Kata Pengantar
Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyanyang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiratNya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan inayahNya kepada kami, hingga buku “Teknis
pembelajaran di lembaga pendidikan anak usia dini II” ini dapat tersusun hingga selesai.
Tak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
membantu kami dalam menyusun buku ini.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca, untuk
kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi buku agar menjadi lebih
baik. Karena dalam penulisan buku ini, penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat
kekurangan atau ketidak sempurnaan baik dalam bahasa maupun tulisan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik bagi para pembaca, guna untuk perbaikan dalam
menyempurnakan penyusunan buku ini.
Cilegon, 10 Mei 2022
Penulis
i
Daftar isi
Kata Pengantar .........................................................................................................................i
Daftar Isi ...................................................................................................................................ii
A. Pengertian Teknis Pembelajaran PAUD ............................................................................1
B. Pengelolaan Proses Kegiatan..............................................................................................3
1. Penyiapan atau Penataan Bahan dan Alat Main ............................................................3
2. Penyambutan Kehadiran Anak ......................................................................................7
3. Fasilitas Kegiatan Jurnal Harian ....................................................................................7
4. Kegiatan Pembuka .........................................................................................................7
5. Pembiasaan ....................................................................................................................8
6. Kegiatan di Kelompok ...................................................................................................9
7. Makan Bersama ...........................................................................................................10
8. Kegiatan Penutup .........................................................................................................10
9. Perencanaan Pembelajaran Hari Berikutnya................................................................10
10. Program Orang Tua......................................................................................................11
Kesimpulan ..............................................................................................................................12
Daftar Pustaka ...........................................................................................................................
ii
A. Teknis Pembelajaran PAUD
(Fadlillah, 2012 : 17) Teknis pembelajaran adalah suatu cara pengelolaan secara
sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Contohnya, wawancara,
angket, dsb.
Beberapa kriteria yang penting untuk menjadi pertimbangan guru dalam memilih
teknis pembelajaran, adalah sebagai berikut (Anita Yus, 2011: 69).
a. Karakteristik tujuan pembelajaran, yaitu mengembangkan domain fisikmotorik,
kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika. Selain dari aspek domain tersebut,
dapat juga untuk mengembangkan pemahaman anak mengenai nilai-nilai, etika
dan sebagainya.
b. Karakteristik anak sebagai peserta didik baik usianya maupun kemampuannya.
Setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda. Guru
harus terlebih dahulu peka dalam membaca dua hal tersebut, sehingga dapat
membuat strategi yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak didiknya agar
tidak terjadi suatu pemaksaan terhadap kemampuan anak.
c. Karakteristik tempat yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran apakah di
luar atau di dalam ruangan. Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku. Oleh
karena itu, penting bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran, untuk
memikirkan juga tempat yang akan dipakai agar tidak terjadi halhal yang tidak
diinginkan. Misalnya, sentra bermain alam agar dilakukan di luar ruangan,
dikarenakan kegiatan dalam sentra tersebut lebih banyak menggunakan bahan-
bahan sifat cair, sehingga akan terhindar dari terjatuhnya anak karena lantai yang
licin, dan sebagainya.
d. Karakteristik tema atau bahan ajar yang akan disajikan kepada anak. Guru dapat
melibatkan orang tua dan lingkungan sekitar sekolah dalam menetapkan tema dan
bahan ajar untuk anak. Misalnya, guru dapat memaksimalkan kekayaan alam yang
ada di sekitar lingkungan sekolah untuk dijadikan bahan ajar. Dengan
memaksimalkan potensi alam di sekitar lingkungan anak, maka anak akan
menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. Selain memaksimalkan potensi alam,
dapat juga memaksimalkan potensi dari para orangtua murid. Misalnya, dengan
mengundang orangtua murid dengan profesi tertentu sebagai guru tamu pada saat
1
membahas tema yang sesuai. Dengan begitu anak didik akan merasa bangga
dengan orangtua mereka, dan bersemangat dalam kegiatan tersebut. Banyak hal
yang dapat dilakukan untuk memotivasi anak agar menaruh minat yang besar pada
setiap kegiatan yang akan disajikan. Dan hal yang menjadi pokok adalah
menetapkan tema dan bahan ajar yang berguna, baik dan sesuai untuk anak serta
dikemas secara menarik.
e. Karakteristik pola kegiatan yang akan digunakan apakah melalui pengarahan
langsung, semi kreatif atau kreatif. Guru juga perlu memikirkan cara penyampaian
bahan ajar atau materi agar dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh
anak didik. Pengarahan materi yang baik, akan terlihat dari cara anak dalam
bekerja. Anak akan bekerja sesuai dengan arahan yang diberikan oleh guru
sebelumnya. Sedangkan apabila arahan tidak diberikan dengan baik, maka anak
akan lebih banyak bertanya atau terlihat bingung untuk memulai kegiatan. Namun
tentu saja, daya tangkap setiap anak berbeda, oleh karena itu dibutuhkan kepekaan
guru dalam membaca anak.
2
B. Pengelolaan Proses Kegiatan
Dalam jurnal (Ahmad Denico, 2018 : 97) Pengelolaan merupakan pengaturan atau
managemen, dan pengajaran adalah sebuah proses belajar-mengajar. Jadi, pengelolaan
pengajaran dapat diartikan suatu usaha mengatur proses belajar mengajar agar sesuai
dengan konsep dan prinsip-prinsip pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran secara
efektif dan efesien.
Manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan
sejumlah kelompok aktivitas. Manajer atau pimpinan harus melaksanakan perencanaan,
pengorganisasian, penempatan, penggerakan (pengarahan) dan pengendalian.
Membahas kualitas pembelajaran PAUD tentu tidak terlepas dari kegiatan utamanya,
yaitu proses pengelolaan pembelajaran (perencanaan, pelaksanaan dan penilaian) yang
berlangsung atau dilaksanakan di lembaga PAUD yang bersangkutan. Proses pengelolaan
pembelajaran yang tepat dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Pendidikan yang berkualitas memerlukan proses pembelajaran yang tepat, karena
pengelolaan pembelajaran merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari
proses pendidikan secara keseluruhan. Tanpa adanya manajemen atau pengelolaan yang
baik, tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan
efesien.
Pihak pengelola memahami tingkat perkembangan anak yang akan dibina. Dalam
mengembangkan rencana pembelajaran, para pendidik memperhatian tingkat
perkembangan, minat, kebutuhan dan karakteristik anak didik. Hal ini dikarenakan anak
usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun moral.
1. Penyiapan atau Penataan Bahan dan Alat Main
Lingkungan belajar anak adalah dunia bermain mereka baik di dalam (indoor)
maupun di luar ruangan (outdoor). Penataan lingkungan belajar merupakan penataan
lingkungan fisik, baik di dalam maupun di luar ruangan. Penataan lingkungan termasuk
seluruh asesoris yang digunakan , baik di dalam maupun di luar ruangan, seperti: bentuk
dan ukuran ruang, pola pemasangan lantai, warna dan hiasan dinding, bahan dan ukuran
3
mebeulair, bentuk, warna, ukuran, jumlah, dan bahan berbagai alat main yang digunakan
sesuai dengan perencanaan.
Fungsinya Menata Lingkungan Belajar Anak sebagai berikut :
Mempersiapkan lingkungan fisik yang aman, nyaman, menarik, dan didesain sesuai
dengan perencanaan sehingga mendorong anak untuk mengoptimalkan
perkembangannya.
Mendukung anak untuk mandiri, bersosialisasi dan menyelesaikan masalah.
Prinsip yang Harus Diperhatikan Dalam Menata Lingkungan Belajar PAUD :
1. Membuat anak merasa aman
2. Membuat anak merasa nyaman
3. Mendorong anak untuk dapat bereksplorasi
4. Mendukung anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungannya
5. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak
6. Memperhatikan karakteristik anak, kemampuan anak, latar belakang keluarga,
lingkungan bermain, dan budaya setempat.
7. Lingkungan main yang ditata dapat membantu anak memperkirakan berbagai
kegiatan yang akan dilakukan, baik pelaksanaannya (kelompok atau individu) maupun
tempat alat main yang dibutuhkan.
8. Mengembangkan kemandirian, lingkungan yang ditata dengan rapi, semua mainan
yang boleh digunakan anak ditata dalam rak yang terjangkau anak, membuat anak
dapat secara mandiri mengambil dan menyimpan kembali, tanpa harus minta tolong
pendidik. Apabila di satuan PAUD menerima anak berkebutuhan khusus dengan kursi
roda, ramp harus tersedia agar anak bisa mengakses lingkungan tanpa harus
tergantung pada orang lain.
9. Mengembangkan kepercayaan diri anak. Lingkungan yang ditata sesuai dengan
kondisi anak dapat membangun kepercayaan diri anak, bahwa mereka mampu
melakukannya. Lingkungan yang penuh tantangan, tetapi aman dilakukan anak,
4
mendorong anak untuk mencari jalan keluar untuk mengatasi setiap tantangan yang
ada. Hal ini menumbuhkan kreativitas dan sikap pantang menyerah.
10. Mengembangkan keterampilan motorik halus. Koordinasi tangan-mata, keterampilan
sosial, keaksaraan awal, sains dan teknologi, kemampuan matematika, serta
kemampuan berkomunikasi.
Lingkungan yang memfasi-litasi dengan berbagai kegiatan langsung, tidak semata-
mata terfokus pada kegiatan akademik, akan mendorong anak senang terlibat dalam
kegiatan tersebut. Persyaratan dalam menata lingkungan belajar PAUD:
1. Ruang/tempat yang digunakan untuk pembelajaran harus bisa menarik dan
mengundang minat anak untuk bermain di situ.
2. Segala sesuatu dan setiap tempat harus mengandung unsur pendidikan. Dari warna,
cahaya, tanaman, kamar mandi, dapur, pintu gerbang, dan penataan bahan- bahan
main ditata dengan nilai-nilai keindahan.
3. Aman, nyaman, sehat. bebas dari benda-benda yang dapat melukai anak serta
binatang-binatang kecil yang berbisa.
4. Menekankan pada berbagai macam media termasuk bahan-bahan alam, bahan daur
ulang, dll.
Syarat Bermain dan Permainan Edukatif Anak Usia Dini Bermain dapat memberikan
manfaat yang maksimal pada anak jika terpenuhi syarat-syaratnya. Ada 5 syarat bermain
dan permainan edukatif untuk anak usia dini yaitu:
a. Play Time
Anak harus memiliki waktu yang cukup dalam bermain. Masa usia dini merupakan
masa bermain, bukan masa anak untuk dipaksa belajar atau bekerja. Saat yang tepat
untuk anak bermain dapat disesuaikan dengan jenis permainan. Jika permainan di luar
ruangan (gross motor/fungsional play) sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari,
agar anak merasa nyaman dengan udara yang sejuk dan tidak panas.
b. Play Things
5
Jenis alat permainan harus disesuaikan dengan usia anak dan taraf perkembangannya.
Alat permainan hendaknya memnuhi kriteria:
Aman bagi anak
Ukuran, bentuk dan warna sesuai usia anak dan taraf perkembangannya,
Berfungsi mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak,
Dapat dimainkan secara bervariasi/cara
Merangsang partisipasi aktif anak, menurut DR. Fitzhugh Dodson porsinya 90 %
aktivitas anak dan 10% aktivitas alat permainan,
Sesuai kemampuan anak (tidak terlalu sulit atau terlalu mudah)
Menarik dari segi warna dan bentuk atau suara (jika bersuara)
Tahan lama/tidak mudah rusak
Mudah didapat dan dekat dengan lingkungan anak
Diterima oleh semua budaya
Jumlah alat permainan yang digunakan hendaknya cukup, dengan kebutuhan
anak, tidak terlalu sedikit atau tidak terlalu banyak.
c. Play Fellows
Anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain jika ia memerlukan.
Teman bermain dapat ditentukan anak sendiri, apakah itu orangtua, saudara atau
temannya. Jika anak bermain sendiri, maka ia akan kehilangan kesempatan belajar dari
teman-temannya. Sebaliknya kalau terlalu banyak bermain dengan anak lain, maka dapat
mengakibatkan anak tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk menghibur diri
sendiri dan menemukan kebutuhannya sendiri.
d. Play Space
Untuk bermain perlu disediakan tempat bermain yang cukup untuk anak sehingga
anak dapat bergerak dengan bebas. Luas tempat bermain dapat disesuaikan dengan jenis
permainan dan jumlah anak yang bermain.
6
e. Play Rules
Anak belajar bermain, melalui mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya atau
diberitahu caranya oleh orang lain (guru atau orangtua). Cara yang terakhir adalah yang
terbaik, karena anak tidak terbatas pengetahuannya dalam menggunakan alat
permainannya dan anak akan mendapat keuntungan lebih banyak lagi. Jadi permainan
yang baik adalah permainan yang ada cara/aturan bermainnya. gambar dan artikel
diambil dari berbagai sumber.
2. Penyambutan Kehadiran Anak
Penyambutan kedatangan anak dilakukan oleh guru piket atau guru kelompok.
Langkah SOP penyambutan kedatangan anak antara lain :
a. Membuat batas pengantar,
b. Menyambut anak dengan senyum dan memberi salam,
c. Mempersilahkan anak masuk kelas. Hal yang diperhatikan pada saat penyambutan
adalah reaksi anak saat datang; apakah riang, murung, lesu, atau lainnya. Kondisi ini
harus diperhatikan agar kondisi tersebut tidak terbawa sampai anak mengikuti
kegiatan selanjutnya karena akan mempengaruhi emosi anak.
Guru melakukan penyambutan anak dengan menunjukkan sikap ramah, riang, dan
bersikap seperti perilaku yang di harapkan dari anak.
3. Fasilitas Kegiatan Jurnal Harian
Jurnal harian, biasanya diisi dengan jurnal pagi, yakni kegiatan bersama seluruh
kelompok anak, diisi dengan kegiatan menyanyi lagu nasional ter masuk mengenalkan
lagu Indonesia Raya, yel-yel satuan PAUD, tepuk PAUD, puisi, cerita pendek, dll. Jurnal
pagi untuk membiasakan anak dalam mengondisikan anak siap belajar, mendisiplinkan
anak, sekaligus menunggu kehadiran semua anak. Jurnal pagi juga dapat diisi dengan
mengenalkan upacara bendera sederhana, membiasakan anak mengenal lambang negara.
4. Kegiatan Pembuka
Kegiatan pembuka pembelajaran PAUD secara umum dimulai dengan mengajak
seluruh anak untuk berbaris di depan ruang kelas, mengajari anak latihan berbaris,
7
kemudian masuk ruang kelas berjalan antri sambil bersalaman dengan Pendidik. Setelah
masuk ruang kelas pendidik menawarkan kegiatan pembuka yang akan dilakukan anak-
anak, boleh di dalam kelas atau dil luar ruangan. Kegiatan pembuka bisa berupa
permainan tradisional, gerak dan musik, senam dan lain lain. Agar anak tidak bosan, jenis
permainannya berganti-ganti, dikaitkan dengan tema dan rencana kegiatan hari itu.
Permainan gerakan motorik kasar dapat dijadikan sarana untuk mendukung
perkembangan motorik kasar anak.
Selesai main gerakan kasar atau bersenandung lagu keagamaan dilanjutkan dengan
pembacaan ikrar syahadat dan doa sebelum belajar. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam
duduk atau posisi melingkar, pendidik menawarkan kepada anak yang bersedia
memimpin pembacaan ikrar dan doa. Jika anak belum siap, pembacaan ikrar dipimpin
oleh pendidik. Kegiatan pembukaan memerlukan waktu sekitar 30 menit.
Tujuan dari kegiatan pembuka adalah untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan
perhatian anak. Hal ini dimaksudkan agar anak terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Kegiatan membuka pembelajaran semacam itu tidak saja harus dilakukan pendidik pada
awal jam pembelajarab tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti
pembelajaran yang diberikan selama pembelajaran berlansung.
5. Pembiasaan
Metode pembiasaan ini sangat efektif untuk menguatkan hapalan-hapalan pada anak
didik, dan untuk menanamkan sikap beragama dengan cara hapalan do’ado’a, dan ayat-
ayat piihan. Dalam dunia psikologi, metode pembiasaan ini dikenal dengan teori operant
conditioning yang membiasakan peserta didik untuk membiasakan prilaku terpuji, disiplin
dan giat belajar, bekerja keras dan ikhlas, jujur dan tanggung jawab atas segala tugas yang
telah dilakukan. Metode pembiasaan ini perlu dilakukan oleh guru dalam rangka
pembentukan karakter, untuk membiasakan peserta didik melakukan perilaku terpuji
(akhlak mulia).
Menurut (Heri Gunawan, 2014: 94) Pendidikan dengan pembiasaan dapat
dilaksanakan secara terprogram dalam pembelajaran atau dengan tidak terprogram dalam
kegiatan sehari-hari. Kegiatan pembiasaan dalam pembelajaran secara terprogram dapat
dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu.
8
Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting sekali, terutama bagi
anak-anak yang masih kecil. Anak-anak kecil belum menginsafi apa yang dikatakan baik
yang dikatakan buruk dalam arti susila. Juga anak kecil belum mempunyai kewajiban–
kewajiban yang harus dikerjakan seperti orang dewasa. Oleh karena itu, sebagai
permulaan dan pangkal pendidikan, pembiasaan sebagai merupakan alat satu-satunya.
Sejak dilahirkan anak-anak harus dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-
perbuatan yang baik.
Pembiasaan yang baik penting artinya bagi pembentukan watak anakanak, dan juga
akan terus berpengaruh kepada anak itu sampai hari tuanya. Menanamkan kebiasaan pada
anak-anak adalah sukar dan kadang-kadang memakan waktu yang lama. Akan tetapi,
segala sesuatu yanng telah menjadi kebiasaan sukar pula kita ubah. Maka dari itu, lebih
baik kita menjaga anak-anak kita supaya mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik dari
pada terlanjur memiliki kebiasaankebiasaan yang tidak baik.
6. Kegiatan di Kelompok
Sifat dari kegiatan ini adalah kegiatan yang mengaktifkan perhatian, kemampuan dan
sosial emosi anak. Kegiatan terdiri dari bermacam-macam kegiatan bermain yang dipilih dan
disukai anak agar dapat bereksplorasi, bereksperimen, meningkatkan pengertian-pengertian,
konsentrasi, memunculkan inisiatif, kemandirian dan kreativitasnya serta dapat membantu dan
mengembangkan kebiasaan bekerja yang baik.
Pada kegiatan ini anak terbagi beberapa kegiatan kelompok, artinya dalam satu satuan
waktu tertentu terdapat beberapa kelompok anak melakukan kegiatan yang berbeda-beda.
Pengorganisasian anak saat kegiatan pada umumnya dengan kegiatan kelompok, namun
adakalanya diperlukan menggunakan kegiatan klasikal maupun individual.
Sebelum anak dibagi menjadi kelompok, pendidik menjelaskan kegiatan atau hal-hal yang
berkaitan dengan tugas masing-masing kelompok secara klasikal. Pada kegiatan inti dalam
satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok.
Pendidik bersama anak dapat memberi nama masing-masing kelompok. Anak diberi 9
kebebasan untuk memilih kegiatan yang ada pada kelompok yang diminatinya dan tempat
yang disediakan. Semua anak hendaknya secara bergantian mengikuti kegiatan-kegiatan yang
direncanakan oleh pendidik. Setelah anak dapat mengikuti secara teratur, maka anak boleh
memilih kegiatan sendiri dengan tertib.
Anak-anak yang sudah menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari pada temannya dapat
meneruskan kegiatan di kelompok lain. Jika tidak tersedia tempat, anak tersebut dapat
melakukan kegiatan di kegiatan pengaman. Fungsi kegiatan pengaman adalah:
Sebagai tempat kegiatan anak yang telah menyelesaikan tugasnya lebih cepat sehingga
tidak mengganggu teman lain.
Untuk memotivasi anak agar cepat menyelesaikan tugasnya
Untuk mengembangkan aspek emosional, sosial, kemandirian, kerjasama dan kreativitas
anak.
Sebagai alat peraga
Sebaiknya alat-alat yang disediakan pada kegiatan pengaman lebih bervariasi dan sering
diganti disesuaikan dengan tema atau sub tema yang dibahas. Dan pada waktu kegiatan
kelompok berlagsung, pendidik tidak berada disatu kelompok saja melainkan juga
memberikan bimbingan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan walaupun peserta
didik tersebut berada di kelompok lain.
7. Makan Bersama
Kegiatan ini kadang-kadang dapat digunakan untuk mengisi indikator atau kemampuan
yang hendak dicapai yang berkaitan dengan kegiatan makan, misalnya tata tertib makan, jenis
makanan bergizi, rasa sosial dan kerja sama. Setelah kegiatan makan selesai, waktu yang
tersedia dapa digunakan untuk bermain dengan alat permainan diluar kelas yang bertujuan
mengembangkan fisik-motorik.
8. Kegiatan Penutup
Kegiatan yang dilaksanakan pada kegiatan penutup berdifat menenangkan anak dan
diberikan secara klasikal, misalnya membaca cerita dari buku, pantomime, menyanyi atau
apresiasi music dari berbagai daerah. Kegiatan ini diakhiri dengan tanya jawab mengenai
kegiatan yang berlangsung, sehingga anak mengingat dan memaknai kegiatan yang
dilaksanakan dan kemudia dilanjutkan dengan pesan-pesan dan doa pulang.
9. Perencanaan Pembelajaran Hari Berikutnya
Mendefinisikan perencanaan secara sederhana yaitu pemikiran sebelum melaksanakan
tugas. Sedangkan pembelajaran adalah “proses kerja sama antara guru dan siswa dalam
memanfaatkan segala potensi (dalam&luar) sebagai upaya mencapai tujuan belajar
10tertentu”. dari dua pengertian tersebut dapat kita simpulkan perencanaan pembelajaran
adalah proses pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional tentang sasaran dan
tujuan pembelajaran tertentu dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang
ada. (Enda Puspitasari, 2012 : 67-68) Disini guru merencanakan untuk pembelajaran hari
berikutnya, seperti membuat RPPH, menyiapkan bahan ajar dan APE yang akan
digunakan esok hari.
10. Program Orang Tua
a. Kegiatan Pertemuan Orangtua :
Hari Pertama Masuk PAUD
Pertemuan Orangtua dengan walikelas minimal 2 kali /tahun
b. Kelas Orangtua atau parenting
c. Kas Komite
d. Pentas Akhir tahun.
11
Kesimpulan
Untuk mengaplikasikan hasil belajar, guru sebagai pendorong utama dan
pelaksana kegiatan belajar, harus memiliki kemampuan mengembangkan teknis
pembelajaran. Suasana dan pembelajaran itu diarahkan agar peserta didik dapat
mengembangkan potensi dirinya melalui aktifitas belajar yang lebih aplikatif.
Pembelajaran bagi anak usia dini, lebih banyak aktifitas uji coba, bermain sosial
seperti halnya bermain peran, dan kegiatan stimulatif lainnya.
Guru sebagai sumber belajar merupakan kunci utama atas keberhasilan anak
didik sebagai pembelajar. Peran guru sangat penting karena berkaitan erat dengan
penguasaan materi belajar atau kurikulum pada umumnya. Apapun yang ditanyakan
anak didik tentang materi belajar, guru harus memiliki keyakinan untuk menjawabnya
sehingga anak didik dapat memperoleh informasi yang memadai. Oleh karena itu,
teknis pembelajaran sangat dibutuhkan agar proses belajar mengajar dapat tercapai
dengan optimal sesuai dengan yang direncanakan Pendidik sebagai orang terdekat
dengan kehidupan anak di luar lingkungan keluarga memberikan pengaruh yang
sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak.
Oleh karena itu, mengenali dan memahami sifat anak merupakan bekal yang
sangat berharga bagi pendidik agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan
menggunakan teknis pembelajaraan dan pengelolaan kegiatan yang tepat dalam setiap
kegiatan belajar (bermain) yang diselenggarakan, sesuai dengan usia, tahap
perkembangan, kebutuhan, minat belajar anak.
12
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Denico, Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini Di KB Cerdas
Kecamatan Batu Hampar Kabupaten Rokan Hilir : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia
DiniI, STIT Dar Aswaja Rokan Hilir, Vol.01 No.02, Oktober 2018.
Anita Yus, Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada media Asmawati,
2011.
Enda Puspitasari, Menyusun Perencanaan Pembelajaran Anak Usia Dini : Educhild, FKIP
UNRI, Vol.01 No.01, 2012.
Fadlillah Muhammad, Desain Pembelajaran PAUD. Jakarta: Ar-Ruz Media, 2012.
Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep Dan Implementasi, Bandung: Alfabeta, 2014.
Web :
Https://kegiatanbermainaud.blogspot.com/2018/03/kegiatan-pembuka-pembelajaran-
paud.html.