkapkan kembali Keteladanan dalam teks biografi
3. Menganalisis makna dan kebahasaan teks biografi
4. Menceritakan kembali isi teks biografi
Pernahkah kamu mendengar tokoh-tokoh yang patut diteladani di daerah tempat tinggalmu?
Tokoh yang diteladani itu harus seperti apa? Yang pasti tokoh yang diteladani adalah orang-orang
baik, sukses, dan terhormat. Pernahkah kamu berpikir bisa menjadi seperti mereka? Setiap manusia
menginginkan kebaikan, kesuksesan, dan kehormatan. Bagaimana supaya kamu mencapai hal
tersebut tentu dengan belajar dan mempelajari biografi tokoh-tokoh hebat tersebut kemudian
meneladani karakteristik mereka.
PETA KONSEP 1. Mengenal ciri biografi
Menelaah teks 2. Mengidentifikasi struktur
biografi
biografi
3. Mengidentifikasi isi teks
biografi berdasarkan karakter
unggul tokoh
Mengungkapkan 1. Mengidentifikasi karakter unggul
kembali tokoh
Keteladanan dalam
teks biografi 2. Menganalisis cara meneladani
karakter unggul tokoh
Mengenal
Tokoh
Menganalisis 1. Menjelaskan ide pokok teks
makna dan biografi
kebahasaan
teks biografi 2. Menelaah unsur kebahasaan
teks biografi
Menceritakan 1. Menceritakan kembali isi teks
kembali isi teks biografi dengan gaya bahasa
biografi sendiri
2. Mengonversi teks biografi ke
dalam bentuk cerpen
A. Menelaah Teks Biografi
Kegiatan 1
Mengenal Ciri Biografi
Baca dan pahami contoh teks boigrafi berikut!
Biografi Tengku Amir Hamzah
Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran
Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 –
meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang
sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga
bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra
dan kebudayaan Melay.
Ayah Amir Hamzah bernama Tengku Muhammad Adil yang bergelar Datuk Paduka
Raja. Tengku Muhammad Adil merupakan Wakil Sultan untuk Luhak Langkat Hulu
yang berkedudukan di Binjai. Berdasarkan silsilah keluarga istana Kesultanan Langkat,
Amir Hamzah adalah generasi ke-10 dari Sultan Langkat. Amir Hamzah menghabiskan
masa kecil di kampung halamannya. Oleh teman sepermainannya, Amir kecil biasa
dipanggil dengan sebutan Tengku Busu atau “tengku yang bungsu”. Said Hoesny,
sahabat Amir Hamzah di masa kecilnya menggambarkan Amir Hamzah adalah anak
manis yang menjadi kesayangan semua orang.
Amir Hamzah mulai mengenyam bangku sekolah sejak umur 5 tahun, yakni
Langkatsche School di Tanjung Pura tahun 1916. Sebagian besar guru di sekolah
tersebut adalah orang Belanda. Hanya ada satu orang saja guru Melayu. Setelah
menamatkan masa studi selama 7 tahun di sana, Amir Hamzah melanjutkan ke MULO
di Medan. Setahun kemudian, Amir Hamzah pindah ke Batavia, melanjutkan
sekolahnya di Christelijk MULO Menjangan. Ia lulus dari sekolah itu tahun 1927. Dari
sana, ia meneruskan ke AMS di Solo, Jawa Tengah. Ia mengambil program studi Sastra
Timur. Di Solo, mula-mula Amir Hamzah tinggal di kompleks asrama kediaman KRT
Wreksodiningrat yang terletak di samping istana Kasunanan Surakarta. Kemudian Amir
Hamzah tinggal bersama keluarga RT Sutijo Hadinegoro di Nggabelen. Setelah
menyelesaikan masa studi di Solo, Amir Hamzah kembali Batavia untuk melanjutkan
pendidikan di Sekolah Tinggi Hakim pada awal tahun 1934. Di masa-masa ini ia
memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan
Asia yang lain. Selama di Pulau Jawa, ia juga banyak bergaul dengan tokoh pergerakan
asal Jawa seperti Mr.Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodi
Amir Hamzah mulai mengasah minatnya pada sastra dan kepenyairan semenjak
tinggal di Solo. Di sana ia berteman dengan Armijn Pane dan Achdiat K. Mihardja.
Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS Solo. Di kota itu pula Amir
Hamzah mulai menulis beberapa sajak pertamanya. Sajaknya yang berjudul Mabuk dan
Sunyi dimuat dalam majalah Timbul asuhan Sanusi Pane. Beberapa sastrawan yang
hidup semasa dengan Amir Hamzah antara lain Armijn Pane, Sanusi Pane, Sutan Takdir
Alisjahbana, Mohammad Yamin, Soeman Hs, JE Tatengkeng, dan H.B. Jassin.
Amir Hamzah bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane
mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap
sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Amir Hamzah
mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan,
13 prosa, dan 1 prosa terjemahan. Jumlah keseluruhan karya itu adalah 160 tulisan [2].
Dua karya Amir Hamzah yang paling terkenal adalah kumpulan sajak Nyanyi Sunyi
(1937) dan Buah Rindu (1941). Dalam Buah Rindu, yang ditulis antara tahun 1928 dan
tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi
sajak yang lebih modern. Amir Hamzah juga pun melahirkan karya-karya terjemahan,
seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun
1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak
yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia
mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap
sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi
karyanya yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik
kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi
Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru], tetapi
juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia
hingga sekarang. Di tangannya, bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang
terus dihargai hingga zaman sekarang.
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda
pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Pemuda Sosialis
Indonesia menangkapi sekitar 21 tokoh feodal termasuk di antaranya Amir Hamzah
tanggal 7 Maret 1946. Pada 20 Maret 1946, orang-orang yang ditangkapi itu dijatuhi
hukuman mati. Amir Hamzah wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman
Masjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia meninggalkan seorang istri, Tengku Kamaliah,
dan seorang putri, Tengku Tahura. Amir Hamzah diangkat menjadi Pahlawan Nasional
Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November
1975
(Sumber :https://initu.id/biografi-singkat-tengku-amir-hamzah-pangeran-
indera-putera/)
Teks tersebut berisi tentang riwayat hidup seorang satrawan pujangga baru, bernama
Tengku Amir Hamzah. Selain menjadi sastrawan beliau juga merupakan pahlawan
nasional. Disebut pahlawan karena dalam hasil karyanya berani mengkritik, menyindir
penjajah pada masa itu.
Jika dilihat dari isi teks di atas dapat kamu temukan ciri-cirinya yaitu: mengenalkan
seorang tokoh, latar belakang, pekerjaan, sifat, dan hasil karya yang dapat memotivasi
orang lain. Teks tersebut merupakan biografi atau teks cerita ulang (recount), menceritakan
kembali kejadian atau peristiwa masa lalu.
Biografi ditulis dalam bentuk narasi objektif, walupun berbentuk cerita tetapi isinya
berdasarkan fakta atau data dari orang-orang yang mengenal tokoh. Selain itu, biografi
ditulis secara kronologis (urutan waktu) atau rangkaian cerita yang disebut dengan alur.
Tugas Mandiri
Baca kembali teks biografi Tengku Amir Hamzah, kemudian jawablah pertanyaan berikut
ini!
1. Simpulkan pengertian biografi dengan bahasamu sendiri!
2. Mengapa teks tersebut disebut biografi!
3. Identifikasi ciri-ciri biografi berdasarkan teks yang sudah kamu baca!
4. Jelaskan hal apakah yang dapat diteladani dari tokoh tersebut!
5. Ringkaslah teks biografi tersebut!